No. 34/08/34/Th. XIII, 5 Agustus 2011
PERTUMBUHAN
EKONOMI
PROVINSI
D.I.
YOGYAKARTA
TRIWULAN
II
TAHUN
2011
SEBESAR
-3,89
PERSEN
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan II tahun 2011 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 menurun sebesar 3,89 persen terhadap triwulan I tahun 2011 (q-to-q). Pertumbuhan negatif ini terjadi karena produksi sektor pertanian menurun, sedangkan sektor lainnya mengalami peningkatan. Sektor pertanian mengalami kontraksi sebesar 36,22 persen karena produksi padi dan jagung menurun sangat signifikan akibat faktor musim masing-masing sebesar 59,02 persen dan 82,64 persen.
Walaupun pertumbuhan q-to-q negatif, tetapi PDRB Provinsi DIY pada triwulan II 2011 jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2010 (y-on-y) mengalami peningkatan sebesar 3,92 persen. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan sektor industri pengolahan mencapai 8,74 persen (y-on-y) karena kenaikan produksi industri makanan dan pakaian jadi yang mencapai lebih dari 10 persen.
Pertumbuhan secara kumulatif sampai dengan triwulan II 2011 terhadap kumulatif triwulan yang sama tahun sebelumnya (c-to-c) mencapai 4,38 persen. Seluruh sektor pembentuk PDRB memberi andil positif terhadap perekonomian DIY, terutama sektor industri pengolahan yang tumbuh 9,28 persen.
Nilai nominal PDRB Provinsi DIY pada triwulan II 2011 mencapai Rp 12,13 triliun atas dasar harga berlaku dan nilai riilnya sebesar Rp 5,27 triliun atas dasar harga konstan 2000.
Sektor ekonomi yang memiliki peranan terbesar dalam perekonomian Provinsi DIY pada triwulan II 2011 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 20,60 persen; kemudian diikuti sektor jasa-jasa (20,55 persen);; sedangkan sektor pertambangan dan penggalian mempunyai peranan terkecil yaitu 0,75 persen.
Pada sisi penggunaan, pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami peningkatan sebesar 10,17 persen pada triwulan II 2011 dibandingkan dengan triwulan I 2011 (q-to-q). Kemudian diikuti oleh komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) naik 5,06 persen dan konsumsi rumah tangga 1,52 persen.
Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2010 (y-on-y) terjadi kenaikan pada komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 7,77 persen dan komponen PMTB 2,81 persen. Sebaliknya, komponen konsumsi pemerintah berkontraksi sebesar 5,27 persen.
Pertumbuhan secara kumulatif (c-to-c) didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga (7,91 %), dan PMTB (3,17 %). Sedangkan konsumsi pemerintah memberikan andil negatif dengan pertumbuhan minus 1,89 persen.
Bagian terbesar PDRB masih digunakan untuk keperluan konsumsi rumah tangga, yaitu 52,99 persen, kemudian diikuti oleh PMTB 31,08 persen serta konsumsi pemerintah 25,62 persen.
1. LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II 2011
Kinerja perekonomian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang digambarkan oleh laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan II 2011 dibandingkan dengan triwulan I 2011 (q-to-q) menurun sebesar 3,89 persen, setelah mengalami peningkatan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,68 persen.
Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2011 sebesar minus 3,89 persen tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan negatif sektor pertanian yang mencapai 36,22 persen. Sektor ini didominasi oleh tanaman bahan makanan, sehingga pergerakan tanaman bahan makanan berpengaruh secara signifikan. Pada triwulan II 2011, subsektor tanaman bahan makanan khususnya komoditi padi mengalami siklus pasca musim panen raya sehingga mengalami penurunan produksi mencapai 59,02 persen. Demikian pula dengan komoditi jagung turun sangat signifikan sebesar 82,64 persen terhadap produksi triwulan sebelumnya. Akibatnya, sektor pertanian memberi andil negatif 7,66 persen terhadap pertumbuhan q-to-q.
Gambar 1.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2010 sampai Triwulan II 2011 (Persen)
7,53 4,94 -3,02 -3,04 -3,89 3,68 2,7 3,84 7,04 3,92 4,29 4,38 3,67 5,23 4,87 4,83 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 Tw 1 2010 Tw 2 2010 Tw 3 2010 Tw 4 2010 Tw 1 2011 Tw 2 2011 q to q y on y c to c
Selain sektor pertanian, semua sektor memberi andil positif terhadap pertumbuhan PDRB triwulan II 2011. Sektor perdagangan, hotel dan restoran memberi andil positif terbesar dengan laju pertumbuhan mencapai 5,46 persen. Memasuki musim libur sekolah yang diwarnai oleh upaya mencari sekolah/perguruan tinggi berkualitas di Yogyakarta mendorong semakin tingginya tingkat hunian hotel dan ramainya perdagangan/restoran. Di samping itu, sektor konstruksi mengalami pertumbuhan sebesar 11,89 persen karena kenaikan permintaan baik permintaan bangunan berupa gedung maupun jalan/jembatan.
Sektor jasa-jasa memberikan andil positif terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II 2011 dengan laju pertumbuhan 4,37 persen, karena penyerapan anggaran pemerintah semakin meningkat. Dampak peningkatan sektor perdagangan, hotel dan restoran akan meningkatkan sektor pengangkutan
dan komunikasi dengan pertumbuhan 3,40 persen terutama karena memasuki liburan sekolah sehingga permintaan jasa pengangkutan meningkat.
Tabel 1.
Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menurut Lapangan Usaha (Persen)
Lapangan Usaha Triw II 2011 thd Triw I 2011 (q-to-q) Triw II 2011 thd Triw II 2010 (y-on-y) Triw I–II 2011 thd Triw I–II 2010 (c-to-c) Andil Pertumbuhan
q-to-q y-on-y c-to-c
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Pertanian -36,22 2,45 0,39 -7,66 0,35 0,07
2. Pertambangan & Penggalian 2,65 15,26 15,42 0,02 0,10 0,10 3. Industri Pengolahan 3,15 8,74 9,28 0,42 1,20 1,23 4. Listrik, Gas & Air Bersih 5,87 6,22 3,59 0,05 0,06 0,03
5. Konstruksi 11,89 5,03 4,85 0,97 0,47 0,42
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 5,46 2,16 2,53 1,07 0,47 0,53 7. Pengangkutan & Komunikasi 3,40 7,25 8,67 0,36 0,80 0,91 8. Keuangan, Real Estat & Jasa Perush. 1,92 8,67 7,54 0,18 0,83 0,71
9. Jasa-jasa 4,37 -1,94 2,18 0,71 -0,36 0,37
PDRB -3,89 3,92 4,38 -3,89 3,92 4,38
Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2010 (y-o-y), PDRB triwulan II 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 3,92 persen. Hampir semua sektor memberi andil positif terhadap pertumbuhan triwulan II 2011 (y-on-y), kecuali sektor jasa-jasa. Secara berurutan dari pemberi andil terbesar adalah sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 8,74 persen; sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan meningkat 8,67 persen; serta sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 7,25 persen. Sedangkan sektor jasa-jasa mengalami kontraksi 1,94 persen, karena adanya pencairan gaji ketiga belas bagi PNS, anggota TNI/POLRI pada triwulan II 2010.
Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif sampai dengan triwulan II 2011 terhadap kumulatif triwulan yang sama pada tahun 2010 (c to c) mencapai 4,38 persen, didorong oleh pertumbuhan semua sektor. Andil positif terbesar oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan mencapai 9,28 persen. Diikuti oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 8,67 persen, sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran masing-masing tumbuh 7,54 persen dan 2,53 persen.
2. NILAI PDRB ATAS DASAR HARGA BERLAKU DAN KONSTAN TRIWULAN II 2011
Nilai nominal PDRB Provinsi DIY atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2011 mencapai Rp 12,13 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan I 2011 yang mencapai Rp 12,42 triliun. Bila PDRB tersebut dinilai dengan harga pada tahun dasar 2000, maka nilai riil PDRB triwulan II 2011 mencapai Rp 5,27 triliun, menurun sekitar 3,89 persen dibanding triwulan I 2011 yang mencapai Rp 5,48 triliun.
Atas dasar harga berlaku, sektor ekonomi yang menunjukkan nilai tambah bruto terbesar pada triwulan II 2011 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai Rp 2,50 triliun, atau mempunyai kontribusi sebesar 20,60 persen terhadap total PDRB. Kemudian, sektor jasa-jasa memberi kontribusi terbesar kedua, sebesar Rp 2,49 triliun. Sektor berikutnya yang memiliki nilai tambah lebih dari Rp 1,4 triliun adalah sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, masing-masing mencapai Rp 1,86 triliun dan Rp 1,47 triliun. Keempat sektor tersebut merupakan pemasok utama PDRB Provinsi DIY yang sangat penting. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian mempunyai nilai tambah bruto terkecil sebesar Rp 90,76 miliar.
Pada perhitungan atas dasar harga konstan 2000, keempat sektor utama di ataspun memberikan nilai tambah bruto terbesar, berturut-turut sebagai berikut: sektor sektor perdagangan, hotel dan restoran Rp 1,13 triliun; sektor jasa-jasa Rp 926,03 miliar; sektor industri pengolahan sebesar Rp 755,35 miliar; dan sektor pertanian Rp 740,06 miliar. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian mempunyai nilai tambah bruto terkecil sebesar Rp 39,54 miliar (Tabel 2).
Tabel 2.
PDRB Provinsi DIY menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah)
Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan 2000
Triw. I 2011 Triw. II 2011 Triw. I 2011 Triw. II 2011
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pertanian 2 311 260,14 1 465 800,64 1 160 314,66 740 059,47 2. Pertambangan dan Penggalian 88 093,83 90 755,83 38 522,10 39 542,85 3. Industri Pengolahan 1 779 910,11 1 862 419,75 732 307,24 755 352,85 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 160 207,71 169 782,03 47 837,67 50 646,68 5. Konstruksi 1 092 767,00 1 227 151,00 446 248,00 499 311,00 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 2 349 459,38 2 499 349,10 1 075 609,64 1 134 389,74 7. Pengangkutan dan Komunikasi 1 080 576,65 1 122 966,59 578 177,13 597 825,23 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perush. 1 177 960,00 1 202 980,75 516 593,00 526 519,00 9. Jasa-jasa 2 383 145,21 2 492 996,89 887 280,79 926 033,52
PDRB 12 423 380,03 12 134 202,57 5 482 890,23 5 269 680,33
3. STRUKTUR PDRB PROVINSI DIY MENURUT LAPANGAN USAHA TRIWULAN II 2011
DAN TRIWULAN II 2010
Struktur PDRB Provinsi DIY pada triwulan II 2011, jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2010, menunjukkan bahwa peranan sektor industri pengolahan; sektor pertanian; sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan; sektor pertambangan dan penggalian; serta sektor listrik, gas dan air bersih meningkat. Peranan peranan sektor industri pengolahan meningkat dari 14,20 persen pada triwulan II 2010 menjadi 15,35 persen pada triwulan II 2011. Sektor pertanian meningkat dari 11,60 persen menjadi 12,08 persen. Sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan meningkat menjadi 9,91 persen pada triwulan II 2011 dari 9,84 persen pada triwulan II 2010. Peran sektor pertambangan dan penggalian juga meningkat dari 0,68 persen menjadi 0,75 persen. Sedangkan peran sektor listrik, gas dan air bersih meningkat sebesar 0,06 poin.
Sebaliknya, sektor-sektor yang peranannya menurun adalah: sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; serta sektor konstruksi. Peran sektor perdagangan, hotel
dan restoran mengalami penurunan yang tertinggi, yaitu dari 20,84 persen pada triwulan II 2010 menjadi 20,60 persen pada triwulan II 2011. Penurunan peran sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 0,09 poin. Penurunan peran sektor konstruksi sebesar 0,08 poin.
Tabel 3.
Distribusi Persentase PDRB menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku
Lapangan Usaha Triw. II 2010 Triw. II 2011 Perbedaan
(1) (2) (3) (4)
1. Pertanian 11,60 12,08 0,47
2. Pertambangan dan Penggalian 0,68 0,75 0,07
3. Industri Pengolahan 14,20 15,35 1,15
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 1,34 1,40 0,06
5. Konstruksi 10,19 10,11 -0,08
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 20,84 20,60 -0,25 7. Pengangkutan dan Komunikasi 9,35 9,25 -0,09 8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 9,84 9,91 0,08
9. Jasa-jasa 21,95 20,55 -1,41
PDRB 100,00 100,00
4. PDRB MENURUT PENGGUNAAN TRIWULAN II 2011
Dilihat dari sisi penggunaan, PDRB Provinsi DIY dirinci menurut komponen-komponen pengeluaran: konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan lainnya (gabungan dari konsumsi lembaga nirlaba, ekspor, impor, perubahan inventori dan diskrepansi statistik/residual).
Memasuki triwulan II tahun 2011 (q-to-q), semua komponen PDRB menurut penggunaan menunjukkan pertumbuhan positif, kecuali komponen lainnya yang mengalami kontraksi. Pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan terbesar yaitu 10,17 persen. Peningkatan ini terjadi karena mulai dilaksanakannya kegiatan belanja rutin. PMTB juga meningkat sebesar 5,06 persen karena mulai dilaksanakannya kegiatan proyek pembangunan prasarana fisik. Komponen konsumsi rumah tangga juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,52 persen, karena peningkatan jasa pendidikan serta jasa hiburan dan rekreasi berkaitan dengan tahun ajaran baru dan liburan sekolah.
Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2010 (y-on-y), komponen konsumsi rumah tangga dan PMTB mengalami peningkatan masing-masing sebesar 7,77 persen dan 2,81 persen. Pertumbuhan kedua komponen penggunaan tersebut menunjukkan bahwa daya beli masyarakat dan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi akhir dan investasi fisik semakin bergairah. Sebaliknya, pengeluaran konsumsi pemerintah justru menurun sebesar 5,27 persen karena adanya pencairan gaji ketiga belas bagi PNS dan anggota TNI/POLRI pada triwulan yang sama tahun sebelumnya (Tabel 4).
Tabel 4.
Laju Pertumbuhan PDRB menurut Komponen Penggunaan (Persen)
Komponen Penggunaan Triw II 2011 thd Triw I 2011 (q-to-q) Triw II 2011 thd Triw II 2010 (y-on-y) Triw I–II 2011 thd Triw I–II 2010 (c-to-c) Andil Pertumbuhan
q-to-q y-on-y c-to-c
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Konsumsi Rumah Tangga 1,52 7,77 7,91 0,71 3,72 3,69 2. Konsumsi Pemerintah 10,17 -5,27 -1,89 1,81 -1,18 -0,38
3. Pembentukan Modal Tetap
Bruto (PMTB) 5,06 2,81 3,17 1,18 0,73 0,78 4. Lainnya*) -64,11 16,41 3,46 -7,59 0,65 0,29
PDRB -3,89 3,92 4,38 -3,89 3,92 4,38
*) Termasuk Konsumsi Lembaga Nirlaba, Ekspor, Impor, Perubahan Inventori dan Diskrepansi Statistik (Residual)
Tercatat nilai nominal PDRB terbesar digunakan untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencapai Rp 6,43 triliun atau 52,99 persen terhadap total PDRB Provinsi DIY. Penggunaan PDRB terbesar berikutnya adalah untuk kegiatan investasi fisik (PMTB) sebesar Rp 3,77 triliun atau 31,08 persen terhadap total PDRB. Kemudian, nilai PDRB yang digunakan untuk konsumsi pemerintah sebesar Rp 3,11 triliun atau 25,62 persen. Sedangkan nilai PDRB yang digunakan untuk komponen lainnya minus Rp 1,18 triliun (-9,69 persen). Hal ini menunjukkan bahwa bagian terbesar PDRB masih digunakan untuk keperluan konsumsi, belum optimal mengarah pada investasi yang dapat menyerap tenaga kerja (Tabel 5).
Tabel 5.
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, Konstan dan Distribusi Persentase menurut Komponen Penggunaan Triwulan II Tahun 2011 Komponen Penggunaan PDRB ADH Berlaku
(Juta Rupiah)
PDRB ADH Konstan
(Juta Rupiah) Distribusi Persentase
(1) (2) (3) (4)
1. Konsumsi Rumah Tangga 6 429 871,69 2 615 577,07 52,99 2. Konsumsi Pemerintah 3 108 933,66 1 073 692,56 25,62
3. Pembentukan Modal Tetap
Bruto (PMTB) 3 771 609,86 1 347 394,88 31,08
4. Lainnya*) -1 176 212,64 233 015,83 -9,69
PDRB 12 134 202,57 5 269 680,33 100,00
*) Termasuk Konsumsi Lembaga Nirlaba, Ekspor, Impor, Perubahan Inventori dan Diskrepansi Statistik (Residual)
4. PERBANDINGAN NILAI PDRB ANTAR PROVINSI
Pada Tabel 6 terlihat kontribusi PDRB provinsi di wilayah jabalnusra terhadap total 33 provinsi
pada triwulan II 2011 tercatat kontribusi terhadap total perekonomian regional mayoritas berasal dari
provinsi-provinsi di Pulau Jawa, yaitu 57,71 persen. DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa
Tengah merupakan provinsi-provinsi penyumbang kue ekonomi terbesar, masing-masing 16,19 persen;
14,78 persen; 14,30 persen; serta 8,40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masih
terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Provinsi D.I. Yogyakarta dengan kontribusi hanya 0,82 persen memiliki peringkat terendah di
Pulau Jawa. Hal ini dapatdimaklumi karena luas wilayah DIY relatif kecil dan dalam perkembangannya
merupakan daerah pusat pendidikan dan kebudayaan sehingga tidak banyak aktivitas ekonomi yang
berskala besar berlokasi di wilayah ini. Secara nasional, laju pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa hanya
sebesar 2,29 persen (q-to-q) dan 6,47 persen (y-on-y).
Tabel 6.
Ringkasan PDRB Triwulan II 2011 Beberapa Provinsi Di Indonesia Provinsi
PDRB Tw I 2011 (miliar Rp) Pertumbuhan Tw I 2011 (%) Kontribusi (%) ADHB ADHK Q to Q Y on Y C to C Pulau Thd Thd 33 Prov
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) SUMATERA 348 165 ,39 122 701 ,27 1 ,86 6 ,05 5 ,95 100 ,00 23 ,52 JAWA 854 263 ,23 358 744 ,26 2 ,29 6 ,47 6 ,59 100 ,00 57 ,71 11.DKI Jakarta 239 707 ,43 104 219 ,39 1 ,96 6 ,69 6 ,71 28 ,06 16 ,19 12.Jawa Barat 211 756 ,73 84 961 ,52 2 ,62 5 ,89 6 ,43 24 ,79 14 ,30 13.Jawa Tengah 124 422 ,26 49 743 ,67 1 ,76 5 ,95 5 ,93 14 ,56 8 ,40 14.DI Yogyakarta 12 134 ,20 5 269 ,68 -3 ,89 3 ,92 4 ,38 1 ,42 0 ,82 15.Jawa Timur 218 803 ,33 91 361 ,99 2 ,97 7 ,25 7 ,12 25 ,61 14 ,78 16.Banten 47 439 ,26 23 188 ,00 2 ,61 6 ,27 6 ,51 5 ,55 3 ,20 BALI NUSRA 36 880 ,93 15 450 ,91 2 ,17 2 ,75 2 ,74 100 ,00 2 ,49 17.Bali 17 986 ,58 7 607 ,66 2 ,17 6 ,42 6 ,22 48 ,77 1 ,22
18.Nusa Tenggara Barat 11 230 ,80 4 571 ,93 0 ,10 -5 ,41 -4 ,39 30 ,45 0 ,76 19.Nusa Tenggara Timur 7 663 ,55 3 271 ,31 5 ,21 7 ,06 5 ,85 20 ,78 0 ,52
KALIMANTAN 140 449 ,06 48 881 ,61 2 ,55 3 ,55 3 ,35 100 ,00 9 ,49
SULAWESI 69 832 ,19 28 726 ,23 6 ,51 8 ,42 8 ,18 100 ,00 4 ,72
MALUKU dan PAPUA 30 763 ,48 9 669 ,26 -0 ,28 5 ,75 7 ,53 100 ,00 2 ,08
PENJELASAN TEKNIS
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah :
a. Jumlah nilai tambah atas produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi yang dimiliki oleh penduduk suatu daerah;
b. Jumlah pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga, lembaga swasta nirlaba, dan
pemerintah, serta untuk pembentukan modal tetap, perubahan inventori / stok dan ekspor neto
(ekspor dikurangi impor) suatu daerah;
c. Jumlah pendapatan (balas jasa) yang diterima oleh faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal & kewiraswastaan/entrepreneurship) plus penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tidak langsung dikurangi subsidi) yang dimiliki oleh penduduk suatu daerah;
dalam jangka waktu tertentu (satu triwulan/semester/tahun).
Metode penghitungan PDRB berdasarkan 3 (tiga) pendekatan:
a. Produksi (Sektor Ekonomi/Lapangan Usaha) Supply side b. Penggunaan (Pengeluaran) Demand side
c. Pendapatan Income side
Penyajian PDRB:
a. Atas dasar harga berlaku harga komoditas barang dan jasa berdasarkan tahun berjalan. b. Atas dasar harga konstan harga komoditas barang dan jasa pada tahun dasar referensi 2000.
Peranan (Share) suatu sektor/komponen penggunaan terhadap perekonomian wilayah dihitung berdasarkan
PDRB atas dasar harga berlaku untuk melihat struktur ekonomi.
Pertumbuhan (Growth) suatu sektor/komponen penggunaan terhadap perekonomian wilayah dihitung
berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan untuk melihat perubahan volume (kuantum) produksi.
Pertumbuhan ekonomi q-to-q : PDRB harga konstan pada suatu triwulan dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya secara berantai pada tahun yang sama ataupun berlainan (quarter to quarter economic growth).
Pertumbuhan ekonomi y-on-y : PDRB harga konstan pada suatu triwulan/tahun dibandingkan dengan
triwulan/tahun yang sama pada tahun sebelumnya (year on year economic growth).
Pertumbuhan ekonomi c-to-c : PDRB harga konstan kumulatif sampai dengan suatu triwulan dibandingkan
dengan kumulatif sampai dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (cumulative to cumulative
economic growth).
Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup semua pengeluaran untuk konsumsi barang dan jasa,
dikurangi dengan penjualan neto barang bekas dan sisa yang dilakukan oleh rumah tangga (termasuk lembaga swasta nirlaba yang melayani rumah tangga) selama periode tertentu (triwulan/semester/tahun).
Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup pengeluaran untuk belanja pegawai, penyusutan dan
belanja barang (termasuk biaya perjalanan, pemeliharaan dan pengeluaran lain yang bersifat rutin) baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah selama periode tertentu (triwulan/ semester/tahun), tidak termasuk penerimaan dari produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh pemerintah, yang bukan dikonsumsi oleh pemerintah tetapi dikonsumsi oleh masyarakat.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) adalah investasi fisik yang dilakukan oleh rumah tangga,
pemerintah dan swasta dalam hal pengadaan, pembuatan/perbaikan besar maupun pembelian barang modal baru produksi domestik ataupun barang modal baru/bekas dari luar negeri (impor) dikurangi dengan penjualan barang modal bekas pada suatu periode tertentu (triwulan/semester/tahun). Investasi fisik dimaksud berupa: bangunan (tempat tinggal maupun usaha), infrastruktur, mesin dan perlengkapan, alat angkutan, serta barang modal lainnya.