V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
5.1.1 Komposisi dan Similaritas Spesies pada Elemen Lanskap dan Korelasi Jarak dengan Keanekaragaman
5.1.1.1. Komposisi dan Similaritas Spesies Pada Elemen Lanskap Kurva akumulasi spesies
Pengamatan di lapangan yang telah dilakukan pada kawasan perkebunan kelapa sawit PT. Kencana Sawit Indonesia, tercatat 5 Famili, 9 Genus dan 27 spesies dengan total sebanyak 1055 Individu ditemukan pada 22 lokasi dengan menggunakan metode Visual Encounter Survei (VES) desain transek dengan dua kali pengulangan. Kurva akumulasi spesies dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Diagram kurva akumulasi spesies pada semua lokasi.
Lima genus yang teramati pada kawasan PT. KSI, empat diantaranya teramati pada minggu pertama pengamatan. Pada minggu kelima terdapat satu satu penambahan famili yaitu Megophrydae lalu tren mendatar hingga minggu keenam pengamatan. Sementara pada tingkatan genus, hampir seluruhnya telah teramati pada minggu pertama dan juga mengalami penambahan satu genus pada minggu kelima yang dilanjutkan dengan kurva mendatar hingga minggu keenam
0 5 10 15 20 25 30
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6
Ju
m
lah
pengamatan. Pada tingkatan spesies terdapat 3 fase yang teramati: fase pertama peningkatan spesies terjadi dari minggu pertama terkoleksi 24 spesies hingga minggu kedua terjadi penambahan satu spesies, kemudian memasuki fase mendatar dimana tidak terjadi penambahan jenis spesies dari minggu kedua hingga minggu keempat, kemudian fase ketiga dimana kurva kembali naik ketika terjadi penambahan jumlah spesies kembali dari minggu kelima hingga minggu ke keenam, masing-masing satu spesies pada tiap minggunya.
Lokasi pengamatan lanskap perkebunan yang terbagi menjadi tiga elemen terdiri dari: area inti terdiri atas Bukit Tengah Pulau (5 transek) dan Bukit Salo (3 transek); matriks yang terdiri atas Matriks Bukit Tengah Pulau (4 transek) dan Bukit Salo (2 transek) dan koridor yang dibagi menjadi koridor Sungai Jujuan (4 transek) dan Sungai Suir (4 transek). Estimasi kekayaan spesies pada masing-masing elemen menggunakan Indeks Kekayaan Spesies Jackknife dengan hasil seperti yang tertera pada Gambar 11.
Gambar 11 Diagram estimasi kekayaan jenis pada elemen lanskap perkebunan kelapa sawit.
Estimasi spesies pada elemen lanskap perkebunan kelapa sawit pada PT.KSI, Elemen dengan kekayaan spesies tertinggi adalah elemen area inti dengan jumlah spesies perkiraan sebanyak 23 spesies dengan estimasi tertinggi 28 spesies dan terendah 21 spesies (stdev=3,75) dengan tingkat ketelitian 6,5%. Elemen dengan estimasi kekayaan spesies teringgi kedua adalah matriks, dengan jumlah perkiraan sebanyak 21 spesies dengan perkiraan maksimal sebanyak 23 spesies dan yang
23 28 21 21 23 18 18 22 13 0 5 10 15 20 25 30 S S Max S Min Ju m lah Kekayaan Jenis Area inti Matriks Koridor
terendah 18 spesies (st dev= 2,87) dengan tingkat ketelitian 5,5% dan yang terakhir elemen dengan perkiraan spesies paling rendah adalah koridor dengan perkiraan kekayaan spesies sebanyak 18 spesies dan diperkirakan masih bisa bertambah hingga 22 spesies dan yang perkiraan terendah sebanyak 13 spesies saja (st dev= 4,25) dengan tingkat ketelitian 10,4%.
Dalam pengamatan jumlah spesies aktual; keanekaragaman dan kemerataan pada ketiga elemen didapatkan hasil seperti yang tertera pada Gambar 12.
Ket: BTP=Bukit Tengah Pulau; BS= Bukit Salo; MBTP= Matriks Bukit Tengah Pulau; BS=Matriks Bukit Salo; SJ= Sungai Jujuan; SS= Sungai Suir.
Gambar 12 Diagram diversitas amphibia pada elemen lanskap A. Jumlah Spesies, B. Keanekaragaman, C. Kemerataan.
Pada pengamatan yang telah dilakukan terdata spesies terbanyak tercatat pada bagian MBTP dengan total 18 spesies dan yang paling sedikit pada MBS dengan 10 spesies. Pada elemen area inti yang diwakili oleh BTP dan BS secara berurutan dengan nilai 16 dan 15 spesies kemudian pada elemen koridor yang yang terdiri atas SJ dan SS memiliki jumlah spesies yang sama yaitu 14 spesies.
A. B.
Keanekaragaman amphibia tertinggi ditemukan pada elemen area inti bagian BTP dengan nilai 2,50 diikuti oleh elemen area inti lainnya yaitu BS dengan nilai 2,25. Elemen matriks memiliki keanekaragaman amphibia terbaik kedua dimana bagian MBTP memiliki nilai indeks 2,31, sedangkan MBS dengan nilai 1,94. Elemen koridor secara rata-rata memiliki nilai indeks keanekaragaman terburuk dibandingkan dua elemen lainnya. Bagian SJ hanya memiliki nilai 1,98 dan yang paling buruk adalah bagian SS dengan nilai 1,91. Secara umum seluruh lokasi masuk dalam kategori keanekaragaman sedang.
Kemerataan spesies merupakan alat yang baik untuk menganalisa hubungan kekayaan spesies dengan keanekaragaman. Area inti memiliki jumlah spesies dan nilai indeks keanekaragaman tertinggi dengan nilai kemerataan 90% dan 83% menunjukkan hampir tidak ada dominansi dari spesies yang ada, sedangkan pada elemen matriks terbaik kedua. Perbandingan pada MBTP dengan MBS menunjukan adanya spesies yang mendominasi pada MBS karena nilai kemerataannya lebih baik 4% meski jumlah spesiesnya hanya 10.
Komposisi spesies pada area inti dibagi menjadi dua bagian habitat aqutik dan terrestrial. Pada habitat akuatik spesies yang ditemukan umumnya merupakan spesies dengan habit semi akuatik (Bufo asper, Limnonectes blythii, L. crybetus dan L. microdiscus); akuatik (L. kuhlii, Occidozyga laevis, O. Sumatrana, Rana picturata, R. erythraea dan R. hosii); semi arboreal (R. parvaccola dan R. raniceps). Sedangkan habitat terrestrial yang ditemukan adalah Akuatik (L. kuhlii); semi akuatik (L. microdiscus); terrestrial (B. biporcatus, Leptobrachium wayseputiense, Kalophrynus pleurostigma, Microhyla heymonsi, M. borneensis dan Microhyla sp); semi arboreal (R. raniceps); Arboreal (Polypedates leucomystax dan Polypedates sp). Dari daftar ini semua spesies merupakan jenis yang mampu hidup pada wilayah hutan yang telah terdegradasi
Matriks didominasi oleh spesies dengan relung generalis dan memiliki daya adaptasi yang tinggi untuk dapat hidup pada beberapa tipe habitat. Semua spesies yang ditemukan pada matriks dapat ditemukan pada elemen area inti dan sebagian lagi pada elemen koridor. Kecuali P. cf macrotis yang hanya ditemukan pada matriks saja, komposisi spesiesnya terdiri atas habit akuatik (L. kuhlii, R. erythraea dan R. hosii); semi akuatik (B. asper, Fejervayra cancrivora, F.
limnocaris, L. blythii, L. crybetus dan L. microdiscus); Terrestrial (L. wayseputiense, , M. heymonsi dan M. berdmorei); semi arboreal (R. nicobariensis, R. raniceps dan R. parvaccola) dan Arboreal (P. leucomystax, P. cf macrotis dan Polypedates sp).
Koridor juga di dominasi oleh spesies generalis kecuali Huia sumatrana dan Rhacophorus cyanopunctatus. Komposisi spesies nya terdiri atas habit Akuatik (H. Sumatrana, L. kuhlii, R. erythraea, R. picturata dan R. hosii); semi akuatik (B. asper, Fejervayra cancrivora, F. limnocaris, L. blythii, L. crybetus dan L. microdiscus); Terrestrial (M. berdmorei); semi arboreal (R. parvaccola, R. raniceps dan R. nicobariensis) dan arboreal (R. cyanopunctatus).
Similaritas dari komposisi dan kelimpahan dikelompokkan dengan menggunakan analisis kluster dengan hasil seperti yang tertera pada Gambar 13.
Gambar 13 Diagram similaritas komposisi dan kelimpahan amphibia pada tiap lokasi menggunakan metode ward
Analisis kluster membagi lokasi secara umum berdasarkan komposisi dan kelimpahan spesies menjadi dua kelompok besar yaitu: kelompok pertama merupakan gabungan antara elemen area inti daratan dengan elemen matriks kelompok ini mewakili daratan sedangkan kelompok kedua adalah elemen koridor ditambah elemen area inti akuatik yang cenderung berupa perairan.
Lokasi S im ila ri ty S S H U 5 ( K ) S JH I5 ( K ) S JH I0 ( K ) S JH U 5 ( K ) S JH U 0 ( K ) S S H I5 ( K ) S S H I0 ( K ) S S H U 0 ( K ) B S S S ( C ) B T P S K ( C ) S T ( C ) M B T P -S ( M ) M B T P B ( M ) M B S T ( M ) M B S B ( M ) M B T P U ( M ) M B T P T ( M ) B S ( C ) B T P S ( C ) B T P B ( C ) B T P T ( C ) B T P U ( C ) -210,42 -106,94 -3,47 100,00
Pada kelompok yang pertama terbagi kembali menjadi dua bagian yaitu cluster area inti dan matriks. Pada cluster area inti daratan bagian sisi Bukit Tengah Pulau Utara, Timur dan Barat komposisi spesiesnya hanya berbeda 1-2 spesies dan kelimpahan yang bervariasi dengan angka yang sama. Sisi selatan dari bukit ini bersebelahan dengan Bukit Salo, komposisinya juga cenderung menyerupai Bukit Salo sehingga sedikit berbeda dengan kelompok cluster BTPU, BTPB dan BTPT dengan tingkat similaritas 82,6. Sementara sisi selatan Bukit Tengah Pulau lebih dekat dengan Bukit Salo memiliki tingkat kesamaan komposisi spesies dengan nilai similaritas 80,37. Spesies yang absen pada cluster area inti daratan adalah semua pesies dengan habit akuatik kecuali L. kuhlii, R. raniceps, M. berdmorei dan Genus Rhacophorus.
Cluster matriks membentuk kelompok dengan similaritas tertinggi pada MBTPU dengan MBSB dengan nilai 96. Komposisi dan kelimpahan spesies pada paling rendah 70,4 pada cabang ke lima, cluster pada elemen matriks relatif tidak terlalu jauh berbeda secara komposisi dan kelimpahan spesiesnya. Spesies yang absen pada cluster matriks adalah Spesies Spesialis interior hutan, Genus Huia dan Rhacophorus serta R. picturata.
Pada Kelompok habitat akuatik, elemen area inti akuatik mengelompok dan tampak lebih dekat dengan koridor bagian Sungai Suir, bagian SSHU5 tampak mengelompok dengan semua lokasi pada Sungai Jujuan yang tingkat similaritasnya paling tinggi dibandingkan seluruh lokasi dengan tingkat kesamaan 98,6. Sedangkan tingkat kesamaan terendah komposisi antara area inti dengan matriks adalah 52,68-72,44. Pada Sungai Jujuan dan Suir perbedaan komposisi spesies hanya berbeda masing-masing dua spesies, pada Sungai Jujuan terdapat F. limnocaris dan R. cyanopuntatus sedangkan pada Sungai Suir terdapat F. cancrivora dan M. berdmorei, Genus yang tidak ditemukan pada koridor adalah Genus Polypedates, Kalophrynus, Occidozyga dan Leptobrachium.
5.1.1.2. Korelasi Jarak Dengan Keanekaragaman
Berdasarkan analisis hasil korelasi antara jarak dengan keanekaragaman diperoleh hasil seperti pada Tabel 3.
Tabel 3 Persamaan regresi antara jarak (Euclidian distance) dengan diversitas Shannon-Wienner.
No. Variabel Persamaan Regresi P Value R square
1. Area inti- Koridor H = 1,37 + 0,000187 Jarak+ ϵ 0,379 2,0%
2. Area inti-Matriks H = 0,768 + 0,00159 Jarak+ϵ 0,004 30,6%
Ket:P>0.05 tidak signifikan
Pada korelasi antara area inti dengan koridor persamaan regresi menunjukkan korelasi yang tidak signifikan antara keanekaragaman dengan jarak. Hal ini dikarenakan adanya ketidakkonsistenan antara pertambahan jarak dengan bertambahnya nilai indeks keanekaragaman pada semua lokasi. Rata-rata nilai indeks keanekaragaman tidak terlalu berbeda pada tiap pertambahan jarak, sementara nilai jarak secara konsisten bertambah. Sehingga pola yang dihasilkan bervariasi, dapat dilihat pada hubungan korelasi pada tiap lokasi.
Pengujian yang dilakukan dengan melihat korelasi antara jarak area inti dengan keanekaragaman dengan menggunakan korelasi Pearson menunjukkan korelasi positif antara dua variabel yang tidak signifikan pada Sungai Suir, (Sungai Suir hilir r = 0,405, n = 10, p ≥ 0,05; Sungai Suir Hulu r = 0,307, n = 10, p ≥ 0,05). Pada Sungai Jujuan ada sedikit variasi dimana Sungai Jujuan Hulu berkorelasi positif (r = 0,093, n = 10, p ≥ 0,05), sedangkan bagian hilirnya berkorelasi negatif (r = -0,142, n = 10, p ≥ 0,05). Korelasi pada bagian hilir Sungai Jujuan dapat dilihat sebagai penyebab utama ketidak konsistenan karena bernilai negatif, dimana nilai indeks keanekaragaman cenderung menurun dengan pertambahan jarak dari area inti, sementara lokasi yang lain memiliki nilai korelasi positif yang rendah dan tidak signifikan.
Korelasi antara jarak dengan keanekaragaman pada elemen matriks berdasarkan analisa diatas didapatkan hasil korelasi antara jarak dengan keanekaragaman yang signifikan. Dimana keanekaragaman tiap pertambahan
jarak satu meter, keanekaragaman akan bertambah sebanyak 0,00159 kali ditambah dugaan nilai rataan pada daerah matriks.
5.1.2. Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Koridor yang Terpapar dan Tidak dengan Area Inti Serta pada Bagian Hulu dan Hilir
5.1.2.1. Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Koridor yang Terpapar dan Tidak Terpapar dengan Area Inti
Uji beda keanekaragaman jenis amphibia pada koridor Sungai Suir yang terpapar dan Sungai Jujuan tidak terpapar dengan area inti dilakukan dengan uji t student dengan hasil seperti yang tertera pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4 Nilai t hitung uji t student keanekaragaman antara sungai jujuan dengan Sungai Suir.
No. Habitat Sungai Suir Hilir Sungai Suir Hulu 1. Sungai Jujuan hilir -1,03ts -1,45ts
2. Sungai Jujuan hulu -0,04ts -0,62ts Ket: ts = tidak signifikan
Pada Tabel 4 dapat dilihat ada empat perbandingan dengan hasil tidak ada perbedaan keanekaragaman amphibia yang signifikan antara Sungai Jujuan yang tidak terpapar dengan area inti dan Sungai Suir yang terpapar dengan area inti, baik pengujiannya pada bagian hulu dan hilir dari dua sungai ini. Secara jumlah jenis kedua sungai juga memiliki jumlah spesies yang sama yaitu 14 spesies, memiliki tingkat kesamaan komposisi spesies sebanyak 85,7%, spesies yang hanya ditemukan pada Sungai Jujuan adalah F. cancrivora dan R. cyanopunctatus sedangkan yang hanya ditemukan pada Sungai Suir saja adalah M. berdmorei dan F. limnocaris.
5.1.2.2. Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Aliran Sungai Bagian Hulu dan Hilir
Uji beda keanekaragaman jenis amphibia pada bagian hulu dan hilir dari koridor Sungai Jujuan dan Suir dilakukan dengan uji t student dengan hasil seperti yang tertera pada Tabel 5.
Tabel 5 Nilai t hitung uji t student keanekaragaman pada bagian hulu dan hilir No. Habitat Sungai Jujuan Hulu Sungai Suir Hulu
1 Sungai Jujuan hilir -0,99ts -
2 Sungai Suir hilir - -0,60ts
Ket:ts=tidak signifikan
Berdasarkan pada uji t pada keanekaragaman jenis amphibia pada koridor Sungai Jujuan bagian hulu dan hilir di dapatkan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan antara keanekaragaman amphibia pada bagian hulu dan hilir dari Sungai Jujuan. Demikian juga dengan bagian hulu dan hilir dari Sungai Suir dimana tidak ada perbedaan yang signifikan pada keanekaragaman amphibianya.
Adapun sebaran berdasarkan komposisi spesies pada tiap subtransek pada Sungai Jujuan dapat dilihat pada Gambar 14.
Ket A = B. asper; B = F. limnocaris; C = H. sumatrana; D = L. blythii; E = L. crybetus; F = L.
kuhlii; G = L. microdiscus; H = R. erythraea; I = R. hosii; J = R. nicobariensis; K = R. parvaccola;
L = R. picturata; M = R. raniceps; N = R. cyanopunctatus
Pada diagram dapat dilihat variasi komposisi dari spesies pada setiap subtransek, tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara spesies pada bagian hulu dengan hilir sungai. Spesies yang ditemukan pada bagian hulu sebanyak 12 spesies sedangkan spesies yang ditemukan pada bagian hilir sebanyak 14 spesies, lebih banyak dua spesies yaitu L. microdiscus dan F. limnocaris di bandingkan dengan bagian hulu. Sedangkan pola pada komposisi spesies pada bagian hulu dan hilir sungai suir dapat dilihat pada Gambar 15.
Ket: A = B. asper; B = F. cancrivora; C = H. sumatrana; D = L. blythii; E = L. crybetus; F = L. kuhlii; G = L. microdiscus; H = M. berdmorei; I = R. erythraea; J = R. hosii; K = R. nicobariensis; L = R. parvaccola; M = R. picturata; N = R.
raniceps).
Gambar 15 Diagram komposisi spesies antara bagian hulu dan hilir sungai suir.
Pada Gambar 15 terlihat kondisi sebaran spesies juga tidak jauh berbeda antara bagian hilir spesies tidak memiliki pola jumlahnya meningkat pada bagian hulu dan menurun pada bagian hilir. Perbedaan terlihat pada jumlah spesies yang ditemukan pada bagian hulu lebih banyak sejumlah 13 spesies dibandingkan dengan bagian hilir yang hanya memiliki kekayaan spesies sebanyak 9 spesies. Spesies yang hanya ditemukan pada bagian hilir adalah F. cancrivora sedangkan spesies yang hnaya ditemukan pada bagian hulu saja adalah L. microdiscus, R. nicobariensis, R. picturata dan M. berdmorei.
5.1.3. Distribusi dan Dispersal Amphibia 5.1.3.1. Distribusi Amphibia
Peta sebaran amphibia pada lanskap Bukit Tengah Pulau dan Salo dapat dilihat pada Gambar 16 dan 17.
Gambar 16 Peta sebaran amphibia pada area inti, matriks dan koridor bukit tengah pulau.
Gambar 17. Peta sebaran amphibia pada area inti, matriks dan koridor bukit salo.
Berdasarkan pada analisis pola sebaran spasialnya (Lampiran 15.) spesies amphibia pada kawasan KSI memiliki tiga pola: Agregat (B. asper, F. cancrivora, F. limnocharis, H. sumatrana, K. pleurostigma, L. wayseputiense, L. blyhtii, L. crybetus, L. kuhlii, M. borneensis, M. heymonsi, O. sumatrana, P. leucomystax, Polypedates sp, R. erythraea, R. hosii, R. nicobariensis, R. parvaccola, R. picturata dan R. raniceps); Acak (B. biporcatus, Microhyla sp dan O. laevis); dan Homogen (L. microdiscus, M. berdmorei, P. cf macrotis dan R. cyanopunctatus). Pola sebaran spasial ini dapat tergambar melalui distribusi kelimpahan populasi amphibia pada elemen lanskap, seperti pada:
Area Inti
Wilayah area inti umumnya memiliki tipe habitat yang sama yaitu hutan yang telah terdegradasi. Pada area inti dengan habitat terrestrial, tipe lokasi bisa dibedakan menjadi tiga berdasarkan pola area yang berbatasan dengan matriks yaitu 1). lokasi yang diawali dengan dominasi semak, lokasi yang di awali dengan dominasi semak ditemukan pada BTPT dan BS, pada BTPT. Daerah yang berbatasan dengan matriks berupa semak dan perdu dengan pepohonan yang jarang-jarang, pada 100 meter pertama daerah ini ditemukan P. leucomystax dan R. raniceps namun pada BS tidak ditemukan amphibia pada daerah perbatasan ini; 2). lokasi yang diawali dengan hutan sekunder. Tipe lokasi ini dapat ditemukan pada BTPB dan BTPS. Pada BTPB amphibia yang mampu hidup pada daerah perbatasan ini adalah K. Pleurostigma sedangkan pada BTPS adalah L. wayseputiense dan 3). Hutan yang didominasi Euphorbiaceae, satu-satunya lokasi dengan tipe hutan yang didominasi oleh vegetasi Macaranga adalah pada lokasi BTPU pada lantai hutannya ditutupi dengan serasah-serasah daun lebar dan tebal namun tampaknya daerah ini dihindari oleh amphibia.
Pada bagian dalam hutan spesies amphibia banyak ditemukan pada daerah pertengahan transek dan tampaknya menghindari daerah puncak bukit yang lebih terbuka tutupan kanopinya. Amphibia yang umum ditemukan berada diatas lapisan serasah seperti K. Pleurostigma, L. wayseputiense, M. heymonsi, M. borneensis dan L. microdiscus dan B. biporcatus. Mikrohabitat lainnya yang digunakan adalah kubangan oleh L. kuhlii dan akar banir oleh Microhyla sp. Pada
perdu-perdu yang tumbuh di dalam hutan digunakan oleh Polypedates sp, satu-satunya amphibia arboreal yang mampu hidup didalam hutan.
Area inti yang habitatnya berupa akuatik pada daerah yang berbatasan dengan matriks biasanya ditemukan B. asper, L. blythii, L. crybetus, L. kuhlii dan R. erythraea. Bagian yang sungai yang berada di dalam hutan juga memiliki komposisi yang sama dengan perbatasan hanya saja R. picturata dan R. hosii merupakan spesies ciri pada daerah ini spesies semi arboreal juga dapat ditemukan seperti R. raniceps dan R. parvaccola. Spesies di dalam hutan ini umum ditemukan pada tepian sungai, mikrohabitat yang lain seperti tebing digunakan oleh L. microdiscus dan kubangan babi yang berada tidak jauh dari sungai ditemukan amphibia dari genus Occidozyga.
Matriks
Secara umum amphibia pada matriks tampaknya tidak terlalu menyenangi daerah perbatasan dengan area inti yang memiliki kontur berbukit yang kering dan sering kali ditanami dengan sawit yang berusia muda. Seperti pada lokasi MBTPB, MBST dan MBTP-S pada 100 meter pertama dari jarak tersebut hanya ditemukan P. cf macrotis dan M. heymonsi masing-masing hanya satu individu, malah pada MBTPB tidak ditemukan satu pun amphibia. Matriks yang memiliki perbatasan dengan area inti berupa perkebunan kelapa sawit yang telah dewasa seperti pada lokasi MBSB juga tidak ditemukan amphibia pada 100 meter pertama.
Berbeda dengan matriks yang memiliki perbatasan yang basah dengan area inti seperti pada MBTPU. Beberapa jenis amphibia memanfaatkan bekas aliran sungai dengan batu-batu besar bersemak yang masih dialiri air dibawahnya menggenangi area berupa rawa yang dihuni oleh R. erythraea dan R. parvaccola pada vegetasinya. Pada MBTPT perbatasan berupa areal berawa yang ditanami dengan sawit muda umumnya digunakan oleh Genus Fejervarya, L. kuhlii, R. parvaccola dan R. nicobariensis.
Pada perkebunan Amphibia dapat dengan mudah ditemukan pada parit-parit yang bersemak spesies yang biasa ditemukan adalah B. asper, L. blythii, L. kuhlii. Kemudian pada bagian tepi jalan perkebunan yang membentuk kubangan banyak sekali ditemukan R. nicobariensis, M. heymonsi dan beberapa P. leucomystax,
Polypedates sp. Kelimpahan R. nicobariensis dan M. heymonsi sangat menonjol pada kawasan yang memiliki pelepah sawit kering yang jamak digunakan sebagai pembatas piringan sawit semak. Pakis yang tumbuh subur diantara rentang jarak tanam sering ditemukan digunakan oleh Genus Polypedates, R. parvaccola, R. raniceps. Biasanya semakin rimbun semak pakis tersebut makin banyak ditemukan spesies-spesies ini ditemukan. Pada permukaan tanah perkebunan di bawah kanopi kelapa saiwt jenis yang kerap ditemukan lainnya adala Genus Fejervarya, L. microdiscus dan M. berdmorei.
Koridor
Amphibia terdistribusi secara merata di sepanjang koridor hanya saja komposisi spesiesnya yang tidak seragam. Jenis yang paling terdistribusi secara merata adalah B. asper jenis ini sangat mendominasi kawasan sering didapati pada pinggiran sungai baik yang bertebing maupun landai namun tidak ditemukan pada bagian sungai yang berlubuk dengan tepian yang terbuka dan ditumbuhi oleh pakis-pakisan, jenis lain yang umum terdistribusi adalah R. hosii selalu dapat dengan mudah ditemukan pada sungai dengan jeram yang kuat dan kelembaban yang tinggi.
Pada daerah yang berlubuk dan dilingkupi oleh riparia yang rimbun dapat ditemukan R. picturata yang menggunakan akar dan cabang-cabang vegetasi dipinggiran sungai. Bagian tepiannya banyak digunakan oleh L. blythii dan L. crybetus meskipun kedua jenis ini juga ditemukan pada perairan bersubstrat batu-batuan kerikil dangkal, pada vegetasi pinggirnya digunakan oleh R. raniceps dan R. parvaccola. L. kuhlii banyak ditemukan pada pinggiran sungai yang landai dan genangan air sungai berlumpur hingga diatas tebing hingga ke tinggian 3 meter pada air yang terperangkap pada ceruk bebatuan.
R. nicobariensis hanya ditemukan pada bebatuan lava dimana air terperangkap pada Sungai Jujuan. Sedangkan pada Sungai Suir berada pada genangan air ditepi lahan pertanian yang dibuka oleh masyarakat. Pada sungai yang bertebing dapat ditemukan L. microdiscus dan R. cyanopunctatus. Sedangkan R. erythraea cenderung lebih tidak terikat, dalam pengamatan ini sering ditemukan pada pinggian sungai yang berair tenang dan daerah yang melingkupinya relatif terbuka, sering ditemukan pada tebing dan pada daun-daun
keladi yang tumbuh dipinggir sungai. Spesies yang jarang ditemukan adalah Genus Fejervarya pada bagian hilir sungai dalam rentang 100 meter awal pengamatan dan M. berdmorei ditemukan di dekat lahan pertanian yang dibaru dibuka oleh masyarakat pada bagian hulu Sungai Suir.
5.1.3.2. Dispersal Amphibia
Komposisi amphibia pada tiap-tiap elemen dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar 18 Komposisi amphibia berdasarkan sebarannya pada elemen lanskap.
Berdasarkan pada Gambar 18 Amphibia pada kawasan PT.KSI dapat dibagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah kategori spesies obligat, terlihat bahwa pada area inti hanya dapat ditemukan 6 spesies, pada matriks 1 spesies dan 2 spesies pada koridor, secara umum dapat diasumsikan spesies-spesies ini merupakan spesies spesialis dan bersifat spesifik serta memiliki preferensi habitat sesuai dengan elemen lanskap yang ditempatinya. Spesies spesifik ini diyakini tidak melakukan dispersal karena tidak ditemukan pada elemen lainnya.
Kategori kedua adalah spesies fakultatif, kategori terdiri atas spesies yang memiliki kemampuan untuk hidup pada dua elemen yang berbeda dan memiliki preferensi pada salah satu atau kedua elemen untuk ditempati, terdiri atas tiga bagian yaitu: Bufo biporcatus Microhyla sp Occidozyga laevis Occidozyga sumatrana Microhyla borneensis Kalophrynus pleurostigma Polypedates cf macrotis Huia sumatrana Rhacophorus cyanopunctatus Microhyla berdmorei Fejervarya cancrivora Fejervarya limnocaris Rana nicobariensis Polypedates leucomistax Polypedates sp Leptobrachium wayseputiense Microhyla heymonsi Rana picturata Bufo asper Rana erythraea Rana hosii Rana parvaccola Rana raniceps Limnonectes microdiscus Limnonectes blythii Limnonectes crybetus Limnonectes kuhlii Area inti Matriks Koridor
1. Area inti-koridor, spesies yang mampu hidup pada kedua elemen ini hanya R. picturata. Dimana spesies ini ditemukan pada area inti perairan dan koridor yang juga berbentuk badan air. Namun preferensi dari spesies lebih dominan pada area inti.
2. Area inti-matriks, terdiri atas 4 spesies yaitu P. leucomystax, Polypedates sp, M. heymonsi dan L. wayseputiense. P. leucomystax dan M. heymonsi memiliki preferensi habitat pada matriks, sedangkan spesies yang terakhir lebih dikenal sebagai spesies interior hutan dan memiliki preferensi habitat pada area inti.
3. Matriks-koridor, Terdiri atas 4 spesies juga yaitu semua Genus Fejervarya, M. berdmorei dan R. nicobariensis. Semua spesies ini lebih umum ditemukan pada matriks dan pengukuran dengan menggunakan indeks preferensi habitatnya membuktikan hal ini. Pada koridor hanya R. nicobariensis yang kelimpahannya masuk dalam kategori jarang sedangkan 3 spesies lainnya kelimpahannya berkategori langka.
Kategori ketiga adalah Spesies generalis, terdiri atas Spesies amphibia yang mampu hidup beradaptasi pada ketiga elemen lanskap perkebunan, dengan total 9 spesies dan kesemuanya memiliki habit akuatik. Badan perairan dapat ditemukan pada area inti berupa sungai-sungai kecil dalam hutan, beberapanya memiliki aliran air yang berhulu melintasi matriks, badan air pada matriks sendiri berupa parit-parit kecil di pinggir kolom perkebunan yang mengalir dan bergabung menjadi sungai kecil yang melintasi area inti dan akhirnya bermuara pada sungai-sungai besar berkoridor yaitu Sungai Jujuan dan Sungai Suir.
Berdasarkan analisis preferensi habitat (Lampiran 14.) menunjukkan sebagian besar spesies hanya memiliki preferensi pada satu habitat saja seperti pada: Area inti (B. biporcatus, R. picturata, O. laevis, O. sumatrana, K. pleurostigma, L. wayseputiense, M. borneensis dan Microhyla sp); matriks (F. cancrivora, F. limnocharis, R. nicobariensis, R. parvaccola, M. berdmorei, M. heymonsi, P. leucomistax dan P. cf macrotis); dan koridor (B. asper, H. sumatrana, R. hosii, L. blythii, L. kuhlii dan R. cyanopunctatus). Sebagian lainnya memiliki preferensi pada dua habitat yang berbeda antara lain: pada area inti-matriks (L. microdiscus
dan Polypdates sp); area inti-koridor (L. crybetus); dan matriks-koridor (R. erythraea dan R. raniceps).
5.2. Pembahasan
5.2.1. Keanekaragaman dan Similaritas Spesies pada Elemen Lanskap dan Korelasi Jarak dengan Keanekaragaman
5.2.1.1. Keanekaragaman dan Similaritas Spesies pada Elemen Lanskap Kurva akumulasi spesies
Kurva akumulasi spesies berhenti pada jumlah 27 spesies dan masih menunjukan tren menanjak walau cenderung mendatar. Hal ini menunjukkan masih ada kemungkinan untuk penemuan spesies lainnya namun relatif sedikit bila variasi habitat yang dijadikan lokasi pencarian masih sama, semakin luasnya area pencarian akan mencakup habitat yang lebih heterogen (Shen et al. 2009) dan lamanya waktu (Crosswhite et al. 1999) yang diperlukan akan menentukan seberapa banyak spesies yang teramati. Jumlah spesies yang ditemukan termasuk tinggi dan lebih baik dari rata-rata jumlah spesies yang ditemukan oleh Kurniati (2009) yang melakukan pengamatan diversitas amphibia di 14 lokasi yang berbeda pada Taman Nasional Kerinci Sebelat dengan jumlah rata-rata kekayaan spesies 16 (stdev= 6).
Estimasi dalam kekayaan jenis merupakan cara paling sederhana dalam mengukur keanekaragaman. Munculnya area inti sebagai elemen lanskap yang memiliki nilai tertinggi dengan 23 spesies (stdev=3,75) secara umum menyatakan bahwa area inti merupakan wilayah dengan keanekaragaman tertinggi, mengingat jumlah transek yang digunakan pada area inti lebih besar dan lebih beragam jenis habitat yang di survei membuat label keanekagaraman tertinggi pada kawasan ini tidak tergambarkan dengan baik, karena elemen matriks yang lebih relatif lebih homogen kawasannya menempati posisi terbaik kedua dengan jumlah 21 spesies (stdev= 2,87) dengan jumlah transek yang lebih sedikit, sedangkan koridor merupakan elemen dengan kekayaan jenis terendah. Faktor ketidakstabilan lingkungan mungkin mempengaruhi rendahnya kekayaan jenis pada koridor. Faktor dominansi menyebabkan kekayaan spesies yang diperkirakan lebih cenderung dibawah estimasi (Magurran 2004).
Kurniati (2011) melakukan penelitian pada kawasan yang sama menemukan 6 spesies yang berbeda dengan yang tercatat dalam penelitian ini pada matriks. Hal ini dikarenakan lebih cenderung kepada variasi daerah yang disurvei mencakup aliran sungai, kolam dan perkebunan sawit itu sendiri yang ke semuanya didalam matriks, sedangkan pencarian pada koridor ditemukan 11 spesies dimana 4 spesies berbeda dengan yang ditemukan dalam penelitian ini dengan menggunakan dua metode pecarian dan aliran sungai yang berbeda, pencarian pada area inti tidak ditemukan amphibia karena hanya satu lokasi dan metode yang digunakan.
Hal ini menggambarkan variasi dari lokasi, luas area dan metode yang digunakan sangat menentukan keanekaragaman pada suatu lokasi. Kekayaan spesies yang berasal dari komunitas yang berbeda seharusnya dibandingkan berdasarkan pada ukuran sampling effort yang sama termasuk area yang dieksplorasi, waktu yang digunakan (Begon et al. 2006) dan metode sampling yang dipakai (Magurran 2004).
Jumlah Jenis, Diversitas dan Kemerataan.
Lanskap Bukit Tengah Pulau (BTP-MBTP-SJ) dan lanskap Bukit Salo (BS-MBS-SS). Bila perbandingan dilakukan dengan persepsi ini sekilas terlihat keanekaragaman pada lanskap Bukit Tengah Pulau lebih baik dibandingkan dengan lanskap Bukit Salo, baik dari sisi jumlah spesies, keanekaragaman dan kemerataan. Menunjukkan bahwa karakter lanskap pada Bukit Tengah Pulau lebih padu dengan mozaik yang homogen dibandingkan dengan Bukit Salo. Namun hal ini juga cukup bias dikarenakan luas area yang disurvei lebih banyak dibandingkan Bukit Salo. Secara keseluruhan lanskap bukit tengah pulau juga memiliki porsi wilayah yang lebih banyak dibandingkan dengan Bukti Salo ditambah kawasan lanskap Bukit Salo terutama pada area inti dan koridornya terus tergerus oleh penebangan liar sehingga luasan hutannya terus menyusut pada beberapa sisi, tergambar dari tutupan tajuk (Lampiran 1).
Secara umum pada area inti spesies yang ditemukan merupakan spesies yang mampu hidup pada wilayah hutan sekunder diantaranya adalah L. wayseputiense, K. Pleurostigma, dan M. borneensis. Kelimpahan yang rendah menunjukkan adanya tekanan habitat pada populasi, perpaduan antara pembalakan liar dan perkebunan memberikan efek berantai bagi spesies spesialis hutan. Faktor penentu
utama efek perkebunan terhadap amphibia adalah temperatur, lingkungan dengan kanopi terbuka akan meningkatkan eksposur cahaya bagi amphibia, meningkatkan tekanan fisiologi karena stress panas (Wanger et al. 2009).
Selain spesies-spesies ini, rata-rata amphibia lainnya mampu hidup diluar hutan dan beradaptasi dengan baik. Dengan melihat kondisi pada area inti yang telah jauh terdegradasi maka diyakini spesies yang hanya mampu hidup pada hutan primer diyakini telah punah keberadaaannya pada area inti, fragmen kecil yang terisolasi juga memiliki spesies yang kecil pada taxa lain seperti pada kupu-kupu (Benedict et al. 2006). Faktor lainnya diyakini karena daya dispersal yang rendah juga mempengaruhi amphibia sendiri (Gillespie, in press), mempengaruhi migrasi antar habitat yang penting untuk aliran genetik (Wang & Whitlock 2003). Transformasi pada daratan mempengaruhi integritas dari sistem ekologi melalui hilangnya spesies asli, invansi spesies eksotik, erosi pada tanah dan menurunnya kualitas air (Forman & Godron 1986). Spesies asli yang tersisa setelah modifikasi secara umum akan berkurang dalam jumlah dan tidak terhubung dengan batasan habitat yang masih utuh. Hasilnya populasi dari tumbuhan dan hewan yang ada pada habitat yang tertingggal ini juga akan terbagi dan berkurang dan juga menyebabkan beberapa spesies tertentu menghadapi kepunahan.
Keanekaragaman yang cukup tinggi di kawasan area inti terbantu karena kemerataan yang baik. Meski secara kuantitas sebenarnya populasinya mengkhawatirkan karena setiap spesies hanya diwakili oleh satu individu bila dirata-ratakan dengan jumlah lokasi yang dijadikan titik pengambilan data. Sedangkan pada area inti yang habitatnya akuatik tidak jauh berbeda dengan koridor, hanya R. picturata dan R. hosii yang memiliki keterikatan yang tinggi dengan hutan, meskipun R. hosii juga dapat ditemukan diluar hutan (Kurniati 2009). Keanekaragaman spesies pada akuatik tidak lebih baik dibandingkan pada area inti pada habitat daratan karena beberapa spesies semi akuatik dan akuatik yang sedikit dominan diwilayah tersebut namun lebih baik dibandingkan dengan koridor.
Matriks Bukit Tengah Pulau dan Matriks Bukit Salo merupakan bagian dari elemen matriks. Kedua lokasi ini memiliki nilai yang kontras pada jumlah spesies dimana Matriks Bukit Tengah Pulau merupakan bagian dengan jumlah spesies
paling tinggi dengan jumlah 18 spesies sementara Matriks Bukit Salo merupakan yang terendah bila dibandingkan dengan lokasi keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh jumlah transek pada Matriks Bukit Tengah Pulau jauh dua kali lebih banyak bila dibandingkan dengan Matriks Bukit Salo. Matriks Bukit Tengah Pulau diwakili dengan empat transek sedangkan matriks bukit salo dengan dua transek. Jumlah transek ini sebanding dengan luas area yang diamati menjadi dua kali lebih banyak, luas area sebanding dengan jumlah spesies (Tjorve 2003), karena area yang lebih luas memiliki habitat yang lebih heterogen dan lingkungan mikro yang lebih bervariasi pula. Namun terbatasnya daya dispersal dan minimnya mikrohabitat yang tersedia juga mempengaruhi hal ini (Shen et al. 2009; Donald & Evans 2006). Spesies yang mampu bertahan pada matriks merupakan spesies generalis dengan relung yang luas, dan beberapa spesies mampu hidup sama baiknya pada perkebunan dan hutan yang telah terdegradasi.
Koridor pada Sungai Jujuan dan Sungai Suir memiliki jumlah spesies, keanekaragaman dan kemerataan yang relatif paling buruk bila dibandingkan dengan elemen lainnya. Hal ini disebabkan karena dominasi beberapa spesies yang sangat kental karena habitat yang relatif homogen dan lingkungan yang sangat fluktuatif menyangkut debit air, sifat fisika dan kimia karena tidak stabilnya sistem hidrologi karena mulai tergerusnya sistem penyangga yang tidak kontinyu. Hal ini dapat tergambar dengan mudah pada kondisi populasi H. sumatrana di kawasan ini. Jenis spesies ini adalah amphibia yang menyenangi air berjeram jernih di dalam hutan (Mistar 2003), kondisi populasinya dari kedua sungai hanya di dapati 10 individu saja dalam rentang total 4 kilometer panjang transek. Hal ini mungkin disebabkan sungai yang ada tidak memiliki hutan yang berkesinambungan menyebabkan menurunnya kelembaban, suhu, fluktuasi debit air (Olson et al. 2007). Pendangkalan karena sedimentasi, dan masuknya material kimiawi ke dalam perairan.
Faktor ini menyebabkan spesies yang paling mampu beradaptasi akan mendominasi kawasan dan spesies yang memiliki batas toleransi lingkungan akan menghadapi hambatan dalam struktur populasinya. Hal yang sama juga terjadi pada taxa yang lain, spesies hutan yang ditemukan pada perkebunan sedikit dan spesies yang umum ditemukan berlimpah (Bruhl et al. 2003; Sheldon et al. 2010)
Disamping itu struktur komunitas amphibia yang berada di elemen koridor, dihindari oleh spesies interior hutan dan amphibia dengan habit arboreal dari genus Polypedates.
Spesies spesialis interior hutan menghindari daerah riparia mungkin dikarenakan karena faktor efek tepi mengingat lebar koridor riparia yang berkisar antara 20-50 meter dan karakter habitat yang tidak menunjang bagi siklus hidup mereka. Riparian pada koridor berupa hutan sekunder yang memiliki lapisan serasah yang tipis, mikrohabitat yang dapat menunjang hidup mungkin saja tidak tersedia, sementara absennya genus Polypedates belum diketahui penyebabnya. Bickford et al. (2009) memiliki persepsi yang berbeda mengenai ini hasil penelitiannya menunjukan habitat untuk berreproduksi yang lebih heterogen berperan dalam menentukan kekayaan spesies, fragmen yang besar dan berdekatan memiliki spesies yang lebih banyak dan kelimpahan tidak memiliki korelasi dengan area hutan atau konektivitas.
Similaritas
Tingkat persamaan antara tipe area inti perairan dengan Koridor juga tidak terlalu banyak berbeda. Pada dispersal pada area inti Bukit Tengah Pulau- Koridor Sungai Jujuan, pada area inti terrestrial tingkat persentase kesamaan komposisi spesies tertinggi hanya 14,3% pada Bukit Tengah Pulau Selatan (BTPS) 4,3% pada Bukit Tengah Pulau Timur (BTPT), 9,5% pada Bukit Tengah Pulau utara (BTPU) dan bahkan pada Bukit Tengah Pulau barat (BTPB) tidak ada spesies yang sama, bandingkan dengan area inti berkarakter perairan (Bukit Tengah Pulau Sungai Kecil) yang memiliki tingkat kesamaan tertinggi 22,2%. Jumlah individu pada area inti terrestrial yang terlalu kecil juga menghindari terjadinya dispersal rata-rata jumlah individu pada tiap area inti bertipe terrestrial hanya 1 individu/spesies. Tidak memenuhi syarat alasan mengapa suatu organisme berdispersal.
Berdasarkan pada kesamaan komposisi dan kelimpahan spesiesnya, area inti terrestrial memiliki tingkat kesamaan yang lebih baik dengan matriks dibandingkan dengan koridor, sebaliknya area inti akuatik memiliki tingkat kesamaan yang lebih baik dengan matriks, data karakter lingkungan perairan pada
koridor juga mendukung dugaan ini (Lampiran 1). Hal ini membuktikan bahwa spesies dengan habitat terrestrial lebih memilih preferensi habitat lain dengan tipe terrestrial pula. Dan spesies akuatik juga lebih memiliki preferensi pada habitat akuatik lainnya. Habitat yang memiliki kemiripan karakter akan menarik komposisi spesies yang sama pula (Craig & Beal 1992). Hasil ini diperkuat dengan tipe lokasi yang serupa antara Bukit Tengah Pulau-Salo yang lebih dekat dengan Matriks Bukit Tengah Pulau Barat, kesamaan keduanya adalah topografi lokasi yang serupa dimulai pada kelerengan tinggi, MBSB-MBTPU dan MBTPT memiliki tipe transek yang diawali dengan trek yang relatif basah dan lembab.
Dalam diagram terlihat lokasi yang memiliki komposisi dan kelimpahan yang paling sama adalah habitat yang paling homogen diantara lainnya. Koridor adalah habitat yang paling homogen diantara habitat lainnya, karena komposisi dan kelimpahan spesies antar lokasinya diatas 96%. Hal ini dapat menerangkan mengapa kekayaan spesies pada koridor lebih sedikit dibandingkan lokasi lainnya. Heterogenitas pada habitat mempengaruhi kekayaan jenis pada suatu lokasi, pada Bukit Tengah Pulau Sungai Kecil dan Sungai Ternuk juga terlihat pola dimana hulu keduanya berasal dari parit-parit perkebunan yang membentuk sungai kecil dan mengalir ke melintasi area inti. Berbeda dengan Bukit Salo Sungai Jernih yang asal airnya dari perbukitan bukit salo menunjukan kesamaan dengan Sungai Suir yang merupakan sungai besar terdekat, meski pun letaknya bersebelahan dengan Sungai Ternuk, pengaruh lokasinya yang berada di dalam hutan mempengaruhi komposisi spesies yang serupa karakternya dengan Sungai Suir.
Hal yang menarik dari kesamaan komposisi ini adalah spesies amphibia yang memiliki habit arboreal, dari 4 spesies yang ditemukan hanya 1 spesies saja (Genus Rhacophorus) yang memanfaatkan habitat akuatik, sedangkan 3 spesies lainnya (Genus Polypedates) hidup pada habitat terrestrial. Hal ini diduga juga bergantung kepada heterogenitas habitat reproduksi yang memiliki perbedaan pada Genus Rhacophorus dan Genus Polypedates. Katak pohon diketahui juga terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang menggunakan sungai sebagai tempat berbiak dan kelompok yang menggunakan air tergenang untuk berbiak (Inger & Stuebing 1997).
5.2.1.2. Korelasi Jarak dengan Keanekaragaman
Berdasarkan pada perhitungan yang telah dilakukan pada area inti-koridor dengan melihat korelasi antara keanekaragaman amphibia dengan jarak dari hutan, menunjukan bahwa jarak dari hutan tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan maupun penurunan keanekaragaman amphibia di sepanjang koridor sungai jujuan maupun Sungai Suir. Hal ini bertentangan dengan model equilibrium teori biogeografi pulau yang dikemukakan oleh McArthur (1972), bahwa semakin jauh jarak dengan sumber keanekaragaman berbanding terbalik dengan keanekaragaman. Hasil ini merupakan salah satu dari efek dari jarak, semakin jauh jarak maka akan menyebabkan makin tingginya tingkat kepunahan suatu spesies dan imigrasi menurun dengan drastis (Simberloff 1974), karena kekayaan spesies dalam komunitas berhubungan dengan proses imigrasi dan emigrasi dari satwa (MacArthur & Wilson 1967).
Laurance (2008) mengkaji secara global mengenai teori biogeografi pulau memiliki batasan dalam relevansinya memahami ekosistem terfragmen; Pertama, teori biogeografi pulau hanya memberikan sedikit prediksi mengenai bagaimana komposisi dalam komunitas berubah dengan berjalannya waktu; Amphibia seperti satwa lainnya juga memiliki preferensi sendiri terhadap habitatnya dan merupakan satwa yang sangat terikat dengan mikrohabitatnya dan berkarakter phylopatric. Amphibia cenderung untuk menetap pada suatu lokasi ketika dewasa. Fase juvenile amphibia paling banyak melakukan dispersal dan mungkin butuh beberapa generasi untuk melintasi koridor (Burbrink 1998). Faktor ini sangat berbahaya bagi populasi amphibia pada perkebunan kelapa sawit terutama spesies spesialis hutan, perkebunan kelapa sawit dibuka dengan proses konversi yang cepat secara luas (Koh & Wilcove 2008).
Perubahan suhu, kelembaban, eksposur cahaya, hidrologi mempengaruhi fisiologi yang menyebabkan stress bagi amphibia akan menyebabkan kepunahan pada seluruh strata umur. Kondisi hutan yang tidak seragam juga tidak mempengaruhi secara nyata (lihat sub bab 5.2.2). Ketersediaan mikrohabitat yang disenangi oleh amphibia itu sendiri lebih menentukan keanekaragaman pada amphibia dari pada kebutuhannya dengan hutan (Nuzzo & Mierzwa 2000). Perlu dicatat definisi habitat bagi amphibia tidak selalu diassosiasikan dengan hutan
beberapa jenis amphibia mampu hidup di luar hutan selama mikrohabitatnya tersedia dan juga tergantung pada seberapa lebar relung ekologi dari spesies tersebut.
Ke-2, efek tepi dapat menjadi pengarah terjadinya kepunahan spesies lokal yang tidak dipertimbangkan oleh teori biogeografi pulau; Pada koridor yang berbentuk garis persegi seperti pada kawasan KSI, efek tepi sangat berpengaruh karena hampir setiap sisi dari hutan riparia dipengaruhi oleh efek tepi. Hal ini menyebabkan spesies interior hutan tidak ditemukan pada pada koridor (Santos-barerra & Urbina-cardona 2011). Gangguan pada habitat yang utuh menyebababkan peningkatan pada panjang batas antara fragmen dan habitat yang melingkupinya. Tepi baru yang tercipta menyebabkan perubahan pada karakteristik iklim mikro, yang mana secara signifikan merubah tumbuhan asli dan komunitas hewan yang ada. Ukuran dari fragmen habitat mempengaruhi dengan mencolok proses ekologi yang terjadi, sebagian besar perubahan disebabkan oleh bagian tepi habitat ini. secara umum kekayaan spesies menurun seiring dengan berkurangnya luasan fragmen (Collinge 1996). Untuk spesies interior hutan dimensi koridor dengan tipe panjang dan sempit akan dirasa seperti tepian habitat yang besar dan menghindarinya. Namun pengujian yang dilakukan Burbrink (1998) terhadap korelasi antara lebar riparia dengan kekayaan spesies tidak menunjukan hasil yang signifikan pada amphibia karena keterbatasan dalam memisahkan efek dari lebar koridor dan jarak dari area inti. Faktor ini juga berlaku pada KSI bila melihat komposisi komunitas amphibia dengan tidak ditemukannya spesies interior hutan.
Ke-3, matriks dari vegetasi yang mengungkung habitat dapat mempengaruhi konektivitas fragmen, memberikan efek pada demografi, genetik, dan survival dari populasi lokal; keterkaitan pada poin ini dijelaskan lebih lanjut pada area inti-matriks. dan beberapa penelitian menunjukan bahwa matriks tidak bisa sama dengan “lautan” pada konsep teori biogeografi karena tidak sepenuhnya bertindak sebagai barrier bagi satwa (Fahrig et al. 2011).
Ke-4, Kebanyakan lanskap yang terfragmen juga dipengaruhi oleh faktor manusia seperti perburuan, pembalakan, kebakaran dan polusi, yang berinteraksi sinergis dengan fragmentasi habitat. Kenyataannya dilapangan gangguan yang
dapat terjadi pada lanskap terfragmen juga terjadi pada koridor. Lahan koridor yang dibiarkan oleh perusahaan sebagai bagian dari HCVF, disalahartikan oleh masyarakat sebagai wilayah terlantar dan peluang ini banyak digunakan untuk mengembangkan usaha perkebunan sendiri. Seringkali kontrol yang lemah dari pihak perusahaan menyuburkan faktor ini. Proses ini pun melibatkan pembalakan, kemudian pembukaan lahan dengan cara di bakar dan polusi secara langsung adalah polusi akibat erosi tanah yang parah dilapangan pelanggaran berat dapat ditemukan pada Bukit Salo.
Perubahan ini mempengaruhi komunitas amphibia. daerah koridor akan dihindari oleh spesies interior hutan karena faktor efek tepi yang ditimbulkan. Pembakaran dan pembukaan lahan menjadi barrier baru bagi pergerakan amphibia. Perubahan fungsi kawasan menyebabkan hilangnya mikrohabitat yang dibutuhkan oleh amphibia dan merubah karakter sungai yang menyebabkan terjadi perubahan komposisi dalam komunitas dan adanya dominasi oleh beberapa spesies dan menurunnya populasi spesies lain secara drastis. Ditambah dengan adanya perburuan bagi spesies tertentu di dalam koridor dan hadirnya predator baru seperti biawak (Varanus salvator) dan kobra (Naja sumatrana) pada koridor yang juga turut mempengaruhi dominasi oleh spesies tertentu. Kegiatan ini dilakukan secara selektif oleh masyarakat dan seringkali wilayah yang dikelola berada didekat area inti yang masih luas kawasan hutannya dan relatif jarang dipantau oleh perusahaan.
Ke-5, fragmentasi seringkali memiliki dampak yang berbeda-beda pada properti ekologi seperti dinamika gap-kanopi, cadangan karbon, dan struktur tropik dari komunitas. Hal ini akan menyebabkan variasi pada koridor tergantung dari struktur yang membangun ekosistem itu sendiri dan tingkat kestabilannya. Collinge (1996) menjelaskan bahwa Derajat heterogenitas habitat pada fragment yang terisolasi merupakan faktor yang bertanggung jawab secara parsial atas hubungan antara komposisi spesies dan karakteristik fragmen spasial. Fragment yang besar lebih berkemungkinan mengandung variasi dari tipe tanah, topografi, iklim mikro dan jumlah habitat yang lebih besar dari fragmen yang lebih kecil fragment. Penggunaan koridor oleh hewan juga bervariasi tergantung pada pola mencari makan, ukuran tubuh, ukuran home range, derajat spesialisasi makanan,
pergerakan dan tingkah laku sosial. Keberadaan satwa pada koridor lebih besar ditentukan oleh tingkah laku mencari makan dan tingkah laku sosial dari pada ukuran tubuh. Namun bagi amphibia ketersediaan kebutuhan untuk siklus hidupnya lebih penting, alasan ini mungkin menjadi penyebab tidak terbentuknya pola model equilibrium McArthur& Wilson karena keterbatasan daya dispersal amphibia (Burbrink 1998). Pada kawasan KSI koridor sendiri berupa hutan sekunder dengan derajat kelerengan yang tinggi, ketebalan serasah rendah dan kering. Gap antar kanopinya termasuk luas hal ini mempengaruhi struktur tropik dimana semua derajatnya termasuk miskin baik mangsa mau pun predator yang berada pada status populasi yang belum stabil.
Disamping argumen yang diutarakan oleh Laurance (2008), definisi koridor pada kawasan perkebunan dan keefektifan koridor itu sendiri masih terus diperdebatkan hingga sekarang. Beberapa pendapat penggiat konservasi mengutarakan bahwa area hutan yang berada pada pinggiran sungai yang tidak bisa disebut sebagai koridor karena tidak ditujukan untuk pergerakan satwa. Wilayah ini diidentifikasi dan dikelompokkan ke dalam hutan yang bernilai konservasi tinggi karena masuk dalam kategori HCV 1 dan 4, dimana pada wilayah tersebut terdapat satwa yang dikategorikan bernilai konservasi (HCV 1) dan memiliki jasa lingkungan seperti mencegah erosi dan sebagai daerah tangkapan hujan (HCV 4) dalam kutipan pada dasar HCV (KRHTI 2008), tidak disebutkan dalam klausal HCV. Hutan digunakan untuk pergerakan satwa termasuk pada hutan bernilai konservasi tinggi, Koridor yang terdapat pada kawasan PT.KSI bisa digolongkan dalam pengertian koridor satwa yang didefinisi berdasarkan McEuen (1993) karena meskipun tidak diperuntukkan untuk memfasilitasi pergerakan satwa antar area alami namun secara fungsional dapat menghubungkan dua habitat alami (Bukit Salo-Bukit Lipai). Selama definisi tersebut terpenuhi maka semestinya pengelolaan koridor juga berdasarkan fungsinya sebagai wilayah pergerakan satwa termasuk untuk pergerakan home range, migrasi dan dispersal.
Koridor hingga saat ini masih dianggap sebagi solusi terbaik bagi wilayah yang terisolasi. McEuen (1993) dalam reviewnya pada teori koridor satwa liar, membuat daftar argumen dari beberapa author yang tidak menyetujui konsep
koridor, mempertanyakan alasan mengenai pergerakan pada koridor satwa liar dan menyatakan mengenai ambiguitas dan kekurangan mengenai konsep koridor. Alasan-alasan ekologi ini dapat dikelompokan menjadi 2 antara lain: 1). Kekurangan data mengenai penggunaan koridor dan tidak adanya kontrol dalam studi lapangan, kekurangan data mengenai signifikansi dari variasi kehilangan genetik dikarenakan inbreeding dan populasi kecil menyebabkan kemungkinan terjadinya genetic drift; 2). Habitat pada koridor yang tidak sesuai, dapat mendorong koridor berfungsi sebagai perangkap genetik dan genetik sink, koridor juga dapat digunakan oleh predator dan tempat kontak penyakit.
Pada area inti-matriks berdasarkan pada perhitungan yang telah dilakukan dengan melihat korelasi antara keanekaragaman amphibia dengan jarak dari hutan pada matriks, menunjukan bahwa jarak dari hutan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keanekaragaman amphibia di kawasan perkebunan kelapa sawit. Amphibia di kawasan perkebunan kelapa sawit lebih cenderung menghindari daerah perbatasan dan memiliki korelasi yang positif dengan pertambahan jarak. hal ini menunjukan perkebunan kelapa sawit yang telah dewasa merupakan habitat yang baik bagi spesies yang menggunakannya, ini dikarenakan jumlah jenis yang ditemukan dan kelimpahannya lebih tinggi bila dibandingkan dengan populasinya didalam hutan maupun pada daerah tepi yang berbatasan dengan hutan.
Faktor ini dipengaruhi oleh daerah perbatasan didominasi oleh semak berkayu dan tidak ada pohon yang menaungi dan umumnya ditanam dengan kelapa sawit usia muda. Hutan memiliki kondisi iklim moderat dan kelengkapan struktur yang menyediakan perlindungan dan kelembaban bagi amphibia, berkurangnya kekayaan dan kelimpahan amphibia pada hutan yang telah dibabat dan habitat yang mengalami pertumbuhan sekunder pada tegakan mengimplikasikan kurang sesuainya tipe habitat bila dibandingkan dengan hutan yang telah matang (Wind 1999). Sementara jenis yang hidup di perkebunan kelapa sawit semuanya memiliki relung ekologi yang lebar (Gillespie in press) dan Pengaruh matriks tidak selalu sama pada spesies, bahkan pada spesies yang dekat sekali pun (Ricketts 2001). Pola ini juga tampak perkebunan lain dimana spesies general
mendominasi kawasan (Wanger et al. 2009). Perkebunan kelapa sawit tidak dapat menggantikan peran habitat alami.
Matriks memiliki pengaruh pada konektivitas fragmen, pengaruh usia vegetasi yang menjadi pada matriks yang mempengaruhi keanekaragaman amphibia sejauh ini juga belum dipelajari dengan baik. Beberapa literatur yang menyatakan bahwa amphibia pada daerah peralihan lebih sedikit dibandingkan daerah yang mengapitnya salah satunya telah diteliti oleh Yanuarefa (2010) yang hanya menemukan dua spesies individu didaerah perbatasan antara kebun dengan hutan dataran rendah, perbedaan luas antara daerah peralihan dan wilayah yang mengapitnya dipandang sebagai kemungkinan terjadinya peristiwa ini. pengaruh efek tepi dipandang lebih baik menerangkan fenomena ini (Santos-Barrera & Urbina-Cardona 2011).
Efek tepi menyebabkan gangguan fisik pada vegetasi dan tanah perubahan gradient lingkungan abiotik seperti paparan cahaya matahari, kelembaban yang rendah, kecepatan angin, meningkatkan akses bagi organisme dan material polutan (Harper et al. 2005) lain yang lebih tinggi pada bagian tepi membuat tingkat kesesuaian habitat amphibia pada kawasan ini sangat rendah. Amphibia yang ditemukan pada daerah perbatasan umumnya hidup disekitar sumber dan genangan air untuk bertahan hidup. Sehingga spesies hutan memiliki barier lingkungan yang efektif dan spesies pada sawit memilih habitat perkebunan kelapa sawit yang lebih matang karena keadaan lingkungannya yang lebih stabil.
Banyak hal yang belum diketahui mengenai resistensi amphibia spesialis hutan, karena minimnya studi mengenai aspek ini. Dalam pengamatan ditemukan masing-masing satu individu L. wayseputiense pada matriks Bukit Tengah Pulau-Salo yang berjarak kurang lebih 400 meter dari hutan dan R. hosii ditengah-tengah perkebunan kelapa sawit Lokasi Matriks Bukit Tengah Pulau. L. wayseputiense, selama ini memang dikenal sebagai spesies yang bereproduksi pada sungai, organisme diketahui berdispersal melalui matriks meskipun habitat tersebut tidak cocok untuk survival dan reproduksi (Ricketts 2001). R. hosii dikenal sebagai spesies yang menghuni sungai beraliran deras dan menghabiskan masa juvenilenya didalam hutan, perubahan tingkah lakunya dengan menggunakan kawasan perkebunan kelapa sawit untuk mencapai fase dewasanya adalah
kesimpulan yang terlalu dini untuk itu dibutuhkan studi lebih lanjut untuk mengamati fenomena ini.
Ekosistem perkebunan ini banyak kehilangan spesies yang biasa ditemukan pada hutan pada umumnya namun keadaan dihutan sendiri karena telah terdegradasi parah juga jauh lebih sedikit spesies yang ditemukan terutama spesies terrestrial. Tidak semua spesies menunjukan respon negatif yang sama (Ricketts 2001). Variasi yang terjadi pada spesies kemungkinan disebabkan oleh perbedaaan toleransi pada spesies spesifik terhadap lanskap perkebunan kelapa sawit. Spesies yang mampu hidup pada perkebunan kelapa sawit juga dengan mudah dapat ditemukan pada habitat yang telah di pengaruhi oleh urbanisasi lainnya.
Jenis yang paling merosot ditemukan adalah jenis katak serasah yang dominan pada hutan yang secara kelimpahan dan biomassanya berkurang secara dramatis, yang merupakan respon terhadap berkurangnya serasah dan gangguan pada perkebunan kelapa sawit seiring dengan masuknya masa panen. Bagi spesies residen pada perkebunan kelapa sawit, matriks tentu saja tidak menjadi penghambat bagi pergerakannya, namun berbeda bagi spesies hutan yang mungkin saja memiliki resistensi terhadap matriks kelapa sawit.
Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memantapkan dugaan korelasi ini, karena dalam penelitian ini kondisi matriks yang tidak terlalu bervariasi (Terjal dan ditanami sawit muda) mungkin saja dapat menjadi faktor pengarah hasil korelasi yang didapat dalam penelitian ini. Penambahan variasi kondisi dan jumlah lokasi perkebunan akan sangat memnbantu dalam pemahaman lebih lanjut mengenai aplikasi teori biogeografi dalam lanskap perkebunan kelapa sawit.
5.2.2. Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Koridor yang Terpapar dan Tidak dengan Area Inti Serta pada Bagian Hulu dan Hilir.
5.2.2.1 Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Koridor yang Terpapar dan Tidak dengan Area Inti.
Tidak ada perbedaan Keanekaragaman antara spesies amphibia pada sungai yang terpapar langsung dengan area inti dan tidak, Hasil uji t menunjukkan tidak
adanya perbedaan yang signifikan terhadap sungai yang terpapar dengan area inti (Sungai Suir) maupun yang tidak (Sungai Jujuan). Isolasi tidak memberikan kontribusi dalam menjelaskan variasi pada kekayaan jenis (Eterovick 2003). Konektivititas pada koridor dan area inti memiliki dua terdiri dapat dibagi menjadi dua jalur, jalur darat dan jalur air. Konektivitas dari jalur air cenderung tidak memiliki hambatan yang dapat menghalangi terjadinya pergerakan amphibia dari area inti menuju koridor dan spesies yang menggunakan jalur ini memiliki relung ekologi yang lebih lebar, pergerakan dari jalur darat yang sering dikhawatirkan memiliki banyak barrier terhadap pergerakan amphibia. Bila jalur terrestrial dan akuatik dapat digunakan sama baiknya akan meningkatkan tingkat keberhasilan dispersal pada amphibia (Funk et al. 2004).
Pada koridor yang tidak terpapar dengan area inti (Sungai Jujuan-Bukit Tengah Pulau). Barier yang menghalangi berupa jalan, sungai kecil dan matriks perkebunan kelapa sawit yang berusia muda. Dalam kawasan KSI yang membuat batasan antara koridor yang tidak terpapar langsung adalah jalan yang aktif dipakai oleh aktivitas transportasi harian kegiatan perkebunan. Jalan seringkali dianggap sebagai penghambat dalam dispersal amphibia (Dodd Jr et al. 2004; Glista et al. 2007). Efek dari jalan berupa peningkatan suhu, hidrologi, polutan, suara, cahaya, invasif spesies, akses manusia diyakini secara independen setiap faktor memiliki pengaruh pada ekosistem disekitarnya ditambah dengan tipe jalan dan proses ingkungan seperti angin, air dan tingkah laku (Forman 2000) dan amphibia merupakan satwa yang sangat rentan dipengaruhi oleh faktor ini (Andrew et al. 2008). Terbukti faktor jalan bukan merupakan barrier bagi amphibia di perkebunan dikarenakan koridor yang langsung terpapar dengan area inti tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap keanekaragaman di dalamnya. Efek dari faktor-faktor pergerakan sangat bervariasi antar spesies, sehingga kemampuan berdispersal pada tiap spesies tidak dapat disama-ratakan.
Jalan di perkebunan sawit berbeda dengan jalan raya pada umumnya, jalan di perkebunan sawit berupa tanah liat bercampur kerikil yang berlumpur dimusim hujan dan berdebu di musim panas, kepadatan kendaraan juga berbeda dengan jalan raya. Bagian tepian jalanan yang berlumpur dan tergenang seringkali digunakan oleh amphibia dan selama pengamatan tidak pernah ditemukannya
amphibia yang mati tergilas di sekitar jalan yang langsung berbatasan dengan area inti menunjukan batasan oleh jalan tidak terlalu berpengaruh dalam dispersal amphibia di kawasan perkebunan kelapa sawit. Sungai juga dapat menjadi barrier bagi amphibia terrestrial (Marsh et al. 2007). amphibia terrestrial tidak mengembangkan adaptasi morfologi untuk melintasi perairan, namun faktor ini juga dapat di abaikan karena jenis-jenis yang ditemukan pada sungai kecil ini, tidak satupun ditemukan amphibia interior hutan.
Matriks mungkin saja menjadi penghalang berikutnya matriks berupa kelapa sawit yang masih berusia muda cenderung dihindari. Namun penemuan L. wayseputiense pada MBTP-S mungkin menunjukkan kemampuan beberapa spesies terrestrial yang mampu beradaptasi pada matriks lebih baik dibandingkan yang dipahami sebelumnya. Mengingat kemampuan mereka bertahan pada kondisi area inti yang tidak terlalu baik selama hampir 20 tahun dari generasi ke generasi menunjukan kemampuan adaptasi pada lingkungan matriks.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi adalah panjang area bukit yang paling dekat berbatasan dengan koridor adalah kurang lebih 500 meter. Serta sisi Bukit Tengah Pulau yang berhadapan dengan koridor memiliki topografi kelerengan yang tinggi dan ditumbuhi vegetasi strata tiang yang rapat dan sangat rimbun cenderung dihindari oleh amphibia karena faktor efek tepi. Lebar dari tepian bercak memberikan pengaruh pada satwa karena faktor efek tepi (Forman & Godron 1981). Perpaduan dari barrier-barrier ini mungkin merupakan penyebab tidak terdeteksinya amphibia interior hutan yang tersisa pada koridor.
Pada koridor yang terpapar dengan area inti (Sungai Suir-Bukit Salo), keadaan pada Bukit Salo lebih buruk dari pada Bukit Tengah Pulau. Satu-satunya koridor yang masih terpapar dengan area inti berada di bagian hulu sungai, sedangkan pada bagian hilir telah mengalami pembukaan lahan dalam beberapa tahun yang berbeda, sebagian telah ditanami dengan kelapa sawit muda oleh masyarakat. Kondisi koridor yang berbatasan paling dekat dengan area inti bisa dikatakan sudah tidak memiliki hutan riparia lagi dan ditanami dengan sawit. Sedangkan pada koridor bagian hulu yang masih terpapar berupa hutan muda yang mengalami suksesi, faktor kesesuaian habitat diyakini menjadi penyebab terbatasnya habitat yang tersisa. Meskipun demikian habitat yang tidak seragam
pada Sungai Suir menunjukan keanekaragaman rata-rata yang lebih tinggi dari pada Sungai Jujuan, hal ini dikarenakan kemeraatan yang lebih baik pada Sungai Suir.
5.2.2.2. Perbandingan Keanekaragaman Jenis Amphibia pada Aliran Sungai Bagiah Hulu dan Hilir
Berdasarkan pada perhitungan yang telah dilakukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara bagian hulu dan hilir Sungai Jujuan maupun dengan Sungai Suir. Begitu pula saat diuji perbedaan bagian hulu Sungai Jujuan dengan bagian hilir Sungai Suir dan Bagian hulu Sungai Suir dengan Bagian hilir Sungai Jujuan. Hal yang sama diutarakan oleh Eterovick (2003) bahwa argumentasi yang menjelaskan berudu dapat hanyut dan menyebabkan kekayaan spesies akan lebih tinggi pada sungai yang berukuran sedang (hilir) tidak terbukti dalam studi yang dilakukannya.
Perbedaan keanekaragaman amphibia berdasarkan pengamatan, lebih mengarah pada variasi dari karakter riparia pada masing-masing bagian sungai. Tipe aliran sungai, mikrohabitat yang tersedia, tutupan tajuk. Substrat sungai dan kuat arus hal inilah yang menyebabkan variasi kekayaan jenis dan kelimpahan spesies pada suatu titik dan yang paling. Luas hutan dan konektivitas bukan yang utama dalam menentukan kelimpahan namun ketersediaan habitat berbiak (Bickford et al. 2010).
Berdasarkan komposisi spesies, pada Sungai Jujuan pada bagian hilir memiliki dua spesies yang tidak terdapat pada bagian hulu. Penyebabnya antara lain, pada bagian hilir sungai beberapa parit dari perkebunan bermuara ke dalam badan sungai memberikan kemudahan bagi F. limnocaris untuk masuk ke lingkungan riparia demikian pula dengan L. microdiscus, bagian hilir sungai jujuan memiliki tebing-tebing tanah yang lembab merupakan lokasi favorit bagi L. microdiscus, spesies ini bisa jadi merupakan spesies residen pada riparia atau yang bergerak dari perkebunan kelapa sawit.
Pada Sungai Suir berdasarkan kepada komposisi spesies yang ditemukan, bagian hulu memiliki kekayaan spesies yang lebih banyak dari hilir. Spesies yang tidak ditemukan dihilir antara lain, L. microdiscus karena tidak adanya habitat berupa lereng yang lembab. R. nicobariensis dan M. berdmorei ditemukan pada
genangan air di samping perkebunan kopi masyarakat, mikrohabitat ini tidak ditemukan pada bagian hilir. Sedangkan R. picturata menyukai aliran sungai yang terpecah membentuk aliran kecil yang relatif tenang yang juga tidak ditemukan pada bagian hilir. F. cancrivora yang ditemukan pada bagian hilir yang langsung berbatasan dengan perkebunan sawit karakter ini tidak ditemukan pada bagian hulu.
5.2.3. Distribusi dan Dispersal Amphibia 5.2.3.1 Distribusi Amphibia
Area Inti
Daerah tepi pada hutan yang memiliki variasi tipe tutupan vegetasi seperti semak, hutan Macaranga dan hutan sekunder akan membuat perbedaan keadaan lingkungan interior hutan dan kekayaan spesies yang ada di dalamnya. Hal ini berkaitan dengan efek tepi dimana keadaan bagian tepi yang lebih terbuka akan menyebabkan pengaruhnya terhadap lingkungan menjadi lebih besar pula. Efek tepi menjadi penentu perubahan biotik dan abiotik, seperti fluktuasi pada temperatur, peningkatan angin dan radiasi matahari dan menurunkan kelembaban, yang mempengaruhi kondisi optimum yang diinginkan oleh amphibia (Kapos et al. 1995). Meskipun amphibia disebut memiliki sensitivitas terhadap perubahan lingkungan (Cushman 2006). Beberapa studi yang mempelajari mengenai efek tepi ini memberikan hasil yang berlawanan dari beberapa teori yang telah dikenal, dimana kekayaan spesies meningkat pada daerah tepi (Gardner et al. 2007) dan ternyata ada pengaruh yang diberikan oleh variasi ruang dan waktu (Lehtinen et al. 2003). Beberapa penelitian menunjukan terjadinya penurunan kelimpahan pada beberapa spesies pada bagian tepi dari fragmen atau tidak mengalami berdampak sama sekali (Marsh & Pearman 1997; Schlaepfer & Gavin 2001).
Hal ini selain mempengaruhi kekayaan jenis tentu saja mempengaruhi pada distribusi, dimana amphibia akan cenderung menempati kondisi habitat yang paling menunjang untuk keberlangsungan siklus hidupnya. Respon amphibia dipengaruhi oleh distribusi karakter habitat seperti ketersedian makanan, iklim mikro dan lokasi berbiak, ketiga faktor ini merupakan penentu dalam distribusi amphibia pada patch yang berukuran kecil. Kondisi hutan pada area inti yang