• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengajuan Usulan Kegiatan Untuk Dapat Dibiayai Dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengajuan Usulan Kegiatan Untuk Dapat Dibiayai Dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA

Petunjuk teknis

Pengajuan Usulan Kegiatan

Untuk Dapat Dibiayai Dari

(2)
(3)

PETUNJUK TEKNIS

Pengajuan Usulan Kegiatan

Untuk Dapat Dibiayai Dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA

2012

(4)
(5)

Dalam rangka mencapai sasaran program pembangunan Bidang Cipta Karya yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010 – 2014 dan Rencana Strategis (Renstra) Bidang Cipta Karya Tahun 2010 – 2014, Pinjaman dan Hibah Luar Negeri merupakan salah satu alternatif sumber pembiayaan yang diperlukan untuk mempercepat pencapaian sasaran pembangunan nasional, di samping sumber pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Buku Petunjuk Teknis Penyiapan Usulan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Tahun 2011 – 2014 ini disusun untuk menjadi acuan bagi seluruh pihak terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam proses penyiapan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri. Buku ini telah direvisi dan disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah serta Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengajuan Usulan, Penilaian, Pemantauan, dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dan Hibah. Melalui pemahaman mengenai proses fasilitasi dan administrasi, khususnya dalam proses pengajuan usulan Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM)/Blue Book, Daftar Rencana Kegiatan Hibah (DRKH), dan Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN)/Green Book, diharapkan dapat tercapai efektivitas dan efisiensi proses penyiapan kegiatan di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya yang pembiayaannya berasal dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

Jakarta, November 2012 Direktur Jenderal Cipta Karya

Budi Yuwono P.

Kata Pengantar

(6)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ... 1 DAFTAR ISI ... 2 DAFTAR TABEL... 3 DAFTAR GAMBAR... 3 DAFTAR LAMPIRAN... 3 DAFTAR ISTILAH... 4 PENDAHULUAN 10 1.1 Latar Belakang ... 10

1.2 Maksud dan Tujuan... 10

1.3 Dasar Hukum... 11

BAGIAN 1 13 PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PROSEDUR PENGUSULAN DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA... 14

1.1 Pengertian Pinjaman Luar Negeri... 14

1.2 Proses Perencanaan Pinjaman Luar Negeri... 14

1.3 Jenis Usulan Pinjaman Luar Negeri Kementerian Negara/Lembaga... 16

1.4 Kriteria Umum dan Khusus Pengusulan Pinjaman Luar Negeri... 16

1.5 Prosedur Pengusulan Pinjaman Luar Negeri di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 19

1.6. Prosedur Penyiapan Usulan Kegiatan Pinjaman Luar Negeri ... di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 19

1.7. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 22

1.8. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPPLN-JM/Green Book di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 23

1.9. Penyiapan Negosiasi... 24

1.10. Penerbitan Nomor Register dan Pengesahan Pinjaman (Loan Agreement) 25 1.11. Berlakunya Pinjaman (Loan Effectiveness)... 25

1.12. Prosedur Amandemen dan/atau Realokasi Dana Kegiatan Pinjaman Luar Negeri 26 Lampiran... 27

BAGIAN 2 37 HIBAH LUAR NEGERI DAN PROSEDUR PENGUSULAN DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA... 38

2.1 Pengertian Hibah Luar Negeri... 38

2.2 Proses Perencanaan Hibah Luar Negeri Kementerian/Lembaga... 39

2.3 Jenis Usulan Hibah Luar Negeri Kementerian/Lembaga... 40

2.4 Kriteria Umum dan Khusus Pengusulan Hibah Luar Negeri... 40

2.5 Prosedur Pengelolaan Hibah Luar Negeri di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya 41 2.5.1 Proses Pengusulan Kegiatan Yang Dibiayai Dari Hibah... 41 2.5.2 Pengesahan Pendapatan Hibah Langsung Dalam Bentuk Uang Dan Belanja

(7)

2.5.3 Proses Pengajuan BAST... 42

2.5.4 Permohonan Nomor Registrasi ... 43

2.5.5 Proses Pengesahan Pendapatan Hibah... 45

Lampiran... 49

DAFTAR TABEL Tabel 1.1. Jenis dan Persyaratan Usulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri... 18

Tabel 2.1. Jenis dan Persyaratan Hibah Luar Negeri Usulan Kementerian/Lembaga... 41

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Proses Perencanaan Pinjaman Luar Negeri... 15

Gambar 1.2. Skema Alur Penyiapan Usulan Kegiatan yang dibiayai ... dari Pinjaman Luar Negeri di lingkungan Direktor at Jenderal Cipta Karya... 20

Gambar 1.3. Skema Peran Seluruh Direktorat dilingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam Proses Penyiapan Usulan Kegiatan Pinjaman Luar Negeri... 21

Gambar 1.4. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPLN-JM/Blue Book di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 22

Gambar 1.5. Alur Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPPLN/Green Book di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 23

Gambar 2.1. Proses Perencanaan Hibah ... 39

Gambar 2.2. Proses Penerbitan Nomor Registrasi Hibah... 41

Gambar 2.3. Alur Pengajuan Nomor Register Hibah Dalam Bentuk Uang di Lingkungan Ditjen Cipta Karya ... 48

Gambar 2.4. Alur Pengajuan Nomor Register Hibah Dalam Bentuk Barang dan/atau Jasa di Lingkungan Ditjen Cipta Karya ... 49

Gambar 2.5. Proses Penyiapan Dokumen BAST di Lingkungan Ditjen Cipta Karya ... 50

Gambar 2.6. Proses Pengesahan Hibah Langsung ke Ditjen Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, di Lingkungan Ditjen Cipta Karya ... 50

Gambar 2.7. Proses Pengesahan Hibah Langsung ke KPPN VI, di Lingkungan Ditjen Cipta Karya 51 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A: Format Pengusulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya... 27

Lampiran A1. Form Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DPIK) Pinjaman Luar Negeri 28 Lampiran A2. Form Dokumen Usulan Kegiatan (DUK) Pinjaman Luar Negeri... 30

Lampiran A3. Outline Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) yang disiapkan pada saat Fact Finding... 34

Lampiran B : Format Kelengkapan Administrasi Kegiatan untuk masuk dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPPLN)/Green Book... 35

Lampiran B1. Readiness Criteria... 36

Lampiran C : Format Kelengkapan Administrasi Kegiatan untuk masuk dalam Daftar Rencana Kegiatan Hibah (DRKH)... 48

Lampiran C1. Dokumen Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DIPK) Hibah... 19

Lampiran C2. Formulir Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DIPK) Hibah... 51

Lampiran C3. Format Surat Pernyataan Telah Menerima Hibah Langsung Tanpa Melalui KPPN (SPTMHL)... 55

Lampiran C4. Format Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM)... 56

Lampiran C5. Format Surat Permohonan Nomor Register Hibah... 57

(8)

DAFTAR ISTILAH

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disingkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah negara disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disingkat BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.

Badan Usaha Milik Daerah, yang selanjutnya disingkat BUMD, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Pemerintah Daerah yang dipisahkan.

Berita Acara Serah Terima yang selanjutnya disingkat BAST adalah dokumen serah terima barang/jasa

sebagai bukti penyerahan dan peralihan hak/kepemilikan atas barang/jasa/surat berharga dari Pemberi Hibah kepada penerima hibah.

Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, yang selanjutnya disebut Biro PKLN, adalah unit kerja di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum yang tugas dan fungsinya melaksanakan penyusunan, koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan, penyusunan program dan anggaran, evaluasi dan pelaporan kegiatan pembangunan serta perencanaan dan pembinaan administrasi kerjasama luar negeri.

Daftar Isian Pengusulan Kegiatan Pinjaman, yang selanjutnya disebut DIPK Pinjaman, adalah dokumen yang berisi ringkasan informasi untuk pengusulan kegiatan yang dibiayai dari pinjaman.

Daftar Isian Pengusulan Kegiatan Hibah, yang selanjutnya disebut DIPK Hibah, adalah dokumen yang berisi ringkasan informasi untuk pengusulan kegiatan yang dibiayai dari Hibah.

Daftar Kegiatan adalah daftar rencana kegiatan yang telah tercantum di dalam RPPLN dan siap untuk

diusulkan kepada dan/atau dirundingkan dengan Calon Pemberi Pinjaman Luar Negeri.

Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah, yang selanjutnya disebut DRPLN-JM/Blue

Book, adalah daftar rencana kegiatan pembangunan yang layak dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk

periode jangka menengah (lima tahun).

Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Kementerian Pekerjaan Umum, yang selanjutnya disebut DRPLN-JM/Blue Book Kementerian Pekerjaan Umum, adalah daftar rencana kegiatan pembangunan di bidang pekerjaan umum yang layak dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk periode jangka menengah (lima tahun).

Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri, yang selanjutnya disingkat DRPPLN/Green Book, adalah daftar rencana kegiatan yang telah memiliki indikasi pendanaan dan siap dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk jangka tahunan.

Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Kementerian Pekerjaan Umum, yang selanjutnya

disingkat DRPPLN/Green Book Kementerian Pekerjaan Umum adalah daftar rencana kegiatan pembangunan di bidang Pekerjaan Umum yang telah memiliki indikasi pendanaan dan siap dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk jangka tahunan.

Daftar Rencana Kegiatan Hibah, yang selanjutnya disebut DRKH, adalah daftar rencana kegiatan tahunan yang layak dibiayai dengan Hibah Luar Negeri dan telah mendapatkan indikasi pendanaan dari

(9)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang selanjutnya disingkat DJPU adalah unit eselon I pada

Kementerian Keuangan yang bertindak sebagai Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara Pengelola Hibah.

Dokumen Usulan Kegiatan Pinjaman, yang selanjutnya disebut DUK Pinjaman, adalah dokumen yang memuat latar belakang, tujuan, ruang lingkup, sumber daya yang dibutuhkan, hasil yang diharapkan, termasuk rencana pelaksanaan untuk mendapatkan gambaran kelayakan atas usulan kegiatan yang dibiayai pinjaman.

Dokumen Studi Kelayakan Kegiatan adalah hasil penelitian yang memberi gambaran secara lengkap

tentang layak tidaknya suatu kegiatan berdasarkan aspek-aspek yang dianggap perlu, sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dilaksanakannya suatu kegiatan yang bersangkutan.

Dokumen Usulan Kegiatan Hibah, yang selanjutnya disebut DUK Hibah, adalah dokumen yang memuat latar belakang, tujuan, ruang lingkup, sumber daya yang dibutuhkan, hasil yang diharapkan, termasuk rencana pelaksanaan untuk mendapatkan gambaran kelayakan atas usulan kegiatan yang dibiayai Hibah.

Evaluasi Kinerja Kegiatan adalah kegiatan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data informasi untuk menilai pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan.

Hibah Pemerintah yang selanjutnya disebut Hibah, adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk

devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan atau surat berharga, yang diperoleh dari Pemberi Hibah yang tidak harus perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam atau luar negeri.

Hibah Daerah adalah pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah Pusat atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya dan dilakukan melalui perjanjian.

Instansi Pengusul Kegiatan yang akan Dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri, yang selanjutnya disebut Instansi Pengusul Pinjaman, adalah Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/BUMN yang mengajukan usulan kegiatan untuk dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri.

Instansi Pengusul Kegiatan yang akan Dibiayai dari Hibah, yang selanjutnya disebut Instansi

Pengusul Hibah, adalah Kementerian/Lembaga yang mengajukan usulan kegiatan untuk dibiayai dari

Hibah.

Instansi Pelaksana adalah Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/BUMN yang melaksanakan

kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dan Hibah.

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang memperoleh kewenangan selaku Kuasa BUN Daerah yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit pelaksana teknis pada Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri atas sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya manusia, barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan untuk menghasilkan keluaran dalam bentuk barang/jasa.

Kelayakan Ekonomi adalah gambaran atas efisiensi penggunaan sumber daya dengan manfaat yang diperoleh dalam pelaksanaan rencana kegiatan, mencakup aspek sosial, lingkungan dan/atau ekonomi.

(10)

Kelayakan Finansial adalah gambaran aspek finansial atas penggunaan sumber daya dengan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan rencana kegiatan yang diperhitungkan dengan menggunakan harga pasar.

Kelayakan Teknis adalah gambaran atas kondisi rencana kegiatan yang memperhitungkan unsur keteknikan dan non keteknikan sehingga kegiatan tersebut dapat dilaksanakan.

Kementerian/Lembaga adalah Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah Non-Kementerian/Lembaga Negara.

Kerangka Acuan Kerja atau Terms of Reference adalah uraian tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup, masukan yang dibutuhkan dan hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan.

Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa PA atau KPAadalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD.

Kreditor Bilateral adalah Pemerintah negara asing atau lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah negara asing atau lembaga yang bertindak untuk Pemerintah negara asing yang memberikan pinjaman kepada Pemerintah.

Kreditor Multilateral adalah lembaga keuangan internasional yang beranggotakan beberapa negara, yang memberikan pinjaman kepada Pemerintah.

Kreditor Swasta Asingadalah lembaga keuangan asing, lembaga keuangan nasional, dan lembaga non keuangan asing yang berdomisili dan melakukan kegiatan usaha diluar wilayah Negara Republik Indonesia yang memberikan pinjaman kepada Pemerintah berdasarkan perjanjian pinjaman tanpa jaminan dari Lembaga Peminjam Kredit Ekspor.

Lembaga Penjamin Kredit Ekspor adalah lembaga yang ditunjuk negara asing untuk memberikan

jaminan, asuransi, pinjaman langsung, subsidi bunga, dan bantuan keuangan untuk meningkatkan ekspor negara yang bersangkutan atau bagian terbesar dari dana tersebut dipergunakan untuk membeli barang/jasa dari negara bersangkutan yang berdomisili dan malakukan kegiatan usaha di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menteri Keuangan adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di Bidang Keuangan

Negara.

Menteri Pekerjaan Umum adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di Bidang

Pekerjaan Umum.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang selanjutnya disebut Meneg PPN/Kepala Bappenas, adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional.

Memo Pencatatan Hibah Langsung Bentuk Barang/Jasa/Surat Berharga yang selanjutnya disingkat MPHL-BJS adalah surat yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau

pejabat lain yang ditunjuk untuk mencatat/membukukan Pendapatan Hibah Langsung bentuk barang/ jasa/surat berharga dan belanja barang untuk pencatatan persediaan dari hibah/belanja modal untuk pencatatan aset tetap/aset lainnya dari hibah/pengeluaran pembiayaan untuk pencatatanan surat berharga dari hibah.

Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri, yang selanjutnya disebut NPPLN, adalah naskah perjanjian atau naskah lain yang disamakan yang memuat kesepakatan mengenai Pinjaman Luar Negeri antara

(11)

Naskah Perjanjian Hibah Luar Negeri, yang selanjutnya disebut NPHLN, adalah naskah perjanjian atau naskah lain yang disamakan yang memuat kesepakatan mengenai Hibah Luar Negeri antara Pemerintah dengan Pemberi Hibah Luar Negeri.

Pinjaman Kegiatan adalah Pinjaman Luar Negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan tertentu.

Pinjaman Luar Negeri adalah setiap pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah dan Pemberi Pinjaman Luar Negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.

Pinjaman Proyek atau Project Loan adalah Pinjaman Luar Negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan sarana dan prasarana Pekerjaan Umum.

Pinjaman Tunai adalah Pinjaman Luar Negeri dalam bentuk devisa dan/atau rupiah yang digunakan

untuk pembiayaan defisit APBN dan pengelolaan portofolio.

Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan daerah.

Pemberi Pinjaman Luar Negeri adalah kreditor yang memberikan pinjaman kepada Pemerintah. Pemberi Hibah adalah pihak yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri yang memberikan Hibah kepada Pemerintah.

Pemantauan adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan secara berkala untuk menyediakan informasi tentang status perkembangan suatu kegiatan, serta mengidentifikasi permasalahan yang timbul dan merumuskan tindak lanjut yang diperlukan.

Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintah Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Penanggung Jawab Pinjaman dan Hibah Luar Negeri atau Executing Agency adalah Pejabat Eselon I atau yang disetarakan di lingkungan kementerian yang bertanggung jawab terhadap pemanfaatan serta pencapaian tujuan dan sasaran Pinjaman dan Hibah Luar Negeri di tingkat Pusat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Menteri.

Penanggung Jawab Pelaksanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri atau Implementing Agency adalah Pejabat Eselon I atau Pejabat Eselon II yang disetarakan di lingkungan Kementerian, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab terhadap penyiapan, pelaksanaan, pengawasan dan pelaporan penggunaan dan pemanfaatan sebagian/seluruh Pinjaman dan Hibah Luar Negeri di Tingkat Pusat, Tingkat Provinsi, maupun Tingkat Kabupaten/Kota yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Executing Agency yang bertindak sebagai Penanggung Jawab Pinjaman dan Hibah Luar Negeri kegiatan yang dimaksud.

Pengguna Anggaran atau PA adalah sebagai Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi lain Pengguna APBN/APBD. Yang dapat menjadi PA adalah: a. Menteri/pimpinan lembaga adalah Pengguna Anggaran/Pengguna Barang bagi kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya; b. Gubernur, bupati/ walikota selaku Kepala Pemerintah Daerah; serta c. Kepala SKPD bagi SKPD yang dipimpinnya.

(12)

Perjanjian Penerusan Hibah adalah dokumen perjanjian untuk penerusan Hibah atau dokumen lain yang dipersamakan antara Pemerintah dan Penerima Penerusan Hibah.

Perjanjian Pinjaman Luar Negeri adalah kesepakatan tertulis mengenai Pinjaman antara Pemerintah dan Negara/Lembaga Pemberi Pinjaman Luar Negeri yang dituangkan dalam dokumen perjanjian pemberian Pinjaman Luar Negeri.

Perjanjian Hibah Luar Negeri adalah kesepakatan tertulis mengenai Hibah antara Pemerintah dan Pemberi Hibah yang dituangkan dalam dokumen perjanjian pemberian Hibah atau dokumen lain yang dipersamakan.

Perjanjian Penerusan Pinjaman Luar Negeri adalah kesepakatan tertulis antara Pemerintah dan

Penerima Penerusan Pinjaman Luar Negeri untuk Penerusan Pinjaman Luar Negeri.

Rencana Kebutuhan Pinjaman Luar Negeri yang selanjutnya disebut RKPLN, adalah dokumen perencanaan yang memuat kebutuhan dan rencana pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri meliputi rencana defisit, batas kumulatif pinjaman, rencana besaran pinjaman tahunan dan prioritas bidang pembangunan yang dibiayai dengan Pinjaman Luar Negeri, yang periodenyasama dengan RPJM.

Rencana Kerja Pemerintah adalah yang selanjutnya disebut RKP, adalah dokumen perencanaan

nasional untuk periode 1 (satu) tahun.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, yang selanjutnya disebut RPJMN, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun.

Rencana Pemanfaatan Hibah, yang selanjutnya disebut RPH, adalah dokumen yang memuat arah kebijakan, strategi, dan pemanfaatan Hibah jangka menengah sesuai dengan prioritas pembangunan Nasional.

Rencana Pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri, yang selanjutnya disebut RPPLN, adalah dokumen yang memuat indikasi kebutuhan dan rencana penggunaan Pinjaman Luar Negeri dalam jangka menengah.

Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Pekerjaan

Umum, adalah dokumen perencanaan Kementerian Pekerjaan Umum untuk periode 5 (lima) tahun.

Sekretaris Jenderal, yang selanjutnya disebut Sekjen, adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum.

Satuan Administrasi Pangkal, yang selanjutnya disebut Satminkal, adalah unit pelaksana yang berada pada tingkat Eselon I di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.

Surat Perintah Pengesahan Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SP2HL adalah surat yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk mengesahkan pembukuan hibah langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung.

Surat Pengesahan Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SPHL adalah surat yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa BUN untuk mengesahkan Pendapatan Hibah Langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung.

Surat Perintah Pengesahan Pengembalian Pendapatan Hibah Langsungyang selanjutnya disingkat

SP4HL adalah surat yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat

(13)

Surat Perintah Pengesahan Pendapatan Hibah Langsung Bentuk Barang/Jasa/Surat Berharga

yang selanjutnya disingkat SP3HL-BJS adalah surat yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk untuk diajukan pengesahan Pendapatan Hibah Langsung bentuk barang/jasa/surat berharga ke DJPU.

Surat Pernyataan Telah Menerima Hibah Langsung yang selanjutnya disingkat SPTMHL adalah surat

pernyataan tanggung jawab penuh atas Pendapatan Hibah Langsung dan/atau belanja yang bersumber dari hibah langsung/belanja barang untuk pencatatan persediaan dari hibah, belanja modal untuk pencatatan aset tetap/aset lainnya dari hibah, dan pengeluaran pembiayaan untuk pencatatan surat berharga dari hibah.

(14)

1.1 Latar Belakang

Dalam rangka mencapai sasaran program pembangunan Bidang Cipta Karya yang dituangkan dalam RPJMN Tahun 2010 – 2014 dan Renstra Bidang Cipta Karya Tahun 2010 – 2014, sumber pendanaan luar negeri merupakan salah satu alternatif sumber pendanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, mengingat terbatasnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dapat dialokasikan oleh Pemerintah. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menetapkan bahwa dalam rangka membiayai dan mendukung kegiatan prioritas dalam rangka mencapai sasaran pembangunan, Pemerintah dapat mengadakan pinjaman dan menerima Hibah, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Saat ini Pemerintah dihadapkan kepada kebutuhan investasi untuk membangun ekonomi dalam rangka memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat dan memenuhi kebutuhan dasar, menurunkan angka kemiskinan serta membangun dan memperbaiki infrastruktur Bidang Cipta Karya. Selain itu, Pemerintah juga membutuhkan investasi yang besar untuk katalisator dan dinamisator pembangunan yang dihadapkan dalam keterbatasan sumber dana Pemerintah, baik APBN maupun APBD.

Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) menganut prinsip-prinsip Pemerintahan yang baik dan juga mengikuti Standar Akuntansi Pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan PHLN dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, monitoring, evaluasi, dan pengawasan. Saat ini kegiatan pembangunan yang dibiayai dari sumber PHLN masih memerlukan penajaman dalam pengelolaannya, khususnya pada proses perencanaan. Upaya penyempurnaan manajemen PHLN perlu terus dilakukan mengingat bahwa pada prinsipnya PHLN digunakan untuk mempercepat proses pembangunan di Indonesia, khususnya pada Bidang Cipta Karya. Untuk itu, sejak tahap perencanaan PHLN, perlu disusun detail disain yang matang, organisasi proyek yang efektif, mekanisme penyaluran pendanaan serta berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sesuai dengan kriteria pinjaman dan Hibah yang diberlakukan oleh Negara/Lembaga Calon Pemberi Pinjaman Luar Negeri atau Hibah Luar Negeri. Sebagai upaya meningkatkan pemahaman proses fasilitasi dan proses administrasi Pinjaman dan Hibah Luar Negeri, khususnya dalam proses pengajuan usulan DRPLN-JM/Blue Book, DRKH, dan DRPPLN/Green Book di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, perlu disusun Buku Petunjuk Teknis Pengajuan Usulan Kegiatan untuk dapat dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun 2011 - 2014. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi landasan, acuan dan pedoman bagi setiap unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam melakukan penyiapan usulan kegiatan Bidang Cipta Karya yang akan dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.

1.2 Maksud dan Tujuan

Buku ini disusun dengan maksud untuk memberikan landasan, pedoman dan arah bagi setiap unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta karya dalam proses penyiapan usulan kegiatan bidang Cipta Karya yang dibiayai dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

Sedangkan tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam koordinasi dan kerjasama di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam menyiapkan usulan kegiatan yang akan diajukan pembiayaannya melalui Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.

(15)

1.3 Dasar Hukum

Landasan hukum dalam Penyusunan Buku Petunjuk Teknis Penyiapan Usulan Pinjaman/Hibah Luar Negeri adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. c. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Pusat dan Pemerintah Daerah.

d. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah.

e. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah.

f. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengajuan Usulan, Penilaian, Pemantauan, dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dan Hibah.

g. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK/010/2006 tentang Tata Cara Pemberian Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang Dananya Bersumber Dari Pinjaman Luar Negeri.

h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008 tentang Hibah Daerah.

i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.07/2008 tentang Tata Cara Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah.

j. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 207/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penarikan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri yang diteruspinjamkan kepada Badan Usaha Milik Daerah/ Pemerintah Daerah.

k. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 151/PMK.05/2011 tentang Tata Cara Penarikan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.

l. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah m. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi Hibah

n. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18/PRT/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Pengendalian Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Bidang Cipta Karya.

o. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum.

(16)
(17)
(18)

1.1. Pengertian Pinjaman Luar Negeri

Pinjaman Luar Negeri adalah setiap pembiayaan melalui utang yang diperoleh Pemerintah dari Pemberi Pinjaman Luar Negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu1.

Jenis dan Bentuk Pinjaman Luar Negeri terdiri atas:

a. Pinjaman Tunai, berupa: i. Pinjaman program, ii. Stand by loan,

iii. Pembiayaan likuiditas jangka pendek, iv. Pembiayaan kontijensi,

v. Pembiayaan untuk permodalan dan lain-lain, yang pecairannya bersifat tunai. b. Pinjaman Kegiatan, berupa:

i. Pinjaman proyek,

ii. Credit line, dan lain-lain, yang pencairannya terkait dengan kegiatan.

Sumber Pinjaman Luar Negeri adalah:

a. Kreditor Multilateral; b. Kreditor Bilateral;

c. Kreditor Swasta Asing; dan d. Lembaga Penjamin Kredit Ekspor.

Penggunaan Pinjaman Luar Negeri:

a. Membiayai defisit APBN; b. Mengelola portofolio utang;

c. Membiayai kegiatan prioritas Kementerian/Lembaga; d. Diteruspinjamkan kepada Pemerintah Daerah; e. Dihibahkan kepada Pemerintah Daerah; dan atau f. Diteruspinjamkan kepada BUMN.

Pengusulan Kegiatan disampaikan Pimpinan Tertinggi Instansi Pengusul dan disampaikan kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas

a. Kementerian : Menteri atau atas nama Menteri pada Kementerian. b. Lembaga : Pimpinan Lembaga atau atas nama Pimpinan Lembaga. c. Pemda : Gubernur / Bupati / Walikota.

d. BUMN : Direktur Utama.

1.2. Perencanaan Pinjaman Kegiatan

Proses perencanaan pinjaman luar negeri dimulai pada saat Menteri PPN/Ka. Bappenas menyusun Rencana Pemanfaatan Pinjaman Kegiatan Jangka Menengah dan Tahunan, dan selanjutnya rencana tersebut dituangkan dalam dokumen: a. RPPLN; b. DRPLN-JM; c. DRPPLN; dan d. Daftar Kegiatan2.

Proses perencanaan pinjaman luar negeri dapat dilihat pada Gambar 1.1. berikut:

Pinjaman Luar Negeri

1. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 2011, Pasal 1

2. Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 2011, Bagian 4 Perencanaan Pinjaman Kegiatan, Pasal 8 dan Permen PPN/Ka Bappenas no. 4 tahun 2011, Pasal 14 ayat 1

(19)

Gambar 1.1. Proses perencanaan pinjaman luar negeri

Daftar

KegIataN

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menyusun Daftar Kegiatan dengan

berpedoman pada DRPPLN

l Daftar kegiatan memuat: (i) nama kegiatan dan instansi pengusul

pinjaman serta instansi pelaksana; (ii) jumlah pendanaan termasuk dana pendamping dan/atau dana pendukung; (iii) indikasi sumber pendanaan, termasuk Kredit Swasta Asing atau Lembaga penjamin Kredit Ekspor

l Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN) adalah

daftar rencana kegiatan yang telah memiliki indikasi pendanaan dan siap dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk jangka tahunan, disebut juga sebagai Green Book

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menyusun DRPPLN dengan mengacu

pada DRPLN-JM

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menetapkan DRPPLN sebagai bahan

penyusunan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga/Pemerintah daerah/BUMN

l Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah

(DRPLN-JM) adalah daftar rencana kegiatan yang layak dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri untuk periode jangka menengah, disebut juga sebagai Blue Book

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menyusun DRPLN-JM dengan

berpedoman pada RPJMN dan memperhatikan RPPLN

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menetapkan DRPLN-JM paling lambat 6

bulan setelah penetapan RPPLN

l Rencana Pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri (RPPLN), memuat

indikasi kebutuhan dan rencana penggunaan Pinjaman Luar Negeri dengan pedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

l Menteri PPN/Ka. Bappenas menetapkan RPPLN paling lambat 3

bulan setelah penetapan RPJMN

l Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)

ditetapkan oleh Presiden

DrPPLN

DrPPLN-jm

rPPLN

rPjmN

(20)

1.3. Jenis Usulan Kegiatan yang dapat diajukan oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/ BUMN

1.3.1. Jenis usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang dapat diajukan oleh Kementerian/Lembaga3

Jenis usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang dapat diajukan oleh Kementerian/Lembaga adalah:

a. Kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kementerian/lembaga tersebut;

b. Kegiatan yang sebagian atau seluruhnya direncanakan untuk dihibahkan kepada Pemerintah Daerah;

c. Kegiatan untuk penyertaan modal negara pada BUMN; dan atau d. Kegiatan yang dilaksanakan oleh beberapa Instansi Pelaksana. 1.3.2. Jenis Usulan Kegiatan yang dapat diajukan oleh Pemerintah Daerah4

Jenis Usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang dapat diajukan oleh Pemerintah Daerah adalah:

a. Kegiatan yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman; atau

b. Kegiatan yang direncanakan untuk diteruspinjamkan dan/atau dihibahkan kepada BUMD. 1.3.3. Jenis Usulan Kegiatan yang dapat diajukan oleh BUMN5

Jenis Usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang dapat diajukan oleh BUMN adalah kegiatan yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman.

1.4. Persyaratan Pengusulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri6

Usulan kegiatan yang diusulkan oleh Instansi Pengusul Pinjaman dilengkapi dengan: a. Persyaratan Umum;

b. Persyaratan Khusus. 1.4.1. Persyaratan umum7

Persyaratan umum dalam pengusulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri mencakup:

a. Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DIPK) Pinjaman, adalah dokumen ringkasan informasi untuk pengusulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri

b. Dokumen Usulan Kegiatan (DUK) Pinjaman, adalah dokumen yang memuat latar belakang, tujuan, ruang lingkup, sumber daya yang dibutuhkan, hasil yang diharapkan termasuk rencana pelaksanaan untuk mendapatkan gambaran kelayakan atas usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri.

1.4.2. Persyaratan Khusus

Persyaratan khusus yang harus dipenuhi dalam pengusulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri mencakup:

a. Persyaratan khusus bagi Kementerian/Lembaga yang mengusulkan kegiatan penyertaan modal negara pada BUMN mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan8.

b. Persyaratan khusus bagi Kementerian/Lembaga yang mengusulkan kegiatan yang akan dilaksanakan beberapa Instansi Pelaksana adalah melampirkan Surat Persetujuan Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang diberikan penugasan9.

3 Permen PPN/Ka Bappenas no. 4 tahun 2011, Pasal 14 ayat 1 4 Ibid, Pasal 15

5 Ibid, Pasal 16 6 Ibid; Pasal 17

7 Permen PPN/Ka Bappenas no. 4 tahun 2011, Pasal 18 8 Ibid, Pasal 19 ayat 1

(21)

c. Persyaratan bagi Pemerintah Daerah yang mengusulkan kegiatan yang direncanakan untuk diteruspinjamkan dan/atau dihibahkan kepada BUMD adalah melampirkan Surat Persetujuan Pimpinan DPRD dan Surat Persetujuan Direktur Utama BUMD calon Penerima Penerusan Pinjaman Luar Negeri10.

d. Persyaratan bagi BUMN yang mengusulkan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman adalah Surat Menteri yang menyelenggarakan urusan BUMN mengenai persetujuan atas usulan atas usulan kegiatan dan kemampuan financial BUMN yang bersangkutan dan Surat Dewan Komisaris mengenai persetujuan atas usulan kegiatan BUMN yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan11.

Secara rinci, persyaratan khusus untuk setiap jenis usulan adalah sebagai berikut:

1. Usulan Kegiatan dari Kementerian Negara/Lembaga

a. Dilaksanakan Sendiri

Kementerian/Lembaga dapat mengusulkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsinya dengan mempertimbangkan:

i. Tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga;

ii. Prioritas Kementerian/Lembaga yang tercantum dalam Rencana Strategis. b. Sebagian Atau Seluruhnya Dilaksanakan Dihibahkan ke Pemerintah Daerah

Kriteria untuk kegiatan yang diusulkan oleh Kementerian Negara/Lembaga untuk diterushibahkan kepada Pemda, harus mempertimbangkan:

i. Urusan Pemerintah Daerah dan diprioritaskan untuk Pemerintah Daerah yang memiliki kapasitas fiskal rendah;

ii. Manfaat bagi masyarakat di daerah calon Penerima Hibah; iii. Pencapaian prioritas pembangunan nasional; dan iv. Bidang tugas Kementerian/Lembaga yang mengusulkan. c. Dilaksanakan oleh Beberapa Instansi

Kriteria untuk kegiatan yang diusulkan oleh Kementerian Negara/Lembaga untuk dilaksanakan beberapa instansi, harus mempertimbangkan:

i. Lintas sektor/program; dan

ii. Pencapaian prioritas pembangunan nasional.

2. Usulan Kegiatan dari Pemerintah Daerah

Kriteria untuk kegiatan yang diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah atau BUMD, harus mempertimbangkan:

a. Urusan Pemerintah Daerah;

b. Manfaat bagi masyarakat daerah setempat;

c. Kegiatan investasi yang menghasilkan penerimaan langsung dan/tidak langsung; dan

d. Pencapaian prioritas pembangunan daerah dan sejalan dengan prioritas pembangunan nasional.

3. Usulan Kegiatan dari BUMN

Kriteria untuk kegiatan yang diusulkan oleh BUMN untuk dilaksanakan sendiri, harus mempertimbangkan:

a. Meningkatkan dan memperluas pelayanan; dan b. Meningkatkan penerimaan BUMN.

10 Ibid, Pasal 20 11 Ibid, Pasal 21

(22)

Jenis dan persyaratan usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri usulan Kementerian/ Lembaga/Pemerintah Daerah/BUMN dapat dijelaskan pada Tabel 1.1.

1. Merupakan Tugas Pokok dan fungsi Kementerian/Lembaga; 2. Merupakan Prioritas Kementerian/Lembaga yang tercantum

dalam Rencana Strategis.

1. Merupakan usulan Pemerintah Daerah dan diprioritaskan untuk Pemerintah Daerah yang memiliki kapasitas fiskal rendah; 2. Memberikan manfaat langsung bagi suatu daerah atau daerah

lain, jika hanya memberi manfaat langsung bagi masyarakat di daerah calon Penerima Hibah maka Pemda harus menanggung sebagian biaya pelaksanaan kegiatan;

3. Kegiatan pendukung merupakan kewajiban Pemda; dan 4. Merupakan bidang tugas Kementerian/Lembaga yang

mengusulkan

1. Merupakan kegiatan investasi untuk infrastruktur yang menghasilkan penerimaan pada APBD Pemda

2. Merupakan kegiatan yang menjadi urusan Pemerintah Daerah yang menjadi prioritas RPJMD yang sejalan dengan RPJMN 3. Memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di daerah terkait 4. Pemda mempunyai kemampuan fiskal untuk membayar pinjaman 5. Merupakan bidang tugas kementerian/lembaga yang

mengusulkan

1. Merupakan kegiatan penyertaan modal negara pada BUMN 2. Pelaksanaannya mengacu pada peraturan dan ketentuan yang

berlaku

Merupakan kegiatan lintas sektor/program yang dilaksanakan untuk suatu tujuan utama tertentu dengan pelaksanaan oleh beberapa instansi dan mengacu pada tugas pokok dan fungsi instansi masing-masing

1. Urusan Pemerintah Daerah;

2. Manfaat bagi masyarakat daerah setempat;

3. Kegiatan investasi yang menghasilkan penerimaan langsung dan/tidak langsung; dan

4. Pencapaian prioritas pembangunan daerah dan sejalan dengan prioritas pembangunan nasional.

1. Meningkatkan dan memperluas pelayanan; dan 2. Meningkatkan penerimaan BUMN

1. Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DIPK); dan 2. Dokumen Usulan Kegiatan (DUK) Dilaksanakan Sendiri Diterushibah-kan Diteruspinjam-kan Penyertaan Modal Dilaksanakan Beberapa Instansi Instansi Penerusan Pinjaman Penyertaan Modal Negara Persyaratan Jenis Usulan Khusus Umum

1. Usulan Kementerian/ Lembaga

2. Usulan Pemda

(23)

1.5. Penilaian Usulan Kegiatan

A. Kelengkapan Usulan

Penilaian kelayakan dilakukan atas dasar dokumen persyaratan usulan kegiatan, yaitu: a. DIPK Pinjaman;

b. DUK Pinjaman B. Kelayakan Teknis

a. Usulan kegiatan merupakan tugas, fungsi dan kewenangan Instansi Pengusul Kegiatan, termasuk penugasan yang diberikan;

b. Kelayakan nilai kegiatan;

c. Kemampuan pengelolaan kegiatan oleh Instansi Pelaksanan; d. Keterkaitan dengan kegiatan lain dari Instansi Pengusul Kegiatan; e. Kesesuaian lokasi kegiatan;

f. Kemampuan penyediaan dana pendamping. C. Keselarasan Perencanaan Kegiatan

a. Keselarasan dengan RPPLN;

b. Ketersebaran kegiatan antar wilayah yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri; c. Keselarasan dengan kegiatan yang terkait langsung dari Instansu lain; dan

d. Kinerja atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang sedang berjalan pada Instansi Pengusul Pinjaman dan Instansi Pelaksana.

1.6. Prosedur Penyiapan Usulan Kegiatan Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

Prosedur Penyiapan Usulan Kegiatan Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah sebagai berikut:

1. Usulan Kegiatan telah ditetapkan dalam daftar kegiatan DRPLN-JM/Blue Book oleh Menteri PPN/ Kepala Bappenas.

2. Direktorat Bina Program memfasilitasi proses pertemuan Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan pihak Lender untuk membahas kegiatan yang telah tercantum dalam DRPLN-JM/Blue

Book. Direktorat Sektor mendukung dalam penyediaan informasi terkait dengan rencana proyek

antara lain nama-nama studi yang pernah ada dan Ringkasan Usulan Kegiatan.

3. Penilaian awal usulan kegiatan oleh Pihak Lender dikoordinasikan oleh Direktorat Bina Program. 4. Setelah mendapatkan indikasi pendanaan dari calon pemberi pinjaman, Direktorat Bina Program

memfasilitasi pelaksanaan Fact Finding Mission oleh Pihak Lender, dengan dukungan teknis dari Direktorat Sektor khususnya untuk penyiapan :

a. Tujuan Kegiatan b. Lingkup Kegiatan c. Lokasi Kegiatan d. Usulan Nilai Proyek

e. Mekanisme Penyaluran Pendanaan

5. Konfirmasi dari Pihak Lender untuk siap melaksanakan Appraisal yang disampaikan secara formal kepada Menteri PPN/Ka. Bappenas.

6. Direktorat Bina Program memfasilitasi pelaksanaan Appraisal oleh Pihak Lender dengan dukungan teknis dari Direktorat Sektor, khususnya untuk penyiapan Readiness Criteria.

7. Setelah dipenuhinya kriteria kesiapan pelaksanaan kegiatan serta indikasi penawaran dari calon Pemberi Pinjaman, Direktorat Bina Program melalui Surat Direktur Jenderal Cipta Karya mengusulkan kepada Sekjen PU tentang usulan kegiatan agar dapat dimasukkan dalam DRPPLN/

(24)

8. Deputi Pendanaan Pembangunan, Kementerian PPN/Bappenas mengirimkan surat kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan untuk menyampaikan daftar kegiatan dan pernyataan siap negosiasi.

9. Berdasarkan surat dari Deputi Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas tersebut, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan mengirimkan surat undangan negosiasi kepada Pihak Lender.

Skema alur penyiapan persyaratan dokumen administrasi usulan kegiatan Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya secara umum dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Skema Alur Penyiapan Usulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

APPRAISAL

Dokumen yang disiapkan: 1. Rencana Kegiatan Rinci

a. Kaitan kegiatan dengan RPJM Nas dan Renstra PU

b. Tujuan kegiatan c. Ruang lingkup kegiatan d. Sumber daya yang

dibutuhkan

e. Hasil yang diharapkan f. Rencana pelaksanaan kegiatan g. Manajemen dan organisasi pelaksanaan kegiatan 2. Indikator Kinerja 3. Dana Pendamping Pusat/

Daerah dan Rencana Alokasi Dana dalam DIPA Pusat/Daerah

4. Status Lahan

5. Organisasi pengelola proyek (PMU/PIU dan Satker) 6. Rencana Pengelolaan

Proyek/PAM/PMM 7. Pernyataan Pemda untuk

berpartisipasi dalam proyek (jika SLA perlu ada surat dari Kepala Daerah disetujui oleh DPRD

Usulan Kegiatan sudah masuk DRPLN-JM/Blue Book

1 6

FASILITASI PERTEMUAN

Dit. Bina Program memfasilitasi pertemuan DITJEN CIPTA KARYA dengan Pihak Donor/

Lender.

Direktorat Sektor mendukung dalam penyediaan informasi terkait usulan kegiatan.

2

FACT FINDING

Membahas Ringkasan Usulan Kegiatan, mencakup: - Tujuan Proyek - Lingkup Kegiatan - Lokasi Kegiatan - Usulan Nilai Proyek - Mekanisme Penyaluran Pendanaan

4

KONFIRMASI

Pihak Donor/Lender memberikan konfirmasi usulan kegiatan siap

melaksanakan Appraisal

5

NEGOSIASI

11

PENILAIAN AWAL

Usulan kegiatan oleh Donor/

Lender,dikoordinasikan oleh Dit.

Bina Program

3

Kementerian Keuangan mengirim surat undangan kepada Pihak Donor/Lender untuk dilakukan NEGOSIASI

10

Menteri PPN/Kepala Bappenas menyampaikan surat kepada Menteri Keuangan bahwa usulan

kegiatan dapat dinegosiasikan

9

Kementerian PU, melalui Surat Sekjen PU kepada Menteri PPN/ Kepala Bappenas, mengusulkan kegiatan Bidang PU untuk masuk dalam DRPPLN/Green Book.

7

Usulan Kegiatan sudah masuk DRPLN/Green Book

(25)

Gambar 1.3 Skema Peran Seluruh Direktorat di lingkungan

Direktorat Jenderal Cipta Karya dalam Proses Penyiapan Usulan Kegiatan Pinjaman Luar Negeri

Berdasarkan skema alur penyiapan usulan kegiatan yang dibiayai dari pinjaman luar negeri di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, dapat disusun peran seluruh direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya. Susunan peran seluruh direktorat tersebut dalam Gambar 1.3.

KEGIATAN INSTITUSI PELAKSANA PeNgusuLaN

BLue BooK DItjeN CIPta KarYa

PeNgusuLaN greeN BooK DItjeN CIPta KarYa

faCt fINDINg mIssIoN aPPraIsaL PeNetaPaN BLue BooK PeNetaPaN greeN BooK

NegosIasI KemeNterIaN KeuaNgaN BaPPeNas

BaPPeNas

PENYIAPAN DOKUMEN ADMINISTRASI: DIT. BINA PROGRAM

PENYIAPAN DOKUMEN TEKNIS: DIT. SEKTOR

PENYIAPAN DOKUMEN ADMINISTRASI: DIT. BINA PROGRAM

PENYIAPAN DOKUMEN TEKNIS: DIT. SEKTOR

usuLaN DIreKtorat seKtor Ke DIreKtorat BINa

Program

(26)

1.7. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

1.7.1. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPLN-JM/Blue Book di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

Secara skematik alur pengajuan usulan kegiatan DRPLN-JM di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya dapat dilihat pada Gambar 1.4. sebagai berikut

Gambar 1.4. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPLN-JM/Blue Book di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

Alur pengajuan DRPLN-JM/Blue Book di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Surat usulan kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman luar negeri dapat diusulkan oleh Kepala Daerah atau merupakan inisiatif dari Direktorat Sektoral/Direktorat Bina Program dalam rangka pencapaian sasaran tugas pokok dan fungsi dari Direktorat Jenderal Cipta Karya. Usulan yang disampaikan oleh Kepala Daerah harus termuat dalam Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten/Kota;

2. Direktorat Sektoral melakukan penilaian teknis dokumen usulan kegiatan;

3. Selanjutnya, Direktur Sektoral mengirimkan memo dinas terkait hasil penilaian dan rekomendasi teknis kepada Direktur Bina Program;

4. Direktorat Bina Program melakukan sinkronisasi dengan prioritas Renstra Direktorat Jenderal Cipta Karya, penyelarasan dokumen usulan kegiatan dengan RKPLN Cipta Karya, dan verifikasi kelengkapan dokumen administrasi usulan kegiatan;

Usulan Daerah yang disetujui DPRD, dengan melampirkan: a. DIPK

b. DUK

Evaluasi oleh Direktorat Sektor, mencakup:

a. KelayakanTeknis b. Kelayakan Ekonomi

Evaluasi oleh Direktorat Bina Program, mencakup:

a. Kesesuaian usulan program dengan RPIJM dan Renstra Direktorat Jenderal Cipta Karya. b. Evaluasi Kelengkapan

Administrasi c. Keterkaitan dengan

kegiatan lain oleh instansi pengusul yang dibiayai dari sumber dana lain (Dok. RPIJM) d. Kinerja pelaksanaan kegiatan terkiat di instansi pengusul e. Evaluasi Mekanisme Penyaluran Pendanaan KONSOLIDASI USULAN KEGIATAN oleh

Direktorat Bina Program

1

2

(27)

5. Setelah penilaian teknis dan evaluasi administrasi selesai, Direktorat Bina Program melakukan sinkronisasi pendanaan dan penetapan mekanisme penyaluran pendanaan ke daerah dengan mengacu kepada kriteria umum dan khusus yang diatur dalam Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2011;

6. Direktorat Bina Program membuat surat usulan Pinjaman Luar Negeri Luar Negeri Cipta Karya yang ditandatangani oleh Dirjen Cipta Karya kepada Sekjen Kementerian PU; 7. Proses selanjutnya dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 18/

PRT/M/2006 tentang Petunjuk Teknis Pengendalian Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Bidang Cipta Karya.

1.8. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPPLN-JM/Green Book di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

Penyiapan DRPPLN dimulai dari sejak ditetapkannya DRPLN-JM oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas. DRPPLN berisi rencana kegiatan yang telah mendapat indikasi pendanaan dari calon pemberi pinjaman dan telah memenuhi sebagian besar kriteria kesiapan pelaksanaan kegiatan.DRPPLN akan ditindaklanjuti ke tahap negosiasi dengan calon pemberi pinjaman dengan catatan bila dalam 2 (dua) tahun berturut-turut belum mendapat pembiayaan dari Pemberi Pinjaman atau Hibah Luar Negeri maka kegiatan itu tidak akan dicantumkan pada DRPPLN tahun berikutnya.

Proses pengajuan usulan kegiatan dalam DRPPLN dapat dilihat pada Gambar 1.5.

Gambar 1.5. Alur Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPPLN/Green Book di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya

PENCANTUMAN KEGIATAN DALAM DRPPLN/ Green Book 8 PENGAJUAN USULAN DRPLN-JM KEPADA BAPPENAS MELALUI SEKJEN PU 7 Pencantuman Usulan Kegiatan dalam DRPLN-JM/Blue Book 1 APPrAISAL

Dokumen yang disiapkan: 1. Rencana Kegiatan Rinci

a. Kaitan kegiatan dengan RPJM Nas dan Renstra PU

b. Tujuan kegiatan c. Ruang lingkup kegiatan d. Sumber daya yang

dibutuhkan

e. Hasil yang diharapkan f. Rencana pelaksanaan kegiatan g. Manajemen dan organisasi pelaksanaan kegiatan 2. Indikator Kinerja 3. Dana Pendamping Pusat/

Daerah dan Rencana Alokasi Dana dalam DIPA Pusat/Daerah

4. Status Lahan

5. Organisasi pengelola proyek (PMU/PIU dan Satker) 6. Rencana Pengelolaan

Proyek/PAM/PMM 7. Pernyataan Pemda untuk

berpartisipasi dalam proyek (jika SLA perlu ada surat dari Kepala Daerah disetujui oleh DPRD

6

Koordinasi Bappenas dg Pihak Donor utk

pernyataan minat pembiayaan kegiatan 2 FACT FInDInG Membahas Ringkasan Usulan Kegiatan, mencakup: - Tujuan Proyek - Lingkup Kegiatan - Lokasi Kegiatan - Usulan Nilai Proyek - Mekanisme Penyaluran

Pendanaan Pihak Donor/Lender memberikan KONFIRMASI konfirmasi usulan kegiatan siap

melaksanakan Appraisal

5

Penyampaian minat oleh Pihak Donor kepada Bappenas

3

(28)

Alur pengajuan DRPPLN/Green Book di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya, dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pencantuman usulan kegiatan dalam Blue Book dan ditetapkan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas.

2. Bappenas akan menawarkan kegiatan yang telah masuk ke dalam Blue Book kepada berbagai lembaga Lender. Paralel dengan proses tersebut Direktorat Bina Program memfasilitasi proses pertemuan Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan pihak Lender untuk membahas kegiatan yang telah tercantum dalam DRPLN-JM/Blue Book. Direktorat Sektoral mendukung dalam penyediaan informasi terkait dengan rencana proyek antara lain nama-nama studi yang pernah ada dan Ringkasan Usulan Kegiatan.

3. Pihak Lender menyampaikan minat untuk pembiayaan kegiatan yang sudah termuat dalam Blue

Book.

4. Setelah mendapatkan indikasi pendanaan dari calon pemberi pinjaman, Direktorat Bina Program memfasilitasi pelaksanaan Fact Finding Mission oleh Pihak Lender, dengan dukungan teknis dari Direktorat Sektor khususnya untuk penyiapan :

- Tujuan Kegiatan - Lingkup Kegiatan - Lokasi Kegiatan - Usulan Nilai Proyek

- Mekanisme Penyaluran Pendanaan - Studi Kelayakan Kegiatan

5. Konfirmasi dari Pihak Lender untuk siap melaksanakan Appraisal yang disampaikan secara formal kepada Bappenas.

6. Direktorat Bina Program memfasilitasi pelaksanaan Appraisal oleh Pihak Lender dengan dukungan teknis dari Direktorat Sektor, khususnya untuk penyiapan Readiness Criteria.

7. Setelah dipenuhinya kriteria kesiapan pelaksanaan kegiatan serta indikasi penawaran dari calon pemberi Pinjaman, Direktorat Bina Program melalui Surat Dirjen Cipta Karya mengusulkan kepada Sekjen Kementerian PU tentang usulan kegiatan agar dapat dimasukkan dalam DRPPLN/

Green Book Bappenas.

8. Pencantuman kegiatan Pinjaman Luar Negeri dalam DRPPLN/Green Book oleh Menteri PPN/ Kepala Bappenas.

1.9. Penyiapan Negosiasi

Setelah usulan kegiatan Pinjaman Luar Negeri Direktorat Jenderal Cipta Karya masuk dalam daftar kegiatan yang disetujui dan disampaikan oleh Menteri PPN/Ka. Bappenas kepada Menteri Keuangan. Selanjutnya Dirjen Cipta Karya dan Sekjen Kementerian Pekerjaan Umum melakukan koordinasi bersama Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Sekretariat Negara, dan instansi terkait lainnya untuk menyiapkan negosiasi dengan calon Pemberi Pinjaman Luar Negeri. Sebelum dilakukan proses negosiasi akan dilakukan kegiatan penyiapan meliputi:

1. Pembentukan Tim Negosiasi

Usulan anggota Tim Negosiasi Direktorat Jenderal Cipta Karya terdiri atas:

a. Unsur Direktorat Jenderal Cipta Karya (Direktorat Bina Program dan Direktoral Sektoral); b. Unsur Sekretariat Jenderal Kementerian PU.

(Proses pembentukan Tim Negosiasi difasilitasi oleh Direktorat Bina Program)

2. Pembahasan dokumen pendukung perjanjian kerjasama dari Pihak Lender, sebagai contoh:

Report and Recommendation of the Predisident (RRP) untuk ADB, Project Appraisal Document (PAD)

untuk World Bank, Minutes of Discussion (MOD) untuk JICA, dan lain-lain, dengan Pemerintah Indonesia yang difasilitasi oleh Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Cipta Karya.

(29)

Direktorat sektor akan mendukung dan memberi masukan terhadap hal-hal sebagai berikut: a. Draft dokumen tender jasa konsultan dan kontraktor, termasuk kriteria evaluasi jasa konsultan; b. Draft kontrak jasa konsultan dan kontraktor; dan

c. Draft surat undangan untuk jasa konsultan.

3. Pengajuan surat permintaan audit dan TOR Auditor dari Direktorat Jenderal Cipta Karya yang difasilitasi oleh Direktorat Bina Program kepada BPKP atau Inspektorat Jenderal.

4. Pelaksanaan Pra-negosiasi untuk membahas dokumen negosiasi. Materi yang disepakati : a. Lingkup kegiatan

b. Besaran proyek dan besaran pinjaman

c. Kondisi pinjaman (fee, bunga pinjaman, jangka waktu pinjaman, grace period) d. Alokasi pendanaan berdasarkan kategori peruntukan kegiatan

e. Pengaturan pelaksanaan f. Proses pengadaan g. Safeguard h. Anti korupsi

i. Monitoring, Pelaporan dan Evaluasi j. Audit

k. Jadwal pembayaran cicilan pinjaman

5. Selanjutnya dilaksanakan Negosiasi yang difasilitasi oleh Direktorat Bina Program, membahas draft Loan Agreement yang kemudian dituangkan dalam Minutes of Negotiation.

1.10. Penerbitan Nomor Register dan Pengesahan Pinjaman (Loan Agreement)

Tahapan selanjutnya adalah proses Penerbitan Nomor Register dan Pengesahan Pinjaman yang meliputi kegiatan:

1. Pengajuan hasil negosiasi kepada Board Lender untuk persetujuan dan tanda tangan . 2. Penandatanganan Loan Agreement oleh Kementerian Keuangan.

3. Penerbitan Nomor Register oleh Kementerian Keuangan yang dimonitor oleh Dit. Bina Program. 4. Proses pengajuan Legal Opinion (khusus pinjaman) oleh Kementerian Keuangan kepada Kemenhukham.

5. Penerbitan Legal Opinion oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukham). 1.11. Berlakunya Pinjaman (Loan Effectiveness)

Tahapan terakhir dari proses penyiapan adalah saat pengesahan berlakunya pinjaman, yang meliputi kegiatan:

1. Penyiapan Rencana Pengelolaan Proyek/PMM/PAM oleh Direktorat Sektor dan fasilitasi pengajuan persetujuan Rencana Pengelolaan Proyek/PMM/PAM oleh Lender dilakukan oleh Direktorat Bina Program.

2. Direktorat Bina Program mengajukan permintaan penerbitan dokumen pendukung berlakunya Pinjaman (Loan) kepada Kementerian Keuangan antara lain :

a. Penyusunan Perdirjen b. Pembukaan Rekening Khusus 3. Initial Deposit

(30)

1.12. Prosedur Amandemen dan/atau Realokasi Dana Kegiatan Pinjaman Luar Negeri

Untuk proses pengajuan amandemen dan/atau realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri yang sedang berjalan, dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

1. Direktorat Sektoral melakukan penilaian dan kelayakan teknis atas usulan amandemen dan/atau realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri.

2. Direktur Sektoral mengajukan surat usulan amandemen dan/atau realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri yang sedang berjalan kepada Direktur Bina Program.

3. Surat usulan tersebut dilampiri dengan Explanatory Notes yang memuat hal-hal yang menjadi dasar pengusulan amandemen dan/atau realokasi dana antar kategori pembiayaan. Hal-hal tersebut antara lain:

a. Justifikasi Amandemen dan/atau Realokasi b. Pencapaian Output

c. Pembiayaan d. Historical Aspect

e. Pandangan proyek ke depan

4. Direktorat Bina Program melakukan penilaian terhadap rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri yang sedang berjalan. Direktorat Bina Program akan berkoordinasi dengan Direktorat Sektor terkait untuk mendapatkan informasi lebih detail.

5. Direktorat Bina Program menyiapkan surat Direktur Jenderal Cipta Karya kepada Sekretaris Jenderal Kementerian PU untuk menyampaikan rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya yang sedang berjalan.

6. Sekretaris Jenderal Kementerian PU meneruskan usulan rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya yang sedang berjalan kepada Bappenas dan Kementerian Keuangan.

7. Bappenas melalui Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan menyampaikan pertimbangan teknis kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan terkait usulan rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya yang sedang berjalan.

8. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan cq. Direktur Pinjaman dan Hibah, Ditjen Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan mengundang seluruh stakeholders yang terkait dalam kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya untuk membahas hal-hal yang perlu klarifikasi lebih detail sebelum usulan tersebut diajukan kepada Lender.

9. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan menyampaikan surat usulan rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya yang sedang berjalan kepada Lender yang membiayai kegiatan tersebut.

10. Jika usulan tersebut disetujui oleh Lender, selanjutnya Lender mengundang Pemerintah Indonesia (yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bappenas, Ditjen Cipta Karya, Kementerian lain yang terkait dalam kegiatan ini) untuk dilakukan negosiasi terhadap rencana amandemen dan realokasi dana kegiatan pinjaman luar negeri Bidang Cipta Karya yang sedang berjalan. 11. Hasil negosiasi dikirim ke Board Lender yang bersangkutan untuk dilakukan persetujuan. 12. Hasil persetujuan Board Lender dikirimkan kepada Kementerian Keuangan, untuk diproses lebih

(31)

Lampiran a

Format Kelengkapan Administrasi Kegiatan

untuk masuk dalam

Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka

(32)

DOKUMEN DAFTAR ISIAN PENGUSULAN KEGIATAN (DPIK) PINJAMAN LUAR NEGERI

Lampiran a1

Daftar Isian Pengusulan Kegiatan berisi informasi sebagai berikut: I. Umum

1. Judul Kegiatan

Judul kegiatan harus menggambarkan kegiatan yang diusulkan secara singkat dan jelas. 2. Bentuk Kegiatan

l Terdapat 2 (dua) pilihan bentuk kegiatan yaitu, Bantuan Proyek (Project Assistance/PA) dan Bantuan Teknik (Technical Assistance/TA).

l Bantuan Proyek (Project Assistance/PA) adalah suatu kegiatan pembangunan yang memanfaatkan berbagai sumber daya luar negeri dengan kegiatan utama meningkatkan aset fisik.

l Bantuan Teknik (Technical Assistance/TA) adalahsuatu rencana kegiatan yang menggunakan sumber daya luar negeri yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas/kemampuan sumber daya manusia dan sistem manajemen Pemerintah melalui pemanfaatan tenaga ahli, pendidikan dan pelatihan, penelitian, maupun lokakarya seminar.

3. Instansi Penanggung Jawab

Instansi penanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab atas kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri, yang terdiri dari Kementrian Negara/Lembaga, Pemerintah Daerah dan BUMN.

4. Instansi Pelaksana

Instansi pelaksana adalah instansi yang melaksanakan kegitan yang sesuai dengan ruang lingkup kewenangan instansi yang bersangkutan yaitu Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/ BUMN. Instansi pelaksana ini dapat dicantumkan sampai ke tingkat unit kerja (setingkat eselon 1) yang akan mengelola kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri.

5. Durasi Pelaksanaan

Durasi pelaksanaan berisi informasi rencana waktu pelaksanaan kegiatan dalam satuan bulan. 6. Perkiraan Tahun Pertama Pelaksanaan

Perkiraan tahun pertama pelaksanaan merupakan perkiraan tahun pertama waktu dimulainya kegiatan.

II. Pembiayaan

Dalam penyusunan perhitungan pembiayaan bagi usulan kegiatan ini, digunakan mata uang US$ sesuai asumsi nilai tukar dalam APBN tahun berjalan.

1. Nilai Pembiayaan

Nilai pembiayaan menjelaskan rincian biaya dari setiap instansi pelaksana yang terlibat dalam kegiatan dan dari setiap lokasi tempat kegiatan dilaksanakan, baik nilai pinjaman, Hibah, maupun pendanaan dalam negeri.

III. Justifikasi

1. Prioritas dalam RPJM 2010-2014

Bagian ini memuat rujukan bidang pembangunan, prioritas bidang dan fokus prioritas dari kegiatan yang diusulkan untuk dibiayai dari pinjaman dan/atau Hibah luar negeri, sesuai dengan RPJM 2010-2014.

(33)

a. Bidang pembangunan sosial budaya dan kehidupan beragama. b. Bidang ekonomi.

c. Bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. d. Bidang sarana dan prasarana.

e. Bidang politik.

f. Bidang pertahanan dan keamanan. g. Bidang hukum dan aparatur. h. Bidang wilayah dan tata ruang.

i. Bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup. j. Pengarusutamaan dan lintas bidang.

k. Sistem Pendukung Manajemen Pembangunan Nasional.

Untuk huruf (j) Pengarusutamaan dan Lintas Bidang serta huruf (k) Sistem Pendukung Manajemen Pembangunan Nasional, dapat menggunakan prioritas bidang dan fokus prioritas pada Bidang Pembangunan lainnya.

2. Latar Belakang Kegiatan

Latar belakang merupakan ringkasan dari latar belakang yang terdapat dalam Dokumen Usulan Kegiatan Pinjaman.

3. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan merupakan ringkasan dari ruang lingkup kegiatan yang terdapat dalam Dokumen Usulan Kegiatan Pinjaman.

4. Sasaran

Bagian ini menggambarkan outcome dat output dari usulan kegiatan PLN. Outcome ditunjukkan untuk melihat keterkaitan antara usulan kegiatan dengan fokus prioritas sebagaimana tercantum dalam RPJM Nasional 2010-2014. Adapun output dari kegiatan disajikan beserta indikator keluaran (indikator output) yang terukur, misalnya:

Judul Kegiatan: Pembanguanan jalur kereta api antara kota A dan kota B.

Output: Tersedianya 300 km jalur kereta api double track antara Kota A dan Kota B. Outcome: Tersedianya Transportasi massal yang memadai antara Kota A dan Kota B.

5. Sudah Tercantum dalam Dokumen Perencanaan Sebelumnya

Bagian ini berisi informasi apakah kegiatan yang diusulkan sudah pernah masuk dalam dokumen perencanaaan sebelumnya baik DRPLN-JM 2011-2014 atau merupakan usulan kegiatan baru. 6. Keterkaitan dengan Kegiatan Lain

Menjelaskan tentang keterkaitan kegiatan yang diusulkan dengan kegiatan lain yang sudah/ sedang/akan dilaksanakan. Kegiatan yang terkait tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar lingkungan instansi pengusul kegiatan.

IV. Dokumen yang Dilampirkan

7. Persyaratan Umum

Berisi informasi mengenai ketersediaan dokumen yang termasuk dalam Persyaratan Umum, yang diperlukan dalam pengusulan kegiatan.

8. Persyaratan Khusus

Berisi informasi mengenai ketersediaan dokumen yang dibutuhkan untuk pengusulan yang berasal dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah maupun BUMN.

(34)

DOKUMEN DAFTAR ISIAN PENGUSULAN KEGIATAN (DPIK) PINJAMAN LUAR NEGERI

DAFTAR ISIAN PENGUSULAN KEGIATAN (DIPK) PINJAMAN

Lampiran a2

I. UMUM 1. Judul Kegiatan Bahasa Indonesia: ………. Bahasa Inggris: ……… 2. Bentuk Kegiatan o Project Assistance o Technical Assistance

3. Instansi Penanggungjawab/Executing Agency (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris)

o Kementerian/Lembaga : ………. mengusulkan kegiatan :

o dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi kementerian/lembaga tersebut o yang sebagian atau seluruhnya direncanakan untuk diHibahkan ke Pemda: o untuk penyertaan modal negara ke BUMN:

o yang dilaksanakan oleh beberapa instansi pelaksana

o Pemerintah Daerah : ……… mengusulkan kegiatan:

o Kegiatan yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman

o Kegiatan yang direncanakan untuk diteruspinjamkan dan/atau diterusHibahkan ke BUMD: o BUMN : ………

(35)

4. Instansi Pelaksana/Implementing Agency (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) a. b. c. 7. Nilai Pembiayaan Instansi Pelaksana

Pinjaman Hibah Pendanaan dalam negeri

Pembiayaan (USD) Total Biaya (USD)

5. Durasi Pelaksanaan : bulan 6. Proyeksi Tahun Pertama Pelaksanaan : II. PEMBIAYAAN 1. 2. Dst. T O T A L III. JUSTIFIKASI 8. Prioritas dalam RPJMN 2010-2014 Bidang Pembangunan *) :

1). Bidang Pembangunan Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama; 2). Bidang Ekonomi;

3). Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; 4). Bidang Sarana dan Prasarana;

5). Bidang Politik;

6). Bidang Pertahanan dan Keamanan; 7). Bidang Hukum dan Aparatur; 8). Bidang Wilayah dan Tata Ruang;

9). Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup; 10). Pengarustamaan dan Lintas Bidang;

11). Sistem Pendukung Manajemen Pembangunan Nasional.

Prioritas Bidang : ……… Fokus Prioritas Bidang : ……….

(36)

9. Latar Belakang Kegiatan /Project Background (Maksimal 250 Kata)

Bahasa Indonesia : Bahasa Inggris :

10. Ruang Lingkup Kegiatan/Scope of Work (Maksimal 250 Kata)

Bahasa Indonesia : Bahasa Inggris :

11. Sasaran

a. Sasaran (Output) dilengkapi dengan indikator output: Dalam Bahasa Indonesia :

1. 2. 3. Dst.

Dalam Bahasa Inggris : 1.

2. 3. Dst.

b. Sasaran (Outcomes): Dalam Bahasa Indonesia : 1.

2. 3. Dst.

Dalam Bahasa Inggris : 1.

2. 3. Dst.

(37)

12. Sudah tercantum dalam dokumen perencanaan sebelumnya

o DRPLN-JM 2011-2014 Kode : ………

o Usulan Baru

13. Keterkaitan Dengan Kegiatan Lain

Judul Kegiatan Sumber Dana Tahun Pelaksanaan Keterangan *)

1. 2.

Dst.

*) Penjelasan keterkaitan dengan kegiatan yang diusulkan

14. Persyaratan Umum

o Dokumen Usulan Kegiatan (DUK) Pinjaman

II. PEMBIAYAAN

15. Persyaratan Khusus

a. Kementerian/Lembaga

o Untuk usulan kegiatan yang dilaksanakan oleh beberapa instansi pelaksana

o Surat Persetujuan Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat yang diberikan penugasan b. Pemerintah Daerah

o Untuk usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman

o Surat Persetujuan Pimpinan DPRD calon Penerima Penerusan Pinjaman Luar Negeri o Untuk usulan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri yang yang direncanakan untuk diteruspinjamkan dan/atau diHibahkan kepada BUMD

o Surat Persetujuan Pimpinan DPRD

o Surat Persetujuan Direktur Utama BUMD calon Penerima Penerusan Pinjaman Luar Negeri c. BUMN

o Untuk usulan kegiatan yang direncanakan sebagai penerusan pinjaman, yang dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri

o Surat Dewan Komisaris mengenai persetujuan atas usulan kegiatan BUMN yang bersang-kutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

o Surat Menteri yang menyelenggarakan urusan BUMN mengenai persetujuan atas usulan kegiatan dan kemampuan finansial BUMN yang bersangkutan.

Penanggung Jawab Usulan (Pejabat setingkat eselon I) (Tanda Tangan & Stempel)

(Nama) (Jabatan)

Gambar

Gambar 1.1. Proses perencanaan pinjaman luar negeri
Gambar 1.2 Skema Alur Penyiapan Usulan Kegiatan yang dibiayai dari  Pinjaman Luar Negeri di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya
Gambar 1.3 Skema Peran Seluruh Direktorat di lingkungan
Gambar 1.4. Proses Pengajuan Usulan Kegiatan dalam DRPLN-JM/Blue Book  di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pinjaman  dan  Hibah  Luar  Negeri  (PHLN)  di  Kementerian  Kesehatan  telah .. banyak  berkontribusi  dan  bermanfaat  untuk  mendukung  tugas 

Pinjaman  dan  Hibah  Luar  Negeri  (PHLN)  di  Kementerian  Kesehatan  telah  banyak  berkontribusi  dan  bermanfaat  untuk  mendukung  tugas  dan  fungsi 

Semoga buku Ringkasan Eksekutif ini dapat memberikan gambaran secara cepat mengenai seluruh kinerja pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari pinjaman luar negeri,

 Regency Settlement Infrastructure Development (RSID) merupakan kegiatan pembangunan infrastruktur dasar yang bertujuan untuk mencegah penyebaran permukiman kumuh di kawasan

Menjawab surat usulan amandemen yang telah dikirimkan Kementerian Keuangan pada tanggal 18 November 2015, Bank Dunia menyampaikan melalui surat per tanggal 15

Pada akhir Triwulan II Tahun 2015 (posisi 30 Juni 2015), nilai pinjaman luar negeri yang sedang berjalan adalah sebesar ekuivalen USD 15.688,6 juta, yang terdiri dari 147 proyek

Nilai pinjaman luar negeri yang sedang berjalan sampai dengan akhir Triwulan I Tahun 2015 (posisi 31 Maret 2015) sebesar ekuivalen USD 16.162,3 juta, terdiri dari 152 proyek

Gambar 2.2 Komposisi Pinjaman Luar Negeri Berdasarkan Instansi Penanggung Jawab Sumber: Lampiran Laporan Kinerja Pelaksanaan PHLN Triwulan IV Tahun 2015 diolah Apabila dilihat dari