• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

Bab ini akan dijelaskan mengenai variable Information System, Competitive Advantage, dan Intellectual Capital dari masing-masing variabel, hubungan antara variabel, hasil penelitian sebelumnya dan hipotesa penelitian.

2.1.1 Information System

Berdasarkan Reynolds and Stair (2010), Sistem informasi merupakan

sekumpulan komponen yang saling berhubungan dimana komponen tersebut

mengumpulkan, memanipulasi, menyimpan, dan menyebarkan data dan informasi

serta menyediakan mekanisme timbal balik sedemikian rupa untuk memenuhi suatu

tujuan. Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (1999), sistem informasi adalah

sebuah sistem yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan,

menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik. Menurut

Bodnar dan Hopwood (1993), sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras

dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk

informasi yang berguna. Menurut Alter (1992), sistem informasi adalah kombinasi

antara prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang

diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah perusahaan. Sedangkan

menurut Gelinas dan Dull (2012), Sistem Informasi adalah sistem buatan manusia

yang pada umumnya terdiri dari sekumpulan komponen berbasis komputer yang

terintegrasi dan komponen manual yang dibangun untuk mengumpulkan,

menyimpan, dan mengelola data serta menyediakan output informasi kepada

pengguna. Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

sistem informasi adalah suatu set komponen yang saling berhubungan, memiliki

prosedur yang formal dalam memenuhi menciptakan mekanisme dalam

pengumpulan, penyimpanan, dan pengelolaan data sehingga dapat memberikan

output informasi dan memenuhi tujuan bagi pengguna. Dalam model Successful

Information System yang diutarakan oleh Delone and Mclean (2003) ialah teori

yang memberikan pemahaman tentang menjelaskan hubungan antara kelima

dimensi Information System, potensi kegunaan dari berbagai jenis Sistem Informasi

(2)

(IS) untuk pengelolaan lingkungan juga sudah diakui dan kemajuan penyediaan informasi telah menyebabkan organisasi mencoba untuk mengembangkan IS atau strategi teknologi informasi (IT) yang saling berhubungan dengan strategi bisnis mereka (Díez et al, 2009).

Indikator variabel untuk Information System adalah 5 karakteristik yang diadopsi dari DeLone dan McLean (2003) :

a) System Quality

System Quality adalah performa dari sistem yang merujuk pada seberapa baik kemampuan perangkat keras, perangkat lunak, kebijakan, prosedur dari Information System dapat menyediakan informasi kebutuhan pengguna.

b) Information Quality

Information Quality merujuk pada output dari sistem informasi, menyangkut nilai, manfaat, relevansi, dan urgensi dari informasi yang dihasilkan.

c) Use

Use merupakan konsumsi terhadap output seberapa sering pengguna memakai Information System dalam kaitannya dengan hal ini penting untuk membedakan apakah pemakaiannya termasuk keharusan yang tidak bisa dihindari atau sukarela.

d) User Satisfaction

User Satisfaction adalah respon pengguna terhadap Information System.

Sikap pengguna terhadap Information System merupakan kriteria subjektif mengenai seberapa suka pengguna terhadap sistem yang digunakan.

e) Net Benefit

Pengaruh Information System terhadap kebiasaan pengguna merupakan

pengaruh keberadaan dan pemakaian Information System terhadap kualitas kinerja

pengguna secara individual termasuk di dalamnya produktivitas, efisiensi dan

efektivitas kinerja yang kemudian berpengaruh terhadap kualitas kinerja secara

organisasi.

(3)

2.1.2 Intellectual Capital

Edvinson (1997) mengakui modal intelektual sebagai barang barang tidak berwujud seperti sumber daya, kapabilitas dan kompetensi yang dilakukan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja dan nilai hasil beberapa tahun ini pengelolaan berdasarkan modal intelektual sangatlah meningkat hal ini disebabkan oleh para pelaku usaha yang mulai menyadari akan pentingnya modal intelektual sebagai dasar untuk berkembang dan mempunyai keunggulan tersendiri dibandingkan pesaing.

Modal intelektual (IC) merupakan salah satu sumber daya yang di miliki oleh perusahaan Bontis et al. (2000). Modal intelektual (IC) pada umumnya didefinisikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya. Modal intelektual (IC) seringkali menjadi faktor penentu utama perolehan laba suatu perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa modal intelektual (IC) merupakan suatu konsep penting yang dapat memberikan sumber daya berbasis pengetahuan dan mendeskripsikan aset tak berwujud yang jika digunakan secara optimal memungkinkan perusahaan untuk menjalankan strateginya dengan efektif dan efisien. Dengan demikian modal intelektual merupakan pengetahuan yang memberikan informasi tentang nilai tak berwujud perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan memberikan kontribusi pada keunggulan kompetitif perusahaan.

Bontis et al. (2000) menyatakan bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi tiga indikator utama dari IC, yaitu: Human Capital (HC), Structural Capital (SC), dan Customer Capital (CC). Berikut adalah penjelasan dari indikator tersebut:

a) Human Capital

Human Capital merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam modal intelektual. Disinilah tercipta sumber inovasi dan kemajuan suatu perusahaan, tetapi modal manusia merupakan komponen Intellectual Capital yang sulit diukur.

Human Capital merupakan tempat sumbernya pengetahuan yang sangat berguna,

keterampilan, dan kompetensi, dalam suatu organisasi atau perusahaan. Human

Capital merupakan kemampuan perusahaan secara kolektif untuk menghasilkan

solusi yang terbaik berdasarkan penguasaan pengetahuan dan teknologi dari

(4)

sumber daya manusia yang dimilikinya dan akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. HC merepresentasikan individual knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. Selain itu HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance, education, experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis. Human Capital ini yang nantinya akan mendukung Structural Capital dan Customer Capital.

b) Structural Capital / Organizational Capital

Structural Capital merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang berkaitan dengan usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual perusahaan yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya: sistem operasional perusahaan, proses manufakturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan. Seorang individu memiliki intelektualitas yang tinggi, tetapi jika perusahaan memiliki sistem operasi dan prosedur yang buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Structural Capital meliputi seluruh nonhuman storehouses of knowledge dalam organisasi.

Dalam hal ini termasuk adalah database, organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya.

c) Relational Capital / Customer Capital

Elemen ini merupakan komponen Intellectual Capital yang memberikan

nilai nyata bagi perusahaan. Relational capital merupakan hubungan harmonis

yang dimiliki oleh perusahaan dengan pihak di luar perusahaan. Baik yang berasal

dari para pemasok yang berkualitas, pelanggan yang loyal dan merasa puas akan

pelayanan perusahaan, hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun

kerjasama rekan bisnis. Relational Capital dapat muncul dari berbagai bagian

diluar lingkungan perusahaan dalam meningkatkan kerjasama bisnis yang dapat

memberikan keuntungan bagi kedua pihak, sehingga dapat meningkatkan kinerja

dan nilai perusahaan.

(5)

2.1.3 Competitive Advantage

Competitive advantage merupakan salah satu elemen yang sangat penting di dalam organisasi sebagai faktor pendukung keberlangsungan proses bisnis organisasi tersebut Porter, (1985). Karena dengan Competitive Advantage organisasi memiliki sesuatu yang berbeda dengan para pesaing sehingga dapat menciptakan posisi dan image yang kuat di pasar maupun di mata pelanggan.

Banyak ahli percaya bahwa Competitive Advantage dapat memberikan benefit bagi organisasi di masa depan. Porter, (1985) mendefinisikan Competitive Advantage berkembang secara mendasar dari kemampuan perusahaan dimana perusahaan dapat menciptakan nilai untuk pelanggannya melebihi biaya perusahaan dalam menciptakan nilai tersebut, baik dengan harga yang rendah atau dengan memberikan manfaat dan layanan yang lebih besar dengan harga yang lebih tinggi.

Bharadwaj et al, (1993) menjelaskan bahwa Competitive Advantage merupakan hasil dari implementasi strategi yang memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki perusahaan. Keahlian dan asset yang unik dipandang sebagai sumber dari Competitive Advantage. Keahlian unik merupakan kemampuan perusahaan untuk menjadikan para karyawannya sebagai bagian penting dalam mencapai Competitive Advantage. Kemampuan perusahaan dalam mengembangkan keahlian para karyawannya dengan baik akan menjadikan perusahaan tersebut unggul dan penerapan strategi yang berbasis sumber daya manusia akan sulit untuk ditiru oleh para pesaingnya. Sedang asset atau sumber daya unik merupakan sumber daya nyata yang diperlukan perusahaan guna menjalankan strategi bersaingnya. Kedua sumber daya ini harus diarahkan guna mendukung penciptaan kinerja perusahaan yang berbiaya rendah dan memiliki perbedaan (diferensiasi) dengan perusahaan lain.

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Porter (1990) yang

menjelaskan bahwa Competitive Advantage adalah jantung kinerja pemasaran

untuk menghadapi persaingan. Competitive Advantage diartikan sebagai strategi

benefit dari perusahaan yang melakukan kerjasama untuk menciptakan Competitive

Advantage yang lebih efektif dalam pasarnya. Strategi ini harus didesain untuk

mewujudkan Competitive Advantage yang terus menerus sehingga perusahaan

dapat mendominasi baik di pasar lama maupun pasar baru.

(6)

Competitive Advantage pada perusahaan menurut (Ramaswami, Bhargava and Srivastava, 2004) terdapat 8 dimensi pelaksanaan Competitive Advantage yaitu:

1. Develop differentiated products

Differentiated products adalah kemampuan dari perusahaan untuk menciptakan barang yang berbeda dari para pesaingnya. Differentiated products merupakan salah satu indikator yang penting bagi perusahaan dikarenakan customer sekarang rela membayar lebih untuk produk yang memiliki keunikan tersendiri. Differentiated products juga dapat mempercepat arus kas dengan cara menaikkan respon terhadap pasar kepada kegiatan pemasaran.

2. Market sensing

Market sensing merupakan kemampuan dari perusahaan untuk merespon kejadian di pasar secara terus menerus. Dengan begitu maka perusahaan dapat menyadari keadaan pasar sekarang dan kebutuhan dari pelanggan, sehingga dapat menciptakan nilai yang lebih.

3. Collaboration with partner

Collaboration with partner merupakan derajat perusahaan dalam menggunakan entitas internal dan eksternal ketika membuat produk baru.

Pihak internal memanfaatkan lintas fungsi dari dalam perusahaan, sedangkan pihak eksternal melakukan kerja sama dengan kedua pihak luar yaitu customer dan supplier. Bekerja sama dengan customer dapat menciptakan suatu produk sesuai dengan keinginan pelanggan dan sedangkan dengan supplier perusahaan mendapatkan bahan yang berkualitas dengan baik.

4. Focus on high value customer

Focus on high value customer adalah focus terhadap pelanggan yang

memberikan pendapatan maupun keuntungan besar bagi perusahaan

dikarenakan tidak semua pelanggan memberikan nilai lebih kepada

perusahaan. Perusahaan harus mengutamakan high value customer agar

dapat memberikan keuntungan yang lebih bagi perusahaan.

(7)

5. Market responsiveness

Market responsiveness adalah kecepatan dari organisasi dalam merespon kebutuhan pelanggan. Dengan respon yang cepat maka pelanggan akan merasa lebih erat dengan perusahaan dan menciptakan loyalitas.

6. Customer as assets

Customer as assets adalah kemampuan perusahaan untuk memelihara suatu hubungan dengan pelanggan dengan memandang pelanggan sebagai asset perusahaan. Hal ini sangat dibutuhkan karena banyak perusahaan sekarang hanya mempedulikan pada pendapatan jangka pendek dengan mengambil keuntungan sebanyak mungkin dari pelanggan. Tidak semua pendapatan jangka pendek dapat membuat perusahaan itu sejahtera tetapi dengan pendapatan jangka panjang perusahaan bisa mendapatkan untung yang lebih kedepannya.

7. Information transparency

Terdapat 2 tipe Information transparency yang dapat dibagikan kepada anggota supply chain yaitu permintaan yang akan memastikan supplier membuat persediaan di saat yang tepat dan keputusan yang menjamin bahwa supplier dapat menyesuaikan kebijakan mereka sesuai dengan pengetahuannya.

8. (Networked) Supply chain leadership

Supply chain leadership merupakan kemampuan untuk memimpin rantai pemasok. Leadership menurut para customer diartikan dengan perusahaan tersebut dapat menggunakan hubungan tersebut untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan nilai lebih terhadap customer.

2.1.4 Perhotelan

Perhotelan adalah Tempat penerimaan yang ramah dan hiburan untuk para

tamu atau orang asing (Hepple et al., 1990). Begitu juga dengan yang lain

menganggap perhotelan adalah seputar tema akan kebaikan dan kemurahan hati

dalam membuat tamu atau orang asing merasa diterima. Hal ini menunjukkan

bahwa perhotelan adalah proses yang agak sempit dan satu arah tanpa parameter

yang jelas (Brotherton, 1999). bisnis perhotelan harus fokus pada pengalaman akan

(8)

melayani tamu, dan mengembangkan hal-hal mengesankan yang merangsang semua lima indera manusia (Hemmington, 2007) dan mereka harus bersikap otentik dalam mengambil tanggung jawab untuk menciptakan pengalaman yang baik kepada para tamu. Mereka harus menghormati tamu dan mengembangkan rasa keamanan dan keselamatan. Sudana dan Sasmara (2010) Hotel merupakan suatu perusahaan yang menjual jasa pelayanan, maka dari itu dibutuhkan penggunaan Information System berupa sistem administrasi sumber daya manusia yang efektif dan efisien guna memperlancar fungsi sumber daya manusia yang merupakan salah satu elemen keberhasilan dalam pelayanan suatu hotel, Organisasi perhotelan yang mampu mengerti dan menjalankan hal ini akan mendapatkan Competitive Advantage.

2.2 Hubungan Antar Variabel

2.2.1 Hubungan Antara Information System Dengan Intellectual Capital Sistem Informasi (IS) memainkan peran strategis dan berpengaruh positif dalam penciptaan Modal Intelektual (IC) (Edvinsson and Malone, 1997; Housel and Nelson, 2005; O'Donnell, O'Regan, and Coates 2000) berpendapat bahwa kunci sukses dalam ekonomi yang kompetitif adalah kemampuan untuk melihat, membuat, dan mempengaruhi pasar Information System (IS) dari suatu perusahaan.

Hal ini telah mengembangkan kepercayaan diri investor untuk berfikir positif di pasar modal serta menyoroti pentingnya IS untuk menegakkan potensi perusahaan untuk meningkatkan IC, serta kehadiran IC dalam industri sebagai aset dan refleksi di pasar modal. Intellectual Capital bisa ditingkatkan melalui identifikasi, pengukuran, inovasi dan pengembangan IT. Selain itu, Colomo-Palacios et al.

(2011) mengusulkan teknologi yang memberikan kunci dukungan untuk kegiatan

manajemen modal manusia (Human Capital) seperti: tenaga kerja akuisisi,

administrasi tenaga kerja, manajemen organisasi dan perencanaan, manajemen

waktu tenaga kerja, gaji, keterampilan manajemen kompensasi dan manajemen

kinerja manajemen kompetensi, karir dan perencanaan suksesi, serta motivasi dan

Bedford (2012) menyarankan pembelajaran tentang makna teknologi untuk

mendukung konfigurasi dan menanamkan pengetahuan akan modal manusia

(Human Capital) atau sistem pengetahuan organisasi. Dengan demikian, dapat

(9)

disimpulkan bahwa Information System Memberikan Pengaruh positif dan signifikan terhadap Intellectual Capital sehingga hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

H1 : Terdapat pengaruh positif signifikan antara Information System terhadap Intellectual Capital.

2.2.2 Hubungan Antara Intellectual Capital Dengan Competitive Advantage Menurut Jaradat et al. (2012) dan Chen (2008) terdapat hubungan yang signifikan antara tiga komponen modal intelektual dengan keunggulan kompetitif dalam pelayanan perpajakan dan sektor IT. kedua peneliti tersebut menemukan bahwa di antara tiga komponen, modal intelektual, modal relasional merupakan komponen yang paling berpengaruh dalam mencapai keunggulan kompetitif (CA) bagi suatu organisasi karena hubungan yang kuat dengan pelanggan dapat membantu organisasi untuk bertahan di pasar. Dalam konteks ini, bahkan (Dyer dan Singh 1998) menekankan bahwa modal relasional memiliki potensi tinggi dalam menciptakan keunggulan kompetitif untuk sebuah organisasi dengan berkolaborasi dengan organisasi lain melalui berbagi pengetahuan, rutinitas, dan keterhubungan antar organisasi. Namun, Auw (2009) berpendapat bahwa modal manusia berpengaruh lebih signifikan dalam keunggulan kompetitif dan mengatakan bahwa itu adalah kemampuan, keterampilan, dan pengalaman karyawan yang menimbulkan keunggulan kompetitif (CA) dalam suatu organisasi. Oleh karena itu, (Auw 2009) bermaksud untuk mengkonfirmasi peran modal manusia, relasional dan struktural dalam memprediksi keunggulan kompetitif (CA). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Intellectual Capital memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap Competitive Advantage sehingga hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

H2 : Terdapat pengaruh positif signifikan antara Intellectual Capital terhadap

Competitive Advantage.

(10)

2.2.3 Hubungan Antara Information System Dengan Competitive Advantage Menurut (Turban, 2006) Sistem Informasi berpengaruh positif dan signifikan untuk perubahan tujuan, proses, produk, atau hubungan lingkungan dalam membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif (CA) atau mengurangi kelemahan kompetitif strategis. Sedangkan menurut Wiseman, (1988) dalam lingkungan bisnis memiliki banyak definisi untuk menerapkan strategis IS seperti, IS untuk mendukung atau mengubah strategi dari suatu perusahaan untuk mendapatkan profitabilitas. Tetapi definisi yang jelas adalah sebuah sistem yang membantu perusahaan mengubah strategi bisnis mereka atau struktur perusahaan tersebut. Hal ini biasanya digunakan untuk merampingkan dan mempercepat reaksi terhadap perubahan lingkungan dan membantu perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif (CA). Fitur utama dari IS Strategis adalah sebagai berikut:

1. Sistem pendukung keputusan yang memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan pendekatan strategis untuk menyamakan IS atau IT dengan strategi bisnis organisasi.

2. Solusi utama perencanaan sumber daya yang mengintegrasikan / menghubungkan proses bisnis untuk memenuhi tujuan perusahaan untuk optimalisasi sumber daya perusahaan.

3. Sistem database dengan data mining kemampuan untuk membuat penggunaan terbaik dari informasi perusahaan yang tersedia untuk pemasaran, produksi, promosi dan inovasi. Sistem IS juga memfasilitasi identifikasi strategi pengumpulan data untuk membantu mengoptimalkan peluang database pemasaran.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Information System memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap Competitive Advantage sehingga hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:

H3 : Terdapat pengaruh positif signifikan antara Information System terhadap Competitive Advantage.

2.3 Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian yang pertama diteliti oleh Bilgihan; Okumus; Nusair; dan Kwun

(2011) dengan judul Information technology applications and competitive

advantage in hotel companies. Tujuan dari penelitian ini adalah kerangka kerja

(11)

konseptual yang menggambarkan bagaimana teknologi informasi (IT) dapat menyebabkan keunggulan kompetitif (CA) di perusahaan hotel. Hasil dari penelitian ini adalah beberapa daerah perlu dievaluasi secara cermat dalam mengembangkan dan melaksanakan proyek IT sehingga mereka dapat melaksanakan keunggulan kompetitif (CA) di perusahaan Hotel. Ada empat bidang yang terkait erat ketika menganalisis keputusan di hotel, yang meliputi koherensi antara strategi bisnis dan keputusan IT, jenis aplikasi IT, manfaat dari keputusan IT, dan pengambilan keputusan IT. Investasi ke dalam aplikasi IT di perusahaan Hotel dapat menyebabkan kenaikan kemampuan IT, yang kemudian dapat mengakibatkan biaya yang lebih rendah, kelincahan, inovasi, nilai tambah bagi pelanggan, dan layanan pelanggan yang lebih baik. Namun, tidak semua investasi IT dapat mengakibatkan hasil yang positif atau keberlanjutan. Selain itu, akan ada jeda waktu antara membuat keputusan investasi IT dan melihat hasil yang diinginkan.

Penelitian yang kedua diteliti oleh Chahal dan Bakshi (2015) dengan judul Examining intellectual capital and competitive advantage relationship. Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti dampak dari modal intelektual (IC) pada keunggulan kompetitif (CA). Selanjutnya, peneliti juga mengkaji peran inovasi sebagai pembelajaran variabel dan organisasi sebagai variabel modal intelektual (IC) dan keunggulan kompetitif (CA). Hasil dari penelitian menemukan bahwa modal intelektual (IC) memiliki dampak signifikan dan positif pada keunggulan kompetitif (CA). Hal ini juga diverifikasi bahwa inovasi sepenuhnya memediasi hubungan antara modal intelektual (IC) dan keunggulan kompetitif (CA).

Penelitian yang ketiga diteliti oleh Kamukama (2013) dengan judul

Intellectual capital: company’s invisible source of competitive advantage. Tujuan

dari penelitian ini adalah untuk menguji kontribusi individu elemen modal

intelektual (IC) untuk keunggulan kompetitif (CA). Hal ini bertujuan untuk

mengeksplorasi sejauh mana unsur-unsur modal intelektual (IC) dapat menjelaskan

keunggulan kompetitif (CA) dalam industri lembaga keuangan di Uganda. Hasil

dari penelitian menunjukan bahwa tiga unsur modal intelektual (IC) adalah

prediktor kuat dari keunggulan kompetitif (CA). urutan kepentingan dalam

menjelaskan unsur modal intelektual (IC) dalam keunggulan kompetitif (CA)

(12)

(mendasarkan pada nilai-nilai standar mereka) adalah: modal struktural, modal manusia dan modal relasional.

Penelitian yang keempat diteliti oleh Cunha et al. (2015) dengan judul The Relationship Between Intellectual Capital and Information Technology: Findings Based on a Systematic Review. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab

"Bagaimana Intellectual Capital (IC) dan Teknologi Informasi (IT) terkait?"

melalui review sistematis berdasarkan empat langkah: 1) konduksi pencarian; 2) pemilihan makalah berdasarkan judul dan abstrak mereka; 3) analisis isi makalah terpilih; 4) bukti pemetaan dan diskusi. Hasil dari penelitian ini dibuktikan bahwa Human Capital adalah dimensi yang paling banyak dipelajari dan Modal Relational juga banyak dipelajari walaupun tidak sebanyak Human Capital. Bukti ini dapat digunakan untuk memandu penelitian masa depan. topik penting yang disorot oleh dunia studi, melalui hubungan antara modal intelektual (IC) dan teknologi informasi (IS). Beberapa topik ini adalah manajemen pengetahuan, pembelajaran organisasi, manajemen sumber daya manusia, inovasi dan penciptaan pengetahuan baru, daya serap dan keunggulan kompetitif (CA).

Penelitian yang kelima diteliti oleh Xu dan Quaddus (2013) dengan judul Information Systems for Competitive Advantages. Tujuan dari penelitian ini adalah meninjau kekuatan strategi sistem informasi (IS) untuk mendapatkan keunggulan kompetitif (CA), menjelaskan konsep ekosistem bisnis, dan mendiskusikan strategi inovasi. Hasil dari penelitian ini sistem informasi (IS) dapat memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan strategi kompetitif (CA) organisasi. Organisasi dapat menerapkan alat-alat seperti Porter’s five forces dan Value Chain untuk menganalisis posisi kompetitif mereka Transparansi dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek-proyek sistem informasi (IS) harus terlihat oleh para pemimpin bisnis. Akuntabilitas proyek sistem informasi (IS) harus diterapkan untuk bagian bisnis dalam organisasi.

Penelitian yang keenam diteliti oleh Skandrani dan Kamoun (2014) dengan

judul Hospitality Meanings and Consequences Among Hotels Employees and

Guest. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna perhotelan

di antara karyawan dan tamu dan konsekuensi terhadap para tamu. Penelitian ini

bertujuan untuk mengungkapkan bahwa perhotelan tampaknya memiliki konsep

(13)

terstruktur yang berputar di sekitar personalisasi, kenyamanan, dan hubungan tamu.

Selain itu, kebutuhan memuaskan dan memahami tamu tampaknya memengaruhi persepsi perhotelan terhadap sensitivitas budaya, yaitu keterampilan yang dapat membantu penyedia perhotelan dalam mengatasi perbedaan budaya para tamu.

2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis

Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu yang dijabarkan di atas, model penelitian yang akan digunakan ditunjukan dalam gambar 2.1 yang merupakan gambaran pemikiran teoritis yang menjelaskan adanya pengaruh dari Information System Terhadap Competitive Advantage Melalui Intellectual Capital.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

2.5 Hipotesis

Berdasarkan hasil diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis untuk penelitian pengaruh Information System terhadap Intellectual Capital melalui Competitive Advantage pada perhotelan di jawa timur ialah:

H1: Terdapat pengaruh positif signifikan antara Information System terhadap Intellectual Capital.

H2: Terdapat pengaruh positif signifikan antara Intellectual Capital terhadap Competitive Advantage.

H3: Terdapat pengaruh positif signifikan antara Information System terhadap

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga salah satu tujuan dari SIA dalam siklus pendapatan adalah untuk mendukung performance dari aktivitas bisnis perusahaan dengan memproses data transaksi secara efisien,

Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku, bahan penolong, dan biaya tenaga kerja (baik yang

Metode Simplified Sequential Search Algorithm-Modified atau SSSA-Mod (Angkasaputra, K. & Sebastiano, F., 2018) adalah suatu metode dari modifikasi metode Simplified

Kotler (2003) menyatakan kepuasan pelanggan adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan hasil dari perbandingan antara hasil yang diharapkan atas layanan

Penemuan tersebut sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Darwis (2012) yang juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara earnings management

Menurut Handoko (2002) pengukuran kinerja adalah usaha untuk merencanakan dan mengontrol proses pengelolaan pekerjaan sehingga dapat dilaksanakan sesuai tujuan yang

Menurut Tandelilin (2001:211): “Beta pasar dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai historis return dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu,

Hal ini terjadi karena dengan melakukan upaya perencanaan pajak, perusahaan dapat melaksanakan kewajiban pajak dengan benar, di mana pajak yang dibayarkan berada