PELATIHAN
OPERATOR WHEEL CRANE
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
KATA PENGANTAR
Kehadiran dan peranan alat-alat berat dalam Pembangunan Nasional tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam penggunaan alat-alat berat berbagai tuntutan besar harus dipenuhi, antara lain produksi, kualitas dan kecepatan.
Mengingat tuntutan termaksud, ditambah dengan nilai atau harga alat-alat berat yang demikian besar, maka operator alat-alat berat yang termasuk dalam penanggung jawab tuntutan tersebut, perlu mempunyai kompetensi yang diperlukan sesuai yang digariskan dalam SKKNI.
Operator Wheel Crane adalah salah satu dari mereka yang harus dapat memenuhi tuntutan tersebut di atas. Kemampuan operator yang sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan diperoleh dari pengalaman pengoperasian alat yang cukup serta pelatihan-pelatihan yang diperlukan untuk mengisi kekurangan yang ada.
Buku atau modul ini merupakan suatu materi yang diperuntukkan bagi para peserta pelatihan dan juga instruktur yang akan menanganinya.
Penulis sadar bahwa buku ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, apalagi mengingat bahwa perkembangan teknologi dibidang alat-alat berat cukup pesat. Oleh karenanya berbagai masukan termasuk koreksi terhadap buku ini sangat diharapkan demi sempurnanya buku ini.
Atas segala sumbang saran dan masukannya penulis menyampaikan banyak terima kasih.
Jakarta, Desember 2005.
LEMBAR TUJUAN
JUDUL PELATIHAN : OPERATOR WHEEL CRANE
TUJUAN PELATIHAN : A. Tujuan Umum Pelatihan
Setelah mengikuti pelatihan diharapkan peserta mampu mengoperasikan wheel
crane dengan benar dan aman melaksanakan pemeliharaan harian sesuai
dengan petunjuk pemeliharaan dan membuat laporan operasi
.B. Tujuan Khusus Pelatihan
Setelah penyampaian modul ini peserta mampu :
1. Menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja selama melakukan pemeliharaan dan pengoperasian wheel crane.
2. Melaksanakan pemeliharaan harian wheel crane sesuai dengan petunjuk pemeliharaan.
3. Melaksanakan pengoperasian wheel crane sesuai dengan aplikasi dan teknik operasi yang benar.
4. Membuat laporan operasi.
Seri / Judul Modul WCO– 05 : Pengoperasian Wheel Crane
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah selesai mengikuti modul ini, peserta diharapkan mampu melaksanakan pengoperasian wheel crane sesuai dengan teknik pengoperasian yang benar dan aman
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah modul ini diajarkan, peserta dapat :
1. Menjelaskan Pengetahuan Dasar dan Diagram Beban pada Wheel Crane 2. Melaksanakan Teknik Dasar Pengoperasian Wheel Crane
3. Melaksanakan Teknik Aplikasi Pengoperasian Wheel Crane 4.
Menjelaskan Tali Baja dan Sling
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
LEMBAR TUJUAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DESKRIPSI SINGKAT DAN DAFTAR MODUL ... v
PANDUAN PEMBELAJARAN ...vi
BAB I PENDAHULUAN ...1 – 1 1.1. Umum ... 1 – 1
1.2. Pengetahuan Dasar dan Pengoperasian Wheel Crane ... 1 – 1
1.3. Komponen Utama ... 1 – 12 1.4. Terminologi ... 1 – 17
BAB II TEKNIK DASAR PENGOPERASIAN WHEEL CRANE ...2 - 1 2.1. Umum ... 2 - 1 2.2. Gerakan Dasar Operasi Wheel Crane ... 2 – 1 2.3. Menjalankan Unit ... 2 – 19 2.4. Pemindahan Beban ... 2 – 25
BAB III TEKNIK APLIKASI PENGOPERASIAN WHEEL CRANE ... 3 – 1 3.1. Umum ... 3 – 1 3.2. Persiapan Operasi ... 3 – 1
3.3. Pemilihan Mode (Steering Mode dan Drive Mode) ... 3 – 4
3.4. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam pengoperasian ... 3 – 5
3.5. Memindahkan Beban ... 3 – 8
BAB IV TALI BAJA DAN SLING ... 4 – 1 4.1. Umum ... 4 – 1 4.2. Tali Baja ... 4 – 1 4.3. Slinging ... 4 – 8 4.4. Rigging ... 4 – 13
BAB V RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DAN BAHASA ISYARAT ... 5 – 1 5.1. Umum ... 5 – 1 5.2. Rambu-rambu Lalu Lintas ... 5 – 1 5.3. Bahasa Isyarat ... 5 – 3
RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA
DESKRIPSI SINGKAT
PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN
1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Operator Wheel Crane dibakukan dalam SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang didalamnya sudah dirumuskan uraian jabatan, unit-unit kompetensi yang harus dikuasai, elemen kompetensi lengkap dengan kriteria unjuk kerja (performance criteria) dan batasan-batasan penilaian serta variabel-variabelnya.
2. Mengacu kepada SKKNI, disusun SLK (Standar Latihan Kerja) dimana uraian jabatan dirumuskan sebagai Tujuan Umum Pelatihan dan unit-unit kompetensi dirumuskan sebagai Tujuan Khusus Pelatihan, kemudian elemen kompetensi yang dilengkapi dengan Kriteria Unjuk Kerja (KUK) dikaji dan dianalisis kompetensinya yaitu kebutuhan : pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku kerja, selanjutnya dirangkum dan dituangkan dalam suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan pelatihan tersebut, berdasarkan rumusan kurikulum dan silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusunlah seperangkat modul-modul pelatihan seperti tercantum dalam „DAFTAR MODUL“ dibawah ini yang dipergunakan sebagai bahan pembelajaran dalam pelatihan Operator Wheel crane
DAFTAR MODUL
No. Kode Judul Modul
1. WCO– 01 Etos Kerja
2. WCO– 02 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
3. WCO– 03 Struktur dan fungsi Wheel Crane
4. WCO– 04 Pemeliharaan Harian Wheel Crane (Maintenance)
5. WCO– 05 Pengoperasian Wheel crane
PANDUAN PEMBELAJARAN
A. BATASANNo. Item Batasan Uraian
Keterangan 1. Seri / Judul WCO – 05 = Pengoperasian Wheel Crane
2. Deskripsi Materi ini membahas masalah pengoperasian wheel crane terutama menyangkut teknik dasar pengoperasian dan teknik aplikasi pengoperasian wheel crane, juga mengenai diagram beban, Slinging dan Rigging serta rambu-rambu dan bahasa isyarat. Hal lain juga sedikit dibahas mengenai kapasitas crane, sistem pengoperasian terminologi.
3. Tempat Kegiatan Didalam ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya
4. Waktu Kegiatan 8 jam pelajaran teori atau 360 menit dan 16 jam pelajaran praktek atau 720 menit.
B. PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
1. Ceramah pembukaan :
• Menjelaskan tujuan instruksional (TIU dan TIK)
• Merangsang motivasi peserta dengan pertanyaan atau pengalamannya dalam
mengoperasikan wheel crane. • Waktu = 10 menit
• Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif.
• Mengajukan pertanyaan bila ada yang kurang jelas
OHT – 01
2. Penjelasan Bab I Pendahuluan
• Memberikan penjelasan mengenai kapasitas crane terkait dengan kekuatan dan stabilitas crane, sistem pengoperasian wheel crane.
• Memberikan penjelasan mengenai pengetahuan dasar khususnya diagram beban dan cara membacanya.
• Memberikan penjelasan singkat mengenai komponen utama, tuas kendali dan instrumen
• Memberikan penjelasan mengenai terminologi yang dipakai dalam wheel crane
• Waktu = 70 menit
• Mengikuti dengan tekun penjelasan instruktur • Menanyakan hal-hal yang
kurang jelas
• Mengikuti diskusi yang diadakan
• Mencatat hal-hal penting
OHT 1 - 1 OHT 1 - 2 OHT 1 - 3 OHT 1 - 4 OHT 1 - 5 OHT 1 - 6 OHT 1 - 7 OHT 1 - 8 OHT 1 - 9 OHT 1 - 10 OHT 1 - 11 OHT 1 - 12 OHT 1 - 13 OHT 1 - 14 OHT 1 - 15 OHT 1 - 16 OHT 1 - 17 OHT 1 - 18 OHT 1 - 19 OHT 1 - 20
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
3. Penjelasan Bab II, Teknik Dasar Pengoperasian Wheel Crane • Memberikan penjelasan mengenai
teknik dasar pengoperasian dan peranannya.
• Memberikan penjelasan mengenai gerakan dasar operasi wheel crane, outrigger, telescoping, elevating, hoisting, swing.
• Memberikan penjelasan mengenai traveling, posisi boom, outrigger, swing lock, mode kemudi.
• Memberikan penjelasan mengenai teknik pemindahan beban,
menggunakan outrigger, tanpa outrigger, pick and carry. • Waktu = 100 menit
• Mengikuti dengan tekun penjelasan instruktur • Menanyakan hal-hal yang
kurang jelas
• Mengikuti diskusi yang diadakan
• Mencatat hal-hal penting
OHT 2 - 1 OHT 2 - 2 OHT 2 - 3 OHT 2 - 4 OHT 2 - 5 OHT 2 - 6 OHT 2 - 7 OHT 2 - 8 OHT 2 - 9 OHT 2 - 10 OHT 2 - 11 OHT 2 - 12 OHT 2 - 13 OHT 2 - 14 OHT 2 - 15 OHT 2 - 16 OHT 2 - 17 OHT 2 - 18 OHT 2 - 19 OHT 2 – 20 s/d OHT 2 - 64
4. Penjelasan Bab III, Teknik Aplikasi Pengoperasian Wheel Crane • Memberikan penjelasan mengenai
persiapan opersi
• Memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pengoperasian
• Memberikan penjelasan mengenai mencoba gerakan apa saja yang harus digerakkan.
• Memberikan penjelasan mengenai manouvering, gerakan apa saja yang harus dilakukan
• Memberikan penjelasan mengenai pemindahan beban, radius pemindahan, dengan outrigger, tanpa outrigger, pick and carry
• Mengikuti dengan tekun penjelasan instruktur • Menanyakan hal-hal yang
kurang jelas
• Mengikuti diskusi yang diadakan
• Mencatat hal-hal penting
OHT 3 - 1 OHT 3 - 2 OHT 3 - 3 OHT 3 - 4 OHT 3 - 5 OHT 3 - 6 OHT 3 - 7 OHT 3 - 8 OHT 3 - 9 OHT 3 - 10 OHT 3 - 11 OHT 3 - 12 OHT 3 - 13 OHT 3 - 14 OHT 3 - 15 OHT 3 - 16 OHT 3 - 17
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
• Memberikan penjelasan mengenai apa saja yang seharusnya dan sebaiknya diketahui operator, berat beban, kondisi tanah, kondisi ikatan, jenis beban.
• Waktu = 90 menit
5. Penjelasan Bab IV, Slinging dan Rigging
• Memberikan penjelasan mengenai tali baja (wire rope), konstruksi, jenis kerusakan, pemeliharaan • Memberikan penjelasan mengenai
teknik ikatan, jenis ikatan, alat bantu ikatan
• Memberikan penjelasan mengenai simbol barang yang berbahaya (beracun, mudah terbakar, dan sebagainya)
• Waktu = 60 menit
• Mengikuti dengan tekun penjelasan instruktur • Menanyakan hal-hal yang
kurang jelas
• Mengikuti diskusi yang diadakan
• Mencatat hal-hal penting
OHT 4 - 1 OHT 4 - 2 OHT 4 - 3 OHT 4 - 4 OHT 4 - 5 OHT 4 - 6 OHT 4 - 7
6. Penjelasan Bab V, Rambu-rambu dan Bahasa Isyarat
• Memberikan penjelasan mengenai rambu-rambu, operasi dan lalu lintas
• Memberikan penjelasan mengenai bahasa isyarat
• Waktu = 30 menit
• Mengikuti dengan tekun penjelasan instruktur • Menanyakan hal-hal yang
kurang jelas
• Mengikuti diskusi yang diadakan
• Mencatat hal-hal penting
OHT 5 - 1 OHT 5 - 2
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
7. Praktek :
• Memberikan instruksi dan contoh melakukan teknik dasar
pengoperasian wheel crane • Memberikan instruksi dan contoh
melakukan teknik aplikasi pengoperasian wheel crane • Memberikan penjelasan terkait
dengan pengoperasian wheel crane
• Waktu = 720 menit
(16) JP, untuk seluruh peserta
• Melaksanakan setiap instruksi instruktur dengan sungguh-sungguh
• Melakukan praktek teknik dasar dan teknik aplikasi pengoperasian sesuai dengan kelasnya
• Mengajukan pertanyaan bila perlu
• 1 Unit wheel crane sesuai dengan kelasnya • Lapangan praktek sesuai denan kebutuhan • Beban angkat sesuai dengan kelasnya • Catatan/laporan operasi • Lembar instruksi
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Umum
Tugas utama operator wheel crane selain menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, juga harus memperhatikan dan menerapkan keselamatan kerja yang terkait dengan keselamatan alat dan keselamatan lingkungan, yang dapat dilakukan dengan melaksanakan pengoperasian alat secara benar dan aman.
Dalam pengoperasian wheel crane harus diperhatikan kekuatan angkat dan stabilitas, yakni dengan mengangkat beban tidak melebihi batas kekuatan yang dapat menyebabkan terbaliknya atau rusaknya (patahnya) komponen wheel crane.
Pelaksanaan pengoperasian wheel crane yang paling aman dan banyak dipakai adalah mode pengoperasian dengan menggunakan outrigger. Namun untuk pekerjaan tertentu dapat juga dilakukan hanya dengan mode pengoperasian tanpa outrigger yaitu on rubber dan pick and carry. Pada dua metode terakhir yaitu metode on rubber dan pick and carry memerlukan kecermatan yang lebih tinggi karena kondisi operasi yang kurang stabil bila dibandingkan dengan metode pengoperasian menggunakan outrigger.
Lokasi atau daerah operasi wheel crane kadang-kadang harus menjangkau daerah yang sulit yang memerlukan bantuan tenaga rigger atau signal man. Untuk itu operator wheel crane harus mempunyai pengetahuan tentang rambu-rambu operasi dan bahasa isyarat.
Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan aman, seorang operator dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam teknik pengoperasian yang benar sesuai dengan teknik aplikasi pengoperasian wheel crane.
1.2. Pengetahuan Dasar dan Pengoperasian Wheel Crane
Kemampuan/kapasitas angkat wheel crane ditentukan oleh tiga faktor yaitu :
• Kekuatan crane, dimana crane atau komponen mempunyai batas rusak atau patah pada saat mengangkat beban.
• Stabilitas crane, dimana crane dapat terbalik pada saat mengangkat beban.
• Kapasitas winch, dimana winch tidak dapat berputar atau menggulung tali baja untuk mengangkat beban.
Kapasitas/kemampuan angkat crane ditentukan oleh nilai yang terkecil dari antara ketiga faktor/elemen tersebut diatas, yang dapat dijelaskan dengan diagram dibawah ini.
Nilai beban total didasarkan pada stabilitas crane bila radius kerjanya besar, tapi hanya didasarkan pada kekuatan boom dan komponen lainnya, bila radius kerjanya kecil.
1.2.1. Kekuatan crane
Untuk memperhitungkan kekuatan crane berdasar pada peraturan resmi, seperti sesuatu yang ditetapkan sebagai dasar pertimbangan, seperti :
- Tidak hanya nilai beban total tapi berat crane, gaya inersia dan gaya
sentrifugal yang terjadi pada gerakan swing dari crane dan elevasi (gerakan turun naik) boom dan gaya tarik dari tali baja.
1.2.2. Stabilitas crane
Titik tumpu adalah titik tempat bekerjanya momen akibat beban dan momen akibat berat Wheel Crane sendiri. Titik tumpu dapat berubah sesuai posisi beban yang diangkat pada saat wheel crane mengangkat atau menurunkan beban. Titik tumpu terletak antara titik berat beban dan titik berat dari wheel crane. Lengan momen dari beban adalah jarak titik tumpu terhadap titik berat
Kurva beban rata-rata
Gambar 1.1. Diagram Kapasitas Angkat Radius Kerja (m) B e b a n y a n g d ii ji n k a n (n il a i b e b a n to ta
l) Beban yang diijinkan berdasar stabilitas crane
Beban yang diijinkan berdasar kapasitas winch
Beban yang diijinkan berdasar kekuatan crane Beban
maksimum yang diijinkan
beban (lb) dan lengan momen wheel crane (lw) adalah jarak antara titik tumpu dengan titik berat wheel crane.
Momen adalah hasil perkalian antara lengan momen dengan beban atau beratnya wheel crane. Momen dari berat wheel crane adalah momen yang melawan atau mengatasi momen beban. Apabila momen akibat beban lebih berat dari momen akibat berat wheel crane, maka wheel crane akan terbalik (terjadi kecelakaan).
Posisi titik tumpu dan momen dapat digambarkan sebagai berikut :
W : Berat beban G : Berat Wheel Crane
1 : Lengan momen beban
: Lengan momenberat wheel crane
Pada saat wheel crane beroperasi dengan menggunakan outrigger, maka outrigger berfungsi sebagai titik tumpu. Pada saat mengangkat atau menurunkan beban, maka berat beban yang diangkat menimbulkan momen terhadap titik tumpu (outrigger) tersebut.
Outrigger yang bekerja sebagai titik tumpu adalah outrigger antara beban dan wheel crane.
Beban yang bekerja pada outrigger adalah:
- Berat wheel crane sendiri termasuk boom/jib (G)
- Berat beban termasuk hook block/sling (W )
Gambar 1.2.
Apabila jarak titik berat wheel crane ketitik tumpu
dan jarak berat ke titik beratbeban beban ke titik tumpu
1, maka besarnya momen yang diakibatkan olehberat beban adalah W x
1, sedangkan besarnya momen yang diakibatkan olehberat crane/ boom terhadap titik tumpu adalah : G x
.Momen akibat beban adalah berlawanan dengan momen akibat berat wheel
crane sendiri, bila beban momen akibat beban ( W x
1) lebih besar darimomen akibat berat wheel crane sendiri ( G x
) maka wheel crane akanterbalik.
Sehingga dapat dirumuskan : G x
> W x
1Maka wheel crane masih aman, sedangkan G x
< W x
1Maka wheel crane akan terbalik.
1.2.3. Kinerja crane
Nilai (nilai beban total) ditentukan dari perhitungan penghargaan crane berkenaan dengan kekuatan dan stabilitasnya.
Radius Kerja (m ) N il a i b e b a n t o ta l
Kurva batas stabilitas (kondisi terguling) Kurva batas kekuatan crane
Garis batas Kurva nilai beban total
Batas aman kekuatan
Batas aman stabilitas
75% beban yang menggulingkan (standar export Tadano)
Gambar 1.3. Diagram Kinerja (performansi) Crane
1.2.4. Membaca diagram beban dan radius kerja/tinggi angkat
a. Diagram beban
Diagram ini memberikan nilai beban total berdasarkan pada kondisi operasi seperti panjang boom, sudut elevasi boom, panjang jib, sudut offset jib, radius kerja, dan sebagainya. Diagram seperti ini selalu terdapat dalam kabin operator.
b. Cara membaca diagram beban
• Posisi outrigger keluar penuh (fully extended)
• Sebagai contoh pada pengoperasian wheel crane menggunakan boom dengan panjang 14,4 meter dan radius kerjanya adalah 7 meter.
• Pada diagram kita membaca :
- Panjang boom/boom length (A) = 14,4 meter
- Radius kerja/working radius (B) = 7,0 meter
- Maka kolom A = 14,4 m dan kolom B = 7,0 m akan menghasilkan
pertemuan pada beban 9,900 kg.
Sehingga untuk posisi tersebut beban yang dapat diangkat maksimum adalah 9,900 kg.
• Pada diagram terdapat garis batas yang dicetak tebal yang memberikan gambaran sebagai berikut :
- Nilai beban total diatas garis tebal ditentukan berdasarkan kekuatan
crane, sedangkan beban dibawah garis tebal berdasarkan pada stabilitas alat.
• Kondisi tersebut diatas memberikan petunjuk kepada operator untuk memperhatikan kondisi operasi (misalnya panjang boom, radius operasi) sehingga pengoperasian dapat dilaksanakan dengan benar dan aman.
Contoh diagram beban wheel crane Tadano
c. Cara membaca diagram radius kerja/tinggi angkat
Area kerja dari sebuah wheel crane untuk berbagai panjang dan sudut elevasi boom dan jib dapat dibaca pada diagram, yang secara jelas menghubungkan antara radius kerja dan tinggi angkat.
Diagram tersebut dapat dilihat didalam kabin operator engine.
d. Defleksi/lenturan boom Radius Kerj a (m) T in g g i A n g k a t (m ) Keterangan :
Tinggi angkat dan sudut boom diatas didasarkan pada kondisi boom lurus (tidak mengangkat beban) dan batas defleksi (lenturan) boom yang diij inkan berdasarkan kondisi beban.
Dengan panjang boom 26.3m dan sudut elevasi 70o
, maka tinggi
angkat maksimum adalah 25.3m
Radius Kerja (teori) Radius Kerja (actual)
T in g g i A n g k a t ( a c tu a l) T in g g i A n g k a t ( te o ri ) Gambar 1.5.
Diagram Radius Kerja/ Tinggi Angkat
Pada saat beban diangkat, boom akan melengkung ke bawah sehingga working radius bertambah dan lifting height berkurang.
Gambar 1.6. Defleksi pada boom Pergeseran puli atas bila dibebani
1.2.5. Diagaram beban wheel crane (model baru)
Untuk wheel crane model lebih baru, diagram beban dilengkapi dengan data yang mendukung pengoperasian yang lebih akurat, aman dan efisien.
a. Tambahan data tersebut antara lain :
(1) Mode operasi dengan menggunakan outrigger - Data sudut/elevasi boom untuk setiap radius kerja.
- Data kapasitas angkat pada sudut/elevasi boom 00.
- Data sistem tali/puli (part reeving) pada panjang boom tertentu, trkait dengan kapasitas angkat maksimum.
- Data radius kerja/beban untuk kapasitas angkat jib pada 2 jenis panjang boom jib dan tiga posisi sudut boom jib.
(2) Mode operasi on rubber (data baru)
Mode operasi on rubber stationary dan on rubber creep
- Kapasitas angkat dengan sistem pengangkatan beban dari depan (over front).
- Sudut/elevasi boom maksimum. Gambar 1.7.
- Kapasitas angkat dengan sistem pengangkatan beban/pemindahan 3600.
- Data sistem tali/puli (part reeving) pada panjang boom tertentu, terkait dengan kapasitas angkat maksimum.
b. Contoh penerapan pembacaan :
(1) Mode on outriggers fully extended 6,3m spread, 3600 rotation (panjang
boom : 8,7 m, 24,4 m, dan 31,0 m) • Bila panjang boom 16,8 m
(a) Radius beban/kerja (kolom 1) : 7,0 m Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 4) : 59,40
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 5) : 12,9 ton
(masih dalam zone stabil)
(b) Radius beban/kerja (kolom 4) : 10,0 m Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 4) : 45,80
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 5) : 7,05 ton
(masuk dalam zone kerja yang harus memperhatikan stabilitas alat)
(c) Dengan sudut/elevasi boom 00, (diagram kapasitas beban
pada zero degree boom angle on outriggers fully extended
6,3m spread 3600 rotation)
Maka dapat dibaca :
- Radius beban/kerja (kolom 4) : 14,3 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat : 3,2 ton
• Hubungan dengan Automatic Moment Limiter (AML-L)
Data kapasitas angkat tersebut pada diagram beban disimpan (stored) didalam AML, juga berdasarkan pada standar sistem tali/puli (jumlah lilitan/part of line) yang tercantum dalam diagram.
Standar sistem tali/puli untuk setiap panjang boom harus mengikuti tabel, yang dapat dibaca :
Panjang boom jib 9,7 m 9,7 – 16,8 m 16,8 - 31,0 m Single top
• Kapasitas angkat jib boom
(on outriggers fully extended 6,3m spread 3600 rotation)
Pada kondisi panjang boom 31m + jib 7,2 m
(a) Sudut/elevasi boom (kolom 1) : 700
Sudut jib : 250
Maka dapat dibaca :
- Radius beban/kerja (kolom 4) : n : 14,6 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 5) : w : 2,0
ton.
(masih dalam zone kerja stabil)
(b) Sudut/elevasi boom (kolom 1) : 700
Sudut jib : 450
Maka dapat dibaca :
- Radius beban/kerja (kolom 6) : n : 15,6 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 7) : w : 1,5
ton.
(masih dalam zone kerja stabil) Pada lokasi panjang boom 31m + jib 12,8 m
(a) Sudut/elevasi boom (kolom 1) : 700
Sudut jib : 50
Maka dapat dibaca :
- Radius beban/kerja (kolom 2) : n : 15,5 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 3) : w : 1,75
ton
(b) Sudut/elevasi boom (kolom 1) : 700
Sudut jib : 450
Maka dapat dibaca :
- Radius beban/kerja (kolom 6) : n : 21m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 7) : w : 0,7
(2) Mode on rubber operation
(a) On rubber stationary (beroperasi stasioner) (panjang boom : 9,7m, 16,8m dan 24,4m)
• Mengangkat beban dari depan (over front), panjang boom 9,7 m
- Radius beban (kolom 1) : 5,0 m
Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 2) : 44,90
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 3) : 10,6
ton
(masuk dalam zone kerja yang harus memperhatikan stabilitas alat)
• Mengangkat/memindah beban pada posisi 3600, panjang boom
9,7m
- Radius beban (kolom 1) : 5,0 m
Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 7) : 45,40
Gambar 1.8.
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 8) : 4,9 ton (masih dalam zone kerja yang harus memperhatikan stabilitas alat)
(b) On rubber creep (bergerak perlahan-lahan) (panjang boom : 9,7 m, 16,8 m dan 24,4 m)
• Mengangkat beban dari depan (over front), panjang boom 16,8m Radius beban/kerja (kolom 1) : 5,0 m
Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 4) : 64,60
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 5) : 8,4 ton
(masih dalam zone yang harus memperhatikan stabilitas alat)
• Mengangkat/memindahkan beban pada posisi 3600, panjang
beam 16,8m
Radius beban/kerja (kolom 1) : 5,0 m Maka dapat dibaca :
- Sudut/elevasi boom (kolom 10) : 66,80
- Beban maksimum yang dapat diangkat/dipindahkan (kolom
11) : 4,2 ton
(masuk zone kerja yang harus memperhatikan stabilitas alat)
• Dengan sudut/elevasi boom : 00 (diagram beban pada zero
degree boom angle boom angle on rubber stationary) Maka dapat dibaca :
Mengangkat beban dari depan (over front)
- Mengangkat beban/kerja (kolom 4) : 14,3 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 5) : 0,7 ton
Mengangkat beban/memindahkan beban pada posisi 3600,
panjang boom hanya dipakai 9,7 m :
- Radius beban/kerja (kolom 7) : 7,2 m
- Beban maksimum yang dapat diangkat (kolom 8) : 2,1
ton.
• Hubungan dengan Automatic Momen Limiter (AML-L)
Data kapasitas angkat tersebut pada diagram beban disimpan (stored) di dalam AML, juga berdasarkan pada standar sistem tali/puli (jumlah lilitan/part of line) yang tercantum dalam diagram. Standar sistem tali/puli untuk setiap panjang boom harus mengikuti tabel, yang dapat dibaca sebagai berikut :
Panjang boom 9,7 m 9,7 m – 24,4 m Single top Jumlah bagian tali
(part of line)
6 4 1
1.3. Komponen Utama Wheel Crane
Untuk melakukan pengoperasian dengan baik, terlebih dahulu operator wheel crane harus memahami dengan baik beberapa komponen yang terkait dengan tugas/ pekerjaan pemindahan material dan tuas kendali yang mengatur gerakan komponen tersebut.
1.3.1. Komponen Utama
a. Hydraulic Crane (Rough Terrain Crane)
Gambar 1.9.
b. Hydraulic crane (Track Crane)
1.3.2. Tuas Kendali
a. Rough Terrain Crane
Keterangan :
24. Steering mode select switch 25. Steering wheel
28. Tuas transmisi 31. Accelerator pedal 32. Service brake pedal 33. Drive mode select switch 34. Parking brake switch Gambar 1.10.
Komponen Utama Trucks Crane
Gam bar 1.11.
Tuas Kendali pada type Rough Terrain Crane (Travelling)
Keterangan : 12. PTO Switch
13. Swing Brake Switch 14. Outrigger Control Switch 15. Jack/silinder selector Switch 16. Extend/retract Selector Switch 19. Boom Elevating Control Lever 22. Boom Elevating Control Pedal 23. Boom Telescoping Control Pedal
24. 3rd/Top Boom Section Extending Switch
25. Boom Telescoping/auxiliary Hoist Control Lever 27. Swing Control Lever.
Gambar 1.12
b. Truck Crane
Keterangan :
8. Steering wheel
10. Parking or parking and trailer brake lever 11. Transmission gear shift lever
12. Clutch pedal 13. Brake pedal 14. Accelerator pedal
Gambar 1.13.
Tuas Kendali Truck Crane (Crane Operation)
Gambar 1.14.
1.4. Terminologi
1.4.1. Performance, ukuran dan berat
(1) Total Rated Load
Beban maksimum yang dapat diangkat yang ditentukan oleh panjang boom dan radius kerjanya (working radius). Beban termaksud termasuk berat kait (hook) dan segala macam perlengkapan angkatnya.
Sebuah crane 25 ton tidak selalu dapat mengangkat beban 25 ton dalam semua daerah kerja.
(2) Rated Load
Ini adalah total rated load dikurangi dengan berat kait dan perlengkapan angkat lain.
Ini adalah beban yang benar-benar dapat diangkat.
(3) Kapasitas Angkat (Lifting Capacity)
Lifting capacity adalah maksimum total rated load dari sebuah crane. (4) Radius Kerja (working Radius)
Adalah jarak horizontal dari pusat swing sampai ke pusat kait dari crane termaksud.
Radius kerja, bila crane mengangkat beban, akan naik disebabkan karena lenturan boom (boom deflection).
Radius kerja maksimum adalah nilai maksimum dari radius kerja dimana crane dapat dioperasikan.
(5) Tinggi Angkat (lifting height)
Adalah jarak antara tanah dan hook. Tinggi angkat maksimum adalah angka maksimum diantara tinggi angkat crane.
Total rated load and rated load
Gambar 1.15.
(6) Panjang boom (boom length)
Adalah jarak aksial antara pena tumpuhan boom bawah dan pena sheave bawah pada boom atas.
(7) Sudut elevasi (elevation angle)
Adalah sudut antara garis pusat boom (boom centerline) dan garis horisontal (horizontal line).
(8) Panjang Jib (Jib Length)
Adalah jarak antara pena sheave bawah pada boom ujung atas (boom head) dan pena sheave pada ujung jib.
(9) Sudut offset jib (jib offset angle)
Adalah sudut yang dibentuk antara garis tengah boom (boom centerline) dan garis tengah jib (jib center line).
Working radius and lifting height
Gambar 1.16.
Working radius and lifting height
Gambar 1.17.
(10) Kecepatan memanjang boom (boom extension speed)
Kecepatan memanjang boom
maksimum, adalah waktu (dalam detik) yang diperlukan untuk memanjangkan boom dari masuk penuh (fully retracted) sampai
memanjang penuh (fully
extended). Kecepatan 19,5m
dalam 82 detik, artinya untuk
memanjangkan boom 19,5m
diperlukan waktu 82 detik. (11) Kecepatan elevasi boom (boom elevation speed)
Yaitu waktu yang diperlukan untuk menggerakkan boom, yang masuk penuh (fully retracted), dari titik terendah sampai ke tertinggi.
Kecepatan 00 sampai 830 dalam
58 detik berarti bahwa untuk
menaikkan boom dari 0O ke 830
memerlukan waktu 58 detik. Gambar 1.18.
Jib length and jib offset angle
Gambar 1.19. Boom extension speed
Gambar 1.20. Boom elevation speed
(12) Kecepatan menggulung (winding-up speed, single line speed)
Adalah kecepatan winch
menggulung (winch up) dalam menit. Kecepatan 125 m/menit (pada layer ke 4) berarti bahwa winch dapat menggulung (tali baja pada drum) 125 m dalam 1 menit dengan 4 layer (tali baja) pada drum.
(13) Kecepatan kait (hook speed)
Adalah kecepatan naik kait (hook) maksimum per menit. Kecepatan kait didapat dengan membagi kecepatan tali tungggal (single line) dengan jumlah lilitan (part line)
Contoh :
• Kecepatan kabel/tali atau kecepatan menggulung tali : 126 m/menit
• Jumlah lilitan kabel/tali (part line) :7 • Kecepatan kait :
(14) Kecapatan ayun (swing speed)
Adalah jumlah maksimum putaran swing per menit Kecepatan : 3 rpm
Berarti, 3 putaran per menit. 126 m/menit 7 = 18 m/menit Gambar 1.21. Kecepatan menggulung Gambar 1.22. Kecepatan kait Gambar 1.23. Kecepatan ayun
(15) Reaksi jack maksimum dalam operasi (maximum jack reaction in operation).
Beban maksimum pada tanah, yang diberikan oleh titik tumpu ketika crane dengan suatu beban (a total rated load) di swing. Dengan outrigger dikeluarkan, ini disebut maksimum reaksi jack dalam pengoperasian. Tanah dimana outrigger dipanjangkan hendaknya disiapkan untuk itu.
(16) Panjang keseluruhan, lebar keseluruhan dan tinggi keseluruhan (over all length, over all width dan aver all hight)
Ukuran panjang, lebar dan tinggi keseluruhan adalah seperti ditunjukkan pada gambar berikut, dengan boom dan outrigger pada posisi tersimpan pada tempatnya (stored), sedangkan kaca spin (mirror) dan antena tidak masuk dalam ukuran.
Gambar 1.24. Reaksi jack maksimum
Gambar 1.25. Ukuran keseluruhan crane
(17) Wheel base
Adalah jarak antara pusat-pusat as (axle centers), sebagaimana terlihat gambar berikut
GAMBAR TR - 12
(18) Jejak (tread, track)
Adalah jejak antara tengah-tengah/pusat permukaan singgung yang dibentuk oleh ban-ban dan permukaan tanah. Dalam hal roda-roda ganda (doble wheels), adalah jarak antara tengah-tengah dari roda-roda ganda sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut :
(19) Berat kendaraan (vehicle weight : VW)
Berat kendaraan adalah tanpa orang dan beban.
Termasuk bahan bakar, minyak, air pendingin dan sebagainya, diluar ban dan roda serep (spare) dan kunci-kunci (tools)
Gambar 1.26. Wheel base
Gambar 1.27. Tread, track
(20) Gross Vehicle Weight (GVW) :
Berat kendaraan kotor (gross vehicle weight) adalah berat kendaraan ditambah berat orang sesuai dengan kapasitas duduknya dan maksimum beban (berat maksimum dari beban yang diangkut pada kendaraan/crane.
GVW : VW + berat orang sesuai kapasitas duduk (65 kg/orang)
(21) Kecepatan travelling maksimum
Adalah performasi yang menunjukkan berapa cepat kendaraan berjalan (runs) dengan GVW nya.
Dinyatakan dalam km/h (22) Gradeabiity
Adalah performasi yang menunjukkan berapa curam inklinasi jalan yang dapat dilewati kendaraan.
Inklinasi maksimum dinyatakan dalam tangens Ө (jalan aspal kering) adalah dimana kendaraan dapat berjalan (start) dengan kondisi GVW.
(23) Radius putar minimum (minimum turning radius)
Adalah performansi yang menunjukkan berapa kecil kendaraan (crane) dapar berputar.
Gambar 1.28. Gradeability
Gambar 1.29. Radius putar minimum
Ditunjukkan dengan kondisi
• Roda kemudi (steering wheel diputar penuh) • Kendaraan/crane berjalan pada jalan aspal rata
• Radius dari garis yang ditarik perlahan oleh roda paling jauh (24) Sudut approach (approach angle)
Adalah sudut yang berbentuk antara permukaan tanah dan persinggungan dari bagian bawah depan dari kendaraan lingkaran roda paling jauh.
(25) Sudut keberangkatan (departure angle)
Adalah sudut yang terbentuk antara permukaan tanah dan persinggungan dari bagian bawah belakang dan lingkaran.
(26) Minyak hidrolik (hydrolic oil)
Adalah minyak dengan apa silinder dan motor hidrolik digerakkan. (27) Tangki minyak hidrolik (hydraulic oil tank)
Adalah tangki tempat minyak hidrolik dikumpulkan/ditampung. (28) Pompa hidrolik (hydraulic pump)
Pompa hidrolik digerakkan/diputar oleh engine, menghisap minyak hidrolik dari tangki hidrolik, dan mengeluarkannya sebagai minyak bertekanan ke silinder hidrolik, motor hidrolik, dan sebagainya.
Ada 2 tipe pompa :
• Pompa displacemen tetap (fixed displacement pump) • Pompa displacemen variabel (variable displacement pump)
Gambar 1.30. Sudut approach
Pompa yang biasa dipakai pada crane adalah sebagai berikut :
(29) Silinder hidrolik (hydraulic cylinder)
Merupakan suatu alat untuk membuat gerakan-gerakan lurus (linier) oleh tenaga hidrolik.
Biasanya yang digunakan pada crane adalah silinder hidrolik kerja ganda.
(30) Silinder hidrolik kerja ganda
Adalah silinder hidrolis yang didesain untuk menyuplai minyak hidrolik bertekanan untuk kedua sisi piston. Digunakan untuk silinder teleskoping dan silinder elevasi dari boom, dan silinder jack outrigger.
(31) Motor hidrolik (hydraulic motor)
Merupakan alat yang menghasilkan gerakan putar kontinue dengan minyak bertekanan. Sebuah pompa hidrolik, bila poros putarnya diputar, mengeluarkan minyak. Motor hidrolik, kebalikannya, membuat poros putarnya berputar dengan tenaga oleh minyak hidrolik yang dimasukkan.
Sebagai alat penggerak winch dan swing adalah motor plunyer, seperti terlihat dalam gambar berikut :
Gambar 1.31. Pompa hidrolik
Gambar 1.32.
(32) Katup (valve)
Adalah alat untuk mengendalikan tekanan, aliran (flow) dan aliran dari minyak hidrolik bertekanan, katup-katup tersebut adalah katup pengendali tekanan, katup pengendali aliran dan katup pengendali arah.
a) Relief valve
Apabila tekanan didalam sirkuit hidrolik mencapai level yang lebih tinggi dari tekanan setelan (setting), maka relief valve mengalirkan sebagian atau sama minyak hidrolik ke sisi pengembalian dari sirkuit untuk mencegah tekanan naik diatas tekanan setelan. Sebagai katup pengaman untuk peralatan hidrolik, relief valve selalu digunakan didalam sirkuit hidrolik crane.
b) Counter balance valve
Ini salah satu macam katup pengendali tekanan utuk mencegah benda yang dianggap jatuh. Sebagai alat pengaman hidrolis, katup ini dipasang pada silinder elevasi dan winch.
Gambar 1.33. Motor hidrolik
Gambar 1.34. Relief valve
c) Katup kendali kompersasi aliran dan tekanan (presure compersated flow control valve)
Merupakan katup kendali aliran untuk mempertahankan perbedaan antara tekanan disisi inlet dan outlet pada level yang tetap untuk tujuan mendapatkan aliran yang tetap terlepas dari naik turunnya (fluktuasi tekanan).
Katup ini digunakan dalam sirkuit winch, sebagai contoh, untuk mengakomodasikan operasi inching.
d) Check valve
Merupakan katup kendali arah yang membiarkan minyak untuk mengalir dengan bebas dalam satu arah saja (tidak dalam arah yang lain).
Suatu check valve yang dengan fungsi untuk melepas pencegahan aliran dalam arah bertentangan disebut pilot check valve. Ini digunakan dalam sirkuit jack dari outrigger.
Gambar 1.35. Counter balance valve
Gambar 1.36. Katup kendali kompresi
e) Katup kendali arah (directional control valve)
Katup ini digunakan untuk memindah arah aliran menjadi gerakan silinder hidrolik atau putaran motor hidrolik.
Directional control valve yang dibantu dengan electromagnet disebut solenoid control valve.
f) Oil cooler
Setelah peralatan hidrolik bekerja beberapa jam terus-menerus temperatur minyak hidrolik akan naik. Temperatur yang tinggi menurunkan viscositas minyak hidrolik, menurunkan tenaga dan kecepatan, dan mempercepat memburuknya bahan perapat. Oil cooler mencegah temperatur minyak hidrolik menjadi tinggi. g) Rated pressure
Adalah tekanan maksimum dimana penggunaan secara terus menerus adalah mungkin.
Gambar 1.37. Check valve
Gambar 1.38. Katup kendali arah
h) Rated flow
Aliran maksimum yang diperoleh secara terus-menerus melalui gerakan atau putaran pompa yang continue.
i) Delivery
Volume minyak yang dikeluarkan pompa dalam suatu waktu. Unit …… L/menit
BAB II
TEKNIK DASAR PENGOPERASIAN
2.1 Umum
Pengoperasian crane dengan pengertian melakukan pemindahan beban (barang dengan berat tertentu) terdiri dari gerakan pengangkatan beban serta pemindahan dari tempat semula ke tempat lain yang berbeda.
Hal yang perlu selalu mendapat perhatian adalah keselamatan kerjanya, keselamatan bagi manusia terutama operator dan juga bagi unit alatnya sendiri, disamping tentunya efisiensi kerjanya.
Keselamatan kerja terkait erat dengan kemampuan alat dalam menerima beban angkat yang dilakukannya. Kemampuan ini dibatasi oleh dua hal utama yaitu batasan kemampuan karena kekuatan konstruksi dan batasan kemampuan karena keseimbangan dalam pengangkatan beban. Kedua batasan kemampuan tersebut telah benar-benar diperhitungkan oleh pihak pabrik sehingga selama melakukan pengoperasian crane dengan mengikuti ketentuan pabrik, maka keselamatan bisa diharapkan.
Oleh karena itu sebelum melakukan pengoperasian crane, operator harus benar-benar memahami dengan baik dan benar mengenai alat/ crane atau dengan kata lain, sebelum melakukan pengoperasian crane, maka harus dikuasai terlebih dahulu teknik-teknik dasar pengoperasian crane.
Teknik dasar pengoperasian ini tidak lain adalah bagaimana melakukan gerakan-gerakan dasar operasi secara benar sesuai dengan ketentuan dan petunjuk pabrik.
2.2 Gerakan Dasar Operasi Wheel Crane
Gerakan ini adalah gerakan-gerakan yang diperlukan untuk pengoperasian whel crane. Gerakan-gerakan ini merupakan gerakan dasar yang secara teknis harus dikuasai oleh operator yang akan melakukan pengoperasian wheel crane.
2.2.1 Outrigger
Pemasangan outrigger adalah dengan tujuan untuk mendapatkan stabilitas yang baik bagi crane terutama ketika crane melakukan pengangkatan beban. Dalam pengoperasian wheel crane unit harus dalam posisi level dan bertumpu pada keempat outrigger float yang berada pada keempat jack diujung-ujung outrigger (beam).
Kapasitas angkat outrigger dipengaruhi oleh kondisi bentangan outrigger. Kapasitas terbesar adalah bila outrigger dikeluarkan secara penuh (maksimum extended width).
Gerakan-gerakan outrigger adalah ketika dilakukan penyetelan outrigger yang berupa :
• Memanjangkan/memendekkan outrigger untuk dapat memperoleh kapasitas angkat sesuai dengan kondisi beban.
• Memanjangkan/ memendekkan jack untuk menyetel level crane.
Untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut dipergunakan alat kendali outrigger.
Sesuai dengan tipe crane, alat kendali outrigger ada yang berupa tuas ada pula yang berupa sakelar (swicth).
Berikut ini diberikan pengendalian outrigger dengan tuas. 1. Penyetelan outrigger
a. Cabut pena-pena kunci batang outrigger (outrigger beam).
b. Posisikan tuas-tuas pemilih ke extension.
c. Gerakkan/ pindahkan tuas kendali extension dan jack ke extend.
Setelah keluar (setengah atau penuh), masukan pena-pena pengunci outrigger beam (pada posisi keluar penuh atau keluar setengah).
d. Posisikan tuas-tuas pemilij ke jack
e. Gerakkan/ pindahkan tuas kendali extension dan jack ke EXTENDED
f. Setelah jack keluar penuh, gunakan alat pelevel untuk mengecek apakah crane sudah level.
Bila telah level, kembalikan tuas-tuas pemilih ke NEUTRAL.
Bila tidak level lakukanlah leveling dengan cara prosedur yang benar. Untuk mengoperasikan crane lewat depan dengan kondisi kapasitas yang sama seperti pengoperasian lewat samping dan belakang lakukanlah penyetelan jack depan.
• Posisikan skakelar pemilih FRONT JACK ke USED
2. Melevel crane
Apabila setelah penyetelan outrigger sebagaimana diutarakan diatas, ternyata crane belum level, maka leveling harus dilakukan. Misalnya (sebagai contoh) sisi sebalah kanan lebih tinggi
(1) Kembalikan tuas-tuas pemilih LEFT FRONT dan LEFT REAR ke NEUTRAL.
Peringatan :
Hati-hati jangan menggerakan tuas-tuas pemilih lewat ke extension.
(2) Sambil mengamati alat pelevel (level gange), gerakan tuas kendali EXTENSION dan jack sedikit demi sedikit ke RETRACT.
3. Penyetelan jack depan
Catatan penting pada pengoperasian.
Setel outrigger dan level crane terlebih dulu sebelum melakukan penyetelan jack depan.
(1) Tekan kebawah tuas kendali jack depan
(2) Gerakan tuas extension dan jack ke extended
(3) Kembalikan tuas kendali front jack ke neutral.
4. Penyimpanan outrigger (stowing outrigger) Catatan penting :
• Simpan jib dan boom terlebih dulu
4.1 Menyimpan jack depan
(1) Tekan tuas kendali FRONT JACK
(2) Gerakkan tuas kendali EXTENSION dan JACK ke RETRACT
(3) Kembalikan tuas kendali ke NEUTRAL
4.2 Menyimpan outrigger
(2) Posisikan tuas-tuas pemilih ke jack dan gerakan tuas kendali EXTENSION dan JACK ke RETRACT.
(3) Posisikan tuas-tuas pemilih ke extension dan gerakan tuas kendali EXTENSION dan JACK ke RETRACT.
(4) Kembalikan tuas-tuas pemilih ke NEUTRAL (5) Masukan pena-pena pengunci beam.
2.2.2 Telescoping
Telescoping merupakan kegiatan melakukan gerakan boom telescope (keluar atau masuk) atau memanjangkan/ memendekkan boom (extending/ retracting) yang dilakukan dengan sebab-sebab kendali.
Tergantung dari tipe atau model crane alat-alat kendali dapat berupa, tuas, pedal, sakelar atau campuran.
Berikut ini adalah telescoping dengan kendali tuas (level) untuk boom dengan 4 bagian (seksi).
1) Tuas kendali telescoping
Catatan :
Boom seksi ke 3 dan seksi atas (3 rd dan top sections) bergerak berbarengan dan sama.
2) Memanjangkan boom (extending boom)
Tekan tuas kendali teleskop kedepan maka boom bagian/ seksi ke 2 akan memanjang lebih dulu kemudian boom ke 3 dan boom ujung bersamaan.
3) Memasukkan boom (retracting boom)
(1) Memasukkan boom ke 3 dan ujung (top)
Untuk memasukkan boom ke 3 dan ujung (top section), tarik tuas kendali teleskop, maka keduanya akan masuk (retract) bersama-sama.
(2) Memasukkan boom ke 2
Dengan sakelar ditekan, tarik tuas kendali teleskop kebelakang, maka boom ke 2 akan masuk (retract).
Sakelar boleh dilepas setelah boom telah masuk sekitar 30 cm.
2.2.3 Elevating
Elevating operation adalah pekerjaan atau kegiatan menaikkan/menurunkan boom, atau memperbesar/mengecilkan sudut elevasi boom, dengan mempergunakan kendali elevasi boom.
Tergantung dari tipe atau model crane, maka alat kendali tersebut isa tuas, pedal.
1). Tuas kendali elevating
Digambarkan diatas :
• Menaikkan : tarik tuas • Menurunkan : dorong tuas
Pada posisi tuas Neutral, boom berhenti. Bila boom diturunkan, radius kerja menjadi besar dan nilai total rated load menurun, demikian sebaliknya. Catatan penting pada pengoperasian
• Mengangkat beban hanya pada arah vertikal saja (tegak lurus), hindari pengangkatan beban menyamping atau menarik beban di tanah.
• Perhatikan batas sudut boom
• Gerakkan tuas kendali elevating dengan perlahan (slowly) bila menjalankan dan menghentikan gerakan boom.
2.2.4 Hoisting dan Lowering
Hoisting dan Lowering adalah melakukan kegiatan menaikkan (mengangkat) dan menurunkan beban melalui winch, baik winch utama (main winch) maupun winch pembantu (auxiliary winch), dengan menggunakan alat kendali.
Tergantung dari tipe ataupun model wheel crane, tampilan alat kendali tersebut bisa berbeda, tetapi fungsinya tetap sama.
Berikut ini pengangkatan beban dan penurunan beban dengan alat kendali salah satu tipe/model crane.
1) Menaikkan/mengangkat beban dengan winch utama.
• Winch utama dipergunakan untuk pengangkatan beban utama, beban berat, dengan menggunakan tuas kendali winch.
• Pengangkatan /penurunan beban (pengoperasian winch)
- lakukan pengecekan apakah tuas
kendali kopeling winch utama sudah ON
- Tekan skakelar FREE SWING, agar
boom bebas swing.
- Operasikan tuas kendali utama, tarik
atau dorong, (hoist up, hoist down) sesuai kebutuhan/kondisi.
- Jangan mengoperasikan tuas kendali
- Pada pengangkatan beban, maka begitu beban lepas dari tanah skakelar FREE SWING harus segera dilepaskan
- Setelah beban terangkat beberapa cm dari tanah berhentilah pengangkatan dan periksa kondisi beban untuk kemungkinan ada kelainan/kesalahan pada beban (pengikatan, levelling, dan sebagainya).
• Winch pengangkat beban ini mempunyai 2 tingkat kecepatan (naik maupun turun)
- Untuk menaikkan beban (hoist up), tariklah tuas kendali
- Bila ditarik sedikit saja (1st pull) pengangkatan (hoist up)
akan bergerak lambat.
- Bila ditarik lebih jauh lagi (2nd pull) hoist up akan bergerak cepat.
- Untuk menurunkan beban (hoist down), doronglah tuas
kendali.
- Bila didorong sedikit saja (1st push) penurunan beban (hoist
down) akan bergerak lambat.
- Bila didorong lebih jauh lagi (2nd push) hoist down akan
bergerak cepat.
• Untuk pengangkatan atau penurunan beban, disamping winch ada juga komponen lain yang bekerja sama dengan winch, kopeling (clutch) dan keduanya dikendalikan dengan tuas-tuas :
Gmb
- Bila telah mencapai ketinggian yang diperlukan hentikan pengangkatan (stop)
- Kembalikan posisi tuas kendali winch
uatama ke NETRAL.
- Lakukan langkah operasi selanjutnya
(turunkan beban, swing-turunkan beban)
• Untuk menurunkan beban, lakukan langkah sebaliknya dari proses tersebut diatas :
- Dorong tuas kendali sedikit (1st push) agar gerakan turun cukup
lambat.
- Operasikan tuas kendali dengan halus.
- Jangan menurunkan beban dengan mode Free Fall.
- Letakkan beban pada tempat yang ditentukan dengan halus.
Ikuti aba-aba dari signal-man yang bertugas.
Bila pengoperasian telah selesai, kuncilah drum winch utama (apabila perlu)
2) Menaikkan-menurunkan beban dengan winch pembantu (auxiliary winch) • Winch pembantu ini kapasitasnya lebih kecil, digunakan untuk
pengangkatan/pemindahan beban ringan.
• Pengangkatan/penurunan beban (pengoperasian winch)
Langkah dalam prosedur pengangkatan/penurunan beban dengan winch pembantu sama dengan langkah pada winch utama, hanya yang dioperasikan adalah tuas-tuas pembantu (auxiliary winch). Pada auxiliary winch ini, hanya ada satu tingkat kecepatan
3) Menurunkan kait blok dengan Free Fall (Free Fall Operation)
Operasi Free Fall ini hanya peurunan hook/kait tanpa beban (untuk efisiensi waktu)
• Operasi Free Fall Winch Utama
- Injak pedal rem winch utama
- Selama melakukan Free Fall tetaplah kaki
anda di pedal
- Posisikan kopling winch utama pada FREE
- Kendalikan kecepatan jatuh bebas dengan
padal rem winch utama
- Perhatikan terus selama hook meluncur
kebawah terutama bila sudah mendekati tanah/floor.
- Untuk menghentikan hook
block, injak pedal rem dengan halus.
• Operasi Free Fall (jatuh bebas) winch pembantu (auxiliary winch) Untuk operasi Free Fall (jatuh bebas) winch pembantu (auxiliary winch), langkahnya sama dengan Operasi Free Fall Winch Utama, hanya tuas dan pedal yang digunakan adalah tuas dan pedal auxiliary winch.
2.2.5 Swing Operation (Operasi Swing)
Swing operation adalah kegiatan melakukan ayunan (swing) boom ke-kiri/kanan dengan menggunakan tuas kendali swing.
Tampilan tuas kendali swing dapat berada pada tipe atau model wheel crane yang berbeda, tetapi fungsinya tetap sama.
Berikut ini adalah operasi swing dengan tuas, dari salah satu tipe wheel crane. Tuas kendali swing
• Posisi tengah dari tuas kendali adalah posisi
sentral. Pada posisi ini boom berhenti (stop)
• Untuk melakukan swing boom ke kanan,
tarik tuas kendali
• Untuk melakukan swing boom ke kiri, dorong
tuas kendali Swing beban
• Untuk melakukan swing ke kiri/kanan, gunakan tuas kendali swing • Angkat beban sampai ketinggian secukupnya sebelum dilakukan
swing, untuk memastikan tidak terjadi penarikan beban di tanah dengan boom
• Pastikan bahwa skakelar pemilih FRONT JACK dan skakelar pemilih
OUTRIGGER FULL/MID disetel sesuai dengan keadaan
kenyataannya (actual state) dari jack depan dan lebar outrigger. Sementara melakukan swing perhatikan tampilan (angka) momen AML • Pastikan di daerah swing tidak ada orang ataupun halangan sebelum
melakukan swing
• Bunyikan klakson untuk mengingatkan orang-orang disekitar crane • Gerakkan (dorong atau tarik, sesuai dengan kebutuhan, tuas kendali
swing dengan perlahan dan hati-hati ketika mulai ataupun menghentikan swing
Menggunakan tuas dengan kasar adalah berbahaya, sebab akan menyebabkan beban melanting atau melambung dan mengayun. Hal tersebut dapat menimbulkan kecelakaan, atau kematian, dan kerusakan crane.
• Pasang rem crane bila boom tidak bergerak memutar (swing)
• Bila melakukan swing boom dari daerah samping ke daerah depan, berikan perhatian khusus untuk menghindari over loading AML (Automatic Moment Limiter) tidak menghentikan gerakan swing kendatipun terjadi overload.
Swing free/lock select switch
• Mengaktifkan skakelar pemilih swing free/lock hanya bilamana meja putar (swing table) tidak bergerak.
• Bila melakukan swing boom dengan skakelar pada posisi FREE, ingat bahwa boom akan diputar oleh enersi begitu tuas kendali dikembalikan ke NEUTRAL
Swing brake
• Rem swing akan terpasang bila tuas rem swing yang terletak di sebelah kanan operator di tarik
Untuk melepasnya, tekan dulu tombol di ujung tuas, baru dorong ke bawah.
2.2.6 Pengoperasian Jib
Jib dipasang pada ujung boom untuk mendapatkan jangkauan kerja yang besar yang tidak dapat dikerjakan hanya dengan boom
Pengoperasian Jib
• Panjangkan outrigger secara penuh dan lakukan penyetelan outrigger. • Bila melakukan pemasangan atau penyimpanan Jib, pastikan bahwa
tidak ada orang dan halangan di daerah swingnya.
• Untuk memasang dan menyimpan Jib pastikan untuk mengikuti prosedur yang diberikan di manual
Perhatikan hal-hal berikut :
- Jangan menurunkan boom dengan block hook pembantu
berbenturan dengan kepala Jib.
- Jangan mengoperasikan Jib atau menjalankan crane dengan pena
- Untuk melipat dan melepas Jib, lakukan dengan perlahan.
- Jangan mengganti Jib offset dengan Jib tingkat ke 2 (2nd stage
Jib) terpasang.
• Posisikan skakelar JIB SET dan skakelar OVERWIND CUT OUT ke posisi berikut.
Sebelum pemasangan/ penyimpanan Jib
Sebelum operasi Jib
Skakelar JIB SET ON (Flip and Release) Skakelar OVERWIND
CUTOUT OFF ON
• Bila melakukan pengangkatan beban dengan Jib, operasikan winch pembantu dengan menggunakan tali winch (winch rope) pembantu. • Sebelum memasang Jib, posisikan skakelar pemilih boom ke posisi
yang sesuai dengan mode Jib (offset)
• Pengangkatan beban dengan Jib dilakukan hanya atas beban samping dan belakang, dan jangan melebihi beban rata-rata (total rated loads).
Bila jack depan dipasang maka Jib dapat digunakan dengan swing 3600.
• Bila travelling di jalan umum, lipat/simpan Jib, tali/rope winch pembantu dan look block pembantu ditempatnya.
2.2.7 Single Top
Single top, dapat juga disebut sheave boom pembantu (auxiliary boom sheave), adalah komponen pembantu yang dipasang pada ujung atas boom (boom head) yang beserta komponen pembantu lainnya menjadikan suatu system angkat beban tersendiri (auxiliary hoist), sistem angkat beban pembantu, terpisah dengan sistem angkat beban utama (main hoist).
•
•• Komponen
- Connecting pin
- Auxiliary wire rope
- Single top (auxiliary boom sheave)
- Over-winding cut out device
- Auxiliary hook block
•
•• Pengoperasian
Untuk mengoperasikan single top ini dipergunakan winch pembantu (auxiliary winch) beserta perangkat lainnya (tuas-tuas kendali)
Untuk melakukan gerakan-gerakan auxiliary hoist ini (hoist-up, hoist down, free fall) ikuti langkah-langkah sebagaimana dijelaskan didepan (pengangkatan dan penurunan beban).
2.3 Menjalankan Unit
Menjalankan unit atau travelling dalam hal ini adalah melakukan pemindahan tempat wheel crane yang bukan dalam kondisi pengoperasian wheel crane, tidak termasuk misalnya manouver untuk mengoperasikan unit secara tepat untuk pengangkatan beban.
Bahasan travelling ini pada dasarnya meliputi persiapan, menghidupkan engine, menjalankan unit, parkir dan mematikan engine.
2.3.1 Persiapan
Persiapan dalam hal ini adalah merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum melakukan travelling
(1) Lakukan pemeriksaan sebelum pengoperasian
(2) Lakukan penyetelan tempat duduk dan roda kemudi sehingga
anda/driver dapat dengan mudah menjalankan/mengoperasikan semua tuas dan kendali lainnya, Pasang sabuk pengaman
(3) Lakukan pemeriksaan sebelum menghidupkan engine, dan hidupkan
engine
(4) Lakukan pemanasan engine dan pastikan bahwa semua tampilan
monitor adalah normal, demikian juga engine tidak menunjukkan adanya kelainan
(5) Lakukan penyetelan crane untuk keperluan travelling
▪ Simpanlah blok kait pembantu (auxiliary hook block) pada tempatnya
▪ Simpan dan kunci jib dan single top pada tempatnya ▪ Simpan blok kait utama di bagian depan frame
▪ Masukkan boom sepenuhnya dan tempatkan di bagian depan, dengan sudut boom yang paling kecil
▪ Kunci struktur swing atas dengan rem swing dan pena pengunci ▪ Masukkan (retrack) semua outrigger. Kunci outrigger beam dengan
pena pengunci.
(6) Pastikan posisi tuas-tuas kendali dan skakelar-skakelar sebagai
berikut :
▪ Skakelar rem swing : ON
▪ Skakelar PTO : OFF
▪ Tuas gearshift : ON
▪ Skakelar pemilih mode driver : Neutral 2-wheel
(Hi)
▪ Skakelar pemilih swing free/lock : LOCK
▪ Skakelar rem parkir : PARK
▪ Skakelar pemilih mode kemudi : 2-WHEEL
▪ Skakelar pemilih Jack/Slider : NEUTRAL
▪ Skakelar pemilih Extend/retrack : NEUTRAL
▪ Lever stands : Simpan di
tempatnya
▪ Tempat tangan (Amrest dari tempat duduk) : Simpan di
tempatnya.
(7) Pastikan bahwa tidak ada lampu peringatan atau lampu indicator yang
menyala, kecuali lampu peringatan rem (rem parkir masih terpasang) :
▪ Central alarm display : OFF
▪ Lampu PTO : OFF
▪ Lampu indicator kunci jib : OFF
▪ Lampu indicator fload lamp : OFF
▪ Lampu peringatan temperatur minyak hidrolik: OFF
▪ Lampu peringatan kecepatan PTO/travel : OFF
▪ Lampu indicator rear steering center : OFF
▪ Lampu indicator pemanas (glow) : OFF
▪ Lampu indicator lock up : OFF
▪ Lampu indicator low travel speed : OFF
▪ Lampu indicator exhaust brake : OFF
▪ Lampu indicator four wheel drive : OFF
▪ Lampu indicator suspension lock : OFF
▪ Lampu peringatan rem : ON
(8) Untuk jalan yang kasar atau licin, atau jalan tanpa aspal, atau jalan
lembek, pilih drive mode yang sesuai dengan kondisi jalan tanah tersebut.
2.3.2 START UNIT (Menjalankan Unit)
(1) Injak pedal rem servis dan tahan
(2) Setel skakelar rem parkir ke OFF. Pastikan bahwa lampu peringatan
rem padam.
▪ Bila rem parkir di switch ke OFF sementara tekanan udara di bawah tekanan kerjanya, maka alarm berbunyi untuk memberi peringatan bahwa tekanan udara adalah rendah.
(3) Periksa posisi gigi sambil mengoperasikan (memindahkan) tuas
gear-shift (persneling).
▪ Maju : Drive, First, Second, Third
▪ Mundur : Reverse
Bila tuas gear-shift dipindahkan tanpa melepas (releasing) rem parkir, alarm akan berbunyi.
(4) Pastikan benar bahwa daerah sekitar crane telah aman.
Lepaskan pedal rem servis dan mulai berjalan dengan perlahan , tekan (injak) pedal percepatan.
2.3.3 Travelling
▪ Persneling otomatis (Automatic gear shifting)
Tekan (injak) pedal percepatan (pedal gas) dengan tuas persneling pada DRIVE maka otomatis akan merubah transmisi dari first (I) ke four (IV) berdasarkan pada kecepatan jalan (ini adalah normal).
Bila skakelar pemilih drive mode ada pada LOW speed, maka pemindahkan gigi secara otomatis tidak dapat terjadi.
▪ Persneling Manual
Gigi dapat dipindahkan secara manual sambil berjalan (travelling)
Pindahkan ke FIRST (I) untuk mulai menjalankan dan pindah ke SECOND GEAR (gigi II), THIRD gear (gigi III) kemudian drive untuk mempercepat laju kendaraan
Bila melalui jalan tanjakan, pilih gigi yang sesuai untuk menanjak.
Bila mempercepat laju kendaraan, percepat laju kendaraan sampai kecepatannya mencapai daerah tingkat kecepatan yang lebih tinggi, kemudian pindahkan gigi ke gigi yang lebih tinggi. Sebaliknya bila mengurangi kecepatan, perlambat kendaraan sampai ke daerah tingkat kecepatan yang lebih rendah, pindahkan gigi ke yang lebih rendah.
▪ Menjalankan (travelling) di jalan menurun
▪ Bila travelling di jalan
menurun, lepaskan pedal gas (accelerator pedal) dan tarik skakelar rem gas buang untuk
mengaktifkan pengereman
dengan engine (engine
braking).
▪ Bila kecepatan laju kendaraan tidak dapat dikendalikan dengan rem gas buang (exhaust brake) geser ke bawah (switch) untuk mengaktifkan pengereman engine yang lebih kuat.
Sebelum menggeser ke bawah, kurangi kecepatan dengan menginjak rem kaki.
▪ Juga gunakan rem kaki untuk
mengurangi kecepatan.
Pastikan untuk memompa (mengocok) rem kaki pelan-pelan untuk memperlambat
kendaraan dengan lebih
2.3.4 Menghentikan Kendaraan
(1) Lepas kaki dari pedal gas dan aktifkan pengaman engine ke slow down (2) Injak pedal rem servis untuk menghentikan kendaraan.
(3) Pindahkan persneling ke NEUTRAL
(4) Pindahkan (switch) skakelar rem parkir ke PARK, kemudian angkat kaki dari pedal rem servis.
2.3.5 Parkir
Memarkir crane untuk waktu yang lama menyebabkan bagian ban yang bersinggungan/kontak dengan tanah menjadi rata (flatten). Hal ini bisa menimbulkan getaran (bila crane melaju) sampai ban kembali ke bentuknya yang asli.
Bila memarkir untuk waktu yang lama keluarkan outrigger dan biarkan ban menggantung.
(1) Injak pedal rem servis untuk menghentikan kendaraan /crane
(2) Dengan pedal rem servis tetap diinjak, pindahkan persneling ke NEUTRAL dan pasang rem parkir.
(3) Lepaskan pedal rem servis
(4) Matikan AC dan alat yang lain di dalam kabin
(5) Bila, misalnya, mode spesial tidak dipilih, kembalikan steering mode dan drive mode ke mode NORMAL (mode two-wheel steering dan mode high-speed two-wheel drive)
(6) Tutup semua jendela dan pintu kabin (7) Matikan engine dan cabut kunci kontak (8) Tinggalkan kabin dan kunci pintunya.
2.3.6 Drive Mode
Wheel crane tipe atau model ini mempunyai 3 mode pengemudian (Drive mode) mode ini berkaitan dengan roda-roda mana saja yang mempunyai tenaga gerak atau roda-roda mana saja yang merupakan roda penggerak, yaitu :
(1) High speed two-wheel drive mode
(2) High speed four-wheel drive mode
(3) Low speed four-wheel drive mode
(four wheel drive, biasa disebut dengan dobel gardan),
Ketika melakukan travelling (jarak jauh) gunakan High speed two-wheel drive mode, Four-wheel drive mode digunakan untuk jalan non aspal yang licin atau mudah selip.
.
2.3.7 Steering Mode
Steering mode atau mode kemudi, berkaitan dengan roda-roda mana yang dapat bergerak (berubah arah) atau yang berfungsi sebagai roda kemudi. Ada tipe-tipe atau model-model Wheel Crane yang mempunyai mode-mode kemudi :
(1) Two-wheel steering mode
(2) Four-wheel coordinated steering mode
(3) Crab steering mode.
Mode-mode tersebut membedakan roda-roda mana yang berfungsi sebagai roda-roda kemudi, dan koordinasi roda-roda kemudi depan dan belakang. Hal tersebut membuat perbedaan dalam besar-kecilnya radius putar (turning radius) dan arah gerak unit.
Mode Two-wheel steering harus
dipergunakan dalam travelling,
sedangkan dua mode steering
lainnya hanya digunakan dalam
pengoperasian wheel crane
(manouver)
Ketika melakukan travelling, walaupun skakelar pemilih mode kemudi, yang berarti otomatis sudah menggunakan mode kemudi roda dua (depan) namun roda belakang harus dikunci (locked up) dengan frame.