• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN EFISIENSI BANK DEVISA DI INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGUKURAN EFISIENSI BANK DEVISA DI INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT "

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

PENGUKURAN EFISIENSI BANK DEVISA DI INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT

ANALYSIS (DEA)

NUR FITRIANI

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(2)

ii

SKRIPSI

PENGUKURAN EFISIENSI BANK DEVISA DI INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT

ANALYSIS (DEA)

sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

disusun dan diajukan oleh NUR FITRIANI

A21114507

kepada

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi PRAKATA

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan memanjatkan Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limapahan rahmat dan berkah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul: “Pengukuran Efisiensi

Bank Devisa di Indonesia Menggunakan Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA)”.

Skripsi ini sulit untuk terwujud tanpa bantuan dan kasih sayang yang diberikan oleh banyak orang. Semuanya dapat berjalan sebagaimana mestinya berkat bantuan dari berbagai pihak yang mendukung proses penulisan ini. Oleh karena itu, penulis berterima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil.

Tanpa mengurangi rasa hormat, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan dan senantiasa memberikan kemudahan kepada setiap umatnya atas segala rahmat dan izin-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

2. Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Hj. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA beserta jajarannya.

3. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof.

Dr. Abd. Rahman Kadir, SE., M.Si., CIPM., beserta jajarannya.

4. Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr. Hj. Nurdjannah Hamid, SE., M.Agr., beserta jajarannya.

5. Bapak Dr. Muhammad Sobarsyah, SE., M.Si selaku Pembimbing I

dan Bapak Dr. A. Nur Baumaseppe, SE., M.M selaku Pembimbing

II sekaligus sebagai penasihat akademik, yang telah memberikan

tenaga, waktu, pikiran dan bimbingannya selama penyusunan

skripsi ini.

(7)

vii

6. Bapak Prof. Dr. H. Muh. Asdar, SE., M.Si, Prof. Dr. H. Syamsu Alam, SE., M.Si., CIPM, dan Drs. Armayah, M.Si selaku penguji, yang telah memberikan saran dan masukan dalam proses penyelesaian skripsi.

7. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin yang telah banyak memberikan ilmunya kepada penulis selama perkuliahan.

8. Orang tua tercinta, Ayahanda Drs. Muzakkir Amrullah, M.Pd dan Ibunda Dr. Ir. Ida Suryani, M.P yang telah mendidik dan memberikan dukungan melalui doa serta materil.

9. Kakakku tercinta Muhammad Nur Aidil, SH dan adikku tersayang Muhammad Zulfikar yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

10. Keluarga besar H. Tantu Panna dan H. Amrullah (Alm) atas dukungan dan doanya untuk penyelesaian skripsi ini.

11. Pak Asmari, Pak Tamsir, Bu Susi, Pak Safar, Pak Bur, Pak Parman, Pak Suaib, Pak Dandu serta staf / pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan banyak bantuan kepada penulis selama masa perkuliahan dan penyelesaian skripsi.

12. Sahabat-sahabat dari masa awal perkuliahan Ririn Anugerah S., Asmi Mukhlisah, St. Arwiny A., St. Fatimah, dan Anugrah Fatmirani yang selalu menemani, mendengarkan dan membantu penulis selama masa perkuliahan.

13. Sahabat-sahabat tercinta, Hardinasta Perdana, Taufik Aprinanda, Muh. Rayhan Anwar, Fandi Sabri, Rahmat Pratama, dan Imam Taufiq yang telah memberikan indahnya kebersamaan selama ini dan telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan penulis.

14. Sahabat-sahabat tersayang, Anugrah Ramadhan, Mashur Naufal

Hamid, Muhammad Rijal Alim R., Azwar Haslip, Imam Kul, Fitri

Wulandari, Zhafirah Asmaulia P., Muhsin Zubair, Fadel, dan yang

lainnya.

(8)

viii

15. Sahabat semasa SMA, Ainun Darmayani, Dzakiyyah Marsuqah, Rifdah Rofifah, Titin Aprilia Fani, Grace R. Latanna, Dewi Arifiani, Yushalihah Fitri T., Dini Utami, Aufa Miftah F., Novitasari Sudarli, Rizaldi Pratama, Imam Akbar H., Muhammad Fadel, dan Muhammad Yusuf, semoga persahabatan kita selalu terjaga.

16. Sahabat-sahabat Skripsweet, Yuli Arnita, Ayunadiah R. Marasobu, Yuliyaningsih, Amel, Astria Widya, Ayu Pratiwi, Muh. Nur Azis, Ongky Abdi, Sandi S., Ahmad Fatri, dan Ismah Muthiah.

17. Sahabat-sahabat terkocak, Kak Silfiana, Kak Husnul Khatimah, Rekha Indriana, dan Larasinta D.J.

18. Teman-teman KKN Unhas Gel. 96 Parepare, Kec. Soreang, Kel.

Bukit Harapan, terkhusus kepada Eva Ratmi Gayatri, Mutmainnah, dan Fadel Pratama.

19. Teman-teman BRILLIANT 2014 yang selama ini telah menemani dan memberikan semangat yang luar biasa dari masa P2MB.

20. Keluarga besar HIPMI PT Unhas yang menjadi organisasi penulis semasa kuliah.

21. Teman-teman seperjuangan selama magang di Bank Indonesia, beserta seluruh petinggi dan jajaran Bank Indonesia.

22. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis ucapkan satu per satu, yang telah memberikan doa, dukungan dan bantuan kepada penulis selama ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis berharap agar kiranya pembaca memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, kiranya skripsi ini dapat membantu dan memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 28 Februari 2018

Nur FItriani

(9)

ix ABSTRAK

Pengukuran Efisiensi Bank Devisa di Indonesia Menggunakan Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA)

Nur Fitriani Muhammad Sobarsyah

Andi Nur Baumassepe

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efisiensi bank dengan menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) pada bank devisa di Indonesia periode 2011-2016. Data penelitian ini diperoleh dari laporan tahunan perbankan (sekunder). Populasi dalam penelitian ini sebanyak 44 bank devisa di Indonesia.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling sehingga terdapat 9 bank devisa yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan untuk dijadikan sebagai sampel penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Assets Ratio, Return on Equity (ROE), Capital Adequacy Ratio (CAR). Non Performing Loan (NPL) dan Equity Ratio, serta variabel dependennya adalah Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Assets Ratio, ROE, CAR, NPL dan Equity Ratio secara simultan berpengaruh terhadap variabel BOPO.

Kata Kunci: DEA, bank devisa, assets ratio, ROE, CAR, NPL, equity ratio, dan BOPO.

(10)

x ABSTRACT

Efficiency Measurement of Foreign Exchange Banks in Indonesia using Data Envelopment Analysis (DEA) Approach

Nur Fitriani Muhammad Sobarsyah

Andi Nur Baumassepe

This research aims to measure the efficiency of banks using Data Envelopment Analysis (DEA) approach on foreign exchange banks in Indonesia period 2011- 2016. Data used in this research were obtained from banks annual report (secondary data). Population in this researched were 44 foreign exchange banks in Indonesia. Sample in this research was taken by using purposive sampling, so there were 9 foreign exchange banks that fill the criteria to be a sample of research. Independent variables in this research are assets ratio, return on equity (ROE), capital adequacy ratio (CAR). non performing loan (NPL) and equity ratio, and dependent variable was operating expenses to operating income (BOPO).

The results of this research indicate that assets ratio, ROE, CAR, NPL, and equity ratio simultaneously affect with operating expenses to operating income.

Keywords: DEA, foreign exchange banks, assets ratio, ROE, CAR, NPL, equity ratio, and operating expenses to operating income.

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v

PRAKATA ... vi

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.4. Manfaat Penelitian... 6

1.4.1. Manfaat Teoritis ... 6

1.4.2. Manfaat Praktis ... 7

1.5. Sistematika Penulisan ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 9

2.1.1 Bank ... 9

2.1.1.1 Pengertian Bank ... 9

2.1.1.2 Fungsi Bank ... 10

2.1.1.3 Jenis-Jenis Bank ... 11

2.1.2 Laporan Keuangan ... 14

2.1.2.1 Pengertian Laporan Keuangan ... 14

2.1.2.2 Tujuan Laporan Keuangan ... 16

2.1.3 Rasio Keuangan ... 17

2.1.4 Analisis Rasio Keuangan ... 18

2.1.4.1 Assets Ratio ... 18

2.1.4.2 Return On Equity ... 18

2.1.4.3 Capital Adequacy Ratio ... 19

2.1.4.4 Non Performing Loan ... 20

(12)

xii

2.1.4.5 Equity Ratio ... 20

2.1.4.6 Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional ... 21

2.1.5 Konsep Efisiensi ... 22

2.1.6 Data Envelopment Analysis ... 23

2.2. Penelitian Terdahulu ... 24

2.3. Kerangka Pemikiran ... 31

2.4. Hipotesis ... 31

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 32

3.2 Tempat dan Waktu ... 32

3.3 Populasi dan Sampel ... 33

3.3.1 Populasi ... 33

3.3.2 Sampel ... 34

3.4 Jenis dan Sumber Data ... 34

3.4.1 Jenis Data ... 35

3.4.2 Sumber Data ... 35

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 36

3.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 36

3.7 Instrumen Penelitian ... 40

3.8 Analisis Data ... 40

3.8.1 Metode Pengolahan Data ... 40

3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 40

3.8.3 Analisis Regresi Berganda ... 42

3.8.4 Pengujian Hipotesis ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 45

4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 45

4.1.1.1 Bank Bukopin ... 45

4.1.1.2 Bank BCA ... 47

4.1.1.3 Bank CIMB Niaga ... 48

4.1.1.4 Bank Danamon ... 50

4.1.1.5 Bank Maybank ... 52

4.1.1.6 Bank Mega ... 53

4.1.1.7 Bank OCBC NISP ... 55

4.1.1.8 Bank Pan Indonesia ... 58

4.1.1.9 Bank Permata ... 60

4.2 Analisis Data ... 61

4.2.1 Hasil Analisis Software Efficiency Measurement System (EMS) ... 62

4.2.2 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ... 63

4.2.3 Hasil Uji Asumsi Klasik ... 68

(13)

xiii

4.2.3.1 Hasil Uji Normalitas ... 68

4.2.3.2 Hasil Uji Multikolonieritas ... 70

4.2.3.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 71

4.2.3.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 72

4.2.4 Hasil Uji Hipotesis ... 73

4.2.4.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 73

4.2.4.2 Hasil Uji Parsial (Uji t) ... 74

4.2.4.3 Hasil Uji Simultan (Uji F) ... 76

4.3 Pembahasan ... 77

4.3.1 Pengaruh Asset Ratio Terhadap BOPO ... 77

4.3.2 Pengaruh ROE Terhadap BOPO ... 77

4.3.3 Pengaruh CAR Terhadap BOPO ... 78

4.3.4 Pengaruh NPL Terhadap BOPO ... 79

4.3.5 Pengaruh Equity Ratio Terhadap BOPO ... 79

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 81

5.2 Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83

LAMPIRAN ... 87

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Proyeksi Rasio Perbankan 2016 ... 3

Tabel 1.2 Daftar Bank Devisa ... 4

Tabel 3.1 Daftar Populasi Perusahaan ... 33

Tabel 3.2 Daftar Perusahaan Sampel ... 35

Tabel 3.3 Definisi Operasional Variabel ... 39

Tabel 4.1 Hasil Analisis Data Envelopment Analysis (DEA) ... 62

Tabel 4.2 Hasil Analisis Deskriptif ... 63

Tabel 4.3 Hasil Uji Kolomogrov-Smirnov ... 69

Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolonieritas ... 70

Tabel 4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 72

Tabel 4.6 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 73

Tabel 4.7 Hasil Uji t ... 74

Tabel 4.8 Hasil Uji F ... 76

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 31

Gambar 4.1 Nilai Asset Ratio yang dijadikan sampel ... 64

Gambar 4.2 Nilai ROE yang dijadikan sampel ... 65

Gambar 4.3 Nilai CAR yang dijadikan sampel ... 65

Gambar 4.4 Nilai NPL yang dijadikan sampel ... 66

Gambar 4.5 Nilai Equity Ratio yang dijadikan sampel ... 67

Gambar 4.6 Nilai BOPO yang dijadikan sampel ... 67

Gambar 4.7 Grafik Histogram ... 68

Gambar 4.8 Grafik Normal Probability Plot ... 69

Gambar 4.9 Grafik Heteroskedastisitas ... 71

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kondisi dunia perbankan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan yang terjadi ini selain disebabkan oleh perkembangan dalam dunia perbankan, juga dari pengaruh perkembangan di luar dunia perbankan, seperti politik, hukum, sosial dan budaya (Gunawan &

Utiyati, 2013).

Pada suatu organisasi, kinerja merupakan kemampuan yang dimiliki dalam menerapkan strategi secara efektif untuk memastikan semua tujuan yang ingin dicapai dapat diwujudkan. Jika suatu perusahaan atau organisasi telah menjalankan aktivitasnya dengan benar dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu dilakukan pengukuran kinerja. Diketahuinya nilai kinerja suatu organisasi dapat mengetahui bagaimana kinerja mereka jika dibandingkan dengan target sehingga dapat melakukan perbaikan. Salah satu kriteria ukuran kinerja adalah efisiensi atau produktivitas yang mengevaluasi hubungan antara input dan output, sehingga untuk mengukur kinerja suatu organisasi, apakah organisasi tersebut telah melaksanakan aktivitasnya dengan benar sesuai dengan tujuan organisasinya dapat dilakukan melalui beberapa cara, salah satunya adalah melihat efisiensi atau tingkat produktivitas dari organisasi tersebut yaitu dengan melihat hubungan antara input dan outputnya (Fathi, dkk dalam Sulistyono, 2014).

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah berada didepan mata, oleh karena itu perbankan di Indonesia diharapkan mampu menghadapi persaingan

(17)

dalam rangka menghadapi MEA. Bertindak sebagai lembaga intermediasi, kinerja perbankan perlu diperhatikan lebih baik lagi ke depannya, karena bukan hanya tingkat keuntungan yang dikelola dengan baik oleh pihak manajemen, akan tetapi pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh perbankan harus dikaitkan dengan efisiensi, agar kinerja oleh suatu perbankan dapat menjadi lebih efisien (Sari & Saraswati, 2017).

Perkembangan industri perbankan sangat vital bagi kelangsungan perekonomian suatu negara. Perkembangan menuju pola yang sehat, kokoh, dan terpercaya pada jenis industri ini akan menciptakan ekonomi negara yang kuat, dengan demikian industri perbankan merupakan salah satu industri yang sangat membantu dalam proses keberlangsungan perekonomian (Rozak, 2010).

Bank merupakan institusi keuangan yang memiliki peranan penting dalam era globalisasi dan pasar bebas saat ini. Oleh karena itu, bank yang bertindak sebagai lembaga intermediasi harus bersikap rasional, dimana bank sebagai perantara antara sektor deficit dan sektor surplus dan juga sebagai agent of development sehingga efisiensi harus selalu diperhatikan.

Lembaga keuangan pada dasarnya mempunyai fungsi mentransfer dana (loanable funds) dari penabung atau unit surplus (lenders) kepada peminjam (borrowers) atau unit defisit. Dana tersebut dialokasikan dengan negosiasi antara pemilik dana dengan pemakai melalui pasar uang atau pasar modal. Produk yang ditransaksikan berupa sekuritas primer (saham, obligasi, promes, dan lain sebagainya). Sekuritas sekunder diterbitkan oleh bank dan lembaga keuangan bukan bank untuk ditawarkan kepada unit surplus (Budisantoso & Nuritomo, 2013).

Perbankan merupakan industri yang banyak mengalami berbagai macam risiko dalam menjalankan operasionalnya. Pihak perbankan dituntut untuk

(18)

Realisasi

2015 RBB 2015 RBB 2016Realisasi

2015 RBB 2015 RBB 2016Realisasi

2015 RBB 2015 RBB 2016Realisasi

2015 RBB 2015 RBB 2016Realisasi

2015 RBB 2015 RBB 2016 BOPO 88.02% 85.51% 85.74% 86.95% 80.06% 82.88% 87.95% 80.17% 85.43% 70.39% 65.42% 68.12% 81.50% 75.38% 83.93%

CAR 24.09% 24.42% 23.34% 21.78% 22.27% 20.98% 19.89% 17.13% 22.19% 19.46% 17.62% 19.48% 21.39% 19.19% 22.01%

NIM 5.27% 6.26% 5.55% 4.57% 5.33% 5.33% 4.33% 4.88% 4.94% 6.28% 6.80% 6.68% 5.39% 5.71% 5.63%

ROA 1.45% 1.83% 1.82% 1.43% 2.15% 1.92% 1.44% 1.90% 1.63% 3.50% 3.88% 3.41% 2.32% 2.44% 2.15%

LDR 88.43% 70.66% 84.25% 94.70% 105.20% 95.76% 91.55% 95.30% 104.55% 86.98% 84.43% 87.39% 92.12% 90.93% 94.23%

BUKU 1 BUKU 2 BUKU 3 BUKU 4 INDUSTRI

Rerata Proyeksi Rasio Tertentu 2016 Peer : Buku

berpikir secara efisien untuk memperkecil risiko yang terjadi. Efisiensi bagi perbankan merupakan aspek yang paling penting diperhatikan untuk mewujudkan suatu kinerja keuangan yang sehat dan berkelanjutan (sustainable).

Seperti yang diketahui, salah satu industri yang dapat mengalami berbagai risiko dalam melaksanakan proses operasionalnya adalah organisasi perbankan. Oleh karena itu, pihak perbankan dituntut agar berpikir secara efisien untuk meminimalisir risiko yang akan terjadi, sehingga efisiensi bagi perbankan merupakan aspek yang cukup penting diperhatikan untuk mewujudkan kinerja keuangan yang sehat dan berkelanjutan (Letto, 2015).

Rasio yang mencerminkan tingkat efisiensi kinerja bank ditunjukkan oleh rasio Biaya Operasional dibandingkan dengan Beban Operasional (BOPO).

Rasio ideal BOPO berkisar antara 70%-80% yang berarti bahwa perbankan di Indonesia belum efisien hal ini dapat dilihat berdasarkan pada tabel 1.1.

Berdasarkan pada data dalam tabel 1.1, yang dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat lihat rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) pada bank umum. Rata-rata nilai rasio BOPO pada tahun 2016 sebesar 83.93% dimana nilai tersebut sedikit meningkat dibandingkan dengan realisasi rasio BOPO pada tahun 2015 yaitu sebesar 81.50%.

Tabel 1.1. Proyeksi Rasio Perbankan 2016 (%)

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, data diolah

(19)

Keadaan ini menempatkan efisiensi sebagai isu penting dalam dunia perbankan di Indonesia, dengan demikian untuk menghitung tingkat efisiensi dari kinerja perbankan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio Biaya Operasional berbanding Beban Operasional (BOPO) dimana efisiensi dalam dunia perbankan merupakan salah satu isu yang cukup penting untuk diteliti (Wardana, 2013).

Penelitian untuk menganalisis efisiensi, baik itu menggunakan pendekatan parametrik maupun non parametrik (DEA) memiliki tujuan untuk memperoleh suatu frontier atau batas produksi yang akurat. Adapun efisiensi dengan menggunakan pendekatan parametrik menghasilkan stochastic cost frontier sedangkan dalam pendekatan non parametrik (DEA) menghasilkan production frontier (Hadad, dkk, 2003).

Analisis evaluasi efisiensi perbankan tepat bila menggunakan evaluasi parametri atau non parametrik. Hal ini dikarenakan kemampuan kedua metode tersebut yang dapat memasukkan berbagai macam input dan output ke dalam analisisnya. Selain, perbedaan satuan variabel pun tidak menjadi masalah, dimana hal tersebut sebelumnya tidak dapat dilakukan oleh alat analisis yang lain sehingga alat analisis efisiensi parametrik dan non parametrik sifatnya lebih fleksibel dan dapat mencakup variabel yang lebih luas dibandingkan dengan alat analisis yang lain (Hadad, dkk dalam Astutiningrum & Haryanto, 2016).

Tabel. 1.2 Daftar Bank Devisa

No. Perusahaan

1 Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Tbk 2 Bank Antar Daerah

3 Bank Artha Graha Internasional, Tbk 4 Bank BNI Syariah

5 Bank Bukopin, Tbk 6 Bank Bumi Arta

7 Bank IBC Bumiputera Indonesia, Tbk

(20)

No. Perusahaan 8 Bank Central Asia, Tbk

9 Bank CIMB Niaga, Tbk

10 Bank Danamon Indonesia, Tbk 11 Bank Ekonomi Raharja, Tbk 12 Bank Ganesha

13 Bank Hana

14 Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk 15 Bank ICBC Indonesia

16 Bank Index Selindo 17 Bank SBI Indonesia

18 Bank Internasional Indonesia, Tbk 19 Bank QNB Kesawan, Tbk

20 Bank Maspion Indonesia

21 Bank Mayapada Internasional, Tbk 22 Bank Mega, Tbk

23 Bank Mestika Dharma 24 Bank Metro Ekspress 25 Bank Muamalat Indonesia 26 Bank Mutiara

27 Bank Nusantara Parahyangan, Tbk 28 Bank OCBC NISP, Tbk

29 Pan Indonesia Bank, Tbk 30 Bank Permata, Tbk 31 Bank Sinarmas, Tbk

32 Bank of India Indonesia, Tbk 33 Bank Syariah Mandiri

34 Bank Syariah Mega Indonesia 35 Bank UOB Indonesia

36 Bank BNP Paribas Indonesia 37 Bank Capital Indonesia 38 Bank KEB Indonesia

39 Bank Rebobank International Indonesia 40 Bank Resona Perdania

41 Bank Agris

42 Bank Maybank Syariah Indonesia 43 Bank Windu Kentjana International 44 Bank Commonwealth

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, 2014 (data diolah)

Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa di Indonesia yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan sebanyak 44 BUSN Devisa. Berdasarkan pada penelitian terdahulu (Rozak, 2010) terdapat 3 kelompok bank di Indonesia yaitu Bank BUMN, Bank BUSN Devisa, dan Bank BUSN Non Devisa menunjukkan bahwa nilai efisiensi hampir mendekati 100%, dimana diperoleh bahwa kelompok

(21)

Bank BUSN Non Devisa menempati nilai efisiensi paling tinggi, lalu Bank BUMN (Persero) dan Bank BUSN Devisa menempati posisi terakhir (Rozak, 2010).

Berdasarkan pada uraian di atas penulis akan melakukan penelitian dengan judul

“Pengukuran Efisiensi Bank Devisa di Indonesia Menggunakan Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA)”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang penelitian di atas, maka berikut adalah rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, apakah dengan menggunakan DEA tingkat efisiensi bank devisa di Indonesia dapat diketahui ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi perbankan dengan menggunakan metode DEA, karena penting untuk melihat seberapa jauh perbankan dapat bekerja secara optimal tanpa penggunaan dana yang besar.

Hal tersebut penting mengingat persaingan di dunia perbankan yang semakin ketat, sehingga salah satu unsur utama agar perbankan dapat tetap eksis dalam menjalankan usahanya, maka perbankan dituntut untuk efisien.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana informasi untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang efisiensi perbankan dengan menggunakan metode data envelopment analysis (DEA). Selain itu, manfaat dari

(22)

penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi untuk dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian sejenis.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan bagi pihak-pihak tertentu dalam perusahaan perbankan dalam mengambil keputusan.

1.5. Sistematika Penulisan Bab I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan Pustaka

Bab ini memuat tentang teori-teori yang relevan dengan penelitian sebagai tinjauan/landasan dalam menganalisis batasan masalah yang telah dikemukakan, kerangka pikir, dan hipotesis.

Bab III : Metodologi Penelitian

Bab ini memuat tentang jenis dan sumber data, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, definisi operasional dan metode analisis data.

Bab IV : Analisis dan Pembahasan Penelitian

Bab ini akan memaparkan tentang hasil penelitian disertakan dengan interpretasi dari hasil pengujian dan pembahasan tentang penelitian yang telah dilakukan.

(23)

Bab V : Penutup

Bab ini berisi kesimpulan yang didasarkan pada hasil analisis, saran bagi pihak-pihak terkait dengan penelitian ini dan untuk penelitian- penelitian selanjutnya.

(24)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. LANDASAN TEORI 2.1.1 Bank

2.1.1.1 Pengertian Bank

Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Bank adalah sebagai

“badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk- bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.

(Budisantoso & Nuritomo, 2014)

Bank merupakan lembaga keuangan dimana yang menjadi kegiatan utama yang dilakukan adalah menghimpun dana dari masyarakat lalu menyalurkan kembali dana yang telah dihimpun tersebut kepada masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir, 2015).

Bank adalah lembaga keuangan yang bertindak sebagai penyedia berbagai jasa keuangan. Kegiatan utama dari perusahaan yang bergerak di bidang keuangan ini adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Nugraha, 2013).

Bank adalah suatu badan usaha dengan tugas utama bertindak sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediasies), kemudian menyalurkan dana dari pihak yang berkelebihan dana (idle find surplus unit) kepada pihak

(25)

yang membutuhkan atau kekurangan dana (deficit unit) untuk waktu tertentu (Dendawijaya, 2005).

2.1.1.2 Fungsi Bank

Secara umum fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary. Secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai agent of trust, agent of development, dan agent of service.

1. Agent of trust

Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan (trust), baik dalam hal penghimpunan dana maupun dalam penyaluran dana.

2. Agent of development

Kegiatan perekonomian masyarakat di sektor moneter dan di sektor riil tidak dapat dipisahkan. Kedua sector tersebut saling memengaruhi.

Kegiatan bank yaitu menghimpun dana dana menyalurkan dana sangat diperlukan bagi lancarnya kegiatan perekonomian di sektor riil.

3. Agent of services

Disamping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa yang ditawarkan bank ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank, dan penyelesaian tagihan.

(26)

2.1.1.3 Jenis – Jenis Bank

Penggolongan bank tidak hanya berdasarkan pada jenis kegiatan usahanya, melainkan juga mencakup bentuk badan hukumnya, pendirian dan kepemilikannya, status kepemilikannya, fungsinya, dan kegiatan operasionalnya.

1. Jenis bank menurut kegiatan usaha

Berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, jenis bank menurut kegiatan usahanya terdiri atas:

a. Bank Umum

Bank umum didefinisikan sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

b. Bank Perkreditan Rakyat

Bank perkreditan rakyat didefinisikan sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

2. Jenis bank menurut bentuk badan usaha

Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghmpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh usaha sebagai bank umum atau bank perkreditan rakyat dari pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang tersendiri.

(27)

3. Jenis bank menurut fungsinya a. Bank Sentral

Bank sentral yaitu bank yang merupakan badan hokum milik Negara yang tugas pokonya membantu pemerintah.

b. Bank Umum

Bank umum yaitu bank yang sumber utama dananya berasal dari simpanan pihak ketiga serta pemberian kredit jangka pendek dalam penyaluran dana.

c. Bank Pembangunan

Bank pembangunan yaitu bank yang dalam pengumpulan dananya berasal dari simpanan pihak ketiga serta pemberian kredit jangka pendek dalam penyaluran dana.

d. Bank Desa

Bank desa yaitu kantor bank di suatu desa yang tugas utamanya adalah melaksanakan fungsi perkreditan dan penghimpunan dana dalam rangka program pemerintah memajukan pembangunan desa e. BPR

BPR yaitu kantor bank di kota kecamatan yang merupakan unsur penghimpunan dana masyarakat ataupun menyalurkan dananya di sektor pertanian dan pedesaan.

4. Jenis bank menurut status kepemilikannya a. Bank Milik Negara

Bank milik Negara yaitu bank yang seluruh modalnya berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan dan pendiriaannya di bawah undang-undang tersendiri.

(28)

b. Bank Milik Swasta Nasional

Bank milik swasta nasional yaitu bank milik swasta yang didirikan dalam bentuk hokum perseroan terbatas, di mana seluruh sahamnya dimiliki oleh WNI atau badan-badan hokum di Indonesia.

c. Bank Swasta Asing

Bank swasta asing yaitu bank yang didirikan dalam bentuk cabang bank yang sudah ada di luar negeri atau dalam bentuk campuran antara bank asing dan bank nasional yang ada di Indonesia.

d. Bank Pembangunan Daerah

Bank pembangunan daerah yaitu bank yang pendiriannya berdasarkan peraturan daerah provinsi dan sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah kota dan pemerintah kabupaten di wilayah bersangkutan dan modalnya merupakan harta kekayaan pemerintah daerah yang dipisahkan.

e. Bank Campuran

Bank campuran yaitu bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional.

5. Jenis bank menurut kegiatan operasional

a. Bank Devisa, bank yang mempunyai hak dan wewenang yang diberikan oleh Bank Indonesia untuk melakukan transaksi valuta asing dan lalu lintas devisa serta hubungan koresponden dengan bank asing di luar negeri.

b. Bank Nondevisa, yaitu bank dalam operasionalnya hanya melaksanakan transaksi di dalam negeri, tidak melakukan transaksi valuta asing, dan tidak melakukan hubungan dengan bank asing di luar negeri.

(29)

2.1.2 Laporan Keuangan

2.1.2.1 Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti misalnya: sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Selain itu, Munawir mengatakan “Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan”.

Menurut Irham Fahmi “Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu perusahaan”.

Laporan Keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam satu periode tertentu (Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, 2008). Oleh karena itu, laporan keuangan sangat diperlukan bagi suatu perusahaan untuk mengetahui kondisi keuangan dari perusahaannya.

Beberapa jenis-jenis laporan keuangan adalah sebagai berikut:

a. Neraca

Neraca merupakan laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan pada suatu perusahaan untuk periode tertentu. Dalam neraca menunjukkan jumlah aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan.

Informasi yang dapat disajikan dalam neraca meliputi:

(30)

a) Aktiva atau assets yang dimiliki

b) Jumlah rupiah dalam masing-masing aktiva c) Kewajiban atau liability

d) Jumlah rupiah dalam masing-masing kewajiban e) Modal (equity)

f) Jumlah rupiah dalam masing-masing modal b. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi digunakan untuk mengetahui jumlah perolehan pendapatan dan biaya yang telah digunakan. Oleh karena itu, dalam laporan laba rugi menunjukkan bagaimana kondisi suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi juga membantu para stakeholders dalam mengetahui keadaan suatu perusahaan apakah dalam posisi laba atau rugi.

Informasi yang dapat diberikan dalam laporan laba rugi meliputi:

a) Pendapatan yang diperoleh dalam suatu periode b) Jumlah rupiah dari masing-masing pendapatan c) Jumlah keseluruhan pendapatan

d) Biaya atau beban dalam suatu periode

e) Jumlah rupiah dari masing-masing biaya atau beban yang dikeluarkan f) Jumlah keseluruhan biaya atau beban yang dikeluarkan

g) Hasil dari usaha yang diperoleh dikurangi dengan jumlah pendapatan dan biaya.

c. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas adalah laporan keuangan yang menunjukkan arus kas masuk dan arus kas keluar pada suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu.

Arus kas masuk meliputi pendapatan maupun pinjaman dari pihak lain,

(31)

sedangkan arus kas keluar adalah biaya-biaya yang telah dikeluarkan perusahaan dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya.

2.1.2.2 Tujuan Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang dibuat oleh sebuah organisasi/perusahaan semestinya telah mempunyai tujuan tertentu. Secara umum, laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi dari keuangan suatu organisasi / perusahaan, baik untuk saat tertentu maupun untuk satu periode tertentu yang utamanya diperuntukkan bagi pemilik usaha maupun manajemen dalam perusahaan serta pihak eksternal yang memiliki kepentingan dengan organisasi/perusahaan tersebut (Kasmir, 2008).

Beberapa tujuan penyusunan laporan keuangan antara lain:

1. Memberikan informasi keuangan mengenai jumlah aktiva dan jenis- jenis aktiva yang dimiliki.

2. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah kewajiban dan jenis- jenis kewajiban lancar maupun kewajiban jangka panjang.

3. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis-jenis modal pada waktu tertentu.

4. Memberikan informasi tentang hasil usaha yang tercermin dari jumlah pendapatan yang diperoleh dan sumber pendapatannya.

5. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu.

6. Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi dalam aktiva, kewajiban, dan modal suatu organisasi/perusahaan.

(32)

7. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode berdasarkan pada hasil laporan keuangan yang telah disajikan.

2.1.3 Rasio Keuangan

Rasio keuangan digunakan untuk mengetahui bagaimana kondisi suatu bank yang dapat dilihat melalui laporan keuangan yang telah disajikan oleh suatu bank pada periode tertentu. Agar laporan keuangan yang telah tersedia dapat dibaca sehingga dapat memberikan maksud dari laporan yang telah dibuat maka perlu dilakukan analisis terlebih dahulu yaitu dengan menggunakan rasio-rasio keuangan sesuai dengan standar yang berlaku (Kasmir, 2015). Beberapa rasio- rasio keuangan, antara lain sebagai berikut:

1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajibanya yang harus dipenuhi, seperti hutang jangka pendek, sehingga rasio ini biasa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka pendek dan mengukur apakah operasional perusahaaan tidak tergangggu apabila kewajiban jangka pendek ini segera dibayar (Sutrisno, 2013). Perusahaan dapar membayar kembali pencairan dana deposannya pada saat ditagih dan dapat mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan, semakin besar rasio ini, maka perusahaan tersebut semakin likuid (Kasmir, 2015).

2. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank mencari sumber dalam rangka membiayai kegiatan operasionalnya.

(33)

Rasio ini juga dapat digunakan untuk mengukur kekayaan yang dimiliki oleh suatu bank sehingga pihak manajemen dapat melihat efisiensi dalam bank tersebut (Kasmir, 2015). Rasio solvabilitas ini mengukur likuiditas untuk jangka panjang perusahaan (Hanafi &

Halim, 2016).

3. Rasio Rentabilitas

Rasio rentabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang telah dicapai oleh suatu bank. Rasio rantabilitas juga biasa dikatakan profitabilitas usaha.

2.1.4 Analisis Rasio Keuangan 2.1.4.1 Assets Ratio

Rasio asset adalah rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengukur persentase total hutang yang digunakan dalam struktur modal dari suatu perusahaan. Semakin tinggi nilai rasionya, semakin besar risiko finansialnya (Robinson et.al dalam Rahman, 2017). Hutang yang dimaksud disini adalah seluruh hutang, baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang. yang dimiliki oleh perusahaan. Kreditur cenderung menyukai apabila nilai rasio ini rendah karena tingkat keamanan dana dari perusahaan tersebut baik (Sutrisno, 2013).

2.1.4.2 Return on Equity (ROE)

Return on equity (ROE) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mendapatkan laba yang berasal dari total modal yang dimiliki. ROE adalah rasio yang membandingkan antara laba setelah pajak dengan total ekuitas yang berasal dari setoran modal dari pemilik, laba ditahan,

(34)

dan cadangan yang lainnya kemudian dikumpulkan oleh bank sehingga hal tersebut dapat menunjukkan bagaimana tingkat pengembalian dari modal ataupun investasi yang ditanamkan oleh investor pada industri perbankan.

Semakin tinggi ROE yang dimiliki oleh suatu bank, maka dapat memberikan pengaruh kepada para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi dalam bank tersebut cukup tinggi. Sehingga rasio ROE dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana tingkat pengembalian dalam suatu bank yang dapat menjadi tolak ukur untuk investor dalam menanamkan modalnya pada perusahaan perbankan (Manurung dalam Hermina & Suprianto, 2014).

2.1.4.3 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital merupakan kemampuan suatu bank menyediakan modal dalam rangka untuk pengembangan aktivitas dan mengendalikan risiko yang akan dihadapi. Untuk mengukur capital suatu bank dapat melihat Capital Adequacy Ratio (Maheswari & Sudirman, 2014). Capital adequacy ratio (CAR) adalah rasio permodalan untuk mengetahui bagaimana kemampuan modal yang dimiliki oleh bank dengan tujuan untuk pengembangan usaha yang dimiliki dan menampung risiko akan terjadinya kerugian yang disebabkan oleh kegiatan operasional dalam bank. CAR dapat digunakan untuk menunjukkan sampai sejauh mana terjadi penurunan aset pada bank yang masih mampu ditutupi oleh modal bank yang tersedia. Sehingga apabila CAR dalam perbankan semakin tinggi, maka modal yang ada dalam perbankan semakin banyak untuk menutupi penurunan aset yang terjadi. Oleh karena itu, CAR dapat menjadi alat ukur untuk mengetahui lancar atau tidaknya kemampuan bank tersebut dalam mengcover risiko yang kerugian yang mungkin terjadi (Hermina & Suprianto, 2014).

(35)

2.1.4.4 Non Performing Loan (NPL)

Non performing loan (NPL) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur bagaimana kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank itu sendiri. Risiko kredit yang dapat dialami oleh bank adalah salah satu risiko usaha dalam bank yang diakibatkan oleh para peminjam yang tidak melunasi kredit yang telah diberikan oleh bank.

Kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit yang bermasalah dapat diukur dengan melihat rasio dari NPL. Apabila rasio NPL semakin tinggi, maka kualitas kredit bank semakin buruk yang disebabkan oleh jumlah kredit yang semakin besar dan menyebabkan kerugian. Begitupula sebaliknya, apabila rasio NPL dalam bank tersebut rendah, maka semakin meningkat pula laba yang didapatkan oleh bank tersebut (Hermina & Suprianto, 2014).

NPL merupakan tingkat kredit pada suatu bank, dimana NPL disini menunjukkan tingkat pengembalian kredit kepada bank yang diberikan oleh deposan. Bank Indonesia memperbolehkan tingkat NPL dalam perbankan maksimal sebesar 5%. Dengan demikian, apabila rasio NPL pada suatu bank diatas 5%, maka tingkat kredit yang diberikan buruk karena jumlah kredit yang diberikan semakin besar sehingga dapat menyebabkan kerugian (Harahap &

Hairunnisah, 2017).

2.1.4.5 Equity Ratio

Equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi kewajiban – kewajiban jangka panjangnya. Apabila rasio ini semakin tinggi hal tersebut berarti modal yang dimiliki semakin berkurang dibandingkan dengan hutangnya. Sebuah

(36)

perusahaan sebaiknya besar hutang yang dimiliki tidak melebihi modal sendiri agar beban tetap yang dimiliki tidak terlalu tinggi (Sutrisno, 2013). Equity ratio berfungsi untuk mengukur apakah permodalan yang dimiliki oleh suatu perusahaan sudah memadai atau sejauh mana penurunan dalam total aset yang dapat ditutupi oleh capital equity (Kasmir, 2015).

2.1.4.6 Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) merupakan salah satu rasio yang dapat digunakan untuk menghitung efisiensi perbankan.

BOPO adalah rasio yang digunakan untuk menghitung efisiensi dengan cara membandingkan biaya operasional yang digunakan dengan pendapatan yang dihasilkan selama 12 bulan dalam 1 periode yang sama. Semakin tinggi tingkat keuntungan yang didapatkan oleh bank, maka tingkat BOPO dalam bank tersebut semakin rendah (Hermina & Suprianto, 2014).

Tujuan dari pengukuran BOPO ialah untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Peningkatan pada nilai rasio BOPO menunjukkan kurangnya kemampuan bank dalam mengelola kegiatan operasinya. Dengan demikian, rasio BOPO dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dari suatu perbankan dengan melihat nilai rasio BOPOnya, apabila nilai rasio BOPO rendah, maka tingkat efisiensinya tinggi, begitupula sebaliknya, apabila nilai rasio BOPO tinggi, maka tingkat efisiensinya rendah (Harahap & Hairunnisah, 2017).

(37)

2.1.5 Konsep Efisiensi

Konsep efisiensi sendiri bukan hanya sekedar menekan biaya serendah mungkin, efisiensi ialah bagaimana mengelola faktor-faktor produksinya (input) sehingga dapat menghasilkan output yang maksimal.

Efisiensi merupakan perbandingan antara input dan output untuk mengukur kemampuan suatu organisasi dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan benar (Nugraha, 2013).

Efisiensi adalah rasio antara input yang digunakan dan output yang dihasilkan. Apabila dalam suatu perencanaan produksi dapat menghasilkan output yang lebih banyak dengan tingkat input yang sama ataupun dengan menurunkan penggunaan input yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama maka perencanaan produksi tersebut dapat dikatakan efisien. Dengan kedua pendekatan tersebut memiliki tujuan yaitu peningkatan efisiensi dimana pendekatan tersebut termasuk ke dalam pendekatan pareto optimum yang dikenal dengan dual programming (Ramanathan dalam Sulistyono, 2014)

Terdapat dua komponen dalam efisiensi dari suatu perusahaan, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis merupakan kemampuan dari suatu perusahaan dalam menggunakan input yang tersedia sehingga dapat menghasilkan output kepada perusahaannya. Selain itu, efisiensi alokatif adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menggunakan secara optimal input yang tersedia, dengan struktur harga dan teknologi dalam produksinya. Kedua komponen tersebut dikombinasikan sehingga menjadi efisiensi ekonomi (economic efficiency). Apabila perusahaan dapat meminimalkan biaya inputnya dan menghasilkan output tertentu dengan menggunakan teknologi yang pada umumnya digunakan dalam melakukan proses produksi dan pengaruh harga

(38)

pasar yang berlaku di pasaran, maka suatu perusahaan tersebut dapat dikatakan efisien secara ekonomi (Farell dalam Ascarya & Yumanita, 2006).

2.1.6 Data Envelopment Analysis (DEA)

Data Envelopment Analysis (DEA) adalah alat analisis yang digunakan sebagai alat bantu dalam mengevaluasi kinerja pada suatu aktifitas yang dilakukan oleh suatu organisasi/perusahaan. DEA pertama kali diperkenalkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes pada tahun 1978. Dimana prinsip kerja DEA sendiri adalah membandingkan data suatu input dan output dari suatu organisasi yaitu data (decision making unit, DMU) dengan data input dan output lainnya yang sejenis (Nugraha, 2013).

Data Envelopment Analysis (DEA) merupakan pendekatan non- parametrik yang pada dasarnya merupakan teknik berbasis linear programming.

Langkah kerja DEA diawali dengan mengidentifikasikan unit-unit yang akan dievaluasi, input serta output unit tersebut. Kemudian membentuk efficiency frontier atas data yang telah tersedia dan menghitung nilai produktivitas dari unit- unit yang tidak termasuk ke dalam efficiency frontier serta mengidentifikasi unit mana saja yang tidak menggunakan input secara efisien relatif terhadap unit berkinerja terbaik dari data yang dianalisis. Produktivitas yang dimaksudkan merupakan jumlah input yang di hemat pada saat proses produksi pada unit yang akan dievaluasi tanpa mengurangi tingkat output yang dapat dihasilkan atau tanpa menambah input pada unit tersebut terjadi peningkatan output.

Pengukuran produktivitas ini bersifat komparatif atau relatif karena hanya membandingkan unit pengukuran (Purwantoro dalam Sulistyono, 2014)

(39)

Untuk mengukur efisiensi terdapat dua model dari DEA yang sering digunakan, yaitu constant return to scale (CCR) dan variable return to scale (BCC) (Sulistiyo & Sumitro, 2005).

2.2. Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian yang mengkaji tentang pengukuran efisiensi perbankan dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA).

Penelitian itu dilakukan oleh:

1. Fitria Maharani (2012)

Penelitian ini membahas tentang mengukur efisiensi perbankan dan mengetahui pengaruh efisiensi bank umum konvensional yang terdaftar di BEI dan pengaruhnya terhadap stock return bank di Indonesia periode 2005 – 2010. Variabel input dan output pada pendekatan DEA, yakni pada variable input terdapat total deposito, beban bunga dan komisi yang dibayarkan, dan beban personalia / tenaga kerja dan beban administrasi, sedangkan untuk variable ouputnya yaitu total kredit yang diberikan dan pendapatan bunga dan komisi yang diterima. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada 19 bank umum konvensional selama 2005 – 2010 relatif efisien. Pada tahun 2005 – 2007, rata-rata score efisiensi cenderung naik. Rata-rata score efisiensi dari tahun 2010 terjadi penurunan, namun efisiensi bank tahun 2010 masih lebih baik dibandingkan dengan tahun 2009.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa score efisiensi bank yang diperoleh dari pendekatan DEA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stock return bank.

(40)

2. Sulistiyo dan Sumitro (2005)

Penelitian ini membahas tentang efisiensi bank umum swasta nasional dengan menggunakan data envelopment analysis (DEA). Metode yang digunakan untuk mengukur efisiensi dari bank tersebut adalah data envelopment analysis (DEA), yaitu dengan menggunakan sebuah teknik program linear yang menghitung rasio output menjadi input dari masing- masing DMU. DMU dapat dikatakan efisien apabila nilai dari efisiensinya adalah 1, apabila nilai dari efisiensi DMU kurang dari 1, hal itu berarti DMU tidak efisien. DEA juga dapat memberikan solusi untuk bank – bank lain dalam sampel dimana mereka awalnya tidak efisien menjadi lebih efisien.

Efisiensi bank yang di nilai adalah bank umum swasta nasional di Indonesia dan bank asing. Penentuan input dan output berdasarkan pada pendekatan intermediation approach, dimana dalam penelitian ini deposit pada bank tersebut diubah menjadi loans, input bank adalah labor, capital, dan deposit, sedangkan outputnya adalah loans dan investment. Penggunaan metode optimalisasi pada bank umum swasta nasional dan bank asing untuk meningkatkan efisiensi pada bank tersebut. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa relatif bank asing lebih efisien dibandingkan dengan bank umum swasta nasional devisa.

3. Abdul Rozak (2010)

Penelitian ini membahas tentang analisis kinerja efisiensi sektor perbankan di Indonesia selama periode 2007 – 2009 menggunakan metode data envelopment analysis (DEA). Terdapat 17 bank BUSN devisa dan 1 BUSN non devisa. Variabel yang digunakan dalam analisis ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu variabel input, antara lain price of labor, price of funds, total assets, dan total deposits (DPK) serta variable outputnya yaitu total credit,

(41)

NIM, LDR, CAR, dan ROA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai efisiensi pada sektor perbankan di Indonesia menunjukkan angka-angka yang hampir mendekati 100%. Selama periode 2007 – 2009 diperoleh bahwa bank BUSN non devisa menempati nilai efisiensi paling tinggi, lalu bank BUMN (Persero) dan bank BUSN Devisa. Hasil perbandingan berdasarkan pada bank-bank yang diuji dengan menggunakan Anova selama periode tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap nilai efisiensinya (p<0,05).

4. Sandi Kusuma Wardana (2013)

Penelitian ini membahas tentang analisis kemampuan efisiensi dari 13 bank umum di Indonesia yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) periode 2005–2011. Analisis data yang digunakan adalah metode non parametrik data envelopment analysis (DEA). Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi variabel input dan variable output. Variabel inputnya terdiri dari salary expense (biaya personalia), fixed asset (aktiva tetap), interest expense (biaya dluar bunga), dan purchase fund (pembelian surat berharga), sedangkan variabel outputnya yaitu, earning asset (aktiva produktif), interest income (pendapatan bunga), dan non interest income (pendapatan non bunga). Hasil dari penelitian ini adalah tingkat efisiensi pada bank umum tidak berubah antara 2005 dan 2011. Score efisiensi mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2011 untuk semua bank umum. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam efisiensi antara bank umum dan bank umum swasta nasional.

5. Firman Aji Gunawan (2103)

Penelitian ini menganalisis efisiensi relatif dan mengindentifikasi apakah terdapat perbedaan nilai efisiensi pada bank milik pemerintah periode 2008 –

(42)

2011. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode data envelopment analysis (DEA) dengan variabel returns to scale (VRS), dimana inputnya adalah dana pihak ketiga, biaya bunga, dan biaya operasional, sedangkan outputnya adalah kredit (loans), pendapatan bunga, dan pendapatan operasional lainnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bank milik pemerintah memiliki nilai efisiensi 100%

selama 2008 – 2011.

6. Bhava Wahyu Nugraha (2013)

Penelitian ini membahas tentang menganalisis, mengukur, dan membandingkan tingkat efisiensi dari bank pemerintah, bank swasta nasional, bank asing dan campuran periode waktu 2007 – 2010 dengan menggunakan analisis data envelopment analysis (DEA) dengan metode non parametrik. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, variabel input simpanan giro, simpanan deposito, simpanan tabungan, dan jumlah karyawan, serta variable outputnya adalah kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 13 bank, 3 bank bank pemerintah dan 10 bank swasta nasional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bank swasta nasional lebih efisien dibandingkan dengan bank pemerintah.

7. David A. Grigorian & Vlad Manole (2006)

Penelitian ini membahas tentang faktor penentu kinerja dari bank umum dalam masa transisi dengan menggunakan data envelopment analysis (DEA). Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur efisiensi bank umum dalam kerangka kerja pada beberapa input maupun outputnya dan mengevaluasi dampak makroekonomi, legal, serta peraturan lingkungan pada kinerja bank umum dengan menggunakan indikator efisiensi. Variabel

(43)

dependen adalah efisiensi DEA dan variable independennya yaitu equity sebagai bagian dari total asset, asset bank, variabel lain untuk kepemilikan asing, dan variabel lain untuk akun bank baru maupun lama. Hasil dari penelitian ini adalah kapitalisasi pasar sekuritas yang lebih tinggi dapat mengurangi pendapatan berdasarkan efisiensi, sementara lembaga keuangan non-bank yang berkembang menghambat pengambilan deposito.

2.3. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan dari penjelasan teoritis hasil penelitian terdahulu, maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah Asset Ratio, Return on Equity, Capital Adequacy Ratio, Non Performing Loan, dan Equity Ratio sebagai variabel independen dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebagai variabel dependen. Penjelasan tentang hubungan antar variabel dan menghasilkan kerangka pemikiran dijelaskan sebagai berikut.

1. Pengaruh Asset Ratio terhadap BOPO

Asset ratio merupakan rasio solvabilitas yang digunakan untuk mengukur nilai aset suatu bank. Semakin tinggi rasio aset suatu bank menunjukkan bahwa proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva (Hendri, 2015). Semakin tinggi rasio BOPO menunjukkan bahwa suatu bank tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya (Harianto, 2017). Berdasarkan pada pendapat diatas menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asset ratio dengan BOPO.

(44)

2. Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap BOPO

ROE digunakan untuk menunjukkan kemampuan bank dalam menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan tingkat keuntungan yang tinggi bagi para pemegang saham atau investor, sehingga kecil atau besarnya laba yang dihasilkan oleh suatu bank maka akan mempengaruhi tingkat ROE pada suatu bank tersebut. BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya. Apabila rasio BOPO pada suatu bank rendah, maka bank tersebut menunjukkan kinerja manajemen dari bank tersebut dalam menggunakan sumber daya yang dimilikinya semakin efisien, sehingga keuntungan yang diperoleh juga akan meningkat (Saputri & Oetomo, 2016). Oleh karena itu, jika laba yang dihasilkan oleh suatu bank meningkat, maka bank tersebut menggunakan sumber daya yang dimilikinya secara efisien. Berdasarkan pada penjelasan teoritis diatas menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ROE dan BOPO.

3. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap BOPO

CAR digunakan untuk menunjukkan seberapa besar modal suatu bank untuk menunjang kebutuhannya serta dapat pula digunakan untuk menilai bagaimana prospek untuk lanjutan dari usaha bank tersebut (Matindas, Pangemanan, & Saerang, 2015). Penelitian yang dilakukan oleh Fitrianto & Mawardi (2006) menyatakan bahwa bank yang mampu mengendalikan biaya operasionalnya dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, Hal tersebut disebabkan dari pendapatan operasional bank yang diperoleh melebihi dari biaya operasional yang dikeluarkan, sehingga kelebihan tersebut dapat

(45)

menambah modal bank. Berdasarkan pada penjelasan teoritis diatas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara CAR dan BOPO.

4. Pengaruh Non Performing Loan terhadap BOPO

NPL adalah salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan kualitas aset suatu bank. Peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menyatakan bahwa semakin tinggi nilai NPL (diatas 5%) maka bank tersebut dinyatakan tidak sehat. Semakin besar skala operasional suatu bank maka pengawasan terhadap kegiatan operasional semakin menurun, hal tersebut mengakibatkan NPL semakin besar dimana risiko kredit semakin besar pula (Matindas, Pangemanan, & Saerang, 2015). Penelitian yang dilakukan oleh Poernawatie (2009) menyatakan bahwa dengan meningkatnya NPL suatu bank maka akan menurunkan efisiensi operasional dari bank tersebut, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya rasio BOPO. Berdasarkan pada penjelasan teoritis diatas diketahui bahwa terdapat pengaruh antara NPL dengan BOPO.

5. Pengaruh Equity Ratio terhadap BOPO

Equity ratio merupakan rasio untuk mengukur risiko modal dari suatu perusahaan yang berkaitan dengan dana yang diberikan oleh kreditur dan investor (Tugas, 2012). Equity ratio digunakan untuk membandingkan total ekuitas dengan total aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Jika asetnya tidak lebih besar dari ekuitas, berarti perusahaan tersebut insolvent atau tidak mampu membayar kewajibannya . Jika perusahaan tersebut insolvent berarti perusahaan tersebut tidak mampu membiayai kegiatan operasionalnya. Sehingga, secara teoritis, equity ratio dapat berpengaruh terhadap BOPO.

(46)

Kerangka pemikiran merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Uma Sekaran dalam Sugiyono, 2016).

Kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

2.4. Hipotesis

Berdasarkan uraian pada kerangka pemikiran di atas dan untuk menjawab identifikasi masalah, maka penulis dapat merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1 : Diduga bahwa dengan menggunakan data envelopment analysis maka tingkat efisiensi bank devisa di Indonesia dapat diketahui.

Assets Ratio (X1)

Return On Equity (X2)

Capital Adequacy Ratio (X3)

Net Performing Loan (X4)

Equity Ratio (X5)

Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO)

(Y)

(47)

32 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini berdasarkan pada laporan keuangan pada bank swasta nasional devisa antara lain Bank Bukopin, Tbk ; Bank Central Asia, Tbk ; Bank CIMB Niaga, Tbk ; Bank Danamon Indonesia, Tbk; Bank Maybank, Tbk; Bank Mega, Tbk; Bank OCBC NISP; Pan Indonesia Bank, Tbk ; Bank Permata, Tbk ; Bank UOB Indonesia periode 2011 – 2016. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yakni, variabel independen meliputi, assets ratio, return on equity, capital adequacy ratio, non performing loan, dan equity ratio serta variabel dependen yaitu biaya operasional terhadap beban operasional.

3.2 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bank umum swasta nasional devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode waktu 2011-2016 dengan menggunakan metode electronic research dan library research untuk mendapatkan tambahan informasi lainnya yang dapat di akses melalui internet ke website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan link lainnya yang relevan.

(48)

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah 44 bank umum swasta nasional devisa yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 - 2016.

Tabel 3.1 Daftar Populasi Perusahaan

No. Perusahaan

1 Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Tbk 2 Bank Antar Daerah

3 Bank Artha Graha Internasional, Tbk 4 Bank BNI Syariah

5 Bank Bukopin, Tbk 6 Bank Bumi Arta

7 Bank IBC Bumiputera Indonesia, Tbk 8 Bank Central Asia, Tbk

9 Bank CIMB Niaga, Tbk

10 Bank Danamon Indonesia, Tbk 11 Bank Ekonomi Raharja, Tbk 12 Bank Ganesha

13 Bank Hana

14 Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk 15 Bank ICBC Indonesia

16 Bank Index Selindo 17 Bank SBI Indonesia

18 Bank Internasional Indonesia, Tbk 19 Bank QNB Kesawan, Tbk

20 Bank Maspion Indonesia

21 Bank Mayapada Internasional, Tbk 22 Bank Mega, Tbk

23 Bank Mestika Dharma 24 Bank Metro Ekspress 25 Bank Muamalat Indonesia 26 Bank Mutiara

27 Bank Nusantara Parahyangan, Tbk 28 Bank OCBC NISP, Tbk

29 Pan Indonesia Bank, Tbk 30 Bank Permata, Tbk 31 Bank Sinarmas, Tbk

32 Bank of India Indonesia, Tbk 33 Bank Syariah Mandiri

34 Bank Syariah Mega Indonesia 35 Bank UOB Indonesia

36 Bank BNP Paribas Indonesia 37 Bank Capital Indonesia

(49)

No. Perusahaan 38 Bank KEB Indonesia

39 Bank Rebobank International Indonesia 40 Bank Resona Perdania

41 Bank Agris

42 Bank Maybank Syariah Indonesia 43 Bank Windu Kentjana International 44 Bank Commonwealth

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, data diolah

3.3.2 Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan memberikan kriteria-kriteria tertentu.

Kriteria sampel dalam penelitian ini:

1. Bank devisa yang terdaftar di BEI yang mempunyai laporan keuangan lengkap dan di publikasikan periode 2011 – 2016.

2. Laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan tahunan bukan laporan keuangan triwulan.

3. Pengambilan laporan keuangan dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan dari data yang diberikan pada periode 2011 – 2016.

4. Bank devisa yang beraset minimal sebesar Rp. 50 Trilyun.

5. Bank devisa yang tidak di merger maupun di akuisisi pada periode 2011 – 2016.

6. Bank devisa yang tidak bekerja dengan prinsip syariah.

Berdasarkan pada keriteria – kriteria di atas, dari 44 bank devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terdapat 10 bank devisa yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Sampel dalam penelitian ini dapat ditunjukkan pada tabel 3.2 berikut :

(50)

Tabel 3.2 Daftar Perusahaan Sampel

No. Kode Nama Perusahaan

1 BBKP Bank Bukopin

2 BBCA Bank Central Asia, Tbk 3 BNGA Bank CIMB Niaga, Tbk

4 BMDN Bank Danamon Indonesia, Tbk

5 BNII Bank Internasional Indonesia / Bank Maybank 6 MEGA Bank Mega, Tbk

7 NISP Bank OCBC NISP

8 PNBN Pan Indonesia Bank, Tbk 9 BNLI Bank Permata

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan, data diolah

3.4 Jenis dan Sumber Data 3.4.1 Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Data kuantitatif, merupakan data dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data diharapkan berupa laporan keuangan pada bank swasta nasional devisa.

2. Data kualitatif, merupakan data dalam bentuk kata-kata yang berasal dari buku, jurnal, ataupun web yang berkaitan dengan teori yang digunakan dan masalah yang terdapat dalam penelitian ini.

3.4.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil publikasi, yang meliputi laporan keuangan tahunan bank swasta nasional devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 – 2016, data tersebut dapat diakses dan diunduh melalui

Referensi

Dokumen terkait

Dalam melaksanakan penyelenggaraan Pemerintahan, Perangkat Daerah Kecamatan Glagah sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi yang merupakan upaya – upaya khusus

Hal ini dapat dilakukan dengan cara, yaitu: (1) peningkatan pada peubah yang berpengaruh langsung dan nyata, serta bersifat postif pada kinerja penyuluh pertanian, seperti

“Sejauhmanakah Penggunaan Komunikasi Verbal dan Nonverbal yang bersifat Fatis dalam Penciptaan Komunikasi Efektif antara Dosen dan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP

Hasil : Implementasi pada dilakukan selama 1x20 menit, melakukan pendidikan kesehatan tentang pengertian demam tifoid, tujuan diberikan pendidikan kesehatan,

pengawasan dibagi menjadi empat, yaitu: produksi, keuangan, waktu, dan manusia serta kegiatan- kegiatannya. Pada bidang produksi, pengawasan dapat ditujukan terhadap

itu juga berhasil dibangun perumahan, depot obat dan Sekolah Taman Kanak - kanak Turangga. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 8 dan 9, PT.. &#34; Apa yang terjadi pada 29 Juli

Sentuhan mata : Gejala yang teruk boleh termasuk yang berikut: kesakitan atau kerengsaan.. berair kemerahan Kesan Kesihatan

Puji Syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala limpahan berkat dan kasih-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis