PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH DI BAWAH UMP BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003
TENTANG KETENAGAKERJAAN
(Studi Kasus PT. Tiara Kusuma Patria Persada Mataram Mall)
JURNAL ILMIAH
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat S-1 pada
Program Studi Ilmu Hukum
Oleh :
WAHYU AKBAR FEBRIYANTO D1A 116 280
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM 2020
HALAMAN PENGESAHAN
PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH DI BAWAH UMP BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003
TENTANG KETENAGAKERJAAN
(Studi Kasus PT. Tiara Kusuma Patria Persada Mataram Mall)
JURNAL ILMIAH
Oleh :
WAHYU AKBAR FEBRIYANTO D1A 116 280
Menyetujui,
Pembimbing Pertama,
H. Zaeni Asyhadie, SH., M.Hum NIP. 196106201988031001
PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH DI BAWAH UMP BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003
TENTANG KETENAGAKERJAAN
(Studi Kasus PT. Tiara Kusuma Patria Persada Mataram Mall) Wahyu Akbar Febriyanto
D1A116280
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pelaksanaan pembayaran upah di bawah UMP berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT.Tiara Kusuma Patria Persada dan untuk mengetahui akibat hukum yang dilakukan terhadap perusahaan yang membayarkan upah dibawah UMP Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Hukum Normatif Empiris (sosiologis). Hasil dari penelitian ini yaitu Sehubungan dengan maraknya pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan PT.Tiara Kusuma Patria Persada terhadap peraturan Perundang- undangan yang berlaku yang berakibat di rugikannya karyawan-karyawan untuk memperoleh hak-hak Normatif, sesuai ketentuan Perundang-undangan Ketenagakerjaan demi tercapainya rasa keadilan bagi para pekerja/buruh.
Perusahaan belum melaksanakan pelaporan ketenagakerjaan ( wajib lapor ketenagakerjaan ) berkala ke Balai Pengawasan Ketenagakerjaan Pulau Lombok.
Kata Kunci: Perusahaan, Upah.
IMPLEMENTATION OF WAGE PAYMENTS UNDER UMP BASED ON LAW NUMBER 13 OF 2003 CONCERNING LABOR
(Case Study of PT. Tiara Kusuma Patria Persada Mataram Mall) ABSTRACT
The purpose of this study is to determine the implementation of wage payments under the UMP based on Law Number 13 of 2003 concerning Manpower at PT Tiara Kusuma Patria Persada and to find out the legal consequences that have been committed against companies that pay wages under the UMP based on Law Number 13 2003 concerning Manpower. The type of research used in this research is Normative Empirical (sociological) law research.
The results of this study are in connection with the rampant violations committed by the company PT.Tiara Kusuma Patria Persada against the applicable laws and regulations which result in losses for employees to obtain Normative rights, in accordance with the provisions of the Labor Law for the sake of achieving a sense of justice. for workers / laborers.
Keywords : Company, Wage.
I. PENDAHULUAN
Persoalan upah menarik dan penting dikaji karena berbagai pihak mempunyai kepentingan yang berbeda. Bagi pengusaha,upah merupakan salah satu unsur pokok dalam penghitungan biaya produksi yang menentukan besarnya harga pokok serta besarnya keuntungan pengusaha. Upah bagi para pekerja atau buruh yang diterima sangatlah berarti bagi kelangsungan hidup mereka dalam pemenuhan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, karena dengan penerimaan upah bagi seorang pekerja atau buruh dapat mewujudkan cita-citanya dan sekaligus juga dalam rangka meningkatkan taraf hidup yang layak bagi kemanusian.
Secara umum kita ketahui bahwa upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada penerima kerja untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dikerjakan, secara teori dikatakan bahwa upah adalah hak bagi pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan sebagai suatu imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja atau buruh yang ditetapkan dan dibayarkan sesuai menurut dengan suatu perjanjian kerja,kesepakatan,atau peraturan. Secara umum,upah adalah hak pekerja atau buruh yang dinyatakan dalam bentuk uang yang diberikan atas suatu imbalan dari pengusaha,kesepakatan antara pekerja atau buruh dan pengusaha dalam membayarkan upah dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja,kesepakatan atau peraturan perundang-undangan,termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas pekerjaan dan atau jasa yang telah dilakukan.
Masalah upah sangat penting dikaji karena dampaknya sangat luas,jika para pekerja/buruh tidak menerima upah dengan adil dan pantas,itu tidak hanya akan mempengaruhi daya beli yang akhirnya berdampak pada standar penghidupan para pekerja atau buruh beserta keluarga mereka sendiri.
Pada asalnya hukum perburuhan bersifat hubungan perdata dan pengusaha, namun tidak ada kesetaraan hubungan antara buruh dan pengusaha, dikarenakan secara natural kedudukan pengusaha lebih berkuasa berkuasa daripada pekerja/buruh yang menggantungkan kesejahteraan dirinya dan keluarga kepada pengusaha.1
Dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, istilah pekerja/buruh digandengkan dengan istilah buruh sehingga menjadi istilah pekerja/buruh. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pekerja atau buruh adalah : 2
“Setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain” (Pasal 1 Angka 3 UU 13 Tahun 2003).
Bagi setiap warga negara khususnya Indonesia, upah dan gaji merupakan hak setiap warga negara bagi yang memiliki pekerjaan pada suatu instansi ataupun perusahaan baik pemerintah ataupun swasta. Dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 7 Ayat 2 menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan perlindungan yang layak bagi kemanusiaan” dan Pasal 28 D Ayat 2 menyatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk kerja serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang ada dan layak dalam hubungan kerja”.
PT. Tiara Kusuma Patria Persada adalah perusahaan yang berada di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam hal ini upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh di tempat tersebut yaitu di bawah UMK
1Ikhwan Fahrojih. 2016. Hukum Perburuhan Konsepsi, Sejarah danJaminan Konstitusional.
Malang:Instrans Publishing, hlm 3
2Zaeni Asyhadie, 2015, Hukum Kerja, Jakarta : PT. Rajawali Pers, hlm. 19
(Upah Minimum Kota) yang berkibat dirugikannya pekerja/buruh untuk meperoleh hak-hak normative, sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku sebagai dinas yang membidangi ketenagakerjaan dalam hal pengawasan dalam menegakkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan demi tercapainya rasa keadilan bagi pekerja/buruh.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1) Bagaimana pelaksanaan pembayaran upah di bawah UMP berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT.Tiara Kusuma Patria Persada? Dan 2) Bagaimana akibat hukum yang dilakukan terhadap perusahaan yang membayarkan upah dibawah UMP berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan?
Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui pelaksanaan pembayaran upah di bawah UMP berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT.Tiara Kusuma Patria Persada Dan 2) Untuk mengetahui akibat hukum yang dilakukan terhadap perusahaan yang membayarkan upah dibawah UMP berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
II. PEMBAHASAN
PELAKSANAAN PEMBAYARAN UPAH DI BAWAH UMP BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DI PT TIARA KUSUMA PATRIA PERSADA
PT. Tiara Kusuma Persada Group mengembangkan usaha pada bidang restoran dengan dibukanya Rumah Makan Begibung Resto Pada Tahun 2012.
Umumnya, pengelola pusat perbelanjaan merupakan tempat untuk membeli barang-barang maupun barang elektronik, maka tidak heran jika perusahaan PT.
Tiara Kusuma Patria Persada bergerak pada bidang penjualan pakaian,jadi berbagai merek dalam negeri maupun luar negeri. Setidaknya puluhan gerai toko yang ada di komplek Mataram Mall dikuasai oleh perusahaan tersebut. PT. Tiara Kusuma Patria Persada dalam perkembangan juga merambah di dunia bisnis yaitu dengan membuka Rumah Makan Begibung Resto.
PT. Tiara Kusuma Patria Persada mempekerjakan 365 karyawan yang terbagi ke dalam bidang pekerjaan, jumlah pekerjaan yang ada di perusahaan tersebut seperti yang ada dalam tabel berikut ini :
No. Status Kerja Jumlah Pekerja Jumlah Upah
1 Pekerja Tetap (PKWTT) 170 Rp. 1.800.000
2 Pekerja Kontrak (PKWT) 140 Rp. 1.800.000
3 Pekerja Training 5 Rp. 1.000.000
Total: 365
Sumber : PT. Tiara Kusuma Patria Persada
Dimana untuk mengetahui efektivitas ketentuan pembayaran upah di bawah standar yang diatur di dalam Undag-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketengakerjaan dan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan.
Adapun hasil wawancara baik dari pihak perusahaan maupun pekerja yaitu sebagai berikut:3
Pelaksanaan pembayaran Upah di PT. Tiara Kusuma Patria Persada menurut pihak perusahaan bahwa mekanisme serta pelaksanaan pembayaran upah dari tahun 2016 sampai tahun 2020 selalu mengikuti ketetapan yang sudah ditentukan oleh pemerintah yaitu Rp. 1.400.000 di tahun 2016, Rp. 1.600.000 di tahun 2017 dan Rp. 1.800.000 di tahun 2018, dan Rp. 2.013.000 di tahun 2019 hingga tahun 2020,maka itu menjadi sebuah acuan PT. Tiara Kusuma Patria Persada ini dalam melakukan pembayaran upah kepada pekerja sehingga pelaksanaan pembayaran upah yang dilakukan sudah mengikuti standar prosedur atau ketetapan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang tercantum dalam isi perjanjian kerja bersama (PKB).
Berdasarkan hasil wawancara,pihak pengusaha tidak pernah memberikan waktu istirahat yang cukup dan memberikan makanan maupun minuman. Bahkan waktu kerja lembur di PT Tiara Kusuma Patria Persada mencapai 4,5 jam kerja lembur per hari sedangkan dalam Peraturan Nomor 102 Tahun 2004 Tentang Waktu Kerja Lembur Pasal 3 yaitu waktu kerja lembur sehari maksimal tiga jam per hari dan/atau 14 jam per minggu dan pengusaha di PT Tiara Kusuma Patria
3Hasil wawancara dengan saudara I Putu Rika Juliartawan sebagai personalia PT. Tiara Kusuma Patria Persada pada Hari rabu tanggal 3 Juni 2020
Persada melanggar aturan tersebut dengan mempekerjakan pekerja atau buruh di waktu kerja lembur hingga 4,5 jam per hari. Pengusaha yang ingin mempekerjakan pekerja/buruh pada hari libur resmi,maka pihak pengusaha harus mengajukan surat perintah kerja lembur yang ditanda tangani kedua belah pihak antara pengusaha dengan pekerja/buruh.
Pekerja/buruh di PT Tiara Kusuma Patria Persada juga dihadapkan dengan masalah upah baik formulasi upah,pemotongan upah,upah lembur serta tidak kerja tidak dibayar. Implementsi yang dilakukan pengusaha yakni membayar upah pekerja dibawah UMK/UMR hal tersebut bertentangan dengan Undang- Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada pasal 88 ayat 1
“setiap pekerja harus mendapatkan upah yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”, pada ayat 3 dijelaskan kebijakan upah harus melindungi pekerja baik upah minimum,upah lembur,upah tidak masuk kerja karena berhalangan,upah tidak masuk kerja karena kegiatan yang lain,upah karena menjalankan hak istirahat kerja. Pada pasal 90 menegaskan pada ayat 1 pengusaha dilarang membayar upah rendah dibawah angka minimum,pada pasal 91 pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan pengusaha dan pekerja mekanisme tersebutlah yang tidak dijalankan oleh PT Tiara Kusuma Patria Persada.4
Namun formula upah di PT Tiara Kusuma Patria Persada yang disusun oleh pihak manajemen atau perusahaan adalah upah minimum sama dengan upah pokok tanpa tunjangan tidak tetap sehingga dengan formula upah tersebut pihak
4 M. Imam Al-Baidhawi. Hukum Untuk Siapa? “Pengusaha atau Rakyat
https://alternatifrakyat.wordpress.com (Diakses pada hari Rabu, 26 Agustus 2020, Pukul 10.36 WITA)
manajemen atau perusahaan hanya berkewajiban membayar upah pokok saja sebesar 75% dari ketentuan UMP Mataram.
Mengenai implementasi lebih lanjut tentang ketentuan Upah dibawah standar peneliti melakukan wawancara kepada pihak pekerja sekaligus anggota serikat buruh di PT. Kusuma Patria Persada.5
Selain itu juga penerapan standar prosedur pengupahan yang dilakukan di PT. Tiara Kusuma Patria Persada tidak jelas,dimana pekerja yang baru masuk dengan staus kerja training mendapatkan upah sebesar Rp. 900.000 dengan masa percobaan kerja selama 3 bulan. Kemudian mengenai upah kerja lembur yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku,waktu kerja lembur yang dilakukan selama 5 jam sehari dengan hanya membayar Rp. 9000 per/jam.6
Bedasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembayaran upah dibawah UMR/UMP bertentangan dengan ketentuan Pasal 90 Undan- undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dimana pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari Upah Minimum dan sebagaimana yang dimaksud dengan Pasal 91 Ayat 1 Peraturan Pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dengan pekerja tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan oleh Peratuaran Perundang-undangan dan Ayat 2 apabila lebih rendah maka kesepakatan tersebut batal demi hukum.
5Hasil wawancara dengan saudari Nurwahyullah, Komang Tini, Hindun dan Ni Nengah Sri Kaswari dan Iman Munandar sebagai pekerja di PT. Tiara Kusuma Patria Persada sekaligus anggota serikat pekerja FPBI Cabang Mataram pada Hari Kamis tanggal 4 Juni 2020
6 Hasil wawancara dengan Komang Tini dan Saudara I Putu Rika Juliartawan Pada tanggal 4 Juni 2020
Akibat Hukum yang Dilakukan Terhadap Perusahaan yang Membayarkan Upah Dibawah Standar Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan di PT. Tiara Kusuma Patria Persada
Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1320 yang menyatakan empat syarat yang harus dipenuhi, yaitu: Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; Cakap untuk membuat suatu perjanjian; Mengenai hal atau objek tertentu; Suatu sebab (causal) yang halal. Ketentuan ini juga tertuang dalam Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja dibuat atas dasar: Kesepakatan kedua belah pihak; Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum; Adanya pekerjaan yang diperjanjikan; Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam praktek secara empiris, pihak perusahaan dengan pihak pekerja/buruh dalam menyepakati perjanjian kerja dibuat secara mandiri dalam bentuk tertulis yang berupa perjanjian baku (yaitu perjanjian yang dibuat secara sepihak oleh pihak perusahaan dan pihak pekerja akan menandatangani apabila disepakati perjanjian kerja tersebut), perjanjian baku masa berlaku selama 1 tahun, dan akan dapat diperpanjang dengan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, dan perjanjiannya masih dalam bentuk di bawah tangan.
Sistem ini didasarkan atas prestasi kerja dan tidak dipengaruhi oleh tunjangan-tunjangan yang tidak ada hubungannya dengan prestasi kerja.
Pembayaran upah diberikan dalam bentuk uang,namun tidak mengurangi kemungkinan pembayaran dapat berupa barang yang jumlahnya dibatasi. Upah pada dasarnya merupakan imbalan dari pengusaha kepada pekerja/buruh untuk sesuatu pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan.7
Berdasarkan hasil data dilapangan PT. Tiara Kusuma Patria Persada diperiksa oleh Badan Pengawas Tenaga Kerja Sepulau Lombok pada tahun 2018.
Hasil dari pemeriksaan tersebut ditemukan bahwa memang benar
PT Tiara Kusuma Patria Persada memberikan upah pokok kepada pekerja atau buruh dibawah UMP. Setelah dilakukan pemeriksaan terebut,perusahaan membuat peraturan pengupahan baru. Pada peraturan pengupahan yang baru, pekerja/buruh tidak diberikan tunjangan, bonus, prestasi, melainkan hanya gaji pokok saja sebesar UMK.
Dimana didalam pasal 91 dijelaskan bahwa :
(1) Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
(2) Dalam hal kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih rendah atau bertentangan dengan Peraturan Perundang- undangan,kesepakatan tersebut batal demi hukum,dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Adapun sanksi atau hukuman bagi perusahaan yang membayar upah dibawah upah minimum regional berdasarkan Undang-undang nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan sebagai berikut :
a) (1) Barang siapa melangar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74,dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 200.000.000 dan paling banyak Rp 500.000.000.
7 Zainal Asikin, 2012, Penghantar Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hlm.
149
b) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 167 ayat (5),dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 100.000.000 dan paling banyak 500.000.000
PT. Tiara Kusuma Patria Persada terus mempekerjakan buruh/pekerjanya dengan status kontrak selama bertahun-tahun, yang mana kerja kontrak menurut Undang-undang Ketenagakerjaan Nmor 13 Tahun 2003 pasal 59 ayat (2), bahwa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) hanya boleh di kontrak selama dua tahun dan diperpanjang maksimal paling lama setahun. Artinya, jika buruh/pekerja sudah bekerja selama tiga (3) tahun dengan status PKWT, maka pihak perusahaan wajib mengangkatnya sebagai pekerja tetap (PKWTT). PKWT pada kedua perusahaan tersebut juga cacat demi hukum, yaitu setiap pekerja/buruh sebelum diajukan surat PKWT/kontrak pihak perusahaan memperkerjakan buruh/pekerja dengan status massa percobaan dengan upah jauh di bawah ketentuan UMK. Padahal di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan, PKWT tidak mensyaratkan adanya massa percobaan (pasal 58 ayat 1) dan selanjutanya pada pasal 58 ayat (2), apabila PKWT mensyaratkan adanya massa percobaan, maka perjanjian kerja tersebut batal demi hukum. Dengan mempekerjakan pekerja/buruh dengan status kerja kontrak pihak pengusaha dapat mempekerjakan dan atau memberhentikan pekerja/buruh sekehendaknya tanpa mempertimbangkan kondisi pekerja/buruh.
Melaui sistem kerja kontrak,pengusaha dapat menekan upah pekerja/buruh serendah-rendahnya dan apabila pekerja/buruh menuntut perbaikan kondisi pekerjaan maka pihak perusahaan akan memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh tersebut.
1. Rincian Kerugian Upah Tidak Dibayarkan Sesuai UMK
Tahun UMK (Upah Minimum Kota)
Upah yang Dibayarkan (Perbulan)
Upah yang Tidak Dibayarkan
Upah yang Tidak Dibayarkan (Pertahun)
2015 Rp. 1.043.000 Rp. 782.250 Rp. 260.750 Rp. 3.129.000
2016 Rp. 1.120.000 Rp. 840.000 Rp. 280.000 Rp. 3.360.000
2017 Rp. 1.210.000 Rp. 945.000 Rp. 265.000 Rp. 3.180.000
2018 1.405.000 Rp. 1.053.750 Rp. 351.250 Rp. 215.000
2019 1.550.000 Rp. 1.162.500 Rp. 387.500 Rp. 4.650.000
2020 Rp. 1.714.210 Rp. 1.285.666 Rp. 428.544 Rp. 2.999.808
Sumber : Pimpinan Tingkat Perusahaan Federasi Perjuangan Buruh Indonesia Atas Nama Ni Nengsih Sri Kaswari8
8 Pimpinan Tingkat Perusahaan Federasi Perjuangan Buruh Indonesia Atas Nama Ni Nengsih Sri Kaswari
III. PENUTUP Kesimpulan.
Dari hasil penelitian dan pembahasan dalam skripsi ini, maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu: 1) PT. Tiara Kusuma Patria Persada ini dalam melakukan pembayaran upah kepada pekerja sudah mengikuti standar prosedur atau ketetapan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang tercantum dalam isi perjanjian kerja bersama (PKB).Selain itu juga formulasi tentang kebijakan pengupahan pada surat keputusan gubernur Nomor 561 sampai 896 Tahun 2018 tentang Upah Minimum Provinsi dan Ketentuan Undang-undang yang berlaku. Serta tata cara pembayaran Upah yang dilakukan oleh perusahaan terhadap pekerja dengan di transfer melalui bank setiap tanggal 1 awal bulan. Dalam hal ini, penulis mengangkat pelaksanaan bedasarkan SK Gubernur NTB Nomor 561 – 182 Tahun 2019. Dan 2) Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa akibat hukum perusahaan yang membayarkan upah dibawah UMP ketentuan Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang KetenagaKerjaan sesuai dengan pasl 89 yang mejelaskan bahawa perusaahan dilarang membayar upah dibawah ketentuan upah minimum dapat diberikan sanksi dan denda yang berupa sangsi administrasi dan sanksi pidana yang berupa denda dan kurungan penjara bagi pengusaha yang melanggar ketentuan Perundang-undangan.
Saran
Berdasarkan uraian diatas, maka adapun rekomendasi atau saran tulisan ini antara lain: 1) Pemabayaran upah harus mengikuti ketentuan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah
Nomor 78 Tahun 20015 tentang Pengupahan sehingga menciptakan pelaksanaan upah yang sesuai dengan semestinya. 2) Pelaksanaan pembayaran upah harus mengikuti ketentuan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2015 tentang Pengupahan sehingga menciptakan hubungan perindustrian yang baik antara pengusaha dan pekerja . 3) Pemerintah dan lembaga Negara harus bekerja secara maksimal dalam menangani perselisihan hubungan industrial secara maksimal dengan menggunakan mekanisme dan prosedur yang mengacu pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan Undang-undang Nomor Tahun 2004 tentang Penyelesian Perselisihan Hubungan Perindustrian dalam melindungi hak-hak pekerja.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Ikhwan Fahrojih, Hukum Perburuhan, 2016, Malang: PT Setara Press Zaeni Asyhadie, Rahmawati Kusuma, 2019, Hukum Ketenagakerjaan
Dalam Teori Praktik di Indonesia, Jakarta : Prenadamedia Group Zainal Asikin, 2012, Penghantar Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada
Peraturan Perundang-undangan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 100 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Pekerjaan Waktu Tertentu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Lembaran Negara Nomor 39 Tahun 2003, TLN Nomor 4279.
Internet
Aditya.2013.MakalahKetenagakerjaan,https://adtyabisnisonline.blogspot.c om/201 3/06/makalah-ketenagakerjaan.html (Diakses tanggal 18 Mei 2020 Pukul 19.53)
Anonim, Pengerian dan Jenis Tenaga Kerja, 2017 http://www.artikelsiana.com/ 2017/12/ pengertian-tenaga-kerja- jenis-jenis.html (Diakses pada tanggal 18 Mei 2020 Pukul 19.59) M. Imam Al-Baidhawi. Hukum Untuk Siapa? “Pengusaha atau Rakyat
https://alternatifrakyat.wordpress.com (Diakses pada hari Rabu, 26 Agustus 2020, Pukul 10.36 WITA)