KORELASI BODY MASS INDEX DAN ABDOMINAL SKINFOLD
THICKNESS TERHADAP RASIO KOLESTEROL TOTAL/HDL PADA
STAF WANITA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)
Program Studi Farmasi
Oleh :
Natalia Endah Utami
NIM : 088114022
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
i
KORELASI BODY MASS INDEX DAN ABDOMINAL SKINFOLD
THICKNESS TERHADAP RASIO KOLESTEROL TOTAL/HDL PADA
STAF WANITA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)
Program Studi Farmasi
Oleh :
Natalia Endah Utami
NIM : 088114022
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
2011
iii
iv
Halaman Persembahan
!" !#$
!
Kupersembahkan untuk :
Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas segala berkat dan perlindunganNya
Bapak, Mama, Adikku atas segala dukungan dan kasih sayang
v
vii
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas segala rahmat dan berkatNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi yang berjudul “Korelasi Body Mass Index dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL pada Staf Wanita Universitas
Sanata Dharma” dengan baik. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Fakultas Farmasi,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan skripsi ini tidak lepas
dari dukungan banyak pihak. Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Ipang Djunarko M.Si., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma
2. dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK selaku dosen Pembimbing skripsi atas segala
bimbingan, arahan, dukungan dan masukan selama penyusunan skripsi ini.
3. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji atas segala masukan
dalam skripsi ini.
4. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen penguji atas segala masukan
dalam skripsi ini.
5. Laboratorium Parahita selaku pihak yang membantu dalam pengukuran profil
lipid.
viii
6. Bagian Rumah Tangga Universitas Sanata Dharma yang telah menyediakan
tempat dan membantu perlengkapan selama pelaksanaan skripsi.
7. Para dosen dan staf yang telah ikut serta dalam penelitian ini.
8. Bapak F.X. Sunaryana dan Mama Cornelia Murwani selaku orang tua yang
telah banyak memberi dukungan, motivasi, kasih sayang, dan doa selama
penyusunan skripsi ini.
9. Fransischa Soembarwati, Prisma Andini Mukti, Marcella Pradita, Agatha
Novita Ika H., Pika, Desy Natalia, Sisca Devi, Gary Ranteta’dung, Caroline
Ester Daat dan Fatrisia Vivi yang merupakan rekan penulis dalam penelitian
ini dan yang telah bersama-sama bekerja dalam suka duka dalam
melaksanakan penelitian ini.
10.Teman-teman dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan
yang telah banyak membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kekurangan dan belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
masukan dan saran yang membangun agar tercapainya kesempurnaan di
kemudian hari. Penulis juga berharap bahwa skripsi ini dapat berguna bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi semua orang.
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
x
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 19
B. Variabel Penelitian ... 19
5. Validitas dan Reabilitas Instrumen Penelitian ... 27
6. Pengukuran Parameter-Parameter ... 28
xi
8. Analisis Data Penelitian ... 29
9. Pembagian Hasil Pemeriksaan ... 30
J. Kesulitan Penelitian ... 31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32
A. Karakteristik Responden Penelitian ... 32
1. Usia ... 33
2. Body Mass Index ... 34
3. Abdominal Skinfold Thickness ... 35
4. Kolesterol Total ... 37
5. High Density Lipoprotein (HDL) ... 38
6. Rasio Kolesterol Total/HDL ... 40
B. Perbandingan Kolesterol Total, HDL dan Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 41
1. Perbandingan Kolesterol Total pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 42
2. Perbandingan HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 43
3. Perbandingan Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 44
C. Perbandingan Kolesterol Total, HDL dan
Rasio Kolesterol Total/HDL
Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan
xii
Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 45
1. Perbandingan Kolesterol Total pada Kelompok
Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan
Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 46
2. Perbandingan HDL pada Kelompok
Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan
Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 46
3. Perbandingan Rasio Kolesterol Total/HDL
pada Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan
Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 47
D. Korelasi BMI dan Abdominal Skinfold Thickness
terhadap Kolesterol Total, HDL dan
Rasio Kolesterol Total/HDL ... 48
1. Korelasi BMI terhadap Kolesterol Total ... 49
2. Korelasi BMI terhadap Kadar HDL ... 51
3. Korelasi BMI terhadap
Rasio Kolesterol Total/HDL ... 53
4. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap
Kolesterol Total ... 55
5. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap HDL ... 57
6. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap
Rasio Kolesterol Total/HDL ... 59
xiii
A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 63
LAMPIRAN ... 69
BIOGRAFI PENULIS ... 130
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel I Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI pada Individu
Dewasa Asia ... 10
Tabel II Klasifikasi Adult Treatment Panel III (ATP III) :
Kolesterol Total dan HDL... 13
Tabel III Interpretasi Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan Kekuatan Korelasi (r) ... 30
Tabel IV Karakteristik Responden Penelitian ... 32
Tabel V Perbandingan Kadar Kolesterol Total, HDL dan
Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok <23 kg/m2
dan BMI ≥23 kg/m2 ... 42
Tabel VI Perbandingan Kadar Kolesterol Total, HDL dan
Rasio Kolesterol Total/HDL pada
Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan
Abdominal Skinfold Thickness ≥14,5 mm ... 45
Tabel VII Korelasi BMI dan Abdominal Skinfold Thickness
terhadap Kolesterol Total, HDL, dan
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Pengukuran Tinggi Badan ... 10
Gambar 2 Pengukuran Berat Badan ... 10
Gambar 3 Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness ... 13
Gambar 4 Skema Responden ... 22
Gambar 5 Histogram Distribusi Usia ... 33
Gambar 6 Histogram Distribusi BMI ... 35
Gambar 7 Histogram Distribusi Abdominal Skinfold Thickness ... 36
Gambar 8 Histogram Distribusi Kolesterol Total ... 37
Gambar 9 Histogram Distribusi HDL ... 39
Gambar 10 Histogram Distribusi Rasio Kolesterol Total/HDL ... 40
Gambar 11 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap Kolesterol Total... 49
Gambar 12 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap HDL ... 52
Gambar 13 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL ... 54
Gambar 14 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kolesterol Total ... 56
Gambar 15 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap HDL ... 57
Gambar 16 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL ... 60
xvi
Daftar Lampiran
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ... 70
Lampiran 2 Surat Permohonan Ethical Clearance ... 71
Lampiran 3 Ethical Clearance ... 72
Lampiran 4 Surat Permohonan Perubahan Jadwal Acara ... 73
Lampiran 5 Surat Peminjaman Ruang ... 74
Lampiran 6 Informed Consent ... 75
Lampiran 7 Leaflet ... 76
Lampiran 8 Data Validasi Alat ... 78
Lampiran 9 Prosedur Pemeriksaan Kolesterol ... 79
Lampiran 10 Prosedur Pemeriksaan HDL ... 85
Lampiran 11 Kartu Pemeriksaan ... 87
Lampiran 12 Data Laboratorium Parahita ... 88
xvii
INTISARI
Pengukuran antropometri merupakan pengukuran yang dilakukan untuk menentukan status obesitas dan kesehatan seseorang. Obesitas sentral yang diukur dengan body mass index (BMI) dan abdominal skinfold thickness berkaitan dengan penurunan high density lipoprotein (HDL) dan peningkatan kolesterol total serta peningkatan rasio kolesterol total/HDL. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi BMI dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL.
Penelitian ini termasuk pernelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dan teknik pengambilan sampel adalah non random dengan jenis purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 57 responden staf wanita Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 30-50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran antropometri dilakukan dengan mengukur tinggi badan, berat badan dan abdominal skinfold thickness. Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk menentukan nilai BMI. Analisis hasil dilakukan dengan menguji normalitas menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov dan menguji korelasi BMI dan abdominal skinfold thickness
terhadap rasio kolesterol total/HDL kolesterol menggunakan analisis Spearman
dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif bermakna antara BMI terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi sedang (r=0,455; p=0,000) dan terdapat korelasi positif bermakna antara abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi lemah (r=0,303; p=0,022).
Kata kunci : BMI, abdominal skinfold thickness, rasio kolesterol total/HDL
xviii ABSTRACT
Anthropometry is an measurement to estimate someone’s health and obesity. Central obesity that is measured by body mass index (BMI) and abdominal skinfold thickness is related to decline of high density lipoprotein (HDL) and increase of total cholesterol and ratio of total cholesterol/HDL. Hence, this study was aimed to determine the correlation of BMI and abdominal skinfold thickness to ratio of total cholesterol/HDL.
This study was an analytic observational with cross sectional study and technique of sampling was non random with purposive sampling. The subjects were 57 female staff of Sanata Dharma University with age range of 30-50 years, who completed inclusion and exclusion criteria. Anthropometry was conducted by measuring height, weight, and abdominal skinfold thickness. The measurement of weight and height were used to determine BMI. Analysis was conducted by testing the normality using Kolmogorov-Smirnov and by testing the correlation of BMI and abdominal skinfold thickness to ratio total cholesterol/HDL using Spearman correlation test with confident level 95%.
The result showed that there was a positive significant correlation between BMI to ratio of total cholesterol/HDL with moderate strength correlation (r=0,455; p=0,000) dan there was a positive significant correlation between abdominal skinfold thickness to ratio of total cholesterol/HDL with weak strength correlation (r=0,303; p=0,022).
1
BAB I PENGANTAR
A. Latar Belakang
Antropometri adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan dan
memprediksi status kesehatan seseorang, menggambarkan status sosial dan
ekonomi dalam populasi. Antropometri juga merupakan pengukuran status nutrisi
pada individu maupun pada suatu kelompok. Pengukuran antropometri banyak
digunakan secara luas dan digunakan untuk berbagai macam tujuan tergantung
pada indikator yang diukur. Contoh indikator tersebut adalah body mass index
(BMI) yang digunakan untuk melihat status nutrisi seseorang (Cogill, 2003).
Pengukuran antropometri meliputi pengukuran BMI, berat tubuh ideal, rasio
lingkar pinggang panggul, skinfold, persentase massa lemak, dan massa muskuler
total (Tarnus and Bourdon, 2006).
Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk menghitung
nilai BMI. Pengukuran BMI digunakan untuk mengukur obesitas pada orang
dewasa. Orang Asia dikatakan mengalami obesitas kelas I jika memiliki nilai BMI
sebesar 25-29,9 kg/m2 (Inoue, et al., 2000). Nilai BMI yang tinggi
menggambarkan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Pengukuran lemak tubuh
tidak hanya diukur dengan menggunakan BMI terapi bisa juga diukur dengan
menggunakan skinfold thickness. Pengukuran BMI maupun skinfold thickness
berkorelasi kuat dengan profil lipid pada anak-anak (Freedman, Katzmaryzk,
Dietz, Srinivasan, and Berenson, 2009).
Pengukuran antropometri seperti skinfold thickness, lingkar lengan dan
rasio lingkar pinggang panggul digunakan untuk mengukur akumulasi lemak
tubuh (Kumar, Abbas, Fausto, and Aster, 2010). Skinfold thickness diukur dengan
menggunakan skinfold caliper. Skinfold caliper mengukur susunan lapisan ganda
pada jaringan adiposa subkutan. Keakuratan pengukuran dengan menggunakan
skinfold caliper dipengaruhi oleh tekanan pada kulit. Pengukuran tebal lemak
subkutan digunakan untuk memprediksi densitas tubuh. Pengukuran abdominal
skinfold thickness lebih tepat untuk memprediksi densitas tubuh dibandingkan
triceps dan subscapular skinfold thickness pada orang Jepang (Demura and Sato,
2007).
Obesitas sentral yaitu lemak tubuh yang terdistribusi pada bagian
abdomen (D’Alessio, 2004). Lemak abdominal tersusun atas lemak subkutan
abdominal dan lemak intraabdominal (Wajchenberg, 2000). Penelitian tentang
pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap distribusi lemak subkutan abdominal
menunjukkan bahwa wanita memiliki jaringan adiposa subkutan abdominal yang
lebih banyak dibandingkan pria tanpa dipengaruhi usia (Kuk, Lee, Heymsfield,
and Ross, 2005). Stimulus hormon estrogen dan progesteron pada wanita
berpengaruh positif terhadap jumlah dan distribusi lemak (Tarnus and Bourdon,
2006).
Obesitas sentral berkaitan dengan peningkatan risiko kesehatan. Jaringan
adiposa abdominal lebih sensitif terhadap stimulus hormonal dan penyimpanan
asam lemak. Sel lemak abdominal berdekatan dengan aliran darah menuju ke hati.
3
lemak non ester menuju ke hati melalui darah vena portal khususnya pada
individu yang mengalami obesitas (Polikandrioti, et al., 2009).
Adiposa sentral wanita lebih berkaitan dengan keabnormalan profil lipid
atau lipoprotein dibandingkan obesitas keseluruhan (Hu, et al., 2000). Obesitas
sentral berisiko terhadap hipoadiponektinemia lima kali lebih besar dibandingkan
non obesitas sentral. Hipoadiponektinemia menggambarkan penyakit jantung
koroner yang semakin berat (Aryana, Kuswardhani, Suastika, and Santoso, 2011).
Individu yang mengalami obesitas memiliki kadar HDL yang rendah. Setiap
penurunan kadar HDL sebesar 1% akan meningkatkan risiko penyakit
kardiovaskular sebesar 6% (Zhang, et al., 2010).
Data Systolic Hypertension in the Elderly Program menunjukkan bahwa
BMI berkaitan dengan kadar kolesterol total dan HDL (Wildman, et al., 2004).
Ada hubungan yang signifikan antara BMI dengan komponen sindrom metabolik
seperti penurunan kadar HDL (Schindler, et al., 2006). Peningkatan BMI sebesar
12% akan menyebabkan penurunan HDL sebesar 2% pada wanita (Hu, et al,
2000). Pengukuran BMI dan penjumlahan antara abdominal, subscapular serta
suprailiac skinfold thickness berkorelasi secara signifikan dengan HDL dan rasio
kolesterol total/HDL (Teixeira, Sardinha, Going, and Lohman, 2001).
Peningkatan serum kolesterol total berperan dalam aterosklerosis
koroner. Kolesterol total yang tinggi dapat dijadikan sebagai suatu penanda
lipoprotein aterogenik. Penurunan 1% serum kolesterol total akan mengurangi
risiko penyakit jantung koroner sebesar 2% (NHLBI, 2002). Kadar HDL yang
rendah dapat berfungsi sebagai penanda terjadinya peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular, sindrom metabolik, diabetes, dan hipertensi (Santos, et al., 2009).
Penurunan HDL dan peningkatan rasio kolesterol total/HDL berkaitan dengan
penyakit jantung koroner. Individu yang berasal dari keluarga penderita
hiperkolesterolemia dan penyakit jantung koroner positif memiliki kadar HDL
plasma yang rendah dan rasio kolesterol total/HDL yang tinggi. Individu yang
berasal dari keluarga hiperkolesterolemia juga mengalami penumpukan kolesterol
yang lebih parah pada plak aterosklerosis dengan risiko tinggi terjadinya infark
miokard (Real, et al., 2001).
Suatu penelitian yang dilakukan pada responden pria Universitas Sanata
Dharma menunjukkan bahwa terdapat korelasi BMI dan triceps skinfold thickness
yang bermakna terhadap rasio kolesterol total/HDL (Prayogie, 2011). Berdasarkan
uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian mengenai korelasi BMI dan
abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita
Universitas Sanata Dharma.
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan yang
diangkat penulis dalam penelitian ini adalah : apakah terdapat korelasi antara BMI
dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf
wanita Universitas Sanata Dharma?
2. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil pencarian informasi-informasi yang berkaitan dengan
penelitian mengenai korelasi BMI dan abdominalskinfold thickness terhadap rasio
5
pernah dilakukan sebelumnya. Ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan
obesitas, metode antropometri, kadar kolesterol total, dan HDL.
Penelitian-penelitian tersebut antara lain :
a. Total and Regional Fat and Serum Cardiovascular Disease Risk Factors in
Lean and Obese Children and Adolescent” (Teixeira, et al., 2001).
Penelitian yang melibatkan 87 orang remaja perempuan dan 72 orang remaja
laki-laki menunjukkan bahwa ada korelasi yang bermakna antara penjumlahan
abdominal, subscapular dan suprailiac skinfold thickness terhadap HDL
dengan arah korelasi negatif dan berkekuatan lemah serta ada korelasi
bermakna antara penjumlahan abdominal, subscapular dan suprailiac skinfold
thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan arah korelasi positif dan
berkekuatan lemah.
b. “Associations Between Total Body Fat and Serum Lipid Concentrations in
Obese Human Adolescents” (Choi, Pai, and Kim, 2002).
Penelitian ini yang dilakukan pada 790 remaja menunjukkan hasil bahwa
terdapat perbedaan kolesterol total dan HDL yang tidak bermakna pada
kelompok underweight, normal dan overweight. Korelasi BMI terhadap
kolesterol total menunjukkan arah hubungan yang positif dengan kekuatan
korelasi lemah.
c. “Waist Circumference and Abdominal Adipose Tissue Distribution: Influence
of Age and Sex” (Kuk, et al., 2005).
Penelitian ini menunjukkan bahwa usia berkorelasi positif dengan lingkar
pinggang, visceral adipose tissue (VAT) dan abdominal subcutaneous adipose
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
tissue (ASAT) hanya pada kelompok pria dan wanita yang berusia lebih muda.
Pria memiliki VAT yang lebih besar, sedangkan wanita cenderung memiliki
ASAT yang lebih besar.
d. “Adolescent Skinfold Thickness is a Better Predictor of High Body Fatness in
Adults than is Body Mass Index : the Amsterdam Growth and Health
Longitudinal Study” (Nooyens, et al., 2007).
Penelitian ini melibatkan 168 pria dan 182 wanita. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengukuran skinfold thickness pada masa remaja dapat
memprediksi lemak tubuh lebih baik pada saat dewasa dibandingkan
pengukuran BMI.
e. “Relationship between Body Mass Index, Lipids and Homocysteine levels in
University Students” (Sanlier and Yabanci, 2007).
Penelitian yang dilakukan pada responden mahasiswa laki-laki sebanyak 172
dan perempuan sebanyak 183 orang mendapatkan hasil bahwa terdapat
perbedaan kolesterol total dan HDL yang tidak bermakna pada kelompok
underweight, normal dan overweight, tetapi terdapat perbedaan yang
bermakna antara rasio kolesterol total/HDL pada kelompok underweight,
normal dan overweight. Korelasi antara BMI dengan kolesterol total
merupakan korelasi yang tidak bermakna dengan arah positif dan
berkekuatan lemah. Korelasi antara BMI dengan HDL merupakan korelasi
yang bermakna dengan arah negatif dan berkekuatan sangat lemah. Korelasi
antara BMI dengan rasio kolesterol total/HDL merupakan korelasi bermakna
7
f. “Relation of Body Mass Index with Lipid Profile and Blood Pressure in
Healthy Female of Lower Socioeconomic Group in Kaduna Northern
Nigeria” (Abubakar, et al., 2009).
Penelitian yang dilakukan di Nigeria pada 52 wanita mendapatkan hasil
bahwa terdapat perbedaan kadar kolesterol total yang tidak bermakna pada
kelompok underweight, normal dan overweight serta terdapat perbedaan
HDL yang bermakna pada kelompok underweight, normal dan overweight.
g. “Korelasi Body Mass Index (BMI) dan Triceps Skinfold Thickness Terhadap
Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL” (Prayogie, 2011).
Penelitian ini melibatkan 70 orang pria berusia 30-50 tahun dari Universitas
Sanata Dharma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara BMI
dengan rasio kolesterol total/HDL adalah bermakna dengan kekuatan korelasi
sedang (r=0,557; p=0,000), sedangkan korelasi antara triceps skinfold
thickness dengan rasio kolesterol total/HDL adalah bermakna dengan
kekuatan korelasi lemah (r=0,396; p=0,001).
3. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai korelasi
BMI dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol
total/HDL pada wanita di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
b. Manfaat praktis
Pengukuran BMI dan abdominal skinfold thickness diharapkan dapat
memberikan gambaran awal mengenai rasio kadar kolesterol total/HDL.
Pengukuran BMI dan abdominal skinfold thickness merupakan
pengukuran yang mudah, praktis dan tidak memerlukan keahlian khusus.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi BMI dan
abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada staf
9
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Metode Antropometri
Antropometri merupakan suatu metode sederhana yang sangat mudah
dilakukan dan menggambarkan komposisi tubuh (Tarnus and Bourdon, 2006).
Pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan (berdiri),
panjang badan (berbaring), skinfold thickness, lingkar kepala dan lengan, panjang
lengan, lebar bahu, pergelangan tangan, dan lain-lain (NHANES, 2007).
Bagian-bagian antropometri terdiri dari pengukuran skinfold thickness pada bagian trisep,
subskapular, bisep, midaksilaris, suprailiak, paha tengah, betis, abdomen, pinggul,
paha, betis dan lengan atas (Peterson, Czerwinski, and Siervogel, 2007).
Keuntungan metode antropometri adalah lebih akurat dan dapat dipercaya.
Metode ini merupakan suatu dasar untuk mempelajari teknik pengukuran yang
akurat (Carter, 2002). Metode antropometri ini tidak mahal dan banyak digunakan
secara luas dalam pengujian suatu kelompok populasi maupun perseorangan
(Cogill, 2003).
1. Body Mass Index
Body Mass Index (BMI) merupakan suatu indeks berat-tinggi yang
digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi underweight, normal, overweight
dan obesitas pada orang dewasa. Cara mengukur BMI yaitu dengan mengukur
berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (m2). Rumus perhitungan
BMI dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
BMI = x kg/m2 (WHO, 2011a).
Tabel I. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI pada Individu Dewasa Asia (Inoue, et al., 2000)
Klasifikasi BMI (kg/m2) Risiko ko-morbiditas
Underweight < 18,5 Rendah (tetapi berisiko
tinggi dengan masalah klinis yang lain) Normal 18,5-22,9 Rata-rata
Overweight : ≥ 23
Berisiko 23-24,9 Meningkat Obesitas I 25-29,9 Sedang Obesitas II ≥ 30 Parah
Gambar 1. Pengukuran Tinggi Badan
11
2. SkinfoldThickness
Skinfold thickness adalah suatu pengukuran untuk menilai persentase
lemak tubuh. Metode ini adalah metode yang sederhana dan murah (Peterson, et
al., 2007). Skinfold thickness dapat memprediksi lemak tubuh lebih baik
dibandingkan dengan pengukuran BMI pada orang dewasa. Skinfold thickness
merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk menentukan lemak tubuh
pada anak-anak dan orang dewasa dan dapat digunakan untuk memantau obesitas
pada anak-anak (Nooyens, et al., 2007).
Pengukuran skinfold thickness terbagi dalam beberapa bagian antara lain
trisep, subskapular, supraspinalis dan betis. Pengukuran skinfold thickness
digunakan untuk memperkirakan lemak subkutan. Kulit dipegang dengan
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dan terletak jauh dari dasar
otot. Ujung pelat diletakkan pada jangka lengkung 1 cm di bawah jari dan jangka
lengkung akan memberikan tekanan. Subyek harus berdiri secara rileks, kecuali
untuk pengukuran tebal lipatan kulit bagian betis, karena subyek berada pada
posisi duduk (Carter, 2002).
Skinfold thickness diukur dengan menggunakan skinfold caliper.
Skinfold caliper mengukur susunan lapisan ganda pada jaringan adiposa subkutan.
Keakuratan pengukuran dengan menggunakan skinfold caliper dipengaruhi oleh
tekanan pada kulit. Pengukuran tebal lemak subkutan digunakan untuk
memprediksi densitas tubuh. Pengukuran abdominalskinfold thickness lebih tepat
untuk memprediksi densitas tubuh dibandingkan triceps dan subscapular skinfold
thickness pada individu Jepang dewasa. Pengukuran skinfold thickness dapat
dilakukan pada bagian tubuh trisep, subskapular, supraspinalis, abdominal,
punggung, paha, betis, dada, dagu dan pipi (Demura and Sato, 2007).
Abdominal skinfold thickness tersusun atas lemak abdominal. Lemak
abdominal terdiri dari lemak subkutan abdominal dan lemak intraabdominal
(Wajchenberg, 2000). Jaringan adiposa subkutan abdominal wanita lebih banyak
dibandingkan pria (Kuk, et al., 2005). Lemak subkutan dapat diukur dengan
menggunakan skinfold caliper yang diletakkan pada bagian ektremitas dan batang
tubuh. Pengukuran ini didasarkan pada 50% lemak tubuh total yang terdapat pada
lapisan subkutan (Budiman, 2008). Lebih dari 50% lemak tubuh merupakan
bagian subkutan. Perubahan pada bagian subkutan dapat menggambarkan
perubahan lemak tubuh total (Dipiro, et al., 2008).
Ekspresi hormon androgen lebih banyak terdapat pada jaringan subkutan
abdominal dibandingkan pada jaringan omental. Akumulasi lipid ditingkatkan
seiring dengan adipogenesis pada daerah subkutan abdominal (Blouin, et al.,
2008). Jaringan adiposa abdominal lebih sensitif terhadap stimulus hormonal dan
penyimpanan asam lemak. Sel lemak abdominal berkaitan erat dengan aliran
darah menuju ke hati pada sirkulasi portal. Hal ini berarti ada peningkatan
signifikan pada aliran asam lemak non ester menuju hati melalui vena portal
khususnya pada pasien dengan obesitas sentral (Polikandrioti, et al., 2009).
Obesitas sentral berkaitan dengan sindrom metabolik yang merupakan
prekursor penyakit diabetes mellitus, dislipidemia dan kardiovaskular (Dipiro, et
13
kolesterol, penurunan HDL dan hiperglikemia, tetapi juga berkaitan dengan
peningkatan risiko kardiovaskular (International Diabetes Foundation, 2006).
Gambar 3. Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness
B. Kolesterol Total dan HDL
Tabel II. Klasifikasi Adult Treatment Panel III (ATP III) : Kolesterol Total dan HDL (NHLBI, 2002)
Kolesterol merupakan suatu substansi lemah yang terdapat pada sel
tubuh. Kolesterol berfungsi untuk membawa darah dalam partikel yang dikenal
dengan istilah lipoprotein. Ada tiga macam lipoprotein yaitu High Density
Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL) dan Very Low Density
Lipoprotein (VLDL). Sumber kolesterol terdiri dari dua jenis yaitu dengan cara
membentuk kolesterol dari dalam tubuh dan berasal dari makanan. Kolesterol
dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas. Kelebihan kolesterol akan disimpan di arteri
dan merangsang pembentukan plak yang disebut aterosklerosis. Plak ini akan
pecah dan bekuan darah dapat terbentuk pada permukaan plak. Adanya bekuan
darah ini akan menurunkan suplai oksigen dan aliran darah ke jantung, otak dan
bagian tubuh lain (Birtcher and Ballantyne, 2004).
Kolesterol total merupakan penjumlahan dari HDL, LDL, dan VLDL.
Kolesterol total yang tinggi dapat dijadikan sebagai suatu penanda lipoprotein
aterogenik (NHLBI, 2002). Peningkatan jumlah kolesterol plasma dikenal dengan
istilah hiperkolesterolemia. Jumlah kolesterol total di atas 100 mg/dL merupakan
suatu faktor risiko penyakit vaskular perifer dan arteri koroner.
Hiperkolesterolemia berkaitan dengan disfungsi sel endothelial, penghilangan
nitrat oksida vaskular, peningkatan stress oksidatif dan pembentukan
proinflamasi. Faktor risiko terjadinya penyakit vaskular perifer atau penyakit
arteri koroner dapat diturunkan dengan adanya aktivitas fisik. Obesitas diketahui
dapat meningkatkan jumlah kolesterol total dan fungsi jantung serta vaskular
(Stapleton, Goodwill, James, Brock, and Frisbee, 2010).
High density lipoprotein adalah suatu partikel yang mengandung lapisan
amfipatik dari kolesterol bebas, fosfolipid dan beberapa apolipoprotein pada
bagian permukaan. Apolipoprotein tersebut antara lain apo A-I, AII, C, E, A-IV, J
dan D. Apolipoprotein A-I merupakan protein utama dari kolesterol, sedangkan
bagian inti dari partikel HDL tersusun atas trigliserida dan inti hidrofobik yang
kaya akan ester kolesterol (Ansell, Watson, Fogelman, Navab, and Fonarow,
2005).
High density lipoprotein dihasilkan di hati dan usus dalam bentuk
15
kolesterol total. Ada dua subtipe HDL yaitu HDL2 dan HDL3 (Koulouris, 2004).
Densitas HDL2 sebesar 1,063-1,125 g/mL, sedangkan densitas HDL3 sebesar
1,125-1,21 g/mL. Subtipe HDL3 dihasilkan melalui proses esterifikasi kolesterol
bebas menjadi ester kolesterol dari jaringan perifer dengan bantuan enzim lesitin
kolesterol asiltransferase (LCAT), sedangkan subtipe HDL2 dihasilkan dari
pembentukan kembali kilomikron dan katabolisme VLDL. Enzim lipase dapat
membantu perubahan HDL2 menjadi HDL3 melalui transfer ester kolesterol
menuju hati. Peningkatan HDL2 akan menyebabkan pergerakan HDL. Hormon
estrogen akan meningkatkan produksi apolipoprotein A-I, sehingga jumlah HDL
akan meningkat pada wanita (Dipiro, et al., 2008).
Sifat HDL antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi dan
antitrombosis (Koulouris, 2004). Sifat antiinflamasi dari HDL termasuk
membatasi proksidasi lipid, mempengaruhi ekspresi sitokin, mengatur pelekatan
monosit dan meningkatkan fungsi endotelial. Sifat lain yang dimiliki HDL adalah
sebagai antiaterogenik yang dapat merangsang efluks kolesterol dari sel (Ansell,
et al., 2005).
High density lipoprotein merupakan suatu prediktor terhadap
peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Apo-A disekresikan di hati dalam
bentuk yang mengandung sedikit lipid. Apo-A dengan lipid akan diubah menjadi
partikel HDL melalui mekanisme yang melibatkan transporter membran.
Transporter membran akan mentransfer fosfolipid dan kolesterol non ester dari sel
perifer untuk membentuk kepingan partikel HDL di dalam plasma. Enzim aktivasi
apoA-I yaitu LCAT berfungsi untuk menghasilkan esterifikasi kolesterol bebas
untuk membentuk partikel HDL yang lebih sferis dan mengandung inti ester
kolesterol. Partikel yang mengandung apo-A-I akan bergabung dengan partikel
yang mengandung apo-A-II untuk membentuk HDL yang sferis dan mengandung
kedua apolipoprotein tersebut (Barter, 2005). Kapasitas efluks ditentukan oleh
HDL dan apo-A. Kapasitas efluks merupakan suatu prediktor yang baik terhadap
penyakit koroner (Khera, et al., 2007).
Umumnya orang yang mengalami obesitas juga mengalami penurunan
HDL. Hal ini akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.
Wanita yang mengalami obesitas dan overweight berisiko tinggi terhadap penyakit
diabetes, penyakit jantung koroner, osteoartritis dan beberapa penyakit kanker
(Kulie, et al., 2011). Menurut US National Cholesterol Education Program
(NCEP) ATP III, penurunan HDL merupakan faktor risiko penyakit jantung
koroner dan faktor yang spesifik pada kasus sindrom metabolik. Wanita berisiko
tinggi mengalami sindrom metabolik apabila konsentrasi HDL kurang dari 50
mg/dL (Singh, 2009).
Rasio kolesterol total/HDL merupakan indeks yang sederhana dan
berguna untuk memprediksi penyakit jantung iskemik (Lemieux, et al., 2001).
Rasio kolesterol total/HDL merupakan suatu prediktor kuat dalam menentukan
risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (NHLBI, 2002; Barter, et al., 2007).
Menurut Framingham Heart Study, rasio kolesterol total/HDL sebesar 4,4
mengindikasikan risiko rata-rata terjadinya penyakit jantung, rasio kolesterol
rata-17
rata dan rasio kolesterol total/HDL sebesar 7 mengindikasikan risiko dua kali
lebih besar dari risiko rata-rata (Harvard Medical, 2005).
Pengukuran adiposa dengan HDL, rasio kolesterol total/HDL dan apo-B
menunjukkan hubungan yang lebih besar daripada pengukuran adiposa dengan
kolesterol total dan apoA-I. Penjumlahan abdominal, subscapular dan suprailiac
skinfold thickness berhubungan secara signifikan terhadap kadar HDL dan rasio
kolesterol total/HDL (Teixeira, et al., 2001).
C. Landasan Teori
Pengukuran antropometri merupakan pengukuran yang dapat digunakan
untuk menentukan status nutrisi dan kesehatan seseorang (Cogill, 2003; Gibney,
Lauer, and Christopher, 2005). Pengukuran antropometri juga bisa digunakan
untuk menentukan persentase lemak tubuh dan status obesitas. Pengukuran
antropometri dilakukan berdasarkan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan
skinfold thickness. Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk
menentukan nilai BMI. Pengukuran skinfold thickness meliputi pengukuran pada
bagian trisep, bisep, abdominal, suprailiak, subskapular, midaksilaris, paha dan
betis (Peterson, et al., 2007).
Antropometri dapat digunakan untuk menentukan status obesitas
terutama obesitas sentral. Obesitas sentral adalah obesitas dengan lemak tubuh
yang terakumulasi pada daerah abdomen. Lemak abdominal terdiri dari lemak
subkutan dan lemak intraabdominal. Lemak abdominal subkutan lebih banyak
terdapat pada wanita dibandingkan pada pria (Kuk, et al., 2005). Obesitas sentral
berkaitan dengan penurunan kadar HDL dan peningkatan rasio kolesterol
total/HDL. Kadar HDL dan rasio kolesterol total/HDL merupakan dua faktor
penting pada risiko terjadinya penyakit jantung koroner (Real, et al., 2001).
Penelitian yang dilakukan pada pria menunjukkan bahwa terdapat
korelasi positif bermakna antara BMI dan triceps skinfold thickness terhadap rasio
kolesterol total/HDL. Gambaran tentang profil lipid seseorang dapat ditentukan
dari pengukuran antropometri berupa BMI dan abdominal skinfold thickness
dengan melihat korelasi antara keduanya sehingga dapat dijadikan sebagai
prediktor penyakit kardiovaskular.
D. Hipotesis
Terdapat korelasi positif bermakna antara BMI dan abdominal skinfold
thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita Universitas Sanata
19
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan
rancangan secara potong lintang/cross-sectional. Penelitian observasional analitik
merupakan penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena
kesehatan itu terjadi. Selanjutnya melakukan analisis korelasi antara fenomena
atau antara faktor risiko dan faktor efek. Rancangan secara potong lintang
dilakukan dengan cara mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko
dengan efek melalui pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada
suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini menganalisis korelasi antara BMI
dan abdominal skinfold thickness sebagai faktor risiko terhadap rasio kolesterol
total/HDL sebagai faktor efek. Data yang diperoleh kemudian diolah secara
komputerisasi untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor tersebut.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
BMI dan abdominalskinfold thickness.
2. Variabel tergantung
Kadar kolesterol total, kadar HDL, rasio kolesterol total/HDL.
3. Variabel pengacau
a. Variabel pengacau terkendali: umur dan keadaan puasa.
b. Variabel pengacau tak terkendali: keadaan patologis, aktivitas, dan gaya
hidup responden penelitian.
C. Definisi Operasional
1. Responden adalah staf wanita kampus I, II, dan III Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta berusia 30-50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
penelitian ini.
2. Karakteristik penelitian ini antara lain demografi, pengukuran antropometri
dan hasil pemeriksaan laboratorium. Karakteristik demografi adalah usia
responden penelitian. Pengukuran antropometri meliputi pengukuran BMI dan
abdominal skinfold thickness. Pemeriksaan profil lipid meliputi kadar
kolesterol total dan kadar HDL yang diperoleh dari hasil laboratorium.
3. Pengukuran BMI adalah pengukuran yang diperoleh dari berat badan (kg)
dibagi kuadrat tinggi badan (m2). Pengukuran BMI dilakukan dengan cara
menimbang berat badan dan tinggi badan responden.
! "#
$% ##% &' "#/& '
4. Kolesterol total adalah kadar kolesterol dalam darah yang diperoleh dari data
pemeriksaan laboratorium saat responden berpuasa 8-10 jam sebelum
pengambilan darah.
5. Kadar HDL adalah kadar HDL dalam darah yang diperoleh dari data
pemeriksaan laboratorium saat responden berpuasa 8-10 jam sebelum
21
6. Rasio kolesterol total/HDL adalah perbandingan antara kadar kolesterol total
terhadap kadar HDL yang diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium.
D. Responden Penelitian
Responden penelitian ini adalah para staf wanita kampus I, II, dan III
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah staf wanita premenopause
Universitas Sanata Dharma yang berusia 30-50 tahun. Kriteria eksklusi penelitian
ini antara lain responden yang menderita hipertensi, diabetes melitus, penyakit
jantung koroner, mengonsumsi obat penurun kolesterol dan obat kontrasepsi,
oedem, dan peradangan akut dan kronik.
Pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali. Pengambilan data
pertama dilaksanakan di Kampus Mrican dengan jumlah responden yang hadir
adalah 42 responden dari 48 responden yang bersedia bekerja sama dan terdaftar
dalam penelitian. Pengambilan data kedua dilaksanakan di Kampus Paingan
dengan jumlah responden yang hadir adalah 17 responden dari 22 responden yang
bersedia bekerja sama dan terdaftar dalam penelitian. Data pemeriksaan yang
dipakai sebagai data hanya 57 responden dari data 59 responden. Dua data
dieksklusikan karena responden menderita diabetes melitus dan perokok. Skema
responden dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4. Skema Responden
E. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kampus I, II, dan III Unversitas Sanata
Dharma Yogyakarta. Penelitian dilakukan dari bulan Mei hingga Agustus 2011.
Pengambilan data dilakukan pada awal bulan Agustus 2011.
F. Ruang Lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian paying yang berjudul Korelasi
Parameter Antropometri terhadap Profil Lipid, Kadar hs-CRP, Glukosa Darah
dan Tekanan Darah sebagai Prediktor Penyakit Kardiovaskular Pada Staf
Wanita di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan secara
berkelompok dengan kajian yang berbeda-beda.
23
Kajian dari penelitian ini meliputi :
1. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul
terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL
2. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul
terhadap Rasio Kadar LDL/HDL
3. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul
terhadap Kadar Trigliserida
4. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul
terhadap Kadar hsCRP
5. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul
terhadap Kadar Glukosa Darah
6. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL
7. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Rasio Kadar LDL/HDL
8. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Kadar Trigliserida
9. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Kadar hsCRP
10.Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold
Thickness terhadap Kadar Glukosa Darah
11.Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI), Abdominal Skinfold Thickness,
Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Tekanan
Darah
Penelitian ini berfokus pada korelasi pengukuran body mass index (BMI) dan
abdominalskinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL.
G. Teknik Sampling
Teknik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini adalah non random
sampling dengan jenis purposive sampling. Pengambilan sampel secara non
random karena responden yang digunakan pada penelitian ini dipilih berdasarkan
kriteria inklusi. Purposive sampling dilakukan berdasarkan ciri atau sifat populasi
yang telah diketahui sebelumnya sehingga menjadi suatu pertimbangan tertentu
yang dibuat oleh peneliti. Penelitian diawali dengan identifikasi karakteristik
populasi. Setelah itu, peneliti menetapkan sebagian dari anggota populasi yang
menjadi sampel berdasarkan pertimbangannya sendiri (Notoatmodjo, 2010).
H. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain timbangan
berat badan merk Tanita®, alat pengukur tinggi badan merk Strature®, skinfold
caliper merk pi zhi hou du ji®, leaflet dan informed consent. Timbangan berat
badan dan alat pengukur tinggi badan berfungsi sebagai alat untuk mengukur
BMI, sedangkan skinfold caliper berfungsi sebagai alat untuk mengukur
25
dilakukan oleh Laboratorium Parahita. Reagen yang digunakan dalam pengukuran
kadar HDL dalam darah diperoleh dari Sekisui Medical CO.LTD, Japan,
sedangkan reagen yang digunakan dalam pengukuran kadar kolesterol diperoleh
dari Abbott Laboratories, USA.
Suatu instrumen perlu dilakukan pengujian validitas dan reabilitas. Hal
ini bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat. Validitas intrumen merupakan
suatu pengujian untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat
ukur dalam mengukur suatu data (Hastono, 2001). Reabilitas intrumen adalah
suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen dapat dipercaya
atau diandalkan, artinya bahwa hasil pengukuran tetap konsisten dan ajeg apabila
dilakukan sebanyak 2 kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan
menggunakan instrumen yang sama (Notoatmodjo, 2010). Ketelitian atau presisi
suatu alat adalah dengan cara menghitung nilai koefisien variasi (CV). Suatu alat
dikatakan memenuhi nilai presisi jika nilai CV ≤5% (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2011).
I. Tata Cara Penelitian
1. Observasi Awal
Observasi awal dilakukan dengan mencari informasi tentang jumlah staf
wanita di Universitas Sanata Dharma yang berusia 30-50 tahun dan tempat yang
dapat digunakan untuk mengumpulkan responden pada saat pengukuran. Setelah
itu, dilakukan observasi ulang data para staf wanita ke setiap fakultas dan jurusan.
Data dikumpulkan untuk mengetahui banyaknya populasi yang dapat dijadikan
sampel.
2. Permohonan Izin dan Kerja Sama
Permohonan izin penelitian dilakukan dengan mengajukan Ethical
Clearance ke Komisi Etik Penelitian Kodekteran dan Kesehatan Fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada. Permohonan izin ini dilakukan untuk
memenuhi etika penelitian yang menggunakan sampel darah manusia.
Permohonan izin yang kedua ditujukan ke Wakil Rektor I Universitas Sanata
Dharma. Permohonan kerja sama diajukan ke calon responden dan Laboratorium
Parahita. Permohonan kerja sama yang diajukan ke calon responden berupa
informed consent.
3. Pembuatan Leaflet dan Informed Consent
a. Leaflet. Leaflet digunakan untuk membantu peneliti memberikan
penjelasan kepada calon responden. Leaflet berisi informasi tentang
pengukuran antropometri (BMI, abdominal skinfold thicknes, lingkar
pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul) sebagai suatu metode
deteksi dini berbagai masalah kesehatan khususnya mengenai penyakit
kardiovaskular. Informasi lain yang diberikan yaitu pemeriksaan
laboratorium seperti kadar glukosa, profil lipid, dan hsCRP yang berkaitan
dengan penyakit kardiovaskular.
b. Informed Consent. Informed consent adalah suatu bukti tertulis yang berisi
tentang kesediaan calon responden untuk ikut serta dalam penelitian.
27
menuliskan nama, usia, alamat rumah, nomor telepon, dan
fakultas/instansi pekerjaan. Informed consent yang dibuat telah memenuhi
persyaratan Komisi Etik Penelitian Kodekteran dan Kesehatan Fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada.
4. Pencarian Responden
Pencarian responden dilakukan setelah peneliti mendapatkan surat izin
penelitian dari Wakil Rektor I. Surat izin penelitian diberikan kepada Kepala
Perpustakaan, Kepala Urusan Rumah Tangga, Kepala BAPSI dan Para Dekan
Fakultas Universitas Sanata Dharma untuk meminta izin melibatkan dosen dan
karywan dalam penelitian ini.
Pencarian responden dilakukan dengan memberikan penjelasan
mengenai maksud dan tujuan penelitian kepada calon responden. Maksud dan
tujuan penelitian dijelaskan melalui leaflet kepada calon responden. Calon
responden yang bersedia untuk ikut serta dalam penelitian akan menandatangani
informed consent sebagai suatu bentuk penyataan tertulis atas kesediaan
responden ikut serta dalam penelitian. Responden akan dihubungi satu hari
sebelum pengukuran parameter untuk memberikan informasi ulang terkait tempat
dan waktu pelaksanaan pengukuran parameter. Responden yang tidak hadir pada
saat pengukuran akan dikonfirmasi lagi kehadirannya.
5. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011), alat
kesehatan dikatakan baik jika memenuhi nilai CV ≤5%. Pengukuran reabilitas
instrumen dilakukan sebanyak lima kali. Instrumen yang divalidasi pada
penelitian ini antara lain timbangan berat badan Tanita® dengan nilai CV sebesar
0,166%, alat pengukur tinggi badan dengan nilai CV sebesar 0,052%, dan skinfold
caliper pada pengukuran abdominal skinfold thickness nilai CV sebesar 0,459%.
Berdasarkan nilai CV tersebut maka dapat disimpulkan bahwa instrumen
timbangan berat badan, tinggi badan dan skinfold caliper memenuhi persyaratan
validasi.
6. Pengukuran Parameter-Parameter
a. Berat Badan dan Tinggi Badan. Pengukuran berat badan dan tinggi badan
dilakukan untuk menentukan nilai BMI. Responden diwajibkan untuk
melepas alas kaki untuk mengurangi faktor koreksi pasa saat pengukuran
berat badan dan tinggi badan. Pengukuran berat badan dilakukan dengan
menggunakan timbangan. Responden berdiri di atas timbangan dengan
posisi tegak lurus. Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan
menggunakan meteran yang ditempel di tembok dengan posisi tegak lurus.
Responden berdiri tegak lurus sehingga garis meteran menyentuh ujung
kepala responden.
b. Abdominal Skinfold Thickness. Pengukuran abdominal skinfold thickness
dilakukan dengan menggunakan skinfold caliper. Peneliti menggunakan
ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang lapisan lemak di bawah kulit.
Rahang skinfold caliper menjepit lapisan lemak di bawah kulit dengan
posisi vertikal. Peneliti perlu berhati-hati saat memegang lapisan laipsan
29
skinfold caliper. Abdominal skinfold thickness diukur dengan jarak 5 cm
dari umbilikus.
c. Kadar Kolesterol Total, HDL dan Rasio Kolesterol Total/HDL.
Pengukuran kadar kolesterol total dan HDL dalam darah dilakukan oleh
pihak Laboratorium Parahita. Kadar kolesterol total yang didapat
kemudian dibandingkan dengan kadar HDL sehingga diperoleh rasio
kolesterol total/HDL. Cara pengambilan darah dilakukan dengan
memasang ikatan pembendungan (toniquet) di lengan atas. Lokasi
penusukan pada lipatan siku dalam responden diberi alkohol, kemudian
spuit injeksi disuntikkan dengan posisi 45o ke pembuluh vena yang
terdapat pada siku dalam. Darah diambil perlahan dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi bertutup. Toniquet dilepas, setelah itu jarum ditarik
dengan tetap menekan lubang penusukan dengan kapas alkohol. Tempat
bekas suntikan ditutup dengan plester.
7. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara statistik dengan komputerisasi.
8. Analisis Data Penelitian
Data yang diperoleh diolah secara komputerisasi. Langkah awal adalah
dilakukan uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov apabila jumlah sampel
lebih dari 50 atau dengan uji Shapiro-Wilk apabila jumlah sampel kurang dari 50
(Dahlan, 2011). Uji ini dilakukan untuk melihat distribusi normal suatu data.
Suatu data dikatakan normal bila nilai Asymp. Sig lebih besar dari 0,05. Uji beda
dilakukan dengan melakukan perbandingan kadar kolesterol total, HDL dan rasio
kolesterol total/HDL pada kelompok BMI <23 kg/m2 dan pada kelompok BMI
≥23 kg/m2 serta pada kelompok abdominal skinfold thickness <14,5 mm dan
abdominal skinfold thickness ≥14,5 mm. Apabila data terdistribusi normal maka
uji beda yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan, sedangkan apabila data
terdistribusi tidak normal maka uji beda yang digunakan adalah uji
Mann-Whitney. Data diuji korelasinya menggunakan analisis Pearson apabila data
terdistribusi normal atau analisis Spearman apabila data tidak terdistribusi normal.
Nilai kekuatan korelasi (r) yang diperoleh kemudian diinterpretasikan untuk
melihat besarnya kekuatan. Taraf kepercayaan yang digunakan sebesar 95%. Uji
hipotesis dilakukan dengan menilat nilai signifikansi p<0,05.
Tabel III. Interpretasi Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi (r) (Dahlan, 2011)
Nilai Interpretasi 0,00-0,199 Sangat lemah 0,20-0,399 Lemah 0,40-0,599 Sedang 0,60-0,799 Kuat 0,80-1,000 Sangat kuat
9. Pembagian Hasil Pemeriksaan
Pembagian hasil pemeriksaan diberikan secara langsung kepada
responden. Peneliti memberikan kejelasan makna hasil pemeriksaan dan
memberikan saran-saran untuk menjaga kesehatan jika ditemukan hasil
31
J. Kesulitan Penelitian
Kesulitan yang dialami selama penelitian ini adalah penyesuaian jadwal
para responden. Setiap responden memiliki jadwal pekerjaan yang berbeda-beda
sehingga menyulitkan peneliti untuk mencari jadwal yang sesuai. Kesulitan
lainnya yang dihadapai adalah keterbatasan peneliti dalam mengontrol kejujuran
responden untuk berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pengukuran.
32
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden Penelitian
Tabel IV. Karakteristik Responden Penelitian
Karakteristik Wanita (n=57) p
Usia (tahun) 40 ± 5* 0,200
Rasio kolesterol total/HDL 3,7 ± 0,9* 0,196
Keterangan : * = rata-rata ± SD
** = median (minimum-maksimum) p>0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi normal
Penelitian ini dilakukan pada 57 orang responden wanita Universitas
Sanata Dharma. Karakteristik penelitian yang meliputi BMI, abdominal skinfold
thickness, kolesterol total, HDL dan rasio kolesterol total/HDL dapat dilihat pada
tabel IV. Karakteristik dianalisis dengan menggunakan uji normalitas
Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dilakukan apabila
responden penelitian lebih dari 50 orang. Suatu data dikatakan normal jika nilai
signifikansi (p)>0,05. Normalitas data juga digambarkan melalui gambar
histogram. Kriteria suatu gambar histogram dikatakan normal jika simetris, tidak
33
1. Usia
Usia responden wanita berada pada rentang 30-50 tahun dengan usia
rata-rata 40 tahun dengan SD ± 5. Berdasarkan distribusi data diperoleh nilai
p=0,200. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi data usia terdistribusi normal.
Histogram distribusi usia menunjukkan bahwa histrogram ini relatif simetris dan
tidak terlalu miring ke kiri maupun ke kanan (gambar 5). Berdasarkan gambar
histogram dan nilai p, maka dapat dikatakan bahwa hasil distribusi usia responden
terdistribusi normal.
Gambar 5. Histogram Distribusi Usia
Usia berhubungan dengan abnormalitas lipid. Kadar kolesterol akan
meningkat seiring dengan peningkatan usia. Ada perbedaan bermakna antara
peningkatan usia dengan peningkatan kadar kolesterol total dan ada perbedaan
yang tidak bermakna antara peningkatan usia dengan peningkatan rasio kolesterol
total/HDL. Peningkatan usia juga berbeda secara bermakna dengan penurunan
HDL (Elnasri and Ahmed, 2008).
Penuaan berpengaruh pada kapasitas efluks HDL. Individu yang berusia
lebih muda memiliki kapasitas efluks HDL yang lebih besar dibandingkan
indVidu yang berusia lebih tua. Penurunan kapasitas HDL dalam merangsang
efluks kolesterol dapat mengindikasikan adanya peningkatan penyakit
kardiovaskular pada individu yang mengalami penuaan (Berrougui, Isabelle,
Cloutier, Grenier, and Khalil, 2006).
2. Body Mass Index (BMI)
Nilai median BMI responden penelitian adalah 23,2 kg/m2. Nilai BMI
terbesar yang diperoleh yaitu 35,5 kg/m2, sedangkan nilai BMI terkecil yang
diperoleh yaitu 17,9 kg/m2. Berdasarkan kriteria BMI menurut Ineou, et al.
(2000), nilai BMI terkecil responden masuk dalam kategori underweight,
sedangkan nilai BMI terbesar responden masuk dalam kategori obesitas kelas II.
Uji normalitas BMI memperoleh nilai p=0,048. Histogram data BMI
menunjukkan bahwa data BMI cenderung miring ke kiri (gambar 6). Berdasarkan
gambar histogram dan nilai p, maka dapat disimpulkan bahwa BMI terdistribusi
35
Gambar 6. Histogram Distribusi BMI
Body mass index digunakan untuk mengukur status kesehatan dan
obesitas seseorang. Hal yang terpenting mengenai obesitas adalah distribusi
kelebihan lemak tubuh. Obesitas dipengaruhi oleh masukan dan keluaran energi
serta faktor lingkungan (Afridi and Khan, 2004). Hubungan antara obesitas dan
risiko kematian lebih kuat pada orang Asia dibandingkan pada orang berkulit
putih dan hitam, baik pria maupun wanita. Peningkatan risiko ini berkaitan
dengan nilai BMI yang terlalu tinggi dengan peningkatan umur pada pria dan
wanita (Adams, et al., 2006).
3. Abdominal Skinfold Thickness
Nilai median abdominal skinfold thickness responden penelitian sebesar
14,5 mm. Nilai abdominal skinfold thickness terkecil yaitu 6,0 mm dan nilai
terbesar yaitu 21,5 mm. Uji normalitas data abdominal skinfold thickness
memperoleh nilai p=0,001. Gambar histrogram distribusi abdominal skinfold
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
thickness cenderung miring ke kanan (gambar 7). Berdasarkan kriteria nilai p dan
histogram tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data abdominal skinfold
thickness terdistribusi tidak normal.
Gambar 7. Histogram Distribusi Abdominal Skinfold Thickness
Obesitas sentral adalah distribusi lemak yang berpusat pada bagian
abdominal. Lemak abdominal tersusun atas lemak viseral, retroperitoneal dan
subkutan. Lemak abdominal berkaitan dengan risiko beberapa penyakit antara lain
penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan stroke pada
individu yang memiliki nilai BMI antara 25 dan 34,9 kg/m2. Peningkatan lemak
abdominal dapat menjadi prediktor risiko penyakit kardiovaskular. Suatu populasi
dengan nilai BMI rendah tetapi memiliki lemak abdominal yang tinggi dapat
mengindikasikan terjadinya penyakit diabetes melitus, hipertensi dan penyakit
kardiovaskular (Afridi and Khan, 2004).
Jaringan adiposa subkutan lebih berkontribusi pada kejadian obesitas.
37
Kelebihan androgen akan berkontribusi pada obesitas (Quinkler, et al., 2004).
Sintesis androgen pada jaringan subkutan abdominal lebih tinggi dibandingkan
pada jaringan omental. Jaringan subkutan abdominal lebih steroidogenik
dibandingkan jaringan omental. Akumulasi lipid juga ditingkatkan seiring dengan
adipogenesis pada daerah subkutan (Blouin, et al., 2008).
4. Kolesterol Total
Kadar kolesterol total rata-rata responden penelitian ini sebesar 197
mg/dL. Kadar kolesterol total terkecil yaitu 126 mg/dL dan nilai kolesterol total
terbesar yaitu 279 mg/dL. Berdasarkan uji normalitas, data kolesterol total
memiliki nilai p=0,200. Data kolesterol total ini menunjukkan bahwa data
terdistribusi normal. Gambar 8 menunjukkan histogram kolesterol total berbentuk
simetris dan tidak miring ke kiri maupun ke kanan. Hasil distribusi data kolesterol
total responden terdistribusi normal sesuai dengan kriteria normal gambar
histogram dan nilai p.
Gambar 8. Histogram Distribusi Kolesterol Total
Menurut NHLBI (2002), kadar kolesterol total dikatakan normal jika
<200 mg/dL. Jika dilihat berdasarkan nilai normal kolesterol total, maka dapat
disimpulkan bahwa nilai rata-rata kadar kolesterol total termasuk dalam normal.
Nilai kolesterol total terbesar 279 mg/dL termasuk dalam kategori tinggi. Serum
kolesterol berkorelasi secara signifikan dengan kejadian mortalitas. Kadar
kolesterol total pada kelompok dengan penyakit arteri koroner lebih tinggi secara
signifikan dibandingkan kelompok kontrol (Freitas, Barbosa, Rosa, Lima, and
Mansur, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Kamso (2007) menunjukkan
bahwa seseorang dengan kadar kolesterol total ≥240 mg/dL berisiko mengalami
sindrom metabolik 2,75 kali lebih besar dibandingkan seseorang dengan kadar
kolesterol total <240 mg/dL.
Penelitian yang dilakukan oleh Akther, et al., (2010) menunjukkan
bahwa serum kolesterol total pada kelompok non atlit lebih tinggi daripada
kelompok atlit. Hal ini disebabkan karena atlit lebih banyak melakukan aktivitas
fisik dibandingkan dengan non atlit. Aktivitas fisik dapat menurunkan serum
kolesterol total. Aktivitas fisik dapat menurunkan berat badan sehingga
menurunkan adiposa. Penurunan adiposa berhubungan dengan penurunan serum
kolesterol.
5. High Density Lipoprotein (HDL)
Kadar HDL rata-rata responden penelitian sebesar 55 mg/dL. Kadar
HDL terkecil yaitu 30 mg/dL dan kadar HDL terbesar yaitu 84 mg/dL. Oleh
39
normal, sedangkan kadar HDL 30 mg/dL masuk dalam kategori rendah dan kadar
HDL 84 mg/dL masuk dalam kategori tinggi. Uji normalitas HDL memperoleh
nilai p=0,200. Data ini menunjukkan bahwa HDL menunjukkan bahwa data
terdistribusi normal. Histogram HDL berbentuk simetris dan tidak miring ke kiri
maupun ke kanan (gambar 9). Berdasarkan kriteria nilai p dan histogram, maka
dapat disimpulkan bahwa distribusi data HDL terdistribusi normal.
Gambar 9. Histogram Distribusi HDL
Ada hubungan antara jumlah HDL dan risiko penyakit kardiovaskular.
Peningkatan HDL sebesar 1 mg/dL akan menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular sebesar 1,1% (Barter, et al., 2007). Penurunan kadar HDL dapat
dijadikan sebagai prediktor peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan
sindrom metabolik (Santos, et al., 2009). Peran HDL adalah untuk merangsang
efluks kolesterol dari sel (Ansell, et al., 2005). Kapasitas efluks inilah yang dapat
dijadikan suatu prediktor yang baik pada penyakit jantung koroner (Khera, et al.,
2011). Fungsi antiaterosklerosis HDL adalah dengan membalikkan transpor
kolesterol dan integritas struktur HDL. Penurunan HDL dan Apo-AI akan
menyebabkan terjadinya gangguan kemampuan serum untuk merangsang efluks
kolesterol (Holven, et al., 2008).
6. Rasio Kolesterol Total/HDL
Nilai rasio kolesterol total/HDL rata-rata responden penelitian adalah
3,7, dengan nilai rasio terkecil sebesar 2,3 dan nilai rasio terbesar 5,7.
Berdasarkan uji normalitas, rasio kolesterol total/HDL memiliki nilai p=0,196.
Data rasio kolesterol total/HDL ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.
Gambar histogram kolesterol total berbentuk simetris dan tidak miring ke kiri
maupun ke kanan, sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data rasio
kolesterol total/HDL terdistribusi normal.
Gambar 10. Histogram Distribusi Rasio Kolesterol Total/HDL
Rasio kolesterol total/HDL digunakan untuk memprediksi penyakit