• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korelasi body mass index dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita Universitas Sanata Dharma - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Korelasi body mass index dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita Universitas Sanata Dharma - USD Repository"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

KORELASI BODY MASS INDEX DAN ABDOMINAL SKINFOLD

THICKNESS TERHADAP RASIO KOLESTEROL TOTAL/HDL PADA

STAF WANITA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Natalia Endah Utami

NIM : 088114022

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

KORELASI BODY MASS INDEX DAN ABDOMINAL SKINFOLD

THICKNESS TERHADAP RASIO KOLESTEROL TOTAL/HDL PADA

STAF WANITA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Natalia Endah Utami

NIM : 088114022

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2011

(3)
(4)

iii

(5)

iv

Halaman Persembahan

!" !#$

!

Kupersembahkan untuk :

Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas segala berkat dan perlindunganNya

Bapak, Mama, Adikku atas segala dukungan dan kasih sayang

(6)

v

(7)
(8)

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa

karena atas segala rahmat dan berkatNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan

skripsi yang berjudul “Korelasi Body Mass Index dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL pada Staf Wanita Universitas

Sanata Dharma” dengan baik. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi

salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Fakultas Farmasi,

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulisan skripsi ini tidak lepas

dari dukungan banyak pihak. Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Ipang Djunarko M.Si., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma

2. dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK selaku dosen Pembimbing skripsi atas segala

bimbingan, arahan, dukungan dan masukan selama penyusunan skripsi ini.

3. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji atas segala masukan

dalam skripsi ini.

4. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen penguji atas segala masukan

dalam skripsi ini.

5. Laboratorium Parahita selaku pihak yang membantu dalam pengukuran profil

lipid.

(9)

viii

6. Bagian Rumah Tangga Universitas Sanata Dharma yang telah menyediakan

tempat dan membantu perlengkapan selama pelaksanaan skripsi.

7. Para dosen dan staf yang telah ikut serta dalam penelitian ini.

8. Bapak F.X. Sunaryana dan Mama Cornelia Murwani selaku orang tua yang

telah banyak memberi dukungan, motivasi, kasih sayang, dan doa selama

penyusunan skripsi ini.

9. Fransischa Soembarwati, Prisma Andini Mukti, Marcella Pradita, Agatha

Novita Ika H., Pika, Desy Natalia, Sisca Devi, Gary Ranteta’dung, Caroline

Ester Daat dan Fatrisia Vivi yang merupakan rekan penulis dalam penelitian

ini dan yang telah bersama-sama bekerja dalam suka duka dalam

melaksanakan penelitian ini.

10.Teman-teman dan pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan

yang telah banyak membantu penulis.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat

kekurangan dan belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan

masukan dan saran yang membangun agar tercapainya kesempurnaan di

kemudian hari. Penulis juga berharap bahwa skripsi ini dapat berguna bagi

perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi semua orang.

(10)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

(11)

x

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 19

B. Variabel Penelitian ... 19

5. Validitas dan Reabilitas Instrumen Penelitian ... 27

6. Pengukuran Parameter-Parameter ... 28

(12)

xi

8. Analisis Data Penelitian ... 29

9. Pembagian Hasil Pemeriksaan ... 30

J. Kesulitan Penelitian ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Karakteristik Responden Penelitian ... 32

1. Usia ... 33

2. Body Mass Index ... 34

3. Abdominal Skinfold Thickness ... 35

4. Kolesterol Total ... 37

5. High Density Lipoprotein (HDL) ... 38

6. Rasio Kolesterol Total/HDL ... 40

B. Perbandingan Kolesterol Total, HDL dan Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 41

1. Perbandingan Kolesterol Total pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 42

2. Perbandingan HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 ... 43

3. Perbandingan Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI 23 kg/m2 ... 44

C. Perbandingan Kolesterol Total, HDL dan

Rasio Kolesterol Total/HDL

Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan

(13)

xii

Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 45

1. Perbandingan Kolesterol Total pada Kelompok

Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan

Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 46

2. Perbandingan HDL pada Kelompok

Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan

Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 46

3. Perbandingan Rasio Kolesterol Total/HDL

pada Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan

Abdominal Skinfold Thickness≥14,5 mm ... 47

D. Korelasi BMI dan Abdominal Skinfold Thickness

terhadap Kolesterol Total, HDL dan

Rasio Kolesterol Total/HDL ... 48

1. Korelasi BMI terhadap Kolesterol Total ... 49

2. Korelasi BMI terhadap Kadar HDL ... 51

3. Korelasi BMI terhadap

Rasio Kolesterol Total/HDL ... 53

4. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap

Kolesterol Total ... 55

5. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap HDL ... 57

6. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap

Rasio Kolesterol Total/HDL ... 59

(14)

xiii

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 63

LAMPIRAN ... 69

BIOGRAFI PENULIS ... 130

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel I Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI pada Individu

Dewasa Asia ... 10

Tabel II Klasifikasi Adult Treatment Panel III (ATP III) :

Kolesterol Total dan HDL... 13

Tabel III Interpretasi Hasil Uji Hipotesis

Berdasarkan Kekuatan Korelasi (r) ... 30

Tabel IV Karakteristik Responden Penelitian ... 32

Tabel V Perbandingan Kadar Kolesterol Total, HDL dan

Rasio Kolesterol Total/HDL pada Kelompok <23 kg/m2

dan BMI ≥23 kg/m2 ... 42

Tabel VI Perbandingan Kadar Kolesterol Total, HDL dan

Rasio Kolesterol Total/HDL pada

Kelompok Abdominal Skinfold Thickness <14,5 mm dan

Abdominal Skinfold Thickness ≥14,5 mm ... 45

Tabel VII Korelasi BMI dan Abdominal Skinfold Thickness

terhadap Kolesterol Total, HDL, dan

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Pengukuran Tinggi Badan ... 10

Gambar 2 Pengukuran Berat Badan ... 10

Gambar 3 Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness ... 13

Gambar 4 Skema Responden ... 22

Gambar 5 Histogram Distribusi Usia ... 33

Gambar 6 Histogram Distribusi BMI ... 35

Gambar 7 Histogram Distribusi Abdominal Skinfold Thickness ... 36

Gambar 8 Histogram Distribusi Kolesterol Total ... 37

Gambar 9 Histogram Distribusi HDL ... 39

Gambar 10 Histogram Distribusi Rasio Kolesterol Total/HDL ... 40

Gambar 11 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap Kolesterol Total... 49

Gambar 12 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap HDL ... 52

Gambar 13 Diagram Sebar Korelasi BMI terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL ... 54

Gambar 14 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kolesterol Total ... 56

Gambar 15 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap HDL ... 57

Gambar 16 Diagram Sebar Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL ... 60

(17)

xvi

Daftar Lampiran

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian ... 70

Lampiran 2 Surat Permohonan Ethical Clearance ... 71

Lampiran 3 Ethical Clearance ... 72

Lampiran 4 Surat Permohonan Perubahan Jadwal Acara ... 73

Lampiran 5 Surat Peminjaman Ruang ... 74

Lampiran 6 Informed Consent ... 75

Lampiran 7 Leaflet ... 76

Lampiran 8 Data Validasi Alat ... 78

Lampiran 9 Prosedur Pemeriksaan Kolesterol ... 79

Lampiran 10 Prosedur Pemeriksaan HDL ... 85

Lampiran 11 Kartu Pemeriksaan ... 87

Lampiran 12 Data Laboratorium Parahita ... 88

(18)

xvii

INTISARI

Pengukuran antropometri merupakan pengukuran yang dilakukan untuk menentukan status obesitas dan kesehatan seseorang. Obesitas sentral yang diukur dengan body mass index (BMI) dan abdominal skinfold thickness berkaitan dengan penurunan high density lipoprotein (HDL) dan peningkatan kolesterol total serta peningkatan rasio kolesterol total/HDL. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi BMI dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL.

Penelitian ini termasuk pernelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dan teknik pengambilan sampel adalah non random dengan jenis purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 57 responden staf wanita Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 30-50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran antropometri dilakukan dengan mengukur tinggi badan, berat badan dan abdominal skinfold thickness. Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk menentukan nilai BMI. Analisis hasil dilakukan dengan menguji normalitas menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov dan menguji korelasi BMI dan abdominal skinfold thickness

terhadap rasio kolesterol total/HDL kolesterol menggunakan analisis Spearman

dengan taraf kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif bermakna antara BMI terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi sedang (r=0,455; p=0,000) dan terdapat korelasi positif bermakna antara abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi lemah (r=0,303; p=0,022).

Kata kunci : BMI, abdominal skinfold thickness, rasio kolesterol total/HDL

(19)

xviii ABSTRACT

Anthropometry is an measurement to estimate someone’s health and obesity. Central obesity that is measured by body mass index (BMI) and abdominal skinfold thickness is related to decline of high density lipoprotein (HDL) and increase of total cholesterol and ratio of total cholesterol/HDL. Hence, this study was aimed to determine the correlation of BMI and abdominal skinfold thickness to ratio of total cholesterol/HDL.

This study was an analytic observational with cross sectional study and technique of sampling was non random with purposive sampling. The subjects were 57 female staff of Sanata Dharma University with age range of 30-50 years, who completed inclusion and exclusion criteria. Anthropometry was conducted by measuring height, weight, and abdominal skinfold thickness. The measurement of weight and height were used to determine BMI. Analysis was conducted by testing the normality using Kolmogorov-Smirnov and by testing the correlation of BMI and abdominal skinfold thickness to ratio total cholesterol/HDL using Spearman correlation test with confident level 95%.

The result showed that there was a positive significant correlation between BMI to ratio of total cholesterol/HDL with moderate strength correlation (r=0,455; p=0,000) dan there was a positive significant correlation between abdominal skinfold thickness to ratio of total cholesterol/HDL with weak strength correlation (r=0,303; p=0,022).

(20)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Antropometri adalah pengukuran yang dilakukan untuk menentukan dan

memprediksi status kesehatan seseorang, menggambarkan status sosial dan

ekonomi dalam populasi. Antropometri juga merupakan pengukuran status nutrisi

pada individu maupun pada suatu kelompok. Pengukuran antropometri banyak

digunakan secara luas dan digunakan untuk berbagai macam tujuan tergantung

pada indikator yang diukur. Contoh indikator tersebut adalah body mass index

(BMI) yang digunakan untuk melihat status nutrisi seseorang (Cogill, 2003).

Pengukuran antropometri meliputi pengukuran BMI, berat tubuh ideal, rasio

lingkar pinggang panggul, skinfold, persentase massa lemak, dan massa muskuler

total (Tarnus and Bourdon, 2006).

Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk menghitung

nilai BMI. Pengukuran BMI digunakan untuk mengukur obesitas pada orang

dewasa. Orang Asia dikatakan mengalami obesitas kelas I jika memiliki nilai BMI

sebesar 25-29,9 kg/m2 (Inoue, et al., 2000). Nilai BMI yang tinggi

menggambarkan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Pengukuran lemak tubuh

tidak hanya diukur dengan menggunakan BMI terapi bisa juga diukur dengan

menggunakan skinfold thickness. Pengukuran BMI maupun skinfold thickness

berkorelasi kuat dengan profil lipid pada anak-anak (Freedman, Katzmaryzk,

Dietz, Srinivasan, and Berenson, 2009).

(21)

Pengukuran antropometri seperti skinfold thickness, lingkar lengan dan

rasio lingkar pinggang panggul digunakan untuk mengukur akumulasi lemak

tubuh (Kumar, Abbas, Fausto, and Aster, 2010). Skinfold thickness diukur dengan

menggunakan skinfold caliper. Skinfold caliper mengukur susunan lapisan ganda

pada jaringan adiposa subkutan. Keakuratan pengukuran dengan menggunakan

skinfold caliper dipengaruhi oleh tekanan pada kulit. Pengukuran tebal lemak

subkutan digunakan untuk memprediksi densitas tubuh. Pengukuran abdominal

skinfold thickness lebih tepat untuk memprediksi densitas tubuh dibandingkan

triceps dan subscapular skinfold thickness pada orang Jepang (Demura and Sato,

2007).

Obesitas sentral yaitu lemak tubuh yang terdistribusi pada bagian

abdomen (D’Alessio, 2004). Lemak abdominal tersusun atas lemak subkutan

abdominal dan lemak intraabdominal (Wajchenberg, 2000). Penelitian tentang

pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap distribusi lemak subkutan abdominal

menunjukkan bahwa wanita memiliki jaringan adiposa subkutan abdominal yang

lebih banyak dibandingkan pria tanpa dipengaruhi usia (Kuk, Lee, Heymsfield,

and Ross, 2005). Stimulus hormon estrogen dan progesteron pada wanita

berpengaruh positif terhadap jumlah dan distribusi lemak (Tarnus and Bourdon,

2006).

Obesitas sentral berkaitan dengan peningkatan risiko kesehatan. Jaringan

adiposa abdominal lebih sensitif terhadap stimulus hormonal dan penyimpanan

asam lemak. Sel lemak abdominal berdekatan dengan aliran darah menuju ke hati.

(22)

3

lemak non ester menuju ke hati melalui darah vena portal khususnya pada

individu yang mengalami obesitas (Polikandrioti, et al., 2009).

Adiposa sentral wanita lebih berkaitan dengan keabnormalan profil lipid

atau lipoprotein dibandingkan obesitas keseluruhan (Hu, et al., 2000). Obesitas

sentral berisiko terhadap hipoadiponektinemia lima kali lebih besar dibandingkan

non obesitas sentral. Hipoadiponektinemia menggambarkan penyakit jantung

koroner yang semakin berat (Aryana, Kuswardhani, Suastika, and Santoso, 2011).

Individu yang mengalami obesitas memiliki kadar HDL yang rendah. Setiap

penurunan kadar HDL sebesar 1% akan meningkatkan risiko penyakit

kardiovaskular sebesar 6% (Zhang, et al., 2010).

Data Systolic Hypertension in the Elderly Program menunjukkan bahwa

BMI berkaitan dengan kadar kolesterol total dan HDL (Wildman, et al., 2004).

Ada hubungan yang signifikan antara BMI dengan komponen sindrom metabolik

seperti penurunan kadar HDL (Schindler, et al., 2006). Peningkatan BMI sebesar

12% akan menyebabkan penurunan HDL sebesar 2% pada wanita (Hu, et al,

2000). Pengukuran BMI dan penjumlahan antara abdominal, subscapular serta

suprailiac skinfold thickness berkorelasi secara signifikan dengan HDL dan rasio

kolesterol total/HDL (Teixeira, Sardinha, Going, and Lohman, 2001).

Peningkatan serum kolesterol total berperan dalam aterosklerosis

koroner. Kolesterol total yang tinggi dapat dijadikan sebagai suatu penanda

lipoprotein aterogenik. Penurunan 1% serum kolesterol total akan mengurangi

risiko penyakit jantung koroner sebesar 2% (NHLBI, 2002). Kadar HDL yang

rendah dapat berfungsi sebagai penanda terjadinya peningkatan risiko penyakit

(23)

kardiovaskular, sindrom metabolik, diabetes, dan hipertensi (Santos, et al., 2009).

Penurunan HDL dan peningkatan rasio kolesterol total/HDL berkaitan dengan

penyakit jantung koroner. Individu yang berasal dari keluarga penderita

hiperkolesterolemia dan penyakit jantung koroner positif memiliki kadar HDL

plasma yang rendah dan rasio kolesterol total/HDL yang tinggi. Individu yang

berasal dari keluarga hiperkolesterolemia juga mengalami penumpukan kolesterol

yang lebih parah pada plak aterosklerosis dengan risiko tinggi terjadinya infark

miokard (Real, et al., 2001).

Suatu penelitian yang dilakukan pada responden pria Universitas Sanata

Dharma menunjukkan bahwa terdapat korelasi BMI dan triceps skinfold thickness

yang bermakna terhadap rasio kolesterol total/HDL (Prayogie, 2011). Berdasarkan

uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian mengenai korelasi BMI dan

abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita

Universitas Sanata Dharma.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, permasalahan yang

diangkat penulis dalam penelitian ini adalah : apakah terdapat korelasi antara BMI

dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf

wanita Universitas Sanata Dharma?

2. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil pencarian informasi-informasi yang berkaitan dengan

penelitian mengenai korelasi BMI dan abdominalskinfold thickness terhadap rasio

(24)

5

pernah dilakukan sebelumnya. Ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan

obesitas, metode antropometri, kadar kolesterol total, dan HDL.

Penelitian-penelitian tersebut antara lain :

a. Total and Regional Fat and Serum Cardiovascular Disease Risk Factors in

Lean and Obese Children and Adolescent” (Teixeira, et al., 2001).

Penelitian yang melibatkan 87 orang remaja perempuan dan 72 orang remaja

laki-laki menunjukkan bahwa ada korelasi yang bermakna antara penjumlahan

abdominal, subscapular dan suprailiac skinfold thickness terhadap HDL

dengan arah korelasi negatif dan berkekuatan lemah serta ada korelasi

bermakna antara penjumlahan abdominal, subscapular dan suprailiac skinfold

thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL dengan arah korelasi positif dan

berkekuatan lemah.

b. “Associations Between Total Body Fat and Serum Lipid Concentrations in

Obese Human Adolescents” (Choi, Pai, and Kim, 2002).

Penelitian ini yang dilakukan pada 790 remaja menunjukkan hasil bahwa

terdapat perbedaan kolesterol total dan HDL yang tidak bermakna pada

kelompok underweight, normal dan overweight. Korelasi BMI terhadap

kolesterol total menunjukkan arah hubungan yang positif dengan kekuatan

korelasi lemah.

c. “Waist Circumference and Abdominal Adipose Tissue Distribution: Influence

of Age and Sex” (Kuk, et al., 2005).

Penelitian ini menunjukkan bahwa usia berkorelasi positif dengan lingkar

pinggang, visceral adipose tissue (VAT) dan abdominal subcutaneous adipose

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25)

tissue (ASAT) hanya pada kelompok pria dan wanita yang berusia lebih muda.

Pria memiliki VAT yang lebih besar, sedangkan wanita cenderung memiliki

ASAT yang lebih besar.

d. “Adolescent Skinfold Thickness is a Better Predictor of High Body Fatness in

Adults than is Body Mass Index : the Amsterdam Growth and Health

Longitudinal Study” (Nooyens, et al., 2007).

Penelitian ini melibatkan 168 pria dan 182 wanita. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa pengukuran skinfold thickness pada masa remaja dapat

memprediksi lemak tubuh lebih baik pada saat dewasa dibandingkan

pengukuran BMI.

e. “Relationship between Body Mass Index, Lipids and Homocysteine levels in

University Students” (Sanlier and Yabanci, 2007).

Penelitian yang dilakukan pada responden mahasiswa laki-laki sebanyak 172

dan perempuan sebanyak 183 orang mendapatkan hasil bahwa terdapat

perbedaan kolesterol total dan HDL yang tidak bermakna pada kelompok

underweight, normal dan overweight, tetapi terdapat perbedaan yang

bermakna antara rasio kolesterol total/HDL pada kelompok underweight,

normal dan overweight. Korelasi antara BMI dengan kolesterol total

merupakan korelasi yang tidak bermakna dengan arah positif dan

berkekuatan lemah. Korelasi antara BMI dengan HDL merupakan korelasi

yang bermakna dengan arah negatif dan berkekuatan sangat lemah. Korelasi

antara BMI dengan rasio kolesterol total/HDL merupakan korelasi bermakna

(26)

7

f. “Relation of Body Mass Index with Lipid Profile and Blood Pressure in

Healthy Female of Lower Socioeconomic Group in Kaduna Northern

Nigeria” (Abubakar, et al., 2009).

Penelitian yang dilakukan di Nigeria pada 52 wanita mendapatkan hasil

bahwa terdapat perbedaan kadar kolesterol total yang tidak bermakna pada

kelompok underweight, normal dan overweight serta terdapat perbedaan

HDL yang bermakna pada kelompok underweight, normal dan overweight.

g. “Korelasi Body Mass Index (BMI) dan Triceps Skinfold Thickness Terhadap

Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL” (Prayogie, 2011).

Penelitian ini melibatkan 70 orang pria berusia 30-50 tahun dari Universitas

Sanata Dharma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara BMI

dengan rasio kolesterol total/HDL adalah bermakna dengan kekuatan korelasi

sedang (r=0,557; p=0,000), sedangkan korelasi antara triceps skinfold

thickness dengan rasio kolesterol total/HDL adalah bermakna dengan

kekuatan korelasi lemah (r=0,396; p=0,001).

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai korelasi

BMI dan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol

total/HDL pada wanita di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

b. Manfaat praktis

Pengukuran BMI dan abdominal skinfold thickness diharapkan dapat

memberikan gambaran awal mengenai rasio kadar kolesterol total/HDL.

(27)

Pengukuran BMI dan abdominal skinfold thickness merupakan

pengukuran yang mudah, praktis dan tidak memerlukan keahlian khusus.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi BMI dan

abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada staf

(28)

9

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Metode Antropometri

Antropometri merupakan suatu metode sederhana yang sangat mudah

dilakukan dan menggambarkan komposisi tubuh (Tarnus and Bourdon, 2006).

Pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan (berdiri),

panjang badan (berbaring), skinfold thickness, lingkar kepala dan lengan, panjang

lengan, lebar bahu, pergelangan tangan, dan lain-lain (NHANES, 2007).

Bagian-bagian antropometri terdiri dari pengukuran skinfold thickness pada bagian trisep,

subskapular, bisep, midaksilaris, suprailiak, paha tengah, betis, abdomen, pinggul,

paha, betis dan lengan atas (Peterson, Czerwinski, and Siervogel, 2007).

Keuntungan metode antropometri adalah lebih akurat dan dapat dipercaya.

Metode ini merupakan suatu dasar untuk mempelajari teknik pengukuran yang

akurat (Carter, 2002). Metode antropometri ini tidak mahal dan banyak digunakan

secara luas dalam pengujian suatu kelompok populasi maupun perseorangan

(Cogill, 2003).

1. Body Mass Index

Body Mass Index (BMI) merupakan suatu indeks berat-tinggi yang

digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi underweight, normal, overweight

dan obesitas pada orang dewasa. Cara mengukur BMI yaitu dengan mengukur

(29)

berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (m2). Rumus perhitungan

BMI dapat dituliskan dengan persamaan berikut :

BMI = x kg/m2 (WHO, 2011a).

Tabel I. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI pada Individu Dewasa Asia (Inoue, et al., 2000)

Klasifikasi BMI (kg/m2) Risiko ko-morbiditas

Underweight < 18,5 Rendah (tetapi berisiko

tinggi dengan masalah klinis yang lain) Normal 18,5-22,9 Rata-rata

Overweight : ≥ 23

Berisiko 23-24,9 Meningkat Obesitas I 25-29,9 Sedang Obesitas II ≥ 30 Parah

Gambar 1. Pengukuran Tinggi Badan

(30)

11

2. SkinfoldThickness

Skinfold thickness adalah suatu pengukuran untuk menilai persentase

lemak tubuh. Metode ini adalah metode yang sederhana dan murah (Peterson, et

al., 2007). Skinfold thickness dapat memprediksi lemak tubuh lebih baik

dibandingkan dengan pengukuran BMI pada orang dewasa. Skinfold thickness

merupakan suatu pengukuran yang digunakan untuk menentukan lemak tubuh

pada anak-anak dan orang dewasa dan dapat digunakan untuk memantau obesitas

pada anak-anak (Nooyens, et al., 2007).

Pengukuran skinfold thickness terbagi dalam beberapa bagian antara lain

trisep, subskapular, supraspinalis dan betis. Pengukuran skinfold thickness

digunakan untuk memperkirakan lemak subkutan. Kulit dipegang dengan

menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dan terletak jauh dari dasar

otot. Ujung pelat diletakkan pada jangka lengkung 1 cm di bawah jari dan jangka

lengkung akan memberikan tekanan. Subyek harus berdiri secara rileks, kecuali

untuk pengukuran tebal lipatan kulit bagian betis, karena subyek berada pada

posisi duduk (Carter, 2002).

Skinfold thickness diukur dengan menggunakan skinfold caliper.

Skinfold caliper mengukur susunan lapisan ganda pada jaringan adiposa subkutan.

Keakuratan pengukuran dengan menggunakan skinfold caliper dipengaruhi oleh

tekanan pada kulit. Pengukuran tebal lemak subkutan digunakan untuk

memprediksi densitas tubuh. Pengukuran abdominalskinfold thickness lebih tepat

untuk memprediksi densitas tubuh dibandingkan triceps dan subscapular skinfold

thickness pada individu Jepang dewasa. Pengukuran skinfold thickness dapat

(31)

dilakukan pada bagian tubuh trisep, subskapular, supraspinalis, abdominal,

punggung, paha, betis, dada, dagu dan pipi (Demura and Sato, 2007).

Abdominal skinfold thickness tersusun atas lemak abdominal. Lemak

abdominal terdiri dari lemak subkutan abdominal dan lemak intraabdominal

(Wajchenberg, 2000). Jaringan adiposa subkutan abdominal wanita lebih banyak

dibandingkan pria (Kuk, et al., 2005). Lemak subkutan dapat diukur dengan

menggunakan skinfold caliper yang diletakkan pada bagian ektremitas dan batang

tubuh. Pengukuran ini didasarkan pada 50% lemak tubuh total yang terdapat pada

lapisan subkutan (Budiman, 2008). Lebih dari 50% lemak tubuh merupakan

bagian subkutan. Perubahan pada bagian subkutan dapat menggambarkan

perubahan lemak tubuh total (Dipiro, et al., 2008).

Ekspresi hormon androgen lebih banyak terdapat pada jaringan subkutan

abdominal dibandingkan pada jaringan omental. Akumulasi lipid ditingkatkan

seiring dengan adipogenesis pada daerah subkutan abdominal (Blouin, et al.,

2008). Jaringan adiposa abdominal lebih sensitif terhadap stimulus hormonal dan

penyimpanan asam lemak. Sel lemak abdominal berkaitan erat dengan aliran

darah menuju ke hati pada sirkulasi portal. Hal ini berarti ada peningkatan

signifikan pada aliran asam lemak non ester menuju hati melalui vena portal

khususnya pada pasien dengan obesitas sentral (Polikandrioti, et al., 2009).

Obesitas sentral berkaitan dengan sindrom metabolik yang merupakan

prekursor penyakit diabetes mellitus, dislipidemia dan kardiovaskular (Dipiro, et

(32)

13

kolesterol, penurunan HDL dan hiperglikemia, tetapi juga berkaitan dengan

peningkatan risiko kardiovaskular (International Diabetes Foundation, 2006).

Gambar 3. Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness

B. Kolesterol Total dan HDL

Tabel II. Klasifikasi Adult Treatment Panel III (ATP III) : Kolesterol Total dan HDL (NHLBI, 2002)

Kolesterol merupakan suatu substansi lemah yang terdapat pada sel

tubuh. Kolesterol berfungsi untuk membawa darah dalam partikel yang dikenal

dengan istilah lipoprotein. Ada tiga macam lipoprotein yaitu High Density

Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL) dan Very Low Density

Lipoprotein (VLDL). Sumber kolesterol terdiri dari dua jenis yaitu dengan cara

membentuk kolesterol dari dalam tubuh dan berasal dari makanan. Kolesterol

dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas. Kelebihan kolesterol akan disimpan di arteri

dan merangsang pembentukan plak yang disebut aterosklerosis. Plak ini akan

(33)

pecah dan bekuan darah dapat terbentuk pada permukaan plak. Adanya bekuan

darah ini akan menurunkan suplai oksigen dan aliran darah ke jantung, otak dan

bagian tubuh lain (Birtcher and Ballantyne, 2004).

Kolesterol total merupakan penjumlahan dari HDL, LDL, dan VLDL.

Kolesterol total yang tinggi dapat dijadikan sebagai suatu penanda lipoprotein

aterogenik (NHLBI, 2002). Peningkatan jumlah kolesterol plasma dikenal dengan

istilah hiperkolesterolemia. Jumlah kolesterol total di atas 100 mg/dL merupakan

suatu faktor risiko penyakit vaskular perifer dan arteri koroner.

Hiperkolesterolemia berkaitan dengan disfungsi sel endothelial, penghilangan

nitrat oksida vaskular, peningkatan stress oksidatif dan pembentukan

proinflamasi. Faktor risiko terjadinya penyakit vaskular perifer atau penyakit

arteri koroner dapat diturunkan dengan adanya aktivitas fisik. Obesitas diketahui

dapat meningkatkan jumlah kolesterol total dan fungsi jantung serta vaskular

(Stapleton, Goodwill, James, Brock, and Frisbee, 2010).

High density lipoprotein adalah suatu partikel yang mengandung lapisan

amfipatik dari kolesterol bebas, fosfolipid dan beberapa apolipoprotein pada

bagian permukaan. Apolipoprotein tersebut antara lain apo A-I, AII, C, E, A-IV, J

dan D. Apolipoprotein A-I merupakan protein utama dari kolesterol, sedangkan

bagian inti dari partikel HDL tersusun atas trigliserida dan inti hidrofobik yang

kaya akan ester kolesterol (Ansell, Watson, Fogelman, Navab, and Fonarow,

2005).

High density lipoprotein dihasilkan di hati dan usus dalam bentuk

(34)

15

kolesterol total. Ada dua subtipe HDL yaitu HDL2 dan HDL3 (Koulouris, 2004).

Densitas HDL2 sebesar 1,063-1,125 g/mL, sedangkan densitas HDL3 sebesar

1,125-1,21 g/mL. Subtipe HDL3 dihasilkan melalui proses esterifikasi kolesterol

bebas menjadi ester kolesterol dari jaringan perifer dengan bantuan enzim lesitin

kolesterol asiltransferase (LCAT), sedangkan subtipe HDL2 dihasilkan dari

pembentukan kembali kilomikron dan katabolisme VLDL. Enzim lipase dapat

membantu perubahan HDL2 menjadi HDL3 melalui transfer ester kolesterol

menuju hati. Peningkatan HDL2 akan menyebabkan pergerakan HDL. Hormon

estrogen akan meningkatkan produksi apolipoprotein A-I, sehingga jumlah HDL

akan meningkat pada wanita (Dipiro, et al., 2008).

Sifat HDL antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi dan

antitrombosis (Koulouris, 2004). Sifat antiinflamasi dari HDL termasuk

membatasi proksidasi lipid, mempengaruhi ekspresi sitokin, mengatur pelekatan

monosit dan meningkatkan fungsi endotelial. Sifat lain yang dimiliki HDL adalah

sebagai antiaterogenik yang dapat merangsang efluks kolesterol dari sel (Ansell,

et al., 2005).

High density lipoprotein merupakan suatu prediktor terhadap

peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Apo-A disekresikan di hati dalam

bentuk yang mengandung sedikit lipid. Apo-A dengan lipid akan diubah menjadi

partikel HDL melalui mekanisme yang melibatkan transporter membran.

Transporter membran akan mentransfer fosfolipid dan kolesterol non ester dari sel

perifer untuk membentuk kepingan partikel HDL di dalam plasma. Enzim aktivasi

apoA-I yaitu LCAT berfungsi untuk menghasilkan esterifikasi kolesterol bebas

(35)

untuk membentuk partikel HDL yang lebih sferis dan mengandung inti ester

kolesterol. Partikel yang mengandung apo-A-I akan bergabung dengan partikel

yang mengandung apo-A-II untuk membentuk HDL yang sferis dan mengandung

kedua apolipoprotein tersebut (Barter, 2005). Kapasitas efluks ditentukan oleh

HDL dan apo-A. Kapasitas efluks merupakan suatu prediktor yang baik terhadap

penyakit koroner (Khera, et al., 2007).

Umumnya orang yang mengalami obesitas juga mengalami penurunan

HDL. Hal ini akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

Wanita yang mengalami obesitas dan overweight berisiko tinggi terhadap penyakit

diabetes, penyakit jantung koroner, osteoartritis dan beberapa penyakit kanker

(Kulie, et al., 2011). Menurut US National Cholesterol Education Program

(NCEP) ATP III, penurunan HDL merupakan faktor risiko penyakit jantung

koroner dan faktor yang spesifik pada kasus sindrom metabolik. Wanita berisiko

tinggi mengalami sindrom metabolik apabila konsentrasi HDL kurang dari 50

mg/dL (Singh, 2009).

Rasio kolesterol total/HDL merupakan indeks yang sederhana dan

berguna untuk memprediksi penyakit jantung iskemik (Lemieux, et al., 2001).

Rasio kolesterol total/HDL merupakan suatu prediktor kuat dalam menentukan

risiko terjadinya penyakit kardiovaskular (NHLBI, 2002; Barter, et al., 2007).

Menurut Framingham Heart Study, rasio kolesterol total/HDL sebesar 4,4

mengindikasikan risiko rata-rata terjadinya penyakit jantung, rasio kolesterol

(36)

rata-17

rata dan rasio kolesterol total/HDL sebesar 7 mengindikasikan risiko dua kali

lebih besar dari risiko rata-rata (Harvard Medical, 2005).

Pengukuran adiposa dengan HDL, rasio kolesterol total/HDL dan apo-B

menunjukkan hubungan yang lebih besar daripada pengukuran adiposa dengan

kolesterol total dan apoA-I. Penjumlahan abdominal, subscapular dan suprailiac

skinfold thickness berhubungan secara signifikan terhadap kadar HDL dan rasio

kolesterol total/HDL (Teixeira, et al., 2001).

C. Landasan Teori

Pengukuran antropometri merupakan pengukuran yang dapat digunakan

untuk menentukan status nutrisi dan kesehatan seseorang (Cogill, 2003; Gibney,

Lauer, and Christopher, 2005). Pengukuran antropometri juga bisa digunakan

untuk menentukan persentase lemak tubuh dan status obesitas. Pengukuran

antropometri dilakukan berdasarkan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan

skinfold thickness. Pengukuran tinggi badan dan berat badan digunakan untuk

menentukan nilai BMI. Pengukuran skinfold thickness meliputi pengukuran pada

bagian trisep, bisep, abdominal, suprailiak, subskapular, midaksilaris, paha dan

betis (Peterson, et al., 2007).

Antropometri dapat digunakan untuk menentukan status obesitas

terutama obesitas sentral. Obesitas sentral adalah obesitas dengan lemak tubuh

yang terakumulasi pada daerah abdomen. Lemak abdominal terdiri dari lemak

subkutan dan lemak intraabdominal. Lemak abdominal subkutan lebih banyak

terdapat pada wanita dibandingkan pada pria (Kuk, et al., 2005). Obesitas sentral

(37)

berkaitan dengan penurunan kadar HDL dan peningkatan rasio kolesterol

total/HDL. Kadar HDL dan rasio kolesterol total/HDL merupakan dua faktor

penting pada risiko terjadinya penyakit jantung koroner (Real, et al., 2001).

Penelitian yang dilakukan pada pria menunjukkan bahwa terdapat

korelasi positif bermakna antara BMI dan triceps skinfold thickness terhadap rasio

kolesterol total/HDL. Gambaran tentang profil lipid seseorang dapat ditentukan

dari pengukuran antropometri berupa BMI dan abdominal skinfold thickness

dengan melihat korelasi antara keduanya sehingga dapat dijadikan sebagai

prediktor penyakit kardiovaskular.

D. Hipotesis

Terdapat korelasi positif bermakna antara BMI dan abdominal skinfold

thickness terhadap rasio kolesterol total/HDL pada staf wanita Universitas Sanata

(38)

19

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan

rancangan secara potong lintang/cross-sectional. Penelitian observasional analitik

merupakan penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena

kesehatan itu terjadi. Selanjutnya melakukan analisis korelasi antara fenomena

atau antara faktor risiko dan faktor efek. Rancangan secara potong lintang

dilakukan dengan cara mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko

dengan efek melalui pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada

suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini menganalisis korelasi antara BMI

dan abdominal skinfold thickness sebagai faktor risiko terhadap rasio kolesterol

total/HDL sebagai faktor efek. Data yang diperoleh kemudian diolah secara

komputerisasi untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor tersebut.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

BMI dan abdominalskinfold thickness.

2. Variabel tergantung

Kadar kolesterol total, kadar HDL, rasio kolesterol total/HDL.

3. Variabel pengacau

a. Variabel pengacau terkendali: umur dan keadaan puasa.

(39)

b. Variabel pengacau tak terkendali: keadaan patologis, aktivitas, dan gaya

hidup responden penelitian.

C. Definisi Operasional

1. Responden adalah staf wanita kampus I, II, dan III Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta berusia 30-50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

penelitian ini.

2. Karakteristik penelitian ini antara lain demografi, pengukuran antropometri

dan hasil pemeriksaan laboratorium. Karakteristik demografi adalah usia

responden penelitian. Pengukuran antropometri meliputi pengukuran BMI dan

abdominal skinfold thickness. Pemeriksaan profil lipid meliputi kadar

kolesterol total dan kadar HDL yang diperoleh dari hasil laboratorium.

3. Pengukuran BMI adalah pengukuran yang diperoleh dari berat badan (kg)

dibagi kuadrat tinggi badan (m2). Pengukuran BMI dilakukan dengan cara

menimbang berat badan dan tinggi badan responden.

! "#

$% ##% &' "#/& '

4. Kolesterol total adalah kadar kolesterol dalam darah yang diperoleh dari data

pemeriksaan laboratorium saat responden berpuasa 8-10 jam sebelum

pengambilan darah.

5. Kadar HDL adalah kadar HDL dalam darah yang diperoleh dari data

pemeriksaan laboratorium saat responden berpuasa 8-10 jam sebelum

(40)

21

6. Rasio kolesterol total/HDL adalah perbandingan antara kadar kolesterol total

terhadap kadar HDL yang diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium.

D. Responden Penelitian

Responden penelitian ini adalah para staf wanita kampus I, II, dan III

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah staf wanita premenopause

Universitas Sanata Dharma yang berusia 30-50 tahun. Kriteria eksklusi penelitian

ini antara lain responden yang menderita hipertensi, diabetes melitus, penyakit

jantung koroner, mengonsumsi obat penurun kolesterol dan obat kontrasepsi,

oedem, dan peradangan akut dan kronik.

Pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali. Pengambilan data

pertama dilaksanakan di Kampus Mrican dengan jumlah responden yang hadir

adalah 42 responden dari 48 responden yang bersedia bekerja sama dan terdaftar

dalam penelitian. Pengambilan data kedua dilaksanakan di Kampus Paingan

dengan jumlah responden yang hadir adalah 17 responden dari 22 responden yang

bersedia bekerja sama dan terdaftar dalam penelitian. Data pemeriksaan yang

dipakai sebagai data hanya 57 responden dari data 59 responden. Dua data

dieksklusikan karena responden menderita diabetes melitus dan perokok. Skema

responden dapat dilihat pada gambar 4.

(41)

Gambar 4. Skema Responden

E. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kampus I, II, dan III Unversitas Sanata

Dharma Yogyakarta. Penelitian dilakukan dari bulan Mei hingga Agustus 2011.

Pengambilan data dilakukan pada awal bulan Agustus 2011.

F. Ruang Lingkup

Penelitian ini merupakan penelitian paying yang berjudul Korelasi

Parameter Antropometri terhadap Profil Lipid, Kadar hs-CRP, Glukosa Darah

dan Tekanan Darah sebagai Prediktor Penyakit Kardiovaskular Pada Staf

Wanita di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan secara

berkelompok dengan kajian yang berbeda-beda.

(42)

23

Kajian dari penelitian ini meliputi :

1. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul

terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

2. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul

terhadap Rasio Kadar LDL/HDL

3. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul

terhadap Kadar Trigliserida

4. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul

terhadap Kadar hsCRP

5. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Pangul

terhadap Kadar Glukosa Darah

6. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL

7. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Rasio Kadar LDL/HDL

8. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Kadar Trigliserida

9. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Kadar hsCRP

10.Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold

Thickness terhadap Kadar Glukosa Darah

(43)

11.Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI), Abdominal Skinfold Thickness,

Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Tekanan

Darah

Penelitian ini berfokus pada korelasi pengukuran body mass index (BMI) dan

abdominalskinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL.

G. Teknik Sampling

Teknik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini adalah non random

sampling dengan jenis purposive sampling. Pengambilan sampel secara non

random karena responden yang digunakan pada penelitian ini dipilih berdasarkan

kriteria inklusi. Purposive sampling dilakukan berdasarkan ciri atau sifat populasi

yang telah diketahui sebelumnya sehingga menjadi suatu pertimbangan tertentu

yang dibuat oleh peneliti. Penelitian diawali dengan identifikasi karakteristik

populasi. Setelah itu, peneliti menetapkan sebagian dari anggota populasi yang

menjadi sampel berdasarkan pertimbangannya sendiri (Notoatmodjo, 2010).

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain timbangan

berat badan merk Tanita®, alat pengukur tinggi badan merk Strature®, skinfold

caliper merk pi zhi hou du ji®, leaflet dan informed consent. Timbangan berat

badan dan alat pengukur tinggi badan berfungsi sebagai alat untuk mengukur

BMI, sedangkan skinfold caliper berfungsi sebagai alat untuk mengukur

(44)

25

dilakukan oleh Laboratorium Parahita. Reagen yang digunakan dalam pengukuran

kadar HDL dalam darah diperoleh dari Sekisui Medical CO.LTD, Japan,

sedangkan reagen yang digunakan dalam pengukuran kadar kolesterol diperoleh

dari Abbott Laboratories, USA.

Suatu instrumen perlu dilakukan pengujian validitas dan reabilitas. Hal

ini bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat. Validitas intrumen merupakan

suatu pengujian untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat

ukur dalam mengukur suatu data (Hastono, 2001). Reabilitas intrumen adalah

suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen dapat dipercaya

atau diandalkan, artinya bahwa hasil pengukuran tetap konsisten dan ajeg apabila

dilakukan sebanyak 2 kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan

menggunakan instrumen yang sama (Notoatmodjo, 2010). Ketelitian atau presisi

suatu alat adalah dengan cara menghitung nilai koefisien variasi (CV). Suatu alat

dikatakan memenuhi nilai presisi jika nilai CV ≤5% (Departemen Kesehatan

Republik Indonesia, 2011).

I. Tata Cara Penelitian

1. Observasi Awal

Observasi awal dilakukan dengan mencari informasi tentang jumlah staf

wanita di Universitas Sanata Dharma yang berusia 30-50 tahun dan tempat yang

dapat digunakan untuk mengumpulkan responden pada saat pengukuran. Setelah

itu, dilakukan observasi ulang data para staf wanita ke setiap fakultas dan jurusan.

(45)

Data dikumpulkan untuk mengetahui banyaknya populasi yang dapat dijadikan

sampel.

2. Permohonan Izin dan Kerja Sama

Permohonan izin penelitian dilakukan dengan mengajukan Ethical

Clearance ke Komisi Etik Penelitian Kodekteran dan Kesehatan Fakultas

Kedokteran Universitas Gajah Mada. Permohonan izin ini dilakukan untuk

memenuhi etika penelitian yang menggunakan sampel darah manusia.

Permohonan izin yang kedua ditujukan ke Wakil Rektor I Universitas Sanata

Dharma. Permohonan kerja sama diajukan ke calon responden dan Laboratorium

Parahita. Permohonan kerja sama yang diajukan ke calon responden berupa

informed consent.

3. Pembuatan Leaflet dan Informed Consent

a. Leaflet. Leaflet digunakan untuk membantu peneliti memberikan

penjelasan kepada calon responden. Leaflet berisi informasi tentang

pengukuran antropometri (BMI, abdominal skinfold thicknes, lingkar

pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul) sebagai suatu metode

deteksi dini berbagai masalah kesehatan khususnya mengenai penyakit

kardiovaskular. Informasi lain yang diberikan yaitu pemeriksaan

laboratorium seperti kadar glukosa, profil lipid, dan hsCRP yang berkaitan

dengan penyakit kardiovaskular.

b. Informed Consent. Informed consent adalah suatu bukti tertulis yang berisi

tentang kesediaan calon responden untuk ikut serta dalam penelitian.

(46)

27

menuliskan nama, usia, alamat rumah, nomor telepon, dan

fakultas/instansi pekerjaan. Informed consent yang dibuat telah memenuhi

persyaratan Komisi Etik Penelitian Kodekteran dan Kesehatan Fakultas

Kedokteran Universitas Gajah Mada.

4. Pencarian Responden

Pencarian responden dilakukan setelah peneliti mendapatkan surat izin

penelitian dari Wakil Rektor I. Surat izin penelitian diberikan kepada Kepala

Perpustakaan, Kepala Urusan Rumah Tangga, Kepala BAPSI dan Para Dekan

Fakultas Universitas Sanata Dharma untuk meminta izin melibatkan dosen dan

karywan dalam penelitian ini.

Pencarian responden dilakukan dengan memberikan penjelasan

mengenai maksud dan tujuan penelitian kepada calon responden. Maksud dan

tujuan penelitian dijelaskan melalui leaflet kepada calon responden. Calon

responden yang bersedia untuk ikut serta dalam penelitian akan menandatangani

informed consent sebagai suatu bentuk penyataan tertulis atas kesediaan

responden ikut serta dalam penelitian. Responden akan dihubungi satu hari

sebelum pengukuran parameter untuk memberikan informasi ulang terkait tempat

dan waktu pelaksanaan pengukuran parameter. Responden yang tidak hadir pada

saat pengukuran akan dikonfirmasi lagi kehadirannya.

5. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011), alat

kesehatan dikatakan baik jika memenuhi nilai CV ≤5%. Pengukuran reabilitas

instrumen dilakukan sebanyak lima kali. Instrumen yang divalidasi pada

(47)

penelitian ini antara lain timbangan berat badan Tanita® dengan nilai CV sebesar

0,166%, alat pengukur tinggi badan dengan nilai CV sebesar 0,052%, dan skinfold

caliper pada pengukuran abdominal skinfold thickness nilai CV sebesar 0,459%.

Berdasarkan nilai CV tersebut maka dapat disimpulkan bahwa instrumen

timbangan berat badan, tinggi badan dan skinfold caliper memenuhi persyaratan

validasi.

6. Pengukuran Parameter-Parameter

a. Berat Badan dan Tinggi Badan. Pengukuran berat badan dan tinggi badan

dilakukan untuk menentukan nilai BMI. Responden diwajibkan untuk

melepas alas kaki untuk mengurangi faktor koreksi pasa saat pengukuran

berat badan dan tinggi badan. Pengukuran berat badan dilakukan dengan

menggunakan timbangan. Responden berdiri di atas timbangan dengan

posisi tegak lurus. Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan

menggunakan meteran yang ditempel di tembok dengan posisi tegak lurus.

Responden berdiri tegak lurus sehingga garis meteran menyentuh ujung

kepala responden.

b. Abdominal Skinfold Thickness. Pengukuran abdominal skinfold thickness

dilakukan dengan menggunakan skinfold caliper. Peneliti menggunakan

ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang lapisan lemak di bawah kulit.

Rahang skinfold caliper menjepit lapisan lemak di bawah kulit dengan

posisi vertikal. Peneliti perlu berhati-hati saat memegang lapisan laipsan

(48)

29

skinfold caliper. Abdominal skinfold thickness diukur dengan jarak 5 cm

dari umbilikus.

c. Kadar Kolesterol Total, HDL dan Rasio Kolesterol Total/HDL.

Pengukuran kadar kolesterol total dan HDL dalam darah dilakukan oleh

pihak Laboratorium Parahita. Kadar kolesterol total yang didapat

kemudian dibandingkan dengan kadar HDL sehingga diperoleh rasio

kolesterol total/HDL. Cara pengambilan darah dilakukan dengan

memasang ikatan pembendungan (toniquet) di lengan atas. Lokasi

penusukan pada lipatan siku dalam responden diberi alkohol, kemudian

spuit injeksi disuntikkan dengan posisi 45o ke pembuluh vena yang

terdapat pada siku dalam. Darah diambil perlahan dan dimasukkan ke

dalam tabung reaksi bertutup. Toniquet dilepas, setelah itu jarum ditarik

dengan tetap menekan lubang penusukan dengan kapas alkohol. Tempat

bekas suntikan ditutup dengan plester.

7. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara statistik dengan komputerisasi.

8. Analisis Data Penelitian

Data yang diperoleh diolah secara komputerisasi. Langkah awal adalah

dilakukan uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov apabila jumlah sampel

lebih dari 50 atau dengan uji Shapiro-Wilk apabila jumlah sampel kurang dari 50

(Dahlan, 2011). Uji ini dilakukan untuk melihat distribusi normal suatu data.

Suatu data dikatakan normal bila nilai Asymp. Sig lebih besar dari 0,05. Uji beda

dilakukan dengan melakukan perbandingan kadar kolesterol total, HDL dan rasio

(49)

kolesterol total/HDL pada kelompok BMI <23 kg/m2 dan pada kelompok BMI

≥23 kg/m2 serta pada kelompok abdominal skinfold thickness <14,5 mm dan

abdominal skinfold thickness ≥14,5 mm. Apabila data terdistribusi normal maka

uji beda yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan, sedangkan apabila data

terdistribusi tidak normal maka uji beda yang digunakan adalah uji

Mann-Whitney. Data diuji korelasinya menggunakan analisis Pearson apabila data

terdistribusi normal atau analisis Spearman apabila data tidak terdistribusi normal.

Nilai kekuatan korelasi (r) yang diperoleh kemudian diinterpretasikan untuk

melihat besarnya kekuatan. Taraf kepercayaan yang digunakan sebesar 95%. Uji

hipotesis dilakukan dengan menilat nilai signifikansi p<0,05.

Tabel III. Interpretasi Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi (r) (Dahlan, 2011)

Nilai Interpretasi 0,00-0,199 Sangat lemah 0,20-0,399 Lemah 0,40-0,599 Sedang 0,60-0,799 Kuat 0,80-1,000 Sangat kuat

9. Pembagian Hasil Pemeriksaan

Pembagian hasil pemeriksaan diberikan secara langsung kepada

responden. Peneliti memberikan kejelasan makna hasil pemeriksaan dan

memberikan saran-saran untuk menjaga kesehatan jika ditemukan hasil

(50)

31

J. Kesulitan Penelitian

Kesulitan yang dialami selama penelitian ini adalah penyesuaian jadwal

para responden. Setiap responden memiliki jadwal pekerjaan yang berbeda-beda

sehingga menyulitkan peneliti untuk mencari jadwal yang sesuai. Kesulitan

lainnya yang dihadapai adalah keterbatasan peneliti dalam mengontrol kejujuran

responden untuk berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pengukuran.

(51)

32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden Penelitian

Tabel IV. Karakteristik Responden Penelitian

Karakteristik Wanita (n=57) p

Usia (tahun) 40 ± 5* 0,200

Rasio kolesterol total/HDL 3,7 ± 0,9* 0,196

Keterangan : * = rata-rata ± SD

** = median (minimum-maksimum) p>0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi normal

Penelitian ini dilakukan pada 57 orang responden wanita Universitas

Sanata Dharma. Karakteristik penelitian yang meliputi BMI, abdominal skinfold

thickness, kolesterol total, HDL dan rasio kolesterol total/HDL dapat dilihat pada

tabel IV. Karakteristik dianalisis dengan menggunakan uji normalitas

Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dilakukan apabila

responden penelitian lebih dari 50 orang. Suatu data dikatakan normal jika nilai

signifikansi (p)>0,05. Normalitas data juga digambarkan melalui gambar

histogram. Kriteria suatu gambar histogram dikatakan normal jika simetris, tidak

(52)

33

1. Usia

Usia responden wanita berada pada rentang 30-50 tahun dengan usia

rata-rata 40 tahun dengan SD ± 5. Berdasarkan distribusi data diperoleh nilai

p=0,200. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi data usia terdistribusi normal.

Histogram distribusi usia menunjukkan bahwa histrogram ini relatif simetris dan

tidak terlalu miring ke kiri maupun ke kanan (gambar 5). Berdasarkan gambar

histogram dan nilai p, maka dapat dikatakan bahwa hasil distribusi usia responden

terdistribusi normal.

Gambar 5. Histogram Distribusi Usia

Usia berhubungan dengan abnormalitas lipid. Kadar kolesterol akan

meningkat seiring dengan peningkatan usia. Ada perbedaan bermakna antara

peningkatan usia dengan peningkatan kadar kolesterol total dan ada perbedaan

yang tidak bermakna antara peningkatan usia dengan peningkatan rasio kolesterol

total/HDL. Peningkatan usia juga berbeda secara bermakna dengan penurunan

HDL (Elnasri and Ahmed, 2008).

(53)

Penuaan berpengaruh pada kapasitas efluks HDL. Individu yang berusia

lebih muda memiliki kapasitas efluks HDL yang lebih besar dibandingkan

indVidu yang berusia lebih tua. Penurunan kapasitas HDL dalam merangsang

efluks kolesterol dapat mengindikasikan adanya peningkatan penyakit

kardiovaskular pada individu yang mengalami penuaan (Berrougui, Isabelle,

Cloutier, Grenier, and Khalil, 2006).

2. Body Mass Index (BMI)

Nilai median BMI responden penelitian adalah 23,2 kg/m2. Nilai BMI

terbesar yang diperoleh yaitu 35,5 kg/m2, sedangkan nilai BMI terkecil yang

diperoleh yaitu 17,9 kg/m2. Berdasarkan kriteria BMI menurut Ineou, et al.

(2000), nilai BMI terkecil responden masuk dalam kategori underweight,

sedangkan nilai BMI terbesar responden masuk dalam kategori obesitas kelas II.

Uji normalitas BMI memperoleh nilai p=0,048. Histogram data BMI

menunjukkan bahwa data BMI cenderung miring ke kiri (gambar 6). Berdasarkan

gambar histogram dan nilai p, maka dapat disimpulkan bahwa BMI terdistribusi

(54)

35

Gambar 6. Histogram Distribusi BMI

Body mass index digunakan untuk mengukur status kesehatan dan

obesitas seseorang. Hal yang terpenting mengenai obesitas adalah distribusi

kelebihan lemak tubuh. Obesitas dipengaruhi oleh masukan dan keluaran energi

serta faktor lingkungan (Afridi and Khan, 2004). Hubungan antara obesitas dan

risiko kematian lebih kuat pada orang Asia dibandingkan pada orang berkulit

putih dan hitam, baik pria maupun wanita. Peningkatan risiko ini berkaitan

dengan nilai BMI yang terlalu tinggi dengan peningkatan umur pada pria dan

wanita (Adams, et al., 2006).

3. Abdominal Skinfold Thickness

Nilai median abdominal skinfold thickness responden penelitian sebesar

14,5 mm. Nilai abdominal skinfold thickness terkecil yaitu 6,0 mm dan nilai

terbesar yaitu 21,5 mm. Uji normalitas data abdominal skinfold thickness

memperoleh nilai p=0,001. Gambar histrogram distribusi abdominal skinfold

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(55)

thickness cenderung miring ke kanan (gambar 7). Berdasarkan kriteria nilai p dan

histogram tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa data abdominal skinfold

thickness terdistribusi tidak normal.

Gambar 7. Histogram Distribusi Abdominal Skinfold Thickness

Obesitas sentral adalah distribusi lemak yang berpusat pada bagian

abdominal. Lemak abdominal tersusun atas lemak viseral, retroperitoneal dan

subkutan. Lemak abdominal berkaitan dengan risiko beberapa penyakit antara lain

penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan stroke pada

individu yang memiliki nilai BMI antara 25 dan 34,9 kg/m2. Peningkatan lemak

abdominal dapat menjadi prediktor risiko penyakit kardiovaskular. Suatu populasi

dengan nilai BMI rendah tetapi memiliki lemak abdominal yang tinggi dapat

mengindikasikan terjadinya penyakit diabetes melitus, hipertensi dan penyakit

kardiovaskular (Afridi and Khan, 2004).

Jaringan adiposa subkutan lebih berkontribusi pada kejadian obesitas.

(56)

37

Kelebihan androgen akan berkontribusi pada obesitas (Quinkler, et al., 2004).

Sintesis androgen pada jaringan subkutan abdominal lebih tinggi dibandingkan

pada jaringan omental. Jaringan subkutan abdominal lebih steroidogenik

dibandingkan jaringan omental. Akumulasi lipid juga ditingkatkan seiring dengan

adipogenesis pada daerah subkutan (Blouin, et al., 2008).

4. Kolesterol Total

Kadar kolesterol total rata-rata responden penelitian ini sebesar 197

mg/dL. Kadar kolesterol total terkecil yaitu 126 mg/dL dan nilai kolesterol total

terbesar yaitu 279 mg/dL. Berdasarkan uji normalitas, data kolesterol total

memiliki nilai p=0,200. Data kolesterol total ini menunjukkan bahwa data

terdistribusi normal. Gambar 8 menunjukkan histogram kolesterol total berbentuk

simetris dan tidak miring ke kiri maupun ke kanan. Hasil distribusi data kolesterol

total responden terdistribusi normal sesuai dengan kriteria normal gambar

histogram dan nilai p.

Gambar 8. Histogram Distribusi Kolesterol Total

(57)

Menurut NHLBI (2002), kadar kolesterol total dikatakan normal jika

<200 mg/dL. Jika dilihat berdasarkan nilai normal kolesterol total, maka dapat

disimpulkan bahwa nilai rata-rata kadar kolesterol total termasuk dalam normal.

Nilai kolesterol total terbesar 279 mg/dL termasuk dalam kategori tinggi. Serum

kolesterol berkorelasi secara signifikan dengan kejadian mortalitas. Kadar

kolesterol total pada kelompok dengan penyakit arteri koroner lebih tinggi secara

signifikan dibandingkan kelompok kontrol (Freitas, Barbosa, Rosa, Lima, and

Mansur, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Kamso (2007) menunjukkan

bahwa seseorang dengan kadar kolesterol total ≥240 mg/dL berisiko mengalami

sindrom metabolik 2,75 kali lebih besar dibandingkan seseorang dengan kadar

kolesterol total <240 mg/dL.

Penelitian yang dilakukan oleh Akther, et al., (2010) menunjukkan

bahwa serum kolesterol total pada kelompok non atlit lebih tinggi daripada

kelompok atlit. Hal ini disebabkan karena atlit lebih banyak melakukan aktivitas

fisik dibandingkan dengan non atlit. Aktivitas fisik dapat menurunkan serum

kolesterol total. Aktivitas fisik dapat menurunkan berat badan sehingga

menurunkan adiposa. Penurunan adiposa berhubungan dengan penurunan serum

kolesterol.

5. High Density Lipoprotein (HDL)

Kadar HDL rata-rata responden penelitian sebesar 55 mg/dL. Kadar

HDL terkecil yaitu 30 mg/dL dan kadar HDL terbesar yaitu 84 mg/dL. Oleh

(58)

39

normal, sedangkan kadar HDL 30 mg/dL masuk dalam kategori rendah dan kadar

HDL 84 mg/dL masuk dalam kategori tinggi. Uji normalitas HDL memperoleh

nilai p=0,200. Data ini menunjukkan bahwa HDL menunjukkan bahwa data

terdistribusi normal. Histogram HDL berbentuk simetris dan tidak miring ke kiri

maupun ke kanan (gambar 9). Berdasarkan kriteria nilai p dan histogram, maka

dapat disimpulkan bahwa distribusi data HDL terdistribusi normal.

Gambar 9. Histogram Distribusi HDL

Ada hubungan antara jumlah HDL dan risiko penyakit kardiovaskular.

Peningkatan HDL sebesar 1 mg/dL akan menurunkan risiko penyakit

kardiovaskular sebesar 1,1% (Barter, et al., 2007). Penurunan kadar HDL dapat

dijadikan sebagai prediktor peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan

sindrom metabolik (Santos, et al., 2009). Peran HDL adalah untuk merangsang

efluks kolesterol dari sel (Ansell, et al., 2005). Kapasitas efluks inilah yang dapat

dijadikan suatu prediktor yang baik pada penyakit jantung koroner (Khera, et al.,

2011). Fungsi antiaterosklerosis HDL adalah dengan membalikkan transpor

(59)

kolesterol dan integritas struktur HDL. Penurunan HDL dan Apo-AI akan

menyebabkan terjadinya gangguan kemampuan serum untuk merangsang efluks

kolesterol (Holven, et al., 2008).

6. Rasio Kolesterol Total/HDL

Nilai rasio kolesterol total/HDL rata-rata responden penelitian adalah

3,7, dengan nilai rasio terkecil sebesar 2,3 dan nilai rasio terbesar 5,7.

Berdasarkan uji normalitas, rasio kolesterol total/HDL memiliki nilai p=0,196.

Data rasio kolesterol total/HDL ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.

Gambar histogram kolesterol total berbentuk simetris dan tidak miring ke kiri

maupun ke kanan, sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data rasio

kolesterol total/HDL terdistribusi normal.

Gambar 10. Histogram Distribusi Rasio Kolesterol Total/HDL

Rasio kolesterol total/HDL digunakan untuk memprediksi penyakit

Gambar

GAMBAR LAMPIRAN .................................................................................
Tabel I Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI  pada Individu
Tabel I. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan BMI pada Individu Dewasa Asia et al
Gambar 3. Pengukuran  Abdominal Skinfold Thickness
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah, adanya korelasi positif lemah bermakna antara body mass index dengan rasio kolesterol total/HDL (r=0,372; p=0,007) dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara BFP terhadap rasio lipid (kolesterol total/HDL, LDL/HDL) menggunakan metode antropometri ( skinfold

KORELASI ABDOMINAL SKINFOLD THICKNESS TERHADAP RASIO KADAR LDL/HDL PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD..

Saya telah mendapatkan penjelasan segala sesuatu mengenai penelitian “Korelasi Parameter Antropometri Terhadap Profil Lipid, Kadar hs-CRP, Kadar Glukosa Darah dan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat korelasi positif yang bermakna dengan kekuatan korelasi lemah antara body mass index (BMI) terhadap kadar

Pengukuran lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang panggul diharapkan mampu memberikan gambaran awal terhadap peningkatan rasio kadar kolesterol total/HDL dalam

Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat korelasi positif bermakna antara body fat percentage terhadap rasio kadar LDL/HDL pada mahasiswa dan mahasiswi kampus

Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya korelasi yang positif dan tidak bermakna antara body mass index terhadap kadar kolesterol total/HDL dengan