PAPER KEBIJAKAN
Reformasi Birokrasi
(Pelayanan Pertanahan)
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional
2015
Paper Kebijakan Reformasi Birokrasi (Pelayanan Petanahan) disusun untuk memberikan “pandangan” atas pelaksanan kegiatan pelayanan publik khususnya di Kantor Pertanahan. Menggunakan pendekatan desk study dan dilengkapi dengan data primer hasil pengukuran oleh stakeholders, penulisan Paper Kebijakan ini menyajikan fakta dan fenomena keberadaan pelayanan pertanahan yang selama ini telah diakses oleh masyarakat. Permasalahan dan temuan oleh stakeholders disajikan secara sistematis dan terstruktur sehingga memudahkan untuk dipahami. Hasil penyusunan Paper Kebijakan Reformasi Birokrasi (Pelayanan Petanahan) juga memberikan beberapa alternatif kebijakan dan rekomendasi guna memperbaiki serta meningkatkan kualitas pelayanan, baik dari sisi teknis pelaksanaan pelayanan hingga perbaikan sumber daya aparatur. Alternatif kebijakan disusun atas dasar potensi yang dimiliki oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dengan memperhatikan kekuatan dan peluang maupun kelemahan dan hambatan (SWOT). Alternatif kebijakan yang disampaikan juga selaras dengan program Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi khususnya dalam upaya mengevaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi pada pelayanan pertanahan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Permenpan dan RB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah). Agar mampu mewujudkan pelayanan pertanahan yang prima, maka direkomendasikan: Pertama, pembentukan Zona Integritas pada unit kerja yang telah memenuhi syarat. Kedua, evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. Ketiga, mewujudkan Tunas Integritas. Keempat, pengembangan Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik (pertanahan).
Penyusun,
Tim Peneliti
Penulisan Paper Kebijakan ini menyajikan fakta dan
fenomena keberadaan pelayanan pertanahan yang
selama ini telah diakses oleh masyarakat.
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 2
1.2 Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional ... 4
1.3 Tujuan... 6
1.4 Pendekatan ... 6
BAB II INOVASI DALAM PELAYANAN PERTANAHAN ... 7
2.1 Inovasi Pelayanan Pertanahan Nasional ... 10
2.2 Inovasi Pelayanan Pertanahan Kabupaten/Kota ... 22
BAB III REFORMASI BIROKRASI PELAYANAN PERTANAHAN DAN PERMASALAHANNYA 27 3.1 Capaian Reformasi Birokrasi Pelayanan Pertanahan Berdasarkan Stakeholders ... 28
3.2 Capaian Reformasi Birokrasi Pelayanan Pertanahan Berdasarkan Pengukuran Internal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ... 46
BAB IV POTENSI DAN ALTERNATIF KEBIJAKAN PENINGKATAN PELAYANAN PERTANAHAN DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI ... 55
4.1 Potensi Kualitas Pelayanan Pertanahan Dalam Rangka Reformasi Birokrasi ... 56
4.2 Alternatif Kebijakan Peningkatan Pelayanan Pertanahan ... 59
4.3 Rekomendasi Kebijakan Peningkatan Pelayanan Pertanahan ... 62
Daftar Tabel
Tabel 1.1. Area Perubahan Reformasi Birokrasi ... 4
Tabel 3.1. Capaian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional ... 28
Tabel 3.2. Kepatuhan Laporan LHKPN ... 33
Tabel 3.3. Rekapitulasi Pengaduan Masyarakat Terkait Pertanahan ... 33
Tabel 3.4. Skor Survei Integritas Sektor Publik (rata-rata > 7,22), KPK 2014 ... 35
Tabel 3.5. Skor Survei Integritas Sektor Publik ... 36
Tabel 3.6. Inventarisasi Masalah dalam Rangka Perbaikan Pelayanan Pertanahan ... 39
Tabel 3.7. Temuan Permasalahan di Kantor Pertanahan ... 39
Tabel 3.8. Persentase Lembaga/Instansi yang Dilaporkan Masyarakat ke Ombudsman RI ... 40
Tabel 3.9. Catatan Khusus Permasalahan Pertanahan ... 42
Tabel 3.10. IPAK Menurut Karakteristik Demografi Tahun 2013 - 2014 ... 44
Tabel 3.11. Pengalaman Masyarakat Berurusan dengan BPN ... 44
Tabel 3.12. Temuan Permasalahan di Kantor Pertanahan Sampel IKM Puslitbang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN 2014 ... 48
Tabel 3.13. Nilai Proses/Pengungkit PMPRB Tahun 2014 ... 49
Tabel 3.14. Nilai Hasil PMPRB Tahun 2014 ... 50
Daftar Gambar
Gambar 2.1. Lingkup Kegiatan Transfer Teknologi ... 9
Gambar 2.2. Alur Infrastruktur Komunikasi ... 10
Gambar 2.3. Aliran Data Digital dan Kondisi Basis Data ... 11
Gambar 2.4. Kendaraan Operasional Larasita ... 12
Gambar 2.5. Layanan Quick Wins Service ... 14
Gambar 2.6. Layanan Informasi Berkas Menggunakan PIN ... 16
Gambar 2.7. Perangkat CORS ... 17
Gambar 2.8. Alur Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP) ... 19
Gambar 2.9. Tampilan Dashboard Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP) ... 20
Gambar 2.10. Tampilan Dashboard Monitoring LARASITA ... 21
Gambar 2.11. Layanan Tujuh Menit (Lantum) ... 23
Gambar 2.12. KiosK ... 24
Gambar 2.13. Sistem Informasi Pertanahan Menggunakan Android ... 24
Gambar 3.1. Nota Kesepahaman antara KPK – BPN ... 32
Gambar 3.2. Trend Skor Survei Integritas BPN 2007-2014 ... 37
Gambar 3.3. Grafik Lembaga/Instansi yang Dilaporkan Masyarakat ke Ombudsman RI Dalam 3 Tahun Terakhir (2012-2014)... 40
Gambar 3.4. Grafik Laporan Masyarakat yang ditangani Ombudsman RI terkait dengan Badan Pertanahan Nasional ... 41
Gambar 3.5. Jenis Pelayanan Pertanahan yang Dikeluhkan Masyarakat ... 41
Gambar 3.6. Kategori Lain-Lain Jenis Pelayanan Pertanahan yang Dikeluhkan Masyarakat .. 42
Gambar 3.7. IPAK Masyarakat yang Pernah Berurusan dengan BPN Tahun 2004 ... 45
Gambar 4.1. Model Road Map Reformasi Birokrasi ... 56
Gambar 4.2. Ringkasan Potensi Kekuatan, Peluang, Kelemahan dan Hambatan Dalam Peningkatan Pelayanan Pertanahan ... 59
Bab I
1.1. LATAR BELAKANG
Krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun 1997, pada tahun 1998 telah berkembang menjadi krisis multidimensi. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya tuntutan kuat dari segenap lapisan masyarakat terhadap pemerintah untuk segera diadakan reformasi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak itu, telah terjadi berbagai perubahan penting yang menjadi tonggak dimulainya era reformasi dibidang politik, hukum, ekonomi, dan birokrasi, yang dikenal sebagaireformasi gelombang pertama. Perubahan tersebut dilandasi oleh keinginan sebagian besar masyarakat untuk mewujudkan pemerintahan demokratisdan mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat yang didasarkan padanilai-nilai dasar sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Dalam perkembangan pelaksanaan reformasi gelombang pertama, reformasi di bidang birokrasi mengalami ketertinggalan dibanding reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum. Oleh karena itu, pada tahun 2004, pemerintah telah menegaskan kembali akan pentingnya penerapan prinsip-prinsip clean government dan good governance yang secara universaldiyakini menjadi prinsip yang diperlukan untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, program utama yang dilakukan pemerintah adalah membangun aparatur negara melalui penerapan reformasi birokrasi. Dengan demikian, reformasi birokrasi gelombang pertama pada dasarnya secara bertahap mulai dilaksanakan pada tahun 2004. Pada tahun 2011, seluruh kementerian dan lembaga (K/L) serta pemerintah daerah (Pemda) ditargetkan telah memiliki komitmen dalam melaksanakan proses reformasi birokrasi. Pada tahun 2014 secara bertahap dan berkelanjutan, K/L dan Pemerintah Daerah telah memiliki kekuatan untuk memulai proses tersebut, sehingga pada tahun 2025, birokrasi pemerintahan yang profesional dan berintegritas tinggi dapat diwujudkan.
1.1.1. Makna dan Tujuan Reformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi (RB) yang dilaksanakan Indonesia dimaknai sebagai perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan Indonesia dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Hal ini berkaitan dengan ribuan proses tumpang tindih antar fungsi-fungsi pemerintahan, melibatkan jutaan pegawai, dan memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Indonesia harus menata ulang proses birokrasi dari tingkat tertinggi hingga terendah dan melakukan terobosan baru dengan langkah-langkah bertahap, konkrit, realistis, sungguh-sungguh, berpikir di luar
BAB I
PENDAHULUAN
Reformasi Birokrasi (RB) yang dilaksanakan Indonesia dimaknai
sebagai perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola
pemerintahan Indonesia dalam menghadapi tantangan abad
ke-21.
kebiasaan yang ada, perubahan paradigma, dan dengan upaya luar biasa. Untuk itu, Indonesia juga merevisi dan membangun berbagai regulasi, memodernkan berbagai kebijakan dan praktik manajemen pemerintah pusat dan daerah, dan menyesuaikan tugas fungsi instansi pemerintah dengan paradigma dan peran baru. Adapun tujuan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan Indonesia adalah menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik, berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara (Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025).
Reformasi birokrasi telah diakomodasidalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025 yang menyatakan bahwa arah kebijakan dan strategi nasional bidang pembangunan aparatur dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk meningkatkan profesionalisme aparatur Negara dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Rancangan kebijakan dan strategi nasional tersebut dituangkan secara rinci dalam suatu grand design reformasi birokrasi sebagai arah kebijakan pelaksanaan RB nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Besarnya cakupan Reformasi Birokrasi hingga tahun 2025 maka dilakukan periodesasi tahapan dalam sasaran lima tahunan sesuai dengan periode RPJPN, dalam bentuk Road Map Lima Tahunan. Untuk itu, diterbitkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 20 Tahun 2010 tentang Roadmap RB 2010-2014. Secara teknis kedua kebijakan tersebut dilengkapi dengan berbagai pedoman yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 7 s.d 15 Tahun 2011.
1.1.2. Arah Kebijakan, Visi dan Misi Reformasi Birokrasi
Arah kebijakan reformasi birokrasi adalah:
1. Pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik, baik di pusat maupun di daerah agar mampu mendukung keberhasilan pembangunan di bidang lainnya (UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025);
2. Kebijakan pembangunan di bidang hukum dan aparatur diarahkan pada perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik melalui pemantapan pelaksanaan reformasi birokrasi (Perpres No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014).
Visi Reformasi Birokrasi adalah “Menjadi Pemerintah Kelas Dunia Tahun 2025”. Adapun misinya adalah:
1. Membentuk/menyempurnakan peraturan perundang-undangan dalam rangka melakukan penataan dan penguatan organisasi, tata laksana, manajemen sumber daya manusia aparatur, pengawasan, akuntabilitas, kualitas pelayanan publik, mind set dan culture set; 2. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik;
3. Mengembangkan mekanisme kontrol yang efektif;
Reformasi birokrasi terdiri dari 8 (delapan) area perubahan yang harus dilaksanakan oleh setiap Kementerian/Lembaga. Setiap area telah ditetapkan hasil yang diharapkan sebagaimana pada Tabel 1.1 berikut.
Tabel 1.1 Area Perubahan Reformasi Birokrasi
AREA PERUBAHAN HASIL YANG DIHARAPKAN
1. Organisasi Organisasi yang tepat fungsi dan tepat ukuran
2. Tatalaksana Sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur dan sesuai prinsip-prinsip good governance 3. Peraturan perundang-undangan Regulasi yang lebih tertib, tidak tumpang tindih dan kondusif 4. Sumber Daya Manusia Aparatur SDM aparatur yang berintegritas, netral, kompeten, capable,
profesional, berkinerja tinggi dan sejahtera
5. Pengawasan Meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bebas KKN 6. Akuntabilitas Meningkatnya kapasitas dan kapabilitas kinerja birokrasi 7. Pelayanan publik Pelayanan prima sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat 8. Mindset dan cultural set aparatur Birokrasi dengan integritas dan kinerja yang tinggi
Sumber: Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025
Bila melihat kepada Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 maka pelaksanaan reformasi birokrasi saat ini telah memasuki gelombang II. Gelombang pertama dimulai Tahun 2007-2010, reformasi birokrasi dilaksanakan oleh 3 (tiga) instansi percontohan yang dipilih, yakni Mahkamah Agung, Departemen Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan. Reformasi birokrasi gelombang kedua dilaksanakan oleh seluruh instansi pemerintah. Apabila reformasi birokrasi berhasil maka diharapkan:
1. Mengurangi dan akhirnya menghilangkan setiap penyalahgunaan kewenangan publik; 2. Menjadikan negara yang memiliki most-improved bureaucracy;
3. Meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat;
4. Meningkatkan mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan/program instansi; 5. Meningkatkan efisiensi (biaya dan waktu);
6. Menjadikan birokrasi Indonesia antisipatif, proaktif, dan efektif.
Adapun Badan Pertanahan Nasional termasuk melaksanakan reformasi birokrasi gelombang II, yang memulai reformasi birokrasi tahun 2010.
1.2. PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI DI KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BADAN PERTANAHAN NASIONAL
Reformasi Birokrasi dilaksanakan juga di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dengan mengacu kepada hal-hal yang telah disebutkan di atas. BPN RI sebelumnya merupakan lembaga non kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan mempunyai tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 dan Pasal 2 Perpres Nomor 10 Tahun 2006.Reformasi Birokrasi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) sebagaimana instansi pemerintah lainnya dimulai pada gelombang kedua
reformasi birokrasi di tahun 2010. Pada Maret Tahun 2010 berdasarkan Keputusan Kepala BPN RI Nomor: 96/KEP-100.3.43/III/2010 telah dibentuk Tim Kerja Reformasi Birokrasi (RB) BPN RI. Selanjutnya pada Tahun 2012 dalam rangka mempersiapkan Dokumen Usulan dan Road Map BPN RI 2010-2014, ditetapkan Tim RB BPN RI yang terdiri dari Tim Pengarah, Tim Pelaksana dan Tim Penilai Mandiri Pelaksanaan RB (Assesor). Untuk mendukung perubahan BPN RI ditetapkan Tim Manajemen Perubahan BPN RI, sesuai dengan Keputusan Kepala BPN RI No. 572/KEP-3.43/VIII/2013 tanggal 20 Agustus 2013 tentang Perubahan Keputusan Kepala BPN RI No. 99/KEP-3.43/II/2013 tanggal 18 Februari 2013 tentang Tim Manajemen Perubahan dalam Rangka Reformasi Birokrasi di Lingkungan BPN RI.
Dalam paper kebijakan ini difokuskan pembahasan pada satu area perubahan dari 8 (delapan) area perubahan dalam reformasi birokrasi, yakni pelayanan publik. Pemusatan bahasan dikarenakan banyaknya perhatian masyarakat dan stakeholders lainnya kepada pelayanan pertanahan yang dilaksanakan di Kantor Pertanahan Kota/Kabupaten seluruh Indonesia sebagai ujung tombak pelayanan pertanahan. Untuk itu, bahasan mengenai pelayanan pertanahan dianggap sangat strategis dalam rangka meningkatkan citra positif dan kepercayaan masyarakat terhadap Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Secara resmi, keikutsertaan BPN RI dalam proses Reformasi Birokrasi dimulai sejak tanggal 15 Januari 2013, ditandai dengan telah diserahkannya Dokumen Usulan dan Road Map BPN RI 2010-2014 kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, meliputi 9 program yang dijabarkan kedalam 27 kegiatan dan sekaligus menetapkan 2 (dua) program ”Quick Wins” BPN RI untuk tahun 2013-2014, yaitu Program Pelayanan Pengecekan Sertipikat Tanah dan Pelayanan Peralihan Hak Jual-Beli Atas Tanah. Pelayanan Quick Wins diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada BPN RI. Kementerian PAN dan RB telah melakukan Verifikasi Lapangan (Verlap) oleh Tim Verlap RB Nasional tanggal 21 Februari 2013.
Semenjak reformasi birokrasi digulirkan, bahkan jauh sebelumnya, Pelayanan Pertanahan selalu menjadi salah satu fokus perhatian dan terus ditingkatkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Beberapa upaya tersebut sebagaimana berikut: 1. Pencanangan pemakaian PIN RB untuk seluruh jajaran pegawai di lingkungan BPN RI
dengan Surat Keputusan (SK) Kepala BPN No.44/KEP-100.3.4/I/2013;
2. Sosialisasi dan internalisasi persamaan persepsi kegiatan RB melalui “Buku Saku Reformasi Birokrasi”;
3. Mengembangkan Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP);
4. Penataan arsip pertanahan (peta, buku tanah, surat ukur, warkah) dalam manajemen arsip modern;
5. Penetapan standard pengaturan dan pelayanan pertanahan; 6. Standard Operating Procedure (SOP) dalam setiap kegiatan; 7. Standarisasi/penyiapan loket pelayanan dan pengaduan masyarakat; 8. Peningkatan kemampuan dan keterampilan SDM;
9. Penetapan Kode Etik Pelayan Publik dan Penyelenggara Pelayanan Publik di Lingkungan BPN RI;
10. Pelimpahan Kewenangan Pemberian Hak Atas Tanah dan Kegiatan Pendaftaran Tanah untuk peningkatan pelayanan pertanahan;
11. Pelayanan Informasi Publik di Lingkungan BPN RI; 12. Penanganan Pengaduan Masyarakat;
13. Inovasi-inovasi dalam rangka percepatan pelayanan di Kantor Pertanahan, antara lain: layanan berkas permohonan melalui SMS, Cekplot Peta, optimalisasi LARASITA, dan banyak lagi inovasi yang sudah dilakukan dan terus dikembangkan;
14. Pembentukan Satuan Tugas Agen Perubahan (Agent Of Changes) di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi;
15. Pelaksanaan “Quick Wins Service” pada beberapa jenis pelayanan pertanahan.
Begitu banyak yang sudah dilakukan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dalam upaya meningkatkan pelayanan pertanahan. Berbagai inovasi pelayanan pertanahan bahkan sudah dilakukan. Namun kenyataannya, penilaian terhadap pelayanan pertanahan dari para stakeholder, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, Ombudsman Republik Indonesia, Badan Pusat Statistik, hingga hasil temuan internal Kementerian Agrarian dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional yang dilakukan Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB), Inspektorat Utama Wilayah IV dan Survei Indeks Kepuasan Masyarakat yang dilaksanakan Pusat Penelitian dan Pengembangan belum memberikan hasil yang baik. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, baik internal maupun eksternal serta rekomendasinya maka paper kebijakan ini berusaha mengkaji alternatif kebijakan yang dapat ditempuh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan pertanahan sehingga dapat terwujud pelayanan prima sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.
1.3. TUJUAN
Pelaksanaan penyusunan Paper Kebijakan (Pelayanan Pertanahan) memiliki tujuan untuk: 1. Menguraikan hasil capaian Reformasi Birokrasi pelayanan pertanahan dan permasalahannya
berdasarkan stakeholders;
2. Menyusun rekomendasi terkait dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan pertanahan.
1.4. PENDEKATAN
Penyusunan paper kebijakan ini menggunakan pendekatan desk study, dengan dilengkapi data primer hasil pengukuran oleh stakeholders, khususnya tentang pelayanan pertanahan baik yang bersifat teknis pelaksanaan maupun tataran kebijakan.
2
Bab II
Inovasi Dalam Pelayanan
BAB II
INOVASI DALAM PELAYANAN
PERTANAHAN
Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP) ini dilakukan dalam
rangka perubahan pola pelayanan kepada masyarakat, dari
pelayanan yang bersifat manual menjadi pelayanan yang
berbasis komputerisasi.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah melakukan upaya untuk meningkatkan pelayanan dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pertanahan. Beberapa capaian dalam reformasi birokrasi pelayanan pertanahan yang juga terpublikasikan melalui website Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, antara lain:
1. Tersusunnya Standar Pelayanan dan Pengaturan Pertanahan sesuai Peraturan Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2010;
2. Tersusunnya Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi Badan Pengelolaan dan Pembiayaan Reforma Agraria Nasional sesuai Peraturan Kepala BPN Nomor 6 Tahun 2007;
3. Terselenggaranya Sistem Loket Pelayanan, Loket Pengaduan, Kotak Saran, Kartu Antrian, Media Informasi Layanan Digital, dan Sistem Poling Kepuasan Pelayanan;
4. Terbitnya Surat Edaran Sekretaris Utama BPN RI perihal Pelaksanaan Reformasi Birokrasi berkaitan dengan pelaksanaan Quick Wins BPN RI No.609/3.41-100/II/2013 tanggal 20 Februari 2013 kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi di seluruh Indonesia. (sebagai tindaklanjut Surat sebelumnya No.460/3.41-100/II/2013 tanggal 12 Pebruari 2013 tentang Tindak Lanjut Quick Wins Reformasi Birokrasi). Quick wins meliputi kegiatan pengecekan sertipikat hak atas tanah dan peralihan hak atas tanah karena jual beli; 5. Pelaksanaan One Day Service, dan Week End Service;
6. Terbitnya Surat Edaran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional No. 13/SE/VII/2015 tentang “Layanan 70-70” Pelayanan Pertanahan 70 Th Indonesia Merdeka. Bahkan terdapat berbagai inovasi yang dikembangkan kantor pertanahan kota/kabupaten dalam melaksanakan pelayanan pertanahan meskipun inovasi tersebut hanya berada pada wilayah Kantor Pertanahan setempat sesuai dengan pengembangan inovasi. Inovasi dalam pelayanan pertanahan yang telah dikembangkan sebagaimana termuat dalam website Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional sebagai berikut.
2.1 INOVASI PELAYANAN PERTANAHAN NASIONAL
2.1.1. Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP)
Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP) ini dilakukan dalam rangka perubahan pola pelayanan kepada masyarakat, dari pelayanan yang bersifat manual menjadi pelayanan yang berbasis
komputerisasi. Komputerisasi layanan pertanahan ini sudah dimulai sejak tahun 1997, dahulu dikenal Land Office Computerization (LOC) dengan tujuan untuk menciptakan tertib administrasi pertanahan, meningkatkan dan mempercepat pelayanan dibidang pertanahan, meningkatkan kualitas informasi pertanahan, mempermudah pemeliharaan data pertanahan, menghemat space/storage untuk penyimpanan data-data pertanahan dalam bentuk digital (paperless), meningkatkan kemampuan SDM pertanahan dibidang teknologi informatika/ komputer, melakukan standarisasi data dan sistem informasi dalam rangka mempermudah pertukaran informasi pertanahan serta menciptakan suatu sistem informasi pertanahan yang handal. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilaksanakan 6 kegiatan utama yang meliputi instalasi perangkat keras, perangkat lunak sistem operasi dan aplikasi serta jaringan (Local Area Network), pelatihan bagi sistem administrator, operator, manajemen dan kepala kantor selaku pimpinan tertinggi, sosialisasi bagi kepala kantor dan staf pelaksana, pendampingan pada masa implementasi, konversi data tekstual dan spasial dari bentuk hardcopy menjadi digital, dukungan terhadap permasalahan sistem maupun aplikasi dari BPN Pusat.
Komputerisasi layanan pertanahan dilaksanakan secara bertahap, dimulai tahun 1997 yang diimplementasikan di 12 Kantor Pertanahan pada 8 provinsi. Tahap ini menitik beratkan pada data tekstual dengan sistem yang berdiri sendiri untuk setiap kantor pertanahan tanpa ada jaringan antar kantor pertanahan, serta mulai dibentuk Workgroup for Transfer Technology (WGTT) sebagai wadah alih teknologi kepada jajaran BPN RI. Ekspansi Komputerisasi Kantor Pertanahan dimulai sejak tahun 2002, dengan bertambahnya jumlah Kantor Pertanahan yang mengimplementasikannya dan dimulainya penggunaan basisdata spasial, walaupun masih terpisah dengan basisdata tekstual serta mulai dilakukan konversi data spasial. Tahun 2006 dilaksanakan digitalisasi peta pendaftaran di Provinsi DKI Jakarta yang mencakup 70% bidang tanah terdaftar, dicetuskannya LARASITA dan hingga tahun 2009 komputerisasi kantor pertanahan sudah mencakup 274 Kantor Pertanahan.
Pada tahun 2010, dimulai perombakan atas sistem, aplikasi dan basisdata, diadopsinya Land Administration Domain Model (LADM, ISO-19152) sebagai struktur inti basisdata, penggunaan arsitektur aplikasi N-Tier, antarmuka pengguna berbasis web, basisdata terpusat di Kantor Pusat BPN RI, perawatan dan pemeliharaan aplikasi dilakukan secara mandiri dan satu
TRANSFER TEKNOLOGI
SOSIALISASI
Internal External
Pamphlets, Bulletins, WEB
Sosialisasi di DKI
(Data Entry, Penyederhanaan)
INFRASTRUKTUR
Servers & WS Peripherals Network & Communications
System Software Database Development Tools
PEMB. APLIKASI
Aplikasi Pemetaan Aplikasi Data Entry Penyempurnaan pelayanan
BPN Portal, KIOSK, SMS Executive Information System
Interface Module for LIS Stand Alone System (SAS)
KONVERSI DATA Konversi Data Data BT, GU, SU Peta Digital 1:1000 Raster Map Vector Map PELATIHAN User Training Administration Training WGTT Training Approv. 1.800 courses CBT Courses Untuk Aplikasi 2B
IMPLEMENTASI
Application Installation Project Management Technical Suport
Quality Control LINGKUP KEGIATAN
Gambar 2.2 Alur Infrastruktur Komunikasi
Gambar 2.3 Aliran Data Digital dan Kondisi Basis Data
basisdata untuk data tekstual dan spasial. Sampai tahun 2010 sudah dilakukan implementasi Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP) di 430 Kantor Pertanahan dengan pembiayaan melalui APBN. Dengan dilaksanakannya KKP maka telah terjadi transformasi layanan publik bidang pertanahan di Kantor Pertanahan, tidak ada lagi pelayanan permohonan sertipikat hak atas tanah secara manual, proses permohonan sertipikat hak atas tanah dapat dimonitoring melalui komputer, proses permohonan sertipikat hak atas tanah dapat dilakukan secara tertib dan berurutan (first in first out), terbentuknya database pertanahan yang selalu up to date dan dapat digunakan dalam kegiatan pelayanan informasi pertanahan. Seiring dengan implementasi KKP di berbagai Kantor Pertanahan seluruh Indonesia, dibangun pula database pertanahan melalui kegiatan konversi atau digitalisasi data pertanahan, baik data tekstual (Buku Tanah) maupun data spasial (Surat Ukur dan Peta Pendaftaran Tanah). Sampai dengan medio Agustus 2013 telah tersedia database 32 juta bidang tanah (71%) dari total 45 juta bidang tanah tardaftar/bersertipikat yang tersebar di 430 Kabupaten/kota dan 33 Provinsi.
Pembangunan komputerisasi layanan pertanahan telah memberikan manfaat tidak hanya bagi Badan Pertanahan Nasional RI, tapi informasi yang dihasilkan juga bermanfaat bagi institusi pemerintah lainnya maupun bagi masyarakat dan kalangan swasta. Implementasi Komputerisasi Kantor Pertanahan telah menjadi titik awal bagi terwujudnya inovasi layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, diantaranya SMS Informasi Pertanahan, layanan jemput bola LARASITA, informasi berkas online, monitoring beban kerja secara online, monitoring capaian kinerja secara online serta berbagai inovasi lainnya.
2.1.2. LARASITA
LARASITA merupakan layanan pertanahan bergerak (mobile land service) yang bersifat pro aktif atau “jemput bola” ke tengah-tengah masyarakat. Kehadiran Larasita didasarkan keinginan untuk membuka diri dan berinteraksi dengan masyarakat dengan kesadaran bahwa tugas-tugas layanan pertanahan tidak akan bisa diselesaikan dengan hanya dari balik meja kantor. LARASITA didesain bukan hanya untuk memberikan layanan administratif pertanahan, tetapi juga melakukan penyiapan masyarakat dalam pelaksanaan reforma agraria, mendampingi dan memberdayakan masyarakat dalam konteks pertanahan, melakukan pendeteksian awal atas tanah-tanah terlantar, melakukan pendeteksian awal atas tanah-tanah yang diindikasikan bermasalah, memfasilitasi penyelesaian tanah bermasalah yang mungkin diselesaikan di lapangan, menyambungkan program Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat dan meningkatkan dan mempercepat legalisasi aset tanah masyarakat. Sebuah interface yang bukan sekedar memungkinkan, tetapi harusbisa menyentuh masyarakat tidak hanya dengan regulasi, tetapi benar-benar bersentuhan secara fisik untuk kemudian secara psikis bisa mengerti tentang apa yang dibutuhkan, dipikirkan dan dirasakan rakyat. Secara praktis, LARASITA diarahkan sebagai interface yang dapat melaksanakan pola pengelolaan pertanahan secara aktif.
Pada dasarnya, LARASITA menjalankan tugas dan fungsinya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada Kantor Pertanahan. Meskipun begitu, pengamatan pada Kantor Pertanahan yang dijadikan kantor percontohan menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap layanan-layanan pertanahan melalui LARASITA secara signifikan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tingkat antusiasme masyarakat terhadap layanan pertanahan melalui Kantor Pertanahan. Pada penelitian lanjutan atas fenomena itu, kemudian diketahui bahwa masyarakat khususnya pedesaan mengalami kesenjangan formalitas yang cukup lebar terhadap layanan pertanahan yang selama ini diselenggarakan di Kantor Pertanahan, dimana kesenjangan itu kemudian diperlebar oleh para perantara yang selalu berdiri diantara Kantor Pertanahan dan masyarakat. Keberadaan para perantara tersebut, selain mempertajam kesenjangan formalitas antara masyarakat dan Kantor Pertanahan, pada prakteknya juga seringkali melakukan pembiasan informasi yang pada akhirnya merugikan masyarakat, baik karena pembiasan informasi tentang persyaratan, biaya maupun tentang waktu penyelesaian layanan pertanahan.
Selain itu, jarak geografis juga menjadi kendala. Kesulitan transportasi menuju Kantor Pertanahan, seringkali mampu menggagalkan niat seseorang untuk mendapatkan layanan pertanahan. Seperti diketahui, tingkat kepemilikan mobil atau motor pribadi pada masyarakat yang tinggal di pedesaan adalah relatif rendah. Kesulitan ini dilipat gandakan dengan sangat sedikitnya transportasi umum yang cukup nyaman bagi seseorang untuk bepergian dengan membawa dokumen-dokumen penting tentang kepemilikan tanahnya. Hal inilah yang diindikasikan menjadi faktor utama rendahnya intensitas arus informasi yang benar kepada masyarakat pedesaan, yang pada akumulasinya menghentikan arus komunikasi antara Kantor Pertanahan (sebagai representasi BPN RI) dan masyarakat. Tepat pada titik permasalahan itu pula, LARASITA diajukan sebagai solusi.
Dengan kondisi komunikasi yang kondusif, akan mudah bagi petugas untuk memberikan pengetahuan-pengetahuan tentang Reforma Agraria untuk proses penyiapan masyarakat dalam pelaksanaannya, mendampingi dan memberdayakan masyarakat melalui aset-aset pertanahan, melaksanakan secara lebih dini pengawasan dan pengendalian penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah serta melaksanakan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang diindikasikan terlantar, melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan sinkronisasi dan penyampaian informasi penatagunaan tanah dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kabupaten/kota, memfasilitasi dan mendekatkan akses-akses penciptaan sumber-sumber ekonomi baru dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi masalah, sengketa atau perkara pertanahan secara dini serta memfasilitasi upaya penanganannya, melakukan sosialisasi dan berinteraksi untuk menyampaikan informasi pertanahan dan program-program pertanahan lainnya, menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan program Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, melaksanakan kegiatan legalisasi aset dan melaksanakan tugas-tugas pertanahan lain.
Secara praktis, kegiatan yang dilaksanakan oleh LARASITA sudah menegaskan perbedaannya dengan loket Kantor Pertanahan. Kemampuannya menyentuh dimensi sosial dari pengelolaan pertanahan pada prosesnya akan memberikan kesempatan lebih besar untuk melakukan tugas-tugas pengelolaan pertanahan, dimana seringkali tugas-tugas-tugas-tugas tersebut tidak mampu dijangkau oleh interface Loket Kantor Pertanahan karena formalitasnya. Dengan kemampuannya itu pula, LARASITA diharapkan mampu menjembatani BPN RI dengan masyarakat pemangku kepentingan pertanahan, yaitu masyarakat yang mempergunakan tanah sebagai basis sumberdaya untuk penghidupannya.
mampu menutup rata jurang formalitas sekaligus jarak geografis berikut jarak psikologis yang sudah lama terbentang diantara Kantor Pertanahan dan masyarakat. Pada kunjungan-kun jungan LARASITA, akan mudah didapati perbincangan akrab antara petugas dan masyarakat. Fakta bahwa masyarakat sedang berada di lingkungan desanya sendiri, berpengaruh besar terhadap sehatnya komunikasi, dimana ketika pertemuan dilakukan di Kantor Pertanahan, terlihat bahwa komunikasi yang terbangun seolah-olah vertikal, dengan menempatkan petugas di sisi atas. Dalam komunikasi yang sehat tersebut, informasi-informasi pertanahan baik dari petugas maupun dari masyarakat akan mengalir lancar.
Pelaksanaan Larasita telah memberikan manfaat baik bagi masyarakat maupun internal BPN RI. Bagi masyarakat, pelaksanaan Larasita yang telah berjalan mewujudkan kemudahan akses untuk memperoleh informasi, pengurusan sertipikat, penyelesaian masalah/sengketa pertanahan karena Kantor Pertanahan Bergerak berada di dekat mereka; biaya akses ke Kantor Pertanahan semakin kecil bahkan tidak diperlukan; pengurusan sertipikasi tanah menjadi lebih murah karena tidak perlu membayar jasa calo/perantara; Pengurusan sertipikasi tanah menjadi lebih mudah karena tidak perlu beberapa kali datang ke Kantor Pertanahan. Bagi BPN RI, hal ini berdampak positif karena terjadi transformasi budaya pelayanan dan budaya kerja dari manual ke komputerisasi, adanya peningkatan kualitas SDM dan infrastruktur di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, adanya peningkatan transparansi pelayanan dan terbangunnya database pertanahan.
2.1.3. One Day Service
Satu lagi bentuk inovasi layanan pertanahan, yaitu One Day Service. Ini merupakan layanan satu hari selesai dibidang pertanahan yang dilaksanakan pada Loket Pelayanan Kantor Pertanahan maupun mobil LARASITA. Layanan ini dilaksanakan untuk jenis pelayanan yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu 1 hari (1-8 jam) yang dilaksanakan pada hari kerja. Tujuan dilaksanakannya One Day Service adalah untuk mempermudah pelayanan di bidang pertanahan, mempersingkat alur birokrasi pelayanan di bidang pertanahan, mewujudkan harapan masyarakat pengguna layanan dibidang pertanahan serta mewujudkan komitmen BPN RI memberikan pelayanan yang cepat dan cermat. Dengan upaya ini diharapkan mampu memangkas peran para calo yang menyebabkan “biaya tinggi” dalam pengurusan layanan pertanahan.
Dalam pelaksanaannya, Kantor Pertanahan menyediakan loket khusus One Day Service dan setiap berkas permohonan diberikan tanda khusus (stempel One Day Service). One Day Service LARASITA dilaksanakan oleh Tim LARASITA pada lokasi tertentu sesuai jadwal penugasan tim yang telah ditetapkan dan diinformasikan kepada masyarakat. One Day Service telah dilaksanakan di banyak Kantor Pertanahan antara lain Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Serang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kubu Raya, Kota Padang, Kota Makasar dan Kantor Pertanahan lainnya. Penyelenggaraan layanan ini ada yang sehari pada hari tertentu hingga kantor pertanahan yang sudah melaksanakannya setiap hari kerja. Istilah yang digunakan pun beragam, seperti “busari” untuk rabu satu hari yang biasanya menunjukkan kepada hari pelaksanaan “one day service”.
One Day Service dilaksanakan untuk beberapa jenis layanan pertanahan tertentu. Jenis layanan pertanahan dalam One Day Service di setiap Kantor Pertanahan dilaksanakan berdasarkan ketersediaan data pertanahan, sumber daya manusia serta infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia. Beberapa layanan pertanahan dalam One Day Service antara lain:
1. Pengecekan Sertipikat;
3. Pendaftaran Hak Milik Berdasarkan Surat Keputusan; 4. Peningkatan Hak / Perubahan Hak;
5. Peralihan Hak;
6. Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT); 7. Perpanjangan Hak Tanpa Ganti Blanko; 8. Pencatatan Sita;
9. Pencatatan Blokir. 2.1.4. Quick Wins Service
Satu bentuk inovasi layanan pertanahan yang dilaksanakan kantor Pertanahan adalah “Quick Wins Service” atau Layanan Cepat. Quick Wins Service merupakan layanan pertanahan yang ditujukan agar layanan dapat diselesaikan lebih cepat dari standar waktu yang telah ditentukan, misal layanan 1-5 hari kerja dapat diselesaikan dalam waktu 2-8 jam sehingga dapat ditunggu oleh pemohon layanan. Tujuan dilaksanakannya Quick Wins Service adalah untuk percepatan layanan pertanahan tertentu serta membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk datang sendiri ke Kantor Pertanahan, sehingga diharapkan mampu memangkas peran para calo yang menyebabkan “biaya tinggi” dalam pengurusan layanan pertanahan.
Pada Quick Wins Service dengan percepatan layanan namun masyarakat tidak dikenai biaya tambahan. Biaya sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. Beberapa layanan yang sudah dapat diberikan melalui layanan Quick Wins Service antara lain roya, peningkatan dari HGB menjadi HM, pemberian Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) dan pengecekan sertipikat.
Gambar 2.5 Layanan Quick Wins Service
2.1.5. Weekend Service
Program Layanan Akhir Pekan atau “Weekend Service” merupakan salah satu inovasi di bidang layanan pertanahan. Pada layanan ini, kantor pertanahan membuka pelayanan di luar hari kerja yaitu pada akhir pekan atau Hari Sabtu. Weekend Service dimaksudkan untuk percepatan layanan pertanahan tertentu serta membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu pada hari kerja. Dengan upaya ini diharapkan mampu memangkas peran para calo atau perantara yang sering menyebabkan “biaya tinggi” dalam pengurusan layanan pertanahan.
Layanan pertanahan yang diberikan dalam Weekend Service dibatasi pada jenis layanan tertentu yang kewenangannya ada pada Kantor Pertanahan yang bersangkutan.
Kantor Pertanahan Kota Tangerang telah menerapkan layanan “Weekend Service” sejak april 2013 dengan jenis layanan Pengecekan Sertipikat Hak Atas Tanah, Pemberian Hak Milik atas Tanah untuk Rumah Tinggal, Surat Keterangan Pendaftaran Tanah, Pendaftaran Blokir dan Hapusnya Hak Tanggungan (Roya). Waktu pelayanan pendaftaran pada jam 09.00 – 12.00 WIB dan penyerahan produk dilakukan pada jam 13.00 - 15.00 WIB. Kantor Pertanahan Surabaya II menyelenggarakan Weekend Service dengan istilah “Saturday open” pada jam 08.00 – 12.00 WIB untuk jenis layanan penghapusan Hak Tanggungan (Roya), perubahan HGB menjadi HM untuk luas tertentu, Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) serta pengecekan sertipikat. Untuk pelayanan ini dilakukan pengaturan tim pelaksana secara bergiliran serta disediakan Loket Khusus yang memudahkan masyarakat/pemohon layanan.
Dengan biaya yang sama dengan pelayanan di hari biasa serta selesai dalam hari yang sama (bisa ditunggu), layanan ini dimaksudkan agar masyarakat mendapat waktu lebih banyak untuk mendapatkan pelayanan. Selanjutnya masyarakat terdorong untuk melakukan pengurusan administrasi pertanahan secara langsung tanpa perantara, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang lebih cepat dan lebih baik, mendorong peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta mendukung terwujudnya reformasi birokrasi di BPN RI.
2.1.6. Website
Media informasi online lainnya adalah website resmi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional, www.bpn.go.id. Melalui website ini disediakan berbagai fitur serta informasi terkait dengan tugas pokok dan fungsi BPN RI. Terkait dengan layanan pertanahan, tersedia 2 fitur layanan informasi yaitu informasi tentang jenis layanan pertanahan beserta persyaratan, jangka waktu, alur proses penyelesaiannya dan informasi biaya layanan beserta simulasinya, serta informasi tentang berkas permohonan.
1. Informasi syarat, waktu, proses dan biaya layanan
Informasi ini menjelaskan tentang berbagai jenis layanan pertanahan yang dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan di seluruh Indonesia, yang meliputi layanan pendaftaran tanah pertama kali (sertipikasi tanah hak milik adat/tanah negara), pemeliharaan data pendaftaran tanah (perubahan subyek/pemegang hak maupun obyek hak atas tanah), pencatatan dan informasi pertanahan, pengukuran bidang tanah serta layanan pengaturan dan penataan pertanahan. Pada fitur ini dapat diperoleh informasi mengenai persyaratan, jangka waktu serta alur proses dari setiap layanan serta dapat menghitung biaya layanan melalui simulasi biaya.
2. Informasi berkas permohonan
Layanan ini merupakan salah satu wujud komitmen BPN RI menyelenggarakan layanan publik yang transparan dan akuntabel serta menyediakan sistem layanan publik yang dapat diakses dengan mudah, bebas biaya dan cepat. Melalui fasilitas ini masyarakat dapat memperoleh informasi status penyelesaian berkasnya. Untuk melakukan pencarian berkas, pemilik berkas harus mengisi form yang tersedia dengan benar dan memiliki nomor
Informasi yang bisa diperoleh adalah Informasi tanggal masuk berkas, jenis kegiatan, tanggal update berkas terakhir, status permohonan (Selesai/Masih dalam Proses), nama pemilik, serta nama dan alamat penerima berkas. Dengan pelayanan ini masyarakat diharapkan dapat mendapat kemudahan dalam mendapatkan informasi status berkas permohonannya cepat, mudah diakses tanpa mengabaikan akurasi dan keamanan data.
2.1.7. SMS Informasi Pertanahan “2409”
Layanan Informasi Mobile dalam bentuk Layanan SMS Informasi Pertanahan dengan kode akses “2409” merupakan salah satu bentuk inovasi layanan yang yang menunjukkan komitmen BPN untuk terus mencari bentuk-bentuk perbaikan mutu pelayanan. Inovasi ini akan memudahkan masyarakat yang sedang berurusan dengan Kantor Pertanahan untuk mengetahui perkembangan urusannya tanpa harus datang ke Kantor Pertanahan, begitu pula masyarakat dapat dengan mudahnya memperoleh informasi biaya layanan serta menyampaikan pengaduan tentang layanan pertanahan. Dengan demikian masyarakat tidak perlu kehilangan waktu dan biaya yang banyak. Layanan ini dapat diakses dari manapun dan tersedia selama 24 jam. Layanan ini disajikan dengan biaya yang relatif murah, hanya Rp. 350 untuk setiap SMS, yang dibebankan langsung ke pulsa pengirim SMS dan berlaku sama untuk semua jenis penyedia layanan telekomunikasi. Layanan ini pun menggunakan kode akses yang singkat dan mudah diingat yakni “2409”, merupakan penyatuan berbagai layanan SMS Pertanahan yang ada telah ada di masing-masing Kantor Pertanahan dengan nomor akses yang berbeda-beda. Angka “2409” merepresentasikan tanggal dan bulan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) yakni 24 September 1960. SMS Informasi Pertanahan “2409” merupakan wujud nyata dari BPN baru dengan semboyan pelayanan pertanahan yang cepat, murah, sederhana, pasti dan tidak KKN.
Untuk memperoleh informasi melalui SMS “2409”, cukup mengirimkan SMS ke nomor khusus 2409 dengan mengetikkan kata kunci sesuai dengan format yang disediakan maka informasi yang diinginkan akan segera diperoleh dengan mudah, cepat dan murah.
PIN yang diberikan oleh Kantor Pertanahan untuk setiap berkas permohonan. Nomor PIN ini dapat dilihat pada kuitansi pembayaran berkas permohonan yang diberikan kepada pemohon dan tercetak di bawah barcode.
2.1.8. Penggunaan CORS Untuk Pengukuran
Kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia salah satunya bertujuan untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah yang dinyatakan dalam bentuk sertipikat. Dalam kegiatan pendaftaran tanah dilakukan pengukuran batas-batas bidang tanah dengan mengacu pada titik-titik dasar teknik yang dinyatakan dalam bentuk pilar orde 2, 3, dan 4 yang diselenggarakan oleh BPN-RI (Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia). Jumlah titik dasar yang seharusnya dibangun di Indonesia mencapai jutaan sedangkan pada kenyataannya jumlah dan sebaran titik dasar yang ada belum merata dan menjangkau seluruh wilayah. Keterbatasan jumlah titik dasar ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor biaya pengadaan titik dasar yang tidak murah dan selanjutnya mempengaruhi waktu yang diperlukan BPN untuk melakukan sertifikasi seluruh bidang tanah di Indonesia. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah titik dasar dan mendukung percepatan sertifikasi bidang tanah, diusulkan sistem GPS CORS (Global Positioning System Continuously Operating Reference Stations) yang berwujud sebagai titik kerangka referensi yang dipasangi receiver GPS dan beroperasi secara kontinyu selama dua puluh empat jam. Dalam penelitian ini dilakukan kajian dan analisis mengenai pemanfaatan sistem GPS CORS dalam rangka pengukuran bidang tanah secara ekonomis dan efisien. Dalam pemanfaatan sistem GPS CORS ini, BPN harus mempersiapkan hal-hal terkait seperti pengembangan sumber daya manusia dan struktur organisasi di dalam BPN agar sistem GPS CORS dapat dimanfaatkan dalam pengukuran bidang tanah.
Gambar 2.7 Perangkat CORS
CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinyu selama 24 jam perhari, 7 hari per minggu dengan mengumpukan, merekam, mengirim data, dan memungkinkan para pengguna (users) memanfaatkan data dalam penentuan posisi, baik secara post processing maupun secara real time (sumber: Gudelines for New and Existing CORS). Jaringan Referensi Satelit Pertanahan (JRSP) merupakan sebuah sistem jaringan stasiun referensi yang bekerja secara kontinu selama 24 jam nonstop. JRSP merupakan pengembangan teknologi Continuously Operating Reference Station (CORS) atau
teknologi untuk menentukan posisi secara global menggunakan system satellite positioning. Global Navigation Satellite System (GNSS) dapat disebut sebagai sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. GNSS didesain untuk memberikan informasi waktu dan posisi secara kontinu di seluruh dunia. GNSS merupakan metode pengukuran ekstra-terestris, yaitu penentuan posisi yang dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pengukuran terhadap satelit atau benda angkasa lainnya.
2.1.9. Layanan Monitoring Online
Monitoring online adalah pemantauan proses pelaksanaan layanan pertanahan serta pelaksanaan program kerja/kegiatan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, sebagai pengembangan dan terobosan dari sistem monitoring manual yang telah dimiliki BPN RI. Melalui sistem ini, monitoring perkembangan proses layanan pertanahan, kinerja kantor, kemajuan pelaksanaan program/kegiatan serta pelaporannya dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dan efektif. Dengan data yang disajikannya, sistem ini dapat pula memberikan feedback untuk peningkatan kinerja maupun pendukung pengambilan suatu keputusan/kebijakan, disamping terwujudnya pelaporan secara cepat dan paperless. Manfaat lainnya yang didapat dengan system ini antara lain :
1. Merupakan wahana peran serta penerima manfaat program atau kegiatan yang sangat efektif;
2. Meningkatkan efektifitas pembinaan, melalui sebuah kerangka hubungan yang jelas antara yang telah dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan dan masukan-masukan yang ada serta harapan ke depan;
3. Menjadi sarana untuk mengetahui tingkat keberhasian bimbingan/pembinaan yang telah dilaksanakan, apakah berjalan lancar sebagaimana mestinya, mengalami perkembangan, berhasil, efektif dan efisien atau dapat ditingkatkan dimasa yang akan datang.
Monitoring online ini mencakup beberapa kegiatan, antara lain monitoring layanan pertanahan, monitoring pelaksanaan Program/Kegiatan APBN, monitoring pelaksanaan LARASITA serta monitoring penanganan kasus pertanahan.
Pertama, monitoring layanan pertanahan dilaksanakan dengan memanfaatkan fitur yang
tersedia pada aplikasi Komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP). Melalui sistem ini pimpinan di Kantor Pertanahan, Kantor Wilayah BPN Propinsi maupun Kantor Pusat BPN RI dapat memonitor pelaksanaan pelayanan pertanahan, baik pelayanan rutin, pelaksanaan APBN maupun LARASITA serta kinerja pelayanan, dapat mengetahui informasi dokumen pertanahan (Buku Tanah, Surat Ukur, Persil, Gambar Ukur) serta kualitas data pertanahan, baik data tekstual tentang subyek, obyek dan asal-usul perolehan hak maupun data spasial tentang letak, luas dan bentuk obyek hak serta peta pendaftaran. Dengan tersedianya sistem ini, pimpinan dapat melakukan monitoring kapan saja dan dari mana saja, any time any where, tiada batasan waktu maupun jarak, sehingga bisa lebih cepat, efektif dan efisien.
Kedua, monitoring pelaksanaan program/kegiatan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) dilaksanakan menggunakan aplikasi “SKMPP” (Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan). SKMPP dibangun untuk mendorong peningkatan mutu kinerja
pelaksanaan program-program pertanahan secara konsisten. SKMPP menjadi tools utama dalam sistem pengendalian mutu kinerja program-program pertanahan baik dalam perspektif internal dan eksternal yang menjadi bagian integral dari sistem manajemen di lingkungan BPN RI. SKMPP disusun secara komprehensif dengan memperhatikan input, proses, output maupun outcome serta dalam 4 (empat) perspektif yaitu perspektif pemangku kepentingan, keuangan, internal kegiatan maupun kapasitas sumber daya manusia dan organisasi, menyajikan data capaian yang aktual terkait capaian hasil terhadap target yang telah ditetapkan. Prinsip penyusunan SKMPP disesuaikan dengan langkah proses pengendalian manajemen organisasi sektor publik. SKMPP diperlukan untuk memonitor dan mengevaluasi secara periodik mutu kinerja program pertanahan secara keseluruhan pada 33 Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia secara lebih efektif, efisien dan komprehensif. Dengan demikian dapat diperoleh otomatisasi pelaporan yang sekaligus memberikan feedback dari waktu ke waktu untuk meningkatkan mutu pelaksanaan program-program pertanahan.
Gambar 2.8 Alur Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP)
Desain Pengukuran Kinerja berbasis Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP) dimulai dengan menguraikan penentuan perspektif, program/kegiatan yang akan diukur kinerjanya, sasaran-sasaran strategik yang akan dicapai sampai dengan penentuan indikator-indikator ukuran Kinerja setiap Perspektif. Data yang direkam oleh SKMPP menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System) bagi pengambilan keputusan (decision making). Informasi tersebut berguna pula sebagai bahan bagi pertanggungjawaban publik serta bahan perencanaan, pembinaan, pemantauan, evaluasi dan pengendalian terhadap pelaksanaan program pertanahan dan kinerja.
Data yang dikumpulkan di dalam SKMPP digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk keperluan internal maupun eksternal, antara lain:
1. Menjadi support system terhadap pengendalian kegiatan-kegiatan prioritas BPN RI yang dipantau oleh UKP4;
2. Menjadi Scorecard bagi Pengukuran Kinerja Program Kegiatan yang ada di BPN RI; 3. Menjadi support system bagi pengendalian pelaksanaan kegiatan Penertiban Tanah
Terindikasi Terlantar;
4. Menjadi Alat Analisis Internal bagi Tingkat Kesesuaian Subyek-Obyek Kegiatan Program dan Analisis Kepuasan Pegawai BPN RI;
5. Menjadi Alat Analisis Hambatan, Kendala dan Masalah dalam pelaksanaan Kegiatan Program yang ada di BPN RI;
6. Menjadi alat untuk Analisis Customer Satisfaction (Kepuasan Stakeholder).
Ketiga, monitoring pelaksanaan LARASITA merupakan suatu aplikasi pelaporan online
pelaksanaan kegiatan oleh Tim LARASITA di setiap Kantor Pertanahan. Melalui aplikasi ini, setiap Tim LARASITA yang baru saja selesai melaksanakan kegiatan kunjungan ke lokasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dapat melaporkan semua aktifitas yang dilaksanakannya beserta dokumen pendukungnya untuk divalidasi oleh tim Kanwil BPN Propinsi. Dengan sistem berbasis web ini maka pelaporan kegiatan LARASITA dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dan cepat, pimpinan di Kanwil BPN Propinsi maupun BPN RI Pusat dapat dengan mudah mengetahui kinerja pelaksanaan LARASITA setiap Kantor Pertanahan, kapan saja dan dimana saja berada. Dengan demikian pimpinan memiliki data yang akurat dalam pengambilan keputusan/kebijakan terkait pelaksanaan LARASITA. Sistem ini merupakan terobosan untuk percepatan pelaporan LARASITA, mengingat pelaporan secara manual membutuhkan waktu dan mekanisme yang lama untuk dapat dibuat rekapitulasi di tingkat propinsi maupun pusat.
Keempat, monitoring Kasus Pertanahan Online adalah Pemantauan kegiatan Sengketa, Konflik
dan Perkara yang dilakukan dengan mengggunakan media komunikasi yang terhubung dalam suatu sitem dalam keadaan yang real time secara online. Sistem Pengelolaan dan Penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara merupakan sistem yang bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, mengkaji, menganalisa seluruh data Sengketa, Konflik, dan Perkara di Kantor Pertanahan. Dengan menggunakan sistem ini akan dengan cepat dan akurat diperoleh informasi mengenai jumlah, jenis, status, lokasi dari masing-masing Sengketa, Konflik dan Perkara. Sistem ini mengintegrasikan data spasial bidang tanah (Geo KKP), Data textual (buku tanah dan warkah)
Gambar 2.9 Tampilan Dashboard Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP)
Pengelolaan dan Penangan Sengketa, Konflik dan Perkara ini telah didesain untuk penggunaan secara Nasional sehingga diharapkan:
1. Menghasilkan data komulatif Sengketa, Konflik, dan Perkara yang terukur, akurat (valid) serta berkesinambungan baik di tingkat Kantor Pertanahan, Kanwil BPN Provinsi dan BPN RI dengan melakukan validasi data Sengketa, Konflik, dan Perkara secara berjenjang;
2. Penyamaan persepsi, acuan, rujukan dan pedoman penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara baik secara parsial maupun secara general serta Menetapkan langkah-langkah strategis dalam upaya menyelesaikan masalah Sengketa, Konflik, dan Perkara Pertanahan; 3. Memudahkan kinerja BPN RI dalam mengeneralisir dan mengklasifikasi Sengketa, Konflik,
dan Perkara untuk ditindaklanjuti dengan penyiapan Standar Operasional Prosedur(SOP) Pelayanan Penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara serta mempermudah BPN RI dalam penyiapan tata cara kerja, panduan serta pedoman penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara;
4. Meningkatkan pelayanan publik dalam penanganan Sengketa, Konflik, dan Perkara; 5. Membentuk korelasi hubungan kerja antara Kedeputian I (peta tematik dan peta pendaftaran),
Kedeputian II (data Buku Tanah dan warkah), dan Kedeputian V (data Sengketa, Konflik dan Perkara) yang sinergis dan saling berinteraksi guna membentuk Peta tunggal pengelolaan dan penanganan SKP secara nasional dengan informasi yang dinamis dan terkini;
6. Memberikan sistem peringatan dini (early warning system) dalam proses layanan pertanahan kepada masyarakat sehingga dapat dihindari peningkatan jumlah dan jenis sengketa dan Konflik Pertanahan.
2.1.10. Layanan 70-70
Layanan 70-70 merupakan salah satu inovasi dalam bidang pertanahan yang mulai dilaksanakan dalam rangka memperingati 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Penggunaan angka dan data Sengketa, Konflik, dan Perkara. Sehingga akan meningkatkan pelayanan publik di bidang Sengketa, Konflik dan Perkara dan memberikan peringatan dini terhadap bidang atau kawasan yang sedang terjadi sengketa dan konflik juga menginformasikan semua bidang tanah yang sedang berperkara di Pengadilan.
seperti yang tercantum dalam Surat Edaran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional No. 13/SE/VII/2015 tentang “Layanan 70-70” Pelayanan Pertanahan 70 Th Indonesia Meredeka. Batasan durasi waktu yang ada dalam “Layanan 70-70” tersebut diharapakan dapat dilaksanakan secara kontinyu dan konsisten oleh setiap Kantor Pertanahan Kota/Kabupaten. Adapun jenis pelayanan yang masuk kedalam “layanan 70-70” antara lain:
1. Pengecekan Sertipikat: angka waktu pelayanan 7 meneit, 17 menit, 70 menit atau 7 jam; 2. Penghapusan Hak Tanggungan (Roya): jangka waktu pelayanan 7 menit, 17 menit, 70
menit atau 7 jam;
3. Peningkatan Hak (Dari Hak Guna Bangunan ke Hak Milik): jangka waktu pelayanan 7 jam, 17 jam atau 70 jam;
4. Peralihan Hak karena Jual Beli: jangka waktu pelayanan 70 jam atau 90 jam; 5. Hak Tanggungan: jangka waktu pelayanan 7 hari kerja;
6. Pemisahan/Pemecahan: jangka waktu pelayanan 17 atau 27 hari kerja;
7. Pendaftaran Sertipikat Pertama Kali: jangka waktu pelayanan 45 atau 70 hari kerja berasal dari tanah negara, dan 70 atau 90 hari kerja berasal dari bekas milik adat.
Durasi waktu yang tertera pada Surat Edaran tersebut merupakan bentuk upaya perecepatan memberikan pelayanan yang mana akan memberikan kepastian bagi para pengguna layanan pertanahan. Tidak hanya memberikan kepastian secara waktu namun diharapkan tidak menghilangkan prosedur tertentu yang secara aturan harus dilalui dalam setiap jenis pelayanan. Kepastian waktu dapat memudahkan pengguna layanan pertanahan turut serta dalam memonitoring dan mengawasi kinerja pelayanan mengingat sudah secara tegas diamanatkan di dalam sebuah inovasi “layanan 70-70”. Namun demikian, untuk memperoleh “layanan 70-70” terdapat beberapa syarat dan ketentuan yang perlu diketahui oleh pengguna layanan, yaitu:
1. Pengecekan sertipikat dapat dilaksanakan setelah melakukan pendaftaran mandiri (online) dan telah divalidasi oleh Kantor Pertanahan;
2. Penghapusan Hak Tanggungan (Roya) terhadap Hak Tanggungan yang dibebani hanya 1 (satu) bidang tanah;
3. Peningkatan hak (Dari Hak Guna Bangunan ke Hak Milik) khusus bagi rumah tinggal dengan luasan maksimum 600 m2;
4. Peralihan hak karena jual beli tanah non pertanian sampai dengan luas 600 m2 dan
pertanian sampai dengan 20.000 m2;
5. Hak Tanggungan berlaku untuk semua jenis; 6. Pemisahan/pemecahan maksimum 5 bidang;
7. Pendaftaran Sertipikat Pertama Kali terhadap tanah untuk rumah tinggal sampai luas 600 m2. 2.2 INOVASI PELAYANAN PERTANAHAN KABUPATEN/KOTA
2.2.1. Layanan Tujuh Menit
Lantum atau Layanan Tujuh Menit merupakan satu bentuk inovasi layanan pertanahan yang dilaksanakan Kantor Pertanahan Kota Surabaya II. Dengan Lantum layanan pertanahan dapat
Gambar 2.11 Layanan Tujuh Menit (Lantum)
Layanan Tujuh Menit atau Lantum dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kota Surabaya II untuk wilayah kelurahan tertentu, dimana database pertanahannya atau data elektroniknya telah tervalidasi. Layanan ini dilaksanakan jam 09.00 – 15.00 WIB pada hari kerja (Senin s/d Jumat) untuk jenis layanan tertentu yang meliputi penghapusan Hak Tanggungan (Roya) serta pengecekan sertipikat hak atas tanah. Disediakan Loket Khusus Lantum yang memudahkan masyarakat/pemohon layanan, tidak ada penambahan biaya untuk memperoleh layanan tujuh menit atau Lantum.
2.2.2. Layanan Informasi Online
Dalam rangka membangun sistem pelayanan publik yang berlandaskan pada prinsip keterbukaan serta memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mengakses informasi, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menyediakan layanan akses Informasi pertanahan secara online. Layanan informasi ini disediakan dalam berbagai bentuk media informasi, yaitu KiosK atau anjungan informasi mandiri, website BPN RI, SMS Informasi Pertanahan serta aplikasi BPN Go Mobile pada perangkat berbasis android.
KiosK merupakan anjungan informasi mandiri yaitu suatu media informasi pertanahan yang tersedia di lobby atau ruang pelayanan Kantor Pertanahan. Melalui KiosK masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi secara mandiri dan gratis tanpa harus antri untuk bertemu petugas di loket. Informasi yang tersedia pada KiosK antara lain informasi jenis layanan pertanahan beserta persyaratan, jangka waktu serta alur proses penyelesaiannya, informasi biaya layanan serta simulasinya, informasi berkas permohonan, informasi pegawai, informasi PPAT serta informasi jadwal LARASITA. Disamping itu, KiosK juga menyajikan informasi hasil layanan pertanahan yang meliputi jumlah penerbitan sertipikat, jumlah nilai jual beli, jumlah nilai Hak Tanggungan dan jumlah nilai BPHTB/PPH, serta menjadi media bagi masyarakat atau pengguna layanan untuk menyampaikan pengaduan.
diselesaikan lebih cepat dari standar waktu yang telah ditentukan, layanan diselesaikan dalam waktu 7 menit sehingga dapat ditunggu oleh pemohon layanan. Tujuan dilaksanakannya Lantum adalah untuk percepatan layanan pertanahan tertentu serta membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu (kesibukan yang tinggi) untuk datang sendiri ke Kantor Pertanahan, sehingga diharapkan mampu memangkas peran para calo yang menyebabkan “biaya tinggi” dalam pengurusan layanan pertanahan.
2.2.3. Aplikasi BPN Go Mobile
Selain informasi melalui SMS Pertanahan “2409”, terdapat juga aplikasi BPN Go Mobile yang tersedia pada perangkat komunikasi berbasis software Android. Ini merupakan inovasi layanan yang dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi dengan cepat dan murah. Melalui aplikasi BPN Go Mobile ini masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai persyaratan dan biaya layanan pertanahan, jadwal LARASITA serta informasi permohonan.
Gambar 2.12 KiosK
Gambar 2.13 Sistem Informasi Pertanahan Menggunakan Android 2.2.4. Layanan Anggota Masyarakat
Layangmas atau Layanan Anggota Masyarakat, merupakan aplikasi layanan mandiri bagi masyarakat berbasis GeoSpatial dengan menggunakan teknologi komputer touchscreen, sebagai wujud pemanfaatan lebih lanjut dari aplikasi pelayanan pertanahan berbasis komputer (Komputerisasi Kantor Pertanahan/KKP). Layangmas terwujud berkat kerjasama antara Kantor Pertanahan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah, bertujuan untuk memonitor potensi di Kabupaten Karanganyar, seperti pertanian, perumahan, perindustrian, dan pariwisata. Layangmas dipasang di sejumlah tempat penting, seperti Kantor Pertanahan Kabupaten Karanganyar, Bandara Adisumarmo, kantor Sekretaris Daerah Karanganyar dan rumah dinas Bupati Karanganyar.
Layangmas menyajikan berbagai informasi mengenai industri, pertanian, dan pariwisata (intanpari). Selain itu, informasi yang terkait rencana tata ruang dan wilayah, seperti data dasar bidang tanah, penggunaan tanah, zona tanah, juga kawasan rentan bencana alam. Citra yang bersumber dari Google Earth digunakan sebagai background pada aplikasi Layangmas ini. Berbagai informasi yang tersaji dalam Layangmas, antara lain:
1. Informasi Lokasi Industri
Distribusi spasial industri yang ada di Kabupaten Karanganyar disajikan dalam bentuk titik dengan simbol lingkaran berwarna merah dengan toponimi berupa nama perusahaan/industri tersebut. Deskripsi industri dapat dilihat pada link masing-masing obyek industri di peta.
2. Informasi Lokasi Pertanian Unggulan
Lokasi pertanian yang menghasilkan produk unggulan seperti durian, kunyit biofarma kadan padi organik di Kabupaten Karanganyar disajikan dalam bentuk titik dengan simbol lingkaran berwarna hijau dengan toponimi berupa nama produk unggulannya. Apabila disentuh pada simbol tersebut, foto dari produk unggulan pertanian tersebut akan muncul. Informasi produk unggulan pertanian ini sangat bermanfaat bagi para wisatawan yang menginginkan buah tangan yang khas di Kabupaten Karanganyar.
3. Informasi Rencana Tata Ruang (RTRW)
Informasi Rencana Tata Ruang dipadu dengan penggunaan tanah dan citra satelit dapat digunakan untuk monitoring dan evaluasi kesesuaian penggunaan tanah dan Rencana Tata Ruang Wilayah. Dengan informasi RTRW yang dapat dilihat oleh masyarakat ini diharapkan masyarakat dapat mematuhi apa yang ada pada Rencana Tata Ruang tersebut dan meminimalisir konversi penggunaan tanah pertanian menjadi non pertanian.
4. Informasi Zona Nilai Tanah
Informasi Zona Nilai Tanah bermanfaat antara lain bagi masyarakat dan pengembang property atau investor di Kabupaten Karanganyar. Berapa harga tanah yang wajar pada wilayah itu dapat dilihat pada informasi Zona Nilai Tanah karena Zona Nilai Tanah dibuat berdasarkan survei lapangan yang akurat.
5. Informasi Pariwisata
Informasi Pariwisata di Kabupaten Karanganyar disajikan dalam simbol point berwarna kuning yang menyajikan informasi lokasi wisata dan deskripsi singkat mengenai lokasi wisata tersebut. Wisatawan yang mendarat di Bandara Adisumarmo dapat memanfaatkan fasilitas Layangmas di Bandara untuk mengetahui informasi Pariwisata di Kabupaten Karanganyar.
6. Informasi Wilayah Bencana
Informasi wilayah bencana bermanfaat untuk mengetahui bidang tanah yang bisa terdampak jenis bencana tersebut. Selain itu informasi jumlah kepala keluarga dan jumlah jiwa yang ada di wilayah rawan bencana itu dapat dilihat untuk kepentingan pengambilan kebijakan kebencanaan seperti evakuasi, mitigasi bencana, pengungsi, bantuan dan lain-lain.
7. Informasi Pertanahan
Informasi Pertanahan yang ditampilkan bersumber dari basis data GeoKKP Kantor Pertanahan Kabupaten Karanganyar yaitu informasi bidang tanah meliputi distribusi, luas bidang tanah, nomor Hak, nomor Surat Ukur yang dapat dicari dengan menu pencarian per kecamatan/desa. Bidang tanah yang sudah terdaftar dan belum terdaftar dibedakan di dalam aplikasi Layangmas ini.
2.2.5. Layanan Non-Tunai
Sebagai salah satu upaya peningkatan transparansi dan pencegahan korupsi dalam pelayanan publik, Badan Pertanahan Nasional RI mengembangkan Layanan tunai. Layanan Non-tunai merupakan cara pembayaran biaya layanan pertanahan, sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional, tidak dalam bentuk uang tunai yang diserahkan kepada petugas loket pembayaran, tetapi pembayaran dilakukan pada Bank Persepsi atau menggunakan kartu kredit/kartu debit. Inovasi layanan ini dicetuskan mengingat besarnya jumlah uang pembayaran sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diterima Kantor Pertanahan setiap harinya, sehingga menimbulkan potensi terjadinya korupsi, kejahatan perampokan/pencurian mengingat bendahara harus menyetorkan PNBP ke Bank Persepsi maupun beredarnya uang palsu jika pembayaran dilakukan secara tunai.
Pembayaran non-tunai dapat mencegah terjadinya hal-hal tersebut disamping manfaat lainnya seperti transaksi aman, mudah dan cepat, transaksi terkontrol, mengurangi waktu penghitungan dan salah penghitungan saat transaksi. Pembayaran non-tunai dilaksanakan bekerjasama dengan perbankan, dalam berbagai bentuk antara lain:
1. Bank Persepsi, tersedianya kantor cabang/kas Bank di Kantor Pertanahan; 2. Electronic Data Capture (EDC), tersedianya perangkat EDC di Loket Pembayaran; 3. Mobile Bank, tersedianya mobile bank sebagai bank persepsi di Kantor Pertanahan. Beberapa Kantor Pertanahan yang telah menerapkan pembayaran non-tunai antara lain Kantor Pertanahan Kabupaten Bekasi, Kota Administrasi Jakarta Barat, Kabupaten Sukoharjo, Kota Batam dan beberapa Kantor Pertanahan lainnya.
Dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sangat dimungkinkan bagi Kantor Pertanahan Kota/Kabupaten mengembangkan inovasi lain sehingga akan memberikan dampak kemudahan untuk pengguna layanan pertanahan. Bahkan untuk saat ini sudah banyak ditemukan pada Kantor Pertanahan dengan inovasi-inovasinya mampu mendekatkan diri dan menjadi primadona karena dengan inovasi tersebut masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan mengakses layanan pertanahan tertentu. Namun apapun bentuk inovasi layanan pertanahan, yang menjadi prioritas adalah bagaimana memberikan kemudahan terhadap masyarakat pengguna layanan tentang kepastian, baik secara legal hukum atas produk maupun waktu penyelesaian tanpa mengurangi kualitas kenyamanan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut.
2.2.6. Layanan Delivery Service
Layanan antar produk sertipikat atau lebih dikenal dengan delivery service merupakan salah satu inovyasi layanan pertanahan yang di inisiasi oleh Kantor Pertanahan Surabaya 2. Latar belakang munculnya inovasi tersebut didasarkan adanya fenomena banyaknya produk layanan pertanahan yang sudah selesai tetapi belum diambil oleh pemohon seperti karena tingkat kesibukan maupun karena banyaknya pemohon yang sudah berusia lanjut. Produk yang dilayanai oleh inovasi ini mencakup seluruh hasil sertipikasi tanah yang dimohonkan oleh masyarakat langsung tanpa melalui kuasa. Melalui inovasi layanan seperti ini dapat menjadikan Kantor Pertanahan lebih dekat kepada masyarakat dan sekaligus memudahkan para pengguna layanan khususnya masyarakat usia lanjut.
3
Bab III
Reformasi Birokrasi
Pelayanan Pertanahan
dan Permasalahannya
BAB III
REFORMASI BIROKRASI
PELAYANAN PERTANAHAN DAN
PERMASALAHANNYA
3.1 CAPAIAN REFORMASI BIROKRASI PELAYANAN PERTANAHAN BERDASARKAN
STAKEHOLDERS
3.1.1. Akuntabilitas Kinerja Menurut Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN RB)
Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP) merupakan penerapan manajemen kinerja pada sektor publik yang sejalan dan konsisten dengan penerapan reformasi birokrasi, yang berorientasi pada pencapaian outcomes dan upaya untuk mendapatkan ahsil yang lebih baik. SAKIP merupakan integrasi dari sistem perencanaan, sistem penganggaran dan sistem pelaporan kinerja, yang selaras dengan pelaksanaan sistem akuntabilitas keuangan dalam penilaian LAKIP ini materi yang dievaluasi meliputi 5 komponen. Komponen pertama adalah perencanaan kinerja, terdiri dari renstra, rencana kinerja tahunan, dan penetapan kinerja dengan bobot 35. Komponen kedua, yakni pengukuran kinerja, yang meliputi pemenuhan pengukuran, kualitas pengukuran, dan implementasi pengukuran dengan bobot 20.
Pelaporan kinerja yang merupakan komponen ketiga, terdiri dari pemenuhan laporan, penyajian informasi knerja, serta pemanfaatan informasi kinerja, diberi bobot 15. Sedangkan evaluasi kinerja yang terdiri dari pemenuhan evaluasi, kualitas evaluasi, dan pemanfaatan hasil evaluasi, diberi bobot 10. Untuk pencapaian kinerja, bobotnya 20, terdiri dari kinerja yang dilaporkan (output dan outcome), dan kinerja lainnya. Nilai tertinggi dari evaluasi LAKIP adalah AA (memuaskan), dengan skor 85 – 100, sedangkan A (sangat baik) skornya 75 -85, CC (cukup baik) dengan skor 50 – 65, C (agak kurang) dengan skor 30 – 50, dan nilai D (kurang) dengan skor 0 – 30. Capaian penilaian akuntabilitas kinerja Kementerian Agraria/Badan Pertanahan Nasional sebagaimana berikut.
Tabel 3.1 Capaian Penilaian Akuntabilitas Kinerja Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
No. Tahun Nilai Keterangan
1 2011 C Agak kurang, perlu banyak perbaikan, termasuk perubahan yang sangat mendasar.
2 2012 CC Cukup baik/memadai, perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar
3 2013 CC Cukup baik/memadai, perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar
4 2014 CC Cukup baik/memadai, perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar
Sumber: Data akuntabilitas kinerja, Menpan dan RB, 2011-2014
Akuntabilitas kinerja yang baik dapat dilihat dari keselarasan antara rencana dengan apa yang dicapai. Laporan capaian kinerja harus selaras dengan apa yang telah direncanakan