2.1 Sistem Informasi Akuntansi 2.1.1 Pengertian Sistem
Menurut McLeod dan Schell yang diterjemahkan oleh Hendera Teguh (2001, p11), sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud sama untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut O’Brien (2005, p29), yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deni Arnos Kwary, sistem adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan, bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input serta menghasilkan output dalam proses transformasi yang teratur.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekumpulan komponen yang saling terintegrasi dengan menerima input dan menghasilkan output untuk mencapai tujuan.
2.1.2 Pengertian Informasi
Menurut O’Brien (2005, p38), yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deni Arnos Kwary, mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diubah menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi pemakai akhir tertentu.
Menurut Bodnar dan Hopwood yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi Tambunan (2000, p1), informasi adalah data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang sudah diolah sehingga memiliki arti bagi pengguna, dan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
2.1.2.1 Karakteristik Informasi
Berdasarkan Marshall B.Romney (2006, p12), agar suatu informasi dapat berguna dalam suatu pengambilan keputusan maka informasi harus memiliki beberapa ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut :
1. Relevan (Cocok dan sesuai)
Informasi itu relevan jika mengurangi ketidakpastian, memperbaiki kemampuan pengambilan keputusan untuk membuat prediksi, mengkorfimasikan atau memperbaiki ekspektasi mereka sebelumnya. 2. Andal
Informasi itu andal jika bebas dari kesalahan atau penyimpangan, dan secara akurat mewakili kejadian atau aktivitas di organisasi.
3. Lengkap
Informasi itu lengkap jika menghilangkan aspek-aspek penting dari kejadian yang merupakan dasar masalah atau aktivitas-aktivitas yang diukurnya.
4. Tepat Waktu
Informasi itu tepat waktu jika diberikan pada saat yang tepat untuk memungkinan pengambilan keputusan menggunakannya dalam membuat keputusan.
5. Dapat dipahami
Informasi dapat dipahami jika disajikan dalam bentuk yang dapat dipakai dan jelas.
6. Dapat diverifikasi
Informasi dapat divertifikasi jika dua orang dengan pengetahuan yang baik, bekerja secara inpenden dan masing-masing akan menghasilkan informasi yang sama.
2.1.3 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Hall (2001, p7), sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dapat dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada para pemakai.
Menurut O’Brien (2005, p5), yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deni Arnos Kwary, sistem informasi merupakan kombinasi teratur apapun dari orang-orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah kombinasi dari sistem yang terdiri dari komponen-komponen teknologi informasi yang saling terintegrasi untuk memperoleh dan memproses informasi kepada pemakai akhir.
2.1.4 Pengertian Akuntansi
Menurut Niswonger, Warren, Reeve, dan Fess yang diterjemahkan oleh Sirait dan Gunawan (1999, p6), akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem
informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi perusahaan.
Menurut Smith and Skousen (2001, p8), akuntansi adalah suatu aktivitas jasa yang berfungsi untuk menyediakan informasi yang kuantitatif, terutama informasi keuangan, tentang entitas-entitas ekonomi, yang dimaksudkan untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan - dalam pembuatan pilihan-pilihan yang beralasan diantaranya berbagai alternatif tindakan yang tersedia.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah suatu sistem informasi yang menghasilkan laporan dan menyediakan informasi berupa informasi keuangan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
2.1.5 Pengertian Sistem Akuntansi
Menurut Mulyadi (2001, p3), sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang di koordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan.
Menurut Bodnar et al yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi Tambunan (2000, p181), sistem akuntansi adalah suatu organisasi yang terdiri dari metode dan catatan-catatan yang dibuat untuk mengidentifikasikan, mengumpulkan, menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi organisasi dan menyelenggarakan pertanggungjawaban bagi aktiva dan kewajiban yang berkaitan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi adalah suatu organisasi formulir, catatan, laporan yang dibuat untuk
mengidentifikasi, mengumpulkan, menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi keuangan yang dibutuhkan manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan.
2.1.6 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Bodnar et al yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi Tambunan (2001, p11), sistem informasi akuntansi didefinisikan sebagai kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan yang diatur untuk mengubah data menjadi informasi.
Menurut Jones dan Rama (2006, p13), accounting information system is a subsystem of a Management Information System (MIS) that provides accounting and financial information as well as other information obtained in the routine processing of accounting transactions, yang artinya sistem informasi akuntansi merupakan subsistem dari sistem informasi manajemen yang menyediakan informasi akuntansi dan keuangan juga informasi lainnya yang didapatkan dari pemrosesan transaksi akuntansi rutin.
Maka sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem informasi akuntansi merupakan kumpulan sumber daya fisik dan peralatan lainnya yang diatur untuk mengubah data transaksi akuntansi rutin untuk menjadi informasi akuntansi dan keuangan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi user.
2.2 Analisis dan Perancangan Sistem dengan Pendekatan Object-Oriented 2.2.1 Pengertian Analisis Sistem
Menurut Bodnar et al (2000, p21), analisis sistem meliputi formulasi dan evaluasi solusi-solusi masalah sistem. Penekanan dalam analisis sistem adalah pada tujuan keseluruhan sistem. Dasar dari semua ini adalah analisis untung-rugi diantara tujuan-tujuan sistem.
Menurut McLeod et al (2001, p190), analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau yang diperbaharui. Adapun langkah-langkah analisis sistem adalah sebagai berikut: a. Mengumpulkan penelitian sistem
b. Mengorganisasikan tim proyek c. Mendefinisikan kebutuhan informasi d. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem e. Menyiapkan usulan rancangan
f. Menyetujui atau menolak rancangan sistem
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan merancang sistem yang baru atau memperbaharui sistem tersebut agar memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
2.2.2 Pengertian Perancangan Sistem
Menurut Mulyadi (2001, p51), perancangan sistem adalah suatu proses penerjemahan kebutuhan pemakai informasi ke dalam alternatif rancangan sistem informasi yang diajukan kepada pemakai informasi untuk dipertimbangkan.
Menurut McLeod et al yang diterjemahkan oleh Hendra Teguh (2001, p192), perancangan sistem adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh sistem yang baru. Adapun langkah-langkah perancangan sistem informasi adalah sebagai berikut:
a. Menyiapkan rancangan sistem yang terinci
b. Mengidentifikasi berbagai alternatif konfigurasi sistem c. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem d. Memilih konfigurasi terbaik
e. Menyiapkan usulan penerapan
f. Menyetujui atau menolak penerapan sistem
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perancangan sistem adalah suatu proses penerjemahan dan penentuan kebutuhan akan data yang diperlukan oleh pemakai informasi untuk membentuk suatu sistem yang baru.
2.2.3 Pengertian Object-Oriented Analysis and Design
Menurut Whitten, Bentley, dan Dittman (2001, p97), Object-Oriented Analysis and Design berusaha untuk menggabungkan data dan proses-proses menjadi suatu gagasan tunggal yang disebut object. Object-Oriented Analysis and Design memperkenalkan object diagrams yang mendokumentasikan sistem dipandang dari segi object dan interaksinya.
Menurut Mathiassen el al (2000, p15), “Object-Oriented Analysis and Design offers a systematic and complete approach to Object-Oriented Analysis and Design”. Dari definisi tersebut, dapat diartikan bahwa Object-Oriented
Analysis and Design menawarkan sebuah pendekatan yang sistematis dan lengkap terhadap analisis dan perancangan berorientasi object.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Object-Oriented Analysis and Design adalah sebuah pendekatan yang sistematis dengan menggabungkan data dan proses-proses menjadi suatu analisis dan perancangan berorientasi object.
2.2.3.1 Diagram Dalam Analisis Dan Perancangan Berorientasi Object
Diagram yang digunakan untuk menggambarkan analisis dan perancangan berorientasi object yaitu :
1. Rich picture
Menurut Mathiassen el al (2000, p26) rich picture is an informal drawing that presents the ilustrator’s understanding of a situation. Yang berarti bahwa rich picture adalah suatu gambaran umum yang mempresentasikan keadaan saat ini berdasarkan pandangan user. Rich picture memberikan suatu deskripsi dari situasi yang memungkinkan beberapa alternatif diintrepretasikan.
2. Activity Diagram
Menurut Jones and Rama (2006, p61), activity diagram dibagi menjadi 2 tipe, yaitu:
a. ”The Overview Activity Diagram presents a high level view of the business process by documenting the key events, the sequence of this events, and the information flows among these events”. Yang
berarti bahwa gambaran aktivitas diagram menggambarkan suatu pandangan tingkat tinggi dari proses bisnis dengan mendokumentasikan peristiwa-peristiwa pentingnya, urutan dari peristiwa ini, dan informasi yang mengalir diantara peristiwa tersebut.
b. “The Detailed Activity Diagram is similar to a map of a city or town. It provides a more detaried representation of the activities associated with one or two events shown on the overview diagram”. Yang berarti bahwa diagram aktivitas detail adalah mirip dengan peta kota besar atau kota. Aktivitas diagram detail menyediakan penyajian yang lengkap dari aktivitas-aktivitas yang dihubungkan dengan satu atau dua peristiwa yang ditunjukkan pada gambaran aktivitas diagram.
Notasi-notasi yang digunakan dalam activity diagram adalah: a. Activity State
Menunjukkan hasil dari beberapa behavior pada arus kerja (workflow).
b. Control Flow atau transition
Menunjukkan jalannya arus control dari suatu aktivitas ke aktivitas lainnya.
c. Initial State
d. Final State
Menggambarkan state telah mengakhiri aktivitasnya. e. Decision
Digunakan untuk menunjukkan arus control bercabang ketika ada sebuah titik keputusan.
f. Swimlane
Digunakan sebagai pemisah pada activity diagram. Biasanya menunjukkan seseorang atau organisasi yang bertanggungjawab untuk suatu aktivitas yang berada dalam swimlane.
3. UML Class Diagram
Menurut Carol Britton & Jill Doake (2001, p16), class diagram merupakan template (model dasar) yang digunakan untuk membuat sebuah objek. Komponen-komponen pembentuk class diagram adalah attribute dan operation dari sebuah objek class.
• Attribute pada sebuah class adalah sebuah data item yang didefinisikan sebagai bagian kelas atau objek. Atribut dari suatu class mempresentasikan properti-properti yang dimiliki oleh class tersebut.
• Operation pada sebuah class merupakan sebuah fungsi atau prosedur yang didefinisikan sebagai bagian dari class atau objek, biasanya digunakan untuk menyebut prosedur umum di dalam
objek. Dalam hal ini, attribute, operation dan associations secara bersama memiliki tanggungjawab dalam sebuah class.
Hubungan dalam sebuah model class diagram dapat menggunakan hubungan association, aggregation, maupun inheritance.
• Association merupakan model association antara class yang berarti bahwa terdapat beberapa bagian kecil hubungan antara objects pada class tersebut.
• Aggregation merupakan penggambaran hubungan yang terjadi ketika satu class tersebut adalah bagian dari class lain. Aggregation dapat ditemukan pada tahap ” bagian dari ”, ” terdiri dari ”, ” dibuat dari ”. Aggregation biasanya digambarkan sebagai sebuah diamond dalam sebuah class diagram.
• Inheritance merupakan mekanisme yang memungkinkan sebuah kelas baru didefinisikan dari kelas yang sudah ada sebelumnya, yang mana kelas baru tersebut didefinisikan sebagai spesialisasi dari kelas yang sebelumnya.
4. Use Case Diagram
Menurut Carol Britton & Jill Doake (2001, p97) use case diagram secara grafis menggambarkan interaksi antara user dengan sistem, dimana interaksi tersebut menggambarkan fungsionalitas yang disediakan sistem unit menurut sisi pandang user.
Jenis-jenis hubungan dalam usecase dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Relationship Function Notation
Association Komunikasi path antara sebuah actor dan sebuah usecase yang ikut berperan serta.
________________
Extend Merupakan fungsi tambahan dari behavior ke dalam usecase yang tidak diketahui.
<<extend>>
Include Merupakan fungsi tambahan dari behavior tambahan ke dalam usecase yang secara eksplisit menggambarkan adanya penambahan.
<<include>>
Tabel 2.1 : Tabel Jenis Hubungan Dalam Usecase
5. Navigation Diagram
Menurut Mathiassen el al (2000, p159), navigation diagram adalah gambaran keseluruhan dari elemen user interface dan transisi diantaranya.
6. Rancangan Database
Menurut Connoly and Begg (2002, p279), perancangan basis data adalah proses pembuatan sebuah rancangan untuk sebuah basis data yang mendukung operasi dan tujuan dari perusahaan.
Perancangan basis data dibagi menjadi tiga tahapan utama yaitu conceptual database design, logical database design dan physical database design.
a) Conceptual Database Design
Conceptual database design adalah proses membangun sebuah model data dari informasi yang diperoleh dalam sebuah organisasi tetapi bebas dari semua pertimbangan fisik.
Conceptual Design merupakan tahapan pertama dari tahapan perancangan basis data dan menciptakan model data konseptual dari bagian perusahaan yang akan dibuat basis data-nya. Model data dibuat dengan menggunakan dokumen dari spesifikasi kebutuhan pemakai.
b) Logical Database Design
Logical Database Design adalah proses membangun sebuah model dan informasi yang diperoleh dari sebuah organisasi berdasarkan model data khusus, tetapi bebas dari halaman yang berkaitan dengan DBMS dan pertimbangan fisik lainnya.
Pada tahapan ini, model data konseptual yang akan dibangun pada tahap sebelumnya dipetakan pada model data logical. Model data logical didasarkan pada target model data untuk basis data.
c) Physical Database Design
Physical Database Design merupakan proses pembuatan deskripsi dari suatu implementasi basis data pada secondary storage (media penyimpanan) halaman ini mendeskripsikan hubungan utama, organisasi file dan indeks yang digunakan untuk mencapai efisiensi akses ke dalam data dan associated integrity constraints yang lainnya dan halaman yang berkaitan dengan keamanan.
Physical Database Design merupakan tahap ketiga dan terakhir dari proses perancangan basis data. Dimana perancang memutuskan bagaimana perancang bermaksud untuk mengimplementasikan secara fisik dari Logical Database Design.
7. Rancangan Formulir
Menurut Jones and Rama (2006, p261), ”form is formatted document containing blank fields that users can fill it with data. When the form displayed on a computer screen, the data entered in the blank fields are saved to one or more data tables”.
Yang berarti bahwa form adalah suatu dokumen yang telah terformat dan berisi field kosong yang dapat diisi data oleh para pemakai. Ketika form ditampilkan pada layer komputer, data yang masuk ke dalam field yang kosong disimpan dalam satu atau lebih tabel data.
Tipe-tipe dari input forms: • Single-Record Entry Form
Form yang menunjukkan hanya satu record. Form ini digunakan untuk menambah, menghapus, atau memodifikasi data didalam record tunggal pada tabel tertentu. Form seperti ini sering digunakan untuk pemeliharaan data master file.
• Tabular Entry Form
Form yang menyediakan suatu spreadsheet seperti desain untuk memasuki berbagai record didalam tabel tunggal. Form jenis ini sering digunakan untuk menyimpan suatu batch peristiwa.
• Multi Table Entry form
Form yang digunakan untuk menambah data lebih dari satu tabel. Menurut Jones and Rama (2006, p264) ada lima elemen penting dari form yang memerlukan dokumentasi, yaitu:
o Atribut disimpan didalam tabel o Atribut ditampilkan dari tabel
o Foreign key adalah sebuah primary key yang digunakan di tabel lain.
o Queries adalah kumpulan berbagai tabel-tabel yang saling berhubungan dalam database.
8. Rancangan Layar
Menurut Jones and Rama (2006, p271), “form interface elemens are objects on form used for entering information of performing actions. All aspects of the form are controlled by the interface elements. Some of these objects provide or opportunity to improve internal controlover data elements”.
Yang berarti bahwa elemen interface adalah objek-objek pada form yang digunakan untuk memasukkan informasi atau menjalankan perintah segala aspek dari form dikontrol dengan elemen interface. Beberapa objek tersebut menyediakan kesempatan untuk mengembangkan internal kontrol pada entry.
Dibawah ini ada beberapa elemen-elemen dari rancangan masukan, antara lain:
Text Box
“Text Box are space on a form that are used to enter information that is added to a table or to display information that is read form a table”.
Yang berarti bahwa ruang pada form yang digunakan untuk memasukkan informasi yang kemudian akan ditambahkan ke dalam tabel atau untuk menampilkan informasi yang dibaca dari tabel.
Labels
“Labels help the user understanding what information needs to be entered”.
Yang berarti bahwa labels membantu pengguna untuk memahami informasi apa yang dibutuhkan untuk dimasukkan ke dalam form. Look-up feature
“A Look-up feature is frequently added to text boxes that used for entering foreign key”.
Yang berarti bahwa Look-up feature biasanya ditambahkan pada text boxes yang digunakan untuk memasukkan foreign key.
Command Buttons
“Command Buttons are to perform an actions”. Yang berarti bahwa Command Buttons digunakan untuk menjalankan perintah dalam menjalankan aksi selanjutnya.
Radio Buttons
“Radio Buttons allow user to select one of a set option. For example, you could use radio buttons on a form to allow user to choose one of the following three payment types: cash, check, or credit card”.
Yang berarti bahwa radio buttons mengijinkan pengguna untuk memilih salah satu dari serangkaian pilihan. Sebagai contoh, kamu dapat menggunakan Radio Buttons pada form untuk mengizinkan pengguna dalam memilih salah satu dari tiga tipe pembayaran berikut: pembayaran tunai, pembayaran menggunakan cek atau pembayaran menggunakan kartu kredit.
Check boxes
“Check boxes are similiar to radio buttons, but more that one options can be selected”.
Yang berarti bahwa check box mirip seperti radio buttons, tetapi dapat memilih lebih dari satu pilihan.
9. Rancangan Laporan
Menurut Jones and Rama (2006, p214), “A report is a formatted and organized presentation of data”. Yang berarti bahwa laporan adalah penyajian data yang telah terorganisir dan tersusun. Beberapa elemen tampilan dan report, yaitu:
• Label boxes and test boxes
”Two elements of any reports are labels and data. In Microsoft access, these elemen are referred to as label boxes and text boxes”.
Yang berarti bahwa dua elemen penting dari segala laporan adalah label dan data. Dalam microsoft access, elemen-elemen ini ditujukan kepada label boxes and text boxes.
• Grouping Attribute
”Grouping report are grouped by something”. Yang berarti bahwa laporan yang berkelompok adalah dikelompokkan oleh sesuatu.
• Group Header
” The group header can be used to present informations that is common to the group”.
Yang berarti bahwa group header dapat digunakan untuk menyajikan informasi yang umum pada grup.
• Group Detail
”Group Detail transaction pertaining to the group are listed in the group detail section”.
Yang berarti bahwa transaksi yang terjadi pada grup didaftarkan di dalam grup secara rinci.
• Group Footer
”Group Footer can also be used to provide, useful information in the grouped reports”.
Yang berarti bahwa group footer juga dapat digunakan untuk menyediakan informasi yang berguna di dalam laporan yang berkelompok.
2.2.3.2 Daur Hidup Object-Oriented
Pengembangan sistem terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari direncanakan sampai dioperasikan dan dipelihara. Menurut Carol Britton and Jill Doake (2000, p31), tahapan dalam siklus hidup pengembangan sistem adalah sebagai berikut :
a. Tahap analisis (Analysis phase)
Tahap ini dimulai dengan periode penemuan fakta selama pengembang sistem mulai menginvestigasi sistem yang terdahulu. b. Tahap desain (Desain phase)
Tahap ini menentukan bagaimana tujuan akan dicapai yang memungkinkan klien meminta solusi teknikal yang berbeda yang memenuhi persyaratan spesifikasi. Atau dengan kata lain, proses dan keperluan data untuk sistem yang baru dan pemilihan konfigurasi hardware yang baik.
c. Tahap implementasi (Implementation phase)
Dalam tahap ini, sistem secara fisik dibangun, kode pemrograman ditulis dan diuji serta dokumentasi untuk mendukung diciptakannya suatu sistem.
d. Tahap pemeliharaan (Maintanance phase)
Dimulai ketika sistem secara formal diserahkan kepada klien. Pemeliharaan ini sering digunakan untuk mencari dan mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang tidak terdeteksi sebelum sistem diserahkan.
2.3 Konsep Biaya dan Sistem Informasi Akuntansi Biaya 2.3.1 Pengertian dan Klasifikasi Biaya
Menurut Henry Simamora (1999, p36), biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberikan
manfaat pada saat ini atau dimasa yang akan datang bagi organisasi. Disebut setara kas karena sumber-sumber daya non kas.
Menurut Horngren (2005, p34), biaya adalah suatu sumber daya yang dikorbankan atau dilepaskan untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa biaya adalah sejumlah nilai yang dikorbankan untuk barang atau jasa dengan harapan dapat mencapai tujuan tertentu.
Adapun klasifikasi biaya menurut Horngren (2005, p35), sebagai berikut : 1. Berdasarkan Objek Biaya
Biaya dibagi menjadi dua, yaitu : a. Biaya Langsung
Adalah biaya yang terkait dengan suatu objek biaya dan dapat dilacak ke objek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomi.
b. Biaya Tidak Langsung
Adalah biaya-biaya yang terkait dengan suatu objek biaya namun tidak dapat dilacak ke objek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomi.
2. Berdasarkan Hubungannya dengan Volume Produksi
Beberapa jenis biaya bervariasi langsung dengan perubahan volume produksi atau keluaran, sedang biaya lainnya relatif tidak berubah (fixed). Manajemen harus memperhatikan kecenderungan biaya yang bervariasi dengan keluaran jika mereka ingin merencanakan suatu strategi perencanaan yang baik dan mengendalikan biaya dengan berhasil.
Biaya dalam hubungannya dengan volume produksi dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
a. Biaya Variabel
Adalah biaya yang secara proposional berubah mengikuti perubahan tingkat aktivitas atau volume yang terkait.
b. Biaya Tetap
Adalah biaya yang tidak akan berubah secara total untuk jangka waktu tertentu, sekalipun terjadi perubahan yang besar atas tingkat aktivitas atau volume yang terkait.
c. Biaya Semivariabel
Beberapa biaya mengandung unsur-unsur tetap dan variabel. Biaya ini mencakup suatu jumlah yang sebagian tetap dalam rentang keluaran yang relevan, dan bagian lainnya bervariasi sebanding dengan perubahan jumlah keluaran.
3. Berdasarkan Biaya Manufaktur Biaya dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Biaya bahan baku langsung (Direct Material Cost)
Adalah biaya perolehan seluruh bahan baku yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari objek biaya (barang dalam proses kemudian menjadi barang jadi) dan yang dapat dilacak ke objek biaya dengan cara ekonomis.
b. Biaya tenaga kerja manufaktur langsung (Direct Manufacturing Labor Cost)
Adalah biaya yang meliputi kompensasi atas seluruh tenaga kerja manufaktur yang dapat dilacak ke objek biaya (barang dalam proses kemudian menjadi barang jadi) dengan cara ekonomis.
c. Biaya manufaktur tidak langsung (Manufacturing Overhead Cost)
Adalah seluruh biaya manufaktur yang terkait dengan objek biaya (barang dalam proses kemudian menjadi barang jadi) namun tidak dapat dilacak ke objek biaya secara ekonomis.
4. Berdasarkan Hubungannya dengan Departemen Pabrikasi.
Departemen-departemen dalam sebuah pabrik pada umumnya dapat digolongkan ke dalam dua kategori yaitu, departemen produksi dan departemen jasa. Dalam departemen produksi, operasi secara manual ataupun dengan mesin, seperti membentuk dan merakit, dilaksanakan langsung terhadap produk atau bagian-bagiannya. Biaya yang dikeluarkan departemen semacam ini akan dibebankan kepada produk tersebut. Departemen jasa memberikan jasa/pelayanan yang bermanfaat bagi departemen lainnya. Kendati departemen jasa tidak pernah terlibat langsung dalam proses produksi, namun biayanya merupakan bagian dari total overhead pabrik, yaitu biaya dari bahan tidak langsung seperti minyak pelumas, minyak gemuk, dan lap pembersih, oleh karena itu harus dimasukkan dalam biaya produk.
2.3.2 Pengertian Akuntansi Biaya
Menurut Horngren (2005, p3), Akuntansi biaya merupakan sebuah studi akuntansi yang mengukur dan melaporkan informasi keuangan dan nonkeuangan serta informasi lain yang terkait dengan perolehan atau penggunaan sumber daya organisasi. Akuntansi biaya memasukkan bagian-bagian akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan tentang bagaimana informasi biaya dikumpulkan dan dianalisis.
Menurut Rayburn (1999, p3), Akuntansi biaya adalah mengenai satuan yang lebih dari sekedar menghitung biaya produk untuk penilaian persediaan sebagaimana umumnya kebutuhan pelaporan eksternal. Akuntansi biaya mengidentifikasi, mendefinisikan, mengukur, melaporkan, dan menganalisis berbagai unsur biaya langsung dan tidak langsung yang berkaitan dengan produksi serta pemasaran barang dan jasa.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya merupakan studi akuntansi yang menyediakan informasi mengenai unsur biaya langsung dan tidak langsung yang berkaitan dengan produksi serta pemasaran barang dan jasa yang dikumpulkan dan dianalisis untuk dilaporkan kepada pihak yang membutuhkan.
2.3.2.1 Peranan Akuntansi Biaya
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2008, p4), peranan akuntansi biaya adalah membantu manajemen dalam :
1. Penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran operasi perusahaan. 2. Penetapan metode dan prosedur perhitungan biaya, pengendalian
biaya, pembebanan biaya yang akurat, dan perbaikan mutu yang berkesinambungan.
3. Penentuan nilai persediaan yang digunakan untuk kalkulasi biaya dan penetapan harga, evaluasi terhadap produk, evaluasi kinerja, departemen atau divisi, dan pemeriksaan persediaan secara fisik.
4. Menghitung biaya dan laba perusahaan untuk satu periode akuntansi, tahunan atau periode yang lebih singkat.
5. Memilih sistem dan prosedur dari alternatif yang terbaik, guna dapat menaikkan pendapatan maupun menurunkan biaya.
2.3.3 Sistem Informasi Akuntansi Biaya
Menurut Mulyadi (2007, p4), sistem informasi akuntansi biaya merupakan sistem informasi yang terpadu dan terkoordinasi terkait dengan penetapan sasaran laba perusahaan, target departemen yang menjadi pedoman manajemen menengah dan operasi menuju pencapaian sasaran akhir, mengevaluasi keefektifan rencana, mengungkapkan keberhasilan atau kegagalan dalam bentuk spesifik, dan pengendalian biaya.
2.3.4 Biaya Produksi
2.3.4.1 Pengertian Biaya Produksi
Menurut Rayburn (1999, p31), biaya produksi adalah biaya yang termasuk biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa.
Menurut Mulyadi (2007, p14), biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya, biaya bahan baku, biaya bahan baku penolong dan gaji tenaga kerja.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa, yang termasuk didalamnya biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
2.3.4.2 Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2008, p219), biaya overhead pabrik adalah biaya bahan baku tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung serta biaya tidak langsung lainnya yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke produk selesai atau tujuan akhir biaya.
2.3.4.2.1 Pembebanan Biaya Overhead
• Biaya Overhead Pabrik yang Dianggarkan
Overhead pabrik yang dianggarkan adalah biaya bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya
tidak langsung lainnya yang ditentukan di muka terlebih dahulu.
• Biaya Overhead Pabrik Aktual
Overhead pabrik aktual adalah biaya tidak langsung yang terjadi selama periode tersebut.
2.3.4.2.2 Varians Biaya Overhead
Pada akhir periode akuntansi, biaya overhead pabrik actual dibandingkan dengan biaya overhead yang dianggarkan. Hasil pembandingan akan memperlihatkan apakah ada varians antara biaya overhead pabrik actual dengan biaya overhead pabrik yang dianggarkan.
Setelah membandingkan biaya overhead yang dianggarkan dengan yang sesungguhnya, maka varians akan dicatat dan dibuatkan jurnal sebagai berikut :
• Varians Lebih (Over FOH Applied)
Factory Overhead xxx
Cost of Good Manufacture xxx • Varians Kurang (Under FOH Applied)
Cost of Good Manufacture xxx
2.3.4.3 Perhitungan Biaya Produksi
Dalam perhitungan biaya produksi pada setiap perusahaan mungkin memiliki perhitungan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan skala dan jenis industri tersebut.
Beberapa metode yang digunakan dalam perhitungan biaya produksi, antara lain :
a. Metode tradisional
Menurut William K. Carter dan Milton F. Usry (2004, p500) menyatakan bahwa, sistem perhitungan biaya dengan metode tradisional memiliki karakter khusus, yaitu dalam penggunaan ukuran yang berkaitan dengan volume atau ukuran tingkat unit secara eksklusif sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead ke output. Dengan kata lain, sistem tradisional disebut juga dengan sistem berdasarkan unit.
Menurut Don R. Hansen dan Maryanne M. Mowen (2006, p142), pembebanan biaya overhead metode tradisional melibatkan dua tahap yaitu:
1. Biaya overhead dibebankan ke unit organisasi (pabrik atau departemen).
2. Biaya overhead kemudian dibebankan ke produk.
Dalam metode tradisional, hanya penggerak aktivitas tingkat unit digunakan untuk membebankan biaya kepada produk. Penggerak aktivitas tingkat unit (unit-level activity drivers) adalah faktor-faktor
yang menyebabkan perubahan biaya sebagai akibat perubahan unit yang di produksi. Penggunaan penggerak hanya berdasarkan unit untuk membebankan biaya overhead ke produk dengan asumsi bahwa overhead yang dikonsumsi adalah produk yang berkolerasi tinggi dengan jumlah unit yang di produksi. Penggerak aktivitas berdasarkan unit membebankan overhead kepada produk melalui penggunaan tarif pabrik secara menyeluruh dan departemental.
Perusahaan yang menggunakan pemerataan biaya secara umum dalam mengalokasikan biaya ke produk, terkadang tidak menghasilkan data biaya yang dapat diandalkan. Pemerataan biaya menggambarkan pendekatan penghitungan biaya dengan menggunakan pemerataan secara umum dalam mengalokasikan biaya sumber daya secara seragam ke objek biaya, padahal masing-masing barang dan jasa kenyataannya tidak menggunakan sumber daya dalam jumlah atau kapasitas yang sama.
Kelemahan metode tradisional adalah sebagai berikut :
a) Menimbulkan penyimpangan dalam perhitungan biaya produk. Terjadinya distorsi karena beberapa alasan yaitu:
• Biaya overhead pabrik tidak ditelusuri ke produk individual. • Total biaya overhead dalam suatu produk senantiasa terus
meningkat. Pada saat persentase biaya overhead pabrik semakin besar, maka distorsi biaya produk pun semakin besar.
b) Dalam sistem metode tradisional berorientasi fungsional.
Biaya diakumulasikan berdasarkan item lini, seperti gaji dan berdasarkan fungsi, seperti perekayasaan dalam setiap item lini, sedangkan fungsional tidak sesuai lagi dengan manufaktur modern.
c) Dalam sistem metode tradisional, biaya dialokasikan ke produk berdasarkan ke volume produksi, misalnya dengan jumlah jam tenaga kerja langsung. Dengan cara demikian maka informasi biaya menjadi terdistorsi, produk dengan volume produksi yang besar akan menyerap biaya yang lebih besar pula, yang mungkin saja justru sebaliknya hanya menyerap biaya yang relatif lebih kecil.
Sebaliknya pada biaya overhead memiliki masalah yang berbeda. Hubungan antara masukan-keluaran ataupun input-output yang diobservasi secara fisik bahan baku dan tenaga kerja langsung, tidak tersedia pada biaya overhead. Oleh sebab itu, penelusuran biaya overhead bergantung pada penggerakan dan alokasi.
b. Metode ABC
Menurut Hansen dan Mowen (2006, p46), Activity Based Costing merupakan sistem yang pertama kali menelusuri biaya pada kegiatan kemudian pada produk. Karenanya, penghitungan harga pokok berdasarkan kegiatan juga merupakan proses dua tahap.
Menurut William K. Carter dan Milton F. Usry (2004, p496), mendefinisikan ABC sebagai suatu sistem perhitungan biaya dimana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume (non-volume –related factor)”.
Konsep-konsep Dasar Sistem ABC
Asumsi dan prinsip dasar yang menjadi landasan sistem ABC tidaklah sama dengan yang dianut oleh sistem Akuntansi Biaya Tradisional yang sudah ada selama ini.
Menurut Henry Simamora (1999, p121), pembebanan ABC dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
1. Menelusuri atau mengalokasikan biaya-biaya, termasuk biaya overhead ke aktivitas-aktivitas, dengan kata lain tahap pertama terdiri dari kumpulan aktivitas.
2. Kumpulan biaya aktivitas dibebankan ke produk-produk, dengan memakai pemicu biaya.
Menurut William K. Carter dan Milton F. Usry (2004, p496), dalam ABC, dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya overhead disebut sebagai pemicu (driver), yang terdiri dari :
1. Pemicu sumber daya (Resource Driver) adalah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya dari suatu sumber daya ke berbagai aktivitas berbeda yang menggunakan sumber daya tersebut.
2. Pemicu aktivitas (Activity Driver) adalah suatu dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya dari suatu aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya final lainnya.
Pemicu aktivitas memiliki empat tingkat umum yang digunakan sebagai dasar pengenaan biaya pada aktivitas, antara lain :
a. Tingkat unit
Dasar pengenaan biaya pada tingkat unit merupakan dasar pengenaan biaya pada aktivitas yang dilakukan untuk setiap unit produksi sesuai dengan jumlah unit yang diproduksi. Sebagai contoh, penggunaan unit mesin dengan pemicu biaya jam kerja mesin dalam melakukan produksi.
b. Tingkat batch
Dasar pengenaan biaya pada tingkat batch merupakan dasar pengenaan biaya pada aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch produksi sesuai dengan jumlah produksi. Biaya tingkat batch merupakan biaya yang tidak akan meningkat apabila satu atau lebih unit ditambahkan ke aktivitas batch tersebut. Sebagai contoh, aktivitas set up mesin.
c. Tingkat produk
Dasar pengenaan biaya pada tingkat produk merupakan dasar pengenaan biaya pada aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi dan penjualan setiap produk yang berlainan. Semakin banyak produk dan lini produk, maka semakin tinggi biaya aktivitas-aktivitas tingkat produk.
Sebagai contoh, aktivitas desain produk, pengembangan produk dan pengembangan produk.
d. Tingkat fasilitas
Dasar pengenaan biaya pada tingkat fasilitas merupakan dasar pengenaan biaya pada aktivitas yang dilakukan untuk memungkinkan suatu proses produksi dijalankan dengan melakukan penyerahan jasa oleh pihak tertentu. Sebagai contoh, aktivitas sewa pabrik, asuransi, serta pajak bumi dan bangunan.
Tahap pembebanan pada kalkulasi biaya berdasarkan aktivitas (ABC) dibagi menjadi dua, yaitu :
Biaya Sumber Daya
Pembebanan Biaya
Aktivitas
Pembebanan Biaya
Produk Tahap kedua : Biaya yang dibebankan Penggerak Aktivitas Penelusuran Langsung Penggerak sumber daya Tahap pertama : Pengelompokan aktivitas
Tahap pertama dari pembebanan biaya pada sistem ABC adalah menelusuri biaya overhead pabrik pada aktivitas penyebab terjadinya biaya, meliputi lima langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi aktivitas
2. Biaya-biaya yang dibebankan ke aktivitas
3. Aktivitas yang berkaitan di kelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis
4. Biaya aktivitas yang dikelompokkan di jumlah untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis
5. Tarif (overhead) kelompok dihitung
Tahap kedua pada pembebanan biaya pada sistem ABC adalah melacak biaya untuk setiap kelompok biaya overhead ke berbagai jenis produk. Hal ini dilaksanakan dengan menggunakan tarif kelompok yang dikonsumsi setiap produk. Ukuran ini adalah kuantitas penggerak atau pemicu aktivitas yang digunakan oleh setiap produk. Jadi pembebanan overhead dari setiap kelompok biaya kepada setiap produk dihitung sebagai berikut:
Overhead yang dibebankan = Tarif kelompok x Unit penggerak yang (pada suatu produk) dikonsumsi oleh produk
1. Unit yang Diproduksi Estimasi Overhead Pabrik
= Overhead Per Unit Estimasi Unit yang Diproduksi
2. Jam Tenaga Kerja Langsung Estimasi Overhead Pabrik
= Overhead Per Unit Estimasi Jam Kerja Langsung
3. Bahan Baku Langsung Estimasi Overhead Pabrik
= Overhead Per Unit Estimasi Biaya Bahan Baku Langsung
Kelebihan dari sistem ABC adalah :
1. Menghasilkan penghitungan biaya produk yang lebih baik 2. Meningkatkan profitabilitas
3. Membantu pihak manajemen dalam membuat keputusan, baik mengenai keputusan harga dan bauran produk, pengurangan harga dan perbaikkan proses, rancangan serta perencanaan dan pengelolaan aktivitas.
4. Membantu pihak manajemen dalam melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume yang diperlukan untuk mencapai titik impas atas produk yang bervolume rendah.
5. Melalui daya analisis biaya dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat memulai merekayasa kembali proses memanufakturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.
2.4 Produk Sampingan
Menurut William K.Carter and Milton F. Usry (2004, p245), produk sampingan adalah suatu produk dengan total nilai yang relatif kecil dan dihasilkan secara simultan atau bersamaan dengan suatu produk lain yang total nilainya lebih besar.
Produk sampingan dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok menurut kondisi siap jual pada titik pemisahan :
1. Produk sampingan yang dijual dalam bentuk asal tanpa memerlukan pemrosesan lanjutan.
2. Produk sampingan yang memerlukan pemrosesan lanjutan.
Metode pengakuan pendapatan produk sampingan :
1. Metode pendapatan produk sampingan sebagai pendapatan lain-lain
Metode ini memisahkan pendapatan dari hasil penjualan produk sampingan dengan pendapatan penjualan atas produk utama. Akibatnya laba kotor dan laba operasi atas pendapatan dari hasil penjualan produk sampingan terpisah dengan laba kotor dan operasi atas pendapatan dari hasil penjualan produk utama.
2. Metode pendapatan produk sampingan sebagai tambahan pendapatan penjualan Metode ini menambahkan pendapatan dari hasil penjualan produk sampingan sebagai tambahan penjualan atas produk utama. Akibatnya laba kotor dan laba operasi akan meningkat sesuai pertambahan pendapatan tersebut.
3. Metode pendapatan produk sampingan sebagai pengurang harga pokok penjualan Metode ini mengurangkan hasil penjualan produk sampingan dengan harga pokok penjualan atas produk utama, sehingga akan menghasilkan laba kotor dan laba operasi akan meningkat.
4. Metode pendapatan produk sampingan sebagai pengurang biaya produksi
Metode ini mengurangkan hasil penjualan produk sampingan dengan total biaya produksi atas produk utama, sehingga total biaya produksi dan harga pokok penjualan atas produk utama menjadi lebih rendah serta laba kotor dan laba operasi akan meningkat.
2.5 Unsur Pengendalian Internal dalam Akuntansi Biaya
Menurut Mulyadi (2001, p430), unsur pengendalian internal sistem akuntansi biaya sebagai berikut :
Organisasi
1. Fungsi pencatat biaya harus terpisah dari fungsi produksi.
2. Fungsi pencatat biaya harus terpisah dari fungsi yang menganggarkan biaya. 3. Fungsi gudang harus terpisah dari fungsi produksi.
4. Fungsi gudang harus terpisah dari fungsi akuntansi. Sistem Organisasi dan Prosedur Pencatatan
6. Bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang diotorisasi oleh kepala fungsi produksi yang bersangkutan.
7. Bukti kas keluar diotorisasi oleh fungsi akuntansi keuangan
8. Daftar kebutuhan bahan dan daftar kegiatan produksi dibuat oleh fungsi perencanaan dan pengawasan produksi dan diotorisasi oleh kepala fungsi produksi.
9. Kartu jam kerja diotorisasi oleh kepala fungsi produksi yang bersangkutan. Praktik yang Sehat
10. Surat Order Produksi, bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang, bukti kas keluar, dan bukti memorial, bernomor urut tercetak dan penggunaannya dipertanggungjawabkan.
11. Secara periodik dilakukan rekonsiliasi kartu biaya dengan rekening kontrol biaya.
12. Secara periodik dilakukan penghitungan persediaan yang ada di gudang untuk dicocokkan dengan kartu persediaan.