• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVIEW BUKU HUKUM HAK ASASI MANUSIA NEW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "REVIEW BUKU HUKUM HAK ASASI MANUSIA NEW "

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KEWAJIBAN PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI BERBAGAI

KALANGAN

Alwan Daniswara

[email protected]

DATA BUKU

Nama/ Judul Buku : Hukum Hak Asasi Manusia

Penulis/ Pengarang : Prof. Dr. Rahayu, S.H., M.Hum.

Penerbit : BADAN PENERBIT UNIVERSITAS DIPONEGORO Tahun Terbit : 2015

Kota Penerbit : Semarang Bahasa Buku : Indonesia Jumlah Halaman : ±402 Halaman ISBN Buku : 978-979-70490-6-5

DISKUSI/ PEMBAHASAN REVIEW

Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Rahayu, SH, M. Hum. Beliau menyandang gelar guru besar sejak April 2013 dan menekuni ilmu hukum dengan kekhususan Hukum Internasional dan Hak Asasi Manusia. Tulisannya tersebar di berbagai jurnal ilmiah dan media massa berkaitan dengan isu-isu aktual yang terjadi di masyarakat. Dalam kata pengantar, penulis menyampaikan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) yang dipahami secara kodrati dimiliki oleh setiap orang dan menempatkan HAM sebagai isu utama yang diperbincangkan berbagai kalangan dan perkembangan HAM telah berjalan seiring dengan perkembangan peradaban kemulian kehidupan manusia.

Pada bab I berisi pengertian dan konsep dasar HAM, dijelaskan secara runtut

melalui istilah dan pengertian, basis teori HAM, prinsip-prinsip dasar HAM, perkembangan pemikiran HAM, pengertian pelanggaran HAM, serta mengenai kewajiban negara. Banyak pendapat dari para ahli mengenai pengertian HAM/

(2)

bahwa posisi masing-masing manusia dalam kehidupannya ditentukan oleh Tuhan, semua manusia apa pun statusnya tunduk pada otoritas. Teori ini dikembangkan oleh pemikir Abad Pencerahan di Eropa, seperti Thomas Aquinas, John Locke, Thomas Paine dan Jean Jacques R serta masih dikembangkan hingga saat ini. tidak semua orang setuju pada pandangan teori kodrati kendati teori tersebut sangat berjasa dalam menyiapkan landasan bagi suatu sistem norma HAM internasional. Teori hukum positif muncul sebagai implikasi dari jaman enlightment di Eropa pada abad 18, teori ini sangat matematis dan dipengaruhi oleh alam dan hak harus berasal dari suatu tempat. Teori ini sangat berlawanan dengan teori kodrati, karena anggapan bahwa teori kodrati tidak jelas sumbernya. Keunggulan teori ini adalah bahwa individu dapat membela dan memperjuangkan hak-haknya dengan menunjuk pada aturan-aturan tersebut. Teori universal, teori ini dipengaruhi oleh paham demokrasi dan liberalisme. Pengaruh liberalisme dapat dilihat dalam hak-hak sipil, yakni kebebasan individu dari ketiadaan intervensi negara. Pengaruh demokrasi dilihat dari hak politik yang aktif, yaitu hak berpartisipasi dalam kehidupan dan proses politik. Teori ini memiliki semboyan “semua HAM untuk semua” yang artinya HAM bersifat universal sehingga HAM yang dimiliki individu terlepas dari nilai-nilai atau budaya masyarakat pada suatu negara. Teori relativisme budaya, memandang teori hak kodrati dan penekanannya pada universalitas sebagai suatu pemaksaan atas suatu budaya terhadap budaya lain yang disebut imperialisme budaya. Teori ini berpendapat bahwa HAM harus diletakkan dalam konteks budaya tertentu dan menolak pandangan adanya hak yang bersifat universal. Perdebatan mengenai universalitas dan relativitas mencapai kesepakatan pada Konferensi Dunia tentang HAM di Vienna tahun 1993. Butir 5 Deklarasi Vienna dan Program Aksi menyatakan bahwa “Semua HAM adalah universal, tidak dapat dipisahkan, saling bergantung dan saling terkait. Masyarakat internasional secara umum harus memperlakukan HAM di seluruh dunia secara adil dan seimbang dengan mengunakan dasar dan penekanan yang sama. Sementara kekhususan nasional dan regional serta berbagai latar belakang sejarah, budaya dan agama adalah sesuatu yang penting dan terus menjadi pertimbangan, adalah tugas semua negara, apa pun sitem politik, ekonomi, dan budayanya untuk memajukan dan melindungi semua HAM dan kebebasan asasi”.

Bab II Sejarah Perkembangan Pemenuhan HAM, penulis menyajikan sejarah pemenuhan HAM, perkembangan HAM dalam Hukum Internasional dan perkembangan HAM di Indonesia. Sejarah pemenuhan HAM yang bermula dari sebuah gagasan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan semena-mena, karena hak alamiah yang melekat pada dirinya. Sejarah perkembangan HAM dalam Hukum Internasional muncul pada abad ke-19. Menurut Michael Villey dikutip oleh Simon Goyard-Fabre, gagasan HAM (jus bominum) pertama kali muncul tahun 1537. Keprihatinan terhadap HAM sudah ada sejak tahun 1215 dengan dirumuskannya Magna Charta yang berisi kompromi pembagian kekuasaan antara raja John dan para bangsawannya.1 Gagasan keprihatinan terhadap HAM baru dinyatakan sebagai kategori yang tidak bisa dipisahkan dari hukum politik modern setelah revolusi Prancis. Terdapat juga Bill of Rights

yang merupakan hasil perjuangan Parlemen melawan pemerintahan raja-raja Wangsa Stuart yang sewenang-wenang pada abad 17. Beragam peristiwa tentang HAM yang terjadi di berbagai negara, namun ada kesamaan spirit yaitu

(3)

tekanan tekanan pada humanisme yang menempatkan manusia sebagai titik tolak dan pusat permenungan dan perjuangan mereka. Negara membela hak atau kepentingan warga negaranya apabila mendapat perlakuan yang bertentangan dengan aturan atau perlakuan semena-mena dari negara lainnya. Ini disebut sebagai doktrin “perlindungan negara terhadap orang asing” yang artinya bahwa orang asing dalam hal ini diwakili oleh negaranya berhak mengajukan tuntutan terhadap negara tuan rumah yang melanggar aturan. Tujuan utama klaim ini adalah untuk membela hak-hak negara itu sendiri yang secara tidak langsung dilanggar melalu perlakuan guruk terhadap warga negaranya. Prinsip ini dikecualikan dengan doktrin “intervensi kemanusiaan) yang memberikan hak yang sah untuk melakukan intervensi secara militer untuk melindungi penduduk atau sebagian penduduknya yang berada di negara lain jika penguasa negara tersebut memperlakukan mereka sedemikian rupa sehingga melanggar hak asasi mereka dan menggoncangkan hati nurani umat manusia. Hukum internasional tradisional telah berhasi mengembangkan berbagai doktrin dan kelembagaan untuk melindungi berbagai kelompok. Perkembangan tersebut yang mendasari perkembangan konseptual hukum HAM internasional modern. Perbedaannya hukum HAM internasional tradisional menempatkan manusia sebagai individu yang menjadi subyek hukum atau pemegang hak yang diakui secara internasional. Tapi dalam sistem hukum HAM internasional yang modern negara justru ditempatkan sebagai pemegang kewajiban. Dalam buku ini, penulis juga membahas perkembangan HAM di Indonesia yang dimulai dari percikan pemikiran tentang hak asasi yang dapat dibaca dalam surat-surat R. A. Kartini, tulisan H. O. S. Cokroaminoto, Agus Salim, dsb. Gagsan-gagasan mengenai HAM diselamatkan oleh Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Keduanya menerima nilai gotong-royong yang mengilhami UUD. Hatta menghendaki adanya ketentuan dalam UUD yang mengatur tentang hak warga negara. Perumusan HAM dalam UUD 1945 pada masa itu masih sangat terbatas, namun hal tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa di tengah pertentangan ideologi yang terjadi.

(4)

berdasarkan perjanjian internasional, untuk mengawasi terlaksanakannya berbagai instrumen internasional tentang HAM maka dibentuk lembaga monitoring yang dibentuk berdasarkan konvensi internasional tentang HAM dan berkoordinasi dengan Dewan HAM PBB dalam menjalankan tugasnya. Konvensi HAM merupakan pencapaian terbesar dan menjadi dasar Dewan Eropa, dan dasar sistem perlindungan HAM internasional yang paling berpengaruh terhadap sistem hukum publik Eropa serta telah menciptakan tatanan baru dalam hukum internasional. Tatanan baru tersebut antara lain penegakan HAM secara kolektif, tanggung jawab perlindungan HAM bukan lagi mutlak milik negara, tetapi tanggung jawab tersebut dibagi antara komunitas internasional. Konvensi HAM memasukkan hak pengaduan atau hak petisi oleh individual yyang menunjukkan adanya pengakuan bahwa individu berhak atas hak tersebuk dengan didukung konvensi. Hak petisi individual memungkinkan individual mencari upaya pelanggaran HAM oleh institusi-institusi publik dalam ruang lingkup luas. Mekanisme pemantauan regional HAM di Uni Afrika, tujuan dibentuknya adalah untuk mengupayakan kerjasama internasional berdasarkan piagam PBB dan UDHR, serta mempromosikan dan memberikan perlindungan HAM bagi penduduk. Mekanisme HAM di ASEAN, ditandai dari ditandatanganinya Piagam ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi ke-13 di Singapura pada tahun 2007. Sejumlah kesepakatan penting berhasil dicapai, antara lain menjaga keamanan dan meningkatkan perdamaian dana keamanan kawasa, membentuk pasar tunggal yang kompetitif, memperkuat demokrasi dan tata kelola pemerintah yang baik, serta menegakkan hukum dengan mengedepankan HAM. ASEAN tidak dapat menghindarkan diri dari pembicaraaan mengenai HAM, karena adanya dorongan yang kuat dari dalam diri ASEAN sebagai dampak dari proses demokratis dan munculnya kesadaran yang kuat bahwa pelanggar HAM di suatu negara dapat menimbulkan ancaman keamanan bagi negara lain dan bagi kawasan tertentu. Masalah HAM dapat hadir setiap saat, maka sumbanan dan peran lembaga ini secara nyata digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah HAM di kawasan ASEAN harus mulai dipikirkan.

(5)

Pidana Anak, UU no. 31 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU no. 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, dan UU no. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan atas UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

(6)

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

Buku Hukum Hak Asasi Manusia ini cocok sebagai rujukan bacaan pembaca yang berlatar hukum dan masyarakat umum, karena buku ini mudah dipahami. Meskipun banyak buku yang membahas tentang HAM, namun kebanyakan informasi tersebut disampaikan secara parsial atau tematik yang menyulitkan pembaca untuk memahaminya secara menyeluruh. Namun di buku ini informasi disampaikan secara sederhana tetapi dapat memberikan pemahaman dasar terhadap berbagai permasalahan HAM. Pada beberapa bab, penulis juga menyampaikan informasi dalam tabel-tabel dan kalimat penting yang bercetak tebal sehingga lebih mudah dipahami maksudnya. Materi yang disampaikan lengkap mulai seputar HAM nasional hingga HAM di negara lain. Dalam buku ini juga dilengkapi lampiran Deklarasi Universal HAM, Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan UU Nomor: 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Kekurangan dalam buku ini adalah penyampaian informasi atau materi mengenai Hak Asasi Manusia secara internasional masih terbatas. Terlepas dari kekurangan tersebut, dari segi substansi tentu buku ini sangat menarik, terlebih di dalamnya dibicarakan hal-hal mendasar tentang manusia yakni Hak Asasi Manusia.

KESIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait

Perdebatan tentang perlu tidaknya HAM dimuat dalam UUD (1945), yang kemudian berakhir dengan kompromi menjadi bukti sejarah bahwa usaha menjamin

MENEGASKAN SEMULA komitmen ASEAN terhadap penggalakan dan perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan asasi serta tujuan dan prinsip yang termaktub dalam Piagam

Demikian pula masalah rule of law, erat kaitannya dengan penegakan hukum. Penegakan hukum merupakan bagian dari kekuasaan suatu negara. Kekuasaan negara yang bersifat

Yang berjudul Hak Asasi Manusia ( Hakekat, Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat ) buku dengan jumlah halaman 305 ini lebih menekankan

Sebagai tambahan, buku ini memuat berbagai instrumen-instrumen hukum HAM internasional dan instrumen hukum nasional HAM serta ditambah dengan 4 lampiran yaitu

Untuk mempertegas hakekat dan pengertian HAM di kuatkaalah dengan landasan hukum sebagaimana dikemukakan di dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No

Beberapa prinsip dasar yang menjiwai hak asasi manusia internasional dapat ditemukan dihampir semua perjanjian internasional hak asasi manusia prinsip tersebut adalah (1) Universal dan

Kekuasaan merupakan konsep yang berkaitan dengan perilaku. Menurut Robert Dahl seseorang memiliki kekuasaan atas orang lain apabila orang tersebut melakukan sesuatu