Makalah Politik Pendidikan dan
Pendidikan Politik
Oleh
Dr.
Moh.
ROQIB,
M.Ag
Putus asa, jika tidak dosa mungkin pengamalnya lebih banyak dari berita
yang selama ini kita dengar. Bunuh diri berjamaah (bersama keluarga), terjun
dari mall, stress, dan mendaulat diri sebagai “pengangguran” adalah wujud
kongkritnya. Kemalangan, menimpa bangsa ini hamper merata bersamaan
dengan kejayaan yang fantastis dirasakan oleh “segelintir” oknum pejabat
yang merangkap sebagai “pedagang” atau oknum pengusaha yang
merangkap sebagai “pejabat”. Dagangan dan jabatan silih berganti berfungsi
atau secara bersamaan untuk melipat “karunia sumber daya alam” yang
melimpah di negeri ini. Dilipat dan digenggam kemudian dipermainkan
sesukanya.
Manusia komersial, hedonis, dan kanibal yang dulu sering dibaca dalam
komik dan cerita fiktif saat ini menjadi kenyataan yang membuat haru biru
kehidupan. Homo homini lupus semakin dekat dan nyata. Cerita Negara yang
gemahripah loh jinawe, tata tentrem kerta raharja menjani lamunan dan
impian bersama. Memang impian, harapan, dan lamunan –dalam kondisi
tertentu—merupakan obat mujarab untuk memberikan lelipur lara agar kita
survive dalam hidup, bertahan dalam menghadapi prahara nasional ini.
Pendidikan yang menjadi ujung tombak peningkatan SDM dan kesejahteraan
masih menjadi ujung tombok bagi para guru yang mendidik di berbagai
lembaga ini. Kemajuan telah dirasakan oleh sebagian kecil guru yang
sebagian besarnya mengalami kemacetan. Dari mana kita mengurai benang
kusust ini? Mengapa Negara yang kita cintai menjadi seakan menunjukkan
kebencian dan murkanya? Bumi memuncratkan lumpur panas, angin
menggeliat dengan arah putar zig zag dan cepat, gunung batuk, air muntah
meratakan bumi, api melahap pepohonan dan rumah yang tidak bersalah.
Ada
apa
ini
?.
Berbagai pertanyaan tersebut akan dijawab serba singkat dalam makalah ini
Pendidikan
Sebagai
Soft
Power
Setiap kesuksesan di awali dan diakhiri dengan pendidikan. Kesuksesan
dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama dibangun di atas pndasi
pendidikan. Kesuksesan tanpa proses pendidikan adalah hayalan. Hayalan
yang berkembang dalam diri dan memiliki gap yang besar akan membuat
stress atau bahkan gila. Pendidikan yang kurang memadai jika dibarengi
dengan tumpukan hayalan sebagaimana yang ditawarkan oleh sinetron dan
iklan di media cetak dan elektronik akan membuat sebagaian masyarakat
menjadi benar-benar gila. Gila jabatan, gila harta, gila kecantikan, dan
lainnya. Bukan hanya rakyat jelata yang terserang penyakit ini tetapi juga
politisi, penguasa, pengusaha, guru, dosen, dan kyai. Trend kegilaan ini bias
ditemukan dalam kehidupan nyata. Mereka yang mestinya digugu dan ditiru
malah membuat adegan saru dan menjadi tontonan publik. Pertikaian karena
rebutan “roti” kejayaan menunjukkan bahwa mereka tidak akan pernah
meraih
kejayaan
itu.
Pendidikan merupakan soft power, kekuatan sejati yang tidak kasab mata
tetapi semua orang memerlukan dan merasakan kekuatannya. Pendidikan
memberikan pengaruh politis yang amat besar dalam kehidupan manusia.
Manusia yang terdidik dengan baik dan sehat ia akan mampu mengkreasi diri
untuk mengubah pendidikan menjadi media berpolitik adiluhung dan
sekaligus mempu mendidik politik lewat pendidikan. Pendidikan politik dan
politik pendidikan bias berintegrasi, interkoneksi, tetapi juga bisa bermusuhan.
Sekolah
Sebagai
Alat
Politik
ijazah dianggap belum cukup, karenanya harus ada lembaran-lembaran kecil
lain yang bias mendukung ijazah ini laku atau tidak.
Sekolah dengan desain politik seperti ini telah merebut kebebasan dan
kemanusiaan.[3] Sekolah bukan lagi mengemban misi pendidikan tetapi lebih
cenderung pada penyediaan lapangan kerja, perdagangan ilmu, dan praktik
kapitalisme dan kolonialisme baru. Tanpa membedakan antara sekolah dan
pendidikan secara global ada dua hal yang perlu direnungkan:
1. Mengapa sekolah mahal, mengapa harus membeli buku setumpuk. Apa
tujuan dan bagaimana proses dan strategi pembelajarannya telah
direncanakan sehingga anak paham terhadap tujuan membeli dan membaca
buku-buku tersebut. Pertanyaan ini selalu saja tidak terjawab, yang membuat
jiwa tertekan dan merasa harga buku yang harus mereka beli menjadi lebih
mahal dan menyesakkan dada. Belum lagi kondisi pekerjaan, beban hidup,
kondisi lingkungan yang rusak, informasi yang terus mengalir bahwa ada
orang-orang yang memanfaatkan proyek pengadaan buku ajar dengan cara
yang kurang ngajar. Apalagi dengan melihat kebijakan pemerintah yang
kurang
berpihak
pada
pendidikan
bangsanya.
2. Secara institusional, sekolah kita belum mampu membuat visi dan orientasi
yang berpihak kepada rakyat, akan tetapi berpihak pada kepentingan
investasi modal. Di sisi lain sekolah juga belum mampu mengaplikasikan
strategi pembelajaran dan pendidikan yang menyentuh wilayah “dalam”
manusia agar peserta didik memiliki kompetensi unggulan sehingga ia dapat
berpartisipasi untuk memajukan peradaban yang berkeadaban.
Politik
Keterpaksaan
Sekolah
Jika sekolah masih diposisikan sebagai alat politik, maka pendidikan politik
bagi generasi muda di negeri ini akan mengalami penurununan kualitas dan
bahkan lebih drastis lagi. Untuk mengatisipasi agar unsur keterpaksaan
sekolah bias dinetralisasikan dari pengaruh politik jahat, maka harus ada
program pembebasan rakyat dari keterpaksaan dalam menempuh
pendidikan.
pemerataan pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang berkualitas harus
tersebar di seluruh sudut kehidupan bangsa sehingga muda diakses. Dengan
teknologi informasi, upaya ini menjadi lebih mudah untuk direalisasikan.
Untuk memberikan alternatif solusi agar sekolah bisa murah sehingga bisa
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat di antaranya dengan :
1. Pengalokasian dana APBN/APBD 20 persen untuk pendidikan, sehingga
tidak hanya menjadi wacana atau dengan menggunakan politik
anggaran
.[4]
2. Memotong gaji pejabat tinggi yang dialokasikan untuk pendidikan
berdasarkan
komitmen
yang
dipaksakan
pemerintah.
3. Menarik pajak pendidikan melalui perusahaan-perusahaan besar.
4. Menginvestigasi dan menjatuhkan sanksi kepada semua pihak yang
melakukan
korupsi
atas
anggaran
pendidikan.
5. Mendorong sektor usaha yang terkait dengan lembaga pendidikan untuk
mengalokasikan anggaran yang bisa memanfaatkan secara maksimal oleh
institusi
pendidikan.
6. Melibatkan media massa terutama untuk memberi liputan yang berani dan
tajam mengenai komitmen sejumlah kalangan untuk pendidikan.
7. Membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak saja
menyentuh kemampuan dan krativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah.
8. Mendorong manajemen lembaga pendidikan secara terbuka dengan
melibatkan sejumlah wali murid dan jika perguruan tinggi adalah mahasiswa
untuk
mendesain
kebutuhan
lembaga
pendidikan.
9. Mendorong kalangan parlemen untuk terlibat aktif dalam penentuan
pejabat pendidikan. Pejabat pendidikan bukan urusan internal sekolah
melainkan
urusan
publik.
10. Melakukan penarikan dana langsung ke kalangan masyarakat.
Pendidikan
yang
Tejangkau
dan
Berprestasi
Sepuluh alternatif tersebut masih perlu didiskusikan dan dilengkapi.
1. Memotong gaji memberikan kesan pemaksaan. Pemaksaan memberikan
efek kurang positif dalam pendidikan. Sebagai alternatif bisa dilakukan
sosialisasi zakat profesi dan zakat semua penghasilan yang diperoleh oleh
pejabat
dan
tenaga
profesional.
dana
pendidikan.
3. Melakukan kontrol secara komprehensip dan menjatuhkan sanksi kepada
semua pihak yang melakukan korupsi bukan hanya atas anggaran pendidikan
tetapi
pada
semua
anggaran.
4. Memanfaatkan dan mendukung pendidikan keluarga (home schooling)
dengan optimalisasi peran ibu sebagai pendidikan anak dan generasi muda.
[5]
5. Membangun tradisi keilmuan/akademik di setiap lingkungan sosial dan
melengkapi sarana atau media pendidikan sehingga mudah diakses oleh
masyarakat.
6. Optimalisasi fungsi masjid dan perpustakaan. Apabila perpustakaan belum
ada bisa dimachingkan dengan masjid sekaligus upaya pelengkapan
buku-buku yang dibutuihkan dan aktual bagi masyarakat.[6]
7. Membuat kelompok pemikir kependidikan di pusat dan masing-masing
daerah yang bertugas memberikan masukan dan antisipasi terhadap
problem-problem kependidikan. Hal ini karena problem yang akut akan
membutuhkan biaya tinggi dan kemudian akan membebani masyarakat.
8. Mendorong berdirinya sentra-sentra pendidikan masyarakat seperti
pesantren dan madrasah diniyah yang biasanya dikelola dengan kesadaran
tinggi
dan
kemandirian.
9. Memilih pejabat yang berpihak dan bukan yang netral. Memilih pejabat
atau pimpinan yang berkarakter memihak rakyat dan keadilan.
Terkait dengan pendanaan, selain dana dari sumber yang sudah lazim,
sekolah/lembaga pendidikan dapat mengembangkan dana dari donatur
(infaq-shadaqah), zakat, dan wakaf (termasuk wakaf media pembelajaran,
buku perpustakaan, dan fasilitas masjid). Pendanaan model ini bisa
diterapkan khususnya pada madrasah atau sekolah agama apalagi keluhan
madrasah yang selama otonomi daerah diibaratkan (Kompas, 11 September
2004: 10) tak lebih dari anak tiri bagi pemerintah daerah dan tak lebih dari
anak
angkat
bagi
pemerintah
pusat.
Political Will Pemimpin dan Do’a Khusyu’ Rakyat
Dalam masyarakat paternalistik, pemimpin, pejabat, dan orang tua
merupakan panutan yang menentukan. Pemikiran dan wacana yang
berkembang hanya akan menjadi agenda jika pemimpin di republik ini tidak
merealisasikannya. Kebijakan politik harus segera diambil sebelum negara ini
menjadi lebih “menyedihkan”. Harapan terhadap political will ini juga terkait
dengan pemimpin informal dan nonformal yang memiliki kemampuan dan
kekuatan
lebih
disbanding
rakyat
kebanyakan.
Do’a kaum dhu’afa’ akan terkabul jika dilakukan dengan khusyu’ yang berarti
disertai dengan ihktiar yang serius dan bergandengan tangan dengan
berbagai pihak untuk maju. Pertikaian tidak lagi diagendakan apalagi
dilaksanakan, karena waktu tertumpah untuk pendidikan umat dan
kemanusiaan. Dengan demikian semoga bencana di negeri ini berganti
menjadi kejayaan, baldatun thayyibatun warabbun ghafur.
Wassalam
Secara etimologi
“politic”
berasal dari kata prancis
“politique”
, dan diambil dari
kata latin
“politicus”
. Secara sederhana politik kekuasaan adalah menentukan
siapa memperoleh apa, dimana, dan kapan. Politik sebagai jenis khusus usaha
seseorang dalam memperjuangkan kekuasaan politik (Catanese, 1984: 57).
Politik dan pendidikan berada dalam satu sistem yang saling berhubungan
dekat. Dari kiprahnya, para pendidik selalu memelihara politik karena proses
pendidikan yang memberikan sumber nilai dan memberikan kontribusi terhadap
politik. Pendidik memberi kontribusi signifikan terhadap politik, terutama stabilasi
dan transformasi sistem politik (Thomson, 1976:1). Peran politisi dalam
perencanaan dan pengembangan tampak berkembang karena para bidang
legislatif bertanggung jawab mengembangkan sikap politis, biasanya melalui
undang-undang, hukum, pembuatan anggaran, aturan, dan peraturan (Catanese,
1984:58).
Hubungan politik dan pendidikan merupakan suatu hal yang sulit dipahami.
Dalam satu sisi hal itu disebabkan sifat dasar politik itu sendiri. Pemahaman
politik juga bahkan lebih sulit bagi warga negara sebab konsep politik
memunculkan beragam citra. Pandangan politik mengacu terhadap hubungan
politik dengan kebijakan pemerintah sebagai hasil dari sistem. Berbagai
peraturan, keputusan, aturan-aturan / tata tertib, tindakan administratif adalah
bukti dari politik. Pandangan lain mengenai politik bahwa politik sebagai proses,
cara sistem politik itu bekerja. Pendekatan ini lebih kompleks konsepnya dan
memerlukan suatu pemahamn bagaimana proses pemerintahan bekerja dan
bagaimana perilaku manusia mempengaruhi semua proses tersebut.
Secara
etimologis
, politik berasal dari kata Yunani
polis
yang berarti kota
atau
negara
kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti
warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara,
politika yang berarti pemerintahan
negara
dan politikos yang berarti
kewarganegaraan.
Politik
merupakan upaya atau cara untuk memperoleh
sesuatu yang dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan bahwa politik
tidak hanya berkisar di lingkungan kekuasaan
negara
atau tindakan-tindakan
yang dilaksanakan oleh penguasa negara. Dalam beberapa aspek kehidupan,
manusia sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial,
maupun dalam aspek kehidupan lainnya. Demikianlah politik selalu menyangkut
tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals) dan bukan tujuan pribadi
seseorang (private goals). Politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok,
termasuk partai politik dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu).
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari unsur sosial dan budaya. Sepanjang kegiatan kehidupan manusia, aktivitasnya tidak terlepas dari kelompok manusia lainnya. Karena hal itu dikatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial karena memerlukan kehadiran dan bantuan serta peran serta orang lain. Sosial budaya ini tercermin pada kegiatan sekelompok manusia secara bersama-sama.Hal-hal yang dikerjakan manusia, cara mengerjakannya, bentuk pekerjaan yang diinginkan merupakan unsur sebuah budaya.Maka, aspek sosial ditinjau dari hubungan antarindividu, antar masyarakat serta aspek budaya ditinjau dari proses pendidikan manusia tersebut melalui materi yang di pelajari, cara belajarnya, bagaimana gaya belajarnya, bentuk- bentuk belajar serta pengajaranya.
Pendidikan pada hakikatnya adalah kegiatan sadar dan disengaja secara penuh tanggung jawab yang dilakukan orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan yang dilakukan secara bertahap berkesinambungan di semua lingkungan yang saling mengisi (rumah tangga, sekolah, masyarakat)unsur sosial merupakan aspek individual alamiah yang ada sejak manusia itu lahir. Langeveld mengatakan “setiap bayi yang lahir dikaruani potensi sosialitas atau kemampuan untuk bergaul, saling berkomunikasi yang pada hakikatnya terkandung unsur saling memberi dan saling menerima (Umar Tirtarahardja, 2005:18). Aktivitas sosial tercermin pada pergaulan sehari-hari, saat terjadi interaksi sosial antarindividu yang satu dengan yang lain atau individu dengan kelompok, serta antar kelompok. Didalam interaksi ini ada keterkaitan yang saling mempengaruhi (Abu Ahmadi, 2003:13).
B.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Adakah hubungan politik dengan pendidikan?
2. Apa saja aspek- aspek dalam pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
Pendidikan adalah sala satu bentuk interaksi manusia. Pendidikan adalah suatu tindakan sosial yang pelaksanaanya dimungkinkan melalui suatu jaringan hubungan- hubungan kemanusiaan. Jaringan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan di suatu masyarakat.
Jika politik dipahami sebagai “ praktik kekuatan, kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat dan pembuatan keputusan- keputusan otoritatif tentang alokasi sumberdaya dan nilai- nilai sosila”. Maka jelaslah bahwa pendidikan tidak lain adalah sebuah bisnis politik
Politik adalah bagian dari paket kehidupan lembaga- lembaga pendidikan. Bahkan menurut Baldridge, lembaga- lembaga pendidikan dipandang sebagai sitem politik mikro, yang melaksanakan semua fungsi utama sistem- sistem politik.
Hal ini menegaskan bahwa pendidikan dan politik adalah dua hal yang saling berhubungan erat dan saling mempengaruhi. Berbagai aspek pendidikan selalu mengandung unsur- unsur politik, begitu juga sebaliknya setiap aktivitas politik ada kaitanya dengan aspek- aspek kependidikan.
B.Aspek-Aspek Dalam Pendidikan
Pendidikan tidak akan terlaksana secara baik bila tidak memandang pada bermacam- macam aspek. Yang dimaksudkan dengan aspek disini adalah sudut pandang, maka sudut pandang tersebut sangat menentukan dalam mempertimbangkan sesuatu. Dalam Pendidikan, memang ada beraneka ragam aspek, di antara aspek yang dominan adalah politik dan sosial.
1. Aspek politik dalam pendidikan
Apabila dilihat rumusan tersebut di atas, kelihatannya sudah jelas dan sistematik serta merupakan kerangka acuan bagi politik pendidikan nasional dalam semua aspek pendidikan. Sebenarnya rumusan ini merupakan penjabaran dari politik ideologi nasional ke dalam sektor pendidikan. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor pendidikan adalah aspek dari pembangunan politik bangsa, yang tidak lain sebagai konsistensi antara arah politik dengan cetak biru pembangunan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 (HAR. Tilaar, 2003:161).
Tujuan nasional sebagai ideologi dasar dari masyarakat dan bangsa kita menjiwai terbentuknya masyarakat industri modern, ideologi pembangunan dan politik pendidikan nasional. Ilmu pengetahuan, teknologi serta informasi sangat menentukannya, karenanya sangat perlu diketahui oleh masyarakat serta berkembangnya kehidupan demokrasi. Maka demokrasi modern memerlukan rakyat yang selain berpaham nasionalis itu juga berwatak demokrat. Baik paham nasionalisme maupun watak demokrat tidaklah tumbuh sendiri, melainkan harus dididikan melalui proses sosialisasi pendidikan politik.
Dengan demikian, masyarakat industri modern adalah masyarakat yang mengacu pada kualitas dalam segala aspek kehidupan, kualitas tersebut akan hidup dalam masyarakat yang tinggi disiplinnya. Justru itu masyarakat industri modern yang diinginkan tidak dapat dilepaskan dari dasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 serta GBHN, dengan intinya adalah pemerataan, kualitas mengembangkan bakat sesuai kemampuannya dengan. Pendidikan yang selektif untuk rogram yang relevan, pendidikan untuk anak pintar, merupakan program yang perlu dilaksanakan.
Politik pendidikan dengan sadar menyiapkan tenaga yang cukup jumlahnya dan terampil untuk mendukung masyarakat industri perlu dengan sungguh-sungguh disiapkan. Persoalannya ialah masyarakat industri modern yang akan kita bina adalah masyarakat yang adil dan makmur.
Dalam hal ini, akhirnya politik pendidikan nasional perlu ditata dalam suatu dunia ini dalam kondisi yang lemah, tak berdaya. Karena manusia tidak berdaya, maka dia tidak akan sanggup melangsungkan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Fithrah-potensi manusia yang dibawa semenjak lahir baru dapat dan bisa berkembang dalam pergaulan hidupnya, dan manusia yang dilahirkan itu tidak akan menjadi manusia tanpa pengembangan potensi tersebut sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Di antara nash yang menyatakan demikian, dapat dipahami dari surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu:
و ىثنا وا ركذ نم مكانقلخ اننإ سانلا اهيأي
اوفراعتل لئابق و ابوعش مكانلعج
Dari nash tersebut diatas dapat disinyalir betapa pentingnya memperdayakan masyarakat. Untuk memperdayakan masyarakat, yang pertama adalah mengembang kan potensinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia akan berwawasan, mempunyai bermacam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjadikan seseorang atau masyarakat dapat diperdayakan untuk bermacam-macam kepentingan, baik yang berhubungan dengan pribadinya maupun yang berkaitan dengan masyarakat. Kedua,dengan jalan sosialitas manusia ( social being ), dalam ajaran Islam inilah yang dikenal dengan ta’arafu-berkenalan, menjalin hubungan secara baik. Keadaan seperti itulah yang dikehendaki oleh ajaran Islam sekaligus memperdayakan masyarakat untuk mencapai suatu tujuan, khususnya dalam mengelola pendidikan.
Aspek- aspek sosial pendidikan dapat digambarkan dengan memandang ketergantungan individu- individu satu sama lain dalam proses belajar. Makhluk-makhluk bukan manusia seperti binatang buas, burung-burung, atau serangga dapat hidup hanya berpedoman pada warisan biologis, suatu program genetik bagi tingkahlaku makhluk hidup. Pola-pola diwarisi mengajarnya memelihara secara biologis, harus selalu dipelajari oleh setiap individu.
Sekolah, yang merupakan institusi formal untuk belajar, mengharuskan sejumlah persyaratan kepada pendidikan. Akibatnya, belajar di sekolah sangat berlainan dengan yang berlaku di dalam keluarga, dalam teman-teman sebaya, atau dalam komunitas. Jadi pendidikan dalam pengertiannya yang sangat luas dapat dianggap sebagai suatu proses sosialisasi yang melaluinya seseorang mempelajari cara hidupnya.
Dimensi- dimensi sosial pendidikan yang dibicarakan dalam aspek- aspek sosial pendidikan adalah:
a. aspek sosial yang ditanamkan oleh pendidikan yang berlaku disekolah, seperti pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi muda. Ini berlaku pada semua masyarakat, dahulu atau pun sekarang, termasuk dalam masyarakat Indonesia sendiri. Juga pewarisan ketrampilan. ketrampilan dan generasi ke generasi. ini juga berlaku di masyarakat manapun, walaupun teknologi ketrampilan itu selalu berubah. Juga pewarisan nilai-nilai dan kepercayaan merupakan fungsi pendidikan. Nilai-niiai scperti kejujuran, solidaritas, gotong-royong adalah nilai-nilai yang tak dapat tidak harus wujud kalau masyarakat itu akan hidup terus. Sebab kumpulan apapun tak akan hidup sebagai kumpulan tanpa nilai-nilai itu sebagai pemersatu.
b. aspek sosial yang kedua yang mempengaruhi pendidikan adalah ciri-ciri budaya yang dominan pada kawasan-kawasan tertentu di mana sekolah-sekolah itu wujud. Walaupun pengelompokan seperti ini tidak selalu memberi gambaran yang jernih terhadap kelompok yang dibicarakan di situ. Sebab faktor-faktor lain turut memainkan peranan di dalamnya, seperti kepercayaan politik dan sosial, status sosio ekonoimi, kelas sosial, etnik, ras, agama dan lain-lain.
yang masing-masing tergantung pada sistem-sistem sosial yang mengadakannya. Begitu juga guru dan adininistrasi, hubungan orang tua, guru, hubungan teman-teman sebaya, dan hubungan guru, murid, semuanya besar pengaruhnya dalam pelaksanaan pendidikan.
d. aspek sosial keempat yang terpenting mempengaruhi pendidikan adalah sistem pendidakan itu sendiri. Istilah sistem pendidikan bermaksud suatu pola total masyarakat dalam institusi formal, agen-agen dan organisasi yang meimindahkan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual seseorang. Walaupun mungkan kita menganalisa sistem pendidikan dalam kawasan kota, kota madya, propinsi dan lain-lain, tetapi biasanva dibuat dalam bentuk lebih besar, seperti sebuah negara.
Tidak ada suatu sistem pendidikan yang tetap dan statis. Perlu juga disadari bahwa sistem pendidikan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, spiritual, ekonomi, dan politik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hubungan politik dengan pendidikan
. Pendidikan adalah suatu tindakan sosial yang pelaksanaanya dimungkinkan melalui suatu jaringan hubungan- hubungan kemanusiaan. Jaringan-jaringan inilah bersama dengan hubungan-hubungan dan peranan peranan individu di dalamnyalah yang menentukan watak pendidikan di suatu masyarakat. Politik adalah bagian dari paket kehidupan lembaga- lembaga pendidikan Hal ini menegaskan bahwa pendidikan dan politik adalah dua hal yang saling berhubungan erat dan saling mempengaruhi. Berbagai aspek pendidikan selalu mengandung unsur- unsur politik, begitu juga sebaliknya setiap aktivitas politik ada kaitanya dengan aspek- aspek kependidikan
2. Aspek-Aspek dalam pendidikan
a. Aspek politik dalam pendidikan
b. Aspek sosoial dalam pendidikan antara lain :
Aspek sosial yang ditanamkan oleh pendidikan yang berlaku disekolah, seperti pewarisan budaya dari generasi tua ke generasi muda
Aspek sosila ketiga yang memainkan peranan pada pendidikan yaitu faktor-faktor organisasi, dan segi birokrasi