• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anatomi Dan Fisiologi Anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Anatomi Dan Fisiologi Anak"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

I.

I. Anatomi dan Fisiologi AnakAnatomi dan Fisiologi Anak A.

A. Pengertian AnakPengertian Anak

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan  perkembangan

 perkembangan yang yang dimulai dimulai dari dari bayi bayi hingga hingga remaja. remaja. Masa Masa anak anak merupakan merupakan masamasa  pertumbuhan dan

 pertumbuhan dan perkembangan perkembangan yang dimulai dyang dimulai dari bayi ari bayi (0-1 tahun) (0-1 tahun) usia bermain/toddlerusia bermain/toddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak mungkin pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan mungkin pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan  pertumbuhannya.

 pertumbuhannya. Demikian Demikian juga juga halnya halnya perkembangan perkembangan kognitif kognitif juga juga mengalamimengalami  perkembangan

 perkembangan yang yang tidak tidak sama. sama. Adakalanya Adakalanya anak anak dengan dengan perkembangan perkembangan kognitif kognitif yangyang lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang anak. Perkembangan lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang anak. Perkembangan konsep diri ini sudah ada sejak bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna dan konsep diri ini sudah ada sejak bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna dan akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan usia pada anak.

akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan usia pada anak.

Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hampir sama dengan konsep diri Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hampir sama dengan konsep diri yang dimiliki anak. Bahwa pola koping pada anak juga sudah terbentuk mulai bayi, hal yang dimiliki anak. Bahwa pola koping pada anak juga sudah terbentuk mulai bayi, hal ini dapat kita lihat pada saat bayi menangis. Salah satu pola koping yang dimiliki anak ini dapat kita lihat pada saat bayi menangis. Salah satu pola koping yang dimiliki anak adalah menangis seperti bagaimanana anak lapar, tidak sesuai dengan keinginannya, dan adalah menangis seperti bagaimanana anak lapar, tidak sesuai dengan keinginannya, dan lain sebagainya. Kemudian perilaku sosial pada anak juga mengalami perkembangan lain sebagainya. Kemudian perilaku sosial pada anak juga mengalami perkembangan yang terbentuk mulai bayi. Pada masa bayi perilaku sosial pada anak sudah dapat dilihat yang terbentuk mulai bayi. Pada masa bayi perilaku sosial pada anak sudah dapat dilihat seperti bagaimana anak mau diajak orang lain, dengan orang banyak dengan seperti bagaimana anak mau diajak orang lain, dengan orang banyak dengan menunjukkan keceriaan. Hal tersebut sudah mulai menunjukkan terbentuknya perilaku menunjukkan keceriaan. Hal tersebut sudah mulai menunjukkan terbentuknya perilaku sosial yang seiring dengan perkembangan usia. Perubahan perilaku sosial juga dapat sosial yang seiring dengan perkembangan usia. Perubahan perilaku sosial juga dapat  berubah sesuai den

 berubah sesuai dengan lingkungan gan lingkungan yang ada, yang ada, seperti bagaimana seperti bagaimana anak sudah anak sudah mau bermainmau bermain dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Hidayat, 2005).

dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Hidayat, 2005).

Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak merupakan individu yang masih bergantung anak yang masih dalam kandungan. Anak merupakan individu yang masih bergantung  pada

(2)
(3)

memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, 2012).

2012).

B.

B. Konsep tumbuh kembang AnakKonsep tumbuh kembang Anak

Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang berbeda sifatnya. Namun, Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang berbeda sifatnya. Namun,  peristiwa

 peristiwa itu itu saling saling berkaitan berkaitan dan dan sulit sulit untuk untuk dipisahkan, dipisahkan, yaitu yaitu pertumbuhan pertumbuhan dandan  perkembangan (Soetjiningsih, 2005).

 perkembangan (Soetjiningsih, 2005).

Pertumbuhan (growth), merupakan masalah perubahan dalam besar, jumlah, Pertumbuhan (growth), merupakan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang dapat diukur dengan ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang dapat diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilo). Ukuran panjang dengan cm atau meter, umur tulang ukuran berat (gram, pound, kilo). Ukuran panjang dengan cm atau meter, umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan ( skill  skill ) ) dalam dalam struktur struktur dandan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses  pematangan.

 pematangan. 1.

1. Teori terkait tumbuh kembangTeori terkait tumbuh kembang a.

a. Freud (1856-1929)Freud (1856-1929)

Menurut Freud, memperkenalkan sejumlah konsep-konsep tentang pikiran Menurut Freud, memperkenalkan sejumlah konsep-konsep tentang pikiran alam bawah sadar, mekanisme pertahanan diri, serta ide, ego, dan superego. alam bawah sadar, mekanisme pertahanan diri, serta ide, ego, dan superego. Berdasarkan teori perkembangan psikoseksual Freud, kepribadian berkembang Berdasarkan teori perkembangan psikoseksual Freud, kepribadian berkembang dalam lima tahap yang tumbang tindih dari lahir hingga dewasa. Lokasi dalam lima tahap yang tumbang tindih dari lahir hingga dewasa. Lokasi  penekanan libido

 penekanan libido dari satu tahap perkembandari satu tahap perkembangan ketahap pgan ketahap perkembangan lain. erkembangan lain. OlehOleh sebab itu, area tubuh tertentu memiliki kemaknaan khusus bagi individu ditahap sebab itu, area tubuh tertentu memiliki kemaknaan khusus bagi individu ditahap tertentu. Jika individu tidak mencapai perkembangan yang memuaskan pada satu tertentu. Jika individu tidak mencapai perkembangan yang memuaskan pada satu tahap, kepribadian akan terfiksasi pada tahap tersebut. Fiksasi adalah imobilisasi tahap, kepribadian akan terfiksasi pada tahap tersebut. Fiksasi adalah imobilisasi atau ketidakmampuan kepribadian untuk beralih ketahap berikutnya yang atau ketidakmampuan kepribadian untuk beralih ketahap berikutnya yang disebabkan oleh kecemasan.

disebabkan oleh kecemasan.  b.

 b. Erick H. Erickson (1963)Erick H. Erickson (1963)

Kehidupan sebagai rangkaian tingkat pencapaian. Setiap tahap Kehidupan sebagai rangkaian tingkat pencapaian. Setiap tahap mengindikasikan tugas yang harus diselesaikan. Tugas dapat diselesaikan mengindikasikan tugas yang harus diselesaikan. Tugas dapat diselesaikan seluruhnya, sebagaian, atau malah gagal diselesaikan.

seluruhnya, sebagaian, atau malah gagal diselesaikan. Erickson menekankanErickson menekankan  bahwa

(4)

mempertahankan kontrol terhadap hidup mereka. Dalam perkembangannya, tidak mempertahankan kontrol terhadap hidup mereka. Dalam perkembangannya, tidak ada satu pun tahap didalam perkembangan kepribadian yang dapat dilewatkan, ada satu pun tahap didalam perkembangan kepribadian yang dapat dilewatkan, tetapi dalam kondisi cemas atau stres, individu dapat terfiksasi pada tahap tetapi dalam kondisi cemas atau stres, individu dapat terfiksasi pada tahap  perkembangannya tertentu atau mundur ketahap perkembangan sebelumn

 perkembangannya tertentu atau mundur ketahap perkembangan sebelumn ya.ya. c.

c. Piaget (1952)Piaget (1952)

Perkembangan kognitif merujuk pada cara manusia dalam belajar berpikir, Perkembangan kognitif merujuk pada cara manusia dalam belajar berpikir, menalar, dan menggunakan bahasa. Perkembangan tersebut melibatkan menalar, dan menggunakan bahasa. Perkembangan tersebut melibatkan kecerdasan, kemampuan persepsi, dan kemampuan memproses informasi yang kecerdasan, kemampuan persepsi, dan kemampuan memproses informasi yang dimiliki oleh individu. Perkembangan kognitif menggambarkan peningkatan dimiliki oleh individu. Perkembangan kognitif menggambarkan peningkatan kemampuan mental dari pikiran yang tidak logis menjadi pemikir logis, dari kemampuan mental dari pikiran yang tidak logis menjadi pemikir logis, dari  pemecahan

 pemecahan masalah masalah sederhana sederhana menjadi menjadi pemecahan pemecahan masalah masalah komplek, komplek, dan dan daridari  pemahaman ide konkrit menjadi pemahaman konsep abstrak.

 pemahaman ide konkrit menjadi pemahaman konsep abstrak.

C.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang AnakFaktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang Anak

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang menurut Rohmah (2009) secara Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang menurut Rohmah (2009) secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah herediter dan faktor umum ada 2 faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah herediter dan faktor lingkungan.

lingkungan. 1.

1. Faktor herediterFaktor herediter

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil hasil proses Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil hasil proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik,  jenis kelamin, suku atau bangsa.

 jenis kelamin, suku atau bangsa. 2.

2. Posisi anak pada keluargaPosisi anak pada keluarga

Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah, anak bungsu akan Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah, anak bungsu akan mempengaruhi pola anak tersebut diasuh dan dididik dalam keluarga. Anak tunggal mempengaruhi pola anak tersebut diasuh dan dididik dalam keluarga. Anak tunggal tidak mempunyai teman bicara atau beraktivitas kecuali dengan orang tuanya. Oleh tidak mempunyai teman bicara atau beraktivitas kecuali dengan orang tuanya. Oleh karena itu, kemampuan intelektual anak tunggal anak akan dapat lebih cepat karena itu, kemampuan intelektual anak tunggal anak akan dapat lebih cepat  berkembang

 berkembang dan dan mengembangkan mengembangkan harga harga diri diri yang yang positif positif karena karena terus-menerusterus-menerus  berinteraksi dengan

 berinteraksi dengan orang orang dewasa, dewasa, yaitu orang yaitu orang tuanya dtuanya dan mendan mendapat stimulasi apat stimulasi secarasecara  psikososial.

(5)

Perkembangan motorik lebih lambat karena tidak ada stimulasi untuk melakukan aktivitas fisik yang biasanya dilakukan oleh saudara kandungnya.

3. Faktor lingkungan

Menurut Putra, dkk (2014), terdapat faktor lingkungan internal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, adalah sebagai berikut :

a. Intelegensi

Kecerdasan anak dimiliki sejak ia dilahirkan. Anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang diberikan lingkungan demikian tinggi. Sementara anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tinggi dapat didorong oleh stimulus lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang.

 b. Hormon

Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh 2 kembang antara lain :  growth hormone, tiroid, hormone seks, insulin, IGFs ( Insulin Like Growth  Factors), dan hormon yang dihasilkan kelenjar adrenal.

c. Emosi

Pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam keluarga, apa yang anak rasakan dan apa yang anak lihat akan menjadi model yang dapat ia tiru dalam  berperilaku sehari-hari. Cara anak berinteraksi dalam anak akan mempengaruhi anak berinteraksi di luar rumah. Hubungan yang hangat dengan ayah, ibu, saudara akan berpengaruh terhadap hubungan dengan teman sebaya. Apabila kebutuhan emosi anak tidak terpenuhi dalam tahap perkembangannya akan berpengaruh pada  perkembangan selanjutnya.

Putra, dkk (2014), terdapat juga faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, adalah sebagai berikut :

a. Budaya lingkungan (mempengaruhi tingkah laku dan pola pemeliharaan anak).  b.  Nutrisi baik kuantitas maupun kualitas.

c. Penyimpangan dari keadaan sehat (sakit atau kecelakaan).

d. Olahraga (mempengaruhi sirkulasi dan menstimulasi perkembangan otak). e. Urutan posisi anak dalam keluarga.

(6)

f. Status sosial dan ekonomi keluarga. g. Iklim atau cuaca.

D. Periode perkembangan Anak

 NO 1 2 3 4 5 PERIODE Pranatal Post natal

Awal masa anak Pertengahan masa anak

Akhir masa anak

SUB PERIODE a. Embrio  b. Fetus a.  Neonatal  b. Bayi a. Toddler  b. Pra sekolah Usia sekolah a. Pubertas  b. Adolesent WAKTU Konsepsi-8 minggu Fetus muda (8-28 minggu)

Fetus tua (28 minggu-lahir) a. Lahir-28 minggu  b. 1-12 bulan a. 1-3 tahun  b. 3-6 tahun 6-12 tahun a. Perempuan 10-11 tahun  b. Laki-laki 12-13 tahun a. Perempuan 13-18 tahun  b. Laki-laki 14-19 tahun a. Rata-rata 12-17 tahun

E. Arah Pertumbuhan dan perkembangan

1.  Directional Trend 

a. Cephalocaudal/head to toe (mengangkat kepala dulu kemudian dada dan diakhiri ekstremitas bagian bawah). Kemudian dada dan di akhiri ekstremitas bagian  bawah).

 b.  Proximodistall from the center outward   (menggerakkan anggota gerak yang  paling dekat dengan jantung pusat tubuh kemudian pada anggota yang jauh,

contohnya menggerakkan bahu dulu baru jari-jari).

c.  Mass to spesifik/simple to complex  (dari kemampuan yang sederhana dulu baru kemampuan yang kompleks, contoh melambaikan tangan dulu baru memainkan  jari).

(7)

d. Sequential Trend 

1) Semua dimensi pertumbuhan dan perkembangan dapat diketahui melalui  sequence dari masing-masing tahap pertumbuhan dan perkembangan.

2) Masing-masing fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya.

Dapat diprekdisikan : waktu tumbuh kembang dapat diperkirakan telungkup duduk berdiri) tetapi kecepatan tumbuh kembang tidak sama sangat individual, paling cepat sebelum dan sesudah lahir, berangsur turun sampai dengan awal masa anak. Lambat pada pertengahan masa anak dan cepat lagi masa adolescence.

II. Konsep Dasar Penyakit A. Definisi

Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum tulang didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia adalah faktor kelainan kromosom, bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi virus (Ribera, 2009).

Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada sel-sel  prekursor limfoid, yakni sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi limfosit T dan limfosit B. LLA ini banyak terjadi pada anak-anak yakni 75%, sedangkan sisanya terjadi pada orang dewasa. Lebih dari 80% dari kasus LLA adalah terjadinya keganasan  pada sel T, dan sisanya adalah keganasan pada sel B. Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan didominasi oleh anak-anak usia < 15 tahun, dengan insiden tertinggi pada usia 3-5 tahun (Landier dkk, 2004).

B. Etiologi

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :

1. Keturunan

(8)

Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy  sindrome, sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy.

 b. Saudara kandung

Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini  berlaku juga pada keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi.

2. Faktor Lingkungan

Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan insiden yang meningkat pada leukemia akut, khususnya ALL.

3. Virus

Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan leukemia pada hewan termasuk primata.Penelitian pada manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia pada hewan.(Wiernik, 1985). Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human Cell Leukemia  .Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T-Cell Leukemia.

4. Bahan Kimia dan Obat-obatan a. Bahan Kimia

Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan  peningkatan insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen. Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan denganresiko tinggi dari AML, antara lain : produk  –   produk minyak, cat, ethylene oxide, herbisida, pestisida, dan ladang elektromagnetik

(9)

 b. Obat-obatan

Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML.  Kloramfenikol , fenilbutazon,dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan

kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML. 5. Radiasi

Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan pada  pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain seperti peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang terekspos radiasi dan para radiologis.

6. Leukemia Sekunder 

Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia. Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA .

C. Manifestasi Klinis

Leukemia limfositik akut menyerupai leukemia granulositik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsumtulang menyebabkan berkurangnya sel-sel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa infeksi, perdarahan, dan anemia. Gejala lain yang dapat ditemukan yaitu:

1. Anemia : mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada 2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise

3.  Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia), biasanya terjadi pada anak 

(10)

5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah gramnegatif usus

6. Stafilokokus, streptokokus, serta jamur

7. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria 8. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati

9. Massa di mediastinum (T-ALL)

Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik, muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan  perubahan status mental.

D. Patofisiologi

Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit atau sel darah putih (WBC) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang dapat dibagi ke dalam lymphpoid dan sel batang darah (myeloid), dimana pada kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi sepanjang jalur tunggal khusus. Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam sumsum tulang tengkorak, tulang  belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis pada tulang-tulang yang  panjang.

ALL meningkat dari sel batang lymphoid tungal dengan kematangan lemah dan  pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengembangan lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah hingga hampir menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan  petunjuk untuk menentukan/meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada leukositosis, kadang-kadang leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah, demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel stem pluripoten, kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan sel  plasma. Limfosit T juga berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem

(11)

limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T helper dan limfosit T supresor.

Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah, “seizures” dan gangguan penglihatan.

Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur/abnormal dalam jumlah yang  berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan jumlah leukosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan  jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.). Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001, Betz & Sowden, 2002).

(12)

E. Komplikasi

1. Perdarahan

Akibat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka trombosit yang rendah ditandai dengan :

a. Memar (ekimosis)

 b. Petekia (bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung jarum dipermukaan kulit)

Perdarahan berat jika angka trombosit < 20.000 mm3 darah. Demam dan infeksi dapat memperberat perdarahan

2. Infeksi

Akibat kekurangan granulosit matur dan normal.Meningkat sesuai derajat netropenia dan disfungsi imun.

3. Pembentukan batu ginjal dan kolik ginjal.

Akibat penghancuran sel besar-besaran saat kemoterapi meningkatkan kadar asam urat sehingga perlu asupan cairan yang tinggi.

4. Anemia 5. Masalah gastrointestinal. a. Mual  b. Muntah c. Anoreksia d. Diare

e. Lesi mukosa mulut

6. Terjadi akibat infiltrasi lekosit abnormal ke organ abdominal, selain akibat kemoterapi.

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik. 2. Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml

3. Retikulosit : jumlah biasanya rendah

(13)

5. SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.

6. PT/PTT : memanjang 7. LDH : mungkin meningkat

8. Asam urat serum/urine : mungkin meningkat

9. Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.

10. Copper serum : meningkat

11. Zinc serum : meningkat/ menurun

12. Biopsi sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau lebih dari SDP  pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan prekusor eritroid, sel

matur, dan megakariositis menurun.

13. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

G. Penatalaksanaan Medis

Leukemia Limfoblastik Akut :

Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.

Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya diulang selama beberapa hari atau  beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak.Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan  pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun.Sel-sel leukemik bisa kembali

(14)

muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu. Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi  penyinaran.

Penatalaksanaan lain : 1. Pelaksanaan kemoterapi

Sebagian besar pasien leukemia menjalani kemoterapi.Jenis pengobatan kanker ini menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel leukemia.Tergantung  pada jenis leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis obat atau kombinasi dari dua

obat atau lebih.

Pasien leukemia bisa mendapatkan kemoterapi dengan berbagai cara : Dengan suntikan langsung ke pembuluh darah balik (atau intravena)

a. Melalui kateter (tabung kecil yang fleksibel) yang ditempatkan di dalam  pembuluh darah balik besar, seringkali di dada bagian atas - perawat akan

menyuntikkan obat ke dalam kateter, untuk menghindari suntikan yang berulang kali. Cara ini akan mengurangi rasa tidak nyaman dan/atau cedera pada pembuluh darah balik/kulit.

 b. Dengan suntikan langsung ke cairan cerebrospinal  –   jika ahli patologi menemukan sel-sel leukemia dalam cairan yang mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang, dokter bisa memerintahkan kemoterapi intratekal. Dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam cairan cerebrospinal. Metode ini digunakan karena obat yang diberikan melalui suntikan IV atau diminum seringkali tidak mencapai sel-sel di otak dan sumsum tulang belakang.

Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase yang digunakan untuk semua orang.

a. Tahap 1 (terapi induksi)

Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian  besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi

(15)

kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.

 b. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)

Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian.

c. Tahap 3 (profilaksis SSP)

Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah.Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.

d. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)

Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.Tahap ini biasanya memerlukan waktu 2-3 tahun.Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis.Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh.Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP. 2. Terapi Biologi

Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani terapi biologi untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker.Terapi ini diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik. Bagi pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang digunakan adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada sel-sel leukemia. Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk membunuh sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang.Bagi penderita dengan leukemia myeloid kronis, terapi biologi yang digunakan adalah bahan alami  bernama interferon untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel leukemia.

(16)

3. Terapi Radiasi

Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi) menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi sebagian besar pasien, sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada limpa, otak, atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel leukemia ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh. (radiasi seluruh tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang.

4. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)

Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk (stem cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan sel-sel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian, pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di daerah dada atau leher. Sel-sel darah yang  baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi ini. Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi pasien dari infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai.

5. Transfusi darah

Biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.

6. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.

7. Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6-merkaptopurin atau 6-mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L-asparaginase, siklofosfamid atau CPA, adriamisin dan sebagainya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan prednison.Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat samping berupa alopesia, stomatitis, leukopenia, infeksi

(17)

sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhziti-hati bila jumiah leukosit kurang dari 2.000/mm3.

8. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah tercapai remisi dan  jumlah sel leukemia cukup rendah (105 - 106), imunoterapi mulai

diberikan.Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh.Pengobatan spesifik dikerjakan dengan penyuntikan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh sempurna.

9. Cara pengobatan.

Setiap klinik mempunyai cara tersendiri bergantung pada pengalamannya. Umumnya pengobatan ditujukan terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan sebagai berikut:

a. Induksi

Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berbagai obat tersebut di atas, baik secara sistemik maupun intratekal sampai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.

 b. Konsolidasi

Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi. c. Rumat (maintenance)

Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat-dapatnya suatu masa remisi yang lama.Biasanya dilakukan dengan pemberian sitostatika separuh dosis biasa. d. Reinduksi

Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pada induksi selama 10-14 hari.

e. Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat.

Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.4002.500 rad.

(18)

untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia serebral.Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.

f. Pengobatan imunologik

Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna. (Sutarni Nani, 2003).

(19)

H. Collaborative Care Management 1. Identitas

Acute lymphoblastic leukemia sering terdapat pada anak-anak usia di bawah 15 tahun (85%) , puncaknya berada pada usia 2 –  4 tahun. Rasio lebih sering terjadi  pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama : Pada anak keluhan yang sering muncul tiba-tiba adalah demam, lesudan malas makan atau nafsu makan berkurang, pucat (anemia) dan kecenderungan terjadi perdarahan.

 b. Riwayat kesehatan masa lalu : Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat keluarga yang erpapar oleh chemical toxins (benzene dan arsen), infeksi virus (epstein barr, HTLV-1), kelainan kromosom dan penggunaan obat-obatan seperti  phenylbutazone dan khloramphenicol, terapi radiasi maupun kemoterapi.

c. Pola Persepsi - mempertahankan kesehatan : Tidak spesifik dan berhubungan dengan kebiasaan buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kebersihan diri. Kadang ditemukan laporan tentang riwayat terpapar bahan-bahan kimia dari orangtua.

d. Pola Nurisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia, muntah,  perubahan sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan, serta  pharingitis. Dari pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen,  penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis, ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi terhadap acute monolytic leukemia)

e. Pola Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal, nyeri abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam urin, serta penurunan urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal, serta adanya hematuria.

(20)

f. Pola Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan lebih  banyak waktu yang dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami

kelelahan.

g. Pola Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami  penurunan kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan “seizure activity”, adanya keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel darah putih yang abnormal  berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.

h. Pola Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan pertahan tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapat ditemukan adanya depresi, withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan  peerubahan suasana hati, dan bingung.

i. Pola Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji

 j. Pola Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan kesempatan  bermain dan berkumpul bersama teman-teman serta belajar.

k. Pola Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum dan ketidakberdayaan melakukan ibadah.

l. Pengkajian tumbuh kembang anak.

3. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh  b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia

c. Resiko terhadap cedera: perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah e. Perubahan membran mukosa mulut: stomatitis berhubungan dengan efek samping

,agen kemoterapi

f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis

g.  Nyeri berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia

h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.

(21)

21 4. Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) 1 Resiko infeksi

Definisi : Peningkatan resiko masuknya organisme patogen Faktor-faktor resiko :

- Prosedur Infasif

- Ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan  patogen

- Trauma

- Kerusakan jaringan dan

 peningkatan paparan lingkungan - Ruptur membran amnion - Agen farmasi (imunosupresan) - Malnutrisi

- Peningkatan paparan lingkungan  patogen

- Imonusupresi

- Ketidakadekuatan imum buatan - Tidak adekuat pertahanan

sekunder (penurunan Hb,

NOC :

Immune Status

Knowledge : Infection control

Risk control Kriteria Hasil :

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

Mendeskripsikan proses penularan  penyakit, factor yang

mempengaruhi penularan serta  penatalaksanaannya,

Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

Jumlah leukosit dalam batas normal

Menunjukkan perilaku hidup sehat

NIC :

Infection Control (Kontrol infeksi)

 Bersihkan lingkungan setelah dipakai

 pasien lain

 Pertahankan teknik isolasi  Batasi pengunjung bila perlu

 Instruksikan pada pengunjung untuk

mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien

 Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci

tangan

 Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah

tindakan kperawtan

 Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat

 pelindung

 Pertahankan lingkungan aseptik selama

 pemasangan alat

 Ganti letak IV perifer dan line central dan

(22)

22 Leukopenia, penekanan respon

inflamasi)

- Tidak adekuat pertahanan tubuh  primer (kulit tidak utuh, trauma  jaringan, penurunan kerja silia,

cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan peristaltik) - Penyakit kronikhiperplasia dinding

 bronkus, alergi jalan nafas, asma. - Obstruksi jalan nafas : spasme

 jalan nafas, sekresi tertahan,  banyaknya mukus, adanya jalan

nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.

 Gunakan kateter intermiten untuk

menurunkan infeksi kandung kencing

 Tingktkan intake nutrisi

 Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)

 Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik

dan lokal

 Monitor hitung granulosit, WBC  Monitor kerentanan terhadap infeksi  Batasi pengunjung

 Saring pengunjung terhadap penyakit

menular

 Partahankan teknik aspesis pada pasien

yang beresiko

 Pertahankan teknik isolasi k/p  Berikan perawatan kuliat pada area

epidema

 Inspeksi kulit dan membran mukosa

terhadap kemerahan, panas, drainase

(23)

23

 Dorong masukkan nutrisi yang cukup  Dorong masukan cairan

 Dorong istirahat

 Instruksikan pasien untuk minum

antibiotik sesuai resep

 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan

gejala infeksi

 Ajarkan cara menghindari infeksi  Laporkan kecurigaan infeksi  Laporkan kultur positif

2 Intoleransi aktivitas b/d fatigue Definisi : Ketidakcukupan energu

secara fisiologis maupun

 psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :

a. melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.  b. Respon abnormal dari tekanan

NOC :

Energy conservation

Self Care : ADLs

Kriteria Hasil :

Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR.

Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri

NIC :

Energy Management

 Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

 Dorong anak untuk mengungkapkan  perasaan terhadap keterbatasan

 Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan

 Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat

(24)

24 darah atau nadi terhadap aktifitas

c. Perubahan EKG yang

menunjukkan aritmia atau iskemia d. Adanya dyspneu atau

ketidaknyamanan saat  beraktivitas.

Faktor factor yang berhubungan :

 Tirah Baring atau imobilisasi  Kelemahan menyeluruh

 Ketidakseimbangan antara suplei

oksigen dengan kebutuhan

 Gaya hidup yang dipertahankan.

dan emosi secara berlebihan

 Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas

 Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

Activity Therapy

 Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang tepat.

 Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

 Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik,  psikologi dan social

 Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

 Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

 Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai

(25)

25

 Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

 Bantu pasien/keluarga untuk

mengidentifikasi kekurangan dalam  beraktivitas

 Sediakan penguatan positif bagi yang aktif  beraktivitas

 Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

 Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

3 Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan  penurunan jumlah trombosit

Tujuan : klien tidak menunjukkan  bukti-bukti perdarahan

Gunakan semua tindakan untuk mencegah  perdarahan khususnya pada daerah

ekimosis

Cegah ulserasi oral dan rectal

Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi

Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut

Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)

(26)

26

Hindari obat-obat yang mengandung aspirin

Ajarkan orang tua dan anak yang lebih  besar ntuk mengontrol perdarahan hidung 4 Defisit Volume Cairan

Definisi : Penurunan cairan

intravaskuler, interstisial, dan/atau intrasellular. Ini mengarah ke dehidrasi, kehilangan cairan dengan pengeluaran sodium

Batasan Karakteristik : - Kelemahan

- Haus

- Penurunan turgor kulit/lidah - Membran mukosa/kulit kering - Peningkatan denyut nadi, penurunan

tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi - Pengisian vena menurun - Perubahan status mental - Konsentrasi urine meningkat

NOC:

Fluid balance

Hydration

 Nutritional Status : Food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal

Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan

NIC :

Fluid management

 Timbang popok/pembalut jika diperlukan  Pertahankan catatan intake dan output

yang akurat

 Monitor status hidrasi ( kelembaban

membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan

 Monitor vital sign

 Monitor masukan makanan / cairan dan

hitung intake kalori harian

 Kolaborasikan pemberian cairan IV  Monitor status nutrisi

 Berikan cairan IV pada suhu ruangan  Dorong masukan oral

 Berikan penggantian nesogatrik sesuai

(27)

27 - Temperatur tubuh meningkat

- Hematokrit meninggi

- Kehilangan berat badan seketika (kecuali pada third spacing)

Faktor-faktor yang berhubungan: - Kehilangan volume cairan secara

aktif

- Kegagalan mekanisme pengaturan

 Dorong keluarga untuk membantu pasien

makan

 Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )  Kolaborasi dokter jika tanda cairan

 berlebih muncul meburuk

 Atur kemungkinan tranfusi  Persiapan untuk tranfusi

5 Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi

Tujuan : pasien tidak mengalami mukositis oral

Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral

Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari yang dibalut

kasa

Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan

 bikarbonat

Gunakan pelembab bibir

Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil

(28)

28

Berikan diet cair, lembut dan lunak

Inspeksi mulut setiap hari

Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan

Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen  peroksida dan susu magnesi

Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan

Berikan analgetik 6 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh b/d pembatasan cairan, diit, dan hilangnya protein Definisi : Intake nutrisi tidak cukup

untuk keperluan metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :

- Berat badan 20 % atau lebih di  bawah ideal

- Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA

(Recomended Daily Allowance) - Membran mukosa dan konjungtiva

NOC :

 Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan

Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

Tidak ada tanda tanda malnutrisi

Tidak terjadi penurunan berat  badan yang berarti

NIC :

Nutrition Management

Kaji adanya alergi makanan

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe

Anjurkan pasien untuk meningkatkan  protein dan vitamin C

Berikan substansi gula

Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi

(29)

29  pucat

- Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah - Luka, inflamasi pada rongga mulut - Mudah merasa kenyang, sesaat

setelah mengunyah makanan - Dilaporkan atau fakta adanya

kekurangan makanan - Dilaporkan adanya perubahan

sensasi rasa

- Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan

- Miskonsepsi

- Kehilangan BB dengan makanan cukup

- Keengganan untuk makan - Kram pada abdomen - Tonus otot jelek

-  Nyeri abdominal dengan atau tanpa  patologi

- Kurang berminat terhadap makanan - Pembuluh darah kapiler mulai rapuh

Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas normal

Monitor adanya penurunan berat badan

Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang  biasa dilakukan

Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan

Monitor lingkungan selama makan

Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan

Monitor kulit kering dan perubahan  pigmentasi

(30)

30 - Diare dan atau steatorrhea

- Kehilangan rambut yang cukup  banyak (rontok)

- Suara usus hiperaktif

- Kurangnya informasi, misinformasi

Faktor-faktor yang berhubungan : Ketidakmampuan pemasukan atau

mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat gizi  berhubungan dengan faktor  biologis, psikologis atau ekonomi.

Monitor turgor kulit

Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

Monitor mual dan muntah

Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

Monitor makanan kesukaan

Monitor pertumbuhan dan perkembangan

Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan  jaringan konjungtiva

Monitor kalori dan intake nuntrisi

Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik  papila lidah dan cavitas oral.

Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet 7 Nyeri

Definisi :

Sensori yang tidak menyenangkan dan  pengalaman emosional yang

muncul secara aktual atau

 potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya

kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri

NOC :

Pain Level,

Pain control,

Comfort level Kriteria Hasil :

Mampu mengontrol nyeri (tahu  penyebab nyeri, mampu

menggunakan tehnik

NIC :

Pain Management

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

(31)

31 Internasional): serangan

mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan. Batasan karakteristik :

- Laporan secara verbal atau non verbal

- Fakta dari observasi

- Posisi antalgic untuk menghindari nyeri

- Gerakan melindungi - Tingkah laku berhati-hati - Muka topeng

- Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)

- Terfokus pada diri sendiri - Fokus menyempit (penurunan

 persepsi waktu, kerusakan proses  berpikir, penurunan interaksi

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari  bantuan)

Melaporkan bahwa nyeri

 berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Tanda vital dalam rentang normal

Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri  pasien

Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau

Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

Kurangi faktor presipitasi nyeri

Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter  personal)

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

Ajarkan tentang teknik non farmakologi

(32)

32 dengan orang dan lingkungan)

- Tingkah laku distraksi, contoh :  jalan-jalan, menemui orang lain

dan/atau aktivitas, aktivitas  berulang-ulang)

- Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil)

- Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku)

- Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas  panjang/berkeluh kesah)

- Perubahan dalam nafsu makan dan minum

Faktor yang berhubungan : Agen injuri (biologi, kimia, fisik,

 psikologis)

Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration

Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat

Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

Cek riwayat alergi

Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika  pemberian lebih dari satu

Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri

Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal

Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk  pengobatan nyeri secara teratur

(33)

33

Monitor vital sign sebelum dan sesudah  pemberian analgesik pertama kali

Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat

Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

8 Kerusakan intergritas kulit b/d edema dan menurunnya tingkat aktivitas Definisi : Perubahan pada epidermis

dan dermis

Batasan karakteristik :

- Gangguan pada bagian tubuh - Kerusakan lapisa kulit (dermis) - Gangguan permukaan kulit

(epidermis)

Faktor yang berhubungan : Eksternal :

- Hipertermia atau hipotermia - Substansi kimia

- Kelembaban udara

- Faktor mekanik (misalnya : alat

NOC: Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Kriteria Hasil :

Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi,  pigmentasi)

Tidak ada luka/lesi pada kulit

Perfusi jaringan baik

Menunjukkan pemahaman dalam  proses perbaikan kulit dan

mencegah terjadinya sedera  berulang

Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

NIC: Pressure Management

Anjurkan pasien untuk menggunakan  pakaian yang longgar

Hindari kerutan padaa tempat tidur

Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali

Monitor kulit akan adanya kemerahan

Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

Monitor status nutrisi pasien

Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

(34)

34 yang dapat menimbulkan luka,

tekanan, restraint) - Immobilitas fisik - Radiasi

- Usia yang ekstrim - Kelembaban kulit - Obat-obatan Internal :

- Perubahan status metabolik - Tulang menonjol

- Defisit imunologi

- Faktor yang berhubungan dengan  perkembangan

- Perubahan sensasi

- Perubahan status nutrisi (obesitas, kekurusan)

- Perubahan status cairan - Perubahan pigmentasi - Perubahan sirkulasi

(35)

III. Daftar Pustaka

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih  bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8.Jakarta : EGC; 2001.2.

Tucke

Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Ribera JM, Oriol A. Acute lymphoblastic leukemia in adolescents and young adults. Hematol Oncol Clin North Am. Oct 2009;23(5): 1033-42.2.

Margolin JF, Steuber CP, Poplack DG. Acute lymphoblastic leukemia. In: Pizzo PAPoplack DG, eds. Principles and Practice of Pediatric Onco logy. 15th ed. 2006:538-90.3.

Landier W, Bhatia S, Eshelman DA, Forte KJ, Sweeney T, Hester AL, et al. Development of risk-based guidelines for pediatric cancer survivors: the Children's Oncology Group Long-Term Follow-Up Guidelines from the Children's OncologyGroup Late Effects Committee and Nursing Discipline. J Clin Oncol. Dec 152004 ; 22 (24) : 4979-90.

Aster, Jon. 2007. Sistem Hematopoietik dan Limfoid dalam Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Atul, Mehta dan A. Victor Hoffbrand. 2006.At a Glance Hematologi.Edisi 2. Jakarta: Erlangga

Baldy, Catherine M. 2006. Komposisi Darah dan Sistem Makrofag-Monosit dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. Jakarta : EGC ; 2009.

Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001.

Referensi

Dokumen terkait

Daerah proyek yang keadaan lapanganya atau pada tempat – tempat lokasi bangunan yang masih berupa hutan, maka sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, agar terlebih

Super Steel Indah adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri baja yang didirikan pada tahun 1973 dimana perusahaan ini didirikan dengan modal yang berasal dari

Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang kuat. Anak akan banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat

026863 Suruhanjaya Perkhidmatan Awam Negeri Sabah telah melantik Puan Rosnie binti Jimmy untuk menanggung kerja jawatan Pegawai Teknologi Makanan (Penyelia Jenis Makanan), Gred

3) Memberikan arahan kepada bawahan terkait permasalahan yang dialami. Memeriksa hasil kerja bawahan di lingkungan Seksi Rekonstruksi sesuai dengan prosedur dan peraturan

Data berupa proses bisnis peminjaman buku oleh mahasiswa, sivitas akademis, proses bisnis pengembalian buku oleh mahasiswa, sivitas akademis, proses bisnis pelayanan informasi

Jika produk ini mengandung komponen dengan batas pemaparan, atmosfir tempat kerja pribadi atau pemantauan biologis mungkin akan diperlukan untuk memutuskan keefektifan ventilasi atau

Dalam setiap kegiatan belajar kelompok digunakan lembar kegiatan, lembar tugas dengan tujuan agar terjalin kerjasama diantara anggota kelompoknya. Lembar kegiatan dan