• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Restitusi Terhadap atau Ahli Waris Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemberian Restitusi Terhadap atau Ahli Waris Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PERLINDUNGAN KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

A.Tindak Pidana Perdagangan Orang

Indonesia adalah salah satu negara didunia yang memiliki jumlah populasi penduduk yang besar saat ini, yakni sekitar 250 juta jiwa lebih. Tingginya pertumbuhan penduduk tersebut, menjadikan Indonesia memiliki jumlah angkatan kerja yang tinggi. Tingginya jumlah penduduk tersebut menimbulkan masalah dalam bidang ketenagakerjaan Indonesia, yakni ketimpangan antar jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. 18

Provinsi-provinsi di Indonesia menjadi sumber maupun tujuan perdagangan manusia terutama adalah Jawa diikuti kemudian oleh Kalimantan Barat, Lampung, Sumatra Utara, Banten Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Perdagangan gadis remaja terutama dari wilayah Kalimantan Barat ke Taiwan yang berpura-pura sebagai pengantin wanita masih terus terjadi. Setiba disana, mereka dipaksa menjadi pelacur. Sebuah tren baru terjadi satu tahun terakhir ini yaitu perdagangan puluhan wanita Indonesia ke wilayah Kurdistan di Irak untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT). Tren lainnya adalah menculik gadis belia yang dilakukan para pelaku perdagangan manusia untuk dikirim ke Malaysia dan dipaksa menjadi pelacur. Wanita dari Cina, Thailand dan Eropa Timur diperdagangkan ke Indonesia untuk tujuan eksploitasi

18

(2)

seksual meskipun jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan jumlah wanita Indonesia yang diperdagangkan untuk tujuan serupa. 19

Perdagangan manusia di dalam negeri masih menjadi masalah besar di Indonesia, di mana para wanita dan anak dieksploitasi menjadi PRT, pekerja seks komersial dan buruh pabrik-pabrik kecil. Para pelaku perdangan manusia kadang bersekongkol dengan pihak sekolah untuk mulai merekrut pelajar-pelajar muda di sekolah kejuruan untuk menjadi tenaga kerja paksa di hotel Malaysia melalui peluang “magang” yang sebenarnya fiktif. Warga dari Indonesia direkrut dengan

tawaran untuk bekerja di restoran, pabrik atau sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan kemudian dipaksa menjalani perdagangan seks. Mengenaskan juga dialami oleh anak-anak Indonesia yang menjadi korban pariwisata seks dengan pelaku mayoritas dari wisatawan Malaysia dan Singapura. Pariwisata seks yang melibatkan anak-anak banyak ditemui di daerah-daerah perkotaan dan daerah tujuan wisata. 20

Tindak pidana perdagangan manusia yang merupakan kejahatan lintas Negara atau kejahatan transnasional sudah menjadi keprihatinan global Negara-negara di dunia. Khusus untuk Indonesia agar dapat menjerat pelaku tindak pidana trafiking, Indonesia sudah mempunyai Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Disayangkan sekali terkadang aparat penegak hukum justru menjadi mitra bagi pelaku perdagangan manusia, misalnya kerjasama dengan PJTKI.21

19

Ibid,hal,17.

20

Ibid,hal,21.

(3)

1. Beberapa Bentuk Tindak Perdagangan Orang

Ada beberapa bentuk tindak perdagangan orang yang harus diwaspadai, karena terkadang masyarakat tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi korban dari perdagangan orang. Beberapa bentuk tindak pidana perdagangan orang menurut Agus Hamim dan Agustinanto yaitu : pertama kerja paksa seks dan eksploitasi seks baik di luar negeri maupun di wilayah Indonesia. Banyak kasus, perempuan dan anak-anak dijanjikan bekerja sebagai buruh migran, PRT, pekerja restoran, penjaga toko atau pekerjaan-pekerjaan lain tanpa keahlian tetapi kemudian dipaksa bekerja pada industri seks saat mereka tiba di daerah tujuan. 22

Kedua, Pembantu Rumah Tangga (PRT) baik di luar ataupun di wilayah Indonesia. PRT baik yang di luar negeri maupun yang di Indonesia diperdagangkan ke dalam kondisi kerja yang sewenang-wenang termasuk jam kerja wajib yang sangat panjang, penyekapan ilegal, upah yang tidak dibayar atau yang dikurangi, kerja karena jeratan hutang, penyiksaan fisik ataupun psikologis, penyerangan seksual, tidak diberi makan atau kurang makanan dan tidak boleh menjalankan agamanya atau diperintah untuk melanggar agamanya. Beberapa majikan dan agen menyita paspor dan dokumen lain untuk memastikan para pembantu tersebut tidak mencoba melarikan diri. Ketiga, bentuk lain dari kerja migran baik di luar ataupun di wilayah Indonesia. Banyak orang Indonesia yang bermigrasi sebagai PRT, yang lainnya dijanjikan mendapatkan pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian di pabrik, restoran, industri cottage atau toko kecil. Beberapa dari buruh migran ini diperdagangkan ke dalam kondisi kerja yang sewenang-wenang dan berbahaya

22

(4)

dengan bayaran sedikit atau bahkan tidak dibayar sama sekali. Banyak juga yang dijebak ditempat kerja seperti itu melalui jeratan hutang, paksaan atau kekerasan.23

Keempat, penari, penghibur dan pertukaran budaya terutama di luar negeri. Perempuan dan anak perempuan dijanjikan bekerja sebagai penari duta budaya, penyanyi atau penghibur di negara asing. Pada saat kedatangannya, banyak dari perempuan ini dipaksa untuk bekerja di industri seks atau pada pekerjaan dengan kondisi mirip perbudakan. Kelima, pengantin pesanan terutama di luar negeri. Beberapa perempuan dan anak perempuan yang bermigrasi sebagai istri dari orang berkebangsaan asing, telah ditipu dengan perkawinan. Kasus semacam itu, para suami mereka memaksa istri-istri baru ini untuk bekerja untuk keluarga mereka dengan kondisi mirip perbudakan atau menjual mereka ke industri seks. Keenam, beberapa bentuk buruh/pekerja anak terutama di Indonesia. Beberapa (tidak semua) anak yang berada di jalanan untuk mengemis, mencari ikan di lepas pantai seperti jermal dan bekerja di perkebunan telah diperdagangkan ke dalam situasi yang mereka hadapi saat ini. Penjualan bayi baik di luar negeri ataupun di Indonesia. Beberapa buruh migran Indonesia (TKI) ditipu dengan perkawinan palsu saat di luar negeri dan kemudian mereka dipaksa untuk menyerahkan bayinya untuk diadopsi ilegal. Kasus yang lain, ibu rumah tangga Indonesia ditipu oleh PRT kepercayaannya yang melarikan bayi ibu tersebut dan kemudian menjual bayi tersebut ke pasar gelap.

(5)

2.Jaringan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia

Perdagangan orang terjadi di seluruh Indonesia dengan beberapa daerah ditengarai sebagai daerah pengirim/asal, penerima dan transit. Secara umum daerah-daerah ini terkait dengan daerah-daerah pengirim/asal, penerima dan transit untuk buruh migran, karena biasanya traficking akan memangsa orang-orang yang mencari kerja jauh dari rumah/tempat asal mereka. Perdagangan orang adalah kejahatan transaksional. Korbannya adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi, diiming-imingi, lalu tergoda dengan janji-janji muluk jaringan perdagangan orang itu. Kasus perdagangan orang banyak belum terungkap, karena dilakukan terselubung. Biasanya sasaran perempuan muda diajak ke luar daerah dengan iming-iming pekerjaan dan gaji besar. Ternyata malah dijadikan PSK. Pengiriman tenaga kerja secara ilegal atau tanpa visa, setelah ditangkap baru terungkap korban perdagangan manusia. Kasus perdagangan orang baru terungkap bila yang bersangkutan sadar telah dijadikan PSK atau tertangkap dalam razia. Masyarakat agar lebih berhati-hati dan jangan terjerat menjadi korban perdagangan orang.

(6)

Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang menangani Perdagangan Manusia untuk ditindaklanjuti.24

Munculnya kasus perdagangan anak di bawah umur faktor penyebabnya di antaranya pengaruh lingkungan, si anak ingin hidup serba ada dengan cara cepat, karena keluarga kurang mampu. Akibat pergaulan bebas dengan pacar dan saat putus dan menganggap tidak suci, akhirnya melakukan balas dendam dengan menjual diri untuk mendapatkan uang. Mengantisipasi agar si anak tidak terlibat pergaulan bebas, bagaimana dikeluarga menanamkan nilai-nilai spiritual keagamaan didalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Di sekolah, pelajaran agama hanya sebagai pengetahuan untuk memperoleh nilai bagus di raport, akan tetapi tidak merubah prilaku dan bisa membentengi diri bagi si anak.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2007 Tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan. Pemalsuan, penipuan dan penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan uang atau memberikan bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang terekploitasi. Pengertian eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa

(7)

perbudakan, penindakan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi atau secara melawan hukum memindahkan. Mentransplantasi organ dan atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil. 25

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafficking) Perempuan dan Anak memberikan definisi trafiking perempuan dan anak sebagai segala tindakan perekrutan, pengangkutan antar daerah dan antar negara, pemindah tanganan, pemberangkatan, penerimaan dan penampungan sementara atau di tempat tujuan, perempuan dan anak. Ancaman, penggunaan kekerasan verbal dan fisik, penculikan, penipuan, tipu muslihat, memanfaatkan posisi kerentanan (misalnya ketika seseorang tidak memiliki pilihan lain, terisolasi, ketergantungan obat, jebakan hutang, dan lain-lain), memberikan atau menerima pembayaran atau keuntungan, dimana perempuan dan anak digunakan untuk tujuan pelacuran dan eksploitasi seksual (termasuk phaedopilia), buruh migran legal maupun ilegal, adopsi anak, pekerjaan jermal, pengantin pesanan, pembantu rumah tangga, mengemis, industri pornografi, pengedaran obat terlarang dan penjualan organ tubuh, serta bentuk-bentuk eksploitasi lainnya.

3.Sasaran Dan Daerah Operasi Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang Modus operandi pelaku perdagangan orang ialah antara lain :26

a.Merayu dan menjanjikan kesenangan.

b.Menjebak, mengancam dan menyalahgunakan wewenang.

25

Luhulima, Achie Sudiarti. Pemahaman Bentuk- Bentuk tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya. (Jakarta: PT. Alumni, 2010),hal,45.

26

(8)

c.Menjerat dengan hutang. d.Menculik dan menyekap.

e.Mengajukan untuk menjadi duta budaya dan seni keluar daerah atau keluar negeri secara ilegal.

f.Berkedok penyaluran tenaga kerja untuk industri hiburan di dalam negeri dan luar negeri dengan iming-iming bayaran besar.

Daerah pengirim/asal adalah daerah asal korban, dimana daerah pengirim cenderung merupakan daerah yang minim dan biasanya pedesaan dan relatif miskin. Daerah-daerah pengirim ini biasanya berlokasi di Jawa, meskipun Lombok, Sulawesi Utara dan Lampung juga dikenal sebagai daerah pengirim. Daerah penerima adalah daerah-daerah kemana para korban dikirim. Tujuan tertentu mempunyai ciri trafiking tertentu. Misalnya kerja seks secara paksa di Batam, Jakarta, Bali, Surabaya, Papua dan daerah lainnya dimana industri seks dan pariwisata ditemukan di Indonesia. Jepang, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan dikenal sebagai daerah tujuan internasional. Pembantu Rumah Tangga (PRT) disemua daerah kota besar baik di Indonesia maupun Hong Kong, Malaysia, Timur Tengah, Singapura ataupun Taiwan. Pengantin pesanan di Taiwan dan penari budaya di Jepang. Indonesia sebagai Negara penerima, ada beberapa bukti bahwa para perempuan juga ditrafik ke Indonesia dari Asia dan Eropa untuk bekerja di industri seks. 27

Daerah transit adalah daerah-daerah yag dilewati oleh para korban sebelum sampai ke tempat tujuan. Kebanyakan daerah transit adalah daerah-daerah yang

(9)

memiliki pelabuhan, bandara, terminal transportasi darat yang besar dan daerah-daerah perbatasan internasional. Ini termasuk Jakarta, Batam, Surabaya, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Lampung.

4.Dampak dari Tindak Pidana Perdagangan Orang

Akibat yang ditimbulkan oleh tindak pidana perdagangan orang sangat komplek, artinya selain timbul dampak sosial di masyarakat juga menimbulkan dampak emosional terhadap para korban, diantaranya adalah perasaan kehilangan kendali dan kurangnya rasa aman. Kejadian yang traumatis merenggut perasaan kendali diri individu yang sering mengarah kepada perasaan tidak nyaman dan kurang aman yang menyeluruh dan mendalam, serta korban telah secara paksa dipisahkan dari sistem lingkungan dan kekerabatan mereka sehingga wilayah keselamatan serta keamanan mereka telah dilanggar. Mungkin juga telah diancam oleh pelaku agar tidak menceritakan pengalaman mereka. Hal ini menyebabkan mereka sulit untuk mempercayai orang lain dan berbicara mengenai pengalaman mereka. Hal yang paling penting ketika berhubungan dengan para korban dalam pemberian layanan adalah menciptakan rasa aman bagi mereka.28

Rasa tidak percaya diri, orang yang telah menjadi korban kekerasan dan kekerasan seksual biasanya memiliki rasa kepercayaan diri yang kurang. Dapat dimanifestasikan dalam berbagai macam tingkah laku seperti depresi, rasa malu, kelesuan, respon emosional yang keras, ketidakpekaan emosional dan lain-lain. Stigma sosial dan rasa malu karena beberapa alasan, diantaranya pengalaman yang telah mereka lalui selama proses perdagangan orang (misalnya pemerkosaan,

28

(10)

penyiksaan, pelecehan seksual), mereka tidak berhasil untuk mendapatkan uang untuk keluarga mereka, mereka merasa merekalah yang menyebabkan pelanggaran yang mereka alami tersebut.

Respon emosional yang keras, trauma perdagangan orang dapat muncul berbagai ragam respon emosional termasuk rasa marah, histeria, mudah menangis, sikap yang obsesif, kediaman dan lain-lain. Respon seperti itu tidak dapat langsung dibaca. Seseorang tertawa ketika menceritakan tentang penyerangan seksual kepada mereka, hal ini bukan berarti bahwa orang itu merasa ceritanya lucu. Perdagangan orang biasanya melibatkan pengkhianatan kepercayaan atau manipulasi yang dilakukan oleh orang yang dipercaya.29

Memperlihatkan perilaku seksual respon sosial yang sering ditemukan pada korban kekerasan seksual adalah kecenderungan untuk memperlihatkan perilaku seksual. Dimanifestasikan dalam bentuk menggoda, menyentuh dan lain-lain. Biasanya terjadi pada kasus dimana korban adalah pekerja seks yang mengkonseptualkan jati diri mereka dalam bentuk-bentuk seksual. Jenis respon seperti ini dibentuk oleh fakta bahwa orang-orang tersebut telah menerima perhatian pada waktu lalu melalui interaksi seksual (bukan dipaksakan) sehingga mereka merasa bahwa satu-satunya cara agar mereka dapat menunjukkan pengendalian diri dan/atau mereka mungkin mencoba untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari orang lain melalui perilaku seperti ini.30

29

Syafaat, Rachmad, Dagang Manusia-Kajian Trafficking Terhadap Perempuan dan Anak di Jawa Timur. (Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama, 2012),hal,43.

(11)

5. Pencegahan dan Perlindungan Tindak Pidana Pedagangan Orang

Pencegahan tindak pidana perdagangan orang bertujuan mencegah sedini mungkin terjadinya tindak pidana perdagangan orang. Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Pidana Perdagangan Orang juga sudah diatur dalam pasal 56 sampai dengan pasal 63, Undang-undang No.21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pasal 1 angka 1 telah didefenisikan pencucian uang itu adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindakan pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harga kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. Defenisi tersebut jelas bahwa tindakan apapun yang bersumber dari dana yang tidak sah seperti hasil korupsi, penyuapan, penyelundupan barang, penyelundupan tenaga kerja, perdagangan orang (trafficking), judi, obat bius, perampokan dan tindakan pidana lainnya, termasuk dalam tindakan pidana pencucian uang. 31

Indonesia juga mengadakan kerjasama internasional, karena perdagangan orang ini termasuk kejahatan lintas Negara (kejahatan transnasional). Badan-badan PBB, Pemerintahan asing, Kelompok negara-negara ASEAN, Lembaga Keuangan Internasional seperti IMF, WB, dan ADB, LSM Regional dan Internasional (HAM, Kesehatan, Bantuan Hukum, Hak Konsumen, Perlindungan Anak, Organisasi

31

(12)

perempuan, Hak pekerja/buruh, Serikat Buruh/Pekerja). Kerangka instrument nasional, Indonesia dalam melakukan penanggulangan perdagangan orang melalui beberapa cara, diantaranya menggalang kesatuan antar lembaga yaitu Kementrian Eksekutif Negara, Depnaker Trans, Menteri Pemberdayaan Perempuan, Menteri Kehakiman dan HAM, Depsos, Kantor Imigrasi, Diknas, Kejaksaan, Pariwisata, Menko Bidang Ekonomi, Menkokesra, Menkopolkam, Badan-badan Eksekutif Lokal, Legislatif (semua level), Sistem Yudisial, Penegak Hukum Polisi, Imigrasi, Bea Cukai, Jaksa, Hukum Militer, penjaga perbatasan, Angkatan Laut, serta kerjasama dengan Komisi Pemberdayaan Perempuan (KPP) yang bertindak sebagai unsur utama pemerintah dan koordinator untuk Gugus Tugas Anti Perdagangan Orang Nasional, untuk menyiapkan konsep rencana tindakan nasional 2009-2013 mengenai perdagangan orang.32

Gugus Tugas Penghapusan Perdagangan Anak Kepres No.88 Tahun 2002 dibentuk melalui Keputusan Presiden RI Nomor 88 Tahun 2002. Tujuan umum Gugus Tugas ini adalah terhapusnya segala bentuk perdagangan anak. Untuk Gugus Tugas di daerah, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Surat Edaran Departemen Dalam Negeri Nomor 560/1134/PMD/2003 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota seluruh Indonesia. Surat edaran tersebut diarahkan bahwa focal point pelaksanaan penghapusan perdagangan orang di daerah dilaksanakan oleh unit kerja di jajaran pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan menangani urusan anak melalui penyelenggaraan pertemuan koordinasi kedinasan di daerah dengan tujuan menyusun standar minimum dalam pemenuhan hak-hak

(13)

anak, pembentukan satuan tugas penanggulangan perdagangan orang di daerah, melakukan pengawasan ketat terhadap perekrutan tenaga kerja dan mengalokasikan dana APBD untuk keperluan kegiatan.

Beberapa provinsi dan kabupaten membentuk rencana tindakan lokal dan komite anti perdagangan orang. KPP mengadakan pendidikan sosialisasi anti perdagangan orang. Pemerintah nasional menunjukkan niat politik yang kecil untuk menegosiasikan kembali Nota Kesepahaman (MOU) 2006 dengan Malaysia yang mengabaikan hak PRT warga negara Indonesia untuk memegang paspor mereka saat mereka bekerja di Malaysia. Pemerintah tidak melakukan upaya-upaya untuk mengurangi permintaan tenaga kerja paksa atau permintaan pekerja seks komersil tahun lalu.

Kepolisian Indonesia bekerjasama dengan pihak berwenang Australia dan Swiss menangkap dan mendeportasi dua pedofilia yang melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak dan sebuah pengadilan di Indonesia menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara kepada seorang wisatawan seks anak berkebangsaaan Australia pada tahun 2009. Pemerintah menyediakan pelatihan anti perdagangan orang kepada TNI sebelum mereka ditugaskan ke misi perdamaian internasional.33

Peran serta masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), antara lain Lingkungan dan Keluarga, Organisasi kemasyarakatan, Serikat Buruh/Serikat Pekerja, LSM (HAM Komnas HAM), Health (YKB), Bantuan Hukum (misalnya, LBH, PBHI), Hak Konsumen

33

(14)

(misalnya. YLKIA), Perlindungan Anak (misalnya, Komnas PA, Organisasi Perempuan). Termasuk juga tokoh agama dan organisasi keagamaan serta tokoh masyarakat.

Selama tahun 2009, pemerintah Indonesia mengadili 129 tersangka pelaku perdagangan orang. Pada tahun 2008 mengadili 109 orang. Penjatuhan vonis pada tahun 2009 juga meningkat menjadi 55 dari 46 pada tahun 2008. Sebanyak 55 pengadilan dan 9 penjatuhan vonis pada tahun 2009 dilakukan atas kasus perdagangan buruh. Lama hukuman rata-rata yang diberikan kepada terpidana adalah 43 bulan, hampir sama dengan rata-rata tahun 2008 yakni 45 bulan. Mengadili tersangka tersebut usaha Indonesia masih belum maksimal, karena pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya memenuhi standar minimum pemberantasan perdagangan orang. Pemerintah Indonesia belum menggunakan Undang-undang No. 21 Tahun 2007, tetapi masih menggunakan Undang-undang yang lain, misalnya Undang-undang mengenai Perburuhan, sehingga belum ada restitusi bagi korban. Kriminologi yang terutama digunakan untuk memberi petunjuk bagaimana masyarakat dapat memberantas kejahatan dengan hasil yang baik dan lebih-lebih bisa menghindarinya. Perdagangan orang di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks. Para korban yang ditrafiking bekerja dengan jam kerja relatif panjang dan rawan kekerasan fisik, mental dan seksual. Tidak mempunyai dukungan atau perlindungan minimal dari pihak luar. Kesehatan mereka juga terancam oleh infeksi seksual, perdagangan alkohol dan obat-obatan terlarang.34

(15)

Mengatasi permasalahan perdagangan orang tidak hanya melibatkan satu lembaga, akan tetapi harus melibatkan semua pemangku kepentingan yang ada di masyarakat, yaitu instansi-instansi pemerintah, LSM, organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam sebuah kemitraan yang diperkuat oleh peraturan pemerintah, paling tidak keputusan menteri untuk bersama-sama menangani masalah perdagangan orang. Salah satu faktor pendorong perdagangan orang adalah ketidak-mampuan sistem pendidikan yang ada maupun masyarakat untuk mempertahankan anggota keluarganya supaya tidak putus sekolah dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Petugas kelurahan dan kecamatan yang membantu pemalsuan KTP yang diperdagangkan juga menjadi faktor pendorong utama perdagangan orang. Mengatasi masalah ini diperlukan instrumen hukum atau kebijakan yang lebih ketat secara efektif mencegah pemalsuan KTP.35

Pemerintah Indonesia diharapkan secepatnya menetapkan standar minimum pembasmian perdagangan orang. Menggunakan Undang-undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang pada praktek-praktek perdagangan buruh. Adanya perbaikan kinerja pengadilan, pendakwaan dan penjatuhan hukuman atas kasus-kasus perdagangan buruh, termasuk yang melibatkan agen-agen perekrutan buruh. Memeriksa kembali Nota Kesepahaman dengan Negara-negara yang menjadi tujuan perdagangan untuk memasukkan perlindungan terhadap korban. Perlu peningkatan upaya untuk mengadili dan mendakwa pejabat publik yang menarik keuntungan dari atau terlibat dalam

35

(16)

perdagangan orang. Meningkatkan pendanaan bagi upaya penegakan hukum dan menyelamatkan, memulihkan dan mengintegrasikan para korban.

B. Perlindungan Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang 1. Pengertian Korban

Pentingnya pengertian korban disampaikan untuk membantu dalam menentukan secara jelas batas-batas yang dimaksud oleh pengertian tersebut sehingga diperoleh kesamaan cara pandang. Korban suatu kejahatan tidaklah selalu berupa individu ataupun orang perorangan, tetapi bisa juga berupa kelompok orang, masyarakat dan juga badan hukum.36

Perspektif ilmu pengetahuan pidana lazimnya pengertian korban “korban kejahatan” merupakan terminology disiplin ilmu kriminologi dan victimologi yang

kemudian dikembangkan dalam system peradilan pidana. Dikaji dari perspektif ilmu victimologi, pengertian korban dapat diklasifikasikan secara luas dan sempit. Pengertian luas korban diartikan sebagai orang yang menderita atau dirugikan akibat pelanggaran baik bersifat pelanggaran hukum pidana maupun diluar hukum pidana atau juga termasuk korban penyalahgunaan kekuasaan. Pengertian korban dalam artian sempit dapat diartikan sebagai victim of crime yaitu korban kejahatan yang diatur dalam ketentuan hukum pidana.

Berbagai pengertian korban banyak dikemukakan oleh para ahli maupun bersumber dari undang-undang, sebagian diantaranya adalah sebagai berikut :37 a.Arief Gosita

36

Ibid,hal,25.

(17)

Korban adalah mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan hak asasi pihak yang dirugikan.

b.Muladi

Korban adalah orang-orang yang baik secara individual maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian fisik atau mental, emosional, ekonomi atau gangguan subtansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana dimasing-masing Negara, termasuk penyalahgunaan kekuasaan.

c.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi dan/atau sosial, yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang. Mengacu pada pengertian-pengertian korban diatas, dapat dilihat bahwa korban pada dasarnya tidak hanya orang perorangan atau kelompok yang secara langsung menderita akibat dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi diri atau kelompoknya. Lebih luas lagi termasuk didalamnya keluarga dekat atau tanggungan langsung dari korban dan orang-orang yang mengalami kerugian ketika membantu korban mengatasi penderitaannya.38

2. Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang

Korban kejahatan sering kali identik dengan pihak yang lemah, baik lemah secara fisik maupun mental, secara ekonomis, politik dan sosial. Biasanya dikaitkan

38

(18)

dengan anak-anak, tidak berpendidikan, miskin, tidak kenal hukum, tidak mempunyai perlindungan dan lain-lain. Kondisi dan situasi korban dapat merangsang orang atau kelompok lain melakukan kejahatan terhadap korban. Ada kejahatan yang disadari oleh pelaku kejahatan, tetapi ada kejahatan yang tidak disadari korban akan menimpa dirinya, begitu pula korban tindak pidana perdagangan orang. Korban menyadari bahwa dapat terjadi tindak pidana perdagangan orang terhadap dirinya seperti tenaga kerja Indonesia dan ada yang tidak menyadari karena ditipu atau dibujuk, sehingga terjadi tindak pidana perdagangan orang.39

Menurut Mardjono, mengenai korban meliputi juga pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang bersumber dari penyalahgunaan secara melawan hukum kekuasaan ekonomi seperti perlanggaran terhadap peraturan ketenagakerjaan, penipuan konsumen, penyelewengan dalam bidang perdagangan oleh perusahaan-perusahaan transnasional dan sebagainya dan penyalagunaan secara melawan hukum kekuasaan umum, seperti pelanggaran terhadap hak asasi manusia, penyalahgunaan wewenang oleh alat penguasa dan sebagainya.

Batasan pengertian korban kejahatan adalah bagian yang tidak mudah untuk dirumuskan karena meliputi pada aspek-aspek kehidupan yang luas. Batasan pengertian korban terdapat dalam undang-undang yang mana pengertian korban tindak pidana perdagangan orang sama dengan pengertian korban pada umumnya hanya korban tersebut akibat dari tindak perdagangan orang. Lebih rinci dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak

39

(19)

Pidana Perdagangan Orang. Pasal 1 angka 3 adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik dan sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan. Pengertian korban menurut undang-undang tersebut, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 1 angka 2 yang menyatakan bahwa korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.

Ruang lingkup mengenai korban kejahatan mencakup tiga hal, yaitu siapa saja yang menjadi korban, penderitaan atau kerugian apakah yang dialami korban kejahatan, dan siapa yang bertanggung jawab dan/atau bagaimana penderitaan serta kerugian yang dialami korban dapat dipulihkan. Kerugian dan penderitaan korban suatu tindak pidana dapat berupa materi, fisik, psikologis dan sosial. Pengelompokan kerugian atau penderitaan tersebut tidak berarti bahwa seorang korban hanya mengalami salah satu kerugian atau penderitaan saja karena pada beberapa jenis tindak pidana dapat pula dijumpai berbagai kerugian dan penderitaan yang dirasakan sekaligus, termasuk korban tindak pidana perdagangan orang yang mengalami beberapa kerugian dan penderitaan sekaligus, kerugian materiil dan juga penderitaan fisik serta psikis.40

Kerugian materi dapat berupa uang dan hilangnya pendapatan yang seharusnya diperoleh. Kerugian yang diderita saat terjadinya tindak pidana juga dapat terjadi kerugian materi setelah tindak pidana terjadi. Kerugian atau penderitaan fisik mudah terlihat dari penderitaan yang lainnya. Ini mempunyai

40

(20)

dampak yang bervariasi sesuai dengan tingkat keseriusan luka yang diderita korban. Jenis-jenis korban dapat dilihat dari bermacam-macam perspektif, ada yang ditinjau dari perspektif keterlibatan korban dalam terjadinya kejahatan, yaitu sebagai berikut:41

a.Nonparticipating victims adalah mereka yang menyangkal atau menolak kejahatan dan penjahat, tetapi tidak turut berpartisipasi dalam penanggulangan kejahatan.

b.Latent or presisposed victims adalah mereka yang mempunyai karakter tertentu cenderung menjadi korban pelanggaran tertentu.

c.Provocative victims adalah mereka yang menimbulkan kejahatan atau pemicu kejahatan.

d.Participating victims adalah mereka yang tidak menyadari atau memiliki perilaku lain, sehingga memudahkan dirinya menjadi korban.

e.False victims adalah mereka yang menjadi korban karena dirinya sendiri. 3. Perlindungan Hukum Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang

Kebijakan perlindungan pada korban kejahatan pada hakekatnya merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari kebijakan hukum. Berdasarkan konsep tersebut, peran Negara guna meciptakan suatu kesejahteraan sosial sebagaimana amanat UUD 1945 dan Pancasila, tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materiil dari warga negaranya, tetapi lebih dari itu, diperlukan penegakan hukum yang mempunyai aspek perlindungan kepada

(21)

korban kejahatan guna terpenuhinya rasa keadilan dan kepastian hukum dalam kehidupan bernegara.42

Perlindungan hukum terhadap korban kejahatan secara memadai tidak saja merupakan isu nasional, tetapi juga internasional, karena itu hal ini perlu memperoleh perhatian yang serius. Pentingnya perlindungan hukum korban kejahatan memperoleh perhatian serius, dapat dilihat dalam : Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power oleh PBB sebagai hasil dari The Seventh United Nation Conggres on the Prevention of Crime and the Treatment of Offendenrs yang berlangsung di Milan Italia pada September 1985. Deklasi tersebut, bentuk perlindungan hukum yang diberikan mengalami perluasan tidak hanya ditujukan pada korban kejahatan, tetapi juga perlindungan terhadap korban akibat penyalahgunaan kekuasaan.

Korban kejahatan yang pada dasarnya merupakan pihak yang paling menderita dalam suatu tindak pidana, tidak memperoleh perlindungan sebanyak yang diberikan undang-undang kepada pelaku kejahatan. Setelah pelaku kejahatan telah dijatuhi sanksi pidana oleh pengadilan, kondisi korban tidak diperdulikan. Kaitannya dengan upaya perlindungan hukum terhadap korban perdagangan orang, maka upaya perlindungan hukum bagi masyarakat menjadi penting. Hal tersebut disebabkan masyarakat baik kelompok maupun perorangan dapat sewaktu-waktu menjadi korban kejahatan perdagangan orang. Perlindungan hukum korban kejahatan perdagangan orang sebagai bagian dari perlindungan kepada masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk atau model.

42

(22)

Pada dasarnya bentuk atau model perlindungan terhadap korban kejahatan dapat juga diberikan kepada korban tindak pidana perdagangan orang, untuk lebih mendalami bentuk terhadap korban kejahatan perdagangan orang, maka terdapat beberapa bentuk atau model perlindungan yang dapat diberikan, yaitu sebagai berikut : 43

a. Pemberian Restitusi

Restitusi adalah kewajiban pengembalian harta milik atau pembayaran atas kerusakan atau kerugian yang diderita, penggantian biaya-biaya yang timbul sebagai akibat jatuhnya korban atau penyediaan jasa oleh pelakunya sendiri. Setiap korban tindak pidana perdagangan orang atau ahli warisnya berhak memperoleh restitusi dari pelaku. Restitusi ini merupakan ganti kerugian atas kehilangan kekayaan atau penghasilan, penderitaan, biaya untuk tindakan perawatan medis dan atau psikologis serta kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan orang.

Kepentingan korban dalam konsep ganti rugi terkandung dua manfaat, yaitu untuk memenuhi kerugian materiil dan segala biaya yang telah dikeluarkan dan merupakan pemuasan emosional korban. Adapun dilihat dari sisi kepentingan pelaku, kewajiban mengganti kerugian dipandang sebagai suatu bentuk pidana yang dijatuhkan dan dirasakan sebagai suatu yang konkret dan langsung berkaitan dengan kesalahan yang diperbuat pelaku.

(23)

Menurut Gelaway yang merumuskan lima tujuan dari kewajiban mengganti kerugian, yaitu :44

1.Meringankan penderitaan korban.

2.Sebagai unsur yang meringankan hukuman yang dijatuhkan. 3.Sebagai salah satu cara merehabilitasi terpidana.

4.Mempermudah proses peradilan.

5.Dapat mengurangi ancaman atau reaksi masyarakat dalam bentuk tindakan balas dendam.

Belakangan ramai diperbincangkan tentang restitusi kepada korban tindak pidana, apakah restitusi bagian dari bentuk kriminilisasi kepada pelaku kejahatan atau ini merupakan bagian dari pada hak asasi korban. Perdebatan ini belum tuntas hingga terbentuknya Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Menjawab pertanyaan ini maka patut diketengahkan pandangan internasional tentang masalah ini dan juga konsepsi teoretisnya. Ketentuan mengenai hak-hak korban pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran hukum telah dirumuskan dalam dalam prinsip-prinsi dasar dan panduan PBB tentang hak atas remedia dan reparasi bagi korban pelanggaran HAM berat dan pelanggaran hukum pidana internasional tahun 2006 atau lebih dikenal dengan “basic principles and guidelines on the rights to remedy

and reparation for victims of gross violation of international human rights law and serious violation of international humanitarian law”.

Ketentuan hukum pidana internasional ini, korban memiliki hak untuk disediakan tempat reparasi yang penuh dan layak yang mencukup tetapi tidak

44

(24)

terbatas pada: restitusi, rehabilitasi, pelayanan yang memuaskan. Restitusi bila dimungkinkan akan mengembalikan korban pada keadaan semula sebelum terjadinya tindak pidana. Kompensasi diberikan untuk setiap kerusakan atau kerugian yang secara ekonomis dapat diperkirakan nilainya, sebagai akibat dari pelanggaran hak asasi manusia misalnya kerugian fisik dan mental, kesakitan, penderitaan dan tekanan batin, kesempatan yang hilang dalam pendidikan dan pekerjaan, biaya medis dan biaya rehabilitasi lain yang masuk akal dan lain-lain. Rehabilitasi merujuk pada layanan medis, psikologis, legal dan sosial yang bertujuan memajukan pemulihan korban.

Konteks hukum pidana, sejak akhir abad ke-19, telah terjadi pergeseran pada kriminalisasi pelaku tindak pidana dari offender oriented kepada victim oriented. Pergeseran ini dengan dua argumentasi yaitu negara ikut bersalah sehingga ikut menanggung jawabi dengan memberikan restitusi dan kompensasi. Sebenarnya konsepsi restitusi atau ganti kerugian merupakan pendekatan tertua yang kembali dihidupkan termasuk dalam hukum pidana adat Indonesia.

(25)

restitusi adalah untuk meringankan penderitaan korban, sebagai unsur yang meringankan hukuman yang akan dijatuhkan, sebagai salah satu cara merehabilitasi terpidana, mempermudah proses peradilan dan dapat mengurangi ancaman atau reaksi masyarakat dalam bentuk tindakan balas dendam.

Memberikan pelayanan kepada korban dalam bentuk restitusi dikenal dua model pendekatan model hak prosedural dan model pelayanan. Konsepsi hak-hak prosedural, koban aktif membela kepentingannya mulai dari proses penyidikan, kejaksaan hingga pengadilan, korban juga harus hadir dan didengar kesaksiaannya dalam setiap proses peradilan, korban punya hak untuk menuntut ganti kerugian bahkan mengadakan perdamaian dengan pelaku, korban punya hak yuridis kuat untuk mengejar hak-haknya yang dirampas oleh pelaku. Model pelayanan melihat korban sebagai sasaran umum untuk dilayani. Pemberian sanksi pidana yang bersifat restitutif dan kompensasi kepada korban. Adanya pusat-pusat pelayanan adalah untuk korban yang disediakan negara atau civil society.

(26)

R-KUHP dan R-KUHAP sebagai hukum pidana Indonesia di masa depan. Pasal 31 ayat (1) Rancangan KUHAP ternyata juga mengatur tentang penggabungan perkara gugatan ganti kerugian pada perkara pidana. Pada Pasal 34 ditentukan adanya restitusi sebagai pidana tambahan. Konsepsi ini tentu patut dikritisi, karena konsepsi hukum yang ada saat ini masih belum mendudukan masalah ini para proporsi yang sebenarnya. Masalah restitusi diatur secara terpisah dalam berbagai perundang-undangan, kita tidak memiliki akar filosofis yang jelas untuk masalah ini, sehingga persoalan restitusi ini harus bisa dimunculkan sejalan dengan filosofi dan nilai-nilai hukum negeri ini.45

b. Pemberian Kompensasi

Kompensasi dapat digunakan sebagai bentuk lain perlindungan korban tindak pidana sebagai danti kerugian yang diberikan oleh Negara. Ganti kerugian oleh Negara tersebut merupakan suatu pembayaran pelayanan kesejahteraan, karena Negara bertanggung jawab dan berkewajiban secara moral untuk melindungi masyarakatnya. Kompensasi merupakan kewajiban yang harus dibayarkan dalam bentuk uang tunai atau diberikan dalam berbagai bentuk, seperti perawatan kesehatan mental fisik, pemberian pekerjaan, perumahan, pendidikan dan tanah. 46

Berkaitan dengan keseimbangan korban akibat dari perbuatan jahat merupakan indikasi pertanggungjawaban masyarakat atas tuntutan pembayaran kompensasi yang berkarakter perdata. Kompensasi diminta oleh korban dalam bentuk permohonan dan apabila dikabulkan dibayar oleh masyarakat (negara).

45

Yulia Rena. (2010). Viktimologi Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kejahatan. Yogyakarta: Graha Ilmu, hal,77.

46

(27)

Kebijakan terhadap perlindungan kepentingan korban merupakan bagian yang integral dari usaha meningkatkan kesejahteraan sosial yang tidak dapat dilepaskan dari tujuan negara, yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Atas dasar ini, negara harus ikut campur tangan secara aktif dalam upaya memberikan perlindungan terhadap nasib korban secara kongkrit dan individual, salah satunya adalah dalam bentuk kompensasi. Arif Gosita menulis alasan-alasan utama ganti kerugian (kompensasi) kepada korban oleh negara antara lain adalah sebagai berikut:

1.Kewajiban negara untuk melindungi warga negaranya.

2.Tidak cukupnya ganti kerugian yang diberikan oleh pelaku pada korban. 3.Ketidaklayakan pembahagian hasil.

4.Pandangan Sosiologi bahwa terjadinya perbuatan pidana

adalah merupakan kesalahan masyarakat pada umumnya.

(28)

tanggung jawab negara pula. Pengertian restitusi dan kompensasi merupakan istilah yang dalam penggunaannya sering dapat dipertukarkan (interchangeable). Menurut Stephen Schafer, perbedaan atara kedua istilah itu adalah bahwa kompensasi lebih bersifat keperdataan. Kompensasi timbul dari permintaan korban dan dibayar oleh masyarakat atau merupakan bentuk pertanggungjawaban masyarakat atau negara (the responsible of the society) sedangkan restitusi lebih bersifat pidana yang timbul dari putusan Pengadilan dan dibayar oleh terpidana atau merupakan bentuk pertanggungjawapan terpidana (the responsibility of the offender).

Lebih lanjut Stephen Schafer menyatakan terdapat lima system pemberian restitusi dan kompensasi kepada korban kejahatan :

1.Ganti rugi yang bersifat keperdataan, diberikan melalui proses perdata. System ini memisahkan tuntutan ganti rugi korban dari proses peradilan pidana.

2.Kompensasi yang bersifat keperdataan, diberikan melalui proses pidana.

3.Restitusi yang bersifat perdata dan bercampur dengan sifat pidana, diberikan melalui proses pidana. Restitusi di sini tetap bersifat keperdataan, namun tidak diragukan sifat pidana (punitif) nya. Salah satu bentuk restitusi menurut system ini adalah “denda kompensasi” (compensatory fine). Denda ini merupakan “kewajiban yang bernilai uang” (monetary obligation) yang dikenakan kepada

terpidana sebagai suatu bentuk pemberian ganti rugi kepada korban kejahatan di samping pidana yang seharusnya diberikan.

(29)

aspek pidana apapun, walaupun diberikan dalam proses pidana. Jadi, kompensasi tetap merupakan lembaga keperdataan murni, tetapi negaralah yang memenuhi atau menanggung kewajiban ganti rugi yang dibebankan Pengadilan kepada pelaku. Hal ini merupakan pengakuan, bahwa negara telah gagal menjalankan tugasnya melindungi korban dan gagal mencegah terjadinya kejahatan. Di Indonesia lembaga yang secara khusus menangani masalah pemberian kompensasi tehadap korban kejahatan dalam hal ini dibebankan pada LPSK.

Kompensasi terhadap korban perdagangan manusia yaitu bentuk ganti kerugian yang dibayarkan oleh negara kepada korban tindak pidana perdagangan orang. Kompensasi merupakan bentuk ganti kerugian yang diberikan oleh negara kepada korban tindak pidana yang pelakunya tidak mampu membayar karena: 1.Pelaku meninggal dunia.

2.Tindak pidana yang kasusnya tidak terungkap.

3.Tindak pidana yang pelakunya tidak terungkap atau melarikan diri. 4.Pelakunya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana.

(30)

Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban menyatakan bahwa kompensasi hanya dapat diberikan terhadap korban tindak pidana terorisme dan pelanggaran HAM. Uraian di atas maka dapat dipahami bahwa tidak ada kompensasi terhadap korban tindak pidana perdagangan orang karena kompensasi hanya diberikan oleh negara terhadap korban tindak pidana pelanggaran HAM dan terorisme.

c. Pemberian Rehabilitasi

(31)

diri atau kurangnya pandangan positif terhadap kehidupan, dan oleh sebab itu psikologi dalam terapi ini memaikan peranan yang besar dalam program rehabilitasi.47

Pada Undang-Undang No.21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang masalah rehabilitasi diatur pada pasal 51, pasal 52 dan pasal 54:

1.Korban berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang.

2.Hak-hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh korban atau keluarga korban, teman korban, kepolisian, relawan pendamping, atau pekerja sosial setelah korban melaporkan kasus yang dialaminya atau pihak lain melaporkannya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia.

3.Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada pemerintah melalui menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di daerah.

Pasal 52 ayat (1) Menteri atau instansi yang menangani rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) wajib memberikan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan, dan reintegrasi sosial paling lambat 7

47

(32)
(33)

dimaksud dalam Undang-Undang ini juga berhak mendapatkan hak dan perlindungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lain.

C. Rancangan KUHP Tentang Perlindungan Korban TPPO

KUHP yang sekarang berlaku di Indonesia adalah KUHP yang bersumber dari hukum kolonial Belanda yang sudah tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang. Kenyataan ini menyebabkan kebutuhan untuk melakukan pembaharuan hukum pidana di Indonesia. Pembaharuan hukum pidana perlu dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap korban perdagangan manusia secara lebih baik di masa yang akan datang. Pembaharuan tersebut dilakukan antara lain melalui penyusunan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan kajian komparatif atau perbandingan. 48

1. Rancangan KUHP Draft II Tahun 2005

Penjelasan Umum RKUHP menyatakan bahwa Penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional untuk menggantikan KUHP peninggalan pemerintah kolonial Belanda dengan segala perubahannya merupakan salah satu usaha dalam rangka pembangunan hukum nasional. Usaha tersebut dilakukan secara terarah dan terpadu agar dapat mendukung pembangunan nasional di berbagai bidang, sesuai dengan tuntutan pembangunan serta tingkat kesadaran hukum dan dinamika yang berkembang dalam masyarakat. Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa hubungan antara penetapan sanksi pidana dan tujuan pemidanaan adalah titik penting dalam menentukan strategi perencanaan politik kriminal. Tujuan pemidanaan dapat menjadi landasan untuk menentukan cara,

48

(34)

Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Draft II Tahun 2005, sarana atau tindakan yang akan digunakan.

Kebijakan menetapkan sanksi pidana apa yang dianggap paling baik untuk mencapai tujuan, setidak-tidaknya mendekati tujuan, tidak dapat dilepaskan dari persoalan pemilihan berbagai alternatif sanksi. Masalah pemilihan berbagai alternatif untuk memperoleh pidana mana yang dianggap paling baik, paling tepat, paling patut, paling berhasil atau efektif merupakan masalah yang tidak mudah. Sudut politik kriminil, maka tidak terkendalikannya perkembangan kriminalitas yang semakin meningkat, justru dapat disebabkan oleh tidak tepatnya jenis sanksi pidana yang dipilih dan ditetapkan. RKHUP menganut sistem pemidanaan dua jalur (double track sistem) dimana di samping pelaku tindak pidana dapat dijatuhi sanksi pidana (criminal punishment), dapat juga dikenakan berbagai tindakan (treatment).49

Jenis-jenis pemidanaan dalam RKUHP ini juga bertambah dengan adanya pidana pengawasan dan pidana kerja sosial yang merupakan bagian dari pidana pokok, jenis tindak pidana yang sebelumnya belum pernah dikenal dalam KUHP Indonesia. Barda Nawawi Arief, menyatakan bahwa pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam perumusan tujuan pemidanaan adalah : a) Pada hakekatnya Undang-Undang merupakan sistem hukum yang bertujuan dan pidana hanya merupakan alat/sarana untuk mencapai tujuan, maka konsep KUHP merumuskan tujuan pemidanaan yang bertolak pada keseimbangan dua sasaran pokok yaitu perlindungan masyarakat dan pemidanaan merupakan suatu rangkaian proses dan

(35)

kebijakan yang konkretasinya sengaja direncanakan melalui tiga tahap, yaitu Pertama, tahap penetapan/perumusan hukum pidana oleh pembuat undang-undang. Kedua, tahap penerapan hukum pidana oleh aparat penegak hukum atau pengadilan. Ketiga, tahap pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana/eksekusi pidana. Agar ada keterjalinan dan keterpaduan antara ketiga tahap itu sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan, maka dirumuskan tujuan pemidanaan, b) Perumusan tujuan pemidanaan dimaksudkan sebagai fungsi pengendalian kontrol dan sekaligus memberikan landasan filosofis, dasar rasionalitas dan motivasi pemidanaan yang jelas dan terarah. Bertolak dari ide perlindungan masyarakat, maka RKUHP tetap mempertahankan jenis-jenis pidana berat. Aspek lain dari perlindungan masyarakat adalah perlindungan korban dan pemulihan keseimbangan yang terganggu di masyarakat. Memenuhi aspek ini, RKUHP menyediakan sanksi tambahan berupa pembayaran ganti rugi dan pemenuhan kewajiban adat. Adanya ancaman pidana minimal khusus untuk delik-delik tertentu di dalam RKUHP juga merupakan salah satu aspek perlindungan masyarakat yang diberikan RKUHP. Konteks perlindungan hukum terhadap korban perdagangan manusia, Rancangan KUHP Draft II-2005 memberikan pengaturan melalui pasal-pasal sebagai berikut :

a. Pasal 498.

(36)

b. Pasal 501

Pasal 501 RUU KUHP memberi ancaman pidana paling lama 1 tahun, kepada pelaku perdagangan manusia yang melakukan eksploitasi kepada anak-anak dengan cara menjadikan pengemis atau melakukan pekerjaan berbahaya.

c. Pasal 544

Pasal 544 RUU KUHP mengatur tentang larangan atas perbuatan perdagangan manusia. Pasal ini sudah diberikan definisi secara jelas mengenai perdagangan manusia. Ancaman pidana yang diberikan oleh Pasal ini juga sudah tergolong berat dengan menetapkan adanya pidana minimal khusus dan pidana maksimal. Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengiriman, penyerahterimaan orang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, penipuan, penculikan, penyekapan, penyalahgunaan kekuasaan, pemanfaatan posisi kerentanan atau penjeratan utang, untuk tujuan mengekploitasi atau perbuatan yang dapat tereksploitasi orang tersebut, dipidana karena melakukan tindak pidana perdagangan orang, dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Kategori IV dan paling banyak Kategori VI.

d. Pasal 545.

Pasal 545 RKUHP memberikan pengaturan tentang pelaku perdagangan manusia yang memasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan atau sebagai tempat transit untuk diperdagangkan ke wilayah Negara lain.

(37)

Pasal 546 secara lengkap berbunyi: Setiap orang yang melakukan tindak pidana perdagangan orang Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia atau memperdagangkan orang Indonesia di luar wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana yang sama dengan Pasal 544.

f. Pasal 549

Pasal 549 berbunyi : “Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain

supaya melakukan tindak pidana perdagangan orang, dan tindak pidana itu tidak terjadi, diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda Kategori IV.

g. Pasal 550

Pasal 550 secara lengkap berbunyi : Setiap orang yang menggunakan, memanfaatkan, dan menikmati hasil tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan orang yang diperdagangkan, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544. Pasal ini merupakan delik tindak pidana lain yang berhubungan dengan perdagangan manusia.

h. Pasal 551

(38)

tahun dan paling lama 9 (sembilan) tahun dan pidana denda paling sedikit Kategori III dan paling banyak Kategori V.

i.Pasal 552

Bunyi Pasal 552 RKUHP adalah: Setiap penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaan memaksa seseorang untuk melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544.

j.Pasal 553

Pasal 553 RKUHP berbunyi: Setiap orang yang menyembunyikan orang yang melakukan tindak pidana perdagangan orang atau yang dituntut karena tindak pidana perdagangan orang atau setiap orang yang memberikan pertolongan kepadanya, untuk menghindari penyidikan atau penahanan oleh pejabat yang berwenang atau oleh orang lain yang menurut ketentuan Undang-Undang terus menerus untuk sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda Kategori IV. k. Pasal 554

(39)

sebagai komoditas perdagangan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 9 (sembilan) tahun.

l. Pasal 555

Bunyi Pasal 555 RKUHP secara lengkap adalah: Setiap orang yang bekerja sebagai awak kapal di sebuah kapal, padahal diketahui bahwa kapal tersebut digunakan untuk tujuan atau keperluan perdagangan orang atau jika awak kapal dengan sukarela tetap bertugas sesudah diketahui bahwa kapal tersebut digunakan untuk tujuan atau keperluan perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 9 (sembilan) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori III dan paling banyak Kategori V.

m. Pasal 557

Delik pemberian bantuan, kemudahan, sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana perdagangan manusia, serta perencana, menyuruh melakukan, percobaan maupun pembantuan untuk melakukan tindak pidana perdagangan manusia dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana pelaku perdagangan manusia atau sebagaimana yang diatur dalam Pasal 544 RKUHP. Delik-delik tersebut dinyatakan dalam Pasal 557 dan 558 RKUHP Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kemudahan, sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pembuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544.

(40)

Pasal 559 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Draft II-2005 secara lengkap berbunyi: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun, setiap orang yang menyediakan atau mengumpulkan dana yang digunakan atau patut diketahuinya digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal Pasal 559 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) Draft II- 2005.

Analisa mengenai kualifikasi delik, pertanggung jawaban pidana dan ancaman pidana dari pasal-pasal RKUHP diatas adalah sebagai berikut:50

1. Kualifikasi Delik.

Pembaharuan Hukum Pidana materiil dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana baru ini tidak membedakan lagi antara tindak pidana (strafbaarfeit) berupa kejahatan (misdrijven) dan tindak pidana pelanggaran (overtredingen). Keduanya dipakai istilah tindak pidana. Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana hanya terdiri atas 2 (dua) Buku yaitu Buku Kesatu memuat Ketentuan Umum dan Buku Kedua yang memuat ketentuan tentang Tindak Pidana. Masalah percobaan dan pembantuan, serta masalah lain seperti “concursus”, daluwarsa penuntutan dan

pelaksanaan pidana dan lainnya, telah diatur secara tersendiri dalam buku kesatu RKUHP yang dapat diberlakukan untuk semua delik pada buku kedua RKUHP sesuai dengan kondisi yang telah disebutkan dalam Pasal-Pasal tersebut.

2. Rumusan Pertanggungjawaban Pidana.

(41)

Pertanggungjawaban pidana menurut RKUHP ialah diteruskannya celaan yang objektif yang ada pada tindak pidana dan secara subyektif kepada seseorang yang memenuhi syarat untuk dapat dijatuhi pidana karena perbuatannya itu. Menurut RKUHP, tidak seorang pun yang melakukan tindak pidana dipidana tanpa kesalahan. Kesalahan terdiri dari kemampuan bertanggungjawab, kesengajaan, kealpaan dan tidak ada alasan pemaaf, namun dalam Pasal 38 disebutkan juga bagi tindak pidana tertentu, undang-undang dapat menentukan bahwa seseorang dapat dipidana sematamata karena telah dipenuhinya unsur-unsur tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan adanya kesalahan. Pasal 38 juga mengatur : Dalam hal ditentukan oleh undang-undang, setiap orang dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain, Asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld) tetap merupakan salah satu asas utama dalam hukum pidana. Seseorang mempunyai kesalahan bilamana pada waktu melakukan tindak pidana, dilihat dari segi kemasyarakatan ia dapat dicela oleh karena perbuatannya. Kesalahan adalah keadaan jiwa seseorang yang melakukan perbuatan dan perbuatan yang dilakukan itu sedemikian rupa, sehingga orang itu patut dicela. Apabila pembuat tindak pidana memang mempunyai kesalahan dalam melakukan tindak pidana, maka ia akan dijatuhi pidana. Apabila pembuat tindak pidana tidak mempunyai kesalahan, walaupun telah melakukan perbuatan yang dilarang dan perbuatan tersebut diancam dengan pidana, ia tidak akan dijatuhi pidana. Hal-hal tertentu sebagai perkecualian dimungkinkan penerapan asas “strict liability” dan asas “vicarious liability”. Asas “strict liability” adalah pembuat tindak pidana telah

(42)

perbuatannya, sedangkan “vicarious liability”, tanggungjawab pidana seseorang

dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam batas-batas perintahnya. Pasal 498, 501, 544, 545, 546, 551, 553, 554 ayat (1), 555, 556, 559 memang tidak menyatakan secara eksplisit unsur sengaja atau kealpaan, namun karena ada unsur untuk melakukan, padahal diketahui, untuk tujuan, dengan maksud, berusaha, untuk mempermudah, dengan sepengetahuan, padahal diketahui, sesudah diketahui, patut diketahuinya, maka dapat dikatakan bahwa pertanggungjawaban pidana dalam Pasal 501 RKUHP menganut prinsip pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan. Bahwa pertanggungjawaban pidana dalam Pasal 550, 552 RKUHP menganut prinsip pertanggungjawaban strict liability, karena unsur dalam pasal-pasal tersebut tidak mementingkan niat atau kehendak dari pelaku. Berdasarkan Pasal 205 Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Draft II-2005, setiap orang adalah orang perseorangan, termasuk korporasi. Kata setiap orang dalam pasal-pasal RKUHP, dapat berarti orang perseorangan maupun korporasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa pihak-pihak yang dapat dikenai pertanggungjawaban pidana atau subyek tindak pidana Perdagangan Manusia dalam Undang-Undang ini adalah orang perseorangan maupun korporasi.51

3. Rumusan Ancaman Pidana.

Analisa rumusan ancaman pidana dalam Pasal ini adalah sebagai berikut: a. Jenis sanksi/pidana.

51

(43)

Jenis sanksi pidana yang terdapat dalam pasal-pasal perdagangan manusia Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Draft II-2005 adalah pidana pokok berupa penjara dan denda. RKUHP mengatur mengenai adanya pidana pokok jenis baru berupa pidana pengawasan dan pidana kerja sosial, sebagaimana diatur dalam Pasal 65:

(1) Pidana pokok terdiri atas : a. pidana penjara.

b. pidana tutupan. c. pidana pengawasan. d. pidana denda dan e. pidana kerja sosial.

(2)Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana. Urutan jenis pidana pokok tersebut di atas menentukan berat ringannya pidana. Hakim bebas memilih jenis-jenis pidana (strafsoort) yang akan dijatuhkan di antara kelima jenis tersebut, walaupun dalam Buku Kedua RKUHP ini hanya dirumuskan tiga jenis pidana yaitu pidana penjara, pidana denda dan pidana mati, sedangkan jenis pidana tutupan, pidana pengawasan dan pidana kerja sosial pada hakikatnya merupakan cara pelaksanaan pidana (strafmodus) sebagai alternatif pidana penjara. Pidana tambahan terhadap pelaku diatur dalam Pasal 67 yaitu: (1) Pidana tambahan terdiri atas :

a. pencabutan hak tertentu.

(44)

d. pembayaran ganti kerugian dan

e. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup.

(2)Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok, sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersamasama dengan pidana tambahan yang lain.

(3)Pidana tambahan berupa pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup atau pencabutan hak yang diperoleh korporasi dapat dijatuhkan walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana.

(45)

dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan yang lain. Ganti kerugian yang diberikan kepada korban ditetapkan melalui keputusan hakim, sebagaimana diatur dalam Pasal 99 ayat (1) Dalam putusan hakim dapat ditetapkan kewajiban terpidana untuk melaksanakan pembayaran ganti kerugian kepada korban atau ahli warisnya. Ayat (2) Jika kewajiban pembayaran ganti kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilaksanakan, maka berlaku ketentuan pidana penjara pengganti untuk pidana denda. Pembayaran ganti kerugian yang dilakukan oleh pelaku kepada korban dapat dijadikan sebagai alasan atau faktor memperingan pidana seperti yang diatur dalam Pasal 71 dan Pasal 132 RKUHP. Tetap mempertimbangkan Pasal 54 dan Pasal 55, pidana penjara sejauh mungkin tidak dijatuhkan jika dijumpai keadaan-keadaan sebagai berikut :52

a.Terdakwa berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun atau di atas 70 (tujuh puluh) tahun.

b.Terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana. c.Kerugian dan penderitaan korban tidak terlalu besar. d.Terdakwa telah membayar ganti kerugian kepada korban.

e.Terdakwa tidak mengetahui bahwa tindak pidana yang dilakukan akan menimbulkan kerugian yang besar.

f.Tindak pidana terjadi karena hasutan yang sangat kuat dari orang lain. g.Korban tindak pidana mendorong terjadinya tindak pidana tersebut.

h.Tindak pidana tersebut merupakan akibat dari suatu keadaan yang tidak mungkin terulang lagi.

52

(46)

i.Kepribadian dan perilaku terdakwa meyakinkan bahwa ia tidak akan melakukan tindak pidana yang lain.

j.Pidana penjara akan menimbulkan penderitaan yang besar bagi terdakwa atau keluarganya.

k.Pembinaan yang bersifat noninstitusional diperkirakan akan cukup berhasil untuk diri terdakwa.

l.Penjatuhan pidana yang lebih ringan tidak akan mengurangi sifat beratnya tindak pidana yang dilakukan terdakwa.

m.Tindak pidana terjadi di kalangan keluarga atau n.Terjadi karena kealpaan.

Faktor-faktor yang memperingan pidana meliputi : a.Percobaan melakukan tindak pidana.

b.Pembantuan terjadinya tindak pidana.

c.Penyerahan diri secara sukarela kepada yang berwajib setelah melakukan tindak pidana.

d.Tindak pidana yang dilakukan oleh wanita hamil.

e.Pemberian ganti kerugian yang layak atau perbaikan kerusakan secara sukarela sebagai akibat tindak pidana yang dilakukan.

f.Tindak pidana yang dilakukan karena kegoncangan jiwa yang sangat hebat.

g.Tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 atau

(47)

Delik pemberatan pidana terhadap pelaku perdagangan manusia, yang dikarenakan akibat, diberikan oleh Pasal 547 ayat (2) dimana apabila korban perdagangan manusia mengalami kematian, maka ancaman pidana terhadap pelaku menjadi pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544 sampai dengan Pasal 546 mengakibatkan korban menderita luka berat, tertular penyakit yang membahayakan jiwanya, atau kehilangan fungsi reproduksinya, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Kategori IV dan paling banyak Kategori VI. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544 sampai dengan Pasal 546 mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.

(48)

pembuat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 544 ditambah 1/3 (satu per tiga). Pasal 544, 545 dan 546 memberikan ancaman pidana minimal khusus. RKUHP memberikan pedoman atau aturan pemidanaan mengenai ancaman pidana minimal khusus dalam Pasal 69 ayat (2) yaitu Pidana penjara untuk waktu tertentu dijatuhkan paling lama 15 (lima belas) tahun berturut-turut atau paling singkat 1 (satu) hari, kecuali ditentukan minimum khusus serta untuk pidana minimal khusus jenis denda dinyatakan dalam Pasal 80 ayat (2) yaitu Jika tidak ditentukan minimum khusus maka pidana denda paling sedikit Rp 15.000,00 (lima belas ribu rupiah).

Sistem perumusan pidana dalam pasal-pasal RKUHP tersebut adalah berupa alternatif (penjara atau denda), maupun kumulatif (penjara dan denda). Sifat imperatif/kumulatif tidak memberi keleluasaan kepada hakim untuk memilih dan sulit diterapkan apabila hakim akan menjatuhkan pidana kepada korporasi sebagai pelaku tindak pidana, karena dengan adanya sistem kumulatif maka terhadap korporasi sebagai pelaku perdagangan manusia, hakim juga “harus” menjatuhkan

pidana penjara selain pidana denda. Penjelasan Pasal 50 menerangkan bahwa, jika suatu tindak pidana dilakukan oleh dan untuk suatu korporasi, maka penuntutannya dapat dilakukan dan pidananya dapat dijatuhkan terhadap korporasi sendiri atau korporasi dan pengurusnya atau pengurusnya saja.

(49)
(50)

memerlukan kajian komparatif yang mendasar/fundamental, konseptual, kritis dan konstruktif.53

Referensi

Dokumen terkait

Pertimbangan hakim untuk menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pembegalan atau pencurian dengan kekerasan harus didasari pasal 365 KUHPidana

PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA PENJARA TERHADAP ANAK YANG.. MELAKUKAN TINDAK

Permasalahan: Bagaimanakah pelaksanaan putusan hakim yang mencantumkan restitusi dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang terhadap putusan nomor 1633/PID/B/2008/PN TK dan

Pertimbangan Hakim pada kasus Nomor: 587/Pid.Sus/2018/PN Jmb hakim menjatuhkan pidana penjara tersebut sudah tepat karena terdakwa merupakan pelaku bukan korban

Merujuk pada kasus yang telah diputuskan hakim tersebut dipahami bahwa hakim menjatuhkan pidana penjara satu tahun atas dasar sifat kooperatifnya pelaku selama

Putusan hakim yang menjatuhkan hukuman dengan sanksi yang bersifat kumulatif (dengan mengancamkan pidana penjara yang dikumulatifkan dengan pidana denda),

Hakim memiliki kebebasan mandiri dalam menjatuhkan sanki pidana penjara terhadap pelaku yang melakukan perbuatan melawan hukum. Kebebasan tersebut adalah mutlak dan

Apa yang mendasari pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan cara pengiriman tenaga kerja migran illegal