• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Pangandaran, Tim Penyusun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Pangandaran, Tim Penyusun"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat, rahmat,

dan karunia-Nya sehingga penyusunan Laporan Akhir Penyusunan Basis Data dan

Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 ini

dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Laporan ini adalah tahapan terakhir di dalam melakukan Penyusunan Basis Data dan

Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 yang

berisikan latar belakang, dasar hukum, maksud, tujuan, dan sasaran, ruang lingkup

pekerjaan sampai dengan keluaran yang akan dihasilkan pada pekerjaan ini. Selain itu

pada laporan ini juga akan dijabarkan mengenai pendekatan studi, gambaran umum

wilayah, metodologi yang gunakan, rencana kerja yang akan dilakukan selama

berlangsungnya pekerjaan ini. Kemudian pada dua bab terakhir menjabarkan hasil

analisis serta kesimpulan.

Atas dukungan dan kerjasama dari semua pihak, khususnya team teknis/supervisi, serta

instansi-instansi teknis terkait, dan pihak lainnya, kami ucapkan terimakasih. Semoga

laporan ini dapat dijadikan bahan kerja selanjutnya, dan bermanfaat bagi kita semua.

Pangandaran, 2020

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ...I-1 1.2. Maksud, Tujuan dan Saran ...I-2 1.2.1. Maksud ...I-2 1.2.2. Tujuan ...I-2 1.2.3. Sasaran ...I-2 1.3. Dasar Hukum ...I-3 1.4. Jangka Waktu Pelaksanaan ...I-4 1.5. Ruang Lingkup ...I-4 1.6. Keluaran ...I-5 1.7. Sistematika Penulisan ...I-6 BAB II PENDEKATAN STUDI ... II-1 2.1. Pendekatan Teknis ... II-1 2.2. Peran Pemerintah Dalam Pembangunan... II-2 2.3. Kebijakan Fiskal Daerah ... II-3 2.4. Peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah ... II-4 2.5. Peran Pajak Dan Retribusi Daerah Dalam Mendukung Pembiayaan Daerah ... II-7 2.6. Optimalisasi Pajak Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah... II-9 2.7. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... II-10 2.8. Pajak ... II-16 2.8.1. Definisi Pajak ... II-16 2.8.2. Perkembangan Perpajakan Daerah ... II-17 2.8.3. Konsep Pajak... II-18 2.8.4. Kegunaan Pajak ... II-21 2.8.5. Prinsip Dasar Evaluasi Pajak Daerah ... II-23 2.8.6. Pembagian Pajak Menurut Golongan, Sifat dan Pemungutannya. ... II-25 2.8.7. Asas Pemungutan Pajak ... II-26 2.8.8. Tinjauan Pajak dari Berbagai Aspek ... II-29 2.8.9. Fungsi Pajak ... II-32

(3)

2.9. RETRIBUSI DAERAH ... II-33 BAB III GAMBARAN UMUM ...III-1 3.1. Landasan Pembentukan Kabupaten Pangandaran ... III-1 3.2. Informasi Kondisi Umum Daerah ... III-3 3.2.1. Kondisi Geografi ... III-3 3.2.2. Kondisi Topografi ... III-5 3.2.3. Kondisi Geologi ... III-8 3.2.4. Kondisi Hidrologi ... III-10 3.2.5. Kondisi Tanah ... III-12 3.2.6. Kondisi Klimatologi ... III-13 3.2.7. Kondisi Pengunaan Lahan ... III-14 3.2.8. Kondisi Rawan Bencana ... III-16 3.3. Kondisi Demografi ... III-17 3.3.1. Jumlah Penduduk ... III-17 3.3.2. Kepadatan Penduduk ... III-18 3.3.3. Komposisi Penduduk ... III-19 3.3.4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan ... III-22 3.3.5. Jumlah Penduduk yang Bekerja ... III-22 3.3.6. Ketenagakerjaan ... III-25 3.4. Potensi Ekonomi... III-26 3.4.1. Pariwisata ... III-26 3.4.2. Pertanian ... III-31 3.4.3. Peternakan ... III-37 3.4.4. Perikanan ... III-38 3.4.5. Kehutanan ... III-43 3.4.6. Potensi Industri ... III-44 3.4.7. Potensi Perdagangan ... III-44 3.4.8. Koperasi ... III-45 3.4.9. UMKM ... III-46 3.4.10. Pasar ... III-47 3.5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran ... III-47 BAB IV METODOLOGI DAN RENCANA KERJA ... VI-1 4.1. Metodologi ... VI-1 4.1.1. Tahap Persiapan dan Pengumpulan Data ... VI-1 4.1.2. Tahap Penataan dan Pengolahan Data ... VI-2 4.1.3. Tahap Penyajian dan Analisis/Interpretasi Data ... VI-3

(4)

4.2. Rencana Kerja ... VI-4 4.2.1. Pelaporan ... VI-6 BAB V PEMBAHASAN ... V-1 5.1. Pajak Daerah ... V-1 5.1.1. Objek Pajak ... V-2 5.1.2. Jenis Pajak untuk Tiap Kecamatan ... V-6 5.1.3. Jenis Pajak untuk Tiap Kecamatan dan Tiap Desa ... V-11 5.2. Retribusi Daerah ... V-22 5.3. Potensi dan Proyeksi ... V-23 5.3.1. Potensi dan Proyeksi Pajak Daerah ... V-24 5.3.2. Potensi dan Proyeksi Retribusi Daerah ... V-26 5.3.3. Potensi dan Proyeksi Pendapatan Asli Daerah ... V-28 5.4. Strategi dan Rencana Aksi ... V-29 BAB VI KESIMPULAN ... VI-1

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Luas Administratif Kecamatan di Kabupaten Pangandaran... III-4 Tabel 3.2 Kondisi Topografi Kabupaten Pangandaran ... III-5 Tabel 3.3 Kondisi Kemiringan Lereng Kabupaten Pangandaran ... III-6 Tabel 3.4 Jenis Batuan di Kabupaten Pangandaran ... III-9 Tabel 3.5 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Pangandaran ... III-10 Tabel 3.6 Jenis Tanah di Kabupaten Pangandaran ... III-13 Tabel 3.7 Penggunaan Lahan di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-15 Tabel 3.8 Luasan Potensi Gempa di Kabupaten Pangandaran ... III-16 Tabel 3.9 Luasan Potensi Tsunami di Kabupaten Pangandaran ... III-16 Tabel 3.10 Luasan Potensi Gerakan Tanah di Kabupaten Pangandaran... III-17 Tabel 3.11 Luasan Potensi Bencana Banjir di Kabupaten Pangandaran ... III-17 Tabel 3.12 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Kepadatan, dan Jumlah KK di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-18 Tabel 3.13 Persentase Penyebaran Penduduk Per-Kecamatan di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019... III-18 Tabel 3.14 Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019... III-19 Tabel 3.15 Struktur Usia Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Pangandaran Tahun 2019

... III-20 Tabel 3.16 Angka Beban Ketergantungan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-21 Tabel 3.17 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Pangandaran 2019 ... ... III-22 Tabel 3.18 Data Jumlah Penduduk Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Pangandaran Tahun 2019... III-23 Tabel 3.19 Angka Pengangguran Kabupaten Pangandaran ... III-25 Tabel 3.20 Jumlah Pencari Kerja Kabupaten Pangandaran Tahun 2017-2020 ... III-25 Tabel 3.21 Jumlah Lapangan Kerja Kabupaten Pangandaran Tahun 2017-2020 ... III-26

(6)

Tabel 3.22 Gini Ratio Kabupaten Pangandaran ... III-26 Tabel 3.23 Kawasan Pariwisata dan Sebaran Daya Tarik Wisata Kabupaten Pangandaran . III-27 Tabel 3.24 Jumlah dan Jenis Daya Tarik Wisata Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-29 Tabel 3.25 Jumlah dan Jenis Akomodasi di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-30 Tabel 3.26 Jenis dan Jumlah Restoran di Kabupaten Pangandaran 2016-2020 ... III-30 Tabel 3.27 Usaha Penyelenggara Kegiatan Hiburan, Rekreasi, dan MICE di Kabupaten Pangandaran Tahun 2016-2020 ... III-30 Tabel 3.28 Usaha Jasa Biro dan Agen Perjalanan Wisata dan di Kabupaten Pangandaran Tahun 2016-2020 ... III-31 Tabel 3.29 Fasilitas Wisata di Kabupaten Pangandaran Tahun 2016-2020 ... III-31 Tabel 3.30 Kelembagaan Pariwisata di Kabupaten Pangandaran Tahun 2016-2020 ... III-31 Tabel 3.31 Perkembangan Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas Padi Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019 ... III-33 Tabel 3.32 Perkembangan Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas Palawija di Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 – 2019 ... III-33 Tabel 3.33 Perkembangan Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas

Biofarmaka Kabupaten Pangandaran Tahun 2018–2019 ... III-34 Tabel 3.34 Perkembangan Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas Sayuran Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019 ... III-35 Tabel 3.35 Perkembangan Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Komoditas Buah-Buahan Kabupaten Pangandaran Tahun 2018–2019 ... III-35 Tabel 3.36 Populasi Ternak Besar di Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019 ... III-37 Tabel 3.37 Populasi Ternak Unggas di Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019 ... III-37 Tabel 3.38 Produksi Ternak Besar dan Ternak Unggas di Kabupaten Pangandaran ... III-37 Tabel 3.39 Produksi Ikan Tangkap (Ikan Laut) Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019 ... ... III-39 Tabel 3.40 Jumlah Produksi Ikan Budidaya Air Payau Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 – 2019... III-40 Tabel 3. 41 Jumlah Produksi Ikan Budidaya Air Laut Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 – 2019

(7)

Tabel 3.42 Jumlah Produksi Ikan Budidaya Air Tawar Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 - 2019... III-41 Tabel 3.43 Jumlah Produksi Ikan Dari Perairan Umum Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 – 2019... III-42 Tabel 3.44 Perkembangan Produksi Ikan di Kabupaten Pangandaran Tahun 2018 – 2019 ... III-42 Tabel 3.45 Data Komoditas Ekspor Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... III-45 Tabel 3.46 Data Jumlah Koperasi, Jumlah Anggota, Jumlah Modal Usaha dan Sisa Hasil Usaha Koperasi Tahun 2018-2019 di Kabupaten Pangandaran ... III-45 Tabel 3.47 Data Jumlah Pasar Kabupaten, Jumlah Pasar Desa, Jumlah Minimarket Tahun

2018-2019 di Kabupaten Pangandaran ... III-47 Tabel 3.48 Pendapatan Daerah dan PAD Kabupaten Pangandaran ... III-48 Tabel 3.49 Pendapatan Daerah dan PAD Kabupaten Pangandaran ... III-48 Tabel 3.50 Pendapatan Pajak dan Retribusi Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 ... III-49 Tabel 3.51 Persentase Pendapatan Tiap Jenis Pajak Terhadap Pendapatan Pajak Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 ... III-49 Tabel 3.52 Persentase Tiap Jenis Retribusi Terhadap Pendapatan Retribusi Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 ... III-50 Tabel 4.1 Jadwal pelaksanaan Pekerjaan ... VI-6 Tabel 5.1 Jumlah Objek Pajak Aktif dan Tidak Aktif di Kabupaten Pangandaran Tahun 2018-2019

... V-2 Tabel 5.2 Jumlah Objek Pajak Berdasarkan Status di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... V-3 Tabel 5.3 Jumlah Objek Pajak dan Status Objek Pajak Per Kecamatan dan Per Desa di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... V-3 Tabel 5.4 Jumlah Objek Pajak yang Melakukan Transaksi pada Masa Tahun Pajak 2019 Per Kecamatan dan Per Desa di Kabupaten Pangandaran Tahun 2019 ... V-5 Tabel 5.5 Realisasi Pajak Hotel Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-6 Tabel 5.6 Realisasi Pajak Restoran Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-7 Tabel 5.7 Realisasi Pajak Hiburan Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-8

(8)

Tabel 5.8 Realisasi Pajak Reklame Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-8 Tabel 5.9 Realisasi Pajak Penerangan Jalan Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-9 Tabel 5.10 Realisasi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-9 Tabel 5.11 Realisasi Pajak Parkir Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-10 Tabel 5.12 Realisasi Pajak Air Tanah Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-10 Tabel 5.13 Realisasi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Per Kecamatan Masa Pajak Tahun 2019 di Kabupaten Pangandaran (Rupiah) ... V-11 Tabel 5.14 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cigugur Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-11 Tabel 5.15 Tabel Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cigugur Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah), Lanjutan ... V-12 Tabel 5.16 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-12 Tabel 5.17 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah), Lanjutan ... V-13 Tabel 5.18 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-13 Tabel 5.19 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-14 Tabel 5.20 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-14 Tabel 5.21 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-15 Tabel 5.22 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-16 Tabel 5.23 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-16

(9)

Tabel 5.24 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-17 Tabel 5.25 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-18 Tabel 5.26 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-18 Tabel 5.27 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-19 Tabel 5.28 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-19 Tabel 5.29 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-20 Tabel 5.30 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) , Lanjutan ... V-20 Tabel 5.31 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah) ... V-21 Tabel 5.32 Realisasi Tiap Jenis Pajak Per Desa di Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran Masa Pajak Tahun 2019 (Rupiah), Lanjutan ... V-21 Tabel 5.33 Realisasi Retribusi Jasa Umum Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 (Rupiah)

... V-22 Tabel 5.34 Tabel Realisasi Retribusi Jasa Usaha Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 (Rupiah) ... V-23 Tabel 5.35 Realisasi Retribusi Perizinan Tertentu Kabupaten Pangandaran Tahun 2015-2019 (Rupiah) ... V-23 Tabel 5.36 Proyeksi Moderat Pendapatan Pajak Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun

2020-2023 (Rupiah) ... V-24 Tabel 5.37 Proyeksi Optimis Pendapatan Pajak Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun

2020-2023 (Rupiah) ... V-25 Tabel 5.38 Proyeksi Moderat Pendapatan Retribusi Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun

2020-2023 (Rupiah) ... V-26 Tabel 5.39 Tabel Proyeksi Optimis Pendapatan Retribusi Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun 2020-2023 (Rupiah) ... V-27

(10)

Tabel 5.40 Tabel Proyeksi Moderat dan Optimis Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran Tahun 2020-2023 (Rupiah) ... V-28

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 1 Peta Batas Administratif Kabupaten Pangandaran ... III-4

Gambar 3. 1 Peta Administrasi Kabupaten Pangandaran ... III-5

Gambar 3. 2 Peta Topografi Kabupaten Pangandaran ... III-7

Gambar 3. 3 Peta Topografi Kabupaten Pangandaran ... III-8

Gambar 3. 4 Jenis Batuan di Kabupaten Pangandaran ... III-9

Gambar 3. 5 Peta Geologi Kabupaten Pangandaran ... III-10

Gambar 3. 6 Peta DAS Kabupaten Pangandaran ... III-12

Gambar 3. 7 Peta Jenis Tanah Kabupaten Pangandaran ... III-13

Gambar 3. 8 Peta Curah Hujan Kabupaten Pangadaran ... III-14

Gambar 3. 9 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Pangandaran ... III-15

Gambar 4. 1 Tahapan Pelaksanaan Penyusunan Penyusunan Database dan Pemetaan

Potensi PAD Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 ... IV-4

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini akan dijabarkan mengenai latar belakang, dasar hukum, maksud dan tujuan, sasaran, ruang lingkup pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan, keluaran sampai dengan penjabaran mengenai sistematika penulisan laporan akhir.

1.1. LATAR BELAKANG

Berdasarkan kepada KAK, Pelaksanaan otonomi daerah berimplikasi pada diberikannya kewenangan yang lebih luas kepada Pemerintah Daerah, baik dalam urusan pemerintahan maupun dalam pengelolaan pembangunan. Kewenangan yang luas ini selain memberikan kesempatan dan tanggung jawab bagi Pemerintah Daerah dalam mengelola potensi dan sumberdaya untuk mengembangkan daerahnya secara mandiri juga berimplikasi pada tuntutan untuk meningkatkan kemampuan kelembagaan, SDM, dan keuangan daerah.

Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan dalam rangka pembiayaan pembangunan daerah, sumber-sumber pendanaan pelaksanaan Pemerintahan Daerah meliputi: Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah. Pendapatan Asli Daerah merupakan Pendapatan Daerah yang bersumber dari hasil Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi.

Dalam konteks penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan, maka sebagaimana halnya dengan daerah-daerah lainnya, Pemerintah Kabupaten Pangandaran dituntut untuk mengelola dan meningkatkan kinerja PAD sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan. Sejauh ini, upaya peningkatan PAD melalui sumber pendapatan secara konvensional masih sangat diandalkan oleh Pemerintah Kabupaten Pangandaran khususnya pada sektor Pajak dan Retribusi Daerah.

Salah satu kewenangan daerah untuk mengali dan mengembangkan PAD dari sumber Pajak dan Retribusi diatur dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Kabupaten Pangandaran memiliki posisi geografis yang strategis dan secara ekonomis sangat menguntungkan bagi perkembangan kota. Selain itu, dalam konstelasi regional Kabupaten Pangandaran memiliki peran penting. Peran dan fungsi tersebut telah menjadi salah satu faktor stimulan berkembangnya kegiatan pembangunan di Kabupaten Pangandaran. Berpijak pada kondisi tersebut, maka

(13)

Pemerintah Kabupaten Pangandaran berupaya terus untuk dapat memanfaatkan potensi sumber daya dan peluang geografis yang dimilikinya sehingga diharapkan berimplikasi pada upaya peningkatan kinerja PAD terutama dari sektor Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Pemerintah Kabupaten Pangandaran memandang perlu untuk menggali dan menggembangkan potensi Pajak dan Retribusi Daerah baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Seiring dengan upaya penggalian potensi Pajak dan Retribusi Daerah, maka diperlukan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini diharapkan mampu menyajikan informasi potensi (jumlah, kapasitas, dan pola sebaran) objek Pajak dan Retribusi Daerah secara akurat dan aktual sehingga dapat mempermudah dan memperlancar upaya untuk meningkatkan kinerja penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah khususnya serta PAD pada umumnya.

1.2. MAKSUD, TUJUAN DAN SARAN

Maksud, Tujuan dan Sasaran dalam kegiatan Penyusunan Database dan Pemetaan Potensi PAD Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 adalah sebagai berikut :

1.2.1. Maksud

Kegiatan ini diselenggarakan atas dasar kebutuhan data yang akurat mengenai potensi sumber-sumber pajak daerah di Kabupaten Pangandaran.

1.2.2. Tujuan

Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran ditujukan untuk membentuk suatu basis data potensi pendapatan asli daerah, antara lain meliputi pajak dan retribusi daerah dalam rangka meningkatkan kinerja dan kontribusi sektor pajak dan retribusi daerah terhadap pos PAD melalui penggalian potensi dan pengembangan (intensifikasi dan ekstensifikasi) terhadap potensi objek pajak dan retribusi daerah.

1.2.3. Sasaran

Sasaran yang perlu dicapai dalam Kegiatan Penyusunan Database dan Pemetaan Potensi PAD Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 Kabupaten Pangandaran diantaranya : 1) Tersusunnya Basis data mengenai kondisi (jumlah, kapasitas, dan pola sebaran)

potensi dan peluang pengembangan potensi pajak dan retibusi daerah yang memuat informasi tentang: Objek pajak dan subjek pajak.

2) Tersusunnya Strategi dan rencana aksi dalam rangka penggalian dan pengembangan (intensifikasi dan ekstensifikasi) potensi objek pajak dan retribusi daerah.

(14)

3) Tersusunnya Informasi yang memuat informasi dan pemetaan tentang: Basis data objek pajak dan retribusi daerah, serta potensi pajak dan retribusi daerah.

4) Tersusunnya Proyeksi PAD untuk 3 tahun mendatang.

1.3. DASAR HUKUM

Penyusunan Database dan Pemetaan Potensi PAD Kabupaten Pangandaran Tahun 2020 Kabupaten Pangandaran mengacu kepada:

1) Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; 2) Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

3) Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 Tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah;

4) Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2016 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah;

5) Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;

6) Peraturan Pemerintah No. 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau Dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak;

7) Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah; 8) Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah;

9) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 45 Tahun 2016 tentang Pajak Hotel; 10) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 46 Tahun 2016 tentang Pajak Restoran; 11) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 47 Tahun 2016 tentang Pajak Reklame; 12) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 48 Tahun 2016 tentang Pajak Hiburan; 13) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 49 Tahun 2016 tentang Pajak Penerangan

Jalan;

14) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 1 Tahun 2018 Tentang Pajak Parkir;

15) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 2 Tahun 2018 tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

16) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 2 Tahun 2016 tentang Retribusi Pelayanan di Tepi Jalan Umum;

(15)

17) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 3 Tahun 2016 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;

18) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 4 Tahun 2016 tentang Retribusi Pelayanan Pasar;

19) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 5 Tahun 2016 tentang Retribusi Izin Usaha Perikanan;

20) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 6 Tahun 2016 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;

21) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 8 Tahun 2016 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan;

22) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 14 Tahun 2016 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;

23) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 32 Tahun 2016 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

24) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 34 Tahun 2016 tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;

25) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 35 Tahun 2016 tentang Retribusi Terminal; 26) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 36 Tahun 2016 tentang Retribusi Tempat

Khusus Parkir;

27) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 37 Tahun 2016 tentang Retribusi Izin Trayek;

28) Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran No. 38 Tahun 2016 tentang Retribusi Tempat Pelelangan.

1.4. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini diperkirakan 90 (Sembilan Puluh) hari kalender.

1.5. RUANG LINGKUP

Berikut adalah penjabaran mengenai lingkup kegiatanya:

a. Lingkup Administratif

Lingkup wilayah dalam rangka pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran adalah wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

(16)

b. Lingkup Substansi

Lingkup Substansi dalam rangka pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran, yaitu: Pengumpulan data potensi PAD; Perumusan konsep pengembangan basis data; dan Pemetaan potensi PAD.

1.6. KELUARAN

Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan pelaporan diantaranya sebagai berikut: 1. Laporan Pendahuluan

Laporan dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, yang didalamnya memuat: pemahaman terhadap KAK (Kerangka Acuan Kerja), rencana kerja dan metoda pelaksanaan, deskripsi awal target/sasaran wilayah dan pekerjaan. Laporan diserahkan setelah melaksanakan 30% pekerjaan atau selambatnya pada hari ke 15 pelaksanaan pekerjaan.

2. Laporan Draft Akhir

Laporan dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, yang didalamnya memuat peraturan daerah yang berhubungan dengan pajak penerimaan daerah khususnya Pajak Reklame dan Pajak Parkir; yaitu data eksisting potensi sumber-sumber pendapatan daerah yang bersumber dari pajak reklame dan pajak parkir; kondisi eksisting objek sumber-sumber PAD yang bersumber dari pajak reklame dan pajak parkir; serta hasil analisis dan proyeksi PAD yang bersumber dari pajak reklame dan pajak parkir. Laporan diserahkan setelah melaksanakan 80% pekerjaan dan dilakukan pemaparan kepada stakeholder terkait, yang diserahkan selambatnya pada hari ke 75 pelaksanaan pekerjaan.

3. Laporan Akhir

Laporan dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar, yang didalamnya substansi sesuai hasil penyempurnaan dari laporan draft akhir. Laporan diserahkan setelah melaksanakan 100% pekerjaan pada hari ke 90 pelaksanaan pekerjaan.

4. Soft Copy

Softcopy dibuat sebanyak 5 (lima) buah dalam bentuk Digital Disk (CD) untuk masing-masing laporan, dengan total 15 (lima belas) digital disk (CD), dalam bentuk ketikan naskah dan lampiran seluruh laporan dalam bentuk PDF dan MSWord.

(17)

1.7. SISTEMATIKA PENULISAN

Laporan Akhir merupakan tahap kedua dari Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran. Adapun bab ini terdiri dari 6 bab diantaranya adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini akan dijabarkan mengenai latar belakang, dasar hukum, maksud dan tujuan, sasaran, ruang lingkup pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan, keluaran sampai dengan penjabaran mengenai sistematika penulisan laporan khir.

BAB II PENDEKATAN STUDI

Bab ini berisi mengenai pendekatan studi yang digunakan dalam Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran.

BAB III GAMBARAN UMUM

Pada bab ini akan dijabarkan mengenai gambaran umum wilayah yang menjadi ruang lingkup pekerjaan, adapun didalamnya meliputi kondisi geografis, demografis, sosial, ekonomi, dan lain-lain.

BAB IV METODOLOGI DAN RENCANA KERJA

Dalam bab ini menjabarkan metodologi penelitian yang digunakan selama proses dilakukannya kegiatan ini, serta pada bab ini juga akan dijabarkan mengenai rencana kerja yang akan dilakukan pada pekerjaan ini.

BAB V

PEMBAHASAN

Bagian ini membahas hasil pengolahan data terkait dengan pajak dan retribusi daerah Kabupaten Pangandaran

BAB VI

KESIMPULAN

Pada bab ini akan dijabarkan mengenai kesimpulan dari hasil Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran.

(18)

BAB II

PENDEKATAN STUDI

Bab ini berisi mengenai pendekatan studi yang digunakan dalam Pekerjaan Penyusunan Basis Data dan Pemetaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran.

2.1. PENDEKATAN TEKNIS

Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan beberapa pendekatan, yang lebih lanjut dapat dikembangkan, sebagai berikut:

1. Pendekatan Normatif

Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan dengan mengacu pada dokumen-dokumen yang saat ini digunakan oleh Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pangandaran serta data-data lain yang dapt diperoleh dari OPD terkait di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran, termasuk seluruh peraturan perundang-undangan yang terkait.

2. Pendekatan Partisipatif

Proses penyusunan dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pangandaran, melalui serangkaian perolehan informasi dan data, serta asumsi-asumsi berdasarkan hasil pikir dan pendapat para pemangku jabatan maupun pelaksana tugas harian dalam pelaksanaan pengelolaan pajak daerah dan Retribusi Daerah, termasuk dari sumber-sumber lain.

3. Pendekatan Fasilitatif

Pendekatan fasilitatif adalah dengan memberikan proses pendampingan kepada tim teknis yang dibentuk oleh pemilik pekerjaan, maupun rapat-rapat pembahasan guna mengoptimalisasi hasil pekerjaan, maupun aktivitas lainnya terkait dengar pendapat dengan pihak lain di luar lingkup Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Pangandaran. 4. Pendekatan Teknis Akademis (Desk Study)

Proses penyusunan dilakukan dengan menggunakan metodologi dan alat analisis yang dapat dipertanggung-jawabkan secara akademis dalam melakukan pengujian maupun perhitungan dari proses analisis data, termasuk didalamnya proses identifikasi, analisa maupun dalam pelaksanaan pengambilan kesepakatan. Pendekatan teknis juga dilakukan dengan proses perbandingan atas beberapa data-data realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah yang dihitung secara statistik, serta analisis terkait keterkaitan atas variabel-variabel hasil identifikasi.

(19)

2.2. PERAN PEMERINTAH DALAM PEMBANGUNAN

Peran pemerintah dalam perekonomian dalam rangka pelaksanaan pembangunan bukan hanya berusaha membelanjakan berbagai penerimaan yang sudah didapat dari sistem perpajakan yang ada, akan tetapi lebih jauh dari hal tersebut. Terkadang pemerintah harus berupaya untuk memperbaiki berjalannya institusi atau “rule of the game” yang ada dalam perekonomian, sehingga bisa menjamin peran institusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Salah satu upaya pemerintah dalam pengembangan institusi adalah berusaha agar mekanisme pasar bisa tetap menjadi salah satu faktor utama yang mendorong berbagai aktivitas kegiatan masyarakat yang pada akhirnya nanti bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Oleh sebab itu dalam literatur ekonomi publik, peran/fungsi pemerintah di bidang ekonomi bisa dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:

1. Fungsi alokasi. Fungsi ini selalu dikaitkan dengan peran pemerintah dalam mengatasi kegagalan pasar dan eksternalitas yang terjadi dalam pembangunan. Tujuan utama dari fungsi ini adalah bagaimana pemerintah melalui berbagai kegiatan yang dilakukannya berupaya untuk membuat agar alokasi sumberdaya perekonomian bisa berjalan secara efisien.

2. Fungsi distribusi. Fungsi ini selalu dikaitkan dengan upaya-upaya pemerintah dalam berusaha untuk mewujudkan keadilan dalam pembangunan. Salah satu bentuk keadilan pembangunan adalah terciptanya distribusi pendapatan yang lebih merata diantara masyarakatnya. Walaupun mekanisme telah berfungsi dengan baik, namun tetap saja sebagian orang menganggapnya tidak adil. Oleh karenanya sistem perpajakan (sistem penerimaan) yang diterapkan oleh pemerintah ditujukan untuk menciptakan adanya rasa keadilan bagi masyarakat.

3. Fungsi stabilisasi. Tugas pemerintah dalam berusaha untuk mewujudkan tujuan makro ekonomi – pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, dan mengatasi masalah pengangguran – bisa dilakukan melalui dua paket kebijakan ekonomi yaitu Kebijakan Fiskal dan Moneter.

Musgrave & Musgrave (1993) mendeteksi dua faktor kemungkinan dari ketiga fungsi pemerintah di atas. Menurut mereka, fungsi stabilitas secara umum lebih baik jika dijalankan oleh pemerintah pusat (sentralistik), sedangkan fungsi alokatif dan distributif lebih baik dijalankan oleh pemerintah daerah. Hanya saja fungsi distributif ini lebik baik jika dijalankan oleh pemerintah pusat, sebab didalamnya ada unsur keadilan nasional harus dicapai.

Terkait dengan fungsi stabilitas, jika bidang ini didesentalisasikan akan menjadi chaos terhadap sistem pemerintahan dan pengelolaan ekonomi daerah. Tidak menutup kemungkinan masing-masing daerah menetapkan instrumen fiskal dan moneter yang berbeda. Jika itu dilakukan maka masyarakat secara keseluruhan akan dirugikan. Atau dalam konteks pertahanan kemanan,

(20)

apabila fungsi ini diserahkan kepada daerah, maka setiap daerah memiliki standar dan prosedur sistem pengamanan yang berbeda. Sedangkan fungsi distribusi, meskipun hal ini baiknya dijalankan oleh pemerintah daerah, namun demikian kapasitas dan potensi setiap daerah yang ada di Indonesia berbeda-beda, sehingga fungsi distributif lebih baik dijalankan oleh pusat agar terjadi distribusi sumber daya yang adil.

Ketiga fungsi di atas menjadi faktor acuan pembagian kewenangan pemerintah pusat dan daerah. Oleh sebab itu, dalam UU Otonomi Daerah, yang terkait dengan pembagian kewenangan. Kewenangan pemerintah pusat hanya meliputi bidang pertahanan keamanan, agama, fiskal dan moneter serta peradilan. Bidang-bidang ini jika dikaitkan dengan pengadaan barang publik (public good), tingkat eksternalitasnya sangat tinggi, maka ia menjadi kewenangan pemerintah pusat. Sementara kewenangan pemerintah daerah, cakupannya di luar kewenangan dari pemerintah pusat yang disebutkan di atas.

2.3. KEBIJAKAN FISKAL DAERAH

Kebijakan negara adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur aktivitas pemerintahannya untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Kebijakan negara dibidang ekonomi dapat dibedakan kedalam dua hal yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal merupakan pilihan pemerintah yang terkait dengan tingkat pengeluaran dan pendapatan pemerintah. Kebijakan fiskal di daerah ditujukan untuk:

1. Menganalisis pengaruh penerimaan dan pengeluaran daerah bagi: a. Perbaikan kondisi perekonomian,

b. Penurunan tingkat pengangguran, dan c. Kestabilan harga (Inflasi)

2. Dalam konteks perencanaan pembangunan ekonomi, rancangan kebijakan fiskal diarahkan untuk :

a. Pengembangan aspek ekonomi (seperti; pendapatan per kapita, pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan stabilisasi ekonomi)

b. Peningkatan aspek sosial (seperti, pemerataan, pendidikan & kesehatan)

Dalam penerapannya kebijakan fiskal dibagi kedalam dua bagian, yaitu kebijakan fiskal dalam penerimaan dan kebijakan fiskal dalam pengeluaran. Kebijakan fiskal dalam hal penerimaan pemerintah adalah suatu cara untuk mengukur mobilisasi sumber dana domestik, dengan instrumen utamanya perpajakan dan retribusi. Sedangkan dalam hal pengeluaran kebijakan fiskal ditunjukan untuk meningkatkan efektivitas belanja pemerintah agar dapat mendorong peningkatan kondisi ekonomi (peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, dan stabilitas harga). Perkembangan besarnya penerimaan dan pengeluaran pemerintah dapat dilihat pada Anggara Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

(21)

Berdasarkan UU No. 32/2004, tingkatan pemerintahan di Indonesia hanya dibagi kedalam 2 tingkatan yaitu Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Berkaitan dengan pembahasan kebijakan fiskal, tingkatan-tingkatan pemerintahan tersebut menggambarkan adanya pembagian tanggungjawab fiskal diantara berbagai tingkatan pemerintahan (sistem ini kemudian dikenal sebagai fiscal federalism) dan sekaligus menggambarkan adanya hubungan fiskal diantara berbagai tingkatan pemerintahan tersebut.

2.4. PERAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DALAM PEMBANGUNAN

EKONOMI DAERAH

Pembangunan merupakan suatu proses multidimensi, dimana pelaksanaan pembangunan selalu berusaha untuk melakukan pengorganisasian kembali (re-organization) dan juga pengorientasian kembali (re-orientation) dari sitem sosial dan ekonomi secara keseluruhan (Todaro, 2008). Pembangunan yang dilaksanakan oleh suatu pemerintahan ditujukan untuk mencapai suatu kondisi tertentu, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara umum terdapat 3 tujuan pembangunan yang dilaksanakan pada semua tingkatan pemerintahan, baik pusat maupun daerah. Adapun ketiga tujuan pembangunan yang dimaksud tersebut diataranya adalah:

1. Meningkatkan ketersediaan dan peningkatan pada distribusi kebutuhan dasar yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik berupa makanan, kesehatan, pendidikan, perumahan, hingga keamanan dan perlindungan masyarakat.

2. Memperbaiki standar kehidupan masyarakat baik berupa peningkatan pada pendapatan masyarakat, penyediaan kesempatan kerja yang semakin luas kepada masyarakat, penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lebih baik pada masyarakat, hingga penyedian akses kehidupan sosial yang lebih baik bagi masyarakat.

3. Tujuan terakhir dari pelaksanaan pembangunan bagi masyarakat adalah bagaimana – melalui pelaksanaan pembangunan tersebut – pemerintah bisa mengupayakan adanya perluasan bagi ketersediaan didalam pilihan-pilihan sosial dan pilihan-pilihan ekonomi masyarakatnya.

Keberhasilan pembangunan akan sangat terkait dengan rumusan tujuan dan fokus dari pembangunan itu sendiri. Amartya Sen (2000) mengatakan bahwa pembangunan harus dilihat dari sisi proses memperluas kebebasan masyarakat untuk mencapai kebahagiannya, sehingga fokus utama dari pembangunan adalah bagaimana menciptakan kebebasan manusia (Amartya Sen, Development As Freedom, 2000). Pembangunan tidak semata-mata ditujukan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi dalam pendapatan nasional atau daerah, ataupun dalam kenaikan pertumbuhan pendapatan perkapita. Pembangunan juga tidak hanya memfokuskan pada terjadinya proses industrialisasi, dan adanya kemajuan dalam teknologi atau juga dalam modernisasi sosial. Kesemua itu memang diperlukan dalam pembangunan, akan tetapi bukan tujuan atau fokus utama dalam pembangunan itu sendiri.

(22)

Pembangunan yang sesungguhnya membutuhkan upaya-upaya yang serius dari seluruh lapisan yang ada (baik masyarakat, pemerintah maupun sektor swasta) untuk berupaya menyingkirkan sumber-sumber utama penyebab ketidakbebasan yang berakibat pada kemandegan pembangunan itu sendiri, seperti kemiskinan, keterbatasan kesempatan berusaha (economic oppurtunity), kekurangan dalam fasilitas publik, dan rendahnya partisipasi politik masyarakat serta kurangnya inisiatif masyarakat. Sehingga pada akhirnya, dengan pembangunan akan terjadi berbagai perubahan yang mendasar, baik pada kehidupan ekonomi, sosial budaya, maupun dalam kelembagaan/institusi. Pembangunanlah yang menyebabkan terjadinya perbedaan diantara negara-negara yang ada didunia ini. Pembangunan yang berhasil telah mengantarkan daerah menjadi daerah yang maju (developed region) dan sebaliknya keterlambatan dalam pembangunan menjadikan daerah tersebut tetap sebagai daerah yang terbelakang (under developed region).

Memasuki dasawarsa 1990-an, United Nations Development Program (UNDP) mengadopsi suatu paradigma baru mengenai pembangunan, yaitu yang disebut dengan Paradigma Pembangunan Manusia. Berbeda dengan paradigma pembangunan sebelumnya, yang menekankan pertumbuhan ekonomi dan menempatkan pendapatan (dalam konteks pembangnan di daerah biasanya diukur dengan PDRB) sebagai ukuran pencapaian pembangunan, maka konsep Paradigma Pembangunan Manusia dapat dianggap sebagai suatu konsep yang lebih komprehensif. Paradigma baru ini memperhitungkan ukuran pencapaian pembangunan manusia, disamping ukuran pencapaian pertumbuhan ekonomi.

Paradigma pembangunan manusia ini memiliki 4 (empat) pilar pokok (UNDP, 1995:12), dimana ke-empat pilar pokok ini dapat menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia seutuhnya. Secara ringkas 4 (empat) pilar pokok tersebut mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Produktivitas (productivity)

Peningkatan produktivitas penduduk menjadi kebutuhan yang utama dan menjadi salah satu bagian terpenting didalam proses peningkatan kualitas hidup. Produktivitas memerlukan investasi pada manusia, serta suatu keadaan makroekonomi yang memungkinkan penduduk untuk mengembangkan dirinya secara maksimal.

2. Pemerataan (equity)

Penduduk harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat akses terhadap semua sumberdaya ekonomi dan sosial. Semua hambatan yang memperkecil kesempatan untuk memperoleh akses tersebut harus dihapuskan, sehingga penduduk dapat mengambil manfaat dari kesempatan yang ada dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

(23)

3. Kesinambungan (sustainability)

Akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial hendaknya harus terus berlanjut tidak hanya untuk generasi sekarang saja, akan tetapi diharapkan akses tersebut dapat dinikmati juga untuk generasi-generasi yang akan datang.

4. Pemberdayaan (empowerment)

Konsep yang komprehensif dari pemberdayaan dalam paradigma ini berarti penduduk dapat melaksanakan pilihan-pilihan sesuai dengan keinginannya. Hali ini berarti kebebasan bagi penduduk untuk menentukan keputusan-keputusan bagi kehidupannya. Tidak lain, ini sejalan dengan desentralisasi dan peran aktif dari masyarakat madani untuk ikut berpartisipasi dalam membuat dan mengimplementasikan berbagai kebijakan.

Konsep pembangunan dengan Paradigma Pembangunan Manusia ini kemudian di adopsi oleh PBB dalam satu indikator yang kemudian disebut sebagai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk kemudian indikator IPM ini dijadikan sebagai dasar penilaian keberhasilan pelaksanaan pembangunan di seluruh tingkatan pemerintahan secara internasional.

Pada dasawarsa 2000-an PBB juga telah mencanangkan secara internasional apa yang disebut dengan Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan September 2000 menghadirkan 189 negara anggota PBB, yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan, sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium. Deklarasi ini menghimpun komitmen para pemimpin dunia yang tidak pernah ada sebelumnya untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi dan kebebasan fundamental dalam satu paket. Dalam konteks inilah, negara-negara anggota PBB kemudian mengadopsi Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs). MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan, MDGs didasarkan pada konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggung jawab negara berkembang untuk melaksanakan pekerjaan rumah mereka – sedangkan negara maju berkewajiban mendukung upaya tersebut.

Setiap tujuan pada MDGs memiliki satu atau beberapa target pencapaiannya. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam MDGs ada 8 buah dengan berbagi targetnya, sebagai berikut:

1. Tujuan Pertama, Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Adapun berbagai target yang hendak dicapai adalah (1) Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $ 1 perhari menjadi setengahnya antara 1990 – 2015, (2) Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya hingga tahun 2015 – dibandingkan dengan kondisi kelaparan yang ada di tahun 1990.

(24)

2. Tujuan Kedua, Mencapai pendidikan dasar untuk semua. Untuk mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan target utama yaitu menjamin bahwa sampai dengan tahun 2015, semua anak, dimanapun baik laki-laki dan perempuan, dapat menyelesaikan sekolah dasar (primary schooling).

3. Tujuan Ketiga, Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Target utama dari tujuan ketiga adalah menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.

4. Tujuan Keempat, Menurunkan angka kematian anak. Target pencapaian tujuan keempat ini adalah menurunkan Angka Kematian Balita sebesar dua-pertiganya, hingga tahun 2015 - dibandingkan dengan kondisi kematian balita yang ada di tahun 1990.

5. Tujuan Kelima, Meningkatkan kesehatan ibu. Indikator tujuan kelima yaitu berusaha menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya hingga tahun 2015 dari kondisi kematian bayi yang ada di tahun 1990.

6. Tujuan Keenam, Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya. Target pencapaian tujuan ini diantaranya adalah (1) Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015, dan (2) Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015.

7. Tujuan ketujuh, Memastikan kelestarian lingkungan hidup. Adapun beberapa target yang hendak dicapai dari tujuan ini adalah (1) Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang, (2) Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada 2015, serta (3) Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020.

8. Tujuan Kedelapan, Membangun kemitraan global untuk pembangunan.

2.5. PERAN PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DALAM MENDUKUNG

PEMBIAYAAN DAERAH

Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Permasalahan yang dihadapi oleh daerah pada umumnya dalam kaitan penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah, yang merupakan salah satu komponen dari

(25)

PAD, adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah, tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. Keadaan ini diperlihatkan dalam suatu studi yang pernah dilakukan bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD, terutama hal ini disebabkan oleh :

1. Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah

Berdasarkan UU No.34 Tahun 2000 daerah Kabupaten/Kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. Namun, melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat, khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan Pajak Pusat dan Pajak Propinsi, diperkirakan daerah memiliki basis pungutan yang relatif rendah dan terbatas, serta sifatnya bervariasi antar daerah. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi.

2. Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah

Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan pusat. Dari segi upaya pemungutan pajak, banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya, dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap pusat untuk memperoleh tambahan bantuan.

3. Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah

Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani oleh biaya pungut yang besar. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy yang rendah. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. Sebagai akibatnya, beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut, walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan.

4. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah

Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. Selama ini, peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. Sebagian besar daerah Propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%5. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). Demikian pula, distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah

(26)

penduduk, keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal), dan kemampuan masyarakat, sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu), seperti: pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai dan bea masuk. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang, yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3,39% dari total penerimaan pajak (Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Ketimpangan dalam penguasaaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”.

2.6. OPTIMALISASI PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH DALAM RANGKA

MENINGKATKAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH

Ciri utama yang menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi yaitu terletak pada kemampuan keuangan daerah. Artinya, daerah otonom harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. Ketergantungan kepada bantuan Pusat harus seminimal mungkin, sehingga PAD khususnya pajak dan retribusi daerah harus menjadi bagian sumber keuangan terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah sebagai prasyarat mendasar dalam sistem pemerintahan negara. Berkaitan dengan hal tersebut, optimalisasi sumber-sumber PAD perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah. Untuk itu diperlukan intensifikasi dan ekstensifikasi subyek dan obyek pendapatan. Dalam jangka pendek kegiatan yang paling mudah dan dapat segera dilakukan adalah dengan melakukan intensifikasi terhadap obyek atau sumber pendapatan daerah yang sudah ada terutama melalui pemanfaatan teknologi informasi. Dengan melakukan efektivitas dan efisiensi sumber atau obyek pendapatan daerah, maka akan meningkatkan produktivitas PAD tanpa harus melakukan perluasan sumber atau obyek pendapatan baru yang memerlukan studi, proses dan waktu yang panjang. Dukungan teknologi informasi secara terpadu guna mengintensifkan pajak mutlak diperlukan karena sistem pemungutan pajak yang dilaksanakan selama ini cenderung tidak optimal. Masalah ini tercermin pada sistem dan prosedur pemungutan yang masih konvensional dan masih banyaknya sistem berjalan secara parsial, sehingga besar kemungkinan informasi yang disampaikan tidak konsisten, versi data yang berbeda dan data tidak up-to-date. Permasalahan pada sistem pemungutan pajak cukup banyak, misalnya : baik dalam hal data wajib pajak/retribusi, penetapan jumlah pajak, jumlah tagihan pajak dan target pemenuhan pajak yang tidak optimal.

(27)

Jenis pungutan seperti retribusi mempunyai pengertian lain dibanding dengan pajak. Retribusi pada umumnya mempunyai hubungan langsung dengan kembalinya prestasi, karena pembayaran tersebut ditunjukkan semata-mata untuk mendapatkan suatu prestasi dari pemerintah, misalnya pembayaran uang kuliah, karcis masuk terminal, kartu langganan.

Pungututan retribusi di Indonesia didasarkan pada Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Dalam pasal 1 angka 26 Undang-undang dimaksud menyebutkan bahwa retribusi daerah, yang selanjutnya disebut retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Untuk tata cara pemungutannya, retribusi tidak dapat di borongkan dan retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen yang dipersamakan. Pelaksanaan penagihannya dapat dipaksakan.

Dalam hal wajib Retribusi tertentu kepada mereka tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi, berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD).

2.7. PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

Pendapatan asli daerah adalah salah dari sumber pendapatan daerah.Yang dimaksud Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber pendapatan di dalam wilayahnya sendiri. Pendapatan Asli Daerah tersebut dipungut berdasarkan peraturan daerah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Pajak Daerah merupakan sumber keuangan pokok bagi Daerah disamping retribusi Daerah. Pengertian pajak secara umum telah diajukan oleh para ahli, misalnya Rochmat Sumitro (1988) yang merumuskannya sebagai berikut :

Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor partikelir ke sektor pemerintahan) berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal (tegen prestatie) untuk membiayai pengeluaran umum (publike uitgaven), dan yang digunakan sebagai alat pencegah atau pendorong untuk mencapai tujuan yang ada di luar bidang keuangan. Pendapat ini kemudian disempurnakan kembali oleh ahli yang sama sebagai berikut:

Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.

(28)

Pendapat lain diajukan oleh Soemohamidjaja, sebagai berikut :

Pajak ialah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang, jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.

Menurut Halim (2004:67), Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah “semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah”. Menurut Kadjatmiko (2002:77), Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah “penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Menurut Halim dan Nasir (2006:44), Pendapatan Asli Daerah adalah “pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

Dari pendapat tersebut di atas terlihat bahwa ciri mendasar pajak adalah :

1. Pajak dipungut oleh negara berdasarkan kekuatan undang-undang dan/ atau peraturan hukum lainnya;

2. Pajak dipungut tanpa adanya kontra prestasi yang secara langsung dapat ditunjuk;

3. Hasil pungutan pajak digunakan untuk menutup pengeluaran Negara dan sisanya-apabila masih ada digunakan untuk investasi;

4. Pajak disamping sebagai sumber keuangan Negara (budgetair), juga berfungsi sebagai pengatur (regulair). (Riwu Kaho, Josef, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia, 1988).

Mengenai pengertian Pajak Daerah dapat ditelusuri dari pendapat ahli di bawah ini : Rochmat Sumitro merumuskan Pajak Daerah sebagai berikut : ‘Pajak lokal atau pajak daerah ialah pajak yang dipungut oleh Daerah-daerah swatantra, seperti Provinsi, Kotapraja, Kabupaten dan sebagainya’. Sedangkan Siagian merumuskannya sebagai, “pajak Negara yang diserahkan kepada Daerah dan dinyatakan sebagai pajak Daerah dengan Undang-undang”.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak daerah adalah pajak Negara yang diserahkan kepada daerah untuk dipungut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dipergunakan guna membiayai pengeluaran daerah sebagai badan hukum publik.

Sedangkan ciri-ciri yang menyertai pajak daerah dapat diikhtisarkan sebagai berikut : 1. Pajak daerah berasal dari pajak Negara yang diserahkan kepada daerah sebagai pajak daerah; 2. Penyerahan dilakukan berdasarkan undang-undang;

(29)

3. Pajak daerah dipungut oleh daerah berdasarkan kekuatan undang-undang dan/ atau peraturan hukum lainnya;

4. Hasil pungutan pajak daerah dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan urusan-urusan rumah tangga daerah atau untuk membiayai pengeluaran daerah sebagai badan hukum publik. (Riwu Kaho, Josef, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia,1988).

Klasifikasi PAD yang terbaru berdasakan Permendagri 13/2006 adalah terdiri dari: pajak daerah retibusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.

Menurut Halim (2004:67) Pendapatan asli Daerah dipisahkan menjadi empat pendapatan, yaitu: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. Klasifikasi PAD yang dinyatakan oleh oleh halim adalah sesuai dengan klasifikasi Kepmendagri 29/2002.

Sumber-sumber dari pendapatan asli daerah akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: 1. Pajak Daerah

Menurut Marihot. P. Siahaan (2005:7) pajak daerah adalah pungutan dari masyarakat oleh Negara (pemerintah) berdasarkan uang- uang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali (kontraprestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya untuk membiayai pengeluaran Negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau kelompok tanpa imbalan lansung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah.

Dengan demikian, pajak daerah merupakan pajak yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan peraturan daerah (Perda), yang wewenang pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Karena pemerintah daerah di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu pemerintah provinsi dan pemerintah kotaupaten/kota, pajak daerah di Indonesia dewasa ini juga dibagi menjadi dua, yaitu pajak provinsi dan pajak kotaupaten/kota.

Jenis Pajak provinsi terdiri atas: a. Pajak Kendaraan Bermotor;

(30)

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; d. Pajak Air Permukaan; dan

e. Pajak Rokok.

Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas: a. Pajak Hotel;

b. Pajak Restoran; c. Pajak Hiburan; d. Pajak Reklame;

e. Pajak Penerangan Jalan;

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan; g. Pajak Parkir;

h. Pajak Air Tanah;

i. Pajak Sarang Burung Walet;

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Dari pengertian pajak daerah tersebut diatas maka dapat diartikan bahwa pemungutan pajak daerah merupakan wewenang daerah yang diatur dalam undang-undang tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah dan Hasilnya digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah itu sendiri.

2. Retribusi Daerah

Menurut Yani (2002:55) ”Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah untuk kepentingan pribadi atau badan”.

3. Perusahaan Daerah

Sumber Pendapatan Asli Daerah selanjutnya adalah perusahaan daerah. Dalam hal ini laba perusahaan daerahlah yang diharapkan sebagai sumber pemasukan bagi daerah. Oleh sebab itu, dalam batas-batas tertentu pengelolaan perusahaan daerah haruslah bersifat profesional dan harus tetap berpegang pada prinsip ekonomi secara umum, yakni efisiensi.

Pengertian Perusahaan Daerah adalah “suatu badan usaha yang dibentuk oleh daerah untuk memperkembangkan perekonomian daerah dan untuk menambah penghasilan daerah” (Riwu Kaho, Josef, 1988). Dari pengertian ini tergambar dua fungsi pokok perusahaan daerah, yakni sebagai dinamisator perekonomian daerah yang berarti harus mampu memberikan rangsangan/stimulus bagi berkembangnya perekonomian daerah dan sebagai penghasil pendapatan daerah. Ini berarti perusahaan daerah harus mampu memberikan manfaat ekonomis sehingga terjadi keuntungan yang dapat disetorkan ke kas daerah.

(31)

Walaupun perusahaan daerah merupakan salah satu komponen yang diharapkan dapat memberikan kontribusinya bagi pendapatan daerah, tapi sifat utama dari perusahaan daerah bukanlah berorientasi pada profit (keuntungan), akan tetapi justru dalam memberikan jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan umum. Dengan perkataan lain, perusahaan daerah menjalankan fungsi ganda yang harus tetap terjamin keseimbangannya, yakni fungsi sosial dan fungsi ekonomi.

Dengan demikian tidak berarti bahwa perusahaan daerah tidak dapat memberikan kontribusi maksimal bagi ketangguhan keuangan daerah. Pemenuhan fungsi sosial oleh perusahaan daerah dan keharusan untuk mendapat keuntungan yang memungkinkan perusahaan daerah dapat memberikan sumbangan bagi pendapatan daerah, bukanlah dua pilihan dikotomis yang saling bertolak belakang. Artinya bahwa pemenuhan fungsi sosial perusahaan daerah dapat berjalan seiring dengan pemenuhan fungsi ekonominya sebagai badan ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan laba/keuntungan. Hal ini dapat berjalan apabila profesionalisme dalam pengelolaannya dapat diwujudkan.

Sekalipun perusahaan daerah diharapkan menjadi penopang kas daerah, tapi dalam kenyataannya daerah-daerah tetap dihadapkan pada berbagai masalah dalam usahanya untuk mendayagunakan sektor ini sebagai sumber pendapatannya.

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Sumber pendapatan daerah lainnya adalah dinas-dinas daerah serta pendapatan-pendapatan lainnya yang diperoleh secara sah oleh Pemerintah Daerah.

Dinas-dinas daerah sebagai unsur pelaksana Pemerintah Daerah, sekalipun tugas dan fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan terhadap masyarakat tanpa terlalu memperhitungkan untung-rugi, tapi dalam batas-batas tertentu dapat didayagunakan dan bertindak sebagai organisasi ekonomi yang memberikan pelayanan jasa dengan imbalan sehingga dapat menambah Pendapatan Asli Daerahnya.

Dalam prakteknya, lewat pemberian jasa misalnya pembinaan dan pengawasan pasar grosir, pertokoan, dan sebagainya, tetap dapat menghasilkan manfaat ekonomi bagi daerah. Dan disinilah diharapkan menjadi sumber pemasukan bagi Kas Daerah.

Sekalipun dinas-dinas daerah telah ditempatkan sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah, tapi tidak berarti sumbangan riil yang diberikan sektor ini cukup besar untuk menopang keuangan daerah pada umumnya. Karena dalam kenyataannya, sektor ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan sektor Perusahaan Daerah dalam memberikan kontribusinya bagi Pendapatan Asli Daerah.

(32)

Menurut Halim (2004:69) ”Pendapatan ini merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik pemerintah daerah”.

Menurut Halim (2004:69) jenis pendapatan ini meliputi objek pendapatan berikut;1) hasil penjualan asset daerah yang tidak dipisahkan, 2) penerimaan jasa giro, 3) penerimaan bunga deposit, 4) denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, 5) penerimaan ganti rugi atas kerugian/kehilangan kekayaan daerah”.

Menurut Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, Lain-Lain PAD yang sah meliputi:

a. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, b. Jasa giro,

c. Pendapatan bunga,

d. Keuntungan selisih nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, dan

e. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus rumah-tangganya adalah kemampuan self-supporting dalam bidang keuangan. Dengan perkataan lain, faktor keuangan merupakan faktor esensial dalam mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya. Ini berarti, dalam penyelenggaraan urusan rumah-tangganya, daerah membutuhkan dana atau uang.

Sehubungan dengan pentingnya posisi keuangan ini, Pamudji menegaskan :

Pemerintah Daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan Dan keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengurus rumah- tangganya sendiri (Pamudji, Pembinaan Perkotaan di Indonesia, Jakarta, 1980).

Untuk dapat memiliki keuangan yang memadai dengan sendirinya daerah membutuhkan sumber keuangan yang cukup pula. Dalam hal ini daerah dapat memperolehnya melalui beberapa cara, yakni:

a. Pemerintah Daerah dapat mengumpulkan dana dari pajak Daerah yang sudah direstui oleh Pemerintah Pusat;

b. Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman dari pihak ketiga, pasar uang atau Bank atau melalui Pemerintah Pusat;

c. ikut ambil bagian dalam pendapatan pajak sentral yang dipungut Daerah, misalnya sekian persen dari pendapatan sentral tersebut;

(33)

d. Pemerintah Daerah dapat menambah tarif pajak sentral tertentu, misalnya pajak kekayaan atau pajak pendapatan;

e. Pemerintah Daerah dapat menerima bantuan atau subsidi dari Pemerintah Pusat. Menurut UU No.22/1999; dinyatakan bahwa penyelenggaraan tugas pemerintah daerah dan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dibiayai atas beban APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). Selanjutnya dalam pasal 79 UU No.22/1999 dan juga pada pasal 3 dan 4 UU No.25/1999 telah digariskan bahwa sumber pendapatan daerah dalam APBD untuk pelaksanaan desentralisasi terdiri atas:

a. Pendapatan asli daerah, yaitu: 1.) hasil pajak daerah;

2.) hasil retribusi daerah;

3.) hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,

serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah; a. Dana perimbangan;

b. Pinjaman daerah; serta

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.

2.8. PAJAK

2.8.1. Definisi Pajak

Pembangunan Nasional adalah kegiatan yang berlangsung terus-menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik materil maupun spiritual. Untuk dapat merealisasikan tujuan tersebut banyak memperhatikan masalah pembiayaan pembangunan.

Salah satu usaha mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau Negara dalam pembiayaan pembangunan yaitu menggali sumber dana yang berasal dari dalam negeri berupa pajak. Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna untuk kepentingan bersama.

Apabila membahas pengertian pajak, banyak para ahli memberikan batasan tentang pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh P.J.A. Andiani (1991:2) yang telah diterjemahkan oleh R. Santoso Brotodiharjo dalam buku”Pengantar ilmu hukum pajak”

“Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluran umum berhubung dengan tugas Negara yang menyelenggarakan pemerintahan”.Dalam defenisi tersebut

(34)

lebih memfokuskan pada fungsi budgeter dari pajak,sedangkan pajak masih mempunyai fungsi lain yaitu fungsi mengatur.Sedangkan menurut Rachmat Soemitro (1990) dalam bukunya ”Dasar-dasar hukum pajak dan pajak pendapatan” menyatakan: Pajak adalah iuran pajak kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat disahkan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi), yang langsung dapat ditujukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, adalah:

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaanya yang sifatnya dapat dipaksakan.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

3. Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun daerah.

4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang biladari pemasukanya masih mendapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

5. Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain budgeter, yaitu mengatur.

2.8.2. Perkembangan Perpajakan Daerah

Kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. 12 tahun 2008 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari diberlakukannya UU No. 33 tahun 2004 dalam peran strategis desentralisasi fiskal. Peran diperlukan karena adanya : 1. Kesulitan anggaran pusat

Sejak didera krisis ekonomi pada tahun 1997, yang mengakibatkan membengkaknya utang pemerintah, maka rancangan APBN Indonesia sangat terbatas karena harus mencicil hutan dan pokok pinjaman. Hal ini berdampak pada alokasi anggaran perimbangan bagi pemerintah daerah menjadi lebih sedikit.

2. Tekanan dari Daerah “kaya”

Sejalan dengan reformasi disegala bidang, maka daerah yang memiliki sumberdaya yang berlimpah menginginkan alokasi yang lebih besar, sementara itu pemerintah pusat sebagai pengelola, harus memikirkan juga daerah yang tidak memiliki potensi, untuk keseimbangan. 3. Reformasi dalam pemerintahan: transparansi dan akuntabilitas

Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor No. 28 tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab, pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang berasal dari pendapatan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian dalam bentuk data merupakan bagian yang disajikan untuk menginformasikan hasil temuan dari penelitian yang telah dilakukan. Ilustrasi hasil

Sementara itu, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2017-2022, adapun capaian sasaran Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk mendukung

Secara umum tujuan naskah akademik dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten Mahakam Ulu tentang Badan Usaha Milik Desa adalah sebagai acuan bagi semua pihak yang

Pada kelompok indikator kesehatan balita terdapat 6 indikator, namun ada 2 indikator yang tidak masuk dalam perhitungan IPKM kabupaten Mojokerto tahun

Pemerintah Daerah sebagai service provider dan service arranger memiliki kewenangan yang luas untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Namun demikian

Perawatan payudara (Breast Care) adalah suatu cara merawat payudara yang dilakukan pada saat kehamilan atau masa nifas untuk produksi ASI, selain itu untuk

„gotong royong sebagai bentuk integrasi banyak dipengaruhi oleh rasa kebersamaan antarwarga komunitas yang dilakukan secara sukarela tanpa adanya jaminan berupa

Kedudukan dan Peranan Renstra SKPD dalam Perencanaan Daerah Rencana Strategis BAPPEDA Tahun 2014-2019 disusun sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 tentang Sistem Perencanaan