4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kelas Kesesuaian Kelapa SawitTanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di daerah tropika basah kawasan khatulistiwa setikar 12 derajat lintang Utara-Selatan. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik dengan curah hujan optimum 2000 – 2500 mm/tahun. Temperatur yang optimum bagi kelapa sawit adalah 24ºC – 28ºC. Akan tetapi, kelapa sawit masih dapat tumbuh dengan baik pada temperatur terendah 18ºC dan temperatur tertinggi 32ºC ketinggian (elevasi) yang optimum dari permukaan laut adalah 0 – 500 m (Tambunan, 2012).
Sifat fisik tanah yang baik adalah (Tambunan, 2012)
Solum tanah 80 cm, solum yang tebal merupakan media yang baik untuk perkembangan akar dan penyerapan unsur hara.
Tekstur jaringan, dikehendaki pasir 20 – 60%, debu 10 – 40%, liat 20 – 50%.
Ph tanah 4,0 – 6,0, namun yang terbaik adalah 5 – 5,5.
Perkembangan stuktur baik .
Berdasarkan faktor-faktor ini kelas kesesuaian lahan digolongkan menjadi 4 kelas S1 (sangat sesuai), S2 (sesuai), S3 ( agak sesuai), dan N1 (tidak sesuai, bersyarat).
5
Tabel 2.1 Kriteria Kelas Kesuaian Lahan Untuk Tanaman Kelapa Sawit. Uraian Kelas S1 (Sangat Sesuai) Kelas S2 (Sesuai) Kelas S3 (Agak Sesuai) Kelas N1(Tidak sesuai, bersyarat) 1.Letak dan tinggi
tempat 0 – 400 0 – 400 0 – 400 0 -400 2.Bentuk wilayah topografi Datar – berontak Berombak – bergelombang Berbukit Curam - Lereng 0 – 15 16 – 25 25 – 36 >36
- Drainase Baik Sedang Agak terhambat Terhambat
3.Tekstur tanah Lempung liat berpasir
Liat berpasir Berpasir,berlempung , debu Liat berat, pasir - Batuan penghambat (%) >80 60 -80 50 – 60 40 – 50 -Kedalaman air tanah ( cm ) 5,0 4,5 – 5,0 4,0 – 4,5 >7,0 4. Curah hujan (mm) 2000 – 2500 1800 – 2000 1500 – 1800 <1500 -Defisit air (mm) 0 – 150 150 – 250 250 – 400 >400 -Temperatur (ºC) 22 – 26 22 – 26 22 – 26 22 – 26 Penyinaran 6 6 6 <6 Kelembapan (%) 80 80 80 80
Angin Sedang Sedang Sedang Kencang
Bulan kering 0 0 – 1 2 – 3 >3
Sumber:Lubis, 2008.
2.2 Panen Kelapa Sawit
Panen adalah kegiatan pengambilan buah kelapa sawit yang telah telah memenuhi kriteria matang panen dari pohonnya, dimulai dari memotong tandan matang panen sesuai kriteria matang panen, mengumpulkan dan mengungitip brondolan serta menyusun tandan di tempat pengumpulan hasil (TPH) berikut brondolan, Tujuan panen adalah untuk memperoleh minyak sawit dan inti sawit
6
yang optimal dari tandan buah segar (TBS) dengan mutu asam lemak bebas (ALB) yang standart.
2.2.1 Kriteria Matang Panen
Suatu areal sudah dapat di panen apabila tanaman sudah berumur 30 bulan dilapangan,60 % pohon telah mempunyai buah yang siap panen dengan berat TBS > 3 kg dan minimal penyebaran panen 1 : 5. Kematangan panen di tandai dengan warna orange kemerahan, sudah ada buah yang lepas (membrondol) minimal 5 brondolan, dan lebih lengkapnya dapat di lihat pada tabel.
Tabel 2.2 Tingkat Kematangan TBS.
Fraksi Jumlah Brondolan Derajat Kematangan
00 Tidah ada, buah masih mentah Sangat mentah
0 1 – 12,5 Mentah
1 12,5 – 25 Kurang matang
2 25 – 50 Matang I
3 50 – 75 Matang II
4 75 – 100 Lewat matang I
5 Buah dalam ikut membrondol Lewat matang II
6 Semua buah membrondol,
busuk
Busuk
Sumber : Buku Pintar Mandor (BPM) Seri Budaya Tanaman Kelapa Sawit.
Alat-alat kerja untuk pemanenan buah yang akan di gunakan berbeda-beda berdasarkan tinggi tanaman. Alat-alat panen yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Dodos kecil : Panen buah tanaman umur 3-4 tahun - Dodos besar : Panen buah tanaman umur 5-8 tahun
7
- Pisau egrek :Panen buah umur > 9 tahun, ketinggian pohon >3m - Angkong : Sebagai alat pengangkut TBS ke TPH
- Keranjang dan goni : Sebagai wadah pengumpulan brondolan ke TPH - Kapak : Memotong tangkai tandan yang panjang
- Batu asah : Pengasah dodos atau pisau egrek - Bambu/pipa paralon : Gagang pisau egrek
- Gancu :Alat bongakar muat TBS dari dan ke alat transportasi (semangun, 2000).
2.2.2 Kerapatan Panen
Kerapatan panen adalah penaksiran jumlah pohon yang yang akan dipanen dari Suatu blok yang di tentukan dalam satu hari. Perhitungan angka kerapatan panen (AKP) tersebut dilakukan sehari sebelum panen. Rumus yang digunakan untuk menghitung AKP yaitu :
AKP
...1
Sistem perhitungan kerapatan panen terdiri dari 2 yaitu :
Sistem terpusat yakni pohon contoh di tetapkan pada 2 baris tanaman ditengah blok, baris tanaman dipinggir jalan atau batas blok tidak ikut.
Sistem penyebaran yakni pohon di contohkan secara sistematis dengan segala baris dan pohon contoh tergantung jumlah pohon yang akan diamati(Sulistyo, 2010).
Sistem kerapatan panen berguna untuk menentukan jumlah tenaga pemanen dan produksi dari suatu mandoran. Berdasarkan perkiraan produksi tersebut dapat diperkirakan jumlah angkutan yang diperlukan untuk pengolahan dan pengorganisasian.
8 2.2.3 Sistem Ancak Panen
Ancak panen adalah luasan areal yang menjadi tanggungjawab dari setiap pemanen pada setiap hari. Pemberian ancak kepada pemanen didasarkan pada kerapatan tandan yang matang. Dalam praktek sehari-hari dikenal dengan ancak tetap dan ancak giring.
a. Sistem ancak tetap
Pada sistem ini pemanen melaksanakan panen pada areal yang sama di kerjakan secara rutin bertanggungjawab menyelesaikan ancak sesusai dengan tanggungjawab yang telah di tentukan setiap hari yang tertinggal apabila pemanen tidak bekerja maka mandor harus mencari pekerja pengganti, sisitem ini cocok diterapkan pada areal yang topografi terbuka/curam dan dengan tanam yang berbeda. Pada sistem ini pemanen diperolehnya TBS dengan kematangan yang optimal, rendeman minyak yang dihasilkan tingggi namun kelemahan sistem ini buah lebih lambat keluar sehingga lambat pula sampai ke pabrik,. Sebagai contoh Blok A = 16 ha, ada 50 baris dipanen 5 orang. Orang ke I memanen baris 1-10, orang ke II baris 11-20, dan seterusnya (Anonim, 2014). Kebaikan sistem ancak tetap ialah :
Mudah membagi ancak harian, sehingga mandor tidak terlalu banyak menyediakan waktu membagi ancak
Pemanen tidak perlu pindah-pindah sehingga kemungkinan jalan-jalan terlau banyak dapat di hindarkan
Mandor mempunyai cukup waktu untuk mengontrol
9
Kelemahan sistem ancak tetap ialah :
Span of control areal terlalu lebar sehingga kemungkinan adanya bagian-bagian yang tidak terkontrol oleh mandor lebih banyak
Mandor kurang kreatif dalam usaha mengusahakan pengaturan kerja yang lebih efektif
Pada pengaturan yang kurang tepat dapat terjadi ancak sebagiasn tidak tembus, sementara di lain pihak ada kekurangan ancak
Pada panen puncak, pekerja kurang memperhatikan kebersihan ancak untuk mengejar hasil
Pengangkutan buah yang cepat kurang dapat diharapkan, terutama bila tidak ada keharusan untuk segera mengangkut buah ke TPH.
b. Sistem ancak giring
Perbedaan ancak tetap dan ancak giring adalah dalam hal pemberian tugas kepada pemanen. Dikatakan ancak tetap bila ancak panen yang diberikan kepada pemanen setiap hari tidak berubah (tetap). Sedangkan ancak giring setiap hari ancaknya bisa berubah ubah sesuai dengan kebutuhan lapangan. Bila dilaksanakan dengan ancak giring pemanen akan berpindah pindah ancak.
Pada sistem ancak giring setiap pemanen melaksanakan kegiatan panen pada ancak panen yang telah di tetapkan setiap harinya oleh mandor panen, bagian areal selalu berubah sesuai dengan kerapatan panen dan kehadiran para pemanen. Pada sistem ini apabila suatu ancak telah selesai dipanen pemanen pindah ke ancak berikutnya. Pada sistem ini pemanen bersama-sama memanen di I blok. Setelah selesai pindah ke blok lain. Satu orang pemanen memanen tiap 2 baris ( 1 gawangan) (Anonim, 2014).
10
Cara berpindah pemanenan ancak giring :
Ancak giring orang tetap : pemanen pertama mengambil gawangan pertama pada perpindahan berikutnya.
Ancak giring orang tidak tetap : gawangan pertama pada perpindahan berikutnya dikerjakan oleh siapa saja/pemanen yang terlebih dahulu selesai. Kebaikan ancak giring ialah :
Pengawasan lebih intensif karena span of control ancak diperkecil
Buah dapat di pastikan akan sampai di TPH sebelum perpindahan yang biasanya sekitar jam 9
Dapat diharapkan areal ancak akan lebih bersih, karena pengawasan yang lebih intensif, walaupun karyawan kurang bertanggungjawab terhadap ancaknya.
Kelemahan sistem ancak giring ialah :
Perpindahan akan menambah beban waktu dan jarak tempuh bagi pemanen
Keharusan segere mengangkat buah ke TPH kurang disenangi apabila pekerja tidak mempunyai anggota pada sistem ini, apabila suatu ancak telah selesai di panen, pemanen pindah ke ancak berikutnya yang telah di tunjuk oleh mandor, dan begitu seterusnya. Sistem ini memudahkan pengawasan pekerja pemanen dan hasil panen lebih cepat ke TPH dan pabrik. Namun ada kecenderungan pemanen akan memilih buah yang mudah dipanen sehingga ada tandan buah atau brondolan yang tertinggal karena pemanennya menggunakan sistem borongan.
11 2.2.4 Pengumpulan Hasil TBS
Adapun proses pengumpulan TBS antara lain ialah :
Buah diangkut dengan goni/dipikul atau di sorong menggunakan angkong ke TPH setelah selesai memanen 2 jam
TPH 1:6 artinya 1 TPH tiap 6 gawangan
Tangkai tandan di potong mepet atau berbentuk huruf V (cangkem/mulut kodok)
Tandan disusun tiap 10 tandan ( tandan kecil) atau 5 tandan (bila tandan besar)
Nomor pemanen di tulis pada tangkai tandan.
2.2.5 Rotasi Panen dan Kapveld Panen
a. Rotasi Panen
Rotasi panen adalah waktu yang diperlukan antara panen terahir dan panen berikutnya ditempat yang sama. Rotasi panen berkaitan dengan penyebaran kematangan buah dimana variasi penyebaran kematangan dari bulan ke bulan berbeda akibat faktor iklim, umur, tanaman, tempat, pemupukan dan lainnya. Rotasi panen tergantung pada cepatnya buah matang. Pada panen pemula, biasanya rotasi panen 15 hari, selanjutnya 10 hari, dan terakhir 7 hari. Rotasi panen menggunakan simbol 5/7 yakni 5 hari memanen dengan rotasi 7 hari, dan 6/7 yakni 6 hari memanen dengan rotasi 7 hari (Sunarko, 2007).
12
ROTASI PANEN 5/7 HARI Sn Sl Rb Km Jm Sb
Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
SEKSI I II III IV V - I II III IV V -
ROTASI PANEN 6/7 HARI Sn Sl Rb Km Jm Sb
Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
SEKSI I II III IV V VI I II III IV V VI
Gambar 2.1 skema penetapan rotasi panen. b. Kapveld
Kapveld yaitu luas areal panen harian, Sebagai contoh:
Luas Afdeling A = 800 ha (50 blok, @ 16 ha) seluruhnya TM hak kerja
panen Senin-Kamis @ 7 jam = 28 jam
Jumat = 5 jam
Jumlah = 33 jam/minggu.
Pembagian kapveld I-IV 50 blok atau 11 blok ...2
Untuk Senin – Kamis @ 170 ha atau 11 blok/hari sedangkan pada hari jumat panen hari pendek hanya 6 blok.
13 2.2.6 Penentuan Tenaga Panen
Organisasi panen di bentuk dengan tujuan agar pelaksaan panen bisa berjalan dengan efektif dan efisien yang terdiri dari mandor panen, krani panen, dan pemanen. Mandor panen membawahi 15 – 20 pemanen. Penentuan kebutuhan pemanen adalah.
Rumus :
Jumlah pemanen yang dibutuhkan =
...3
Contoh :
Luas areal : 1000 HA
Rotasi yang di tentukan : 6/7
Luas ancak per HK : 3Ha/3H
Jumlah pemanen yang di butuhkan : pemanen
2.3 Pengangkutan Tandan Buah Segar
Pengangkutan TBS ke PKS merupakan sistem kerja berantai mulai dari penentuan taksasi, panen, dan pengangkutannya. TBS yang sudah di panen harus diusahakan diangkut ke PKS pada hari yang sama, guna mendapatkan mutu minyak yang baik. Peranan transportasi TBS sangat penting sekali agar buah dapat masuk segera ke pabrik pada hari panen. Beberaoa kebun menyediakan truk sendiri dan di tambah atau disewa dari kebun jika tidak cukup terutama pada panen puncak.
Kendaraan yang disewa dari luar umumnya tidak mempedulikan keadaan jalan pada waktu mengisi truknya semaksimal mungkin dimana pada keadaan tertentu
14
melewati daya dukung jalan, sehingga jalan cepat rusak. Sebaliknya jika dipergunakan seluruhnya truk milik sendiri akan terjadi pemborosan karena pada panen rendah hanya separuh dari jumlah kendaraan yang akan dipakai. Oleh karena itu, kebun menyediakan truk sebatas jumlah produksi pada panen rendah (Sipayung, 2011).
2.3.1 Perencanaan Pengangkutan TBS
Perencanaan bertujuan untuk mengatur tersedianya TBS yang akan diangkut sehingga jangka waktu antara panen dan pengolahan dapat sesingkat mungkin, dan seluruh TBS yang sudah dipanen dapat sampai ke PKS pada hari yang sama. Dalam merencanakan pengangkutan TBS perlu di perhatikan faktor sebagai berikut:
Produksi kebun (semua Divisi) - Hasil TBS tiap Divisi atau blok - Waktu tersedianya TBS di TPH - Jumlah kendaraan yang di perlukan
Menghitung kebutuhan kendaraan angkut TBS sebagai berikut : - Jumlah trip kendaraan =
...4
- Berat TBS yang diangkut = Jumlah trip × kapasitas (ton TBS/trip)...5 - Kebutuhan kendaraan =
...6
Penyusunan kebutuhan kendaraan angkutan TBS harus di berdasarkan produksi bulan paling rendah.
Misalnya : Produksi TBS kebun ditaksirkan ±72.000 kg , kapasitas kerja truk/hari = 10 jam, kapasitas angkut rata-rata 5 ton TBS/trip, waktu muat satu trip 130 menit, maka kebutuhan kendaraan :
15
- Jumlah trip kendaraan
- Jumlah berat TBS yang dapat diangkut/truk = 4 trip × 5 ton TBS/trip = 20 ton tiap truk
- Kebutuhan kendaraan =
.
(Sumber : Tambunan, 2012).
2.3.2 Pengangkutan TBS ke Pabrik
Perencanaan jumlah tandan buah di TPH dilakukan bersama-sama dengan krani panen dan mandor panen, kemudian dilaporkan kepada mandor I, selanjutnya kepada asisten untuk permintaan pengangkutan kepada seksi transport. Pencatatan dan pelaporan ini meliputi jumlah tandan, TPH ( jumlah dan nomor), dan nomor blok,. Berdasarkan data ini dapat diketahui kebutuhan truk.
Buah diangkut ke pabrik kemudian diperiksa dan disortasi lalu ditimbang. Hasil sortasi dan penimbangan dilaporkan kepada Afdelling yang bersangkutan. Tanggungjawab dan kegiatan berakhir sampai pada pemeriksaan buah dipabrik. Pengangkutan TBS kepabrik harus dilakukan bersamaan dengan hari panen (Sulistyo, 2010).
2.3.3 Pengaturan Rute Transportasi
Menurut Lubis (2008) pengaturan rute transportasi tergantung pada sistem panen. Cara pengangkutan rute pengangkutan yang baik adalah dimana truk tidak terlalu sering menggunakan jalan produksi setiap hari dan buah dapat segera masuk ke pabrik. Berdasarkan jarak ancak panen kepabrik dan kondisi jalan yang dihitung atas dasar kecepatan (km/jam) maka kapasitas truk seharinya dapat dihitung.
16 2.3.4 Waktu Pengangkutan
TBS harus segera diangkut kepabrik untuk diolah, yakni maksimal 8 jam. Buah-buah yang tidak segar diolah akan mengalami kerusakan (kandungan asam lemak bebas tinggi) dan menyebabkan rendahnya kualitas minyak nantinya.
Jadwal tibanya truk diancak panen dan tiba dipabrik harus diatur sedemikian rupa agar sesampainya truk di ancak panen, TBS sudah berada di TPH dan siap diangkut. Truk mulai beroperasi mulai pukul 07.00 pagi dan TBS yang diangkut pertama diharapkan dapat sampai dipabrik pada pukul 09.00 dan pengangkutan terakhir selambat-lambatnya pukul 22.00 (Lubis, 2008).
2.4 Sistem Kerja Mekanisme
Sistem kerja di bagian traksi dan transportasi harus mengikuti mekanisme kerja perawatan mingguan dan teknis pelaksanaan kerja mulai dari perawatan ringan hingga overhaul (pahan, 2013).
2.4.1 Mekanisme Kerja Servis Maintenance (Perawatan Mingguan)
Perawatan dasar yang mutlak bagi setiap unit kendaraan. Tujuannya untuk memonitor secara terus menerus kondisi alat sehingga kerusakan dapat diantisipasi sejak dini. Servis kerusakan dilakukan apabila terjadi kerusakan kendaraan /alat berat/mesin-mesin secara insidental (tidak terduga).
Suku cadang harus diajukan pada saat alat/kendaraan/mesin-mesin menjelang usia overhaul (antisipasi proses realisasi PP). Ketelitian dan kebersihan dalam pelaksaan overhaul mutlak harus dijaga (pahan, 2013).
17 2.4.2 Teknis Pelaksanaan Kerja
Menurut Pahan 2013 Teknis pelaksanaan kerja menuntut detail dan pelaksanaan yang berbeda antara perawatan rutin, penggantian suku cadang yang sesuai jadwal, dan overhaul.
a. Perawatan/maintenance (doorsmeer)
Perawatan kendaraan, alat berat, dan mesin-mesin penunjang yang harus dilakukan :
Periksa seluruh permukaan oli sebelum mesin dinyalakan/dihidupkan.
Periksa air battery beserta kabel-kabelnya
Periksa air radiator
Periksa ketinggian/sistem rem
Periksa jarak/sistem kopling
Periksa sistem kelistrikan/instrumen panel/lampu-lampu
Periksa ketegangan tali kipas
Periksa tekanan angin ban
Periksa seluruh baut-baut untuk menghindari adanya yang hilang atau loggar
Periksa kelayakan fungsi dump/sistem hidrolik
Nyalakan mesin dengan putaran rendah dan perhatikan kelainan suara pada mesin
Periksa kebocoran-kebocoran oli
Lakukan pemeriksaan keliling sebanyak dua kali sebelum alat di jalankan.. b. Jadwal Penggantian
Jadwal pengganti suku cadang perlu diperhatikan waktunya. Kelalaian penggantian suku cadang yang berhubungan langsung dengan mesin dapat berakibat fatal dan merusak komponen-komponen lain .
18
Yang perlu diperhatikan dalam perawatan/penggantian suku cadang :
Pembersian air cleaner (saringan udara) sebaiknya dilakukan setiap hari atau minimum 2 hari sekali
Pembersih gemuk atau pispot dilakukan satu kali seminggu atau setiap 50-60 jam operasi
Pembersihan bearing roda bearing king pin dilakukan 1 kali seminggu
Pengisian BBM sebaiknya diisi penuh setelah selesai beroperasi. Hal ini bertujuan untuk menghindari ruang kosong dalam tangki bahan bakar agar tidak terjadi penguapan atau pengembunan
Pembersihan alat sebaiknya dilakukan setiap hari setelah dioperasikan
Pemeriksaan tie rod, profeller shaft, dan lain-lain dilakukan saat melakukan jadwal servis.
c. Top overhaul
Top overhaul dilakukan pada saat mesin mulai berasap, oli mesin berkurang mencapai 2 liter hingga saat akan dilakukan penggantian oli berikutnya, dan terjapat beberapa kebocoran pada bagian gasket/packing. Sementara yang dimaksud engine overhaul adalah perbaikan pada bagian-bagian tertentu saja pada engine, transmisi, gardan, hydrolic, under carriage (alat berat) dan sebagainya.
d. General overhaul
Perbaikan alat/unit secara total (untuk alat berat yang berumur 10-12 tahun). Biaya yang diperlukan juga cukup mahal dan biasanya dilakukan bila alat berat/kendaraan tersebut sudah tidak efektif lagi bila dioperasikan.