• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-10 MASA SIDANG III TAHUN SIDANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PARIPURNA KE-10 MASA SIDANG III TAHUN SIDANG"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : DPD.220/SP/10/2012

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH

SIDANG PARIPURNA KE-10

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA MASA SIDANG III TAHUN SIDANG 2011-2012

I. KETERANGAN

1. Hari : Kamis

2. Tanggal : 16 Februari 2012 3. Waktu : 10.15 WIB – Selesai

4. Tempat : GEDUNG NUSANTARA V

5. Pimpinan Sidang : Pimpinan DPD

1. H. Irman Gusman, SE., MBA. (Ketua) 2. Dr. Laode Ida (Wakil Ketua)

3. GKR. Hemas (Wakil Ketua) 6. Sekretaris Sidang :

1. Sekretaris Jenderal DPD (DR. Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc.) 2. Wakil Sekretaris Jenderal DPD (Drs. Djamhur Hidayat) 7. Panitera : Kepala Biro Persidangan II (Dra. Sri Sumarwati Isf.)

8. Acara :

1. Laporan perkembangan pelaksanaan tugas masing-masing Alat Kelengkapan DPD RI.

2. Pengesahan Keputusan DPD RI.

9. Hadir : 83 Orang

10. Tidak hadir : 49 Orang II. JALANNYA SIDANG :

(2)

1. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua. Om Swastyastu.

Dan selamat pagi buat seluruh yang hadir pada kesempatan ini. Bapak-Ibu yang saya hormati, para hadirin yang berbahagia.

Kita akan memasuki sidang paripurna, sebagaimana undang-undang mengamanatkan kepada kita bahwasa kita sebelum memulai sidang paripurna kita mulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dan untuk itu kepada tim paduan suara untuk memandu untuk menyanyikan lagu. Dan kepada kita semua dimohon berdiri dan seluruh hadirin yang berbahagia.

2. PEMBICARA : PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya…

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku. Hiduplah negriku.

Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.

Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka.

Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.

Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

(3)

3. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Hadirin kami persilakan untuk duduk kembali.

Bersasarkan catatan daftar hadir yang kami terima oleh dari sekretariat jenderal, sampai saat ini telah hadir 62 orang, dan jumlah anggota yang tidak hadir yang tugas 4 orang, dan ijin 15 orang dan sakit 1 orang. Untuk itu kita akan memulai sidang ini, sesuai dengan peraturan tatib 182, dimana Sidang Paripurna ke-10 Tahun Sidang 2011 dan 2012. Dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim kami buka sidang paripurna ini dan dinyatakan terbuka untuk umum.

4. PEMBICARA : Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, SH. (KALSEL) Interupsi pimpinan, interupsi, Sofwat Hadi.

5. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan. Ini di tempat duduk masing-masing tidak ini?

6. PEMBICARA : Drs. H. MOHAMMAD SOFWAT HADI, SH. (KALSEL)

Iya, Kalsel. Tadi saya dengar yang hadir sekarang ini sesuai tanda tangan 62, berarti belum mencapai kuorum. Kalau kita buka hanya sekedar mendengarkan laporan silakan saja. Tapi kalau mengambil keputusan ini jadi masalah nantinya, karena keputusan itu harus 50% + 1, itu saja. Silakan saja, tapi setiap mengambil, mungkin bagaimana dengan untuk mengambil keputusan. Terima kasih.

7. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, silakan yang lain. Silakan Ibu.

8. PEMBICARA : Prof. Dr. Dra. Hj. ISTIBSYAROH, SH., MA. (JAWA TIMUR) Terima kasih pimpinan.

Tadi yang hadir 62, tapi karena ada yang tugas luar, kemudian ada yang sakit, itu mungkin bisa sampai kuorum itu, jadi bisa dimulai seperti itu. Terima kasih.

9. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Silakan Ibu Aida tadi saya lihat.

10. PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM. (KEPULAUAN RIAU)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kita mulai saja untuk mendengarkan laporan, nanti kita lihat (tidak kedengaran). KETOK 1X

(4)

11. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Jadi kita, begini saja, kita mulai saja, nanti dimulai dengan yang tidak ada mengambil keputusan.

12. PEMBICARA : JACOB JACK OSPARA, S.Th., M.Th. (MALUKU) Interupsi, interupsi Ketua.

13. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan Pak.

14. PEMBICARA : JACOB JACK OSPARA, S.Th., M.Th. (MALUKU)

Saya melanjutkan Pak. Kita ikuti makna tata tertib Pak. Tata tertib mengatakan rapat dibuka dan bilamana belum memenuhi kuorum skors sementara waktu, baru kemudian kalau sudah memenuhi kuorum kita jalankan. Saya rasa seperti Pak, jadi mohon itu kita ikuti tata tertibnya. Terima kasih.

15. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, kita cari jalan keluarnya. Silakan Ibu Sarah.

16. PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT)

Saya sepakat dengan tatib, tetapi pada dasarnya mungkin hal-hal yang tidak mengambil keputusan bisa kita bahas duluan supaya kita juga tidak bertele-tele dalam soal waktu. Terima kasih.

17. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Jadi, saya coba mengambil kesimpulan. Kita mulai saja dulu hal-hal yang tidak mengambil keputusan. Bagaimana nanti kalau mengambil keputusan baru kita minta sekretariat jenderal untuk bisa melihat jumlahnya. Biasanya juga begitu. Kita sepakati?

Baik, Bapak-Ibu sekalian. Agenda kita adalah pertama mendengarkan laporan perkembangan pelaksanaan tugas masing-masing alat kelengkapan. Kita ingin tahu perkembangannya. Yang kedua, baru pengesahan keputusan DPD RI.

Baiklah Bapak-ibu sekalian. Sidang dewan yang mulia.

Sebelum kita memasuki agenda sidang paripurna kali ini kami ingin menyampaikan beberapa informasi yang perlu menjadi perhatian kita semua. Pertama, untuk menindaklanjuti keterangan DPD RI pada sidang pleno Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian Undang-Undang No. 33 Tahun 20114 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan

(5)

pemerintah daerah terhadap Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945, pada tanggal 22 Desember 2011. MK telah mengirimkan surat panggilan kedua kepada pimpinan DPD RI untuk menghadiri sidang pleno Mahkamah Konstitusi tanggal 15 Februari pukul 14.00 sore kemarin, dengan agenda mendengarkan keterangan ahli dari pemerintah dan DPD RI. Untuk memenuhi undangan tersebut tim DPD RI dipimpin oleh wakil ketua DPD Ibu GKR Hemas bersama teman-teman yang lain, termasuk juga juru bicaranya Ibu Aida Ismeth Nasution kemarin. Dan juga ada teman-teman lain dari beberapa provinsi, yang saya lupa, ada Pak Bambang Susilo kalau tidak salah, ada Ibu Intsiawati Ayus, Pak Supartono dari Jawa Timur. Ada nama yang belum saya sebut kemarin? Pak Malonda Sulawesi Tengah, Pak Luther Kombong dan lain sebagainya. Yang dipimpin oleh Ibu Hemas dan teman-teman yang lain untuk memberi keterangan lanjutan sebagai langkah nyata komitmen DPD dalam memperjuangkan kemajuan pembangunan di daerah, serta tercapainya keadilan keuangan antara pemerintah pusat dengan daerah. Dan kita masih harus memberikan keterangan tertulis kepada MK menyangkut paradigma dan konsepsi politik perimbangan keuangan pusat dan daerah. Hal ini semakin menjelaskan kepada kita bahwa soal dana bagi hasil merupakan hal yang sangat penting.

Yang kedua, pada bulan Maret 2012 mendatang pemerintah akan mengakhiri moratorium pengiriman tenaga kerja Indonesia yang ditandai dengan dikirimnya TKI ke Malaysia. Hal ini harus menjadi fokus kita agar mengawal proses pengiriman tersebut, karena kedepan kita mengharap peristiwa-peristiwa musibah yang menimpa TKI selama ini tidak boleh terjadi lagi. Langkah tersebut dapat kita lakukan dengan mengawasi mulai dari proses perekrutan TKI, baik dari segi pendidikan dan pelatihan para TKI maupun pada proses penempatan di negara tujuan.

Dalam minggu terakhir ini diketahui terjadi beberapa kecelakaan angkutan darat yang menelan korban jiwa seperti yang terjadi di Magetan, Majalengka, Madiun dan Cisarua. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, karena diduga rentetan kecelakaan tersebut umumnya terjadi akibat kondisi jalan, kendaraan, serta faktor kelalaian manusia. Didalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dimuat pasal tentang standar kelayakan angkutan sebagai langkah preventif dalam menanggulangi kecelakaan. Namun dengan terjadinya rentetan kecelakaan maut ini kita perlu mengkaji serta memberikan masukan konkrit kepada pemerintah dalam memperbaiki kondisi tersebut. Kita akan mendengar nanti pokok-pokok dalam usul RUU tentang Jalan yang akan disampaikan oleh Komite II untuk kita putuskan bersama.

Selain musibah kecelakaan yang terjadi dalam minggu terakhir ini, kerukunan kehidupan berbangsa kita juga mulai terusik kembali dengan terjadi bentrokan dalam waktu berdekatan di beberapa daerah, seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah, di Bali dan Maluku Tengah, dan di beberapa tempat yang kita lihat akhir-akhir ini. Bentrokan-bentrokan yang terjadi antara warga maupun antara ormas tentu memberi akses daerah-daerah lain yang memiliki potensi konflik.

Untuk itu kami menghimbau kepada anggota DPD RI untuk semakin sensitif dan peka terhadap isu serupa di daerahnya, untuk terus memonitor perkembangan daerah untuk dapat kita ketahui adanya potensi konflik di masing-masing daerah kita. Kita tentu tidak menginginkan konflik yang telah menelan korban jiwa yang semakin meluas dan menganggu stabilitas keamanan dan ketertiban. Serta juga menjadi penghambat factor pembangunan.

Kemudian, pada tanggal 1 April mendatang pemerintah merencanakan untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak sebagai upaya menyelamatkan keseimbangan APBN yang terbebani dengan subsidi BBM selama ini. Selain kenaikan harga BBM sebagai konsekuensi pengurangan subsidi tersebut, kenaikan harga BBM akan berbarengan dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok masyarakat. Untuk itu kita perlu menghimbau baik pemerintah daerah untuk mengantisipasi ketidakpastian harga maupun persediaan barang

(6)

sekaligus mengantisipasi penimbunan barang yang akan semakin melambungkan harga. Hal tersebut juga bertujuan agar jumlah masyarakat kita yang hidup dibawah garis kemiskinan tidak semakin bertambah. Sebagai representasi rakyat dan daerah juga harus memperhatikan jumlah penduduk yang masuk kedalam kategori penduduk hampir miskin. Yang pada tahun 2011 meningkat menjadi 27,12 juta jiwa atau 10,8% dari total jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk hampir miskin tersebut disebabkan adanya downgrade 4 juta jiwa penduduk yang tidak miskin menjadi penduduk hampir miskin. Terhadap isu-isu ini DPD melalui alat kelengkapannya untuk berupaya terus mengikuti perkembangannya di daerah-daerah masing-masing.

Sidang dewan yang mulia,

Marilah kita memasuki agenda laporan perkembangan pelaksanaan tugas masing-masing alat kelengkapan DPD dan Kelompok DPD di MPR. Untuk itu seperti yang telah kita sepakati bersama marilah kita memulai sidang ini pada alat kelengkapan yang tidak mengambil keputusan. Untuk itu kami persilakan secara berturut-turut. Untuk Komite IV barangkali ya, untuk menyampaikan progress report-nya. Kemudian juga PPUU dan sebagainya, baru nanti kita akan kembali lagi ke komite-komite alat kelengkapan lain yang mengambil keputusan. Komite III ada keputusan ya? Ada ya. Berarti kita memulai ke Komite IV untuk menyampaikan progress report-nya kalau ada. Kami persilakan kepada pimpinan Komite IV.

Baik, karena mungkin lagi dalam persiapan, lagi dimatangkan.

Baik Bapak-Ibu sekalian, jadi kita, saya sudah terima dari sekretariat, jumlah yang hadir sudah 67, jadi kita bisa mulai kembali ke komite masing-masing. Boleh kita lanjutkan? 18. PEMBICARA : Dr. AHMAD FARHAN HAMID, MS. (NAD)

Ketua.

19. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan.

20. PEMBICARA : Dr. AHMAD FARHAN HAMID, MS. (NAD)

Ketua, Farhan, Ketua, B-03 dari Aceh. Saya mau interupsi kecil sedikit saja.

Yang pertama terima kasih pidato pembukaan dari Ketua tadi bagus sekali tentang pemihakan kepada daerah. Kemudian kita semua saya kira turut berdukacita atas meniggalnya Ibu Parlindungan. Beberapa diantara kita mungkin sudah kesana, tapi ada juga yang belum. Kesempatan ini kami nyatakan duka cita yang mendalam kepada beliau mudah-mudahan tabah menghadapinya. Lalu satu hal berkaitan dengan pidato tadi adalah pemihakan kepada daerah. Seandainya seluruh anggota DPD berkenaan dan dapat dilaksanakan oleh sekretariat jenderal agar mulai saat ini seluruh penganan untuk DPD RI baik makan maupun jajan jangan ada barang impor. Jangan ada buah impor, lebih bagus makan buah Indonesia, kalau perlu kita kacang rebus, begitu ya. Saya kira DPD harus menjadi contoh untuk semua lembaga-lembaga negara. Terima kasih.

21. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Jadi, saya tadi karena menyampaikan yang substansial, tadinya ada yang di terakhir tadi sebenarnya, tapi Pak Farhan telah menyampaikan kepadasaudara kita Pak Parlindungan Purba. Atas nama pimpinan dan anggota DPD, walaupun saya langsung hari itu juga terbang,

(7)

ditemani oleh Pak Rudolf Pardede, Pak Djasarmen, di belakang, dan menyampaikan duka. Malah dari DPD sendiri pimpinan Ibu wakil ketua hari rabunya melepaskan kepergian almarhumah. Tentu ini kehendak Tuhan, tapi saya ingin menyampaikan duka cita, mudah-mudahan ini ada hikmah dibalik musibah. Dan kita harapkan saudara kita Pak Parlin tabah dan selalu bersama kita, bahwasa Pak Parlin tidak sendiri ada kita semua.

Yang kedua, himbauan dari Pak Farhan tadi menurut saya simpatik, biar kecil tapi bermakna. Mari kita mulai dari diri kita. Saya menghimbau kepada sekretariat jenderal atau kita semua supaya kedepan itu kita upayakan dari DPD ini memulai gerakan menggunakan produksi dalam negeri. Jadi mulai sekarang kami mohon, barangkali transisi ini ada kontrak tentu tidak bisa ya, tapi mudahan setelah selesai ini nanti ktia tidak tahu, kita juga harus agak ini juga, supaya jangan lagi ada buah-buah impor. Kita sangat mendukung untuk itu semua. Terima kasih.

Baik Bapak-Ibu sekalian, karena juga sudah disampaikan tadi, sudah komplit, maka kita mulai dari Komite I. Kami persilakan yang mewakili pimpinan Komite I.

22. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (WAKIL KETUA KOMITE I)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Om Swastyastu.

Kepada yang terhormat pimpinan DPD RI dan seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah republik Indonesia

Ibu Sesjen, Wakil Sesjen beserta seluruh jajaran sekretariat jenderal. Hadirin yang saya muliakan.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan yang maha kuasa atas ijinnya pagi hari ini kita alat kelengkapan akan memberikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Komite I dalam menjalankan tugas dan wewenang konstitusionalnya pada Masa Sidang III Tahun Sidang 2011-2012 berupaya terus mengoptimalkan pembahasan dan penyelesaian program-program kegiatan yang belum terselesaikan pada masa sidang sebelumnya.

Namun perlu dipahami bahwa kendati rentang waktu masa sidang saat ini tergolong panjang, namun beberapa beban kerja yang dihadapi Komite I memang semakin besar baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sehingga terdapat beberapa pekerjaan konstitusional Komite I yang belum dapat terselesaikan dan akan diteruskan atau dilanjutkan pada masa sidang yang akan datang.

Komite I pada masa sidang ini memfokuskan kegiatan dalam rangka penyusunan: Satu, RUU usul inisiatif:

RUU Pertanahan. Yang awalnya bernama pertanahan, sekarang berubah menjadi RUU Hak-hak Atas Tanah. Kemudian RUU Provinsi Kepulauan dan RUU Penataan Ruang.

Kedua, pandangan pandangan terhadap RUU dari Pemerintah atau DPR: 1. RUU Desa.

2. RUU Pemilukada.

3. RUU Pemerintahan Daerah.

(8)

Tiga, pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dua, pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.

Empat, pembentukan daerah otonomi baru.

1. Pembentukan Kota Merauke di Provinsi Papua.

2. Pembentukan Kabupaten Malaka sebagai pemekaran dari Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur.

3. Pembentukan Kabupaten Lombok Selatan sebagai pemekaran Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.

4. Pembentukan Kabupaten Ketengban sebagai pemekaran dari Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua.

5. Pembentukan Kota Samawarea sebagai pemekaran Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat.

6. Pembentukan Kabupaten Balanipa sebagai pemekaran dari Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

Lima, pelaksanaan advokasi aspirasi masyarakat dan daerah.

Untuk lebih lengkapnya, sebagaimana agenda acara pada hari ini, Komite I akan menyampaikan perkembangan pelaksanaan tugasnya sesuai dengan ruang lingkup tugas Komite I.

Satu, penyusunan RUU usul inisiatif

RUU tentang Pertanahan. Sebagaimana rencana yang telah digulirkan sejak masa sidang sebelumnya (tahun 2011). Komite I tengah melakukan pembahasan secara intensif RUU tentang Pertanahan yang diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan agraria/pertanahan di Indonesia.

Berbagai tahap kegiatan dalam penyusunan RUU ini telah dilalukan oleh Komite I. Dan saat ini Komite I telah membentuk Tim Pakar. Selain didukung oleh para pakar tersebut, dalam penyusunan RUU ini, Komite I juga dibantu oleh Prof. Maria Soemardjono, Prof. SB Silalahi, dan Prof. Nur Hasan Ismail secara simultan dan intensif.

Perlu kiranya kami informasikan bahwa setelah dilakukan kajian secara mendalam bersama dengan Tim Pakar serta hasil dari kegiatan studi referensi yang dilakukan sebelumnya. Komite I menarik kesimpulan dan perlu kiranya disampaikan kepada sidang paripurna pada hari ini bahwa judul RUU yang pada awalnya merupakan RUU Pertanahan diubah menjadi RUU Hak-hak Atas Tanah.

Saat ini Komite I beserta Tim Pakar tengah mempersiapkan naskah akademik dan draft RUU yang diharapkan pada tanggal 13 Maret 2012 akan dapat dilakukan seminar/uji sahih di Provinsi Lampung, Provinsi DIY, dan Provinsi Maluku. Perlu juga kami sampaikan pula bahwa Komite I mentargetkan RUU ini dapat disahkan pada akhir masa sidang III.

RUU tentang Provinsi Kepulauan.

Berangkat dari paradigma pembangunan yang tidak membedakan karakteristik teresterial dan karakteristik aquatik, Komite I berinisiatif untuk menyusun sebuah RUU yang mengatur khusus wilayah kepulauan dengan dimensi-dimensi yang dimilikinya. Dengan melekatkan diri sebagai pengaturan khusus, merujuk pada pengakuan daerah khusus yang diakui didalam konstitusi UUD Negara Republik indonesia 1945. Aspirasi terhadap penyusunan RUU ini juga datang dari berbagai provinsi yang memiliki kepulauan seperti Maluku, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, NTB, NTT, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara. Kami informasikan bahwa saat ini Komite I tengah membentuk Tim Pakar.

Selanjutnya pada tanggal 6 Maret 2012, Komite I juga akan melaksanakan kegiatan FGD dalam rangka penyerapan aspirasi masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara, NTT,

(9)

Bangka Belitung. Komite I juga akan mentargetkan agar pada masa sidang IV yang akan datang RUU ini dapat disahkan menjadi keputusan DPD RI.

RUU Penataan Ruang.

Sebagaimana aspirasi masyarakat dan daerah yang masuk melalui Komite I, terkait dengan keberadaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang tidak responsif dan TIDAK mengakomodir kepentingan daerah, maka Komite I sejak awal masa sidang III telah merencanakan untuk melakukan penyusunan RUU inisiatif terhadap RUU Tata Ruang. Penyusunan RUU diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap problematika penataan ruang di daerah yang hingga saat ini justru tidak terselesaikan dengan undang-undang yang lama.

Dalam pembahasannya, Komite I saat ini tengah melakukan inventarisasi materi lebih mendalam dan dalam tahap seleksi Tim Pakar diharapkan dapat membantu penyusunan RUU ini.

Pandangan DPD RI terhadap RUU.

Pertama, pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Desa.

Saat ini pemerintah telah menyelesaikan RUU tentang Desa yang memisahkan substansi tersebut dari Undang-Undang Pemerintahan Daerah. Sesuai dengan kewenangan konstitusional yang diberikan kepada DPD RI, maka melalui Komite I telah disusun pandangan terhadap RUU tentang Desa. Penyusunan pandangan ini tentunya tidak terlepas dari keputusan politik DPD RI yang telah dituangkan didalam RUU tentang Desa usul inisiatif DPD RI yang telah kita sahkan sebelumnya.

Adapun beberapa pokok catatan yang terdapat dalam pandangan ini diantaranya. Saya tidak akan bacakan karena banyak sekali.da point-point penting saja yang akan saya sampaikan dihadapan sidang yang terhormat ini. Point ke-5 dari catatan ini, DPD RI secara tegas memandang desa sebagai negara kecil. Negara kecil bukanlah negara ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, melainkan sebagai organisasi lokal yang memiliki wilayah, kekuasaan, rakyat, sumberdaya (agraria, hutan, sungai, dan sebagainya).

Kemudian alam hal perangkat desa. Pengisian sekdes dengan PNS menjadi isu yang sangat kontroversial. Kebijakan birokratisasi desa yang dimulai sejak Undang-Undang No. 32/2004 ini menimbulkan gelombang protes dari Persatuan Perangkat Desa seluruh Indonesia (PPDI), sehingga mereka sekarang juga menuntut untuk diangkat menjadi PNS. DPD berpandangan bahwa birokratisasi desa semacam itu kontraproduktif dengan otonomi lokal, tetapi kebijakan pemerintah tentang pengangkatan sekdes menjadi PNS atau pengisian sekdes dengan PNS merupakan kebijakan diskriminatif yang menimbulkan gejolak di desa, khususnya kesenjangan antara sekdes dan perangkat desa lainnya, sehingga mengurangi efektivitas penyelenggaraaan pemerintahan dan pembangunan di desa. Oleh karena itu DPD berpendapat, jika pemerintah mengangkat sekdes menjadi PNS atau mengisi sekdes dengan PNS, maka bertitik tolak dan konsisten dengan pemilihan tersebut, maka semua perangkat desa seharusnya menjadi PNS, sesuai dengan aspirasi PPDI

Selanjutnya, DPD RI berpendapat bahwa rekognisi terhadap desa harus diikuti dengan redistribusi. Rekognisi merupakan manifestasi dari keadilan budaya, sementara redistribusi merupakan manifestasi dari keadilan ekonomi. DPD berpendapat bahwa ADD dari APBN merupakan penjabaran dari prinsip rekognisi dan redistribusi itu, sebagai bentuk komitmen keadilan negara terhadap desa, sekaligus sebagai bentuk visi membangun desa yang lebih mandiri dan sejahtera. Karena itu DPD berkomitmen angka 5% dari total APBN untuk ADD.

Bersamaan dengan sidang paripurna pada hari ini, kami Komite I mengharapkan agar DPD RI dapat mensahkan pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Desa sebagai keputusan DPD RI. Draft Pandangan terlampir.

(10)

Pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Pemilihan Kepala Daerah.

Sesuai dengan kewenangan yang dimiliki DPD, maka melalui Komite I telah disusun pandangan terhadap RUU tentang Pemilukada. Perlu diinformasikan pula bahwa dalam penyusunan pandangan ini Komite I tetap berpegang teguh pada keputusan politis DPD RI terkait pemilihan kepala daerah yang dituangkan dalam RUU tentang Pemilihan Umum Kepala Daerah sebagai usul inisiatif DPD RI yang telah disahkan beberapa waktu yang lalu.

Adapun beberapa pokok pikiran yang terdapat dalam pandangan ini juga kami ringkas dan bisa dilihat lebih lanjut dalam lembaran kertas yang sudah ada.

Pertama, sesuai dengan judul RUU, pemerintah beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah bukan merupakan rezim pemilihan umum sehingga judul RUU ini adalah RUU Pemilihan Kepala Daerah. Dalam hal ini DPD RI tetap berpandangan bahwa pemilihan kepala dearah merupakan bagian dari rezim pemilihan umum sehingga judul RUU tetap RUU tentang Pemilukada.

Kemudian, dengan berbagai argumentasi, pemerintah mengusulkan gubernur dipilih oleh DPRD. DPD RI berpendapat pemilukada dengan pemilihan langsung merupakan mekanisme paling demokratis sehingga tetap dipertahankan.

Kemudian, pemerintah mengusulkan (1) Kepala Daerah terpilih mengusulkan satu nama kepada DPRD untuk mendapat pertimbangan DPRD. (2) Jabatan Wakil kepala daerah adalah jabatan administratif karir. (3) Masa jabatan wakil kepala daerah adalah sama dengan masa jabatan kepala daerah yang mengusulkannya. DPD RI mengusulkan: (1) Kepala daerah mengusulkan nama sejumlah nama calon untuk dipilih oleh DPRD. (2) Jabatan wakil kepala daerah adalah jabatan politik. (3) Wakil kepala daerah dapat menggantikan kepala daerah dalam hal berhalangan tetap. (4) Kebutuhan wakil kepala daerah akan diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah.

Kemudian terkait pengawasan, DPD RI mendorong penguatan Bawaslu dan Panwaslu. Undang-Undang Pemilukada perlu mengatur pengawasan secara detil dan terperinci pada setiap tahapan karena draf pemerintah tidak memuat hal tersebut, yaitu meliputi aspek yang diawasi, kewenangan pengawas terhadap aspek yang diawasi, serta mekanisme pengawasan dalam proses tersebut.

Selanjutnya, terkait dengan sengketa, pemerintah mengembalikan sengketa hasil pilkada ke Mahkamah Agung. DPD RI tetap konsisten menempatkan pilkada sebagai pemilu sehingga sengketa pemilukada diselesaikan oleh Mahkamah Konstitusi.

Bersamaan dengan sidang paripurna pada hari ini, kami Komite I mengharapkan agar DPD RI dapat mengesahkan pandangan DPD RI terhadap RUU tentang Pemilukada sebagaimana draft pandangan terlampir.

Pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang.

Pertama, Undang-Undang No. 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara

Masih mengemukanya berbagai persoalan perbatasan negara, telah menggerakkan Komite I untuk terus menjadikan isu perbatasan sebagai permasalahan yang perlu untuk disikapi. Pada masa sidang II Komite I telah melaksanakan kegiatan kunjungan kerja dalam rangka pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, yaitu ke Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Selain itu dalam rangka memperkuat substansi hasil pengawasan Komite I juga telah melakukan beberapa kegiatan, diantaranya rapat kerja, RDPU dan sebagainya.

Adapun secara substansial pokok-pokok bahasan yang ada dalam hasil pengawasan terhadap Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara telah menghasilkan beberapa catatan penting, diantaranya :

Pertama, terkait dengan penataan garis batas darat, laut, dan udara Pemerintah Indonesia perlu untuk didorong segera menyelesaikan Outstanding Boundaries Problems (OBP) yang masih belum selesai dengan memegang konsep pagar hidup atau Social-Security

(11)

Belt Area yang mengintegrasikan konsep keamanan militer dengan sipil yang mendekatkan keamanan dengan kesejahteraan.

Kemudian kami bacakan point yang keempat. Pemerintah perlu meningkatkan koordinasi kelembagaan dan sinkronisasi program. Usaha ini bermaksud untuk menghindari penanganan masalah yang lepas kontrol atau tumpang-tindih. Sehingga tidak ada program yang tidak sinkron atau mengurangi ketidaksinkronan program antara satu departemen dengan departemen yang lain.

Point kelima, kapasitas kewenangan kelembagaan BNPP perlu ditingkatkan dari yang sifatnya koordinatif menjadi instruktif, termasuk pemusatan anggaran dan wilayah garapan. DPD RI memandang perlu adanya kementerian tersendiri yang akan mengatur masalah perbatasan.

Pada point 9, secara umum, DPD RI juga merekomendasikan hal-hal terkait dengan substansi dan implementasi Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Diantaranya memperkuat substansi undang-undang yang cenderung menempatkan kawasan perbatasan dalam perspektif perbatasan darat, hubungan pusat dan daerah, kelembagaan, model keikutsertaan masyarakat, larangan dan sanksi pelanggar batas.

Point 10, untuk menjalankan maksud sebagaimana diatas, maka Komite I juga merekomendasikan dalam pengawasan ini agar Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara harus direvisi.

Bersamaan dengan sidang paripurna hari ini, kami Komite I mengharapkan agar DPD RI dapat mengesahkan hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara sebagaimana terlampir.

Pengawasan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Berbagai kasus kekerasan seperti di Mesuji Lampung, NTB, Ciukesik Banten, Madura, free port Papua, dll mengindikasikan adanya pelanggaran HAM. Jumlah pengaduan masyarakat tentang dugaan pelanggaran HAM ke Komnas HAM hingga November 2011 sebanyak 3.780 kasus pengaduan.

Sejumlah tindakan kekerasan di daerah tersebut, tidak diimbangi dengan penegakan hukum yang adil dan memadai. Institusi penegak hukum belum mencerminkan netralitas dalam melakukan perlindungan terhadap warga Negara. Di lain pihak peradilan masih jauh dari harapan untuk menjadikan ruang yang adil bagi semua pihak.

Momentum penguatan mekanisme perlindungan HAM menjadi agenda penting, apalagi sejak diundangkannya Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Bersamaan dengan terus meningkatnya pelanggaran terhadap HAM dan aspirasi masyarakat kepada Komite I. Maka pada masa sidang ini Komite I juga telah melakukan pengawasan terhadap undang-undang ini.

Rangkaian kegiatan pengawasan telah dilakukan diantaranya adalah RDP, RDPU, apat Kerja dengan Komnas HAM dan kunjungan kerja.

Kemudian beberapa pokok substansi hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Saya bacakan mulai point ketiga, pengawasan DPD RI juga menggarisbawahi keterbatasan kewenangan Komnas HAM, terbatas karena bukan merupakan penyidik pro justitia. Komnas HAM hanya berwenang pada tahap penyelidikan, sementara proses penyidikannya merupakan kewenangan Jaksa Agung.

Point keempat, pengawasan DPD RI menyebutkan institusi-institusi yang juga paling banyak melakukan pelanggaran HAM, diantaranya adalah kepolisian, perusahaan swasta dan pemda. Berbagai kasus pelanggaran HAM yang melibatkan aparat penegak hukum dan birokrasi menunjukkan masih minimnya pemahaman terhadap konsepsi HAM dalam pelaksanaan kebijakan, keputusan dan tindakan sehari-hari.

(12)

Point 6, masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam perlindungan, penegakan dan pemajuan HAM.

Bersamaan dengan sidang paripurna pada hari ini Komite I mengharapkan agar DPD RI dapat mengesahkan hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagaimana terlampir.

Usul pembentukan daerah otonomI baru.

Sebagaimana aspirasi yang masuk melalui Komite I terkait dengan usulan pembentukan daerah otonomI baru (DOB). Maka pada Masa Sidang III ini Komite I akan melaksanakan kunjungan kerja sebagai upaya untuk meninjau persiapan fisik pembentukan DOB di Provinsi Papua terkait dengan pembentukan Kota Merauke, Provinsi Nusa Tenggara Timur terkait dengan pembentukan Kabupaten Malaka sebagai pemekaran dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Barat terkait dengan pembentukan Kabupaten Lombok Selatan sebagai pemekaran Kabupaten Lombok Timur yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 18 sampai 22 Februari.

Selain ketiga DOB tersebut, pada tanggal 25 s.d. 29 Maret 2012, Komite I juga akan melakukan kunjungan kerja dengan perihal yang sama di Provinsi Papua terkait dengan pembentukan Kabupaten Ketengban sebagai pemekaran dari Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Nusa Tenggara Barat terkait dengan pembentukan Kota Samawarea sebagai pemekaran Kabupaten Sumbawa Barat, dan Provinsi Sulawesi Barat terkait dengan pembentukan Kabupaten Balanipa sebagai pemekaran dari Kabupaten Polewali Mandar.

Advokasi terhadap aspirasi masyarakat dan daerah. Pelaksanaan program e-KTP:

Sebagai komitmen Komite I untuk terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program e-KTP yang saat ini tengah menjadi program pemerintah. Maka Komite I juga telah melakukan kunjungan ke Kementerian Dalam Negeri untuk meninjau secara langsung pengelolaan e-KTP pada tanggal 30 Januari 2012. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan dimaksud:

1. Permasalahan jaringan listrik menjadi kendala utama dalam keberhasilan program e-KTP.

2. Kontrak kerja sama dengan pihak konsorsium harus ditinjau kembali karena tidak ada aturan sanksi bagi pihak konsorsium jika tidak dapat menunaikan kontrak tepat pada waktunya. Sehingga terkesan pemerintah tersandera oleh pihak konsorsium.

3. Masih terjadi pungutan liar di daerah-daerah terhadap pelaksanaan e-KTP yang seharusnya gratis. Dilain pihak hingga saat ini belum ada sanksi untuk pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lapangan terkait pelaksanaan program e-KTP.

4. Dengan adanya penambahan ratusan jumlah kecamatan hasil pemekaran Kementerian Dalam Negeri dana tambahan sekitar 774 miliar untuk pelaksanaan program e-KTP. Penyelesaian Pelanggaran HAM di Bima Nusa Tenggara Barat.

Menyikapi aksi bentrok massa dengan aparat yang terjadi di pelabuhan Sape Bima pada tanggal 24 Desember 2011, anggota Komite I dan Komite II melalui penugasan dari pimpinan DPD RI melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Bima pada tanggal 26-28 Desember 2011 guna melihat kondisi masyarakat serta berdialog dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait lainnya.

Melalui rapat kerja DPD RI dengan Bupati Bima, Ketua DPRD, anggota DPRD, Kapolres serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah yang berlangsung di Kantor DPRD Bima pada tanggal 27 desember 2011 menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :

(13)

Pertama, rapat dapat memahami pengambilan tindakan upaya paksa yang terpaksa dilakukan oleh Polres Kota Bima dan menyerahkan kepada Mabes Polri dan Komnas HAM untuk melakukan penilaian tentang kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.

Kedua, rapat menghargai langkah Bupati Bima menghentikan sementara kegiatan eksplorasi oleh PT. Sumber Mineral Nusantara melalui Keputusan Bupati Bima dan sepakat mengambil langkah-langkah dalam rangka mengakomodasi dan menindaklanjuti aspirasi masyakarakat, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut, tidak saya bacakan.

Ketiga, rapat sepakat untuk mengambil langkah-langkah pemulihan keamanan dengan kegiatan di antara lain sebagaimana yang ada pada a,b sampai c.

Penutup.

Demikian laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite I untuk Sidang Paripurna ke-10 DPD Masa Sidang III Tahun Sidang 2011-2012 yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian pimpinan dan seluruh anggota DPD RI serta hadirin kami ucapkan terima kasih.

Bilahitaufiq walhidayah Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Om Shanty Shanty Shanty Om.

23. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Terima kasih kita ucapkan kepada pimpinan Komite I yang telah menyampaikan banyak hal yang menurut saya tidak bisa saya potong karena banyak substantif yang harus diambil keputusan pada sidang paripurna pada pagi ini.

Baiklah Bapak-Ibu sekalian kepada kita, setelah kita mendengarkan kepada kita diminta untuk mengambil keputusan. Pertama adalah keputusan DPD RI dan tentang pandangan dan pendapat DPD terhadap RUU tentang Desa. Yang kedua, keputusan DPD terhadap pandangan DPD terhadap RUU tentang Pemilihan Kepala Daerah. Yang ketiga, keputusan DPD RI tentang pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Yang keempat, keputusan DPD RI tentang pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Apakah kita dapat menyetujui?

Silakan Pak Abdurachman.

24. PEMBICARA : Drs. H. ABDURACHMAN LAHABATO (MALUKU UTARA) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Abdurachman Lahabato, B-120 Maluku Utara.

Terima kasih kesempatan yang diberikan. Saya mencermati benar laporan Komite I terkait dengan beberapa hal, satu diantaranya termasuk daerah otonom baru. Saya ingin sharing bahwa terkait dengan kunjungan fisik daerah otonom daerah baru yang selama ini biasa dilakukan telah mendapat surat resmi dari daerah induk, dari daerah yang akan dijadikan daerah otonom baru, sepertinya ini dibicarakan ulang. Kenapa? Karena katakanlah misalnya beberapa waktu lalu DPR RI Komisi II untuk memutuskan 23 daerah otonomi baru yang akan disampaikan ke pemerintah dan DPD RI. Kalau yang nanti dikunjungi adalah kurang lebih 6 daerah otonom baru, itu artinya mekanisme selama ini perlu dibicarakan ulang. Karena amanat Undang-Undang Dasar 1945 Undang-Undang Nomor 27 itu mengisyaratkan Dewan Perwakilan Daerah untuk melaksanakan tugas-tugas sebagian dari sebagian tugas itu. Karena itu saya menyarankan agar mekanisme itu perlu dipikirkan ulang. Terima kasih.

(14)

25. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, silakan Pak Tonny Tesar.

26. PEMBICARA : TONNY TESAR (PAPUA) Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita sekalian.

Bapak-Ibu yang saya hormati, saya memberikan apresiasi yang baik sekali untuk Komite I yang sudah memberikan pertimbangan, khususnya masalah pertimbangan untuk Undang-Undang Pilkada, pemerintah daerah, pemilihan umum. Saya lihat di point persyaratan calon saya kira untuk partai politik sudah cukup baik, DPD sudah memberikan pertimbangan untuk tetap pada posisi 15%. Namun untuk perseorangan saya kira, saya berikan sedikit gambaran, dari pengalaman pilkada yang terjadi di Indonesia calon perseorangan hampir semua tidak menang. Dan kalau kita lihat di setiap daerah dukungan yang diberikan minimal 3,5% atau 3% atau 5% itu, itu dalam kenyataan di hasil pilkada tidak ada yang mencapai sama dengan angka dukungan atau paling tidak lebih sedikit, semua dibawah. Sehingga saya melihat bahwa kalau calon perseorangan tidak diperketat dengan batasan yang cukup baik ini akan menjadi satu masalah besar masalah biaya dan lain-lain, karena tentunya untuk melakukan satu pilkada ini hampir semua orang ingin maju. Dan kalau syaratnya tidak diperketat itu akan menjadi pilkada yang berulang kali, putaran yang berulang kali dan merugikan. Pengalaman tidak ada yang menang kecuali di Aceh, kalau salah mungkin nanti ada yang bisa tambah. Iya, mungkin ada yang bisa tambah satu, tapi ini pengalaman. Jadi saya usulan yang disampaikan bahwa harus dari DPT saya kira ini kurang baik. Harus sesuai dengan jumlah penduduk, itu yang seperti diawal itu sudah cukup baik. Karena ini pertimbangan pertama kali DPD, DPD RI yang ini menjadi pertimbangan untuk angka-angka ini, angka-angka yang moderat ini diambil dari jumlah penduduk periode lama. Jadi kalau ini sekarang kita pengalaman yang ada bisa diberikan gambaran untuk kita kenapa diambil DPD, nah itu.

Yang kedua, masalah sengketa hasil. Saya kira ini yang disampaikan disini oleh teman-teman di Komite I saya kira ini tidak relevan dengan permasalahan kekinian, karena ini cuma dipergunakan bahwa Undang-Undang Dasar itu menyebutkan bahwa pemilu itu masuk, pemilukada termasuk rezim pemilu sehingga sengketanya harus di Mahkamah Konstitusi. Ini pertimbangan yang saya merasa bahwa pertimbangan tidak perlu untuk DPD kalau memberikan pertimbangan untuk ini. Kita harus melihat masalahnya. Masalahnya bahwa pilkada ini di Indonesia ini kan terjadi di atas 500 pilkada dan setiap tahun 200 pilkada ada. Dengan keterbatasan mahkamah yang ada 9 orang ini apakah pertanyaannya apakah meraka bisa lakukan keputusannya yang baik, yang adil.

Yang kedua, kalau kita melihat hak kedaulatan rakyat itu adalah ditangan rakyat, rakyat yang memilih pemimpinnya, bukan 9 orang Mahkamah Konstitusi yang memilih kepala daerah di suatu tempat. Ini pengalaman. Karena apa? Setiap keputusan Mahkamah Konstitusi untuk memutuskan bahwa harus ada pemilukada ulang itu tidak ada yang merubah komposisi atau hasil yang sudah ditetapkan oleh KPU sebelumnya. Tidak ada yang merubah. Artinya apa? ini biaya pemborosan yang sangat besar sekali. Terakhir kita lihat di Papua Barat dan Pekanbaru, kota Pekanbaru dan di lain-lain Pandeglang, Tangerang Selatan, di Papua itu ada Merauke, ada Supiori, kota Jayapura, ini biaya yang di keluarkan banyak, hasil toh dilakukan pilkada ulang, ya tetap saja hasil KPU itu benar. Artinya ini kedaulatan ada ditangan rakyat bukan di Mahkamah Konstitusi, begitu. Jadi pertimbangan DPD untuk memberikan pertimbangan bahwa harus rezim pemilu jadi sengketanya harus di Mahkamah

(15)

Konstitusi saya kira ini perlu di pertimbangkan secara baik sehingga tidak terjadi seperti yang sudah terjadi.

Yang kedua, kalau itu di bawa ke Mahkamah Konstitusi.

27. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Mohon waktunya Pak Tonny.

28. PEMBICARA : TONNY TESAR (PAPUA)

Dibawa ke Mahkamah Konstitusi itu Pasal 24 C Undang-Undang Dasar menyebutkan bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi itu final. Dimana rasa keadilan kita di dalam mencari keadilan? Ketika ada keputusan Mahkamah Konstitusi yang keliru, katakan tanda kutip, dan ini terjadi dibanyak tempat. Dimana mencari rasa keadilan? Jadi saya kira pertimbangan ini tolong dari teman-teman Komite I untuk bisa memberikan sedikit masukan agar bisa memperbaiki ini. Terima kasih Pak Ketua.

29. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik, ada lagi yang dari luar Komite? Silakan Pak Supartono. Mohon waktunya. 30. PEMBICARA : Ir. SUPARTONO (JAWA TIMUR)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mungkin saya hanya usulkan atau ini semacam klarifikasi. Tentang tadi telah, mungkin saya dengar, tentang perubahan judul RUU Pertanahan menjadi RUU Hak-hak Atas Tanah. Saya kalau melihat dari kata hak itu adalah kata majemuk jadi tidak perlu dua kali. Mungkin RUU tentang hak atas tanah, bukan hak-hak atas tanah, itu satu. Kedua, secara esensi dan filosofi memang hak atas tanah itu sangat bagus, tetapi saya ingin klarifikasi bagaimana alasan secara sosiologi dan yuridis berkaitan penggeseran nama judul itu RUU Pertanahan menjadi RUU, dengan bahasa saya hak atas tanah itu. Terima kasih, itu saja. 31. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)

Baik, Bapak-Ibu sekalian, saya rasa dengan beberapa catatan tadi, sebelum saya, sedikit Pak Fatwa. Silakan Pak fatwa.

32. PEMBICARA : Drs. H. A. M. FATWA (DKI JAKARTA)

Itu menarik sekali pandangan Pak Tonny dari Papua. Tapi mengenai MK itu yaitu Undang-Undang Dasar, jadi kita harus masukan didalam kompilasi usulan amandemen. Jadi, tapi itu memang sudah banyak protes sekarang ini bahwa keputusan-keputusan MK itu juga banyak yang tidak objektif saya kira. Tapi kemudian tadi itu mengenai hak, saya kira yang benar adalah hak-hak. Terima kasih.

33. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Silakan pimpinan Komite I untuk bisa merespon untuk bagaimana nanti kita menyempurnakan sebelum kita serahkan nanti kepada DPR. Kami perilakan.

(16)

34. PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (WAKIL KETUA KOMITE I)

Terima kasih pimpinan.

Pertama saya akan menjawab apa yang disampaikan, yang dipertanyakan oleh Pak Tonny. Saya kira secara lugas sudah di jawab oleh Pak Fatwa, karena ini adalah beruntut dari konstitusi sampai undang-undang mengatur seperti itu. Kemarin itu berkembang di pembahasan di konsinyering juga Pak Tonny, bagaimana kita memperkuat posisi Bawaslu dan Panwaslu itu. Dia bukan saja melakukan semacam pemeriksaan berkas administrasi, tapi dia diberikan, jika terjadi sengketa pemilu itu, malah saran teman-teman waktu kita diskusikan dengan para pakar, diajukan yudikasi namanya. Jadi ada upaya banding yang dilakukan, misalnya pemilukada di kabupaten/kota, bupati dan walikota. Jika memang terjadi pelanggaran itu Bawaslu berhak memutuskan perkara itu apakah dia di dis atau tidak. Dan nanti ada upaya banding oleh orang yang, misalnya bupati tidak puas dengan keputusan Bawaslu, dia boleh melakukan suatu proses hukum lagi yang kita sebut dengan ajudikasi. Itu disampaikan provinsi dan sampai ke pusat. Ternyata itu memang mendapat pandangan-pandangan yang cukup signifikan. Akhirnya kita tetap merujuk karena konstitusi mengatur bahwa sengketa pemilu itu diatur penyelesaiannya ke Mahkamah Konstitusi terkait dengan perselisihan perhitungan suara. Jadi tetap ke Mahkamah Konstitusi. Padahal pemerintah dalam konsepnya itu adalah mengembalikan kepada Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung men-delivery kepada pengadilan tinggi di setiap provinsi.

Pagi hari ini saya kira dalam sidang paripurna ini kesempatan bagi kita untuk melakukan perbaikan, tetapi itu hasil yang dilakukan oleh Komite I pada konsinyering terakhir kemarin itu. Saya kira itu komentar kami Pak Ketua.

Kemudian terkait dengan istilah penggunaan hak-hak atas tanah yang disampaikan oleh Bapak Supartono. Di Undang-Undang 560 tentang Undang-Undang Pokok Agraria juga menyebutkan tentang itu hak-hak atas tanah. Kemudian di PP 24 Tahun 1997 juga menyangkut persoalan nomenklaturnya juga hak-hak atas tanah. Makanya secara konsisten Komite I melanjutkan istilah-istilah yang dipakaikan oleh Undang-Undang UPA 560 dan PP 24 Tahun 1997 itu. Terima kasih.

35. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Baik. Jadi dengan beberapa catatan tadi bisakah kita sepakati dari semua hasil dari Komite I? Baik.

Terima kasih. Tepuk tangan buat pimpinan Komite I dan anggotanya.

Selanjutnya kami persilakan pada pimpinan Komite II untuk menyampaikan laporannya.

36. PEMBICARA : Ir. H. BAMBANG SUSILO, MM. (KETUA KOMITE II) Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera selalu buat kita semua. Om Swastyastu.

(17)

Yang saya hormati pimpinan DPD RI, pimpinan alat kelengkapan DPD RI, anggota DPD RI, seketariat jenderal DPD RI beserta jajarannya, teman-teman wartawan media cetak, elektronik, serta hadirin yang sangat kami muliakan.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Komite II secara singkat akan menyampaikan laporan perkembangan tugas pada masa sidang III tahun sidang 2011-2012. Pertama, kepada seluruh anggota DPD RI masa sidang III tahun 2011-2012 memohon dengan hormat pengesahan pertama RUU Jalan sebagai pengganti dari RUU Jalan Nomor 38 Tahun 2004.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati, secara ringkas akan saya sampaikan apa yang dibacakan oleh Ketua DPD pada pembukaan tadi banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat tragis tentang pengguna jalan dan memakan korban yang sangat banyak di beberapa daerah. Oleh sebab itu RUU Jalan Nomor 38 Tahun 2004 perlu diganti dengan RUU Jalan inisiatif DPD RI. Karena apa? Ada 4 faktor kalau kita bicara keselamatan yaitu 4K, Keamanan, Keselamatan, Kenyamanan, dan Kegunaan pengguna jalan pada undang-undang terdahulu itu belum dikupas secara jelas dan tuntas. Kedua, selama ini RUU yang ada 4 klasifikasi jalan, jalan kabupaten, jalan provinsi, jalan nasional dan jalan strategi khusus, jalan strategi nasional. Insya Allah pada RUU yang akan dimintakan pengesahan oleh anggota semua pada forum yang sangat berbahagia ini ada satu lagi yaitu jalan khusus. Dan banyak sekali Bapak-Ibu sekalian sekarang import mobil dan lain-lain itu kapasitas jalan kita untuk tekanan gandarnya cuma 20 ton, tapi pemerintah mengimport mobil lebih dengan kekuatan tekanan gandar dari 20 ton, 30 ton, 40 ton, selama ini yang kita sampaikan atau kita dapati, kita melakukan aspirasi penyerapan di daerah yang dikunjungi oleh Komite II.

Kearifan lokal juga tidak digunakan. Dulu kita tahu semua bahwa yang namanya aspal button di Sulawesi Tenggara hampir 100 tahun kedepan kalau memang ini digunakan ini bisa untuk membantu. Pertama devisa dari daerah itu, kedua untuk negara, sangat murah, efisien dengan kualitas yang sangat bagus. Itu juga kearifan local material lokal kita masukan di undang-undang inisiatif daripada DPD RI yang akan kita mintakan persetujuan.

Kedua, yang minta untuk disahkan pandangan, pendapat DPD terhadap RUU Pangan. Ini kita akan lebih intens lagi dengan Komisi IV dan sudah ada suatu komunikasi yang bagus. Selama ini tadi sudah dijelaskan oleh Wakil Ketua MPR sebaiknya kita menjadi contoh. Wakil ketua MPR-nya tadi ada, bahwa sebaiknya makanan-makanan tidak usahlah namanya jeruk dari luar negeri, beras dari mana-mana dan lain sebagainya. Insya Allah pandangan pendapat kita tentang RUU Pangan semua itu akan kita kawal habis. Itu kira-kira pointer-pointer sangat penting, termasuk label-label perdagangan khususnya untuk pangan yang sedang berkembang di daerah menyangkut tentang perdagangan yang sangat bebas dan salah substansinya di negeri kita ini. Jadi saya ulangi saya mohon kepada seluruh anggota, pimpinan dan sebagainya, RUU Jalan dan pandangan pendapat DPD RI terhadap RUU Pangan untuk bisa disahkan.

Kedua, yang sedang dikerjakan Komite II DPD RI. Pertama inisiatif, sesuai konstitusi yang ada akan dibahas atau diinisiatifi. Pertama RUU tentang Badan Usaha Milik Daerah. Sudah kita lihat bersama bagaimana BUMD di daerah. Kedua, RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan, Mineral dan Batubara. Kita bisa lihat bersama disini bahwa kedaulatan energi, kedaulatan pertambangan sudah terabrasi oleh kepentingan-kepentingan asing, dan pemerintah tidak sanggup untuk melakukan negosiasi-negosiasi kontrak karena RUU atau undang-undang yang ada tidak tersirat dengan jelas untuk diadakan suatu negosiasi kontrak. Sehingga Komite II menginisiatif untuk RUU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan, Mineral dan Batubara untuk dirubah.

Setelah inisiatif saya sampaikan juga pandangan dan pendapat yang sudah masuk ke DPD RI. Pertama, pandangan pendapat DPD terhadap RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Kedua, pandangan dan pendapat DPD RI terhadap RUU Percepatan Pembangunan

(18)

Daerah Tertinggal. Ini sangat menarik walaupun isu-isu ini kurang seksi dibanding isu-isu lain, namun kenyataanya sebenarnya 2 RUU yang telah diinisiatifi oleh Pemerintah dan DPR ini sangat menyentuh daripada roh para konstituen kita di daerah. Banyak penyerobotan-penyerobotan lahan petani untuk pertambangan umum dan lain sebagainya. Dimana pemerintah daerah tidak berkutik ketika menghadapi persoalan-persoalan yang telah saya sebutkan di atas tadi. Ketiga, masalah pengawasan sesuai konstitusi yang ada pada masa sidang III ini Komite II mengawasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas. Dan point yang sangat menarik adalah konversi minyak ke gas. Kita telah melakukan kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Barat. Dimana kita melihat sendiri dengan melakukan RDP dengan pemerintah terkait dan masyarakat daerah belum siap untuk dikonversi minyak ke gas atau dari gas ke gas lain. Kedua, pengawasan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kita juga melakukan kerja ke Nusa Tenggara Barat, bahwa dari 14 kriteria bencana nasional 10 diantaranya ada di Nusa Tenggara Barat. Namun perlu saya sampaikan disini bahwa masalah penanggulangan bencana nasional ini terbaik adalah Jawa Barat kedua adalah Nusa Tenggara Barat. Kita kasih applause buat dua provinsi tersebut.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Banyak sekali janji-janji Pemerintah Pusat untuk Nusa Tenggara Barat, akan kasih suatu reaksi cepat seperti helikopter dan lain-lain. Oleh sebab itu saya sarankan kepada anggota DPD RI dari Komite II untuk menagih janji itu. Sehingga dalam waktu cepat Insya Allah Nusa Tenggara Barat mendapat satu helikopter untuk mengatasi bencana-bencana alam yang ada di daerah khususnya Nusa Tenggara Barat.

Bapak Ibu sekalian yang saya hormati.

Selain inisiatif pandangan pendapat dan pengawasan, pada masa sidang ketiga ini Komite II fokus pertama untuk melakukan RDP-RDP seperti Komite-komite lain ataun alat-alat kelengkapan lain. Kedua, akan melakukan dengan giat dan gencar advokasi-advokasi kepada daerah. Saya pikir inilah yang sangat strategis kepada daerah, kepada apa yang akan kita berikan kepada daerah mengenai advokasi-advokasi yang telah dinanti oleh seluruh daerah di 33 provinsi. Contohnya masalah Masuji, masalah Bima dan lain sebagainya. Di Sulawesi Barat kita semua telah melakukan suatu advokasi-advokasi yang baik. Dan sebagai contoh keberhasilan daripada advokasi kita dengan kelangkaan di Sulawesi Tenggara terutama di Kabupaten Kolaka, dengan kita mediasi pemerintah daerah yang terkait dengan Kementerian ESDM Insya Allah dalam waktu dekat di, namanya Sulawesi Tenggara yaitu Kabupaten Kolaka tidak akan terjadi suatu kelangkaan energi dengan dibangunnya suatu tanker-tanker minyak disana.

Inilah yang bisa saya laporkan kepada forum yang sangat mulia sidang paripurna DPD RI. Bayak sekali advokasi perkebunan dan saya menyambut positif dilakukan atau dibentuklah Pansus tentang agraria dan sumber daya alam. Disinilah kira-kira Bapak-Ibu sekalian yang bisa saya laporkan kepada seluruh anggota DPD RI di forum sidang ketiga tahun 2011-2012 Selanjutnya saya atas nama, mohon ijin kepada pimpinan dan seluruh anggota, atas nama daerah, atas nama 4 teman saya dari Kalimantan Timur yaitu saya pribadi Pak Luther, Awang Ferdian, KH. Muslihuddin mengucapkan terima kasih, pertama kepada pimpinan DPD RI, kedua kepada seluruh anggota DPD RI terutama kepada Ibu Aida dari Komite I dan Pak Cholid dari Komite IV, Pak Malonda dari Sulawesi Tengah, dan Ibu Iin dari Riau, Pak Djasarmen Purba dari Kepri yang telah membantu dibawah koordinator lembaga negara kita yaitu DPD RI. Insya Allah pada masa sidang-sidang selanjutnya judicial review yang kita ajukan kepada MK bisa menang dan diberkati oleh Allah SWT.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.

Terakhir saya mohon ijin kepada pimpinan, karena pada tanggal 11 Februari yang lalu seluruh anggota Komite II DPD ada di Nusa Tenggara Barat, ketika itu pimpinan

(19)

melakukan suatu ulang tahun yang ke-50 usia yang sangat cerdik. Oleh sebab itu saya mohon ijin kepada pimpinan dan seluruh anggota, tanpa mengorok, tanpa mengurangi daripada proses hari ini yaitu proses kenegaraan, dan mohon jangan ditulis di notulen kenegaraan, saya Komite II dan teman-teman lainnya akan menyampaikan rasa kebanggan saya sebagai negarawan kepada pimpinan DPD RI yaitu Pak Irman, sesuatu. Saya mohon seluruh anggota Komite II untuk maju kedepan untuk menyerahkan bantuan. Terima kasih.

Akhirulkalam, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om Shanty Shanty Shanty Om.

Syalom.

37. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Ini surprise betul ini Bapak-Ibu sekalian. Ini mudah-mudahan tidak merusak acara paripurna kita. Itulah bedanya. Tapi ini mungkin bentuk kekompakan dan keakraban, kekeluargaan yang kita bangun. Mudah-mudahan di buku itu juga bagian sebenarnya dari perjalanan dari DPD dan itu sedikit juga perjalanan daripada keluarga saya. Dimana Pak Fatwa dulu waktu orang tua saya meninggal beliau datang khusus ke Sumatera Barat karena beliau adalah sahabatnya orang tua saya juga. Yang inspektur upacara waktu itu Pak Fatwa ya. Jadi sekali lagi saya merasa bangga dan terima kasih, mudah-mudahan ini adalah pengabdian kita bersama demi kemajuan bangsa dan daerah yang kita wakili bersama. Terima kasih Bapak-Ibu sekalian.

Baiklah kita lanjutkan. Bolehkah saya pindahkan ini sebentar ya. Ini pakaian kebesaran Tapanuli Utara ini.

Bapak-Ibu sekalian, tadi kita telah mendengarkan dari pimpinan Komite II yang telah menyampaikan progresnya dan juga kepada kita dimintakan dua keputusan. Pertama mengenai keputusan DPD RI tentang RUU inisiatif tentang jalan. Yang kedua keputusan tentang pandangan dan pendapat terhadap RUU tentang Pangan. Apakah kedua hal tersebut bisa kita setujui atau barangkali ada beberapa hal untuk sebagai catatan dalam melengkapi daripada keputusan tersebut. Setuju?

Terima kasih Bapak-Ibu sekalian. Tepuk tangan buat pimpinan Komite II.

Selanjutnya mari kita teruskan kepada pimpinan Komite III. Kita mohon waktunya tolong di jaga, karena sebentar lagi akan ada juga acara mengenai kerja sama antara DPD RI dengan Komnas HAM. Silakan.

38. PEMBICARA : Prof. Dr. Dra. Hj. ISTIBSYAROH, SH., MA. (WAKIL KETUA KOMITE III)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam sejahtera untuk kita semua.

Om Swastyastu, tidak ada.

Yang terhormat Bapak-Ibu pimpinan DPD RI. Yang terhormat pimpinan alat kelengkapan DPD RI. Yang terhormat anggota DPD RI.

Yang terhormat Ibu Sesjen, Wasesjen dan jajarannya.

Pada sidang paripurna yang mulia ini perkenankanlah kami menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

(20)

yang meliputi tugas dan wewenangnya. Pada masa sidang III Tahun 2011-2012 Komite III telah melaksanakan serangkaian kegiatan berupa sidang pleno yang telah dilaksanakan sebanyak 6 kali, sidang dengar pendapat umum sebanyak 3 kali, rapat kerja sebanyak 1 kali, kunjungan kerja sebanyak 1 kali, dan finalisasi sebanyak 1 kali.

Sidang dengar pendapat atau sdengar pendapat umum, pertama adalah dengan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia terkait RUU tentang organisasi masyarakat. Yang kedua dengan akademisi, praktisi pariwisata, asosiasi organisasi kepariwisataan tentang RUU Kepariwisataan. Yang ketiga adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan dan Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan tentang RUU Keperawatan.

Rapat kerja Komite III dengan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia adalah tentang RUU Keormasan pada tanggal 25 Januari 2012. Komite III mengharapkan Kementerian Dalam Negeri agar melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendataan, pengawasan serta pembinaan dan evaluasi terhadap organisasi yang berintegrasi dalam mekanisme pendaftaran terhadap organisasi masyarakat dimaksud dengan memperhatikan azas keadilan, tranparansi dan tertib hukum.

2. Melakukan optimalisasi koordinasi dan sinkronisasi kebijakan antar instansi baik horizontal maupun vertikal dan pembinaan termasuk pemberian sangsi terhadap organisasi kemasyarakatan.

3. Mengoptimalisasikan peran daerah dalam melakukan pendataan, pengawasan dan pembinaan termasuk pemberian sanksi terhadap organisasi kemasyarakatan.

4. Memperkuat aturan organisasi asing dalam Rancangan Undang-Undang tentang Organisasi Masyarakat, termasuk mengenai audit terhadap pandangan organisasi masyarakat baik bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kunjungan kerja dilakukan kedua daerah yaitu Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Maluku. Sedangkan materi kunjuungan kerja adalah tentang jaminan produk halal serta RUU Keperawatan. Untuk hasilnya terlampir.

Kemudian inventarisasi materi terkait rencana usul inisiatif RUU tentang keperawatan. RUU Keperawatan disambut baik dan diharapkan sebagai perlindungan hukum bagi para perawat, terutama dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bapak-Ibu pimpinan DPD yang saya hormati serta, Bapak-Ibu anggota DPD dan hadirin sekalian.

Kemudian mengadakan finalisasi dalam masa sidang III tahun sidang 2011-2012 ini Komite III melaksanakan finalisasi penyusunan hasil pandangan dan pendapat atas RUU tentang Organisasi Masyarakat (Ormas). Kesimpulannya antara lain pendirian ormas harus dipandang sebagai pendirian sebuah wadah pemberdayaan masyarakat yang menunjang cita-cita pembangunan nasional. Keberadaan ormas asing diperbolehkan setelah memperoleh ijin operasional dari instansi yang berwenang. Untuk itu melalui sidang paripurna yang mulia ini mohon perkenan kepada seluruh anggota Dewan Perwakilan daerah Republik Indonesia yang terhormat untuk mengesahkan laporan hasil pandangan dan pendapat tentang RUU organisasi masyarakat untuk disahkan menjadi keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan dapat disampaikan ke DPR RI dan Pemerintah.

Saya pikir saya tidak membacakan semuanya. Untuk itu akhirnya perkenankan kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat pimpinan beserta seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan kepada semua pihak yang telah banyak membantu terutama Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan jajarannya. Serta media massa yang telah banyak membantu meliput

(21)

kegiatan-kegiatan Komite III. Semoga segala upaya yang dberikan mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Akhirnya demikian laporan perkembangan pelaksanaan tugas Komite III Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia disampaikan pada hari ini.

Akhirnya Wabilahitaufiq wal hidayah, wa ridho wal inayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua. Tidak sampai 5 menit Pak.

39. PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Sidang hadirin yang mulia.

Kita baru saja mendengarkan laporan dari pimpinan Komite III. Dan kepada kita pada kesempatan ini dimintakan untuk dapatkan persetujuan atas sebuah keputusan DPD Republik Indonesia tentang pandangan dan pendapat terhadap RUU Organisasi Kemasyarakatan. Apakah bisa kita setujui? Setuju.

Terima kasih kepada pimpinan Komite III. Tepuk tangan buat semua kita.

Selanjutnya kami persilakan ke pimpinan Badan Kehormatan untuk menyampaikan laporan dan progress report. Silakan Ibu Aida.

40. PEMBICARA : AIDA ZULAIKA NASUTION ISMETH, SE., MM. (KETUA BK) Bismillahirrohmanirrohim.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Om Swastyastu.

Yang terhormat Bapak pimpinan dan Ibu pimpinan DPD, pimpinan alat kelengkapan, pimpinan Kelompok. Seluruh anggota DPD yang kami banggakan dan kami hormati.

Sekretariat Jenderal DPD dan hadirin yang kami muliakan.

Putri melayu berselendang sutera, indah sungguh dipandang mata. Pagi ini kami menyampaikan laporan atas nama BK semoga dapat selalu menjaga marwah dan kehormatan anggota.

Alhamdulillah Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, kita bisa ada disini dan kami juga atas nama BK menyampaikan selamat ulang tahun kepada pimpinan tanpa kado, tapi doa yang tulus dari hati kami. Semoga panjang umur dan sukses selalu, hari esok Insya Allah lebih baik dari pada hari ini.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami banggakan.

Kami ingin disini menyampaikan bahwa kewenangan BK adalah menindaklanjuti pengaduan terhadap dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh angota DPD RI, serta melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap Tatib sebagaimana amanat Pasal 246 Undang-Undang 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD.

Pada dasarnya kami telah menerima pengaduan, kami harus laporkan Pak Ketua. Pada tanggal 27 Oktober menerima pengaduan dari Komite IV terhadap salah seorang anggota DPD. Berdasarkan laporan tersebut kemudian dalam sidang pleno Badan Kehormatan diputuskan untuk membentuk tim penyelidikan dan verifikasi. Dalam rapat tim tersebut berdasarkan pertimbangan yang tercantum dalam keputusan BK Nomor

(22)

DPD/2008 tentang tata cara teknis penegakan kode etik dengan memperhatikan legal standing maka disepakati bahwa pengaduan tersebut disampaikan kepada pimpinan DPD RI untuk diselesaikan dengan jalan mediasi.

Pada tanggal 12 Januari 2012 Badan Kehormatan mendapatkan surat tembusan dari pimpinan DPD RI yang ditujukan kepada pimpinan Komite IV, Pak Cholid. Betul ya Pak Cholid. Dimana dalam surat tersebut dijelaskan bahwa proses mediasi telah dilakukan oleh pimpinan DPD RI dan dinyatakan selesai. Berdasarkan hal tersebut maka tim menyepakati bahwa proses pengaduan tersebut dihentikan dan selanjutnya dilaporkan oleh tim kepada sidang pleno BK untuk diputuskan dan dihentikan.

Kedua, pada tanggal 3 Desember 2011 Badan Kehormatan menerima pengaduan dari FMPP Batang Provinsi Jawa Tengah terhadap salah satu anggota DPD RI. Dan kemudian diputuskan untuk membentuk tim Penyelidikan dan Verifikasi. Dan kemudian menugaskan kepada sekretariat Badan Kehormatan untuk melakukan verifikasi berkas dan pengecekan terhadap surat pengaduan tersebut. Dan ternyata alamat dan nomor telepon pengadu yang mengatasnamakan sekretariat FMPP tersebut tidak sesuai / tidak benar (palsu). Oleh karena itu temuan tersebut dalam rapat Tim di sepakati pengaduan tersebut tidak dilanjutkan. Untuk selanjutnya kami tim melaporkan pada sidang pleno untuk dapat diputuskan untuk dihentikan.

Penyempurnaan tata tertib. Badan Kehormatan dalam melakukan pembahasan penyempurnaan perancangan tata tertib DPD RI sesuai amanat keputusan sidang paripurna ke-4 tanggal 6 Oktober 2011 yang mengamanatkan penyempurnaan lanjutan terhadap rancangan tata tertib DPD RI dengan mempertimbangkan beberapa substansi didalamnya yang perlu ditelaah secara komprehensif. Baik menyangkut pemaknaan fungsi tugas dan kewenangan alat kelengkapan maupun termasuk mekanisme penulisan sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan hal tersebut Badan Kehormatan periode 2011-2012 secara intensif membahas dan melakukan penyisiran pasal-pasal pada beberapa pertemuan. Dan terakhir dilakukan konsinyering pada tanggal 3 sampai 5 Februari 2011 dengan agenda finalisasi penyempurnaan rancangan tata tertib DPD RI dengan mengundang pimpinan DPD RI, seluruh pimpinan alat kelengkapan dan Kelompok DPD di MPR serta sekretaris jenderal dan wakil seketaris jenderal DPD RI. Patut kami berikan apresiasi kepada Ketua DPD RI, seluruh pimpinan alat kelengkapan, Kelompok DPD RI dan 25 anggota DPD RI serta sekretariat jenderal dan wakil sekjen beserta jajarannya yang telah memberikan sumbangan masukannya sehingga dapat diselesaikannya penyusunan, penyempurnaan tata tertib.

Pada kesempatan ini didalam forum sidang paripurna yang mulia ini, kami dengan ini menyerahkan rancangan tata tertib DPD RI hasil penyempurnaan Badan Kehormatan untuk mendapatkan keputusan menjadi peraturan DPD RI tentang tata tertib.

Dapat dilaporkan bahwa beberapa hasil perubahan yang dirumuskan oleh Badan Kehormatan dalam rancangan tata tertib ini diantaranya :

1. Anggota tetap Panmus yang berhalangan hadir dalam sidang Panmus masing-masing dapat digantikan oleh salah satu dari wakil ketua setiap alat kelengkapan atau Kelompok DPD di MPR dan wakil lainnya dari setiap provinsi.

2. Anggota Pansus diganti jika pindah dari alat kelengkapan pengusul. Dimana pergantian tersebut dilakukan oleh alat kelengkapan pengusul sebelumnya.

3. Pimpinan menyampaikan laporan kinerja pada tiap akhir tahun sidang.

4. Komite dalam rangka pengawasan melakukan tugas-tugas representasi daerah.

5. Untuk kepentingan harmonisasi, pemantapan dan pembulatan konsepsi usul rancangan undang-undang, PPUU mengadakan sidang gabungan dengan komite yang bersangkutan untuk memperoleh penjelasan dan mengundang komite pengusul

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun penelitian mengenai kadar timbal dalam darah pada petugas SPBU telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya, namun penelitian ini berfokus pada dampak

terkontaminasi dengan batran pencemar yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, sisa-sisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah rumatr sakit,

Beberapa parameter tersebut diperhitungkan untuk menetapkan indeks toleransi tanaman terhadap pencemaran udara yang dinyatakan oleh Singh, Rao, Agrawal, Pandey and

PEMBERIAN EKSTRAK HULBAH SECARA ORAL MENURUNKAN PENYERAPAN TULANG TIKUS PASCA OVARIEKTOMI YANG DITANDAI DENGAN.. PENURUNAN KADAR

Pada sub bab ini, akan menjelaskan mengenai analisis data hasil observasi dengan menerapkan model pembelajaran Make a Match berbantuan media gambar yang terdiri dari

Sehingga, perbaikan yang diperlukan adalah usaha Toko Yella Bakery Banjarmasin dalam menjalankan usahanya sebaiknya penentuan harga pokok produksi menggunakan Metode

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-Exclusive

Metode analisis potensi kecelakaan yang digunakan adalah tool FTA dengan pendekatan top down yang dimulai dari top level event yang telah dianalisis berdasarkan