• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh persepsi pada tata ruang supermarket terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh persepsi pada tata ruang supermarket terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang - USD Repository"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERSEPSI PADA TATA RUANG

SUPERMARKET TERHADAP KEPUTUSAN

KONSUMEN DALAM MEMBELI

BARANG

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2007 Oleh : Amelia Murtyoastuti

(2)
(3)
(4)

“Allah mungkin tidak pernah menjanjikan langit yang selalu

biru, bunga yang bertaburan di sepanjang hidup kita.

Allah mungkin tidak pernah menjanjikan matahari tanpa

hujan, sukacita tanpa kesedihan, dan kedamaian tanpa

Namun, Allah selalu memb

kuatan untuk menempuh

hari ini;

Dan kasih yang tak kunjung padam kepada setiap orang yang

Th 1990

penderitaan.

erikan ke

percaya kepada – Nya”.

(5)

Jangan pernah sedih karena kau mencintaiku…

sanggup melupakan aku…

Maka jangan menangis saat aku meninggalkanmu…

Dan ingatlah waktu-waktu terbaik yang pernah kita

lalui

Maka kau akan bangga karena kau mengenalku…

Karena aku hanyalah batu pijak bagimu saat kau ingin

melompat lebih tinggi…

Itulah kira-kira yang aku tangkap dari mata kakakku

Sebelum ia benar-benar pergi…

Jangan pernah sedih karena kau merasa kehilangan

aku…

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang l in, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebaga a karya ilmiah.

a imana layakny

Yogyakarta, Juli 2007

Penulis

(7)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah persepsi pada tata ruang upermarket mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang. Subjek enelitian ini adalah mahasiswa/i tahun kedua Fakultas Psikologi (angkatan 2006). Subjek berjumlah 34 oran dalam 2 kelompok eksperimen.

ubjek pada kelompok eksperimen 1 dengan jumlah 17 orang mendapat perlakuan kateg

tama, ada perbedaan

aan gelap terhadap keput

s p

g yang dibagi S

ori A – B. Sedangkan kelompok 2 sejumlah 17 orang mendapat perlakuan kategori B – A. Kategori A adalah pencahayaan terang, ruang rak luas dan display

barang unik, berwarna. Kategori B adalah pencahayaan gelap, ruang rak sempit dan display barang biasa, monochromatic / tidak colourfull.

Analisis data pada penelitian ini menggunakan paired sample t-test. Hasil analisis data untuk hipotesis mayor menunjukkan bahwa persepsi pada tata ruang supermarket mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang (uji t kelompok 1= 9, 165 dengan p < 0,05; uji t kelompok 2 = 6,678 dengan p<0,05). Analisis data untuk hipotesis minor menunjukkan 3 hasil. Per

antara pencahayaan terang dan pencahayaan gelap terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang (tpencahayaan 1 = 7,194 dengan p < 0,05; tpencahayaan 2 = 5,721

dengan p < 0,05). Kedua, ada perbedaan antara ruang rak luas, display barang unik dan ruang rak sempit, display barang biasa terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang (truang rak &display 1= 4,018 dengan p < 0,05; truang rak &display 2=

3,423 dengan p < 0,05). Ketiga, ada perbedaan antara tata ruang supermarket yang berwarna dan tata ruang supermarket yang tidak berwarna / monochromatic

terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang (twarna 1 = 8,353 dengan p <

0,05; twarna 2 = 5,570; dengan p<0,05).

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah persepsi pada tata ruang supermarket mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang. Ada perbedaan antara pencahayaan terang dan pencahay

usan konsumen dalam membeli barang; ada perbedaan antara ruang rak luas,

display barang unik dan ruang rak sempit, display barang biasa terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang; ada perbedaan antara tata ruang supermarket yang berwarna dan tata ruang supermarket yang tidak berwarna /

monochromatic terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang.

(8)

ABSTRACT

The aim of this research was to know whether perception toward upermarket lay out affect consumer decision to buy goods. The subject of this

search was second year students of psychology faculty (2006). The amount of e subject was 34 people divided into 2 experimental group. Subject at first experimental group had 17 p eatment in A – B category. Subject at second experimental group had 17 people who were given treatment in B – A category. A category is bright lighting, wide racks and unique display, colourfull supermarket. B category is dark lighting, narrow racks and simple displa

The data analysis of this research used paired sample t – test. The result of the consumer decision to buy goods (t – testfirst group = 9,165 with p < 0,05, t – testsecond

results. First, there’s a difference between brighter lighting with dark lighting 5,721 with p < 0,05). Second, there’s a difference between wider racks and more to buy goods(tracks and display 1= 4,018 with p < 0,05; t racks and display 2= 3,423 with p <

re’s a difference between colourfull supermarket’s lay out with monochromatic supermarket’s lay out toward consumer decision to buy goods (tcolour

The conclusion obtained at this research indicated that consumer perception difference between brighter lighting with dark lighting toward consumer decision tween wider racks and more unique display with narrow racks and common display toward consumer decision to buy goods;

supermarket’s lay out toward consumer decision to buy goods s

re th

eople who were given tr

y, monochromatic colour / not colourfull supermarket.

major hypothesis test showed that perception toward supermarket lay out affect

group = 6,678 with p < 0,05). The data analysis for minor hypothesis showed 3

toward consumer decision to buy goods (tlighting 1 = 7,194 with p < 0,05; tlighting 2 =

unique display with narrow racks and common display toward consumer decision 0,05). Third, the

1 = 8,353 with p < 0,05; tcolour 2 = 5,570 with p < 0,05).

toward supermarket lay out affect their decision to buy goods. There’s a to buy goods; there’s a difference be

(9)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Yesus Kristus yang selalu memberikan rencana-Nya

tiada ‘terse

pengerjaan penelitian ini. Ia begitu besar dan begitu indah dengan segala kasih

peneliti seorang diri. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah penulis ng

1.

an di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

mangat dan nasehat yang simple tapi

4.

aya, Bapak memang yang yang terindah tepat pada waktunya. Ia telah memberikan berkat dan semangat henti hingga penelitian ini selesai dengan baik. Ia juga yang selalu nyum’ ketika penulis ‘menangis’ saat menghadapi beberapa hambatan dalam

dan cinta-Nya.

Penelitian ini tidak akan berjalan dengan baik apabila hanya dikerjakan oleh

me ucapkan terima kasih kepada :

Bpk. P. Eddy Suhartanto, S. Psi, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi yang sudah memberikan ijin kepada penulis sehingga penelitian ini dapat dilakuk

2. Mba’ P. Henrietta P.D.A.D.S, S.Psi, M.Si selaku Dosen Pembimbing skripsi yang sudah sangat membantu

God has a plan for everyone..and He brought you in my life to show me the

best women ever…

3. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi, M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan se

maknanya begitu kompleks. Terima kasih ibu…

(10)

terbaik dalam segala hal tentang statistik…This statistic was live in your blood Sir…

Ibu Nimas Eki, S

5. .Psi dan Bpk Dr. A. Supratiknya yang sudah memberikan

asukan untuk penelitian ini

n that I ever

7.

m hidup…

mengerjakan penelitian ini. This is my best gift

11. ng selalu memberikan kasih sayang tiada henti untuk Mia masukan dan saran sehubungan dengan rancangan penelitian eksperimen yang sudah dilakukan.

6. Ibu ML. Anantasari yang memberikan banyak m

dan ‘hadiah terindahnya’ saat saya ulang tahun walaupun Ibu tidak akan menyadari hal tersebut…You’re the most ‘beautiful’ wome

met…

Semua Dosen Fakultas Psikologi yang sudah memberi saya banyak inspirasi dan semangat dala

8. Papa dan Mama yang selalu setia ‘menunggu’ Mia untuk tambah dewasa dan ‘pulang’ ke rumah sebagai orang yang lebih baik.

9. Eyang kakung, Eyang putri, Bpk Ageng, Ibu Ageng yang ada di Surga dengan segala pengestu dan doanya…

10. Mas Boni yang selalu menjadi ‘tempat berkeluh kesah’ ketika Mia mengalami kesusahan dalam

that I can give it only for you…Miss you much…

Mba’uk ya

walaupun tidak pernah diungkapkan. Thanx for your spirit that made me never give up…

(11)

13. Benny … “You are His beautiful GIFT…” ^_^

Simbok, Simon, Jerry, Patso, Jager, Tini, Tono (alm) yang selalu

14. menemani

15. ernah kita lewati

indah…

18. Vera P.Mat’04 yang sudah membantu aku belajar kilat

20. eni dan Sadel yang sudah membantu pelaksanaan penelitian eksperimen ebagai asisten eksperimenter.

21. Mahasiswa/i angkatan 2006 yang sudah bersedia m

ini…Hanya Tuhan yang bisa memberkati niat baik kalian…:’)

22. Mahasis dalam

penelitian ini sebagai subjek dalam anel judgement dan try out.

23. Teman – teman angkatan 2003… terima kasih atas kenangan terindah yang pernah kita lalui bersama dari seme er 1…Semangat ya!!!

dan menghibur Mia untuk tidak bosan mengerjakan tugas ini.

My best friend Marintul jedul2…untuk segala waktu yang p

bersama…full of happiness and sadness…^_^ and u always be the best friend…for me…

16. My special friend Reni, Ndutieh, Lina, Suster Hedwig, dan Indri untuk segala bantuan, saran, masukan, kritikan, persahabatan yang begitu

17. Gangs of the Three Musketeer…Martha Yurika dan Reno Dwi Hapsari…Guyz…akhirnya aku nyusul juga!!!!

Kaka Psi’04 dan

tentang Adobe Photoshop.

19. Tere ’03 yang sudah membantu aku untuk belajar statistik…Makasi banyak Re…^_^

R s

enjadi subjek penelitian

wa/i angkatan 2003 – 2005 yang sudah berpartisipasi

p

(12)

24. Dosen dan teman – teman relawan pasca gempa yang sudah melalui waktu bersama selama 1 tahun… We are the best!!!

5. Mas Muji, Mas Doni, Mba’ Nanik dan Mas Gandung yang sangat membantu jalannya penelitian eksperimen ini hingga selesai dengan lancar.

26. Semua pihak yang tidak dapat saya sebut satu per satu, saya hanya bisa ucapkan banyak terima kasih. Hanya Tuhan yang bisa membalas 2

meng

kebaikan kalian.

Akhir kata, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu peneliti dengan senang hati akan menerima segala kritik dan saran yang berkaitan dengan penelitian ini.

Yogyakarta, Juli 2007

(13)

DAFTAR ISI Halama HALA HALA HA HALA HALA PERNYAT

ABSTRAK ……….. vii

ABSTRACT ……… ix

KA DA DA DAFTAR GRAFIK ……….. xviii

DAFTA BAB I PENDAHULUAN .……….. 1

B. C. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .………. 9

n MAN JUDUL ……….. i

MAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. ii

LAMAN PENGESAHAN ………. iii

MAN MOTTO ………. iv

MAN PERSEMBAHAN ………. v

AAN KEASLIAN KARYA ………. vi

TA PENGANTAR ………. x

FTAR ISI ………... xiii

DAFTAR TABEL ……….. xvi

FTAR GAMBAR ………. xvii

R LAMPIRAN .………..…… xix

A. Latar Belakang Masalah …………..……… 1

Rumusan Masalah ……...……… 7

Tujuan Penelitian ……….……… 7

D. Manfaat Penelitian ……….………. 7

1. Manfaat Teoritik …...….……….. 8

2. Manfaat Praktis …...……….. 8

A. Keputusan Konsumen dalam Membeli Barang ……… 9

1. Pengambilan Keputusan Konsumen .……….. 9

2. Proses terjadinya Pengambilan Keputusan Konsumen dalam Membeli Barang ………...…... 12

3. Model Pengambilan Keputusan Konsumen ………... 15

(14)

B. Persepsi pada Tata Ruang Supermarket ………..………… 18 C. p D. BA A. B. Ide i 1. 2. C. 1. 2. D. Sub E. Me F. G. H. BA 1. Pengertian Persepsi . ………. 18

2. Tata Ruang Supermarket ……….………. 20

3. Rangsangan dalam Tata Ruang Supermarket ……….... 21

4. Persepsi pada Tata Ruang Supermarket ……… 26

Pengaruh Persepsi pada Tata Ruang Supermarket terhadap Ke utusan Konsumen dalam Membeli Barang ………..…………. 28

Hipotesis ………. 30

B III METODOLOGI PENELITIAN ………... 32

Jenis Penelitian ……… 32

ntif kasi Variabel ……… 33

Variabel Tergantung ………. 33

Variabel Bebas ……….. 34

Definisi Operasional ……… 34

Keputusan Konsumen ……… 34

Persepsi pada Tata Ruang Supermarket ……… 35

jek Penelitian ………. 36

tode Pengumpulan Data ………. 38

1. Skala Keputusan Konsumen ………. 38

2. Persepsi pada Tata ruang Supermarket ………... 39

Prosedur Eksperimen ……….. 43

Validitas dan Reliabilitas ……… 46

Metode Analisis Data ………. 48

1. Uji Asumsi ……… 48

2. Uji Homogenitas ………48

3. Uji Hipotesis ………. 48

B IV PEMBAHASAN ……….. 49

A. Orientasi Kancah ………. 49

B. Persiapan Penelitian ………. 50

1. Persiapan Alat Eksperimen ……… 50

(15)

3. Persiapan Ruang Eksperimen ………. 52

4. Persiapan Subjek Penelitian ………... 54

5. Jadwal Penelitian ……… 55

C. Pelaksanaan Penelitian ………. 56

1. Panel Judgement Penelitian ………56

a. Deskripsi Pelaksanaan ……….. 56

b. Validitas ………58

c. Seleksi Item ………..58

E. Pembahasan ……….. 73

AB V KESIMPULAN DAN SARAN ………80

A. Kesimpulan ……….. 80

B. Keterbatasan Penelitian ……… 81

C. Saran ………..81

AFTAR PUSTAKA ……….. 83

UMBER GAMBAR ………... 86

AMPIRAN ………. 89

2. Try Out Penelitian ……….. 60

a. Deskripsi Pelaksanaan ………..60

b. Validitas ………61

c. Reliabilitas ………62

d. Seleksi Item ……….. 64

3. Pelaksanaan Penelitian Eksperimen ………64

D. Hasil Penelitian ……….67

1. Deskripsi Data Penelitian ………67

2. Uji Normalitas ……….68

3. Uji Homogenitas ……….70

4. Uji Hipotesis ………. .70

B

(16)

DAFTAR TABEL

abel 1. Kelebihan dan Kelemahan Eksperimen Laboratorium ………. 33

abel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ……….. 56

Tabel 3. Seleksi Aitem setelah ………. 59

Tabel 4. Reliabilitas Alat Ukur ……… 63

Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis Mayor ………. 70

Tabel 9. Hasil Uji Hipotesis Minor (Pencahayaan) ………. 71

Tabel 10. Hasil Uji Hipotesis Minor (Ruang rak dan Display barang) …..…….. 72

Tabel 11. Hasil Uji Hipotesis Minor (Warna) ………. 73

T T panel judgement ……… Tabel 5. Data Hasil Penelitian ……….. 67

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas kelompok 1 ……….. 69

(17)

DAFTAR GAMBAR

(18)

DAFTAR GRAFIK

(19)

DAFTAR L MPIRAN

Lampiran 1. Data dan Hasil Penelitian Panel Judgement ………. 89 Lampiran 2. Data dan Hasil Penelitian Try Out ……… 95 Lampiran 3. Data dan Hasil Penelitian Eksperimen ………... 106 Lampiran 4. Skala interval tampak setara yang digunakan untuk

Panel Judgement……… 121

Lampiran 5. Skala keputusan konsumen untuk Try Out dan Eksperimen…….. 127 Lampiran 6. Gambar – gambar et ………. 131 ampiran 7. Dokumentasi try out dan penelitian eksperimen …..………. 135

Lampiran 8. Surat keteran ………... 139

A

tata ruang supermark L

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari kegiatan mengkonsumsi sebuah barang. Ada banyak cara untuk melakukan kegiatan konsumsi. Salah satunya adalah dengan berbelanja di sebuah supermarket.

Associate Director Retail Leasing Jones Lang LaSalle, Wendy Haryanto mengatakan bahwa dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta orang, kalangan investor hypermarket melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial (Seputar Indonesia, 2006). Pernyataan tersebut memunculkan sebuah pemikiran bahwa setiap kali memasuki pasar; baik itu pasar tradisional, supermarket, atau hypermarket; konsumen pasti mudah tergiur untuk membeli barang-barang kebutuhannya sehingga pasar atau pusat perbelanjaan ini menjadi tempat yang potensial untuk mengambil keuntungan bagi para investor.

(21)

konsumen dalam memilih barang menjadi sangat beragam karena barang yang ditawarkan juga semakin banyak (Amir, 2005). Ketika berada di sebuah pusat perbelanjaan, konsumen akan dihadapkan pada persoalan yang sama yaitu menentukan pilihan barang yang akan ia beli. Meskipun konsumen sudah menyiapkan daftar belanjaannya dari rumah, namun sesampainya di tempat perbe

sian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua a

lanjaan, konsumen tersebut masih harus menentukan pilihan. Kadang barang-barang yang ada dalam daftar belanjaan sering terlupakan karena konsumen tergiur untuk membeli barang lain. Barang yang pada saat itu dilihat dan diinginkan akan segera dibeli, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Sebaliknya barang yang sesungguhnya dibutuhkan malah tidak dibeli karena kurang dirasakan sebagai hal yang penting atau karena uang sudah habis untuk membeli barang yang kurang perlu.

Salah satu faktor yang penting dalam menentukan pilihan untuk membeli sebuah barang adalah keputusan konsumen. Ketika konsumen sudah mengambil keputusan untuk membeli sebuah barang yang diinginkan, ia akan mengambil langkah selanjutnya yaitu membeli barang tersebut. Tetapi jika ia tidak menginginkan suatu barang, ia akan meletakkan kembali barang tersebut pada tempatnya. Inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegra

(22)

sosial, kelompok acuan, keluarga, emosi, kepribadian, dan motif (Cravens; Hills; Woodruff,1976).

satu di antar

i konsumen dalam pengambilan keput

Faktor kelompok acuan, nilai, status sosial, keluarga dan emosi merupakan beberapa aktivitas pemasaran yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Kelima faktor tersebut sangat berkaitan dengan persepsi konsumen, karena inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah

anya (Peter & Olson, 2000). Persepsi itu sendiri adalah proses mengorganisasikan, menginterpretasikan, dan mengintegrasikan informasi sensoris yang diterima (Santrock, 2005). Ketika seorang konsumen mempersepsikan nilai dan status sosial yang ia miliki, pendapat kelompok acuan dan keluarganya, atau emosi yang sedang terjadi dalam dirinya; konsumen tersebut akan membuat sebuah keputusan. Hal ini memperlihatkan bahwa persepsi sangat berperan bag

usan.

(23)

Persepsi terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan konsumen itu sendiri. Lingkungan dapat mempengaruhi tanggapan afeksi dan kogn

mudah dijangkau dan memiliki fasilitas troli/k

agar dapat menguntungkan bagi pihak penjual. Salah satu

isi serta perilaku konsumen. Lingkungan (environment) adalah semua karakteristik fisik dan sosial dari dunia eksternal konsumen, termasuk di dalamnya objek fisik (produk dan toko), hubungan keruangan (lokasi toko dan produk di toko), dan perilaku sosial orang lain (Peter & Olson, 2000).

Contoh lingkungan dari konsumen adalah sebuah supermarket. Proses konsumen mengambil keputusan untuk membeli barang dapat terjadi di supermarket. Supermarket (toko serba ada) adalah toko eceran yang menjual bahan-bahan makanan seperti sayur-mayur, daging, dan barang-barang segar. Skala supermarket cukup besar,

eranjang belanja untuk konsumen. Versi lebih besar dari supermarket adalah hypermarket (Neo & Mun, 2005).

Setiap supermarket pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Mulai dari harga barang yang lebih murah, letak supermarket yang tidak terlalu jauh, sampai dengan pelayanan yang diberikan. Engel (1994) mengemukakan adanya bauran pemasaran (marketing mix) pada strategi terpadu yang sering disebut 4P yaitu product, price, promotion, dan place. Konsep pemasaran 4P ini menyatakan bahwa suatu organisasi harus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen

(24)

Tempat berbelanja merupakan penampilan fisik dari sebuah supermarket. Penampilan fisik dari sebuah supermarket seringkali mendapat penilaian dari konsumen. Contoh lingkungan fisik dari sebuah supermarket adalah tata ruang supermarket. Tata ruang supermarket merupakan cara bagaimana sebuah supermarket menawarkan produk yang mereka jual. Setiap super

ana seseorang meng

market akan berusaha membuat produknya tampil menarik dengan cara menyusun dan menyajikannya dengan baik, sehingga konsumen dapat memilih barang yang diinginkan dengan leluasa dan bebas tanpa bantuan pelayan toko.

Persepsi konsumen terhadap tata ruang dalam supermarket tidak dapat dilepaskan dari persepsi visual yang dimiliki oleh konsumen yang bersangkutan. Persepsi visual merupakan bagaim

organisasikan dan menginterpretasikan apa yang ditangkap oleh mata sehingga ia menyadari apa yang dilihatnya (Walgito, 2002). Tujuh puluh persen body’s sense receptors terletak pada mata. Oleh karena itu, manusia seringkali mengingat apa yang dilihat karena saat ia melihat dan mempersepsi sebuah objek ia akan memasukkan stimulus tersebut ke dalam ingatannya (Arnould dkk, 2002).

(25)

barang (Peter & Olson, 2000). Display merupakan visual merchandising yang menawarkan barang dagangan dengan konsep terbaik dan bertujuan supaya konsumen membeli barang yang ditawarkan (Pegler, 1987).

Ketika berada dalam sebuah supermarket konsumen akan melihat dan mempersepsi tata ruang supermarket seperti penataan cahaya, warna-warna yang digunakan, display barang yang unik dan luas tidaknya ruangan yang digunakan untuk menawarkan produk yang dijual. Persepsi terhadap ruangan yang luas, pewarnaan yang sesuai, pencahayaan yang memadai, dan display

barang yang unik dapat membuat konsumen mengambil keputusan yang positif terhadap produk yang ditawarkan.

Beberapa pendapat tersebut semakin dikuatkan oleh pemaparan Lee & Johnson (2001) yang m ketika konsumen mulai meni

oleh Bell (1999) memaparkan bahwa komponen lingkungan dalam sebuah toko dapat mem onsumen untuk berbelanja. Kom

an faktor yang penting bagi konsumen untuk membuat sebuah keputusan. Cara menguk

kungan berbelanja seperti eksterior dan interior dari sebuah tempat perbelanjaan. Selain itu, hasil penelitian Bell juga menunjukkan

engatakan bahwa

nggalkan toko-toko ritel seperti supermarket, yang perlu ditingkatkan guna menarik konsumen untuk kembali adalah segala hal yang berkaitan dengan desain/penataan dari pusat perbelanjaan itu sendiri. Penelitian yang dilakukan

pengaruhi keputusan k

ponen lingkungan yang dimaksud dalam penelitian Bell adalah store image. Bell mengindikasikan bahwa store image konsumen yang baik merupak

(26)

bah kon dila

eks o dapat mempengaruhi proses perilaku

gkat dari beberapa penelitian dan fenomena-fenomena

seb untuk melihat bagaimana pengaruh

perseps membe

B permas

pada tata ruang supermarket terhadap keputusan konsumen dalam membeli bar

T pada ta barang

D. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan secara umum pada bidang Ergonomi dan Psikologi Konsumen mengenai wa harga dan waktu bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi sumen untuk memutuskan dimana ia akan berbelanja. Penelitian lain kukan oleh Thang & Tan (2003) yang memaparkan bahwa stimulus ternal yang terdapat pada sebuah tok

konsumennya. Beran

elumnya, peneliti sangat tertarik

i pada tata ruang supermarket terhadap keputusan konsumen dalam li barang.

B. Rumusan Masalah

erdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka alahan yang dapat dirumuskan adalah bagaimana pengaruh persepsi

ang?

C. Tujuan Penelitian

(27)

pengaruh persepsi pada tata ruang supermarket terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang.

b. Manfaat Praktis 1.) Bagi Pengusaha

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

pen tata ruang

katkan keputusan konsumen dalam

kebutuhan pokoknya ketika berbelanja, sehingga Supermarket

gusaha supermarket untuk memperhatikan supermarketnya guna mening

membeli barang. Selain itu, sebaiknya barang yang disajikan dengan tata ruang supermarket yang baik adalah kebutuhan pokok konsumen, supaya konsumen tidak mudah tergiur dengan barang-barang yang tidak menjadi kebutuhan utamanya.

2.) Bagi konsumen

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuat konsumen lebih mengutamakan

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.

idu mengambil keputusan eputusan dan apa saja yang terlibat dal

yang situas memutuska

sehub (Peter &

ebuah keputusan, seorang konsumen akan dihad

dalam

yang

perila nya (Peter & Olson, 2000).

engambilan keputusan tidak boleh sem

A. Keputusan Konsumen dalam Membeli Barang Pengambilan Keputusan Konsumen

Sebuah keputusan merupakan seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih (Schiffman & Kanuk, 1997). Biasanya, indiv

tanpa memikirkan bagaimana mereka mengambil k

am keputusan ini. Jika individu tidak berada dalam sebuah situasi menuntut mereka untuk memilih dan tidak ada alternatif pilihan, maka i ini bukanlah situasi yang mengharuskan individu tersebut untuk

n sesuatu.

Keputusan konsumen merupakan keputusan yang dibuat oleh konsumen ungan dengan perilaku membeli atau tidak membeli barang

Olson, 2000). Ketika akan membuat s

apkan pada proses pengambilan keputusan yang sangat berperan keputusan yang akan dibuat olehnya.

Pengambilan keputusan konsumen merupakan proses pengintegrasian mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih ku alternatif, dan memilih salah satu di antara

Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa p

(29)

dan

pada dari alternatif-alternatif yang ada.

m-macam tergantung dari perma

mata, dari p a.

s), dan faktor kejiwaan lainnya. bangan intuisi atau peras

b.

Pengambilan keputusan yang bersifat rasional banyak berkaitan

Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi ang cukup memang merupakan keputusan yang dapat dikatakan sehat, dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan

pemilihan alternatif terbaik

Dasar dari pengambilan keputusan ada bermaca

salahannya. Keputusan dapat diambil berdasarkan perasaan namun keputusan dapat pula diambil berdasarkan rasio. Adapun dasar

engambilan keputusan (Syamsi, 1989) yaitu : Pengambilan Keputusan berdasarkan Intuisi

Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi ini lebih bersifat subjektif sehingga mudah terkena sugesti, pengaruh luar, rasa lebih suka yang satu daripada yang lain (preference

Pengambilan keputusan berdasarkan pertim

aan, relatif membutuhkan waktu yang pendek. Dengan kata lain, waktu yang dibutuhkan pengambil keputusan relatif singkat.

Pengambilan Keputusan Rasional

dengan pertimbangan dari segi daya guna. Masalah-masalah yang dihadapi juga merupakan masalah-masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Selain itu, keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif.

c. Pengambilan Keputusan berdasarkan Fakta

(30)

solid, dan baik. Namun untuk mendapatkan informasi yang cukup seringkali sulit dilakukan.

d.

gat bermanfaat bagi n praktis. Pengalaman dan kemampuan memperkirakan apa

natif pemecahan masalah.

e. bilan Keputusan berdasarkan Wewenang

adala meng

(Peter & Olson, 2000). Dalam penelitian ini keputusan yang dibuat oleh k u itan dengan perilaku membeli atau tidak membeli barang.

Pengambilan Keputusan berdasarkan Pengalaman Keputusan berdasarkan pengalaman san pengetahua

yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memecahkan masalah. Pengalaman dapat membuat seseorang menduga permasalahannya dan mungkin ia sudah dapat menduga penyelesaian terbaik di antara berbagai macam alter

Pengam

Keputusan yang berdasarkan pada wewenang dapat menimbulkan praktek diktatorial, sehingga kadang pengambilan keputusan ini sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan.

Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan keputusan h proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk

evaluasi dua perilaku alternatif dan memilih salah satu di antaranya

(31)

2. Prose

Bara

Kegiatan utama dari tahap ini adalah kegiatan bauran pemasaran perusahaan yang berusa anfaat produk dan jasa mereka kepada para konsumen dan pengaruh sosiobudaya di luar pemasaran yang jika dihayati akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

b. Proses

Komponen ini berhubungan dengan cara konsumen mengambil keputusan. Untuk me rtimbangkan pengaruh dari berbagai faktor psikologis sep otivasi, persepsi, pembelajaran,

s Terjadinya Pengambilan Keputusan Konsumen dalam Membeli

ng

Schiffman & Kanuk (1997) mengungkapkan adanya model pengambilan keputusan konsumen yang terdiri dari tiga tahap yaitu :

a. Masukan

ha menyampaikan m

mahami tahap ini harus dipe erti m

kepribadian dan sikap. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen dalam membeli barang. Komponen proses dalam tindakan pengambilan keputusan terdiri dari tiga tahap, yaitu : (1) pengenalan kebutuhan, (2) penelitian sebelum pembelian, (3) penilaian berbagai alternatif.

c. Keluaran

(32)

kegiatan itu untuk meningkatkan kepuasan konsumen terhadap produk yang ia beli.

Selain itu, Mowen (1998) memaparkan bahwa proses pengambilan keputusan memiliki lima tahapan, yaitu tahap identifikasi masalah, pencarian informasi, penentuan pilihan, dan evaluasi pasca akuisisi.

Problem recognition

Search

Alternative Evaluation

Choice

Postacquisition Evaluation

Pada tahap identifikasi masalah, konsumen menyadari adanya kebut

an yang dapat diterima adala

l dari diri konsumen seperti rasa lapar dan haus, maup

kondisi yang diinginkan berada di bawah tingkatan yang dapat diterima adalah uhan tertentu. Kebutuhan tersebut muncul bila terdapat perbedaan antara kondisi aktual dengan kondisi yang diinginkan. Faktor-faktor yang menyebabkan kondisi aktual berada di bawah tingkat

h konsumen kehabisan produk yang dibutuhkan, produk yang tersedia sudah tidak dapat digunakan atau sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan, pengaruh negatif yang berasa

(33)

aspirasi dan kondisi lingkungan konsumen seperti budaya, kelompok yang menjadi referensi konsumen dan gaya hidup.

Tahap kedua dalam proses pengambilan keputusan adalah tahap mencari informasi. Tahap ini muncul setelah konsumen mengidentifikasi

kondisi yang diinginkan. Bila doron

nghilangkan perbedaan tersebut. Pencarian informasi ini dapat dilakukan secara be

Penca munc inform denga

dari hasil pengambilan kembali memori jangka panjang ialah kategori merek yang aka

perba

piliha esaikan masalah.

adalah tahap penentuan pilihan, yaitu tahap setelah konsumen

altern

mula

adanya perbedaan antara kondisi aktual dengan

gan untuk memperkecil perbedaan tersebut semakin kuat, maka konsumen mulai mencari informasi produk dan jasa yang dapat me

rlebihan atau terbatas, tergantung dari tingkat keterlibatan konsumen. rian ini dapat bersifat internal maupun eksternal. Pencarian internal ul bila konsumen mencari informasi dengan cara mengambil kembali asi dari memori jangka panjangnya mengenai informasi yang relevan n problem yang sedang dihadapi. Salah satu tipe informasi yang didapat

n dijadikan bahan pertimbangan oleh konsumen.

Tahap evaluasi alternatif ialah tahap dimana konsumen melakukan ndingan di antara pilihan-pilihan yang sudah teridentifikasi sebagai n yang potensial dalam menyel

Tahap berikutnya

menilai alternatif yang ada dan membuat keputusan berdasarkan atif-alternatif tersebut.

(34)

melib

kepua rilaku penyampaian keluhan pelanggan, buangan produk, dan pembentukan loyalitas.

3. Mod

konsu ndangan tersebut adalah :

a. Pand

roduk yang tersedia, mampu membuat tuk setiap alternatif secara tepat dari sudut keunt

b. Pand

pembeli yang menuruti kata hati dan irasional, siap menyerah pada atkan lima topik, yaitu proses mengkonsumsi produk,

san/ketidakpuasan konsumen, pe pem

el Pengambilan Keputusan Konsumen.

Ada empat pandangan mengenai model pengambilan keputusan men (Schiffman & Kanuk, 1997). Keempat pa

angan Ekonomi

Pandangan ini mencirikan konsumen sebagai pengambil keputusan yang rasional. Untuk berperilaku rasional seorang konsumen harus mengetahui semua alternatif p

tangga kebutuhan un

ungan dan kerugiannya, dan mampu mengenali satu alternatif yang terbaik.

Pandangan ini kurang realistis karena manusia dibatasi oleh ketrampilan, kebiasaan, dan refleks mereka yang ada; manusia dibatasi oleh nilai-nilai dan tujuan mereka yang ada; dan manusia dibatasi oleh luasnya pengetahuan mereka.

angan Pasif

(35)

tujuan dan kekuasaan pemasar. Konsumen dianggap sebagai objek yang bisa dimanipulasi oleh penjual.

c. Pandangan Kognitif

a berpikir. Konsumen sering digambarkan sebagai

ks model kognitif, konsumen dipandang sebagai

embeli salah n tersebut.

d.

g tersebut.

ana mereka berbelanja, Model yang ketiga ini memandang konsumen sebagai pemecah masalah dengan car

sosok yang mau menerima maupun sosok yang aktif mencari produk dan jasa yang bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam konte

pengolah informasi. Pengolah informasi dapat menghasilkan beberapa pilihan dan akhirnya muncul keinginan untuk m

satu/beberapa piliha Pandangan Emosional

Pandangan emosional ini mengungkapkan bahwa konsumen sering mengutamakan desakan hatinya untuk membeli sebuah barang. Seringkali konsumen baru menyadari betapa impulsifnya mereka ketika mereka mengingat kembali kejadian sewaktu membeli barang. Barang yang dibeli tidak mereka pertimbangkan lagi karena mereka lebih mengutamakan desakan hatinya untuk membeli baran

Suasana hati konsumen juga penting untuk mengambil keputusan. Suasana hati penting bagi pengambilan keputusan konsumen karena mempengaruhi kapan konsumen berbelanja, dim

(36)

mempengaruhi bagaimana konsumen merespon lingkungan tempat ia berbelanja.

4. Fakt dalam

Evans (1998) ada dua faktor yang mampu

a.

b.

groups), status sosial konomi, dan performansi dalam kehidupan sosial (social performance).

Sedangk lah kepribadian,

en, kesediaan menerima resiko, pentingnya sebuah

or-faktor yang mempengaruhi Pengambilan Keputusan Konsumen Membeli Barang

Menurut Berman &

mempengaruhi proses dari pengambilan keputusan konsumen yaitu : Faktor demografi

Faktor demografi yang berpengaruh adalah banyaknya anggota keluarga (family size), lokasi tempat tinggal dan status pernikahan.

Faktor gaya hidup

Faktor gaya hidup yang berpengaruh dibagi lagi menjadi dua faktor yaitu faktor sosial dan faktor psikologis. Yang termasuk dalam faktor sosial adalah referensi dari kelompok sosial (reference

e

an yang termasuk dalam faktor psikologis ada perilaku konsum

pembelian, dan kesadaran pada tempat perbelanjaan.

Peter & Olson (2000) mengungkapkan adanya dampak lingkungan terhadap keputusan konsumen. Ada empat hal yang dapat menganggu konsumen dalam membuat keputusan, yaitu :

(37)

dikunjungi telah direnovasi dan peletakan barangnya mengalami perubahan.

b. Rangsangan lingkungan yang mencolok (prominent environmental

tujuan yang mungkin terjadi ketika konsumen menyadari bahwa

g Supermarket

1.

gap mudah untuk melakukan perbuatan lih

atau diorg

dime anusia (Malcom & Steve, 1988). Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu proses

stimuli). Misalnya, ada gambar iklan sebuah produk yang sangat besar atau penggunaan pengeras suara yang bisa mengganggu proses pemecahan masalah.

c. Status pengaruh seperti suasana hati (merasa bosan) dan kejadian psikososial (merasa lapar, mengantuk, haus).

d. Konflik yang muncul saat proses pengambilan keputusan. Misalnya, konflik

tujuan pembelian terhadap sebuah produk yang ia lakukan tidak sejalan. Selain faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen di atas, keputusan membeli seringkali dipengaruhi oleh lokasi dan keadaan toko tempat konsumen akan membeli barang (Asri, 1986).

B. Persepsi pada Tata Ruan

Pengertian Persepsi

Kebanyakan orang mengang

(38)

diteri

ikan dan menginterpretasikan informasi sensoris yang diterima (Santrock, 2005). Pendapat lain dipaparkan mengemukakan bahwa persepsi adalah proses diteri

melakukan persepsi. Mata merupakan salah satu alat yang mene

) b.

ra. Proses yang terjadi di dalam otak ini merupakan manya stimulus oleh individu, diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera (Walgito, 2002).

Persepsi merupakan proses mengorganisas

oleh Irwanto (1988), yang

manya rangsang seperti objek, kualitas, hubungan antar gejala maupun peristiwa sampai rangsang itu disadari dan dimengerti. Oleh karena itu, persepsi merupakan sebuah proses mengartikan stimulus yang diterima oleh alat indera.

Walgito (2002) mengatakan bahwa alat indera merupakan alat utama bagi individu untuk

rima stimulus dan stimulus ini dilangsungkan oleh saraf sensoris ke otak sehingga individu dapat menyadari apa yang ia lihat. Proses persepsi secara visual berlangsung sebagai berikut :

a. Stimulus mengenai alat indera (mata

Stimulus kemudian dilangsungkan ke otak oleh saraf sensoris. Proses ini merupakan proses fisiologis.

c. Di otak, sebagai pusat susunan urat saraf, terjadilah proses yang akhirnya individu dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang ia terima melalui alat inde

(39)

Pengertian persepsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi sensoris yang diterima, sehingga individu tersebut menyadari, mengerti, dan dapat mengartikan stimu

2.

dimonopoli oleh ukura

arket memiliki pengertian toko eceran / ritel yang menyediakan segala macam kebutuhan pembeli atau konsumen, terutama bahan kebutuhan elayani semu

05)

erdasarkan pengertian – pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tata ruang supermarket merupakan penataan dari sebuah toko eceran

lus apa yang diterima oleh alat inderanya.

Tata Ruang Supermarket

Ruang adalah tempat untuk menampung kegiatan hidup manusia atau untuk menyimpan benda-benda dan sebagainya (Prasojo, 2003). Menurut Wilkening (1987), penataan ruang yang baik dan benar bukan

n dari ruangan tersebut melainkan kombinasi dari penataan yang serasi dengan ukuran ruangan itu sendiri sehingga terciptalah sebuah ruangan yang indah dan nyaman.

Tata ruang adalah kombinasi dari penataan yang serasi dengan ukuran ruangan tersebut sehingga terciptalah sebuah ruangan yang indah dan nyaman (Wilkening, 1987). Selain itu, benda yang ditata dalam sebuah ruangan harus mempunyai tujuan kegunaan yang jelas.

Superm

pokok antara lain sandang dan pangan. Supermarket dirancang untuk m

a kebutuhan untuk makanan dan produk – produk kebutuhan rumah tangga (Kotler, 20

(40)

yang menjual segala kebutuhan, sehingga ruangan dari toko tersebut menjadi terk

bar

tok ber kon ada ber

(20

dal m toko yang mungkin tidak disadari

oleh konsumen ketika mereka sedang berbelanja. Suasana toko me

dia men kon

3. Ra

kon

esan nyaman dan mampu menarik perhatian konsumen untuk membeli ang yang ditawarkan.

Tata ruang sebuah supermarket dipengaruhi oleh dua variabel yaitu citra o (store image) dan suasana toko (store atmosphere). Peter & Olson (2000) pendapat bahwa citra toko (store image) adalah apa yang dipikirkan oleh sumen tentang sebuah toko. Hal penting yang termasuk di dalamnya lah persepsi dan sikap yang didasarkan pada sensasi dari rangsangan yang kaitan dengan toko yang diterima melalui kelima indera.

Donovan dan Rossiter yang dikemukakan kembali oleh Peter & Olson 00) menyatakan bahwa suasana toko (store atmosphere) melibatkan afeksi am bentuk emosi yang terjadi di dala

sepenuhnya

miliki dampak yang cukup besar pada perilaku karena status emosi yang lami oleh konsumen sangat sulit mereka nyatakan, cenderung tidak

etap, dan mempengaruhi perilaku dalam toko yang tidak disadari oleh sumen.

ngsangan dalam Tata Ruang Supermarket

(41)

a.

i daerah tersebut (Peter & Olson, 2000). Dalam sebuah arket sebaiknya cahaya yang ada tidak terlalu terang sehingga

b.

nsumen. Tingkat kecepatan ambat terjadi ketika diberikan perlakuan Pencahayaan/penerangan

Beberapa penelitian memaparkan bahwa seseorang akan beraktivitas lebih optimal dalam ruangan yang lebih terang, tapi di sisi lain beberapa orang juga merasakan bahwa lampu yang berada tepat di atas kepala sangat tidak nyaman. Cahaya yang terlalu terang dapat menyebabkan seseorang dengan cepat melintas

superm

konsumen dapat melihat-lihat barang yang ditawarkan dan tidak hanya melintasi rak/display barang dengan cepat. Secara keseluruhan penerangan/pencahayaan dapat mempengaruhi bagaimana seseorang beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain, perasaan nyaman, kesehatan fisik dan mental mereka.

Suara

Sejumlah penelitian mendukung ide bahwa musik yang dilantunkan sebagai latar belakang sementara kegiatan lain sedang dilakukan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Supermarket pada umumnya melantunkan musik sebagai pengantar berbelanja. Milliman (Peter & Olson, 2000) meneliti dampak salah satu aspek musik – tempo – pada perilaku pengunjung supermarket. Hasil penelitiannya memaparkan bahwa tempo musik latar mempengaruhi perilaku ko

lalu lalang dalam toko paling l

(42)

membuat tingkat penjualan semakin bertambah, karena konsumen meluangkan waktu lebih lama dan berbelanja lebih banyak pada kondisi tersebut. Namun ketika konsumen ditanyai setelah mereka selesai berbelanja, kebanyakan dari konsumen tersebut tidak menyadari bahwa ada musik yang terus dilantunkan pada saat mereka berbelanja di supermarket.

Suhu

Kondisi panas yang berlebihan akan mengakibatkan rasa letih dan kantuk, mengurangi ketidakstabilan dan meningkatkan jumlah kesalahan kerja. Sebaliknya, kondisi dingin yang berlebihan akan mengakibatkan rasa malas untuk beristirahat, dimana hal ini bisa mengurangi kewaspadaan dan konsentrasi seseorang (Nurmianto, 2003). Jadi ken

c.

yamanan suhu untuk mendapatkan performansi

, dan sebaliknya apabila suhu di luar ruangan rendah,

d. Rua

barang dagangan / produk dengan cara digantung atau ditata serapi membutuhkan perhatian khusus

seseorang yang efektif dan efisien. Beberapa keadaan di atas secara tidak langsung menuntut sebuah supermarket supaya memiliki suhu ruangan yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Pemasangan air conditioner

(AC) dapat mempermudah pengaturan suhu ruangan sesuai kebutuhannya. Misalnya suhu di luar ruangan tinggi, suhu di dalam supermarket dapat lebih direndahkan

suhu di dalam supermarket dapat ditinggikan. Ruang Rak dan Display Barang

(43)

mungkin (Berman & Evans, 1998). Ruang rak yang luas dimana sumen dapat leluasa melewatinya dapat menambah kenyamanan endiri bagi konsumen tersebut untuk melihat-lihat barang yang ingin ia kon

ters

beli (Peter & Olson, 2000). Display merupakan visual merchandising yang

sup 1987).

en cenderung impulsif ketika melihat suatu barang yang

e.

enelitian

1.) tanda petunjuk

. menawarkan barang dagangan dengan konsep terbaik dan bertujuan

aya konsumen membeli barang yang ditawarkan (Pegler, Konsum

ditawarkan melalui display barang yang unik (Amir, 2005). Hal ini menandakan bahwa penyajian barang dagangan dalam supermarket memiliki dampak penting bagi perilaku konsumen. Penjualan secara konsisten dapat meningkat dengan menggunakan display khusus/unik dan menggunakan ruang rak yang luas (Peter & Olson, 2000).

Tanda Petunjuk dan Informasi Harga

Tanda petunjuk di dalam supermarket sangat bermanfaat dalam mengarahkan konsumen pada barang dagangan tertentu dan untuk menyajikan manfaat produk serta informasi harga. McKinnon, Kelly, dan Robinson dalam Peter & Olson (2000) melakukan sebuah penelitian berkaitan dengan tanda petunjuk dan informasi harga. Hasil dari p

tersebut adalah :

Harga lebih mempengaruhi penjualan daripada jenis

(44)

3.) Tanda petunjuk bermanfaat untuk meningkatkan penjualan baik pada tingkat harga yang sebenarnya atau harga diskon, tapi akan memberikan dampak yang lebih besar lagi ketika barang sedang didiskon.

efektif daripada tanda petunjuk

rna juga mampu mempengaruhi konsumen hal atau merasa nyaman di suatu tempat 4.) Penggunaan tanda petunjuk lebih

khusus harga baik untuk harga sebenarnya atau harga diskon. f. Warna

Warna telah lama terbukti memiliki berbagai dampak fisik maupun psikologis pada manusia maupun binatang. Menurut Peter & Olson (2000) warna dapat memiliki kekuatan yang mengarahkan konsumen di samping potensi penciptaan-citra. Selain mengarahkan konsumen, warna juga mampu mempengaruhi store image dari sebuah pusat perbelanjaan (Joel & Evans, 1998). Warna memainkan peranan penting di bidang pemasaran. Warna biasa digunakan dalam periklanan atau desain kemasan sebuah produk. Di samping itu, wa

untuk semakin tertarik pada suatu

(Arnould dkk, 2002). Ada tiga teori warna menurut Helmholtz yang dikemukakan kembali oleh Lefton (2000) & Pegler (1987) yaitu :

1.) Trichromatic theory, menjelaskan bahwa sel batang pada retina lebih merespon tiga warna dasar (merah, biru dan hijau).

(45)

3.) Monochromatic theory, menjelaskan bahwa warna yang diterima oleh sel batang pada retina manusia hanya satu warna saja dari berbagai

4. Per

dap mer dite nya

dita uang supermarket erat kaitannya dengan 966), dalam persepsi visual terdapat beb

per per a.

n tidak terlalu gelap, tidak terlalu terang, dan ang sesuai (Santrock, 2005). Beberapa macam warna.

sepsi pada Tata Ruang Supermarket

Berdasarkan pengertian persepsi dan tata ruang supermarket di atas, at ditarik sebuah kesimpulan bahwa persepsi pada tata ruang supermarket

upakan proses mengartikan penataan dari sebuah toko eceran yang rima oleh alat indera, sehingga ruangan dari toko tersebut menjadi terkesan man dan mampu menarik perhatian konsumen untuk membeli barang yang warkan. Persepsi pada tata r

persepsi visual. Menurut Forgus (1

erapa macam persepsi, antara lain : persepsi terhadap cahaya (light), sepsi terhadap warna (colour), persepsi terhadap bentuk (shape), dan sepsi terhadap jarak (space).

Persepsi terhadap Cahaya (light)

Cahaya adalah sebuah bentuk energi yang merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik. Sebuah gambar yang baik dan dapat difokuskan oleh indera penglihatan dengan baik adalah gambar yang memiliki pencahayaa

memiliki kontras gelap-terang y

(46)

sehingga individu yang menangkap stimulus cahaya dapat mengartikan stimulus yang ia terima.

Persepsi terhadap Warna (colour)

Warna merupakan stimulus dari luar individu yang diterima oleh indera penglihatan untuk diorganisasi dan diinterpretasikan sehingga memiliki arti tersendiri. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, warna memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi konsumen untuk semakin tertarik pada sua

b.

tu hal atau merasa nyaman di suatu tempat. Ketika warna diterima oleh indera penglihatan, individu dapat mengartikan w

etika individu menerima stimulus berupa bentuk (shape) dari sebuah objek, individu tersebut tidak mudah

dari objek yang ada individu untuk

k

a memiliki penglihatan yang spesifik arna tersebut sebagai suatu hal yang menarik dan membuatnya merasa lebih nyaman (Forgus, 1966).

c. Persepsi terhadap Bentuk (shape) Fakta yang terjadi adalah k

melupakan bentuk yang pernah ia lihat (Forgus, 1966). Bentuk (shape) dilihat adalah stimulus yang datang p

emudian dipersepsi sehingga individu dapat mengartikan stimulus yang ia terima. Melalui sebuah bentuk (shape), seseorang dapat mengidentifikasi objek yang ia lihat dan membedakannya dengan objek lain (Vernon, 1982).

d. Persepsi terhadap Ruang (space)

(47)

u

C.

m Membeli Barang

ruang rak, display barang, dan warna.

ntuk ketinggian, lebar, dan kedalaman suatu tempat. Misalnya saja, sebuah ruangan (space) yang luas dan yang sempit. Ruangan yang luas dan sempit ini merupakan stimulus yang ditangkap oleh indera penglihatan manusia. Stimulus ini akan dipersepsi sebagai sebuah tempat yang nyaman atau tidak nyaman. Peter & Olson (2000) mengungkapkan bahwa ruang rak yang luas dimana konsumen dapat leluasa melewatinya dapat menambah kenyamanan tersendiri bagi konsumen untuk melihat-lihat barang yang ingin ia beli.

Dalam penelitian ini akan digunakan tiga macam rangsangan pada supermarket yang dianggap sesuai dengan konsep tata ruang supermarket. Ketiga rangsangan tersebut adalah pencahayaan, ruang rak dan display barang, dan yang terakhir adalah warna.

Pengaruh Persepsi pada Tata Ruang Supermarket terhadap Keputusan Konsumen dala

(48)

Apabila diperhatikan secara seksama, setiap supermarket memiliki tata ruang yang berbeda-beda. Ada yang penerangannya cukup terang, kurang teran

n diinterpretasikan oleh konsumen sehingga konsumen menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera oleh

ndividual,

per Salah satu contoh

perilaku individu adalah perilaku konsumen ketika di supermarket. Ketika g, terang maupun gelap. Ada pula supermarket yang memiliki ruang rak yang sangat sempit sehingga konsumen cukup kesulitan untuk berlalu lintas di tempat tersebut. Selain itu ada beberapa display unik yang terkadang mampu membuat kita terlena dengan keunikannya untuk kemudian membeli produk yang ditawarkan. Berbagai cara dilakukan oleh sebuah supermarket untuk menarik konsumennya dari ‘tampilan luar’ mereka, yaitu tata ruang supermarketnya.

Tata ruang dari sebuah supermarket merupakan stimulus dari luar diri konsumen yang ini sangat berkaitan dengan persepsi konsumen itu sendiri. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera (Walgito, 2002). Tata ruang sebagai stimulus akan diorganisasikan da

nya.

Dalam mempersepsi suatu stimulus (seperti tata ruang sebuah supermarket), hasil persepsi tiap orang mungkin akan berbeda. Hal ini dapat terjadi karena persepsi itu bersifat individual. Selain bersifat i

(49)

persepsi konsumen terhadap tata ruang supermarket berbeda dengan sumen lain, maka perilaku konsumen juga bisa berbeda-beda.

Perilaku konsu kon

men itu sendiri ada bermacam-macam, di antaranya

ia

pen inasikan pengetahuan untuk

engevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih salah satu di antaranya (Peter & Olson, 2000). Jadi, proses pengambilan keputusan adalah proses ketika konsumen dihadapkan pada perilaku membeli atau tidak membeli, sehingga ia diharuskan untuk memilih salah satu di antaranya berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dan melalui proses evaluasi terlebih dahulu. Keputusan yang akan diambil oleh konsumen adalah ia akan membeli barang tersebut atau tidak. Keputusan ini dibuat oleh konsumen berdasarkan persepsi mereka terhadap tata ruang supermarket tempat mereka berbelanja.

D. Hipotesis

Hipotesis mayor dalam penelitian ini adalah persepsi pada tata ruang supermarket mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang. Hipotesis mayor tersebut memiliki beberapa hipotesis minor, yaitu:

1. Ada perbedaan antara pencahayaan terang dan pencahayaan gelap terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang.

adalah keputusan membeli konsumen. Seorang konsumen akan memutuskan akan membeli sebuah barang atau tidak melalui suatu proses. Proses

(50)

2. Ada perbedaan antara ruang display barang unik dan ruang rak

sempit, display an konsumen dalam

membeli barang.

3. Ada perbedaan antara ket yang berwarna dan tata ruang supermarket yang tidak berwarna / monochromatic terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang.

rak luas,

barang biasa terhadap keputus

(51)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitia at eksperimen murni ent), yaitu penelitian eksperim

hub iv

Mo digunakan ly control group

design

subjek (Campbell & Stanley, 1972). D ada

sam rikut :

Posttest – only control group design

R O2

O1 = perlakuan untuk kategori A – B

O2 = perlakuan untuk kategori B – A

Kat erang – ruang rak luas – display barang unik – berwarna.

Kategori B = Pencahayaan gelap – ruang rak sempit – display barang biasa –

monochromatics.

Jenis dari eksperimen yang akan dilakukan adalah eksperimen laboratorium. Eksperimen akan dilakukan di sebuah laboratorium. Menurut

A. Jenis Penelitian

n ini bersif (true experim

en yang paling ideal untuk m ungan sebab – akibat perilaku ind

del true experiment yang

empelajari mekanisme idu yang diamati (Latipun, 2006). adalah posttest on

, yaitu desain eksperimen sederhana tanpa pem

lah within subject karena setiap subje

a satu dengan yang lainnya. Desain penelitiannya da

berian pretest pada esain eksperimen yang digunakan k akan mendapat perlakuan yang pat disajikan sebagai be

R X O1

Keterangan :

(52)

Latipun (2006), ada beberapa kelebihan dan kelemahan eksperimen laborator

Tabel 1

Kelebihan dan Kelemahan Eksperimen Laboratorium EKPERIMEN LABORATORIUM

ium , yaitu :

Kelebihan Kelemahan

M

variabel – variabel yang tidak

el yang tidak teramati

(extraneous variable)

tidak mem

lebih luas khususnya dalam

(khususnya laboratorium) dipandang tidak selalu sejalan

dengan keadaan di lapangan, engamati akibat suatu

perlakuan dengan mengendalikan

dikehendaki secara ketat.

Ketatnya pengendalian variabel – variab

Kesulitan untuk melakukan generalisasi ke populasi yang

kondisi alamiah.

Hasil penelitian eksperimen

dimungkinkan

pengaruhi hasil pengukuran. karena terdapat sejumlah variabel yang dikendalikan.

B. Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini variabel-variabel penelitian yang digunakan, antara lain :

1. Variabel Tergantung

(53)

2. Variabel Bebas

alah persepsi pada tata ruang sup

bentuk operasionalnya dengan tujuan untuk mempermudah usaha pengukuran konsep

mas ber

1.

Variabel bebas dalam penelitian ini ad

ermarket.

C. Definisi Operasional

Suatu konsep teoritik dalam suatu penelitian harus diterjemahkan dalam

tersebut dan proses pengumpulan data. Adapun definisi operasional ing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai ikut :

Keputusan Konsumen

(54)

Persepsi pada Tata Ruang Supermark

2. et

omatic). Indikator – indikator ini disajikan dalam bentuk gambar supermarket. Penetapan gambar stimulus untuk penelitian ini dilakukan secara empiris dengan mlah subjek yang memiliki k

Pengertian persepsi pada tata ruang supermarket merupakan proses mengartikan penataan dari sebuah toko eceran yang diterima oleh alat indera, sehingga ruangan dari toko tersebut menjadi terkesan nyaman dan mampu menarik perhatian konsumen untuk membeli barang yang ditawarkan.

Adapun indikator dari rangsangan dalam tata ruang supermarket yang digunakan adalah : 1.) Pencahayaan/penerangan, seperti terang dan gelap; 2.) Ruang rak dan display barang seperti : ruang rak luas display barang yang unik, dan ruang rak sempit display barang biasa/kurang menarik; 3.) Warna, seperti gambar yang berwarna (full colour) dan tidak full colour (monochr

melibatkan bantuan seju

(55)

Sedangkan untuk indikator ruang rak dan display barang akan dipilih 3 gambar dari 6 gambar yang disajikan.

Hasil dari alat ukur di atas diharapkan dapat menunjukkan adanya pengaruh persepsi pada tata ruang supermarket terhadap keputusan k

d

te dap keputusan konsumen dalam

m u k

su et yang berwarna dan tata ruang supermarket yang tidak b

yaitu oleh

penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata D

kesed

ekspe

i-counter balancing dengan tujuan untuk mengatasi order effects yang mungkin onsumen dalam membeli barang. Selain itu, hasil dari alat ukur iharapkan dapat menunjukkan adanya perbedaan antara pencahayaan

rang dan pencahayaan gelap terha

embeli barang; adanya perbedaan antara ruang rak luas, display barang nik dan ruang rak sempit, display barang biasa terhadap keputusan onsumen dalam membeli barang; adanya perbedaan antara tata ruang

permark

erwarna / monochromatic terhadap keputusan konsumen dalam membeli barang.

D. Subjek Penelitian

Pemilihan subjek akan dilakukan dengan metode purposive sampling, pemilihan subjek penelitian berdasarkan ciri-ciri spesifik yang dimiliki sampel yang akan digunakan (Nasution, 2004). Subjek penelitian dalam

(56)

munc

erikut:

1. Kategori A merupakan kelompok dengan perlakuan pencahayaan baik – ruang rak luas (full colour). Jumlah

15 orang. 2.

. 2.

ul pada saat eksperimen (Myers, 2002). Jumlah subjek penelitian sebanyak 30 orang dan dibagi menjadi 2 kelompok penelitian. Tiap kelompok penelitian akan diberi 2 kategori perlakuan dengan urutan yang berbeda. Pembagian untuk tiap kategorinya adalah sebagai b

, display barang unik – berwarna subjek penelitian sebanyak

Kategori B merupakan kelompok dengan perlakuan pencahayaan kurang/gelap – ruang rak sempit, display barang biasa/kurang menarik – tidak full colour (monochromatic). Jumlah subjek penelitian sebanyak 15 orang.

Pemilihan subjek mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2006 berdasarkan pada ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh sampel, yaitu:

1. Mereka adalah konsumen yang berada pada masa dewasa dini, yaitu periode perkembangan yang dimulai pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Pada usia dewasa dini ini seseorang sudah mulai membentuk kemandirian pribadi dan kemandirian dalam hal ekonomi (Santrock, 2002)

(57)

Karakteristik subjek penelitian di atas akan diungkap dengan data demogr

meliputi : usia, angkatan, fakultas, dan frekuensi subjek penelitian untuk berbelanja di superm

gumpulan Data

1. Skala Keputusan Konsumen

an disusun sendiri oleh peneliti

dengan -item

supermarket dan subjek diminta untuk mbuat penilaian atas gam bar tersebut. Jenis Anchor yang akan

superm

disajikan dengan sebuah pernyataan m kontinum

kategori A dan kategori B dengan m mbeli.

membeli dan tidak m pernyataan m

berikut :

afik pada skala yang diberikan. Data demografik yang dicantumkan

arket (pernah/sering/selalu).

E. Metode Pen

Kuesioner keputusan konsumen ini ak

Anchor jenjang skala (Prakosa, 1997). Skala ini berisi item dimana item tersebut mengukur sesuatu yang memiliki kuantitas kontinum. Skala ini dinamakan skala keputusan konsumen. Stimulus yang digunakan merupakan gambar – gambar tata ruang

me bar – gam

digunakan adalah membeli – tidak membeli. Item persepsi pada tata ruang arket akan disajikan dengan gambar dan keputusan membeli akan

embeli – tidak membeli dalam sebuah 7 jenjang. Subjek memberikan responnya terhadap gambar pada enggunakan skala 7 jenjang keputusan me

(58)

eli membeli

7. Skor terendah yaitu 1 untuk pernyataan yaitu 7 untuk pernyataan m

2. Persepsi pada Tata Ruang Supermarket

dibuat berdasarkan rangsangan dalam konsep tata ruang itu sendiri. Ada superm

a.

n pencahayaan kurang / gelap.

barang yang unik. Dalam penelitian ini akan disajikan gambar Tidak Memb

Skor dari skala pengukuran keputusan konsumen berkisar antara 1 – tidak membeli dan skor tertinggi embeli.

Tata ruang supermarket akan disajikan dalam bentuk gambar yang supermarket yang masih relevan dengan pun indikator dari rangsangan dalam

arket yang digunakan adalah : Pencahayaan/penerangan

Sebuah supermarket sebaiknya memiliki pencahayaan yang tidak terlalu terang sehingga konsumen dapat melihat-lihat barang yang ditawarkan dan tidak hanya melintasi rak/display barang dengan cepat. Dalam penelitian ini akan disajikan gambar supermarket dengan pencahayaan baik dan gambar supermarket denga

b. Ruang Rak dan Display Barang

(59)

supermarket ruang rak luas dengan display unik / menarik dan gambar supermarket ruang rak sempit dengan display biasa / tidak menarik.

ar supermarket yang tidak full colour

na monochromatic yang akan digunakan c. Warna

Warna dapat memiliki kekuatan yang mengarahkan konsumen di samping potensi penciptaan-citra. Dalam penelitian ini gambar supermarket yang akan disajikan adalah gambar supermarket yang berwarna (full colour) dan gamb

(monochromatic). Yang dimaksud dengan full colour disini adalah kondisi dimana ada banyak warna yang digunakan pada tata ruang supermarket. Sedangkan war

dalam penelitian ini adalah warna putih. Penelitian ini akan melakukan eksperimen warna terutama pada dinding supermarket yang merupakan salah satu bagian dari sebuah ruangan. Eksperimen warna tidak dilakukan pada kemasan produk yang ada pada gambar tata ruang supermarket karena yang ingin diteliti adalah tata ruang dari supermarket itu sendiri bukan kemasan dari sebuah produk.

Rangsangan-rangsangan dalam supermarket yang lain tidak disajikan dalam penelitian ini dengan alasan :

a. Tanda petunjuk dan informasi harga

(60)

Stimulus yang diberikan hanya gambar – gambar tata ruang dari supermarket.

b. Suhu tidak dijadikan indikator dalam penelitian ini karena yang ingin diteliti adalah kondisi normal, tanpa perlakuan terhadap suhu. Perlakuan yang diberikan hanya gambar – gambar supermarket yang berbeda sesuai dengan indikator yang digunakan. Selain itu, suhu bukanlah salah

dan alat tulis. Peng

laki-laki atau perempuan, biasa ng

intern ilan gambar dari internet dilakukan sebanyak 20 kali untuk ti k

20 ga

satu contoh dari persepsi visual.

c. Musik juga tidak digunakan dalam penelitian ini karena musik bukan salah satu aspek dalam tata ruang. Selain itu, musik bukanlah salah satu contoh dari persepsi visual.

Dalam penelitian ini, yang harus dikontrol supaya tidak terjadi bias pada persepsi yang diberikan oleh subjek adalah jenis produk dalam gambar tata ruang. Kontrol terhadap jenis produk dalam gambar tata ruang digunakan supaya terjadi generalisasi dari subjek penelitian. Produk yang akan ditampilkan dalam gambar – gambar tata ruang adalah produk makanan, pakaian, minuman, perlengkapan mandi, buah-buahan,

ontrolan terhadap gambar produk yang akan disajikan memiliki alasan supaya subjek penelitian, baik itu

me konsumsi produk – produk tersebut.

Gambar – gambar tata ruang dalam penelitian ini akan diperoleh dari et. Pengamb

(61)

Gamb mem untuk

mere market yang

b

slide

denga meny 10 or

gamb perimenter. Jawaban dari panel

judgement menunjukkan gambar – gambar tata ruang yang memiliki skor tertinggi/terendah untuk an. Dari 10 gambar yang disaji

ar – gambar yang diperoleh dari internet untuk kategori B akan peroleh retouch dari eksperimenter. Hal ini dilakukan dengan tujuan melihat bagaimana keputusan konsumen untuk membeli barang apabila ka dihadapkan pada gambar – gambar tata ruang super

erbeda secara ekstrim. Hasil gambar akan ditunjukan dengan menggunakan proyektor yang langsung disajikan pada subjek penelitian.

Penetapan gambar stimulus untuk penelitian ini dilakukan secara empiris n melibatkan bantuan sejumlah subjek yang memiliki karakteristik erupai subjek penelitian. Subjek penelitian (panel judgement) berjumlah ang. Panel judgement tersebut akan diminta untuk memilih gambar – ar tata ruang yang disajikan oleh eks

tiap indikator yang digunak

kan akan dipilih 5 gambar yang memenuhi kriteria untuk indikator pencahayaan dan warna. Sedangkan untuk indikator ruang rak dan display

barang akan dipilih 3 gambar dari 6 gambar yang disajikan.

Gambar dengan kriteria yang sesuai untuk tiap indikatornya akan diperoleh dengan tahap sebagai berikut :

a. Sebelum disajikan pada panel judgement, gambar dipisahkan menurut ketiga indikatornya yaitu : pencahayaan, ruang rak dan display barang, dan warna.

(62)

terang/gelap. Indikator ruang rak dan display barang meliputi 6 gambar ruang rak luas, display barang unik; dan 6 gambar ruang rak sempit,

lompok dengan urutan kategori B – A. Hal ini adalah upaya untuk

display barangbiasa. Indikator warna meliputi 10 gambar berwarna (full colour) dan 10 gambar tidak full colour (monochromatic).

c. Gambar stimulus yang akan terpilih adalah gambar yang paling banyak dipilih oleh panel judgement, dengan catatan gambar – gambar tersebut merupakan gambar yang memiliki skor tinggi dan skor rendah untuk tiap indikator. Skor tinggi/rendah dari masing-masing panel judgement ini akan digunakan sebagai dasar penetapan gambar yang akan digunakan dalam eksperimen. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi subjektivitas pemilihan gambar oleh eksperimenter.

F. Prosedur Eksperimen

Eksperimen akan dilakukan selama satu hari yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama untuk kelompok dengan urutan kategori A – B. Sedangkan sesi kedua untuk ke

melakukan counter balancing supaya tidak terjadi order effects dari subjek penelitian pada saat eksperimen berlangsung. Waktu pelaksanaan eksperimen sesi pertama pukul 09.00 WIB dan sesi kedua pukul 10.00 WIB.

(63)

ini disesuaikan dengan kesediaan subjek untuk meluangkan waktunya dalam melakukan penelitian eksperimen ini.

Agar suasana yang mempengaruhi penelitian lebih terkontrol maka eksperimen akan dilakukan di dalam sebuah ruangan. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menghindari gangguan yang mempengaruhi konsentrasi subjek penelitian dalam melakukan tugasnya. Ruangan yang akan dipakai untuk

penca

bar / slide yang ditunjukkan oleh proyektor dapat lebih

dised i ruang tunggu supaya subjek

ekspe

mem ng harus diisi oleh

ekspe mem dimu asiste

uji coba eksperimen dan melakukan penelitian eksperimen adalah ruang observasi lantai 3 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Ruang observasi akan digunakan sebagai ruang ekperimen yang diatur dengan kursi menghadap ke arah layar viewer. Ruangan tersebut akan dikontrol

hayaannya dengan cara dibuat gelap (seluruh jendela ditutup dan lampu dimatikan) supaya gam

jelas terlihat oleh subjek penelitian. Sedangkan di depan ruang observasi akan iakan kursi yang digunakan sebaga

penelitian merasa nyaman ketika menunggu dimulainya pelaksanaan rimen.

Tugas eksperimenter pada saat pelaksanaan eksperimen adalah bacakan instruksi dan mempersiapkan kuesioner ya

subjek sesuai dengan kelompok kategorinya. Dala

Gambar

Tabel 1. Kelebihan dan Kelemahan Eksperimen Laboratorium ………………. 33 Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ……………………………………….
Tabel 1  Kelebihan dan Kelemahan Eksperimen Laboratorium
Gambar 1. Lay out ruangan penelitian untuk panel judgement
Gambar 3. Lay out ruangan penelitian untuk eksperimen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan dengan mengukur faktor-faktor lain yang mempengaruhi keputusan konsumen membeli kartu seluler XL diluar dari pengaruh

Ruang lingkup penelitian pengambilan keputusan rumah tangga dalam membeli saus sambal botol di Bandar Lampung meliputi kajian mengenai atribut-atribut yang mempengaruhi konsumen

Judul Skripsi : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEMBELI HANDPHONE PRODUK CHINA.. Menyatakan de ngan sebenarnya bahwa

Ini semua dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai perilaku konsumen atau pembeli dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu, sehingga

Hal ini menunjukkan bahwa jika persepsi konsumen akan minat membeli meningkat maka akan meningkatkan keputusan pembelian, dan sebaliknya jika minat membeli

yang Menyebabkan Keputusan Konsumen Membeli Buah di Pasar

Menurut Ningrum (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli daging ayam antara lain adalah warna daging ayam, aroma

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli produk laptop merek Acer diantaranya adalah faktor produk, harga, merk dan lokasi toko, disusun tujuan