• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Keluarga 1. Pengertian - Ratri Dewi Septiani BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Keluarga 1. Pengertian - Ratri Dewi Septiani BAB II"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Keluarga

1. Pengertian

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Dep.Kes RI, 1988).

Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga dan makan dalam satu periuk (Riadi, 2012).

(2)

2. Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga menurut Friedman (2010) sebagai berikut: a. Fungsi Afektif

Fungsi keluarga yang utama adalah untuk mengajarkan segala sesuatu umtuk mempersiapkan anggota keluarganya dalam berhubungan dengan orang lain.

b. Fungsi Sosialisasi

Fungsi mengembangkan dan sebagai tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.

c. Fungsi Reproduksi

Fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga.

e. Fungsi Pemeliharaan Kesehatan

(3)

3. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan

Menurut Friedman (2010) sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan. Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas-tugas dalam bidang kesehatan yang harus dipahami dan dilakukan, yaitu : a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarganya.

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga.

c. Memberikan perawatan bagi anggotanya yang sakit atau yang tidak mampu membantu dirinya sendiri karena kecacatan atau usianya yang terlalu muda.

d. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.

e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan dengan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

4. Interaksi Keluarga Dalam Rentang Sehat Sakti

(4)

a. Upaya keluarga dalam peningkatan (promosi) kesehatan

Kegiatan peningkatan kesehatan atau lebih dikenal dengan promosi kesehatan bisa dimulai dalam keluarga, seperti halnya seorang ayah yang memberikan contoh dengan tidak merokok, minum-minuman keras tentunya gaya hidup tersebut akan diikuti oleh anak-anaknya, tetapi jika kondisi sebaliknya maka yang akan terjadi adalah meningkatnya angka kesakitan.

b. Penaksiran keluarga terhadap gejala-gejala sakit

Tahapan ini dimulai saat anggota keluarga mengeluhkan gejala-gejala penurunan kesadaran yang dialami, mencari tahu penyebabnya, dan ada tidaknya pengaruh bagi anggota keluarga yang lain. Sosial ekonomi juga sangat berpengaruh pada penaksiran gejala-gejala yang muncul. Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lemah akan merespon lambat mengingat kemampuan ekonominya.

c. Pencarian perawatan

(5)

Tahapan ini dimulai saat kontak pertama anggota keluarga dengan pelayanan kesehatan atau pengobatan alternatif. Penentuan jenis pelayanan yang didatangi dipengaruhi oleh pengetahuan keluarga, pengalaman masa lalu dan sering kali ibu memberikan kontribusi yang banyak terhadap pengambilan keputusan tersebut. e. Respon akut terhadap penyakit oleh klien dan keluarga

Tahapan ini ditandai dengan terjadinya perubahan peran pada anggota keluarga yang sakit, misalnya saja peran ibu yang sedang sakit akan digantikan oleh ayah terutama saat anak-anaknya masih kecil. Contoh lain jika ayah sakit maka dengan langsung ibu mengambil alih peran dan tanggung jawabnya.

f. Adaptasi terhadap penyakit dan penyembuhan

Tahap adaptasi adalah tahapan dimana keluarga memerlukan bantuan dari tenaga kesehatan dalam menentukan koping keluarga terhadap sakitnya (Setiawati & Dermawan, 2008).

5. Keterlibatan Keluarga Dalam Mencegah Klien Kambuh

Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam

(6)

kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah.

Pentingnya peran serta keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk

(7)

6. Manfaat Peran Keluarga

a. Bagi klien:

1. Mempercepat proses penyembuhan melalui dinamika kelompok 2. Memperbaiki hubungan interpersonal klien dengan setiap anggota

keluarga

3. Menurunkan angka kekambuhan b. Bagi keluarga

1. Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga

2. Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga

keluarga lebih dapat menerima, toleran, dan menghargai klien sebagai manusia

3. Keluarga dapat meningkatkan kemampuan dalam membantu klien dalam proses rehabilitasi (Shalehuddin, 2013).

B. Halusinasi

1. Definisi

(8)

Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya). Misalnya, merasa melihat ada orang yang akan memukul, padahal tidak ada seorang pun disekitarnya. Sekalipun tidak nyata, tetapi bagi penderita gangguan jiwa, halusinasi dirasakan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh (Baihaqi, Sunardi, Akhlan, Heryati, 2007). Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak terjadi dalam realitas (Videbeck, 2008).

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupasuara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghidu.Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada (Keliat & Akemat, 2009).

2. Klasifikasi Halusinasi

Tabel 2.1 Klasifikasi Halusinasi

JenisHalusinasi Data Subjektif Data Objektif

Halusinasi dengar (Auditory-hearing voices or sounds)

a. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya b. Mendengar suara atau

bunyi

c. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap

d. Mendengar seseorang yang sudah meninggal e. Mendengar suara yang

mengancam diri klien atau orang lain atau suara lain yang membahayakan.

a. Mengarahkan telinga pada sumber suara b. Bicara atau tertawa

sendiri

c. Marah-marah tanpa sebab

d. Menutup telinga e. Mulut komat-kamit f. Ada gerakan tangan

Halusinasi penglihatan (visual-seeing persons or

a. Melihat seseorang yang sudah meninggal,

(9)

JenisHalusinasi Data Subjektif Data Objektif tertentu, melihat

bayangan, hantu atau

sesuatu yang

menakutkan, cahaya. Monster yang memasuki perawat

tertentu

c. Ketakutan pada objek yang dilihat

Halusinasi penghidu (olfactory-smeeling odors)

a. Mencium sesuatu seperti bau mayat, darah, bayi, feses, atau bau masakan,

farfum yang

menyenangkan

b. Klien sering mengatakan mencium bau sesuatu c. Tipe halusinasi ini sering

menyertai klien demensia, kejang atau penyakit serebrovaskular

a. Ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada tempat tertentu.

Halusinasi perabaan (tactile-feeling bodily sensations)

a. Klien mengatakan ada

sesuatu yang

menggerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil, makhluk halus. b. Merasakan sesuatu

dipermukaan kulit, merasakan sangat panas atau dingin, merasakan tersengat aliran listrik.

a. Mengusap, menggaruk-garuk meraba-raba permukaan kulit. Terlihat menggerak-gerakkan badan seperti merasakan sesuatu tertentu, rasa tertentu atau mengunyah sesuatu.

a. Seperti mengecap sesuatu. Gerakan menguyah, meludah atau muntah

Cenesthetic & Kinestetic hallucinations

a. Klien dapat melaporkan bahwa fungsi tubuhnya tidak dapat terdeteksi misalnya tidak adanya denyutan di otak, atau sensasi pembentukan urine dalam tubuhnya, perasaan tubuhnya melayang di atas bumi.

a. Klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.

(10)

3. Proses Terjadinya Halusinasi

Bentuk gangguan persepsi sensori yang paling sering terjadi pada klien dengan gangguan jiwa adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan. Bentuk halusinasi ini dapat berupa suara-suara dan gambaran-gambaran. Tetapi paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti: bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati.

Halusinasi pendengaran dan penglihatan merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik (Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution, 2012).

4. Faktor Penyebab Halusinasi

a. Faktor Predisposisi 1. Faktor Perkembangan

(11)

2. Faktor Sosiokultural

Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.

3. Faktor Biokimia

Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan acetylcholine dan dopamine.

4. Faktor Psikologis

Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal. 5. Faktor Genetik dan Pola Asuh

(12)

Kebanyakan penelitian genetika berfokus pada keluarga terdekat, seperti orang tua, saudara kandung, dan anak cucu untuk melihat apakah skizofrenia diwariskan atau diturunkan secara genetik. Hanya sedikit penelitian yang memfokuskan pada kerabat yang lebih jauh. Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang menunjukkan bahwa kembar identik berisiko mengalami gangguan ini sebesar 50%, sedangkan kembar praternal berisiko hanya 15%. Penelitian penting lain menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki satu orang tua biologis penderita skizofrenia memiliki risiko 15% dan angka ini meningkat sampai 35% jika kedua orang tua biologis menderita skizofrenia.

Anak-anak yang memiliki orang tua biologis dengan riwayat skizofrenia tetapi diadopsi pada saat lahir oleh keluarga tanpa riwayat skizofrenia masih memiliki risiko genetik dari orang tua biologis mereka. Semua penelitian ini menunjukkan bahwa ada risiko genetik atau kecenderungan skizofrenia, tetapi ini bukan satu-satunya faktor. Kembar identik memiliki risiko 50% walaupun gen mereka identik 100% (Cancro & Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008).

6. Faktor Ekonomi dan Pendidikan

(13)

ekonomi tinggi. Pada analisis multivariabel, status ekonomi rendah berisiko 7,4 kali untuk menderita ganguan jiwa skizofrenia dibanding dengan status ekonomi tinggi dengan OR=7,482 (95%IK;2,852-19,657) dengan p=0,000. Artinya kelompok ekonomi rendah kemungkinan mempunyai risiko 7,48 kali lebih besar mengalami kejadian skizofrenia dibandingkan kelompok ekonomi tinggi.

(14)

sehingga terlalu sesak, tidak adanya kebebasan pribadi, ketidakpastian dalam masalah ekonomi yang akhirnya mungkin menimbulkan risiko kesehatan bagi keluarga.

Sementara dari segi pendidikan menurut penelitian Fakhari et al dalam Erlina, Soewadi, Pramono (2010), dengan hasil yang ditemukan ada hubungan yang bermakna antara tidak punya pendidikan atau tidak tamat SD dengan timbulnya gangguan jiwa (p<0,001).

b. Faktor Presipitasi 1. Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan respons neurobiologik yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi dan adanya abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.

2. Pemicu Gejala

(15)

a. Kesehatan, seperti gizi buruk, kurang tidur, keletihan, infeksi, obat Sistem Saraf Pusat, gangguan proses informasi, kurang olahraga, alam perasaan abnormal dan cemas.

b. Lingkungan, seperti lingkungan penuh kritik, gangguan dalam hubungan interpersonal, masalah perumahan, stress, kemiskinan, tekanan terhadap penampilan, perubahan dalam kehidupan dan pola aktivitas sehari-hari, kesepian (kurang dukungan) dan tekanan pekerjaan (Trimeilia, 2011) 3.Perilaku respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock (1993) memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dalam dilihat dari lima dimensi yaitu:

a) Dimensi Fisik

(16)

b) Dimensi Emosional

Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

c) Dimensi Intelektual

Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.

d) Dimensi Sosial

(17)

interaksi sosial, kontrol diri dan haga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

e) Dimensi Spiritual

(18)

5. Tahapan Halusinasi

Gangguan persepsi yang utama pada pasien skizoprenia adalah halusinasi, sehingga halusinasi menjadi bagian hidup klien. Biasanya dirangsang oleh kecemasan, gangguan harga diri, kritis diri, atau mengingkari rangsangan terhadap kenyataan. Halusinasi pendengaran adalah paling utama pada pasien skizoprenia, suara-suara biasanya berasal dari tuhan, setan, tiruan atau relatif.

Ada empat tahapan halusinasi, karakteristik dan perilaku yang ditampilkan.

Tabel 2.2 Tahapan, Karakteristik dan Perilaku Klien

Tahap Karakteristik Perilaku Klien

Tahap I

- Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan.

- Tersenyum, tertawa sendiri

- Menggerakkan bibir tanpa suara

- Pengalaman sensori menakutkan

- Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut

- Mulai merasa kehilangan kontrol

- - Menarik diri dari orang lain non psikotik

- Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah

- Perhatian dengan lingkungan berkurang - Konsentrasi terhadap

(19)

Tahap Karakteristik Perilaku Klien - Tingkat kecemasan

berat

- Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi

sensori (halusinasi) - Isi halusinasi menjadi

atraktif

- Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik

- Sulit berhubungan dengan orang lain - Perhatian terhadap

lingkungan berkurang hanya beberapa detik

- Tidak mampu

mengikuti perintah dari perawat, tremor dan

- Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam

- Agitasi atau kataton - Tidak mampu berespon

terhadap lingkungan

(Erlinafsiah, 2010).

6. Penatalaksanaan Medis Pada Halusinasi

Penatalaksanaan klien skizoprenia adalah dengan pemberian obat-obatan dan tindakan lain, yaitu :

a. Psikofarmakologis

Gejala halusinasi sebagai salah satu gejala psikotik/skizofrenia biasanya diatasi dengan menggunakan obat-obatan anti psikotik antara lain golongan butirofenon: Haloperidol, Haldol, Serenace, Ludomer.

(20)

mg. Apabila kondisi sudah stabil dosis dapat dikurangi 1 x 100 mg pada malam hari saja (Yosep, 2011).

b. Terapi kejang listrik/electro compulsive therapy (ECT)

Menurut Riyadi & Purwanto (2009), ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan alur listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. Indikasi terapi kejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi, klien skizofrenia super katatonik dan gaduh gelisah katatonik.

(21)

7. Penatalaksanaan Keperawatan Pada Halusinasi

a. Terapi Generalis pada Klien Halusinasi

Menurut Keliat & Akemat (2009), tindakan keperawatan pada klien halusinasi adalah sebagai berikut:

a) Mengkaji isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan respons klien terhadap halusinasi (mengenal halusinasi)

Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku klien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh klien.

Kemudian perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh klien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Kemudian untuk mengetahui dampak halusinasi pada klien dan apa respons klien ketika halusinasi itu muncul perawat dapat menanyakan pada pasien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul. b) Melatih klien mengontrol halusinasi

(22)

1) Menghardik halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Klien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memedulikan halusinasinya. Kalau ini bisa dilakukan, klien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini klien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi: a. Menjelaskan cara menghardik halusinasi.

b. Memperagakan cara menghardik. c. Meminta klien memperagakan ulang.

d. Memantau penerapan cara, menguatkan perilaku klien.

2) Melatih bercakap-cakap dengan orang lain

(23)

Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain. 3) Melatih klien beraktivitas secara terjadwal

Libatkan klien dengan terapi modalitas. Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang sering kali mencetuskan halusinasi. Oleh karena itu halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi sebagai berikut:

a) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi

b) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh klien c) Melatih klien melakukan aktivitas

4) Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan klien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. 5) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan

terhadap perilaku klien yang positif

6) Melatih klien menggunakan obat secara teratur

(24)

gangguan jiwa yang dirawat di rumah sering mengalami putus obat sehingga akibatnya klien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Oleh karena itu klien dilatih minum obat sesuai program dan berkelanjutan.

Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan perawat agar klien patuh menggunakan obat:

a. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa b. Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program c. Jelaskan akibat bila putus obat

d. Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis). e. Memantau efek samping obat

Menurut Yosep (2011), perawat perlu memahami efek samping yang sering ditimbulkan oleh obat-obat psikotik seperti: mengantuk, tremor, mata melihat ke atas, kaku-kaku otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersaliva, pergerakan otot tak terkendali. Untuk mengatasi ini biasanya dokter memberikan obat anti parkinsonisme yaitu Trihexyphenidile 3 x 2 mg. Apabila terjadi gejala-gejala yang dialami oleh klien tidak berkurang maka perlu diteliti apakah obat betul-betul diminum atau tidak.

b. Terapi Generalis pada Keluarga

(25)

1. Mengatakan, “saya percaya kamu mendengar suara itu, tapi saya sendiri tidak mendengarnya”.

2. Tidak membantah halusinasi klien.

Sementara menurut Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution (2012) tindakan perawatan pasien halusinasi yang harus diketahui oleh keluarga yaitu:

a) Mengetahui pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenishalusinasi yang dialami klien beserta proses terjadinya. Halusinasi adalah presepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya). Misalnya, merasa melihat ada orang yang akan memukul, padahal tidak ada seseorang disekitarnya. Sekalipun tidak nyata, tetapi bagi penderita gangguan jiwa, halusinasi dirasakan sebagai sesuatu yang sungguh-sunggung (Baihaqi, Sunardi, Akhlan, Heryati, 2007).

Adapun jenis halusinasi beserta tanda dan gejalanya halusinasi yang harus diketahui oleh keluarga sebagai berikut:

1. Halusinasi dengar (Auditory-hearing voices or sounds)

(26)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu tatapan mata pada tempat tertentu, menunjuk kearah tertentu, ketakutan pada objek yang dilihatnya sendiri.

3. Halusinasi penghidu (olfactory-smeeling odors)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada tempat tertentu.

4. Halusinasi perabaan (tactile-feeling bodily sensations)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat keluarga yaitu mengusap, menggaruk-garuk meraba-raba permukaan kulit. Terlihat menggerak-gerakkan badan seperti merasakan sesuatu rabaan. 5. Halusinasi pengecapan (gustatory-experiencing tastes)

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu seperti mengecap sesuatu. Gerakan mengunyah, meludah atau muntah. 6. cenesthetic & Kinestetic hallucinations

Tanda dan gejala yang dapat dilihat oleh keluarga yaitu klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.

b) Merawat klien halusinasi

Menurut Yosep (2011), ada beberapa tindakan perawatan penderita halusinasi yang harus diketahui:

(27)

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membina hubungan saling percaya dengan klien. Tunjukkan sikap empati dengan: mendengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian; tidak membantah halusinasi klien; segera menolong klien jika klien membutuhkan perawatan.

Menurut Nasir & Muhith (2011), ada beberapa sikap untuk menunjukkan cara mendengarkan penuh perhatian, antara lain sebagai berikut:

1. Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan nonverbalbahwa keluarga perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien.

2. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan nonverbal yang sedang dikomunikasikan.

3. Ketrampilan mendengarkan penuh perhatian adalah dengan memandang klien ketika sedang berbicara.

4. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan.

5. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan.

6. Hindarkan gerakan yang tidak perlu.

(28)

8. Condongkan tubuh kearah lawan bicara, bila perlu duduk atau minimal sejajar dengan klien.

9. Meninggalkan emosi dan perasaan kita dengan cara menyisihkan perhatian, ketakutan atau masalah yang sedang kita hadapi.

10. Mendengarkan dan memperhatikan intonasi kata yang diucapkan yang menggambarkan sesuatu yang berlebihan. 11. Memperhatikan dan mendengarkan apa-apa yang tidak terucap

oleh klien yang menggambarkan sesuatu yang sulit dan menyakitkan klien.

b. Mengkaji isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan respons klienterhadap halusinasi (mengenal halusinasi)

(29)

muncul keluarga dapat menanyakan pada klien hal yang dirasakan atau dilakukan pada saat halusinasi timbul.

c. Melatih klien mengontrol halusinasi

Untuk membantu klien agar mampu mengontrol halusinasi, keluarga dapat mendiskusikan empat cara mengontrol halusinasi kepada klien.

Keempat cara tersebut meliputi: 1. Menghardik halusinasi

Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Klien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan halusinasinya. Apabila ini bisa dilakukan klien dapat mengendalikan halusinasinya. Mungkinhalusinasi tetap muncul, namun dengan kemampuan ini klien klien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.

Tahapan tindakan meliputi:

1) Menjelaskan cara menghardik halusinasi 2) Memperagakan cara menghardik

3) Meminta klien untuk memperagakan ulang

(30)

2. Melatih bercakap-cakap dengan oranglain

Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu mengontrol halusinasi, dan fokus perhatian klien beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang tersebut.

3. Melatih klien beraktivitas secara terjadwal

Libatkan klien dengan terapi modalitas. Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang sering kali mencetuskan halusinasi. Oleh karena itu halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Tahapan intervensi sebagai berikut:

1) Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi

2) Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh klien 3) Melatih klien melakukan aktivitas

(31)

5) Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan terhadap perilaku klien yang positif

4. Melatih klien menggunakan obat secara teratur

Agar klien mampu mengontrol halusinasi maka perlu dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Klien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sering mengalami putus obat sehingga akibatnya klien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Oleh karena itu klien dilatih minum obat sesuai program dan berkelanjutan. Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan keluarga agar klien patuh menggunakan obat:

a. Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa b. Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program c. Jelaskan akibat bila putus obat

d. Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis).

d. Memantau efek samping obat

(32)

dokter memberikan obat anti parkinsonisme yaitu Trihexyphenidile 3 x 2 mg. Apabila terjadi gejala-gejala yang dialami oleh klien tidak berkurang maka perlu diteliti apakah obat betul-betul diminum atau tidak.

c) Mengetahui follow up dan rujukan untuk klien halusinasi

Peran keluarga dibutuhkan dalam mengawasi klien dirumah. Penting bagi keluarga untuk mengetahui tanda dan gejala yang menunjukkan klien kambuh atau tidak. Keluarga diharapkan mengetahui kondisi klien 24 jam agar tingkat kesembuhan klien dapat terkontrol. Keluarga harus rutin secara berkala membawa klien ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lain yang mendukung untuk kontrol ulang dan mendapat pengobatan serta mengetahui perkembangan kesehatan klien. Jika perilaku klien tidak terkendali seperti mengamuk, tidak mau minum obat, maka segera bawa ke rumah sakit jiwa atau fasilitas kesehatan lain yang mendukung agar mendapat penanganan yang terbaik.

c. Terapi Generalis Kelompok

Menurut Yosep (2011), Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satusama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih.

(33)

sejumlah klien pada waktu yang sama untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota.

Jumlah anggota kelompok dan komposisi dalam terapi kelompok harus ditentukan terlebih dahulu. Menurut wartono (1976) kelompok dengan cara verbalisasi biasanya 7-8 anggota merupakan jumlah yang ideal, sedangkan jumlah minimum 4 dan maksimum 10. Menurut Caplan, 1971 dalam Yosep, 2011, besarnya anggota kelompok terdiri dari 7-9 anggota (pria dan wanita) memungkinkan anggota berada dalam rasa tau suku, latar belakang sosial dan pendidikan sehingga mirip dengan kehidupan nyata. Sementara menurut Johnson, 1963 dalam Yosep, 2011, terapi kelompok sebaiknya tidak lebih dari 8 anggota karena interaksi dan reaksi interpersonal yang terbaik terjadi pada kelompok dengan jumah sebanyak itu. Apabila keanggotaan lebih dari 10, maka komunikasi sulit untuk difokuskan, sedangkan jika anggota kurang dari 4, maka akan terlalu banyak tekanan yang dirasakan oleh anggota sehingga anggota merasa lebih terekspos, lebih cemas, dan seringkali bertingkah laku irasional.

Menurut Dalami (2010), terapi aktivitas kelompok untuk klien halusinasi dibagi dua yaitu:

a. Terapi aktivitas kelompok: stimulasi persepsi

(34)

persepsi atau alternatif penyelesaian masalah. Tujuan umum TAK stimulasi persepsi adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya.

Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan yaitu baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan), stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptif atau destruktif misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.

1. Terapi aktivitas kelompok: stimulasi sensosi

Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi sensosi adalah upaya menstimulasi semua panca indera (sensori) agar memberi respons yang adekuat. Tujuan umum TAK stimulasi sensori agar klien dapat berespons terhadap stimulus panca indera yang diberikan yaitu terhadap suara, gambar dan mampu mengekspresikan perasaan melalui gambar.

(35)

C. KerangkaTeori

Sumber : Keliat, 1996; Hawari, 2009;Yosep, 2009; Yosep, 2010

D. Kerangka Konsep

Faktor Yang klien dengan gangguan jiwa halusinasi

Kemampuan

(36)

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas dapat dirumuskan suatu Hipotesis penelitian ini yaitu:

Ha : Terdapat hubungan kemampuan keluarga dalam perawatan terhadap kekambuhan klien gangguan jiwa halusinasi.

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Halusinasi
Tabel 2.2 Tahapan, Karakteristik dan Perilaku Klien
gambar dan

Referensi

Dokumen terkait

- diskusikan dengan klien akibat negatif cara yang dilakukan pada. diri sendiri, orang lain/keluarga

1) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. 2) Gambarkan proses penyakir dengan cara tepat. 3) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisinya dengaan cara

2. Anjurkan klien menceritakan halusinasinya kepada keluarga.. Diskusikan dengan keluarga pada saat berkunjung tentang:. a)

Yaitu minat dalam upaya mengembangkan diri yang muncul dari lingkungan sosial individu dalam meningkatkan pengetahuan, yang mungkin diilhami oleh hasrat untuk

Menurut Yosep (2011) karateristik perilaku yang dapat di tunjukan klien dan kondisi halusinasi berupa seseorang yang merasakan meliputi mendengar suara-suara,

telah di diskusikan dengan perawat. d) Klien dapat melakukan cara yang telah diajarkan perawat untuk mengontrol halusinasinya. e) Klien dapat mengikuti terapi aktifitas kelompok. f)

Libatkan pasien dalam terapi modalitas, untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri dengan membimbing klien membuat jadwal teratur.

Dilakukan antara lain dengan cara mengatur respon emosional terhadap stress melalui perilaku individu, misalnya meniadakan fakta yang tidak menyenangkan, mengendalikan