• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TINJAUAN KASUS"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

1. Pengkajian dilakukan pada tanggal 27 desember 2010, pukul 09.00 WIB di

ruang Gatot Koco Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondhohutomo

Semarang, dengan diagnosa medis Skizofrenia Paranoid. Pasien bernama Tn.

S, dengan nomor Register 056665, umur 37 tahun, jenis kelamin laki-laki,

pendidikan terakhir SD, suku bangsa Jawa Indonesia, agama Islam, status

pernikahan menikah. Pasien tinggal di Pati. Pasien di bawa masuk ke Rumah

Sakit Jiwa oleh keluarganya pada tanggal 19 desember 2010. Selama di rawat

di Rumah Sakit yang bertanggung jawab atas pasien yaitu Ny. N, umur 32

tahun, agama Islam, jenis kelamin perempuan, pekerjaan tani, hubungan

dengan pasien yaitu sebagai istri.

2. Alasan masuk

Pasien Tn. S dibawa oleh keluarganya ke RSJD Dr. Amino Godohutomo

Semarang pada tanggal 19 Desember 2010 dengan alasan ± 2 hari yang lalu

pasien bicara sendiri, makan, minum dan mandi harus disuruh, waktu luang

digunakan untuk tiduran di kamar. Hubungan dengan keluarga dan tetangga

kurang baik.

(2)

3. Faktor Predisposisi

a. Riwayat penyakit

Pasien Tn. S pernah mengalami gangguan jiwa dua tahun yang lalu dengan

kasus yang sama yaitu berbicara sendiri. Pasien jarang kontrol dan tidak

teratur minum obat. Ini kedua kalinya pasien menjalani rawat inap di RSJD

Dr. Amino Gondohutomo. Pasien pernah mengalami pengalaman yang

tidak menyenangkan yaitu ketika anak yang keduanya meninggal dunia 7

tahun yang lalu. Pada tanggal 19 Desember 2010, Tn.S masuk ke RSJD

Dr. Amino Gondohutomo dengan keluhan ± 2 hari yang lalu pasien bicara

sendiri, makan, minum dan mandi disuruh, waktu luang digunakan untuk

tiduran dikamar. Hubungan dengan keluarga dan tetangga kurang baik.

b.

Pasien tidak pernah mengalami aniaya fisik, seksual, kekerasan dalam

keluarga, dan tindakan kriminal.

c.

Keluarga dari Tn. S tidak ada yang sakit seperti ini

d.

Saat dikaji pada tanggal 27 Desember 2010 Tn. S mengatakan mendengar

suara-suara yang tidak jelas, suaranya seperti orang mengobrol.

4. Faktor Presipitasi

Pasien mengatakan dia di bawa ke rumah sakit ini karena dirumah bicara

sendiri, selain itu ada masalah ekonomi dalam keluarganya dimana klien

mengalami gagal panen.

(3)

5. Pemeriksaan Fisik

a. Tanda - tanda vital

TD

: 120/80mmHg

RR

: 24 kali / menit

N

: 80 kali / menit

S

: 3 6 ° C

BB

: 60 kg

TB

: 160 cm

b.

Keadaan Fisik

1)

Kesadaran

: Komposmetis

2)

Kulit

: Sawo matang, turgor baik, tidak ada

luka.

3)

Kepala

: Bersih tidak ada ketombe

4) Mata

: Sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis.

5)

Hidung

: Simetris tidak ada polip

6)

Telinga

: Tidak ada serumen, tidak ada nyeri

tekan.

7) Mulut dan gigi

: Mukosa bibir lembab, tidak terdapat karang

pada gigi

8)

Leher

: Tidak ada pembesaran thyroid

(4)

6. Psikososial

a. Genogram

Keterangan

: Laki – laki

: Perempuan

: Pasien

: Tinggal satu rumah

: Laki-laki meninggal

Penjelasan: pasien anak ke empat dari empat bersaudara. Pasien seorang ayah

dari 3 anaknya, anak yang nomor dua sudah meninggal sejak bayi. Pasien

tinggal dengan istri dan kedua anaknya. Pengambilan keputusan di lakukan

secara musyawarah dengan istrinya, pola komunikasi antar keluarga baik,

dikeluarga pasien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa seperti pasien.

(5)

1. Konsep Diri

a. Gambaran diri

Pasien mengatakan menyukai seluruh tubuhnya, tidak ada kecacatan

pada anggota tubuhnya.

b. Identitas diri

Pasien menerima dirinya sebagai laki-laki yang berumur 37 tahun.

Pasien sudah berkeluarga dan tinggal bersama anak dan istrinya.

c.

Peran diri

Pasien dirumah sebagai seorang ayah untuk anaknya, seorang suami

untuk istrinya. Selama sakit jiwa pasien tidak bekerja.

d. Ideal diri

Pasien mengatakan ingin cepat sembuh, ingin cepat pulang dan dapat

kumpul lagi bersama keluarganya. Pasien berharap sesampai dirumah

nanti dapat beraktivitas seperti semula.

e. Harga diri

Pasien kurang percaya diri dan juga pemalu.

2. Hubungan sosial

a. Orang yang berarti

(6)

Pasien mengatakan sebelum mengalami sakit jiwa, pasien mengikuti

kegiatan gotong royong dan pengajian setiap satu minggu sekali tetapi

setelah sakit pasien jarang mengikuti kegiatan dikampungnya. Saat di

RSJ pasien mengikuti kegiatan yang ada di ruangan seperti TAK,

senam dan jalan-jalan setiap pagi. Pasien jarang berinteraksi dengan

pasien yang lain.

3. Spiritual

Tn. S beragama islam kegiatan ibadah seperti sholat dilakukan sebelum dan

selama masuk RSJ yaitu sholat lima waktu. Pandangan pasien terhadap

penyakitnya adalah sebuah ujian dari Allah SWT Tn.S menyikapinya

dengan sabar dan ikhlas.

7. Status mental

a. Penampilan

Kebersihan dan kerapian pasien baik, rambut rapi, penggunaan pakaian

sesuai dengan fungsinya.

b. Pembicaraan

Saat dikaji pasien bicara lambat, berbicara kurang jelas, kurang

kooperatif, kontak mata kurang. Kadang butuh mengulang pertanyaan dua

kali untuk menjawab pertanyaan.

c. Aktivitas motorik

Pasien banyak berdiam diri, wajah tegang, terlihat bingung, dan

melamun.

(7)

d. Alam perasan

Sedih karena ingat dengan keluarganya.

e. Afek

Afek sesuai contoh: saat diberikan cerita tentang keadaan sedih, klien

merasa ikut sedih dan sebaliknya.

f. Interaksi selama wawancara

Pasien kurang kooperatif ketika diajak berbicara, pasien menjawab

pertanyaan yang diajukan akan tetapi kontak mata kurang.

g. Persepsi

Pasien mengatakan mendengar suara-suara yang tidak jelas, seperti orang

mengobrol, biasanya suara itu muncul saat melamun dengan frekuensi 1-2

kali sehari, suara itu muncul waktunya tidak tentu. Suara itu muncul ± 2

menit, setiap suara itu datang pasien membaca istigfar. Klien merasa

terganggu dengan suara yang didengar, perasaan pasien menjadi jengkel

dan kesal. Dengan mengucapkan kata istigfar, suara itupun menghilang.

h. Proses pikir

Proses pikir pasien pada saat wawancara pasien kadang tidak fokus

dengan perawat, tapi mampu menjawab pertanyaan dengan baik.

i. Isi pikir

Tidak ada gangguan isi pikir.

j. Tingkat kesadaran

(8)

Pasien masih mampu mengingat kejadian baik yang jangka panjang

maupun jangka pendek contohnya klien masih ingat dulu pernah dirawat di

RSJ. Saat ini pasien masih ingat ketika ditanya tadi makan apa? Sayur, lauk

dan buah.

l. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Pasien masih mampu berkonsentrasi dan dapat berhitung dengan baik.

m. Kemampuan penilaian

Pasien dapat mengambil keputusan sederhana seperti selesai klien makan,

pasien mencuci sendok dan gelas.

n. Daya tilik diri

Pasien tahu bila saat ini dirinya sakit ganguan jiwa dan berada di RSJ.

8. Kebutuhan persiapan pulang

a. Makan

Pasien dapat makan secara mandiri, pasien makan 3x sehari. Makan

dengan nasi, sayur, lauk dan buah. Klien mengatakan suka dengan

makanan yang disajikan oleh RS. Pasien selalu menghabiskan makanan

sesuai porsi yang disediakan rumah sakit.

b.

BAK/BAB

Pasien mampu BAB dan BAK sendiri, klien biasanya BAB 1 kali sehari,

BAK 4-5 kali sehari.

c.

Mandi

(9)

d.

Berpakaian

Pasien mampu memakai pakaian secara mandiri sesuai dengan aturan dari

rumah sakit.

e.

Istirahat dan tidur

Pasien tidur siang kurang lebih 2 jam, klien biasanya tidur malam 8 jam,

klien bisa tidur dengan nyenyak.

f.

Penggunaan obat

Pasien mampu minum obat tanpa bantuan dari orang lain dan pasien

minum obat tepat waktu.

9. Mekanisme koping

Pasien mengatakan apabila pasien mempunyai masalah pasien banyak diam,

tapi terkadang bercerita dengan istrinya.

10. Aspek medis

a. Diagnosa medis

Skizofrenia paranoid

b. Terapi medik

1). Program terapi yang di berikan:

Thriehexyphenydil : 2 x 2 mg

Chlorpromazine

: 2 x 100 mg

(10)

2). Pemeriksaan hasil laboratorium

Tanggal 20 desember 2010

Pemeriksaan Hasil Normal Satuan

Glukosa

61

76-110

Mg/dL

Ureum

22

10-50

Mg/dL

Creatinin

1,04

0.50-1,40

Mg/dL

Urid acid

4,9

2,5-7,0

Mg/dL

SGPT

11,8

0,0-46,0

U/L

SGOT

13,2

0,0-33,0

U/L

Total protein

6,7

6,4-8,3

g/dL

Albumin

4,2

3,4-4,8

g/dL

Globulin

2,6

3,0-3,5

Mg/dL

(11)

B. Analisa Data

Tanggal no Data Masalah keperawatan

27

Desember 2010

1

Ds : Pasien mengatakan mendengar suara-suara yang tidak jelas seperti orang mengobrol, biasanya suara itu muncul saat melamun dengan frekuensi 1-2 kali sehari, suara itu muncul waktunya tidak tentu. Suara itu muncul ± 2 menit, setiap suara itu datang pasien membaca istigfar. Dengan mengucapkan kata istigfar suara itupun menghilang. Do : - Pasien berdiam diri.

-Kontak mata kurang.

-

Pasien terlihat bingung.

Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran 27 Desember 2010

2

Ds :Pasien mengatakan enggan berbicara dengan orang lain. Do : - Pasien terlihat berdiam diri.

- Pasien terlihat melamun.

-

Pasien jarang berinteraksi

dengan orang lain.

Isolasi sosial : menarik diri

27 Desember 2010

Ds : Pasien mengatakan merasa terganggu dengan suara yang didengar, perasaan pasien menjadi jengkel dan kesal. Do : - Wajah tegang.

- Pasien terlihat bingung.

Resiko

perilaku

kekerasan

(12)

C. Masalah Keperawatan

1. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.

2. Isolasi sosial: menarik diri.

3. Resiko perilaku kekerasan.

D. Pohon Masalah

Resiko perilaku kekerasan

Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

core problem

Isolasi sosial : menarik diri

E. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran.

2. Isolasi sosial: menarik diri.

(13)

F. Intervensi

Nama Klien : Tn. S No.CM : 056665

Dx Medis : Skizofenia Paranoid Ruang : Gatot Koco

PERENCANAAN N o Tgl. DX DX.

KEPERAWATAN TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI

1 27/1 2/20 10 Perubahan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran

Pasien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya.

1. Pasien dapat membina hubungan saling percaya

1.1. Setelah beberapa kali interaksi pasien menunjukkan tanda-tanda percaya pada perawat. Ekspresi wajah bersahabat, menujukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat

1.1.1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik:

a. Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. Tanyakan nama lengkap dan

nama panggilan yang disukai pasien

(14)

menepati janji setiap kali berinteraksi

e. Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya klien f. Beri perhatian kepada pada

pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien

g. Tanyakan perasaan pasien dan masalah yang dihadapi pasien 2. Pasien dapat

mengenal halusinasinya

2.1. Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan: Jenis halusinasi, isi, waktu, frekuensi, respon dari klien terhadap halusinasi.

2.1.1. Adakan kontrak sering dan singkat secara bertahap

a. Observasi tinglah laku pasien terkait dengan halusinasinya b. Tanyakan apakah pasien

mengalami sesuatu/halusinasi c. Jika pasien menjawab iya, tanyakan pa yang sedang dialaminya

(15)

2.2. Pasien dapat mengungkapkan bagaimana perasaannya terhadap halusinasi tersebut.

percaya pasien mengalami hal tersebut, namun perawat sendiri tidak mengalami apa yang dirasakan klien

e. Katakan bahwa ada pasien yang lain yang mengalami hal yang sama

f. Katakan bahwa perawat akan membantu pasien

2.2.1. Diskusikan dengan pasien tentang apa yang dirasakannya jika terjadi halusinasi: marah, takut, sedih, senang.

3. Pasien dapat mengontrol

halusinasinya

3.1. Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya

a. Pasien dapat menyebutkan cara baru mengontrol

3.1.1 Identifikasi bersama klien cara yang dilakukan jika terjadi halusinasi

3.1.2 Diskusikan cara cara yang digunakan pasien,

a. Jika cara yang digunakan adaptif beri pujian

(16)

halusinasinya.

b. Pasien dapat memilih cara untuk mengendalikan halusinasinya

c. Pasien melaksankan cara yang dipilih untuk mengendalikan

halusinasinaya

d. pasien mengikutsertakan terapi aktivitas kelompok

b. Jika cara yang digunakan maladaptive diskusikan kerugian cara tersebut 3.1.3 Diskusikan cara baru untuk

memutuskan/mengontrol timbulnya halusinasi

a. Katakan pada diri sendiri bahwa itu tidak nyata (“Saya tidak mau dengar pada saat halusinasi terjadi)

b. Menemui orang lain atau perawat/teman/anggota keluarga untuk menceritakan tentang halusinasinaya c. Membuat dan melaksanakan

jadwal yang telah disusun d. Meminta

keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika terjadi halusinasi

(17)

3.1.4 Bantu pasien memilih cara yang sudah dinjurkan dan latih untuk mencobanya

3.1.5 Beri kesempatan klien untuk melakukan cara yang sudah dipilih dan dilatih jika berhasil diberi pujian. Anjurkan pasien mengikuti terapi aktivitas kelompok 4. Pasien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya

4.1. Setelah beberapa kali pertemuan keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat, keluarga mempu menyebutkan pengertian, tanda dan gejala,proses terjadinya halusinasi

4.1.1. Buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan (waktu, tempat dan topik)

4.1.2. Diskusikan dengan keluarga (pada saat pertemuan keluarga/kunjungan rumah) a. Pengertian halusinasi b. Tanda dan gejala halusinasi c. Obat-obatan untuk

halusinasi

(18)

pasien dan keluarga untuk memutuskan halusinasi e. Cara merawat anggota

keluaraga yang halusinasi dirumah (Beri kegiatan berpergian bersama serta pantau obat-obatan dan cara pemberianya untuk mengatasi halusinasi) 5. Pasien dapat

memanfaatkan obat dengan baik

5.1.Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan: Pasien dapat mendemonstrasikan pengguanaan obat dengan benar, pasien dapat menyebutkan akibat berhenti minum obat

5.1.1. Diskusikan dengan pasien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat ( Nama, warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek samping),

5.1.2. Pantau pasien pada saat minum obat

5.1.3. Beri pujian jika pasien menggunakan obat dengan benar

(19)

minum obat tanpa konsultasi dengan dokter

5.1.5. Anjurkan pasien untuk konsultasi kepada dokter atau pearawat jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan

2 Isolasi sosial :

menarik diri

Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain

1.

Pasien dapat membina hubungan saling percaya.

1.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menunjukkan tanda-tanda percaya pada perawat. wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan, ada kontak mata, bersedia menceritakan perasaannya, bersedia mengungkapkan perasaan.

1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan :

a. Beri salam setiap berinteraksi b. Perkenalkan nama, nama

panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan. c. Tanyakan nama dan

panggilan nama kesukaan pasien.

d. Tunjukkansikapjujurdan menepati janji setiap kali berinteraksi.

(20)

dan masalah yang dihadapi pasien.

f. Buat kontak interaksi yang jelas.

g. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan pasien.

2.

Pasien mampu menyebutkan

penyebab menarik diri

2.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri

a. Diri Sendiri b. Orang lain c. Lingkungan

2.1.1.

Tanyakan pada pasien tentang: a. Orang yang tinggal

serumah atau sekamar dengan pasien.

b. Orang yang paling dekat dengan pasien dirumah atau di ruang perawatan.

c. Apa yang membuat pasien dekat dengan orang tersebut.

(21)

dekat dengan pasien dirumah atau diruang perawatan

e. Apa yang membuat orang tidak dekat dengan orang tersebut f. Upaya yang sudah

dilakukan agar dekat dengan orang lain

2.2.2. Diskusikan dengan pasien tentang penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain

2.2.3. Beri pujian terhadap klien mengungkapkan perasaannya

3.

Pasien mampu

menyebutkan keuntungan

bersosialisasi dan

3.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan keuntungan bersosialisasi, misalnya:

3.1.1.

Tanyakan pada pasien tentang: a. Manfaat hubungan soslal b. Kerugian menarik diri

(22)

kerugian menarik diri

a.

Banyak teman

b.

Tidak kesepian

c.

Bisa diskusi

d.

Saling menolong

Dan kerugian menarik diri misalnya:

a. Sendiri

b. Kesepian tidak bisa diskusi

tentang manfaat bersosialisasi dan kerugian menarik diri

3.1.3.

Beri pujian terhadap

kemampuan pasien

mengungkapkan perasaannya.

4.

Pasien dapat bersosialisasi secara bertahap

4.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat bersosialisasi secara bertahap dengan:

a.

Perawat

b.

Perawat lain

c.

Pasien lain

d.

Kelompok

4.1.1. Observasi perilaku pasien saat bersosialisasi

4.1.2 Beri motivasi dan bantu pasien untuk berkenalan dengan: a. Perawat lain

b. Pasien lain c. kelompok

4.1.3. Libatkan pasien dalam terapi aktiviitas kelompok sosialisasi 4.1.4. Diskusikan jadwal harian yang

(23)

meningkatkan kemampuan pasien bersosialisasi

4.1.5. Beri motivasi pasien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah di buat.

4.1.6. Beri pujian terhadap kemampuan

pasien memperluas

pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan

5.

Pasien mampu menjelaskan

perasaannya setelah bersosialisasi.

5.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menjelaskan perasaannya setelah bersosialisasi atau berkenalan dengan:

a.

Orang lain

b.

Kelompok

5.1.1. Diskusikan dengan pasien tentang perasaanya setelah bersosialisasi atau berkenalan dengan:

a. Orang lain b. Kelompok

5.1.2. Beri pijian terhadap kemampuan pasien mengungkapkan perasaannya

(24)

6.

Pasien dapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial

6.1.

Setelah beberapa kali pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang :

a.

Pengertian Menarik diri

b.

Tanda dan gejela menarik

diri

c.

Penyebab dan akibat menarik diri

d.

Cara merawat pasien menarik diri

6.2.

Setelah 6x pertemuan keluarga dapat mempraktekkam cara merawat pasien menarik diri.

6.1.1. Diskusikan tentang pentingnya peran keluiarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri.

6.1.2. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu pasien mengatasi perilaku menarik diri.

6.1.3. Jelaskan pada keluarga tentang:

a.

Pengertian menarik diri

b.

Tanda dan gejala menairik

diri.

c.

penyebab dan akibat menarik diri.

d.

cara merawat pasien menarik diri.

6.1.4. Latih keluarga cara merawat pasien menarik diri.

6.1.5. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang di latihkan

(25)

6.1.6. Beri motivasi keluarga agar membantu pasien untuk bersosialisasi

6.1.7. Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat pasien di rumah sakit

7.

Pasien dapat memanfaatkan obat dengan baik

7.1.

Setelah beberapa kali interaksi pasien dapat menyebutkan :

a. Manfaat minum obat b. Kerugian tidak minum

obat.

c. Nama, wama, dosis, efek terapi dan efek samping obat

7.2.

Setelah 7x interaksi pasien mendemonstrasikan

penggunaan obat dengan benar, dam dapat menyebutkan

7.1.1. Diskusikan dengan pasien tentang manfaat minum obat dan kerugian tidak minum obat tanpa konsultasi dokter dan mengetahui warna, nama, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.

7.1.2. Pantau pasien saat penggunaan obat

(26)

G. Implementasi Keperawatan

Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan

Nama Pasien : Tn. S Usia : 37 tahun

Ruang : Gatot Koco NO. CM : 056665

akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokt

(27)

No Hari/Tgl Dx Keperawatan Implementasi Respon Pasien Paraf 27/12/ 2010 09:15 Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran SplP

1. Membina hubungan saling percaya dengan cara:

a. Menyapa pasien b. memperkenalkan diri c. menanyakan nama dan

nama panggilan klien 2. Menanyakan alasan pasien

dibawa kerumah sakit

3. Mengidentifikasi isi, jenis, waktu terjadinya halusinasi. 4. Mengidentifikasi frekuensi dan

situasi yang menimbulkan halusinasi

5. Mengidentifikasi respon terhadap halusinasi

6. Melatih klien cara mengontrol halusinasi dengan menghardik

S: Pasien mengatakan nama saya Tn. S suka dipanggil Tn. S (sambil berjabat tangan). dirumah. Tn. S mengatakan alasannya dibawa kerumah sakit karena dirumah suka bicara sendiri, mendengar suara-suara orang yang tidak jelas seperti orang mengobrol, biasanya suara itu muncul saat melamun dengan frekuensi 1-2 kali sehari, suara itu muncul waktunya tidak tentu. Suara itu muncul ± 2 menit, setiap suara itu datang pasien membaca istigfar. Pasien merasa terganggu dengan suara yang didengar, perasaan pasien menjadi jengkel dan kesal. Dengan mengucapkan kata istigfar, suara itupun menghilang.

O: Kontak mata kurang, pasien terlihat bingung. A : Klien sudah bisa mempraktekkan cara yang

pertama yaitu dengan menghardik ketika suara-suara itu datang.

(28)

- Perawat : ulangi Sp1p yang belum teratasi, yaitu membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

- Klien : meminta klien untuk mengingat dan mempraktekan cara kontrol halusinasi dengan menghardik. 28/12/ 2010 08:30 Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran 1. Memvalida

si masalah dan latihan sebelum nya

2. Melatih

kembali cara mengontrol halusinasi dengan menghardik

3. Membimbi

ng pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

S : Tn. S mengatakan masih mengingat cara kontrol halusinasi dengan menghardik dan sudah mempraktekkannya serta sudah dapat memasukkan kedalam jadwal harian.

O : Pasien kooperatif, dapat mempertahankan kontak mata.

A : Klien sudah bisa mempraktekkan cara yang pertama yaitu dengan menghardik ketika suara-suara itu datang dan sudah bisa memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

(29)

29/12/ 2010 09:00 Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran SP2p

1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2. Melatih pasien cara mengontrol halusinasi dengan berbincang-bincang dengan orang lain.

P :

Perawat : Melanjutkan sp2p

Klien : Meminta pasien untuk mengingat cara menghardik halusinasi dan memasukkan dalam kegiatan hariannya.

S : Tn. S mengatakan “saya senang karena mbak sudah mau memberitahu cara menghilangkan suara-suara yang saya dengar. Pasien mengatakan sudah dapat mengontrol halusinasi dengan berbincang-bincang.

(30)

berbincang-3. Memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian

bincang dengan orang lain.

A : Pasien mampu mengingat cara mengontrol halusinasi: menghardik dan mampu berlatih dengan cara yang kedua yaitu berbincang-bincang dengan orang lain

P :

Perawat : Melanjutkan sp3p

Klien : Meminta pasien untuk mengingat cara yang telah diajarkan dan memasukkan dalam kegiatan hariannya. 30/12/ 2010 08:30 Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran SP3P :

1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang bisa dilakukan pasien).

S :Pasien mengatakan “ saya mau melakukan aktivitas supaya saya tidak sering melamun dan memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian”. O : pasien mampu melakukan aktifitas, ada kontak

mata, kooperatif

A : Pasien mampu melakukan cara control halusinasi dengan melakukan kegiatan

(31)

3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

P :

Klien: motivasi klien untuk melakukan kegiatan yang disukai

Perawat: Melanjutkan Sp4p yaitu mengontrol halusinasi dengan teratur minum obat

31/120/20 10 9:00 Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran SP 4P

1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2. Melatih pasien cara control halusinasi dengan minum obat 3. Menganjurkan pasien

memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

S : Pasien mengatakan masih ingat cara mengontrol halusinasi dengan menghardik, berbincang-bincang dengan orang lain, melakukan kegiatan. Pasien mengatakan tadi pagi juga sudah minum obat sesuai dengan resep dokter. O : - Pasien mau minum obat

- Pasien melakukan kegiatan seperti TAK dan senam

A : Pasien mampu minum obat secara teratur dengan meminta kepada perawat jika sudah waktunya minum obat

P :

Perawat :

(32)

1/1/2011 09:00 Isolasi sosial : menarik diri SP Ip : 1. mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien

2. mengidentifikasi keuntungan berinteraksi dengan orang lain 3. mengidentifikasi kerugian tidak

berinteraksi dengan orang lain 4. melatih pasien untuk

menganjurkan pasien untuk mengontrol halusinasinya

Klien :

Lakukan minum obat secara teratur tanpa harus di panggil perawat

S : Pasien mengatakan lebih suka diam, jarang berinteraksi dengan orang lain. Tn. S mengatakan mengetahui keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. Tn. S mengatakan sekarang sudah mengerti cara berkenalan dengan orang lain dan sudah

(33)

berkenalan dengan satu orang 5. Menganjurkan pasien

memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

mempraktekkan keteman sekamar

O : Pasien Tn. S dapat memahami panyebab isolasi sosial

A : Tn. S sudah dapat menyebutkan penyebab ia menarik diri. Tn. S dapat memahami keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. Tn. S sudah bisa mempraktikkan cara berinteraksi atau berkenalan dengan orang lain. P : lanjutkan Sp2p

Perawat:

Melanjutkan SP2p cara berkenalan dua orang atau lebih (pasien-perawat-perawat lain)

Klien: Menyarankan pada klien untuk mencatat keuntungan dari berkenalan dengan orang lain dan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.

(34)

Referensi

Dokumen terkait

halusinasi. 2) Diskusikan manfaat yang dilakukan klien dan beri pujian pada klien. 3) Diskusikan cara lain untuk memutus mengontrol halusinasi. 4) Bantu klien melatih cara

4) Bersama klien merencanakan kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi. 5) Diskusikan cara mencegah timbulnya halusinasi dan mengontrol halusinasi. 6) Dorong klien untuk

Pasien mengatakan mulai mengalami sesak napas secara tiba-tiba pada saat beraktivitas berat seperti menaiki tangga. Dua hari terakhir, pasien mengeluh sesak

porsi sedikit tidak habis 1 porsi habis 2-3 sendok makan minum 2 gelas belimbing pasien merasakan mual sehingga nafsu makan pasien menurun4.

Ibu pasien mengatakan sebelum sakit pasien makan dengan porsi biasa 3x sehari, dengan lauk-pauk, sayur, nasi, buah dan sering ngemil serta ditambah minum air putih 7-8

Keluarga An. J mengatakan sebelumnya pernah sakit panas namun tidak sampai dirawat di RS. Ibu pasien mengatakan jika An. J sakit ia selalu langsung memeriksakannya ke rumah

a) SP 1 pasien : Membantu pasien mengenali halusinassi, menjelaskan cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara yang pertama yaitu

133 mengontrol halusinasinya dengan melatih cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, dan mengalihkan halusinasinya dengan beraktivitas secara terjadwal, tujuan