PENGEMBANGAN LEAFLET BERBASIS TEORI BRUNER PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DI KELAS VIII SMP NEGERI 2 PARIANGAN SKRIPSI

140 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Ditulis Sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S-1)

Jurusan Tadris Matematika

Oleh:

Lina Utari

NIM 15300500031

JURUSAN TADRIS MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

BATUSANGKAR

2020

(2)
(3)
(4)
(5)

Karya Ini Kupersembahkan Untuk

Sujud syukurku kusembahkan kepadaMu ya Allah, tuhan yang maha agung dan maha tinggi. Atas takdirmu aku bisa menjadi pribadi yang berpikir, berilmu, beriman dan bersabar. Semoga keberhasilan ini menjadi satu langkah awal untuk masa depanku dalam meraih cita-citaku.

Thank’s mom and dad for everything. Berkat doa dan dukungan kalian aku berhasil sampai ketahap ini. Karya ini kupersembahkan untuk kalian sebagai wujud rasa terima kasih atas pengorbanan dan jerih payah kalian sehingga aku dapat menggapai cita-cita yang aku impikan. kelak cita-cita ini akan menjadi persembahan yang mulia untuk ayah dan ibu.

Makasih buat saudaraku Ade dan tanteku Dila, kalian adalah orang pertama yang selalu menyemangatiku, orang yang paling mengerti dengan keadaanku, kalian selalu ada disaat sedih, susah dan senangku.

Terima kasih kepada

ibunda Dona Afriyani selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas

bantuannya, nasehatnya, dan

ilmunya selama ini. Terima kasih

untuk selalu mau bersabar

mengajarkan mahasiswamu yang masih banyak kekurangan ini.

(6)

beruntung menjadi teman kalian. Semoga Allah selalu menjaga kalian semua, dan kita bisa meraih cita-cita yang kita inginkan. Amin.

And finally, makasih banyak buat Mahasiswa Matematika BP 15 yang sudah 4 tahun ini bersamaku. Ada satu hal yang pasti mengenai kalian, kalian adalah motivator bagiku, kalian mengerti bagaimana caranya menjadikan suasana yang hangat, bersahabat, dan menyenangkan. Walaupun terjadi konflik antara kita, tapi kalian mampu bersikap lebih dewasa, itu yang lebih aku suka. Dan satu kata buat kalian “I MISS YOU”. Kapan-kapan kita join bareng lagi. Thanks for : Icum, Helsa, Anita, Astri, Ayu, Irma, Nila, Mifta, Aulia, Muldi, Dayat, Ade, Ibrahim, Ezil, Nisa, Siska, Meri, Aisyah, Laila, Indri, Leni, Anggi, Dini, Hana, Helfi, Iga, Fajria, Melif, Diah, Sarah, Azwar, Riska, Dan Iif.

(7)

i

Variabel di Kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan”, Jurusan Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah keterbatasan sumber belajar yang digunakan siswa untuk memahami materi matematika dan kesulitan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan guru. Meskipun dari segi jumlah sumber belajar yang digunakan sudah mencukupi, namun sumber belajar tersebut tidak bisa menjadi penunjang sepenuhnya bagi siswa untuk memahami materi matematis. Selain itu dalam menerapkan konsep guru tidak menyusun pengetahuan siswa secara baik sehingga siswa kesulitan memahami konsep matematis. Adapun tujuan dari penelitian secara umum adalah menghasilkan leaflet berbasis teori bruner yang dapat membantu siswa SMP Negeri 2 Pariangan dalam memahami konsep matematis dan memotivasi siswa untuk belajar mandiri. Tujuan penelitian secara khusus adalah untuk mendapatkan data apakah karakteristik dari leaflet berbasis teori bruner yang dihasilkan telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (research and development) dengan model pengembangan menurut Van Den Akker yang terdiri atas 3 tahap, yaitu : (1) tahap front end analysis (analisis muka-belakang), (2) tahap prototype (prototipe) dan (3) tahap assessment (penilaian). Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menentukan validitas, praktikalitas dan efektivitas adalah lembar validasi, angket respon dan tes. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah : lembar validasi produk, RPP, angket respon dan soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik dari leaflet berbasis teori bruner yang dirancang telah valid, praktis dan efektif.

(8)

ii Assalamu’alaikum, Wr. Wb

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengembangan Leaflet Berbasis Teori Bruner pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di Kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Jurusan Tadris Matematika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

Dalam penulisan skripsi ini peneliti telah banyak mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibunda Lely Kurnia S.Pd, M.Si selaku dosen Pembimbing Akademik (PA), yang telah berkenan mengorbankan waktu dan tenaga untuk membimbing saya dari awal sampai sekarang dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

2. Ibunda Dr. Dona Afriyani, S.Si, M.Pd selaku dosen Pembimbing Skripsi, yang telah berkenan mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kesabaran.

3. Ibu Dr. Elda Herlina, M.Pd selaku dosen penguji I yang telah menguji dan memberikan masukan-masukan yang berharga untuk penyusunan skripsi ini.

(9)

iii Negeri (IAIN) Batusangkar

6. Bapak Dr. Sirajul Munir, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Batusangkar

7. Ibu Vivi Ramdhani, M.Si, Bapak Jumrawarsi, M.Pd, dan Bapak

Zulmahedi, S.Pd selaku validator, terimakasih atas bantuan dan arahannya.

8. Bapak Ardison Ismail, S.Pd selaku Kepala UPT SMP Negeri 2 Pariangan

yang telah memberi izin untuk bisa melaksanakan penelitian di sekolah yang dipimpin.

9. Rekan-rekan mahasiswa Tadris Matematika IAIN Batusangkar yang telah berbagi semangatnya untuk sama-sama menyelesaikan skripsi ini. 10.Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam penyelesaian skripsi

ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Batusangkar, 06 Februari 2020 Peneliti Lina Utari NIM . 15 300 500 027

(10)

iv

KATA PENGANTAR . ... ii

DAFTAR ISI . ... iv

DAFTAR TABEL . ... vi

DAFTAR GAMBAR . ... vii

DAFTAR LAMPIRAN . ... viii

DAFTAR BAGAN . ... ix BAB I PENDAHULUAN . ... 1 A. Latar Belakang . ... 1 B. Identifikasi Masalah . ... 6 C. Pembatasan Masalah . ... 6 D. Rumusan Masalah . ... 6 E. Tujuan Penelitian . ... 7 F. Manfaat Penelitian . ... 7 G. Spesifikasi Produk . ... 8

H. Asumsi dan Fokus Pengembangan . ... 10

I. Defenisi Operasional . ... 10

BAB II KAJIAN TEORI . ... 14

A. Media Pembelajaran . ... 14

B. Leaflet . ... 16

C. Teori Abstraksi. ... 22

D. Teori Bruner . ... 25

(11)

v

BAB III METODOLOGI PENELITIAN . ... 52

A. Metode Pengembangan . ... 52

B. Model Pengembangan . ... 52

C. Prosedur Pengembangan . ... 53

D. Subjek Uji Coba . ... 61

E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian . ... 61

F. Teknik Analisis Data . ... 73

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . ... 75

A. Hasil Penelitian . ... 75

B. Pembahasan . ... 105

C. Kendala dan Solusi . ... 119

D. Keterbatasan Penelitian. ... 120 BAB V PENUTUP . ... 121 A. Kesimpulan . ... 121 B. Saran . ... 121 DAFTAR PUSTAKA . ... 123 LAMPIRAN . ... 126

(12)

vi

Tabel 3.2 Aspek-Aspek Praktikalitas Leaflet Berbasis Teori Bruner.... 58

Tabel 3.3 Hasil Validasi Leaflet Berbasis Teori Bruner... 61

Tabel 3.4 Hasil Validasi RPP... 64

Tabel 3.5 Hasil Validasi Angket Respon Siswa... 66

Tabel 3.6 Hasil Validasi Soal Tes... 67

Tabel 3.7 Kriteria Koefisien Korelasi Validitas Instrumen ... 69

Tabel 3.8 Hasil Validasi Butir Soal Setelah Uji Coba ... 69

Tabel 3.9 Kriteria Koefisien Reliabilitas Soal Uji Coba... 70

Tabel 3.10 Kategori Daya Pembeda Soal... 71

Tabel 3.11 Hasil Daya Pembeda Soal Setelah Uji Coba... 71

Tabel 3.12 Kriteria Tingkat Kesukaran Soal... 72

Tabel 3.13 Hasil Tingkat Kesukaran Soal Setelah Uji Coba... 72

Tabel 3.14 Kategori Validasi Instrumen dan Leaflet... 73

Tabel 4.1 Kategori Praktikalitas Instrumen dan Leaflet... 73

Tabel 4.2 Keterangan Format Tampilan Leaflet... 91

Tabel 4.3 Hasil Validasi Leaflet... 97

Tabel 4.4 Revisi Leaflet... 100

Tabel 4.5 Hasil Angket Respon Siswa... 101

Tabel 4.6 Persentase Ketuntasan Siswa... 104

Tabel 4.7 Karakteristik Leaflet Yang Valid, Praktis dan Efektif... 104

(13)

vii

Gambar 2.4. Tahap Enaktif Konsep Volume Kubus... 36

Gambar 2.5. Tahap Enaktif Konsep Operasi Pecahan... 38

Gambar 2.6. Tahap Enaktif Konsep Operasi Pecahan... 38

Gambar 2.7. Tahap Ikonik Konsep Operasi Pecahan... 38

Gambar 2.8. Tahap Ikonik Konsep Operasi Pecahan... 39

Gambar 2.9. Tahap Ikonik Konsep Operasi Pecahan... 39

Gambar 4.1. Contoh Soal Pada Buku Sumber... 79

Gambar 4.2. Contoh Ketidakakuratan Buku Sumber... 80

Gambar 4.3. Desain Leaflet... 85

Gambar 4.4. Judul Leaflet... 85

Gambar 4.5 . Standar Isi Leaflet... 86

Gambar 4.6 . Tahap Enaktif Pada Leaflet... 87

Gambar 4.7. Tahap Ikonik Pada Leaflet... 87

Gambar 4.8. Tahap Simbolik Pada Leaflet... 88

Gambar 4.9 . Contoh Soal Leaflet... 89

Gambar 4.10. Kata Kata Motivasi Leaflet... 89

Gambar 4.11. Soal Latihan Leaflet... 89

Gambar 4.12. Kotak Penilaian... 90

Gambar 4.13. Format Tampilan Depan Leaflet... 90

Gambar 4.14. Format Tampilan Belakang Leaflet... 91

Gambar 4.15. Tampilan Halaman Depan Leaflet Indikator 1... 92

Gambar 4.16. Tampilan Halaman Belakang Leaflet Indikator 1... 92

Gambar 4.17. Tampilan Halaman Depan Leaflet Indikator 2... 93

Gambar 4.18. Tampilan Halaman Belakang Leaflet Indikator 2... 93

Gambar 4.19. Tampilan Halaman Depan Leaflet Indikator 3... 94

Gambar 4.20. Tampilan Halaman Belakang Leaflet Indikator 3... 94

Gambar 4.21. Tampilan Halaman Depan Leaflet Indikator 4... 95

Gambar 4.22. Tampilan Halaman Belakang Leaflet Indikator 4... 95

Gambar 4.23. Tampilan Halaman Depan Leaflet Indikator 5... 96

Gambar 4.24. Tampilan Halaman Belakang Leaflet Indikator 5... 96

Gambar 4.25. Penulisan Nominal Rupiah Sebelum Revisi... 98

Gambar 4.26. Penulisan Nominal Rupiah Setelah Revisi... 98

Gambar 4.27. Penulisan Kata Sebelum Revisi... 98

Gambar 4.28. Penulisan Kata Setelah Revisi... 99

Gambar 4.29. Soal Latihan Sebelum Revisi... 99

Gambar 4.30. Soal Latihan Setelah Revisi... 99

Gambar 4.31. Penulisan Kata Depan Sebelum Revisi... 99

Gambar 4.32. Penulisan Kata Depan Setelah Revisi... 100

Gambar 4.33. Penulisan Nama Orang Sebelum Revisi... 100

(14)

viii

Lampiran III Analisis Validitas Leaflet Berbasis Teori Bruner... 151

Lampiran IV Kisi-Kisi Angket Respon Siswa Terhadap Penggunaan Leaflet Berbasis Teori Bruner... 156 Lampiran V Angket Respon Siswa Terhadap Penggunaan Leaflet Berbasis Teori Bruner... 157 Lampiran VI Lembar Validasi Angket Respon Siswa Terhadap Penggunaan Leaflet Berbasis Teori Bruner... 159 Lampiran VII Analisis Validitas Angket Respon Siswa... 165

Lampiran VIII Hasil Analisis Validitas Angket Respon Siswa... 167

Lampiran IX Kisi-Kisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran... 169

Lampiran X Rencana Pelaksanaan Pembelajaran... 170

Lampiran XI Lembar Validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran... 207 Lampiran XII Analisis Validitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran... 213 Lampiran XIII Format Kisi-Kisi Penulisan Soal... 215

Lampiran XIV Soal Uji Coba Dan Kunci Jawaban... 217

Lampiran XV Lembar Validasi Soal Uji Coba... 224

Lampiran XVI Analisis Validitas Soal Uji Coba... 230

Lampiran XVII Nilai Uji Coba Kelas IX SMP N 2 Pariangan... 232

Lampiran XVIII Perhitungan Validitas Soal Uji Coba... 236

Lampiran XIX Perhitungan Reliabilitas Soal Uji Coba... 237

Lampiran XX Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba... 238

Lampiran XXI Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba... 240

Lampiran XXII Nilai Tes Kelas VIII-2 SMP N 2 Pariangan... 241

Lampiran XXIII Dokumentasi... 242

Lampiran XXIV Surat Mohon Penerbitan Izin Penelitian... 243

Lampiran XXV Surat Dari Kesbangpol... 244

(15)

ix

(16)

1

Tujuan pembelajaran matematika terdapat dalam Permendikbud No 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama. Salah satunya yaitu agar siswa dapat memahami konsep matematika. Seseorang yang memahami konsep matematika yaitu mampu menyebutkan definisi, mengelompokkan objek, memberikan contoh dan bukan contoh, dan mengidentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep.

Salah satu indikator pencapaian pemahaman konsep matematis ini adalah siswa mampu menerapkan konsep secara logis. Disini siswa diharapkan bisa mendefinisikan atau menjelaskan suatu materi dengan bahasanya sendiri. Dimana dengan menguasai materi siswa tidak hanya sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, serta mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

Usaha yang dilakukan oleh seorang guru agar tujuan pembelajaran tercapai dapat dilihat pada Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yaitu guru mampu merancang pembelajaran yang efektif. Semua perencanaan pembelajaran tersebut disesuaikan dengan kurikulum 2013 serta pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran matematika yang akan dicapai.

Diantara usaha-usaha yang dilakukan oleh seorang guru, salah satunya adalah penyiapan media dan sumber belajar. Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan. Penyiapan sumber belajar tentu tidak lepas dari silabus dan RPP yang telah dirancang oleh guru. Meskipun sudah banyak usaha-usaha yang

(17)

dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika, namun masih banyak permasalahan pembelajaran matematika yang muncul.

Peneliti melakukan penelitian pendahuluan di kelas VIII SMP N 2 Pariangan pada bulan Maret 2019, ditemukan beberapa permasalahan yang mengindikasikan siswa belum memahami konsep matematis. Salah satu faktanya yaitu hasil Ujian Tengah Semester (UTS) 2018/2019. Terlihat persentase dari frekuensi siswa yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM yang ditetapkan sekolah untuk pembelajaran matematika adalah 70.

Dari Tabel 1.1 terlihat bahwa siswa yang tidak tuntas lebih banyak dibandingkan siswa yang tuntas. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak siswa yang belum bisa memahami konsep matematis. Frekuensi ketuntasan siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1. Hasil Ujian Tengah Semester Tahun Pelajaran 2018/2019 Siswa Kelas VIII di SMP N 2 Pariangan

Keterangan Banyak siswa Persentase

Nilai di atas KKM 3 orang siswa 9,375 %

Nilai di bawah KKM 29 orang siswa 90,625 %

Jumlah 32 orang siswa 100 %

(Sumber : Guru Matematika Kelas VIII SMP N 2 Pariangan)

Selain itu penelusuran lebih lanjut melalui wawancara dengan beberapa orang siswa diperoleh informasi bahwa siswa tersebut kesulitan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang memiliki redaksi soal yang berbeda dari permasalahan yang sudah dipecahkan bersama dengan guru di kelas. Hal ini terlihat saat guru memberikan beberapa soal untuk pekerjaan rumah, hanya sedikit sekali siswa yang mampu untuk mengerjakannya yaitu sekitar 10% dari jumlah siswa. Kebanyakan siswa hanya mampu menggunakan konsep untuk mengerjakan soal rutin yang diberikan guru. Akan tetapi jika tidak dibimbing guru dalam mengerjakan latihan atau pekerjaan rumah, siswa tidak mampu menggunakan konsep yang telah dipelajari untuk menyelesaikan soal tersebut.

(18)

Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum mampu dalam menerapkan konsep matematis secara logis. Jika siswa mampu memahami konsep matematika dengan baik maka siswa akan bisa mengerjakan soal matematika dengan langkah yang benar, meskipun redaksi soalnya berbeda. Sebab dalam memahami konsep siswa harus mampu untuk menyajikan konsep dalam bentuk tabel, diagram, gambar, sketsa, model matematika atau ke dalam bentuk representasi lainnya. Tentu dengan memahami hal tersebut siswa harus memiliki pemahaman konsep yang cukup.

Banyak faktor yang menjadi penyebab siswa belum bisa memahami konsep matematika. Beberapa diantaranya yaitu pertama, keterbatasan sumber belajar yang dapat digunakan oleh siswa untuk memahami suatu materi matematis. Sumber belajar yang tersedia hanya buku kurikulum 2013 dan jumlahnya cukup untuk semua siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa diperoleh informasi bahwa siswa kesulitan dalam memahami redaksi kalimat pada buku dan menurut siswa tampilan buku yang mereka gunakan saat ini kurang menarik. Seharusnya buku kurikulum 2013 ini jika betul-betul dilaksanakan oleh guru itu sudah mampu untuk menunjang kemampuan berpikir siswa. Akan tetapi pada kenyataannya buku kurikulum 2013 ini belum terimplementasi dengan baik.

Berdasarkan informasi yang didapatkan terlihat bahwa siswa kesulitan dalam memahami redaksi kalimat yang terdapat di dalam buku, sehingga mereka tidak memanfaatkan buku itu sebagai sarana untuk membantu dalam memahami konsep matematis dan permasalahan matematis. Hal ini juga dipengaruhi oleh berbedanya cara penyajian materi oleh guru dengan apa yang diharapkan di dalam buku kurikulum 2013. Sehingga dengan perbedaan penyajian materi tersebut siswa merasa kesulitan dalam belajar matematika.

Lebih lanjut menurut siswa tampilan buku yang mereka gunakan sekarang kurang menarik. Alasannya, karena menurut mereka buku yang digunakan saat ini terlalu tebal dan tampilan buku yang kurang menarik minat baca siswa. Setelah diwawancara lebih lanjut umumnya siswa menginginkan bahan ajar yang menarik, simple, praktis, mudah dibawa kemana-mana, unik,

(19)

kreatif dan jelas susunan materinya. Sehingga dengan adanya bahan ajar seperti itu mereka akan menjadi lebih tertarik untuk belajar dan terutama minat membacanya akan menjadi bertambah. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sebuah sumber belajar yang mampu menyelesaikan permasalahan ini yaitu sumber belajar berupa leaflet. Leaflet adalah bahan ajar yang mampu memotivasi siswa untuk belajar. Dengan susunannya yang sistematis dan bahasanya yang sederhana, tentu hal ini menarik minat baca dan memotivasi siswa untuk belajar mandiri.

Menurut Cahyani sebagaimana yang dikutip oleh Riswinarni dan Sulisworo (2016) salah satu bahan ajar yang dapat digunakan untuk belajar mandiri yaitu leaflet. Leaflet merupakan bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan melalui lembaran yang dilipat. Leaflet merupakan bahan ajar yang cukup berbeda dari buku cetak. Hal itu bisa dilihat pertama dari segi ketebalan, buku cetak lebih tebal ketimbang leaflet. Kedua dari segi bahasa, bahasa yang digunakan dalam leaflet lebih mudah dimengerti ketimbang buku cetak. Kemudian yang ketiga dari segi tampilan, leaflet memiliki tampilan yang lebih menarik, unik, dan kreatif ketimbang buku cetak.

Kedua, kesulitan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan oleh guru. Informasi ini diperoleh dari pengamatan dan dari hasil observasi, terlihat guru menjelaskan materi tentang phytagoras. Diawal pembelajaran guru mengenalkan bentuk suatu bangun kepada siswa kemudian menjelaskan rumus dan memberikan contoh soal. Hal ini juga terlihat ketika guru memberikan feedback atau pertanyaan kepada siswa, namun siswa belum aktif untuk menjawab pertanyaan tersebut. Oleh karena itu permasalahan tersebut perlu diatasi.

Idealnya dalam pembelajaran matematika penjelasan konsep matematis harus dilakukan dengan urutan yang benar, dimulai dari representasi sensory (enaktif) ke representasi konkret (ikonik) dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak (simbolik). Dengan kata lain pembelajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna dan makin meningkat ke arah

(20)

yang abstrak. Hal ini tentu bisa dilaksanakan salah satunya lewat penerapan teori bruner.

Teori bruner bisa diterapkan pada beberapa materi matematika. Baik itu pada materi geometry, statistik maupun aljabar. Menurut Bentina, dkk (2013) materi aljabar akan lebih mudah dipahami siswa dengan mengikuti dalil notasi menurut Bruner, karena dalam pembelajaran aljabar konsep utama yang harus dipahami siswa adalah notasi atau simbol. Sedangkan menurut Ardika (2015) teori bruner bisa menjadi salah satu tindakan yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengajarkan materi mengenai bentuk-bentuk dan sifat-sifat dari geometri karena didasarkan pada pengalaman nyata yang dimiliki siswa.

Pembelajaran dengan menerapkan teori bruner memiliki tiga tahap yaitu tahap enaktif, tahap ikonik dan tahap simbolik. Tahap enaktif adalah proses belajar dimana siswa mengenali suatu objek yang berada dilingkungannya. Tahap ikonik adalah proses belajar dimana siswa mulai mendefinisikan objek yang mereka lihat ke dalam suatu konsep yang utuh. Tahap simbolik adalah proses belajar dimana siswa sudah mampu memanipulasi simbol atau lambang objek tertentu.

Berdasarkan permasalahan di atas jika dikaitkan dengan pembelajaran menurut teori bruner, ada satu tahap yang belum muncul dalam pembelajaran yaitu tahap ikonik. Tahap ikonik merupakan jembatan antara tahap enaktif dengan tahap simbolik. Pada tahap ikonik ini adalah proses dimana pertanyaannya mengapa?, siswa dituntut untuk memaparkan apa yang dipikirkannya, dan seharusnya guru meminta siswa untuk menggali apa yang ada dikonsep yang mereka ketahui tersebut. Serta lewat tahapan ikonik siswa mampu untuk memahami objek melalui gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya dalam memahami objek siswa belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa setiap tahapan pembelajaran harus dilakukan dengan berurutan. Karena hal itu nantinya akan mempengaruhi pemahaman konsep siswa.

(21)

Menurut Bruner pembelajaran matematika akan lebih efektif jika menggunakan tiga tahapan bruner di atas. Alasannya pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa jika didasarkan pada pengetahuan dasar yang dimilikinya, serta konsep matematika akan menjadi lebih terstuktur. Kemudian proses belajar lebih ditentukan bagaimana cara siswa mengatur dan mengolah materi pelajaran, serta dalam penyusunan materi disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif siswa. Tentu dengan pembelajaran seperti ini siswa akan menjadi lebih aktif dan pembelajaran akan menjadi lebih efektif.

Berdasarkan permasalahan pokok dalam pembelajaran matematika di

atas, maka perlu dirancang “PengembanganLeaflet Berbasis Teori Bruner

pada Materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel di Kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan” untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka beberapa masalah yang timbul dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Siswa kesulitan dalam memahami konsep yang diajarkan oleh guru.

2. Kurang menariknya bahan ajar yang digunakan, sehingga kurangnya minat membaca siswa.

3. Keterbatasan sumber belajar yang dapat digunakan oleh siswa.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang ditemukan, agar penelitian lebih terarah dan tidak menyimpang maka peneliti membatasi cakupan masalah yaitu pengembangan leaflet pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di kelas VIII SMP N 2 Pariangan.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan yang valid?

(22)

2. Bagaimana karakteristik leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan yang praktis?

3. Bagaimana karakteristik leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan yang efektif?

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk menghasilkan leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP N 2 Pariangan dengan karakteristik yang valid.

2. Untuk menghasilkan leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP N 2 Pariangan dengan karakteristik yang praktis.

3. Untuk menghasilkan leaflet berbasis teori bruner di kelas VIII SMP N 2 Pariangan dengan karakteristik yang efektif.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat bagi semua kalangan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, antara lain adalah:

1. Bagi Siswa

Leaflet ini dapat digunakan siswa sebagai sumber belajar dan dapat memfasilitasi siswa memperoleh pengalaman baru dalam pembelajaran matematika dan memudahkan pemahaman konsep matematika siswa. Serta dengan leaflet ini siswa akan memiliki ketertarikan dalam belajar matematika.

2. Bagi Guru

Leaflet ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif yang akan mempermudah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas dan membimbing siswa dalam mengembangkan pengetahuannya dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.

3. Bagi Sekolah

Meningkatkan kualitas pendidikan matematika dan sebagai alternatif dalam menyajikan materi, sebagai masukan untuk menentukan kebijakan dalam memilih ragam inovasi pembelajaran untuk membuat

(23)

dan mengembangkan bahan ajar sesuai dengan situasi dan kondisi siswa serta potensi yang ada di sekolah.

4. Bagi Peneliti

Sebagai langkah awal bagi peneliti dalam pengembangan bahan ajar yang akan dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika.

G. Spesifikasi Produk Yang Dikembangkan

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan produk yang valid, praktis dan efektif. Leaflet berbasis teori bruner yang dirancang memiliki spesifikasi sebagai berikut:

1. Leaflet berbasis teori bruner disesuaikan dengan materi pelajaran

matematika kurikulum 2013 untuk kelas VIII SMP. Leaflet ini

disesuaikan dengan materi pelajaran matematika semester ganjil untuk kelas VIII SMP.

2. Sajian dari leaflet disusun dengan semenarik mungkin yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang unik, permainan warna yang menarik, serta bentuk penulisan yang bagus.

3. Bahasa yang digunakan dalam leaflet ini adalah bahasa yang mudah

dipahami. Dengan disusunnya leaflet menggunakan bahasa yang

sederhana serta mudah dipahami, siswa bisa belajar secara mandiri. 4. Leaflet berbentuk lembaran kertas yang memiliki dua sisi serta terdiri

dari tiga lipatan, setiap pojok kanan atas dari lipatan diberi halaman agar mudah dalam penggunaannya.

5. Leaflet terdiri dari komponen-komponen: a. Judul leaflet

Judul leaflet disesuaikan dengan indikator yang dibahas. Judul leaflet dibuat semenarik mungkin sehingga bisa mencerminkan materi yang dibahas dalam leaflet. Pada penelitian ini produk yang dibuat diberi nama leaflet berbasis teori bruner.

b. Kompetensi yang akan dicapai yang terdiri dari KI, KD, Indikator serta tujuan pembelajaran. Leaflet ini memuat KI (Kompetensi Inti)

(24)

dan KD (Kompetensi Dasar) secara umum. KI yang dikembangkan pada leaflet ini adalah KI.3 berupa aspek pengetahuan. Kompetensi Dasar memuat pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang akan dicapai pada saat pembelajaran. Indikator memuat kompetensi dasar secara spesifik untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Setiap lembaran leaflet biasanya disusun untuk satu atau dua indikator saja. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat dilakukan secara bertahap dan lebih bermakna bagi siswa.

c. Penyajian materi didasarkan pada pembahasan contoh soal.

Pembahasan contoh soal mengikuti tahapan belajar teori bruner, yaitu :

1) Tahap enaktif. Pada tahap ini materi yang disajikan bertujuan untuk memahami suatu objek atau situasi nyata sehingga diperoleh sebuah pengetahuan mendasar bagi siswa.

2) Tahap ikonik. Pada tahap ini materi yang disajikan bertujuan agar siswa bisa merepresentasikan pengetahuan yang didapatnya ke dalam bentuk bayangan visual(visual imaginary).

3) Tahap simbolik. Pada tahap ini materi yang disajikan bertujuan agar siswa bisa merepresentasikan objek ke dalam simbol-simbol abstrak.

d. Motivasi belajar. Disetiap lembaran leaflet diberikan kata-kata atau gambar yang menambah motivasi belajar siswa. Pemberian motivasi ini bertujuan agar siswa mau untuk membaca dan mau untuk mencoba mengerjakan soal yang ada di dalam leaflet.

e. Soal Latihan. Soal latihan disesuaikan dengan pemahaman siswa. Pada leaflet ini diberikan dua sampai tiga buah soal yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Soal latihan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika.

f. Penilaian, setelah peserta didik mengerjakan berbagai latihan soal yang diberikan pada leaflet, mereka bisa menilai jawaban yang

(25)

mereka peroleh. Sehingga mereka dapat mengetahui sejauh mana kemampuan mereka saat setelah mengerjakan latihan tersebut. 6. Leaflet berbasis teori bruner dapat digunakan untuk pembelajaran di

kelas maupun di luar kelas.

H. Asumsi dan Fokus Pengembangan 1. Asumsi Pengembangan

Asumsi pengembangan leaflet menurut peneliti adalah:

a. Leaflet berbasis teori bruner yang disusun dapat digunakan dalam mata pelajaran matematika ditingkat SMP / MTs pada kelas VIII. b. Leaflet berbasis teori bruner dapat menarik motivasi belajar siswa

pada mata pelajaran matematika.

c. Leaflet berbasis teori bruner dapat memancing antusias membaca siswa.

d. Leaflet berbasis teori bruner ini dapat mengembangkan pengetahuan siswa karena didasarkan pada tahapan kognitif siswa.

e. Leaflet berbasis teori bruner bisa meningkatkan pemahaman konsep siswa.

f. Leaflet berbasis teori bruner dapat digunakan untuk pembelajaran matematika dengan materi yang sama untuk periode selanjutnya. 2. Fokus Pengembangan

Pengembangan leaflet berbasis teori bruner ini difokuskan pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel didasarkan pada analisis kebutuhan dan karakteristik siswa kelas VIII SMP N 2 Pariangan, sehingga produk yang dikembangkan hanya dipergunakan oleh siswa yang dianalisis.

I. Definisi Operasional

1. Leaflet

Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan atau dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet

(26)

didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahan yang sederhana, singkat, serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi dari kompetensi dasar, indikator pembelajaran dan tujuan pembelajaran (Syarif, 2015).

2. Leaflet Berbasis Teori Brunner

Leaflet berbasis teori bruner adalah bahan cetak tertulis yang dilipat serta didesain dengan semenarik mungkin dan materinya disusun berdasarkan tahapan belajar teori bruner yaitu : enaktif, ikonik dan simbolik, dengan tujuan agar konsep matematika siswa lebih terstruktur serta siswa mudah memahami materi pelajaran dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

3. Validitas

Validitas adalah derajat yang menunjukkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur tes atau nontes dalam melakukan fungsi ukurannya benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Alat ukur itu hanya valid untuk suatu tujuan, tidak untuk universal (Ali Hamzah,2014).

Pada suatu produk validitas adalah proses kegiatan untuk mengetahui apakah bahan ajar telah baik ataukah masih ada yang perlu diperbaiki. Adapun indikator-indikator validnya produk pada penelitian ini berdasarkan standar bahan pembelajaran oleh BSNP adalah sebagai berikut :

a. Validitas isi (Kelayakan Isi), terdiri dari ketepatan, kepentingan, kelengkapan, minat/perhatian, kesesuaian dengan situasi peserta didik.

b. Validitas konstruk (Kelayakan Penyajian) terdiri dari keterbacaan, mudah digunakan, kualitas tampilan/tayangan, kualitas penanganan jawaban.

c. Validitas muka (Kelayakan Bahasa), terdiri dari ketepatan tata bahasa, ketepatan ejaan (EYD) dan sesuai dengan perkembangan berpikir peserta didik.

(27)

d. Validitas Kegrafikan (Kelayakan Kegrafikan) terdiri dari penggunaan font, jenis dan ukuran, layout atau tata letak, ilustrasi, gambar, dan foto, dan desain tampilan.

4. Praktikalitas

Praktikalitas berhubungan dengan kemudahan peserta didik dalam menggunakan leaflet yang meliputi tampilan leaflet yang dirancang menarik, bahasa yang digunakan dalam leaflet mudah dimengerti siswa, leaflet dapat membantu peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari, leaflet bisa membantu siswa memahami konsep lewat tahapan belajar teori bruner, dan leaflet meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Untuk melakukan uji praktikalitas produk dilakukan ujicoba terbatas pada kelas VIII SMP Negeri 2 Pariangan. Uji praktikalitas leaflet ini apakah dia praktis atau tidaknya diperoleh dari skor yang didapat dari hasil penskoran angket. Indikator angket respon siswa terhadap leaflet berbasis teori bruner yaitu :

1) Respon siswa terhadap kemudahan penggunaan leaflet berbasis teori bruner.

2) Respon siswa terhadap tampilan leaflet berbasis teori bruner.

3) Respon siswa terhadap pelajaran matematika menggunakan leaflet berbasis teori bruner.

5. Efektivitas

Efektivitas adalah menghasilkan produk tertentu sesuai dengan analisis kebutuhan dan dapat berfungsi dimasyarakat luas. Efektivitas bertujuan untuk memberikan pengaruh kepada pengguna, dapat diartikan

memberikan hasil belajar yang memuaskan setelah menggunakan leaflet

berbasis teori bruner.

Untuk menguji efektifitas produk pada penelitian ini adalah dengan menggunakan skor tes hasil belajar siswa yang diambil sesudah peserta

(28)

berbasis teori bruner. Siswa dikatakan tuntas secara individu pada suatu mata pelajaran jika nilainya memenuhi kriteria ketuntasan minimum. SMP Negeri 2 Pariangan menetapkan KKM untuk mata pelajaan matematika yaitu 70. Sedangkan menurut Trianto dalam Widiyahti (2014) suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila rata-rata skor tes hasil belajar siswa memenuhi ketuntasan klasikal, yaitu jika jumlah siswa yang tuntas belajarnya ≥85% dari seluruh siswa yang ada dalam satu kelas.

(29)

14

Dewasa ini, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, proses pembelajaran tidak lagi dimonopoli oleh adanya kehadiran guru di dalam kelas. Siswa dapat belajar dimana dan kapan saja. Siswa bisa belajar apa saja sesuai dengan minat dan gaya belajar. Seorang desainer pembelajaran dituntut untuk dapat merancang pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai jenis media dan sumber belajar yang sesuai agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.

Mengajar dapat dipandang sebagai usaha yang dilakukan guru agar siswa belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan belajar itu sendiri adalah proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui aktivitas sendiri pada situasi sebenarnya.

Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam sebuah kerucut yang kemudian dinamakan kerucut pengalaman (cone of experience) seperti gambar berikut :

Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman (Cone Of Experience) Edgar Dale Reading Hearling Word Looking At Picture Waching At Movie Waching At An Exhibits Waching A Demonstration

Seeing It Done On Location

Participation In A Disscussion

Giving A Talk

Performance Dramatic Presentation, Simulation

(30)

Kerucut pengalaman Edgar Dale pada saat ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu atau media apa saja yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Apabila kita perhatikan kerucut pengalaman yang dikemukakan Edgar Gale, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. semakin langsung objek yang dipelajari, maka semakin konkret pengetahuan yang diperoleh. Sebaliknya semakin tidak langsung pengetahuan itu diperoleh maka semakin abstrak pengetahuan siswa.

Dari gambaran kerucut pengalaman tersebut, siswa akan lebih konkret

memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung. Hal ini

memungkinkan karena siswa dapat secara langsung berhubungan dengan objek yang dipelajari, sedangkan siswa akan lebih abstrak memperoleh pengetahuan melalui benda atau alat perantara, seperti televisi, gambar hidup/film, radio/tape recorder, lambang visual dan lambang verbal. Memerhatikan kerangka pengetahuan ini, maka kedudukan komponen media pembelajaran dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi yang sangat penting. Sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diperoleh secara langsung.

Menurut Wina Sanjaya (2011) media pembelajaran terbagi atas 4 karakteristik, yaitu :

a. Media grafis (visual diam), antara lain : gambar/foto, diagram, bagan, poster, leaflet dan grafik.

b. Media proyeksi , antara lain : film bingkai (slide), over head transparansi, opaque projector, microfis, video.

c. Media audio , antara lain : radio, alat perekam/recorder, piringan hitam dan labor bahasa.

d. Media komputer, antara lain : multimedia presentasi, CD multimedia interaktif dan internet.

(31)

Dalam proses pembelajaran, media cetak dan grafis merupakan media yang paling sering digunakan. Media ini termasuk kategori media visual nonproyeksi yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pemberi ke penerima pesan (dari guru kepada siswa). Secara sederhana media grafis dapat diartikan sebagai media yang mengandung pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar, dan simbol-simbol yang mengandung arti (Sanjaya, 2008 : 198-203).

B. Leaflet

1. Pengertian Leaflet

Menurut Sumantri (2015 : 333-334), Leaflet adalah bahan cetak berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Biasanya terdiri dari satu sampai dua lembar saja dengan cetakan dua muka atau timbal balik. Yang menjadi ciri khas dari leaflet ini adalah adanya lipatan yang

membentuk beberapa bagian leaflet seolah-olah memiliki halaman

tersendiri.

Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahan yang sederhana, singkat, serta mudah dipahami. Dengan tampilan yang menarik seperti ini akan lebih menarik bagi para pembaca. Ditambah lagi leaflet bisa disebarkan kepada khalayak ramai, serta penggunaannya tidak terbatas waktu dan tempat.

Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi dari kompetensi dasar. Biasanya dalam setiap lembaran leaflet terdiri atas satu sampai dua indikator pembahasan materi. Materinya disusun berdasarkan tahapan teori kognitif bruner, serta dilengkapi dengan soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

2. Tujuan Penggunaan Leaflet

Penggunaan leaflet diharapkan mampu mengubah kondisi

(32)

menjadi “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Proses pembelajaran dengan memanfaatkan leaflet diharapkan siswa lebih berpartisipasi aktif. Melalui penggunaan leaflet guru lebih terstruktur dalam membimbing siswa.

Penggunaan leaflet dalam proses pembelajaran memberi manfaat yang signifikan. Materi yang disajikan lebih ringkas, mudah dipahami, dan sistematis. Pembelajaran menggunakan leaflet memberikan peluang kepada peserta didik sehingga mereka belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik, dan tidak menimbulkan kebosanan. Peserta didik dengan mudah membawa leaflet kemana saja, menjadi pegangan, dan pendalaman materi menjadi lebih mudah (Weni dan Rosmaini, 2018 : 251 - 264).

3. Karakteristik Leaflet

Menurut Riswinarni dan Sulisworo (2016 : 173 - 177) terdapat 3 karakteristik yang dimiliki oleh sebuah leaflet. Pertama, leaflet hanya terdiri atas 200 – 400 huruf dengan tulisan cetak. Ini berarti materi yang disajikan berupa ringkasan dengan bahasa yang sederhana. Kedua, leaflet biasanya didesain dengan warna-warni dan gambar-gambar atraktif. Ini ditujukan untuk menarik motivasi belajar siswa menggunakan leaflet. Ketiga, leaflet berukuran sebesar kertas HVS A4 panjang 20x30 cm dan dilipat sesuai dengan kebutuhan sehingga bisa dibaca dengan sekali pandang. Ukuran tulisannya jelas sehingga bisa dibaca secara langsung, setiap halamannya terdiri atas dua sampai tiga lipatan dan setiap kolom lipatannya itu memiliki topiknya masing-masing.

Leaflet terdiri atas beberapa kolom. Setiap lembaran leaflet terbagi atas tiga kolom atau tiga lipatan. Setiap lipatan pada leaflet memberikan sajian materi yang berbeda. Sehingga untuk satu lembar leaflet siswa bisa mendapatkan informasi yang cukup untuk pengetahuannya.

(33)

4. Kelebihan dan Kekurangan Leaflet

a. Kelebihan Leaflet

Terdapat empat kelebihan dari leaflet sebagai bahan ajar menurut Falasifah (2014 : 14 - 17). Pertama, siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Materi pelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa, baik yang cepat maupun yang lamban memahami. Namun tujuan utama yang diharapkan adalah siswa mampu untuk menguasai materi pembelajaran.

Kedua, di samping dapat mengulangi materi dalam media berbentuk cetakan, siswa juga dapat mengikuti urutan pikiran secara logis. Leaflet dirancang sesuai dengan tahapan kognitif siswa, bahasa yang digunakan sederhana, dan siswa bisa mendapatkan pembelajaran yang bermakna.

Ketiga, Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak yang dikemas sedemikian rupa dapat menambah daya tarik, serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikan. Semakin tertarik siswa untuk membaca suatu bahan ajar maka proses pembelajaranpun akan menjadi lebih efektif. Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan motivasi membaca siswa salah satunya lewat leaflet ini. Keempat, Dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Leaflet bisa digunakan tanpa adanya keterbatasan tempat dan waktu, sehingga leaflet bisa digunakan setiap saat sebagai bahan rujukan dan sebagai bahan diskusi untuk kesempatan yang berbeda.

Menurut Winarso dan Yulianti (2017), leaflet sangat sederhana dan

memiliki penampilan yang menarik. Selain itu leaflet juga

memberikan pemahaman bagi siswa bahwa matematika itu tidak serumit buku teks yang tebal, tapi matematika itu bisa dikemas menjadi suatu hal yang menarik dan indah.

Sedangkan menurut Riswinarni dan Sulisworo (2016) terdapat empat kelebihan leaflet, yaitu : (1) leaflet lebih efektif dalam

(34)

meningkatkan pengetahuan siswa, (2) leaflet praktis dan mudah dibawa, (3) bisa digunakan untuk belajar mandiri, dan (4) leaflet mudah dibuat, diperbanyak, diperbaiki dan mudah disesuaikan dengan kelompok sasaran.

b. Kekurangan Leaflet

Meskipun banyak kelebihan yang dimiliki leaflet sebagai bahan ajar, tetapi leaflet juga memiliki kekurangannya. Menurut Falasifah (2014 : 14 - 17) terdapat dua kekurangan leaflet. Pertama, Biaya percetakan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, dan foto yang berwarna. Semakin bagus desain yang dirancang pada leaflet maka akan semakin banyak biaya yang digunakan untuk percetakannya. Kedua, proses mendesain media tergantung kepada kemampuan merancang peneliti. Jika desain leaflet yang dibuat peneliti kurang menarik, maka siswa yang membacapun tidak terlalu tertarik dengan leaflet ini. Apabila tulisannya terlalu kecil dan susunannya kurang menarik, kebanyakan siswa akan malas untuk membacanya. Untuk itu leaflet harus dirancang dengan baik, agar sesuai dengan kebutuhan siswa.

Sedangkan menurut Harini (2016) terdapat 3 kekurangan leaflet yaitu : pertama, leaflet mudah hilang dan rusak. Karena hanya berbentuk lembaran kertas yang tidak dijilid, tentu hal ini tidak menjadi jaminan jika leaflet ini akan masih ada dan utuh jika digunakan unuk pembelajaran dengan waktu yang lama. Kedua, leaflet dapat menjadi kertas percuma, kecuali guru secara aktif melibatkan siswa dalam membaca dan menggunakan materi yang ada pada leaflet. Ketiga, pesan yang disampaikan pada leaflet sangat terbatas.

(35)

5. Prinsip Penyusunan Leaflet

Menurut Riswinarni dan Sulisworo (2016 : 173 - 177), terdapat beberapa prinsip penyusunan leaflet. Pertama, Untuk mengingatkan kembali hal-hal yang sudah dipelajari, biasanya leaflet diberikan kepada sasaran setelah selesai pelajaran agar memperkuat ide yang disampaikan. Tidak hanya itu, leaflet juga bisa digunakan pada awal pembelajaran agar lebih menarik motivasi belajar siswa.

Kedua, leaflet disusun berdasarkan analisis kebutuhan siswa, kurikulum, kajian materi dan pedoman penyusunan bahan ajar. Isi dari leaflet harus dapat dimengerti oleh siswa, materi disusun berdasarkan tahapan teori bruner sehingga memberikan informasi secara jelas dan lengkap dengan hal-hal yang penting sebagai informasi, dan padat pengetahuan.

6. Komponen Leafet

Komponen dari penyusunan leaflet memiliki perbedaan dalam setiap

penyusunannya tergantung kepada materi dan dasar penyusunan menurut masing-masing peneliti. Berikut ini disajikan beberapa komponen leaflet berdasarkan beberapa jurnal. Menurut Winarso dan Yulianti (2017) leaflet terdiri atas 6 komponen yaitu : (1) judul, (2) tujuan pembelajaran, (3) materi tahap enaktif, (4) motivasi belajar, (5) materi tahap ikonik, (6) materi tahap simbolik, (7) contoh soal, dan (8) latihan soal.

Menurut Agustianingsih dan Rosmaini (2017) leaflet terdiri atas 5 komponen yaitu : (1) judul, (2) kompetensi dasar, (3) indikator, (4) materi, dan (5) kuis. Sedangkan menurut Riswinarni dan Sulisworo (2016) leaflet terdiri atas 8 komponen yaitu : (1) judul, (2) standar kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator, (5) tujuan pembelajaran, (6) materi, (7) latihan, dan (8) penilaian.

Berdasarkan komponen leaflet diatas, dalam penelitian ini komponen leaflet berbasis teori bruner yang penulis kembangkan diambil dan disesuaikan dengan komponen menurut beberapa sumber. Dalam

(36)

komponen leaflet yang peneliti kembangkan memiliki pebedaan dari komponen-komponen leaflet yang ada. Leaflet berbasis teori bruner yang peneliti kembangkan terdiri atas tujuh komponen, yaitu :

Pertama, Judul sub bab biasanya disesuaikan dengan materi yang

akan dikembangkan dalam leaflet. Judul bisa dibuat berdasarkan

kompetensi dasar ataupun berdasarkan indikator yang dituju. Dalam penyusunan leaflet peneliti hanya akan menggunakan lima judul sub bab saja.

Kedua, standar isi terdiri dari : kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pembelajaran dan tujuan pembelajaran disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum 2013 revisi. Dalam perancangannya kompetensi dan tujuan belajar ini terletak pada kolom pertama leaflet beserta dengan judul subbab yang dikembangkan.

Ketiga, Materi dikemas dengan sederhana dan ringkas. Susunan materi pembelajaran di dalam leaflet disusun berdasarkan teori bruner yaitu : tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Pada halaman ketiga adalah tahap enaktif, halaman keempat adalah tahap ikonik dan halaman kelima adalah tahap simbolik.

Keempat, leaflet memiliki Informasi pendukung. Informasi pendukung berupa kejelasan bahasa dan tampilan serta penyusunan materi yang padat, menarik, memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembacanya. Dengan disusun berdasarkan tahapan teori bruner, siswa akan mudah memahami materi sesuai dengan kemampuan belajar mereka masing-masing.

Kelima, leaflet memiliki contoh soal. Contoh soal diberikan untuk mempermudah siswa memahami materi. Dalam penyusunannya contoh soal dijadikan sebagai acuan untuk memahami konsep SPLDV yang penyelesaiannya melalui teori bruner.

Keenam, leaflet memiliki latihan soal. Untuk soal latihan peneliti hanya akan memberikan 2 soal dengan bentuk soal yang dengan tujuan agar peserta didik bisa menguasai materi.

(37)

Ketujuh, leaflet dilengkapi dengan motivasi belajar. Motivasi diberikan untuk menambah semangat belajar siswa, menambah keinginan untuk belajar, dan meningkatkan keinginan membaca siswa. Dalam penyusunan leaflet motivasi terletak pada setiap halaman terakhir leaflet. Motivasi yang diberikan sesuai dengan kondisi belajar siswa.

C. Teori Abstraksi

Piaget dalam Wiryanto (2014) mengemukakan teori tiga bagian (tripartite theory) tentang abstraksi, yaitu : abstraksi empiris (empirical abstraction), abstraksi empiris semu (pseudo-empirical abstraction) dan abstraksi reflektif yang dijelaskan sebagai berikut :

1. Abstraksi empiris (empirical abstraction)

Abstraksi empiris (empirical abstraction) memfokuskan pada cara anak mengkonstruksi arti sifat-sifat objek. Abstraksi empiris berhubungan erat dengan pengalaman empiris. Pembentukan pengertian suatu objek yang abstrak berdasarkan pada pengalaman sosial dan fisik anak. Pengalaman empiris siswa berpengaruh dalam proses pembelajaran matematika. Siswa dapat memahami suatu konsep ketika permasalahan yang diberikan sesuai dengan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu siswa juga dapat membangun konsep-konsep berdasarkan teori sebelumnya yang sudah dikuasai.

2. Abstraksi empiris semu (pseudo-empirical abstraction)

Abstraksi empiris semu (pseudo-empirical abstraction)

memfokuskan pada cara anak mengkonstruk arti sifat-sifat aksi pada objek.

3. Abstraksi reflektif (reflective abstraction)

Abstraksi reflektif memfokuskan pada ide tentang aksi dan operasi menjadi objek tematik pada pemikiran atau asimilasi, yang berkaitan dengan kategori operasi mental dan abstraksi terhadap objek mental.

Abstraksi reflektif mengacu pada kemampuan subjek untuk

(38)

berdasarkan aktivitas dan interpretasi subjek sendiri kepada suatu situasi baru.

Berdasarkan ide dari piaget mengenai abstraksi, cifarelli

mendefenisikan level-level abstraksi untuk mendefenisikan dan

mendeskripsikan proses pembelajaran. Level-level aktivitas abstraksi cifarelli adalah sebagai berikut :

1. Level pengenalan (recognition)

Pada level ini siswa mengidentifikasi suatu struktur matematika yang telah ada sebelumnya baik pada aktivitas yang sama maupun aktivitas sebelumnya.

2. Level representasi (representation)

Pada level ini, siswa menggunakan diagram atau gambar di dalam memecahkan suatu situasi untuk membantu refleksi. Refleksi level ini memerlukan individu untuk mempertunjukkan suatu derajat tingkat fleksibilitas dan kendali tertentu atas aktivitas sebelumnya. Segal aktivitas penyelesaian yang mungkin dilaksanakan tanpa bisa mengantisipasi hasilnya.

3. Level abstraksi struktural (structural abstraction)

Pada level ini siswa mampu membuat absraksi dan representasi aktivitas penyelesaian. Siswa juga mampu untuk merefleksi potensial dari

aktivitas sebelumnya. Siswa mampu memproyeksikan dan

mengorganisasikan struktur yang di ciptakan dari aktivitas dan interprestasi siswa sendiri kepada situasi baru.

4. Level kesadaran struktural (structural awareness)

Pada level ini siswa akan menunjukkan satu kemampuan untuk

mengantisipasi hasil-hasil dari aktivitas potensial tanpa harus

menyelesaikan semua aktivitas yang dipikirkan. Siswa mampu memikirkan struktur sedemikian sebagai objek-objek dan mampu membuat keputusan tentang hal tersebut tanpa mengusahakan bentuk fisik atau secara mental merepresentasikan metode penyelesaian.

(39)

Berdasarkan study literature mengenai abstraksi, Wiryanto membuat karakteristik pada level-level abstraksi seperti pada tabel berikut :

No Level abstraksi Karakteristik

1 Recognition a. Mengingat kembali aktivitas sebelumnya yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi

b. Mengidentifikasi aktivitas sebelumnya yang

berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi 2 Representation a. Menyatakan hasil pemikiran sebelumnya dalam bentuk simbol matematika, kata-kata, grafik untuk membantu refleksi/rekonstruksi

b. Menerjemahkan dan mentransformasikan

informasi atau struktur ke dalam model matematika

c. Menjalankan metode solusi alternatif yang

mungkin 3 Struktural

abstraction

a. Merefleksi aktivitas sebelumnya kepada situasi baru

b. Mengembangkan strategi baru untuk suatu

masalah, dimana sebelumnya belum digunakan c. Mengantisipasi sumber kesulitan dalam proses

penyelesaian apabila digunakan metode yang lain

d. Mengorganisasikan struktur masalah

matematika berupa menyusun,

mengorganisasikan dan mengembangkan 4 Structural

awarness

a. Sadar akan kemampuannya untuk

mengantisipasi hasil pemecahan masalah tanpa menjalankan semua aktivitas yang dipikirkan

b. Memberikan argumen-argumen atau alasan

terhadap keputusan yang dibuat

c. Sadar akan kesulitan selama proses penyelesaian

apabila digunakan alternatif metode

penyelesaian yang lain

d. Merefleksikan keputusan yang diperoleh untuk aktivitas berikutnya

e. Mampu menunjukkan ringkasan aktivitasnya

selama pemecahan masalah

Menurut Bruner proses abstaraksi siswa terwujud dalam tiga tahap yaitu : tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik, seluruh proses tahapan ini akan dijelaskan pada poin selanjutnya.

(40)

D. Teori Bruner

1. Belajar Menurut Aliran Teori Kognitif

Menurut Meece teori kogitif adalah menekankan pada bagaimana seseorang menyusun pemahaman mereka terhadap diri mereka dan pemahaman dunia terhadap mereka. Artinya bahwa proses belajar seseorang sangat tergantung pada bagaimana mereka memahami sesuatu dengan didasarkan pada pengetahuan-pengetahuan dasar yang telah dimiliki sebelumnya.

Belajar menurut aliran kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang terjadi pada masing-masing individu. Belajar merupakan suatu proses internal dalam diri individu yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain. Konsep dasar belajar menurut aliran kognitif ialah proses terbentuknya suatu perubahan dari dalam diri individual setelah merespon stimulus yang diterimanya dengan cara menyesuaikan atau mengolah informasi yang ada berdasarkan struktur kognitif dengan didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.

Aliran kognitif menganggap bahwa pengetahuan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses interaksi berkesinambungan dengan lingkungan. Berdasarkan teori ini maka proses pembelajaran yang berlangsung pada peserta didik akan menghasilkan persepsi dan pemahaman yang berbeda terhadap masing-masing pembelajaran tergantung pada pengetahuan dasar yang mereka miliki (Wardoyo, 2013). Beberapa tokoh dibalik lahirnya teori belajar kognitif, diantaranya adalah Jean Piaget, Lev Vygotsky, Robert Gagne, Jerome Bruner, dan David Ausubel. Pada penelitian ini peneliti hanya akan menggunakan teori belajar menurut Bruner.

2. Kontribusi Bruner Dalam Dunia Pendidikan

Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dari Universitas Havard, Amerika Serikat. Bruner telah mempelopori aliran

(41)

psikologi belajar kognitif yang memberikan dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar atau memperoleh pengetahuan, menyimpan pengetahuan dan mentransformasikan pengetahuan. Dalam mempelajari manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping hubungan yang terkait antar konsep-konsep dan struktur-struktur. Dengan mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak.

Menurut Bruner belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki siswa. Dengan demikian, dalam belajar siswa haruslah terlibat aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur dalam materi yang sedang dibicarakan. Dengan demikian materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami oleh anak (Sujadi, dkk, 2017 : 71-72).

Lebih lanjut lagi Bruner mengemukakan proses belajar lebih ditentukan oleh bagaimana cara siswa mengatur dan mengolah materi pelajaran bukan ditentukan oleh umur. Teori belajar bruner memunculkan aplikasi dalam dunia pendidikan dalam bentuk discovery learning. Menurut Bruner perkembangan kogitif seseorang dapat ditingkatkan

(42)

dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dengan tahap perkembangan individu tersebut. Hal ini disebabkan teori ini menuntut adanya pengulangan-pengulangan untuk memperkuat asimilasi dan akomodasi pengetahuan baru (Irham dan Novan, 2014 : 173 - 175) .

Dalam bukunya Bruner mengemukakan empat tema pendidikan, yakni : tema pertama, pentingnya arti struktur pengetahuan. Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan, karena dalam struktur pengetahuan kita menolong para siswa untuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak memiliki hubungan, dapat dihubungkan satu dengan lainnya, dan pada informasi yang telah mereka miliki.

Tema kedua ialah tentang kesiapan (readiness) untuk belajar. Menurut Bruner, kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai keterampilan yang lebih tinggi.

Tema yang ketiga menekankan Nilai intuisi dalam proses pendidikan. Intuisi yang dimaksud ialah teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi tentatif tanpa mengetahui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi itu merupakan kesimpulan yang salah atau tidak.

Tema keempat ialah tentang motivasi atau keinginan untuk belajar cara-cara yang tersedia pada para guru untuk meransang motivasi itu. Pengalaman-pengalaman pendidikan yang meransang motivasi ialah pengalaman dimana para siswa berpartisipasi secara aktif dalam menghadapi alamnya (Dahar, 2006 : 74).

3. Belajar Sebagai Proses Kognitif

Menurut Bruner dalam belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah : (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevan informasi dan ketepatan pengetahuan. Dalam belajar informasi baru merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki

(43)

seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Kita menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.

Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip, yaitu: (1) pengetahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasi pada kegunaan bagi orang yang bersangkutan.

Pendewasaan pertumbuhan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang menurut Bruner adalah sebagai berikut.

a. Pertumbuhan intelektual ditunjukkan oleh bertambahnya

ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Dalam hal ini ada kalanya seorang anak mempertahankan suatu respons dalam lingkungan stimulus yang berubah-ubah, atau belajar mengubah responnya dalam lingkungan stimulus yang tidak berubah. Melalui pertumbuhan, seseorang memperoleh kebebasan dari pengontrolan stimulus melalui proses-proses perantara yang mengubah stimulus sebelum respons.

b. Pertumbuhan intelektual tergantung pada bagaimana seseorang

menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu sistem simpanan (storage system) yang sesuai dengan lingkungan. Sistem inilah yang memungkinkan peningkatan kemampuan anak untuk bertindak di atas informasi yang diperoleh pada suatu kesempatan. Ia melakukan ini dengan membuat ramalan-ramalan, dan ektrapolasi-ekstrapolasi dari model alam yang disimpannya.

(44)

c. Pertumbuhan intelektual menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk berkata pada dirinya sendiri atau pada orang lain, dengan pertolongan kata-kata dan simbol-simbol, apa yang telah dilakukan atau apa yang dilakukan (Sujadi, dkk, 2017 : 72-73).

4. Tahapan Belajar Teori Bruner

Menurut Bruner, mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat ke arah yang abstrak. Cara mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif bagi siswa ialah dengan mengkoordinasikan mode penyajian bahan dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan siswa. Tingkat kemajuan siswa berawal dari tingkat representasi sensory (enactive) ke representasi konkret (iconic) dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak atau symbolic (Dalyono, 2009 : 42).

Lebih lanjut Bruner menyatakan bahwa perkembangan kognitif seseorang dibedakan menjadi tiga tahap, yaitu :

a. Tahap enaktif

Tahap ini adalah tahap dimana seseorang dalam memahami sesuatu (lingkungannya) dilakukan dengan cara melakukan aktivitas atau tindakan secara konkret. Tahap enaktif lebih mendasar kepada faktor pengalaman yang dilakukan oleh individu dalam upaya belajar sesuatu (Wardoyo,2013).

Menurut Isrok’atun dan Amelia (2018:14) pada tahap ini siswa melakukan pembelajaran matematika, dengan langsung melibatkan benda-benda konkret yang dapat dioperasikan. Tahap ini siswa berusaha untuk memahami pengoperasian benda konkret sebagai dasar untuk melanjutkan pada tahap berikutnya. Sehubungan dengan itu, salah satu contoh penerapan pada tahap ini yaitu proses

(45)

pembelajaran matematika menggunakan benda nyata seperti makanan dan kertas untuk mempelajari konsep pecahan.

Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi, cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian masa lampau melalui respon-respon motorik. Dengan cara ini dilakukan satu set kegiatan untuk mencapai hasil tertentu (Dahar, 2006 :78).

b. Tahap ikonik

Tahapan ini adalah mendasarkan pada rangsang visual seseorang terhadap sesuatu yang dapat dipelajarinya, artinya bahwa pada tahapan ikonik, seseorang belajar melalui rangkaian gambar-gambar visual yang mengarah pada suatu materi belajar yang kemudian ditangkap oleh indra mata pembelajar, sehingga materi tersebut dapat dipahami sebagai suatu konsep yang utuh (Wardoyo,2013).

Menurut Isrok’atun dan Amelia (2018:15) pada tahap ikonik, pembelajaran tidak lagi menggunakan benda-benda konkret, tetapi dapat merepresentasikan benda-benda konkret dalam bentuk gambar hasil perwujudan dari tahap enaktif. Benda konkret yang digunakan pada penelitian ini direpresentasikan ke dalam gambar yang menyerupainya. Representasi gambar tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep hasil dari tahap enaktif. Gambar-gambar membantu siswa dalam menerangkan dan menjelaskan bagaimana konsep matematika.

Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan belajar dengan memanipulasi benda konkret, yang kemudian dibentuk dalam pikiran bayangan mental dari benda tersebut. Siswa tidak memanipulasi langsung objek itu seperti tahap enaktif, melainkan sudah dapat memanipulasi langsung dengan menggunakan gambaran dari objek. Gambaran itu dapat berupa gambar, patung, atau maniatur yang

(46)

mempresentasikan dalam pikiran, peristiwa / benda yang dikenal atau dialami pada level enaktif, ini berarti siswa menggunakan model semi konkret atau semi abstrak. (Mandasari, 2018)

Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefenisikan sepenuhnya konsep itu. Penyajian enaktif didasarkan pada belajar tentang respon dan bentuk-bentuk kebiasaan (Dahar, 2006 :78).

c. Tahap simbolik

Tahapan ini adalah tahapan dimana seseorang telah memiliki gagasan-gagasan abstrak yang dipengaruhi oleh faktor bahasa dan logika. Pada tahapan ini seseorang telah mampu menemukan sesuatu didasarkan pada kemampuan bahasa dan logika yang ada (Wardoyo,2013).

Menurut Isrok’atun dan Amelia (2018:15) tahap simbolik merupakan tahap terakhir ketika siswa dapat menuliskan simbol-simbol matematika abstrak, hasil dari pemahaman pada tahap enaktif dan ikonik. Representasi gambar yang terdapat selama tahap simbolik dituliskan ke dalam simbol matematika, yang berkaitan seperti bilangan pecahan, nilai uang dan lain-lain. Kegiatan ini mengarahkan siswa untuk berpikir formal. Pada tahap ini juga siswa berusaha memahami suatu presentasi matematika.

Cara penyajian simbolik didasarkan pada penggunaan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang yang lebih memerhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek, memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep, memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara yang bersifat kombinasi (Dahar, 2006 :79).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :