• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman Perilaku organisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rangkuman Perilaku organisasi"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

MODEL PERILAKU ORGANISASI MODEL PERILAKU ORGANISASI

 Menurut Duncan (Thoha, 2005),Duncan (Thoha, 2005), perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.

 Menurut Duncan dalam Thoha (2007:5)Duncan dalam Thoha (2007:5) hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam suatu perilaku organisasi adalah sebagai berikut:

a) Studi perilaku organisasi termasuk didalamnya bagian-bagian yang relevan dari semua ilmu tingkah laku yang berusaha menjelaskan

b) Tindakan-tindakan manusia didalam organisasi.

c) Perilaku organisasi sebagaiman suatu disiplin ilmu mengenai bahwa individu dipengaruhi oleh bagaimana pekerjaan diatur adan siapa yang bertanggung jawab untuk pelaksanaannya.

d) Walaupun dikenal adanya keunikan pada individu, namun perilaku organisasi masih memusatkan pada kebutuhan manajer untuk menjamin bahwa keseluruhan tugas pekerjaan yang bisa dijalankan.

 MenurutLarry L. Cummings (Thoha, 2005)Larry L. Cummings (Thoha, 2005), perbedaan dari perilaku organisasi dengan disiplin ilmu lain yang erat hubungannya dengan ilmu perilaku adalah sebagai berikut: 1. Perbedaan antara perilaku organisasi dengan psikologi organisasiantara perilaku organisasi dengan psikologi organisasi, antara lain:

psikologi organisasi membatasi konstruksi penjelasannya pada tingkat psikologi saja, akan tetapi perilaku organisasi konstruksi penjelasannya berasal dari multi disiplin. Kesamaan keduanya ialah kedua bidang tersebut menjelskan perilaku orang-orang di dalam suatu organisasi.

2. Perbedaan antara perilaku organisasi dengan teori organisasiantara perilaku organisasi dengan teori organisasi didasarkan pada dua perbedaan antaranya unit analisisnya dan pusat variabel tak bebas. Perilaku organisasi dirumuskan sebagai suatu studi dari tingkah laku individu dan kelompok di dalam suatu organisasi dan penerapan dari ilmu pengetahuan tertentu. Teori organisasi adalah studi tentang susunan, proses, dan hasil-hasil dari organisasi itu sendiri.

3. Perbedaanantara perilaku organisasi dengan personnel dan human resourcesantara perilaku organisasi dengan personnel dan human resources adalah, bahwa perilaku organisasi lebih menekankan pada orientasi konsep, sedangkan personnel dan human resources (P&HR) menekankan pada teknik dan teknologi. Variabel-variabel tak bebas, seperti misalnya tingkah laku dan reaksi-reaksi yang efektif dalam organisasi, seringkali muncul pada keduanya. P&HR nampaknya berada pada permukaan antara organisasi dan individu dengan menekankan pada pengembangan dan pelaksanaan sistem pengangkatan, pengembangan, dan motivasi dari individu-individu di dalam suatu organisasi.

(2)

 Menurut Davis dan Newstorm (1985),Davis dan Newstorm (1985), ada empat model perilaku organisasi yang menunjukkan evolusi pemikiran dan perilaku pada bagian manajemen dan manajer.

Empat model atau kerangka kerja organisasi adalah: Empat model atau kerangka kerja organisasi adalah:

1. OtokratisOtokratis – Dasar dari model ini adalah kekuatan dengan orientasi manajerial otoritas. Para karyawan pada gilirannya berorientasi terhadap ketaatan dan ketergantungan pada bos. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah subsisten. Hasil kinerja minimal. 2. KustodianKustodian – Dasar dari model ini adalah sumber daya ekonomi dengan orientasi

manajerial uang. Para karyawan pada gilirannya berorientasi pada keamanan dan manfaat dan ketergantungan pada organisasi. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah keamanan. Hasil kinerja adalah kerjasama pasif.

3. Mendukung Mendukung – Dasar dari model ini adalah kepemimpinan dengan orientasi manajerial dukungan. Para karyawan pada gilirannya berorientasi terhadap prestasi kerja dan partisipasi. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah status dan pengakuan. Hasil kinerja terbangun drive.

4. KolegialKolegial – Dasar dari model ini adalah kemitraan dengan orientasi manajerial kerja sama tim. Para karyawan pada gilirannya berorientasi ke arah perilaku yang bertanggung jawab dan disiplin diri. Kebutuhan karyawan yang terpenuhi adalah aktualisasi diri. Hasil kinerja adalah antusiasme moderat.

 Indik (Soedijanto, 1980)Indik (Soedijanto, 1980) menyatakan bahwa untuk menganalisis suatu organisasi sebagai suatu sistem sosial dapat dilakukan dengan menganalisis komponen:

(1) taksonomi (sistem) organisasi; (2) struktur organisasi;

(3) proses organisasi; dan

(4) individu yang terlibat dalam organisasi.

 Menurut Ginting (Rosa, 2001), Ginting (Rosa, 2001), agar organisasi sebagai suatu sistem sosial dapat bergerak dinamis maka diperlukan aspek kepemimpinan yang berkaitan dengan keempat komponen lainnya. Komponen kepemimpinan memiliki peranan yang lebih spesifik dan menjadi lebih kompleks apabila organisasi menjadi lebih formal. Seluruh komponen organisasi, yaitu kepemimpinan dan empat komponen lainnya saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan organisasi dan terdiri atas beberapa variabel yang dapat mempengaruhi tingkat dinamika organisasi.

Prilaku organisasi

Prilaku organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.

Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi

(3)

mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasidan keberhasilan kerja, yang diantaranya membahas tentang Kepribadian dan Emosi, kedua hal tersebut sangat berkaitan erat dengan prilaku organisasi.

Kepribadian dan emosi akan mempengaruhi individu didalam sebuah organisasi. Maka dari itu sangat diperlukan seseorang untuk tahu dan mengerti apa itu kepribadian dan emosi baik dari segi pengertian, ciri – ciri, dll. Dengan penguasaan materi tentang Kepribadian dan Emosi ini diharapkan setiap individu akan bisa menempatkan dirinya didalam sebuah organisasi setelah menguasai materi tersebut. Keberhasilan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh setiap individu di dalamnya.

Model Dasar Perilaku Organisasi Model Dasar Perilaku Organisasi

DASAR-DASAR PERILAKU KELOMPOK DASAR-DASAR PERILAKU KELOMPOK

1. STRUKTUR KERJA 2. TIM KERJA 3. KOMUNIKAASI 4. KEPEMIMPINAN

5. KEKUASAAN DAN POLITIK 6. MANAJEMEN KONFLIK

(4)

ORGANISASI

adalah sekumpulan orang yang mengadakan pembagian pekerjaan yang dikoordinasikan untuk mencapai tujuan bersama.

MANAJEMEN MANAJEMEN

Yaitu suatu Proses mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efektif dan efisien dengan dan atau melalui orang lain.

MANAJER MANAJER

adalah anggota organisasi yang memadukan dan mengkoordinasikan pekerjaan orang lain dalam mencapai sasaran.

KERJA OPERASIONAL KERJA OPERASIONAL

Pekerjaan dilakukan untuk mencapai hasil melalui usaha sendiri dan bukan melalui orang lain.

KERJA SUPERVISI KERJA SUPERVISI.

Usaha merencanakan, mengkoordinir, mengarahkan dan mengendalikan, bertujuan untuk mencapai hasil melalui orang lain.

(5)

POAC

 Kompetensi yang harus dimiliki seorang Manajer

1. ConceptualConceptual, Kemampuan mental untuk menganalisa / mendiagnosa situasi

2. HumanHuman, Kemampuan bekerja sama, memahami dan memotivasi orang lain, secara perorangan maupun dalam kelompok

3. Technical,Technical, Kemampuan menerapkan pengetahuan dan keterampilan khusus

 GENERALISASI PERILAKU

1. Pekerja bahagia – pekerja produktif

2. Orang akan produktif jika atasan ramah, dipercayai bisa diajak kerja sama 3. Semua orang menginginkan pekerjaan yang menantang

4. Orang harus diancam agar bekerja bagus

(6)

LEVEL DALAM ORGANISASI

Apakah definisi dari Kepribadian dan emosi, ciri

Apakah definisi dari Kepribadian dan emosi, ciri –– ciri, dimensi emosi, serta pengaruhnya ciri, dimensi emosi, serta pengaruhnya terhadap p

terhadap prilaku darilaku dalam lam organisasi ?organisasi ? A.

A. Pengertian KepribadianPengertian Kepribadian

Kepribadian menurut psikologi psikologi

Berdasarkan penjelasan Gordon AllportGordon Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan olehGordon W. Allport (Calvin S.Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005)

Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri.

dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964)

Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi

(7)

kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Kepribadian

Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan dan berperilaku yang relatif stabil dan dapat diperkirakan(Dorland, 2002).(Dorland, 2002).

Kepribadian

Kepribadian juga merupakan jumlah total kecenderungan bawaan atau herediter dengan berbagai pengaruh dari lingkungan serta pendidikan, yang membentuk kondisi kejiwaan seseorang dan mempengaruhi sikapnya terhadap kehidupan(Weller, 2005)(Weller, 2005).

Berdasarkan penger

Berdasarkan pengertian tian tersebut, dapat disimpulkan bahtersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian meliputiwa kepribadian meliputi segala corak perilaku

segala corak perilaku dan sifat yang dan sifat yang khas dan dkhas dan dapat diperkirakapat diperkirakan pada an pada diri seseorang, yangdiri seseorang, yang digunakan untuk bere

digunakan untuk bereaksi dan menyesuaikan diraksi dan menyesuaikan diri terhadap rangsangan, i terhadap rangsangan, sehingga coraksehingga corak tingkah lakunya itu merup

tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan funakan satu kesatuan fungsional yang gsional yang khas bagi individu itu.khas bagi individu itu.

 Kepribadian menurut pengertian sehari-hariKepribadian menurut pengertian sehari-hari

Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”“berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut“berkepribadian “berkepribadian supel”supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut“tidak punya kepribadian”“tidak punya kepribadian”.

I.

I. Faktor Penentu KepribadianFaktor Penentu Kepribadian

 Faktor keturunanFaktor keturunan

Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu. Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang.

Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut.

(8)

Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain,

kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.

 Faktor lingkunganFaktor lingkungan

Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan dimana seseorang tumbuh dan dibesarkan norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial, dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami.

Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain.

Misalnya, orang orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melaluibuku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.

II.

II. CiriCiri –– ciri Kepribadian ciri Kepribadian

Semakin konsisten karakteristik individu dan semakin sering terjadi dalam berbagai situasi, maka semakin penting ciri-ciri itu untuk menggambarkan individu.

1. Pencarian awal atas ciri-ciri primerPencarian awal atas ciri-ciri primer : Ada 16 ciri-ciri yang dianggap sebagai sumber perilaku yang konstan dan mantap yaitu : pendiam– ramah, kurang cerdas – lebih cerdas, dipengaruhi oleh perasaan – stabil secara emosional, penurut– dominan, serius – tak kenal susah, bijaksana– berhati-hati, malu-malu – suka bertualang, keras – sensitif, percaya – curiga, praktis – imaginatif, jujur – lihai, yakin – ragu-ragu, konservatif, suka

(9)

bereksperimen, tergantung kelompok – mandiri, tak terkendali – terkendali, santai – tegang.

2. The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) : adalah salah satu kerangka kerja kepribadian dengan 100 pertanyaan yang menanyakan kepada orang bagaimana mereka biasanya bertindak atau merasa dalam situasi tertentu. Individu pada akhirnya akan diklasifikasikan sebagai ekstrovet (E) dan intovert (I), sensing (S) atau intuitif (N), berpikir (T) atau merasa (F), dan memahami (P) atau menilai (J). Hasilnya nanti akan dirangkai seperti misalnya INTJ dalah kaum visioner, ESTJ adalah pengorganisasi, ENTP adalah pengagas, dllnya.

3. Model lima besarModel lima besar : adalah 5 dimensi dasar hasil riset terbaru yang melandasi semua ciri dan meliputi sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia, yaitu :

a) Ekstraversi : mencakup tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Orang yang ekstravert akan cenderung suka berkelompok, tegas, dan mampu bersosialisasi. Kaum introvert cenderung pendiam, malu-malu, dan tenang. b) Kemampuan untuk bersepakat : merujuk pada kecennderungan untuk tunduk pada

orang lain. Orang yang skornya tinggi akan kooperatif, hangat, dan percaya. Sedangkan yang rendah akan dingin, tidak mampu bersepakat, dan antagonistik.

c) Sifat mendengarkan suara hati : merupakan ukuran dari keandalan. Orang yang peka terhadap suara hati akan bertanggung jawab, terorganisir, dapat dipercaya, dan gigih. Sedangkan yang sebaliknya akan mudah bingung, tidak terorganisir, dan tidak handal.

d) Stabilitas emosional : merujuk pada kemampuan untuk bertahan terhadap stress. Orang yang skornya tinggi akan cenderung tenang, percaya diri, dan aman. Yang sebalinya akan cenderung gelisah, cemas, gugup, tertekan, dan tidak aman. e) Keterbukaan terhadap pengalaman : merujuk pada kisaran minat individual dan

kekaguman terhadap hal baru. Orang yang terbuka akan kreatif, ingin tahu, dan sensitif secara artistik. Sedangkan yang sebaliknya akan konvensional dan menemukan kenyamanan dalam keakraban.

Penelitian atas kredibilitas Lima Besar ini menghasilkan sejumlah besar bukti bahwa individu yang dapat dipercaya, andal, hati-hati, teliti, mampu membuat rencana, terorganisasi, kerja keras, gigih, dan berorientasi pada prestasi cenderung memilki jabatan yang lebih tinggi dalam sebagian besar atau semua kedudukan.

III.

III. Kepribadian Utama Yang Mempengaruhi Prilaku OrganisasiKepribadian Utama Yang Mempengaruhi Prilaku Organisasi Evaluasi inti diri

(10)

Evaluasi inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya atas lingkungan mereka.

Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama:harga diriharga diri dan

lokus kendali

lokus kendali. Harga diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak berharga sebagai seorang manusia.

Machiavellianisme Machiavellianisme

Machiavellianisme adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses. Karakteristik kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo Machiavelli, penulis pada abad keenam belas yang menulis tentang cara mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.

Narsisisme Narsisisme

Narsisme adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri sendiri. Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai pemimpin yang lebih buruk.

Individu narsisis seringkali ingin mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan mereka sehingga individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan berbicara kasar kepada individu yang mengancam mereka. Individu narsisis juga cenderung egoisdan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya.

Pemantauan diri Pemantauan diri

Pemantauan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional eksternal. Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional eksternal.

Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat pemantauan diri yang rendah.

(11)

Kepribadian tipe A Kepribadian tipe A

Kepribadian tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan terus-menerus untuk mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain. Dalam kultur Amerika Utara, karakteristik ini cenderung dihargai dan dikaitkan secara positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang material yang berhasil.

Karakteristik tipe A adalah:

a. selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat; b. merasa tidak sabaran;

c. berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;

d. tidak dapat menikmati waktu luang;

e. terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh.

kepribadian tipe B kepribadian tipe B

kepribadian tipe B adalah individu yang tidak agresif, yakni orang yang kurang memiliki hasrat untuk memperoleh sesuatu yang banyak dalam waktu yang cepat.

Karakteristik tipe B adalah:

a. Tidak pernah menderita rasa akan pentingya waktu

b. Tidak merasakan perlunya memperagakan atau membahas prestasi mereka kecuali diminta

c. Bermain untuk kesenangan dan kesantaian, bukannya untuk memperaggakan keunggulan mereka

d. Dapat santai tanpa rasa salah

Kepribadian proaktif Kepribadian proaktif

Kepribadian proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan.

Kepribadian Dan Budaya Nasional Kepribadian Dan Budaya Nasional

Tidak ada tipe kepribadian umum untuk satu negara tertentu. Namun budaya suatu negara mempengaruhi karakteristik yang dominan dari penduduknya, Ini dapat dilihat dengan memperhatikan lokus kendali dan kepribadian tipe A. Misalnya saja, dalam budaya seperti Amerika Utara, orang percaya bahwa mereka dapat mendominasi lingkungan mereka, sebaliknya dengan orang-orang di Timur Tengah. Hal ini menyebabkan proporsi orang-orang

(12)

internal dalam angkatan kerja Amerika lebih besar daripada angkatan kerja Arab saudi dan Iran.

Sedangkan kepribadian tipe A akan paling banyak di negara-negara kapitalis, misalnya Amerika dan Kanada, dimana prestasi dan keberhasilan material sangat dihargai. Sementara dinegara seperti Swedia dan Prancis tidak.

Mencapai Kecocokan Kepribadian Mencapai Kecocokan Kepribadian

Kecocokan orang dengan pekerjaan adalah mencocokkan enam tipe kepribadian dan mengemukakan bahwa kecocokkan antara tipe kepribadian dan lingkungan kedudukan menentukan kepuasan dan keluar masuknya karyawan. Teori ini dikemukakan oleh John John Holland

Holland, tipe-tipenya antara lain :

a.RealistisRealistis : menyukai kegiatan fisik yang menuntut ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi. Karakternya adalah pemalu, tahan, stabil, mudah menyesuaikan diri, dan praktis. b. InvestigatifInvestigatif : menyukai kegiatan yang mencakup pemikiran, pengorganisasian, dan

pemahaman. Karakternya adalah analitis, asli, ingin tahu, dan independen. c. SosialSosial : menyukai kegiatan yang mencakup membantu dan mengembangkan yang lain.

Karakternya adalah mampu bergaul, bersahabat, kooperatif, dan memahami.

d. Konvensional Konvensional : menyukai kegiatan yang diatur dengan peraturan, jelas, dan tidak bersifat mendua. Karakternya adalah mudahmenyesuaikan diri, efisien, praktis, tidak imaginatif, tidak luwes.

e. Enterprising . Enterprising : menyukai kegiatan verbal dimana ada peluang untuk mempengaruhi yang lai dan mendapatkan kekuasaan. Karakternya adalah percaya diri, ambisi, energetik, dan mendominasi.

f. ArtistikArtistik : menyukai kegiatan yang bersifat mendua dan tidak sistematik, yang memungkinkan ekspresi yang kreatif. Karakternya adalah imaginatif, tidak teratur, idealistis, emosional, dan tidak praktis.

Teori ini mengatakan bahwa kepuasan paling tinggi berarti keluar masuknya karyawan paling rendah bila kepribadian dan kedudukan/jenis pekerjaannya sesuai.

Kecocokan organisasi-orang : yaitu bahwa orang meninggalkan pekerjaan yang tidak cocok dengan kepribadiannya.

B.

(13)

Berkaitan dengan emosi, ada 3 hal yang terjalin erat satu sama lain, yaitu pengaruh (affect), emosi, dan suasana hati (mood). Pengaruh meliputi kisaran luas perasaan yang dialami orang, merupakan satu konsep yang meliputi baik emosi maupun suasana hati. Akhirnya, suasana hati adalah perasaan yang cenderung menjadi kirang intens dibandingkan emosi, dan yang kekurangan stimulus kontekstual.

Emosi adalah reaksi terhadap suatu objek, bukan suatu sifat. Sedangkan suasana hati tidak dikaitkan dengan suatu objek. Emosi dapat berubah menjadi suasana hati bila kita kehilangan fokus pada objek yang kontekstual.

Berkaitan dengan perilaku organisasi, satu istilah yang terkait adalah tenaga kerja emosional, yang terjadi apabila karyawan mengekspresikan secara organisasional emosi yang diinginkannya selama transaksi antar pribadi. Dulunya konsep ini dikembangkan berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan jasa, namun dewasa ini konsep tersebut telah menjadi relevan dengan hampir setiap pekerjaan. Dalam tuntutannya, karyawan perlu membedakan antara emosi yang dirasakan dengan emosi yang ditunjukkan agar tidak terjadi dilema.

Istilah emosi menurutDaniel Goleman (1995)Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, yang diambil dari Oxford English Dictionary memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. MenurutChaplin (1989)Chaplin (1989) dalam Dictionary of psychology, emosi adalah sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Chaplin (1989) membedakan emosi dengan perasaan, parasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

MenurutCrow & Crow (1958)Crow & Crow (1958), emosi adalah “an emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental and physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert behaviour”. Jadi, emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik.

MenurutHurlock (1990)Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang emosinya yaitu:

a. Dapat melakukan kontrol diriDapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara social atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial.

(14)

b.Pemahaman diriPemahaman diri. Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat c.Menggunakan kemampuan kritis mental.Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut Kematangan emosi (Wolman dalam Puspitasari, 2002) dapat didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh perkembangan emosi dan pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan usia dewasa dari pada bertingkahlaku seperti anak-anak. Semakin bertambah usia individu diharapkan dapat melihat segala sesuatunya secara obyektif, mampu membedakan perasaan dan kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta dari pada perasaan.

Menurut Kartono (1988)Kartono (1988) kematangan emosi sebagai kedewasaan dari segi emosional dalam artian individu tidak lagi terombang ambing oleh motif kekanak- kanakan. Chaplin (2001) menambahkan emosional maturity adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi dan karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola emosional yang tidak pantas.

Smith (1995)

Smith (1995) mendefinisikan kematangan emosi menghubungkan dengan karakteristik orang yang berkepribadian matang. Orang yang demikian mampu mengekspresikan rasa cinta dan takutnya secara cepat dan spontan. Sedangkan pribadi yang tidak matang memiliki kebiasaan menghambat perasaan- perasaannya. Sehingga dapat dikatakan pribadi yang matang dapat mengarahkan energi emosi ke aktivitas-aktivitas yang sifatnya kreatif dan produktif.

Senada dengan pendapat di atas Covey (dalam Puspitasari, 2002)Covey (dalam Puspitasari, 2002) mengemukakan bahwa kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.

Menurut pandanganSkinner (1977)Skinner (1977) esensi kematangan emosi melibatkan kontrol emosi yang berarti bahwa seseorang mampu memelihara perasaannya, dapat meredam emosinya, meredam balas dendam dalam kegelisahannya, tidak dapat mengubah moodnya, tidak mudah berubah pendirian.

Kematangan emosi juga dapat dikatakan sebagai proses belajar untuk mengembangkan cinta secara sempurna dan luas dimana hal itu menjadikan reaksi pilihan individu sehingga secara otomatis dapat mengubah emosi-emosi yang ada dalam diri manusia(Hwarmstrong,(Hwarmstrong, 2005).

2005).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.

(15)

a.

a. Dimensi emosiDimensi emosi

Emosi ada beberapa jenis berdasarkan :

1. VarietasVarietas : riset mengidentifikasikan enam emosi yang universal, yaitu kemarahan, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, kejijikan, dan kejutan. Enam emosi ini dapat dikonseptualisasikan sebagai terus ada sepanjang satu kontinuum, dimana semakin dekat jarak dua emosi apapun pada kontinuum tersebut akan semakin membingungkan orang. Contohnya adalah kebahagiaan dan kejutan sering dikacaukan, sementara kebahagiaan dan kemuakan jarang sekali.

2. IntensitasIntensitas : ekspresi yang berbeda dari intensitas emosi yang sama bisa disebabkan dari kepribadian ataupun tuntutan ditempat kerja. Ada orang yang terkendali, tidak pernah memperlihatkan rasa marah, namun ada pula yang sebaliknya. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan pekerjaan. Presenter misalnya, harus menunjukkan intensitas emosi yang sesuai dengan acara yang dibawakannya.

3. Frekuensi dan durasiFrekuensi dan durasi : frekuensi dan durasi yang diperlukan untuk tenaga kerja emosional juga harus disesuaikan dengan kemampuan frekuensi dan durasi yang dimiliki karyawan.

b.

b. Jenis kelamin dan emosi Jenis kelamin dan emosi

Bukti menunjukkan bahwa perbedaan antara pria dan wanita dalam hal emosi adalah bila menyangkut reaksi emosional dan kemampuan untuk membaca orang lain. Wanita menunjukkan ungkapan emosi yang lebih besar daripada pria, mengalami emosi secara lebih hebat, lebih nyaman dalammengungkapkan emosi, lebih baik dalam membaca petunjuk-petunjuk non-verbal dan paralinguistik, dan lebih sering menampilkan ekspresi dari emosi yang positif maupun negatif, kecuali kemarahan.

 Batasan-batasan eksternal terhadap emosi,ada 2 yaitu:Batasan-batasan eksternal terhadap emosi,ada 2 yaitu:

1. Pengaruh organisasionalPengaruh organisasional, menyesuaikan dengan perangkat emosional yang dicari organisasi.

(16)

BAB 2

FONDASI PERILAKU INDIVIDU FONDASI PERILAKU INDIVIDU

Manusia adalah makhluk yang unik. Setiap individu berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan ini akan menyebabkan individu-individupun berperilaku tidak seragam. Mungkin seorang individu akan berperilaku menyebalkan sementara individu yang lain berperilaku ramah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seorang individu, terutama perilaku individu di dalamsebuah organisasi:

1.Karakteristik biografisKarakteristik biografis

Yaitu karakteristik pribadi seperti umur, jenis kelamin, dan status kawin yang objektif dan mudah diperoleh dari rekaman pribadi.

a. Umur (age)

1. Turnover: semakin tua seseorang, kecil kemungkinan berhenti dari pekerjaan 2. Kemangkiran: semakin tua seseorang tingkat kemangkiran rendah pada kondisi

absen dapat dihindari. Absen tinggi pada absen pada kondisi absen tidak dapat dihindari (mis: kondisi kesehatan)

3. Produktivitas: Tidak ada hubungan usia dengan kinerja. Kesimpulan yang wajar, tuntutan dari banyak pekerjaan bahkan pekerjaan dengan persyaratan kerja tangan yang berat tidak cukup ekstrem untuk kemerosotan keterampilan jasmani apapun yang disebabkan oleh usia sehingga berdampak pada

produktivitas.

4. Kepuasan: tergantung pada karyawan profesional atau tidak profesional. Jika kedua tipe ini dipisah, maka kepuasan cenderung terus menerus meningkat diantara profesional dengan bertambahnya usia mereka, sedang yang non profesional kepuasan merosot selama usia setengah baya dan kemudian naik lagi pada tahun yang terakhir/belakangan.

b. Jenis kelamin (gender)

1. Turnover: tidak ada bukti konsisten, sebagian menyatakan wanita lebih tinggi turnover

(keluar) sebagian lain menyatakan tidak ada bukti.

2. Kemangkiran: tidak ada bukti konsisten, beberapa riset mengemukakan wanita mempunyai tingkat keluar lebih tinggi, namun yang lain menyatakan tidak ada perbedaan. Yang paling logis adalah riset yang menempatkan tangung jawab

(17)

rumah tangga dan keluarga pada wanita, wanita lebih sering cuti akibat urusan anak dan rumah tangga.

3. Produktivitas: Tidak ada beda yang nyata dan konsisten antara pria dan wanita dalam kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analitis, dorongan kmpetitit, motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar. Sementara studi psikologis menemukan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi otoritas, dan bahwa pria lebih agresif dan lebih besar kemungkinan daripada wanita dalam memiliki pengharapan sukses.

4. Kepuasan: Tidak ada bukti konsisten tentang kepuasan kerja pria dan wanita. c. Status perkawinan, terhadap:

1. Turnover: karyawan yang menikah lebih rendah tingkat keluar/pergantiannya 2. Kemangkiran: karyawan yang menikah lebih rendah absensinya

3.

3. Produktivitas: tidak cukup bukti/tidak konsisten 4.

4. Kepuasan: karyawan yang menikah lebih puas dengan pekerjaannya.

d. Banyak tanggungan, terhadap: 1. Turnover: tidak konsisten

2. Kemangkiran: semakin banyak anak semakin banyak absen, terutama wanita

3.

3. Produktivitas: tidak cukup bukti 4.

4. Kepuasan: semakin banyak anak semakin tinggi kepuasan.

e. Lama bekerja, terhadap:

1. Turnover: seorang yang telah lama bekerja memiliki keinginan keluar yang rendah.

2. Kemangkiran: seorang yang telah lama bekerja memiliki tingkat absen yang rendah.

3.

3. Produktivitas: lama bekerja tidak menentukan produktivitas

4. Kepuasan: seorang yang telah lama bekerja memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi.

2.KemampuanKemampuan

Kemampuan merupakan kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.

Kemampuan individu dibedakan menjadi 2:

1). Kemampuan Fisik: Stamina, kecekatan, kekuatan

2). Kemampuan Intelejensi (Intelegencee Quotient/IQ): kemahiran berhitung, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, ingatan.

(18)

Beberapa penelitian belakangan menemukan bahwa kemampuan manusia sebenarnya masih ada dua macam lagi, yakni:

1). Kemampuan Emosional (Emotional Question/EQ): penghargaan diri, emosional kesadaran diri, ketegasan, kebebasan, aktualisasi diri; empati, pertanggungjawaban sosial, hubungan interpersonal; tes kenyataan, flexibilitas, pemecahan masalah; daya tahan stress, kontrol impuls (gerak hati); optimisme, kebahagiaan.

2). Kemampuan Spritual (Spritual Question/SQ): Mental Building, Personal Strength, Social Strength.

.

3. Kepribadian 3. Kepribadian

Merupakan cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. kepribadian terbentuk dari faktor keturunan, juga lingkungan (budaya, norma keluarga dan pengaruh lainnya), dan juga situasi.

 ciri dari kepribadian adalah :

merupakan karakteristik yang bertahan, yang membedakan perilaku seorang individu, seperti sifat malu, agresif, mengalah, malas, ambisius, setia.

 Sejarah awal kepribadian:

a). Ilmu wajah (pshiognomi) b). Ilmu perbintangan (astronomi) c). Ilmu tulisan (grafologi)

 Struktur kepribadian (Psikoanalitis Segmund Freud):

a). Das Es (Id): Aspek biologis: pengharapan yang ingin cepat dipuaskan ditunjukkan lewat libido dan agresi.

b). Das Ich (Ego): Aspek psikologis: menggunakan aspek logika dengan prinsip realitas. Menghubungkan keinginan id ke dunia luar untuk mendapatkan pemuasan kebutuhan, dan mempertimbangkan apakah dapat memuaskan atau tidak

c). Das ueber Ich (Superego): Aspek Sosial: memandang norma apakah sesuatu itu benar atau salah.

 Sumber Terbentuknya Kepribadian :

a). Genetis (keturunan) b). Lingkungan

4. Proses

4. Proses belajar (pembelajaran)belajar (pembelajaran)

1) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.

2) Komponen dari definisi belajar di atas: - Belajar menghasilkan perubahan

(19)

3). Teori Pembelajaran

teori classical conditioning. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan memberikan tanggapan terhadap sebuah stimulus tertentu karena belajar, padahal sebelumnya individu tersebut tidak memberikan respon apa-apa terhadap stimulus tersebut. Respon terhadap stimulus timbul karena individu dikondisikan untuk bereaksi dengan pembiasaan secara terus menerus. Pengkondisian klasik pada hakikatnya, mempelajari respon terkondisi yang melibatkan pembinaan ikatan antara rangsangan tak tekondisi, dengan menggunakan rangsangan berpasangan yang satu memaksa dan yang lain berpasangan, rangsangan netral menjadi rangsangan terkondisi dan yang lain meneruskan rangsangan-rangsangan tak terkondisi.

Teori operant conditioning menjelaskan bahwa individu akan berperilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat yang akan ditimbulkan apabila perilaku tersebut ditampilkan oleh individu. Pada teori ini pembelajaran dihubungkan dengan keinginan untuk memperoleh sesuatu sebagai konsekuensi dari setiap tindakan. Seseorang berperilaku tertentu untuk menuju pada perolehan ganjaran (reward) dan atau untuk menghindari suatu hukuman ( punishment). Pengkondisian operat merupakan tipe pengkondisian perilaku sukarela yang diharapkan untuk mendapatkan hadiah atau mencegah hukuman. Kecenderungan untuk mengurangi perilaku ini dipengaruhi oleh ada tidaknya penguatan yang dihadirkan oleh konsekuensi-konsekuensi perilaku tersebut. Oleh karena itu penguatan perilaku tertentu akan meningkatkan perilaku itu untuk diulangi. Hadiah akan lebih efektif jika segera diberikan menyusul respon yang diinginkan, disamping itu, perilaku yang tidak diberikan penghargaan akan lebih kecil kemungkinan untuk diulang.

Teori pembelajaran sosial (social learning) menjelaskan bahwa seorang individu akan mempelajari akan mempelajari perilaku orang lain untuk kemudian dia tiru. Individu belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Di sini faktor-faktor lingkungan sangat kuat mempengaruhi perilaku individu. Teori pembelajaran sosial, dimana manusia dapat belajar melalui pengamatana dan pengalaman langsung. Pengaruh model ini merupakan inti dari pembelajaran sosial, dalam pembelajaran sosial ditemukan empat model proses yang mempengaruhi individu dalam menentukan keberhasilan program yaitu:

 Proses perhatianProses perhatian

Orang akan belajar dari model tertentu jika hanya untuk mengenali dan menaruh perhatian pada pitur penting yang menentukan, kita sangat terpengaruh oleh model-model yang menarik, muncul berulang-ulang yang serupa menurut pikiran.

 Proses retensiProses retensi

Pengaruh model tertentu akan berpengaruh pada bertapa baiknya individu mengingat tindakan model itu setelah model itu tidak ada lagi.

 Proses repreduksi motorProses repreduksi motor

Setelah seseorang melihat perilaku baru dengan mengganti model itu, pengamatan itu akan berubah menjadi perbuatan, maka proses ini akan memperlihatkan bahwa individu itu akan memperlihatkan model itu.

(20)

 Proses penguatanProses penguatan

Individu-individu akan termotivasi untuk memperlihatkan perilaku model tertentu jika disediakan rangsangan tertentu atau mendapatkan hadiah. Perilaku yang dikuatkan melalui mekanisme positif akan lebih banyak mendapatkan perhatian, dipelajari lebih baik, danlebih sering dilakukan.

5. Persepsi 5. Persepsi

Merupakan suatu proses dengan mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungannya.

distorsi persepsi (penyimpangan persepsi) :

 persepsi selektif , orang-orang yang secara selektif menafsirkan apa yang mereka saksikan

berdasarkan kepentingan, latar belakang, pengalaman, dan sikap.

 efek halo, menarik suatu kesan umum mengenai individu berdasarkan suatu

karakteristik tunggal (kesan pertama)

 efek kontras, evaluasi dari karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan

dengan orang lain yang baru dijumpai, yang berperingkat lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama.

 proyeksi, menghubungkan karakteristik pribadinya terhadap karakteristik pribadi orang

lain.

 stereotype, menilai seseorang atas dasar persepsi kita terhadap kelompok dari orang

tersebut (menggeneralisasikan)

6. Sikap 6. Sikap

Sikap atau attitude diartikan sebagai pernyataan evaluatif atau penilaian terhadap suatu objek, orang atau peristiwa. Sikap (attitude) berbeda dari perilaku (behaviour). Sikap masih berupa penilaian abstrak. Penilaian tersebut menjadi kongkrit dalam perilaku. Misal kita mempunyai sikap bahwa korupsi itu tidak baik, penilaian kita tersebut menjadi nyata ketika kita mewujudkan sikap tersebut de dalam perilaku tidak melakukan korupsi.

Robbins dan Judge (2008)

Robbins dan Judge (2008) mengungkapkan ada tiga komponen yang membangun sikap atau attitude yaitu :

 Komponen kognitif (cognitive component), komponen ini merupakan komponen

inti dari sikap (attitude) yang berupa penjelasan atau kepercayaan (belief) tentang suatu hal.

 Komponen afektif (affective component), merupakan komponen sikap (attitude)

yang bersifat emosional atau bagaimana seseroang merasakansesuatu hal. Seperti apakah ia merasa senang atau merasa tidak senang.

 Komponen Perilaku (behavioral component), yaitu intensi yang berperilaku tertentu

terhadap seseorang atau suatu hal yang didasarkan pada keyakinan (kognitif) dan perasaan (affektif) yang dimiliki individu terhadap seseorang atau suatu hal tersebut.

(21)

Tiga komponen sikap tersebut memberikan pemahaman bahwa sikap individu dibentuk oleh kognisi dalam menggunakan rasio yang dikombinasikan dengan kekuatan emosi yang akan mendorong seseorang individu untuk menunjukkan perilaku tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap bisa menjadi prediktor bagi perilaku. Kita bisa memprediksi kira-kira perilaku apa yang akan ditunjukkan oleh seorang individu dengan mengetahui sikap yang dianutnya. Tetapi ada kalanya, muncul ketidaksesuaian antara sikap yang dianut dan perilaku yang ditampilkan, sehingga menimbulkan kondisi yang disebut sebagaicognitive dissonance.

Cognitive dissonance adalah suatu kondisi ketika terjadi ketidaksamaan antara sikap dan perilaku. Artinya perilaku yang ditampilkan individu tidak sesuai dengan sikap yang dianutnya. Akibatnya muncul kegelisahan di dalam diri individu. Untuk perilakunya agar sesuai dengan sikapnya atau mengubah sikapnya agar sesuai dengan perilakunya.

Tetapi ada kalanya sikap baru tercipta setelah kita menampilkan perilaku tertentu. Di sini perilaku mucul terlebih dahulu baru kemudian sikap yang digunakan sebagai pengesahan terhadap perilaku yang telah dilakukan. Misalkan, seorang mahasiswa berbuat curang dengan berperilaku mencontek ketika ujian karena tidak belajar, perilakunya tersebut kemudian disahkan oleh sikap yang muncul belakangan, misalnya mencontek karena kepepet bukan perbuatan yang tercela. Kondisi ini disebut sebagai self percetion theory yaitu sikap (attitud) digunakan justru untuk menjustifikasi perilaku (behaviour) yang telah dilakukan.

Di dalam perilaku organisasi, terdapat tiga jenis sikap yang sering dipelajari dan diteliti, yiaut kepuasan kerja (job satisfaction), yang merujuk pada sikap seseorang terhadap pekerjaannya, keterlibatan kerja (job involvement) yang merupakan ukuran sejauh mana seseorang secara psikologis memihak pekerjaannya dan menggunakan pekerjaannya sebagai ukuran harga diri, dan komitmen organisasi (organizational commitment) yang merupakan sikap sejauh mana seorang individu berniat memelihara keanggotaan di dalam sebuah organisasi.

7.

7. Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)

Kepuasan kerja atau job satisfaction sendiri diartikan sebagai sikap (attitude) individu terhadap pekerjaannya. Seseorang yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki sikap (attitude) yang positif terhadap pekerjaannya. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak puas (kepuasan kerjanya rendah) akan memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya.

Kepuasan kerja seseorang biasanya diukkur dengan menggunakan pendekatan summation score. Pendekatan ini mencoba mengukur kepuasan kerja seorang individu dilihat dari enam elemen kunci pekerjaan yaitu : pekerjaan saat ini (nature of curren job), atasan atau penyelia (supervisor), teman sekerja ( co workers), gaji yang diperoleh, kesempatan promosi dan pekerjaan secara umum.

Individu diminta merespon keenam hal tersebut apakah ia merasa puas (satisfied) ataukah merasa tidak puas (dissatistied) terhadapnya. Respon-respon tersebut kemudian dijumlahkan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja secara keseluruhan.

(22)

Kepuasan kerja ini, menurut Robbins memiliki pengaruh dan dampak-dampak terhadap tingkat produktivitas, tingkat absensi dan tingkat turnover.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa organisasi dengan karyawan yang merasa puas akan lebih efektif dibandingkan dengan organisasi di mana karyawannya memiliki kepuasan kerja yang rendah. Begitu pula dengan tingkat absensi, pekerja yang memiliki kepuasan kerja yang rendah akan memiliki tingkat absensi yang tinggi dibandingkan dengan pekerja yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Selain itu kepuasan kerja juga memberikan dampak terhadap tingkat turnover meskipun pengaruh ini hanya berlaku bagi pekerja dengan kinerja yang rendah (poor performance) dan tidak terlalu memberikan dampak terhadap pekerja dengan kinerja yang bagus (superior performance).

Determinan Kepuasan Kerja Determinan Kepuasan Kerja

 Lingkuangan kerja

Merupakan faktor yang berkaitan dengan hubungan antara seseorang dengan rekan kerjanya maupun atasannya, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya. Seseorang menginginkan lingkungan kerja yang nyaman untuk memudahkan mereka dalam mengerjakan tugasnya. Studi-studi mengemukakan bahwa seseorang lebih menyukai keadaan fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur, cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain juga dapa mempengaruhi kepuasan kerja dan berdampak pada kinerja. Bagi kebanyakan orang, kerja juga mengisi kebutuhan sosial. Oleh karena itu, mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenangkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang tinggi.

 Atasan/Gaya Kepemimpinan

Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan kerja. Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Hubungan funsional mencerminkan sejauh mana atasan membantu karyawannya tersebut. Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah jika kedua jenis hubungan bersifat positif. Misalnya atasan yang menghargai pendapat, ide-ide, dan saran karyawannya sehingga dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja mereka.

 Sifat Pekerjaan (job content) dan Aktivitas Kerja

Menikmati pekerjaan itu sendiri hampir selalu merupakan segi yang paling berkaitan erat dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi secara keselurahan. Pekerjaan menarik yang memberikan pelatihan, variasi, kemerdekaan, dan kendali dapat memuaskan sebagian besar individu. Dengan kata lain, seorang individu lebih menyukai pekerjaan yang menantang dan mengembankan semangat kerja daripada pekerjaan yang dapat diramalkan dan rutin.

 Benefit

Benefit dalam hal ini adalah manfaat atau keuntungan yang didapat seseorang saat menjadi anggota suatu organisasi, berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Ketika seseorang menganggap bahwa dengan mengikut organisasi tersebut akan mendatangkan banyak manfaat bagi dirinya, maka kepuasan kerja mereka akan meningkat.

Respon Terhadap Ketidakpuasan Kerja (

(23)

Ada beberapa respon yang diberikan oleh individu apabila ia merasakan ketidakpuasan di tempat kerjanya.

 Individu memutuskan untuk keluar dari organisasi (exit)  Mencoba memperbaiki keadaan di dalam organisasi (voice)  Secara pasif menunggu perubahan kondisi organisasi (loyalty)  Mengabaikan kondisi yang ada di dalam organisasi (neglect)

PERILAKU INDIVIDUAL DALAM ORGANISASI PERILAKU INDIVIDUAL DALAM ORGANISASI

perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.

Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah; pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari; penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu di dalam menentukan perilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan.

1. Penekanan 1. Penekanan.

Pendekatan kognitif menekankan mental internal seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri.

Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku.

Pendekatan psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan sesuatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginan.

2. Penyebab Timbulnya Perilaku 2. Penyebab Timbulnya Perilaku

Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan.

Pendekatan reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.

Menurut pendekatan psikoanalitis, perilaku itu ditimbulkan oleh tegangan (tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

(24)

3. Proses. 3. Proses.

Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental, yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidak sesuaian (inconsistency) dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidak sesuaian tersebut.

Pendekatan reinforcement, lingkungan yang beraksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang.

Dalam pendekatan psikoanalitis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh Ego dibawah pengamatan Superego.

4. Kepentingan Masa lalu dalam menentukan Perilaku. 4. Kepentingan Masa lalu dalam menentukan Perilaku.

Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang, tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem.

Teori reinforcement bersifat historic. Suatu respon seseorang pada suatu stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya.

Menurut pendekatan psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, Ego dan Superego ditentukan oleh interaksi dan pengembangannya dimasa lalu.

5. Tingkat dari Kesadaran. 5. Tingkat dari Kesadaran.

Dalam pendekatan kognitif memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar seperti mengetahui, berpikir dan memahami, dipertimbangkan sangat penting.

Dalam teori reinforcement, tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak. Biasanya aktifitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktifitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka.

Pendekatan psikoanalitis hampir sebagian besar aktifitas mental adalah tidak sadar. Aktifitas tidak sadar dari Id dan Superego secara luas menentukan perilaku.

6. Data. 6. Data.

Dalam pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.

Pendekatan reinforcement mengukur stimuli lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi.

(25)

Pendekatan psikoanalitis menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.

(26)

BAB III

PERSEPSI DAN PEMBUATAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL PERSEPSI DAN PEMBUATAN KEPUTUSAN INDIVIDUAL

A. Apa Itu PersepsiApa Itu Persepsi

Persepsi ( perception) adalah proses di mana individu mengatur dan menginterprestasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungkan mereka. Namun, apa yang diterima seseorang pada dasarnya bisa berbeda dari realitas objektif. Walaupun seharusnya tidak perlu ada, perbedaan tersebut sering timbul. Sebagai contoh, sesuatu yang mungkin bila semua karyawan dalam sebuah perusahaan menganggapnya sebagai tempat kerja yang baik-kondisi kerja yang menyenangkan, penugasan kerja yang menarik, bayaran yang bagus, tunjangan yang sangat bagus.

1. Proses Pembuatan Keputusan yang RasionalProses Pembuatan Keputusan yang Rasional

Kita sering berpikir bahwa pembuat keputusan yang paling baik adalah yangrasionalrasional. Artinya, pembuat keputusan tersebut membuat pilihan-pilihan yang konsisten dan maksimalkan nilai dalam batasan-batasan tertentu.

2. Model RasionalModel Rasional

 Enam langkah dalam pembuatan keputusan yang rasional;

1. Mendefinisikan masalah

2. Mengidentifikasikan kriteria keputusan 3. Menimbang kriteria tersebut

4. Mengembangkan alternatif

5. Mengevaluasi alternatif-alternatif yang ada 6. Memilih alternatif terbaik

3. Asumsi-asumsi dari Model TersebutAsumsi-asumsi dari Model Tersebut

 Model pembuatan keputusan rasional meliputi beberapa asumsi;

1. Kejelasan masalah. Masalahnya tidak jelas dan tidak ambigu. Pembuatan keputusan dianggap memiliki informasi yang lengkap sehubungan dengan dituasi keputusan.

2. Pilihan-pilihan yang diketahui. Pembuat keputusan dianggap bisa mengidentifikasikan semua kriteria yang relevan dan bisa menyebutkan semua alternatif yang mungkin.

3. Pilihan-pilihan yang jelas. Rasionalitas mengasumsikan bahwa berbagai kriteria dan alternatif bisa dinilai dan ditimbang untuk mencerinkan kepentingan mereka.

4. Tidak ada batasan waktu dan biaya. Pembuat keputusan yang rasional bisa mendapatkan informasi lengkap tentang kriteria-kriteria dan alternatif karena diasumsikan bahwa tidak ada batasan waktu atau biaya.

5. Hasil maksimum. Pembuat keputusan yang rasional akan memilih alternatif yang menghasilkan nilai tertinggi.

(27)

4. Meningkatkan Kreativitas dalam Pembuatan KeputusanMeningkatkan Kreativitas dalam Pembuatan Keputusan

Kreativitas yaitu, kemampuan menciptakan ide-ide baru yang bermanfaat. Ini adalah ide-ide yang berbeda dari apa yang telah dilakukan sebelumnya tetapi sesuai untuk masalah tersebut atau peluang yang dihadirkan. Mengapa kreativitas sangat penting dalam pembuatan keputusan? Kreativitas memungkinkan pembuat keputusan untuk menilai dan memahami masalah dengan lebih mendalam, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak bisa dilihat oleh individu lain.

Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas. Yakni, menggabungkan gagasan dalam satu cara yang unik atau untuk membuat asosiasi- asosiasi daintara gagasan-gagasan.

 Potensial Kreatif

Kebanyakan orang mempunyai potensial kreatif yang dapat mereka gunakan bila dikonfrontasikan dengan sebuah masalah dalam pengambilan keputusan. Namun untuk melepaskan potensial itu, mereka harus keluar dari kebiasaan psikologis yang kebiasaan dari kita terlibat di dalamnya dan beajar bagaimana berpikir tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.

 Metode Untuk Merangsang Kreativitas Individual

Tindakan yang sederhana dapat sangat berpengaruh untuk menginstruksi seseorang menjadi kreatif dan menghindari pendekatan yang jelas terhadap satu masalah mengahasilkan gagasan yang lebih unik. Metode ini dinamakan instruksi langsung.

 Penyusunan atribut

Dalam metode ini, pengambilan keputusan mengisolasikan karakteristik dari alternatif tradisional. Setiap atribut utama dari alternatif selanjutnyapada gilirannya dipertimbangkan dan diubah dalam setiap cara yang mungkin. Tidak ada gagasan yang di tolak, betapa pun tampaknya lucu.

Kreatifitas juga dapat dirangsang oleh praktik pemikiran lateral atau zig-zag. Dengan pemikiran lateral, para individu menekankan pemikiran yang tidak menekankan pada satu pola melainkan pada penyetrukturan pola. Pemikiran itu tidak harus tepat setiap langkah. Pemikiran itu secara sengaja menggunakan informasi yang acak atau tidak relevan guna membawa satu cara baru untuk melihat suatu masalah.

5. Potensi yang KreatifPotensi yang Kreatif

Sebagian besar individu memiliki potensial kreatif yang bisa mereka gunakan ketika berhadapan dengan masalah pembuatan keputusan. Tetapi untuk mengeluarkan potensial tersebut, mereka harus keluar dari pola psikologis yang kita miliki dan belajar melihat sebuah masalah dalam cara-cara yang berbeda.

(28)

Berdasarkan sejumlah penelitian yang ekstensif, model ini mengemukakan bahwa kreativitas individual pada dasarnya membutuhkan;

1. Keahlian

Adalah dasar untuk setiap pekerjaan kreatif. Misalnya, lirik lagu Eminem, banyak yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman masa kecilnya.

2. keterampilan berpikir kreatif, dan

Hal ini mencakup karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan kreativitas, kemampuan untuk menggunakan analogi, serta bakat untuk melihat sesuatu yang sudah lazim dari sudut pandang berbeda.

3. motivasi tugas intrinsik

Motivasi adalah keinginan untuk mengerjakan sesuatu karena hal tersebut menarik, rumit, mengasyikkan, memuaskan, atau menantang secara pribadi. Komponen motivasional ini mengubah potensial kreativitas menjadi ide-ide kreatif yang aktual.

7. Keputusan Dalam Organisasi DibuatKeputusan Dalam Organisasi Dibuat

a. Rasionalitas yang Dibatasi b. Bias dan Kesalahan Umum

*Penyimpangan-penyimpangan yang paling umum, antara lain: 1.. Bias Kepercayaan Diri yang Berlebih(Overconfidence Bias)

2. Bias Jangkar 3. Bias Konfirmasi 4. Bias Ketersediaan 5. Bias Representatif 6. Peningkatan komitmen

7. Kesalahan yang Tidak Disengaja 8. Kutukan Pemenang

9. Bias Peninjauan c. Intuisi

Adalah sebuah proses tidak sadar yang berasal dari pengalaman yang disaring. Proses ini tidak terlalu terlepas dari analisis rasional. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi, dan yang penting, intuisi bisa menjadi suatu kekuatan yang sangat kuat dalam pembuatan keputusan. Contoh, penelitian tentang permainan catur memberikan sebuah ilustrasi yang sangat baik tentang cara kerja intuisi.

Kapankah individu cenderung menggunakan pembuatan keputusan intuisif? 1. Ketika terdapat tingkat ketidakpastian yang tinggi

2. Ketika hanya terdapat sedkit teladan yang bisa digunakan 3. Ketika variabel-variabel kurang bisa diprediksi secara ilmiah 4. Ketika fakta-fakta dibatasi

(29)

6. Ketika hanya digunakan sikit data analitis

7. Ketika terdapat beberapa solusi alternatif masuk akal yang bisa dipilih, di mana setiap solusi memiliki penjelasan yang baik

8. Ketika waktu yang ada sangat terbatas dan terdapat tekanan untuk membuat keputusan yang tepat.

8. Perbedaan-PerbPerbedaan-Perbedaan edaan IndividualIndividual

Perbedaan-perbedaan individual yang menyebabkan penyimpangan dari model rasional:

a) KepribadianKepribadian

Belum ada banyak penelitian tentang kepribadian dan pembuatan keputusan. Satu alasan yang tepat adalah sebagian besar peneliti yang melakukan penelitian pembuatan keputusan tidak dilatih untuk menyelidiki kepribadian. Namun, penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kepribadian benar-benar mempengaruhi pembuatan keputusan. Penelitian tersebut mempertimbangkan sifat berhati-hati dan harga diri.

Pertama, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa segi-segi tertentu dari sifat berhati-hati sebenarnya memiliki pengaruh yang berlawanan terhadap peningkatan komitmen. Pada umumnya, individu yang berorientasi pada pencapaian tidak menyukai kegagalan, jadi mereka meningkatkan komitmen mereka dengan harapan bisa mencegah kegagalan. Namun individu yang patuh cenderung melakukan apa yang menurut mereka terbaik bagi organisasi. Individu yang berjuang mendapatkan pencapaian terlihat lebih rentan dengan bias peninjauan kembali, mungkin karena mereka memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk membenarkan kelayakan tindakan-tindakan mereka. Akhirnya, individu dengan harga diri tinggi tampak lebih rentan terhadap bias pemikiran diri sendiri. Karena individu yang mempunyai harga diri tinggi sangat termotivasi untuk mempertahankan harga diri mereka sehingga mereka menggunakan bias pemikiran diri sendiri untuk mempertahankannya. Artinya, mereka menyalahkan individu lain atas kegagalan mereka dan mendapatkan pujian atas keberhasilan-keberhasilan mereka.

b) GenderGender

Baru-baru ini, penelitian mengenai renungan memberikan wawasan untuk perbedaan-perbedaan gender dalam pembuatan keputusan. Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa wanita lebih sering menganalisis keputusan dibandingkan pria. Renungan merajuk pada pemikiran mendetail. Terkait pembuatan keputusan, renungan berarti memikirkan berbagai masalah, dan wanita pada umumnya lebih berkemungkinan terlibat dalam renungan dibandingkan dengan pria.

Alasan mengapa wanita lebih sering merenung daripada pria tidak begitu jelas. Beberapa teori telah dikemukakan. Satu pandangan adalah orang tua lebih mendorong dan menguatkan

(30)

ungkapan kesedihan dan kegelisahan dalam diri anak perempuan daripada dalam diri anak laki-laki. Teori lain adalah wanita lebih mendasarkan harga diri dan kesejahteraan mereka pada apa yang dipikirkan oleh individu lain tentang diri mereka bila dibandingkan dengan pria. Teori ketiga adalah wanita lebih empati dan lebih dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa dalam kehidupan individu lain, sehingga mereka memiliki lebih banyak hal untuk direnungkan.

c) Batasan-batasan OrganisasionalBatasan-batasan Organisasional

Organisasi dapat membatasi para pembuat keputusan, yang menciptakan berbagai penyimpangan dari model rasional. Misalnya, manajer menentukan keputusan mereka untuk mencerminkan evaluasi kinerja organisasi dan sistem penghargaan, mematuhi peraturan-peraturan formal organisasi, dan memenuhi batasan-batasan waktu yang telah ditentukan.

d) Evaluasi KerjaEvaluasi Kerja

Dalam membuat keputusan, para manajer sangat dipengaruhi oleh kriteria-kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi mereka. Apabila seorang manajer devisi yakin bahwa pabrik-pabrik manufaktur yang berada di bawah tanggung jawabnya beroprasi dengan sangat baik ketika ia tidak mendengar apa pun yang negatif, seharusnya kita tidak terkejut untuk mengetahui bahwa para manajer pekerja pabriknya menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk memastikan bahwa informasi negatif tidak sampai ke atas devisi.

e) Sistem PenghargaanSistem Penghargaan

Sistem penghargaan organisasi memengaruhi para pembuat keputusan dengan cara menyatakan mereka pilihan-pilihan yang lebih baik menurut hasil pribadi. Sebagai contoh, apabila organsasi memberikan keengganan risiko, para manajer cenderung membuat keputusan-keputusa yang konservatif.

f) Peraturan FormalPeraturan Formal David Gonzales

David Gonzales, Merupakan batasan-batasan yang dihadapinya dalam pekerjaan “Saya memiliki kebiasaan dan peraturan yang meliputi hampir semua keputusan yang saya buat dari cara membuat burrito sampai beberapa sering saya harus membersihkan toilet. Pekerjaan saya tidak memberi banyak kebebasan pilihan. Situasi David tidaklah unik, semua organisasi, kecuali organisasi-organisasi terkecil, membuat peraturan, kebijaksanaan, prosedur, dan aturan-aturan formal lain untuk menstandardisasi perilaku anggota-anggota mereka.

g) Batasan Waktu yang Ditentukan oleh sistemBatasan Waktu yang Ditentukan oleh sistem

Organisasi menentukan batas waktu untuk berbagai keputusan. Sebagai contoh, anggaran departemen harus diselesaikan pada hari jumat depan, atau laporan tentang perkembangan produk baru harus siap untuk ditinjau oleh komite eksklusif di awal bulan.

h) Peristiwa HistorisPeristiwa Historis

Keputusan tidak dibuat dalam ruang hampa, hal ini memiliki konteks pada kenyataannya, keputusan-keputusan individual digolongkan secara lebih akurat sebagai poin-poin dalam aliran keputusan. Sebagai contoh, keputusan yang mungkin anda buat setelah

(31)

bertemu „TN. Atau Nn Tepat‟ menjadi lebih rumit bila anda telah menikah bila dibandingkan dengan ketika anda masih lajang.

i) Perbedaan-perbPerbedaan-perbedaan edaan KulturalKultural

Model rasional tidak mengakui perbedaan-perbedaan kultural. Tetapi orang-orang Indonesia misalnya tidak perlu membuat keputusan dalam cara yang sama seperti orang-orang Australia membuat keputusan. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa latar belakang kultural dari pembuat keputusan dapat berpengaruh signifikan terhadap seleksi masalah, kedalaman analisis, kepentingan yang diberikan untuk logika dan rasionalitas.

Kulutur misalnya, berbeda-beda berdasarkan orientasi waktu, kepentingan rasionalitas, keyakinan terhadap kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah dan pilihan untuk membuat keputusan kolektif

9. Etika dalam Pembuatan KeputusanEtika dalam Pembuatan Keputusan

Tidak ada diskusi kontenporer mengenai pembuatan keputusan yang lengkap tanpa keterlibatan etika, karena pertimbangan-pertimbangan etis merupakan sebuah kriteria penting dalam pembuatan keputusan organisasional. Tentu saja hal ini menjadi semakin nyata pada zaman sekarang dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

 Tiga Kriteria Keputusan EtisTiga Kriteria Keputusan Etis

1. Kriteria utilitarian, di mana keputusan dibuat semata-mata berdasarkan hasil atau konsekuensinya. Tujuan utilitarianisme adalah memberikan kebaikan terbesar untuk jumlah terbanyak. Misalnya, dengan memaksimalkan laba, seorang eksekutif bisnis bisa memperlihatkan bahwa ia mendapatkan kebaikan terbesar untuk jumlah terbanyak

2. Kriteria etis, merupakan terfokus pada hak. Hal ini memungkinkan individu membuat keputusan-keputusan yang konsisten dengan kemerdekaan dan hak fundamental

3. Kriteria keadilan, kriteria ini mengharuskan individu untuk menentukan dan menjalankan peraturan-peraturan dengan baik dan adil sehingga terdapat distribusi laba dan biaya secara adil.

 Etika dan Kultur NasionalEtika dan Kultur Nasional

Apa yang dianggap sebagai sebuah keputusan yang beretika di Cina belum tentu sama di Kanada. Alasannya adalah tidak ada standar-standar etika yang global. Perbandingan antara Asia dan Barat memberikan sebuah ilustrasi karena penyuapan sudah biasa di negara-negara seperti Cina, orang Kanada yang bekerja di Cina mungkin menghadapi delima: haruskah saya memberi uang suap untuk mendapatkan bisnis jika penyuapan merupakan suatu hal yang diterima dalam kultur negara tersebut.

 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perilaku Pengambilan-Keputusan Etis

1) Tahap-tahap perkembangan moral

Adalah suatu penilaian dari kapasitas seseorang untuk menimbang secara moral. Makin tinggi perkembangan moral seseorang, makin kurang bergantung ia pada pengaruh-pengaruh luar dan, dari situ , akan makin cenderung untuk berperilaku etis.

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi adalah bagian yang sangat penting dalam mengembangkan kurikulum, baik dalam kurikulum baru ataupun kurikulum yang ada untuk menyempurnakannya, lalu apa sesungguhnya

Dengan adanya sistem penerapan Perancangan iLearning Raharja Ask and News (iRAN) Dalam Meningkatkan Sistem Informasi Pada Perguruan Tinggi ini diharapkan nantinya bagi calon

Pendistribusian kunci dengan menggunakan metode zigzag cara untuk merubah plaintext menjadi ciphertext dengan cara menukarkan huruf asli dengan huruf yang sudah memakai kunci (K1)

Dalam UU Wakaf, pasal 62 yang menjelaskan tentang penyelesaian sengketa mengenai wakaf, disebutkan apabila penyelesian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat 1

Informasi tentang pengaruh tingkat penggunaan limbah mie dalam pakan ayam pedaging pernah dilakukan di Universitas Padjajaran, disimpulkan bahwa penggunaan limbah mie

ke Pulau Burung , selanjutnya kita akan menuju Pulau Lengkuas ; pulau yang ada mercusuar – silahkan untuk naik mercusuar dan exploring di pulau lengkuas, untuk mengisi acara

Teknik Pembelajaran Round Table merupakan proses pembelajaran Meja Bundar yang dilakukan dengan membagi kelas dalam beberapa kelompok beranggotakan empat orang

Keuntungan bagi pengembang, antara lain, (1) aplikasi yang ber-VBA merupakan apikasi open-system, melalui model obyek, dan komponen berbasis Active-X, akan dapat berguna bagi