• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Kode/Rumpun Ilmu : 371/Ilmu Keperawatan

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN PEMULA

ANALISIS KEBERHASILAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS DULALOWO KOTA GORONTALO

TIM PENGUSUL

Ns. Rona Febriyona Mansur, S.Kep, M.Kes ( NIDN. 0916028802)

Ratna Dunggio, S.Pd., M.Si

( NIDN. 0915018702)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO

OKTOBER 2017

(2)
(3)
(4)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... I RINGKASAN ... II LEMBAR PENGESAHAN ... III

URAIAN UMUM ... IV

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 2

1.2. Tujuan ... 2

1.3. Luaran (Output) ... 2

1.4 Rencana Target Capaian ... 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Tinjauan Umum Lansia ... 4

2.2. Tinjauan Umum Posyandu Lansia ... 5

2.3. Tinjauan Umum Tentang Faktor Yang Mempengaruhi Kunjungan Lansia Terhadap Posyandu Lansia... 8

BAB III. METODE PENELITIAN ... 11

3.1. Waktu dan Lokasi ... 11

3.2. Desain Penelitian ... 11

3.3. Informan Penelitian ... 11

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 11

3.5. Teknik Analisis Data... 12

BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 13

4.1. Anggaran Biaya ... 13 4.2. Jadwal Penelitian... 1Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN-LAMPIRAN ...

(5)

ANALISIS KEBERHASILAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DULALOWO KOTA GORONTALO

ABSTRACT

This research was conducted in elderly posyandu work area at Dulalowo Health Center, Gorontalo City. This study aims to know and analyze the image of family support, the role of cadres, dwelling facilities and infrastructure as well as knowing the success picture in the implementation of elderly posyandu program at Dulalowo Health Center, Gorontalo City. This research uses survey type, with analytic approach. The population is 46,251 people. The sample size is 65 people. Data collection techniques include: Questionnaire, Observation, Interview and Library study data analysis used is descriptive analysis and inferential analysis. The results of the research indicate: 1) family support for elderly Posyandu enrollment, belonging to the supporting categories: 2) the role of cadres in the elderly Posyandu program, belonging to the role category (medium); 3) elderly living in elderly Posyandu careers, belonging to the supporting categories (medium): 4) Facilities and infrastructure in elderly Posyandu, are categorized as supporting category (medium); 5) The success of Elderly Posyandu at Dulalowo Health Center of Gorontalo City, belong to high category; 6) There is Influence of Family Support, Role of Cadre and Resident as well as facilities and Infrastructure to Success Level of Elderly Posyandu At Dulalowo Public Health Center of Gorontalo City. The effect of these variables is 43.8%.

Keywords: Posyandu, Elderly, Puskesmas

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis gambaran dukungan keluarga, peranan kader, tempat tinggal sarana dan prasarana serta mengetahui gambaran keberhasilan dalam penyelenggaraan program posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian survey, dengan pendekatan analitik. Populasi sebanyak 46.251 orang. Jumlah sampel adalah 65 orang. Teknik pengumpulan data meliputi : Angket, Observasi, Wawancara dan Studi pustaka analisis data digunakan adalah analisis deskritif dan Analisis inferensial. Hasil Penelitian menunjukkan: 1) dukungan keluarga terhadap penyelanggaraan Posyandu lansia, tergolong pada kategori mendukung: 2) peran Kader dalam penyelanggaraan Posyandu lansia, tergolong pada kategori berperan (sedang); 3) tempat Tinggal Lansia dalam penyelanggaraan Posyandu lansia, tergolong pada kategori mendukung (sedang) : 4) Sarana dan prasarana dalam penyelanggaraan Posyandu lansia, tergolong pada kategori mendukung (sedang) ; 5) Keberhasilan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo, tergolong pada kategori tinggi.; 6) Ada Pengaruh Dukungan Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta sarana dan Prasarana terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Pengaruh variabel-variabel itu sebesar 43,8 %.

(6)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua orang yang di berkahi umur yang panjang pasti akan mengalami masa tua. Masa tua merupakan masa hidup paling akhir dimana pada masa ini manusia akan mengalami kemunduran fisik, mental, hubungan sosial dan status kesehatan yang memburuk.

Lanjut usia (Lansia) adalah sebutan bagi mereka yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Bab I Pasal 1, yang dimaksud dengan Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas (Yeniar, 2012).

Mengutip data WHO, pada abad 21 jumlah penduduk dunia yang berlanjut usia semakin melonjak. Di wilayah Asia Pasifik, jumlah kaum berlanjut usia akan bertambah pesat dari 410 juta orang tahun 2007 dan menjadi 733 juta orang pada tahun 2025 dan diperkirakan menjadi 1,3 milyar orang pada tahun 2050 (Arita dan Wiwin, 2011).

Negara Indonesia merupakan negara ke-4 yang jumlah penduduknya paling banyak di dunia dan sepuluh besar memiliki penduduk lanjut usia di dunia. Itu berarti semakin hari jumlah penduduk berlanjut usia kian banyak dan membutuhkan solusi khusus untuk mengatasinya (Anonim, 2009 dalam Arita dan Wiwin, 2011).

Berdasarkan data penduduk Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk yang berusia di atas 60 tahun pada tahun 2000 berjumlah 6,17 persen dari seluruh penduduk Indonesia (Yeniar, 2012).

Sedangkan pada tahun 2007, jumlah lansia di Indonesia mencapai 18,96 juta orang. Dari jumlah tersebut, 14% diantaranya berada di Propinsi Daerah Istimewa Yokyakarta. disusul Provinsi Jawa Tengah 11,16%, Jawa Timur 11,14% dan Bali 11,02% (Menkokesra, 2009 dalam Arita dan Wiwin, 2011).

(7)

Selanjutnya dari data hasil sensus penduduk ditahun 2010, Indonesia memiliki penduduk sebesar 237.641.326 jiwa dengan jumlah penduduk lansia sebesar 18.118.699 jiwa. Dimana salah satu Provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Gorontalo memiliki jumlah penduduk sebesar 1.040.164 jiwa, yang terdiri dari kabupaten dan Kota Gorontalo. Puskesmas Dulalowo salah satu puskesmas di Kota Gorontalo yang melaksanakan program posyandu lansia.

Berdasarkan data awal yang di peroleh dari puskesmas Dulalowo, jumlah lansia yang terdaftar di wilayah tahun 2013 berjumlah 2828 jiwa, tahun 2014 berjumlah 2881 jiwa. Lansia yang terdata ini tersebar di 6 kelurahan wilayah kerja Puskesmas Dulalowo diantaranya Kelurahan Wumialo, Kelurahan Dulalowo, Kelurahan Liluwo, Kelurahan Pulubala, Kelurahan Paguyaman, dan Kelurahan Dulalowo Timur.

Merujuk dari data yang telah diperoleh tergambar jelas dengan jumlah lansia yang sangat banyak dan meningkat di setiap tahunnya, ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan lansia termasuk salah satu prioritas program pemerintah. Untuk menanggulangi masalah kesehatan lansia pemerintah melaksanakan program posyandu lansia. Puskesmas Dulalowo termasuk salah satu puskesmas yang masih aktif melaksanakan program pemerintah ini, maka dengan ini peneliti ingain melihat faktor apa saja yang mendukung keberhasilan posyandu lansia di puskesmas Dulaowo.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah :

Bagaimanakah analisis keberhasilan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mendukung keberhasilan posyandu lansia dilihat dari beberapa faktor yaitu peran petugas, Dukungan keluarga dan Fasilitas yang tersedia.

(8)

1.4 Luaran (Output)

Luaran yang diharapkan dari kegiatan penelitian ini adalah : 1. Untuk Mengetahui faktor yang mendukung keberhasilan program

pemerintah dalam posyandu lansia

2. Memberikan gambaran kepada pemerintah khususnya dinas kesehatan tentang keberhasilan posyandu lansia.

3. Publikasi ilmiah di Jurnal Lokal danNasional yang memiliki international standard serial number (ISSN) versi cetak, dan versi Open Journal System (OJS - EISSN)

1.5 Rencana Target Capaian Tabel 1. Rencana Target Penelitian

No Jenis Luaran Indikator Capaian

Publikasi Ilmiah di Jurnal Nasional

1 terakreditasi (ISSN/EISSN) Publikasi Jurnal

2 Pemakalah dalam Pertemuan Ilmiah Lokal Belum

3 Buku Ajar Draf

(9)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Lansia 1. Definisi Lansia

Banyak istilah yang dikenal masyarakat untuk menyebut lanjut usia, antara lain lansia yang merupakan singkatan dari lanjut usia. Istilah lain adalah manula yang merupakan singkatan dari manusia usia lanjut, usila singkatan dari usia lanjut. Ada istilah lain yang terasa lebih enak didengar adalah wulan yang merupakan singkatan dari warga usia lanjut (Yeniar, 2012).

Lanjut Usia (lansia) adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. Menurut Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 1998, Depkes (2001) yang dimaksud dengan usia lanjut adalah seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan (potensial) maupun karena sesuatu hal tidak lagi mampu berperan aktif dalam pembangunan (tidak potensial). Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Arita dan Wiwin, 2011).

2. Batasan Usia Lanjut

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut usia meliputi: a. Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45 - 59 tahun. b. Usia lanjut (elderly), antar 60 - 74 tahun.

c. Usia tua (old), antara 75 - 90 tahun.

d. Usia sangat tua (very old), usia di atas 90 tahun (Arita dan Wiwin, 2011).

a. Kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 tahun) sebagai masa virilitas. b. Kelompok usia lanjut (55 - 64 tahun) sebagai masa presenium.

c. Kelompok usia lanjut 65 tahun >) sebagai masa senium.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, sehingga pada penelitian ini peneliti menggunakan

(10)

standar usia ≥ 60 tahun sebagai kategori usia disebutnya seseorang sebagai lanjut usia.

3. Ciri - Ciri Lansia Sehat

Perlu kiranya dipahami pengertian dari sehat itu sendiri secara benar dan tepat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Dan kita selalu berharap agar tetap sehat sampai nanti lanjut usia.

Untuk mempertahankan kesehatan perlu adanya upaya - upaya baik besifat perawatan, pengobatan, pola hidup sehat dan juga upaya lain seperti berolahraga. Manfaat dari olahraga bagi lansia antara lain adalah membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Olahraga bermanfaat pula untuk menghambat proses degeneratif/penuaan dan peningkatan fungsi organ tubuh yang juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam tubuh.

2.2 Tinjauan Umum Posyandu Lansia 1. Pengertian Posyandu Lansia

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Posyandu lansia merupakan suatu wadah pelayanan kepada usia lanjut di masyarakat dimana proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non-pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik beratkan pelayanan pada upaya promotif dan preventif (Artinawati, 2014)

2. Tujuan Posyandu Lansia

(11)

a. Meningkatkan derajat pelayanan kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut di masyarakat, untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna bagi keluarga.

b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Artinawati, 2014).

3. Manfaat Posyandu 1. Bagi Masyarakat

Adapun manfaat posyandu bagi masyarakat adalah memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi anak balita dan ibu, pertumbuhan anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi buruk.

2. Bagi Kader

Mendapatkan berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lengkap. Ikut berperan secara nyata dalam tumbuh kembang anak balita dan kesehatan ibu (Isnawati,dkk, 2010).

4. Sasaran Posyandu Lansia

a. Sasaran langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut (45 - 59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas).

b. Sasaran tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut, masyarakat luas (Artinawati, 2014).

5. Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia

Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :

a. Meja I : Pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan.

(12)

b. Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.

c. Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan gizi (Artinawati, 2014).

6. Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia

Pelayanan kesehatan di posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi.

Jenis pelayanan kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di posyandu lansia adalah :

a. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (ADL), meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.

b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional.

c. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik Indeks Masa Tubuh (IMT).

d. Pengukuran tekanan darah. e. Pemeriksaan hemoglobin.

7. Kebutuhan Penyuluhan Khusus Klien Lansia.

• Pastikan bahwa klien siap untuk belajar sebelum mencoba memberi penyuluhan.

• Duduk menghadap klien sehingga dapat membaca gerakan bibit dan ekspresi wajah Anda.

• Berbicara dengan perlahan.

• Jaga nada suara Anda tetap rendah; lansia dapat mendengar suara yang pelayan daripada suara yang berfrekuensi tinggi.

(13)

8. Masalah Kesehatan Pada Lansia

Masalah kesehatan pada lansia tentu saja berbeda dengan jenjang umur yang lain karena pada penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan - kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua yaitu proses menghilangnya secara perlahan - lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti sel serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Data penyakit lansia di Indonesia (umumnya pada lansia berusia lebih dari 55 tahun) adalah sebagai berikut :

a. Penyakit Cardiovascular. b. Penyakit otot dan persendian.

c. Bronchitis, asma dan penyakit respirasi lainnya. d. Penyakit pada mulut, gigi dan saluran cerna. e. Penyakit syaraf.

f. Infeksi kulit. g. Malaria. h. Lain-lain

2.3 Tinjaun Umum Tentang Faktor Yang Mempengaruhi Kunjungan Lansia Terhadap Posyandu Lansia

Posyandu lansia merupakan suatu kebijakan pemerintah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai-nilai dan derajat kesehatan masyarakat. Tentunya sebagai sebuah kebijakan berbagai kendala yang dihadapi untuk memasyarakatkan kebijakan itu. Dalam melaksanakan berbagai strategi kebijakan yang ditempuh, terkadang banyak hal yang turut berpengaruh dalam pelaksanaannya.

Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :

1. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.

Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari - harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana

(14)

cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka.

Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia

2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau.

Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia.

Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. 3. Dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk

datang ke posyandu.

Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.

4. Pengaruh tingkat pendapatan atau ekonomi.

Keluarga dengan sumber ekonomi yang tidak memadai menunjukkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya. Perilaku keluarga yang status ekonominya relatif rendah biasanya belum memperioritaskan perilaku pencegahan penyakit karena masih banyak kebutuhan yang mendasar yang harus dipenuhi.

5. Sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan posyandu lansia untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan posyandu lansia, dibutuhkan sarana dan

(15)

prasarana penunjang yaitu tempat kegiatan (gedung, ruangan, atau tempat terbuka).

(16)

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi

Penelitian direncanakan dilaksanakan maksimal selama setahun mulai bulan Mei 2016 - Mei 2017 yang meliputi tahap pengusulan, persiapan,proses penelitian, pengolahan data, dan penyusunan laporan. Sedangkan lokasi penelitian dilaksanakan di Wilayah kerja puskesmas Dulalowo.

3.2. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian survey, dengan maksud untuk mendeskripsikan informasi-informasi yang berhubungan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan keberhasilan posyandu wilayah kerja posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan pelaksanaan program posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

3.3. Informan Penelitian

Sampel penelitian ini para lansia yang aktif mendapatkan layanan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Jumlah warga lansia yang aktif dalam kegiatan posyandu sebanyak 321 orang. Mengingat jumlah warga yang terlibat cukup besar maka penetapan sampel dilakukan dengan menetapkan 20 % dari jumlah populasi warga yang aktif pada kegiatan posyandu lansia. Penetapan ini didasarkan atas pendapat Arikunto yang menyatan untuk jumlah populasi antara 101 sampai 500 besar sampel yang representative adalag 20% (Arikunto 2002; 109). Dengan dasar itu maka jumlah sampel dalam peneltian ini adalah 65 orang. Jumlah sampel tersebut didistribusikan pada semua wilayah kerja yang ada di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

3.4 Jenis Dan Sumber Data

Jenis data berdasarkan sumbernya yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu :

(17)

1. Data Primer

Adapun pengumpulan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil : a. Data primer yang diperoleh dari hasil angket yang disebarluaskan pada

lansia yang menjadi sampel dalam wilayah kerja Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Untuk mendapatkan data yang akurat maka peneliti melakukan observasi pada pelaksanaan kegiatan posyandu di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

b. Teknik observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung untuk mengumpulkan data dan informasi tentang penelitian yang dilaksanakan. 2. Data Sekunder

Data sekunder, yaitu data yang melalui dokumentasi, artikel, surat kabar yang berkaitan dengan kegiatan posyandu pada umumnya dan kegiatan posyandu lansia dalam wilayah kerja Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

3.5 Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2004) analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang dikumpulkan sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Analisis deskritif terdiri dari rata-rata, skor terendah, skor tertinggi, standar deviasi, distribusi frekuensi, dan presentase. Hasil analisis deskriptif kemudian dikomversi dalam kategori sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.

(18)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Dulalowo merupakan salah satu dari 8 puskesmas yang ada di wilayah Kota Gorontalo. Puskesmas Dulalowo memiliki wilayah kerja mencakup Kecamatan Kota Tengah yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota Gorontalo, dengan luas wilayah 307.125 km2, terdiri dari 6 kelurahan, 36 RW, 136 RT, dengan jarak dari ibu kota Kota Gorontalo ± 6 km.

Letak geografis Kecamatan Kota Tengah terletak pada 00⁰ 28’ 17” - 00⁰ 35’ 56” Lintang Utara dan 122⁰ 59’ 44” - 123⁰ 05’ 59” Bujur Timur dengan batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Kota Utara b. Sebelah Timur : Kecamatan Kota Utara c. Sebelah Selatan: Kecamatan Kota Selatan

d. Sebelah Barat : Kecamatan Dungingi dan Kota Barat Puskesmas Dulalowo Kecematan Kota Tengah Kota Gorontalo memiliki

wilayah kerja administratif mencakup 6 kelurahan yaitu : a. Kelurahan Dulalowo

b. Kelurahan Dulalowo Timur c. Kelurahan Liluwo

d. Kelurahan Paguyaman e. Keluarahan Pulubala

(19)

f. Kelurahan Wumialo

Jumlah penduduk pada tahun 2014 adalah 28.174 Jiwa dan jumlah KK adalah 7.747 KK, dengan jumlah laki-laki 13.929 jiwa dan perempuan 14.245 jiwa.

Puskesmas Dulalowo memiliki sumber daya manusia dengan jenis pendidikan sebagai berikut :

a. Dokter Umum : 2 Orang b. Dokter Gigi : 1 Orang c. Kesehatan Masyarakat : 6 Orang

d. Perawat : 12 Orang

e. Bidan : 5 Orang

f. Gizi : 4 Orang

g. Perawat Gigi : 1 Orang h. Asisten Apoteker : 1 Orang

2. Identitas Responden

Bagian ini akan menampilkan data tentang identitas responden yang meliputi : jenis kelamin, umur, golongan, pendidikan dan masa kerja. Data ini diperlukan dalam mendukung validitas dan dan analisis data penelitian, sehingga kesimpulan yang ditarik diharapkan dapat merepresentasi populasinya.

a. Jenis kelamin.

Jenis kelamin yang dimiliki informan sangat berpengaruh terhadap pisik dan psikis mereka. Demikian pula dengan penilaian dan pendapatnya tentang kegiatan posyandu lansia. Banyak pakar mengemukakan bahwa faktor jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang

(20)

mempersepsi dan memberikan jawaban. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin seseorang. Untuk mengetahui jenis kelamin responden dalam penelitian ini, dapat dilihat pada grafik berikut :

Jenis Kelamin

28

37

Grafik 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Data pada grafik di atas menunjukkan bahwa distribusi responden terbanyak berada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 28 orang (43,07%). Sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 37 orang (56,93%). Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan informan dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan.

(21)

b. Umur

Faktor umur sangat terkait dengan kematangan fisik dan psikis seseorang. Demikian pula halnya dengan anak yang mengikuti sesuatu jenjang pendidikan. Dengan umur, orang akan memperoleh pengalaman yang berbeda dengan yang lainnya. Demikian pula halnya dengan tingkat kemampuan seseorang dalam menyelesaikan sesuatu, faktor umur akan menentukan ketepatan dan kebenaran dari apa yang diucapkannya. Untuk mengetahui tingkatan umur responden dalam penelitian ini, dapat dilihat pada tabel berikut : 45 40 39 35 30 25 20 17 15 10 6 5 3 0

55 - 60 tahun 60 - 65 tahun 66 - 70 tahun ≥ tahun

Grafik 4. 2. Distribusi Responden berdasarkan umur

Data pada grafik di atas menunjukkan bahwa distribusi umur responden terbanyak berada pada klasifikasi umur diatas 55 - 60 tahun yaitu sebanyak 39 orang atau 600 %, Sedangkan yang berumur antara 61 – 65 tahun sebanyak 17 orang atau 26,15 %, dan yang berumur 66 – 70 tahun

(22)

sebanyak 6 orang atau 9,23 % dan yang berumur di atas 70 tahun sebanyak 3 orang atau 4,6%.

c. Agama

Agama maupun aliran kepercayaan turut memberikan pengaruh terhadap pendapat maupun persepsi seseorang. Semua agama maupun aliran kepercayaan akan senantiasa mengindikasikan akan pentingnya hidup sehat bagi manusia. Demikian pula halnya dalam penyelenggaraan program posyandu lansia agama dan kepercayaan seseorang akan memberikan warna dalam pemberian tanggapan. Adapun klasifikasi responden menurut agama dan kepercayaan dpata dilihat pada table berikut:

49 50 45 40 35 30 25 20 15 10 7 5 4 5 0

Islam Kristen Hindu Aliran

Kepercayaan

Grafik 4.3 Distribusi Informan Berdasarkan agama dan kepecayaan

Berdasarkan grafik 4.3 dari 65 responden, terdapat 49 orang atau 75.38 % responden yang beragama Islam, 7 orang atau 10,76 yang beragama

(23)

Kristen, 5 orang atau 7,69% yang beragama Hindu dan 4 orang 6,15 % yang memiliki aliran kepecayaan

d. Pendidikan

Pendidikan formal yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendidikan formal yang telah dilalui oleh pendidik yang dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai pada Perguruan Tinggi. Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam rangka menjalankan perannya, tidak terlepas dari kemampuan dan pengetahuan serta wawasan yang luas untuk dapat memecahkan, termasuk yang berkaitan dengan persoalan kesehatan. Untuk mengetahui tingkat pendidikan informan dalam penelitian ini dapat lihat dari gambar berikut : 25 22 20 16 15 13 10 5 0 4

SLTA Diploma Sarjana Magister

Grafik 4.4 Distribusi Informan Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan Grafik 4.4 dari 65 orang responden terdapat 16 orang atau 24,61 % orang yang berpendidikan, diploma sebanyak 22 orang atau

(24)

33,84%, Sarjana sebanyak 13 orang atau 20% dan sebanyak 4 orang atau 6,15 %

3. Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Analisis hasil penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai penyebaran/distribusi data, baik berupa ukuran gejala pusat maupun distribusi frekuensi. Nilai-nilai yang disajikan setelah data mentah diolah menggunakan metode Statistika deskriptif dengan bantuan program SPSS versi 17.00, diperoleh nilai rata-rata (mean), modus, dan simpangan baku (standar deviasi), distribusi frekuensi dan histogram. Nilai-nilai dari data tersebut dapat memberikan gambaran tentang sampel yang dipilih.

Berdasarkan banyak variabel dan merujuk pada masalah penelitian, maka deskripsi data selanjutnya dikelompokkan menjadi dua komponen variabel yakni; (1) variabel factor-faktor yang berpengaruh (dukungan keluarga, peranan kader, tempat tinggal dan sarana prasarana (X) sebagai variabel bebas, (2) variabel keberhasilan posyandu lansia (Y) sebagai variabel terikat. Uraian singkat hasil perhitungan statistika deskriptif dapat dijelaskan sebagai berikut:

e. Deskripsi Data dukungan keluarga (X1)

Dalam penyelenggaraan program posyandu lansia tentunya dukungan keluarga sangat diharapkan. Dukungan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai cara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang skor dukungan keluarga berada antara 15 sampai dengan 25, nilai rata-rata (mean) sebesar 20,60; modus simpangan baku atau standar deviasi sebesar 2,09. Dengan dasar itu, maka

(25)

peneliti membagi dalam tiga kategori yaitu: tidak mendukung, mendukung dan sangat mendukung. Dengan dasar itu maka kriteria tingkat dukungan keluarga dapat dikategorikan sebagai berikut:

15 – 18 Tidak Mendukung

19 – 22 Mendukung

≥ 23 Sangat mendukung

Jika kriteria di atas kita kelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, maka hasil pengelompokan itu secara jelas dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi tingkat dukungan keluarga

No Interval Kriteria Frekuensi Persentasi

1 15 – 18 Tidak Mendukung 7 10,8

2 19 – 22 Mendukung 48 73,8

3 ≥ 23 Sangat mendukung 10 15,4

Jumlah 65 100,00

Sumber: Data penelitian diolah bulan Agustus 2017

Berdasarkan Tabel 5.1, dapat diuraikan bahwa tingkat dukungan keluarga dapat dinyatakan memiliki kriteria tidak mendukung sebanyak 7 orang atau 10,8 persen, mendukung berjumlah sebanyak 48 orang atau 73,8 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 10 orang atau 15,4 persen,

Data pada tabel di atas, menunjukkan bahwa dukungan keluarga dalam pelaksanaan posyandu lansia berada pada kriteria mendukung. Dan apabila distribusi frekuensi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka grafiknya dapat dilihat pada grafik 5 1.

(26)

Grafik 5.1

Frekuensi dukungan keluarga dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia

50 40 30 20 10 48 10 7 0

Tidak Mendukung Sangat

Mendukung Mendukung

Grafik tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa para anggota keluarga memberikan dukungan dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Dari informasi yang dikemukakan oleh para responden beliau mengemukakan bahwa:

“…….kegiatan posyandu lansia merupakan wujud nyata atas perhatian pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sya tidak bias hadir disini jika tida ada bantuan maupun dukungan dari anggota keluarga. Keluarag senantiasa menganjurkan dan membantu saya untuk mengiukuti program ini. (wawancara, Agustus 2017)

Dengan dasar itu, penulis menyimpulkan bahwa keberhasilan dan

kesuksesan program posyandu lansia sangat ditentukan oleh dukungan keluarga dari para lansia. Dukungan dari keluarga itu dapat diwujudkan dalam bentuk: menganjurkan keposyandu, mengantar keposyandu, menemani menunggu layanan, mengajarkan produk layanan posyandu lansia serta aktif cari referensi tentang program posyandu lansia.

(27)

f. Peranan Kader (X2) dalam pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas

Dulalowo Kota Gorontalo

Kader posyandu merupakan tenaga pendamping kesehatan yang diharapkan dapat memudahkan kegiatan posyandu pada umumnya dan posyandu lansi pada khususnya. Olehnya itu, dalam penyelenggaraan program posyandu lansia tentunya peran kader posyandu sangat diharapkan. Dukungan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai cara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang skor peranan kader berada antara 9 sampai dengan 14, nilai rata-rata (mean) sebesar 14,81; modus simpangan baku atau standar deviasi sebesar 1,82. Dengan dasar itu, maka peneliti membagi dalam tiga kategori yaitu: tidak berperan, berperan dan sangat berperan. Dengan dasar itu maka kriteria tingkat peranan kader dapat dikategorikan sebagai berikut:

15 – 18 Tidak berperan

19 – 22 berperan

≥ 23 Sangat berperan

Jika kriteria di atas kita kelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, maka hasil pengelompokan itu secara jelas dapat dilihat pada table berikut:

(28)

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Peran Kader dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo

Perse

No Interval Kriteria Frekuensi

ntasi 1 9 – 12 Tidak berperan 6 9,2 2 13 – 15 Berperan 35 53,9 3 ≥ 16 Sangat berperan 24 36,9 Jumlah 65 100,0 0 Sumber: Data penelitian diolah bulan Agustus 2017

Berdasarkan Tabel 5.2, dapat diuraikan bahwa tingkat peranan kader dapat dinyatakan bahwa yang memiliki kriteria tidak berperan sebanyak 6 orang atau 9,2 persen, berperan berjumlah sebanyak 35 orang atau 53,9 persen, kriteria sangat berperan sebanyak 24 orang atau 36,9 persen,

Data pada tabel di atas, menunjukkan bahwa kader posyandu berperan dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo berada pada kriteria mendukung. Dan apabila distribusi frekuensi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka grafiknya dapat dilihat pada grafik 5

(29)

Grafik 5.1 Frekuensi dukungan keluarga dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia 40 35 30 24 20 10 6 0

tidak Berperan Sangat

berperan berperan

Grafik tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa para kader berperan dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Hal itu diperkuat dari informasi yang

dikemukakan oleh para responden beliau mengemukakan bahwa:

“…….dalam penyelenggaraan posyandu dipuskesmas ini, saya banyak dibantu oleh kader posyandu yang ada. Mereka sangat memperhatikan kebutuhan dan keinginan saya ketika saya berada di posyandu. Bantuan dan peran itu memberikan support bagi saya untuk selalu berkunjung ke posyandu lansia ini. (wawancara, Agustus 2017)

Dengan dasar itu, penulis menyimpulkan bahwa keberhasilan dan kesuksesan program posyandu lansia sangat ditentukan oleh peranan kader posyandu lansia itu sendiri. Dukungan dari keluarga itu dapat diwujudkan dalam bentuk: Promosi kegiatan posyandu; mengingatkan jadwal posyandu lansia; menjelaskan fungsi posyandu lansia; menyiapkan alat-alat layanan; ramah dalam memberikan layanan; bersahabat/familiar memberikan layanan; serta menjelaskan alternatif layanan kesehatan.

(30)

g. Tempat Tinggal Lansia (X3) dalam pelaksanaan Posyandu Lansia di

Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Tempat tinggal merupakan sarana yang dimiliki oleh para lansia. Sarana tersebut merupakan rumah atau kediaman. Dalam penelitian ini, penulis menfokuskan pada keterjangkauan posyandu lansia dari tempat tinggal mereka masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang skor peranan kader berada antara 4 sampai dengan 20, nilai rata-rata (mean) sebesar 12,86; modus simpangan baku atau standar deviasi sebesar 3,92. Dengan dasar itu, maka peneliti membagi dalam tiga kategori yaitu: tidak mendukung, mendukung dan sangat mendukung. Dengan dasar itu maka kriteria tingkat dukungan tempat tinggal dapat dikategorikan sebagai berikut:

4 – 8 Tidak mendukung 9 – 13 mendukung

≥ 14 Sangat mendukung

Jika kriteria di atas kita kelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, maka hasil pengelompokan itu secara jelas dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Dukungan Tempat Lansia Dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo

No Interval Kriteria Frekuensi Persentasi

1 4 – 8 Tidak mendukung 8 12,3

2 9 – 13 Mendukung 27 41,5

3 ≥ 14 Sangat mendukung 30 46,2

Jumlah 65 100,00

(31)

Berdasarkan Tabel 5.3, dapat diuraikan bahwa dukungan tempat tinggal lansia dapat dinyatakan bahwa yang memiliki kriteria tidak mendukung sebanyak 8 orang atau 12,3 persen, mendukung berjumlah sebanyak 27 orang atau 41,5 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 30 orang atau 46,2 persen,

Data pada tabel di atas, menunjukkan bahwa dukungan tempat tinggal lansia dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo berada pada kriteria mendukung. Dan apabila distribusi frekuensi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka grafiknya dapat dilihat pada grafik 5 3.

Grafik 5.3

Frekuensi dukungan keluarga dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia 30 30 27 20 8 10 0

Tidak Mendukung Sangat

Mendukung mendukung

Grafik tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa tempat tinggal lansia sangat mendukung dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Hal itu diperkuat dari informasi yang dikemukakan oleh para responden beliau mengemukakan bahwa:

(32)

“…….saya sangat senang mengikuti kegiatan posyandu lansia ini, hal itu disebabkan karena posyandu ini sangat dekat dari rumah saya, akibatnya saya tidak perlu mengeluarka waktu, tenaga dan biaya untuk menjangkau posyandu lansia ini. (wawancara, Agustus 2017)

Dengan dasar itu, penulis menyimpulkan bahwa keberhasilan dan kesuksesan program posyandu lansia sangat ditentukan oleh dukungan tempat tingga warga lansia. Hal itu penting karena dengan posyandu yang dekat dengan tempat tinggal warga, tidak akan merepotkan warga untuk menjangkau posyandu tersebut.

h. Dukungan Sarana dan Prasarana (X4) dalam pelaksanaan Posyandu

Lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Sarana dan prasarana yang dimiliki sebuah lembaga akan berpengaruh pada pelaksanaan program-programnya. Demikian pula halnya dengan kegiatan posyandu lansia. Tentunya sarana yang dimiliki akan memperkaya penyelenggaraan program yang ditujukan pada warga lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang skor dukungan sarana dan prasarana berada antara 12 sampai dengan 25, nilai rata-rata (mean) sebesar 19,04; modus simpangan baku atau standar deviasi sebesar 2,46. Dengan dasar itu, maka peneliti membagi dalam tiga kategori yaitu: tidak mendukung, mendukung dan sangat mendukung. Dengan dasar itu maka kriteria tingkat dukungan sarana dan prasarana dapat dikategorikan sebagai berikut:

12 – 16 Tidak mendukung

17 – 21 mendukung

≥ 22 Sangat mendukung

Jika kriteria di atas kita kelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, maka hasil pengelompokan itu secara jelas dapat dilihat pada table berikut:

(33)

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Dukungan Sarana dan Prasarana Posyandu Dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo

No Interval Kriteria Frekuensi Persentasi

1 12 – 16 Tidak mendukung 6 9,2

2 17 – 22 Mendukung 43 66,2

3 ≥ 21 Sangat mendukung 16 24,6

Jumlah 65 100,00

Sumber: Data penelitian diolah bulan Agustus 2017

Berdasarkan Tabel 5.4, dapat diuraikan bahwa dukungan sarana dan prasarana posyandu dapat dinyatakan bahwa pendapat yang menyatakan tidak mendukung sebanyak 6 orang atau 9,2 persen, mendukung berjumlah sebanyak 43 orang atau 66,2 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 16 orang atau 24,6 persen. Data pada tabel di atas, menunjukkan bahwa dukungan sarana dan prasarana posyandu dalam pelaksanaan posyandu lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo berada pada kriteria mendukung. Dan apabila distribusi frekuensi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka grafiknya dapat dilihat pada grafik 5.4

Grafik 5.4

Frekuensi Saran dan Prasarana Posyandu Dukungan Sarana dan Prasarana Posyandu Dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia

di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo keluarga dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia

(34)

50 43 40 30 16 20 6 10 0

Tidak Mendukung Sangat

Mendukung Mendukung

Grafik tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa sarana dan prasarana posyandu mendukungg dalam pelaksanaan posyandu lansia di

Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Hal itu diperkuat dari informasi yang dikemukakan oleh para responden beliau mengemukakan bahwa:

“…….mengunjungi posyandu bukanlah hal yang mudah, bahwa menuntut kesabaran. Apalagi diusia senja seperti ini, banyak persoalan yang saya hadapi. Akan tetapi karena posyandu yang saya kunjungi memiliki fasilitas yang memadai maka kejenuhan, kegalauan dan bahkan kejengkelan yang saya alami dapat saya atasi. (wawancara, Agustus 2017)

Dengan dasar itu, penulis menyimpulkan bahwa keberhasilan dan

kesuksesan program posyandu lansia sangat ditentukan oleh dukungan tempat tingga warga lansia. Hal itu penting karena dengan posyandu yang dekat dengan tempat tinggal warga, tidak akan merepotkan warga untuk menjangkau posyandu tersebut.

i. Deskripsi Data Keberhasilan Posyandu Lansia (Y) di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Data ini dimaksudkan untuk mengungkapkan tingkat keberhasilan pelaksanaan program posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota

(35)

Gorontalo. Data tersebu diperoleh dari hasil angket yang terdiri dari 9 (Sembilan) item pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang skor keberhasilan posyandu berada antara 18 sampai dengan 40, nilai rata-rata (mean) sebesar 29,87; simpangan baku atau standar deviasi sebesar 5,25. Dengan dasar itu maka kriteria tingkat keberhasilan posyandu lansia dapat dikategorikan sebagai berikut:

18 – 25 Tidak berhasil

26 – 33 Berhasil

≥ 34 Sangat berhasil

Jika kriteria di atas kita kelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, maka hasil pengelompokan itu secara jelas dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo

No Interval Kriteria Frekuensi Persentasi

1 18 – 25 Tidak mendukung 9 10,8

2 26 – 33 Mendukung 36 55,4

3 ≥ 34 Sangat mendukung 20 30,8

Jumlah 65 100,00

Sumber: Data penelitian diolah bulan Agustus 2017

Berdasarkan Tabel 5.5, dapat diuraikan bahwa tingkat keberhasilan posyandu lansia dapat dinyatakan bahwa pendapat yang menyatakan tidak berhasil sebanyak 9 orang atau 10,8 persen, menyatakan berhasil berjumlah sebanyak 36 orang atau 55,4 persen, kriteria sangat berhasil sebanyak 20

(36)

orang atau 30,8 persen. Data pada tabel di atas, menunjukkan bahwa

keberhasilan program posyandu lansia di Puskesmas Dulolowo Kota

Gorontalo berada pada kriteria berhasil. Dan apabila distribusi frekuensi tersebut digambarkan dalam bentuk grafik, maka grafiknya dapat dilihat pada grafik 5.5

Grafik 5.5

Frekuensi Keberhasilan Pelaksanaan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo keluarga dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia

40 36 30 20 20 9 10 0

Tidak Berhasil Berhasil Sangat

Berhasil

Grafik tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa

pelaksanaan program posyandu lansia berhasil di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Hal itu diperkuat dari informasi yang dikemukakan oleh Kepala Puskesmas Dulolowo, di mana beliau mengemukakan bahwa:

“…….keberhasilan pelaksanaan posyandu lansia, criteria tidak hanya dilihat dari jumlah partisipasi lansia yang mencapai 80 % dari jumlah populasi lansia, akan tetapi juga dilihat dari tingkat kesehatan yang dialamai oleh para lansia. Banyak pasien yang merasakan keluhan-keluhan berarti setelah mengikuti pelayanan pada posyandu ini. Harapan kita semoga ke depan posyandu lansia tetap mendapatkan dukungan dari semua pihak sehingga keberadaannya dapat menjadi salah satuu alternative untuk meningkatkan kesehatan masyarakat pada umumnya dan lansia pada khususnya. (wawancara, Agustus 2017)

(37)

Dengan dasar itu, penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan program prosyandu lansia di di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo. Keberhasilan itu dilihat dari tingkat partisipasi lansia dalam posyandu serta derajat kesehatan yang dialami oleh para lansia itu sendiri.

4. Pengaruh Dukungan Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta sarana dan Prasarana terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Analisis statistik inferensial yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yang diajukan adalah teknik analisis regresi linier. Sebelum melakukan analisis atas data yang diperoleh, data tersebut harus melalui persyaratan uji analisis yang akan digunakan. Analisis regresi mempersyaratkan data penelitian berdistribusi normal dan linier, dan perlu diuji normalitas dan linieritas.

1. Uji Normalitas

Variabel yang diuji normalitasnya adalah Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal lansia (X3) serta sarana dan prasarana (X3) terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu (Y), untuk menguji normalitas data variabel tersebut digunakan uji normalitas Kolmogrov-Smirnov Goodness of Fit Test. Perhitungan uji normalitas dilakukan dengan bantuan computer program SPSS versi 17, pedoman yang dilakukan untuk menentukan normalitas data pada uji ini adalah dengan membandingkan nilai absolut Kolmogrov-Smirnov dengan nilai tabel Kolmogrov-Smirnov (Manangkasi, 1998:56). Hasil uji normalitas data variabel tersebut disajikan dalam tabel berikut ini:

(38)

Tabel 5.6. Uji Normalitas

Nilai Absolut Nilai Tabel

No Variabel Keterangan K. Smirnov K. Smirnov 1 2 3 4 5 Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal lansia (X3) Sarana dan prasarana (X3) Keberhasilan Posyandu (Y),

0,221 0,040 Normal

0,250 0,140 Normal

0,216 0,172 Normal

0,271 0,161 Normal

0,235 0,122 Normal

Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa data variabel Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal lansia (X3) serta sarana dan prasarana (X3) terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu (Y), berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Uji Linearitas

Variabel yang diuji linearitasnya yakni data variabel Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal lansia (X3) serta sarana dan prasarana (X3) terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu (Y), Pengujian linearitas dilakukan dengan menggunakan analisis varians regresi sederhana. Perhitungan uji linearitas dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS versi 17. Pedoman yang digunakan untuk menentukan kelinearan antar peubah adalah dengan membandingkan nilai Thitung dengan Ttabel (0,05). Jika nilai Thitung Ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa persamaan memenuhi syarat linearitas. Hasil uji linearitas data Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal

(39)

lansia (X3) serta sarana dan prasarana (X3) terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu (Y), disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 5.7. Uji Linearitas Persamaan Regresi

No Linearitas variable Thitung Ttabel Keterangan

1 X1 atas Y 5,245 1,706 Linear 2 X2 atas Y 8,635 1,706 Linear 3 X3 atas Y 4,826 1,706 Linear 4 X4 atas Y 3,223 1,706 Linear

Berdasarkan pada tabel, dapat dilihat bahwa persamaan regresi X1 atas Y, X2 atas Y, X3 atas Y dan X4 atas Y adalah linier.

3. Analisis Regresi Linier

Pada bagian ini digunakan model analisis regresi linear sederhana dan analisis multivarian. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengukur pengaruh variabel bebas, yakni data Dukungan Keluarga (X1), Peran Kader (X2) dan Tempat Tinggal lansia (X3) serta sarana dan prasarana (X3) terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu (Y). Untuk kepentingan analisis tersebut, maka secara prosedural sebelum dilakukan analisis pengaruh terlebih dahulu harus dilakukan analisis korelasional untuk mengetahui apakah variabel bebas berhubungan dengan variabel terikat. Semua analisis tersebut melibatkan sampel responden sebanyak 65 orang dan dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan program statistik SPSS versi 17.0.

(40)

1) Dukungan Keluarga dalam kegiatan Posyandu (X1)

Berdasarkan hasil analisis korelasinya diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,847 (P<0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa Dukungan Keluarga dalam kegiatan Posyandu (X1) berkorelasi positif sebesar 0,663 dengan peningkatan pembelajaran tematik. Hal ini berarti semakin tinggi dukungan keluarga dalam pelaksanaan posyandu lansia maka akan semakin tinggi pula keberhasilan posyandu lansia peningkatan pembelajaran tematik.

Berdasarkan nilai koefisien korelasi tersebut, maka koefisien determinasinya (R2) = 0,8472 = 0,717 atau 71,7%. Ini berarti varians yang terjadi pada variabel keberhasilan posyandu 71,7% dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi pada variabel dukungan keluarga dalam pelaksanaan posyandu lansia, dan sisanya oleh faktor lain. Dengan nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi tersebut, dapat diartikan bahwa perubahan variabel Y dapat dijelaskan oleh perubahan variabel X1. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel dukungan keluarga

dalam pelaksanaan posyandu lansia berpengaruh positif terhadap tingkat keberhasilan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

2) Peranan Kader dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia (X2)

Berdasarkan hasil analisis korelasional diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,625 (P ≤ 0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa peranan kader dalam kegiatan posyandu berkorelasi positif sebesar 0,625 dengan tingkat keberhasilan posyandu lansia. Hal ini berarti semakin tinggi peranan kader dalam ppelaksanaan kegiatan posyandu maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan posyandu lansia.

(41)

Berdasarkan nilai koefisien korelasi tersebut, maka koefisien determinasinya (r2) = 0,6252 = 0,390 atau 39,0%. Ini berarti varians yang terjadi pada variabel keberhasilan posyandu lansia 39,0% dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi pada variabel peranan kader posyandu, dan sisanya oleh faktor lain. Dengan nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi tersebut, dapat diartikan bahwa perubahan variabel Y dapat dijelaskan oleh perubahan variabel X2. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel peranan kader posyandu berpengaruh positif terhadap peningkatan metode pembelajaran tematik di terhadap tingkat keberhasilan posyandu lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

3) Tempat Tinggal Lansia (X3) terhadap tingkat keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Berdasarkan hasil analisis korelasional diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,641 (P ≤ 0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa tempat tinggal lansia berkorelasi positif sebesar 0,641 dengan keberhasilan posyandu lansia. Hal ini berarti semakin dekat jarak temapat tinggal Lansia maka akan semakin tinggi tingkat keberhasilan posyandu lansia.

Berdasarkan nilai koefisien korelasi tersebut, maka koefisien determinasinya (r2) = 0,6412 = 0,410 atau 41,0%. Ini berarti varians yang terjadi pada variabel keberhasilan posyandu lansia 49,0% dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi pada variabel tempat tinggal lansia, dan sisanya oleh faktor lain. Dengan nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi tersebut, dapat diartikan bahwa perubahan variabel Y dapat dijelaskan oleh perubahan variabel X3. Jadi dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa Tempat

(42)

Tinggal Lansia (X3) berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

4) Sarana dan Prasarana (X4) terhadap tingkat keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Berdasarkan hasil analisis korelasional diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0,617 (P ≤ 0,05). Dengan demikian dapat diartikan bahwa sarana dan prasarana posyandu lansia berkorelasi positif sebesar 0,617 dengan keberhasilan posyandu lansia. Hal ini berarti semakin lengkap sarana dan prasarana yang dimiliki maka akan semakin tinggi tingkat keberhasilan posyandu lansia.

Berdasarkan nilai koefisien korelasi tersebut, maka koefisien determinasinya (r2) = 0,6172 = 0,380 atau 38,0%. Ini berarti varians yang terjadi pada variabel keberhasilan posyandu lansia 38,0% dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi pada variabel saranan dan prasarana posyandu, dan sisanya oleh faktor lain. Dengan nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi tersebut, dapat diartikan bahwa perubahan variabel Y dapat dijelaskan oleh perubahan variabel X4. Jadi dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana (X4) berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan Posyandu Lansia di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo.

Hasil korelasi multivarian di atas, bukanlah merupakan landasan untuk menyatakan bahwa rumusan penelitian telah terjawab. Koefisien multivarian hanyalah mencerminkan tingkat korelasi antar variabel. Oleh karena itu dilanjutkan dengan melakukan analisis multivarian dengan empat indikator Analisis multivarian dimaksudkan untuk mengetahui rasio perubahan nilai

(43)

variabel (Y) terhadap nilai variabel (X1, X2, X3 dan X4), dengan mengasumsikan salah satu diantaranya adalah konstan.

Berdasarkan analisis regresi yang telah dilakukan nilai a dimana nilai (Y) = 0,772, B1 (koefisien regresi X1) = 0,266, B2 (koefisien regresi X2) = 0,280, B3 (koefisien regresi X3) = 0,774, B3 (koefisien regresi X4) = 0,134 atau dinyatakan dengan persamaan regresi sebagai berikut :

Ŷ= 0,772 + 0,266 X1 + 0,280 X2 + 0,77 X3 + + 0,134 X4

Dari keempat koefisien regresi yakni koefisien regresi X1, X2, X3, dan X4, dengan nilai koefisien determinasinya sebesar 0,662. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa secara bersama-sama variabel X1, X2, dan X3, menyebabkan terjadinya perubahan nilai pada Y sebesar 0,438 atau sebesar 43,8 %.

Disamping itu dari hasil analisis juga diketahui bahwa dalam mempengaruhi masing-masing sub variabel memberikan sumbangan relatif

sebesar:

- X1 =0,717 /2,365 x 100% = 30,31%

- X2 =0,390 /2,365 x 100% = 16,49%

- X3 =0,641 /2,365 x 100% = 27,10%

- X3 =0,617 /2,365 x 100% = 26,10% Sedangkan sumbangan efektifnya sebesar:

- X1 =0,717 /2,365 x 43,8% = 13,28%

- X2 =0,390 /2,365 x 43,8% = 7,22%

- X3 =0,641 /2,365 x 43,8% = 11,87%

(44)

Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Dukungan Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta sarana dan Prasarana berpengaruh terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia. Dengan demikian maka hipotesis penelitian ini diterima, yakni: Ada Pengaruh Dukungan

Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta sarana dan Prasarana terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo ". Ringkasan hasil analisis multivariate dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.10, Hasil analisis multivariate antara variabel X1, X2, X3, dan X4 terhadap Y

Variabel Koefisien R Regresi Intersep Y Sumbanga Sumbang

Terhadap Y terhadap Y n relatif an efektif

X1 + X2 + X3 + 0,662 0,717 0,390 0,438 100% 43,8 % X4 0,641 0,617 X1 30,31% 13,28% X2 16,49% 7,22% X3 27,10% 11,87% X4 26,10% 11,43%

(45)

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan dikemukakan uraian tentang temuan hasil penelitian dikaitakan dengan berbagai teori yang mendukung pelaksanaan penelitian ini. 1. Dukungan keluarga

Keluarga merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat. Setiap orang berkeinginan untuk sehat dan berumur yang panjang. Mewujudkan maksud itu sangat diperlukan bantuan dan kerjasama dari semua pihak . salah satunya adalah dukungan untuk selalu sehat dari keluarga.

Dari hasil penelitian tentang gambaran dukungan keluarga diperoleh data bahwa dari 65 responden dinyatakan memiliki kriteria tidak mendukung sebanyak 7 orang atau 10,8 persen, mendukung berjumlah sebanyak 48 orang atau 73,8 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 10 orang atau 15,4 persen. Tingginya persentase dukungan keluarga terhadap program posyandu disebabkan karena anggota keluarga menyadari bahwa mewujudkan kesehatan yang maksimal terutama bagi para orang tua (lansia) adalah tangggung jawab anggota keluarga.

Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Nurul Khoir (2011: 62) mengatakan bahwa peran keluarga dalam kegiatan posyandu merupakan motivasi. Olehnya itu, anggota keluarga perlu menyadari bahwa apapun program yang berkaitan dengan upaya meningkatkan derajat kesehatan keluarga menjadi garda terdepan dalam mensukseskannya.

Dukungan keluarga yang tinggi ini akan selalu ada kala manakala setiap keluarga menyadari akan tanggungjawabnya. Perlu disadari bahwa dimasa tua, orang tua akan kembali menjadi anak-anak. Oleh karena itu kesabaran dari setiap anggota keluarga sangatlah penting. Karena terkadang tindakan lansia terkadang

(46)

berbeda dari tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa. Olehnya itu kesabaran dan keuletan dan menyadari bahwa memelihara dan membimbing orang tua adalah tanggung jawab anak pada khususnya dan anggota keluarga pada umumnya.

2. Peranan Kader Posyandu

Kader posyandu merupakan tenaga pendamping yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan. Tugasnya adalah memberikan bantua kepada masyarakat akan terselenggara kegiatan posyandu dengan baik. Keberadaan kader sangat diharapkan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa tingkat peranan kader dapat dinyatakan bahwa yang memiliki kriteria tidak berperan sebanyak 6 orang atau 9,2 persen, berperan berjumlah sebanyak 35 orang atau 53,9 persen, kriteria sangat berperan sebanyak 24 orang atau 36,9 persen. Hal ini berarti keberadaan kader posyandu turut serta dalam membantu terselenggaranya kegiatan posyandu lansia.

Olehnya itu menurut penulis, agar kader dapat berperan secara aktif maka diperlukan peningkatan kompetensi kader. Upaya itu dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Hal ini penting karena dengan pengetahuan yang dimiliki, maka kader akan berperan aktif pada setiap kegiatan posyandu pada umumnya dan posyandu lansia pada khususnya.

Demikian pula pendapat (Yamin, 2007:108), yang menyebutkan bahwa melalui pelatihan yang diikuti, seseorang akan mendapatkan pengetahuan baik kemampuan teknis maupun komunikas. Dengan kemampuan itu, para kader akan

(47)

mampu menyampaikan pengetahuan yang banyak serta mampu membangun pola hubungan berdasarkan budaya yang ada.

3. Tempat Tinggal Lansia

Tempat tinggal warga lansia merupakan jarak yang dilalui oleh lansia ketika akan mengikuti kegiatan posyandu. Tempat tinggal yang jauh akan menyulitkan lansia aktif dalam kegiatan posyandu, demikian pula sebaliknya tempat tinggal yang dekat akan sangat memudahkan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapat responden akan dukungan tempat tinggal menyebutkan bahwa dari 65 orang responden, yang memiliki kriteria tidak mendukung sebanyak 8 orang atau 12,3 persen, mendukung berjumlah sebanyak 27 orang atau 41,5 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 30 orang atau 46,2 persen. Hal iini berarti bahwa para tempat tinggal berpengaruh terhadap tingkat kunjungan atau keikutsertaan lansia dalam kegiatan posyandu.

Temuan penelitian ini sejalan dengan pendapat Nurul Khoir (2011) yang menyebutkan bahwa posyandu yangdekat dengan masyarakat binaannya akan sesnatias dikunjungi. Olehnya itu, menurut penulis pembentukan posyandu hendaknya didasarkan atas domisili warga binaan. Hal itu penting karena daya jangkau masyarakat atau akses untuk mencapai posyandu sangat ditentukan oleh jarak warga dari tempat tinggalnya.

(48)

4. Sarana dan Prasarana

Untuk mensukseskan program posyandu, maka dukungan sarana dan prasarana sangat penting. Kelengkapan sarana dan prasarana akan memudahkan para warga lansia untuk mendapatkan layanan yang memadai, demikian pula sebaliknya jika sarana dan prasarana yang dimiliki tidak memadai atau tidak lengkap maka akan memuat warga binaan tidak merasa nyaman.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 65 orang responden, pendapat yang menyatakan tidak mendukung sebanyak 6 orang atau 9,2 persen, mendukung berjumlah sebanyak 43 orang atau 66,2 persen, kriteria sangat mendukung sebanyak 16 orang atau 24,6 persen. Hal ini berarti bahwa sarana dan prasarana yang lengkap akan memberikan minat maupun motivasi lansia untuk mengunjungi posyandu

Hal peneltian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Sumiati (2012; 46) yang menyebutkan bahwa sarana dan fasilitas yang lengkap menambah motivasi warga untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan fasilitas yang memadai memungkinkan terjadinya situasi yang kondusif ketika para lansia berada di posyandu.

Olehnya itu menurut penulis, posyandu sebagai salah satu cara untuk meningkatkan derajat dan nilai kesehatan masyarakat pada umumnya dan penduduk lansia pada khususnya selayaknya mendapat perhatian yang saksama. Perhatian itu dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga masyarakat dapat mendapatkan layanan yang memuaskan. Disamping itu dengan fasilitas yang baik, maka motivasi warga untuk terlibat sangat tinggi, yang selanjutnya akan menumbuhkan pemberdayaan masyarakat.

(49)

5. Keberhasilan Posyandu

Keberhasilan merupakan sesuatu yang didambahkan, diinginkan atau dicita-citakan. Dalam kegiatan posyandu lansia keberhasilan posyandu dilihat dari tingkat kesehatan yang diperoleh warga binaan. Di sisi lain keberhasilan posyandu lansia juga dilihat dari daya serap posyandu terhadap populasi lansia dalam wilayah kerjanya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan posyandu lansia dapat dinyatakan sebagai berikut: bahwa dari 65 orang responden yang memberikan tanggapan, sebanyak 9 orang atau 10,8 persen, menyatakan berhasil berjumlah sebanyak 36 orang atau 55,4 persen, kriteria sangat berhasil sebanyak 20 orang atau 30,8 persen. Hal ini, menunjukkan bahwa keberhasilan program posyandu lansia di Puskesmas Dulolowo Kota Gorontalo berada pada kriteria berhasil.

Keberhasilan kegiatan posyandu ini adalah sesuatu yang diharapkan dari pengelola posyandu. Tentunya, hal yang dicapai ini tidaklah mudah. Akan tetapi melalui kerja keras dan sungguh-sungguh. Melibatkan berbagai pihak serta mencurahkan berbagai perhatian dengan sepenuh hati.

Dengan hasil ini penulis berpendapat bahwa keberhasilan yang diperoleh oleh posyandu adalah hasil dari upaya dan kerja keras yang ditunjukkan pengelola posyandu lansia. Olehnya itu, perhatian dari pihak terkait sangat diharapkan. Perhatian itu dapat berupa reward yang merupakan sugesti atau motivasi untuk menperoleh hasil yang lebih baik.

(50)

6. Pengaruh Dukungan Keluarga, Peran Kader Dan Tempat Tinggal serta sarana dan Prasarana terhadap Tingkat Keberhasilan Posyandu Lansia Di Puskesmas Dulalowo Kota Gorontalo

Proses pelaksanaan posyandu lansia, merupakan bahagian yang tidak terpisahkan dengan upaya untuk meningkat kesehatan lansia. Untuk meningkatkan keberhasilan posyandu lansia, dukungan keluarga, peran kader, tempat tinggal serta sarana dan prasaranan sangat diperlukan. Dukungan Keluarga adalah dorongan moril maupun materil yang didapatkan responden untuk mengikuti layanan kesehatan pada kegiatan posyandu lansia. Peran Kader adalah tingkat keterlibatan kader dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan responden dalam mendapatkan layanan yang maksimal pada posyandu lansia. Tempat Tinggal adalah jarak dan waktu yang digunakan oleh responden dalam mendapatkan layanan kegiatan posyandu lansia. Sarana dan prasarana adalah pernyataan responden terhadap kelengkapan alat yang diperlukan dan dibutuhkan pada pelaksanaan program posyandu lansia.

Berdasarkan hasil analisis data, dari keempat koefisien regresi yakni koefisien regresi X1, X2, X3, dan X4, dengan nilai koefisien determinasinya sebesar 0,662. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa secara bersama-sama variabel X1, X2, dan X3, menyebabkan terjadinya perubahan nilai pada Y sebesar 0,438 atau sebesar 43,8 %. Temuan ini menunjukkan bahwa ada factor lain yang berpengaruh diluar dari variable penelitian ini sebesar 46,2%. Dengan koefisien pengaruh yang sebesar itu maka, pengaruh faktor-faktor tadi masih tergolong rendah. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menyempurnakan berbagai hal yang terkait dengan penyelenggaraan posyandu lansia.

(51)

BAB VI. BIAYA DAN RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA 6.1. Anggaran Biaya

Penelitian ini diusulkan dengan menggunakan anggaran yang ditetapkan untuk usulan penelitian dosen pemula, yakni sebesar Rp. 20.000.000. pencairan dana tahap I sebesar 70 % yang diterima telah digunakan dalam penelitian ini. Adapun ringkasan pengeluaran biaya tahap I adalah sebagai berikut : Tabel 1. Ringkasan Anggaran Biaya 70 % Penelitian Dosen Pemula

No Jenis Pengeluaran 70 % Biaya Yang Diusulkan Rp 1. Gaji dan Upah Penelti 3.250.000

2. Bahan Habis Pakai dan Peralatan 1.231.000

3. Perjalanan 1.824.000

4.

Gambar

Grafik 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Grafik 4. 2. Distribusi Responden berdasarkan umur
Grafik 4.3 Distribusi Informan Berdasarkan agama dan kepecayaan
Grafik 4.4 Distribusi Informan Berdasarkan Pendidikan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Activity Diagram Melihat Nilai untuk menjelaskan alur melihat nilai yang di lakukan oleh user guru kelas, setelah melakukan penambahan nilai, guru tersebut dapat melihat hasil dari

Selain itu, pada umumnya untuk transaksi/penjualan akan dilakukan skrining sebelumnya, tetapi untuk perusahaan yg berpotensi risiko rendah akan dinilai sebagai mitra kerja

Untuk itu setiap pemimpin harus mampu menganalisa situasi sosial kelompok atau organisasinya, yang dapat di manfaatkan dalam mewujudkan fungsi kepemimpinan dengan kerja sama

(3) pengaruh kontinuitas belajar dan minat belajar teman sebaya terhadap tingkat kesulitan belajar. Penelitian asosiatif ini mengambil lokasi di FKIP Akuntansi UMS. Populasinya

Program Studi Tujuan pada kegiatan Pertukaran Pelajar dapat berupa Program Studi lain di luar Universitas Brawijaya yang telah mendapatkan Akreditasi minimal setara dengan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keaktifan kader posyandu dan dukungan keluarga dengan tingkat kualitas hidup lansia di posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas

Hasil penelitian yang diperoleh adalah Faktor pendukung dalam pendayagunaan dana ziswaf melalui program MEC yaitu, MEC telah terakreditasi B, kekuatan antar cabang

Bagaimana penilaian pengendalian risiko infeksi di Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping sesuai dengan metode instrument Infection Control Risk