persepsi anak asuh tentang pelayanan sosial di panti sosial asuhan anak psaa tambatan hati subang bab 2

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORITIS

2.1. Tinjauan Tentang Komunikasi a. Pengertian Komunikasi

Manusia tidak bisa hidup sendirian. Ia secara tidak kodrati harus hidup bersama manusia lain, baik demi kelangsungan hidupnya, keamanan hidupnya, maupun demi keturunannya. Jelasnya, manusia harus hidup bermasyarakat. Masyarakat bisa berbentuk kecil, sekecil rumah tangga yang hanya terdiri dari dua orang suami istri, bisa berbentuk besar, sebesar kampung, desa, kecamatan, kabupaten atau kota, propinsi, dan negara. (Effendy, 2003:27)

Semakin besar suatu masyarakat yang berarti semakin banyak manusia yang dicakup, cenderung akan semakin banyak masalah yang timbul, akibat perbedaan-perbedaan di antara manusia yang banyak itu dalam pikirannya, perasaannya, kebutuhannya, keinginannya, sifatnya, tabiatnya, pandangan hidupnya, kepercayaannya, aspirasinya, dan lain sebagainya, yang sungguh terlalu banyak untuk disebut satu demi satu.

(2)

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.

Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (massage), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicatee).

Komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan (Effendy, 2003:28). Jika dianalisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa. Pikiran dan perasaan sebagai isi pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan, selalu menyatu secara terpadu. (Effendy, 2003:28)

Dewasa ini orang-orang semakin asyik mempelajari ilmu komunikasi oleh karena jika seseorang salah komunikasinya (miscommunication), maka orang yang dijadikan sasaran mengalami salah persepsi (misperception), yang pada gilirannya salah interpretasi (misinterpretation), yang pada giliran berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding).

Dalam hal-hal tertentu salah pengertian ini menimbulkan salah perilaku (misbehavior), dan apabila komunikasinya berlangsung berskala nasional, akibatnya bisa fatal.

(3)

pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung lancar.

Sebaliknya, jikalau pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain; dengan lain perkataan situasi menjadi tidak komunikatif; atau dengan rumusan lain terjadi miscommunication (miskomunikasi). Dan banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya miskomunikasi atau komunikasi yang salah itu. (Schramm dalam Effendy, 2003:30)

Wilbur Schramm menampilkan apa yang ia sebut “the condition of success in communication”, yakni kondisi yang harus dipenuhi jika kita menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki.

Kondisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.

2. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.

3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.

4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia gerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.

b. Tujuan Komunikasi :

(4)

2. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) 3. Mengubah perilaku (to change the behavior)

4. Mengubah masyarakat (to change the society). (Effendy, 2003:55) c. Fungsi Komunikasi :

1. Menginformasikan (to inform) 2. Mendidik (to educate)

3. Menghibur (to entertain)

4. Mempengaruhi (to influence). (Effendy, 2003:55)

2.2. Tinjauan Tentang Persepsi-persepsi

a. Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan pemberian makna terhadap stimuli indrawi yang berupa informasi mengenai lingkungan yang diterima oleh panca indera yang kemudian ditentukan oleh faktor personal dan situasional.

Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dengan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna kepada stimuli indrawi. (Rakhmat, 1992:51)

(5)

Persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar cakrawala dan pengetahuannya. (Mar’at, 1984:22).

Berdasarkan definisi ini maka persepsi dapat disebabkan oleh adanya pengamatan seseorang akan dipengaruhi oleh sesuatu yang terjadi di sekelilingnya.

Bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, mengecap dan mencium dunia di sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat pula didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dialami oleh manusia. (Morgan King & Robinson dalam Setiobawono, 2006:32).

Berdasarkan definisi ini maka persepsi terbentuk atas dasar data-data yang kita peroleh dari lingkungan yang diserap oleh panca indera kita serta sebagian lainnya diperoleh dari pengolahan ingatan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya.

b. Terjadinya Persepsi

(6)

c. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Persepsi sosial yang menggambarkan bagaiman suatu hasil kontak atau hubungan interaksi mempengaruhi tingkah laku dan cara jalan pikiran seseorang, ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

1. Faktor Perhatian

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indera kita dan mengesampingkan masukan-masukan alat indera yang lain.

2. Faktor Fungsional

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lampau dan hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor personal yang menentukan persepsi. Berarti objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Seperti kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang budaya terhadap persepsi.

3. Faktor Struktural

Faktor struktural semata-mata berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek syaraf yang ditimbulkannya pada sistem syaraf individu. Artinya bila kita mempersepsikan sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. (Rakhmat, 1992:62)

(7)

penafsiran berbeda-beda, sehingga menimbulkan perbedaan pilihan, tindakan dan tingkah laku terhadap objek yang sama.

Ada dua golongan variabel yang mempengaruhi persepsi, yaitu :

a. Variabel Struktural, yaitu faktor-faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik dan proses neurofisiologik.

b. Variabel Fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri si pengamat seperti kebutuhan suasana hati, pengalaman masa lampau dan sifat-sifat individu lainnya. (Krech & Crutchfield dalam Wirawan, 2005:88)

Dengan demikian, kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan serta dapat disimpulkan bahwa persepsi yang timbul dari diri anak tergantung pada rangsang atau input yang diterima anak, orang tua merupakan pembina pribadi yang pertama bagi anak dan tokoh yang diidentifikasi atau ditiru anak. Kepribadian anak yang baik timbul dari teladan yang diberikan oleh orang tua, baik yang menyangkut sikap, kebiasaan-kebiasaan berprilaku atau tata cara hidupnya merupakan unsur-unsur pendidikan yang tak langsung memberikan pengaruh.

2. 3. Tinjauan Tentang Masalah Sosial

a. Pengertian Masalah Sosial

(8)

Sebab itu masalah-masalah sosial tak akan mungkin ditelaah tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

Masalah sosial adalah :

1. Semua bentuk tingkah laku yang melanggar atau memperkosa adat istiadat masyarakat dan adat istiadat tersebut diperlukan untuk menjamin kesejahteraan hidup masyarakat.

2. Situasi sosial yang dianggap oleh sebagian besar warga masyarakat sebagaian mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya dan merugikan orang banyak.

(Kartono, 1992:2)

Jelaslah adat istiadat itu mempunyai nilai pengontrol dan nilai sanksional terhadap tingkah laku anggota masyarakat. Maka tingkah laku yang dianggap cocok, melanggar norma dan adat, atau berintegrasi dengan tingkah laku umum, dianggap sebagai masalah sosial.

b. Karakteristik Masalah Sosial

Masalah sosial timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor-faktor ekonomis, biologis, biopsikologis dan kebudayaan. Setiap masyarakat mempunyai norma yang bersangkut paut dengan kesejahteraan, kebendaan, kesehatan fisik, kesehatan mental, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial.

Problema-problema yang berasal dari faktor ekonomis antara lain kemiskinan, pengangguran dan sebagainya.

(9)

persoalan yang menyangkut perceraian, kejahatan, konflik sosial, keagamaan dan kenakalan anak bersumber pada faktor kebudayaan.

Ada empat karakteristik masalah sosial, yaitu :

1. Kondisi yang dirasakan orang banyak

Suatu masalah baru dapat dikatakan sebagai masalah sosial apabila kondisisnya dirasakan oleh banyak orang. Namun demikian tidak ada batasan mengenai beberapa jumlah orang yang harus merasakan masalah tersebut. Jika suatu masalah mendapat perhatian dan menjadi pembicaraan lebih dari satu orang, masalah tersebut adalah masalah sosial. Peran media massa sangat menentukan apakah masalah tertentu menjadi pembicaraan khalayak umum, jika sejumlah artikel/berita yang membahas suatu masalah muncul di media massa masalah tersebut segera menarik perhatian orang.

2. Kondisi yang dinilai tidak menyenangkan

(10)

3. Kondisi yang menuntut pemecahannya

Suatu kondisi yang tidak menyenangkan senantiasa menuntut pemecahannya, umumnya suatu kondisi dianggap perlu dipecahkan jika masyarakat merasa bahwa kondisi tersebut memang dapat dipecahkan.

4. Pemecahan dilakukan melalui aksi sosial secara kolektif

Masalah sosial berbeda dengan masalah individual, masalah individual dapat diatasi secara individual tetapi masalah sosial hanya dapat diatasi melalui aksi sosial, kebijakan sosial atau perencanaan sosial karena penyebab dan akibatnya menyangkut orang banyak. (Suharto dalam Setiobawono, 2006:20)

2. 4. Tinjauan Tentang Anak Asuh

a. Pengertian Tentang Anak Asuh

Anak asuh adalah seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun, belum pernah kawin dan dalam keadaan terlantar yang mendapat pelayanan sosial dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Anak yang tidak mempunyai salah satu atau kedua orang tua kandung

2. Anak yang tidak diakui oleh salah satu atau kedua orang tua kandung dan terlantar.

3. Anak yang tidak mampu, yaitu anak yang karena sesuatu sebab tidak terpenuhi kebutuhannya, baik secara rohani, jasmani maupun sosial.

(11)

salah satu fungsi dari keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan anak baik secara jasmani, rohani maupun sosialnya.

b. Faktor-faktor Keterlantaran Anak

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan keterlantaran anak secara umum menurut Wahyu, yang dikutip oleh Agus Sujanto adalah sebagai berikut :

1. Mereka yang orang tuanya tidak mampu atau sangat miskin 2. Mereka yang tidak mampu serta tidak mempunyai orang tua 3. Akibat bencana alam

4. Anak yang menderita penyakit fisik atau mental atau mempunyai tingkah laku yang menyimpang

5. Mereka yang orang tuanya menderita penyakit fisik atau mental

6. Mereka yang sengaja diterlantarkan orang tuanya. (Sujanto dalam Setiobawono, 2006:40)

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak asuh adalah anak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik dan sangat memerlukan bantuan pelayanan sosial guna meningkatkan fungsi sosialnya dengan baik.

c. Kebutuhan Anak

Anak menjadi terlantar karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Kebutuhan anak terlantar pada dasarnya sama dengan kebutuhan manusia pada umumnya.

(12)

3. Kebutuhan untuk dicintai dan mencintai 4. Kebutuhan akan penghargaan

5. Kebutuhan aktualisasi diri. (Maslow dalam Soekoco, 1998)

Selain itu kebutuhan anak meliputi:

1. Kebutuhan fisik : Meliputi perawatan kesehatan, pengan, sandang dan papan.

2. Kebutuhan emosional : Meliputi kasih sayang, perhatian yang mendukung, kestabilan emosi dan perkembangan kepribadian. 3. Kebutuhan intelektual : Mencakup kebutuhan untuk mengembangkan

intelektualnya dan cara bergaul dengan lingkungan-nya. (Hurlock, 1998:228)

Kebutuhan-kebutuhan anak yang perlu mendapat perhatian mengenai upaya pemenuhan kebutuhannya, karena apabila tidak terpenuhi akan dapat mempengaruhi perkembangan anak.

2. 5. Tinjauan Tentang Pelayanan Sosial

a. Pengertian Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial merupakan pelayanan yang memberikan bantuan kepada individu, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi masalah sosial baik dari luar maupun dari dirinya. Pelayanan sosial bertujuan untuk meningkatkan kemampuan orang dalam memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia. Pelayanan sosial adalah :

(13)

memperlancar kemampuan menjangkau dan menggunakan pelayanan-pelayanan serta lembaga-lembaga yang telah ada dan membantu warga masyarakat yang mengalami kesulitan dan keterlantaran. (Kahn dalam Soetarso, 1993:26)

Pelayanan sosial dapat dicapai dengan cara yang bersifat informasi, bimbingan dan pertolongan meallui berbagai bentuk kegiatan yang berkenaan dengan pemecahan masalahnya.

Pelayanan sosial dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

1. Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja dan sebagainya.

2. Pelayanan sosial dalam arti sempit atau disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial yang mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya. (Muhidin, 1997:40)

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa pelayanan sosial merupakan sistem yang terorganisir untuk memberikan pelayanan dan bantuan kepada individu, keluarga dan masyarakat agar dapat meningkatkan kesejahteraannya.

b. Fungsi Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial mungkin dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, tergantung dari tujuan klasifikasi. Fungsi pelayanan sosial yang dapat dikaji dari perspektif masyarakat adalah sebagai berikut :

1. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan individu, kelompok dan masyarakat untuk masa sekarang dan untuk masa yang akan datang.

2. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan sebagai suatu investasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial (suatu program tenaga kerja).

(14)

4. Pelayanan-pelayanan atau keuntungan-keuntungan yang diciptakan sebagai program-program kompensasi bagi orang-orang yang tidak mendapat pelayanan sosial. (Titmuss dalam Muhidin, 1994:42).

Pendapat di atas dapat diketahui bahwa fungsi pelayanan sosial dapat menciptakan atau meningkatkan kesejahteraan sosial bagi individu, kelompok dan masyarakat, dimana sebagai investasi untuk mencapai tujuan dan pelayanan sosial.

c. Tujuan Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial merupakan suatu aktivitas yang mempunyai tujuan untuk membantu atau menolong orang-orang yang mengalami kesulitan-kesulitan dan keterlantaran agar terdapatnya suatu penyesuaian timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya.

Tujuan dari pelayanan sosial dapat dicapai melalui teknik dan metode-metode yang diciptakan untuk memungkinkan individu, kelompok dan masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan mengatasi masalah-masalah penyesuaian sebagai akibat dari pola-pola perubahan masyarakat melalui tindakan-tindakan kooperatif untuk meningkatkan kondisi-kondisi sosial dan ekonomi.

Tujuan penelaahan dan permasalahan pelayanan sosial Alfred J. Kahn yang dikutip Soetarso, mengadakan klasifikasi pelayanan sosial yang didasarkan pada fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Pelayanan sosial untuk membantu orang menjangkau dan menggunakan pelayanan yang sudah ada, pemberian informasi dan nasehat.

2. Pelayanan sosial untuk tujuan penyembuhan, pemberian bantuan, rehabilitasi dan perlindungan sosial.

3. Pelayanan sosial untuk tujuan sosialisasi dan pengembangan. (Kahn dalam Soetarso, 1993:45-45)

(15)

1. Pelayanan sosial untuk membantu orang menjangkau dan menggunakan pelayanan yang sudah ada, pemberian informasi dan nasehat.

Pelayanan sosial ini diprioritaskan untuk meningkatkan kemampuan memahami, menjangkau dan menggunakan pelayanan-pelayanan sosial ini diberikan kepada golongan masyarakat yang miskin atau lemah ekonominya. Pelayanan ini berupa pemberian informasi, nasehat, pengalihan wewenang (rujukan/referal), penanganan keluhan.

2. Pelayanan sosial untuk tujuan penyembuhan, pemberian bantuan, rehabilitasi dan perlindungan sosial.

Pelayanan sosial diadakan untuk melindungi, mengadakan perubahan atau menyempurnakan kegiatan-kegiatan pendidikan, asuhan anak, peran nilai dan pegembangan hubungan sosial yang di masa lampau menjadi fungsi keluarga, lingkungan tetangga dan kerabat. Tujuan kegiatan ini adalah sosialisasi menanamkan pemahaman akan tujuan dan motivasi serta meningkatkan mutu kepribadian. Aspek-aspek kognitif dan emosional dari proses belajar juga terdapat di dalamnya. Sarana pencapaian tujuan-tujuan ini dapat bersifat formal, semiformal dan informal.

3. Pelayanan sosial untuk tujuan sosialisasi dan pengembangan.

Pelayanan sosial di sini dalam beberapa hal ditujukan untuk membantu perorangan yang mengalami masalah-masalah dengan jalan menggunakan kelompok primer untuk memperkuat atau menggantikan fungsi-fungsi yang tidak ada lagi atau mengalami gangguan.

(16)

Timbulnya pelayanan sosial secara realitas dipengaruhi oleh aspek kehidupan sosial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat oleh karena itu aspek-aspek sosial tersebut dapat merubah penampilan perilaku anak ke arah pola pikir yang menguntungkan baik bagi dirinya, kelompok maupun masyarakat untuk turut serta mengambil bagian dari suatu kegiatan dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik.

Faktor-faktor kehidupan sosial yang sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya pelayanan sosial antara lain :

 Semakin berkembangnya fungsi-fungsi khusus dari lembaga-lembaga di

luar keluarga untuk memberikan pelayanan-pelayanan sosial yang tidak dapat dipikul oleh keluarga.

 Semakin berkurangnya atau berubahnya fungsi dari keluarga di dalam

produksi, distribusi, pendidikan, pengawasan serta sosialisasi.

 Bertambahnya keluraga besar menjadi keluarga kecil sebagai unit

kehidupan.

Proses pelayanan sosial tidak semata-mata mengganti atau memperbaiki fungsi keluarga tetapi juga sebagai jawaban terhadap tantangan-tantangan dan perubahan-perubahan sosial, karena kemajuan-kemajuan dan perubahan dalam kehidupannya.

Maka dari itu tugas pelayanan sosial adalah sebagai berikut :

 Memperkuat dan meningkatkan fungsi individu dan keluarga sehubungan

(17)

 Menyiapkan lembaga-lembaga untuk sosialisasi, pengembangan dan

bantuan-bantuan fungsi yang tidak dapat dipikul oleh keluarga kecil dan besar.

 Mengembangkan lembaga-lembaga yang telah ada agar dapat menjalankan

kegiatan-kegiatan, kelompok dan keluarga dalam kehidupan masyarakat yang kompleks.

Dalam kehidupan masyarakat peranan pelayanan sosial adalah mengembangkan kehidupan bagi individu dan kelompok sebagai pengganti fungsi dalam keluarga, sehingga pemenuhan kebutuhan bagi kesejahteraan para anggotanya dipenuhi dalam keluarga dan mereka hanya berhubungan dengan dunia luar untuk mengatur semua kehidupannya, untuk mempertahankan diri sendiri dari ancaman-ancaman yang datangnya dari luar. Untuk itu diberlakukannya lembaga-lembaga pendidik dan latihan secara khusus.

5. Pelayanan Kesejahteraan Anak

Pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak merupakan bentuk usaha yang dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kesejahteraan anak dengan mengusahakan terjaminnya kebaikan fisik, rohani maupun sosialnya. Pelayanan kesejahteraan bagi anak merupakan program yang komprehensif yang diselenggarakan bagi kepentingan kesejahteraan anak.

Pengertian pelayanan kesejahteraan anak sebagai berikut :

Pelayanan Kesejahteraan Anak adalah program yang komprehensif untuk anak yang terdiri dari usaha untuk meningkatkan kesejahteraan anak baik fisik, mental maupun sosial.

(18)

Pendapat di atas menjelaskan bahwa pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak merupakan usaha yang komprehensif dan terpadu yang menyangkut berbagai aspek kebutuhan jasmani, rohani dan sosial.

Pelayanan sosial anak merupakan serangkaian kegiatan yang memfokuskan pada kesejahteraan anak. Pemerintah memberikan usaha-usaha kesejahteraan sosial bagi anak.

2. 6. Tinjauan Tentang Intervensi Pekerjaan Sosial

a. Pengertian Pekerjaan Sosial

Pada dasarnya sasaran utama kegiatan pekerjaan sosial adalah memberi bantuan kepada individu, kelompok maupun masyarakat untuk melaksanakan berbagai upaya guna meningkatkan atau mengembangkan keberfungsian sosial melalui proses interaksi, agar dapat melakukan penyesuaian diri dengan situasi kehidupannya. Definisi pekerjaan sosial sebagai berikut :

“Pekerjaan sosial merupakan proses-proses yang ditujukan untuk mengembangkan kepribadian melalui penyesuaian diri yang secara sadar mempengaruhi individu-individu dengan hubungan antara manusia dengan lingkungannya” (Richmond dalam Seiobawono,1992:18).

(19)

Berdasarkan pengertian di atas, maka pada prinsipnya pekerja sosial berusaha membantu individu-individu, kelompok maupun masyarakat yang mengalami ketidakberfungsian baik secara fisik maupun mental dengan menghubungkannya kepada sumber-sumber untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

b. Tujuan dan Fungsi Pekerjaan Sosial

b.1. Tujuan Pekerja Sosial

Dari berbagai pengertian pekerja sosial yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dikemukakan secara umum bahwa pada dasarnya pekerja sosial itu bertujuan untuk mencapai kesejahteraan individu, kelompok dan masyarakat secara umum. Lebih jelasnya tujuan pekerja sosial adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kemampuan orang untuk menghadapi tugas-tugas kehidupan dan kemampuannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

2. Mengaitkan orang dengan sistem sumber yang dapat menyediakan sumber-sumber pelayanan dan kesempatan-kesempatan yang dibutuhkan. 3. Meningkatkan kemampuan pelaksanaan sistem tersebut secara efektif dan

berkemanusiaan.

4. Memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan dan perkembangan kebijaksanaan dan perundang-undangan sosial (Soetarso, 1993:5).

Uraian tersebut menjelaskan bahwa tujuan pekerja sosial adalah membantu individu yang mengalami hambatan fisik maupun mental untuk mengembangkan mental yang ada pada dirinya dengan menggunakan sumber-sumber yang ada dalam lingkungannya secara efektif.

b.2 Fungsi Pekerja Sosial

(20)

1. Membantu orang meningkatkan dan menggunakan secara lebih efektif kemampuan-kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan memecahkan masalah mereka.

2. Menciptakan jalur-jalur hubungan pendahuluan diantara orang-orang dengan sistem sumber.

3. Mempermudah interaksi, merubah dan menciptakan hubungan baru diantara orang dengan sistem sumber ke masyarakat.

4. Mempermudah interaksi, merubah dan menciptakan hubungan diantara orang-orang di lingkungan sistem sumber.

5. Memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan dan perkembangan kebijaksanaan dan perundang-undangan sosial.

6. Meratakan sumber-sumber.

7. Bertindak sebagai pelaksana kontrol sosial (Soetarso, 1993:6)

Pendapat di atas menunjukkan bahwa fungsi sosial akan membantu orang dalam meningkatkan kemampuan dan melaksanakan pekerjaan yang dilakukannya sebagai pelaksana kontrol serta menyokong dan memperbaiki ketertiban yang ada di lingkungan masyarakat.

Tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang pekerja adalah sebagai berikut : 1. Pekerja sosial menentukan dan mengadakan hubungan dengan orang yang

membutuhkan bantuan guna menyelesaikan tugas kehidupan.

2. Pekerja sosial dapat memberikan pengertian, dukungan dan dorongan kepada orang-orang yang mengalami krisis.

3. Pekerja sosial dapat memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengutarakan kesulitan-kesulitan mereka.

4. Pekerja sosial dapat membantu orang untuk meneliti berbagai pilihan tentang cara menanggulangi masalah serta memberikan keterangan-keterangan mengenai pilihan-pilihan dan membantunya mengambil keputusan.

5. Pekerja sosial dapat mengkonfrontasikan orang dengan realitas situasi yang mereka hadapi dengan jalan memberikan keterangan yang dapat mengganggu keseimbangan pribadi orang ini untuk kemudian diberikan motivasi guna terjadinya perubahan tertentu.

6. Pekerja sosial dapat mengajarkan keterampilan kepada orang-orang untuk mewujudkan aspirasi mereka. (Soetarso, 1993:7).

(21)

Beberapa pelayanan pekerja sosial yang dapat dilaksanakan dalam membantu mengatasi permasalahan anak dalam membantu mengatasi permasalahan anak dalam mengembangkan kepribadiannya adalah :

1. Peranan sebagai pemungkin (enabler)

Pekerja sosial membantu anak-anak terlantar dalam menciptakan situasi serta kesempatan-kesempatan yang memungkinkan mereka berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan kondisi kehidupannya, kebebasan bagi mereka agar muncul sikap kemandirian berkelompok dengan kekuatan kerja sama mereka. Dalam peranan ini pekerja sosial membantu anak asuh mengaktualisasikan kebutuhan-kebutuhan mereka, menjelaskan dan mengidentifikasi kemampuan mereka serta upaya yang mungkin dilakukan dalam memecahkan masalah-masalah mereka secara efektif.

2. Membantu meningkatkan dan menggunakan kemampuannya secara lebih efektif terhadap keberadaan pelayanan yang diberikan kepadanya, agar dapat menjamin kelangsungan hidupnya.

(22)

4. Berperan sebagai pemberi nasehat-nasehat dan memberi informasi kepada anak asuh tentang upaya-upaya yang masih mungkin dikembangkan di panti dan berperan membantu menciptakan dan memelihara hubungan sesama anak asuh yang bertujuan agar informasi yang mereka miliki bisa saling dipertukarkan sehingga ketinggalan informasi yang berhubungan dengan kehidupan mereka bisa dihindari.

5. Memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan usaha anak asuh, baik mengenai mekanisme kerja maupun dalam mengembangkan usaha produktif mereka dalam kehidupan bermasyarakat guna meningkatkan kesejahteraan mereka.

d. Intervensi yang Mempengaruhi Pekerjaan Sosial dalam Masalah Pelayanan Sosial Bagi Anak Asuh

Intervensi yang dapat dilakukan oleh pekerjaan sosial dalam masalah anak asuh adalah serangkaian kegiatan dengan menekankan pada pentingnya keluarga di dalam membentuk dan mempengaruhi tingkah laku anggotanya dalam hal ini adalah anak-anak. Pelayanan tentang anak yang berkaitan erat dengan pelayanan kesejahteraan anak. Pelayanan kesejahteraan anak ini adalah menjamin terwujudnya kesejahteraan anak terutama terpenuhinya kebutuhan dasar anak.

(23)

Salah satu peran pekerja sosial di panti asuhan ini adalah untuk meningkatkan pelayanan sosial bagi anak asuh agar dapat mencapai kesejahteraannya.

Pekerja sosial menyadari sejak semula bahwa interaksi di dalam keluarga penyebab dari timbulnya masalah-masalah dalam keluarga baik secara individual maupun masalah-masalah keluarga secara keseluruhan. Usaha-usaha agar anak dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat dilakukan dengan memberikan arahan, bimbingan dan pengasuhan yang baik agar anak dapat bergaul dan menyesuaikan diri dimanapun ia berada.

2. 7. Tinjauan Tentang Kesejahteraan Sosial

a. Pengertian Kesejahteraan Sosial

Konsep kesejahteraan sosial merupakan suatu program yang terorganisir dan sistematis yang dilengkapi dengan segala macam keterampilan ilmiah, merupakan suatu konsep yang relatif baru berkembang terutama di negara-negara berkembang.

Masalah-masalah tersebut merupakan masalah sosial yang sudah lama ada sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Akan tetapi negara-negara maju atau negara industri sekarang ini, masalah-masalah sosial tersebut dirasakan sangat berat dan mengganggu perkembangan masyarakat, sehingga diperlukan sistem pelayanan sosial yang lebih teratur.

Sejak saat itu tanggung jawab pemerintah semakin meningkat bagi kesejahteraan masyarakat. Definisi kesejahteraan sosial sebagai berikut

(24)

menggambarkan kemampuannya, sepenuh mungkin dengan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakatnya (Friedlander dalam Muhidin, 1997:1).

Dari definisi di atas, menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial adalah :

1. Konsep kesejahteraan sosial merupakan suatu sistem atau “Organized System” yang terorganisasi serta berintikan lembaga-lembaga pelayanan sosial.

2. Tujuan sistem tersebut adalah untuk mencapai tingkat kehidupan yang sejahtera dalam arti tingkat kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan juga relasi-relasi sosial dengan lingkungannya.

3. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan cara “Kemampuan Individu”, baik dalam memecahkan masalahnya maupun dalam memenuhi kebutuhannya.

Konsep kesejahteraan sosial dibagi 2, yaitu: 1. Konsep Residual

Lembagai kesejahteraan sosial lainnya memainkan peranannya apabila struktur masyarakat yang normal yang biasanya memberikan pelayanan sosial seperti keluarga dan pasar mengalami disfungsi, sedangkan menurut institusional bahwa kesejahteraan sosial dan lembaga-lembaganya menurut fungsi pokok dari masyarakat untuk memberikan pelayanan sosial.

2. Konsep Institusional

(25)

b. Ciri-ciri Kesejahteraan Sosial

Semua kegiatan di bidang kesejahteraan sosial mempunyai ciri tertentu yang membedakannya dengan kegiatan-kegiatan lain, sebagai berikut :

1. Organisasi Formal

Usaha tolong-menolong yang didorong oleh tradisi dan keagamaan tidak termasuk dalam kategori sebagai kegiatan yang terorganisir.

Kegiatan gotong-royong yang diberikan secara spontan tanpa adanya suatu organisasi yang teratur merupakan dasar bidang usaha kesejahteraan sosial modern, tapi belum dapat dikatakan sebagai konsep kesejahteraan dalam pengertian ini.

Pertolongan dan pelayanan sosial modern menurut konsep kesejahteraan sosial modern merupakan bentuk pertolongan yang sifatnya berbeda dengan kegiatan kesejahteraan sosial modern adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi atau lembaga sosial yang telah diakui oleh masyarakat, memberikan pelayanan sosial secara teratur dan pelayanan sosial tersebut merupakan fungsi utamanya.

2. Sumber Dana Sosial

Tanggung jawab sosial merupakan unsur pokok dari pelayanan kesejahteraan sosial. Mobilisasi sumber-sumber merupakan tanggung jawab masyarakat sebagai keseluruhan dalam arti dapat disediakan oleh pemerintah atau oleh masyarakat atau secara bersama-sama.

(26)

Usaha kesejahteraan sosial harus memandang kebutuhan manusia secara komprehensif dan tidak hanya memandang manusia dari satu aspek saja. Hal itulah yang membedakan pelayanan kesejahteraan sosial dengan profesi lainnya.

Ciri-ciri usaha kesejahteraan sosial adalah sebagai berikut :

1. Usaha kesejahteraan sosial adalah suatu respon terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia. Dalam bidang usaha-usaha tertentu mungkin ditujukan kepada individu, kelompok masyarakat atau kelompok penduduk yang lebih besar.

2. Usaha-usaha kesejahteraan sosial selalu terorganisasi.

3. Lembaga-lembaga kesejahteraan sosial umumnya sudah menjurus kepada spesialisasi.

4. Usaha-usaha kesejahteraan sosial sangat luas. Artinya para penerima bantuan sangat banyak dan karenanya usaha kesejahteraan sosial membutuhkan biaya besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga-lembaga yang bergerak dalam usaha kesejahteraan sosial, lembaga-lembaga-lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah pada tingkat pusat, daerah dan lokal. (Durham dalam Muhidin, 1997:4-5).

2.8. Teori Pemrosesan Informasi (Information processing theory)

Teori ini telah menekankan pentingnya proses-proses kognitif seperti ; persepsi, seleksi, perhatian, memori dan strategi kognitif.

Teori pemrosesan pesan didasarkan 3 (tiga) fungsi umum, pertama pikiran yang dipandang sebagai suatu sistem penyimpanan dan pengembalian informasi, kedua individu-individu memproses informasi dari lingkungan, ketiga terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dan seorang individu (Zeckler dan Stevenson dalam Mar’at, 2007:49).

(27)

disebarkan, bagaimana informasi diambil kembali untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang kompleks, seperti memecahkan masalah.

(28)

(Mar’at, 2007:49)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...