80 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pemberian larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap pengendalian hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.) dapat diuraikan sebagai berikut.
A. Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Mortalitas Hama Plutella xylostella pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
1. Data Hasil Pengamatan Jumlah Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) berpengaruh terhadap mortalitas hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.). Mortalitas mulai terjadi sejak pengamatan pertama 24 jam setelah aplikasi. Data mortalitas larva Plutella xylostella tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Data Pengamatan Jumlah Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella
Jumlah total hama
Perlakuan Konsen trasi
Jumlah Total Mortalitas Pengamatan ke-
(akumulasi)
Persentase Mortalitas (%) Pengamatan ke-
(akumulasi)
I II III I II III
25 P0 0% 3 10 25 12 40 100
25 P1 2,5% 0 5 25 0 20 100
25 P2 5% 1 7 25 4 28 100
25 P3 7,5% 2 11 25 8 44 100
25 P4 10% 4 14 25 16 56 100
25 P5 Sintetik 25 25 25 100 100 100
81
Berdasarkan data pada Tabel 3. mortalitas Plutella xylostella mulai terjadi pada pengamatan pertama hingga pengamatan ketiga. Pada pengamatan pertama perlakuan dengan konsentrasi terendah (2,5%) menyebabkan mortalitas sebesar 0% sedangkan konsentrasi tertinggi (10%) dapat menyebabkan mortalitas serangga uji sebesar 16%. Pada pengamatan selanjutnya mortalitas larva terus meningkat. Pada pengamatan kedua, mortalitas tertinggi terdapat pada perlakuan 10% (P4) yaitu sebesar 56%. Pada pengamatan ketiga seluruh perlakuan mengakibatkan mortalitas hama Plutella xylostella sebesar 100%. Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi yang digunakan untuk perlakuan maka kandungan senyawa metabolit dalam ekstrak semakin banyak.
Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka kandungan bahan aktif dalam larutan juga semakin banyak sehingga daya racun dalam pestisida nabati juga semakin banyak (Priyono, 1994). Pada perlakuan kontrol negatif (konsentrasi 0%) seharusnya tidak ada mortlitas yang terjadi.
Mortalitas yang terjadi pada kontrol negatif (konsentrasi 0%) dikarenakan sifat alamiah seperti kegagalan adaptasi dengan lingkungan setempat dan akibat dari pengaruh perlakuan yang berada disebelah kontrol negatif.
Untuk perlakuan dengan pestisida sintetik sebagai kontrol positif, pada pengamatan pertama sudah mengakibatkan mortalitas sebesar 100%, hal ini dikarenakan pestisida sintetik dengan bahan aktif Klorpirifos 200 g/l tersebut memiliki kemampuan untuk membunuh hama Plutella xylostella secara langsung (racun kontak) dan racun lambung. Lambatnya daya kerja
82
perasan daun kayu kuning dipengaruhi konsentrasi bahan aktif alami dan faktor lingkungan karena bahan campuran insektisida seperti air sebagai bahan pelarut sangat rentan terhadap penguapan, sehingga menjadi salah satu faktor pembatas daya kerja pestisida nabati.
Setelah dilakukan aplikasi penyemprotan pada seluruh permukaan tanaman sawi, larva berusaha untuk menjauhi pestisida nabati tersebut dikarenakan senyawa metabolit yang terkandung dalam perasan daun kayu kuning yaitu senyawa saponin, flavonoid dan tanin. Menurut Ardwiantoro (201l), senyawa saponin dan flavonoid berperan sebagai repellence dan racun bagi serangga. Senyawa metabolit sekunder ini mempunyai kemampuan untuk menyebabkan mortalitas Plutella xylostella.
Larva Plutella xylostella yang telah diaplikasi dengan larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tampak pasif, tidak aktif makan dan akhirnya mengalami kematian. Pada pengamatan ini, semakin tinggi konsentrasi menyebabkan persentase mortalitas yang semakin tinggi pula. Menurut Sinaga (2006), persentase kematian serangga uji yang tinggi ini mengindikasikan tingginya kandungan senyawa metabolit sekunder yang toksik. Senyawa yang terkandung dalam daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) adalah saponin, flavonoid, dan tanin yang mampu sebagai pestisida nabati bagi hama penganggu tanaman. Menurut Endah dan Heri (2000), bahwa fungsi senyawa saponin, flavonoid, dan tanin dapat menghambat daya makan larva (antifeedantt). Cara kerja senyawa-senyawa tersebut adalah dengan
83
bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. Oleh karena itu, apabila senyawa-senyawa tersebut masuk dalam tubuh serangga, alat pencernaannya akan terganggu. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) seperti kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan tanin juga menghambat indera perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya. Akhirnya larva akan mati kelaparan (Ahmed dkk, 2009).
Senyawa saponin dan flavonoid merupakan senyawa pertahanan tumbuhan, sehingga tanaman sawi yang diaplikasi pestisida daun kayu kuning dapat terhindar dari serangan hama Plutella xylostella. hal ini sesuai dengan pernyataan Ishaaya, 1986; Howe dan Westley, 1988 (Nursal dan Etti, 2005) bahwa senyawa kimia pertahanan tumbuhan merupakan metabolik sekunder atau aleokimia yang dihasilkan pada jaringan tumbuhan, dan dapat bersifat toksik, menurunkan kemampuan serangga dalam mencerna makanan dan pada akhirnya mengganggu pertumbuhan serangga. Senyawa kimia pertahanan tumbuhan meliputi saponin dan flavonoid.
Senyawa flavonoid masuk melalui membran sel. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bersifat disinfektan yang bekerja dengan cara mendenaturasi protein. Menurut Sastrodihardjo (1979), di dalam hemolimf terdapat protein, jika protein terdenaturasi oleh flavonoid maka bahan makanan tidak bisa disalurkan dari alat pencernaan ke seluruh
84
jaringan tubuh larva, sehingga mengakibatkan larva kekurangan ATP dan mati.
Senyawa saponin memasuki tubuh larva melalui kulit dengan proses adhesi dan menimbulkan efek sistemik. Penetrasi senyawa tersebut ke dalam tubuh serangga melalui epikutikula serangga, senyawa tersebut masuk ke dalam jaringan di bawah integumen menuju daerah sasaran.
Masuknya saponin mengakibatkan rusaknya lilin pada lapisan kutikula sehingga menyebabkan kematian karena larva mengalami banyak kehilangan air (Cottrell, 1987). Saponin juga dapat merendahkan tegangan permukaan. Terjadinya interaksi antara saponin dengan membran sel karena sifat aktif saponin pada permukaan sel, sehingga saponin mampu berikatan dengan fosfolipid dan kolesterol yang mengakibatkan terganggunya permeabilitas membran sitoplasma yang dapat mengakibatkan kebocoran materi intraseluler dan menyebabkan lisis sel (Maisaroh, 2007). Jika sel lisis maka jaringan-jaringan yang ada pada sel tersebut rusak dan tidak bisa saling berhubungan dengan jaringan yang ada pada sel lain. Hal ini akan mengakibatkan metabolisme sel berhenti dan larva mati. Selain masuk melalui kutikula, saponin masuk melalui makanan yang dapat memberikan pengaruh terhadap proses biologi tubuh dan metabolisme zat nutrisi dengan cara menghambat produktivitas kerja enzim kimotripsin yang mengakibatkan terganggunya sistem pencernaannya, terhambat perkembangannya dan akhirnya mati jika tingkat penghambatan pencernaan relatif tinggi (Widodo, 2005). Saponin
85
dapat menurunkan aktivitas enzim protease dalam saluran pencernaan serta mengganggu penyerapan makanan (Shahabuddin dan Flora Pasaru, 2009). Jika dalam proses penyerapan makanan terganggu maka nutrisi yang diperoleh Plutella xylostella hanya sedikit sehingga menyebabkan kematian. Menurut Peni (1997) Senyawa saponin berpengaruh terhadap kerusakan dinding sel kulit Plutella xylostella. Saponin dapat menurunkan tegangan permukaan sitoplasma sel dari hama Plutella xylostella, sehingga sitoplasma menurun. Larva Plutella xylostella mati karena jalannya impuls saraf terganggu. Selain itu, mortalitas terjadi karena Plutella xylostella tidak mampu menguraikan bahan aktif insektisida yang terserap kedalam tubuhnya, bahan aktif tersebut masih tetap toksik sampai mencapai sasaran yang mematikan.
Semakin tinggi daya racun akan menyebabkan kematian pada hama semakin besar. Peningkatan persentase mortalitas hama ulat Plutella xylostella selain karena tingginya racun pada pestisida nabati juga disebabkan kurangnya makanan yang dikonsumsi karena adanya senyawa antifeedant (menghambat nafsu makan). Senyawa tersebut adalah tannin.
Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka kandungan senyawa metabolit dalam ekstrak akan lebih tinggi sehingga sifat antifeedant juga akan semakin tinggi. Dengan demikian aktivitas makan hama ulat Plutella xylostella semakin menurun. Pestisida dari daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) mengandung senyawa tannin yang bersifat toksik.
Peracunan dapat terjadi melalui kulit dan mulut. Peracunan melalui kulit
86
dapat terjadi secara langsung yaitu pestisida akan langsung terserap ke dalam kulit pada saat aplikasi. Selain itu peracunan dari kulit juga dapat terjadi pada saat hama terkena sisa pestisida beberapa waktu setelah aplikasi. Peracunan melalui mulut terjadi bila bagian dari tanaman yang terkena pestisida dimakan oleh hama sehingga menyebabkan keracunan pada hama (Tarumingkeng, 2001). Peracunan pada hama dapat menyebabkan gangguan syaraf yang dapat mengakibatkan perilaku hama menjadi tidak normal sehingga hama akan lumpuh atau mati (Surtikanti, 1981).
Larva yang mati menunjukkan ciri-ciri tubuhnya mengering, warna menjadi hitam dan ukuran tubuh menyusut atau mengecil. Menurut Healthlink (2000), tanin bekerja sebagai zat astringent, menyusutkan jaringan dan menutup struktur protein pada kulit dan mukosa sehingga zat ini dapat menghambat perkembangan Plutella xylostella yang menyebabkan jaringan kulit ulat ini mengkerut dan lebih kering. Tanin juga bersifat sebagai antifeedant yaitu dapat menurunkan kemampuan mencerna makanan pada serangga dengan menurunkan aktivitas enzim protease (Shahabuddin, 2009). Jika aktivitas enzim protease menurun maka proteosa, pepton dan polipeptida tidak bisa diubah menjadi asam amino sehingga produksi asam amino menurun. Hal ini mengakibatkan sintesis protein tidak dapat berlangsung dan ATP tidak akan terbentuk sehingga larva akan kekurangan energi dan menyebabkan kematian.
87
Pengamatan ketiga pada semua perlakuan mengalami mortalitas hingga 100%. Kecepatan kematian menunjukkan semakin tinggi konsentrasi semakin cepat kecepatan kematianya. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Prijono (1999), semakin banyak atau pekat konsentrasi insektisida nabati yang diberikan maka semakin besar pengaruhnya terhadap kecepatan kematian organisme sasaran karena akumulasi racun yang ditimbulkan oleh insektisida tersebut. Hal ini diduga semakin tinggi konsentrasi semakin tinggi juga kandungan saponin, flavonoid dan tanin sehingga dapat mengakibatkan kematian larva Plutella xylostella.
Pada insektisida sintetik Dushband 2-3 ml/l dengan bahan aktif Klorpirifos 200 g/l menunjukkan tingkat kecepatan kematian yang paling banyak, karena dipengaruhi kandungan kimia yang kompleks. Kandungan insektisida buatan antara lain campuran bahan aktif yang beracun, sinergis dan bahan-bahan lainya dengan cara racun syaraf, racun lambung dan berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan dalam air, sehinga mortalitas pada insektisida lebih besar dibandingkan dengan insektisida nabati.
Perilaku dari larva Plutella xylostella setelah diaplikasi dengan pestisida sintetik larva Plutella xyllostella nampak menggeliat. Setelah itu, larva Plutella xylostella terlihat lemas dalam hitungan jam dan terjadi mortalitas. Akan tetapi, sebelum terjadi mortalitas Larva Plutella xylostella menunjukkan gejala menurun daya makannya.
88
2. Data Hasil Analisis Statistik Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella. Rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dapat dilihat pada Tabel 4,5 dan 6 .
Tabel 4. Rata-rata Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella pada Pengamatan I
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata Mortalitas Plutella xylostella ± SD
0,0% 0,600 ± 0,5477a
2,5% 0,000 ± 0,0000a
5,0% 0,200 ± 0,4472a
7,5% 0,400 ± 0,5477a
10,0% 0,800 ± 1,3038a
Total 0,400 ± 0,7071
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata mortalitas sama.
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella yang paling rendah setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) pada pengamatan pertama yaitu pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 2,5% yaitu sebesar 0,000 ekor dengan standar deviasi sebesar 0,000. Sedangkan rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella yang paling tinggi pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10%
sebesar 0,800 ekor dengan standar deviasi sebesar 1,303. Hal ini menunjukkan peningkatan rata-rata mortalitas pada larva instar III Plutella
89
xylostella sejalan dengan kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.). Karena semakin tinggi konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.), maka semakin besar pula bahan racun yang ada di dalam perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tersebut.
Tabel 5. Rata-rata Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella pada Pengamatan II
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata Mortalitas Plutella xylostella ± SD
0,0% 2,000 ± 1,4142a
2,5% 1,000 ± 1,0000a
5,0% 1,400 ± 1,1402a
7,5% 2,200 ± 1,0954a
10,0% 2,800 ± 1,4832a
Total 1,880 ± 1,3013
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata mortalitas sama.
Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella yang paling rendah setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) pada pengamatan kedua yaitu pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 2,5% yaitu sebesar 1,000 ekor dengan standar deviasi sebesar 1,000. Sedangkan rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella yang paling tinggi pada kelompok perlakuan dengan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10% sebesar 2,800 ekor dengan standar deviasi sebesar 1,4832. Hal ini menunjukkan peningkatan rata-rata mortalitas pada larva instar III Plutella xylostella sejalan dengan kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning
90
(Arcangelisia flava L.). Semakin tinggi konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.), maka semakin besar pula bahan racun yang ada di dalam perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tersebut.
Tabel 6. Rata-rata Mortalitas Larva Instar III Plutella xylostella pada Pengamatan III
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata Mortalitas Plutella xylostella ± SD
0,0% 5,000 ± 0,0000a
2,5% 5,000 ± 0,0000a
5,0% 5,000 ± 0,0000a
7,5% 5,000 ± 0,0000a
10,0% 5,000 ± 0,0000a
Total 5,000 ± 0,0000
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata mortalitas sama.
Pada Tabel 6 rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) pada pengamatan ketiga pada semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama yaitu 5,000 ekor dikarenakan pada pengamatan ketiga pada semua perlakuan mengakibatkan mortalitas hama larva instar III Plutella xylostella sebesar 100%.
Berdasarkan data hasil analisis statistik yang tertera pada Tabel 4 dan 5 mengenai rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella, menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) yang diaplikasikan terhadap larva instar III Plutella xylostella maka semakin tinggi rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella. Hal ini berarti kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) berbanding lurus dengan peningkatan bahan racun
91
yang ada di dalam perasan tersebut, sehingga daya bunuh yang ditimbulkan semakin tinggi untuk membunuh larva instar III Plutella xylostella. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella pada tanaman sawi caisim (Brassica juncea (L.)) telah menyebabkan terjadinya mortalitas hama Plutella xylostella paling tinggi yaitu pada dosis 10%.
Pada perlakuan konsentrasi 0% (kontrol negatif), rata-rata mortalitas larva instar III Plutella xylostella setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) yaitu sebesar 0,600 ekor dan standar deviasi 0,5477 pada pengamatan pertama, dan pada pengamatan kedua sebesar 2,000 ekor dan standar deviasi 1,4142. Hal ini terjadi karena sifat alamiah seperti kegagalan adaptasi dengan lingkungan setempat dan akibat dari pengaruh perlakuan yang berada di sebelah kontrol negatif.
3. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Mortalitas Hama Plutella xylostella Larva Instar III pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Hasil Uji Anova Satu Arah mengenai pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.) tertera pada Tabel 7,8,9 .
92
Tabel 7. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Mortalitas Hama Plutella xylostella Larva Instar III pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Pengamatan I
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 2,000 4 ,500 1,000 ,431
Within Groups 10,000 20 ,500
Total 12,000 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 7. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan pertama.
Tabel 8. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Mortalitas Hama Plutella xylostella Larva Instar III pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Pengamatan II
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 9,840 4 2,460 1,597 ,214
Within Groups 30,800 20 1,540
Total 40,640 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 8. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh
93
konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan kedua.
Tabel 9. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Mortalitas Hama Plutella xylostella Larva Instar III pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)Pengamatan III
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups ,000 4 ,000 . .
Within Groups ,000 20 ,000
Total ,000 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 9. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap mortalitas larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan ketiga.
Mortalitas menunjukkan tingkat kemampuan atau daya bunuh pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dalam membunuh Plutella xylostella. Hasil sidik ragam pada pengamatan pertama, kedua dan ketiga, semua perlakuan (Tabel 7,8,9) menunjukkan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tidak memberikan pengaruh (tidak berbeda nyata) terhadap mortalitas larva Plutella xylostella. Pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dengan konsentrasi 0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10% dan pestisida Dursban pada pengamatan ketiga nilai mortalitasnya 100%.
94
B. Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Pemendekan Siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) 1. Data Hasil Pengamatan Jumlah Larva Instar III Plutella xylostella
yang menjadi Pupa
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) berpengaruh terhadap pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva atau terbentuknya pupa hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.). Pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva mulai terjadi sejak pengamatan pertama 24 jam setelah aplikasi. Data pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva atau jumlah larva Plutella xylostella yang menjadi pupa tertera pada Tabel 10.
Tabel 10.Pengamatan Jumlah Larva Instar III Plutella xylostella yang menjadi Pupa
Jumlah total hama
Perlakuan Konsen trasi
Jumlah Total Pupa Pengamatan ke-
(akumulasi)
Persentase Pupa (%) Pengamatan ke- (akumulasi)
I II III I II III
25 P0 0% 0 0 0 0 0 0
25 P1 2,5% 1 2 0 4 8 0
25 P2 5% 1 2 0 4 8 0
25 P3 7,5% 2 3 0 8 12 0
25 P4 10% 2 4 0 8 16 0
25 P5 Sintetik 0 0 0 0 0 0
Berdasarkan Tabel 10. di atas dapat dilihat bahwa persentase larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) mengalami peningkatan sampai dengan perlakuan konsentrasi 10%. Larva instar III Plutella xylostella
95
yang menjadi pupa mulai terjadi pada pengamatan pertama hingga pengamatan kedua. Pada pengamatan pertama perlakuan dengan konsentrasi terendah (0%) menyebabkan larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa sebesar 0% sedangkan konsentrasi tertinggi (10%) dapat menyebabkan larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa sebesar 8%. Pada pengamatan kedua, larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa tertinggi terdapat pada perlakuan 10% (P4) yaitu sebesar 16%. Pada pengamatan ketiga tidak ditemukan adanya pupa dikarenakan semua Plutella xylostella sudah mengalami kematian. Pada perlakuan kontrol negatif (konsentrasi 0%) tidak ditemukan larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa. Untuk perlakuan dengan pestisida sintetik sebagai kontrol positif, pada pengamatan pertama sudah mengakibatkan mortalitas sebesar 100% sehingga tidak ditemukan adanya pembentukan larva instar III Plutella xylostella yang menjadi pupa.
Rukmana (1994), menyebutkan bahwa siklus hidup larva instar III Plutella xylostella untuk menjadi pupa membutuhkan waktu 6 hari. Karena sebelum menjadi pupa, larva instar III Plutella xylostella yang berlangsung selama 3 hari harus melalui Instar IV terlebih dahulu yang berlangsung selama 3 hari baru setelah itu menjadi pupa. Namun, dalam penelitian ini belum ada 6 hari, larva Plutella xylostella sudah berubah menjadi pupa.
Hal tersebut menunjukkan bahwa larva Plutella xylostella menjadi lebih pendek siklus hidupnya karena adanya tekanan yang disebabkan oleh aplikasi penyemprotan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.).
96
2. Data Hasil Analisis Statistik Pemendekan Siklus Hidup Larva Hama Plutella xylostella Instar III yang menjadi Pupa
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata pupa Plutella xylostella yang terbentuk. Rata-rata pupa Plutella xylostella yang terbentuk setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dapat dilihat pada Tabel 11, 12 dan 13.
Tabel 11. Rata-rata Pemendekan Siklus Hidup Larva Hama Plutella xylostella Instar III yang menjadi Pupa Pengamatan I
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata pemendekan siklus hidup larva instar III Plutella xylostella yang menjadi
pupa ± SD
0,0% 0,000 ± 0,0000a
2,5% 0,200 ± 0,4472a
5,0% 0,200 ± 0,4472a
7,5% 0,400 ± 0,5477a
10,0% 0,400 ± 0,5477a
Total 0,240 ± 0,4359
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata pupa sama.
Berdasarkan hasil analisis statistik yang tertera pada Tabel 11 menunjukkan terjadinya peningkatan rata-rata terbentuknya pupa sampai pada kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10%. Hasil penelitian ini menunjukkan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella pada tanaman sawi caisim (Brassica juncea L.) menyebabkan terjadinya pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva , dengan terjadinya pupa tertingi pada perlakuan konsentrasi 10% pada pengamatan pertama.
97
Pupa yang terbentuk paling tinggi pada konsentrasi 10% dan paling rendah dijumpai pada konsentrasi 0%. Hal ini berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya jumlah larva yang mati dan populasi hama pada tanaman tersebut.
Tabel 12. Rata-rata Pemendekan Siklus Hidup Larva Hama Plutella xylostella Instar III yang menjadi Pupa Pengamatan II
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata pemendekan siklus hidup larva instar III Plutella xylostella yang menjadi
pupa ± SD
0,0% 0,000 ± 0,0000a
2,5% 0,400 ± 0,5477a
5,0% 0,400 ± 0,5477a
7,5% 0,600 ± 0,5477a
10,0% 0,800 ± 1,0954a
Total 0,440 ± 0,6506
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata pupa sama.
Berdasarkan hasil analisis statistik yang tertera pada Tabel 12 menunjukkan terjadinya peningkatan rata-rata terbentuknya pupa sampai pada kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10%. Hasil penelitian ini menunjukkan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella pada tanaman sawi caisim (Brassica juncea L.) menyebabkan terjadinya pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva, dengan terjadinya pupa tertingi pada perlakuan konsentrasi 10%.
Pupa yang terbentuk paling tinggi pada konsentrasi 10% dan paling rendah dijumpai pada konsentrasi 0%. Hal ini berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya jumlah larva yang mati dan populasi hama pada tanaman tersebut.
98
Tabel 13. Rata-rata Pemendekan Siklus Hidup Larva Hama Plutella xylostella Instar III yang menjadi Pupa Pengamatan III
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata pemendekan siklus hidup larva instar III Plutella xylostella yang menjadi
pupa ± SD
0,0% 0,000 ± 0,0000a
2,5% 0,000 ± 0,0000a
5,0% 0,000 ± 0,0000a
7,5% 0,000 ± 0,0000a
10,0% 0,000 ± 0,0000a
Total 0,000 ± 0,0000
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata pupa sama.
Pada Tabel 13 rata-rata terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) pada semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama yaitu 0 karena pada pengamatan ketiga sudah tidak ditemukan adanya pupa dikarenakan pada pengamatan ketiga pada semua perlakuan mengakibatkan mortalitas hama larva instar III Plutella xylostella sebesar 100%.
Berdasarkan data hasil analisis statistik yang tertera pada Tabel 11 dan 12 mengenai rata-rata terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella, menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) yang diaplikasikan terhadap larva instar III Plutella xylostella maka semakin tinggi rata-rata terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella. Hal ini berarti kenaikan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) berbanding lurus dengan peningkatan bahan metabolit sekunder yang ada di dalam perasan tersebut, sehingga daya mempercepat terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella yang ditimbulkan semakin tinggi. Hasil
99
penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella pada tanaman sawi caisim (Brassica juncea L.) telah menyebabkan terjadinya pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva paling tinggi yaitu pada dosis 10%.
Pada perlakuan konsentrasi 0% (kontrol negatif), rata-rata terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella setelah aplikasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) yaitu sebesar 0,000 ekor dan standar deviasi 0,000 pada pengamatan pertama dan kedua. Hal ini terjadi karena tidak ada pengaruh dari zat metabolit sekunder perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.).
3. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Pemendekan Siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva Larva Instar III yang menjadi Pupa pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Berdasarkan hasil uji Anova Satu Arah yang tertera pada Tabel 14,15 dan 16 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella.
100
Tabel 14. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Pemendekan Siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva Larva Instar III yang menjadi Pupa pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Pengamatan I
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,560 4 ,140 ,700 ,601
Within Groups 4,000 20 ,200
Total 4,560 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 14. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap pemendekan siklus hidup atau terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan pertama.
Tabel 15. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Pemendekan Siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva Larva Instar III yang menjadi Pupa pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Pengamatan II
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 1,760 4 ,440 1,048 ,408
Within Groups 8,400 20 ,420
Total 10,160 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 15. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap terbentuknya pupa
101
larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap pemendekan siklus hidup atau terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan kedua.
Tabel 16. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Pemendekan Siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva Larva Instar III yang menjadi Pupa pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Pengamatan III
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,000 4 ,000 . .
Within Groups ,000 20 ,000
Total ,000 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berdasarkan Tabel 16. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap pemendekan siklus hidup atau terbentuknya pupa larva instar III Plutella xylostella pada pengamatan ketiga.
Pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva menunjukkan tingkat kemampuan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dalam memperpendek siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva atau mempercepat proses larva menjadi pupa.
Hasil sidik ragam pada pengamatan pertama, kedua dan ketiga, (Tabel 14,15,16) menunjukkan pestisida nabati perasan daun kayu kuning
102
(Arcangelisia flava L.) tidak memberikan pengaruh (tidak berbeda nyata) terhadap pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva.
C. Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Tingkat Kerusakan Daun Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
1. Data Hasil Pengamatan Tingkat Kerusakan Daun Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
Tabel 17. Diskripsi Tingkat Kerusakan Daun Sawi (Brassica juncea L.).
Perlaku an
Tingkat Kerusakan Daun Sawi (Brassica juncea L.).
Warna daun Ada/
tidak Lubang
Luasan daun rusak
Keutu han daun
Wujud tepi daun P0
(0%)
Daun sawi tetap berwarna hijau, tidak menguning dan tidak mengalami kelayuan
Banyak (++++)
32,22% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama P1
(2,5%)
Daun sawi berwarna kekuningan dan ada yang tetap hijau,
dan mengalami kelayuan
Banyak (++++)
45% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama P2
(5%)
Daun sawi berwarna kekuningan, dan mengalami kelayuan
Banyak (++++)
60% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama P3
(7,5%)
Daun sawi tetap berwarna hijau, tidak menguning dan tidak mengalami kelayuan
Banyak (+++)
30% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama P4
(10%)
Daun sawi tetap berwarna hijau, tidak menguning dan tidak mengalami kelayuan
Sedikit (++)
20% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama P5
(sinteti k)
Daun sawi tetap berwarna hijau, tidak menguning dan tidak mengalami kelayuan
Sedikit (+)
10% Daun tidak utuh
Halus dan rata, ada beberapa
bagian tepi daun yang dimakan hama
103
Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian, setelah aplikasi pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.) ditemukan adanya kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang diakibatkan oleh adanya hama Plutella xylostella. Data tingkat kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.) tertera dalam Tabel 17.
Berdasarkan Tabel 17. pada perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 0%; 7,5%; 10% dan kimia untuk warna daun pada keempat perlakuan tersebut daun sawi tetap berwarna hijau, tidak menguning dan tidak mengalami kelayuan, namun pada perlakuan dengan konsentrasi 2,5% dan 5% daun sawi menguning dan mengalami kelayuan. Hal ini terjadi karena pada konsentrasi 2,5% dan 5%, hama yang menyerang begitu hebat dan merusak seluruh bagian tanaman sawi. Akibat dari adanya kerusakan yang hebat ini mengakibatkan persentase kerusakan daun semakin meningkat yaitu pada perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 2,5% dan konsentrasi 5% mengalami kerusakan daun dengan luasan daun yang rusak sebesar 45% dan 60%. Hal ini terjadi karena hama Plutella xylostella bukan hanya merusak daun saja namun juga merusak batang dan bagian titik tumbuh tanaman sawi, sehingga tanaman mengalami kerusakan yang tinggi. Semakin tinggi konsentrasi perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) maka semakin sedikit lubang yang diakibatkan dari serangan hama Plutella xylostella terhadap tanaman sawi (Brassica juncea L.). Untuk
104
semua perlakuan, daun tidak utuh dan wujud tepi daun halus dan rata, ada beberapa bagian tepi daun yang dimakan hama.
Kerusakan daun yang diakibatkan oleh adanya gangguan dari hama Plutella xylostella pada setiap perlakuan berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin kecil tingkat kerusakan daunnya. Namun, sebaliknya semakin kecil konsentrasi yang diberikan menunjukkan kerusakan yang semakin tinggi. Keadaaan ini berkaitan langsung dengan tinggi rendahnya populasi hama pada daun tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dengan bahan aktif diantaranya saponin, flavonoid dan tanin merupakan bahan yang bersifat sistemik. Panut Djojosumarto (2000), menyatakan bahwa insektisida sistemik merupakan senyawa racun yang dapat diserap jaringan daun pada umumnya. Sehingga daun yang telah disemprot dengan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) ketika dimakan oleh hama Plutella xylostella, hama tersebut akan mengalami mortalitas. Insektisida seperti ini disebut berdaya kerja transminar atau insektisida yang mempunyai daya penetrasi kedalam jaringan daun. Dengan demikian besar kecilnya konsentrasi sangat berpengaruh dengan tingkat mortalitas hama yang ditimbulkannya. Nursal dan Etti (2005), menyatakan bahwa saponin yang terdapat dalam tumbuhan dan bersama subtansi sekunder lainya berperan sebagai pertahanan diri dari serangan serangga, karena saponin yang terdapat pada makanan yang dikonsumsi serangga dapat menurunkan aktivitas enzim
105
pencernaan dan penyerapan makanan, sedangakan flavonoid merupakan pertahanan tumbuhan yang bersifat penghambat makan dan bersifat toksin pada serangga.
Plutella xylostella memakan senyawa aktif, maka Plutella xylostella akan mengalami kematian. Namun, sebaliknya larva yang toleran akan tetap bertahan sampai dapat mengikuti stadia berikutnya menjadi pupa atau imago. Bagi serangga yang tidak tahan terhadap senyawa aktif tersebut, sebelum akhirnya mati serangga dapat memaksimumkan pemanfaatan sumber energi di dalam tubuhnya. Sebagai konsekuensi keadaan ini larva akan mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan, sehingga intensitas kerusakan daun yang ditimbulkan juga sedikit.
Pada insektisida Dushband 2-3 ml/l dengan bahan aktif Klorpirifos 200 g/l, kerusakan daun akibat serangan Plutella xylostella rendah. Hal ini dikarenakan tingkat kecepatan kematian paling tinggi.
P0 P1 P2
P3 P4 P5
Gambar 8. Kerusakan tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada setiap perlakuan
106
Gambar 8. menunjukkan bahwa kerusakan daun pada setiap perlakuan berbeda-beda. Kerusakan daun disebabkan oleh adanya hama Plutella xylostella. Jumlah hama dipengaruhi oleh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.). Semakin tinggi konsentrasi, semakin tinggi juga tingkat mortalitas hama Plutella xylostella sehingga tingkat kerusakan daun tanaman sawi semakin rendah.
Perbedaan tingkat kerusakan pada tanaman sawi oleh larva Plutella xylostella disebabkan perbedaan tingkat konsentrasi dari perasan daun kuning yang diaplikasikan. Intensitas kerusakan ini sangat erat kaitannya dengan jumlah larva Plutella xylostella yang masih hidup pada perlakuan tersebut, semakin tinggi jumlah larva yang masih hidup maka tingkat kerusakan tanaman sawi semakin tinggi begitu juga sebaliknya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa intensitas kerusakan daun sangat erat kaitannya terhadap jumlah larva Plutella xylostella yang masih hidup.
Seperti pernyataan Nasir et. al., 1994, (Surianyah, 2007) bahwa salah satu faktor penentu tingkat serangan hama adalah jumlah hama tersebut.
Tingkat populasi hama yang tinggi akan mengakibatkan kerusakan yang ditimbulkan tinggi.
107
D. Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
1. Data Hasil Pengukuran Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) berpengaruh terhadap rata-rata berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.). Data rata-rata berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) tertera pada Tabel 18.
Tabel 18. Pengukuran Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
Perlakuan Konsentrasi Rata-rata Berat Basah Sawi (gram)
P0 0% 54,72
P1 2,5% 56,28
P2 5% 31,24
P3 7,5% 58,36
P4 10% 63,20
P5 Kimia 70,64
Berdasarkan Tabel 18. rata-rata berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) tertinggi pada perlakuan dengan konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10% dan terendah pada konsentrasi 5%. Rendahnya produksi tanaman sawi pada perlakuan 5%
disebabkan oleh intensitas serangan hama Plutella xylostella lebih tinggi, sehingga kuantitas maupun kualitas produksi menjadi menurun. Hal ini berkaitan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh adanya hama Plutella xylostella yang menyerang tanaman sawi (Brassica juncea L.). Semakin rendah tingkat kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.) maka semakin tinggi berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) dan
108
sebaliknya semakin tinggi tingkat kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.) maka semakin rendah berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.).
P0 P1 P2
P3 P4 P5
Gambar 9. Kondisi tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada setiap perlakuan saat dipanen
2. Data Hasil Analisis Statistik Rata-rata Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
Hasil analisis statistik menunjukan bahwa perlakuan pemberian larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tidak berbeda nyata terhadap rata-rata berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) pada setiap perlakuan. Data rata-rata berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) tertera pada Tabel 19.
109
Tabel 19. Rata-rata Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
Konsentasi Perasan Daun Kayu Kuning
Rata-rata Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.). ± SD
0,0% 54,720 ± 15,4362a
2,5% 56,280 ± 38,1626a
5,0% 31,240 ± 12,5448a
7,5% 58,360 ± 20,6738a
10,0% 63,200 ± 20,1932a
Total 52,760 ± 24,0202
Keterangan: huruf yang sama menunjukkan rata-rata persentase berat basah sama.
Tabel 19. menunjukkan bahwa rata-rata berat basah yang tertinggi dijumpai pada perlakuan larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 10% yaitu sebesar 63,2 gram /tanaman dan yang terendah pada perlakuan larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 5% yaitu sebesar 31,240 gram/tanaman. Hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya tingkat kerusakan daun yang disebabkan oleh serangan hama Plutella xylostella. Pada konsentrasi 5% tingkat kerusakan yang disebabkan oleh Plutella xylostella tinggi karena hama Plutella xylostella bukan hanya menyerang daun, namun juga menyerang titik tumbuh tanaman sehingga mengakibatkan kerusakan tinggi dan berat basah rendah.
Penggunaan pestisida nabati juga dapat meningkatkan produksi tanaman sawi (Sucipto, 2011). Semakin rendah tingkat kerusakan maka berat basah semakin tinggi. Pada penelitian, berat basah tertinggi terdapat pada konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10%
dan terendah pada konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 5% (Tabel 19). Besar kecilnya berat basah dipengaruhi
110
banyaknya jumlah daun tanaman sawi yang diserang oleh hama Plutella xylostella. Menurut Sumarmi dan Sartono (2007), tinggi rendahnya berat segar tanaman juga dipengaruhi oleh ada tidaknya serangan hama.
Tingginya produksi tanaman sawi pada perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) 10 % disebabkan oleh tingginya konsentrasi aplikasi perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dibandingkan dengan perlakuan-perlakuan yang lain. Dengan demikian ketahanan tanaman terhadap serangan larva Plutella xylostella menjadi tinggi. Hasil penelitian Mujiono et al (1994), menunjukkan bahwa penggunaan insektisida nabati dapat mengendalikan hama ulat Plutella xylostella pada tanaman sawi. Dengan menurunnya serangan hama ini, maka penurunan produksi bersih menjadi lebih rendah dibandingkan dengan insektisida sintetis. Rendahnya produksi tanaman sawi pada perlakuan 5% disebabkan oleh intensitas serangan hama Plutella xylostella lebih tinggi, sehingga kuantitas maupun kualitas produksi menjadi menurun.
3. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Berdasarkan hasil uji Anova Satu Arah yang tertera pada Tabel 20 menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.).
111
Tabel 20. Uji Anova Satu Arah Pengaruh Pemberian Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap Berat Basah Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 3098,480 4 774,620 1,441 ,257 Within Groups 10748,840 20 537,442
Total 13847,320 24
Keterangan: α = 0,05 (taraf kepercayaan 95%).
Berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) menunjukkan tingkat produksi pada tanaman sawi (Brassica juncea L.). Berdasarkan Tabel 20. hasil uji Anova Satu Arah menunjukkan tidak terdapat perbedaan sangat signifikan pemberian konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.).
Kematian larva Plutella xylostella dan proses pemendekan siklus hidup larva Plutella xylostella menjadi pupa mengakibatkan pertumbuhan tanaman sawi menjadi maksimal sehingga didapatkan hasil tanaman sawi yang tinggi dilihat dari parameter berat segar tanaman, jumlah daun dan kerusakan daun. Panut Djojosumarto (2000), menyatakan bahwa insektisida sistemik merupakan senyawa racun yang dapat diserap jaringan daun pada umumnya. Sehingga daun telah disemprot dengan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) ketika dimakan oleh hama Plutella xylostella, hama tersebut akan mengalami mortalitas. Jika dilakukan aplikasi dengan konsentrasi yang rendah maka larva Plutella xylostella
112
tidak mengalami mortalitas. Jika senyawa yang terkandung pada perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) dapat menghambat daya makan dan menurunkan aktivitas pecernaan pada larva Plutella xylostella, sehingga akan mengurangi tingkat kerusakan daun, dan tidak mengganggu pertumbuhan jumlah daun sehingga berat basah sawi tinggi.
Dari hasil sidik ragam berat tanaman (Tabel 20) setiap konsentrasi dalam perlakuan perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) tidak berbeda nyata dengan pestisida sintetik Dursban dan perlakuan yang lainya. Selain itu, faktor yang mempengarui berat tanaman juga dari proses fotosintesis. Larva Plutella xylostella menyebabkan intensitas kerusakan tinggi dan menyebakan berat tanaman menjadi rendah. Faktor yang menyebabkan konsentrasi 5% lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lain adalah larva Plutella xylostella merusak bagian tanaman hingga titik tumbuh tanaman sawi itu sendiri jika dibandingkan perlakuan lain. Pada perlakuan 10% dan petisida kimia dapat membunuh hama Plutella xylostella lebih cepat dibanding dengan konsentrasi 5% sehingga, tanaman menjadi subur. Hambatan pertumbuhan pada tanaman tersebut lebih sedikit dikarenakan termakannya daun oleh larva Plutella xylostella, juga lebih kecil jika dibandingkan dengan konsetrasi 5% dan berpengaruh pada berat segar tanaman.
Penggunaan pestisida sintetik banyak membantu petani dalam usaha taninya, tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama, pestisida nabati dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi lingkungan dan kesehatan
113
manusia, karena efek negatif yang ditimbulkan oleh pestisida nabati lebih kecil bila dibandingkan dengan pestisida sintetik. Ditinjau dari segi ekonomi pestisida nabati jauh lebih murah sehingga mampu menekan biaya produksi tani.
E. Konsentrasi Efektif Larutan Pestisida Nabati Perasan Daun Kayu Kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai Biopestisida terhadap Pengendalian Hama Plutella xylostella pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Pada penelitian ini didapatkan hasil yang sama pada masing-masing parameter. Parameter mortalitas hama Plutella xylostella pada pengamatan kedua, perlakuan pestisida perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 10% menunjukkan hasil mortalitas tertinggi yaitu sebesar 56%, namun semua perlakuan menunjukkan 100% pada pengamatan ketiga. Pada parameter pemendekan siklus hidup larva Plutella xylostella menjadi pupa lebih baik pada perlakuan pestisida perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 10% yang menyebabkan pemendekan siklus hidup hama Plutella xylostella fase larva sebesar 16%. Parameter tingkat kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.), kerusakan terendah pada konsentrasi 10%
yaitu sebesar 20% kerusakan daun tanaman sawi (Brassica juncea L.).
Parameter berat basah tanaman sawi (Brassica juncea L.) menunjukkan perlakuan pestisida perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 10% paling baik yaitu sebesar 63,200 gram/tanaman. Dari semua perlakuan dapat disimpulkan bahwa perlakuan pestisida perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) konsentrasi 10% memiliki hasil yang paling
114
efektif untuk mengendalikan hama Plutella xylostella. Konsentrasi efektif dari larutan pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) sebagai biopestisida terhadap pengendalian hama Plutella xylostella pada tanaman sawi (Brassica juncea L.) ialah konsentrasi 10%. Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi yang digunakan untuk perlakuan maka kandungan senyawa metabolit dalam ekstrak semakin banyak. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka kandungan bahan aktif dalam larutan juga semakin banyak sehingga daya racun dalam pestisida nabati juga semakin banyak (Priyono, 1994).
F. Keterbatasan Penelitian
1. Peneliti kesulitan saat mencari hama Plutella xylostella, sehingga hama Plutella xylostella yang diinfeksikan untuk masing-masing sampel berjumlah lima.