• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERLIANTA SIREGAR NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BERLIANTA SIREGAR NIM"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)ANALISIS HIDROGENSULFIDA (H2S) DALAM RUMAH SERTA KELUHANKESEHATAN SALURAN PERNAFASAN PADA PENGHUNI DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2017. SKRIPSI. OLEH : BERLIANTA SIREGAR NIM : 131000253. FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(2) ANALISIS HIDROGEN SULFIDA (H 2S) DALAM RUMAH SERTA KELUHAN KESEHATAN SALURAN PERNAFASAN PADA PENGHUNI DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2017. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. OLEH : BERLIANTA SIREGAR NIM : 131000253. FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(3) HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Hidrogen Sulfida (H2S) dalam Rumah Serta Keluhan Kesehatan Saluran Pernafasan pada Penghuni di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan MarelanTahun 2018” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara – cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemungkinan ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.. Medan, Juli2018 Penulis. Berlianta Siregar. i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(4) HALAMAN PENGESAHAN Skripsi dengan Judul ANALISIS HIDROGEN SULFIDA (H 2S) DALAM RUMAH SERTA KELUHAN KESEHATAN SALURAN PERNAFASAN PADA PENGHUNI DI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2017 Yang Disiapkan dan Dipertahankan Oleh BERLIANTA SIREGAR NIM : 131000253 Disahkan Oleh : Komisi Pembimbing Skripsi. Pembimbing I. Pembimbing II. ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(5) ABSTRAK Hidrogen sulfida adalah gas yang berbau telur busuk dan terjadi apabila bahan organik mengalami proses pembusukan sebagai akibat kinerja bakteri. Tumbuhan atau sampah organik yang dibuang di tempat pembuangan akhir sampah berpotensi menimbulkan gas H2S. Paparan H2S dengan konsentrasi rendah dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek permanen seperti gangguan saluran pernafasan, sakit kepala, dan batuk kronis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar gas hidrogen sulfida di dalam rumah serta keluhan kesehatan saluran pernafasan pada penghuni di sekitar tempat pembuangan akhir sampah kelurahan Terjun kecamatan Medan Marelan. Jenis penilitan adalah bersifat dekstriptif, populasi dalam penelitian adalah perumahan penduduk yang ada disekitar lokasi TPA Terjun serta penghuninya dengan jumlah sampel 10 rumah dengan penghuni 54 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari pengukuran yang dilakukan pada 10 rumah penduduk, kadar hidrogen sulfida dalam rumah tertinggi yaitu 0,02242 ppm dan yang terendah 0,00742 ppm, seluruh rumah tidak memenuhi syarat kualitas fisik rumah, dan terdapat 52 orang yang memiliki keluhan saluran pernafasan. Kepada Dinas Kebersihan Kota Medan agar memperbaiki sistem pengelolaan sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara dan penghuni rumah yang tinggal di sekitar lokasi TPA Terjun sebaiknya memperbaiki kondisi fisik rumahnya seperti ventilasi yang memadai agar udara dalam rumah selalu berganti dan lingkungan disekitar rumah ditanami dengan pohon-pohon yang fungsinya selain sebagai penyaring udara juga dapat menurunkan temperature dalam rumah. Kata kunci : Hidrogen Sulfida, Kualitas Fisik Rumah, Keluhan Saluran Pernafasan.. iii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(6) ABSTRACT Hydrogen sulfide is a gas that smells of rotten eggs and occurs when organic matter undergoes decay as a result of bacterial performance. Plants or organic waste disposed in the final waste disposal has the potential to generate H2S gas. H2S exposure with low concentrations over long periods of time can cause permanent effects such as respiratory problems, headaches, and chronic cough. The purpose of this study was to determine the levels of hydrogen sulphide gas in the house and respiratory health complaints on residents around the landfill site of the subdistrict kelurahan Terjun Medan Marelan district. The type of the research is dextriptive, the population in the study is the resident housing that is around the location of TPA Waterfall and its occupants with the sample number of 10 houses with the residents of 54 respondents. The results showed that from the measurements conducted on 10 houses, hydrogen sulfide content in the highest respondent's house was 0,02242 ppm and the lowest 0,00742 ppm, all respondent's house did not fulfill the physical quality of the house, and there were 52 people who had respiratory complaint . To the Sanitation Office of Medan City to improve the waste management system at TPA Terjun Subdistrict of Medan Marelan so as not to cause air pollution and the occupants of houses living in the vicinity of TPA Terjun landfill should improve the physical condition of his house such as adequate ventilation so that the air in the house is always changing and the environment around the house planted with trees whose function other than as an air filter can also lower the temperature in the house. Keywords: Hydrogen Sulfide, House Physical Quality, Respiratory Complaints. iv UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(7) KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas kehendaknya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Hidrogen Sulfida ( H2S) dalam Rumah Serta Keluhan Kesehatan Saluran Pernafasan pada Penghuni di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2018 ” yang merupakan syarat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan dan untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Penulis sadar bahwa yang disajikan dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan yang harus diperbaiki,maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun. Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan dapat selesai. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, Selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 3. Dr. dr. Taufik Ashar, MKM, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat. 4. Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing 1 yang banyak memberikan, motivasi, saran, masukan, dan pengarahan kepada penulis. 5. Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, Ms, selaku Dosen Pembimbing II yang banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.. v UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(8) vi. 6. Dra.Nurmaini,M.K.M, Ph.D dan dr.Surya Dharma, M.P.H selaku Penguji Skripsi atas bantuan kesediaan waktu,motivasi, semangat, bimbingan dan pengarahan untuk kesempurnaan skripsi ini. 7. Seluruh Bapak/ Ibu dosen dan seluruh staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, khususnya departemen Kesehatan Lingkungan yang telah membimbing selama perkuliahan. 8. Lurah Terjun Kecamatan Medan Marelan. 9. Terkhusus kepada orang tua yang paling saya sayangi ayahanda H.Muhammad Nawi Siregar dan ibunda Hj. Meriani Sihombing yang selalu memberi doa, semangat dan dukungan, nasihat, izin, kebebasan belajar sehingga memberi pengajaran berarti dalam hidup ini. 10. Abangda dan adinda tercinta Hikman Syur Siregar, Janharis Siregar Amd, Mahadi Siregar yang telah memberikan semangat dan dukungan. 11. Terimakasih kepada abangda Yasser Pardamean Lubis, SKM yang selalu memberi masukan, semangat, dukungan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Sahabat yang selalu memberi masukan, semangat, dukungan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini: Fitri Adelina Lubis SKM, Irma Novita Hsb SKM, Tiara Pratiwi SKM, Weni Alfiah SKM, Putri Jayanti, Ummi Febriani Ritonga S.Pi. 13. Sahabat seperjuangan di FKM USU yang tidak bisa disebut satu persatu yang telah banyak membantu.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(9) vii. Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dari penulisan, gaya bahasa dan isinya, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, kiranya Tuhan berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang membantu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu, Terimakasih.. Medan, Juli 2018 Penulis. Berlianta Siregar. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(10) DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ……………….........……..i HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………...…….ii ABSTRAK …………………………………………………………………….…iii ABSTRACT …………………………………………………………………….....iv KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. v DAFTAR ISI ………………………………………………………………........viii DAFTAR TABEL ………………………………………………………………...x DAFTAR GAMBAR .............................................................................................xi DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………......xii RIWAYAT HIDUP ………………………………………………………...…..xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang................................................................................. 1 1.2 RumusanMasalah............................................................................. 4 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 4 1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................... 4 1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................ 4 5 1.4 ManfaatPenelitian………………………………………….. .......... BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PencemaranUdara ............................................................................ 6 2.1.1 Sumber Pencemaran Udara .................................................... 7 2.1.2 Jenis-jenis Pencemaran Udara ………………………........... 8 11 2.2 Hidrogen Sulfida ............................................................................. 2.2.1Defenisi HidrogenSulfida ........................................................ 11 2.2.2 Proses Pembentukan Hidrogen Sulfida ................................. 11 12 2.2.3 Sifat dan Karakteristik Hidrogen Sulfida ............................... 2.2.4 Sumber-sumber Paparan Hidrogen Sulfida ............................ 13 2.2.5 Efek fisik Hidrogen Sulfida Terhadap Manusia……… ......... 14 2.3 Rumah Sehat .................................................................................... 16 2.3.1 Persyaratan Rumah Sehat....................................................... 16 2.4 Sampah Padat .................................................................................. 21 2.4.1 Defenisi Sampah ..................................................................... 21 2.4.2 Karakteristik Sampah ............................................................. 22 2.4.3 PengolahanSampah ………………………………….. .......... 23 2.5 Tempat Pembuangan Akhir Sampah................................................... 25 2.6 Gangguan Saluran Pernafasan ……………………………… ........... 28 2.6.1 Gejala-gejala Gangguan Saluran Pernafasan …………......... 29 2.7 Kerangka Konsep…………………………………………… .... …… 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ................................................................................ 36 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitin............................................................. 36 36 3.2.1 Lokasi Penelitian .................................................................... 3.2.2 Waktu Penelitian..................................................................... 36. viii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(11) Parameter dan Subjek Penelitian ..................................................... 36 3.3.1 Parameter Penelitian …………………………………. ......... 36 3.3.2 Subjek Penelitian …………………………………….. ...... 36 3.4 Populasi dan Sampel………………………………………... ......... 37 3.4.1 Populasi ………………………………………………. ........ 37 3.4.2 Sampel ……………………………………………….. ...... 37 3.5 Teknik Pengambilan Sampel ………………………………. ......... 38 3.6 Metode Pengumpulan Data ............................................................. 38 3.7 Defenisi Operasional ....................................................................... 39 3.8 Aspek Pengkuran ............................................................................. 39 3.8.1 Kadar Hidrogen Sulfida ……………………………… ......... 39 3.8.2 Kualitas Fisik Rumah…………………………. .................... 40 40 3.8.3 Keluhan Saluran Pernafasan ................................................... 3.9 Prosedur Pengukuran Hidrogen Sulfida…………………….............. 40 3.9.1 Metode Analisa H2S dengan Braverman ................................ 41 3.10 Teknik Pengolahan Data ………………………………….. ............ 43 3.11 Teknik Analisis Data ……………………………………… ............ 43 43 3.11.1 Univariat ............................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian... ............................................... 44 4.1.1 Geografis ……………………………………………………. . 44 4.1.2Demografi…………………………………………………….. 44 4.1.3 Gambaran Umum TPA Terjun……………………………….. 45 4.2. Deskripsi Responden ………………………………………............. 46 4.2.1 Karakteristik Subjek Penelitian…………………………....... 46 4.3 Hasil Penelitian …………………………………………………...... 47 4.3.1 Kadar Hidrogen Sulfida di Udara …………………...………. 47 4.3.2 Kualitas Fisik Rumah ……………………………................... 48 4.3.3 Keluhan Saluran Pernafasan …..………..………………….... 49 4.3.4 Penghuni Rumah Pernah Berobat….….…………..................... 50 51 4.3.5 Keluhan Saluran Pernafasan Terus Berulang ………………... 4.3.6 Keluhan Kesehatan Lain …………………………………...... 52 4.3.7 Kadar H2S Berdasarkan Keluhan Saluran Pernafasan ……..... 52 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kadar Kualitas Udara Hidrogen Sulfida Di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan …………………………………………………... 53 5.2 Kualitas Fisik Rumah Di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan …. 54 5.3 Keluhan Gangguan Saluran Pernafasan Pada Penghuni Rumah Di Sekitar TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan……………………………... 57 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ........................................................................................ 60 6.2 Saran .................................................................................................. 60 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………......63 DAFTAR LAMPIRAN 3.3. ix UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(12) DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Penghuni Rumah Berdasarkan Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Lama Menetap, berada di lokasi………………………………………………………………...46 Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Hidrogen Sulfida di Udara …………………….…47 Tabel 4.3 Distribusi Penghuni Berdasarkan Kualitas Fisik Rumah ……………..48 Tabel 4.4 Distribusi Penghuni Rumah Berdasarkan Ada dan Tidak Ada Keluhan Kesehatan Saluran Pernafasan ……………………………………. .49 Tabel 4.5 Distribusi Penghuni Rumah Berdasarkan Keluhan Saluran Pernafasan pada Penghuni Rumah …………………………………………….. .50 Tabel 4.6 Distribusi Penghuni Rumah Berdasarkan Pernah Berobat ke palayanan kesehatan pada Penghuni Rumah ……………………………….…..50 Tabel 4.7 Distribusi Penghuni Rumah Berdasarkan Gejala Keluhan Saluran Pernafasan Responden Terus Berulang……………………………...51 Tabel 4.8 Distribusi Penghuni Rumah Berdasarkan Keluhan Kesehatan lain ..... 51 Tabel 4.9 Tabulasi Silang Kadar Hidrogen Sulfida Berdasarkan Keluhan Kesehatan Saluran Pernafasan ..……........…..................…………52. x UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(13) DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian ....................................................... 35. xi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(14) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.Kuesioner Penelitian …………………...……………………...…. 65 Lampiran 2.Master Data …………………………………………………....… 68 Lampiran 3. Print Out Data SPSS…………………………………………...... 71 Lampiran 4 Print Out Hasil Penelitian ……………………………………...... 76 Lampiran 5 Dokumentasi penelitian …………………...………………......... 80. xii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(15) DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Berlianta Siregar yang dilahirkan pada tanggal 28Juli 1995 di Batangtoru. Beragama Islam tinggal di Wek II Kecamatan Batangtoru. Penulis merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara dari pasangan H.Muhammad Nawi Siregar dan Hj.Meriani Sihombing. Pendidikan formal penulis di mulai di Sekolah Dasar Negeri 1 Batangtoru Kecamatan Batangtoru dan selesai tahun 2007, Madrasah Tsanawiyah Negeri Batangtoru dan selesai tahun 2010. Sekolah Menengah Atas Swasta Nurul Ilmi Padang Sidempuan dan selesai 2013. Pada tahun 2013 melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Lingkungan dan selesai tahun 2018.. xiii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(16) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udara ialah atmosfer yang mengelilingi bumi yang sangat penting bagi kehidupan. Komposisi udara kering dan basah diantaranya nitrogen (78,09%), oksigen (21,94%), argon (0,93%), dan karbon dioksida (0,032%). Selain gas-gas tersebut, gas-gas lain yang terdapat dalam udara antara lain nitrogen, oksida, hidrogen, metana, belerang dioksida, ammonia, dan lain-lain. Apabila susunan udara mengalami perubahan dari keadaan normal dan menganggu kehidupan manusia dan hewan maka udara tersebut telah tercemar (Wardhana, 2004). Hidrogen sulfida adalah gas yang berbau telur busuk dan terjadi apabila bahan organik mengalami proses pembusukan sebagai akibat kinerja bakteri. Tumbuhan atau sampah organik yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berpotensi menimbulkan gas H2S. Gas ini dapat tersebar kemana-mana, mengarah sesuai dengan arah angin. Oleh karena itu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tidak dibenarkan berada di daerah ketinggian, daerah dekat pemukiman atau di pinggir sungai. Timbunan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan sarang penyebar penyakit atau sarang berkembang biaknya penyakit (Sukandarrumidi, 2006). Paparan H2S dengan konsentrasi rendah dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek permanen seperti gangguan saluran pernafasan, sakit kepala, dan batuk kronis. Ada beberapa bukti untuk menyatakan bahwa ada hubungan paparan asam sulfida dengan resiko keguguran spontan (Xu et.al,1998).. 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(17) 2. Sumber papararan H2S ini berasal dari gudang penyimpanan pupuk, pabrik kertas, industri tekstil, gunung berapi, pengeboran minyak tanah dan gas alam, pengolahan limbah cair dan tempat pembuangan akhir sampah. Tempat pembuangan akhir sampah dengan sistem open dumping menimbulkan bau busuk karena tumpukan sampah yang mengalami dekomposisi secara alamiah menghasilkan gas H2S, metana dan amoniak. Bau ini dapat menyebar di TPA dan sekitarnya sehingga menurunkan kualitas udara (Soemirat, 2003). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Terjun Kecamatan Medan Marelan adalah sebuah kawasan yang merupakan muara pembuangan sampah dari hampir seluruh penjuru kota Medan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Terjun telah beroperasi sejak 7 januari 1994, dengan sistem open dumping dengan luas areal 14 Ha, 4 km dari sungai Deli, 6 km dari garis pantai, dan 14 km dari pusat kota. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, TPA Terjun berada dekat dengan perumahan penduduk. Hal ini bertentangan dengan keputusan Menkes RI No. 829 tahun 1999 tentang Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman, dimana salah satu persyaratan adalah tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir sampah. Lokasi TPA Terjun yang berada di sekitar perumahan penduduk sangat berpeluang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, diantaranya pencemaran udara diluar maupun di dalam rumah. Penghuni rumah mengeluh sering merasa sakit kepala hingga ke leher saat mencium bau yang menyengat dari sampah, pada. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(18) 3. pagi dan sore hari ketika angin berhembus ke perumahan penduduk disitulah bau yang sangat dirasakan penduduk. Penghuni rumah juga memiliki keluhan batukbatuk yang berulang-ulang, bahkan ada yang menderita penyakit sesak nafas. Menurut penelitian Mardiani (2006) tentang hubungan kualitas udara ambien dan vektor terhadap gangguan keluhan saluran pernafasan dan saluran pencernaan di sekitar tempat pembuangan akhir sampah menunjukkan bahwa kadar gas H2S terdeteksi melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) pada radius 150 meter dari TPA. Menurut penelitian Sianipar (2009) tentang analisis resiko paparan hidrogen sulfida pada masyarakat sekitar TPA sampah Terjun kecamatan Medan Marelan menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi hidrogen sulfida di TPA Terjun sudah melebihi baku mutu yaitu sebesar 0,0290 mg/m³. Meirinda (2008) melakukan pengambilan sampel udara terhadap seluruh rumah mayarakat di TPA sampah Terjun Kecamatan Medan Marelan. Dari hasil pemeriksaan parameter gas polutan menunjukkan konsentrasi H2S berada diatas kadar maksimum yang di perbolehkan berdasarkan keputusan Menteri Negara Kesehatan Lingkungan Hidup Nomor KEP-50/MENLH/11/1996 Baku Tingkat Kebauan. 1.2. Perumusan Masalah Sampah organik yang dibuang di TPA berpotensi menimbulkan gas H2S, yaitu gas yang berbau telur busuk. Hidrogen sulfida dengan konsentrasi rendah dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek permanen, seperti gangguan saluran pernafasan. Keluhan saluran pernafasan yang dirasakan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(19) 4. masyarakat berupa, batuk-batuk, batuk berdarah, nyeri dada, sesak nafas dan sakit tenggorokan. Sehingga diperlukan analisis hidrogen sulfida di dalam rumah serta keluhan kesehatan saluran pernafasan pada penghuni di sekitar tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui kadar gas hidrogen sulfida di dalam rumah serta keluhan kesehatan pernafasan pada penghuni di sekitar tempat pembuangan akhir sampah kelurahan Terjun kecamatan Medan Marelan. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui kadar gas hidrogen sulfida di udara dalam rumah sekitar tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun. 2. Mengetahui keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernafasan pada penghuni rumah di sekitar tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun. 3. Mengetahui kualitas fisik rumah yaitu ventilasi, pencahayaan, lantai, dinding, langit-langit/plafon di TPA Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(20) 5. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai. informasi. bagi. pemerintah/Instansi. yang. terkait. agar. meningkatkan upaya penyehatan pengelolaan sampah. 2. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun. 3. Memberi masukan bagi peneliti lainnya mengenai konsentrasi gas hidrogen sulfida serta keluhan kesehatan saluran pernafasan pada penghuni rumah di sekitar tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun. 4. Menambah pengetahuan penulis tentang pencemaran udara di tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(21) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencemaran Udara Udara adalah suatu campuran gas yang berbentuk lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi udara tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk uap H2O dan karbon dioksida (CO2). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu. Udara di alam tidak pernah ditemukan bersih tanpa polutan sama sekali. Beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO 2), hidrogen sulfida (H2S), dan karbon monoksida (CO) selalu terdapat di udara sebagai hasil dari proses-proses alami seperti aktivitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, kebakaran hutan dan sebagainya. Selain itu partikel-partikel padatan atau pencemaran cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan vulkanik atau gangguan alam lainnya (Fardiaz, 2003). Pencemaran udara ialah pencemaran yang terjadi jika udara di atmosfer dicampuri dengan zat atau radiasi yang berpengaruh buruk terhadap organisme hidup. Jumlah pencemaran ini cukup banyak sehingga tidak dapat di absorpsi atau dihilangkan. Pada umumnya pencemaran udara ini bersifat alamiah, misalnya gas pembusukan, debu akibatnya erosi, dan serbuk tepung sari yang terbawa angin. Kemudian ditambah oleh ulah manusia dan jumlah kadar bahayanya makin meningkat (Sastrawijaya, 2009). Menurut Wardhana (2004) pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan. 6 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(22) 7. susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat menganggu kehidupan manusia. Polusi atau pencemaran udara adalah dimasukkannya komponen lain ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung maupun akibat proses alam sehingga kualitas udara turun sampai ketingkatan tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Setiap substansi yang bukan merupakan bagian dari komposisi udara normal disebut sebagai polutan (Chandra, 2007). Definisi pencemaran udara menurut Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Udara adalah masuknya atau dimasukkan zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak memenuhi fungsinya. 2.1.1 Sumber Pencemaran Udara Menurut Chandra (2007), sumber-sumber pencemaran udara dapat dibagi dalam dua kelompok besar, sumber alamiah dan akibat perbuatan manusia seperti berikut: 1. Sumber pencemaran yang berasal dari proses atau kegiatan alam. Contoh: kebakaran hutan, kegiatan gunung berapi, dan lainnya. 2. Sumber pencemaran buatan manusia (berasal dari kegiatan manusia). Contoh:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(23) 8. a. Sisa pembakaran bahan bakar minyak oleh kendaraan bermotor berupa gas CO, CO2, NO, karbon, hidrokarbon, aldehide, dan Pb. b. Limbah industry : kimia, metalurgi, tambang, pupuk dan minyak bumi. c. Sisa pembakaran dari gas alam, batubara, dan minyak, seperti asap, debu, dan sulfurdioksida. d. Lain-lain, seperti pembakaran sisa pertanian, hutan, sampah, dan limbah reactor nuklir. 2.1.2. Jenis-jenis Pencemaran Udara Tabel 2.1 Jenis-jenis pencemaran udara. No. Pencemaran Udara. 1.. Menurut bentuk. 2. Menurut tempat. 3. Gangguan kesehatan. 4. Susunan kimia. 5. Menurut asalnya. Jenisnya 1. 2. 1. 2. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 1. 2.. Gas Partikel Ruangan (indoor) Udara bebas (outdoor) Irritansia Apiksia Anestesia Toksis Anorganik Organik Primer Sekunder. Sumber: Sitopu 1997 Bentuk pencemaran udara dapat dikelompokkan atas dua bagian yaitu, pencemaran dalam bentuk gas dan pencemaran dalam bentuk partikel. a. Pencemaran Dalam Bentuk Gas Pencemaran dalam bentuk gas terjadi karena masuknya gas-gas tertentu ke dalam udara melebihi kondisi normal sehingga jauh berada di. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(24) 9. atas batas ambang normal. Beberapa jenis gas yang menimbulkan pencemaran antara lain: 1. Karbondioksida (CO2) Karbondioksida sebenarnya diperlukan oleh tumbuhan, akan tetapi ketika jumlahnya di udara terlalu besar, maka dapat mengganggu pernafasan manusia. Sumber karbondioksida ada yang terjadi secara alami, misalnya ketika. terjadi. pembusukan. bahan. organik. akan. mengeluarkan. karbondioksida, pengaruh magma dalam bumi yang kemudian keluar dalam bentuk gas dan gunung berapi, dan sebagainya. Peningkatan karbondioksida yang terbesar justru dihasilkan oleh perbuatan manusia sendiri.. Karbondioksida. yang. disebabkan. manusia. berasal. dari. pembakaran, misalnya pembakaran hutan, asap yang dihasilkan mesinmesin industri yang menggunakan minyak bumi atau batu bara sebagai bahan bakar, pembakaran sampah, dan lain-lain. 2. Karbonmonoksida (CO) Penambahan gas ini di udara terjadi karena pembakaran, akan tetapi sumber utama yang paling besar berasal dari gas buang kendaraan dan mesin-mesin yang dikeluarkan dalam bentuk asap. Oleh karena itu, jalanjalan raya yang padat kendaraan dan bengkel-bengkel kendaraan bermotor banyak mengalami pencemaran karbonmonoksida. 3. Gas belerang Belerang yang masuk ke udara dalam bentuk gas, terutama terdiri dari Sulfurdioksida (SO2) dan Hidrogen Sulfida (H2S).Gas ini banyak. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(25) 10. dikeluarkan dari gunung berapi. Gas belerang selain yang berasal dari gunung berapi, juga berasal dari pabrik-pabrik yang menggunakan bahan baku. belerang. seperti. pada. pabrik. ban. dan. beberapa. pabrik. lainnya.Pembakaran batu bara dan minyak bumi pada industri juga menghasilkan belerang karena kedua bahan bakar itu mengandung belerang. Akibat dari pencemaran udara yang mengandung belerang, bila terhirup oleh manusia dapat menimbulkan kerusakan pada paru-paru. 4.. Gas Hidrogen Flourida (HF) Gas ini bukan merupakan unsur udara, tetapi masuk ke udara melalui hasil pembakaran dari industri-industri tertentu, misalnya industri alumunium. Gas ini berpengaruh buruk pada tumbuh-tumbuhan dan juga mudah merusak barang- barang.. b. Pencemaran Udara dalam Bentuk Partikel Pencemaran udara dalam bentuk partikel ada yang berupa zat cair dan ada pula dalam bentuk padat. Partikel atau benda yang sangat kecil ini berterbangan dan melayang-layang di udara karena ringan. Partikel-partikel padat ada yang berupa debu yang diterbangkan angin ke udara dan ada juga yang berasal dari sisa-sisa pembakaran berupa asap yang terbang ke udara. Partikel-partikel cair di udara terdiri dari titik-titik air yang terjadi karena pengembunan hingga membentuk awan. Titik-titik air yang membentuk awan sering pula bercampur dengan gas-gas pencemar lain sehingga dapat membahayakan kesehatan. Di kotakota industri, asap-asap industri kemudian bersenyawa dengan partikel-partikel. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(26) 11. cair di udara, selanjutnya membentuk kabut hitam yang disebut smog. Kabut seperti ini sering juga disebut kabut industri. 2.2 Hidrogen Sulfida 2.2.1 Defenisi Hidrogen Sulfida Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan suatu gas tidak berwarna, sangat beracun, mudah terbakar dan memiliki karakteristik bau telur busuk. Nama kimia asam sulfida ini adalah dihidrogen sulfida dan dikenal juga dengan sebutan gas rawa atau asam sulfida (ATSDR, 2000). 2.2.2 Proses Pembentukan Hidrogen Sulfida Kondisi aerobik, H2S dapat dioksidasi menjadi senyawa sulfat secara cepat. Reaksi yang terjadi adalah:. Tahap Pertama : S2 + 3 O2 + 2 H2O. 2 H2SO4. Tahap Kedua: 2 H2S + O2. 2 H2O + S2. Hidrogen sulfida dibentuk dari reduksi bakteri sulfat dan dekomposisi kandungan sulfur organik pada kotoran dalam kondisi anaerob. Sulfur di dalam makhluk hidup berbentuk S- organik. Selanjutnya S- organik akan mengalami dekomposisi menjadi H2S. H2S kemudian dapat berubah menjadi sulfat. Melalui proses asimilasi sulfat dapat berubah menjadi S- organik kembali. Sulfat juga dapat berubah menjadi H2S jika mengalami reduksi sulfat. (Sutedjo et al., 1991).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(27) 12. Menurut Imas (2001), mikroorganisme pengoksidasi sulfur dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu mikroorganisme kemoatutotrof (litotrof), fotoautotrof, dan kemoheterotraof. Bakteri litotrof yang dapat mengoksidasi sulfur adalah bakteri yang berasal dari genus Thiobacillus. 2.2.3 Sifat dan Karakteristik Hidrogen Sulfida Hidrogen sulfida mempunyai sifat dan karakteristik antara lain: 1. Tidak berwarna tetapi mempunyai bau khas seperti telur busuk pada konsentrasi rendah sehingga sering disebut sebagai gas telur busuk. 2. Merupakan jenis gas beracun 3. Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL (Lower Explosive Limit). 4.3% (43000 PPM) sampai UEL (Upper Explosive Limite) 46%. (460000 PPM). dengan nyala api berwarna biru pada temperature 500ºF. (260ºC). 4. Berat jenis gas H2S lebih berat dari udara sehingga gas H2S akan cenderung terkumpul di tempat/daerah yang rendah. Berat jenis gas H2S sekitar 20 % lebih berat dari udara dengan perbandingan berat jenis H2S sebesar 1.2 atm dan berat jenis udara sebesar 1 atm. 5. H2S dapat larut (bercampur) dengan air ( daya larut dalam air 437 ml/100 ml air pada 0ºC; 186 ml/100 ml air pada 40ºC). 6. H2S bersifat korosif sehingga dapat mengakibatkan karat pada peralatan logam. 2.2.4 Sumber-Sumber Paparan Hidrogen Sulfida Hidrogen sulfida adalah gas yang tersebar di lingkungan seperti di air sumur, saluran air buangan dan udara sekitar pabrik kertas, industri tekstil, gudang. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(28) 13. -pupuk serta tempat pembusukan sampah organik. Tubuh manusia juga memproduksi H2S di dalam mulut dan usus, tetapi dalam konsentrasi sangat kecil. Adapun sumber sumber paparan H2S yaitu : a. Air Hidrogen sulfida lebih berat dari pada udara, maka H2S sering terkumpul di udara pada lapisan bawah dan sering terdapat pada air permukaan dan dapat sedikit larut dalam air. Tetapi H2S dapat menguap dari air permukaan kembali ke udara sehingga konsentrasi hidrogen sulfida kecil. b. Udara Pada umumnya manusia dapat mengenali bau H2S ini dengan konsentrasi 0,0005 ppm sampai dengan 0,3 ppm. Bila konsentrasi tinggi menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan penciuman. Hidrogen sulfida dilepaskan dari sumbernya terutama sebagai gas dan menyebar di udara pada lapisan bawah, dekat dengan manusia. Gas ini dapat bertahan di udara rata-rata 18 jam - 3 hari. Selama itu hidrogen sulfida dapat berubah menjadi sulfur dioksida (SO2). Jumlah konsentrasi hidrogen sulfida dalam udara (ambient) di Amerika Serikat berkisar antara 0,11-0,33 ppb. Sedangkan pada daerah yang berkembang dilaporkan 0,02-0,07 ppb. Bencana di Pozta Rica pada tahun 1950 disebabkan kesalahan penanganan gas di dalam industri kilang minyak di Mexico dekat Gulf of Mexico. Kebocoran H2S yang berlangsung 20-25 menit memungkinkan gas tersebut masuk ke udara bebas dan ke daerah pemukiman (udara tak bebas). Penyakit timbul 10-20 menit. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(29) 14. sejak mulai kebocoran, dari 320 orang yang terserang, 22 orang meninggal. (Soemirat, 2009). 2.2.5 Efek Fisik Hidrogen Sulfida Terhadap Manusia Hidrogen Sulfida dengan konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan. Pada konsentrasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, mual dan muntah, sampai pingsan, serta pada konsentrasi lebih dari seribu ppm akan menyebabkan kehilangan kesadaran sampai kematian (Jones et al. 2005). Beberapa dampak negatif bagi manusia yang ditimbulkan oleh gas H2S dengan beberapa konsentrasi (ppm) dapat dilihat pada Table 2.2:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(30) 15. Tabel 2.2 Dampak Negatif H2S Pada Manusia Konsentrasi. Efek bagi manusia. 0,03 ppm. Bisa dicium. Aman dihirup dalam 8 jam. Bisa menyebabkan iritasi mata. Harus menggunakan masker karena bisa merusak metabolisme. Maksimum terhirup selama 10 menit. Bau membunuh dalam 3 sampai 15 menit. Menyebabkan gas mata dan luka pada tenggorokan. Bereaksi secara keras dengan campuran isi raksa gigi. Terhirup lebih dari satu menit menyebabkan beberapa kerusakan urat saraf mata. Hilang penciuman, kerusakan sampai darah ke otak diteruskan dengan kerusakan organ penciuman Kelumpuhan pernapasan dalam 30 sampai 45 menit. Pingsan dalam waktu singkat (maksimal 15 menit). Kerusakan mata serius dan kerusakan mata sampai pada saraf. Melukai mata dan tenggorokan. Kehilangan keseimbangan dan pikiran. Kelumpuhan pernapasan dalam 30 sampai 45 menit. Menimbulkan kelumpuhan dalam 3 sampai 5 menit. Dibutuhkan segera penyadaran buatan Akan menimbulkan terhentinya napas dan kematian jika tidak segera ditolong. Kerusakan otak secara permanen jika tidak ada pertolongan cepat.. 4 ppm. 10 ppm. 20 ppm. 30 ppm. 100 ppm. 200 ppm. 300 ppm. 500 ppm. 700 ppm. Sumber: AlkenMurray.com. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(31) 16. 2.3 Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar selain makanan dan pakaian bagi penduduk. Permintaan unit rumah akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Di lain pihak, terbatasnya lahan untuk pemukiman dan penawaran perumahan hanya tertuju pada suatu golongan masyarakat tertentu. Hal ini merupakan kendala bagi sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perumahannya dan secara tidak langsung berpengaruh pada tingginya harga rumah, sedangkan tingkat pendapatan penduduk relatif rendah. Dengan demikian, banyak rumah tangga menempati rumah yang kurang layak, baik dipandang dari segi kesehatan lingkungan maupun luas lantai perkapita (Ebenhaezer, 2000). 2.3.1 Persyaratan Rumah Sehat Kesehatan perumahan dan lingkungan adalah kondisi fisik, kimia, dan biologik di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan, sehingga memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan hutan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan dan pedesaan. Pemukiman berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU RI No. 4/1992).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(32) 17. Pemukiman yang baik terdiri dari kumpulan rumah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya seperti sarana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air bersih, lampu jalan, bebas banjir dan lain-lain. Standar arsitektur bangunan terutama untuk pemukiman umum pada dasarnya ditujukan untuk menyediakan rumah tinggal yang cukup baik dalam bentuk desain, letak dan luas ruangan, serta fasilitas lainnya agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau dapat memenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat dan menyenangkan. Rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Konstruksi rumah dan lingkungannya yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sebagai sumber penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan. Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan sehat apabila: 1. Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperature lebih rendah dari udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang nyaman, dan kebisingan 45-55 dB.A 2. Memenuhi kebutuhan kejiwaan 3. Melindungi penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah yang saniter dan memenuhi syarat kesehatan 4. Melindungi penghuninya dari kemungkinan terjadinya kecelakaan dan bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh, tangga yang tidak. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(33) 18. curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan, bahkan dari ancaman kecelakaan lalu lintas (Sanropie, 1992;Azwar,1996). Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai berikut: 1. Lokasi a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar, tanah longsor, gelombang sunami, daerah gempa, dan sebagainya. b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas tambang. c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur pendaratan penerbangan. 2. Kualitas Udara Kualitas udara ambient di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beracun dan memenuhi syarat baku mutu lingkungan sebagai berikut: a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi. b. Debu dengan diameter kurang dari 10 μg maksimum 150 μg/m3. c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm. d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari. e. Kebisingan dan getaran f. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(34) 19. g. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik. Persyaratan kesehatan suatu rumah tinggal sesuai dengan Permenkes No.829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut: 1. Bahan bangunan a. Tidak terbuat dari bahan-bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain: 1. Debu total tidak lebih dari 150 μg/m3 2. Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/jam 3. Timah hitam (Pb) tidak melebihi 300 mg/kg. b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen. 2. Komponen dan penataan ruang rumah Komponen rumah harus mempunyai persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut: a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan b. Dinding 1. Di ruang tidur dan ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara. 2. Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan. 3. Langit-langit. harus. mudah. dibersihkan. dan. tidak. rawan. kecelakaan. 4. Bumbungan rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(35) 20. 5. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, kamar mandi dan ruang bermain anak. 6. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap. 3. Pencahayaan alam dan atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan mata. 4. Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut: a. Suhu udara berkisar antara 18-300C b. Kelembaban udara berkisar antara 40-70% c. Konsentrasi gas SO2, tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam d. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8 jam e. Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120 mg/m2 5. Ventilasi luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. 6. Binatang penular penyakit tidak ada tikus, nyamuk ataupun lalat yang bersarang di dalam rumah 7. Penyediaan air a. Tersedia sarana air bersih dengan kapasitas 60 liter/hari/orang. b. Kualitas air minum harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan atau air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 8. Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(36) 21. 9. Limbah a. Limbah cair yang berasal dari rumah tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah. b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, pencemaran terhadap permukaan tanah serta air tanah. 10. Kepadatan hunian ruang tidur luas ruang tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang dalam satu ruang tidur, kecuali anak di bawah usia 5 tahun (Depkes RI, 1999). 2.4. Sampah Padat 2.4.1 Defenisi Sampah Menurut defenisi (WHO), sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangani, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sampah padat atau benda yang tidak dipakai, tidak diinginkan, dan dibuang, yang berasal dari suatu aktivitas dan bersifat padat (Chandra, 2007). Sampah adalah bahan/benda padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktivitas manusia yang tidak dipakai lagi, tidak disenangi dan dibuang dengan cara-cara saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia (Kusnoputranto, 2000). Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya, sampah dapat terbagi atas: 1. Zat organik (sisa makanan, daun, sayur dan buah) 2. Zat anorganik (logam, pecah-belah,abu, dan lain-lain). Sedangkan berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk, terdiri dari:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(37) 22. 1. Mudah membusuk (sisa makanan, potongan daging dan sebagainya) 2. Sulit membusuk (plastic, karet, dan kaleng ). Proses dekomposisi zat organik yang terkandung di dalam sampah dapat berlangsung baik secara aerobik dan anaerobik. Jika kadar oksigen cukup, maka penguraian berlangsung secara aerob, sehingga akan terbentuk gas-gas H2S, CO2, NH3, PO4, dan SO4. Jika kadar oksigen rendah, maka penguraian sampah akan berlangsung secara anaerob sehingga akan dihasilkan gas-gas NH3,CH4 dan H2S yang berbau tidak enak ( Suriawira, 1985). Selain faktor oksigen, faktor lain yang mempengaruhi dekomposisi sampah adalah kelembaban dan suhu. Hal inilah yang mengakibatkan jika pada musim hujan proses dekomposisi akan meningkat sehingga diperlukan oksigen yang cukup besar. Jika kebutuhan oksigen tersebut tidak terpenuhi, maka proses dekomposisi sampah akan berlangsung secara anaerob. 2.4.2. Karakteristik Sampah Sampah mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu kota dengan kota lain, tergantung dari tingkat sosial ekonomi penduduk, iklim, dan sebagainya. Karakteristik sampah mencakup antara lain: 1. Komposisi sampah, terbagi dalam dua golongan, yaitu: Komposisi fisik sampah, adalah besarnya persentase dari komponen pembentuk sampah yang terdiri dari sampah organik yang bersifat mudah membusuk dan sampah anorganik (kertas, kayu, kaca, logam, plastik). Berdasarkan hasil survey di beberapa kota di Indonesia umumnya, sekitar 70-80% sampah merupakan sampah organik. Komposisi kimia sampah. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(38) 23. adalah besarnya persentase dari unsur/ senyawa yang terkandung dalam sampah. Umumnya komposisi kimia sampah terdiri unsur karbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan phosphor (CHONSP) serta unsure lainnya yang terdapat dalam protein, karbohidrat dan lemak. 2. Densitas (kepadatan) sampah, adalah besaran yang menyatakan berat sampah persatuan volume. Besarnya kepadatan sampah tiap kota berbeda tergantung dari keadaan sosial, ekonomi serta iklim kota tersebut. Terdapat kecenderungan bila produksi sampahnya tinggi (umumnya di Negara industry), maka densitasnya lebih rendah. Kepadatan sampah rumah tangga di negara sedang berkembang berkisar antara 100 sampai dengan 600 kg/m3, sedangkan kepadatan sampah kota Medan rata-rata 250 kg/m3. 3. Kadar air sampah, yaitu besaran (biasanya dalam satuan %) yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat basah sampah total atau dengan berat kering sampah tersebut. Untuk negara berkembang besarnya berkisar antara 50-70 %. 2.4.3 Pengolahan Sampah Pengolahan sampah merupakan proses antara sebelum dilakukan pembuangan sampah di TPA yang bersifat optional. Tujuan dilakukan pengolahan yang utama adalah untuk memanfaatkan TPA secara lebih optimal dengan melakukan pengurangan volume, pemanfaatan kembali (daur ulang) sampah, pemanfaatan energi dan pembuatan kompos. Tekhnik dan cara pengolahan sampah dapat dilakukan dengan beberapa metode (Sastrawijaya, 1991), yaitu :. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(39) 24. 1. Daur ulang (recycling) Salah satu teknik pengolahan sampah untuk memanfaatkan kembali benda-benda yang masih mempunyai nilai ekonomis, seperti: kertas, plastik, karet, kaca/gelas, serta dapat pula mengurangi volume dan berat sampah sebelum pengolahan lebih lanjut atau dibuang ke TPA. 2. Pengomposan (composting) Composting adalah system pengolahan sampah dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme/bakteri untuk mengubah sampah menjadi kompos (proses fermentasi). Proses biodekomposisi sampah organikdapat berlangsung secara aerobik maupun anaerobik tergantung pada tersedianya oksigen untuk proses tersebut. Operasi pengomposan untuk sampah perkotaan umumnya menggunakan proses aerobik, karena proses anaerobik berlangsung sangat lambat dan menimbulkan bau yang sangat berlebihan dan sulit untuk dikontrol. 3. Pemadatan ( Balling ) Balling merupakan sistim pengolahan sampah secara pemadatan dengan menggunakan alat pemadat (compractor) yang dapat dilakukan di transfer station, ataupun di lokasi TPA. Sampah padat yang dihasilkan diangkut dan dibuang ke TPA dengan metode sanitary landfill. Pembuangan sampah yang sebelumnya dilakukan proses pemadatan akan meningkatkan kapasitas TPA karena pengurangan volume sampah serta mengurangi material tanah penutup. Proses balling memerlukan energi listrik yang. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(40) 25. besar, dan pemadatan akan sulit dilakukan bila kelembaban/kandungan air cukup tinggi sehingga rasio pemadatannya menjadi rendah. 4. Pembakaran (Incineration) Pembakaran merupakan metode pengolahan sampah secara kimiawi dengan proses oksidasi (pembakaran) dengan maksud stabilisasi dan reduksi volume serta beratnya jauh kecil/rendah dibandingkan dengan sampah sebelumnya. Sampah yang akan dibakar harus memenuhi syarat minimum karakteristik sampah untuk pembakaran, seperti jumlah kandungan air, kadar abu serta nilai kalornya, baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Agar incinerator layak digunakan dan tercapai pembakaran yang sempurna pada suhu 800-900 C Karakteristik sampah harus mempunyai nilai kalor minimum 800 kcal/kg, sehingga ekonomis karena tidak perlu menambah bahan bakar tambahan dan mengurangi tingkat pencemaran udara serta tidak menimbulkan bau. 2.5 Tempat Pembuangan Akhir Sampah Pembuangan akhir sampah adalah merupakan rangkaian/proses terakhir dalam system pengolahan sampah pada suatu tempat yang dpersiapkan, aman, serta tidak mengganggu lingkungan. Sistem pembuangan akhir TPAS menurut Sastrawijaya (1991) adalah sebagai berikut: 1.. Sistem open dumping (pembuangan terbuka) Sistem open dumping merupakan sistem yang tertua yang dikenal manusia dalam pembuangan sampah. Sampa hanya dibuang/ditimbun di suatu tempat tanpa ada perlakuan khusus, sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(41) 26. lingkungan. Pembuangan sampah secara terbuka dapat menjadi sarang/tempat perkembangan. vektor. penyakit. (lalat,tikus,kecoa),. menyebarkan. bau,. mencemari udara, air permukaan dan air tanah, bahaya kebakaran dapat menimbulkan asap tebal yang berkepanjangan. Keuntungan menggunakan sistem ini antara lain: a. Investasi awal paling murah dibandingkan dengan sistem yang lain b. Biaya operasi rendah c. Tidak memerlukan teknologi tinggi d. Mempunyai toleransi yang tingggi terhadap perubahan volume sampah e. Dapat menampung berbagai macam sampah tanpa harus disortir terlebih dahulu, kecuali sampah yang diklasifikasikan berbahaya atau beracun. Kerugiannya antara lain: a. Potensi pencemarannya terhadap lingkungan terlalu tinggi, sehingga lokasinya harus berjauhan dari wilayah pemukiman kota b. Memerlukan lahan yang relatif luas. 2.. System Controlled Landfill Controlled Landfill adalah sistem open dumping yang telah diperbaiki atau ditingkatkan dan peralihan tekhnik open dumping dan sanitary landfill. Pada sistem ini penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPAS penuh dengan timbunan sampah yang dipadatkan atau setelah mencapai tahap/periode tertentu. Penutupan dengan tanah ini tidak dilakukan setiap hari, tetapi dengan periode waktu yang lebih panjang dengan maksud untuk. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(42) 27. mengurangi kemungkinan adanya pencemaran, tetapi dengan biaya yang relatif masih rendah. 3. Sistem sanitary landfill Pada sistem ini penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setiap hari, yaitu pada setiap akhir operasi, sehingga setelah operasi berakhir tidak akan terlihat adanya timbunan sampah. Dengan cara ini pengaruh timbunan sampah terhadap lingkungan akan sangat kecil, tergantung pada kondisi topografi lokasi. Sistem sanitary landfill ini dapat dilaksankan dengan sistem area, sistem trench, gabungan antara sistem area dan sistem trench dan sistem progresif. Secara operasional terdapat peraturan yang perlu dijadikan acuan yaitu keputusan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Pemukiman Departemen Kesehatan No. 281 tahun 1989 tentang persyaratan kesehatan pengolahan sampah yaitu: 1. Pengolahan sampah yang baik dan memenuhi syarat kesehatan merupakan salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan yang mendasar. 2. Masyarakat perlu dilindungi dari kemungkinan gangguan kesehatan akibat pengolahan sampah sejak awal hingga tempat pembuangan akhir. Dalam lampiran Keputusan Dirjen tersebut dijelaskan pula persyaratan kesehatan pengolahan sampah untuk Pembuangan Akhir Sampah yang dinyatakan antara lain: Lokasi untuk TPA harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1. Tidak merupakan sumber bau, asap, debu, bising, lalat, binatang pengerat, bagi pemukiman terdekat ( minimal 3 KM ). UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(43) 28. 2. Tidak merupakan pencemar bagi sumber air baku untuk minum dan jarak sedikitnya 200 meter dan perlu memperhatikan struktur geologi setempat. 3. Tidak terletak pada daerah banjir 4. Tidak terletak pada lokasi yang permukaan airnya tinggi. 5. Tidak merupakan sumber bau, kecelakaan, serta memperhatikan aspek estetika. 6. Jarak dari bandara tidak kurang dari 5 KM. 1. Pengolahan sampah di TPA harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Diupayakan agar lalat, nyamuk, tikus, kecoa tidak berkembangbiak dan tidak menimbulkan bau. b. Memiliki drainase yang baik dan lancar. c. Leachate harus diamankan sehingga tidak menimbulkan masalah pencemaran. d. TPA yang digunakan untuk membuang bahan beracun dan berbahaya, lokasinya harus diberi tanda khusus dan tercatat Kantor Pemda. e. Dalam hal tertentu jika populasi lalat melebihi 20 ekor per blok girl atau tikus terlihat pada siang hari atau nyamuk Aedes, maka harus dilakukan pemberantasan dan perbaikan cara-cara pengolahan sampah. 2. TPA yang sudah tidak digunakan: a. Tidak boleh untuk pemukiman b. Tidak boleh mengambil air untuk keperluan sehari-hari. 2.6 Gangguan Saluran Pernafasan Saluran pernafasan adalah organ dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneks seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah atau pleura. Gangguan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(44) 29. saluran pernapasan adalah gangguan pada organ mulai dari hidung sampe alveoli serta organ-organ adneksnya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Depkes RI, 1999). Infeksi saluran pernafasan diartikan infeksi pada berbagai area saluran pernafasan termasuk hidung, telinga tengah, pharing, laring, trakea, bronchi dan paru-paru (WHO, 1995). Sedangkan gangguan saluran pernafasan menurut Wardhana (2004) adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh adanya pertikel atau debu yang masuk dan mengendap di dalam paru-paru dan polusi udara lainnya. 2.6.1. Gejala-gejala Gangguan Saluran Pernafasan Gejala-gejala yang mungkin timbul akibat pencemarn udara, diantaranya adalah: a. Batuk Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada. Batuk adalah refleks normal yang melindungi tubuh kita. Tentu saja bila batuk itu berlebihan, ia akan terasa amat mengganggu. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita batuk kronik didapat 628 sampai 761 kali batuk/ hari. Penderita TB paru jumlah batuknya sekitar 327 kali/hari dan penderita influenza bahkan sampai 154,4 kali/hari. Batuk dapat terjadi akibat berbagai penyakit/proses yang merangsang reseptor batuk. Selain itu, batuk juga dapat terjadi pada keadaan-keadaan psikogenik tertentu (Aditama,1993). Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(45) 30. bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glottis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu. Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glottis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian ini menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume inni. Pertama, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga pengeluaran secret akan lebih mudah. Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50-100 mmHg. Tertutupnya glottis merupakan cirri khas batuk, yang membedakannya dengan maneuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glottis tertutup adalah 10 sampai 100%. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(46) 31. lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis. Kemudian secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran nafas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 3050 detik setelah glottis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sapai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%. b. Batuk berdarah Batuk Batuk berdarah adalah batuk yang disertai darah. Jika darahnya sedikit dan tipis kemungkinan adalah luka lecet dari saluran napas, karena batuk yang terlalu kuat. Batuk berdarah dengan darah yang tipis dan sedikit bisa terjadi pada penderita maag kronis dimana maag penderita mengalami luka akibat asam lambung yang berlebih. Batuk berdarah dengan jumlah darah yang banyak biasanya terjadi pada penderita TB paru (tuberkulosis paru) yang sudah lama dan tidak diobati. Batuk berdarah pada penderita TBC merupakan suatu hal gawat darurat (emergency) karena dapat menyebabkan kematian dan harus mendapatkan pertolongan yang cepat. Pengobatan batuk berdahak adalah memberikan antibiotik, dicari penyebabnya jika karena TBC maka harus diberikan obat TBC, diberikan obat penekan batuk.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(47) 32. c. Sesak napas. Sesak napas merupakan gejala klinis dari gangguan pada saluran pernapasan.sesak napas bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan manifestasi dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Penyakit yang bisa menyebabkan sesak napas sangat banyak sekali mulai dari infeksi, alergi, inflamasi bahkan keganasan. Hal-hal yang bisa menyebabkan sesak napas antara lain : 1. Faktor psikis. 2. Peningkatan kerja pernapasan. a. Peningkatan. ventilasi. (Latihan. jasmani,. hiperkapnia,. hipoksia, asidosis metabolik). b. Sifat fisik yang berubah (Tahanan elastis paru meningkat, tahanan elastis dinding toraks meningkat, peningkatan tahanan bronkial). 3. Otot pernapasan yang abnormal a. Penyakit otot ( Kelemahan otot, kelumpuhan otot, distrofi). b. Fungsi mekanis otot berkurang. Dispnea atau sesak napas bisa terjadi dari berbagai mekanisme seperti jika ruang fisiologi meningkat maka akan dapat menyebab kan gangguan pada pertukaran gas antara O2 dan CO2 sehingga menyebabkan kebutuhan ventilasi makin meningkat sehingga terjadi sesak napas. Pada orang normal ruang mati ini hanya berjumlah sedikit dan tidak terlalu. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(48) 33. penting, namun pada orang dalam keadaan patologis pada saluran pernapasn maka ruang mati akan meningkat. Begitu juga jika terjadi peningkatan tahanan jalan napas maka pertukaran gas juga akan terganggu dan juga dapat menyebabkan dispnea. Dispnea juga dapat terjadi pada orang yang mengalami penurunan terhadap compliance paru, semakin rendah kemampuan terhadap compliance paru maka makinbesar gradien tekanan transmural yang harusdibentuk selama inspirasi untuk menghasilkan pengembangan paru yang normal. Penyebab menurunnya compliance paru bisa bermacam salah satunya adalah digantinya jaringan paru dengan jaringan ikat fibrosa akibat inhalasi asbeston atau iritan yang sama. d. Nyeri dada Salah satu bentuk nyeri dada yang paling sering ditemukan adalah angina pectoris yang merupakan gejala penyakit jantung koroner dan dapat bersifat progresif serta menyebabkan kematian, sehingga jenis nyeri dada ini memerlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan penangannan yang serius. e. Sakit tenggorokan Radang tenggorokan adalah infeksi pada tenggorokan (tekak) dan kadangkala amandel. Penyebab lainnya di antaranya adalah adanya polusi udara, alergi musiman dan merokok. Perubahan cuaca dan alergi musiman adalah penyebab yang paling sering terjadi.Terutamanya banyak terjadi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(49) 34. pada anak-anak dan infeksi ini disebarkan melalui orang ke orang (person to person contact). Penularan terjadi melalui. droplet.Kuman menginfiltrasi lapisan. epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisal bereaksi,. terjadi. pembendungan. radangdengan. infiltrasi. leukosit. polimorfonukloear.Pada stadium awal, terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tetapi menjadi menebal atau berbentuk mukus, dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(50) 35. 2.7 Kerangka Konsep Kadar gas hidrogen sulfida di dalam rumah. Keluhan gangguan saluran pernafasan 1. Ada Keluhan 2. Tidak ada keluhan. Kualitas fisik rumah penduduk 1. 2. 3. 4. 5.. Langit-langit Dinding Lantai Ventilasi Pencahayaan. Gambar 2.1. Kerangka Konsep. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(51) BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penilitan adalah bersifat dekstriptif, yaitu untuk mengetahui kadar hidrogen sulfida dalam rumah serta keluhan kesehatan saluran pernafasan pada penghuni disekitar tempat pembuangan akhir sampah kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2017. 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada perumahan penduduk yang ada di sekitar lokasi tempat pembuangan akhir sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. 3.2.2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2017- Juli 2018 3.3 Parameter dan Subjek Penelitian 3.3.1 Parameter Penelitian Adapun parameter yang diukur dalam penelitian adalah Hidrogen Sulfida (H2S) dengan pertimbangan tingginya tingkat kebauan udara di TPA Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. 3.3.2. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah penghuni rumah yang tinggal di sekitar TPA. Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan.. 36 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(52) 37. 3.4. Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah perumahan penduduk yang ada disekitar lokasi TPA Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Populasi berjumlah 107 rumah yang tersebar pada jarak 0 meter sampai 450 meter dari TPA. 3.4.2 Sampel Sampel dalam penilitan ini adalah sebagian dari rumah penduduk yang tinggal disekitar TPA Terjun dalam jarak 0 m sampai 450 meter dari TPA. Jumlah sampel dalam penelitian adalah lebih kurang sebanyak 10 rumah, dimana jumlah sampel di sesuaikan untuk masing-masing jarak (0 meter sampai 450 meter dari TPA). Jumlah sampel dalam penelitian ini dengan populasi lebih kecil dari 10.000 (107 rumah) ditentukan dari formula sebagai berikut:. n = 10 Keterangan : N = Besar populasi n = Besar sampel d = Tingkat kepercayaan/ ketetapan yang diinginkan Maka jumlah sampel penelitian adalah sebanyak 10 rumah.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(53) 38. 3.5 Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang tersebar pada jarak 0 m sampai 450 m dengan jumlah sampel sebanyak 10 rumah, berdasarkan kriteria sampel yaitu sesuai arah angin dominan dengan kondisi cuaca yang relatip sama, dimana semakin jauh dari sumber TPA Terjun maka penyebaran akan semakin luas. Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan jarak tempat tinggal penduduk, sebelah selatan dari pusat TPA dengan jarak 5m, 55m, 100m, 150m, 200m, 250, 300, 350, 400m, dan 450m. Lokasi titik pengambilan sampel udara (kadar H2S) dalam rumah penduduk dilakukan pada 1 titik yaitu ruang tamu atau keluarga. Pengambilan sampel udara (kadar H2S) di ukur langsung di lokasi penelitian menggunakan alat Impinger Gas Sampler. Pengambilan sampel dilakukan pada saat operasional TPA yaitu pada pagi hari mulai 09.30 sampai dengan jam 15.30 dengan selang waktu 1 jam setiap pengkuran. 3.6 Metode Pengumpulan Data 1. Data primer diperoleh dari hasil observasi melalui pengukuran langsung kadar Hidrogen Sulfida (H2S) dalam rumah responden di TPA Terjun dan melakukan wawancara kepada penghuni rumah dengan bantuan kuesioner. 2. Data skunder diperoleh dari literatur perpustakaan, pencatatan data-data tentang penduduk dan TPA Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan dari Dinas Kebersihan Kota Medan, dan Puskesmas Kecamatan Medan Marelan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(54) 39. 3.7 Defenisi Operasional 1. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah proses terakhir dalam pengelolaan sampah, dimana sampah secara mekanis dibuang, ditumpuk, ditimbun, diratakan, dipadatkan, dan dibiarkan membusuk serta mengurai sendiri secara alami di TPA. Tumpukan sampah menghasilkan berbagai polutan di udara antara lain metan (CH4), hidrogen sulfida (H2S), amoniak (NH3), dan sulfur dioksida (SO2). 2. Hidrogen Sulfida (H2S) adalah salah satu gas pencemar udara yang terdapat di TPA Terjun yang berbau telur busuk. Nilai baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 tentang baku mutu tingkat kebauan adalah 0,02 ppm. 3. Keluhan gangguan saluran pernafasan yang didasarkan pada subjektifitas yang dirasakan responden berupa batuk, batuk darah, nyeri dada, sakit tenggorokan dan sesak nafas. 4. Kualitas fisik rumah adalah: ventilasi, pencahaaan, lantai, dinding dan langit-langit/ plafon rumah. 3.8 Aspek Pengukuran 3.8.1 Kadar Hidrogen Sulfida Mengukur kadar hidrogen sulfida di udara dengan menggunakan alat Impinger Gas Sampler. Hasil pengukuran yang diporelah dibandingkan dengan Keputusan. Menteri. Kesehatan. Nomor. 829/Menkes/SK/VII/1999. tentang. Persyaratan Kesehatan Perumahan kadar gas H2S untuk lingkungan perumahan adalah tidak terdeteksi secara biologis.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(55) 40. 3.8.2 Kualitas Fisik Rumah Kualitas fisik rumah di observasi secara langsung oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi penilaian rumah sehat yang sesuai Permenkes No 829/ Menkes/ SK /1999 tentang Perumahan Sehat. Dikategorikan rumah sehat jika total nilai x bobot komponen rumah yaitu 341 ( hasil tertinggi penilaian). Penentuan kriteria rumah berdasarkan hasil penilaian rumah yaitu sebagai beriukut: Total nilai x kriteria rumah : 341 x 80% = 273 1. Memenuhi syarat. : > 80% dari total skor = > 273. 2. Tidak memenuhi syarat : < 80% dari total skor = < 273 3.8.3 Keluhan Saluran Pernafasan Untuk mengetahui keluhan saluran pernafasan, dilakukan dengan kuesioner dengan pengkategoriannya sebagai berikut: 1. Ada keluhan saluran pernafasan jika responden mengatakan adanya salah satu keluhan batuk, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dada, atau sakit tenggorokan saat pengambilan data. 2. Tidak ada keluhan saluran pernafasan jika responden tidak mengatakan adanya keluhan batuk, batuk berdarah, sesak nafas, nyeri dada, atau sakit tenggorokan saat pengambilan data. 3.9 Prosedur Pengukuran Hidrogen Sulfida (H2S) Alat yang digunakan untuk mengukur kadar H2S adalah Impinger Gas Sampler. Waktu pengambilan sampel yaitu,1 jam dengan waktu pengukuran dalam satu hari. Prosedur Impinger Gas Sampler sebagai berikut:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(56) 41. a. Kabel power dihubungkan dengan listrik, kemudian pompa vacuum dihidupkan dengan mengatur panel ke posisi ON. b. Masing-masing skala flow meter diatur debitnya dan dalam posisi low atau high sesuai dengan aliran udara yang dikehendaki. c. Jika pengambilan sampel telah selesai, matikan alat dengan merubah panel vacuum ke posisi OFF. d. Masing-masing tabung impinger yang berisi larutan absorbans dilepas kemudian larutan absorbans dipindahkan ke dalam botol sampel warna gelap/coklat dan diberi tanda, kemudian disimpan dalam box pendingin tempat sampel. e. Selanjutnya pengujian sampel gas dapat diperiksa di laboratorium. 3.9.1 Metode Analisa H2S dengan Braverman a. Prinsip Kerja Ion sulfida bereaksi dengan p-amino-dimetil-amilin dengan FeCl3 membentuk metilen biru, yang kemudian intensitasnya diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 670 nm. b. Peralatan dan Bahan 1. Peralatan - Spektrofotometer 2. Bahan: - Larutan absorban H2S - Larutan amin-N, N dimethyl 1,4 phenylene diamine - Larutan FeCl. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(57) 42. - Larutan standar H2S - Aquabidest c. Cara Pembuatan 1. Larutan absorban dalam impinger hasil sampling dimasukkan dalam labu ukur 25 ml. 2. Ditambah 0,3 ml larutan amin kemudian dicampur, ditambah 1 tetes larutan FeCl3. 3. Diambil 10 ml larutan sampel uji masukkan dalam kuvet yang bersih. dan. dibaca. dengan. spektrofotometer. pada. panjang. gelombang 670 nm. Dan hasil pembacaannya dicatat. lalu dicampur kemudian ditambah aquabides panas sampai batas tanda kemudian dicampur homogen dan didiamkan selama 30 menit supaya reaksi sempurna. 4. Dari hasil pembacaan sampel uji (X) letakkan pada skala absorban. 5. Tarik garis horizontal kearah garis linier sejajar garis konsentrasi 6. Tarik garis vertical kearah skala konsentrasi sejajar absorban. 7. Titik pertemuan pada garis konsentrasi dibaca dan dicatat. 8. Setelah didapat hasil konsentrasi sampel dari pembacaan kurva, kemudian hasilnya dibaca lagi dengan menggunakan rumus: Kadar H2S = Dimana:. 3. Y = Hasil pembacaan pada kurva standar (μg / m ) Q = Volume udara terhisap (liter/menit) t = waktu sampling (menit). UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(58) 43. 3.10. Teknik Pengolahan Data Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan cara: 1. Editing. Memeriksa data terlebih dahulu apakah telah sesuai seperti yang diharapkan, misalnya memeriksa kelengkapan, kesinambungan dan keseragaman data. 2. Koding. Menyederhanakan. semua. jawaban. jika. cara. pengumpulan. data. menggunakan pertanyaan. Menyederhanakan jawaban tersebut dilakukan dalam bentuk memberikan simbol – simbol tertentu 3. Tabulasi Mengelompokkan data dalam suatu tabel tertentu menurut sifat – sifat yang dimilikinya sesuai dengan tujuan penelitian. 4. Cleaning Yaitu kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah ada kesalahan atau tidak saat memasukkan data ke komputer. 3.11. Teknik Analisis Data 3.11.1 Univariat Yaitu melakukan analisis pada seluruh variabel yaitu kualitas fisik perumahan (ventilasi, pencahayaan, kelembaban, lantai, dinding, langitlangit/plafon), kualitas udara dalam rumah yaitu kadar hidrogen sulfida serta keluhan. kesehatan. saluran. pernafasan. pada. penghuni. rumah. untuk. mendeksripsikan tiap variabel yang akan diteliti.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

Referensi

Dokumen terkait

Laporan Akhir ini merupakan penyempurnaan dari Laporan Antara yang merupaka satu rangkaian kegiatan dalam Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan

A.07.c Gambaran perilaku percaya diri yang diamalkan siswa Anda selama masa darurat Covid-19. Tidak mudah putus asa

teknologi; atau (iv) penggunaan Produk atau bagian dari Produk dalam praktek proses jika Pembeli tidak memasukkan Produk ke dalam alat yang mana pengguna akhirnya adalah konsumen;

Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbonmonoksida (CO) dalam bentuk COHb ( Carboly Haemoglobin ), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan

6. Jika 27 gram Al direaksikan dengan 24 gram S, maka berdasarkan hukum Proust, pernyataan berikut yang benar adalah.. Jika dalam senyawa kalsium oksida terdapat 4 gram Ca

penelitian dalam mengamati pencapaian pengajar maupun peserta didik dalam proses pembelajaran menggunakan model Team Games Tournamen (TGT). Penyusunan alat penilaian

Kemudian penulis menggunakan metode Cause-Effect Diagram, Analytical Hierarchy Process, dan Failure Mode Effect Analysis untuk mengetahui penyebab cacat pada produk.. Pada

Jagoan Hosting Indonesia tidak dapat memberikan jaminan tersebut apabila tagihan untuk bulan berikutnya sudah tercetak, atau JagFamily sudah menggunakan bandwidth lebih dari 10GB