• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

4. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1 Deskripsi Data

1. No PUT : PUT.54175/PP/M.XVB/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan

Fiskus melakukan koreksi PM yang dapat diperhitungkan, berdasarkan konfirmasi dari KPP tempat WP penjual terdaftar dijawab beda nilai ; belum di jawab; tidak ada. Menurut pendapat Hakim ada FP yang diterima oleh PT A yang berasal dari supplier dapat dikreditkan sebagai PM sepanjang bukan FP cacat. Hakim meminta Fiskus dan PT A melakukan uji bukti terkait transaksi PT A dengan supplier. Menurut fiskus, PT A tidak dapat memberikan dokumen-dokumen pendukung.

Menurut PT A, seharusnya fiskus tidak mempermasalahkannya karena fiskus telah melihat dokumen faktur pajak terkait. Seharusnya Fiskus meyakini tidak ada perbedaan nilai maupun perbedaan nomor FP sesuai pokok sengketa.

Menurut Fiskus, PT A juga telah mengkreditkan FP seusai dengan ketentuan yang berlaku. PT A juga telah menjelaskan mengenai dokumen-dokumen pendukung tidak akan terdapat perbedaan karena yang membuat dokumen-dokumen tersebut perusahaan itu sendiri, PT A sebagai perusahaan yang besar telah memperkuat internal control serta mematuhi standar pelaporan keuangan, hal ini telah diuji oleh Independent External Auditor yang melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan PT A

.

Fiskus juga tidak dapat memberikan dasar hukum yang

mengatur mengenai kelengkapan dokumen-dokumen tersebut untuk

menunjukan kebenaran. Menurut PT A atas permintaan mengenai

kelengkapan dokumen lainnya tidaklah relevan dan tidak sesuai dengan

arahan Hakim. Fiskus dan PT A telah melakukan kesepakatan

mengenai PM. Hakim menilai, terdapat salah satu FP yang tidak

terdapat bukti satupun dari PT A sehingga Hakim tetap

(2)

mempertahankan koreksi tersebut sedangkan atas FP masukan lainnya PT A dapat memberikan dokumen serta bukti pendukungnya sehingga atas PM tersebut PT A dapat mengkreditkan. Dalam sengketa diatas Hakim memutuskan mengabulkan sebagian banding PT A.

2. No PUT : PUT.54174/PP/M.XVB/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan

Fiskus melakukan koreksi PM yang dapat diperhitungkan, berdasarkan konfirmasi dari KPP tempat WP penjual terdaftar dijawab beda nilai; belum di jawab; tidak ada; serta FP melewati batas pengkreditan. Menurut pendapat Hakim ada FP yang diterima oleh PT B yang berasal dari supplier dapat dikreditkan sebagai PM sepanjang bukan FP cacat. Masjelis meminta Fiskus dan PT B melakukan uji bukti terkait transaksi PT B dengan supplier. Menurut Fiskus koreksi tersebut merupakan pemanfaatan JKP untuk masa Desember 2008 yang dikreditkan dalam SPT masa Agustus 2009 sehingga melewati batas pengkreditan pajak. Menurut PT B SSP tersebut merupakan Kredit Pajak Masa Agustus 2009 karena SSP PPN JLN merupakan dokumen yang diperlakukan sama dengan FP standar dan tanggal penyetoran atas PPN merupakan tanggal penerbitan FP maka atas SSP JLN yang dibayar pada tanggal 31 Agustus 2009 merupakan PM dalam SPT masa PPN Agustus 2009. Sesuai dengan dokumen yang diberikan oleh PT B diketahui bahwa invoice atas pemanfaatan JLN merupakan masa pajak Desember 2008. Dalam dokumen tersebut dapat terlihat bahwa JLN tersebut secara nyata telah digunakan oleh PT B. Namun menurut PT B saat terhutang PPN JLN dilaporkan pada masa pajak yang sama dengan bulan penyetoran sehingga PM tersebut dapat dikreditkan oleh PT B dan telah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Fiskus menyatakan bahwa PT B tidak dapat memberikan

dokumen-dokumen pendukung mengenai beda nilai, menurut PT B

seharusnya Fiskus tidak mempermasalahkan mengenai dokumen-

dokumen tersebut karenak Fiskus telah melihat sendiri bukti fisik PPN.

(3)

Seharusnya Fiskus meyakini tidak adanya perbedaan nilai maupun perbedaan nomor FP. Menurut Fiskus, PT B telah mengkreditkan FP seusai dengan ketentuan yang berlaku. PT B juga telah menjelaskan mengenai dokumen-dokumen tersebut tidak akan terdapat perbedaan karena yang membuat dokumen-dokumen tersebut yaitu perusahaan sendiri sehingga tidak mungkin terjadi perbedaan. PT B memiliki internal control yang kuat serta mematuhi standar pelaporan keuangan, hal ini telah diuji oleh Independent External Auditor yang melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan PT B

.

Fiskus juga tidak dapat memberikan dasar hukum yang mengatur mengenai kelengkapan dokumen-dokumen tersebut untuk menunjukan kebenaran. Menurut PT B atas permintaan mengenai kelengkapan dokumen lainnya tidaklah relevan dan hal ini tidak sesuai dengan arahan Hakim. Fiskus dan PT B telah menyepakati PM yang dapat diterima dan tidak sesuai. Setelah Hakim melakukan pemerikasaan uji FP masukan mengenai beda nilai serta FP yang melewati batas pengkreditan PT B dapat memberikan dokumen serta bukti pendukungnya sehingga atas PM tersebut PT B dapat mengkreditkan. Dalam sengketa diatas Hakim memutuskan mengabulkan seluruhnya banding PT B.

3. No PUT : PUT.54173/PP/M.XVB/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan

Fiskus melakukan koreksi PM yang dapat diperhitungkan,

berdasarkan konfirmasi dari KPP tempat WP penjual terdaftar dijawab

beda nilai; belum di jawab; tidak ada. Menurut pendapat Hakim ada FP

yang diterima oleh PT C yang berasal dari supplier dapat dikreditkan

sebagai PM sepanjang bukan FP cacat. Masjelis meminta Fiskus dan PT

C melakukan uji bukti terkait transaksi PT C dengan supplier. Fiskus

menyatakan bahwa PT C tidak dapat memberikan dokumen-dokumen

pendukung mengenai beda nilai. Menurut PT C seharusnya Fiskus tidak

mempermasalahkan mengenai dokumen-dokumen tersebut melainkan

(4)

Fiskus juga harus menilai mengenai bukti fisik PPN kecuali pada salah satu perusahaan sampai dengan persidangan PT C tidak berhasil menemukan dokumen-dokumen tersebut. Dengan demikian seharusnya Fiskus meyakini tidak adanya perbedaan nilai maupun perbedaan nomor FP.

Menurut Fiskus, PT C juga telah mengkreditkan FP seusai dengan ketentuan yang berlaku. PT C juga telah menjelaskan mengenai dokumen-dokumen tersebut tidak akan terdapat perbedaan dikarenakan yang membuat dokumen tersebut yaitu perusahaan sendiri. PT C telah memperkuat internal control serta mematuhi standar pelaporan keuangan, hal ini telah diuji oleh Independent External Auditor yang melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan PT C

.

Fiskus juga tidak dapat memberikan dasar hukum yang mengatur mengenai kelengkapan dokumen-dokumen tersebut untuk menunjukan kebenaran. Menurut PT C atas permintaan mengenai kelengkapan dokumen lainnya tidaklah relevan dan hal ini tidaklah sesuai dengan arahan Hakim. Fiskus dan PT C telah menyepakati PM yang dapat diterima dan tidak sesuai. Hakim menilai bahwa terdapat salah satu FP tidak terdapat bukti satupun dari PT C sehingga Hakim tetap mempertahankan koreksi tersebut sedangkan atas FP masukan lainnya PT C dapat memberikan dokumen serta bukti pendukungnya sehingga atas PM tersebut PT C dapat mengkreditkan. Dalam sengketa diatas Hakim memutuskan mengabulkan sebagian banding PT C.

4. No PUT : PUT.54039/PP/M.XA/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Dalam sengketa ini terdapat dua pokok sengketa dalam

pengajuan banding. Pada sengketa pertama Fiskus menyatakan bahwa

PM sehubungan dengan kebun dikoreksi semua oleh Fiskus sekalipun

ada penjualan TBS sedangkan menurut PT D yang merupakan

perusahaan terpadu industri kelapa sawit yang produk akhirnya adalah

Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) yang merupakan BKP

(5)

yang atas penyerahannya terhutang PPN, PT D juga menyatakan bahwa bahan baku TBS hampir 100% diolah menjadi CPO dan IKS (Inti Kelapa Sawit) namun PT D juga mengakui terdapat TBS yang dijual PT D kepada pihak lain karena hasil TBS pada saat itu melebihi kapasitas produksi, untuk mengurangi resiko kerusakan TBS maka dijual kepada pihak lain.

Penyerahan TBS kelapa sawit dari perkebunan untuk diproses pada pabrik kelapa sawit (CPO) tidak termasuk sebagai penyerahan BKP. Menurut Fiskus PM yang dikoreksi merupakan PM yang dibayar oleh PT D merupakan perolehan yang dibebaskan dari PPN sehingga tidak dapat dikreditkan. Hakim berpendapat jika produk akhir PT D adalah TBS maka penyerahaannya dibebaskan dari PPN maka tidak dapat dikreditkan, tetapi produk akhir PT D adalah CPO dan PK yang merupakan BKP yang penyerahannya terutang PPN maka dapat dikreditkan. Hakim juga berpendapat jika PT D melakukan penyerahan TBS yang dibebaskan dari PPN maka atas penyerahan tersebut PM tidak dapat dikreditkan. Hakim berkesimpulan atas penyerahaan cangkang dibebaskan dari PPN maka tidak dapat dikreditkan, karenakan penyerahaan cangkang tersebut terkait dengan pemeliharaan kebun. Sehingga PM yang dapat diperhitungkan dikurangkan dengan PM yang tidak dapat dikreditkan sehingga didapatkan nilai pajak yang dapat dikreditkan. Hakim berpendapat koreksi Fiskus atas PM yang dapat diperhitungkan tidak dapat dipertahankan.

Sengketa yang kedua yaitu koreksi PM yang tidak berhubungan

dengan kegiatan usaha. Menurut Fiskus PM tersebut bukan merupakan

untuk barang modal sehingga PMnya tidak dapat dipertahankan. PT D

menyerahkan data dan dokumen sehubungan dengan koreksi PM yang

tidak berhubungan dengan usaha. Fiskus berpendapat bahwa transaksi-

transaksi tersebut memang tidak berhubungan dengan kegiatan

produksi, distribusi, dan manajemen dari PT D, sehingga PM tersebut

tidak dapat dikreditkan namun dapat dibiayakan oleh PT D di Pajak

Penghasilan. PT D tidak setuju dengan koreksi tersebut karena PT D

(6)

memiliki Surat Keputusan Daerah Terpencil dan atas pembangunan tersebut untuk kegiatan produksi. Hakim berpendapat bahwa koreksi Fiskusatas PM yang dapat diperhitungkan sudah benar dan tetap dipertahankan. Berdasarkan uraian dan kesimpulan diatas maka Hakim menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding PT X, sehingga PM yang dapat diperhitungkan oleh PT D yaitu atas PM Juli 2008 sampai Juni 2009.

5. No PUT : PUT.53993/PP/M.XVIIIB/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Menurut Fiskus pengakuan PM atas pembelian tanah PT E tersebut tidak memiliki hubungan dengan usaha dan tidak memiliki syarat sesuai dengan ketentuan. PT E membeli sebidang tanah yang menurut rencana akan dibangun kantor dan studio perfilman sehingga dapat memberikan prasarana untuk aktivitas shooting. Pengeluaran pembelian tanah tersebut merupakan pengeluaran untuk kegiatan manajemen. Menurut Fiskus pengeluaran tersebut tidak memiliki hubungan langsung dengan kegiatan usaha serta tidak memenuhi syarat bahwa pengeluaran tersebut berkaitan dengan adanya penherahan yang terhutang PPN. PT E juga bukan merupakan PKP sehingga tidak dapat melakukan pengkreditan PM, PT E juga tidak melakukan penyerahan yang terhutang PPN sejak tahun 2005 serta dalam laporan keuangan PT E tidak terdapat tanda-tanda akan berproduksi dikarenakan perusahaan tidak aktif dan tidak ada kegiatan usaha. Dengan bukti-bukti diatas maka Hakim memutuskan menolak permohonan banding PT E.

6. No PUT : PUT.53978/PP/M.IVB/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM Mei 2009

Dalam putusan ini terdapat dua sengketa yaitu yang pertama

Koreksi Faktur PM yang dianggap cacat. Menurut Fiskus FP masukan

yang dianggap cacat yaitu FP yang diisi dengan tidak lengkap dan tidak

jelas sehingga tidak memenuhi syarat formal karena PT F tidak

(7)

mencoret pada keterangan bagian ”Harga Jual / Penggantian / Uang Muka / Termijn”. Menurut PT F, FP cacat tersebut telah sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dapat dikreditkan. Hakim berpendapat bahwa koreksi Fiskus atas FP masukan cacat karena tidak dicoret tidak dapat dipertahankan.

Sedangkan sengketa yang kedua Koreksi Faktur PM yang hasil klarifikasinya ”Tidak Ada”. Menurut Fiskus koreksi atas jawaban konfirmasi “tidak ada” dengan penjelasan FP tersebut belum dilaporkan oleh PKP penjual dan KPP domisili PKP penjual telah menerbitkan SKPKB/SKPKBT, maka FP tersebut dapat dikreditkan. Tetapi jawaban konfirmasi ”tidak ada” tersebut tidak memberikan penjelasan telah menerbitkan SKPKB/SKPKBT, dan meralat jawaban konfirmasi tersebut sehingga Fiskus meyakini bahwa FP tersebut tidak dapat Dikreditkan. Menurut PT F dalam tanggungjawab renteng pembeli tidak dapat dimintai mempertanggungjawabkan pembayaran PPNnya ke kas negara sepanjang pembeli dapat menunjukan FP yang asli dan sah dari penjual. Hakim berpendapat bahwa koreksi FP Masukan yang belum ada bukti pembayarannya tetap dipertahankan sedangkan sisanya tidak dapat dipertahankan. Dengan bukti-bukti diatas Hakim memutuskan mengabulkan sebagian permohonan banding PT F.

7. No PUT : PUT.53971/PP/M.IVB/16/2014 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Dalam putusan ini terdapat dua sengketa yaitu yang pertama

koreksi PM cacat karena tidak dicoret. Menurut Fiskus FP masukan

yang dianggap cacat yaitu FP yang diisi dengan tidak lengkap dan tidak

jelas sesuai sehingga tidak memenuhi syarat formal dikarenakan PT G

tidak mencoret pada keterangan bagian ”Harga Jual / Penggantian /

Uang Muka / Termijn”. Menurut PT G, FP cacat tersebut telah sesuai

dengan peraturan yang berlaku dan dapat dikreditkan. Hakim

berpendapat bahwa koreksi Fiskus atas FP masukan cacat karena tidak

dicoret tidak dapat dipertahankan.

(8)

Sedangkan sengketa yang kedua Faktur PM jawaban konfirmasi

“Tidak Ada”. Menurut Fiskus koreksi atas Faktur PM tersebut dari jawaban klarifikasi pada KPP dinyatakan “tidak ada”, maka Faktur PM yang dikreditkan PT G tidak dilaporkan oleh PKP Penjual dalam SPT Masa PPN nya, yang berarti PKP Penjual tidak mengakui bahwa telah melakukan penyerahan BKP/JKP kepada PT G. Menurut PT G dalam tanggungjawab renteng pembeli tidak dapat dimintai mempertanggungjawabkan pembayaran PPNnya ke kas negara sepanjang pembeli dapat menunjukan FP yang asli dan sah dari penjual.

Hakim berpendapat bahwa koreksi FP Masukan tidak dapat dipertahankan. Dengan bukti-bukti diatas Hakim memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT G.

8. No PUT : PUT.53893/PP/M.XA/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM masa pajak Agustus 2010

Menurut Fiskus koreksi PM telah tepat dikarenakan PM tersebut

menghasilkan BKP bersifat strategis yang atas penyerahannya

dibebaskan dari PPN. PM tersebut berkaitan dengan pemeliharaan

kebun PT H yaitu untuk pembelian pupuk, polybag dan biaya/ongkos

angkut dari pupuk. Kebun milik PT H menghasilkan Tandan Buah

Segar(TBS) kelapa sawit yang merupakan barang strategis. PT H

merupakan perusahaan terpadu yang produk akhirnya merupakan

kelapa sawit serta inti sawit, untuk mendukung usahanya PT H

memiliki perkebunan kelapa sawit. PT H tidak melakukan penyerahan

TBS kepada pihak lain dan seluruh hasil kebun diolah menjadi minyak

kepala sawit dan inti sawit yang penyerahanya dikenakan PPN. Dalam

financial statement PT H tanggal 31 Desember 2010dan 2009 yang

telah diaudit, tidak terdapat penjualan TBS namun hanya penjualan

minyak kelapa sawit serta inti sawit. Hakim berpendapat atas koreksi

Fiskus tersebut tidak dapat dipertahankan. Atas permohonan banding

PT H Hakim memutuskan mengabulkan seluruhnya.

(9)

9. No PUT : PUT.53790/PP/M.IA/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Dalam putusan ini terdapat dua sengketa yaitu yang pertama koreksi berdasarkan hasil klarifikasi yang dijawab “tidak ada” tanpa penjelasan lebih lanjut oleh KPP sehingga Fiskus menganggap tidak dapat dikreditkan. Menurut PT I seluruh FP telah dibayarkan PPNnya kepada PKP penjual sehingga dapat dikreditkan, apabila terdapat masalah pada PKP penjual hal tersebut bukan tanggungjawab PT I.

Fiskus menyatakan tidak seluruh dokumen yang diminta dapat dipenuhi oleh PT I sehinga jawaban konfirmasi “tidak ada” tetap menjadi dasar koreksi. PT I telah membayarkan PPN kepada PKP penjual yang terbukti dari general ledger, Kartu Rekening Buku Besar PPN yang mencatat setiap pembayaran PPN Masukan, Kartu Rekening Buku Besar Hutang per Rekanan, Kartu Buku Besar Kas dan Bank serta dokumen pendukung lainnya. Hakim berkesimpulan PM tersebut tidak dapat dipertahankan dan harus dibatalkan.

Sedangkan sengketa yang kedua koreksi atas PPN Masukan

untuk menghasilkan TBS. Menurut Fiskus PM tersebut untuk

pembelian pupuk, perlengkapan kebun, bahan-bahan kimia serta biaya

lainya yang digunakan untuk kepentingan unit kebun yang

menghasilkan TBS. Menurut Fiskus kebun milik PT I menghasilkan

Tandan Buah Segar(TBS) kelapa sawit yang merupakan barang

strategis. PT I tidak melakukan penyerahan TBS kepada pihak lain,

seluruh hasil kebun diolah menjadi minyak kepala sawit dan inti sawit

yang penyerahanya dikenakan PPN. Dalam financial statement PT I

tanggal 31 Desember 2010dan 2009 yang telah diaudit, tidak terdapat

penjualan TBS namun hanya penjualan minyak kelapa sawit serta inti

sawit. Hakim berpendapat atas koreksi Fiskus tidak dapat

dipertahankan. Atas permohonan banding PT I Hakim memutuskan

mengabulkan seluruhnya.

(10)

10. No PUT : PUT.53631/PP/M.VIA/16/2014 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Dalam sengketa ini Fiskus melakukan koreksi terhadap PM yang diajukan PT J karena jawaban klarifikasi yang menyatakan ”tidak ada” yang dibuat oleh PT. Pertamina Persero. Fiskus menyatakan bahwa dokumen dan data yang disampaikan oleh PT J diketahui bahwa FP tersebut adalah FP pengganti atas transaksi Jasa Kena Pajak dengan PT. Pertamina Persero, transaksi tersebut merupakan sewa pengelolahan kilang Methanol Bunyu bulan April sampai Desember 2008. Berdasarkan bukti debit Note/Invoice (Revisi Invoice) PT Pertamina melakukan penagihan atas koreksi sewa pengelolaan kilang Methanol Bunyu bulan April sampai Desember 2008. PT J mencatat pada tanggal 5 Juli 2011 sebagai A/P NT Others. Fiskus berpendapat bahwa PM tersebut tidak dapat dikreditkan karena FP diterbitkkan melewati jangka waktu tiga bulan sejak saat FP seharusnya dibuat.

PT J mengemukakan bahwa yang dijadikan dasar koreksi adalah jawaban konfirmasi, maka yang perlu dibuktikan dan diteliti yaitu dokumen dan arus kas atas pembayaran PPN terutang pada penjual. PT J dapat membuktikan dokumen dan arus kas bahwa PPN yang terutang benar dibayarkan pada penjual, dan Fiskus juga sudah meneliti kebenaran dokumen dan arus kas tersebut, maka jawaban konfirmasi untuk pembayaran PPN terutang seharusnya sudah terjawab. Selain jawaban konfirmasi seharusnya Fiskus tidak mempermasalahkan mengenai hal lain seperti mempermasalahkan tanggal FP dan lain- lainnya. Seharusnya pendapat Fiskus terkait dengan jangka waktu penerbitan FP ini diabaikan. Sesuai dengan kontrak antara PT J dan PT.

Pertamina Persero perlu proses persetujuan dan pengecekan secara bersama-sama sehingga mungkin terjadi proses konfirmasi laporan keuangan lebih dari tiga bulan dari berakhirnya tahun buku. Hakim menyimpulkan koreksi Fiskus atas PM tidak dapat dipertahankan.

Sehingga Hakim menyatakan mengabulkan seluruhnya banding PT J.

(11)

11. No PUT : PUT.53195/PP/M.XVIA/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Pokok Sengketa yaitu koreksi Fiskus atas PM atas jawaban konfirmasi “tidak ada”. PT K menyatakan faktur PM tersebut telah dibayarkan dan dilaporkan oleh PKP lawan transaksi ke KPP Pratama Cilegon, namun ditolak oleh KPP karena belum e-SPT(manual). Fiskus menyatakan bahwa data yang diberikan oleh PT K sudah lengkap dan memenuhi syarat pengkreditan FP yang diterima dari lawan transaksi dan data yang diberikan oleh PT K telah membuktikan bahwa PPN atas FP tersebut telah lunas dan dibayarkan kepada pihak lawan transaksi.

Berdasarkan fakta dan keterangan diatas Hakim berpendapat bahwa PT K telah melakukan pembayaran faktur PM nomor 010-000-1000000010 tanggal 16 oktober 2010, sehingga Faktur PM tersebut dapat dikreditkan. Berdasarkan uraian diatas, Hakim menyatakan untuk mengabulkan seluruhnya pemohonan banding PT K.

12. No PUT : PUT.53112/PP/M.XIIIB/16/2014 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM yang tidak dapat dikreditkan Pokok sengketa yaitu koreksi positif Fiskus atas Pajak Masukan berasal dari perolehan BKP yang tidak memenuhi syarat formal dan material sehingga tidak dapat dikreditkan. Menurut Fiskus FP, FP harus diisi secara lengkap, jelas, benar dan ditanda tangani oleh pejabat yang ditunjuk oleh PKP untuk menandatanganinya. Menurut PT L semua faktur PPN Masukan yang diterbitkan oleh PT. MPM yang diperhitungkan sebagai kredit pajak dalam SPT masa PPN bulan April 2008 telah memenuhi syarat formal dan material sesuai dengan ketentuan.

Fiskus menyatakan bahwa untuk menguji syarat material maka

diperlukan dokumen pendukung antara lain invoice, bukti penerimaan

barang dan bukti pembayaran yang digunakan untuk pengujian arus

barang dan arus uang. Invoice dari PT. MPM sebagai lawan transaksi

(12)

dari PT L diberikan pada saat pengajuan keberatan tetapi tidak diberikan pada saat pemeriksaan. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka invoice tersebut tidak dapat dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan. Menurut PT L, Fiskus mengakui jumlah penjulan sepeda motor karena Fiskus tidak melakukan koreksi atas jumlah penjualan yang dilaporkan, namun Fiskus tidak mengakui adanya sepeda motor yang dibeli, dengan mengoreksi bukti-bukti pemasukan barang termasuk faktur PPN Masukan. PT L tidak dapat memperlihatkan bukti pedukung asli kerena bukti tersebut masih berada ditangan Fiskus yang sedang melakukan kegiatan pemeriksaan.

Hakim memutuskan terdapat salah satu bukti yang disampaikan Fiskus berupa Kertas Kerja Pemeriksaan yang berisi daftar PM dalam negeri yang dirinci perbulan, dimana PM yang diterbitkan oleh PT.

MPM dikoreksi oleh Fiskus karena syarat meterial berupa bukti pembayaran dan tanda terima barang belum ada. Berdasarkan penelitian Hakim dapat diketahui bahwa seluruh faktur PM yang dilaporkan oleh PT L telah dilaporkan oleh PT. MPM sebagai lawan transaksi PT L hanya pada masa Januari 2008. Fiskus hanya mengakui pembayaran kepada PT. MPM bulan April 2008, kemudian ditambahkan dengan kompensasi kelebihan PPN masa Pajak sebelumnya sehingga didapatkan jumlah PM yang dapat diperhitungan untuk masa Pajak April 2008.

Terdapat perbedaan jumlah pembayaran hutang dagang yang

diakui Fiskus dengan PT L karena adanya perbedaan waktu

pembayaran hutang dagang dengan terbitnya faktur PM yang diterima

PT L. Hakim melakukan perhitungan besarnya PM yang dapat

dikreditkan dengan menggunakan pembayaran hutang dengan

persandingan arus uang dan arus barangnya sedangkan menurut Fiskus

berbeda sehingga terdapat selisih. Hakim berkesimpulan atas koreksi

PM oleh Fiskus, yang tidak ada arus uang tetap dipertahankan dan

selisih antara penhitungan Hakim dengan PT L tidak dapat

(13)

dipertahankan, sehingga Hakim menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding PT L.

13. No PUT : PUT.52991/PP/M.XIIIB/16/2014 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM yang dapat diperhitungkan Dalam sengketa pengajuan banding ini terdapat dua pokok sengketa. Sengketa yang pertama yaitu menurut Fiskus FP yang diterbitkan oleh PT Lautan Luas tidak terdapat bukti fisiknya. Menurut PT M atas faktur pajak tersebut belum ditemukan bukti fisik dan PT M telah melakukan klarifikasi tetapi PT M belum mendapatkan jawaban.

PT M telah berusaha untuk minta kepada PT Lautan Luas duplikat atau fotocopynya, namun PT M belum mendapat fisik FPnya. Dalam persidangan PT M menyampaikan fotocopy SPT Masa PPN Masa Pajak Desember 2007 atas nama PT Lautan Luas Tbk., namun SPT tersebut tidak ditandatangani oleh Wajib Pajak yang bersangkutan, sehingga Hakim tidak meyakininya. Dengan demikian Hakim tetap mempertahankan koreksi atas FP tersebut.

Sengketa yang kedua yaitu menurut Fiskus dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa atas 2 (dua) buah Faktur PM yang diterbitkan oleh PT Interchem berdasarkan hasil klarifikasi diketahui bukan atas nama PT M. Hakim mengemukakan hal-hal yang menjadikan dasar pertimbangan, PT M telah melakukan konfirmasi kepada PT Interchem Plasagro Jaya terkait ke 2 (dua) Faktur tersebut dan PT M telah mendapat jawaban bahwa atas ke 2 FP tersebut adalah benar pembelinya PT M. PT Interchem Plasagro Jaya mengakui terdapat kesalahan input pada SPT PPN Masa Pajak Desember 2008 dan PT Interchem Plasagro Jaya belum melakukan Pembetulan atas SPT Masa PPN tersebut. Surat dari PT Sintas Kurama Perdana yang ditujukan kepada PT Interchem Plasagro Jaya menegaskan bahwa Invoice/FP tidak pernah diterima oleh PT Sintas Kurama Perdana.

bahwa berdasarkan bukti yang diserahkan oleh PT M, Fiskus

berpendapat bahwa tidak relevan antara surat jalan dengan FPnya,

(14)

dalam FP nama BKP yang dibeli oleh PT M adalah Cullet sedangkan pada Surat Jalan tercantum Sodium Silicate Solid. Dari dokumen yang disampaikan oleh PT M terdapat catatan mengenai adanya Sodium tersebut dengan Cullet adalah dua barang yang berbeda.

PT M berjanji untuk memberikan dokumen-dokumen terkait tetapi sampai dengan saat Kertas Kerja Pemeriksaan dibuat, PT M belum memberikan dokumen tersebut. Dokumen yang terkait dengan arus uang juga tidak pernah disampaikan dipersidangan sehingga Hakim tidak dapat memeriksa kebenaran transaksi dimaksud. Hakim berpendapat untuk tetap mempertahankan koreksi atas FP tersebut.

Hakim berkesimpulan tidak terdapat cukup bukti dan alasan untuk menerima permohonan banding PT M atas koreksi PM tersebut.

Berdasarkan bukti-bukti diatas maka Hakim menyatakan menolak pemohonan banding PT M.

14. No PUT : PUT.52884/PP/M.XIIIA/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Substansi Pokok sengketa terdiri dari dari 5 (lima) FP telah

dilakukan Permintaan Keterangan Tentang Tindak Lanjut Klarifikasi

Data Pajak Keluaran kepada KPP terkait dengan hasil jawaban dari

KPP terkait yang menyatakan “Belum Dilaporkan, Tanggal Faktur

Berbeda dan Tidak Ada”. Dalam sengketa ini Fiskus harus melakukan

konfirmasi terkait dengan kebenaran Faktur PM yang dikreditkan oleh

PKP Pembeli, namun hal ini diperlukan lebih kepada pengawasan PKP

penjual, apakah PPN yang telah dipungut oleh penjual tersebut telah

dilaporkan dalam SPT Masa PPN-nya, jika belum maka, Fiskus harus

menindak lanjuti dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak berikut

sanksi, dan bukan mengoreksi Faktur PM PKP pembeli. PT N telah

membuktikan secara jelas dan nyata-nyata bahwa PT N telah melunasi

PPN terutang. Hakim berpendapat PM dapat dikreditkan. Berdasarkan

pertimbangan hukum di atas, Hakim menyatakan untuk mengabulkan

permohonan banding PT N.

(15)

15. No PUT : PUT.52878/PP/M.XIIIA/16/2014 Tahun pajak : 2010

Pokok sengketa : Sengketa koreksi PM

Substansi Pokok sengketa banding adalah koreksi Fiskus atas Faktur PM yang terdiri atas 3 (tiga) lembar FP yang dalam proses Klarifikasi yang menyatakan tidak ada dan yang belum ada jawaban.

Dalam sengketa ini Fiskus harus melakukan konfirmasi terkait dengan kebenaran Faktur PM yang dikreditkan oleh PKP Pembeli, namun demikian hal ini diperlukan lebih kepada pengawasan terhadap PKP penjual, apakah PPN yang telah dipungut oleh penjual tersebut telah dilaporkan dalam SPT Masa PPN-nya, jika belum maka, Fiskus harus menindak lanjuti dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak berikut sanksi, dan bukan mengoreksi Faktur PM PKP pembeli. PT O telah membuktikan secara jelas dan nyata-nyata bahwa PT O telah melunasi PPN terutang. Hakim berpendapat PM tersebut dapat dikreditkan.

Berdasarkan pertimbangan hukum di atas, Hakim menyatakan untuk mengabulkan permohonan banding PT O.

16. No PUT : PUT.49629/PP/M.XIII/16/2013 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan

Koreksi Fiskus atas Pajak Masukan dilakukan karena jawaban konfirmasi Pajak Masukan yang dijawab “tidak ada/belum diterima”

dan menurut Hakim tidak termasuk kondisi yang mengakibatkan Pajak

Masukan tidak dapat dikreditkan. Menurut Hakim berdasarkan

ketentuan yang berlaku, apabila sampai batas waktu yang ditetapkan

pada surat tegoran PKP penjual tidak mempertanggungjawabkan

kewajiban perpajakannya, maka SKPKB/SKPKBT wajib diterbitkan

oleh Fiskus dalam jangka waktu paling lambat satu bulan sejak tanggal

pengiriman surat permintaan klarifikasi, hal tersebut dimaksudkan agar

PT P dapat mengkreditkan faktur PMnya. Terhadap konfirmasi tersebut

Fiskus tidak menerbitkan surat tegoran kepada PKP penjual, disamping

itu Fiskus juga tidak menerbitkan SKPKB/SKPKBT kepada PKP

(16)

penjual. Oleh karena itu menurut Hakim, akibat yang timbul yaitu

“tidak dapat diterbitkannya Faktur PM”, tidak dapat dibebankan kepada PT P.

Dalam persidangan PT P telah menyampaikan bukti-bukti sedangkan atas dua transaksi tidak ada bukti. Menurut Hakim, FP tesebut tidak termasuk yang tidak boleh dikreditkan dan seharusnya Fiskus juga memeriksa kebenaran pembayaran yang dilakukan PT P dengan berdasarkan bukti-bukti dan dokumen-dokumen pendukung yang ada. Hakim berpendapat bahwa PT P telah melakukan pembayaran atas PM yang dimaksud dan atas selisihnya PT P setuju untuk dipertahankan koreksinya, karena tidak diketemukan bukti/data arus uang dan/atau arus barangnya dan Hakim menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding PT P.

17. No PUT : PUT.49574/PP/M.XV/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan masa Pajak Juni 2009

Pokok sengketa yaitu koreksi kredit pajak berupa PM yang dapat diperhitungkan atas PPN masa Pajak Juni 2009 Fiskus berpendapat bahwa PM tidak dapat dikreditkan karena adanya jawaban klarifikasi dari KPP tempat PKP penjual terdaftar yang menyatakan

"Tidak Ada". Hakim berpendapat bahwa atas jawaban klarifikasi dari

KPP tidak dapat dijadikan sebagai dasar koreksi, untuk meyakini

kebenaran suatu transaksi Fiskus seharusnya melakukan mengajukan

pengujian bukti-bukti serta meneliti dokumen-dokumen pendukung

lainnya. Fiskus berpendapat bahwa PT Q telah menunjukan dokumen-

dokumen terkait dengan pengujian arus uang dan arus barang, namun

Fiskus meragukan kebenaran dan validitas transaksi dari dokumen-

dokumen tersebut. PT Q berpendapat bahwa dokumen-dokumen yang

diajukan telah menunjukan bahwa PPN atas pembelian BKP/JKP telah

dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKP/JKP.

(17)

Hakim berpendapat bahwa PM yang telah dibayar dapat dikreditkan sehingga koreksi Fiskus tidak dapat dipertahankan.

Berdasarkan bukti-bukti dalam persidangan maka Hakim menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT Q.

18. No PUT : PUT.49138/PP/M.VI/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan masa Pajak Desember 2009

Fiskus melakukan koreksi PM atas FP yang diterima dari PKP PT. Sumber Daya Nusaphala karena FP Keluaran tersebut terlambat diterbitkan. Fiskus menyatakan service charge sudah diserahkan dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2009 dan dibayar pada bulan Desember 2009 sedangkan FP diterbitkan pada bulan Desember 2009.

Fiskus menyatakan bahwa PKP Penjual terlambat menerbitkan FP dan PKP Penjual dianggap tidak menerbitkan Faktur.

PT R menyatakan pemberi jasa sudah memberikan jasanya namun tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya dan adanya jasa yang belum dikerjakan oleh pihak developer. PT R menyatakan atas ketidak puasan terhadap jasa yang diterima tersebut, melakukan pertemuan dengan pemberi jasa dan terjadi kesepakatan pemberian diskon. Setelah adanya persetujuan tersebut, invoice dan FP diterbitkan oleh PT. Sumber Daya Nusaphala pada bulan Desember 2009 untuk penagihan service charge Januari 2009 sampai dengan bulan Oktober 2009. PT R telah membayar jumlah tagihan serta PPN sesuai ketentuan yang berlaku, atas FP tersebut PT. Sumber Daya Nusaphala tidak melakukan pembatalan penerbitan FP dan juga tidak melakukan pembetulan pelaporan SPT Masa PPN.

Hakim berpendapat bahwa dalam sengketa ini posisi PT R

sebagai pihak yang menerima dan mengkreditkan FP yang diterima dari

penjual/pemberi jasa. PT R telah melakukan pembayaran PPN atas

service charge masa Januari 2009 sampai dengan bulan Oktober 2009

yang dibayar pada bulan Desember 2009, berdasarkan tagihan yang

(18)

dilakukan oleh penjual jasa. Atas FP yang diterbitkan pada bulan Desember 2009 tersebut, pemberi jasa tidak melakukan pembatalan penerbitan FP dan juga tidak melakukan pembetulan pelaporan SPT Masa PPN. Hakim berpendapat bahwa pengkreditan PPN Masukan oleh PT R atas FP diterbitkan oleh PT. Sumber Daya Nusaphala sudah sesuai dengan ketentuan dan oleh karena itu koreksi yang dilakukan oleh Fiskus tidak dapat dipertahankan dan Hakim menyatakan untuk mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT R.

19. No PUT : PUT.48909/PP/M.XIV/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa PM yang dapat diperhitungkan masa Pajak Agustus 2009

Fiskus melakukan koreksi atas Kredit Pajak PPN masa September dikarenakan usaha PT S adalah perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap elemen neraca, Laporan

Keuangan dan Laporan Auditor Independen, diketahui bahwa PT S

memiliki asset tetap yaitu Bangunan, Bangunan dalam penyelesaian

dan mesin. Setelah dilakukan penelitian, bangunan tersebut bukan

bangunan pabrik melainkan bangunan kantor dan perumahan yang

digunakan untuk karyawan perusahaan, sedangkan mesin merupakan

genset dan mesin- mesin untuk keperluan kebun lainnya. Pada saat

dilakukan pemeriksaan, PT S belum memiliki pabrik pengolahan sawit

untuk produksi CPO, sementara PT S juga tidak dapat membuktikan

alasan keberatannya. Fiskus berpendapat bahwa kegiatan usaha PT S

adalah Perkebunan Kelapa Sawit yang menghasilkan Tandan Buah

Segar (TBS) sesuai dengan FP Keluaran yang diterbitkan oleh PT S

selama tahun 2009 dimana tidak ada satupun FP yang diterbitkan atas

penyerahan CPO/PK, berdasarkan penelitian PT S hanya melakukan

penyerahan Pupuk TSP (Triple Super Phospate) kepada PT. Nusamas

Kimia Persada. Fiskus berpendapat bahwa Kredit Pajak PPN Masa

Pajak September tidak dapat dikreditkan dengan alasan barang hasil

(19)

pertanian tersebut bersifat strategis sehingga PM tersebut tidak dapat dikreditkan.

PT S dalam melakukan kegiatan usahanya, mengelola perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan hasil perkebunan kelapa sawit yaitu Tandan Buah Segar (TBS) kemudian hasil perkebunan kelapa sawit ini seluruhnya diolah lebih lanjut menjadi produk minyak kelapa sawit (CPO) dan inti sawit (PK) yang kemudian dijual kepada pihak lain. Menurut PT S pendapat Fiskus merupakan pendapat yang tidak berdasarkan fakta dan bukti yang ada, meskipun PT S tidak memiliki pabrik pengolahan CPO, PT S tetap melakukan pengolahan melalui pihak ke tiga. Menurut PT S, perusahaan masih dalam tahap Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan baru mulai tahap Tanaman Menghasilkan (TM) pada tahun 2010. Dengan demikian pada saat pemeriksaan tahun 2009 perusahaan tidak mungkin melakukan penjualan TBS. PT S melakukan proses pengolahan CPO dengan cara titip olah pada pihak ketiga yang menghasilkan CPO. PT S melakukan titip oleh karena kondisi pada saat itu belum memungkinkan untuk mendirikan pabrik karena banyak hal, oleh karena itu pada saat tanaman sawit sudah menghasilkan tersebut diproses menjadi CPO dengan menggunakan jasa titip olah kepada pihak ketiga. Bahwa dalam persidangan PT S menyerahkan foto kopi data-data yang telah dimeteraikan.

Hakim menemukan fakta bahwa KLU yang PT S laporkan pada

saat mendaftar sebagai PKP adalah perkebunan kelapa sawit. FP

Keluaran yang diterbitkan oleh PT S selama tahun 2009 tidak ada

satupun FP yang diterbitkan merupakan penyerahan CPO/PK. Terdapat

transaksi penjualan pupuk, berdasarkan FP penjualan-penjualan pupuk

ke PT. Nusamas Kimia Persada, masa September nol. Hakim

berkesimpulan penyerahan Tandan Buah (TBS), melainkan pupuk dan

pada saat pemeriksaan perusahaan PT S masih dalam tahap penanaman,

dimana pada akhir proses produksi adalah berupa CPO yang merupakan

BKP. Penyerahan yang terjadi pada tahun pajak 2009 berupa transaksi

(20)

penjualan pupuk, yang didukung dengan FP Penjualan – Penjualan Pupuk ke PT Nusamas Kimia Persada, Masa September nol. Hakim berpendapat bahwa koreksi atas pengkreditan PM tidak dapat dipertahankan. Berdasarkan bukti-bukti diatas Hakim menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT S.

20. No PUT : PUT.48242/PP/M.VIII/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi Dasar Pengenaan Pajak.

Dalam sengketa banding ini terdapat dua sengketa. Sengketa pertama mengenai Dasar Pengenaan Pajak, Koreksi Dasar Pengenaan Pajak terdiri dari 3 mutasi kredit rekening koran. Mengenai koreksi Rekening Koran Nomor 105-0001288715, PT T telah memberikan bukti-bukti. Menurut Fiskus tidak ada aplikasi setoran, sehingga tidak dapat membuktikan bahwa setoran tunai yang dilakukan oleh PT T sendiri, Fiskus tetap tidak meyakini penjelasan atau pembuktian dari PT T. Menurut PT T mutasi kredit tersebut merupakan setoran dari rekening PT T ke rekening PT T yang lain, dana tersebut berasal dari rekening Mandiri Nomor 107-00-9705893-9 yang ditarik dengan cek nomor EP–913553. Menurut Hakim mutasi kredit tersebut bukan penyerahan yang belum dilaporkan. Untuk koreksi positif DPP cabang seharusnya yang dipakai rekening koran cabang, karena yang dikoreksi adalah rekening koran pusat maka tidak relevan. Hakim berpendapat koreksi terhadap Rekening Koran Nomor 105-0001288715 tidak dapat dipertahankan.

Mengenai koreksi Rekening Koran Nomor 105-0001288715, PT

T telah memberikan bukti-bukti. Menurut Fiskus berdasarkan bukti –

bukti dan berdasarkan penjelasan PT T mengakui bahwa nilai tersebut

merupakan hasil penjualan mobil, sehingga Fiskus tetap

mempertahankan koreksi. Menurut PT T mutasi kredit tersebut sesuai

dengan buktinya. Menurut Hakim mutasi kredit tersebut merupakan

penyerahan yang belum dilaporkan oleh PT T sehingga Hakim

(21)

berpendapat koreksi terhadap Rekening Koran Nomor 105-0001288715 tetap dipertahankan.

Mengenai koreksi Rekening Koran Nomor 107-0000444499 PT T telah memberikan bukti-bukti. Menurut Fiskus tidak ada identitas penyetor pada aplikasi setoran sehingga tidak dapat membuktikan bahwa setoran tunai dilakukan PT T sendiri dan tidak dapat menunjukan bukti-bukti atas mutasi tersebut, Fiskus tetap tidak meyakini penjelasan atau pembuktian dari PT T. Menurut PT T mutasi kredit tersebut diambil dari Rekening Bank Mandiri Nomor 105-00- 0128871-5 dengan menggunakan cek nomor EN 399369, kemudian dana tersebut disetorkan ke Rekening Mandiri PT T Nomor 107-00- 00444499. Hakim berpendapat koreksi terhadap Rekening Koran Nomor 107-0000444499 tidak dapat dipertahankan.

Sengketa kedua mengenai koreksi Pajak Masukan atas pembelian Kecambah Kelapa Sawit dari PT Bina Sawit Makmur yang penyerahannya dibebaskan dari PPN, untuk itu PT T tidak berhak mengkreditkan PM tersebut. Transaksi tersebut berupa pembelian atas obat-obatan atau sejenis herbisida untuk perawatan tanaman yang produk atau hasil tanaman tersebut merupakan Tandan Buah Segar (TBS) yang merupakan barang strategis yang dibebaskan dari PPN.

Hakim berpendapat bahwa pengkreditan PM tersebut dikaitkan dengan

penyerahannya. Terkait PM yang berasal dari pembelian obat-obatan

atau sejenis herbisida terkait hasil dari pohon/kebun sawit berupa

Tandan Buah Segar (TBS) yang bersifat strategis, akan tetapi PT T

tidak menjual TBS tersebut kepada pihak lain namun diolah di pabrik

milik PT T sendiri, sehingga yang diserahkan berupa CPO/PK yang atas

penyerahan tersebut terutang PPN. PT T terbukti melakukan

penyerahan BKP yang terutang pajak (CPO dan PK) sehingga sesuai

dengan ketentuan maka PM-nya dapat dikreditkan. Hakim berpendapat

koreksi Fiskus atas koreksi PM tidak dapat dipertahankan. Berdasarkan

hasil pemeriksaan dalam persidangan , Hakim berkesimpulan untuk

mengabulkan sebagian permohonan banding PT T.

(22)

21. No PUT : PUT.48226/PP/M.VIII/16/2013 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Dalam sengketa banding ini terdapat dua sengketa. Pada sengketa pertama mengenai koreksi PM dilakukan pemeriksaan karena PM tersebut dianggap memiliki kaitan dengan penyerahan BKP berupa TBS yang PPNnya dibebaskan. Hakim berpendapat pengkreditan PM tidak dikaitkan dengan produk yang dihasilkan melainkan dikaitkan dengan penyerahannya. Terkait penafsiran atas PM yaitu atas pembelian obat-obatan atau sejenis herbisida terkait produk atau hasil dari pohon/kebun sawit berupa Tandan Buah Segar (TBS) yang merupakan barang strategis. PT U tidak menjual TBS tersebut kepada pihak lain tetapi diolah kembali sehingga yang diserahkan berupa CPO/PK yang atas penyerahan tersebut terutang PPN. PT U terbukti melakukan penyerahan BKP yang terutang pajak (CPO dan PK) maka PM-nya dapat dikreditkan. Hakim berpendapat bahwa koreksi tersebut tidak dapat dipertahankan.

Sengketa kedua menurut Fiskus koreksi tersebut dilakukan karena pembeli pada Faktur PM bukan atas nama PT U tapi untuk Kantor Pusat. Faktur PM yang disengketakan yaitu yaitu FP dengan atas nama Penjual : PT Perdana Agro Mandiri. Ketetapan pajak yang disengketakan yaitu atas SPT Masa PPN Masa Juni 2008 atas nama Wajib Pajak : PT U yang diterbitkan oleh KPP Pratama Rantau Prapat.

Menurut Hakim, PT U seharusnya mengkreditkan PM tersebut tidak di

cabang (Rantau Prapat) tapi di Kantor Pusat – Medan karena NPWP

yang dicantumkan adalah NPWP Kantor Pusat. Fiskus menyatakan PM

tersebut berasal dari pembelian Gramaxone untuk kepentingan kebun

yang menghasilkan BKP yang penyerahannya dibebaskan dari

pengenaan PPN, Hakim berpendapat atas koreksi PM pembelian terkait

kebun tersebut menghasilkan barang bersifat strategis, tetapi PT U tidak

menjual TBS tersebut kepada pihak lain tetapi diolah di pabrik milik

sendiri dan yang diserahkan yaitu CPO/PK yang atas penyerahan

(23)

tersebut terutang PPN. PT U terbukti hanya melakukan penyerahan BKP yang terutang pajak (CPO dan PK) maka PM-nya dapat dikreditkan. Untuk Tahun 2008, PT U belum melakukan pemusatan PPN, sehingga pelaporan SPT Masa PPN dilakukan untuk masing- masing cabang dan untuk Kantor Pusat tidak bisa dikreditkan di cabang Rantau Prapat. Sehingga Hakim berpendapat koreksi PM tetap dipertahankan. Hakim berkesimpulan untuk mengabulkan sebagian permohonan banding PT U.

22. No PUT : PUT.48164/PP/M.V/16/2013 Tahun pajak : 2005

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Pokok sengketa pengajuan banding ini adalah koreksi PM yang

merupakan pembelian PT V atas kendaraan bermotor Yamaha selama

tahun 2005. Dalam SPT PPN masa pajak Januari sampai dengan

Desember 2005 oleh PT V dinyatakan PPN yang kurang atau lebih

bayarnya NIHIL. Terhadap SPT PPN tersebut oleh Fiskus setelah

diequalisasi dengan omzet PPh Badan telah dilakukan himbauan untuk

memberikan keterangan tentang hal tersebut, tetapi PT V tidak

meresponnya. PT V sampai dengan dilakukan pemeriksaan SPT PPN

tidak pernah melakukan pembetulan SPT PPN-nya. Fiskus

mendapatkan adanya data tentang penyerahan BKP/Jasa Kena Pajak

oleh PT V, dan koreksi Pajak Keluaran tersebut PT V setuju tetapi PT

V tidak setuju terhadap koreksi PM yang oleh PT V tidak dilaporkan

dalam SPT PPN. Atas PM yang terdiri dari 24 faktur PM yang dibuat

oleh PKP tetapi tidak diberikan bukti /copy atas FP, menurut Hakim

terhadap usaha dealer yang dilakukan PT V yang menjual sepeda motor

Yamaha maka faktur PM yang diterbitkan oleh pabrikan adalah atas

nama pembeli/konsumen akhir sehingga bukan sebagai kredit pajak

bagi PT V. Mengenai koreksi Fiskus terhadap Dasar Pengenaan Pajak

Pajak Keluaran yang tidak dipermasalahkan oleh PT V, sehingga tidak

diungkapkan oleh para pihak asal usulnya yang melakukan penyerahan

BKP atau penyerahan JKP yang wujudnya margin laba kotor dan tidak

(24)

pernah diberikan data-data perhitungannya, maka PM yang dikreditkan dalam SPT masa PPN ataupun PM yang tidak atas nama PT V tidak dapat dikreditkan. Hakim memutuskan untuk mempertahankan koreksi PM yang dilakukan oleh Fiskus dan menolak permohonan banding PT V.

23. No PUT : PUT.48152/PP/M.XV/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Fiskus melakukan koreksi atas faktur PM yang berhubungan dengan pemeliharaan kebun PT W yang menghasilkan TBS yang merupakan BKP bersifat strategis yang penyerahannya dibebaskan dari PPN dan tidak dapat dikreditkan. Fiskus telah menyampaikan data-data pendukung namun PT W tidak setuju dengan koreksi tersebut karena TBS tersebut akan diproses lagi menjadi CPO dan IKS yang penjualannya terutang PPN, PT W sendiri merupakan indutri terpadu pengelolahan kelapa sawit. PT W menyatakan terjadi penjualan TBS hanya terjadi satu kali yaitu tanggal 31 Januari 2009 karena jalan dari kebun ke mill rusak, sehingga terpaksa dibawa ke PT. Mitra Austral Sejahtera agar bisa diolah karena terlanjur dipanen. Dalam hal tersebut PT W tidak memiliki tujuan khusus, hal tersebut dilakukan karena adanya kerusakan jalan yang merupakan force majeur dan bukan faktor kesengajaan. Hakim berpendapat bahwa perusahaan PT W merupakan perusahaan yang dalam usahanya mempunyai dua unit usaha yaitu Unit Perkebunan Kelapa Sawit dan Unit Pengolahan Kelapa Sawit.

Walaupun begitu kedua unit usaha tersebut bukanlah suatu entitas yang

terpisah karena tidak memiliki NPWP dan NPPKP yang berbeda, selain

itu hasil dari Perkebunan Kelapa Sawit akan diolah secara intern oleh

Pengolahan Kelapa Sawit untuk menghasilkan produk akhir CPO dan

IKS dan dijual kepada konsumen di luar, dengan demikian produk akhir

PT W merupakan BKP yang penyerahannya dikenakan PPN. Untuk

memproduksi CPO dan IKS tersebut PT W memerlukan bahan baku

(25)

dan bahan pembantu antara lain pupuk untuk tanaman kelapa sawitnya, dimana atas pembelian pupuk tersebut merupakan PM bagi PT W.

Hakim berpendapat bahwa PM atas pembelian pupuk tersebut dapat dikreditkan karena pupuk tersebut digunakan untuk menghasilkan CPO dan IKS yang merupakan BKP yang dikenakan PPN. Selain melakukan penjualan CPO dan IKS, PT W juga melakukan penjualan TBS yang merupakan BKP yang bersifat strategis dan dibebaskan dari PPN pada perusahaan lain, karena adanya kerusakan jalan yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman TBS ke pabrik, sehingga diserahkan pada pihak lain, penyerahan tersebut dilakukan hanya satu kali yaitu untuk masa Januari 2009. Hakim berkesimpulan atas koreksi PM penjualan TBS ke pihak lain tetap dipertahankan sedangkan sisanya yang berhubungan dengan proses produksi CPO tidak dapat dipertahankan, maka Hakim menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding PT W.

24. No PUT : PUT.48020/PP/M.XV/16/2013 Tahun pajak : 2004

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Fiskus melakukan koreksi PM yang dapat diperhitungkan dilakukan dengan alasan tidak didukung oleh rincian Faktur PM (B1), FP asli, dan payment voucher. PT X tidak setuju dengan koreksi tersebut dengan alasan bahwa atas semua transaksi tersebut ada bukti pendukungnya dan telah diserahkan kepada Fiskus. Saat proses keberatan, Fiskus telah menyampaikan dua surat permintaan data atau dokumen kepada PT X kemudian PT X telah merespon surat permintaan data atau dokumen yang pertama namun PT X tidak menyampaikan bukti asli FP serta payment voucher seperti yang telah diminta oleh Fiskus sebelumnya, sehingga Fiskus tidak dapat mempertimbangkan keberatan PT X.

Saat persidangan, Hakim kembali memberikan kesempatan

kepada PT X untuk menyampaikan bukti pendukung atas koreksi PM

tersebut berupa rincian Faktur PM (B1), FP asli, dan Payment Voucher.

(26)

Sampai pada saat persidangan terakhir pada tanggal 17 Desember 2012, PT X tidak dapat menyampaikan bukti-bukti dimaksud dan menyatakan kesulitan untuk mencari bukti-bukti tersebut karena tahun sengketa yang sudah cukup lama. Oleh karena PT X tidak dapat menyampaikan bukti-bukti yang diminta untuk mendukung permohonan bandingnya, bahwa koreksi Fiskus atas PM tersebut, Hakim menyatakan menolak permohonan banding PT X.

25. No PUT : PUT.47902/PP/M.XIV/16/2013 Tahun pajak : 2008

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap Kredit Pajak.

Pokok sengketa yaitu koreksi positif atas PM yang menurut Fiskus tidak dapat dikreditkan, yang terdiri dari 3 fatur pajak yaitu : 1.

010-000-0800000021 dengan PT Schering -Plough Indonesia, Tbk; 2.

010-000-0800000020 dengan PT Schering -Plough Indonesia, Tbk; 3.

010-000-0800000015 dengan PT Schering -Plough Indonesia, Tbk. FP tersebut dikoreksi karena tidak memenuhi ketentuan yang berlaku karena FP tidak diisi nama BKP/JKP yang diserahkan sebagaimana tercantum dalam perjanjian "Inventory Purchase Agreement” antara PT Y dan PT. Schering - Plough Indonesia, Tbk. PT Y menyatakan FP dari PT Schering - Plough Indonesia, Tbk tidak dikoreksi oleh Fiskus sehingga menurut PT Y, Fiskus tidak konsisten. Fiskus menyatakan selain syarat materil juga harus memenuhi syarat formal. PT Y memberikan bukti berupa FP nomor: 010- 000-0800000020, 010-000- 0800000021, dan 010-000-0800000015 dan SPT Masa PPN masa pajak Desember 2008 atas nama PT Schering -Plough Indonesia dan berdasarkan penelitian terhadap SPT, diketahui bahwa FP Nomor: 010- 000-0800000020, 010-000-0800000021, dan 010-000-0800000015 telah dilaporkan dalam Daftar Pajak Keluaran dan PPn BM sebagai Penyerahan Dalam Negeri. Berdasarkan penelitian terhadap FP nomor:

010-000-0800000020 dan 010-000-0800000015, kedua faktur tersebut

telah diisi dengan benar dan lengkap pada setiap kolomnya sesuai

(27)

ketentuan yang berlaku, oleh karena itu Hakim menyatakan FP tersebut telah memenuhi syarat formal sebagai FP standar.

Berdasarkan penelitian terhadap FP nomor: 010-000- 0800000021 , FP tersebut terbukti dalam kolom jenis barang atau jasa hanya tertulis ”impor barang jadi” tidak mencantumkan jenis barang, jumlah harga jual atau penggantian dan potongan harga sehingga FP tersebut tidak diisi secara jelas, lengkap dan benar, sehingga faktur PM tesebut tidak dapat dikreditkan. Hakim berpendapat bahwa koreksi atas kredit pajak untuk FP Nomor: 010-000-0800000021 tetap dipertahankan dan untuk FP nomor 010-000-0800000020 dan 010-000- 0800000015 tidak dapat dipertahankan, maka Hakim berpandapat untuk mengabulkan sebagian permohonan banding PT Y.

26. No PUT : PUT.47798/PP/M.III/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Pokok sengketa banding ini adalah penerbitan Surat Ketetapan

Pajak Kurang Bayar PPN masa Pajak Novenber 2009 oleh fiskus,

berdasarkan SPT masa PPN November 2009, sedangkan PT Z telah

menyampaikan Surat Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT

masa PPN November 2009, dimana penghitungan pajak terutang

menjadi lebih bayar. Fiskus tidak mempertimbangkan data dan

informasi dalam Surat Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT

Masa PPN Masa Pajak November 2009 karena dianggap tidak

memenuhi ketentuan. PT Z menyampaikan Surat Pengungkapan

Ketidakbenaran Pengisian SPT Masa PPN masa Pajak November 2009

pada tanggal 19 Juli 2010, yang dilampiri dengan SPT Masa PPN Masa

November 2009 yang diterima oleh Fiskus tanggal 20 Juli 2010,

sedangkan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) Fiskus pada

tanggal 17 Desember 2010 dan diterima oleh PT Z tanggal 20

Desember 2010, sehingga penyampaian Surat Pengungkapan

Ketidakbenaran Pengisian SPT Masa PPN tersebut masih dalam jangka

(28)

waktu yang diperbolehkan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Menurut Fiskus berdasarkan Surat Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT Masa PPN Masa Pajak November 2009, jumlah seluruh penyerahan sebesar nol rupiah, berdasarkan penelitian diketahui bahwa Faktur PM yang dilaporkan sebanyak 116 FP dan kompensasi kelebihan PPN karena pembetulan SPT PPN Masa Pajak jumlah PM tersebut dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya, terdapat FP dilaporkan dalam Laporan Ketidakbenaran Pengisian Surat Pemberitahuan PPN Masa November 2009 oleh PT Z, yang menyebabkan perbedaan dengan koreksi Fiskus dengan jumlah empat belas FP. Dalam Laporan Pengungkapan Ketidakbenaran tersebut hanya dilampiri SPT PPN Masa tanpa ada SSP sebagai bukti pelunasan pajak dan denda administrasi. Menurut Fiskus, PT Z melaporkan pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sesuai ketentuan dengan melampirkan perhitungan pajak berupa SPT Masa PPN tanpa adanya SSP sebagai bukti pelunasan pajak dan sanksi adminisitrasi berupa kenaikan 50% sehingga tidak memenuhi kriteria yang dapat mengakibatkan pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil. Fiskus berpendapat pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT PPN Masa November 2009 tidak dapat dipertimbangkan sehingga atas koreksi PM yang dapat dikreditkan yang terdiri atas kesalahan tulis dan pengkreditan 2 (dua) kali tetap dipertahankan.

Hakim menilai dan berkeyakinan bahwa PT Z telah

mengungkapkan adanya ketidakbenaran dalam pengisian Surat

Pemberitahuan PPN Masa Pajak November 2009 sesuai dengan

ketentuan. Pengungkapan ketidakbenaran tidak hanya terbatas pada

pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar, melainkan

juga dapat mengakibatkan pajak-pajak yang masih harus dibayar

menjadi lebih kecil, rugi perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih

besar, jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil; atau jumlah

(29)

modal menjadi lebih besar atau lebih kecil dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan. Fiskus seharusnya memperlakukan Pengungkapan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan tersebut sebagai tambahan informasi atau data dan menjadi bahan pertimbangan bagi Fiskus sebelum menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) kepada PT Z. Berdasarkan fakta dalam persidangan, terbukti bahwa Fiskus tidak mempertimbangkan pengungkapan ketidakbenaran tersebut oleh karena itu Hakim berkesimpulan koreksi Fiskus telah salah dan keliru sehingga tidak dapat dipertahankan dan Hakim menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT Z.

27. No PUT : PUT.47711/PP/M.XVI/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Pokok sengketa dalam pengajuan banding ini yaitu koreksi PM

PPN Masa Pajak Oktober 2009 karena berkaitan dengan pembayaran

biaya-biaya kepada perusahaan afiliasi yaitu PT. XYZ Jepang yang

mempunyai hubungan istimewa dengan PT AA. Biaya-biaya tersebut

berupa pembayaran Technical Asistance Fee (Royalty) kepada PT. XYZ

Jepang dan kepada PT. MEC Electronic Co Ltd atas Technical

Assistance Fee dan Trade Mark License Fee tidak diakui sebagai biaya

yang dapat mengurangi sebagai biaya yang dapat mengurangi

Penghasilan Kena Pajak. Menurut Fiskus pembayaran biaya royalty

kepada perusahaan afiliasi yang berdasarkan 5% dan 1% dari jumlah

penjualan kepada related party yang dikategorikan contract

manufacturing termasuk sebagai internal royalty yang seharusnya tidak

dapat dibiayakan saat menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak,

karena pengenaan royalty yang berkaitan dengan penggunaan brand fee

dan technical assistance hanya boleh atas penjualan kepada pihak-pihak

di luar afiliasi, karena pembeli non afiliasi dapat menikmati informasi

teknis dan brand yang dimiliki oleh Panasonic Corp, Jepang. Oleh

karena itu pembayaran royalty tersebut tidak diakui sebagai biaya dan

(30)

PM yang telah dibayar oleh PT AA berkaitan dengan transaksi penyerahan Jasa Kena Pajak / atas pemanfaatan BKP Tak Berwujud merk dagang dan technical assistance dari PT. XYZ Jepang dan PT.

MEC tidak dapat dikreditkan untuk mengurangi PPN Terutang. Namun Hakim tidak sependapat dengan pendapat Fiskus karena sesuai dengan fakta persidangan dimana merk dagang PT. XYZ Jepang terbukti dimiliki oleh PT. XYZ Jepang dengan bukti yang telah didaftarkan kepemilikan Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Intelectual Property (IP) terbukti dengan sah merk dagang Panasonic dimiliki oleh PT. XYZ Jepang dan penerima manfaat atas penggunaan hak tersebut berupa penggunaan merk dagang maupun Technical Assistance wajar untuk membayar atas manfaat yang diterimanya. Antara PT AA dengan PT. XYZ Jepang dan PT. MEC terbukti mempunyai dasar perjanjian yang mengikat antara kedua belah pihak tentang penggunaan Technical Assistance Hak Kekayaan Intelektual dan merk dagang milik PT. XYZ Jepang dimana pihak PT AA wajib membayar biaya imbalan Intelectual Property atau License Fee dan biaya penggunaan technical know how dan trade mark atas penggunaan merk dagang pada setiap hasil produksi, maka terbukti adanya penggunaan hak, Technical Know How dan merk dagang Panasonic oleh PT AA dan timbulnya kewajiban PT AA untuk membayar Trade Mark License Fee tersebut.

PT AA telah melakukan pemotongan pajak atas Royalty yang

dibayarkan kepada PT. XYZ Jepang sesuai dengan ketentuan dan

terbukti keterkaitannya obyek PPh tersebut juga merupakan obyek PPN

dengan kewajiban PPN yang terutang telah dipenuhi oleh PT AA. Merk

dagang dan penggunaan hak atas kekayaan intelektual PT. XYZ Jepang

dan PT. MEC adalah merupakan BKP Tak Berwujud sehingga PM

yang dibayar atas pemanfaatan BKP Tak Berwujud dari Luar Daerah

Pabean berupa Royalty kepada PT. XYZ Jepang telah sesuai ketentuan

berlaku dan telah dilunasi oleh PT AA, oleh karena itu Surat Setoran

Pajak sebagai bukti pembayaran PPN dapat diperlakukan sebagai

Faktur PM yang dapat dikreditkan. Sesuai dengan fakta persidangan

(31)

telah sesuai dengan ketentuan dan PPN yang tercantum dapat dikreditkan sebagai PM sesuai ketentuan yang berlaku. Sesuai fakta persidangan pelunasan PPN telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, oleh karena itu PT AA dapat mengkreditkan Surat Setoran Pajak. Dengan demikian koreksi Fiskus terhadap pengkreditan SSP PPN Jasa Luar Negeri sebagai PM tersebut tidak dapat dipertahankan.

Terhadap koreksi PM yang disebabkan karena Faktur PM yang berasal dari Non PKP dan PM yang disebabkan karena jawaban Klarifikasi menyatakan “Ada, tetapi tidak sama tanggal dan nomor seri FP”, Hakim berpendapat Faktur PM tersebut tidak dapat dikreditkan sebagai PM. Terhadap koreksi PM yang disebabkan karena jawaban Klarifikasi, PT AA telah menyampaikan bukti pendukung. Terhadap koreksi PM dengan jawaban Klarifikasi tersebut Fiskus tidak mempermasalahkan keabsahan FP terkait. Hakim berpendapat bahwa atas koreksi PM yang berasal dari PT. ABC dengan Nomor Seri FP Nomor 010.000.09.0000014 seharusnya dapat dikreditkan oleh PT AA sebagai PM. Terhadap koreksi PM yang berasal dari Non PKP serta atas koreksi PM mengenai hasil klarifikasi menurut Hakim tidak dapat dipertahankan dan Hakim menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan banding PT AA.

28. No PUT : PUT.47299/PP/M.II/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Pokok sengketa yaitu koreksi PM atas pembelian pupuk dan zat

kimia serta pembelian untuk keperluan bibit kelapa sawit, yang terkait

dengan produksi Kelapa Sawit (TBS). TBS merupakan BKP tertentu

yang bersifat strategis yang penyerahannya dibebaskan dari PPN,

sehingga tidak dapat dikreditkan. Fiskus berpendapat PT BB tidak

menjual TBS, tapi mengolahkan ke pihak lain menjadi CPO dan Inti

Kelapa Sawit serta menjualnya, tetap dikategorikan sebagai penyerahan

BKP yang bersifat strategis, karena pemakaian sendiri termasuk dalam

pengertian Penyerahan BKP. PT BB membantah koreksi PM tersebut

(32)

karena PT BB memiliki Kebun Kelapa Sawit yang menghasilkan TBS, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan CPO yang diolah lebih lanjut di pabrik PT. Inti Indosawit Subur (perusahaan satu group dengan PT BB) berdasar Perjanjian Jasa Olah dan dihasilkan produk akhir berupa CPO dan PK yang dijual pada pembeli, dengan kata lain, TBS tidak dijual kepada pihak lain oleh PT BB.

PT BB mengakui memiliki Kebun Kelapa Sawit yang menghasilkan TBS sesuai Surat Izin dari BKPM dan bukan sebagai perusahaan integrated. TBS yang dihasilkan PT BB tidak dijual kepada pihak manapun namun dititip olahkan, sehingga menurut PT BB tidak ada penyerahan TBS kepada apapun. Fiskus menyatakan PT BB tidak menjual TBS, melainkan mengolahkan ke PT.Inti Indosawit Subur menjadi CPO serta menjualnya, namun oleh Fiskus tetap dikategorikan sebagai penyerahan BKP yang bersifat strategis, karena pemakaian sendiri termasuk dalam pengertian penyerahan BKP. Dari FP Standar diketahui PT BB menjual CPO dan PK hasil olahan dari PT Inti Indosawit Subur, sedangkan dari FP Sederhana diketahui untuk penjualan bibit Kelapa Sawit, namun PT X tidak dapat menunjukkan bukti pendukung yang dapat menjelaskan jumlah penyerahan TBS kepada PT Inti Indosawit Subur untuk diproses menjadi CPO dan Kernel.

Menurut Hakim, penyerahan TBS oleh PT BB untuk dititip

olahkan kepada pihak ketiga bukan merupakan pemakaian sendiri. Dari

segi kegiatan, PT BB melakukan suatu kegiatan dan nyata-nyata

memiliki kebun sawit yang menghasilkan TBS, kemudian PT BB

mengolahkan TBS kepada pihak ketiga (titip olah) menjadi CPO dan

PK serta menjualnya. Hakim berpendapat, PT BB sendiri hanya

melakukan 1 kegiatan, yaitu mengelola perkebunan sawit yang

menghasilkan TBS, kemudian TBS tersebut diproses oleh pihak ketiga

menjadi CPO dan PK serta untuk dijual ke pihak lain. Dengan kata lain

PT BB bukan PKP yang melakukan usaha terpadu. PT BB melakukan

titip olah TBS kepada PT Inti Indosawit Subur untuk diproses menjadi

(33)

CPO dan PK, menurut Hakim merupakan kegiatan “penyerahan”, walaupun atas penyerahan tersebut tidak ditindak lanjuti dengan penerbitan FP, karena PT BB tidak menjual TBS.

Hakim berpendapat PM yang dapat dikreditkan atas penjualan CPO PT BB yaitu atas Jasa titip-olah yang dibayarkan PT BB. Hakim berkesimpulan bahwa PM atas pembelian pupuk dan zat kimia serta pembelian untuk keperluan bibit kelapa sawit tidak dapat dikreditkan, sehingga koreksi Fiskus atas PM masa Pajak Oktober 2009 tetap dipertahankan. Sesuai dengan bukti yang telah diberikan selama persidangan maka Hakim menyatakan menolak permohonan banding PT BB.

29. No PUT : PUT.47268/PP/M.III/16/2013 Tahun pajak : 2009

Pokok sengketa : Sengketa pengajuan banding terhadap koreksi PM.

Dalam sengketa ini koreksi atas PM yang dapat diperhitungkan

yang diajukan banding dan menolak permohonan banding PT CC. PT

CC telah melakukan pengujian arus uang dan barang/jasa atas seluruh

FP dengan nilai PPN terlampir dalam Faktur PM PT CC dan Uji Arus

Uang – Barang. Hakim berpendapat, substansi koreksi yang dilakukan

oleh Fiskus adalah koreksi PM yang menurut jawaban konfirmasi dari

KPP terkait dijawab “Tidak Ada”. Fiskus berpendapat atas koreksi PM

atas jawaban konfirmasi yang dijawab “Tidak Ada” dan PT CC belum

dapat membuktikan dengan arus uang. Jika dalam suatu transaksi, PKP

pembeli dapat menunjukkan bukti asli FP (Masukan), maka

tanggungjawab pembayaran dengan segala konsekuensinya berada pada

PKP penjual, secara umum jika pajak yang telah dipungut tersebut

dipungut tapi belum disetorkan atau bahkan tidak dipungut, maka yang

harus bertanggungjawab adalah PKP penjual. PT CC di dalam

persidangan menyerahkan kepada Hakim bukti-bukti pendukung dan

Faktur PM. Hakim berkesimpulan bahwa Fiskus tidak cukup bukti

untuk melakukan koreksi terhadap PM PT CC, sehingga koreksi Fiskus

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

AB, sebaiknya melakukan transaksi penjualan-pembelian dengan pengusaha kena pajak, pastikan bahwa setiap faktur pajak dapat dikreditkan, memanfaatkan fasilitas yang dibebaskan PPN

Berdasarkan Tabel 5.11 dapat diketahui bahwa untuk indikator puas terhadap kualitas layanan jawaban tertinggi responden adalah 5, sedangkan nilai jawaban terendah responden

dapat dikreditkan, wajib pajak tersebut juga harus menanggung kenaikan sebesar 100% atas PPN yang tidak atau kurang dibayar. Namun, atas jawaban konfirmasi “tidak

Untuk memudahkan analisis hasil penelitian terhadap asosiasi bebas pada merek Honda, Yamaha dan Suzuki, maka penulis membagi asosiasi-asosiasi bebas jawaban responden menjadi

Hasil penelitian ini menunjukkab bahwa variabel growth yang didapatkan dari harga saham dibagi dengan nilai buku per ekuitas tidak memiliki pengaruh yang

Dari Gambar 32 dapat diketahui bahwa pendapat responden tentang respon- den menilai banyak menu dan fitur pada Aplikasi Dapodik PAUD-DIKMAS yang tidak konsisten yaitu, dengan jawaban

 19 perusahaan tidak mengeluarkan laporan keuangan tahunan tahun 2009.  8 perusahaan tidak mengeluarkan laporan keuangan tahunan tahun 2010.  6 perusahana tidak

Pada item K3 mean jawaban responden sebesar 4,18 terletak dalam interval 3,41-4,20 menunjukkan bahwa responden setuju bahwa kompetensi penting bagi seorang akuntan