LAPORAN
PENELITIAN TUGAS AKHIR
KAJIAN BIAYA PEMELIHARAANPIRINGAN, PASAR PIKUL DAN GAWANGAN MATI PADA TANAMAN
MENGHASILKAN KELAPA SAWIT(Elaeis guineensis Jacq) SECARA KIMIA DI AFDELING IKEBUNBATANG
SERANGAN PT.PERKEBUNAN NUSANTARA II
ARIFIN SIMANJUNTAK 1301174
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN
MEDAN
2017
LAPORAN
PENELITIAN TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV pada Program Studi Budidaya Perkebunan
STIPAP MEDAN
KAJIAN BIAYA PEMELIHARAANPIRINGAN, PASAR PIKUL DAN GAWANGAN MATI PADA TANAMAN
MENGHASILKAN KELAPA SAWIT(Elaeis guineensis Jacq) SECARA KIMIA DI AFDELING IKEBUNBATANG
SERANGANPT.PERKEBUNAN NUSANTARA II
ARIFIN SIMANJUNTAK 1301174
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN
MEDAN
2017
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR
NAMA LENGKAP : ARIFIN SIMANJUNTAK
NIM : 1301174
PROGRAM STUDI : BUDIDAYA PERKEBUNAN
JUDUL PENELITIAN : KAJIAN BIAYA PEMELIHARAAN
PIRINGAN, PASAR PIKUL DAN
GAWANGAN MATI PADA TANAMAN
MENGHASILKAN KELAPA SAWIT
(ElaeisguineensisJacq) SECARA KIMIA DI
AFDELING I KEBUN BATANG
SERANGAN PT. PERKEBUNAN
NUSANTARA II
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Sulthon Parinduri, S.P.,M.Si. Dr. Ir.Ahmad Saleh, M.Sc.
Mengetahui
Ketua K.a PS BDP
Wagino, S.P.,M.P. Guntoro, S.P., M.P.
Pembimbing Tugas Akhir : 1. Sulthon Parinduri, S.P.,M.Si.
2. Dr. Ir. Ahmad Saleh, M.Sc.
Tim Penguji : 1. Hardy Wijaya, S.P.
2. Marshal Arifin Sinaga, SST., M.P.
Telah diuji pada Tanggal 15 Bulan September Tahun 2017
i
RINGKASAN
Arifin Simanjuntak “Kajian Biaya Pemeliharaan Piringan, Pasar Pikul Dan Gawangan Matipada Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Secara Kimia di Afdeling I Kebun Batang Serangan PT Perkebunan Nusantara II ”.Tugas akhir mahasiswa STIPAP program studi Budidaya Perkebunan ini dibimbing oleh Bapak Sulthon Parinduri, S.P.,M.Si. dan Bapak Dr. Ir.Ahmad Saleh, M.Sc.
Penelitian ini dilaksanakan di afdeling Ikebun Batang Serangan PTPN II Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat pada bulan Mei-Juli tahun 2017.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji biaya pengendalian gulma di piringan, pasar pikul dan gawangan mati pada tanaman menghasilkan kelapa sawit.
Pengamatan dan indicator Informasi Kebun Batang Serangan, data Curah Hujan 2014-2017, Data Biaya Pengendalian Gulma 2015-2016, Jenis-jenis Gulma di lapangan, Rekapitulasi Biaya Pengendalian Gulma.
Metode yang digunakan metode deskriptif yaitu pengumpulan data yang merupakan realisasi penggunaan biaya untuk pengendalian gulma di afdeling I Kebun Batang Serangan PTPN II. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa Total biaya pengendalian gulma dengan cara kimia di kebun Batang Serangan Afdeling I pada tahun 2015 adalah sebesar Rp. 55.694.516 terdiri atas biaya tenaga sebesar Rp. 21.690.000 dan biaya bahan sebesar Rp. 34.004.516 dengan rincian biaya per hektar Tahun 2015 sebesar Rp. 399.874/Ha. Sedangkan untuk tahun 2016 total biaya yang digunakan adalah sebesar Rp. 66.424.830 terdiri atas biaya tenaga sebesar Rp. 26.751.000dan biaya bahan sebesar Rp. 39.673.830 dengan rincian biaya per hektar Tahun 2016 sebesar Rp. Rp.476.916/Ha.
Kata Kunci : Biaya, Pengendalian Gulma, Tanaman Menghasilkan, Kelapa Sawit.
ii DAFTAR ISI
Hal.
RINGKASAN ... i
DAFTAR ISI ... ii
KATA PENGANTAR ... v
RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... ... 1
1.2 Urgensi Penelitian ... 2
1.3 Tujuan Khusus ... 3
1.4 Target Temuan ... 3
1.5 Kontribusi Penelitian ... 3
BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Gulma... 4
2.2Klasifikasi Gulma ... 7
2.1.1 Berdasarkan Daur Hidupnya Atau Umur ... 7
2.2.2 Berdasarkan Habitat ... 7
2.2.3 Berdasarkan Morfologi ... 8
2.3 Jenis-jenis Gulma di Perkebunan Kelapa Sawit ... 9
2.4Pengendalian Gulma ... 10
2.4.1 Pengendalian secara Preventif (Pencegahan) ... 11
2.4.2 pengendalian secara fisik ... 11
2.4.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budi Daya ... 13
2.4.4 Pengendalian secara Biologis ... 13
2.4.5 Pengendalian secara Kimiawi ... 14
2.4.6 Pengendalian secara terpadu ... 14
2.5 Pengendalian Gulma secara Kimiawi ... 15
2.6 Pemeliharaan Piringan dan Gawangan ... 16
BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu ... 18
3.2 Desain Penelitian ... 18
3.3 Pengamatan Penelitian ... 18
3.4 Bagan Alur Penelitian ... 20
iii
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
4.1 Informasidan Sejarah Kebun ... 21
4.1.1Luas Areal ... 22
4.2 CurahHujan... 23
4.3 JenisGulmadanHerbisidayang digunakan ... 26
4.4AlatAplikasiPenyemprotan ... 29
4.4.1 KelebihanAlat Knapsack Sprayer ... 29
4.5 Norma-normaKegiatanPengendalianGulma di Kebun BatangSerangan ... 30
4.6 Menyiangsecara Kimia di PiringandanPasarPikul ... 31
4.7 PengendalianGulma di GawanganMati ... 31
4.7.1 UsapLalang ... 31
4.7.2 SemprotAnakKayuan ... 32
4.8 RealisasiLuas Areal PengendalianGulma ... 35
4.9 RealisasiBiayaPenggunaanBahanuntukMenyiang Kimia padaTanamanMenghasilkanTahun 2015-2016 ... 37
4.10 RekapitulasiBiayabahanMenyiang Kimia diAfd. I Kebun BatangSeranganpadaTahun 2015-2016. ... 40
4.11RealisasiBiayaPenggunaanBahanPekerjaanMengusap LalangpadaTahun 2015-2016 ... 41
4.12 RekapitulasiBiayabahanMengusapLalang di Afd. I KebunBatangSeranganpadaTahun 2015-2016 ... 44
4.13RealisasiBiayaPenggunaanBahanPekerjaanMenyemprot AnakKayuanpadaTahun 2015-2016 ... 45
4.14 RekapitulasiBiayabahanMenyemprotAnakKayuan diAfd. I KebunBatangSeranganpadaTahun 2015-2016 ... 48
4.15 Realisasi Penggunaan Bahan Menyiang Kimia, Mengusap Lalangdan Menyemprot Anak Kayuan Tahun 2015-2016 ... 49
4.16RekapitulasiPenggunaanBiayaBahanuntukPekerjaan Menyiang Kimia, MengusapLalangdanMenyemprotAnak KayuanTahun 2015-2016... 50
4.17RealisasiPenggunaanTenagaMenyiang Kimia, Mengusap Lalang, danMenyemprotAnakKayuanPadatahun 2015-2016 ... 51
4.18 RekapitulasiBiayaTenagaKerjaPekerjaanMenyiang Kimia, MengusapLalang, danMenyemprotAnakKayuan padaTahun 2015-2016 ... 54
4.19RealisasiBiayaBahandanTenagaPekerjaanMenyiang Kimia, MengusapLalangdanMenyemprotAnakKayuan 2015-2016 ... 55 4.20 Rekap Total BiayaBahandanTenagaPengendalian
iv
GulmaTahun 2015-2016 ... 57
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1 Kesimpulan ... 59
5.2 Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... 60
DAFTAR LAMPIRAN ... 61
Lampiran 1.JadwalKegiatanUsapLalang ... 61
Lampiran 2.JadwalKegiatanMenyiang Kimia ... 62
Lampiran 3.JadwalKegiatanSemprotAnakKayuan ... 63
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah- Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir dengan baik.
Tugas akhir yang berjudul Kajian Biaya Pengendalian Gulma di Piringan, Pasar Pikul Dan Gawangan Mati Pada Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit “Elaeis guineensis Jacq” di Afdeling Ikebun Batang Serangan PTPN IImerupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) LPP Kampus Medan.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, banyakpihak yang telahmemberikanbantuansecaralangsungmaupuntidaklangsung.
Olehkarenaitupenulisinginmenyampaikanucapanterimakasihkepada :
1. Bapak Wagino,S.P., M.P sebagaiKetua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan.
2. Bapak Guntoro,S.P., M.Pselaku Ketua Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan.
3. Bapak Sulthon Parinduri,S.P., M.Siselaku Pembimbing I terima kasih ataswaktu,ilmu,nasehat,serta bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
4. Bapak Dr. Ir. Ahmad Saleh, M.Scselaku Pembimbing II terima kasih atas waktu, tenaga, ilmu, nasehat, serta bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
5. Seluruh Bapak/Ibu selaku Dosen Perkuliahan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan terima kasih telah memberikan ilmu, motivasi, saran, serta bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
6. Kepada Bapak/Ibu seluruh karyawan KebunBatangSeranganPTPN II yang telah memberikan izin kepada saya untuk melaksanakan penelitian Tugas Akhir di afdeling I kebun Batang Serangan dengan baik.
vi 7. Yang
teristimewakepadaAyahandatercintaIshakSimanjuntakdanIbundaPonisah yang
selalumemanjatkandoadandukungansertamotivasikepadapenulisuntukmenyele saikanTugasAkhirinidenganbaik.
8. Kepada keluarga yang saya sayangiNovita Karolina SimanjuntakAm.Kebdan Dimas HasianSimanjuntakyang selalu mendoakan, memberi nasehat, motivasi dan moril untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik.
9. kepada teman-temanseperjuangan Tim KebunBatangSeranganDyal
Muhammad S. Pane danEffredPrimawandra yang
mendukungpenulisdalampenulisanTugasAkhirinisertaTeman-
temankelasangkatan2013 program studiBudidaya Perkebunan khususnya BDP
E yang tidakdapatdisebutkansatupersatu yang
selamainimemberikandukungankepadapenulis.
Akhir kata penulismengucapkanterimakasihkarenatanpadukungan kalian, penulistidakdapatmenyelesaikanTugasAkhirini.Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna,untukitupenulismengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaanTugasAkhirinidansemogaTugasAkhirinidapatbermanfaatbagipihak- pihak yang membutuhkannya.
Medan, Agustus 2017
ArifinSimanjuntak
vii
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap ArifinSimanjuntaklahir di KecamatanBatangtoru, KabupatenTapanuli Selatan,ProvinsiSumatra Utara pada tanggal 23 Oktober 1995 yang merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara.Penulis lahir dari pasangan Suami/Istri Bapak IshakSimanjuntak dan Ibu Ponisah.
Penulis menyelesaikan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri 103560, lulus pada tahun 2007, SMP Negeri 1Batangtoru lulus pada tahun 2010, SMA Negeri 2 Padang Sidimpuan lulus tahun 2013dan mulai memasuki Perguruan Tinggi pada tahun 2013 sampai dengan saat ini penulisan Tugas Akhir.
Penulis masih terdaftar sebagai Mahasiswa “ Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan“ Medan, Sumatra Utara. Penulis pernah melaksanakan aktivitas pada mata kuliah Praktek Pekerjaan Lapangan I (Pertama) di PT.
Perkebunan Nusantara IIKebunLimauMungkur, ProvinsiSumatra Utara selama duabulan dan aktivitaskuliahPraktek KerjaLapangan II (Kedua) di PT.Herfinta Palm and PlantationKecamatan Kota Pinang KabupatenLabuhanBatu, Sumatera Utara selama dua bulan.
Kemudian pernahjugamengikuti aktivitas perkuliahan Program Pengabdian MasyarakatdiDesaSeiMataram,KecamatanTanjungTiramKabupatenBatu Bara selama satu bulan penulis tertarik untuk tugas akhir ini yang berjudul “Kajian Biaya Pemeliharaan Piringan, Pasar Pikul dan Gawangan Mati PadaTanamanMenghasilkanKelapaSawit (ElaeisguineensisJacq) Secara Kimia di Afdeling IKebun Batang Serangan PT.PerkebunanNusantara II.
viii
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
2.1 Jenis Gulma di perkebunan ... 10
2.2 KlasifikasiGulmadanTindakanPengendaliannya ... 18
4.1 Luas Areal Afdeling I KebunBatangSerangan ... 22
4.2 Data CurahHujanKebunBatangSerangan ... 23
4.3 Jenis-jenisGulma yang Umum di Perkebunan KelapaSawit ... 26
4.4 Norma Bahan Kimia danTenagaKerjaMenyiang Kimia ... 30
4.5 Norma Bahan Kimia dan Tenaga KerjaMengusap Lalang ... 30
4.6 Norma BahanKimiadan TenagaKerja Semprot Anak Kayuan ... 30
4.7 Pembanding Rekomendasi PengendalianGulmadanDosisBahan Kimia/Ha ... 33
4.8 PembandingRekomendasi BahanKimiadanTenaga Kerja/Ha PekerjaanMengusapLalang ... 33
4.9PembandingRekomendasi BahanKimiadan Tenaga Kerja/Ha PekerjaanMenyiang Kimia ... 34
4.10 RealisasiLuas Areal PengendalianGulmaTahun 2015 ... 35
4.11 RealisasiLuas Areal PengendalianGulmaTahun 2016 ... 36
4.12 RealisasiBiayaBahanMenyiangGulmaSecara KimiaTahun 2015 ... 37
4.13RealisasiBiayaBahanMenyiangGulmaSecara Kimia Tahun 2016 ... 38
4.14RekapitulasiBiayaBahanMenyiang Kimia Tahun 2015-2016 ... 40
4.15RealisasiBiayaBahanPekerjaanMengusapLalangTahun 2015 ... 41
4.16RealisasiBiayaBahanPekerjaanMengusapLalangTahun 2016 ... 42
4.17 RekapitulasiBiayaBahanMengusapLalangTahun 2015-2016 ... 44
4.18RealisasiBahanMenyemprotAnakKayuanTahun 2015 ... 45
4.19RealisasiBahanMenyemprotAnakKayuanTahun 2016 ... 46
4.20RekapitulasiBiayaBahanMenyemprotAnakKayuanTahun 2015-2016 ... 48
4.21TotalBiayaBahanTahun 2015-2016 ... 49
4.22Rekapitulasi Total PenggunaanBahan Kimia Tahun 2015-2016... 50
4.23 BiayaTenagaKerjaTahun 2015 ... 51
ix
4.24 BiayaTenagaKerjaTahun 2016 ... 52
4.25 RekapitulasiPenggunaanBiayaTenagaKerjaTahun 2015-2016 ... 54
4.26 TotalBiayaBahandanTenagaTahun 2015 ... 55
4.27 TotalBiayaBahandanTenagaTahun 2016 ... 56
4.28 RekapitulasiBiayaBahandanTenagaTahun 2015-2016 ... 57
4.29 TotalBiayaTahun 2015-2016 ... 58
x
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
4.1 Grafik Rata-rata Curah Hujan ... 24
4.2 Grafik Rata-rata Hari Hujan ... 25
4.3 Ageratum conyzoides ... 27
4.4Nephrolepisbiserrata ... 27
4.5Paspalumconjugatum ... 27
4.6Urenalobata ... 27
4.7Alocasiamacrorrhiza ... 27
4.8Ischaemummuticum ... 27
4.9Cyrtococcumarescens ... 28
4.10Axonopuscompressus ... 28
4.11Knapsack Sprayer ... 29
4.12KondisiGulma di PiringandanPasarPikul ... 31
4.13KondisiGulma di Gawangan ... 32
4.14PerbandinganBiayaBahanMenyiang KimiaTahun 2015-2016 ... 39
4.15PerbandinganBiayaBahanMengusapLalangTahun 2015-2016 ... 43
4.16 PerbandinganBiayaBahanMenyemprotAnakKayuanTahun 2015-2016 ... 47
4.17 PerbandinganBiayaTenagaPadaTahun2015 dan 2016 ... 53
4.18 PersentasePenggunaan Total BiayaTahun2015-2016 ... 58
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.JadwalKegiatanUsapLalang ... 61 Lampiran 2.JadwalKegiatanMenyiang Kimia ... 62 Lampiran 3.JadwalKegiatanSemprotAnakKayuan ... 63
1
BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat.Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada disekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas. Karena luasnya penyebaran, gulma mempunyai beberapa nama sesuai dengan daerah asal daerah dan negaranya seperti Weed (Inggris), Unkraut (Jerman), Onkruit (Belanda), dan Tzao (China), serta banyak nama yang lainnya (Moenandir, 1993).
Kehadiran gulma (yang juga merupakan tumbuhan) disekitar tanaman budidaya tidak dapat dielakkan, terutama bila lahan pertanaman tersebut tak dikendalikan. Sebagai tumbuhan, gulma juga memerlukan persyaratan tumbuh seperti halnya tanaman lainnya, misalnya kebutuhan akan cahaya, nutrisi, air, gas CO2, dan gas lainnya ruang, dan lain sebagainya.
Persyaratan tumbuh yang sama atau hampir sama bagi gulma dan tanaman dapat mengakibatkan terjadinya asosiasi gulma disekitar tanaman budaya.
Gulma yang berasosiasi ini akan saling memperebutkan bahan-bahan yang dibutuhkannya, apalagi bila jumlahnya sangat terbatas bagi keduanya (Moenandir, 1993).
Berbagai kerugian oleh gulma antara lain dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil sebagai akibat kompetisi unsur hara. Selain itu gulma dapat menjadi tanaman inang bagi hama dan patogen penyebab penyakit, mengeluarkan alelopati yang dapat menghambat tanaman budidaya, merusak peralatan pertanian,mengurangi debit dan kualitas air, mengganggu lalu lintas air irigasi, pendangkalan perairan dan menambah biaya produksi (Rao, 2000).
Peningkatan luas areal tanam kelapa sawit seringkali kurang memperhatikan kesesuaian lahan untuk kelapa sawit.Ketidaksesuaian lahan dapat menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit. Hal
2
tersebut dapat dilihat dari adanya penurunan produktivitas minyak kelapa sawit (CPO) nasional pada tahun 2008 sebesar 11.54% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 2.6 ton/ha menjadi 2.3 ton/ha (Dirjenbun 2009).
Analisis faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit tidak dapat dilakukan secara mudah mengingat banyak faktor yang mempengaruhi.Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit yaitu faktor lingkungan, faktor genetik, dan teknik budidaya (Mangunsoekarjo dan Semangun 2005).
Adapun yang dimaksudkan dengan teknik budidaya tanaman kelapa sawit salah satunya adalah teknik pengendalian gulma dengan cara yang baik.Pengendalian gulma perlu dilakukan untuk mencapai produktivitas kelapa sawit yang optimal.
1.2 Urgensi Penelitian
Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit adalah salah satu kegiatan yang penting di dalam teknis budidaya kelapa sawit.Pengendalian gulma berfungsi untuk mengurangi tingkat persaingan tanaman utama dengan gulma dalam hal perebutan unsur hara, air, dan ruang tumbuh dari tanaman tersebut. Pada zaman sekarang ini di dalam bisnis perkebunan, diperlukan cara pengendalian gulma yang efektif dan efisien.
Pengendalian gulma dengan cara kimiawi di perkebunan kelapa sawit sangat lebih efektif dan efisien karena memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan cara manual. Pengendalian gulma secara kimiawi memiliki kelebihan yaitu gulma yang telah dikendalikan memiliki waktu yang relatif lebih lama untuk tumbuh kembali jika dibandingkan dengan pengendalian gulma secara manual di perkebunan kelapa sawit.
3
1.3 Tujuan Khusus
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya pengendalian gulma pada tanaman menghasilkan secara kimia pada Afdeling 1 Kebun Batang Serangan PT. Perkebunan Nusantara II.
1.4 Target Temuan
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan perbandingan dalam pelaksanaan pengendalian gulma di Tanaman Menghasilkan kelapa sawit.
1.5 Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi pengetahuan bagi para petani maupun perkebunan kelapa sawit mengenai biaya pemeliharaan tanaman kelapa sawit dan juga tentang tatacara pemeliharaan gulma yang baik dan benar.
4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Gulma
Gulma adalah tumbuhan-tumbuhan (tidak termasuk jamur) yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan kerugian bagi tujuan manusia. Istilah gulma mempunyai pengertian yang sama dengan istilah weeddalam Bahasa Inggris. Semenjak permulaan berkembangnya ilmu gulma ( Weed Science ) di Indonesia sampai sekitar tahun 1977, untuk pengertian yang sama dengan weed telah dipakai istilah tumbuhan penggangu (Nasution 1986).
Gulma merupakan pesaing bagi tanaman kelapa sawit dalam penyerapan unsur hara, air, dan cahaya matahari.Areal yang didominasi oleh gulma yang berbahaya atau pesaing berat seperti sembung rambat (Mikania micrantha), alang-alang (Imperata cylindrica), dan Asystasia coromandeliana dapat menurunkan produksi sampai 20% (Sulistyo dkk, 2010).
Menurut Lubis (2008), produksi tanaman pertanian, baik yang diusahaakan dalam bentuk pertanian rakyat maupun perkebunan besar dipengaruhi oleh hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma untuk tanamanperkebunan sangat bervariasi, tergantung pada jenis tanaman, iklim, jenis gulma, dan kondisi di lapangan.Apabila pengendalian gulma tidak dilakukan secara benar, kemungkinan besar usaha perkebunan mengalami kerugian. Berikut berbagai kerugian yang dapat diakibatkan oleh gulma :
1. Menurunkan kemampuan produksi kelapa sawit akibat persaingan antara gulma dan tanaman dalam pengambilan air, unsur hara, dan cahaya.
5
2. Mengotori kualitas hasil produksi, seperti pengotoran benih oleh biji- biji gulma.
3. Menggangu kelancaran pekerjaan petani, misalnya adanya duri-duri yang berasal dari gulma Amaranthus spinosus dan Mimosa spinosa.
4. Menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Pasalnya, ada jenis gulma yang kandungan tepung sarinya menyebabkan alergi.
5. Menyebabkan kenaikan ongkos usaha pertanian, seperti menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan dan perbaikan selokan.
6. Mengurangi efisiensi sistem irigasi yang diakibatkan oleh gulma air, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes).
7. Menggangu penetrasi sinar matahari ke permukaan air oleh gulma air.
Selain itu, adanya gulma dapat mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air.
8. Beresiko terhadap senyawa kimiawi beracun yang dikeluarkan oleh beberapa jenis gulma (allelopathy).
9. Pemborosan air akibat penguapan yang lebih cepat dan gulma menghambat aliran air. Kehilangan air oleh penguapan 7.8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka.
Gulma akan selalu berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan akan berasosiasi dengan tanaman tersebut bila tidak dilakukan penyiangan atau pengendalian. Salah satu bentuk asosiasi gulma dengan tanaman adalah terjadi kompetisi faktor tumbuh berupa unsur hara.Kompetisi terjadi bila persediaan hara yang dipersaingkan berada di bawah kebutuhan masing- masing tanaman. Besar kecilnya kompetisi gulma tergantung pada spesies gulma, lama kompetisi, cara bercocok tanam dan kultur teknik lainnya (Moenandir, 1993).
Gulma mampu bersaing efektif selama jangka waktu kira-kira 1/4 - 1/3 dari umur tanaman semusim (annual crops) sejak awal pertumbuhannya.Pada
6
lahan kering gulma tumbuh lebih awal dan populasinya lebih padat dan menang bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan, sehingga gulma seringkali menjadi masalah utama setelah faktor air dalam sistem produksi tanaman di lahan kering, terutama tanaman semusim (pangan dan sayuran).
Pada budidaya tanaman di lahan kering beberapa spesies gulma seperti Imperata cylindrica (alang-alang), Cynodon dactylon (grinting), Borreria alata, Ageratum conyzoides (babandotan), Synedrella nodiflora (jontang kuda), Cyperus rotundus (teki berumbi) mempunyai sifat pertumbuhan yang cepat, berkembang biak dengan biji maupun stolon/rimpang, toleran terhadap kekeringan dan mampu menghambat perkecambahan biji maupun pertumbuhan awal tanaman yang dibudidayakan. Dalam kondisi terjadi kekeringan pada bulan pertama tanaman dibudidayakan, gulma tersebut mampu tumbuh dengan baik, dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman tersebut.Agar dalam usahatani tanaman semusim memberikan hasil optimal, maka gulma harus dikendalikan tepat waktu (Tjokrowardojo &
Djauhariya, 2015).
Inventarisasi jenis-jenis gulma yang dominan di areal budidaya tanaman sangat membantu tindakan untuk pengendalian yang tepat.Disamping itu pengetahuan mengenai gulma bagi para perencana dan petugas lapang perlu ditingkatkan agar bisa menentukan metode pengendalian yang tepat (Tjokrowardojo & Djauhariya, 2015).
7 2.2 Klasifikasi Gulma
Menurut Tjokrowardojo & Djauhariya (2015), ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan gulma agar memudahkan dalam upaya pengendaliannya. Klasifikasi berdasarkan atas sifat atau karakter gulma secara umum.
2.2.1 Klasifikasi berdasarkan daur hidupnya atau umur:
a) Gulma semusim (Annual Weed).
Gulma ini berkembang biak secara generatif melalui biji, hanya dapat hidup selama satu daur yang biasanya kurang dari satu tahun, contoh Ageratum conyzoides (babandotan).
b) Gulma tahunan (Perenial Weed).
Gulma tahunan berkembang biak secara generatif melalui biji, dan secara vegetatif melalui rimpang, stolon dan stek batang.
Gulma ini hidup lebih dari satu tahun atau hidup sepanjang tahun dan berbuah berulangkali.Untuk gulma yang membentuk rimpang atau umbi dapat hidup sepanjang tahun, contoh Imperata cylindrica(alang-alang).
2.2.2 Klasifikasi berdasarkan habitat:
a) Gulma fakultatif, tumbuh di habitat yang belum ada campur tangan manusia. Gulma ini tumbuh pada lahan yang belum dikelola untuk budidaya tanaman, seperti padang alang-alang.
b) Gulma obligat, tumbuh di habitat yang sudah ada campur tangan manusia. Gulma ini biasanya tumbuh menyertai tanaman budidaya, seperti sawah, ladang dan perkebunan.
8
2.2.3 Klasifikasi berdasarkan kerugian yang ditimbulkan:
a) Gulma lunak (Soft Weed).
Gulma lunak yaitu jenis gulma yang tidak begitu berbahaya bagi tanaman yang dibudidayakan, namun dalam keadaan populasi tinggi harus dikendalikan, contoh Ageratum conyzoides.
b) Gulma keras atau gulma berbahaya (Noxius Weed).
Gulma berbahaya adalah jenis gulma yang berpotensi allelopati, contoh (Imperata. cylindrica), Mikania micrantha(sembung rambat), Chromolaena odorata(kirinyuh), Cyperus rotundus(teki berumbi).
2.2.4 Klasifikasi berdasarkan morfologi a) Gulma golongan rumput (Grasses).
Gulma golongan rumput sebagian besar termasuk dalam famili Gramineae atau Poaceae, dengan ciri-ciri umum adalah:
berbatang bulat memanjang, dengan ruas-ruas batang berongga atau padat. Daun berbentuk pita, bertulang daun sejajar, lidah- lidah daun berbulu, permukaan daun ada yang berbulu kasar atau halus.Buah berbentuk butiran tersusun dalam bentuk malai.Berakar serabut, berstolon atau membentuk rimpang, contoh Imperata cylindrica, Digitaria ciliaris, Eleusine indica.
b) Gulma golongan berdaun lebar (Broad Leaved).
Gulma golongan berdaun lebar sebagian besar temasuk tumbuhan berkeping dua (Dicotyledoneae) dari berbagai famili.
Ciri-ciri umum: Batang tubuh tegak dengan percabangannya, ada pula yang tumbuh merambat. Daun tunggal maupun majemuk, helaian daun bulat/ bulat telur ,bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselang- seling.Bunga tunggal atau majemuk tersusun dalam suatu
9
karangan bunga. Contoh Borreria alata, Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora .
c) Gulma golongan teki (Sedges).
Famili Cyperaceaemempunyai ciri-ciri umum: Daun berbentuk pipih atau berlekuk segi tiga, memanjang yang tumbuh langsung dari pangkal batang. Permukaan daun biasanya licin tidak berbulu atau ada yang berbulu agak kasar, tangkai bunga berbentuk seperti lidi, muncul dari tengah-tengah pangkal batang dan ujungnya tersusun karangan bunga.Perakaran biasanya membentuk Stolon dan bercabang dimana setiap cabang membentuk umbi, contoh Cyperus rotundus dan Cyperus kyllingia.
d) Gulma golongan pakis-pakisan
(Fern) contoh Cyclosorus aridus (Pakis Kadal).
10
2.3 Jenis-Jenis Gulma Di Perkebunan Kelapa Sawit
Berikut contoh beberapa jenis gulma yang sering kita jumpai pada areal perkebunan terdapat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1. Beberapa jenis gulma diperkebunan
No. Jenis Gulma Nama Latin Nama Indonesia
1. Rerumputan Axonopus compressus Rumput pait 2. Rerumputan Cynodon dactylon Rumput grintingan 3. Rerumputan Eluesine indica Rumput belulang 4. Lalang Imperata cylindrica Alang-alang
5. Berdaun lebar Ageratum conyzoides Wedusan, bandotan 6. Berdaun lebar Mikania micrantha Sembung rambat 7. Berdaun lebar Mimosa pudica Putri malu 8. Berdaun lebar Borreria laevis Rumput kancing
9. Teki Cyperus rotundus Teki-tekian
10. Teki Cyperus kyllingia Teki badot
11. Pakis-pakisan Cylosorus aridus Pakis kadal 12. Pakis-pakisan Gleichenia linearis Pakis bantengan,
pakis kawat 13. Pakis-pakisan Nephorepis biserrata Paku harupat Sumber : ( Nasution, 1986 )
Gulma tumbuh hampir dimana saja dan keberadaannya sangat tidak diinginkan di perkebunan. Gulma akan bersaing berebut unsur hara dan pupuk, menyumbat saluran drainase yang dapat menyebabkan areal terendam air, menyulitkan evakuasi hasil panen, dan pada akhirnya menurunkan produktivitas kebun (Malangyoedo, 2014).
Pengendalian gulma adalah teknik pengelolaan yang tepat, ramah lingkungan dan ekonomis guna menyediakan tempat tumbuh pohon kelapa sawit yang terbebas dari persaingan unsur hara dan tetap menjaga tumbuhan inang bagi hama penyakit tanaman (Malangyoedo, 2014).
11 2.4 Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma dapat didefinisikan sebagai proses membatasi infestasi gulma sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien (Sukman, 2002). Pengendalian gulma pada prinsip awalnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma (Pahan, 2008).
Pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan cahaya.Bila pertumbuhan gulma tidak dikendalikan dengan baik, maka berbagai macam gulma dapat tumbuh subur dan mengganggu atau menyaingi pertumbuhan tanaman pokok. Akibatnya, keadaan kebun pun menjadi kotor dan lembab ( Hartanto, 2011).
Pengendalian gulma perlu dilaksanakan di piringan pohon, jalan pikul, dan di gawangan.Pengendalian gulma di piringan pohon bertujuan untuk memudahkan dalam pengutipan berondolan dan meningkatkan efektifitas pemupukan.Pengendalian gulma di jalan pikul bertujuan agar mudah dilalui oleh pekerja, sedangkan pengendalian gulma di gawangan bertujuan untuk mengurangi persaingan terhadap penyerapan air, unsur hara, serta untuk menjaga kelembaban kebun.Gulma di gawangan ada yang perlu diberantas hingga tuntas dan ada yang cukup dikendalikan saja (Sulistyo dkk, 2010).
Menurut Lubis (2008), pengendalian gulma dapat berupa pencegahan atau pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah, tetapi tidak selalu lebih mudah. Pengendalian gulma dapat dilakukan berbagai cara sebagai berikut :
12
2.4.1 Pengendalian dengan cara Preventif (Pencegahan)
Cara ini ditujukan untuk jenis gulma yang sangat merugikan dan belum tumbuh.Spesies gulma asing yang bercocok tumbuh ditempat baru dapat menjadi pengganggu yang dahsyat (eksplosif). Misalnya kaktus di Australia, eceng gondok di Asia-Afrika. Beberapa cara pencegahan gulma yang baru adalah dengan membersihkan bibit dari kontaminasi biji gulma, mencegah penggunaan pupuk kandang yang belum matang, mencegah pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput makan ternak, memberantas gulma dipinggir sungai dan saluran- saluran pengairan, membersihkan ternak yang akan diangkut,mencegah pengangkutan tanaman beserta tanahnya.Selain itu, perkembangbiakan gulma dapat dicegah dengan mencabut gulma yang sudah berbunga dan berbuah.
2.4.2 Pengendalian Gulma secara Fisik 1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah menggunakan bantuan alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor dapat membantu dalam pengendalian gulma.Efektifitas alat-alat pengolah tanah tergantung pada beberapa faktor, seperti siklus hidup, penyebaran akar, topografi tanah, iklim, jenis tanaman utama, serta umur dan ukuran investasi.
2. Pembabatan atau Pemangkasan
Pembabatan atau pemangkasan (Mowing) hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan kurang efektif untuk gulma tahunan.Efektifitas pembabatan atau pemangkasan tergantung pada waktu pemangkasan dan interval (ulangan). Pembabatan biasanya dilakukan di perkebunan yang tanaman utamanya berupa pohon yang berada di halaman, tepi jalan umum, jalan kereta api, dan padang rumput. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang gulma berbunga atau saat daun sedang tumbuh.
13 3. Penggenangan
Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan.Caranya dengan menggenangi sedalam 15-25 cm selama 3-8 minggu.Gulma yang digenangi harus terendam. Jika sebagian daunnya muncul diatas air, gulma masih mampu untuk hidup.
4. Pembakaran
Suhu kritis yang menyebabkan kematian sel adalah 45-55°C.
kematian dari sel yang hidup pada suhu tersebut disebabkan oleh koagulasi protoplasmanya.
Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas, khususnya di lahan-lahan luar pulau Jawa.Pembakaran umumnya dilakukan di tanah non-pertanian, seperti di pinggir jalan, pinggir kali, hutan, dan tanah milik industri.
Keuntungan pembakaran untuk pemberantasan gulma dibandingkan dengan pemberantasan secara kimiawi yaitu tidak terdapat efek residu di tanah dan tanaman. Selain itu, golongan insekta, hama dan penyakit mati akibat pembakaran.
Kelemahan metode pembakaran di antaranya dapat membahayakan bagi lingkungan, mengurangi kandungan mikroorganisme tanah, memperbesar erosi, serta efek untuk manusia di daerah pembakaran berupa asap yang dapat menimbulkan alergi sesak nafas.
5. Mulsa
Penggunaan mulsa (Mulching) bertujuan untuk mencegah agar cahaya matahari tidak sampai ke gulma.Tidak adanya cahaya matahari dapat mematikan gulma akibat tidak mampu berfotosintesis.Bahan yang dapat digunakan untuk mulsa diantaranya jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.
14
2.4.3 Pengendalian Gulma dengan Sistem Budi Daya
Metode pengendalian menggunakan sistem budi daya juga disebut pengendalian secara ekologis karena menggunakan prinsip ekologi, yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan tanaman, tetapi merugikan bagi gulma.Salah satu teknis pengendalian gulma yang menggunakan prinsip ekologi yaitu teknis pengendalian.Penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi gulma. Penanaman rapat agar tajuk tanaman dapat menutupi ruang- ruang kosong merupakan cara efektif untuk menekan gulma.
2.4.4 Pengendalian Gulma Secara Biologis
Pengendalian gulma secara biologis merupakan metode pengendalian gulma menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, dan lain-lain. Pengendalian biologis secara intensif menggunakan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu spesies gulma asing yang telah menyebar secara luas. Penggunaan organisme tersebut harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian.
Contoh keberhasilan pengendalian biologis menggunakan insekta adalah pengendalian kaktus Opuntia sp, menggunakan Cactoblastis coctorum di Australia dan pengendalian Salvinia sp. menggunakan Cyrtobagous singularis.Berdasarkan penelitian, eceng gondok (Eichornia crassipes) ternyata dapat dikendalikan secara biologis menggunakan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae.
Sementara itu, jenis jamur atau fungi yang berpotensi mengendalikan gulma secara biologis di antaranya Uredo eichhorniaeuntuk gulma kiambang, dan Ceropora sp. untuk gulma kayu apu.
15
2.4.5 Pengendalian Gulma secara Kimiawi
Pengendalian gulma secara kimiawi merupakan pengendalian gulma menggunakan herbisida.Herbisida merupakan senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan gulma, baik secara selektif maupun non-selektif. Penggunaan herbisida bias dilakukan saat pra-tanam, pra-tumbuh atau pasca tumbuh.
Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, khususnya untuk areal yang luas.Sementara itu, kerugian menggunakan herbisida di antaranya resiko keracunan tanaman serta adanya efek residu terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
Pengendalian gulma secara kimiawi sebaiknya sebagai alternatif pilihan terakhir apabila cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil.
2.4.6 Pengendalian Gulma secara Terpadu
Pengendalian gulma secara terpadu merupakan pengendalian gulma menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pasalnya, tidak satu pun teknis pengendalian gulma di atas yang mampu mengendalikan gulma secara tuntas.Untuk dapat mengendalikan gulma secara tuntas biasanya dibutuhkan lebih dari satu metode penelitian.Pengombinasian metode pengendalian tergantung tergantung pada situasi, kondisi, dan tujuannya.Umumnya, kombinasi metode pengendalian diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif.Misalnya, perpaduan antara pengolahan tanah dan penggunaan herbisida, perpaduan pemupukan dengan herbisida.
16 2.5 Pengendalian Gulma Secara Kimiawi
Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian menggunakan herbisida.Pengendalian dengan herbisida ditujukan untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan gulma pada ekosistem pertanian dan khususnya di perkebunan.Dalam pelaksanaan aplikasi herbisida dapat dilakukan berbeda-beda, termasuk sewaktu pemilihan atau sekrening, baik jenis bahan aktif maupun dosis herbisida (Mangoensoekarjo & Soejono, 2015).
Menurut Mangoensoekarjo & Soejono (2015), adapun kelebihan dari penggunaan herbisida dibandingkan dengan cara manual adalah sebagai berikut :
a) Pekerjaan lebih cepat dan menggunakan tenaga kerja yang lebih sedikit b) Kerusakan pada akar tanaman terutama bagian feeding roots yang sering
terjadi dengan cara manual dapat dihindari
c) Erosi tanah yang terjadi lebih kecil, terutama pada tanah yang kondisinya miring, dan
d) Pembentukan cekungan-cekungan (depresi) pada piringan yang mengakibatkan terkumpulnya air hujan dapat dihindari.
Adapun kelemahan pengendalian gulma secara kimiawi adalah sebagai berikut :
a) Biaya pengendalian sangat dipengaruhi oleh harga herbisida.
b) Karena kelapa sawit hanya mempunyai satu titik tumbuh yang sangat peka terhadap pengaruh herbisida dan karena sistem perakarannya mendatar, besar kemungkinan terjadi keracunan sehingga aplikasi dengan herbisida harus dilakukan secara lebih berhati-hati dan pemilihan herbisida yang akan digunakan harus dipilih secara ketat.
c) Karyawan semprot harus terlatih dan terampil melakukan beberapa tugas, antara lain mengenal jenis gulma, menguasai cara mencampur herbisida,
17
cara aplikasi herbisida, dan menguasai cara memperbaiki alat semprot, kalau terjadi kerusakan kecil.
d) Karena pemakaian karyawan penyemprot yang sangat sedikit dibandingkan dengan cara manual, cara kimiawi mungkin dapat mengakibatkan terjadinya banyak pengangguran. Namun hal ini dapat diatasi dengan memindahkan karyawan tersebut kebidang kegiatan lain, antara lain memanen dan membersihkan parit drainase.
Dalam perkembangan teknologi pengendalian gulma selanjutnya ternyata pengendalian tanpa herbisida kurang mendapat perhatian baik oleh pakar maupun praktisi, karena kurang mengundang inovasi teknologi.Sedangkan pengendalian gulma dengan herbisida banyak memperoleh perhatian karena lebih mengundang inovasi teknologi dan menyangkut kelayakan ekonomi (Sukman dan Yakup, 2002).
2.6 Pemeliharaan Piringan dan Gawangan
Gawangan adalah areal yang terdapat di luar piringan pokok dan pasar.
Areal ini harus dikendalikan dari gulma jahat yang menjadi penghambat tanaman pokok, tanaman inang hama serta menciptakan kondisi yang tidak terlalu lembab, hingga penyerbukan tandan dapat lebih lancar dan penyakit tidak berkembang. Disamping itu juga , akan memberikan peluang cahaya matahari masuk ke permukaan tanah (Lubis, 2008).
18
Berikut beberapa jenis gulma dan tindakan pengendaliannya di perkebunan kelapa sawit :
Table 2.2 Klasifikasi gulma dan tindakan pengendaliannya No. Tindakan
dilakukan Nama botani (nama lokal) Kerugian yang ditimbulkan
1.
Pemberantasan di piringan jalan
pikul, dikendalikan di
gawangan
Cyclosorus aridus (pakis kadal) Pesaing
Nephlorepis biserata (paku harupat) Pesaing
Ottochloa nodosa (rumput sarang
buaya) Pesaing
2. Pemberantasan di piringan
Axonopus sp. (paitan) Pesaing/penghambat Eluesine indica (rumput belulang) Pesaing/penghambat Paspalum sp. (paitan) Pesaing/penghambat Borreria latifolia (kentangan) Pesaing/penghambat Eluesine valerianifoilia (sintrong) Pesaing/penghambat Digitaria sp. (genjoran) Pesaing/penghambat Cyrtococcus sp. (rumput kretekan) Pesaing/penghambat Panicum trigonium (parit-paritan) Pesaing/penghambat Gleichemia zinearis (pakis amdan) Pesaing/penghambat Sumber : Tobingdan Lubis (1992) dalam Lubis (2008).
Sasaran pengendalian dan perawatan tanaman menghasilkan adalah pada piringan pokok (bokoran), pasar pikul dan gawangan.Bokoran sebagai tempat penyebaran pupuk dan tempat jatuhnya tandan yang dipanen perlu dibersihkan secara teratur. Piringan yang melingkari batang pada tanaman menghasilkan mempunyai lebar atau jari-jari sebesar 2,25-2,50 meter (Lubis, 2008).
19
BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1
Tempat dan WaktuPenelitian telahdilaksanakan pada Afdeling 1 Kebun Batang Serangan PT.
Perkebunan Nusantara II.Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan Mei sampai Juli 2017.
3.2
Desain PenelitianMetode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian analisa deskriptif yaitu dengan mengumpulkan data sekunder dan wawancara.
3.3
Pengamatan PenelitianPengamatan yang diteliti meliputi :
1. Informasi kebun, luas areal dan curah hujan pada tahun 2015-2016.
2. Data biaya pemeliharaan piringan pasar pikul dan gawangan mati kebun kelapa sawit secara kimia pada tahun 2015-2016.
Komponen yang diamati : a. Norma Tenaga
b. Biaya Bahan
3. Pengamatan jenis-jenis gulma dilapangan
20
3.4
Bagan Alur PenelitianMULAI
SURVEI LOKASI
PERSIAPAN PENELITIAN
PENGUMPULAN DATA & INFORMASI
ANALISA DATA
HASIL DAN PEMBAHASAN
SELESAI
21 BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Informasi dan Sejarah Kebun
Kebun Batang Serangan di buka pada tahun 1910, yang dikelola oleh pemerintah Belanda dengan nama Perusahaan NV BDM (Bereningde Deli Maatscappijen). Pada tahun 1958 pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengambil alih perusahaan tersebut dan diberi nama PPN BARU (Pusat Perkebunan Negara Baru). Peralihan dan pergantian Nama Perusahaan Kebun Batang Serangan dapat disampaikan sebagai berikut :
Pada tahun 1910 : NV. Berenigde Deli Maatscappijen (NV. BDM)
Pada tahun 1958 : Menjadi Pusat Perkebunan Negara BARU (PPN Baru)
Pada tahun 1961 : Menjadi Pusat Perkebunan Negara (PPN) SUMUT–II
Pada tahun 1963 : Menjadi Pusat Perkebunan Negara (PPN)KARET –II
Pada tahun 1969 : Menjadi Pusat Negara Perkebunan (PNP) Karet – II
Pada tahun 1976 : Menjadi PT. Perkebunan – II (Persero)
Pada tahun 1996 : Menjadi PT. Perkebunan Nusantara – II (Persero) Kebun Batang Serangan merupakan salah satu unit kebun PT. Perkebunan Nusantara –II dibawah Distrik Rayon Utara yang berkedudukan di Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat dengan luas areal HGU 3.057,58 Ha.Mengelola kebun Kelapa Sawit dan Karet.
Letak geografis Kebun Batang Serangan berada pada 98º 2´ Bujur Timur dan 4º 2´ Lintang Utara, dengan rincian sebagai berikut :
Jenis Tanah : Aluvial Podsolik
Ketinggian/Elevasi : ± 25 Dpl (Dari permukaan laut)
Topografi : 97% Rata/datar dan 3% bergelombang
Golongan Iklim : Type B (S Furguson)
Curah Hujan : Rata-rata 2.100 – 3.250 mm/ tahun
Jumlah Hari Hujan : Rata-rata 90 – 150 Hari hujan
Jarak dari Medan : 98 (Sembilan puluh Delapan Km)
22 4.1.1 Luas Areal
Berdasarkan data yang telah di temukan di Afdeling I yang merupakan lokasi pengamatan yang dilakukan memiliki luas areal 139,28 Ha, yang terdiri dari tahun tanam 1994, 2001, 2002,2004, dan 2009. Diskripsi blok dan luas areal Afdeling I dapat dilihat lebih jelas pada tabel 4.1 dibawah ini :
Tabel 4.1 Luas Areal Afdeling I Kebun Batang Serangan PTPN II.
Afd Komposisi Tahun
Tanam Blok Luas (Ha) Jlh.Pk Pk/ha
I
TM K. SAWIT
1994 A 1,95 210 108
2001
1 4,83 576 119
2 18,74 2.279 122
3 17,22 2.137 124
4 2,75 322 117
5 13,71 1.743 127
6 19,47 2.349 121
7 17 2.091 123
Jumlah 93,72 11.497 123
2002 8 26,67 3.236 121
2004 9 5,25 618 118
2009 1 11,69 1.427 122
2013
1 14 1.909 136
2 13,8 1.904 138
3 15,5 2.139 138
4 22 3.036 138
5 12,3 1.693 138
6 29,58 4.064 137
7 7,6 1.028 135
8 10 1.338 134
9 18,34 2.451 134
Jumlah 143,12 19.562 137
TBM K.
SAWIT 2014
1 13,57 1.940 143
2 23,99 3.430 143
3 24,96 3.570 143
Jumlah 62,52 8.940 143 TM
KARET 2008 - 221,57 - -
AREAL LAIN-
LAIN
- - 69,81 - -
Total Afd. I 636,30 45.490 130
Sumber :Kantor Kebun Batang Serangan PTPN II
23
Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa Afdeling I Kebun Batang Serangan memiliki luas secara keseluruhan 636,30 Ha dengan 7 jenis tahun tanam untuk areal kelapa sawit, mulai dari tahun tanam 1994, 2001, 2002, 2004, 2009, 2013 dan 2014. Areal atau blok yang memiliki luasan tertinggi terdapat pada blok A6 Tahun tanam 2013 dengan luasan 29,58 Ha dengan jumlah pokok produktif 4064 pohon. Sedangkan areal atau blok dengan luasan terkecil adalah Blok A Tahun tanam 1994 dengan luasan yaitu 1,95 ha dan jumlah pokok 210 pohon. Adapun luas areal Tanaman Menghasilkan kelapa sawit di Afdeling I Kebun Batang Serangan adalah sebesar 139,28 Ha.
4.2 Curah Hujan
Curah hujan merupakan salah satu faktor yang penting dalam keberhasilan perkebunan kelapa sawit. Tanaman membutuhkan air untuk proses fisiologi seperti fotosintesis, respirasi, transpirasi,dan transportasi unsur hara mineral dan hasil fotosintesis ke seluruh jaringan tanaman.
Berikut dapat dilihat pada tabel 4.2 tentang data curah hujan dan hari hujan di Afdeling I kebun Batang Serangan PTPN II tahun 2014 sampai dengan 2017.
Tabel 4.2 Data Curah Hujan dan Hari Hujan di Afdeling I Kebun B. Serangan
Bulan
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Rata-rata Tahun 2017
HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm) HH CH
(mm)
Januari 3 4 12 270 7 87 7 120 14 227,5
Februari 2 28 2 28 10 78 5 45 11 78,5
Maret 4 67 5 60 3 8,5 4 45 17 241,5
April 13 142 14 109 6 67 11 106 11 150,5
Mei 11 217 13 226 8 205 11 216 15 362
Juni 9 175 9 179 14 262,5 11 206 8 291
Juli 5 170 7 127 16 200 9 166 - -
Agustus 16 401 15 164 13 154 15 240 - -
September 14 276 14 222 21 440 16 313 - -
Oktober 17 273 18 243 18 369 18 295 - -
November 10 152 24 214 19 263 18 210 - -
Desember 17 238 12 162 17 304 15 235 - -
Jumlah 121 2143 145 2004 152 2438 140 2197 76 1351
Rata-rata 10,08 178,6 12,08 167 12,66 203,2 12 183 12,67 225,17
24
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah curah hujan rata-rata yang terjadi dari tahun 2014 sampai dengan 2016 adalah 140 hari dan sebanyak 2197 mm per tahun. Adapun jumlah Curah Hujan Tertinggi terjadi pada tahun 2016 adalah sebanyak 2438 mm dan terendah pada tahun 2015 dengan curah hujan sebanyak 2004 mm.
Bila disesuaikan dengan kriteria karakteristik kesesuaian lahan mineral untuk tanaman kelapa sawit maka curah hujan di Afdeling I termasuk dalam intensitas tanpa pembatas, karena Kelas Kesesuaian Lahan (KKL) tanpa pembatas memiliki curah hujan yang berkisar antara 1.750-3.000 mm /tahun.
Untuk melihat lebih jelas dapat kita lihat pada gambar 4.1 di bawah ini :
Gambar 4.1 Grafik rata-rata Curah hujan di Afdeling I Kebun Batang Serangan
Dari gambar grafik rata-rata curah hujan di Afdeling I PTPN II Kebun Batang Serangan diatas, maka rata-rata curah hujan tertinggi tahun 2014-2016 terjadi pada bulan Oktoberyaitu sebanyak313 mm dan rata-rata curah hujan terendah terjadi pada bulan Februari dan Maret yaitu sebanyak 45 mm. Sedangkan rata- rata curah hujan tertinggi pada tahun 2017 terjadi pada bulan Mei yaitu sebanyak 362 mm dan rata-rata curah hujan terendah terjadi pada bulan
0 50 100 150 200 250 300 350 C 400
u r a h
h u j a n
2014-2016 2017 (m
m)
J F M A M J J A S O N D Bulan
25
Februari yaitu sebanyak 78,5 mm. Maka dapat disimpulkan curah hujan rata- rata tahun 2017 lebih besar dibandingkan dengan tahun 2016. Di bawah ini akan disajikan tentang grafik hari hujan yang terjadi di Afdeling I Kebun Batang Serangan :
Gambar 4.2 Grafik rata-rata Hari hujan di Afdeling I Kebun Batang Serangan
Dari gambar grafik rata-rata hari hujan di Afdeling I PTPN II Kebun Batang Serangan diatas, maka rata-rata hari hujan tertinggi pada tahun 2014-2016 terjadi pada bulan Oktober dan Novemberyaitu sebanyak 18 hari, sedangkan rata-rata hari hujan terendah terjadi pada bulan Maret yaitu sebanyak 4 hari.
Sedangkan hari hujan tertinggi tahun 2017 terjadi pada bulan Maret yaitu sebanyak 17 hari dan hari hujan terendah terjadi pada bulan Juni yaitu sebanyak 8 hari. Maka dapat kita simpulkan bahwa jumlah hari hujan tahun 2017 dari bulan Januari sampai dengan Juni lebih tinggi dari rata-rata hari hujan tahun 2014-2016.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
h a r i
2014-2016 2017
J F M A M J J A S O N D Bulan
26
4.3Jenis Gulma dan Herbisida yang digunakan
Berikut uraian tentang jenis-jenis gulma yang terdapat di PTPN IIkebun Batang Serangan afdeling 1 adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Jenis-jenis gulma di perkebunan
No. Nama
Indonesia Jenis Gulma
Gulma yang umum di
Kebun
Gulma di Afdeling 1
Kebun B.
Serangan
1. Bandotan Ageratum conyzoides √ √
2. Lalang Imperata cylindrica √ √
3. Paku harupat Nephrolepsis biserrata √ √
4. Tembelekan Lantana camara √ -
5. Pulutan Urena lobata - √
6. Pakis kawat Ischaemum muticum √ √
7. Keladi sente Alocasia macrorrhiza √ √
8. Kretekan Cyrtococcum
accrescens √ √
9. Rumput paitan Paspalum conjugatum √ √
10. Jukut pahit Axonopus compressus √ √
11. Teki Cyperus rotundus √ √
12. Rerumputan Cynodon dactylon √ √
Sumber : Data kebun Batang Serangan
Pada tabel 4.3 tersaji beberapa gulma yang berada di perkebunan pada umumnya. Dari hasil observasi yang saya lakukan di Afdeling I Kebun Batang Serangan didapatkan hasil hampir semua gulma yang umum dikebun dijumpai kecualijenis gulma Lantana camara. Untuk jenis gulma Urena di jumpai dikebun tetapi tidak terdaftar pada jenis gulma yang umum.Untuk lebih jelasnya tentang gulma yang terdapat di afdeling 1 adalah sebagai berikut :
27
Gambar 4.4Nephrolepis biserrata (Paku harupat)
Gambar 4.3Ageratum conyzoides(Bandotan)
Gambar 4.5Paspalum conjugatum Gambar 4.6Urena lobata (Rumput paitan) (Pulutan)
Gambar 4.7Alocasia macrorrhiza Gambar 4.8Ischaemum
(Keladi sente) muticum(Pakis kawat)
28
Gambar 4.10Axonopus compressus (Jukut pahit)
Gambar 4.9Cyrtococcum accrescens (Kretekan)
Sumber : Lapangan afdeling 1 Kebun Batang Serangan
Adapun jenis herbisida yang digunakan untuk pengendalian gulma di Afdeling 1 Kebun Batang Serangan PT. Perkebunan Nusantara II ini adalah herbisida yang berbahan aktif Glifosat untuk pekerjaan menyiang kimia dan usap lalang.Sedangkan herbisida berbahan aktif Paraquat digunakan untuk pengendalian gulma anak kayuan. Adapun bahan aktif lain yang digunakan untuk kegiatan pengendalian gulma di Kebun Batang Serangan adalah Metil Metsulfron.
29
4.4 Alat Aplikasi Penyemprotan (Knapsack Spyayer)
Alat yang digunakan untuk kegiatan pengendalian gulma di Kebun Batang Serangan menggunakan knapsack sprayer dengan spesifikasi sebagai berikut :
Gambar 4.11 Knapsack Sprayer Spesifikasi alat semprot :
Isi : 15 liter Nozzle : Polijet biru Flow rate : 1500 cc/menit Lebar Semprot : 1,65 meter
VLV : 200 L/Ha
4.4.1 Kelebihan Menggunakan Knapsack Sprayer
1. Dengan menggunakan knapsack sprayer, waktu yang dibutuhkan relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan cara manual.
2. Penggunaan tenaga kerja yang dibutuhkan relatif lebih sedikit.
30
4.5 Norma-norma untuk kegiatan pengendalian gulma di Kebun Batang Serangan
Berikut norma-norma pengendalian gulma yang secara kimia yang digunakan di afdeling 1 Kebun BatangSerangan :
Tabel 4.4Norma Menyiang Kimia di Afdeling I Kebun Batang Serangan Jenis Pekerjaan Tenaga Rotasi
Bahan Glifosat Metil
Metsulfuron 1. Menyiang kimia
(Piringan dan Pasar Pikul)
0,40
Hk/Ha 4x/Tahun 0,40 L/Ha 15gr/Ha
Tabel 4,5Norma Usap Lalang di Afdeling I Kebun Batang Serangan Jenis Pekerjaan Tenaga Rotasi Bahan
(Glifosat) 2. Usap Lalang
(gawangan mati)
0,20
Hk/Ha 3x/Tahun 20 cc/Ha
Tabel 4,6Norma Semprot Anak Kayuan di Afdeling I Kebun Batang Serangan Jenis Pekerjaan Tenaga Rotasi
Bahan Paraquat Metil
Metsulfuron 3. Semprot Anak
Kayuan (gawangan mati)
1 Hk/Ha 3x/Tahun 0,50 L/Ha 25 gr/Ha
31
4.6 Menyiang Secara kimiadi Piringan dan Pasar Pikul
Kegiatan menyiang piringan dan pasar pikul pada tanaman menghasilkan bertujuan untuk membersihkan tumbuhan penggangu yang tumbuh di piringandan pasar pikul dengan bertujuan untuk menghindari persaingan unsur hara oleh gulma dengan tanaman utama, memudahkan pemanenan, mengoptimalkan sasaran pemupukan serta memudahkan fungsi pengawasan.
Kegiatan menyiang kimia gulma dipiringan dan pasar pikul menggunakan bahan kimia herbisida berbahan aktif Glifosat, dengan dosis sebanyak 0,40liter/Ha, dan menggunakan Metil metsulfuron dengan norma 15 gr/Ha dengan kebutuhan air sebanyak 240 Liter/Ha. Adapun alat semprot yang digunakan adalah alat semprot gendong (Knapscak sprayer) isi 15 liter.
Gambar 4.12 Kondisi Gulma piringan dan pasar pikul
4.7 Pengendalian Gulma di Gawangan Mati 4.7.1 Mengusap Lalang
Pengendalian dilakukan denganmengusap lalang untuk mencegah menyebarnya pertumbuhan lalang diareal dengan sistem menyapu/ melap daun lalang dengan menggunakan larutan herbisida berbahan aktif Glifosat dengan dosis 20 cc/Ha yang dicampurkan dengan air sebanyak 1-2 liter.
32 4.7.2 Semprot Anak kayuan
Semprot anak kayuan dilakukan pada areal gawangan mati Tanaman Menghasilkan kelapa sawit. Pengendalian dilakukan secara kimiadengan menggunakan campuran herbisida paraquat dengan dosis 0,50 L/Ha danMetil metsulfuron dengan dosis 25 Gr/Ha yang dilarutkan dengan air sebanyak 1,5- 2,5 liter.Alat semprot yang digunakan Knapsack sprayer isi 15 liter.
Gambar 4.13 Kondisi gulma di gawangan
33
Tabel 4.7 Pembanding Rekomendasi Pengendalian Gulma dan Dosis Bahan Kimia/Ha
Pada tabel 4.7 terlihat bahwa penggunaan jenis dan dosis herbisida di kebun Batang Serangan sama dengan Kebun Pembanding II dan III, walaupun jenis gulma yang dikendalikan berbeda, hanya Ilalang I. cylindrica yang sama.
Sedangkan Kebun Pembanding I dan III tidak menggunakan Ally.Dandapat diketahui juga dari tabeldiatas bahwa jenis-jenis gulma di setiap kebun berbeda.
Tabel 4.8 Pembanding Rekomendasi Bahan Kimia dan Tenaga Kerja/Ha Mengusap Lalang
Pembanding Pengunaan Bahan Kimia dan Tenaga Kerja/Ha pada PTPN II Jenis Pekerjaan Mengusap Lalang
Bahan Kimia Batang Serangan Pembanding
Kebun I Kebun II Kebun III 1. Glifosat 20 cc/Ha 20 cc/Ha 20 cc/Ha 20 cc/Ha
Total Hk/Ha 0,20 Hk/Ha 0,2 Hk/Ha 0,20 Hk/Ha 0,25 Hk/Ha No.
Pembanding Rekomendasi Herbisida untuk Pengendalian Gulma di Perkebunan Pada Tanaman Kelapa Sawit
Kebun Batang Serangan
Herbisida/Ha Kebun I Herbisida/Ha Kebun II Herbisida/Ha Kebun III Herbisida/Ha
1. Imperata cylindrical
Glifosat 0,40 Liter + Metil metsulfuron
15 gr
Imperata cylindrica
Glifosat 0,40 Liter
Imperata cylindrica
Glifosat 0,40 Liter + Ally
15 gr
Imperata cylindrica
Glifosat 0,60 Liter 2. Ageratum
conyzoides
Cyperus rotundus
Mikania micrantha
Ageratum conyzoides
3. Paspalum conjugatum
Ageratum conyzoides
Clidemia hirta
Mikania mikrantha
4. Axonopus compressus
Clidemia hirta
Borreria latifolia
Cyperus rotundus
5. Cyrtococcum Accrescens
Lantana camara
Axonopus compressus
Gleichenia linearis