i
Skripsi
Disusun oleh:
Nama : Adityo Dwi Ismoyo No. Mhs : 142110085
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAIIIAN
PENGARUH Cθ
θD CO避
θん4rE Cθレτ膨 Ⅳ℃E DAN ttEレ死翌ИGE TERIIADAP IttNENA KEUANGAN PERBANKAN
KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Pendamping
(Dra. Sri Luna (Dian Indri P, SE,M.Si.,Akt)
Ketua l
Disusun Oleh:
ADITYO DW1lSi預 OY0
1辱2110085
Telah discttliui dengan balk工V^―・
“ ニツVしヽり“
二VV・ `0‐・・・ Vい 睾ヽ
Yogyak山,4 Mei2015
TEREADAP KNENA KEUANGAN PERBANKAN
KOHVENS10NAL YANG TERDIA「 FAR DIBURSA EFEK INDONESIA
Telah dinyatakan tel山
memenuhi memperoleh gelar
/4
(Dra.Sri Luna Murdi ,Mo Si,AD oian hdd P,SE,MoSi。 ,Akt3
Dosen Penguji II
Doscn PcngttI I
呵 1に
(Sri Astuti,S.E.,MoSi.)
一
(Zuhrotun, S.E., M.Si.)
SURAT PERNYATAAN KEASL:AN SKR:PSi
Saya yang bertanda t.rngan di bawah ini :
Nama
:Adityo Dwi lsmoyoNo.
Mhs
: 142110085Judul Skripsi : Pengaruh Penerapan Good Corporate Governonce dan Leverage Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan
Konvensional di Bursa Efek lndonesia : (Periode 2010 - 2013).
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul di atas adalah benar- benar asli karya tulrs saya dan sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya yang pernah ditulis atau
diterbitkan orang lain, keecuali yang tertulis dikutip dalam skripsi
ini
dan disebutkan dalam surnber kutipan dan daftar pustaka.Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya
peroleh dibatalkan, serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Yogyakarta, 28 April 2015 Yang memberikan pernyataan,
V
“Dimana ada kemauan disitu ada jalan “
“Usaha keras tidak akan menghianati”
“kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan “
“Lebih baik mencoba, gagal , dan belajar sesuatu
daripada tak pernah mencoba dan tidak tahu apa-apa”
Vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan khusus buat:
1. Orang tua saya, (YATIMIN, AMD, S. SOS dan SUMARTINI) tercinta yang selalu memberikan cinta dan kasih sayangnya secara tulus telah mengurus, membesarkan, mendidik penulis hingga sekarang ini serta memberikan semangat dan doa yang tiada henti-hentinya kepada saya untuk mencapai kesuksesan masa depan menjadi anak yang sholehah, sehat lahir batin dan selamat dunia akhirat, semoga penulis selalu mendapat ridho mereka dan dapat berbakti kepadanya.
2. Kakak MENIK PURWANDARI ASTUTI dan adik ASTRI WIDYASTUTI yang selalu memberikan dukungan, motivasi, dan doa yang tulus kepada penulis, semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa melindungi dan memberikan kebahagiaan kepada mereka.
3. Orang terdekat yang spesial, BRIYAN APRILIA yang selalu ada, selalu menemani saya dalam pembuatan skripsi ini.Terimakasih atas pengertian, dukungan, batuan, doa, waktu, dan kasih sayangnya kepada saya.
4. Mas DEDY, dan Mas boges yang selalu meluangkan waktunya untuk berdiskusi dalam pembuatan skripsi ini.
5. Sahabat-sahabat saya (IQBAL, WINAR SENO, SANDY ,IJUL, DAN WIGUSTA) yang selalu memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan saya.
6. Teman-Teman HIMASI periode 2014/2015 (YOGI, ANDITH, AGUNG, WIGUSTA, TYO, DANY) dan semua keluarga baruku di HIMASI, adek angkatan 2012 dan 2013.
7. Teman-teman angkatan 2011 serta teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Vi
Yogyakarta, 28 April 2015
Adityo Dwi ismoyo
Vii
ABSTRAK
Corporate governance sampai saat ini masih menjadi masalah besar pasca-periode krisis keuangan di pasar yang berkembang Asia seperti Indonesia.
apalagi, lembaga keuangan telah menerapkan reformasi tata kelola perusahaan untuk meningkatkan perlindungan kepentingan pemegang saham dan stakeholder.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tata kelola perusahaan dan kinerja keuangan dalam sektor perbankan .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mekanisme penerapan good corporate governance dan leverage terhadap kinerja keuanagan perbankan dan Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu. Perbedaan penelitian terletak pada perubahan kerangka pemikiran teoritis. Variabel independen dari penelitian ini adalah good corporate governance (dewan komisaris, komisaris independen, dewan direksi,kepemilikan institusional, dan leverage ). Variabel dependen penelitian ini adalah kinerja keuangan (CFROA). Sampel dari penelitian ini adalah perusahaan perbankan umum yang berada di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2010-2013. Data penelitian ini berasal dari laporan tahunan bank (annual report) periode 2010-2013 yang didapat dari website Bursa Efek Indonesia, Direktori Perbankan Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda sesuai dengan tujuan penelitian yang menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Metode purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel pilihan. Dari metode ini, didapatkan 29 sampel bank umum dengan tahun pengamatan adalah empat tahun berurut, sehingga diperoleh sampel sebanyak 116 sampel.
Hasil analisis menemukan bahwa pertama, dewan komisaris dan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan. Kedua, dewan direksi, kepemilikan institusional, dain leverage berpengaruh terhadap kinerja perbankan.
Kata Kunci: dewan komisaris, komisaris independen, dewan direksi,kepemilikan institusional, leverage dan kinerja keuangan (CFROA).
Viii
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat-Nya dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya, yang merupakan suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat yang ditetapkan dalam rangka mengakhiri studi pada jenjang Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
Penulis juga menyadari bahwa, penelitian ini tidak luput dari jasa lembaga dan orang-orang tertentu yang telah membantu penulis, baik moril maupun materil. Maka pada kesempatan ini, izinkanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya khusus kepada:
1. Allah SWT, yang telah memberikan karunia dan hidayah akan pikiran, kasih sayang atas segala kemudahannya.
2. Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing umatnya.
3. Dra.Sri Luna Murdianingrum, M.Si., Ak selaku Dosen Pembimbing I yang senantiasa ikhlas untuk meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan dan arahan selama penyusunan skripsi.
4. Dian Indri P, SE, M.Si., Akt selaku Dosen Pembimbing II penulis ucapkan terima kasih yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi petunjuk
Viii
dan kebaikan, yang telah membantu penulis dalam meyelesaikan skripsi ini dengan baik.
5. Ibu Sri Astuti, S.E., M.Si selaku dosen penguji I dan Ibu Zuhrotun, S,E., M.Si selaku dosen penguji II, terima kasih telah memberikan masukan dan saran untuk penyempurnaan skripsi ini.
6. Ibu Dwi Sudaryati, SE, Akt, M.Acc selaku dosen wali saya yang selalu meberikan arahan buat saya.
7. Seluruh dosen pengajar di Fakultas Ekonomi yang telah memberikan bekal ilmu bagi penulis, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat sehingga menjadi amal kebaikan bagi kita semua.
8. Seluruh staff pengajaran dan TU, terima kasih atas pelayanannya selama ini
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan. Dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan saran, arahan maupun kritikan demi penyempurnaan hasil penelitian ini. Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, bagi pengembangan diri penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Akhirnya segala urusan pasrah-tawakallan kepada Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Yogyakarta, 28 April2015
Adityo Dwi ismoyo
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...i
LEMBAR PENGESAHA...ii
LEMBAR BERITA ACARA...iii
SURAT PERNYATAN...iV HALAMAN MOTO...V HALAMAN PERSEMBAHAN...Vi ABSTRAKSI...Vii KATA PENGANTAR...Viii DAFTAR ISI...iX DAFTAR TABEL...Xiii DAFTAR GAMBAR...XiV DAFTAR LAMPIRAN...XV BAB I. PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang Masalah...1
1.2. Perumusan Masalah...8
1.3. Tujuan Penelitian ...8
1.4. Manfaat Penelitian...9
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...10
2.1. Tinjauan Teori...10
2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)...10
x
Perbankan...19
2.1.5. Tingkat Leverage Perusahaan...23
2.1.6. Pengertian Bank...27
2.1.6.1. Jenis Bank Berdasar Fungsinya...27
2.1.6.2. Jenis Bank Berdasar Kepemilikannya...28
2.1.6.3. Jenis Bank Berdasar Kegiatan Oprasionalnya...29
2.1.7. Kinerja Bank...32
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu...37
2.3. Kerangka Koneptual...40
2.4. Hipotesis Penelitian...41
2.4.1. Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kinerja keuangan perbankan...41
2.4.2. Pengaruh komisaris independen terhadap kinerja keuangan perbankan...42
2.4.3. Pengaruh dewan direksi terhadap kinerja keuangan perbankan...43
2.4.4. Pengaruh kepemilkan institusional terhadap kinerja keuangan perbankan...43
2.4.5. Pengaruh leverage terhadap kinerja keuangan perbankan...44
xi
BAB III. METODE PENELITIAN...45
3.1. Rancangan Penelitian...45
3.2. Populasi dan Sampel...45
3.3. Variabel Penelitian dan Operasionalisasi Variabel Penelitian...46
3.3.1. Variabel Dependen...46
3.3.2. Variabel Independen...47
3.3.2.1. Dewan Komisaris (DK)...48
3.3.2.2. Komisaris Independen (KI) ...48
3.3.2.3. Jumlah Anggota Dewan Direksi (DD)...49
3.3.2.4. Kepemilikan Institusional (KPI)...49
3.3.2.5. Leverage(L)...50
3.2. Sumber Data...51
3.3. Model dan Teknis Analisis Data...51
3.5.1. Uji Asumsi Klasik...52
3.5.1.1.Uji Normalitas...52
3.5.1.2. Uji Multikolinearitas...53
3.5.1.3.Uji Autokorelasi...53
3.5.1.4. Uji Heteroskedastisitas...54
3.6. Analisis Linier Berganda...54
3.7. Pengujian Hipotesis...56
3.7.1. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)...56
xii
4.2. Analisis Statistik Deskriptif...59
4.3. Uji Normalitas...62
4.4. Pengujian Asumsi Dasar Klasik...63
4.4.1. Uji Multikolinieritas...63
4.4.2. Uji Autokorelasi...64
4.4.3. Uji Heteroskedastisitas...65
4.5.Analisis Regresi Berganda...66
4.5.1. Interprestasi Persamaan Regresi...67
4.5.2. Pengujian Hipotesis...68
4.5.2.1. Koefisien Determinasi (R2)...68
4.5.2.2. Uji Statistik F...69
4.5.2.3. Uji t...70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...76
5.1. Kesimpulan...76
5.2. Keterbatasan Penelitian...77
5.2. Saran...77
DAFTAR PUSTAKA...79
LAMPIRAN...84
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 36
Tabel 4.1 Perincian Perhitungan Sampel ... 58
Tabel 4.2 Statistik Deskriptif ... 60
Tabel 4.3 Uji Normalitas (Sebelum Uji Outlier)... 61
Tabel 4.4 Uji Normalitas (Setelah Uji Outlier) ... 62
Tabel 4.5 Uji Multikolonieritas... 63
Tabel 4.6 Uji Autokorelasi... 64
Tabel 4.7 Uji Heteroskedastisitas... 65
Tabel 4.8 Analisis Linier Berganda ... 66
Tabel 4.10 Koefisien Determinasi (R²) ... 67
Tabel 4.9 Uji F ... 68
Tabel 4.11 Uji t ... 69
xiv
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran... 40
xv
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 DAFTAR PERUSAHAAN PERBANKAN
LAMPIRAN 2 TABULASI DATA PERUSAHAAN PERBANKAN (Sebelum Outlier)
LAMPIRAN 3 TABULASI DATA PERUSAHAAN PERBANKAN (Setelah Outlier)
LAMPIRAN 4 Hasil Uji Deskriptif
LAMPIRAN 5 Uji Normalitas (Sebelum Outlier) LAMPIRAN 6 Uji Normalitas (Setelah Outlier) LAMPIRAN 7 Uji Multikolinieritas
LAMPIRAN 8 Uji Autokolerasi LAMPIRAN 9 Uji Hipotesis LAMPIRAN 10 Hasil Uji T
1 1.1 Latar Belakang Masalah
Isu mengenai corporate governance muncul sebagai reaksi terhadap berbagai kegagalan akibat dari buruknya tata kelola perusahaan. Krisis corporate goovernance pertama terjadi sekitar pada tahun 1700 dan semakin mendapat perahatian besar di Asia sejak terjadinya krisis finansial pada pertengahan tahun 1997 Nababan (2012). Lemahnya penerapan prinsip corprate governance diyakini sebaga penyebab kerawanan ekonomi yang menyebabkan memburuknya kondisi pereknomian diberbagai negara Asia termasuk Indonesia.
Corporate governance merupakan salah satu elemen kunci dalam upaya untuk meningkatkan efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, dewan direksi, para pemegang saham, kreditor, pemerintah, karyawan, dan stakeholder internal dan eksternal yang lain yang sesuai dengan tanggungjawabnya.
Masalah yang dihadapi dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance telah terjadi Indonesia, seperti pada tahun 2008 menjadi awal terkuaknya kasus Bank Century hingga menjadi perbincangan hangat dikalangan publik dan penyidik. Pada 30 Oktober dan 3 November 2008, ditemukan berbagai surat berharga valuta asing yang telah jatuh tempo dan gagal bayar hingga mencapai angka jutaan Dollar Amerika. Sementara itu, Bank Century mengalami
2
kesulitan likuiditas. Kasus Bank Century semakin rumit dengan kegagalan kliring akibat kegagalannya menyediakan dana (prefund) yang akhirnya, membuat LPS (lembaga penjamin simpanan) memutuskan memberikan talangan dana guna mendongkrak CAR (capital adequacy ratio). Maka akhirnya LPS merealisasikan janjinya dengan memberikan suntikan dana kepada Bank Century demi memenuhi tingkat kesehatan bank. Setelah mendapatkan suntikan dana dari LPS, kasus Bank Century tidak selesai begitu saja. Bank Century mulai mendapatkan berbagai tuntutan dari ribuan Investor terkait penggelapan dana investasi triliun rupiah yang dialirkan ke kantung pemilik Bank Century itu sendiri. Seperti yang disebutkan, kasus Bank Century begitu banyak menyita perhatian dengan adanya dugaan korupsi serta suap dalam usaha menyelamatkan Bank Century.
. Dilihat dari faktor penyebabnya, krisis Ekonomi global pada saat ini berbeda dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih kurang satu dasawarsa lalu, yang mana pada saat itu krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih disebabkan oleh ketidakmampuan Indonesia menyediakan alat pembayaran luar negeri, dan tidak kokohnya struktur perekonomian Indonesia, tetapi krisis keuangan global pada tahun 2008 ini berasal dari faktor-faktor yang terjadi di luar negeri. Tetapi kalau kita tidak hati-hati dan waspada dalam menyikapi permasalahan ini, tidak mustahil dampak krisis keuangan global pada tahun 2008 ini akan sama atau bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan dampak dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Menurut Suhadak (2012) Penerapan Good Corprate Governance (GCG) dibutuhkan untuk menjaga konsistensi dan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah perusahaan, yang memang seharusnya
memberikan perlindungan efektif bagi para pemegang saham dan investor.
Corporate governance merupakan salah satu topik pembahasan sehubungan dengan semakin banyaknya publikasi tentang kecurangan (fraud) maupun keterpurukan bisnis yang terjadi akibat kesalahan yang dilakukan oleh para eksekutif manajemen, maka hal ini menimbulkan suatu tanda tanya tentang kecukupan (adequacy) corporate governance. Begitu juga dengan kredibilitas proses penyusunan laporan keuangan perusahaan dipertanyakan, oleh karena itu adalah suatu hal yang wajar dan penting bagi semua pihak yang terkait dengan proses penyusunan laporan keuangan untuk mengupayakan mengurangi bahkan menghilangkan krisis kepercayaan (credibility gap) dengan mengkaji kembali peranan masing-masing dalam proses penyusunan tersebut.
Sektor perbankan dalam sistem keuangan memegang peranan penting sebagai lembaga intermedias. Perbankan memediasi antara masyarakat yang memeliki kelebihan dana dengan masyarakat yang memeiliki kekurangan dana.
Bank dengan kinerja keuangan yang sehat dan baik sangat di perlukan sehingga fungsinya sebagai intermedasi dapat berjalan lancar, Putri dan I gusti (2013).
Krisis perbankan di indonesia yang di mulai pada akhir tahun 1997 bukan semata- mata diakibatkan oleh krisis ekonomi tetapi juga diakibatkan oleh belum dilaksanakanya good corporate governance dan etika yang melandasinya.
Sesuai dengan undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentatang perbankan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang nomor 10 tahun 1998, Bank wajib memelhara kesehatanya Peraturan Perbankan indonesa (2011). Kesehatan Bank yang merupakan cerminan kondisi kinerja keuangan bank merupakan sarana
4
bagi otoritas pengawas dalam menetapkan strategi dan fokus pengawasan terhadap bank.
Penilaian kesehatan bank secara umum telah mengalami beberapa perubahan berawal dari tahun 1999 yaitu CAMEL kemudan ditambah dengan indikator baru menjadi CAMELS hingga saat ini Bank Indonesia (BI) menetapkan RGEC yang telah diatur dalam peraturan nomor 13/1/PBI/2011 tanggal 5 januari 2011 tentang penilaian kesehatan Bank. Melalui RGEC ini BI mengharapkan suatu bank mampu mendeskrpsikan suatu permasalahan lebih dini, melakukan tindak lanjut perbankan secara cepat dan akurat serta menerapkan Good Corprate Governance (GCG) dan manajemen risiko yang lebih baik sehinnga bank akan mampu bertahan menghadapi suatu permasalahan.
Beberapa penelitian mengenai efektivitas penerapan corporate governance telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain : Hafidzah (2013) yang menelti tentang “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index” dengan hasilnya adalah CSR secara parsial tidak Berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, kepemilikan institusional secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan, ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, komisari independen berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, frekuensi rapat dewan komisaris tidak berpengaruh pada kinerja perusahaan, secara parsial frekuensi rapat komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
Karjaya dan Sisdyani (2013) yang meneliti tentang “pengaruh tingkat
pengungkapan CSR dan mekanisme GCG pada kinerja keuangan perusahaan pertambangan“ dengan hasilnya adalah Corporate Social Responsibility berpengaruh positif pada kinerja keuangan perusahaan pertambangan, Dewan komisaris independen tidak berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan pertambangan, kepemilikan institusional tidak berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan pertambangan, kepemilikan manajerial berpengaruh positif pada kinerja keuangan perusahaan pertambangan. Putri dan Damayanti (2013) yang meneliti tentang “Analis perbedan tingkat kesehatan Bank berdasarkan RGEC pada perusahaan perbankan besar dan kecil” yang hasil analsinya menunjukan secara parsial terdapat dua faktor dari empat faktor penilaian tingkat kesehatan bank yang tidak signifikan yaitu faktor rentabilitas dan permodalan Sedangkan dua faktor yang secara statistik menunjukkan adanya signifikansi antara bank besar dan bank kecil yaitu faktor profil risiko dan GCG, penilaian kesehatan bank ditinjau dari faktor RGEC menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kesehatan antara bank besar dan bank kecil. Suhadak dan Hidayat (2012) yang meneliti tentang “Pengaruh penerapan Good Corporate Governance dan kepemilikan Institusonal terhadap kinerja keuangan” dengan hasilnya good corporate governance berpengaruh terhadap ROE, good corporate governance berpengaruh terhadap ROA. Kepemilikan saham oleh institusional pada penelitian ini menunjukan hubungan positif dan berpengaruh terhadap ROE, Kepemilikan saham oleh institusional pada penelitian ini menunjukan hubungan positif dan berpengaruh terhadap ROA.
6
Berdasarkan pemaparan di atas, perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini merupakan replikasi dari penelitia terdahulu yang diteliti oleh Nababan (2012) dengan judul “Pengaruh Penerpan Mekanisme Good Corporate Governance terhadap kinerja keuangan Perbankan Konvensional yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” Pada penelitian ini penulis menambahkan variabel leverage. Alasannya karena terdapat penjelasan tentang hubungan antara struktur modal dengan kualitas corporate governance suatu perusahaan. Pandangan ini menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan cenderung menjadi subjek untuk dikenai pengawasan yang lebih ketat oleh kreditor yang biasanya dinyatakan dalam kontrak utang yang dibuat selain itu tingginya rasio leverage terhadap aset menunjukkan semakin banyak aktiva yang didanai hutang pada pihak luar, dan akan memberikan resiko perusahaan dalam pelunasannya, sehingga semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian kredit dan perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi. Supaya laba yang dilaporkan tinggi maka manajer harus mengurangi biaya-biaya (termasuk biaya untuk mengungkapkan informasi sosial). Dampaknya adalah kecenderungan manajemen melakukan discretionary pada laporan keuangan, yang akhirnya akan menurunkan kinerja keuangan perusahaan Black dkk (2003).
Penelitian tentang corporate governance memang telah banyak dilakukan oleh sebagian besar peneliti, tetapi penelitian tersebut lebih banyak berfokus pada perusahaan-perusahaan non perbankan. Contohnya Hafdzah (2013), Suhadak dan Rustam (2012) yang berfokus pada perusahaan manufaktur saja, dan pada Karjaya
dan Sisdyani (2013) yang terfokus pada perusahaan pertambangan yang listing di BEI dan periode yang terlalu pendek. Di jaman modern ini masyarakat cendrung menyimpan uangnya, dan perusahaan perbankan sebagai perusahaan pemberi jasa penyimpanan uang harus memiliki tata kelola perusahaan yang baik agar dapat memenuhi tanggung jawab atas kepentingan masyarakat sebagai nasabahnya, oleh karena itu penelitian ini akan lebih difokuskan pada kinerja keuangan perusahaan perbankan dengan mengambil judul:
“PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN
LEVERAGE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERBANKAN KONVENSIAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)”
8
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah good corporate governance dalam hal ini yang terdiri dari, Dewan Komisaris, Komisaris Independen, Dewan Direksi, Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan konvensional di Indonesia?
2. Apakah leverage berpengaruh terhadap kinerja keuangan perbankan konvensional di Indonesia?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris mengenai pengaruh penerapan good corporate governance yang terdiri dari; Dewan Komisaris, Komisaris Independen, Dewan Direksi, Kepemilikan Institusional terhadap kinerja keuangan perbankan konvensional di Indonesia
2. Menemukan bukti empiris leverage terhadap kinerja keuangan perbankan di Indonesia.
1.4. Manfaat Peneltian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut
1. Manfaat bagi perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada perusahaan dan para pemegang saham yang ingin menerapkan konsep good corporate governance untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, khususnya bagi perusahaan perbankan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan kepada para pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan.
2. Manfaat bagi akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi teman-teman mahasiswa dan pihak-pihak lain yang akan menyusun skripsi dan penelitian mengenai pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan pada perusahaan perbankan.
3. Manfaat bagi stakeholder
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tambahan kepada para pemangku kepentingan terutama para investor agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat dengan menggunakan informasi tata kelola perusahaan emiten yang bersangkutan.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teori
2.1.1. Teori Keagenan ( Agency Theory)
Teori keagenan (agency theory) merupakan dasar yang digunakan untuk menjelaskan tentang corporate governance.Di dalam teori ini berisi tentang penjelasan mengenai hubungan antara agent (manajer) dan principal (pemilik).Menurut Sari (2010), hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara principal dan agent.Inti dari hubungan keagenan ini adalah terdapat pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Tujuan utama teori keagenan (agency theory) adalah untuk menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak dapat mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisir cost sebagai dampak adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi yang mengalami ketidakpastian. Teori keagenan (agency theory) juga berusaha untuk menjawab masalah keagenan yang disebabkan karena pihak-pihak yang menjalin kerja sama dalam suatu perusahaan mempunyai tujuan yang berbeda, dalam menjalankan tanggung jawabnya dalam mengelola suatu perusahaan.
Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara agent dan principal. Sebagai pengelola perusahaan, agent (manajer) perusahaan tentu akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan, oleh karena itu manajer sudah seharusnya selalu memberikan
sinyal mengenaikondisi perusahaan kepada pemilik.Sinyal yang dapat diberikan oleh manajer yakni melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.laporan keuangan merupakan hal yang sangat penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya.
Adanya ketidakseimbangan penguasaan informasi ini akan memicu munculnya kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Asimetris informasi yang terjadi antara principal (pemilik) dan agent (manajer) ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan informasi antara informasi yang sebenarnya dan tidak sebenarnya yang terjadi di dalam perusahaan. Dengan adanya asimetri informasi antara agent (manajer) dengan principal (pemilik) akan memberi kesempatan kepada manajer untuk melakukan manipulasi data yang terdapat di dalam laporan keuangan yang akan diperiksa oleh principal (pemilik), yang dimana manipulasi data yang dilakukan manajer tersebut bertujuan untuk menguntungkan kepentingan, baik untuk manajer itu sendiri maupun untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.
Corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan (agency theory), yang diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerimareturn atas dana yang telah mereka investasikan. Corporate governance berkaitan dengan keyakinan para investor bahwa agent (manajer) akan memberikan keuntungan bagi mereka, keyakinan bahwa agent (manajer) tidak akan mencuri, menggelapkan bahkan menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak
12
menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para agent (manajer). Dengan kata lain corporate governance diharapkan dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya keagenan (agency cost).
Industri perbankan adalah suatu industri yang sifat-sifatnya berbeda dengan industri lain seperti industri manufaktur, industri perdagangan, dan sebagainya. Perbedaan sifat-sifat yang terdapat dalam industri perbankan tersebut menyebabkan teori keagenan pada perusahaan perbankan mempunyai karakteristik sendiri. Perbankan adalah suatu lembaga perantara keuangan yang menghubungkan antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana, oleh sebab itu maka perbankan adalah industri yang sarat dengan berbagai regulasi. Risiko yang harus dihadapi oleh industri perbankan sangat besar. Industri perbankan diharuskan untuk selalu menjaga kualitas pelayanannya kepada seluruh masyarakat agar likuiditas bank tetap terjaga.
Dengan adanya regulasi yang terdapat di dalam industri perbankan tersebut, mengakibatkan hubungan keagenan yang terjadi di dalam industri perbankan berbeda dengan hubungan keagenan dalam industri lain yang tidak teregulasi .
2.1.2. Pengertian dan Konsep Dasar Corporate Governance
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2006) mendefinisikan corporate governance sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah pada perusahaan secara berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku, sedangkan menurut Forum Corporate Governance In Indonesia (FCGI) (2001), corporate governance adalah sebagai perangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
Corporate governance muncul karena terjadi pemisahan kepemilikan antara principal (pemilik) dengan pengendalian perusahaan oleh agent (manajer), atau seringkali dikenal dengan istilah masalah keagenan.Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal (pemilik) dengan pengendalian perusahaan oleh agent (manajer) dalam sebuah perusahaan, cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara principal (pemilik) dengan agent (manajer). Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan manajer adalah bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih atau diinvestasikan pada proyek yang tidak menguntungkan sehingga tidak mendatangkan return.
Corporate governance diperlukan untuk mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer bahwa good corporate governance dapat diartikan pula sebagai suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang dapat menciptakan suatu nilai tambah untuk semua stakeholder.Konsep corporate governance bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui supervisi dan monitoring kinerja manajemen perusahaan dan untuk menjamin
14
akuntabilitas perusahaan terhadap stakeholder dengan mendasarkan pada kerangka peraturan.Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan laporan keuangan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan.Corporate governance juga membantu menciptakan lingkungan kondusif demi terciptanya pertumbuhan yang efisien dan sustainable di sektor korporat.
2.1.3. Prinsip-Prinsip Corporate Governance
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance(2006), terdapat lima prinsip dalam good corporate governance. Kelima prinsip tersebut dikembangkan secara universal dengan alasan karena dapat digunakan sebagai referensi di berbagai negara yang mempunyai karakteristik sistem meliputi hukum, budaya, dan lingkungan yang berbeda-beda.Dengan demikian, kelima prinsip tersebut dapat menjadi pedoman untuk perusahaan di semua Negara, namundiselaraskan dengan sistem hukum, aturan, atau nilai yang berlaku di negara masing-masing.
Adapun kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Transparency (Keterbukaan)
Transparency adalah prinsip dimana perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan, hal ini untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis. Selanjutnya, perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan, tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan
oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.Pedoman pokok pelaksanaan prinsip transparencymenurut KNKG (2006) tersebut antara lain:
a. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
b. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada, visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali, kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
d. Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.
2. Accountability (Akuntabilitas) Accountability adalah prinsip dimana perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar, untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai
16
dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.Pedoman pokok pelaksanaan prinsip accountability menurut KNKG (2006) tersebut antara lain :
a. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing- masing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras dengan visi, misi, nilai-nilai perusahaan (corporate values), dan strategi perusahaan.
b. Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
c. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam pengelolaan perusahaan.
d. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishmentsystem).
e. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
3. Responsibility (Responsibilitas)
Responsibility adalah prinsip dimana perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporatecitizen.Pedoman pokok pelaksanaan prinsip responsibility menurut KNKG (2006) tersebut antara lain:
a. Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).
b. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
4. Independency (Independensi)
Independency adalah prinsip dimana untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.Pedoman pokok pelaksanaan prinsip independency menurut KNKG (2006) tersebut antara lain:
a. Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan dari segala pengaruh
18
atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara obyektif.
b. Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang- undangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain.
5. Fairness (Kewajaran dan Kesetaraan)
Fairness adalah prinsip dimana dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Pedoman pokok pelaksanaan prinsip fairness menurut KNKG (2006) tersebut antara lain:
a. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masing-masing.
b. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.
c. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan kondisi fisik.
Dalam menerapkan kelima prinsip corporate governance tersebut,
sebaiknya diimbangi dengan dilaksanakannya kode etik perusahaan. Selain itu, pedoman corporate governance juga penting dalam penerapan kelima prinsip tersebut, karena dengan adanya pedoman corporate governance, visi dan misi perusahaan dapat tercapai. Pedoman corporate governance adalah sebuah pedoman yang disusun oleh komite nasional corporate governance yang mempunyai fungsi sebagai acuan kepada para pelaku usaha untuk menjalankan perusahaannya dengan menerapkan sistem corporate governance secara konsisten dan konsekuen. Hal ini penting karena dengan adanya penerapan sistem corporate governance di dalam suatu perusahaan, maka dapat dijadikan tolak ukur perusahaan apakah kinerja perusahaan tersebut baik atau tidak.
2.1.4. Penerapan Prinsip-Prinsip Corporate Governance Dalam Perusahaan Perbankan
Penerapan corporate governance di dalam perusahaan perbankan dianggap unik karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan keuangan jenis lain maupun perusahaan non keuangan. Keunikan perusahaan perbankan terutama dilihat dari neraca yaitu aset perbankan rata-rata adalah kredit yang sebagian besar bersifat jangka panjang, sedangkan sisi liabilitas adalah tabungan dan deposito yang memiliki sifat jangka pendek. Pengelolaan yang tidak hati-hati akan menyebabkan terjadinya mismatch antara aktiva dan pasiva.
Terjadinya mismatch dapat menyebabkan pembukuan negatif bagi bank.
Penyaluran kredit kepada pihak terkait dapat bersifat positif jika keterkaitan itu
20
meminimkan risiko dan sebaliknya akan bersifat negatif jika justru menambah risiko gagal bayar akibat terjadinya moral hazard.
Dalam perusahaan perbankan, corporate governance adalah faktor penting dalam memelihara kepercayaan dan keyakinan pemegang saham dan nasabah.Good corporate governance dirasakan semakin penting seiring dengan meningkatnya risiko bisnis dan tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan.
Dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (Good CorporateGovernance) dan pengelolaan risiko yang baik, bank diharapkan dapat terhindar dari dampak buruk krisis perekonomian global.Dalam setiap pengambilan keputusan bisnis memiliki unsur ketidakpastian dan juga menimbulkan risiko.Untuk menyikapi hal tersebut industri perbankan senantiasa mengelola risiko melalui pengawasan yang efektif dan pengendalian internal sebagai bagian dari prinsip-prinsip corporate governance.Struktur pengendalian internal yang terpadu dan komprehensif dapat meminimalkan dampak tersebut.
Aktualisasi corporate governance sebagai bagian yang dilakukan proses intern senantiasa melibatkan semua pihak stakeholder yaitu dewan komisaris, dewan direksi, pejabat senior, pimpinan dan seluruh karyawan. Interaksi tersebut membentuk budaya kerja yang positif dan memberikan keunggulan bersaing untuk setiap perusahaan perbankan.
Dalam melaksanakan corporate governance, perusahaan perbankan senantiasa berpedoman pada ketentuan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia tentang prinsip-prinsip corporate governance, yaitu Peraturan Bank
Indonesia No. 8/4/PBI/2006 bagian penjelasan umum memberikan definisi prinsip-prinsip GCG sebagai berikut:
“Pertama transparansi (transparency) diartikan sebagai keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang materil dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan. Kedua, akuntabilitas (accountability) yaitu kejelasan fungsi dan pertangungjawaban bank sehingga pengelolaannya berjalan efektif.Ketiga, pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat.Keempat, independensi (independency) yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun.Kelima, kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholdersyang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Prinsip yang dianut adalah tata kelola perusahaan harus dijalankan dengan standar tertinggi dalam rangka mendukung tujuan bisnis bank yaitu pertumbuhan, profitabilitas dan nilai tambah kepada seluruh pemangku kepentingan. Hal ini merupakan kunci utama yang mendukung keberlangsungan suatu bank.
Di Indonesia terdapat beberapa peraturan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) antara lain peraturan Bank Indonesia No.8/4/PBI/2006 yang disempurnakan dengan peraturan Bank Indonesia No.8/14/PBI/2006 tentang “Pelaksanaan GoodCorporate Governance bagi Bank Umum”, yang menunjukkan keseriusan Bank Indonesia dalam meminta pengurus perbankan agar taat untuk menerapkan
22
manajemen risiko guna melindungi kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder).
Banyaknya ketentuan yang mengatur sektor perbankan dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat menjadikan sektor perbankan sebagai sector yang ”highly regulated”. Selain itu juga terdapat Peraturan Bank Indonesia No.2/27/PBI/2000 tentang Bank Umum, yang di dalamnya diatur kriteria yang wajib dipenuhi calon anggota Direksi dan Komisaris Bank Umum, selain itu juga diatur tentang batasan transaksi yang diperoleh atau dilarang dilakukan oleh pengurus bank.
Tujuan dari peraturan ini adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyimpangan operasional bank yang dilakukan oleh dewan komisaris, direksi,maupun pemegang saham.Peraturan lainnya adalah Peraturan Bank Indonesia No.5/21/DPNP yang berisi tentang kebutuhan peningkatan corporate governance.Dalam peraturan ini diatur tentang kewajiban suatu bank untuk menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas pada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan manajemen risiko dan juga tentang kewenangan dan tanggung jawab Direksi dan Komisaris yang harus dilakukan terkait penerapan manajemen risiko tersebut.Pada intinya penerapan prinsip-prinsip corporate governance minimal harus diwujudkan dalam :
a. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Dewan Direksi.
b. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan bank.
c. Penyediaan dana kepada pihak yang terkait dan penyediaan dana besar.
d. Rencana strategis bank.
e. Penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian intern.
f. Penerapan fungsi kepatuhan, auditor internal dan auditor eksternal.
g. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite dan satuan kerja yangmenjalankan fungsi pengendalian intern bank.
2.1.5. Tingkat Leverage perusahaan
Leverage adalah hutang sumber dana yang digunakan perusahaan untuk membiayai asetnya diluar sumber dana modal atau ekuitas. Leverage dibagi menjadi dua yaitu leverage operasi (operating leverage) dan leverage keuangan (financial leverage). Leverage operasi adalah suatu indikator perubahan laba bersih yang diakibatkan oleh besarnya volume penjualan sedangkan leverage keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang dengan equity yang dimilikinya. Karakteristik hutang yang baik tidak melebihi 1:1 artinya jumlah hutang harus sebanding dengan aset.
Hutang merupakan perjanjian antara perusahaan sebagai debitur dengan kreditur. Dalam perjanjian hutang ini, ada kepentingan perusahaan untuk dinilai positif oleh kreditur dalam hal kemampuan membayar hutangnya. Sehingga hipotesa dari penelitian sebelumnya selalu menyatakan bahwa adanya perjanjian kontrak hutang memicu manajemen untuk meningkatkan discretionary accrualnya dengan tujuan memperlihatkan kinerja positif pada kreditur, sehingga
24
memperoleh suntikan dana atau untuk memperoleh penjadwalan kembali pembayaran hutang.
Zuhroh (1996) dalam Suwito dan Herawaty (2005) meneliti faktor-faktor yang mendorong terjadinya perataan laba dengan kesimpulan bahwa hanya leverage operasi perusahaan saja yang memiliki pengaruh terhadap praktik perataan laba yang dilakukan perusahaan di Indonesia. Penelitian Suwito dan Herawaty (2005) menguji hubungan antara leverage operasi dengan praktek perataan laba yang dilakukan perusahaan di Indonesia. Tetapi hasil pengujian menunjukkan bahwa leverage operasi perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap tindakan perataan laba. Menurut Black dkk (2003) terdapat dua alternatif penjelasan tentang hubungan antara struktur modal dengan kualitas corporate governance suatu perusahaan. Pandangan pertama menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat utang yang tinggi dalam struktur modalnya akan cenderung menjadi subjek untuk dikenai pengawasan oleh kreditor yang lebih ketat yang biasanya dinyatakan dalam kontrak utang yang dibuat. Dengan demikian, perusahaan kurang begitu mementingkan kualitas corporate governance, karena sudah ada pengawasan dari pihak eksternal yang disebut sebagai a substitution story.
Alternatif penjelasan yang kedua adalah bahwa kreditur sangat berkepentingan dengan praktik governance dari debiturnya dan memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan pemegang saham untuk memaksa perusahaan meningkatkan kualitas corporate governance perusahaan. Penjelasan tersebut disebut sebagai an investor pressure story
.
Black dkk. (2003) dan Gillan dkk. (2003) berhasil menemukan adanya hubungan negatif antara leverage dan kualitas corporate governance. Durnev dan Kim (2003) justru berhasil menemukan adanya hubungan positif antara pemilihan perusahaan akan praktik governance dan pengungkapan berhubungan secara positif dengan kebutuhan perusahaan akan pendanaan eksternal. Penelitian Baruci dan Falini (2004) dalam Suwito, Herawaty (2005) tidak berhasil menemukan adanya hubungan antara leverage dan peningkatan kinerja.
Dalam teori keuangan perusahaan (corporate finance) disebutkan bahwa penggunaan utang bagi perusahaan mendorong beberapa manfaat bagi perilaku manajer: (i) utang menjadi alat insentif bagi manajer untuk bekerja lebih keras guna menghindarkan ancaman risiko kebangkrutan usaha (Grossman dan Hart, 1986), (ii) utang mendorong manajer untuk menyerahkan arus kas bebas (free cash flow) kepada pemegang saham yang selanjutnya digunakan untuk membayar kembali kewajiban utang atau untuk keperluan reinvestasi Jensen(1986), (iii) utang berperan dalam mengurangi insentif manajer untuk melakukan konsumsi tambahan yang berlebihan (excessive perquisite consumption) Megginson (1997).
Bagi sektor perbankan yang sebagian besar operasi usahanya ditopang oleh utang dari penyimpan (antara lain: tabungan, deposito masyarakat), manfaat tersebut perlu mendapat telaah lebih lanjut. Justru sebaliknya, utang bagi bank dapat menimbulkan masalah keagenan yang cukup serius. Hal ini disebabkan oleh keputusan-keputusan keuangan akan diambil oleh pemilik (lewat pihak manajemen yang diangkat oleh pemilik) sedemikian rupa sehingga apabila
26
keputusan tersebut ternyata bekerja dengan baik, maka manfaatnya akan dinikmati oleh seluruh pemilik perusahaan, tetapi bila gagal, pemberi kredit (dalam industri perbankan, para penyimpan) diminta untuk ikut menanggung kerugian tersebut Husnan(2001). Dengan kata lain, masalah keagenan ini timbul sebagai akibat adanya perilaku penyimpangan moral oleh pemegang saham (shareholders) untuk memaksimumkan keuntungan dengan cara meningkatkan risiko usaha atas beban pemilik dana (bondholders). Dalam industri perbankan, pemilik dana (bond holders) dapat diartikan sebagai para penyimpan.
Terlebih lagi, dengan adanya penjaminan simpanan, para penyimpan cenderung bersikap pasif dalam melakukan pengendalian untuk mencegah setiap usaha peningkatan risiko yang dilakukan oleh pemegang saham (Merton, 1977 dalam Bugshan 2005). Hal ini semakin mendorong pemegang saham bank untuk meningkatkan risiko usaha dengan melakukan penggeseran risiko (risk shifting).
Fungsi pengendalian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjamin simpanan (deposit insurer). Mengingat penjamin simpanan belum tentu dapat melakukan pengendalian sepenuhnya maka setiap kerugian bank yang timbul pada akhirnya ditanggung oleh para pembayar pajak, dalam hal ini masyarakat (Kane, 1986, 1987 dalam Bugshan 2005).
2.1.6. Pengertian Bank
Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran uang Sedangkan menurut Undang- undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak
.
2.1.6.1. Jenis Bank Berdasarkan Fungsinya:
1 ) Bank Sentral
Bank sentral yang dimaksud adalah Bank Indonesia.Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.
2 ) Bank Umum
Pengertian bank umum menurut Peraturan Bank Indonesia No.
9/7/PBI/2007 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Jasa yang diberikan oleh bank umum bersifat
28
umum, artinya dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Bank umum sering disebut bank komersial (commercial bank).
3 ) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan bank umum.
2.1.6.2. Jenis Bank Berdasarkan Kepemilikannya
Apabila ditinjau dari segi kepemilikannya, jenis bank terdiri atas bank milik pemerintah, bank milik swasta nasional, dan bank milik swasta asing.
1 ) Bank Milik Pemerintah
Bank pemerintah adalah bank di mana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank dimiliki oleh pemerintah pula. Contohnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri.
Selain itu ada juga bank milik pemerintah daerah yang terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Contoh Bank DKI, Bank Jateng, dan sebagainya.
2 ) Bank Milik Swasta Nasional
Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya juga dipertunjukkan untuk swasta
pula. Contohnya Bank Muamalat, Bank Danamon, Bank Central Asia, Bank Lippo, Bank Niaga, dan lain-lain.
3 ) Bank Milik Asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Kepemilikannya dimiliki oleh pihak luar negeri. Contohnya ABN AMRO bank, City Bank, dan lain-lain.
2.1.6.3. Jenis Bank Berdasarkan Kegiatan Operasionalnya 1 ) Bank Konvensional
Pengertian kata “konvensional” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah “menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan”. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “berdasarkan kesepakatan umum”
seperti adat, kebiasaan, kelaziman.
Berdasarkan pengertian itu, bank konvensional adalah bank yang dalam operasionalnya menerapkan metode bunga, karena metode bunga sudah ada terlebih dahulu, menjadi kebiasaan dan telah dipakai secara meluas dibandingkan dengan metode bagi hasil.
Bank konvensional pada umumnya beroperasi dengan mengeluarkan produk-produk untuk menyerap dana masyarakat antara lain tabungan, simpanan deposito, simpanan giro; menyalurkan dana yang telah dihimpun dengan cara mengeluarkan kredit antara lain kredit investasi, kredit modal kerja, kredit konsumtif, kredit jangka pendek; dan pelayanan jasa keuangan antara lain kliring,
30
inkaso, kiriman uang, Letter of Credit, dan jasa-jasa lainnya seperti jual beli surat berharga, bank draft, wali amanat, penjamin emisi, dan perdagangan efek.
Bank konvensional dapat memperoleh dana dari pihak luar, misalnya dari nasabah berupa rekening giro, deposit on call, sertifikat deposito, dana transfer, saham, dan obligasi. Sumber ini merupakan pendapatan bank yang paling besar.
Pendapatan bank tersebut, kemudian dialokasikan untuk cadangan primer, cadangan sekunder, penyaluran kredit, dan investasi. Bank konvensional contohnya bank umum dan BPR. Kedua jenis bank tersebut telah kalian pelajari pada subbab sebelumnya.
2 ) Bank Syariah
Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Pemrakarsa pendirian bank syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18 – 20 Agustus 1990.
Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, maksudnya adalah bank yang dalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.
Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efesiensi, keadilan, dan kebersamaan. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin.
Keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atas proporsi masukan dan keluarannya. Kebersamaan
mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktivitas.
Kegiatan bank syariah dalam hal penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional.Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan. Berikut ini prinsip-prinsip yang berlaku pada bank syariah.
a. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).
b. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).
c. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).
d. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).
e. Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
Dalam rangka menjalankan kegiatannya, bank syariah harus berlandaskan pada Alquran dan hadis. Bank syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank syariah, bunga bank adalah riba.
32
2.1.7. Kinerja Perbankan
Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang diproyeksikandengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya. Menurut Keats et al (1998), Kinerja merupakan konsep yang sulit, baik definisi maupun dalam pengukurannya, karena sebagai sebuah konstruk, kinerja bersifat multimensional dan oleh karena itu pengukuran dengan menggunakan dimensi pengukuran tunggal tidak mampu memberikan pemahaman yang komprehensif.Beiner et al (2003), menjelaskan bahwa kinerja perusahaan merupakan hasil dari tindakan direktur. Kinerja perusahaan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba Sucipto (2003).Helfert (1994) menyatakan bahwa kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen.Kinerja perusahaan adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan dari perushaaan tersebut.
Kinerja perbankan menurut Greve, (1998) merupakan konstruk yang kompleks bagi perusahaan.Kinerja yang dianggap baik belum tentu dianggap baik oleh pemilik perusahaan atau karyawan.Covusgil dan Zou (1994) mendefinisikan kinerja perbankan sebagai seberapa jauh tujuan perusahaan, baik ekonomi dan strategis, sehubungan dengan produk perbankan ke pasar asing, untuk mencapainya melalui perencanaan dan pelaksanaan.Aaby dan Slater (1989) serta
Katsikeas, Piercy dan Ionnidis (1996) mendefinikan kinerja perbankan dinilai dalam kaitannya dengan sejauh mana perusahaan-perusahaan perbankan mencapai tujuan mereka.Shoman (1996) memberikan batasan tentang kinerja perbankan sebagai variabel dependen pada model sederhana dan dijelaskan sebagai hasil dari kegiatan perusahaan di pasar perbankan.
Kinerja perusahaan dapat dinilai dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik, laporan berupa neraca, rugi laba, arus kas, dan perubahan modal yang secara bersama-sama memberikan suatu gambaran tentang posisi keuangan perusahaan.Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik gambaran perusahaan yang berupa kegiatan operasional, struktur organisasi dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya Mulyadi (2001).Rifai (2009), berpendapat bahwa pengukuran kinerja hendaknya menggunakan atau mengintegrasikan dimensi pengukuran yang beragam, sampai saat ini masih muncul perdebatan tentang pendekatan yang tepat bagi konseptualisasi dan pengukuran kinerja organisasi sehingga untuk menjamin tercapainya kinerja tersebut, para manajer harus merancang ukuran-ukuran hasil yang diinginkan.Suatu pengukuran adalah nilai kuantitatif yang dapat digunakan untuk menjadi skala dan tujuan-tujuan perbandingan.Pengukuran kinerja dapat berupa keuangan dan bukan keuangan.Pengukuran keuangan dinyatakan dalam ketentuan moneter sedangkan pengukuran bukan keuangan adalah data kuantitatif yang diciptakan diluar sistem akuntansi yang formal. Pengukuran kinerja dapat menggunakan rasio keuangan yang dibagi menjadi dua Usman (2003) yaitu:
34
1. Pengukuran kinerja konvensional
Dalam manajemen konvensional, pencapaian visi misi organsasi sebagai insititusi pencipta kekayaan diukur hanya dengan menggunakan ukuran keuangan yang berasal dari laporan keuangan terutama neraca dan laba rugi yang merupakan data keuangan historis dan hasil realisasi anggaran.
2. Pengukuran kinerja kontemporer
Dalam perkembangan terdapat 2 (dua) konsep pengukuran kinerja kontemporer Sucipto (2003) yaitu:
a. EVA merupakan nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatan atau strategisnya selama periode tertentu .
b. Balanced score card adalah suatu alat untuk mengukur kinerja eksekutif dimasa depan yang mencakup aspek keuangan dan non keuangan.
Pengukuran kinerja keuangan pada sektor perbankan ini menggunakan pengukuran kinerja konvensional yang diukur dengan berdasarkan pada nilai rasio-rasio keuangan yaitu CAR, ROA, NIM, BOPO, dan LDR Analisis rasio keuangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan finansial dan posisi finansial perusahaan.Analisis rasio keuangan berguna sebagai analisis intern bagi manajemen perusahaan untuk mengetahui hasil finansial yang telah dicapai guna perencanaan yang akandatang dan juga untuk analisis intern bagi kreditor dan investor untuk menentukan kebijakan pemberian kredit dan penanaman modal suatu perusahaan (Usman, 2003). Beberapa rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan:
1. Rasio likuiditas. Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.
2. Rasio aktivitas. Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menggunakan asetnya dengan efisien.
3. Rasio profitabilitas. Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk mencari keuntungan atau laba.
4. Rasio solvabilitas atau leverage. Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi total kewajibannya.
5. Rasio pasar. Rasio yang mengukur prestasi pasar relatif terhadap nilai buku, pendapatan, atau dividen.
Dalam hubungannya dengan kinerja, laporan keuangan sering dijadikan dasar untuk penilaian kinerja perusahaan. Salah satu jenis laporan keuangan yang mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi, akan tetapi angka laba yang dihasilkan dalam laporan laba rugi seringkali dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan Kieso dan Weygandt(1995), sehingga laba yang tinggi belum tentu mencerminkan kas yang besar. Dalam hal ini arus kas mempunyai nilai lebih untuk menjamin kinerja perusahaan di masa mendatang.Arus kas (Cash Flow) menunjukkan hasil operasi yang dananya telah diterima tunai oleh perusahaan serta dibebani dengan beban yang bersifat tunai dan benar-benar sudah dikeluarkan oleh perusahaan Pradhono(2004).Cash Flow Return on Assets (CFROA) merupakan salah satu pengukuran kinerja perusahaan yang menunjukkan kemampuan aktiva perusahaan