TUGAS INDIVIDU
“Perencanaan Pesan/ Materi Pembelajaran dan Media Pembelajaran”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknik InstruksionalDosen:
Dra.Sukaesih, M.Si
Di susun oleh:
Tiara Desyanti Raharja
210210120056
DEPARTEMEN ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...ii
Perencanaan Pesan/ Materi Pembelajaran dan Media Pembelajaran...1
1. Perencanaan Pembelajaran...1
1.1 Pengertian Perencanaan Pembelajaran...1
1.2 Prinsip-prinsip Perencanaan Pembelajaran...3
1.3 Prosedur Perencanaan Pembelajaran...6
1.4 Kurikulum Subject Matter...12
1.4.1 Penerapan Kurikulum Subject Matter...13
1.4.2 Disain Kurikulun Subject Matter...17
2.Media Pembelajaran...17
2.1 Pengertian Media Pembelajaran...17
2.2 Kriteria dan Langkah-Langkah Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran...18
2.2.1 Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran...18
2.2.2 Langkah-Langkah Pemilihan Media...22
2.2.3 Langkah-Langkah Penggunaan Media Pembelajaran...24
Perencanaan Pesan/ Materi Pembelajaran dan Media Pembelajaran
1. Perencanaan Pembelajaran
1.1 Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Briggs dalam Gafur memberikan definisi disain atau rencana pembelajaran sebagai berikut : Keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan sistem penyampaiannya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan belajar, termasuk di dalamnya pengembangan paket pembelajaran, kegiatan pembelajaran, uji coba dan revisi paket pembelajaran, dan terakhir kegiatan mengevaluasi program dan hasil belajar (Gafur, 2010).
Disain pembelajaran merupakan salah satu komponen kegiatan teknologi pendidikan. Hal ini dapat dipahami kalau diingat bahwa teknologi pendidikan merupakan “Suatu bidang garapan yang ikut serta berusaha untuk memberikan fasilitas (kemudahan) proses belajar manusia dengan jalan memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar melalui fungsi pengembangan dan fungsi pengelolaan”. (Gafur dalam Gafur). Sesuai dengan definisi tersebut komponen kegiatan dalam rangka mengaplikasikan konsep teknologi pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Memahami warga belajar (the learner) dengan segala karakteristik dan kebutuhannya. Teknologi pendidikan sangat memperhatikan karakteristik, keadaan individual, dan kebutuhan masing-masing siswa. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa keunikan masing-masing individu sangat berpengaruh terhadap hasil belajar.
2. Memanfaatkan secara penuh segala sumber belajar untuk meningkatkan proses pembelajaran. Sumber belajar ini meliputi : pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan atau “setting”. Sumber belajar meliputi sumber belajar yang direncanakan
(learning resource by design) dan sumber belajar yang digunakan (learning resource by utilization).
3. Melakukan kegiatan pengembangan; di sini kegiatan itu meliputi : riset, mengembangkan disain, produksi paket pengajaran, evaluasi, pengadaan bahan, alat dan biaya, serta pemanfaatannya .
5. Mengevaluasi hasil dan proses pembelajaran (Gafur, 2010).
Ada pendapat lain yang berbeda dengan apa yang telah dikemukakan di atas. Kalau tadi dikatakan bahwa disain pembelajaran merupakan salah satu komponen kegiatan teknologi pendidikan, maka Ackerman dalam Gafur berpendapat bahwa disain pembelajaran merupakan nama lain teknologi pendidikan. Ackerman lebih memilih menggunakan istilah “disain pembelajaran” dari pada istilah “teknologi pendidikan” karena dengan menggunakan istilah “teknologi pendidikan” orang sering mengasosiasikan istilah “teknologi” dengan peralatan (hardware) seperti radio, komputer, televisi, dan “software” seperti transparansi, film, kaset, slide dan sebagainya. Alasan Ackerman memang dapat dipahami, sebab dalam hal ini ia mendefinisikan disain pembelajaran sebagai “keseluruhan proses perencanaan yang diperlukan untuk menyampaikan pengajaran, termasuk di dalamnya penggunaan baik “hardware” maupun “software” (Gafur, 2010).
Sejalan dengan pendapat Ackerman ini ialah pendapat Merril dalam Gafur yang menyatakan bahwa “esensi teknologi pendidikan adalah disain dan pengembangan sistem pembelajaran”. Ia berpendapat bahwa tugas pokok seorang ahli teknologi pendidikan ialah menyusun disain dan mengembangkan sistem pembelajaran. Media yang biasanya selalu diasosiasikan dengan teknologi pendidikan, menurut Merril mempunyai kedudukan sekunder. Yang primer adalah disain pembelajaran. Artinya, kalau disain pembelajaran telah ditentukan maka media apapun yang digunakan bukanlah merupakan soal yang pokok. Ia berpendapat bahwa persoalan pemilihan dan penggunaan media, lebih merupakan persoalan ada tidaknya biaya serta persoalan tersedia tidaknya media yang akan digunakan untuk menyampaikan disain pembelajaran yang telah disusun. Pendapat Merril tersebut sebenarnya mengandung kontroversi kalau diingat ia sendiri dalam menyusun disain pembelajaran sebagai aplikasi atas teorinya yang terkenal dengan nama “Teaching Concept” menggunakan komputer sebagai bagian yang integral dari teori pembelajaran yang dikembangkannya. Artinya, sejak mulai pertama kali mendisain, media yang akan digunakan adalah komputer (Gafur, 2010).
Sementara itu Lumsdaine dalam Gafur mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh atas pertumbuhan konsep pengembangan sistem dan disain pembelajaran tersebut sebagai berikut :
2. Teori belajar berdasar ilmu jiwa perilaku laku (Behavioral psychology) yang menekankan pentingnya penguat (reinforcement) untuk meningkatkan perilaku belajar siswa.
3. Hasil teknologi permesinan yang memungkinkan diciptakannya peralatan yang dapat dipakai untuk menerapkan teori-teori belajar seperti mesin belajar, komputer, dan sebagainya.
4. Perkembangan peralatan audiovisual (radio, film, slide, kaset video) yang dimanfaatkan untuk keperluan belajar dan mengajar. Timbulnya konsep teknologi pendidikan, pengembangan sistem pembelajaran, disain pembelajaran, dan lain-lain konsep semacam itu, tidak lain adalah merupakan usaha para ahli pendidikan dan pengajaran untuk memecahkan masalah-masalah belajar manusia. Masalah-masalah itu antara lain meledaknya jumlah siswa dengan tenaga pengajar, peralatan dan ruangan yang terbatas, jumlah lulusan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat, kualitas lulusan yang rendah, dan sebagainya (masalah pemerataan, relevansi, efisienasi, dan mutu) (Gafur, 2010).
1.2 Prinsip-prinsip Perencanaan Pembelajaran
Yang dimaksudkan dengan “prinsip” di sini ialah “tesis”, “asumsi”, ataupun “teori” yang mendasari disusunnya disain pembelajaran. Pertama-tama disain pembelajaran ini dikembangkan atas dasar tesis yang menyatakan bahwa “pengajaran dapat didisain secara lebih sistematis berbeda dengan cara-cara tradisional” (Brigss dalam Gafur, 2010). Minimal hal tersebut berarti bahwa tujuan pembelajaran, materi, metode, dan teknik evaluasi dapat didisain sedemikian rupa sehingga masing-masing komponen tersebut satu sama lain saling berpengaruh dalam meningkatkan proses pembelajaran. Kegiatan mendisain tersebut dapat dilakukan baik oleh seseorang pengajar secara individual ataupun oleh beberapa tenaga pengajar sebagai satu tim. Kegiatan itu dapat juga dilakukan baik dalam keadaan di mana paket pengajaran seperti buku teks dan media telah tersedia, maupun belum (Gafur, 2010).
kalimat sendiri, mengkritik atau memberi komentar, dan sebagainya) kemudian membuat tes untuk mengukur apakah tujuan pembelajaran dalam mempelajari bab tersebut telah tercapai (Gafur, 2010).
Dalam keadaan dimana paket pengajaran belum tersedia, seorang pengajar dapat menentukan tujuan pembelajaran terlebih dahulu, kemudian mencari materi atau bahan-bahan pelajaran serta kegiatan belajar untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan tadi. Terakhir adalah menyusun alat evaluasi untuk mengukur apakah tujuan yang telah ditentukan tadi telah dapat dicapai dengan menggunakan bahan dan melakukan kegiatan belajar yang telah dirancang sebelumnya (Gafur, 2010).
Prinsip-prinsip tersebut berlaku pula bagi sebuah tim yang mempunyai tugas untuk menyusun disain pembelajaran untuk berbagai jenis matapelajaran. Prinsip tersebut berlaku pula untuk mengembangkan matapelajaran yang sama sekali baru ataupun yang ingin diperbaharui. Prinsip utama yang dimaksud ialah relevansi, konsistensi dan keselarasan antara komponen pengajaran yang meliputi tujuan pembelajaran, materi pelajaran, strategi pembelajaran atau metode, dan prosedur evaluasi untuk mengukur prestasi belajar siswa (Gafur, 2010).
Team pengembang sistem pembelajaran, penyusun disain pembelajaran atau pengembang kurikulum dapat terdiri atas para guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, ahli disain pembelajaran, dan sebagainya. Betapapun besarnya team, atau tingkat pengajaran yang dikembangkan (satu mata kuliah, satu unit pelajaran, ataupun satu topik), prinsip-prisip relevansi, konsistensi dan keselarasan antara komponen pengajaran tersebut tetap memegang peranan penting (Gafur, 2010).
Kedua, asumsi yang mendasari dikembangkannya disain pembelajaran seperti dikemukakan oleh Merril dalam Gafur adalah sebagai berikut :
1. Bahwa hasil pembelajaran dapat dirumuskan secara operasional sehingga dapat diamati dan diukur.
2. Bahwa tercapainya tuuan pembelajaran dapat diukur dengan menggunakan instrumen yang disebut penilaian acuan patokan (Criterion Referenced Test), yaitu tes yang didasarkan atas kriteria atau patokan tertentu (dalam hal ini ialah tujuan pembelajaran khusus). Dengan demikian akan dapat dibedakan antara siswa yang dapat mencapai hasil yang diharapkan, dengan siswa yang tidak dapat mencapai tujuan atau hasil yang telah ditentukan sebelumnya.
yang berupa media cetak (seperti modul, buku teks, buku kerja, dan sebagainya) serta media yang bukan cetak (seperti film, kaset, program radio, program televisi, dan sebagainya) sebelum digunakan untuk kegiatan belajar mengajar , perlu diujicobakan dulu secara empirik terhadap siswa yang diambil sebagai sampel dari populasi yang akan menggunakan paket tersebut (Gafur, 2010).
Ketiga, disain pembelajaran didasari oleh teori sistem (systems theory). Disain pembelajaran pada hakekatnya merupakan penerapan “systems theory” secara khusus, dalam hal ini penerapan teori sistem terhadap proses belajar dan mengajar (Gafur, 2010).
Seperti diketahui “perencanaan sistem adalah suatu perencanaan yang integral tentang aktivitas keseluruhan komponen (sub sistem) dari suatu sistem yang didisain untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan” (Kaufman dalam Gafur, 2010).
Dari contoh tadi, pengajaran yang komponennya terdiri atas tujuan pembelajaran, materi pelajaran, metode, alat dan evaluasi adalah merupakan sub sistem misalnya, dari suatu sekolah atau universitas. Komponen-komponen tersebut tidak boleh didisain secara terpisah-pisah, melainkan kesemuanya harus merupakan suatu kesatuan yang integral (Gafur, 2010).
Di samping perlu ada perencanaan yang integral antar keseluruhan komponen suatu sistem, perencanaan yang disusun menurut pendekatan sistem menghendaki adanya analisis dan sintesis komponen tersebut secara logis dan berurutan. Adalah tidak sesuai dengan pendekatan sistem bila misalnya seorang guru mendisain pengajaran dengan tujuan pembelajaran agar siswa dapat membuat karya tulis yang laku dimuat di majalah ilmiah, tetapi evaluasinya berupa penugasan kepada siswa tersebut untuk berpidato di depan kelas. Keseluruhan komponen perlu dibuat sedemikian rupa sehingga kesemuanya menuju ke arah tercapainya tujuan (Gafur, 2010).
Terakhir, dalam proses perencanaan yang sistematis dikehendaki adanya langkah-langkah tertentu yang secara urut namun fleksibel. Dalam rangka inilah maka dikenal adanya berbagai macam model disain pembelajaran. “Model adalah serangkaian langkah-langkah yang disarankan untuk diikuti secara tetap tetapi fleksibel dalam melakukan suatu tugas” (Briggs dalam Gafur, 2010). Banyak model disain pembelajaran yang pada umumnya diberi nama sesuai dengan ahli penemunya, atau lembaga yang mengembangkan disain pembelajaran tersebut. Sebagai contoh model PPSI yang terkenal di Indonesia sebenarnya adalah adaptasi dari Model Pengembangan Sistem Pembelajaran yang dikembangkan oleh Banathy dalam Gafur, Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan menggunakan Model
Meskipun terdapat berbagai variasi, namun ada kesamaan di antara berbagai model tersebut, yaitu kesamaan dalam pendekatannya (dalam hal ini pendekatan sistem atau “systems approach”). Salah satu model sederhana yang dapat digunakan Guru secara individual dalam merencanakan pembelajaran adalah Model Disain Pembelajaran Kemp (Gafur, 2010).
Langkah-langkah sistematis menyusun disain pembelajaran menurut Kemp dalam Gafur:
1. Menentukan topik dan tujuan pembelajaran umm 2. Menentukan karakteristik siswa
3. Menentukan tujuan pembelajaran khusus (TPK) 4. Menentukan materi pelajaran
5. Menentukan pre-tes
6. Menentukan kegiatan pembelajaran, sumber, dan media 7. Koordinasi sarana pendukung
8. Evaluasi 9. Revisi
1.3 Prosedur Perencanaan Pembelajaran
Tabel 1 Langkah-langkah Mempelajari, Menyusun, dan Menggunakan Disain
2. Belajar menulis tujuan 2. Mengorganisasikan 2.Penyampaian materi
kesejajaran antara langkahlangkah mempelajari cara menyusun disain pembelajaran dengan cara-cara melaksanakan penyusunan disain pembelajaran, meskipun tidak persis sama (Gafur, 2010).
Tabel tersebut juga menunjukkan salah satu model atau langkah-langkah penyusunan disain pembelajaran (mulai identifikasi tujuan sampai dengan evaluasi formatif). Mengenai persoalan kedua, memang terdapat dua mekanisme yang berbeda dalam penerapan disain pembelajaran. Kedua mekanisme itu adalah (a) jika disain pembelajaran disusun oleh seorang guru atau dosen sebagai tenaga pengajar sekaligus, (b) jika disain pembelajaran disusun oleh sebuah tim yang terdiri atas banyak anggota yang belum tentu sekaligus sebagai pengajar (Gafur, 2010).
Masing-masing mekanisme kerja tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Bila seorang guru, bekerja sendirian, sekaligus sebagai “designer” maupun sebagai pengajar, guru tersebut biasanya lebih banyak “memilih”, bukannya “mengembangkan atau membuat” paket pengajaran yag akan digunakan oleh siswa. Beberapa sebab antara lain karena guru tersebut kurang mempunyai waktu atau kurang mendapatkan latihan khusus untuk tugas-tugas pengembangan paket pengajaran. Namun demikian asal prinsip-prinsip disain pembelajaran itu dikuasai, sebenarnya guru tersebut dapat memilih berbagai sumber atau bahan seperti buku-buku teks, majalah ilmiah, surat kabar dan lain-lain sumber yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Dengan memperhatikan cara mengurutkan langkah-langkah kegiatan mempelajari suatu materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran , menyusun soal-soal latihan, soal tes, dan sebagainya seorang guru akan mampu menyusun disain pembelajaran. Dengan menerapkan prinsip serta langkah-langkah disain pembelajaran, keterarahan dan variasi dalam berinteraksi siswa terhadap sumber-sumber belajar akan dapat diwujudkan (Gafur, 2010).
Terarah berarti jelas yang harus dikerjakan oleh siswa. Misalnya dalam menghadapi buku teks yang tebal-tebal, siswa akan tahu bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran ia harus membaca bab sekian, dan setelah membaca ia harus memberi kritik atau komentar atau membandingkan dengan bacaan yang lain, bahwa ia akan dites berdasar atas bahan tersebut, dan sebagainya. Bervariasi, berarti dalam kegiatan belajar siswa tidak hanya rutin mengikuti uraian guru yang bersumber dari sebuah buku yang juga dimiliki oleh para siswa, tanpa menggunakan berbagai sumber dan tanpa berbuat lain kecuali mendengarkan dan mencatat (Gafur, 2010).
tetapi ia sekaligus juga sebagai penghubung antara pembuat sumber belajar dengan para siswa. Pendapat tersebut didasarkan atas kenyataan bahwa banyak buku-buku teks yang harus dipelajari oleh siswa, namun belum tentu buku-buku tersebut memberi petunjuk secara jelas mengenai apa yang mesti dikerjakan kecuali hanya sekedar membaca. Belum jelas pula sejauh mana keseluruhan atau sebagian buku tersebut relevan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh siswa (Gafur, 2010).
Mekanisme yang kedua terjadi bila suatu team bekerjasama mengembangkan atau membuat materi atau paket pengajaran dalam rangka pengembangan kurikulum baru atau pengembangan pengajaran untuk bidang studi tertentu. Team ini biasanya terdiri dari para guru atau dosen, administrator, ahli media, ahli evaluasi, ahli disain, dan sebagainya. Tugas team ini bukannya memilih, tetapi membuat paket pembelajaran baru. Hasilnya misalnya berupa silabus, satuan pelajaran, model program, modul, pengajaran berprogram, program radio, program kaset, program televisi, komputer, film, program multimedia, dan sebagainya (Gafur, 2010).
Tugas team, selain membuat paket pengajaran tersebut adalah melakukan uji coba agar paket yang dihasilkan valid, menyusun petunjuk pemakaiannya (karena team tersebut belum tentu bertindak sebagai pengajar), melatih para guru atau dosen bagaimana mengajar dengan menggunakan paket pengajaran tadi, membantu menyusun program evaluasi pelaksanaan pengajaran dengan menggunakan paket yang telah valid tadi, dsb. Di Indonesia team yang mempunyai tugas tersebut misalnya Team Pengembangan Kurikulum pada Balitbang Dkinas yang menyusun kurikulum baru diikuti dengan pengembangan silabus dan rencana pembelajaran, dan sistem pengujiannya. Pada Pustekkom Diknas, kegiatan pengembangan pembelajaran dilakukan oleh Tim TKPD, Tim SLTP, dsb. Tugas Tim tersebut adalah menyusun kurikulum siaran pendidikan, Bahan Penyerta, Naskah SRP, dsb. Di USA misalnya, Team Pengembang Pembelajaran terdapat pada hampir setiap perguruan tinggi. Tugasnya tidak hanya melayani keperluan perguruan tinggi yang bersangkutan, melainkan secara profesional dan komersial melayani juga masyarakat industri dan militer yang ingin mendapatkan program penataran lengkap dengan paket dan media penatarannya (Gafur, 2010).
Dengan memperhatikan kedua mekanisme dalam penerapan disain pembelajaran tadi, berikut dikemukakan suatu bagan yang menunjukkan kesamaan dan perbedaan langkah langkah penyusunan disain pembelajaran. Bagan berikut dikembangkan oleh Briggs dalam Gafur dan sekaligus menunjukkan model disain pembelajaran yang lebih terperinci. Tujuh langkah pertama adalah sama di antara kedua mekanisme tersebut (baik dikerjakan oleh guru secara individual maupun oleh suatu team). Perbedaan langkah terjadi pada tahap ke 8 s/d 11 (untuk kerja individual) dan ke 14 (untuk kerja team). Perbedaan itu ialah bahwa pada langkah ke-8 guru atau dosen mulai memilih materi (buku) yang sudah ada, sedang team mulai membuat paket atau materi baru. Selanjutnya mulai langkah ke 15 terdapat kesamaan antara kedua mekanisme tersebut.
Tabel 2 Mekanisme Penyusunan Disain Pembelajaran
1. Penentuan kebutuhan dan tujuan belajar. 2. Pengorganisasian unit dan topik pelajaran.
3. Penulisan tujuan pembelajaran khusus dan menyusun urutannya (sequencing.)
4. Analisis tujuan pembelajaran khusus.
5. Penyiapan instrumen evaluasi hasil belajar siswa.
6. Menentukan urutan-urutan kegiatan pembelajaran untuk setiap tujuan pembelajaran khusus.
7. Menentukan kegiatan pembelajaran untuk setiap sub tujuan 8. pembelajaran khusus.
Guru/dosen sebagai disainer Tim sebagai disainer
Rencana Pelajaran
8a. Memilih materi pelajaran 9a. Merencanakan kegiatan pembelajaran
10a. Mengelola kegiatan
8b. Memilih jenis stimulus dan respons 9b. Memilih media
pembelajaran
11a. Melaksanakan evaluasi
kegiatan pembelajaran 12b. Mengembangkan paket pengajaran
13b. Mengembangkan instrumen evaluasi
14b. Membuat petunjuk dan bahan Penataran Guru
15. Memonitor bersama jalannya pengajaran
16. Mengadakan uji coba lapangan dan mengadakan revisi berdasar atas ujicoba tersebut 17. Melaksanakan evaluasi sumatif.
Pada bagian akhir uraian ini dikemukakan ringkasan sebagai berikut :
1. Konsep disain pembelajaran erat tak terpisahkan dengan konsep teknologi pendidikan dan pengembangan sistem pembelajaran. Inti dari konsep disain pembelajaran ialah proses sistematis dan logis untuk memecahkan masalah-masalah pengajaran dengan cara mengembangkan, memanfaatkan dan mengelola sumber-sumber belajar secara maksimal untuk meningkatkan proses belajar manusia.
2. Disain pembelajaran didasarkan atas teori sistem. Disain pembelajaran pada hakekatnya merupakan penerapan pendekatan sistem terhadap masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3. Tesis dan asumsi yang mendasari dikembangkannya disain pembelajaran ialah : a. Proses belajar-mengajar dapat didisain secara lebih sistematis sehingga
tercapai keserasian antara tujuan, materi, media dan alat evaluasi.
b. Bahwa tujuan pengajaran dapat dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat diamati dan diukur. Bahwa dengan demikian maka dapat diciptakan instrumen untuk mengukur tercapai tidaknya tujuan tersebut.
4. Langkah-langkah penerapan disain pembelajaran tercermin dalam model-model disain pembelajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli disain secara individual maupun oleh lembaga-lembaga atau team pengembang disain pembelajaran. Penerapan pengembangan disain pembelajaran oleh guru atau dosen secara individual lebih bersifat memilih materi atau bahan pelajaran yang telah ada, sedang bila hal itu dikerjakan oleh sebuah team maka tugas team tersebut adalah lebih bersifat membuat materi petunjuk atau latihan dalam pemanfaatannya (Gafur, 2010).
1.4 Kurikulum Subject Matter
Subject matter curriculum atau Kurikulum Subject Matter (kurikulum mata pelajaran), merupakan organisasi kurikulum yang tertua dan banyak digunakan di setiap negara. Subject matter curriculum adalah organisasi isi pendidikan dalam bentuk mata pelajaran yang disajikan dan diberikan kepada para siswa secara terpisah-pisah satu sama lain. Sekalipun hakikat isinya ada relasi antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya. (Dr. Nana Sudjana dalam Lukmanul Hakim).
Kurikulum subject matter bersumber dari pendidikan klasik yang berorientasi pada masa lalu. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Isi pendidikan diambil dari setiap disiplin ilmu. Karena kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya lebih bersifat intelektual. (Nana Syaodiah dalam Lukmanul Hakim).
Dalam buku Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Dr. Nana Sudjana, 1989: 51), menyebutkan bahwa dalam dunia pendidikan, dikenal ada tiga jenis pola organisasi kurikulum yakni: Subject matter curriculum, Activity curriculum, dan
Core curriculum. Namun pada prakteknya tidak pernah dijumpai satu bentuk kurikulum murni, melainkan modifikasi-modifikasi dari ketiga bentuk tersebut.
1.4.1 Penerapan Kurikulum Subject Matter
Mata pelajaran dalam organisasi kurikulum ini digabung dalam kelompok pengetahuan/disiplin ilmu pengetahuan. Dalam bentuk yang tidak ekstrim penyajiannya dimungkinkan adanya sejenis relasi di antara mata pelajaran. Misalnya melalui bentuk korelasi suatu mata pelajaran dapat menyumbang mata pelajaran lain agar diperoleh pemahaman yang lebih baik. (Nana Sudjana dalam Lukmanul Hakim).
a. Mata pelajaran diklasifikasikan serta diorganisasikan sesuai dengan bidang keilmuan / pengetahuan ilmiah.
Isi dipilih dan disusun sedemikian rupa sehingga mendisiplinasi para pelajar sesuai dengan tuntutan yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah tersebut. Pengetahuan disusun tidak atas dasar perkembangan kebutuhan anak didik. Dengan kata lain soal-soal yang berhubungan dengan kebutuhan sosial para siswa banyak diabaikan, sebab isi kurikulum dipilih dan diorganisasi sesuai dengan kepentingan para ahli ilmu pengetahuan. Tujuan utama organisasi kurikulum ini ialah mengembangkan kapasitas belajar untuk menguasai fakta, konsep, prinsip, yang terdapat dalam mata pelajaran.
b. Tekanan yang diberikan dalam subject matter pada penyajian isi pelajaran dan teknik memberikan penjelasan.
Gagasan-gagasan yang hendaknya dikuasai siswa dijelaskan terlebih dahulu oleh guru. Percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh siswa relatif tidak ada. Ada empat jenis cara menyajikan pelajaran yang sering dijumpai dalam subject curriculum ini, yaitu:
a. dimulai dari yang sederhana menuju kepada yang lebih sulit dan kompleks.
b. cara penyajian didasarkan kepada pengetahuan prasarat. Cara ini ditemukan pada penyajian mata pelajaran yang berisikan hukum dan prinsip, seperti fisika, tata bahasa, ilmu pasti, dan lain-lain.
c. Dimulai dari keseluruhan menuju kepada bagian-bagian. Pengajaran geografi dimulai dari globe bumi kemudian baru dipelajari bagian-bagian dari belahan bumi.
d. Penyajian yang bersifat kronologis. Fakta dan gagasan disusun dalam rangkaian waktu sehingga penyajian peristiwa yang muncul kemudian selalu diawali oleh kejadian yang mendahuluinya. Prosedur mengajar beserta tekniknya didasarkan kepada aktivitas bahasa seperti kuliah, ceramah, diskusi, tanya jawab, laporan tertulis, laporan lisan, dll. Yang dianggap penting dalam kurikulum ini ialah proses menerima dan menghafalkan mata pelajaran yang disajikan.
2. Ciri-ciri esensial
a. Mata pelajaran dapat diwajibkan bagi semua siswa, diwajibkan untuk kelompok atau dipilih oleh kelompok tertentu, dipilih oleh siswa tertentu atau semua siswa. Perencanaan kurikulum menetapkan beberapa pelajaran wajib, pelajaran pilihan, dan pelajaran-pelajaran khusus berdasarkan pertimbangan urgensi mata pelajaran untuk tujuan tertentu. Pola subject matter curriculum inilah yang memperkenalkan adanya pelajaran wajib dan pilihan sekalipun pola organisasi kurikulum yang lain pun ada yang menggunakan sistem ini.
b. Mata pelajaran umumnya bersifat konstan (tetap) tidak banyak berubah-ubah. Pengajaran yang diwajibkan merupakan bagian yang terbesar dari program pendidikan umum yang sifatnya konstan.
c. Tuntutan mata pelajaran yang sama tidak berarti pengalaman yang sama bagi setiap murid. Dalam ciri ini perbedaan-perbedaan individual sebenarnya masih diperhatikan. d. Perencanaan program pelajaran disusun terlebih dahulu. Mata pelajaran wajib dan
pilihan ini ditentukan terlebih dahulu. Artinya, ditetapkan mana yang termasuk pelajaran wajib dan termasuk pelajaran pilihan. Demikian pula dalam penyajian mana yang perlu diberikan apakah ditingkat pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Berapa banyak pelajaran wajib dan pelajaran pilihan, baik jumlah maupun kualitasnya terlebih dahulu ditetapkan oleh perencana kurikulum.
e. Menyediakan kesempatan pelayanan atas dasar perbedaan individual. Adanya pelajaran pilihan, tugas-tugas yang berbeda dan program khusus untuk melayani perbedaan individual.
3. Sarana yang diperlukan
Sarana diperlukan untuk memperoleh hasil yang sempurna. Beberapa sarana yang diperlukan antara lain, menurut Dr. Nana Sudjana dalam Lukmanul Hakim adalah:
a. Guru yang terlatih dan terdidik dalam tugas-tugasnya.
Guru hendaknya mendapat latihan yang sebaik-baiknya untuk mengajar, sekurang-kurangnya untuk satu mata pelajaran. Guru juga harus memahami susunan logis dari bahan yang akan diajarkannya. Ia harus mengetahui cara mendidik anak dan memiliki wawasan yang luas mengenai kurikulum.
b. Setiap guru harus mempunyai ruang kelas khusus.
tersebut. Perpustakaan, alat peraga, tempat praktek, laboratorium, dll harus ada dalam ruangan tersebut. Setiap guru mata pelajaran mendiami kelasnya dan murid mengikuti kelas atau ruangan guru.
c. Lamanya waktu belajar untuk setiap mata pelajaran.
Penentuan banyaknya waktu jam pelajaran ditentukan oleh anggapan penting tidaknya materi mata pelajaran tersebut. Pembagian untuk setiap kali mengerjakan pelajaran tergantung dari jenis mata pelajaran dan cara penyajian pelajaran.
d. Penyediaan pelayanan.
Syarat ini artinya mengadakan kesempatan khusus untuk memenuhi tuntutan kepentingan siswa. Dewasa ini banyak diberikan perhatian terhadap kepentingan siswa dalam bntuk bimbingan penyuluhan, sekalipun hal ini tidak mudah melaksanakannya dalam program pengajaran berdasarkan subject matter curriculum.
4. Persoalan yang Muncul
Dengan munculnya orientasi baru, konsep psikologis baru, maka bentuk organisasi kurikulum yang lama menjadi goyah kedudukannya, sedangkan bentuk-bentuk baru akan muncul. Oleh karena itu para perencana kurikulum penting memahami kritik-kritik terhadap kekurangan dari setiap organisasi kurikulum. Beberapa kritik subject matter curriculum, antara lain:
a. Kurikulum ini terlalu fragmentaris
Guru yang diarahkan menjadi spesialis tertentu sering kehilangan pengetahuan secara menyeluruh. Selain itu kurikulum semacam ini sering menyebabkan tidak terintegrasinya kepribadian siswa.
b. Pengabaian minat dan bakat para siswa.
Penyusunan kurikulum diarahkan kepada penguasaan mata pelajaran, maka hanya individu yang mempunyai minat terhadap soal-soal akademis yang menaruh perhatian khusus terhadap kurikulum ini. Kepatuhan anak didik bukan karena motivasinya tapi sekedar mengelakkan diri dari sanksi. Ini yang menyebabkan pelajaran tidak diterima dengan sungguh-sungguh.
Mata pelajaran disusun secara logis dan diajarkan menurut rangkaian-rangkaian yang logis pula menyebabkan belajar tidak merangsang siswa. Memisahkan pusat perhatian yang mempunyai peranan penting bagi anak didik merupakan hal yang merugikan anak.
d. Pengabaian persoalan sosial.
Subject matter curriculum lebih banyak berorientasi kepada masa lampau sehingga terabaikannya isu dan konflik sosial yang sedang berlangsung, yang seharusnya sekolah turut membantu memecahkan persoalan-persoalan tersebut.
e. Gagal untuk mengembangkan kebiasaan berfikir kreatif.
Kurikulum ini memberikan tekanan kepada penguasaan kesimpulan hasil pemikiran orang lain bukan penguasaan proses yang memungkinkan siswa mengambil kesimpulan dan membuktikannya sendiri.
5. Beberapa Modifikasi Subject Matter Curriculum
Akibat kritik terhadap subject matter curriculum dan perkembangan konsep-konsep baru dalam psikologi serta ketidakpuasan dari organisasi kurikulum ini maka diadakan beberapa usaha memodifikasi bentuk kurikulum ke dalam dua bentuk, yakni corelated curriculum dan broad field curriculum. Kedua modifikasi ini merupakan usaha ke arah penyempurnaan subject matter curriculum.
Corelated curriculum
Corelated curriculum ialah kurikulum yang menekankan perlunya hubungan di antara dua atau lebih mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran. Misalnya: Sejarah dan Geografi dapat diajarkan untuk saling memperkuat, demikian pula halnya dengan Ilmu Pengetahuan Alam dengan Ilmu Pasti dapat dijadikan alat untuk memperjelas kedua mata pelajaran tersebut.
Beberapa keuntungan dari korelasi adalah, bahwa siswa lebih besar minatnya untuk mempelajari mata pelajaran secara korelasional bila dibandingkan dengan penyajian secara konvensional.
Broad field curriculum
Alam, Bahasa, Matematika, dll. Ilmu Pengetahuan Sosial adalah kesatuan dari mata-mata pelajaran Ilmu Bumi, Sejarah, Ekonomi, dll yang ada dalam rumpun Ilmu Sosial. Broad field bukan lagi korelasi tetapi integrasi.
1.4.2 Disain Kurikulun Subject Matter
• Asumsi-asumsi; tujuan (melatih peserta didik menggunakan ide-ide), sumber tujuan (pendidikan klasik), karakteristik peserta didik (anak sebagai tabung kosong), hakekat pembelajaran (ekspositorik dan inkuiri)
• Ciri-ciri umum; berdasarkan atas suatu struktur ilmu, pola kerja mekanik, dan memperhatikan isi dan proses belajar
• Komponen-komponen; tujuan (mengemukakan ide-ide), materi (struktur disiplin ilmu), proses pembelajaran (ekspositorik dan inkuiri), evaluasi (bervariasi sesuai tujuan
dan sifat mata pelajaran)
• Kelebihan; cocok di Perguruan Tinggi , logis dan sistematis, dan isi komprehensif. Kelemahannya; mengabaikan karakter peserta didik dan kurang memperhatikan proses (Anif Ghufron, 2006).
2.Media Pembelajaran
2.1 Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah sarana penyampaian pesan pembelajaran kaitannya dengan model pembelajaran langsung yaitu dengan cara guru berperan sebagai penyampai informasi dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai. Media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
Menurut Heinich yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2011:4), media pembelajaran adalah perantara yang membawa pesan atau informasi bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran antara sumber dan penerima (Anonim, 2012).
2.2 Kriteria dan Langkah-Langkah Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran
2.2.1 Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Sehubungan dengan penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran, guru hendaknya perlu cermat dalam pemilihan dan atau penetapan media yang akan digunakannya dalam proese pembelajaran. Kesesuaian dan ketepatan dalam pemilihan media akan menunjang efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Media pembelajaran yang beraneka ragam jenisnya tentunya tidak akan digunakan seluruhnya secara serentak dalam kegiatan pembelajaran, namun hanya beberapa saja. Untuk itu perlu di lakukan pemilihan media tersebut. Agar pemilihan media pembelajaran tersebut tepat, maka perlu dipertimbangkan faktor/kriteria-kriteria dan langkah-langkah pemilihan media. Disamping itu juga kegiatan pembelajaran menjadi menarik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, dan perhatian siswa menjadi terpusat kepada topik yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Kesesuaian dan ketepatan dalam memilih media pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor seperti luas sempitnya pengetahuan dan pemahaman guru tentang kriteria dan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan serta prosedur pemilihan media pembelajaran. Bahasan berikut akan membahas hal-hal dimaksud agar kita dalam memilihan media pembelajaran lebih tepat.
harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih media yang akan digunakan. Sebagai contoh, anak SD kelas 1 untuk tidak digunakan media yang tajam dan berbahaya si anak, begitu juga aspek penggunaan dan pemilihan warna, karena warna menjadi sangat dominan bagi anak kelas 1-3. Warna dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi siswa sekolah dasar kelas rendah. Oleh karena itu, pemilihan media menjadi penting dipertimbangkan oleh guru dalam menentukan media yang akan dipergunakan dalam pembelajaran.
Ada sejumlah faktor yang perlu anda pertimbangkan dalam memilih, mengembangkan, dan menggunakan media pembelajaran dan sumber belajar. Dasar pemilihan media dan sumber belajar sangatlah sederhana, yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. Mc. Conel (1974) mengatakan bila media itu sesuai pakailah, if the medium fits, use it! yang menjadi pertanyaan adalah apa ukuran atau kriteria tersebut. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media misalnya; tujuan instruksional yang ingin dicapai, karakteristik siswa, jenis rangsangan belajar yang diinginkan, keadaan atau latar kondisi setempat, dan luasnya jangkauan yang ingin dilayani.
Pemilihan media dan sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan. Oleh sebab itu, meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya perlu dipertimbangkan.
Dick dan Carrey menyebutkan bahwa disamping kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, setidaknya masih ada empat faktor lagi yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
1) Ketersediaan sumber setempat, apabila tidak ada maka harus dibeli atau dibuat sendiri. 2) Dana, tenaga, dan fasilitas dalam membeli atau membuat sendiri.
3) Keluwesan, kepraktisan, dan ketahanan media untuk waktu lama 4) Efektivitas biaya dalam jangka waktu panjang.
5) Pandai memilih media yang tepat.
Menurut Degeng (1993), faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih, mengembangkan, dan menggunakan media pembelajaran adalah:
2) Keefektifan. Dari beberapa alternative media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling efektif (tepat guna) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Siswa. Apakah media yang dipilih sudah sesuai dengan kemampuan, perbendaharaan pengalaman, dan menarik perhatian siswa? Digunakan untuk siapa? Apakah secara individual atau kelompok kecil, kelas atau massa? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak jauh?
4) Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalau belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat sendiri, membuat bersamasama siswa, meminjam, menyewa, membeli dan mungkin dapat “dropping” dari pemerintah.
5) Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
6) Kualitas teknis. Apakah media yang dipilih itu kualitasnya baik? Jika menggunakan media gambar misalnya, apakah memenuhi syarat sebagai media pembelajaran? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?
Sudono (2000) mengatakan, dalam pemilihan dan pemanfaatan media pembelajaran, yang perlu diperhatikan adalah media pembelajaran untuk perkembangan emosi dan social anak, motorik halus, motorik kasar, berbahasa, persepsi penglihatan (pengamatan dan ingatan), persepsi pendengaran, dan keterampilan berpikir. Menurut Degeng, dkk (1993), pemilihan dan penggunaan sumber belajar haruslah didasarkan pada hal-hal berikut ini: 1) Analisis karakteristik siswa.
2) Adanya tujuan dan isi instruksional.
3) Adanya strategi pengorganisasian pembelajaran. 4) Adanya strategi penyampaian.
5) Adanya strategi pengelolaan pembelajaran.
6) Adanya pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.
Sedangkan menurut Sudono (2000), pemilihan dan pemanfaatan sumber belajar harus memperhatikan lingkungan terdekat dengan anak, ruang sumber belajar, serta media cetak dan perpustakaan. Hakikat dari pemilihan media ini pada akhirnya adalah keputusan untuk memakai, tidak memakai, atau mengadaptasi media yang bersangkutan. Berkaitan dengan pemilihan media ini, Azhar Arsyad (1997: 76-77) menyatakan bahwa kriteria memilih media yaitu:
3. Praktis, luwes, dan tahan;
4. Guru terampil menggunakannya; 5. Pengelompokan sasaran; dan 6. Mutu teknis.
Selanjutnya Brown, Lewis, dan Harcleroad (1983: 76-77) menyatakan bahwa dalam memilih media perlu mempertimbangkan kriteria sebagai berikut: 1) content; 2) purposes; 3) appropriatness; 4) cost; 5) technical quality; 6) circumstances of uses; 7) learner verification, dan 8) validation.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dipertegas bahwa pada dasarnya pendapat-pendapat tersebut memiliki kesamaan dan saling melengkapi. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa hal yang perlu yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu tujuan pembelajaran, keefektifan, keefisienan, peserta didik, ketersediaan, kualitas teknis, biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya serta alokasi waktu yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hal ini akan diuraikan sebagai berikut: 1) Tujuan pembelajaran. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya, mungkin ada sejumlah alternatif yang dianggap cocok untuk tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok. Kecocokan banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan yang akan dicapai dengan karakteristik media yang akan digunakan.
2) Keefektifan. Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Keefisienan. Penggunaan media pembelajaran harus membuat proses pembelajaran menjadi lebih efisien sehingga kegiatan yang dilakukan didalam kelas tidak banyak membuang waktu.
dengan karakteristik peserta didik sehingga dapat diterima dengan baik baik oleh peserta didik.
5) Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia? Kalu belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk tersedianya media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat sendiri, membuat bersamasama dengan peserta didik, meminjam menyewa, membeli dan mungkin bantuan.
6) Kualitas teknis. Apakah media media yang dipilih itu kualitas baik? Apakah memenuhi syarat sebagai media pendidikan? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?. Sebuah media pembelajaran harus memiliki kualitas teknis yang bagus sehingga selama penggunaan media pembelajaran untuk proses belajar, media tidak cepat rusak sehingga dapat menganggu proses pembelajaran.
7) Biaya pengadaan. Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?. Penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi keuangan guru dan siswa agar tidak membebani anggaran. Apabila media yang diharapkan terlalu mahak diusahana mencari alternatif media lain yang setara.
8) Fleksibilitas, dan kenyamanan media. Dalam memilih media harus dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat digunakan dalam berbagai situasi dan pada saat digunakan tidak berbahaya.
9) Kemampuan orang yang menggunakannya. Betapapun tingginya nilai kegunaan media, tidak akan memberi manfaat yang banyak bagi orang yang tidak mampu menggunakannya. 10) Alokasi waktu, waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran akan berpengaruh terhadap penggunaan media pembelajaran. Untuk itu ketika memilih media pembelajaran kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti; apakah dengan waktu yang tersedia cukup untuk pengadaan media, apakah waktu yang tersedia juga cukup untuk penggunaannya.
2.2.2 Langkah-Langkah Pemilihan Media
tiap peristiwa, 5) mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam pengajaran, 6) Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media yang dipakai. 7) Menentukan media yang terpilih akan digunakan, 8) menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut, 9) Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap peristiwa, dan 10) Menuliskan script pembicaraan dalam penggunaan.media. Selaras dengan hal tersebut, Anderson (1976) menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu:
1) Langkah 1: Penerangan atau Pembelajaran
Langkah pertama menentukan apakah penggunaan media untuk keperluan informasi atau pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya dalam menerima informasi, sedangkankan media untuk keperluan pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukkan kemampuannya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.
2) Langkah 2: Tentukan Transmisi Pesan
Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah dalam proses pembelajaran akan digunakan “alat bantu pengajaran atau “media‟ pembelajaran . Alat bantu‟ pengajaran alat yang didesain, dikembangkan, dan diproduksi untuk memperjelas tenaga pendidik dalam mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara produk pengembang media dan peserta didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai materi pembelajaran digantikan oleh media.
3) Langkah 3: Tentukan Karakteristik Pelajaran
Asumsi kita bahwa kita telah menyusun disain pembelajaran, dimana kita telah melakukan analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan pembelajaran, telah memilih materi dan metode. Selanjutnya perlu dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu termasuk dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah tujuan tersebut memerlukan media yang berbeda.
4) Langkah 4: Klasifikasi Media
luar ruang kelas. Masing-masing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bila dibandingkan dengan media lainnya.
5) Langkah 5: Analisis karakteristik masing-masing media.
Media pembelajaran yang banyak macamnya perlu dianalisis kelebihan dan kekurangannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pertimbangan pula dari aspek ekonomi dan ketersediaannya. Dari berbagai alternatif kemudian dipilih media yang paling tepat.
2.2.3 Langkah-Langkah Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut.
1) Persiapan
Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan tenaga pengajar pada langkah persiapan diantaranya: a) membuat rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan sebagaimana bila akan mengajar seperti biasanya. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran/perkuliahan cantumkan media yang akan digunakan. b) mempelajari buku petunjuk atau bahan penyerta yang telah disediakan, c) menyiapkan dan mengatur peralatan yang akan digunakan agar dalam pelaksanaannya nanti tidak terburu-buru dan mencari-cari lagi serta peserta didik dapat melihat dan mendengar dengan baik.
2) Pelaksanaan/Penyajian
Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti: a) yakinkan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan. b) jelaskan tujuan yang akan dicapai, c) jelaskan lebih dahulu apa yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran, d) hindari kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/konsentrasi, dan ketenangan peserta didik.
3) Tindak lanjut
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.BAB II Kajian Teori. Diakses pada tanggal 31 Maret 2015. http://eprints.uny.ac.id/8323/3/BAB%202%20-%2008513241018.pdf
Anonim.2014.BAB I Konsep Dasar Media Pembelajaran. Diakses pada tanggal 31 Maret 2015. http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/33531895/Bahan_Ajar_-_Media_Pembelajaran-libre.pdf?
AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1427788278&Signature=vd WBE5WSH1YRbJweHZ%2BbaXUniRc%3D
Gafur, Abdul.2010.Perencanaan Pemebelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Tingkat Pendidikan SMA/MA/SMA-LB.Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Yogyakarta.Diakses pada tanggal 31 Maret 2015.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PERENCANAAN%20%20PEMBELAJARAN %20PKN%20SMA.pdf
Ghufron, anik.2006.Desain Kurikulum.Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses pada tanggal 25 Maret 2015.
Hakim, lukmanul. .Kurikulum Subject Matter.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Diakses pada tanggal 25 Maret 2015.