Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN 2302-299X
eISSN 2407-7860
Vol. 7 No. 2, Agustus 2018
Akreditasi LIPI: 764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016 Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI: 36b/E/KPT/2016
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Maret dan Agustus oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.
Wallacea Journal of Forestry Research is a scientific publication reporting research findings in the field of forestry. The journal is published two times per year in March and August by Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar, Research Development and Innovation Agency, Ministry of Environment and Forestry of Indonesia. Penanggung Jawab (Responsible person) : Ir. Misto, M.P. (Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
Dewan Redaksi (Editorial Boards):
Ketua (Editor in chief), merangkap anggota : Hasnawir, S.Hut, M.Sc, Ph.D. (Konservasi Sumberdaya Hutan, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
Anggota (Members):
1. Dr. Abdul Kadir Wakka, S.Hut, M.Si (Sosial Ekonomi Kehutanan, BP2LHKM)
2. Dr. Dede J. Sudrajat, S.Hut, MT (Teknologi Benih, Genetika Populasi, BP2TPTH)
3. Dr. Muhammad Asdar, S.Hut, M.Si (Pengelolaan Hasil Hutan, BP2LHKM)
4. Dr. Forest. Muhammad Alif K. Sahide, S.Hut M.Si (Kebijakan Kehutanan, UNHAS)
5. Andes Hamuraby Rozak, S.Hut, M.Sc (Ekologi dan Evolusi, LIPI)
6. Yonky Indrajaya, S.Hut, MT, M.Sc (Perencanaan Hutan, BPTA)
7. Ir. M. Kudeng Sallata, M.Sc (Hidrologi dan Konservasi Tanah, BP2LHKM)
8. Ir. Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho, M.Si (Konservasi Sumber Daya Hutan, BP2LHKM) 9. Heru Setiawan, S.Hut, M.Sc (Konservasi Sumber Daya
Hutan, BP2LHKM)
Mitra bestari (Peer reviewer) :
1. Prof Dr. Tukirin Partomihardjo (Konservasi Tumbuhan, LIPI)
2. Prof. Dr. rer. nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc (Penginderaan Jauh dan Kebencanaan, UGM)
3. Prof. Dr. Yusuf Sudo Hadi, M.Agr (Teknologi Hasil Hutan, IPB)
4. Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto DEA (Etnobotani, LIPI) 5. Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah, MPhil (Entomologi
(Biosistematika), LIPI)
6. Prof. Dr. Ir. Baharuddin Nurkin, M.Sc (Silvikultur, UNHAS) 7. Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr. (Inventarisasi
Hutan/Perencanaan Hutan, UNHAS)
8. Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Ekologi Hutan, UNHAS) 9. Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. (Pemuliaan Tanaman Hutan,
BBP2BPTH)
10.Prof. Dr. Ir. Musrizal Muin, M.Sc (Pengawetan Kayu, UNHAS) 11.Prof. Dr. Ir. Muhammad Restu, M.P (Genetika dan Pemuliaan
Hutan, UNHAS)
12.Prof. Dr. Ir. Amran Achmad, M.Sc (Konservasi Biologi, UNHAS)
13.Prof. Dr. Yusran S.Hut, M.Si (Kebijakan Kehutanan dan Lingkungan, UNHAS)
14.Prof. Dr. Ir. Supratman, M.P. (Manajemen Hutan, UNHAS)
15.Prof. Dr. Ir. Muh. Dassir, M.Si (Sosiologi Antropologi Kehutanan, UNHAS)
16.Prof. Dr. Ir. Samuel A. Paembonan, M.Sc (Silvikultur, UNHAS) 17.Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, M.Agr.Sc. (Manajemen Hutan
(Forest carbon/biomass), UGM)
18.Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc F Trop (Ekologi Flora, IPB) 19.Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi bekas tambang,
IPB)
20.Naresworo Nugroho, Ph.D (Pengolahan Hasil Hutan, IPB) 21.Dr. Ir. Cahyo Wibowo, M.Sc. (Ilmu Tanah Hutan, IPB) 22.Dr. Ir. A. Ngalokan Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi
Tanah, MKTAI)
23.Dr. Ir. Rudi A Maturbongs, M.Si (Konservasi Biologi, UNIPA) 24.Muhammad Kamal, S.Si., M. GIS., Ph.D (Remote Sensing and
GIS, Mapping, Mangrove, Fakultas Geografi, UGM) 25.Dr. Ir. Anwar Umar, M.S (Tanah Hutan, UNHAS)
26.Dr. Ir. Usman Arsyad, M.S (Perencanaan Rehabilitasi Lahan, UNHAS)
27.Dr. Ir. Syamsuddin Millang, M.S (Agroforestri, UNHAS) 28.Dr. Ir. Andi Sadapotto, M.P. (Serangga dan Hama Hutan,
UNHAS)
29.Dr. Ir. Supriyanto, DEA (Teknologi Benih, IPB) 30.Dr. Sapto Indrioko S.Hut. M.P (Pemuliaan Pohon, UGM)
Redaksi Pelaksana (Managing Editor) :
Ketua (Chairman) : Ir. Turbani Munda, M.Hut (Kepala Seksi Data, Informasi & Kerjasama) Anggota (Members) : 1. Ir. Sahara Nompo
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar (Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar)
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (Research, Development and Innovation Agency)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (Ministry of Environment and Forestry of Indonesia) Alamat (Address) : Jalan Perintis kemerdekaan Km. 16 Makassar 90243, Sulawesi Selatan, Indonesia Telepon (Phone) : +62-411-554049
Faks (Fax) : +62-411-554058
Foreword |
I
PENGANTAR REDAKSI
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) adalah publikasi ilmiah hasil
penelitian bidang kehutanan dengan No.
ISSN 2302-299X
(Print) dan No.
eISSN 2407-7860
(Elektronik) dengan Digital Object Identifier (DOI) Prefix: 10.18330.
Syukur alhamdulillah Vol. 7 No. 2 JPK Wallacea ini telah terbit pada tanggal 31 Agustus
2018 secara online dan merupakan terbitan ke-enam melalui
submission online
. Pada terbitan
ini terdapat 8 (delapan) naskah dengan penulis berasal dari berbagai institusi yaitu Pusat
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya - LIPI, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB),
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Pusat
Litbang Hasil Hutan, Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS, Balai Perbenihan Tanaman
Hutan, dan Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu.
Pada Vol.7 No. 2 ini terdapat empat naskah terkait bidang
silvikultur
: 1) Estimasi
jumlah dan komposisi simpanan biji dalam tanah di savana bekol Taman Nasional Baluran
Jawa Timur. Studi ini menunjukkan bahwa invasi
A. nilotica
berpengaruh nyata terhadap
jumlah dan komposisi simpanan biji dalam tanah di berbagai kedalaman tanah di Savana
Bekol; 2) Pertumbuhan bibit sengon merah pada media semai cetak dan perbandingannya
dengan bibit polybag. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan
mikoriza dan rhizobium terhadap pertumbuhan bibit sengon merah pada media semai cetak
dan membandingkannya dengan pertumbuhan bibit pada polybag dengan penambahan
berbagai dosis pupuk dasar; 3) Induksi pembentukan gaharu pada
Aquilaria malaccensis
menggunakan pupuk urea dan
Fusarium solani
. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan
gaharu (warna dan aroma)
A. malaccensis
melalui induksi dengan
F. solani
dan pupuk urea
serta menganalisis kandungan kimia gaharu yang terbentuk; 4) Injeksi molase untuk
meningkatkan pertumbuhan dan vitalitas tanaman kesambi sebagai inang kutu lak. Tujuan
utama penelitian adalah mengkaji efek penambahan molase terhadap pertumbuhan dan
vitalitas pohon kesambi.
Ada tiga naskah terkait bidang
konservasi sumberdaya hutan:
1)
Penilaian variabel
vegetasi pada lahan reklamasi bekas tambang emas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai
keberhasilan program reklamasi berdasarkan variabel vegetasi lahan bekas tambang emas
sehingga menjadi dasar dalam pengelolaan kawasan selanjutnya; 2) Struktur lanskap
mempengaruhi komunitas burung di kota Bogor Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi komunitas burung pada tipe lanskap berbeda dan menganalisis struktur
lanskap yang mempengaruhi komunitas burung; 3) Vegetasi riparian dalam hutan produksi
di sungai Cemoro-Modang, Cepu, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
potensi vegetasi riparian meliputi komposisi spesies, keragaman spesies dan kesamaan
komposisi spesies. Selanjutnya, ada satu naskah terkait bidang
pengolahan hasil hutan.
Naskah ini berjudul beberapa sifat fisik
Eucalyptus pellita
F. Muell dari provenan dan posisi
pengambilan sampel pada pohon yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh dari perbedaan 4 kelompok provenan dan posisi sampel pada batang pohon
terhadap beberapa sifat fisik
E. pellita
.
Pada kesempatan ini, kami atas nama pengelola JPK Wallacea mengucapkan terima
kasih dan penghargaan kepada mitra bestari (
peer reviewers
) yang telah menelaah naskah
pada terbitan ini, sebagai berikut:
1.
Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Institut Pertanian Bogor, Bogor).
2.
Prof Dr. Tukirin Partomihardjo (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor).
3.
Prof. Dr.Ir. Amran Achmad, M.Sc (Universitas Hasanuddin, Makassar).
4.
Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, M.S. (Masyarakat Konsevasi Tanah dan Air Indonesia, Bogor).
5.
Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr (Universitas Hasanuddin, Makassar).
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol. 7 No.2, Agustus 2018
II
7.
Dr. Ir. Cahyo Wibowo, M.Sc. (Institut Pertanian Bogor, Bogor).
8.
Prof. Dr. Yusuf Hadi, M.Agr (Institut Pertanian Bogor, Bogor).
9.
Naresworo Nugroho, Ph.D (Institut Pertanian Bogor, Bogor).
10.
Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Universitas Hasanuddin, Makassar).
11.
Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto DEA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor).
12.
Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. (Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan
Tanaman Hutan, Yogyakarta)
13.
Prof. Dr. Ir. Samuel Paembonan, M.Sc (Universitas Hasanuddin, Makassar).
Semoga publikasi ini dapat bermanfaat dan berkontribusi dalam peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Makassar, Agustus 2018
Table of Contents |
III
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN 2302-299XeISSN 2407-7860
Vol. 7 No.2, Agustus 2018
Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI:
36b/E/KPT/2016
Akreditasi LIPI:
764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016
DAFTAR ISI (Table of Contents)
Danang Wahyu Purnomo, Izu Andry Fijridiyanto,
dan
Joko Ridho Witono
...
93-108
PENILAIAN VARIABEL VEGETASI PADA LAHAN REKLAMASI BEKAS TAMBANG
EMAS DI RATATOTOK, MINAHASA TENGGARA
(An Assessment of Vegetation Variables in The Reclamation Area of The Ex-Gold
Mining at Ratatotok, Southeast Minahasa)
Aronika Kaban, Ani Mardiastuti,
dan
Lilik Budi Prasetyo
...
109-118
STRUKTUR LANSKAP MEMPENGARUHI KOMUNITAS BURUNG DI KOTA BOGOR
JAWA BARAT
(Landscape Structure Affects Bird Community in Bogor, West Java)
Agung Wahyu Nugroho
dan
Heru Dwi Riyanto
...
119-129
RIPARIAN VEGETATION IN PRODUCTION FOREST AT CEMORO-MODANG
RIVER, CEPU, CENTRAL JAVA
(Vegetasi Riparian dalam Hutan Produksi di Sungai Cemoro-Modang,
Cepu, Jawa Tengah)
Nurmuliayanti Muis, Titiek Setyawati, Sukisman Tjitrosoedirdjo,
dan
Y.M.D.
Ratnadewi
...
131-140
ESTIMASI JUMLAH DAN KOMPOSISI SIMPANAN BIJI DALAM TANAH DI
SAVANA BEKOL TAMAN NASIONAL BALURAN JAWA TIMUR
(Estimating The Abundance and Composition of Soil Seed Bank at Bekol Savanna
in Baluran National Park, West Java)
Eliya Suita, D. J. Sudrajat,
dan
Nurhasybi
...
141-149
PERTUMBUHAN BIBIT SENGON MERAH (
Albizia chinensis
(Osbeck) Merr.)
PADA MEDIA SEMAI CETAK DAN PERBANDINGANNYA DENGAN BIBIT
POLYBAG
(Growth of Red Sengon (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) Seedlings on the Molded
Seedling Media and Its Comparison with Polybag Seedling)
Karnita Yuniarti
dan
Arif Nirsatmanto
...
151-163
SEVERAL PHYSICAL PROPERTIES OF
Eucalyptus pellita
F. Muell FROM
DIFFERENT PROVENANCES AND SAMPLING POSITION ON TREE
(Beberapa Sifat Fisik Eucalyptus pellita F. Muell dari Provenan dan Posisi
Pengambilan Sampel pada Pohon yang Berbeda)
Resti Wahyuni, Triadiati Triadiati,
dan
Syamsul Falah
...
165-171
INDUKSI PEMBENTUKAN GAHARU PADA
Aquilaria malaccensis
MENGGUNAKAN PUPUK UREA DAN
Fusarium solani
(Induction of Agarwood in Aquilaria malaccensis Using Nitrogen Fertilizer and
Fusarium solani)
Heri Suryanto, Supriyanto,
dan
Noor Farikhah Haneda
...
173-181
INJEKSI MOLASE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN VITALITAS
TANAMAN KESAMBI (
Schleicera oleosa
Merr) SEBAGAI INANG KUTU LAK
Abstract Sheet |
V
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN 2302-299XeISSN 2407-7860
Vol. 7 No.2, Agustus 2018
Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI:
36b/E/KPT/2016
Akreditasi LIPI:
764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016
Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh difotokopi tanpa izin dan biaya
UDC (OSDCF) 630*234
Danang Wahyu Purnomo, Izu Andry Fijridiyanto, dan Joko Ridho Witono (Pusat Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya–LIPI)
PENILAIAN VARIABEL VEGETASI PADA LAHAN REKLAMASI BEKAS TAMBANG EMAS DI RATATOTOK, MINAHASA TENGGARA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 93 - 108
Abstrak
Lahan reklamasi bekas tambang emas PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) akan dijadikan kawasan konservasi dalam bentuk kebun raya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberhasilan program reklamasi berdasarkan variabel vegetasi lahan bekas tambang emas PT. NMR sehingga menjadi dasar dalam pengelolaan kawasan selanjutnya. Pengamatan vegetasi pada tiap unit lahan
dilakukan dengan sistem nested sampling, yaitu plot-plot ditempatkan pada tiap unit lahan di
sepanjang jalur tegak lurus kontur. Variabel vegetasi yang dicatat antara lain nama jenis, jumlah individu, nomor plot, koordinat, suhu, kelembaban, tutupan tajuk, dan tutupan lantai hutan. Pengaruh variabel vegetasi pada kedua kawasan, areal revegetasi dan non revegetasi diuji dengan analisis deskriminan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa komposisi vegetasi lahan bekas tambang PT.
NMR masih didominasi oleh jenis-jenis introduksi seperti gamal (Gliricidia sepium), mahoni (Swietenia
macrophylla), dan lamtoro (Leucaena leucocephala). Keragaman jenis tumbuhan bawah pada area
revegetasi tergolong sedang. Struktur vegetasi pada area revegetasi masih dalam proses pertumbuhan dan belum mencapai kondisi klimaks. Akan tetapi, upaya revegetasi PT. NMR telah menghasilkan komposisi dan struktur vegetasi yang menyamai kondisi vegetasi di hutan sekunder. Untuk menunjang kestabilan area dan mendukung program pembangunan kebun raya perlu dilakukan pengayaan jenis-jenis tumbuhan asli dan tumbuhan terancam kepunahan.
Kata Kunci: Analisis vegetasi, reklamasi, tambang emas
UDC (OSDCF) 630*234
Aronika Kaban (Program Pascasarjana Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor), Ani Mardiastuti, dan Lilik Budi Prasetyo (Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) STRUKTUR LANSKAP MEMPENGARUHI KOMUNITAS BURUNG DI KOTA BOGOR JAWA BARAT
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 109 - 118
Abstrak
Burung memiliki tanggapan yang berbeda terhadap modifikasi lanskap bergantung pada adaptasi di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi komunitas burung pada tipe lanskap berbeda dan menganalisis struktur lanskap yang mempengaruhi komunitas burung. Penelitian dilakukan di Kota Bogor pada April - Agustus 2016 pada 29 lanskap yang dibagi menjadi empat tipe lanskap yaitu utuh, kombinasi, terfragmentasi, dan relik. Pengambilan
data burung menggunakan metode point count. Analisis keanekaragaman burung menggunakan
indeks Shanon-Wienner, uji statistik terhadap kelimpahan individu dan kekayaan spesies burung menggunakan Kruskal-Wallis, dan analisis kesamaan komunitas burung menggunakan indeks
Bray-Curtis. Parameter struktur lanskap sebanyak 7 variabel dianalisis menggunakan patch analyst di
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018
VI
Analisis kesamaan komunitas burung menunjukkan bahwa lanskap utuh dikelompokkan terpisah, sementara tiga tipe lainnya membentuk satu kelompok. Kelimpahan individu dan kekayaan spesies burung lebih tinggi di lanskap utuh. Keanekaragaman burung di Kota Bogor semakin tinggi jika nilai
panjang tepi patch, kompleksitas bentuk patch dan kompleksitas lansekap semakin kecil.
Kata kunci: Burung perkotaan, patch analyst, struktur lanskap
UDC (OSDCF) 630*234
Agung Wahyu Nugroho dan Heru Dwi Riyanto (Watershed Management Technology Center)
VEGETASI RIPARIAN DALAM HUTAN PRODUKSI DI SUNGAI CEMORO-MODANG, CEPU, JAWA TENGAH
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 119 - 129
Abstrak
Pengelolaan hutan produksi bertujuan tidak hanya untuk memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga manfaat lingkungan, dan sosial. Vegetasi riparian berfungsi untuk mendukung peningkatan fungsi perlindungan lingkungan di hutan produksi. Vegetasi riparian menawarkan sejumlah manfaat lingkungan terkait dengan kualitas air, stabilisasi tebing sungai, dan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi vegetasi riparian (yaitu komposisi spesies, keragaman spesies dan kesamaan komposisi spesies) di sungai Modang. Penelitian ini dilakukan di KHDTK Cemoro-Modang, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, yang terletak pada wilayah kerja BKPH Pasarsore dan BKPH Cabak, KPH Cepu, Perum Perhutani Unit I. Inventarisasi jenis dilakukan melalui survei dengan cara membuat transek menyusuri sungai Cemoro dan Modang dengan membuat plot-plot ukur berukuran 20 mx20 m untuk vegetasi tingkat pohon, 10 mx10 m untuk tingkat tiang, 5 mx5 m untuk tingkat pancang, 2 mx2 m untuk tingkat semai dan 1 mx1 m untuk tumbuhan bawah. Hasil survei dianalisis menggunakan metode analisis vegetasi, berupa: indeks nilai penting (INP), keanekaragaman jenis, indeks kesamaan komposisi jenis (indeks similaritas). Hasil studi menunjukkan 114 spesies yang menyusun vegetasi di sempadan sungai Cemoro dan Modang. Vegetasi tingkat pohon, tiang, pancang, semai, dan tumbuhan bawah berturut-turut disusun oleh 6 spesies, 2 spesies, 20 spesies, 16 spesies,
dan 85 spesies. Vegetasi riparian didominasi oleh jenis jati (Tectona grandis). Keanekaragaman jenis
untuk vegetasi tingkat pohon dan tiang termasuk rendah, tingkat pancang dan semai kategori sedang, dan tumbuhan bawah termasuk tinggi. Indeks kesamaan komposisi jenis antara sungai Cemoro dan sungai Modang tergolong rendah yaitu hanya sebesar 40,4%.
Kata kunci: Hutan produksi, sungai Cemoro dan Modang, vegetasi riparian
UDC (OSDCF) 581.526.42
Nurmuliayanti Muis (Program Pascasarjana, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, IPB), Titiek Setyawati (Pusat Penelitian dan Pengembagan Hutan, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Sukisman Tjitrosoedirdjo (SEAMEO BIOTROP), dan Y.M.D.
Ratnadewi (Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian
Bogor)
ESTIMASI JUMLAH DAN KOMPOSISI SIMPANAN BIJI DALAM TANAH DI SAVANA BEKOL TAMAN NASIONAL BALURAN JAWA TIMUR
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 131 - 140
Abstrak
Komposisi simpanan biji dalam tanah dapat menggambarkan kondisi vegetasi tumbuhan di masa lalu serta dapat memprediksi komposisi tumbuhan yang tumbuh di masa yang datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan komposisi simpanan biji dalam tanah di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran. Sampel tanah diambil dengan menggunakan metode kombinasi antara
kuadrat-transek pada vegetasi yang terinvasi dan tidak terinvasi oleh Acacia nilotica. Sampel tanah diekstraksi
dengan menggunakan metode Wet-sieving. Setelah proses ekstraksi, biji diidentifikasi dan dihitung
Abstract Sheet |
VII
tanah lebih rendah di lokasi yang terinvasi (7.566,88 biji/m3) dibandingkan dengan lokasi yang tidak
terinvasi (16.798,3 biji/m3). Komposisi simpanan biji dalam tanah yang ditemukan pada lokasi
terinvasi terdiri dari 12 spesies gulma berdaun lebar dan 5 spesies rumput dari 7 famili, sedangkan pada lokasi tidak terinvasi terdiri dari 10 spesies gulma berdaun lebar dan 7 spesies rumput dari 8
famili. Studi ini menunjukkan bahwa invasi A. nilotica berpengaruh nyata terhadap jumlah dan
komposisi simpanan biji dalam tanah di berbagai kedalaman tanah di Savana Bekol.
Kata kunci: Biji dalam tanah, gulma berdaun lebar, Acacia nilotica
UDC (OSDCF) 581.526.42
Eliya Suita, D. J. Sudrajat, dan Nurhasybi (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan
Tanaman Hutan)
PERTUMBUHAN BIBIT SENGON MERAH (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) PADA MEDIA SEMAI
CETAK DAN PERBANDINGANNYA DENGAN BIBIT POLYBAG
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 141 - 149
Abstrak
Pengembangan metode alternatif penanaman dan rehabilitasi hutan sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi lahan dan hutan yang mengalami degradasi dan peningkatan kekritisan yang sangat luas. Salah satu metode yang banyak diteliti adalah pembuatan bibit berkualitas yang mampu beradaptasi pada lahan penanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan
mikoriza dan rhizobium terhadap pertumbuhan bibit sengon merah (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.)
pada media semai cetak dan membandingkannya dengan pertumbuhan bibit pada polybag dengan
penambahan berbagai dosis pupuk dasar. Pengujian bibit pada media semai cetak dengan penambahan mikoriza dan rhizobium dilakukan di persemaian hingga umur bibit 3 bulan, sedangkan pengujian lapang dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan awal sengon merah (umur 6 bulan
setelah tanam) dari media semai cetak dan bibit pada polybag dengan berbagai dosis pupuk dasar.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak blok. Penggunaan media semai cetak berpengaruh nyata pada sebagian besar parameter pertumbuhan bibit. Media semai cetak yang diberi rhizobium dengan dosis 3 g per bibit pada saat penyapihan memberikan pertumbuhan bibit dan tanaman di
lapangan terbaik. Peningkatan pertumbuhan juga dihasilkan dari bibit polybag yang diberi pupuk
dasar 5 kg per lubang tanam. Tanaman sengon merah yang berasal dari bibit pada media semai cetak
dengan penambahan rhizobium 3 g dan bibit polybag dengan dosis pupuk dasar 5 kg mempunyai
pertumbuhan tertinggi dan tidak berbeda nyata untuk sebagian besar parameter pertumbuhan yang diuji. Dengan demikian, penggunaan media semai cetak untuk kegiatan penanaman dan rehabilitasi lahan dan hutan dapat dijadikan teknologi alternatif dalam pembuatan bibit tanaman hutan.
Kata kunci:Albizia chinensis, bibit, penanaman, rehabilitasi, rhizobium
UDC (OSDCF) 630*8
Karnita Yuniarti (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan) dan Arif Nirsatmanto (Balai
Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan)
BEBERAPA SIFAT FISIK Eucalyptus pellita F. Muell DARI PROVENAN DAN POSISI PENGAMBILAN
SAMPEL PADA POHON YANG BERBEDA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 151 - 163
Abstrak
Eucalyptus pellita F. Muell merupakan salah satu jenis tanaman terpilih untuk program
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018
VIII
kelompok provenan dan posisi sampel pada batang pohon terhadap beberapa sifat fisik E. pellita. Hasil
yang diperoleh menunjukkan bahwa bagian pangkal pohon contoh dari Provenan Indonesia memiliki kadar air awal tertinggi (97,34 + 15,67%). Sampel dari bagian ujung pohon yang berasal dari provenan Kiriwa Utara PNG mengandung kadar air kering udara tertinggi (15,15 + 0,20%). Sampel dari
Provenan Serisa Village PNG memiliki kerapatan tertinggi, 590 + 90 kg/m3 untuk bagian pangkal dan
630 + 80 kg/m3 untuk bagian ujung. Bagian pangkal pohon contoh asal Provenan Kiriwa Selatan PNG
memiliki rasio T/R tertinggi yaitu 1,91 + 0,26. Nilai T/R yang kurang dari 2 untuk semua provenan mengindikasikan kayu akan stabil selama pemakaian atau pengolahan lanjutan. Hasil lebih lanjut
menunjukkan provenan memiliki pengaruh nyata terhadap kadar air awal dan kerapatan kayu E.
pellita. Faktor posisi sampel pada batang pohon hanya mempengaruhi nilai kadar air awal.
Berdasarkan hasil penelitian ini, kayu E. pellita yang diperiksa dapat digunakan untuk keperluan
konstruksi ringan hingga sedang.
Kata kunci: Kadar air, kerapatan, rasio T/R, Eucalyptus pellita, provenan
UDC (OSDCF) 630*8
Resti Wahyuni (Program Pascasarjana Program Studi Biologi Tumbuhan, Fakultas Matematika dan
IPA, Institut Pertanian Bogor), Triadiati Triadiati (Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor),dan Syamsul Falah (Departemen Biokimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor)
INDUKSI PEMBENTUKAN GAHARU PADA Aquilaria malaccensis MENGGUNAKAN PUPUK UREA
DAN Fusarium solani
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 165 - 171
Abstrak
Aquilaria malaccensis merupakan salah satu spesies penghasil gaharu di Indonesia. Senyawa
gaharu terbentuk sebagai respon pertahanan pohon gaharu terhadap berbagai gangguan seperti gangguan fisik, infeksi patogen, atau perlakuan kimiawi. Pembentukan gaharu dipengaruhi oleh waktu induksi, umur pohon, musim, keadaan geografis, lingkungan, dan spesies pohon. Induksi pembentukan gaharu dapat dilakukan pada pohon dewasa maupun anakan. Induksi gaharu pada anakan memerlukan usaha yang lebih keras dibandingkan pada pohon. Kombinasi perlakuan cendawan
(Fusarium solani) dan pupuk nitrogen (pupuk urea) kemungkinan dapat menjadi salah satu cara untuk
menginduksi terbentuknya gaharu pada anakan A. malaccensis. Penelitian ini bertujuan untuk
menghasilkan gaharu (warna dan aroma) A. malaccensis melalui induksi dengan F. solani dan pupuk
urea serta menganalisis kandungan kimia gaharu yang terbentuk. Kandungan senyawa gaharu
dianalisis menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa warna kayu gaharu berbeda tiap perlakuan. Warna paling cokelat dan aroma
paling wangi pada gaharu dihasilkan oleh perlakuan A. malaccensis dipupuk urea 4 gr/bibit dan
inokulasi F. solani. Terdapat tiga jenis senyawa kimia yang teridentifikasi yaitu dimetil silanediol, 4-etil
asam benzoat, dan 1,4,7,10,13,16-heksaoksasiklooktadekan dengan persentase berturut-turut sebesar 25,7; 17,62, dan 3,56. A. Biosintesis dari aroma senyawa gaharu terjadi terlebih dahulu sebelum terjadinya perubahan warna kayu gaharu.
Abstract Sheet |
IX
UDC (OSDCF) 581.526.42Heri Suryanto (Program Pascasarjana Program Studi Silvikultur Tropika, Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor), Supriyanto, dan Noor Farikhah Haneda (Departemen Silvikultur, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor)
INJEKSI MOLASE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN VITALITAS TANAMAN KESAMBI
(Schleicera oleosa Merr) SEBAGAI INANG KUTU LAK
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 No.2, Agustus 2018, hlm: 173 - 181
Abstrak
Lak merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang berasal dari sekresi kutu Laccifer lacca
yang dibudidayakan pada tanaman kesambi (Schleicera oleosa Merr) sebagai tanaman inangnya. Salah
satu penyebab rendahnya produksi lak di Indonesia disebabkan oleh kondisi tanaman inang yang kurang baik (pertumbuhan merana, daun menguning, dan rontok). Molase mengandung karbohidrat berupa sukrosa yang terdapat dalam cairan floem yang dimanfaatkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan utama penelitian adalah mengkaji efek penambahan molase terhadap pertumbuhan dan vitalitas pohon kesambi. Molase diinjeksikan pada tanaman menggunakan metode
injeksi cairan secara pasif (passive liquid injection). Kegiatan pra penelitian dilakukan dengan injeksi
cairan pewarna jaringan gentian violet pada ketinggian 0,5, 1,5, dan 2 meter di atas permukaan tanah
untuk mengetahui letak ketinggian injeksi terbaik, sedangkan kegiatan penelitian utama dilakukan dengan injeksi molase konsentrasi 5, 10, 15%, dan air (tidak mengandung molase) sebagai kontrol.
Parameter yang diukur pada pra penelitian adalah panjang translokasi gentian violet sedangkan pada
penelitian utama adalah volume serapan, pertambahan diameter cabang, kadar gula total, dan kandungan klorofil. Hasil pra penelitian menunjukkan letak injeksi terbaik diperoleh pada ketinggian 1,5 meter di atas permukaan tanah. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa serapan cairan terbanyak diperoleh pada air diikuti cairan molase konsentrasi 5, 10, dan 15 %. Injeksi molase konsentrasi 10%memberikan pengaruh terbaik pada pertambahan diameter cabang (4,3 mm) dengan kandungan gula total padacabang sebesar 18,46%. Vitalitas kesambi juga meningkat pada injeksi molase konsentrasi 10% yang ditunjukkan oleh peningkatan kandungan pigmen yaitu klorofil a (1,117 mg/g), b (0,416 mg/g), karoten (0,365), dan antosianin (0,094 mg/100g).
Abstract Sheet |
XI
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN 2302-299X
eISSN 2407-7860
Vol. 7, Issue 2, August 2018
Accreditation Number
(KEMENRISTEKDIKTI)
:
36b/E/KPT/2016
Accreditation Number (LIPI)
:
764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016
The keywords noted here are the words which represent the concept applied in a writing.
These abstracts are allowed to copy without permission from the publisher and free of charge.
UDC (OSDCF) 630*234
Danang Wahyu Purnomo, Izu Andry Fijridiyanto, dan Joko Ridho Witono (Pusat Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya–LIPI)
AN ASSESSMENT OF VEGETATION VARIABLES IN THE RECLAMATION AREA OF THE EX-GOLD MINING AT RATATOTOK, SOUTHEAST MINAHASA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 93 - 108
Abstract
The reclamation area of the ex gold-mining PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) will be used as a botanic gardens. This study aims to assess the reclamation program's success based on a variable vegetation of the ex gold-mining area of PT. NMR for the basis of the next management. Observations of vegetation on each unit of area was done by nested sampling system, where plots were placed along a perpendicular transect in a contour line. Vegetation variables were recorded among other: species name, individual number, plot numbers, coordinates, temperature, humidity, canopy cover, and land cover. The effect of vegetation on both of two variable regions, revegetation area and non-revegetation area, was tested using discriminant analysis. The results showed that the vegetation composition of the ex gold mining area of PT. NMR was still dominated by introduction species i.e. gamal (Gliricidia sepium), mahoni (Swietenia macrophylla), and lamtoro (Leucaena leucocephala). The diversity of understorey vegetation was middle category. The vegetation structure of the revegetation area was still in its infancy and has not yet reached climax conditions. However, revegetation efforts PT. NMR has succeeded in restoring the composition and structure of vegetation resembling to vegetation conditions in secondary forests. For supporting the ecosystem stability and promoting development programs of botanic gardens, were the enrichment of native vegetation and endangered species is needed.
Keywords: Vegetation analysis, reclamation, gold mining
UDC (OSDCF) 630*234
Aronika Kaban (Program Pascasarjana Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor), Ani Mardiastuti, dan Lilik Budi Prasetyo (Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor)
LANDSCAPE STRUCTURE AFFECTS BIRD COMMUNITY IN BOGOR, WEST JAVA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 109 - 118
Abstract
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol. 7, Issue 2, August 2018
XII
that the abundance and species richness were higher in intact landscape. Bird diversity in Bogor becomes higher when the total edge, the mean shape index, and the shannon evenness index become smaller.
Keywords: Urban bird, patch analyst, landscape structure
UDC (OSDCF) 630*234
Agung Wahyu Nugroho dan Heru Dwi Riyanto (Watershed Management Technology Center)
RIPARIAN VEGETATION IN PRODUCTION FOREST AT CEMORO-MODANG RIVER, CEPU, CENTRAL JAVA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 119 - 129
Abstract
Production forest management is aimed at achieving not only economic benefit, but also environmental and social benefit. Riparian vegetation supports the improvement of environmental protection functions in the production forests. Riparian vegetation offers a number of environmental benefits related to water quality, streambank stabilization, and habitat. The study aims to study the potency of riparian vegetation (i.e. species composition, diversity, and similarity of species composition) in Cemoro and Modang river. This research was conducted in the forest for special purposes of Cemoro-Modang, Blora Regency, Central Java Province at BKPH Pasarsore and BKPH Cabak, KPH Cepu, Perum Perhutani Unit I. The inventory of riparian vegetation was conducted by making transects along the river sides combined with sample plots sized 20 mx20 m for trees, 10 mx10 m for poles, 5 mx5 m for saplings, 2 mx2 m for seedlings and 1 mx1 m for understory. The data collected were analyzed by vegetation analysis: Importance Value Index (IVI), species diversity, and similarity index. The result of the study showed that there are 114 species in the riparian zone of Cemoro-Modang river. There are 6, 2, 20, 16, and 85 species of vegetation for trees, poles, saplings, seedlings and understory vegetation, respectively. Riparian vegetation was dominated by Tectona grandis. Species diversity index for trees and poles were low, saplings and seedlings were moderate and understory was high. Similarity index between Cemoro and Modang river was low (i.e. 40.4%).
Keywords:Production forest, Cemoro and Modang river, riparian vegetation
UDC (OSDCF) 581.526.42
Nurmuliayanti Muis (Program Pascasarjana, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, IPB), Titiek Setyawati (Pusat Penelitian dan Pengembagan Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Sukisman Tjitrosoedirdjo (SEAMEO BIOTROP), dan Y.M.D.
Ratnadewi (Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian
Bogor)
ESTIMATING THE ABUNDANCE AND COMPOSITION OF SOIL SEED BANK AT BEKOL SAVANNA IN BALURAN NATIONAL PARK, WEST JAVA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 131 - 140
Abstract
The composition of soil-seed bank reflects the condition of vegetation in the past and could be used for predicting the composition of plants that will grow in the future. This study aims to determine the amount and composition of soil-seed bank in Bekol savanna, Baluran National Park. Soil samples were taken using a combination method of quadrat-transect on the invaded and not invaded areas by Acacia nilotica. Soil samples were extracted using wet-sieving method. After the extraction process, the seeds were identified and calculated using a stereo microscope. The result showed that soil-seed bank density
was lower at the invaded location (7,566.88 seeds/m3) as compared to the uninvaded location (16,798.3
seeds/m3). The soil-seed bank was found in the invaded site comprising 12 species of broadleaved weeds
and 5 species of grasses from 7 families, whereas those in the uninvaded area consisted of 10 species of broadleaved weeds and 7 species of grass from 8 families. This study showed that the invasion of A. nilotica significantly affected the amount and composition of soil-seed bank in various soil depths of Bekol savanna.
Abstract Sheet |
XIII
UDC (OSDCF) 581.526.42Eliya Suita, D. J. Sudrajat, dan Nurhasybi (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan
Tanaman Hutan)
GROWTH OF RED SENGON (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) SEEDLINGS ON THE MOLDED
SEEDLING MEDIA AND ITS COMPARISON WITH POLYBAG SEEDLING
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 141 - 149
Abstract
The development of alternative methods for land and forest rehabilitation is necessary for producing good quality seedlings. This study aims to examine and compare the effect of addition of mycorrhiza and rhizobium on the growth of red sengon (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) seedlings in molded seedling media (BMSM) and the addition of various dosages of basic fertilizers to the seedlings on polybags. Seedlings in MSM were tested in the nursery until the age of 3 months. The field test was conducted by comparing the growth of red sengon (6 months after planting) seedlings from the BMSM and seedlings on polybags. The design used was a randomzed block design. BMSM that has been added with 3 g of rhizobium per seedling gave the best growth seedling and plant growth in the field. The growth of the seedling on polybags was increased by giving basic fertilizer of 5 kg per planting hole. Red sengon seedlings originated from seedling in BMSM with the addition of 3 g of rhizobium and seedlings on polybag with a dosage of 5 kg basic fertilizer had the highest growth. BMSM as an alternative technology for tree seedling production can be used for planting, and land or forest rehabilitation.
Keywords:Albizia chinensis, seedling, planting programme, rehabilitation, rhizobium
UDC (OSDCF) 630*8
Karnita Yuniarti (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan) dan Arif Nirsatmanto (Balai
Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan)
SEVERAL PHYSICAL PROPERTIES OF Eucalyptus pellita F. Muell FROM DIFFERENT
PROVENANCES AND SAMPLING POSITION ON TREE
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 151 - 163
Abstract
Eucalyptus pellita F. Muell is one of the species selected for the development of the plantation forest in Indonesia. In order to obtain a superior plant for the continuity of the plantation forest program, various tree breeding techniques are often applied, one of which is through best provenance selection. Conventional or advanced tree breeding program generally aims to obtain a fast-growing plant with good physical appearance. The program rarely gives attention to the properties/characteristics of timber produced. This aspect becomes the main background of this particular study which aims to investigate the effect of four provenances and also to examine the effect of sampling position on the trees on several physical properties of E. pellita. The result showed that the highest moisture content (97.34 + 15.67%) was found in the bottom part of trees from Indonesia provenance. While, the highest air-dry moisture content (15.15 + 0.20%) was observed in the top-part samples from Provenance North Kiriwo PNG. Samples from Provenance Serisa Village PNG have the highest density ranges, approximately 590 + 90
kg/m3 and 630 + 80 kg/m3 in the bottom-part samples and in the top-part samples, respectively. The
highest T/R ratio, approximately 1.91 + 0.26, was observed in the bottom-part samples from Provenance South Kiriwa, PNG. The T/R ratio values of all provenances were less than 2, indicating the lumber will be possibly stable during its uses or further processing. Further result showed provenance factor significantly affect initial moisture content and density. Sampling position on trees only affect affects the initial moisture content. Based on the results, the timber of E. pellita being examined can be further used for light-to-medium construction purpose.
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol. 7, Issue 2, August 2018
XIV
UDC (OSDCF) 630*8
Resti Wahyuni (Program Pascasarjana Program Studi Biologi Tumbuhan, Fakultas Matematika dan
IPA, Institut Pertanian Bogor), Triadiati Triadiati (Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor),dan Syamsul Falah (Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor)
INDUCTION OF AGARWOOD IN Aquilaria malaccensis USING NITROGEN FERTILIZER AND
Fusarium solani
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 165 - 171
Abstract
Aquilaria malaccensis is agarwood producing species in Indonesia. Agarwood compounds are formed as a chemical response of Aquliaria malaccensis tree to various physical damages, phatogen infection, or chemical treatment. Factors influencing agarwood formation are age of the tree, season, geographical location, environment, and treatment period. Agarwood induction may be done in tree or sapling. Agarwood induction in saplings need more effort than in trees. Combination of fungi (Fusarium solani) and nutrient (Nitrogen fertilizer) treatment may be one way to induce agarwood in A. malaccensis saplings. This study aims to produce A. malaccensis agarwood (aromatic compounds and colour) by induction of F. solani and nitrogen fertilizer, and analyse the agarwood chemical content. The agarwood chemical content was investigated by Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) analysis. Results indicated that agarwood had a different colour for every treatment. The darkest brown and most fragrant agarwood were produced by A. malaccensis treated by a combination of nitrogen fertilizer (4 gr/sapling) and F. solani inoculation. Three chemical compounds were identified i.e. silanediol dimethyl, 4-ethyl benzoic acid and 1,4,7,10,13,16- hexaoxacyclooctadecane with percentages of 25.7, 17.62, and 3.56 respectively. A. malaccensis treated by nitrogen fertilizer and F. solani for 3 months is able to induce aromatic compounds formation, but the colour still dark brown. Biosynthesis of aromatic compounds in agarwood occurs first before changes in the colour of the wood.
Keywords: Agarwood induction, Aquilaria malaccensis, Fusarium solani, 4-ethyl benzoic acid
UDC (OSDCF) 581.526.42
Heri Suryanto (Program Pascasarjana Program Studi Silvikultur Tropika, Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor), Supriyanto, dan Noor Farikhah Haneda (Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor)
MOLASSES INJECTION TO IMPROVE GROWTH AND VITALITY OF KESAMBI (Schleicera olesosa
Merr) AS LAC INSECT HOST PLANT
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.7 Issue 2, August 2018, page: 173 - 181
Abstract
Lac is a non-timber forest product derived from the secretion of Laccifer lacca insects that are cultivated in kesambi tree (Schleicera oleosa Merr). Low lac production in Indonesia due to poor conditions of host plant indicated by poor growth symptoms, yellowing, and falling leaves. The aim of this research was to study the effect of molasses injection on the growth and vitality of kesambi tree. Molasses were injected into the plant using passive liquid injection methods. Pre-research activities were carried out by the tree trunk injection in 0.5, 1.5, and 2 meters above the ground using gentian violet to determine the best stem injection position, while the main research activity was performed by injection of the kesambi tree trunk using molasses in concentrations of 5, 10, 15% and water as control. The parameters measured at the pre-study was translocation length of gentian violet whereas at the main research were the volume uptake, the increase of branch diameter growth, total sugar content and chlorophyll content. Pre-research results showed that 1.5 meters above the ground is the best injection position. The main research results indicated that the highest volume uptake was water followed by others treatments. Molasses injection at concentration of 10% gives better effect on the increase of branch diameter growth (4.3 mm), obtained sugar content in 18.46%. The vitality of kesambi tree also increased by the molasses injection at concentration of 10%. It was shown by thein creased of chlorophyll a (1.117 mg/g), b (0.416), carotene (0.365), and Anthocyanin (0.094 mg/100g).