SKRIPSI
ANALISIS PERMINTAAN IMPOR DAGING SAPI
DI SUMATERA UTARA
OLEH:
Risa Lestari
100501040
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara dengan menggunakan simultanitas antara permintaan impor daging sapi dengan penawaran daging sapi lokal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji two stage least square (TSLS). Hasil dari analisis data menunjukan terdapat hubungan simultan antara permintaan impor daging sapi dengan penawaran daging sapi lokal, dimana penawaran daging sapi lokal, kurs dan tarif impor daging sapi berpengaruh negatif terhadap permintaan impor daging sapi, sedangkan permintaan daging sapi domestik dan harga daging sapi impor berpengaruh positif terhadap permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara.
ABSTRACT
This study aims to analyze demand of beef import in North Sumatera that
using simultanity between demand of beef import with supply of beef domestic.
More over, the test using two stage least square (TSLS) test. The result of the
analysis shows that theres have a simultanity realitonship between demand of
beef import and supply of beef domestic, further more supply of beef domestic,
exchange rate and tariff of beef import have negative affects with demand of beef
import, more over demand of beef domestic and price of beef domestic have
positive affects with demand of beef import in North Sumatera.
KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur kepada Allah Subhanawatallah, yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir yang harus ditempuh untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul skripsi ini adalah “Analisis Permintaan Impor Daging Sapi di Sumatera Utara”. Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, baik berupa sumbangan pemikiran maupun doa dan dukungan oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu:
1. Kepada orang tua penulis, Ayahanda Sarioto dan Ibunda Siti Mainah Damanik yang telah memberikan saya kasih sayang, doa, dukungan semangat dan materi selama ini. Terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan untuk kakak tersayang, Leni Puspita, Amd.Ak dan Julia Elvira.
2. Bapak Prof.Dr.Azhar Maksum, SE, M.Ec, Ac selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc, Ph.D selaku Ketua Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara sekaligus dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan dalam proses penulisan skripsi ini.
5. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku pembanding satu dan Ibu Ilyda Sudarjat, S.Si, M.Si selaku pembanding dua, yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Ekonomi Sumatera Utara khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan penulis oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan penulisan skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermafaat bagi pihak yang membacanya.
Medan, Juni 2014 Penulis
DAFTAR ISI
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Ekonomi Sumatera Utara ... 31
4.2 Deskripsi Variabel Penelitian ... 32
4.2.1 Permintaan Impor Daging Sapi ... 32
4.2.2 Penawaran Daging Sapi Lokal ... 35
4.2.3 Permintaan Daging Sapi Domestik ... 38
4.2.4 Tarif ... 40
4.2.5 Teknologi Inseminasi Buatan ... 42
4.2.6 Harga Daging Sapi Lokal ... 43
4.2.7 Kurs ... 44
4.2.8 Harga Daging Sapi Impor ... 45
4.3 Analisis dan Pembahasan ... 47
4.3.1 Deskripsi Data ... 47
4.3.2 Uji Endogenitas ... 48
4.3.3 Uji Simultanitas ... 48
4.3.4 Hasil Estimasi Uji Regresi TSLS ... 49
4.3.5 Uji Bias Simultan ... 52
4.3.6 Pembahasan ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 59
5.2 Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA ... x
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
4.1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara ... 31
4.2 Perkembangan Permintaan Impor Daging Sapi ... 32
4.3 Perkembangan Produksi Daging Sapi ... 35
4.4 Perkembangan Konsumsi Daging Sapi ... 38
4.5 Perkembangan Tarif Impor Daging Sapi... 41
4.6 Perkembangan Jumlah Sapi Yang Diinseminasi ... 42
4.7 Perkembangan Harga Daging Sapi Lokal ... 43
4.8 Perkembangan Harga Daging Sapi Bulanan ... 44
4.9 Perkembangan Kurs ... 45
4.10 Perkembangan Harga Daging Sapi Impor ... 46
4.11 Hasil Uji Statistik ... 47
4.12 Hasil Uji Endogenitas ... 48
4.13 Hasil Uji Simultanitas Dengan Uji Hausman ... 49
4.14 Hasil Uji Regresi TSLS ... 50
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman 1 Data Persamaan Permintaan Impor Daging Sapi di
Sumatera Utara Tahun 1997 – 2013 ... 61
2 Hasil Residual dan Forecast Data ... 63
3 Hasil Uji Regresi TSLS ... 64
4 Hasil Uji Bias Simultan ... 65
5 Hasil Uji Simultnitas ... 66
6 Hasil Uji Endogenitas dan Eksogenitas ... 67
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara dengan menggunakan simultanitas antara permintaan impor daging sapi dengan penawaran daging sapi lokal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji two stage least square (TSLS). Hasil dari analisis data menunjukan terdapat hubungan simultan antara permintaan impor daging sapi dengan penawaran daging sapi lokal, dimana penawaran daging sapi lokal, kurs dan tarif impor daging sapi berpengaruh negatif terhadap permintaan impor daging sapi, sedangkan permintaan daging sapi domestik dan harga daging sapi impor berpengaruh positif terhadap permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara.
ABSTRACT
This study aims to analyze demand of beef import in North Sumatera that
using simultanity between demand of beef import with supply of beef domestic.
More over, the test using two stage least square (TSLS) test. The result of the
analysis shows that theres have a simultanity realitonship between demand of
beef import and supply of beef domestic, further more supply of beef domestic,
exchange rate and tariff of beef import have negative affects with demand of beef
import, more over demand of beef domestic and price of beef domestic have
positive affects with demand of beef import in North Sumatera.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Daging sapi merupakan salah satu komoditas pangan yang selama ini memberikan andil terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya protein hewani yang sangat dibutuhkan oleh pembangunan manusia Indonesia. Seiring meningkatnya perkembangan jumlah penduduk dan perbaikan taraf hidup penduduk di Indonesia, maka permintaan produk-produk untuk pemenuhan gizi pun semakin meningkat, begitu pula dengan permintaan akan bahan pangan seperti permintaan protein hewani.
Permintaan akan daging sapi di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal tersebut selain dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk juga dipengaruhi oleh peningkatan pengetahuan penduduk itu sendiri terhadap pentingnya protein hewani, sehingga pola konsumsi juga berubah, yang semula lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat beralih mengkonsumsi daging, telur dan susu. Untuk kebutuhan akan ayam boiler dan telur dalam negeri saat ini telah dipenuhi oleh produksi lokal, akan tetapi susu dan daging sapi masih perlu mengimpor.
daging sapi sebesar 4,15 persen setiap tahunnya. Persentase permintaan yang lebih tinggi daripada penawaran daging ini akhirnya berimbas pada kebijakan impor dimana pemerintah Indonesia menetapkan impor untuk memenuhi kebutuhan daging Indonesia, BPS mencatat 2011 realisasi impor sebanyak 102.900 ton dan 2012 sebanyak 34.600, selain itu jumlah impor yang terealisasi lebih besar dari kebutuhan impor disebabkan banyaknya mafia impor daging sapi di Indonesia.
Dampak negatif yang sering terjadi dari perdagangan internasional berupa impor yang erat kaitannya dengan globalisasi menurut Sukirno (2012:382) adalah (1) menghambat pertumbuhan sektor industri (2) sektor keuangan semakin tidak stabil (3) memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi. Adanya dampak negatif impor harusnya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk secepatnya merealisasikan swasembada bahan pangan, mengingat Indonesia adalah negara agraris yang memiliki potensi cukup besar untuk melakukan swasembada pangan. Rencana untuk swasembada daging memang sudah ada, tetapi prorgam swasembada daging sapi yang ditargetkan pemerintah pada 2010 lalu masih belum berhasil, kemudian pemerintah kembali menargetkan swasembada daging sapi pada 2014 padahal sampai 2013 impor masih menjadi primadona.
yang cukup strategis bagi bangsa Indonesia. Peranan strategis ini setidaknya dapat dilihat pada 3 hal yaitu:
1. Sub sektor ini diharapkan meningkatkan konsumsi dan distribusi protein hewani.
2. Untuk meningkatkan pendapatan petani/peternak yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga petani dan masyarakat.
3. Sebagai efek pengganda, yaitu dalam bentuk kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) ataupun pajak untuk negara.
Kekurangan pasokan daging sapi untuk nasional terjadi pula secara lokal di Provinsi Sumatera Utara. Pada tahun 2010, Sumatera Utara mengimpor daging sapi sebanyak 41.624 kg sedangkan untuk sapi bakalan diimpor sebanyak 35.551 ekor. Kenaikan impor sapi bakalan dari tahun 2009 ke 2010 adalah sebanyak 19.614 ekor atau meningkat sekitar 62 persen. Kenaikan ini terjadi karena permintaan daging sapi pada 2010 sebanyak 14.129.200 kg belum bisa dipenuhi oleh produksi domestik yang pada tahun itu sebanyak 14.042.060 kg sehingga terjadi kekuragan sebanyak 87.140 kg daging sapi di Sumatera Utara pada tahun 2010, padahal pada tahun itu merupaka tahun realisasi swasembada daging sapi. Program swasembada daging telah dilakukan di Sumatera Utara, swasembada yang dimaksud ini adalah kemampuan menyediakan daging sapi sebesar 90-95 persen dari total kebutuhan (Deptan, 2007). Aspek kelembagaan yang telah berkembang untuk mendukung program swasembada 2014 adalah Badan Inseminasi Buatan Daerah untuk melayani kebutuhan Kabupaten atau Kota di Sumatera Utara dengan harapan target swasembada sapi berkisar 590.000-an ekor dan target impor sapi dibawah 10 persen, hanya saja sejauh ini program swasembada dan insemeniasi buatan yang belum berjalan dengan efisien menyebabkan produksi yang belum maksimal, sehingga masih harus mendatangkan sapi impor.
penduduk ini menandakan banyaknya sumber daya manusia yang tersedia untuk mengelola peternakan. Jika dilihat, wilayah Sumatera Utara memiliki curah hujan yang cukup setiap tahunnya, merupakan wilayah yang memiliki potensi untuk pengembangan ternak sapi karena tersedianya lahan pengembalaan seluas 1.311.159 ha dan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet seluas 1.192.172 ha dalam pola sistem integrasi tanaman dan ternak (SITT). Tidak hanya itu, jenis sapi asli Sumatera Utara merupakan jenis sapi Peranakan Ongole (PO) yang merupakan salah satu jenis sapi pedaging terbesar di Indonesia. Hanya saja jenis sapi ini juga jarang dikembangbiakan masyarakat. Harusnya sumber daya yang ada ini mampu menyokong Sumatera Utara untuk melakukan swasembada daging sapi sehingga tidak perlu lagi mengimpor daging sapi.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana permintaan daging sapi di Sumatera Utara dengan judul “Analisis Permintaan Impor Daging Sapi di Sumatera Utara”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah untuk memfokuskan penelitian adalah:
1. Bagaimana estimasi parameter variabel penawaran daging sapi lokal, permintaan daging sapi domestik, tarif impor daging sapi, harga daging sapi impor dan kurs terhadap permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara secara simultan?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui estimasi parameter variabel penawaran daging sapi lokal, permintaan daging sapi domestik, tarif impor daging sapi harga daging sapi impor dan kurs terhadap permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara secara simultan.
2. Mengetahui hubungan simultanitas antara penawaran daging sapi lokal dengan permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara.
1.3 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yaitu:
1. Bagi masyarakat, instansi terkait dan terlebih bagi pemerintah sebagai masukan untuk menentukan kebijakan dimasa mendatang dalam pelaksanaan impor terutama impor daging sapi.
2. Bagi penulis dan pembaca, diharapkan mampu memberikan informasi mengenai permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara dan juga sebagai bahan perbandingan serta studi terdahulu dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Permintaan
Menurut Sarnowo dan Sunyoto (2013:1) permintaan adalah jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu. Rasul et al (2012:23) menyatakan permintaan sebagai sejumlah barang dan jasa yang diminta oleh konsumen dari suatu perusahaan pada tingkat harga beberapa. Hukum permintaan menyatakan “Jika harga barang turun, maka jumlah barang yang diminta cenderung meningkat. Sebaliknya jika harga naik maka jumlah barang yang diminta cenderung menurun dengan asumsi faktor-faktor lain di luar harga konstan”. Sukirno (2013:76) menjelaskan hukum permintaan memiliki hubungan seperti itu karena pembeli akan mecari barang lain yang dapat digunakan sebagai pengganti barang yang mengalami kenaikan harga tersebut.
Adapun kurva permintaan yang berlereng menurun tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
P
D P2
P1
D Q2 Q1 Q
Sumber: Sukirno (2013:78) Gambar 2.1. Kurva Permintaan
Dalam kurva permintaan barang x diatas, harga (P) diukur pada sumbu vertikal sedangkan kuantitas yang diminta (Q) ada pada sumbu horizontal. Tiap- tiap angka P kemudian digambarkan pada sebuah titik dan membentuk kurva DD. Slope yang berlereng negatif dari kurva permintaan diatas menjelaskan hukum permintaan yang berlereng negatif, dimana jika harga barang naik dari P1 ke P2 maka kuantitas barang yang diminta akan menurun dari Q1 ke Q2.
Menurut Samuelson (2003:55) faktor lain yang mempengaruhi berapa banyak barang yang akan diminta adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan rata-rata dari konsumen sangat menentukan permintaan. Apabila pendapatan masyarakat naik, maka individu cenderung membeli hampir segala sesuatu dalam jumlah yang lebih banyak, sekalipun harga-harga tidak berubah.
3. Harga-harga dan ketersediaan barang terkait mempengaruhi permintaan akan suatu komoditi. Sebuah hubungan penting terutama sekali ada diantara barang-barang yang mempunyai hubungan subsitusi.
4. Selera atau preferensi menggambarkan bermacam-macam pengaruh budaya dan sejarah. Perubahan selera terhadap suatu komoditi akan menyebabkan kenaikan atau penurunan tingkat permintaan untuk komoditi tersebut.
5. Faktor-faktor khusus mempengaruhi permintaan akan barang-barang tertentu. Contohnya adalah cuaca dan iklim.
2.2 Teori Penawaran
Menurut Sarnowo dan Sunyoto (2013:26) penawaran adalah jumlah barang yang ditawarkan pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu. Rasul et al (2012:57) menyatakan penawaran adalah jumlah barang dan jasa yang ditawarkan oleh produsen pada berbagai tingkat harga. Hukum permintaan menyatakan “Jika harga barang turun, maka jumlah barang yang diminta cenderung menurun, sebaliknya jika harga naik maka jumlah barang yang diminta cenderung menaik dengan asumsi faktor-faktor lain di luar harga konstan”.
pula apabila harga turun sedangkan hal-hal lain tetap, kuantitas yang ditawarkan akan menurun.
Adapun kurva penawaran adalah sebagai berikut: P
S P2
P1
S
Q1 Q2 Q
Sumber : Sukirno (2013:87)
Gambar 2.2. Kurva Penawaran
Dalam kurva penawaran barang x diatas, harga (P) diukur pada sumbu vertikal sedangkan kuantitas yang diminta adalah (Q) ada pada sumbu horizontal. Tiap-tiap angka P kemudian digambarkan pada sebuah titik dan membentuk kurva SS, slope yang berlereng positif dari kurva penawaran diatas menjelaskan hukum penawaran yang berlereng positif. Jika harga barang naik dari P1 ke P2, maka kuantitas barang yang diminta akan naik dari Q1 ke Q2.
Menurut (Samuelson, 2003:60) unsur-unsur lain selain harga barang yang juga mempengaruhi penawaran adalah biaya komoditi tersebut, yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan harga-harga input, harga-harga barang yang terkait, kebijakan pemerintah dan pengaruh-pengaruh khusus. Unsur-unsur tersebut dapat membuat harga dan kuantiti barang yang ditawarkan semakin naik atau turun.
suatu barang, kemajuan teknologi menimbulkan dua efek yaitu dapat memproduksi barang lebih cepat dan biaya produksi semakin murah (Sukirno, 2012:88). Selain itu sukirno (2012:88) juga menyebutkan bahwa terdapat faktor-faktor khusus yang dapat mempengaruhi penawaran terutama di zaman globalisai ini, yaitu berupa kebijakan pemerintah untuk mengimpor daging yang harganya lebih murah atau kualitasnya lebih bagus.
2.3 Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama (Siswosoemarto, 2012:291). Tujuan perdagangan internasional menurut Sukirno (2012:360) adalah:
1. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi dalam negeri dikarenakan setiap negara tidak dapat menghasilkan semua barang yang dibutuhkan. 2. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi dimana walaupun suatu negara
dapat memproduksikan suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksikan oleh negara lain tetapi ada kalanya negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri. Dengan mengadakan spesialisasi keuntungan yang diperoleh yaitu berupa keuntungan faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh suatu negara dapat digunakan dengan lebih efisien
Jenis-jenis perdagangan internasional menurut Siswosoemarto (2012:293) adalah berupa ekspor, impor, barter, konsinyasi, package deal, penyeludupan, dan border cross. Kegiatan perdagangan internasional yang banyak dilakukan pada saat ini adalah ekspor dan impor dimana keduanya dicatat dalam neraca perdagangan.
2.4 Teori Impor
Import adalah proses transportasi atas suatu komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal umumnya terjadi dalam proses perdagangan berupa memasukan barang dari negara lain ke dalam negeri, sedangkan ekspor adalah proses transportasi atas suatu komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal umumnya terjadi dalam proses perdagangan berupa memasukan barang dalam negeri ke negara lain (Siswosoemarto, 2012:295).
Keberadaan impor dan ekspor tentunya dilatarbelakangi oleh adanya
excess supply pada satu pihak dan excess demand di pihak lainya. Konsep excess supply terjadi disebabkan kecenderungan tingkat suatu harga mengalami kenaikan di atas harga keseimbangan yang berlaku di pasar sedangkan excess demand
justru sebaliknya yaitu kecenderungan tingkat harga menurun dibawah harga keseimbangan (Sumanjaya et al, 2011:51).
Untuk mencegah dampak tersebut, maka pemerintah ikut turun tangan dalam melakukan kebijakan berupa proteksi. Proteksi secara normal mengarah pada sesuatu yang menguntungkan produksi dalam negeri terhadap persaingan barang-barang impor di pasaran dalam negeri (Sumanjaya et al, 2011:101). Langkah proteksi dilakukan dengan menggunakan tiga instrumen utama yang meliputi tarif, kuota dan anti dumping (Sumanjaya et al, 2011:103).
Tarif adalah hambatan yang berbentuk pajak atas barang-barang impor sedangkan kuota adalah hambatan yang menentukan jumlah maksimum suatu jenis barang yang dapat diimpor dalam periode tertentu (Sukirno, 2012:375). Selanjutnya instrumen anti dumping berupa kebijakan pemerintah untuk campur tangan terhadap penjualan suatu barang dengan tingkat harga yang jauh lebih murah (Sumanjaya et al, 2011:104).
Harga D0 So P0 equlibrium sebelum perdagangan internasional
Pt harga dunia setelah tarif tarif
Pw harga dunia sebelum tarif impor Setelah tarif
kuantitas Q1 Q3 Q0 Q4 Q2
Impor sebelum tarif
Sumber: Mankiw (2003:234)
Gambar 2.3.
Kurva Analisa Pemberlakuan Tarif
Perubahan ini tentu saja mempengaruhi perilaku para penjual dan pembeli domestik. Permintaan turun dari Q2 ke Q4.. Dengan demikian penerapan tarif menurunkan kuantitas impor dan mendorong pasar domestik mendekati kondisi equilibrium.
Selain tarif impor, kurs juga dapat mempengaruhi perubahan harga barang impor. Para ekonom membedakan nilai tukar mata uang domestik terhadap uang mata asing menjadi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar rill. Nilai tukar nominal adalah harga relatif mata uang dua negara. Sedangkan nilai tukar rill adalah harga relatif barang-barang di kedua negara, atau kadang kala disebut term of trade. Hubungan antar kedua nilai tukar ini dirumuskan sebagai berikut (Mankiw, 2003:259) :
R = e . Pf/P dimana:
R = nilai kurs riil e = nilai kurs nominal Pf = harga luar negeri P = harga dalam negeri
Dengan demikian, semakin tinggi nilai tukar rill, berarti harga barang-barang luar negeri relatif lebih murah dibandingkan dengan harga barang-barang-barang-barang domestik.
2.5 Permintaan Impor Daging Sapi di Sumatera Utara
dengan kuantitas penawaran domestik berdasarkan harga dunia atau harga yang berlaku di pasar internasional.
Harga daging sapi
Penawaran domestik (QS)
A
P0 harga sebelum perdagangan dunia B D
P1 harga sesudah perdagangan dunia C
Impor permintaan domestik (QD)
Q2 Q0 Q1 kuantitas
Sumber : Mankiw (2003:229)
Gambar 2.4
Kurva Perdagangan Internasional di Negara Pengimpor
Ketika perdagangan dunia terjadi harga domestik turun menyesuaikan dengan harga yang berlaku di pasar internasional, kesejahteraan konsumen domestik meningkat. Surplus konsumen naik dari A menjadi ABD. Sedangkan sebaliknya kesejahteraan produsen domestik turun dari BC menjadi C saja. Besarnya perubahan harga dari Po ke P1 mengubah permintaan daging sapi dari Qo menjadi Q1, penawaran domestik turun dari Qo ke Q2. Kekurangan antara permintaan dan penawaran dilakukan dengan mengimpor yaitu sebesar Q2 ke Q1.
turun sedangkan impor semakin meningkat. Besaran permintaan daging sapi domestik adalah sebesar produksi daging sapi lokal ditambah impor. Hal ini menunjukan besaran seluruh permintaan domestik sama dengan penawaran daging sapi, dimana daging sapi yang ditawarkan adalah daging sapi lokal ditambah daging sapi impor.
2.6 Model Teoritis
2.6.1 Permintaan Impor Daging Sapi
Besarnya produksi daging sapi di Sumatera Utara belum sepenuhnya mampu memenuhi tingkat permintaan komoditas ini. Pada umumnya suatu daerah melakukan impor karena produksi di daerah tersebut relatif kecil dibadingkan dengan konsumsinya. Permintaan impor dapat dirumuskan sebagai berikut:
Mt = Qd– Qs dimana:
Mt = volume impor
Qd = jumlah konsumsi domestik
QS = jumlah produksi domestik
DIDS = f (DDSD, SDSL) dimana:
DIDS = jumlah permintaan impor daging sapi DDSD = jumlah permintaan daging sapi Domestik SDSL = jumlah penawaran daging sapi lokal
Mankiw (2003:231) menyatakan perubahan harga akan mempengaruhi permintaan dan penawaran domestik terhadap barang impor, maka Fungsi permintaan terhadap barang impor menjadi sebagai berikut:
DDSI = f (DDSD,SDSL, PDSI) dimana:
PDSI = harga daging sapi impor
Menurut (Sukirno, 2012:402) kebijakaan negara pengimpor dan kurs juga mempengaruhi jumlah permintaan impor, dengan demikian fungsi permintaan impor daging sapi adalah sebagai berikut:
DDSI = f (DDSD, SDSL, PDSI, Gm, Kurs) dimana:
Gm = kebijakan pemerintah berupa tarif impor daging sapi
Kurs = nilai tukar Rupiah terhadap dollar US
2.6.2 Penawaran Daging Sapi Lokal
Fungsi penawaran menurut Rasul et al (2012:60) adalah hubungan antara harga barang itu sendiri dengan jumlah barang yang ditawarkan.
Qs = f (P) dimana:
Qs = jumlah barang yang ditawarkan P = harga
Jika jumlah barang yang ditawarkan (Qs) adalah penawaran daging sapi lokal dan harga (P) adalah harga daging sapi lokal, maka fungsinya menjadi seperti berikut:
SDSL = f (PDSL) dimana:
SDSL = jumlah penawaran daging sapi lokal. PDSL = harga daging sapi lokal.
Menurut Rasul et al (2012:60) dan Sukirno (2012:87) terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi penawaran, diantaranya adalah permintaan akan barang impor dan teknologi. Priyanto (2005:279) menyatakan teknologi inseminasi buatan merupakan salah satu program tekonogi memperbaiki kualitas performa sapi yang ada melalui program persilangan dengan bibit (semen) sapi impor, sehingga fungsi penawaran daging sapi domestik menjadi seperti berikut:
SDSL = f (PDSL, DIDS, TIB) dimana:
2.7 Penelitian Terdahulu
Giamalva (2013) “Korea’s Demand For U.S. Beef”, membahas permintaan Korea terhadap daging sapi dari Amerika Serikat dari tahun 2003 sampai 2010. Hasil penelitiannya menunjukan secara bersama-sama indeks harga dan jumlah permintaan domestik Korea mempengaruhi permintaan daging sapi Amerika sedangkan permintaan domestik dipengaruhi oleh populasi dan harga.
Ranitya Kusumadewi “Trade Liberalization and Indonesian Product”, melakukan penelitian dengan menggunakan persamaan simultan antara impor dengan produksi barang-barang pertanian di Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukan antara produksi dan impor mempunyai persamaan simultan dengan nilai R square 46%.
Tentamia (2002) “Analisa Permintaan dan Penawaran Bawang Merah di Indonesia”, menghasilkan penelitian yang menyatakan produksi bawang merah di Jawa Tengah responsif terhadap perubahan harga bawang merah dan upah, sedangkan permintaan responsif terhadap harga dan pendapatan..
Priyanto (2005) “Evaluasi Kebijakan Impor Daging Sapi Melalui Analisis Penawaran dan Permintaan”, melakukan pengamatan dengan pendekatan model ekonometrika dalam bentuk persamaan simultan menggunakan metode TSLS. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa teknologi inseminasi buatan berpengaruh positif pada perkembangan produksi sapi lokal, sedangkan impor daging sapi dipengaruhi oleh produksi daging sapi domstik dan kebijakan impor.
berpengaruh positif terhadap perubahan impor (Z). Nilai koefisien regresi variabel X sebesar 8,368562 dan nilai koefisien variabel nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (ER) sebesar 1 rupiah/$AS akan meningkatkan impor sebesar 5,625782 milyar rupiah.
2.8 Kerangka Pemikiran Operasional
Adapun kerangka pemikiran dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 2.5
Jalur Kerangka Pemikiran Operasional
Peranan penting komoditas daging sapi sebagai konsumsi pangan, pendapatan peternak, kebutuhan dan perdagangan domestik.
Produksi daging sapi lokal belum mampu memenuhi peningkatan permintaannya sehingga diselesaikan melalui kebijakan impor.
Persaingan yang terbuka pada pasar impor daging sapi dunia dan kebijakan tarif maupun kuota yang belum optimal menyebabkan harga daging sapi lokal yang tidak dapat bersaing dan penurunan minat peternak dalam memproduksi daging
Mengancam stabilitas produksi daging sapi lokal, kemudian Indonesia mengalami food trap karena terlalu sering mengimpor.
Analisis
Hasil Penelitian
Kesimpulan dan Saran Penawaran daging sapi lokal:
1. Harga daging sapi lokal. 2. Teknologi inseminasi buatan 3. Permintaan impor daging sapi
Permintaan impor daging sapi: 1. Harga daging sapi impor
2. Permintaan daging sapi domestik 3. Tarif impor
2.9 Hipotesis
Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, maka yang menjadi hipotesis dalam penelitan ini adalah:
1. Terdapat pengaruh yang positif antara permintaan daging sapi domestik dengan permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara, sedangkan harga daging sapi impor, penawaran daging sapi lokal, tarif impor daging sapi dan kurs berpengaruh negatif terhadap permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa memuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk pemecahan masalah-masalah yang aktual dan dianalisis.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Sumatera Utara dengan pertimbangan karena Provinsi Sumatera Utara memiliki konsumsi daging sapi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun sementara pengembangan produksi sapinya masih belum mampu mengikuti perkembangan permintaanya sehingga menyebabkan impor daging sapi untuk memenuhi permintaaan daging sapi Sumatera Utara..
3.3 Defenisi Operasional
Berdasarkan rumusan permasalahan penelitian dan pengembangan hipotesis yang telah disusun terlebih dahulu, maka variabel-variabel penelitian yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
2. Permintaan daging sapi domestik (DDSDt) adalah jumlah konsumsi daging sapi pada periode t (ton)
3. Penawaran daging sapi lokal (SDSLt) adalah jumlah produksi daging sapi lokal pada periode t (ton)
4. Kebijakan tarif (Gmt) adalah kebijakan pemerintah berupa tarif daging sapi impor di tingkat tertentu pada periode t (Rp)
5. Harga daging sapi impor (PDSIt) adalah harga daging impor yang dibayarkan importir t (Rp/kg)
6. Kurs (Kurst) adalah nilai tukar Rupiah terhadal dollar US
7. Harga daging sapi lokal (PDSLt) adalah harga produsen daging sapi lokal pada periode t (Rp/kg)
8. Teknologi insemenasi buatan (TIBt) adalah jumlah sapi potong yang diinseminasi secara buatan pada periode t (Ekor)
3.4 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data tersebut merupakan data deret waktu dari 1997-2013 (time series). Sumber data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Jendral Bea dan Cukai, Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara dan instansi-instansi lainnya serta publikasi atau laporan-laporan yang berkaitan dengan penelitian ini.
3.5 Model Ekonometrika
persamaan tunggal dan persamaan simultan. Persamaan tunggal adalah persamaan dimana peubah terikat (dependent variables) dinyatakan sebagi peubah fungsi dari satu atau lebih peubah bebas, sehingga hubungan sebab akibat antara peubah terikat dan peubah bebas merupakan hubungan satu arah, sedangkan persamaan simultan adalah persamaan yang menggambarkan ketergantungan diantara berbagai peubah dalam persamaan-persamaan tersebut (Tentamia, 2002:32).
Menurut Widarjono (2003:267) dalam banyak hal variabel ekonomi tidak hanya berhubungan satu arah, bisa saja variabel independen (X) mempengaruhi variabel dependen (Y) dan selanjutnya variabel Y itu sendiri mempengaruhi variabel X. Persamaan seperti itu merupakan persamaan simultan. Model ekonometrika yang dipakai dalam penelitian adalah persamaan simultan dari variabel independen permintaan impor daging sapi dengan variabel dependen penawaran daging sapi domestik.
Dalam membangun model ekonometrika ada empat tahap utama yang harus dilalui yaitu: (1) spesifikasi model, (2) pendugaan model, (3) validasi model, dan (4) penerapan model (Koutsoyiannis dalam Tentamia, 2002:34). Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan suatu model ekonometrika permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara yang diharapkan dapat menangkap permasalahan dan tujuan penelitian.
3.5.1 Spesifikasi Model
3.5.1.1Permintaan Impor Daging Sapi
Permintaan impor daging sapi dipengaruhi oleh harga daging sapi impor, permintaan daging sapi domestik, penawaran daging sapi lokal, tarif impor daging sapi dan kurs, sedangkan faktor-faktor lain dianggap tetap. Persamaan struktural impor daging sapi Sumatera Utara dirumuskan sebagai berikut:
DIDS t = ß10 + α11 SDSLt + ß12 DDSD+ ß13 Gmt + ß14 PDSI t + ß15 Kurst + e1t dimana:
DIDSt = jumlah permintaan impor daging sapi periode t (ton)
SDSLt = jumlah penawaan daging sapi lokal periode t (ton )
DDSDt = jumlah permintaan daging sapi domestik periode t (ton)
PDSIt = harga daging sapi impor periode t (Rp/kg)
Gmt = kebijakan pemerintah berupa tarif impor daging sapi (Rp)
Kurst = nilai tukar Rupiah terhadap dollar US (Kurs)
e1t = faktor-faktor lain yang mempengarui diluar persamaan 3.5.1.2Penawaran Daging Sapi Lokal
Penawaran daging sapi ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Jumlah daging sapi lokal yang ditawarkan dipengaruhi harga daging sapi itu sendiri, permintaan impor daging sapi dan teknologi inseminasi buatan sedangkan faktor-faktor lain dianggap tetap, maka persamaan struktural dari penawaran daging sapi lokal di Sumatera Utara dapat dirumuskan sebagai berikut:
SDSLt = ß20 + α 21 DIDS + ß22 TIBt + ß23 PDSLt + e2t dimana:
SDSLt = jumlah penawaran daging sapi lokal periode t (ton)
DIDSt = jumlah permintaan impor daging sapi periode t (ton)
PDSLt = harga rill daging sapi lokal periode t (Rp/kg)
TIBt = teknologi insemenasi buatan periode t (ekor)
e2t = faktor-faktor lain yang mempengarui diluar persamaan
diketahui. Kedua persamaan tersebut menggambarkan model struktural dan juga merupakan model persamaan simultan (simultaneous equation) karena keduanya menentukan secara bersama-sama atau simultan nilai dua variabel endogen DIDS dan SDSL.
Dari persamaan terlihat bahwa model yang diformulasikan merupakan model persamaan simultan dengan 2 persamaan. Variabel yang digunakan ada 8 yaitu 2 variabel endogenus dan 6 variabel predetermined. Variabel endogenus adalah variabel tidak bebas dalam persamaan simultan yang nilainya ditentukan dalam persamaan sedangkan variabel predetermined adalah variabel yang nilainya tidak ditentukan secara langsung di dalam sistem. Secara grafik hubungan antar variabel di dalam persamaan simultan adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1
Jalur permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara
Gambar 3.1 menjelaskan persamaan simultan dimana ada dua pengaruh antar permintaan daging sapi impor (DIDS) dan penawaran daging sapi lokal (SDSL). Hubungan dua arah ini terjadi karena kedua variabel tersebut ditentukan
PDSI
DIDS SDSL
PDSL
Gm DDSD
TIB
secara bersama. Residual e2t mempengaruhi SDSLt dan secara tidak langsung juga mempengaruhi DIDSt sehingga e2t dan DIDSt saling berhubungan.
3.5.2 Identifikasi Model
Menurut Setiawan dan Kusrini (2010:209) cara untuk mengindentifikasi suatu sistem persamaan simultan adalah dengan order and rank condition. Di dalam sebuah model yang teridiri dari g persamaan simultan agar sebuah persamaan teridentifikasi, jumlah variabel predetermined yang dikeluarkan dari persamaan itu harus tidak lebih dari jumlah variabel endogenus yang dimasukan ke dalam persamaaan itu dikurangi satu. Menurut widarjono dan Kusrini (2010:213) kondisi rank sudah cukup menggambarkan identifikasi.
(K – k) ≥ ( g -1 ) rank dari matriks A adalah g – 1, maka persamaan itu terindentifikasi. Dengan ketentuan jika K - k = g – 1, maka persamaan itu excaktly identified. Jika K – k > g – 1, maka persamaan itu over identified.
Dimana:
K = total peubah predetermined di dalam model.
k = total peubah predetermined di dalam sebuah persamaan. g = total variabel endogenus di dalam sebuah persamaan.
Dengan menggunakan order and rank condition dapat kita tentukan identifikasi dari persamaan yang telah dibuat, dimana hasilnya adalah:
DIDS = ( 6 – 3 ) > ( 2 – 1 ) = Over Identified
SDSL = ( 6 – 2 ) > ( 2 – 1 ) = Over Identified
estimator-estimator yang tidak konsisten dan tidak efisien. Satu metode diperlukan untuk mendapatkan estimator yang konsisten dan efisien yaitu metode
Two Stages Least Squares (TSLS) (Setiawan dan Kusrini, 2010:213). Metode
TSLS digunakan ketika model persamaan simultan adalah terlalu teridentifikasi (Widarjono, 2013:256).
Untuk menyelesaikan persamaan model, maka digunakan dua langkah dari
TSLS. Prosedur tersebut adalah sebagai berikut: Tahap 1:
Pada model persamaan simultan permintaan impor daging sapi, agar variabel SDSL tidak berkorelasi dengan variabel e2t, variabel endogenus diregresikan terhadap semua variabel predetermined yang berada dalam seluruh sistem. Sehingga didapatkan model sebagai berikut:
DIDSt* = π0 + π1 PDSI t+ π2 Gmt + π3 DDSD + π4 PDSLt+ π5TIBt + π6 Kurst +et SDSLt* = π0 + π1 PDSI t+ π2 Gmt + π3 DDSD + π4 PDSLt+ π5TIBt+ π6 Kurst + et Sehingga persamaan impor dituliskan DDSI = SDSLt* + et
Sedangkan persamaan penawaran dituliskan SDSDt = DIDSt* + et Tahap 2:
Pada tahap kedua ini variabel DIDSt dan SDSLt digantikan pada persamaan struktural dengan nilai yang diperoleh DIDSt* dan SDSLt* dari persamaan reduced form dan dilakukan regresi dengan OLS. Adapun persamaanya adalah sebagai berikut:
Dimana:
V2t = e1t + α 14 et dan V2t = e2t + α 23 et 3.5.3 Validasi model
Untuk mengetahui apakah model yang dipilih cukup valid digunakan untuk simulasi, maka perlu dilakukan validasi model dengan menggunakan uji endogenitas dan uji simultanitas untuk melihat variabel pernawaran daging sapi lokal merupakan variabel endogen yang mempunyai pengaruh simultan terhadap variabel permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara. Setelah dilakukan uji endogenitas dan uji simultanitas, maka dilakukan uji bias untuk melihat apakah variabel eksogen dari penawaran daging sapi lokal adalah valid dan tidak mengandung bias untuk digunakan.
3.5.4 Penerapan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Ekonomi Sumatera Utara
Sumatera Utara merupakan provinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setela Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990, penduduk Sumatera Utara berjumlah 10,81 juta jiwa dan pada tahun 2010 jumlah penduduk Sumatera Utara telah meningkat menjadi 12,98 juta jiwa. Laju Pertumbuhan Penduduk dari tahun 2000-2010 sebesar 1,10 persen.
Tabel 4.1
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara Dari Tahun 2006 - 2013
Periode Pertumbuhan Ekonomi 2006 6,2
2007 6,9
2008 6,39
2009 5,07
2010 6,42
2011 6,63
2012 6,22
2013 6,01
Rata-rata 6,23
Sumber: Badan Pusat Statitstik Sumatera Utara
jasa. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pertanian dan peternakan, dengan peningkatan mencapai 6,55 persen secara kuartal, dan 5,93 persen secara tahunan pada tahun 2012 ke tahun 2013.
Seiring perkembangan globalisasi, Sumatera Utara juga tidak terlepas dari kegiatan perdagangan internasional seperti kegiatan impor, namun menyikapi rencana pemerintah untuk melakukan swasembada 5 bahan pangan yaitu daging sapi, kedelai, beras, bawang merah dan cabe, maka sudah seharusnya Sumatera Utara untuk menghentikan kegiatan impor lima bahan pokok ini terutama daging sapi karena Sumatera Utara merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan sapi.
4.2 Deskripsi Variabel Penelitian 4.2.1 Permintaan Impor Daging Sapi
Impor daging sapi secara umum seperti proses jual beli biasa antara penjual yang berada di luar negeri (eksportir) dan pembeli yang berada di Indonesia (importir). Proses impor daging diawali dengan penerbitan LIC (Letter of Credit) yang dibuka oleh pembeli di Indonesia melalui Bank (issuing bank) yang ada di Indonesia. Selanjutnya melalui correspondent bank yang ada di negara tempat eksportir berada, eksportir mengirimkan dokumen-dokumen pelengkap yang terdiri dari: Bill of Landing (BL) yang berkaitan dengan pengiriman barang, Invoice yang berkaitan dengan spesifikasi barang, serta
tersebut digunakan untuk mengambil barang yang dikirim oleh penjual. Daging sapi impor kemudian diangkut oleh kapal pengangkut barang (cargo)
internasional. Kapal cargo merapat di pelabuhan dan membongkar muatan impor berupa daging sapi beku, setelah sampai di pelabuhan dilakukan pembongkaran dan pengeluaran kontainer dari cargo. Selanjutnya, prosedur administrasi dilakukan di bawah administratur pelabuhan (adpel) di bawah Departemen Perhubungan serta Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC). Daging sapi impor ditempatkan di tempat penampungan sementara (container yard). Untuk mengambil barang tersebut, importir daging sapi diwajibkan membuat dokumen pabean yang berupa Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilengkapi dengan dokumen pelengkap pabean seperti BIL, Invoice, dan COO digunakan untuk mengambil daging sapi impor.
Tabel 4.2
Perkembangan Permintaan Impor Daging Sapi di Sumatera Utara Dari Tahun 1997-2013
Periode Impor Perubahan 1997 105,43 0
Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara
menargetkan untuk merealisasikan swasembada daging sapi sedangkan tahun 2013 impor daging sapi masih cukup besar yaitu 4.599 ton, namun dua tahun teakhir yaitu pada 2012 dan 2013 impor daging sapi di Sumatera Utara sudah mulai menurun.
4.2.2 Penawaran Daging Sapi Lokal
Produksi daging sapi lokal yang ditawarkan ke masyarakat sangat mempengaruhi impor dikarenaka impor dilakukan untuk menutupi kekuragan antara produksi dan konsumsi. Kegiatan produksi yang tinggi sekalipun belum tentu menunjukan kemampuan suatu wilayah dalam membuktikan kemandirian pangan selama kenaikan produksi tidak juga mampu mengimbangi kenaikan permintaannya.
Tabel 4.3
Perkembangan Produksi Daging Sapi di Sumatera Utara tahun 1997 -2013
Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa perkembangan rata-rata produksi daging sapi periode tahun 1997 hingga 2013 adalah 11.689 ton per tahun. Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari tahun 1997 sampai 2013 cenderung mengalami kenaikan dengan rata-rata kenaikan 0,07 persen per tahun. Angka rata-rata peningkatan daging sapi ini sangat kecil dikarenakan beberapa kali dalam produksi daging sapi mengalami penurunan yaitu pada periode krisis moneter pada tahun 1997 hingga 1999 dimana pada tahun 1998 terjadi inflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 58 persen. Inflasi yang tergolong dalam high inflation itu menyebabkan harga obat-obatan dan biaya produksi sapi semakin mahal, selain itu krisis moneter menyebabkan perekonomian tidak stabil, dimana harga daging sapi semakin meningkat dan berimbas pada penurunan penawaran daging sapi.
Gambar 4.1
Perkembangan Populasi Sapi Dan Penawaran Daging Sapi di Kab/Kota Sumatera Utara Tahun 2011 Dan 2012
4.2.3 Permintaan Daging Sapi Domestik
Kebutuhan daging sapi untuk konsumsi warga Sumatera Utara masih bergantung pada daging sapi impor yang saat ini masih diimpor dari Australia. Sumatera Utara belum mampu merealisasikan swasembada pangan khususnya daging sapi. Jika impor daging sapi saat ini ditutup, maka akan terjadi kekurangan pasokan daging sapi sebanyak 150 ton per tahun.
Tabel 4.4
Perkembangan Permintaan Daging Sapi Domestik di Sumatera Utara Dari Tahun 1997-2013
Periode Permintaan Jumlah penduduk Rata-rata 11.264,78 12.423.579,9 0,89 0,07 Sumber: BPS dan Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara
dibawah konsumsi nasional yang sebesar 1,68 kg/kapita. Pada tahun 2010, pemerintah juga merencanakan swasembada daging sapi sebesar 2 kg/kapita. Angka konsumsi daging sapi Sumatera Utara masih jauh dari target pemerintah, dimana pada tahun 2010 konsumsi daging sapi Sumatera Utara adalaha sebesar 1,03 kg/kapita, namun dengan angka yang masih belum mencapai target itu tetap saja kebutuhan daging sapi masih belum dapat dipenuhi oleh domestik.
Grafik 4.2
Selisih Produksi dan Konsumsi Daging Sapi di Sumatera Utara Tahun 1997 - 2013
Grafik 4.2 menunjukkan bahwa setiap tahunnya terdapat kesenjangan antara permintaan dan penawaran daging sapi, beberapa kali mengalami surplus namun lebih banyak mengalami defisit. Dari tahun 1997 dan 1998 dapat dilihat bahwa terdapat surplus daging sapi yang cukup tinggi di Sumatera Utara yaitu sebesar 51 ton dan 557 ton, namun pada tah un 1999 ketika pergantian orde baru
-300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600
berganti ke era reformasi, saat dimana Indonesia mengalami krisis, produksi daging sapi mulai terjadi defisit . Artinya pada tahun itu Sumatera Utara belum bisa memenuhi kebutuhan domestiknya. Setelah tahun 1999 kekurangan daging sapi terus berlangsung dan kekurangan pasokan daging sapi tertinggi terjadi pada tahun 2009, yaitu sebesar 995 ton kekurangan daging sapi.
4.2.4 Tarif
Dalam upaya untuk membatasi impor daging sapi yang berlebihan salah satu cara yang dilakukan adalah melalui pembebanan tarif impor daging sapi yang masuk ke dalam negri. Kebijakan ini dilakukan oleh Departemen Keuangan (Direkoral Jendral Bea dan Cukai) melalui keputusan Kementrian Keuangan. Kebijakan pengenaan bea dan cukai bertujuan untuk melindungi produsen lokal dari persaingan harga, antara daging sapi lokal dengan daging sapi impor. Secara bertahap, pemerintah Indonesia telah bertekad untuk melaksanakan penyesuaian terhadap tarif impor sebagaimana yang telah diusulkan dalam Asian Vision Toward 2020 yang konsisten terhadap Worl Trade Organization (WTO).
menteri keuangan nomor 132.PMK.0.10/2005 tentang program harmonisasi tarif 2005-2010 menetapkan tarif daging sapi adalah sebesar 5 persen.
Tabel 4.5
Perkembangan Tarif Impor Daging Sapi Tahun 1997-2013
Periode Tarif Perubahan 1997 731,52 1,31
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tarif impor yang telah diubah kedalam rupiah menunjukan harga yang berfluktuasi. Pengenaan tarif sebesar 20 persen pada 1997 sampai 1999 merubah harga daging sapi cukup tinggi, sedangkan perubahan yang terjadi pada besaran tarif rupiah lebih disebabkan perubahan harga daging sapi impor itu sendiri, hal ini dikarenkan tarif impor daging sapi dari tahun 2000 hingga 2013 tetap stabil berada pada 5 persen.
4.2.5 Teknologi Insemenasi Buatan
digunakan untuk industri ternak, salah satunya untuk pengembangbiakan sapi. Program ini sangat baik bagi para peternakan sapi karena biayanya murah, mempercepat masa hamil dan sapi yang dihasilkan adalah sapi yang berkualitas karena dihasilkan dari bibit unggul.
Tabel 4.6
Perkembangan Jumlah Sapi Yang Diinseminasi di Sumatera Utara Tahun 1997 - 2013
Periode Jumlah sapi Perubahan 1997 20.163 0 Rata-rata 35.300,82 0,07
Sumber: Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara
sebesar 39.729 ekor, merupakan sebagian dari hasil pelaksaan kegiatan inseminasi buatan pada tahun 2012 dan sebagian dari tahun 2013 sendiri. Untuk 2014 ini pemerintah telah mempersiapkan sekitar 75.000 dosis insemanasi butan.
4.2.6 Harga Daging Sapi lokal
Tabel 4.7
Perkembangan Harga Daging Sapi Lokal di Sumatera Utara Tahun 1997 – 2013
Periode Harga perubahan 1997 15.000 0
Sumber: Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara
sebesar 44 persen atau meningkat dari 18.000 rupiah menjadi 26000 rupiah disebabkan pada saat itu terjadi krisis moneter dimana inflasi yang terjadi adalah sebesar 58 persen.
Tabel 4.8
Perkembangan Harga Daging Sapi Bulanan di Sumatera Utara Tahun 2011-2013
Periode 2011 2012 2013
Januari 60.000 69.500 85.000
Februari 60.000 69.000 90.000
Maret 60.000 69.000 90.000
April 61.500 69.000 90.000
Mei 63.500 69.000 90.000
Juni 68.000 69.000 85.000
Juli 67.000 75.000 92.500
Agustus 71.000 74.000 92.500
September 68.500 69.000 90.000
Oktober 68.000 69.000 92.500
November 68.000 69.000 95.000
Desember 70.000 69.000 95.000
Rata-rata 65.400 70.000 90.000
Sumber: Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara
4.2.7 Kurs
Kurs merupakan perbandingan nilai atau harga mata uang rupiah dengan mata uang lain. Kurs diukur dalam rupiah terhadap dolar US.
Tabel 4.9 Perkembangan Kurs
Tahun 1997 – 2013
Periode Harga Perubahan 1997 2.773,03 0
Rata-rata 8.847,002 0,15
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
4.2.7 Harga Daging Sapi Impor
Ketika harga daging sapi lokal lebih tinggi dari harga daging sapi lokal, maka pemerintah melakukan kebijakan impor daging sapi, hal ini dilakukan agar harga daging sapi lokal dapat turun. Di Sumatera Utara walaupun impor terus dilakukan, harga daging sapi lokal tidak juga menurun, yang terjadi justru daging sapi impor semakin banyak di pasaran dan bersaing dengan daging sapi lokal.
Tabel 4.10
Perkembangan Harga Daging Sapi Impor di Sumatera Utara Tahun 1997-2013 periode Harga awal Harga setelah
kurs
Sumber: Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Sumatera Utara
impor jauh lebih rendah lagi. Ketika harga daging sapi lokal mengalami peningkatan pada tahun 2010 dan 2011, harga daging sapi impor mengalami penurunan disebabkan pada saat itu nilai tukar rupiah sedang menguat. Dapat dilihat pada tabel 4.10 bahwa beberapa kali harga daging sapi impor mengalami penurunan disebabkan nilai kurs Indonesia yang menguat. Kenaikan harga tertinggi terjadi paa tahun 1998, yaitu mencapai 3 kali lipat harga sebelumnya, hal ini dikarenakan pada tahun 1998 terjadi krisis di Indonesia dan nilai tukar rupiah melemah dari 2.773 rupiah menjadi 9.623 rupiah.
0
Perkembangan Harga Daging Sapi Impor dan Harga Daging Sapi Lokal 1997-2013
daging sapi lokal impor hanya 61.000 Rp/kg. kesenjangan ini semakin meningkat dengan rata-rata selama 17 tahun terakhir sebesar 15.700 Rp/kg.
4.3 Hasil Analisis dan Pembahasan 4.3.1 Deskripsi Data
Data dalam penelitian ini adalah data time series yang dididapatkan dari sumber data sekunder tahun 1997 hingga 2013. Deskripsi data dilakukan pada variabel-variabel yang akan diuji. Berikut hasil deskripsi datanya:
Tabel 4.11
Hasil Uji Statistik Variabel
Persamaan Permintaan Impor Daging Sapi di Sumatera Utara
Mean Median Max Min Std.Dev Prob
DIDS 2.612,429 13.343,000 7.531,668 9.209,800 2.745,778 0,340039
SDSL 11.264,08 9.569,070 23.347,26 6.637,420 5.481,257 0,211989
DDSD 11.250,72 9.625,778 23.987,35 6,229,673 5.556,718 0,205919
TIB 35.300,82 30.820,00 57.717,00 17.598,00 15.442,58 0,367920
PDSI 29.548,38 20.725,90 60.439,74 3.657,627 18.677,70 0,428473
Tarif 1.741.940 1.558,089 3.021,987 6.363,490 9.046,643 0,394831
PDSL 45.329,41 38.800,00 90.000,00 9.000,000 20.233,50 0,878419
kurs 8.847,02 9.158,43 10.324,50 2.773,03 1.689,79 0,00000
Sumber: Diolah Dari Eviews
4.3.2 Uji Endogenitas
Untuk melihat apakah variabel penawaran daging sapi lokal (SDSL) adalah variabel endogen dilakukan dengan cara melakukan uji endogenitas persamaan struktural. Uji endogenitas dilakukan dengan melihat hasil reduced form persamaan penawaran daging sapi lokal (SDSL_R2), jika lebih kecil dari
α = 10%, maka variabel SDSL adalah endogen. Hasil uji yang diperoleh dengan
memasukan variabel SDSL_R2 adalah sebagai berikut. Tabel 4.12
Hasil Uji Endogenitas (Persamaan Struktural)
Variabel Koefisien Prob C -668,5472 0,8293 SDSL_R2 0,776334 0,0589 R-Squared
Prob(F-statistik)
0,821260 0,002777
Sumber: Diolah Dari Eviews
Dari tabel 4.12 menunjukkan bahwa hasil t statistik dari residual SDSL adalah -0,77 dengan F value adalah 0,05. Dengan menggunakan α = 10%, maka variabel penawaran daging sapi lokal merupakan variabel endogen.
4.3.3 Uji Simultanitas
Apabila lebih besar dari α = 10% maka tidak terjadi simultanitas sedangkan jika hasilnya lebih kecil, maka antara variabel penawaran daging sapi lokal terdapat hubungan simultanitas dengan permintaan impor daging sapi.
Tabel 4.13
Hasil Uji Sumultanitas Dengan Uji Hausman
Variabel Koefisien Prob C -2916,424 0,0024 SDSL_R2 -0,152600 0,0818 SDSL_FC 0,396983 0,0000 R-Squared
Prob(F-statistik)
O,766103 0,000038 Sumber: Diolah Dari Eviews
Dari hasil Uji Hausman menunjukan bahwa nilai F valuenya adalah 0,08 yaitu lebih kecil dari α=10%, maka terdapat hubungan simultan antara variabel endogen penawaran daging sapi lokal dengan permintaan impor daging sapi. Artinya antara kedua variabel tersebut terdapat hubungan korelasi sehingga menyebabkan antara variabel endogennya berkorelasi dengan errorterm-nya. Untuk mengatasi masalah tersebut, pengujian persamaan struktural permintaan impor daging sapi dapat dilakukan dengan menggunakan Two Stage Least Square.
4.3.4 Hasil Estimasi Regresi TSLS
Estimasi untuk mengetahui pengaruh variabel secara simultan dilakukan dengan menggunakan model Two Stage Least Square. Tahap pertama agar variabel DIDS tidak berkorelasi dengan e1t, maka variabel endogenus SDSL diregresikan terhadap seluruh variabel eksogen. Kemudian pada tahap kedua variabel SDSL* digantikan dengan nilai yang diperoleh dari reduced form
Tabel 4.14
Hasil Uji Regresi TSLS Permintaan Impor Daging Sapi
Variabel Koefisien Std. Error t-statistik Prob C 3687,429 3297,666 1,118193 0,0287 SDSL* -1,458802 2,394,551 -0,609217 0,5548 DDSD 1,192607 2,350233 0,507442 0,6219 Gm -0,205255 0,728587 -0,281717 0,0783 PDSI 0,188183 0,071660 2,626053 0,0236 KURS -0,445839 0,035137 -1,268860 0,0230 R-Squared
Prob(F-statistik)
0,924176 0,006549 Sumber: Diolah Dari Eviews
Dari hasil output diatas, maka didapat persamaan sebagai berikut: DDSIt = 3687,429 – 1,458802 (SDSL*t) + 1,192607 (DDSDt) – 0,205255 (Gmt) + 0,188183 (PDSIt) – 0,445839 (KURSt)
Dari hasil estimasi persamaan diatas, maka dapat diinterprestasikan sebagai berikut:
1. Variabel penawaran daging sapi lokal berpengaruh negatif secara tidak signifikan terhadap permintaan impor daging sapi. Koefisiennya menunjukan angka sebesar 1,45. Apabila produksi daging sapi lokal naik sebesar 1 ton, maka akan terjadi penurunan permintaan impor daging sapi sebesar 1,45 ton, dalam keadaan cateris paribus.
3. Variabel kebijakan pemerintah berupa tarif impor daging sapi berpengaruh negatif secara signifikan terhadap permintaan impor daging sapi. Koefisiennya menunjukan angka sebesar 0,20. Apabila tarif daging sapi impor meningkat meningkat sebesar 1 Rupiah, maka akan terjadi penurunan permintaan impor daging sapi sebesar 0,20 ton, dalam keadaan cateris paribus.
4. Variabel harga daging sapi daging sapi impor berpengaruh positif secara signifikan terhadap permintaan impor daging sapi. Koefisiennya menunjukan angka sebesar 0,18. Apabila harga daging sapi impor meningkat sebesar 1 rupiah per ton, maka akan terjadi peningkatan permintaan impor daging sapi sebesar 0,18 ton, dalam keadaan cateris paribus.
5. Variabel kurs berpengaruh negatif secara nyata terhadap permintaan impor daging sapi. Koefisiennya menunjukan angka sebesar 0,44. Apabila kurs meningkat sebesar 1 Rupiah per US$, maka akan terjadi peningkatan penurunan impor daging sapi sebesar 0,44 ton, dalam keadaan cateris paribus.
7. Nilai probabilitas f-statistiknya memperlihatkan angka sebesar 0,006549. Angka tersebut menunjukan bahwa secara bersama-sama variabel penawaran daging sapi lokal, permintaan daging sapi domestik, tarif impor harga daging sapi impor dan kurs berpengaruh secara signifikan terhadap variabel permintaan impor daging sapi, dalam keadaan cateris paribus.
4.3.5 Uji Bias Simultan
Uji bias yang dilakukan untuk melihat apakah vaiabel teknologi inseminasi buatan dan harga daging sapi lokal melalui penawaran daging sapi lokal memiliki bias dalam mempengaruhi permintaan impor daging sapi. Apabila nilai probabilitas statistiknya lebih besar dari α=10%, maka variabel tidak mengandung bias.
Tabel 4.15 Hasil Uji Bias Simultan
Variabel koefisien Prob TIB 0,182870 0,0111 PDSL 0,006774 0,0933 R-Squared
Prob(F-statistik)
0,248940 0,758607
Sumber: Diolah Dari Eviews
bias yang digunakan adalah 10% sehingga asumsi bahwa variabel teknologi inseminasi buatan dan harga daging sapi lokal tidak mengandung bias dapat diterima.
4.3.6 Pembahasan
Pendugaan model yang dilakukan menunjukkan hasil yang cukup baik dilihat dari kriteria ekonomi, kriteria statistik dan kriteria ekonometrika. Hasil analisis nilai koefisien determinasi (R2) 0,92 dan nilai probabilitas F statistik berkisar antara 0,006 menunjukkan bahwa secara bersama-sama peubah penjelas memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah endogennya. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara kriteria ekonomi persamaan yang dibentuk cukup memenuhi syarat (cukup representatif). Secara menyeluruh memperlihatkan bahwa model persamaan simultan yang dibentuk dalam model ekonomi permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara dapat dinyatakan cukup baik, karena telah memenuhi kriteria ekonomi (tanda yang relatif sama), dan kriteria statistik (akurat).
Dalam persamaan impor daging sapi, peubah tarif, impor daging sapi, harga daging sapi impor dan kurs berpengaruh signifikan sedangkan permintaan daging sapi domestik dan penawaran daging sapi lokal tidak berpengaruh secara signifikan dalam mempengaruhi permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara. Hasil tanda parameter sesuai dengan yang diharapkan kecuali pada harga daging sapi impor.
meningkatnya harga daging sapi impor akan menurunkan volume impor daging sapi, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Priyanto ( 2005) yang menunjukkan bahwa impor daging sapi tidak ditentukan oleh harga daging impor sendiri. Peningkatan daging sapi impor yang justru meningkatkan permintaan impor daging sapi dikarenakan pendapatan masyarakat yang semakin meningkat selain itu dikarenakan harga daging sapi impor di Sumatera Utara selalu lebih murah dibandingkan dengan harga daging sapi local, sehingga menyebabkan masyarakat tetap membeli daging sapi impor sekalipun harganya naik. Di Sumatera Utara, daging sapi impor yang memiliki kualitas bagus merupakan kebutuhan bagi hotel dan restoran. Walaupun harga daging sapi impor di Sumatera Utara naik, permintaanya akan tetap tinggi, mengingat pertumbuhan hotel dan restoran di Sumatera Utara yang cukup baik.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan kurs berpengaruh negatif secara signifikan terhadap impor daging sapi di Sumatera Utara. Hal ini menunjukan bahwa ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar, maka kegiatan impor semakin berkurang. Perstiwa ini terjadi karena pada saat nilai rupiah melemah, importir harus membayar daging sapi lebih mahal dari harga biasanya. Dampak dari pengeluaran yang semakin meningkat itu, para importir mempertimbangkan untuk tidak membeli daging sapi pada kuota maksimal.
Dalam model persamaan permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara, terdapat hubungan simultan antara permintaan impor daging sapi dengan penawaran daging sapi lokal. Dalam persamaan penawaran daging sapi lokal dimasukkan 2 peubah eksogenus yang diduga berpengaruh terhadap peubah endogen yang dibentuk yaitu teknologi inseminasi buatan dan harga daging sapi lokal.
Meningkatnya produksi akan membantu penurunan impor daging sapi, dengan begitu, maka rencana pemerintah untuk menggalakan swasembada daging sapi dengan memenuhi 90 sampai 95 persen dari konsumsi domestik akan dapat tercapai, sedangkan jika impor terus menerus meningkat, maka akan menyebabkan peternakan rakyat semakin terdesak disebabkan harus bersaing secara kualitas dan harga dengan daging sapi impor. Harga daging sapi lokal selalu lebih tinggi dari harga daging sapi impor dikarenakan peternakan yang ada di Sumatera Utara umumnya adalah peternakan rakyat yang masih menggunakan teknologi yang rendah. Hasil analisis menunjukkan bahwa penawaran daging peternakan rakyat, sistem perkembangan usaha tidak signifikan dipengaruhi oleh faktor harga daging yang berlaku. Hal tersebut terjadi karena penawaran daging sapi peternakan rakyat adalah merupakan usaha peternakan tradisional dengan skala pemeliharaan yang relatif kecil (2–4 ekor) (SOEHADJI dalam Priyanto, 259:2005).
salah satunya adalah rekomendasi pengembangan kearah peningkatan populasi. Populasi sapi yang ada belum mencerminkan produksi daging secara umum karena memiliki performan bobot hidup yang rendah (kondisi sapi kecil). Teknologi inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu program teknologi memperbaiki kualitas performan sapi yang ada melalui program persilangan dengan bibit (semen) sapi impor. Teknologi IB yang direkomendasikan diharapkan mampu memperbaiki kualitas sapi dalam mendukung perkembangan produksi daging peternakan rakyat. Hasil penelitian Ilham (1998) menyimpulkan bahwa teknologi IB berpengaruh positif terhadap produksi peternakan rakyat.
Sejalan dengan peneliti sebelumnya, Priyanto (2005) dan Ilham (1998) yang menyatakan harga tidak berpengaruh signifikan sedangkan teknologi inseminasi buatan berpengaruh signifikan terhadap produksi. Penelitian ini juga menunjukan bahwa tidak terjadi bias simultan pada variabel teknologi inseminasi
buatan dalam mempengaruhi impor daging sapi pada α = 10%, sedangkan
teknologi inseminasi buatan pada tingkat kepercayaan α = 5% mengandung bias
simultan dalam mempengaruhi impor melalui penawaran daging sapi lokal, hal ini tejadi karena peningkatan harga daging sapi lokal secara sigifikan belum mampu memacu peningkatan produksi daging sapi local di Sumatera Utara.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Perkembangan permintaan impor daging sapi, penawaran daging sapi lokal, permintaan daging sapi domestik, harga daging sapi impor, kurs dan kebijakan pemerintah berupa tarif impor daging sapi secara rata-rata selama 17 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan.
2. Hasil uji parameter dengan TSLS menunjukan bahwa variabel penawaran daging daging sapi lokal berpengaruh negatif secara tidak signifikan, kurs dan tarif impor daging sapi berpengaruh negatif secara signifikan, sedangkan permintaan daging sapi domestik berpengaruh positif secara tidak signifikan dan harga daging sapi impor bepengaruh positif secara signifikan dengan permintaan impor daging sapi di Sumatera Utara.
5.2 Saran
1. Pemerintah perlu meningkatkan program inseminasi buatan atau membuat terobosan kegiatan baru untuk membantu para produsen sapi agar mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi daging sapi lokal supaya dapat memenuhi kebutuhan daging sapi di Sumatera Utara dan guna menurunkan permintaan akan impor daging sapi.
2. Importir masih dapat mengimpor daging sapi dari luar negeri walaupun harga daging sapi impor meningkat, selama harga daging sapi impor masih lebih rendah daripada harga daging sapi lokal dan selama terjadi kekurangan produksi dalam memenuhi konsumsi daging sapi domestik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul, 2012. Ekonomi Pembangunan Pertanian, PT.Percetakan IPB Press, Bogor.
Giamalva, John, 2013. “Korea’s Demand for U.S. Beef.” Journal of International Commerce and Economics. Diakses 11 november 2013 dari http://www. usitc.gov/journals/KoreasDemandforUSBeef.pdf.
Mankiw, N Gregory, 2003. Pengantar Ekonomi, Edisi Kedua, Jilid Kesatu, Diterjemahkan Oleh Haris, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Nugroho, Sandy Aji, 2008. “Analisis Permintaan Impor Daging Sapi Indonesia”, Skripsi Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan IPB. Diakses 11 november 2013 dari http://repository.ipb.ac. id/bitstream/handle/123456789/ 50255/D08san.pdf?sequence=1
Pratomo, Wahyu dan Paidi Hidayat, 2010. Pedoman Praktis Penggunaan Eviews Dalam Ekonometrika, USU Press, Medan.
Priyanto, Dwi, 2005, “Evaluasi Kebijakan Impor Daging Sapi Melalui Analisis Penawaran dan Permintaan”, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan.Bogor.Diakses 11 november 2013 dari Rasul, Agung Abdul et al, 2012. Ekonomi Mikro, Mitra Wacana Media, Jakarta.
, 2010. Ekonometrika – Formula dan Aplikasi Dalam Menejemen,
Mitra Wacana Media, Jakarta.
Samuelson dan Nordhous, 2003. Ilmu Mikro Ekonomi, Edisi Tujuh Belas, Diterjemahkan Oleh Nur Rosyidah dkk, PT.Media Global Edukasi, Jakarta.
Saputra, Iwan, 2013, “Analisis Permintaan Daging Sapi Di Kota Dumai” Jurnal Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Riau,
Diakses 11 november 2013 dari
Sarnowo, Henry et al, 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, PT.Buku Seru, Jakarta.
Setiawan dan Dwi Endah Kusrini, 2010. Ekonometrika, ANDI, Yogyakarta. Siswosoemarto, Rubijanto et al, 2012. Intelijen Ekonomi, PT.Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.