PERANAN INSPEKTORAT DALAM PELAKSANAAN PENGAWASAN
OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA UTARA DITINJAU
DARI PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
S K R I P S I
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai Gelar
Sarjana Hukum
Oleh :
Viza Vadilla
NIM : 080200381
DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
PERANAN INSPEKTORAT DALAM PELAKSANAAN PENGAWASAN
OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA UTARA DITINJAU
DARI PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
S K R I P S I
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai Gelar
Sarjana Hukum
Oleh :
Viza Vadilla
NIM : 080200381
DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Mengetahui
Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara
Suria Ningsih, SH, M.Hum
NIP. 196002141987032002
Pembimbing I
Pembimbing II
Suria Ningsih, SH, M.Hum
Erna Herlinda, SH, M.Hum
NIP : 196002141987032002
NIP : 196705091993032001
FAKULTAS HUKUM
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
semua limpahan rahmat dan berkah yang tak terhingga sehingga kita masih dapat
berkarya dan beribadah kepadaNya. Dan dengan berkahNya pula penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini walaupun masih banyak kekurangan-kekurangannya.
Tulisan ini tidak akan terwujud begitu saja tanpa melibatkan banyak pihak
yang telah memberikan bantuan baik berupa informasi, data, penyediaan
buku-buku kepustakaan baik dari perorangan maupun dari kelembagaan. Masa-masa
menjalani kuliah selama + 5 tahun banyak pengetahuan yang penulis serap dari
para dosen, para guru besar dan para rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara yang turut mewarnai penulisan karya ilmiah dalam
bentuk skripsi ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih sekaligus sebagai apresiasi atas semua jasa-jasa terutama para dosen,
dukungan orang tua, dukungan adik-adik dan rekan-rekan mahasiswa yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu. Namun demikian dalam kesempatan pertama
penulis ingin menyampaikan ucapaan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1.
Prof. Dr. Runtung, S.H.,M.Hum. sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara
2.
Ibu Suria Ningsih, SH, M.Hum sebagai Ketua Departemen Hukum
Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus
juga sebagai Pembimbing I penulis.
3.
Ibu Erna Herlinda, SH, M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah
memberikan masukan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis
4.
Tidak lupa penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada
Ayahanda H. OK. Zulkarnain, SH, M.Si dan Ibunda Dewi Kurnianingsih, SH
atas kasih sayang, doa, nasehat, dorongan dan perhatiannya sehingga penulis
dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada abang Ibnu Ubayddilla
dan adik Frea Nabilla Ayyashi yang telah memberikan dukungan kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Semoga tulisan dan capaian pada hari ini dapat memberi cambuk sekaligus
motivasi bagi adik-adik tersayang untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi
di masa-masa yang akan datang.
6.
Teman-teman penulis di Fakultas Hukum USU khususnya teman-teman satu
stambuk ‘08 yang tidak dapat penulis sebutkan satu pe
rsatu di sini juga
penulis doakan dapat meraih sukses pada masa-masa yang akan datang.
Selaku manusia penulis tidak luput dari salah dan khilaf, dengan ini
penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan didalam
penulisan skripsi ini. Penulis juga memohon kritik serta saran yang bersifat
membangun demi perbaikannya dikemudian hari.
Akhir kata penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi semua
pihak. Aamin.
Medan, April 2013
Hormat Penulis,
ABSTRAK
Viza Vadilla
**)
Suria Ningsih, SH, M.Hum
***)
Erna Herlinda, SH, M.Hum
Inspektorat Provinsi adalah merupakan unsur pengawas pembinaan dan
penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota yang
mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan
pemerintahan di daerah provinsi, kabupaten dan kota.
Permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini adalah: Bagaimana
kedudukan dan peranan Inspektorat dalam pelaksanaan otonomi daerah di
Provinsi Sumatera Utara. Dan sejauh mana Inspektorat dapat melakukan perannya
sebagai lembaga pengawas setelah pemberlakuan otonomi daerah di Provinsi
Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, dengan
menggunakan metode penelitian kepustakaan
(library research)
dan penelitian
lapangan
(field research)
.
Kesimpulannya
adalah
:
Inspektorat
Provinsi
Sumatera
Utara
berkedudukan di bawah Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, sejajar dengan
badan dan dinas lain yang dinaungi oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera
Utara yang bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Hasil
pemeriksaan kasus yang ditangani terutama pada tindak lanjut pengawasan
dimana sebelum pelaksanaan otonomi daerah birokrasinya rumit dan panjang
serta menghabiskan waktu yang lama. Namun setelah pelaksanaan otonomi
daerah cukup diselesaikan oleh Gubernur melalui surat keputusan Gubernur,
kecuali terhadap kasus yang terdapat indikasi tindak pidana atau perdata yang
memerlukan campur tangan pihak ketiga. Faktor-faktor pendukung pelaksanaan
dan pengawasan fungsional yang dilakukan oleh Inspektorat Provinsi Sumatera
Utara setelah keluarnya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 adalah tidak terlepas
dari sumber daya manusia, sarana prasarana, instrument pengawasan dan
ketersediaan anggaran.
Untuk itu disarankan kepada Inspektorat Provinsi Sumatera Utara untuk
melakukan pengawasan terhadap kinerja Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatera
Utara dan jajarannya dilakukan oleh Inspektorat Provinsi. Diharapkan kepada
Gubernur Sumatera Utara agar transparan dalam menyikapi dan meneruskan
kasus-kasus temuan oleh Inspektorat Provinsi Sumatera Utara dan dapat
memberikan anggaran dana yang lebih memadai
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, NIM : 080200381
**)
Dosen Pembimbing I/Ketua Departemen HAN, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
***)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...
i
DAFTAR ISI
...
iii
ABSTRAK
...
v
BAB I
PENDAHULUAN ...
1
A.
Latar Belakang ...
1
B.
Perumusan Masalah ...
4
C.
Tujuan dan Manfaat Penulisan ...
4
D.
Keaslian Penulisan ...
5
E.
Tinjauan Pustaka ...
5
F.
Metodologi Penelitian ...
9
G.
Sistematika Penulisan ...
10
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PEMERINTAHAN
PROVINSI SUMATERA UTARA DAN PENGAWASAN ...
13
A. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara ...
13
B. Otonomi Daerah ...
17
C. Pengawasan Dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah ...
24
BAB III
KEDUDUKAN INSPEKTORAT DALAM STRUKTUR
PEMERINTAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA ...
39
A. Tugas, Fungsi dan Susunan Organisasi Inspektorat Provinsi
Sumatera Utara ...
39
B. Kewenangan dan Tata Kerja Inspektorat Pemerintahan
Provinsi Sumatera Utara ...
43
BAB IV
PERANAN I NSPEKTORAT DALAM PELAKSANAAN
OTONOMI DAERAH DI PROVINSI SUMATERA UTARA ..
58
A. Pelaksanaan Pemeriksaan Dalam Rangka Pelaksanaan Tugas
Pengawasan Oleh Inspektorat Provinsi Sumatera Utara ...
58
B. Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Sebelum dan Setelah
Pemberlakuan Otonomi Daerah ...
64
C. Kendala-Kendala Dalam Pelaksanaan Tugas Inspektorat ...
68
D. Upaya Mengatasi Kendala-Kendala Yang Dihadapi
Inspektorat Provinsi Sumatera Utara ...
74
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN ...
80
A. Kesimpulan ...
80
B. Saran ...
81
ABSTRAK
Viza Vadilla
**)
Suria Ningsih, SH, M.Hum
***)
Erna Herlinda, SH, M.Hum
Inspektorat Provinsi adalah merupakan unsur pengawas pembinaan dan
penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota yang
mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan
pemerintahan di daerah provinsi, kabupaten dan kota.
Permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini adalah: Bagaimana
kedudukan dan peranan Inspektorat dalam pelaksanaan otonomi daerah di
Provinsi Sumatera Utara. Dan sejauh mana Inspektorat dapat melakukan perannya
sebagai lembaga pengawas setelah pemberlakuan otonomi daerah di Provinsi
Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, dengan
menggunakan metode penelitian kepustakaan
(library research)
dan penelitian
lapangan
(field research)
.
Kesimpulannya
adalah
:
Inspektorat
Provinsi
Sumatera
Utara
berkedudukan di bawah Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, sejajar dengan
badan dan dinas lain yang dinaungi oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera
Utara yang bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Hasil
pemeriksaan kasus yang ditangani terutama pada tindak lanjut pengawasan
dimana sebelum pelaksanaan otonomi daerah birokrasinya rumit dan panjang
serta menghabiskan waktu yang lama. Namun setelah pelaksanaan otonomi
daerah cukup diselesaikan oleh Gubernur melalui surat keputusan Gubernur,
kecuali terhadap kasus yang terdapat indikasi tindak pidana atau perdata yang
memerlukan campur tangan pihak ketiga. Faktor-faktor pendukung pelaksanaan
dan pengawasan fungsional yang dilakukan oleh Inspektorat Provinsi Sumatera
Utara setelah keluarnya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 adalah tidak terlepas
dari sumber daya manusia, sarana prasarana, instrument pengawasan dan
ketersediaan anggaran.
Untuk itu disarankan kepada Inspektorat Provinsi Sumatera Utara untuk
melakukan pengawasan terhadap kinerja Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatera
Utara dan jajarannya dilakukan oleh Inspektorat Provinsi. Diharapkan kepada
Gubernur Sumatera Utara agar transparan dalam menyikapi dan meneruskan
kasus-kasus temuan oleh Inspektorat Provinsi Sumatera Utara dan dapat
memberikan anggaran dana yang lebih memadai
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, NIM : 080200381
**)
Dosen Pembimbing I/Ketua Departemen HAN, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
***)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan khususnya penyelenggaraan pemerintahan
daerah, instrumen pemerintahan memegang peran yang sangat penting dan vital guna melancarkan
pelaksanaan fungsi dan tugas pemerintahan daerah. Instrumen pemerintahan daerah merupakan
alat atau sarana yang ada pada pemerintah daerah untuk melakukan tindakan atau perbuatan
pemerintahan yang memuat berbagai jenis instrumen pemerintahan daerah. Dengan kata lain,
yang dimaksud dengan instrumen pemerintahan daerah adalah alat atau sarana yang dapat
digunakan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Instrumen
pemerintahan daerah merupakan bagian dari instrumen penyelenggaraan pemerintahan negara
dalam arti luas.
Hal ini kemudian memberikan peluang kepada pemerintah daerah untuk dapat
menerapkan kebijakan-kebijakan yang dianggap perlu demi kesejahteraan rakyat di daerah
masing-masing. Keadaan ini kemudian mendorong pemerintah daerah untuk mengambil dan
memberlakukan kebijakan-kebijakan yang bersifat mengatur keadaan di daerah dengan
mengeluarkan berbagai macam perundangan-undangan antara lain Peraturan Daerah (yang
kemudian disingkat menjadi Perda) yang merupakan salah satu instrumen hukum penyelenggaraan
pemerintah daerah di samping instrumen hukum yang lain yang berupa sarana dan prasarana yang
digunakan dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pemerintahan yang digolongkan ke
dalam public domain, sebagaimana tertuang pada bagian penjelasan umum Undang-undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Negara Republilk Indonesia adalah negara kesatuan, dalam penyelenggaraan
pemerintahannya menekankan azas desentralisasi yang secara utuh dilaksanakan di daerah
dilakukan menurut prakarsanya sendiri serta didasari oleh aspirasi rakyat sesuai yang diamanatkan
oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Perbedaan mendasar antara pelaksanaan otonomi daerah pada era orde baru dengan
pelaksanaan otonomi daerah setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 terletak
pada azas desentralisasi. Pada masa orde baru penerapan otonomi daerah hanya dengan prinsip
nyata dan bertanggung jawab, sedangkan setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 penerapan otonomi daerah menekankan prinsip luas, nyata dan bertanggungjawab.1
Otonomi daerah yang menganut prinsip luas, nyata dan bertanggung jawab membutuhkan
pemahaman yang tepat terhadap wawasan kebangsaan dimana pemahaman tersebut antara lain
sosial budaya, ekonomi, politik, hukum, pertahanan, keamanan, penanaman nilai-nilai kebangsaan
serta rasa cinta tanah air. Sebab tanpa pemahaman yang tepat, maka kebebasan ini dapat menjadi
ancaman disintegrasi bangsa.
Otonomi daerah yang luas membutuhkan pengawasan yang baik agar roda pembangunan
di daerah berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 yaitu pemerataan dan keadilan. Pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah Daerah
merupakan bagian integral dari sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara. Karena hal tersebut
maka dibentuk suatu badan di daerah yang bertugas melakukan pembinaan dan pengawasan secara
umum di daerah yaitu Inspektorat.
Inspektorat Provinsi adalah merupakan unsur pengawas pembinaan dan penyelenggaraan
pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota yang mempunyai tugas melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi, kabupaten dan kota.
Pada Provinsi Sumatera Utara, pelaksanaan pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh
Inspektorat. Namun target yang ingin dicapai dari kinerja badan ini bertolak belakang dan masih
belum mencapai tujuan yang diinginkan, kenyataan bahwa masih banyak terdapat berbagai bentuk
penyelewengan dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan bukti yang riil masih kurangnya
pembinaan dan pengawasan, baik yang dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional yang
1
bersangkutan maupun yang dilakukan oleh pimpinan/atasan langsung. Sehingga menarik untuk
dikaji mengapa kinerja Inspektorat di Provinsi Sumatera Utara belum mencapai target yang
diinginkan.
B. Perumusan Pemasalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengangkat beberapa permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana kedudukan dan peranan Inspektorat dalam pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi
Sumatera Utara.
2. Sejauh mana Inspektorat dapat melakukan perannya sebagai lembaga pengawas setelah
pemberlakuan otonomi daerah di Provinsi Sumatera Utara.
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui kedudukan dan peranan Inspektorat dalam struktur pemerintahan di
Provinsi Sumatera Utara.
b. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi tugas, fungsi, wewenang serta dapat atau tidaknya
Inspektorat melaksanakan peranannya setelah pemberlakuan Otonomi Daerah di Provinsi
Sumatera Utara.
2. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Secara akademik tulisan ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu hukum khususnya
tentang peranan Inspektorat dalam pelaksanaan pengawasan otonomi daerah di Provinsi
Sumatera Utara dan sebagai kerangka acuan dan landasan bagi penelitian lanjutan.
2. Secara praktis akan menjadi salah satu masukan bagi pemerintah yakni para pejabat dan
instansi terkait untuk melaksanakan perannya dalam rangka otonomi daerah di Provinsi
D. Keaslian Penelitian
Sepanjang pengetahuan penulis, penulisan tentang Peranan Inspektorat
Dalam Pelaksanaan Pengawasan Otonomi Daerah di Provinsi Sumatera Utara
Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara belum pernah diteliti. Oleh
karena itu penelitian ini dapat dikatakan penelitian yang pertama kali dilakukan,
sehingga keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
E. Tinjauan Pustaka
Sejalan dengan perubahan mendasar pembangunan nasional sejak kurun waktu 1998 (era
reformasi), maka titik pembangunan nasional adalah di daerah yang berarti pemerintahan. Di
daerah diberi keleluasan mengatur daerahnya demi kepentingan pembangunan di daerah tersebut.
Ruang yang terbuka luas bagi pencapaian kualitas daerah melalui otonomi daerah dan
desentralisasi berimpliksi kepada ketentuan perundang-undangan yang mengatur hubungan antara
pemerintah pusat dan daerah.
Hal tersebut terlihat dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang
kemudian digantikan menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125).
Pada Bab XII, Pasal 218 ayat (1) dan (2) ditentukan bahwa pengawasan atas pemerintah
daerah dilaksanakan oleh pemerintah meliputi pelaksanaan pemerintahan daerah, peraturan daerah
dan keputusan kepala daerah. Kemudian ketentuan dalam Pasal 223 menyebutkan pedoman
mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah ditetapkan dengan
peraturan pemerintah. Sejalan dengan itu, pada bagian IX mengenai perangkat daerah Pasal 120
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa perangkat daerah terdiri dari
Sekretaris Daerah yang bertugas membantu kepala daerah dalam pengambilan kebijakan,
koordinasi dengan seluruh perangkat daerah, membina profesionalitas Pegawai Negeri Sipil (PNS)
termasuk meningkatkan kinerja institusi mereka lalu Dinas-Dinas Daerah dan lembaga teknis
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, memberikan
penjelasan tentang perangkat daerah provinsi adalah unsur pembantu kepala daerah dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas
daerah, dan lembaga teknis daerah. Aturan mengenai tugas pengawasan dilaksanakan oleh
Inspektorat yang dipimpin seorang Inspektur yang bertanggungjawab langsung kepada Gubernur
dan secara teknis administratif mendapat pembinaan dari sekretaris daerah.
Kedua ketentuan di atas mengisyaratkan bahwa pengawasan penyelenggaraan pemerintah
di daerah menitikberatkan berfungsinya lembaga-lembaga teknis daerah. Selain itu dibutuhkan
perpanjangan kemampuan bagi daerah melalui kepala daerah untuk menjalankan fungsi
pengawasan khususnya pengawasan fungsional di daerah. Dengan kata lain Inspektorat Provinsi
belum secara eksplisit tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, namun kehadiran
Inspektorat Provinsi terlihat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 yang kemudian
Peraturan Pemerintah ini diganti menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagai konsekuensi
digantinya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah.
Menurut kacamata manajemen, dibentuknya lembaga-lembaga pengawasan internal dan
eksternal secara berlapis-lapis seperti sekarang ini sebenarnya telah mengikuti kaidah-kaidah
manajemen modern. Luasnya rentang kendali dan kompleksitas berbagai urusan penyelenggaraan
negara/pemerintahan memerlukan suatu sistem/mekanisme kontrol yang efektif, efisien, dan
ekonomis sehingga visi misi penyelenggaraan negara/pemerintahan tercapai secara tepat asas.
Pembentukan lembaga pengawasan secara berlapis, menurut I Wayan Monoyasa2, auditor
perwakilan BPKP justru meminimalkan peluang bagi manajer publik untuk mengkoopasi operasi
pengawasan, karena terjadi proses check and recheck oleh lembaga pengawasan yang lebih
eksternal. Disamping itu, setiap aspek penyelenggaraan negara/pemerintah dapat dijangkau oleh
lembaga pengawasan yang berlapis tersebut sehingga menekan sekecil mungkin terjadinya
2 I Wayan Monoyosa, “
Lembaga pengawasan dan good governance, menghilangkan
potensi/praktik manajemen yang tidak sehat, dimana lembaga pengawasan eksternal mengenai
hal-hal yang bersifat lebih makro dan strategis. Jadi, sebagai suatu sistem pengawasan fungsional
maka keberadaan Inspektorat baik di tingkat provinsi, kabupaten dan kota sebagai salah satu
lembaga pengawasan dalam pemerintahan khususnya pemerintah daerah sesungguhnya tidak ada
yang berlebihan menyangkut keberadaan Inspektorat ini.
Pengawasan yang dimuat menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, meliputi dua
bentuk pengawasan yakni pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah dan
pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Salah satu peran pelaksanaan
pengawasan dilaksanakan oleh aparat pengawas internal pemerintah yang saat ini adalah
Inspektorat, baik untuk daerah provinsi maupun daerah kabupaten atau kota. Namun sekarang ini
apabila disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pembinaan dan
Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, maka sebagian besar Badan Pengawas
Daerah yang diubah namanya menjadi Inspektorat seperti Inspektorat Provinsi Sumatera Utara.3
Berdasarkan Pasal 21 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 9 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Provinsi Sumatera Utara Inspektorat Daerah yang
dipimpin oleh seorang Inspektur yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab langsung
kepada Gubernur serta secara teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris Daerah
Inspektorat Daerah mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan
pemerintahan di daerah provinsi, pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan
daerah kabupaten/kota dan pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota serta tugas
pembantuan.
F. Metode Penelitian
Adapun metode penelitian hukum yang digunakan penulis dalam menulis skripsi ini
meliputi :
3
1. Spesifikasi Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif
atau yuridis normatif. Dalam hal penelitian hukum normatif penulis melaksanakan penelitian
terhadap perundang-undangan dan bahan hukum yang berhubungan dengan permasalahan skripsi
ini.
2. Metode Pengumpulan Data
Pada hakekatnya metode penulisan/pengumpulan data adalah cara yang ditempuh untuk
menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dari perolehan data
yang dikumpulkan. Dalam mewujudkan pembuatan skripsi ini, metode penulisan atau
pengumpulan data ini dilakukan melalui :
1. Studi kepustakaan (library research), berkenaan dengan bacaan yang bersifat reference books,
text books, majalah-majalah ilmiah, hasil-hasil seminar, dan sebagainya.
2. Studi lapangan (field research), yaitu usaha yang dilakukan secara sistematis dan ilmiah untuk
memperoleh suatu keterangan/informasi di lapangan. Data yang telah dikumpulkan, adalah
melalui studi lapangan ini dilakukan pada Inspektorat Provinsi Sumatera Utara.
3. Analisis Data
Data yang diperoleh dikumpulkan dan diurutkan secara lengkap dan komprehensif dalam
satu pola, kategori dan satuan uraian tertentu, kemudian dianalisa secara kualitatif deskriptif untuk
dapat menjawab permasalahan-permasalahan dalam skripsi ini.
G. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun skripsi ini, penulis menguraikan bab demi bab sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Merupakan bab awal yang berisi tentang latar belakang, permasalahan, tujuan
dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan pustaka, metode
BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI
SUMATERA UTARA DAN PENGAWASAN.
Dalam bab ini dikemukakan mengenai Gambaran Umum Provinsi Sumatera
Utara, Otonomi Daerah serta Pengawasan Dalam Penyelenggaraan
Pemerintah Daerah.
BAB III : KEDUDUKAN INSPEKTORAT DALAM STRUKTUR PEMERINTAHAN
PROVINSI SUMATERA UTARA.
Dalam bab ini dipaparkan tentang, tugas, fungsi dan susunan organisasi
Inspektorat Provinsi Sumatera Utara, Kewenangan dan Tata Kerja
Inspektorat Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara, Objek yang diawasi oleh
Inspektorat Provinsi Sumatera Utara dan Kedudukan Inspektorat dalam
Struktur Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.
BAB IV : PERANAN INSPEKTORAT DALAM PELAKSANAAN OTONOMI
DAERAH DI PEMERINTAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA.
Dalam bab ini diuraikan tentang, Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Sebelum
dan Sesudah Pemberlakuan Otonomi Daerah, Kendala Yang Dihadapi Dalam
Pelaksanaan Tugas Inspektorat Provinsi, Upaya Mengatasi Kendala yang
Dihadapi Inspektorat Provinsi dan Peranan Inspektorat Provinsi Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah di Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab kesimpulan dan saran dari seluruh rangkaian bab-bab
sebelumnya. Dalam bab ini berisikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan
uraian penelitian, kemudian dilengkapi dengan saran yang mungkin
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI
SUMATERA UTARA DAN PENGAWASAN
A. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara
Secara geografis daerah Provinsi Sumatera Utara terletak antara 10 – 40 LU dan 980 –
1000 BT. Daerah provinsi Sumatera Utara pada dasarnya dibagi atas :
1. Pesisir Timur
2. Pengunungan Bukit Barisan
3. Pesisir Barat
4. Kepulauan Nias
Total luas administrasi 71.680 km2, wilayah Provinsi Sumatera Utara berbatasan dengan :
1. Utara : Provinsi Aceh dan Selat Malaka
2. Selatan : Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Barat dan Samudera
Indonesia
3. Barat : Provinsi NAD dan Samudera Indonesia
4. Timur : Selat Malaka
a. Ditinjau dari topografinya
Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya
karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah
pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan
wilayah lainnya.
Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada
beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Tetapi jumlah
hunian penduduk paling padat berada di daerah timur provinsi ini. Daerah di sekitar Danau Toba
dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang mengguntungkan hidupnya
Terdapat 419 pulau di Provinsi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar tersebut adalah pulau
Simuk (Kepulauan Nias), dan Pulau Berhala di Selat Sumatera (Malaka).
Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain
disekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat
pemerintahan terletak di Gunung Sitoli.
Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar yaitu Sibuasi, Pini, Tanahbala,
Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulau Telo dan di Pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di
tenggara Kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera Utara : Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaria,
Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake dan Sigata, Wunga.
b. Ditinjau dari kependudukan
Jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara pada akhir tahun 2010 ialah sebanyak
12.985.05 jiwa. Jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara jika dibandingkan dengan luas
wilayah Provinsi Sumatera Utara 71.680 km2 maka kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara
pada akhir tahun 2010 adalah 177,9/km.
Komposisi penduduk berdasarkan agama yang dianut di Provinsi Sumatera Utara
memperlihatkan bahwa penganut agama Islam (65,5 %), Kristen (Protestan/Katolik) (31,4 %),
Hindu (0,2 %), Parmalim, Konghucu.
c. Ditinjau dari etnis
Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi multi etnis yaitu suku Batak, Nias, Melayu
sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Provinsi Sumatera Utara, pada umumnya
dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai Barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang
Minangkabau (2,66 %), Banjar (0,97 %), Lain-lain (10,52 %).
d. Ditinjau dari administrasi pemerintahan
Provinsi Sumatera Utara adalah merupakan bagian dari negara kesatuan Republik
Indonesia yang secara administratif dibagi atas 25 kabupaten, 8 kota (dahulu kotamadya) antara
lain :
1. Kabupaten Asahan dengan ibu kota Kisaran
3. Kabupaten Dairi dengan ibu kota Sidikalang
4. Kabupaten Deli Serdang dengan ibu kota Lubuk Pakam
5. Kabupaten Humbang Hasundutan dengan ibu kota Dolok Sanggul.
6. Kabupaten Karo dengan ibu kota Kabanjahe
7. Kabupaten Labuhanbatu dengan ibu kota Rantau Prapat.
8. Kabupaten Labuhanbatu Selatan dengan ibu kota Pinang.
9. Kabupaten Labuhanbatu Utara dengan ibu kota Aek Kanopan
10. Kabupaten Langkat dengan ibu kota Stabat
11. Kabupaten Mandaling Natal dengan ibu kota Panyabungan
12. Kabupaten Nias dengan ibu kota Gunung Sitoli
13. Kabupaten Nias Barat dengan ibu kota Lahomi
14. Kabupaten Nias Selatan dengan ibu kota Teluk Dalam
15. Kabupaten Nias Utara dengan ibu kota lotu
16. Kabupaten Padang Lawas dengan ibu kota Sibuhuan
17. Kabupaten Padang Lawas Utara dengan ibu kota Gunung Tua
18. Kabupaten Pakpak Bharat dengan ibu kota Salak
19. Kabupaten Samosir dengan ibu kota Pangururan
20. Kabupaten Serdang Badagai dengan ibu kota Sei Rampah
21. Kabupaten Simalungun dengan ibu kota Raya
22. Kabupaten Tapanuli Selatan dengan ibu kota Sipirok
23. Kabupaten Tapanuli Tengah dengan ibu kota Pandan
24. Kabupaten Tapanuli Utara dengan ibu kota Tarutung
25. Kabupaten Toba Samosir dengan ibu kota Balige
26. Kota Binjai dengan ibu kota Binjai Kota
27. Kota Gunungsitoli
28. Kota Medan
29. Kota Padangsidempuan
31. Kota Sibolga
32. Kota Tanjungbalai
33. Kota Tebing Tinggi
Dari 25 kabupaten, 8 Kota (dahulu kotamadya) tersebut terdapat 325 Kecamatan dan 5.456
kelurahan/desa.
B. Otonomi Daerah
Sistem otonomi luas dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah dan revisi dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 merupakan pilar utama bagi negara
kesatuan, atau terpeliharanya integrasi nasional. Secara logis hal itu disebabkan bahwa daerah
merupakan benteng negara yang paling kokoh. Oleh karenanya, penguatan nasional berbasis
daerah yang tentunya ditujukan demi terwujudnya kesejahteraan, kemakmuran, dan kemandirian
harus diperkuat melalui otonomi yang luas.4
Dengan otonomi daerah, maka akan tercipta mekanisme dimana daerah dapat
mewujudkan sejumlah fungsi politik pemerintahan, hubungan kekuasaan menjadi lebih adil,
sehingga dengan demikian daerah akan memiliki tingkat kepercayaan dan akhirnya akan
terintegrasi ke dalam pemerintahan nasional.5 Namun demikian dalam rangka implementasi paket
otonomi daerah tidaklah semudah yang dibayangkan. Paket otonomi daerah dapat berperan
sebagai pengaturan integrasi nasional, sepanjang hal itu diupayakan dengan tepat dan benar.
Untuk menemukan pengertian tentang otonomi daerah sebagai sarana membangun
kualitas kemandirian (zelfstandingheid) yang integral, demikian diungkapkan Solly Lubis, yaitu :6
“Dengan memberikan otonomi daerah, akan tumbuh prakarsa dan kreativitas daerah, meningkatkan partisipasi dan demokrasi, meningkatkan efektivitas pembangunan dan semakin kuatnya integrasi nasional, dan pada akhirnya akan terhindar ketidakadilan selama ini dimana daerah-daerah terlalu tergantung pada putusan dan sistem subsidi dari
pusat”.
4
M. Ryaas Rasyid, Op.Cit, hal. 285.
5
Bambang Indra Gunawan, Peranan Bawasda Menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Fakultas Hukum USU, Medan, 2006, hal. 2.
6
Otonomi dan pengawasan memiliki hubungan logis yang sulit dipisahkan. Antaranya
keduanya memiliki konsekuensi yang dapat saling mengukuhkan atau sebaliknya, apabila
dijalankan dengan tanpa mempertimbangkan realitas dan manfaatnya bagi penguatan ekonomi
menyebabkan kebebasan yang tidak terarah.
Sejalan dengan hal tersebut, Bagir Manan mengatakan bahwa sistem pengawasan juga
menentukan kemandirian suatu otonomi. Untuk menghindari agar pengawasan tidak melemahkan
otonomi, maka sistem pengawasan ditentukan secara spesifik, baik lingkup maupun tata cara
pelaksanaannya.7
Tegasnya lagi, semakin banyak dan semakin intensifnya pengawasan, maka semakin
semput pula kemandirian daerah. Begitu juga sebaliknya, tidak boleh ada sistem otonomi yang
menaifkan pengawasan. Hal tersebut justru akan menyebabkan munculnya sistem berotonomi
yang mengabaikan kepentingan nasional.8
Seiring dengan bergulirnya arus reformasi yang menginginkan adanya perbaikan di segala
bidang kehidupan bangsa dan negara Indonesia, maka salah satu substansi dari tuntutan reformasi
adalah kebutuhan dan desakan untuk melakukan perubahan atau sistem pemerintahan yang
sentralistis kepada pemberian kewenangan otonomi yang seluas-luasnya kepada daerah.
Alasan mengadakan pemerintah daerah semata-mata disebabkan karena banyaknya
urusan-urusan pemerintah pusat mengurusi kepentingan daerah. Hal ini sebagaimana dikatakan
oleh Boedi Soesetyo yaitu :9
“Bahwa alasan mengadakan pemerintahan daerah adalah semata-mata untuk mencapai suatu
pemerintahan yang efisien. Hal yang dianggap doelmating untuk diurus oleh pemerintah setempat, pengurusannya diserahkan kepada daerah. Hal-hal yang lebih tepat diurus oleh pemerintah pusat tetap diurus oleh pemerintah pusat yang bersangkutan. Dengan demikian, maka persoalan desentralisasi adalah persoalan teknik belaka yaitu teknik pemerintahan yang ditujukan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.”
7
Bagir Manan,Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 39.
8 Ibid 9
TAP MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam
Penyelenggaraan Otonomi Daerah, telah menggariskan bahwa kebijakan otonomi diarahkan
kepada pencapaian sasaran-sasaran sebagai berikut :
1. Peningkatan pelayanan publik dan kreativitas masyarakat serta aparatur pemerintahan di daerah;
2. Kesatuan hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah dalam kewenangan dan keuangan;
3. Untuk menjamin peningkatan rasa kebangsaan, demokrasi dan kesejahteraan masyarakat di daerah; dan
4. Menciptakan ruang yang lebih luas bagi kemandirian daerah. 10
Keharusan pemberian kewenangan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah
dapat dilihat ketentuan dalam pasal 18 dan pasal 18 A amandemen ke empat UUD 1945, dalam
ketentuan tersebut termaktub keharusan pemberian kewenangan kepada daerah untuk
menyelenggarakan pemerintahan. Artinya, terdapat keharusan untuk menerapkan asas
desentralisasi. Sebab, asas tersebut memberikan indikasi positif bagi penyelenggaraan
pemerintahan antara pusat dan daerah.
Sebagaimana disebutkan Amrah Muslimin, “Desentralisasi adalah pelimpahan
kewenangan kepada badan-badan dan golongan-golongan dalam masyarakat dan daerah untuk
mengurus rumah tangganya sendiri”.11
Sedangkan menurut Riant Nugroho D. Mengartikan
desentralisasi sebagai prinsip pendelegasian, prinsip ini mengacu kepada fakta adanya span of
control dari setiap organisasi sehingga organisasi perlu diselenggarakan secara bersama-sama.12
Pemerintah daerah merupakan sub sistem dari pemerintah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Oleh karena itu, segala tujuan dan cita-cita yang diamanatkan oleh pembukaan UUD
1945 adalah juga merupakan cita-cita dan tujuan pemerintah daerah yang harus dicapai. Dengan
dilaksanakannya asas desentralisasi, pemerintah daerah menjadi pemegang kendali bagi
pelaksanaan pemerintah di daerah.
10
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ketetapan-Ketetapan MPR Pada Sidang Tahunan, Sinar Grafika, Jakarta, 2000, hal. 23.
11
Amrah Muslimin, Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah, Alumni Bandung, 1982, hal. 4.
12
Prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah adalah penekanan terhadap aspek demokrasi, keadilan,
pemerataaan dan partisipasi masyarakat serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai wujud dari penekanan berbagai
prinsip di atas, telah membuka peluang dan kesempatan yang sangat luas kepada daerah otonom
untuk melaksanakan kewenangannya secara sendiri, luas, nyata, dan bertanggungjawab.
Paradigma baru desentralisasi membuka tantangan besar bagi seluruh bangsa Indonesia,
namun apabila pemahaman terhadap wawasan kebangsaan keliru, akan menimbulkan
tuntutan-tuntutan yang bersifat memperlemah kesehatan dan persatuan bangsa, seperti tuntutan-tuntutan atas
pengalihan sumber-sumber pendapatan negara, bahkan tuntutan bentuk pemisahan diri daerah dari
negara di luar sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan pemerintahan pada
hakekatnya tidak terlepas dari prinsip-prinsip manajemen modern, dimana fungsi-fungsi
manajemen senantiasa berjalan secara simultan, proporsional dalam kerangka pencapaian tujuan
organisasi.
Desentralisasi merupakan penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah
otonomi. Menurut Hans Kelsen desentralisasi lebih luas yaitu sebagai lingkungan tempat (juga
lingkungan orang) suatu kaidah hukum yang berlaku sah. Oleh karena itu desentralisasi
mengandung teritorial dan fungsional. Lebih spesifik Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
dalam pasal 1 ayat (7) dijelaskan desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
Pasal 1 ayat (2) dijelaskan bahwa pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan
daerah otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut azas desentralisasi, pasal ini
menunjukkan bahwa otonomi merupakan aplikasi dari azas desentralisasi tersebut.
Menurut Bagir Manan13, otonom adalah hak untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan tertentu di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga
daerah. Hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri menimbulkan adanya otonom atau dikenal
13
dengan daerah otonom. Sedangkan secara tegas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 1
ayat (5) menyebutkan bahwa otonomi daerah adalah wewenang dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Seiring dengan pendapat-pendapat di atas, Mohammad Hatta menyebutkan :14
“Menurut dasar kedaulatan rakyat itu, hak rakyat untuk menentukan nasibnya tidak hanya
ada pada pucuk pemerintahan negeri melainkan juga pada tiap tempat di kota, didesa, dan di daerah. Tiap-tiap golongan persekutuan itu mempunyai badan perwakilan sendiri, seperti gemeenterraad, Provincial Road dan lain-lain, dengan keadaan demikian tiap-tiap atau golongan
mendapat otonom”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dalam Negara kesatuan yang diikuti dengan prinsip
demokrasi, penyerahan kewenangan pusat kepada daerah merupakan suatu kewajiban yang tidak
dapat ditawar-tawar. Dengan desentralisasi pemerintah akan dapat memberikan pelayanan yang
sebaik-baiknya terhadap masyarakat yang mempunyai berbagai tuntutan yang berbeda antara satu
dengan daerah lain. Tujuan utama pemberian otonomi luas kepada daerah adalah untuk lebih
mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan menumbuhkan kemandirian daerah untuk
mengelola serta mengurus rumah tangganya sendiri. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam
pelaksanaan otonomi daerah adalah “Terwujudnya otonomi daerah yang nyata, dinamis dan
bertanggungjawab” yang berarti bahwa pemberi otonomi daerah didasarkan pada faktor-faktor
perhitungan dan tindakan atau kebijaksaan yang benar-benar menjamin daerah yang bersangkutan
untuk mengurus rumah tangganya sendiri.
Sehubungan dengan paparan di atas, maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menggantikan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah yang sebelumnya adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Salah satu perubahan yang sangat penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan di daerah adalah disahkannya pengaturan mengenai pemerintahan
daerah dengan pemerintahan desa. Apabila sebelumnya pemerintahan daerah dan pemerintahan
desa diatur dalam dua paket undang-undang yang berbeda, maka dalam Undang-Undang Nomor
14
32 Tahun 2004, selain mengatur tentang pemerintahan desa sehingga terjadinya penghematan
produk hukum serta pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah.
C. Pengawasan Dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, pembinaan
dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah dimaksudkan sebagai upaya
nyata dan terpadu dalam menjalankan asas desentralisasi. Penguatan asas tersebut hanya dilihat
dari sejauh mana pelaksanaan otonomi daerah oleh pemerintahan di daerah mampu dibina dan
diawasi secara benar dan bertanggungjawab. Pembinaan dan pengawasan menjadi penting, sebab
tidak jarang hal tersebut menemukan berbagai kendala atau berbeda dengan realitasnya
dilapangan.
1. Pengertian Umum Pengawasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan WJS. Poerwadarminta15, pengawasan
adalah bentuk kata berimbuhan pe-an, berasal dari kata “awas” yang berarti dapat melihat baik
-baik, waspada dan lain-lain. Dengan kata lain pengawasan dapat diartikan kurang lebih “mampu
mengetahui secara cermat dan seksama”, sebagai bentuk kata kerja. Untuk dapat melakukan
pengawasan diperlukan orang/subjek yang disebut “pengawas”, dapat berbentuk orang perorangan
maupun bentuk Badan/Lembaga/Instansi, yang mempunyai tugas sebagai mata dan telinga
Pimpinan/Manager suatu organisasi. Semakin berkembangnya suatu organisasi, serta semakin
luas dan banyaknya urusan/pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi,
membuat Pimpinan/Manager tidak mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup untuk
mengawasi jalannya organisasi secara pribadi, maka untuk itu memerlukan untuk mendelegasikan
kewenangannya/menggunakan tenaga staf sebagai ganti dirinya dengan tugas khusus mengawasi
organisasi apakah segala macam pekerjaan dilaksanakan sesuai rencana yang telah ditetapkan
15
sebelumnya secara berdaya guna, berhasil guna dan tepat dalam rangka mencapai tujuan
organisasi.
Selanjutnya Soejamto16 memberikan batasan mengenai pengertian pengawasan adalah
segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kegiatan yang sebenarnya mengenai
pelaksanaan dan menilai kenyataan apakah sesuai dengan semestinya atau tidak. Sedangkan
istilah pengawasan dalam bahasa Inggris, disebut “Controlling” diterjemahkan dengan istilah
pengawasan dan pengendalian, sehingga istilah controlling ini lebih luas artinya daripada
pengawasan. Dikalangan para ahli telah disamakan pengertian “controlling” ini dengan
pengawasan, jadi pengawasan termasuk pengendalian. Ada juga yang tidak setuju disamakannya
makna istilah “controlling” ini dengan pengawasan karena controlling pengertiannya lebih luas
daripada pengawasan. Dikatakan bahwa pengawasan adalah hanya kegiatan mengamati saja atau
hanya melihat sesuai dengan rencana dan melaporkan hasil kegiatan sedangkan controlling
disamping melakukan pengawasan juga melakukan kegiatan pengendalian yakni menggerakkan,
memperbaiki dan meluruskan menuju arah yang benar.
SP Siagian memberikan definisi pengawasan sebagai berikut proses pengamatan daripada
pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin supaya semua pekerjaan yang sedang
dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.17
Selanjutnya M. Manullang18 mengatakan pendapatnya mengenai pengertian dari
pengawasan yaitu suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilai
dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pekerjaan sesuai dengan rencana semula.
Kemudian dalam kata pengawasan ada istilah yang disebut dengan pemeriksaan dimana
pemeriksaan ini diartikan oleh Soejamto,19 sebagai berikut :
“Pemeriksaan adalah suatu cara untuk bentuk kritik pengawasan yang dilakukan dengan jalan
mengamati, menyelidiki atau mempelajari pekerjaan akan segala dokkumen dan keterangan-keterangan lainnya yang bersangkutan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut akan menerangkan hasilnya dalam Berita Acara Pemeriksaan”.
16
Soejamto, Beberapa Pengertian Tentang Pengawasan, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1983), hal. 32.
17
SP. Siagian, Pengawasan dan Pengendalian diBidang Pemerintahan, UI Press, Jakarta, 1994, hal. 57.
18
M. Manullang, Manajemen Personalia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1976, hal. 32.
19
Menurut Panglaykin dan Hazil20, pengawasan adalah kegiatan yang meliputi aspek-aspek
mengawasi, penelitian, apakah yang dicapai itu sesuai dan sejalan dengan tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan lengkap dengan perencanaan/kebijaksanaan, program dan lain sebagainya. Dengan
demikian dapat diambil suatu pengertian bahwa pengawasan merupakan jaminan atau penjagaan
supaya dapat diperoleh hasil yang sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Berdasarkan
pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa :
a. Pelaksanaan pengawasan itu menitikberatkan kepada pekerjaan-pekerjaan yang sedang
berjalan.
b. Pengawasan tersebut adalah suatu proses pengamatan untuk mencapai sasaran tugas dengan
baik dan bukan untuk mencari kesalahan seseorang yaitu tidak mengutamakan mencapai siapa
yang salah;
c. Apabila ditemukan kesalahan, penyimpangan dan hambatan supaya diteliti apa penyebabnya
dan mengusahakan cara memperbaikinya;
d. Pengawasan itu merupakan proses yang berlanjut, yang dilaksanakan terus menerus sehingga
dapat diperoleh hasil pengawasan yang berkesinambungan.
Pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah dimaksudkan untuk mencapai
beberapa tujuan yaitu untuk :21
a. Mencapai tingkat kinerja tertentu;
b. Menjamin susunan administrasi yang baik dalam operasi unit-unit pemerintah daerah baik secara internal maupun dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga lain;
c. Memperoleh perpaduan yang maksimum dalam pengelolaan pembangunan daerah dan nasional;
d. Melindungi warga masyarakat dari penyalahgunaan kekuasaan di daerah; e. Mencapai integritas nasional; dan
f. Pembinaan dan pengawasan tetap dijaga agar tidak membatasi inisiatif dan tanggungjawab daerah, di samping itu hal ini merupakan upaya menyelaraskan nilai efisiensi dan demokrasi.
Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan tentang pengawasan
fungsional sebagaimana juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun
2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
20
Panglaykin dan Hazil, Wetwork Perencanaan dan Pengawasan Aktivitas Perusahaan,
BPFE UGM, Yogyakarta, 1986, hal 91.
21
khususnya pada Pasal 3 ayat (1) dan (2) ditentukan bahwa pengawasan atas penyelenggaraan
pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Pejabat Pengawas Pemerintah dan dikoordinasikan oleh
Inspektur Jenderal. Kembali ditegaskan bahwa pelaksanaan pengawasan fungsional tersebut
dilakukan dalam kategori lembaga teknis daerah dan salah satu tugas lembaga teknis daerah itu
adalah pengawasan seperti ketentuan dalam Pasal 12 ayat (1), (2), (3) dan (5) Peraturan
Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Adapun asas-asas yang harus dipatuhi dalam melakukan pengawasan antara lain sebagai
berikut :
1. Asas legalitas, yaitu pelaksanaan pengawasan haruslah berdasarkan pada suatu kewenangan
yang diatur menurut Peraturan Perundang-Undangan.
2. Asas pengawasan terbatas, yaitu pengawasan yang dibatasi pada sasaran yang telah dijadikan
pedoman pada waktu kewenangan tersebut diberikan.
3. Asas motivasi, yaitu bahwa alasan-alasan untuk melaksanakan pengawasan harus dapat
mendukung keputusan yang diambil berdasarkan pengawasan tadi dan keputusan tersebut
haruslah dimotivasi oleh masyarakat luas.
4. Asas kecermatan, yaitu dalam melakukan pengawasan harus bersifat hati-hati dan teliti.
5. Asas kepercayaan, yaitu bahwa hasil pengawasan itu harus dapat dipertanggungjawabkan pada
pihak manapun.
2. Maksud dan Tujuan Pengawasan
Setiap kekuasaan sekecil apapun cenderung untuk disalahgunakan. Oleh sebab itu,
dengan adanya keleluasaan bertindak dari aparatur negara dalam lingkkup pemerintahan yang
memasuki semua sektor kehidupan masyarakat, yang kadang-kadang dapat menimbulkan kerugian
bagi masyarakat itu sendiri. Maka sangat wajar apabila timbul suatu keinginan untuk mengadakan
suatu sistem pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, yang merupakan jaminan agar jangan
kewenangannya yang bertentangan dengan ciri negara hukum22. Oleh karena itu, sistem
pengawasan memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut :
a. Agar terciptanya jaminan perlindungan hukum bagi masyarakat agar pemerintah tidak
melakukan tindakan yang sewenang-wenang dalam pelaksanaan tugasnya.23
b. Agar juga ada perlindungan hukum bagi pemerintah dalam bertindak yang berarti segala
tindakan pemerintah sesuai dengan aturan hukum dan tidak melakukan perbuatan yang salah
menurut hukum;24
c. Pengawasan itu sendiri menilai suatu pelaksanaan tugas secara de facto;25
d. Tujuan dari pengawasan hanya terbatas pada pencocokan apakah kegiatan yang dilaksanakan
telah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya (dalam hal berwujud dalam
suatu rencana).26
Pengawasan selalu terkait dengan sistem manajemen apalagi jika dihubungkan dengan
sistem manajemen pemerintahan, maka oleh karena itu pengawasan akan selalu diperlukan untuk
menjamin pelaksanaan, perencanaan, dan tugas-tugas pemerintah sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Apabila dihubungkan dengan pemerintahan yang dalam hal ini mempunyai tugas
salah satunya menjalankan serta menciptakan iklim usaha atau kondisi yang baik pada negara
untuk kepentingan pembangunan, dan dalam rangka proses menciptakan pembangunan yang
kondusif itu maka peranan pengawasan pun akan sangat penting. Hal ini sejalan dengan pendapat
Ismail Saleh, yang menyebutkan bahwa :27
“Pengawasan sebagai faktor pengaman pembangunan tidak boleh diabaikan, bahkan ia
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Tanpa adanya pengawasan pembangunan akan terjadi banyak kebocoran, dan kebocoran itu pada dasarnya mampu menggagalkan pembangunan. Sehubungan dengan hal itu, maka seiring dengan lajunya pembangunan maka pengawasan pun tidak boleh surut. Semakin meningkatnya pembangunan maka pengawasan pun semakin tidak boleh surut. Dan tujuan pengawasan yang utama adalah ikut berusaha memperlancar roda pembangunan, serta mengamankan hasil-hasil
pembangunan”.
22
SF. Marbun, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UI Press Yogyakarta, 2001, hal. 261.
23
Ibid, hal. 263.
24 Ibid 25
Nimatul Huda, Otonomi Daerah Filosofi, Sejarah dan Problematika, Pustaka Pelajar, 2005, hal. 68.
26 Ibid 27
Dapat dikatakan bahwa untuk menjamin hasil optimal yang diharapkan dari kegiatan
aparatur pemerintahan dalam mengemban tugas pembangunan, diperlukan pengawasan secara
berkesinambungan dan berlangsung terus menerus sesuai dengan tingkat perkembangan
pembangunan dan rencana yang telah ditetapkan.
Menurut Manullang28 tujuan pengawasan adalah agar pelaksanaan pekerjaan sesuai
dengan instruksi yang dikeluarkan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi yang
sekaligus dapat diambil tindakan-tindakan perbaikan.
Selanjutnya Josef Riwu Kaho menyebutkan tujuan dari pengawasan :29
a. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pemerintahan telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau belum;
b. Untuk mengetahui kesulitan apa yang dijumpai oleh para pelaksana sehingga dengan demikian dapat diambil langkah-langkah guna perbaikan dikemudian hari;
c. Mempermudah atau meringankan tugas-tugas pelaksanaan karena pelaksanaan tidak mungkin dapat melihat kemungkinan-kemungkinan kesalahan yang dibuatnya karena kesibukan-kesibukan sehari-hari; dan
d. Pengawasan bukanlah mencari-cari kesalahan, akan tetapi untuk memperbaiki kesalahan.
Sedangkan menurut soewarno Handayaningrat,30 mengatakan bahwa pengawasan
bertujuan, “Agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara berdaya guna (efisien) dan berhasil
guna (efektif), sesuai dengan rencana yang telah ditentukan”. Secara garis besarnya, dalam
penelitian ini diperoleh bahwa tujuan pengawasan itu adalah :
a. Agar terjadinya aparatur pemerintah yang berwibawa, bersih dan bertanggungjawab yang didukung oleh situasi system manajemen pemerintahan yang berdaya guna dan berhasil guna serta ditunjang oleh partisipasi masyarakat yang terkonstruktif dan terkendali dalam wujud pengawasan masyarakat yang objektif, sehat serta bertanggungjawab.
b. Agar terselenggaranya tertib administrasi di lingkungan aparatur pemerintah serta menumbuhkan disiplin kerja yang sehat; dan
c. Agar terdapat kelugasan dalam menjalankan peranan, tugas, fungsi atau kegiatan yang tumbuh budaya malu dari dalam diri masing-masing aparatur, rasa bersalah dan berdosa yang lebih mendalam untuk berbuat hal-hal yang tercela terhadap masyarakat dan jajarannya.
28
M. Manullang, Op.Cit, hal.68.
29
Josep Riwo M. Kaho, Analisa Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia,
Bina Aksara, Jakarta ; 1982, hal. 30.
30
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pengawasan itu merupakan alat pengontrol,
pembimbing serta pencegah, kemudian melakukan tindakan perbaikan untuk mencapai suatu
tujuan yang telah ditentukan.
3. Prinsip-Prinsip dan Landasan Pengawasan
Untuk mendapatkan pengawasan yang efektif dan efisien tentunya tidak terlepas dari
prinsip-prinsip yang menjadi landasan dan terkandung dalam pengawasan itu sendiri. Adapun
prinsip-prinsip yang terkandung dalam melakukan pengawasan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Objek yang menghasilkan fakta. Pengawasan harus objektif dan harus dapat menemukan fakta
atau bukti konkrit tentang pelaksanaan pekerjaan dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
b. Pengawasan berpedoman pada kebijakan yang berlaku. Untuk mengetahui dan menilai ada
tidaknya indikasi penyimpangan dan kesalahan, haruslah bertolak pangkal dari keputusan
pimpinan yang tercantum dalam;
1) Peraturan-peraturan yang telah ditetapkan;
2) Pedoman kerja yang telah digariskan;
3) Rencana kerja yang telah ditetapkan dan
4) Tujuan dan sasaran yang ditetapkan
c. Preventif. Pengawasan harus bersifat mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan atau
kesalahan. Oleh karena itu pengawasan harus dilakukan dengan menilai rencana yang akan
dilakukan.
d. Pengawasan Bukan Tujuan. Pengawasan hendaknya tidk dijadikan tujuan, namun hanya
sarana untuk menjamin dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pencapaian suatu tujuan
organisasi.
e. Effisiensi. Pengawasan harus dilakukan secara efisien, bukan justru menghambat efisiensi
pelaksanaan pekerjaan.
f. Menemukan apa saja yang salah. Pengawasan terutama harus ditujukan mencari apa yang
salah, penyebab kesalahan dan bagaimana sifat kesalahan tersebut.
g. Hasil temuan dari hasil pengawasan berupa pemeriksaan haruslah diikuti dengan tindak lanjut.
1. Landasan Idil
Pelaksanaan pembangunan di lingkungan pemerintah khususnya pembangunan di bidang
pengawasan adalah berdasarkan Pancasila sebagai landasan idil dan Undang-Undang Dasar 1945
sebagai landasan konstitutisional. Dalam hubungan itu yang penting bagi pembangunan,
pengawasan harus dijiwai oleh norma-norma luhur Pancasila yang berfungsi mengatur, membatasi
dan mengarah pada pola sikap, pola pikir dan pola tindak dalam pelaksanaan pengawasan.
Disamping itu pelaksanaannya harus memperhatikan kaidah-kaidah hukum yang berlaku baik
bersumber dari Undang-Undang Dasar 1945 maupun sumber-sumber hukum yang lain yang
dijabarkan dari hukum dasar tersebut.
2. Landasan Formil
Untuk melaksanakan pembangunan di bidang pengawasan diperlukan pedoman. Oleh
karena itu landasan formil bagi pelaksanaan pembangunan di bidang pengawasan di Indonesia
mengacu pada Program Pembangunan Nasional (Propenas).
Program Pembangunan Nasional (Propenas) sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan
yang ditetapkan lima tahun sekali oleh Presiden bersama Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia (MPR-RI) untuk tahun 2001 menyatakan bahwa penyelenggaraan negara yang
menyeluruh untuk pembangunan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta
mewujudkan kemajuan di segala bidang yang menempatkan Bangsa Indonesia sederajat dengan
bangsa-bangsa lain di dunia.
Landasan kebijaksanaan pengawasan dalam organisasi pemerintah adalah Ketetapan
Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) No. II/MPR/1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) yang telah menggariskan pokok-pokok arah dan kebijaksanaan pembangunan
aparatur pemerintah sebagai berikut :
1. Pembangunan aparatur pemerintah diarahkan untuk menciptakan aparatur yang efisien, efektif, bersih dan berwibawa serta mampu melaksanakan seluruh tugas umum pemerintahan dan pembangunan dengan sebaik-baiknya dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian pada masyarakat, bangsa dan negara. Dalam hubungan ini kemampuan aparatur pemerintah untuk merencanaka, melaksanakan, mengawasi dan mengendalikan pembangunan perlu ditingkatkan.
dan keuangan Negara, pemungutan liar serta berbagai bentuk penyelewengan lainnya yang dapat menghambat pelaksanaan pembangunan serta merusak citra dan kewibawaan aparatur pemerintah.
Untuk itu, perlu ditingkatkan secara lebih terpadu pengawasan dan langkah-langkah
penindakannya serta dikembangkan kesetiakawanan sosial dan disiplin nasional.
3. Landasan Fungsional
Perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian merupakan fungsi manajemen yang harus
diemban atau dilaksanakan oleh aparat pemerintah sebagai penyelenggara negara. Dengan
demikian berarti keharusan melaksanakan manajemen yang berdaya guna dan berhasil guna
khususnya dalam proses pengawasan merupakan landasan fungsional yang diemban oleh pejabat
negara yang menempati posisi pimpinan dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang
paling tinggi.
Berdasarkan landasan tersebut berarti pula bahwa kewenangan pengawasan berada pada
pejabat/pimpinan, baik pejabat/pimpinan struktural sebagai atasan terhadap bawahannya, maupun
pejabat/pimpinan sesuai dengan tugas yang dipimpinnya maupun pimpinan proyek.
4. Subyek Pengawasan
Pada prinsipnya pengawasan adalah salah satu unsur penting dalam rangka peningkatan
pendayagunaan aparatur pemerintah dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan. Berdasarkan pengertian di atas maka pengawas tersebut adalah pegawai yang bertugas
melakukan pengawasan, yang meliputi dua pengertian pokok yaitu para petugas pengawasan
fungsional dan para pejabat atau pimpinan yang karena jabatannya harus senantiasa melakukan
pengawasan dan pengendalian seluruh pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh perangkatnya.
Dalam melakukan pengawasan kepribadian pengawas hendaknya dilandasi sifat jujur,
berani, bijaksana dan bertanggungjawab selain itu juga harus memiliki keahlian atau kemampuan
teknik yang diperlukan dalam bidang tugasnya. Sehubungan dengan hal tersebut Sujamto31
berpendapat bahwa ada tiga kelompok atau tiga garis keahlian yang diperlukan oleh setiap
pengawas, yaitu :
31
a. Keahlian atau pengetahuan yang menyangkut obyek yang diawasi/diperiksa;
b. Keahlian tentang teknik atau cara melakukan pemeriksaan; dan
c. Keahlian dalam menyampaikan hasil pengawasan/pemeriksaan.
Dengan demikian jelas bahwa pengawasan mempunyai landasan yang kuat, baik landasan
idil, landasan formil maupun landasan fungsional. Selanjutnya kepada pimpinan suatu organisasi
pemerintahan tertentu dibentuk perangkat pengawasan fungsional menurut Pasal 9 adalah kegiatan
pengawasan penyelenggaraan Pemerintah Daerah oleh Pejabat Pengawas dilakukan melalui
kegiatan pemeriksaan, monitoring dan evaluasi. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun
2005 tentang PedomanPembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah pada
Pasal 28 ayat (1) berbunyi, “Aparat pengawas intern pemerintah melakukan pengawasan sesuai
fungsi dan kewenangannya melalui :
a. Pemeriksaan dalam rangka berakhirnya masa jabatan kepala daerah; b. Pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu maupun pemeriksaan terpadu;
c. Pengujian terhadap laporan berkala dan/atau sewaktu-waktu dari unit/satuan kerja; d. Pengusutan atas kebenaran laporan mengenai adanya indikasi terjadinya
penyimpangan, korupsi, kolusi dan nepotisme;
e. Penilaian atas manfaat dan keberhasilan kebijaksanaan, pelaksanaan program dan kegiatan; dan
f. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah dan
pemerintahan desa”.
Dalam pasal 44 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005
disebutkan bahwa pemerintah memberikan penghargaan kepada pemerintahan daerah, kepala
daerah dan/atau wakil kepala daerah, anggota Dewan Perakilan Rakyat Daerah, perangkat daerah,
pegawai negeri sipil daerah, kepala desa, perangkat desa, dan angota badan permusyawaratan desa.
Disamping hal tersebut, pemerintah dapat memberi sanksi sesuai dengan Pasal 45 ayat (2) yaitu
dapat berupa :
a. Penataan kembali suatu daerah otonom, b. Pembatalan pengangkatan pejabat;
c. Penangguhan dan pembatalan suatu kebijakan daerah; d. Administratif; dan/atau
BAB III
KEDUDUKAN INSPEKTORAT DALAM STRUKTUR
PEMERINTAHAN PROVINSI SUMATERA UTARA
A. Tugas, Fungsi dan Susunan Organisasi Inspektorat Provinsi Sumatera Utara
Dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
ditegaskan tentang kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala
provinsi yang meliputi :
1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2. Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang;
3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
4. Penyediaaan sarana dan prasarana umum;
5. Penanganan bidang kesehatan;
6. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
7. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;
10. Pengendalian lingkungan hidup;
11. Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;
12. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh
kabupaten/kota; dan
16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya urusan-urusan di atas wajib dan menjadi kewenangan pemerintahan provinsi