Hubungan Diplomatik Taiwan Dengan Negara Lain Dalam Statusnya Sebagai Subjek Hukum Internasional

81  105  Download (5)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN DIPLOMATIK TAIWAN DENGAN NEGARA LAIN DALAM

STATUSNYA SEBAGAI SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL

S K R I P S I

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

ERIC NIM : 080200062

DEPARTEMEN :HUKUM INTERNASIONAL

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

HUBUNGAN DIPLOMATIK TAIWAN DENGAN NEGARA LAIN

DALAM STATUSNYA SEBAGAI SUBJEK HUKUM

INTERNASIONAL

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara

OLEH :

ERIC

NIM : 080200062

DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

Ketua Departemen

Arif, SH, M.Hum

NIP. 196403301993031002

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

Sutianoto SH, M.Hum Arif, SH, M.Hum

NIP. 195610101986031003 NIP. 196403301993031002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

kasih karunia dan penyertaan-Nya yang dirasakan oleh Penulis setiap waktu

terkhusus dalam proses penulisan skripsi ini. Oleh karena kasih-Nyalah maka skripsi

ini dapat dirampungkan.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat bagi mahasiswa pada

umumnya dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara pada

khususnya guna melengkapi tugas-tugas dan syarat-syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Hukum.sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah

Hubungan Diplomatik Taiwan Dengan Negara Lain Dalam Statusnya Sebagai Subjek Hukum Internasional”.

Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dan bekerja keras dalam

menyusun skripsi ini.. Melalui kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada kedua orangtua Penulis yang telah

memberikan perhatian dan kasih sayang kepada penulis.

Serta tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada Bapak Sutianoto SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak

Arif, SH, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang berkenaan menyediakan

waktu, bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini sehingga Penulis

(4)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M. Sc.(CTM), Sp. A (K),

selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M. Hum, selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H.,M.Hum selaku Pembantu Dekan I

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, M.H, DFM selaku Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Muhammad Husni, S.H. M.Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Arif, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Dosen Pembimbing II

Penulis.

7. Bapak Sutianoto SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan waktu, bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

8. Bapak Dr.Jelly Leviza, S.H.,M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum

Internasional Fakultas Hukum Universitas

9. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang

tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu yang telah mendidik Penulis dari

awal sampai akhir kuliah ini.

10.Seluruh Pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

11.Kepada orang tua tercinta, Papa dan Mama yang telah merawat dan mendidik

(5)

12.Kepada semua saudara-saudariku

13.Kepada semua teman-temanku yang selalu memberi dukungan semangat

Akhir kata Penulis mengucapkan terima kasih, semoga skripsi ini berguna

dan berkenan bagi para pembaca sekalian.

Medan, 24 April 2012

Penulis,

ERIC

(6)

ABSTRAKSI

Penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh ketertarikan terhadap masalah hubungan diplomatik Taiwan sebagai subjek Hukum Internasional. Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah apa yang dimaksud dengan subjek Hukum Internasional, membentuk hubungan diplomatik antar negara dan hubungan diplomatik Taiwan sebagai subjek Hukum Internasional.

Adapun metode penelitian dilakukan dengan penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan dilakukan dengan cara meneliti bahan kepustakaan, dan penelitian hukum empiris. Penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum normatif atau disebut juga dengan studi kepustakaan (library research) dengan perolehan data sekunder yang bersumber sari majalah, buku-buku, jurnal, surat kabar, website online, dan dokumen pustaka lainnya.

(7)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Negara sebagai pribadi hukum internasional harus memiliki syarat-syarat

berikut : penduduk tetap, wilayah yang tertentu; pemerintah; kemampuan untuk

melakukan hubungan dengan negara lain.1

Unsur wilayah adalah merupakan unsur negara dengan syarat bahwa

kekuasaan negara yang bersangkutan harus secara efektif di seluruh wilayah negara

yang bersangkutan. Hal ini berarti didalam wilayah tersebut tidak boleh ada

kekuasaan lain selain kekusaan negara yang bersangkut.2

Pengakuan merupakan pernyataan dari suatu negara yang mengakui suatu

negara lain sebagai subjek hukum internasional. Pengakuan berarti bahwa

selanjutnya antara negara yang mengakui dan negara yang diakui terdapat hubungan

sederajat dan dapat mengadakan segala macam hubungan kerja sama satu sama lain

untuk mencapai tujuan nasional masing-masing yang diatur oleh

ketentuan-ketentuan Hukum Internasional. Pengakuan juga berarti menerima suatu negara baru

ke dalam masyarakat Internasional.3

Suatu negara tidak dapat ada sebagai subyek hukum tanpa adanya

pengakuan. Pengakuan ini memungkinkan negara baru untuk mengadakan

1

J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, edisi kesepuluh, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), hal.127.

2

Max Boli Sabon, Ilmu Negara, (Jakarta : Gramedia, 1994), hal.16

3

Boer Mauna, Hukum Internasional : Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam Era

(8)

hubungan-hubungan resmi dengan negara-negara lain, dan dengan subyek Hukum

Internasional lainnya.4

Sebuah negara menggunakan media diplomasi sebagai alat untuk mencapai

kepentingan nasionalnya. Setiap negara memiliki kepentingan nasional yang berbeda

– beda, dalam pencapaian kepentingan tersebut terkadang menimbulkan konflik

antara dua negara. Media diplomasi dapat digunakan untuk meredakan konflik yang

terjadi antara negara – negara yang sedang berselisih, yakni dengan menggunakan

sarana lobbying dan bargaining. Namun apabila cara tersebut tidak berhasil maka

dibutuhkan manajemen perubahan, melalui alternatif– alternatif lain yang tujuannya

untuk mencapai kepentingan nasional.5

pada tatanan dunia yang selalu berubah. Oleh karena itu sarana diplomasi yang

digunakan negara juga ikut mengalami transformasi untuk mewujudkan kepentingan

nasional. Berdasarkan kondisi nyata dan globalisasi, pelaksanaan diplomasi

disesuaikan dengan tuntutan Internasional merupakan keharusan sebagai upaya agar

dapat menyesuaikan diri dengan segala perubahan baik perubahan politik dan isu –

isu Internasional. Dengan adanya kepiawaian seorang diplomat dalam mengelola dan

memahami perubahan situasi global secara kekinian, maka akan memudahkan

pencapaian tujuan dan kepentingan nasional negaranya.

Hal terpenting dalam hubungan suatu negara dengan negara lain tergantung

6

Dari pernyataan tersebut menggambarkan bahwa media diplomasi dapat

mengalami perubahan yang disesuaikan oleh kebutuhan suatu negara, yakni dari

diplomasi dengan cara damai dapat berubah menggunakan kekerasan, seperti halnya

4

Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional, edisi revisi, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 69

5

Ibid

6

(9)

ancaman dan tindakan tegas untuk menekan negara lain. Adanya perubahan sarana

diplomasi dikarenakan antara dua negara yang berselisih tidak memiliki trust

(kepercayaan), respect ( rasa saling menghormati ) dan keselarasan, sehingga sarana

diplomasi melalui alternatif tindakan tegas dan ancaman dapat dipakai untuk

membuat kesepahaman bersama.

Salah satu bentuk dari penggunaan tindakan tegas dan ancaman yaitu dengan

melakukan penangguhan hubungan diplomatik antara negara satu dengan negara

lain. Itu dilakukan karena dua negara bersikeras untuk mempertahankan

argumennya. Penangguhan hubungan diplomatik biasanya terjadi akibat penolakan

untuk memberikan pengakuan yang sah terhadap wilayah suatu Negara.7

Apabila terjadi penangguhan hubungan diplomatik, komunikasi diantara dua

negara yang berkonflik tetap perlu dipertahankan, karena merupakan kebutuhan

untuk meminimalisir akibat dari menurunnya hubungan diplomatik atau jalur untuk

memulihkan hubungan dua negara agar kembali normal.8

Taiwan merupakan bagian dari wilayah China yang tidak boleh dipisahkan.

Dalam aspek topografi, semasa zaman kuno, Pulau Taiwan menyambung dengan

Tanah Besar China. Kemudian, disebabkan pergerakan bumi, bagian penyambung Terkadang adanya

keselarasan kepentingan diantara dua Negara yakni Cina dan Taiwan, dapat

mengakibatkan terjadinya konflik. Ini terjadi karena dua negara memiliki

kepentingan yang sama, dimana keduanya bersikeras dan berupaya dengan berbagai

cara untuk mendapatkan kepentingan mereka yang bertujuan memberi kemakmuran

dan kesejahteraan kepada rakyatnya, seperti dalam kasus Taiwan.

7

Sukawarsini Djelantik, Diplomasi antara Teori dan Praktik, Graha Ilmu, Yogyakarta,

2008,hal 86

8

(10)

itu turun dan berubah menjadi selat, maka Taiwan pun menjadi pulau. Terdapat

banyak benda budaya yang digali di berbagai tempat Taiwan diantaranya alat batu,

keramik hitam dan keramik berwarna membuktikan kebudayaan Taiwan sebelum

catatan sejarah sama dengan kebudayaan di Tanah Besar China. Berdasarkan catatan

dokumen zaman kuno, pada tahun 230, Raja Negara Wu Sun Quan pernah

menugaskan Jeneral Wei Wen dan Zhuge Zhi mengetuai 10 ribu laskar marinir tiba

di Taiwan. Ini merupakan permulaan penduduk Tanah Besar China menggunakan

pengetahuan maju. Pada akhir Abad ke-6 dan awal Abad ke-7 yaitu Dinasti Sui, Raja

Yangdi pernah 3 kali mengantar pegawainya ke Taiwan untuk mengadakan kajian

dan membantu penduduk setempat. Dalam waktu kira-kira 600 tahun berikutnya

yaitu semasa Dinasti Tang dan Song, untuk menghindari diri dari peperangan dan

kematian dalam tentera, terdapat keramaian penduduk yang tinggal di pantai Tanah

Besar China khususnya di kawasan sekitar bandar Quanzhou dan Zhangzhou,

Provinsi Fujian lari ke Kepulauan Penghu atau pindah ke Pulau Taiwan. Pada tahun

1355, Dinasti Yuan secara resmi menubuhkan “Jabatan Penghu” di Kepulauan

Penghu untuk menangani pentadbiran Penghu dan Taiwan. Ini juga merupakan

permulaan kerajaan Tanah Besar China menubuhkan jabatan pentadbiran khas di

Taiwan. Setelah Dinasti Ming, pertukaran antara rakyat Tanah Besar China dengan

Pulau Taiwan semakin sering terjadi. Ahli pelayar Zheng He semasa mengetuai

pasukan kapal besar melihat berbagai negara Asia Tenggara, pernah singgah di

Taiwan dan memberi barang serta hasil pertanian kepada penduduk setempat. Pada

tahun 1628, bencana kering terjadi di Provinsi Fujian sehingga rakyat jelata

mengalami penderitaan besar. Penduduk Fujian, Zheng Zhilong mengetuai puluhan

(11)

besar-besaran. Sejak pertengahan abad ke-16, Pulau Taiwan yang indah dan kaya

sumbernya mulai dirampas penjajah barat. Berbagai negara asing termasuk Spanyol

dan Portugal berturut-turut menyerang Taiwan, atau merampas sumber, atau secara

terpaksa menyebar ajaran agama, atau secara langsung mengadakan penaklukan.

Pada tahun 1642, Belanda mengalahkan Sepanyol dan menduduki bahagian utara

Pulau Taiwan, dan Taiwan turut menjadi tempat penjajahan Belanda. Penjajah

Belanda mengadakan ekploitasi yang kejam terhadap rakyat Taiwan semasa

penjajahannya. Rakyat Taiwan selalu menggalakkan perjuangan antiBelanda. Pada

tahun 1662, berdasarkan bantuan rakyat Taiwan, pahlawan nasional China Zheng

Chenggong berhasil mengalahkan penjajah Belanda dan mengambil kembali

Taiwan. Pada masa tidak lama kemudian, Zheng Chenggong terkena penyakit dan

meninggal dunia. Anaknya Zheng Jing dan Zheng Keshuang menangani pentadbiran

di Taiwan selama 22 tahun. Semasa 3 genegrasi ZhengChenggong menangani

pentadbiran di Taiwan, mereka melaksanakan banyak tindakan untuk menjaga

perkembangan ekonomi dan kebudayaan Taiwan antaranya menggalakkan

pembuatan gula dan garam, mengembangkan industri dan perniagaan, meningkatkan

perdagangan, mendirikan sekolah dan memperbaiki cara pengeluaran pertanian etnik

Gaoshan. Ini dikenal sebagai “Zaman Mingzheng” dalam sejarah pembangunan

Pulau Taiwan.

Belum diakuinya Taiwan sebagai sebuah Negara oleh sebagian besar Negara

lain di dunia merupakan kendala besar bagi Taiwan untuk menjalin hubungan

diplomatik dan hubungan kerjasama yang lebih luas. Bahkan, PBB sebagai suatu

organisasi Internasional yang menaungi seluruh Negara tidak mengakui Taiwan

(12)

hanya melakukan hubungan kerjasama dalam perdagangan, perekonomian, dan

ketenagakerjaan dengan Taiwan termasuk Indonesia. Indonesia sendiri telah

memiliki hubungan kerjasama dengan Taiwan sejak tahun 1960. Namun Indonesia

selalu berpegang teguh dengan prinsip One China Policy atau kebijakan satu China.

Artinya, secara de jure Indonesia hanya menjalin hubungan diplomatik dengan

Republik Rakyat China (RRC). Indonesia tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah

Negara yang berdaulat dan merdeka dari China. Namun bukan berarti antara

Indonesia dan Taiwan tidak terjalin hubungan kerjasama. Hubungan antara

Indonesia dengan Taiwan hanya sebatas hubungan kerjasama perdagangan dan

ekonomi. Hal ini dikarenakan Indonesia ingin tetap menjalin hubungan yang baik

dengan pemerintah RRC baik hubungan diplomatik maupun hubungan kerjasama

ekonomi.

Taiwan merupakan mitra dagang Indonesia yang cukup diperhitungkan.

Banyak sekali hubungan kerjasama perdagangan yang telah dijalin dengan Taiwan di

berbagai bidang kehidupan. Mulai dari bidang perdagangan dan perekonomian,

investasi - investasi perusahaan Taiwan, ketenagakerjaan, pendidikan dan

kepariwisataan. Kesemua aspek tersebut sangat menguntungkan baik bagi Indonesia

maupun bagi Taiwan.

Wilayah Taiwan yang sekarang secara de facto merupakan wilayah Republik

Cina pernah menjadi protektorat dari negara Jepang setelah peperangan antara Cina

dengan Jepang pada akhir abad ke-19 (1894-1895) yang berbuah pada kekalahan

Cina dan perjanjian Shimonoseki berakhirnya masa Perang Dunia II dan Taiwan

diambil alih oleh pemerintahan Kuomintang (saat itu, Cina masih berada di bawah

(13)

Sejarah pemisahan Taiwan dan Cina dimulai dari perang saudara di tahun

1949. Republik Cina yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek yang berhaluan nasionalis

kalah dari perang saudara dengan Partai Komunis Cina (Zhongguo Gongchandang)

pimpinan Mao Zedong dan mundur ke Taiwan. Mao Zedong kemudian

memproklamirkan berdirinya negara baru Republik Rakyat Cina di Beiping, yang

kemudian diubah namanya menjadi Beijing dan selanjutnya ditetapkan sebagai

ibukota negara baru tersebut. Mao Zedong mendeklarasikan Republik Rakyat Cina

dan mendirikan sebuah negara komunis.

Sejak Oktober 1949, Taiwan terus berusaha memisahkan diri dari Cina.

Usaha yang dilakukan oleh Taiwan yaitu Pragmatic Diplomacy yang dijalankan

Taiwan memperlihatkan keinginan untuk melepaskan diri dari Cina. Taiwan giat

membuka hubungan diplomatik dengan berbagai negara di Afrika ataupun memberi

bantuan dana kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterjemahkan oleh

Beijing sebagai keinginan untuk mendirikan negara terpisah.

Taiwan selanjutnya mencoba kembali untuk menjadi anggota PBB, akan

tetapi gagal setiap kali mencoba karena Cina menghalanginya. Cina berusaha

mengedepankan Dasar Satu Cina yang dipromosikan oleh pemerintah Republik

Rakyat Tiongkok di Cina Daratan disamping melakukan tekanan ekonomi dan

diplomatik kepada Taiwan. Kebanyakan negara dunia mengubah arah diplomatiknya

ke pemerintahan Republik Rakyat di daratan pada tahun 1970-an dan kini, Republik

Cina di Taiwan hanya diakui 25 negara saja.

Demikianlah, maka perlu dilakukan suatu telaah terhadap masalah yang

(14)

Hubungan Diplomatik Taiwan dengan Negara Lain Dalam Statusnya Sebagai Subjek Hukum Internasional.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan adalah merupakan kenyataan yang dihadapi dan harus

diselesaikan oleh peneliti dalam penelitian. Dengan adanya perumusan masalah

maka akan dapat ditelaah secara maksimal ruang lingkup penelitian sehingga tidak

mengarah pada hal-hal diluar permasalahan.

Adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan Subjek Hukum Internasional?

2. Bagaimana membentuk hubungan diplomatik antar Negara?

3. Bagaimana hubungan diplomatik Taiwan sebagai Subjek Hukum Internasional?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan

Tujuan utama dari penulisan skripsi ini secara umum adalah untuk

menempatkan Studi Analisa Hubungan Diplomatik sebagai bidang yang menarik

dalam ilmu Hukum Internasional. Suatu penulisan biasanya dilakukan untuk

memberikan gambaran obyektif terhadap fenomena tertentu. Adapun tujuan dari

penelitian ini antara lain:

a. Memberikan gambaran tentang hubungan diplomatik Taiwan sebagai subjek

Hukum Internasional.

b. Mengetahui bagaimana hubungan diplomatik antar negara.

c. Mengaplikasikan teori-teori yang didapatkan selama proses belajar di

(15)

d. Penulisan ini sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana S1 pada Jurusan Ilmu

Hukum, Universitas Sumatera Utara.

2. Manfaat penulisan

Adapun manfaat penulisan skripsi yang dilakukan adalah:

a. Penulisan ini sangat penting untuk memperoleh data yang dapat dipercaya dan

dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai bahan penyusunan skripsi dan

bahan pembinaan serta memperkaya khasanah perbendaharaan ilmu hukum

khususnya Hukum Internasional.

b. Hasil penulisan ini juga diharapkan dapat dipergunakan sebagai sumber kajian

bagi yang berkepentingan.

D. Keaslian Penulisan

Adapun judul tulisan ini adalah hubungan diplomatik Taiwan dengan Negara

lain dalam statusnya sebagai subjek hukum internasional. Judul skripsi ini belum

pernah ditulis dan diteliti dalam bentuk yang sama, sehingga tulisan ini asli, atau

dengan kata lain tidak ada judul yang sama dengan mahasiswa fakultas hukum USU.

Dengan demikian ini keaslian skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara

ilmiah.

E. Tinjauan Kepustakaan

Suatu menjadi pendapat umum bahwa hakekat manusia itu adalah sebagai

kepribadian dan masyarakat. Dua unsur eksistensi ini merupakan suatu kesatuan

yang tidak terpisahkan, sehingga apabila kita substitusikan kepada masyarakat

(16)

kumpulan dari Negara-negara tersebut dapat dikatakan sebagai masyarakat

internasional (international society).9

Konsepsi di atas membawakan hubungan-hubungan dalam mana kepentingan

yang beraneka ragam saling menjalin secara berkelanjutan yang semakin hari

semakin meluas. Interpedansi antar mereka dalam memenuhi

kepentingan-kepentingan mereka sudah menjadi suatu keharusan. Dengan perkataan lain,

Negara-negara di dunia sekarang ini erat kaitannya satu sama lain, sehingga apapun yang

terjadi misalnya di bidang politik, ekonomi, dan sosial di suatu bagian dunia pasti

akan mempengaruhi bagian dunia lainnya.10

Sejak permulaan sejarah umat manusia, hubungan individu, kelompok, dan

antar bangsa sudah mengenal kaedah-kaedah yang mengatur dan menata perilaku

semestinya dalam hubungan itu sendiri. Kaedah-kaedah tersebut ditujukan sebagai

suatu keabsahan yuridis untuk mengatur perilaku Negara-negara didalam melakukan

hubungan-hubungan di antara mereka. Inilah yang disebut dengan hukum

diplomatik. Dalam rangka mempererat hubungan antar bangsa serta kerjasama dan

persahabatan maka Negara-negara mengirimkan perwakilannya ke Negara lain.

Pengiriman perwakilan Negara ke Negara lain dikenal dengan pertukaran misi

diplomatik yang sudah dilakukan sejak dahulu. Perwakilan diplomatik dianggap

sebagai wakil dari Negara yang diwakilinya dan kedudukannya dipersamakan

dengan kedudukan seorang kepala Negara pengirim di Negara penerima.

11

Definisi diplomat yaitu sebagai orang yang melakukan diplomasi. Kata

diplomat berasal dari bahasa Yunani yaitu “diploma” yang artinya adalah “a letter

9

Buana, Mirza, Hukum Internasional Teori dan Praktek, Nusamedia, Bandung, 2007, hal 16

10

Ibid

11

(17)

folded double” atau surat yang dilipat ganda, kemudian diterjemahkan sebagai

utusan negara yang mengemban tugas ganda. Sehingga dalam kaitannya dengan

hubungan antar negara, diplomat dapat dikatakan sebagai duta negara atau utusan

negara yang ditugaskan ke negara lain sebagai representatif atau untuk

merepresentasikan negara yang telah mengutusnya. Maka dalam menjalankan

fungsinya, seorang diplomat harus bekerja sesuai dengan aturan diplomatik yang

telah berkembang di kalangan negara-negara dunia.12

Definisi mengenai diplomasi sangatlah beragam. Para pakar memberi definisi

yang berbeda. Menurut Wikipedia Indonesia pengertian diplomasi adalah “seni dan

praktek bernegosiasi oleh seseorang yang biasanya mewakili sebuah negara atau

organisasi”. Kata diplomasi sendiri biasanya langsung terkait dengan diplomasi

Internasional yang biasanya mengurus berbagai hal seperti budaya, ekonomi, dan

perdagangan. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan

keuntungan dengan kata-kata yang halus.

13

Menurut the Chamber's Twentieth Century Dictionary, diplomasi adalah “the

art of negotiation, especially of treaties between states; political skill”. (seni

berunding, khususnya tentang perjanjian di antara negara-negara; keahlian politik).

Syahrimin mengatakan bahwa diplomasi, yang sangat erat dihubungkan dengan

The Oxford English Dictionary memberi konotasi sebagai berikut:

“manajemen hubungan intemasional melalui negosiasi; yang mana hubungan ini

diselaraskan dan diatur oleh duta besar dan para wakil; bisnis atau seni para

diplomat”.

12

Ak, Syahmin, Hukum Diplomatik Dalam Kerangka Studi Analisis, Jakarta: Rajawali Pers, 2008, hal 20

13

Suryono,Edy, Hukum Diplomatik Kekebalan dan Keistimewaannya, Bandung: Angkasa,

(18)

hubungan antar negara sebagai : Seni mengedepankan kepentingan suatu negara

melalui negosiasi dengan cara-cara damai apabila mungkin, dalam berhubungan

dengan negara lain. Apabila cara-cara damai gagal untuk memperoleh tujuan yang

diinginkan, diplomasi mengizinkan penggunaan ancaman atau kekuatan nyata

sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuannya.14

Definisi hubungan diplomatik adalah salah satu cara yang dipergunakan

dalam hubungan internasional, dengan memakai metode diplomasi atau negosiasi.

Secara tradisional, fungsi perwakilan diplomatik atau agen diplomatik yang

dikirimkan ke negara asing merupakan penyambung lidah pemerintahnya dan

sebagai jalur komunikasi resmi antar negara pengirimnya dengan negara dimana

diplomat tersebut ditempatkan. Selain itu, diplomat tersebut memberikan

laporan-laporan kepada pemerintahnya mengenai kondisi dan perkembangan situasi yang

terjadi di negara penerima, melindungi bangsanya yang berdiam di negara penerima

serta meningkatkan hubungan persahabatan antara negaranya dengan negara

penerima. Selanjutnya diplomat tersebut bertugas memupuk kerjasama dalam bidang

ekonomi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan anjuran dan

ketentuan-ketentuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.15

Fungsi perwakilan diplomatik pada dasarnya hanya berhubungan dengan

persoalan politik, tetapi pada saat ini sulit bagi kita untuk memisahkan antara politik

dengan aspek kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itulah fungsi

perwakilan diplomatik lama kelamaan juga berubah, bukan hanya

menyelenggarakan hubungan politik saja, tetapi sudah jauh masuk ke bidang

14

Op.Cit, hal 21

15

(19)

perdagangan, keuangan, perindustrian dan lain sebagainya, yang sebenarnya

merupakan wewenang konsuler.16

Hukum Internasional tidak pernah luput dari pelanggaran-pelanggaran

ataupun pembangkangan dari negara-negara yang melanggar hukum tersebut.

Pelanggaran sering terjadi dalam masalah-masalah politik dan keamanan yang

dianggap vital bagi negara yang bersangkutan. Namun, setiap kali terjadi

pelanggaran, negara pelanggar selalu berusaha menjelaskan bahwa tindakkannya

tidak bertentangan dengan hukum internasional. Dalam sengketa-sengketa yang

terjadi, negara selalu berlindung dibawah prinsip penegakkan hukum dalam

membenarkan tindakannya dan tidak pernah berdasarkan ketidakadaan hukum. Oleh

karena itu, hukum internasional bertugas mengatur berbagai macam interaksi antar

negara dan subyek-subyek hukum lainnya yang memiliki ruang lingkup yang luas

dan kompleks serta dituntut untuk berperan aktif demi terlaksananya hubungan dan

kerjasama yang baik serta dapat memelihara perdamaian dan keamanan dunia.17

16

Sihbudi, M. Riza, dkk, Konflik dan Diplomasi, PT Eresco, Bandung, 1993, hal 27

17

Ambarwati, dkk, Hukum Humaniter Internasional dalam Studi Hubungan

Internasiona,Rajawali Pers, Jakarta, 2009, hal 66.

Pada akhir Perang Dunia II jumlah negara-negara yang baru merdeka sangatlah

terbatas dan karena dunia terus mengalami perkembangan jumlah negara-negara

yang diakui kemerdekaannya oleh negara lainnya juga bertambah. Negara menjadi

sangat penting keberadaannya karena negara merupakan subyek yang paling utama

dalam hukum internasional. Negara juga berperan sebagai pemegang hak dan segala

(20)

merupakan subyek hukum internasional harus memiliki unsur-unsur konstitutif

sebagai syarat sahnya terbentuknya suatu negara.18

Bentuk perwujudan khusus atau dalam kata lain, apa saja yg menjadi

kekhususan pembahasan hukum internasional. PBB memberikan ruang khusus

terhadap Hukum Internasional19

Perdamaian dan keamanan, batas wilayah, kegiatan kemanusiaan dan HAM

merupakan pokok pembahasan PBB. Dimana pembahasan tersebut diatas

digolongkan ke delam nama atau kelompok-kelompok hukum : Hukum humaniter,

hukum udara, hukum angkasa, hukum diplomatik, hukum lingkungan internasional,

hukum laut internasional, hukum pengelesaian sengketa, hukum pidana

internasional, hukum ekonomi internasional. Kelompok hukum tersebut diajarkan

pada bagian hukum internasional dengan tujuan agar, mahasiswa dapat mengerti dan

memahami mekanisme PBB dan Hukum Internasional itu sendiri.

. Semua ketentuan internasional dikeluarkan oleh

PBB melalui suatu rapat Majelis Umum yang dihadiri oleh Negara-negara anggota.

Dari pertemuan tersebut, lahirah aturan-aturan formal internasional yang dikenal

dengan Hukum Internasional.

20

Jika diperhatikan peristiwa setahun terakhir di dunia internasional, berbagai

peristiwa hukum internasional setahun terakhir dapat memberikan gambaran

mengenai bidang-bindang kekhususan dari hukum internasional. Peristiwa di Libya.

Kekuatan rakyat yang hendak menggulingkan kekuasaan Khadafi, presiden Libya

yang sudah menjabat selama lebih dari 30 tahun. Melalui resolusi Dewan

Keamanan, PBB mengirimkan tentara keamanan internasional atau yg dikenal

18

Op.Cit, hal 29

19

Djamili, Mizwar, Mengenal PBB dan 170 Negara di Dunia, PT Kreasi Jaya Utama,

Jakarta, 1995, hal 57.

20

(21)

dengan casque bleu, yaitu tentara gabungan dari berbagai Negara, yang bersifat

netral, tidak memihak.21

Hubungan bilateral dalam hubungan internasional selalu berada dalam dua

konteks, yaitu kerjasama dan konflik. Kedua konteks hubungan internasional ini

berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan dinamika hubungan internasional itu

sendiri. Hubungan bilateral yang dilakukan oleh Malaysia – Indonesia sejak 1973

merupakan konteks kerjasama yang semakin membaik dan membuat hubungan

keduanya menjadi lebih erat. Konsep Hubungan Bilateral menurut Didi Krisna

dalam kamus politik internasionalnya mengatakan Hubungan bilateral adalah

keadaan yang menggambarkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi atau

terjadi hubungan timbal balik antara dua pihak atau dua negara.22

Hubungan bilateral yang terjalin dengan baik tak lepas dari adanya

kepentingan nasional dari kedua negara tersebut yang berusaha dicapai dalam

hubungan kerjasama diantara keduanya. Hans J. Morgenthau menyampaikan

pandangan tentang konsep kepentingan nasional sebagai berikut: “The concept of the

national interest, then, contains two elements, one that is logically required and in

that sense necessary, and one that is variable and determined by circumstances.23”

Konsep kepentingan nasional, maka, mengandung dua elemen, salah satu yang logis

yang diperlukan dan dalam arti yang diperlukan, dan satu yang variabel dan

ditentukan oleh keadaan.24

21

Siswanto, Eds. Demokratisasi di Timur Tengah pasca Politisasi, (Jakarta : PPP LIPI, 2010), hal 34

22

Didi Krisna, Kamus Politik Internasional, Jakarta: Grasindo1 2003 hal. 18

23

Hans J. Morgenthau, “Another “Great Debate”: The National Interest of the United States,”in Classics of International Relation, 3rd ed, ed. John A. Vasquest (New Jersey: Prentice Hall,

24

(22)

F. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini bersifat deskriptif

analisis, yaitu menjelaskan dan menganalisis permasalahan berdasarkan data

daninformasi yang dikumpulkan

Dalam penulisan ilmiah terdapat beraneka ragam jenis penelitian.

Dariberbagai jenis penelitian, khususnya penelitian hukum yang paling popular

dikenal adalah :

1. Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan dilakukan dengan

cara meneliti bahan kepustakaan atau hanya menggunakan data sekunder belaka.

2. Penelitian hukum empiris yang dilakukan dengan cara terutama meneliti data

primer yang diperoleh di lapangan selain juga meneliti data sekunder dari

perpustakaan.

Pilihan metode suatu penelitian hukum tergantung pada tujuan penelitian itu

sendiri. Sesuai dengan tujuan skripsi ini, maka penelitian hukum yang digunakan

adalah penelitian hukum normatif atau disebut juga dengan studi kepustakaan

(library research) dengan perolehan data sekunder yang bersumber sari majalah,

buku-buku, jurnal, surat kabar, website online, dan dokumen pustaka lainnya.

G. Sistematika Penulisan

Skripsi ini diuraikan dalam 5 bab, dan tiap-tiap bab berbagi atas beberapa sub-sub bab, untuk mempermudah dalam memaparkan materi dari skripsi ini yang

dapat digambarkan sebagai berikut :

(23)

Penulisan dan Manfaat Penulisan, Keaslian Penulisan, Tinjauan

Kepustakaan, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL. Dalam bab ini berisi tentang definisi subjek hukum internasional, perkembangan subjek hukum internasional,

macam-macam subjek hukum internasional dan kedudukan negara

sebagai subjek utama dalam hukum internasional.

BAB III : HUBUNGAN DIPLOMATIK ANTAR NEGARA. Bab ini berisikan tentang sejarah perkembangan hubungan diplomatik,

pembukaan hubungan diplomatik, berakhirnya misi diplomatik dan

syarat-syarat pembentukan hubungan diplomatik.

BAB IV : HUBUNGAN DIPLOMATIK TAIWAN SEBAGAI SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL. Bab ini berisi tentang status Taiwan dalam perspektif hukum internasional, hubungan diplomatik antara

Taiwan dengan Indonesia.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN. Merupakan bab penutup dari seluruh rangkaian bab-bab sebelumnya, yang berisikan kesimpulan yang

dibuat berdasarkan uraian skripsi ini, yang dilengkapi dengan

(24)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL

A. Definisi Subjek Hukum Internasional

Secara umum subyek hukum diartikan sebagai pendukung / pemilik hak dan

kewajiban. Pada awal mula dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional,

hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional. Akan tetapi

karena perkembangannya, pendukung hak dan kewajiban dalam hukum internasional

pada saat ini ternyata tidak terbatas pada Negara saja tetapi juga meliputi subyek

hukum internasional lainnya. Hal ini dikarenakan terdapat perkembangan ataupun

kemajuan di bidang teknologi, telekomunikasi dan transportasi dimana kebutuhan

manusia semakin meningkat cepat sehingga menimbulkan interaksi yang semakin

kompleks.25

Menurut I Wayan Parthiana subjek hukum pada umumnya diartikan sebagai

pemegang hak dan kewajiban menurut hukum. Dengan kemampuan sebagai Jadi subyek hukum internasional dapat diartikan sebagai negara atau

kesatuan-kesatuan bukan negara yang dalam keadaan tertentu memiliki kemampuan

untuk menjadi pendukung hak dan kewajiban berdasarkan Hukum Internasional.

Munculnya organisasi-organisasi Internasional baik yang bersifat bilateral, regional

maupun multilateral dengan berbagai kepentingan dan latar belakang yang

mendasari pada akhirnya mampu untuk dianggap sebagai subyek hukum

internasional. Begitu juga dengan keberadaan individu atau kelompok individu

(belligerent) yang pada akhirnya dapat pula diakui sebagai subyek hukum

Internasional.

25

Haryomataram, KGPH, Pengantar Hukum Internasional, RajaGrafindo Persada,

(25)

pemegang hak dan kewajiban tersebut, berarti adanya kemampuan untuk

mengadakan hubungan hukum yang melahirkan hak-hak dan kewajiban. Secara

umum yang dipandang sebagai subjek hukum adalah : (a) individu atau orang

perorangan atau disebut pribadi alam dan (b) badan atau lembaga yang sengaja

didirikan untuk suatu maksud dan tujuan tertentu yang karena sifat, ciri, dan

coraknya yang sedemikian rupa dipandang mampu berkedudukan sebagai subjek

hukum. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa subjek hukum internasional

adalah pemegang atau pendukung hak dan kewajiban menurut hukum internasional;

dan setiap pemegang atau pendukung hak dan kewajiban menurut hukum

internasional adalah Subjek Hukum Internasional.26

Pendapat lain juga dikemukakan oleh F. Sugeng Istanto yang mengatakan

bahwa yang dianggap sebagai subjek hukum bagi hukum internasional adalah

negara, organisasi internasional dan individu. Subjek hukum tersebut masing-masing

mempunyai hak dan kewajiban sendiri yang berbeda satu sama lain. Subjek Hukum

Internasional adalah pihak-pihak pembawa hak dan kewajiban hukum dalam

pergaulan internasional. Adapun subjek hukum internasional adalah sebagai

berikut.27

1. Negara

Negara dinyatakan sebagai subjek hukum internasional yang pertama karena

kenyataan menunjukkan bahwa yang pertama melakukan hubungan internasional

adalah negara. Aturan-aturan yang disediakan masayarakat internasional dapat

dipastikan berupa aturan tingkah laku yang harus ditaati oleh negara apabila

26

I Wayan Parthiana, Pengantar Hukum Internasional, Penerbit Mandar Maju, Bandung, 1990, hal. 58.

27

(26)

mereka saling mengadakan hubungan. Adapun negara yang menjadi subjek

hukum internasional adalah negara yang merdeka, berdaulat, dan tidak

merupakan bagian dari suatu negara, artinya negara yang mempunyai

pemerintahan sendiri secara penuh yaitu kekuasaan penuh terhadap warga negara

dalam lingkungan kewenangan negara itu.

2. Tahta Suci (Vatican)

Yang dimaksud dengan Tahta Suci (Vatican) adalah gereja Katolik Roma yang

diwakili oleh Paus di Vatikan. Walaupun bukan suatu negara, Tahta Suci

mempunyai kedudukan sama dengan negara sebagai subjek hukum internasional.

Tahta Suci memiliki perwakilan-perwakilan diplomatik di berbagai negara di

dunia yang kedudukannya sejajar sengan wakil-wakil diplomat negara-negara

lain.

3. Palang Merah Internasional

Organisasi Palang Merah Internasional lahir sebagai subjek hukum internasional

karena sejarah. Kamudian, kedudukannya diperkuat dalam perjanjian-perjanjian

dan konvensi-konvensi palang merah tentang perlindungan korban perang.

4. Organisasi Internasional, Organisasi Internasional dibagi menjadi sebagai

berikut.

a. Organisasi Internasional Publik atau Antarpemerintah (Intergovernmental

Organization: Organisasi internasional publik meliputi keanggotaan

negara-negara yang diakui menurut salah satu pandangan teori pengakuan atau

keduanya. Prinsip-prinsip keanggotaan organisasi internasional adalah

(27)

1) Prinsip Universitas (University). Prinsip ini dianut PBB termasuk

badan-badan khusus yang keanggotaannya tidak membedakan besar atau

kecilnya suatu negara.

2) Prinsip Pendekatan Wilayah (Geographic Proximity). Prinsip kedekatan

wilayah memiliki anggota yang dibatasi pada negara-negara yang berada

di wilayah tertentu saja. Contohnya, ASEAN meliputi keanggotaan

negara-negara yang ada di Asia Tenggara.

3) Prinsip Selektivitas (Selectivity). Prinsip selektivitas melihat dari segi

kebudayaan, agama, etnis, pengalaman sejarah, dan sesama produsen.

Contohnya Liga Arab, OPEC, Organisasi Konferensi Islam, dan

sebagainya.

b. Organisasi Internasional Privat (Private International Organization):

Organisasi ini dibentuk atas dasar mewujudkan lembaga yang independen,

faktual atau demokratis, oleh karena itu sering disebut organisasi

nonpemerintahan (NGO = Non Government Organization) atau dikenal

dengan lembaga swadaya masyarakat yang anggotanya badan-badan swasta.

c. Organisasi Regional atau Subregional: Pembentukan organisasi regional

maupun subregional, anggotanya didasarkan atas prinsip kedekatan

wailayah, seperti : South Pasific Forum, South Asian Regional Cooperation,

gulf Cooperation Council, dan lain-lain.

d. Organisasi yang bersifat universal: Organisasi yang bersifat universal lebih

memberikan kesempatan kepada anggotanya seluas mungkin tanpa

(28)

e. Orang Perorangan (Individu): Setiap individu menjadi subjek hukum

internasional jika dalam tindakan yang dilakukannya memperoleh penilaian

positif atau negatif sesuai kehidupan masyarakat dunia.

f. Pemberontak dan Pihak dalam Sengketa: Menurut hukum perang,

pemberontak dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak yang

bersengketa dalam keadaan tertentu.

• Menentukan nasibnya sendiri,

• Memilih sendiri sistem ekonomi, politik, dan sosial,

• Menguasai sumber kekayaan alam di wilayah yang didudukinya.

Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini

adalah hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum

internasional terbagi menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum

perdata internasional.

Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum

yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan

bersifat perdata.28

Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas

hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan

perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku

hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda.29

Mochtar Kusumaatmadja mengartikan ’’hukum internasional sebagai

keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau

28

Rudi, T May, Hukum Internaisonal I, Refika Aditama, Bandung, 2001, hal 44

29

Kusumaatmadja, Mochtar, Hukum Humaniter Internasional Dalam Pelaksanaan dan

(29)

persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara dengan negara dan negara

dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama

lain’’.30

B. Perkembangan Subjek Hukum Internasional

Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh

gambaran umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang

di dalamnya terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar

subyek atau pelaku, serta hal-hal atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya,

serta prinsip-prinsip dan kaidah atau peraturan-peraturan hukumnya.

Subyek Hukum Internasional diartikan sebagai pemilik, pemegang atau

pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. Pada awal

mula, dari kelahiran dan pertumbuhan Hukum Internasional, hanya negaralah yang

dipandang sebagai subjek hukum internasional. Namun, seiring perkembangan

zaman telah terjadi perubahan pelaku-pelaku subyek hukum internasional itu sendiri.

Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang diakui oleh masyarakat

internasional, adalah:

1. Negara

Menurut Konvensi Montevideo 1949, mengenai Hak dan Kewajiban Negara,

kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum

internasional adalah penduduk yang tetap, mempunyai wilayah (teritorial)

tertentu; pemerintahan yang sah dan kemampuan untuk mengadakan

hubungan dengan negara lain.

30

(30)

2. OrganisasiInternasional

Organisasi internasional mempunyai klasifikasi, yakni:

1. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global

dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum, contohnya adalah

Perserikatan Bangsa Bangsa ;

2. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan

maksud dan tujuan yang bersifat spesifik, contohnya adalah World Bank,

UNESCO, International Monetary Fund, International Labor

Organization, dan lain-lain;

3. Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud

dan tujuan global, antara lain: Association of South East Asian Nation

(ASEAN), Europe Union.

3. Palang Merah Internasional

Pada awal mulanya, Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam

ruang lingkup nasional, yaitu Swiss, didirikan oleh lima orang

berkewarganegaraan Swiss, yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak

di bidang kemanusiaan. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang

Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara,

yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing

wilayahnya. Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian

dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of

(31)

4. Tahta Suci Vatikan

Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan

Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929, antara pemerintah Italia dan Tahta

Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. Perjanjian

Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas

eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri

sendiri, walaupun tugas dan kewenangannya, tidak seluas tugas dan

kewenangan negara, sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan

kemanusiaan, sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja, namun wibawa

Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia,

sudah diakui secara luas di seluruh dunia.

5. Kelompok Pemberontak/Pembebasan

Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam

negeri suatu negara berdaulat. Oleh karena itu, penyelesaian sepenuhnya

merupakan urusan negara yang bersangkutan. Namun apabila pemberontakan

tersebut bersenjata dan terus berkembang, seperti perang saudara dengan

akibat-akibat di luar kemanusiaan, bahkan meluas ke negara-negara lain,

maka salah satu sikap yang dapat diambil adalah mengakui eksistensi atau

menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri, walaupun

sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah

negara tempat pemberontakan terjadi. Dengan pengakuan tersebut, berarti

bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya, kaum pemberontak

(32)

6. Individu

Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal

Declaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti

dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai

kawasan, menyatakan individu adalah sebagai subyek hukum internasional

yang mandiri.

7. Perusahaan Multinasional (MNC)

Eksistensi MNC dewasa ini, memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa

disangkal lagi. Di beberapa tempat, negara-negara dan organisasi

internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan

multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban

internasional, yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi, struktur

substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri.

Subyek hukum internasional juga dapat didefinisikan sebagai pihak yang

dapat dibebani hak dan kewajiban yang diatur oleh Hukum Internasional atau setiap

negara, badan hokum (internasional) atau manusia yang memiliki hak dan kewajiban

dalam hubungan internasional.

C. Macam-Macam Subjek Hukum Internasional

Sebagaimana diketahui bahwa subyek hukum internasional meliputi:

1) Negara;

2) Organisasi Internasional;

3) Palang Merah Internasional;

(33)

5) Organisasi Pembebasan atau Bangsa-Bangsa yang sedang memperjuangkan

hak-haknya;

6) Wilayah-wilayah Perwalian;

7) Kaum Belligerensi;

8) Individu.31

c. A government; and

Di antara beberapa subyek hukum internasional sebagaimana tersebut di atas,

dalam pembahasan berikut materinya hanya dibatasi Negara sebagai subyek hukum

internasional dan individu sebagai subyek hukum internasional.

Negara sebagai salah satu subyek internasional dan merupakan subyek

hukum utama dari hukum internasional. Negara sebagai subyek hukum internasional

baik ditinjau secara historis maupun secara faktual. Secara historis, yang

pertama-tama merupakan subyek hukum internasional pada awal mula lahir dan pertumbuhan

hukum internasional adalah negara.

Peranan negara sebagai subyek hukum internasional lama kelamaan juga

semakin dominan oleh karena bagian terbesar dari hubungan-hubungan internasional

yang dapat melahirkan prinsip-prinsip dan kaedah-kaedah hukum internasional

dilakukan oleh negara-negara. Unsur tradisional suatu Negara terdapat dalam Pasal 1

Montevidio (Pan American) Convention on Rights And Duties of State of 1933. Pasal

Tersebut Berbunyi sebagai berikut :

The State as person of international law should posses the following qualification :

a. A permanent population

b. A defined territory

31

(34)

d. A capacity to enter into relations with other State.32

Unsur-unsur diatas juga dikemukakan oleh Oppenheim Lauterpacht. Berikut

adalah uraian beliau tentang masing-masing unsur tersebut :33

1) Harus ada rakyat. Yang dimaksud dengan rakyat yaitu sekumpulan manusia dari

kedua jenis kelamin yang hidup bersama sehingga merupakan suatu masyarakat,

meskipun mereka ini mungkin berasal dari keturunan yang berlainan, menganut

kepercayaan yang berlainan ataupun memiliki kulit yang berlainan. Syarat

penting untuk unsur ini yaitu bahwa masyarakat ini harus terorganisasi dengan

baik (organised population). Sebab sulit dibayangkan, suatu negara dengan

pemerintahan yang terorganisasi dengan baik “hidup” berdampingan dengan

masyarakat disorganised.

2) Harus ada daerah, dimana rakyat tersebut menetap. Rakyat yang hidup

berkeliaran dari suatu daerah ke daerah lain (a wandering people) bukan

termasuk negara, tetapi tidak penting apakah daerah yang didiami secara tetap itu

besar atau kecil, dapat juga hanya terdiri dari satu kota saja, sebagaimana halnya

dengan negara kota. Tidak dipersoalkan pula apakah seluruh wilayah tersebut

dihuni atau tidak.

3) Harus ada pemerintah, yaitu seorang atau beberapa orang yang mewakili rakyat,

dan memerintah menurut hukum negerinya. Suatu masyarakat yang anarchitis

bukan termasuk negara. Dalam salah satu tulisnnya, Lauterpacht menyatakan

bahwa adanya unsur ini, yaitu pemerintah, merupakan syarat utama untuk adanya

suatu negara. Jika pemerintah tersebut ternyata kemudian secara hukum atau

32

Huala Adolf, Aspek Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Rajawali Pers, Jakarta, 1991, hal 2.

33

(35)

secara faktanya menjadi negara boneka atau negara satelit dari suatu negara

lainnya, maka negara tersebut tidak dapat digolongkan sebagai negara.

4) Kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain.

Oppenheim-Lauterpacht menggunakan kalimat lain untuk unsur keempat ini, yaitu dengan

menggunakan kalimat “pemerintah itu harus berdaulat” (sovereign). Yang

dimaksud dengan pemerintah yang berdaulat yaitu kekuasaan yang tertinggi

yang merdeka dari pengaruh suatu kekuasaan lain di muka bumi. Kedaulatan

dalam arti sempit berarti kemerdekaan sepenuhnya, baik ke dalam maupun ke

luar batas-batas negeri.

Di antara unsur- unsur negara tersebut sebenarnya unsur kemampuan untuk

mengadakan hubungan dengan negara-negara lain kurang penting, karena negara

mungkin dapat berdiri tanpa adanya kemampuan untuk mengadakan hubungan

dengan negara-negara lain, sehingga disebut juga dengan unsur non phisik.

Mengenai kemampuan mengadakan hubungan dengan negara lain ini ada kaitannya

dengan pengakuan baik hukum nasional maupun internasional mengakui adanya

kekuasaan dan kewenangan tersebut.

Kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain dimaksudkan

dalam pengertian yuridis, maksudnya karena hukumlah baik hukum nasional

maupun hukum internasional mengakui adanya kekuasaan dan kewenangan tersebut.

Sedangkan mengenai pernyataan yang berkenaan dengan kriteria atau ukuran tentang

kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara-negara lain, tidak ada

(36)

secara de jure sedangkan negara lain mengakuinya secara de facto, hanyalah

pengecualian saja dan merupakan hal yang luar biasa”.34

Menurut J.G. Starke, unsur atau persyaratan seperti yang disebut diatas

adalah hal yang paling penting dari segi hukum internasional. Ciri-ciri diatas juga

membedakan negara dengan unit-unit yang lebih kecil seperti anggota-anggota

federasi atau protektorat-protektorat yang tidak menangani sendiri urusan luar

negerinya dan tidak diakui oleh Negara-negara lain sebagai anggota masyarakat

internasional yang mandiri. Bahkan hukum internasional itu sendiri boleh dikatakan

bagian terbesar terdiri atas hubungan hukum antara negara dengan negara.35

Berdasarkan kedaulatannya itu, maka dapat diturunkan hak, kekuasaan

ataupun kewenangan negara untuk mengatur masalah intern maupun eksternnya.

Dengan kata lain, dari kedaulatannya itulah diturunkan atau lahir yurisdiksi negara.

Dengan hak, kekuasaan dan kewenangan atau dengan yurisdiksi tersebut suatu

negara dapat mengatur secara lebih rinci dan jelas masalah-masalah yang

dihadapinya, sehingga terwujud apa yang menjadi tujuan dari negara itu. Dalam

pandangan hukum internasional, Negara juga mempunyai Hak dan Kewajiban. Hak

dan kewajiban Negara terdapat dalam konvensi montevidio tahun 1933 tentang hak Kedaulatan yang dimiliki oleh suatu negara menunjukkan bahwa suatu

negara itu adalah merdeka atau tidak tunduk pada kekuasaan Negara lain. Tetapi hal

ini tidak bisa diartikan bahwa kedaulatan itu tidak ada yang membatasi, atau sebagai

tidak terbatas sama sekali. Pembatasannya sendiri adalah hukum, baik hukum

nasional maupun hukum internasional.

34

Widagdo, Setyo, dan Hanif Nur Widhiyanti. 2008. Hukum Diplomatik dan Konsuler.

Bayu Media : Malang, hal 34

35

(37)

dan kewajiban Negara-negara oleh Negara-negara Amerika latin, serta dalam

rancangan Deklarasi tentang hak dan kewajiban Negara-negara yang disusun oleh

komisi hukum internasional PBB pada tanggal 1949. Rancangan tersebut dibuat agar

dapat disahkan oleh majelis umum PBB.36

D. Kedudukan Negara sebagai Subjek Utama Dalam Hukum Internasional

Sudah menjadi kodrat alam, bahwa manusia sejak dahulu kala selalu hidup

bersama-sama dalam suatu kelompok (zoon politicon). Dalam kelompok manusia

itulah mereka berjuang bersama-sama mempertahankan hidupnya mencari makan,

melawan bahaya dan bencana serta melanjutkan keturunannya. Mereka berinteraksi,

mengadakan hubungan sosial. Untuk mempertahankan hak mereka untuk dapat

hidup di tempat tinggal tertentu yang mereka anggap baik untuk sumber

penghidupan, diperlukan seseorang atau sekelompok kecil orang-orang yang

ditugaskan mengatur dan memimpin kelompoknya. Kepada pemimpin kelompok

inilah diberikan kekuasaan-kekuasaan tertentu dan kelompok manusia tadi

diharuskan menaati peraturan-peraturan perintah pemimpinnya.37

Negara adalah lanjutan dari kehendak manusia bergaul antara seorang dengan

orang lainnya dalam rangka menyempurnakan segala kebutuhan hidupnya. Semakin

luasnya pergaulan manusia tadi maka semakin banyak kebutuhannya, maka

bertambah besar kebutuhannya kepada sesuatu organisasi negara yang akan

melindungi dan memelihara hidupnya. Secara etimologi, negara dapat diterjemahkan

dari kata-kata asing staat (bahasa Belanda), state (bahasa Inggris) dan Etat (bahasa

37

(38)

Prancis). Asalnya adalah bahasa latin yang berarti menaruh dalam keadaan berdiri;

membuat berdiri; dan menempatkan.

Pada dasarnya tidak ada suatu definisi yang tepat terhadap pengertian suatu

Negara. Namun kita dapat mengambil beberapa pengertian suatu Negara

berdasarkan pengertian-pengertian oleh para ahli yang dapat dijadikan sebagai suatu

sumber hukum atau biasa disebut dengan doktrin para sarjana. Serta pengertian suatu

negara berdasarkan hukum internasional yang dapat kita ambil dari Konvensi

Montevidio tahun 1933. Menurut Plato, negara adalah suatu tubuh yang senantiasa

maju, berevolusi dan terdiri dari orang-orang (individu-individu) yang timbul atau

ada karena masing-masing dari orang itu secara sendiri-sendiri tidak mampu

memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang beraneka ragam, yang menyebabkan

mereka harus bekerja sama untuk memenuhi kepentingan mereka bersama.38

Kesatuan inilah yang kemudian disebut masyarakat atau negara39. Dari

pengerian yang disampaikan sarjana ini dapat diketahui bahwa suatu negara ada

karena hubungan manusia dengan sesamanya karena manusia menyadari tidak dapat

hidup secara sendiri-sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya, atau berdasarkan

doktrin yang diajarkan oleh Aristoteles biasa kita kenal dengan istilah zoon political.

Menurut Thomas Hobbes bahwa negara adalah suatu tubuh yang dibuat oleh orang

banyak beramai-ramai, yang masing-masing berjanji akan memakainya menjadi alat

untuk keamanan dan pelindungan mereka40

38

http://www.docstoc.com/docs/20860721/RESUME-HUKUM-INTERNASIONAL diakses 3 April 2012

39

Soehino, Ilmu Negara (Yogyakarta : Liberty, 1980), hlm. 17

40

Samidjo, Op.Cit., hlm. 29

. Berdasarkan pengertian yang

disampaikan oleh sarjana ini adalah bahwa suatu negara terbentuk oleh sekumpulan

(39)

sesama mereka untuk menjadikan negara yang mereka bentuk sendiri sebagai alat

untuk keamanan dan perlindungan bagi mereka (Teori Perjanjian Masyarakat atau

teori kontrak sosial). Dari sini juga dapat diketahui bahwa negara dibentuk dalam

rangka memberikan rasa aman dan perlindungan bagi masing-masing mereka, yang

berarti juga bahwa manusia menyadari mereka dapat menjadi serigala bagi

sesamanya (homo homini lupus) dalam pencapaian kepentingan masing-masing

mereka, yang kemudian dalam skala yang besar dapat menyebabkan terjadinya

perlawanan atau perang (bellum omnium contra omnes).41

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada

dasarnya negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik

politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang

berada di wilayah tersebut. Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang

mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang

menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya

suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut

dengan kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang

kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.42

Sesuai dengan pelaku utama hubungan internasional adalah negara, maka

yang menjadi perhatian utama hukum internasional adalah hak dan kewajiban serta

kepentingan negara. Negara sebagai salah satu subjek hukum internasional, bahkan

menjadi subjek hukum internasional yang pertama dan utama serta terpenting (par

excellence). Negara menjadi subjek hukum internasional yang pertama-tama, sebab

kenyataan menunjukkan bahwa yang pertama-tama yang mengadakan hubungan

42

(40)

internasional adalah Negara. Negara sebagai suatu kesatuan politik dalam hukum

internasional yang juga sifatnya keterutamaannya maka suatu negara harus memiliki

unsur-unsur tertentu berdasarkan hukum internasional. Aturan hukum internasional

yang disediakan masyarakat internasional dapat dipastikan berupa aturan tingkah

laku yang harus ditaati oleh negara apabila mereka saling mengadakan hubungan

kerjasama.43 Untuk lebih jelasnya lagi dalam merumuskan pengertian suatu negara

berdasarkan hukum internasional dapat kita lihat pada ketentuan Konvensi

Montevidio tahun 1993 mengenai hak-hak dan kewajiban- kewajiban negara (Rights

and Duties of States) yang menyebutkan bahwa suatu negara dapat dikatakan

sebagai subjek hukum internasional apabila telah memiliki unsur-unsur, yaitu44

Untuk wilayah suatu negara tidak dipengaruhi batas ukurannya. Walaupun

pernah terjadi negara yang wilayah negaranya kecil tidak dapat menjadi anggota

PBB. Akan tetapi sejak tetapi sejak tahun 1990, negara seperti Andorra, :

a) Penduduk yang tetap

Penduduk yang dimaksud disini yaitu sekumpulan manusia yang hidup

bersama di suatu tempat tertentu sehingga merupakan satu kesatuan masyarakat yang

diatur oleh suatu tertib hukum nasional, tidak harus yang berasal dari rumpun, etnis,

suku, latar belakang kebudayaan, agama ataupun bahasa yang sama. Akan tetapi

penduduk tersebut haruslah menetap di suatu tempat, walaupun sudah ada penduduk

asli yang mendiami tempat tersebut.

b) Wilayah tertentu

43

Mohd. Burhan Tsani, Hukum dan Hubungan Internasional (Yogyakarta: Liberty, 1990), hlm. 12.

44

Huala Adolf, Aspek-Aspek Negara dalam Hukum Internasional (Jakarta, Penerbit :

(41)

Liechtenstein, Monaco, Nauru, San Marino dan Tuvalu telah bergabung menjadi

anggota PBB.

c) Pemerintah (penguasa yang berdaulat)

Yang dimaksud dengan pemerintah yang berdaulat yaitu kekuasaan yang

tertinggi yang merdeka dari pengaruh kekuasaan lain di muka bumi. Akan tetapi

kekuasaan yang dimiliki oleh suatu negara terbatas pada wilayah negara yang

memiliki kekuasaan itu. Maksudnya adalah bahwa dalam kedaulatan suatu negara

terbatas pada kedaulatan Negara lain. Suatu negara harus memiliki pemerintah, baik

seorang atau beberapa orang yang mewakili warganya sebagai badan politik serta

hukum di negaranya, dan pertahanan wilayah negaranya. Pemerintah dengan

kedaulatan yang dimiliknya merupakan penjamin stabilitas internal dalam

negaranya, disamping merupakan penjamin kemampuan memenuhi kewajibannya

dalam pergaulan internasional. Pemerintah inilah yang mengeluarkan

kebijakan-kebijakan dalam rangka mencapai kepentingan nasional negaranya, baik itu di dalam

negaranya dalam rangka mempertahankan integritas negaranya, maupun di luar

negaranya melaksanakan politik luar negeri untuk suatu tujuan tertentu.

d) Kemampuan mengadakan hubungan dengan negara-negara lainnya.

Unsur keempat ini secara mandiri merujuk pada kedaulatan dan

kemerdekaan. Kemerdekaan dan kedaulatan merupakan 2 (dua) posisi yang tak

terpisahkan sebagai subjek hukum internasional. Suatu Negara dinyatakan

mempunyai kedaulatan apabila memiliki kemerdekaan atau negara dianggap

mempunyai kemerdekaan, apabila memiliki kedaulatan. Pemerintahan suatu negara

haruslah merdeka dan berdaulat, sehingga wilayah negaranya tidak tunduk pada

(42)

hubungan kerjasama internasional dengan negara manapun. Sewajarnya adalah kalau

suatu negara memiliki kapasitas untuk mengadakan hubungan kerjasama

internasional dengan negara lain untuk tujuan - tujuan yang hendak dicapai oleh

negara tersebut.

Akan tetapi untuk menjadi suatu negara yang berdaulat dalam prakteknya

memerlukan pengakuan bagi negara lain.45

Negara sebagai subyek hukum internasional telah dikenal sejak adanya

praktek hubungan internasional. Dengan kata lain, negara adalah subyek hukum

internasional yang pertama ada. Bagi negara federasi seperti Amerika Serikat, India

dan Jerman, pemegang kedaulatan untuk mengadakan hubungan dengan luar negeri

berada ditangan pemerintah federal. Akan tetapi untuk masa sekarang, pemerintah Kalau 4 (empat) unsur diatas tadi

merupakan persyaratan secara hukum internasional terbentuknya suatu negara, maka

ada juga yang menjadi unsur politik terbentuknya suatu negara yang juga dapat

berakibat hukum. Unsur yang dimaksud adalah pengakuan (recognition).

Pengakuan dalam hukum internasional termasuk persoalan yang cukup rumit

karena sekaligus melibatkan masalah hukum dan politik. Unsur-unsur hukum dan

politik sulit untuk dipisahkan secara jelas karena pemberian dan penolakan suatu

pengakuan oleh suatu negara dipengaruhi pertimbangan politik, sedangkan akibatnya

mempunyai ikatan hukum. Kesulitan juga berasal dari fakta bahwa hukum

internasional tidak mengharuskan suatu negara untuk mengakui negara lain atau

pemerintahan lain seperti halnya juga bahwa suatu negara atau pemerintahan tidak

mempunyai hak untuk diakui oleh negara lain. Tidak ada keharusan untuk mengakui

seperti juga ada kewajiban untuk tidak mengakui.

45

(43)

negara bagian pun memungkinkan untuk mengadakan hubungan dengan subyek

hukum internasional lainnya, seperti dengan salah satu kota/propinsi yang ada di

Indonesia. Misalnya, kota Bandung pernah mengadakan hubungan persahabatan

dengan kota lain yang ada di Jerman, Amerika Serikat dan Jepang.

Bentuk negara lain seperti dominion dalam "British Commonwealth" yang

hanya dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal sebagai wakil dari Ratu Inggris

ternyata mempunyai kedudukan yang sama sebagai subyek hukum intemasional

seperti halnya negara berdaulat lainnya. Dengan demikian persyaratan/pengertian

negara dalam subyek hukum internasional lebih longgar karena dalam prakteknya

negara-negara yang berstatus protektorat Inggris ikut serta juga dalam

konferensi-konferensi internasional yang sejajar dengan anggota/peserta lainnya. Kelonggaran

status subyek bukum internasional untuk negara yang tidak berdaulat penuh karena

tuntutan kondisi serta kepentingan bukan hanya bagi subyek hukum itu sendiri

melainkan bagi kepentingan masyarakat internasional secara keseluruhan.

Negara dikatakan berdaulat (sovereian) karena kedaulatan merupakan suatu

sifat atau ciri hakiki negara. Negara berdaulat berarti negara itu mempunyai

kekuasaan tertentu. Negara itu tidak mengakui suatu kekuasaan yang lebih tinggi

daripada kekuasaannya sendiri dan mengandung 2 (dua) pembatasan penting dalam

dirinya:

1. Kekuasaan itu berakhir dimana kekuasaan suatu negara lain mulai.

2. Kekuasaan itu terbatas pada batas wilayah negara yang memiliki kekuasaan itu.

Konsep kedaulatan, kemerdekaan dan kesamaan derajat tidak bertentangan

(44)

kedaulatan dalam arti wajar dan sebagai syarat mutlak bagi terciptanya suatu

masyarakat Internasional yang teratur.

Masyarakat Internasional mengalami berbagai perubahan yang besar dan

pokok ialah perbaikan peta bumi politik yang terjadi terutama setela

politik di dunia. Timbulnya negara-negara baru yang merdeka, berdaulat dan sama

derajatnya satu dengan yang lain terutama sesudah Perang Dunia

Kemajuan teknologi berbagai alat perhubungan menambah mudahnya

perhubungan yang melintasi batas negara. Perkembangan golongan ialah timbulnya

berbagai organisasi atau lembaga internasional yang mempunyai eksistensi terlepas

dari negara-negara dan adanya perkembangan yang memberikan kompetensi hukum

kepada para individu. Kedua gejala ini menunjukkan bahwa disamping mulai

terlaksananya suatu masyarakat internasional dalam arti yang benar dan efektif

berdasarkan asas kedaulatan, kemerdekaan dan persamaan derajat antar negara

sehingga dengan demikian terjelma Hukum Internasional sebagai hukum koordinasi,

timbul suatu komplek kaedah yang lebih memperlihatkan ciri-ciri hukum

subordinasi.46

(45)

BAB III

HUBUNGAN DIPLOMATIK ANTAR NEGARA

A. Sejarah Perkembangan Hubungan Diplomatik

Semenjak lahirnya Negara-negara di dunia, semenjak itu pula berkembang

prinsip-prinsip hubungan internasional, hukum internasional dan diplomatik.

Sebagai entitas yang merdeka dan berdaulat, negara-negara saling mengirim

wakilnya ke ibu kota negara lain, merundingkan hal-hal yang merupakan

kepentingan bersama, mengembangkan hubungan, mencegah kesalahpahaman

ataupun menghindari terjadinya sengketa. Perundingan-perundingan ini biasanya

dipimpin oleh seorang utusan yang dinamakan duta besar.

Perwakilan diplomatik tetap, pada mulanya berkembang di city-states Italia

pada abad XV seperti Milan, Venesia, Genoa dan Florence. Bahkan sudah ada di

antara city states tersebut mempunyai resident ambassador di luar Italia. Vanesia

misalnya mulai tahun 1478 telah mempunyai resident ambassador di Prancis.

Demikian juga mulai tahun 1490-an Milan telah mempunyai resident ambassador di

Spanyol dan Inggris. Praktek ini kemudian berkembang di Negara-negara Eropa

pada pertengahan abad ke XVII setelah Treaty of Westphalia pada tahun 1948.47

Pada tahun 1815, diselenggarakan Kongres Wina, dimana raja-raja yang

menjadi peserta bersepakat untuk mengkordifikasikan kebiasaan-kebiasaan tersebut

menjadi sebuah hukum tertulis. Kongres ini kurang berhasil, hanya membuat hukum

kebiasaan yang ada menjadi tertulis, secara substansi tidak banyak berubah. Dalam

beberapa tahun kemudian, sering diadakan upaya-upaya untuk mengkodifikasi

47

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...