• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KESENJANGAN DIGITAL (DIGITAL DIVIDE) TERHADAP INTERNET LITERACY GURU SMA NEGERI DI KOTA BANDARLAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KESENJANGAN DIGITAL (DIGITAL DIVIDE) TERHADAP INTERNET LITERACY GURU SMA NEGERI DI KOTA BANDARLAMPUNG"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

The Discrepancy Influence of Digital Divide Towards Internet

Literacy of Public Senior High School Teacher in Bandarlampung

By Dendi

The aim of this research are : 1. To describe the digital discrepancy (digital divide) towards Public Senior High School in Bandarlampung, 2. To reveal the difference of theacher’s internet literacy differentiation based on the shool digital

discrepancy, demographic aspect and study research. Internet literacy uses Digital Divide theory with four indicators, they are : Motivation, physical and material access, digital skills and uses. 3 samples show different result in different 3 Public Senior High School which have imbalanced result. Digitally, it shows teacher’s internet literacy differentiation in Public Senior High School. Those

imbalanced result show T hitung> T table (66.946 > 1,97) so that Ho is rejected. Independent sample of the test of sample T shows internet literacy differentiation between male and female teacher in Public Senior High School. The independent sample T test result show that T Hitung< T Table (55,977 < 1.6) so that Ho is accepted.

(2)

Abstrak

PENGARUH KESENJANGAN SIGITAL (DIGITAL DIVIDE) TERHADAP INTERNET

LITERACY GURU SMA NEGERI DI KOTA BANDARLAMPUNG

Oleh

Dendi

Tujuan penelitian ini adalah: 1. Menggambarkan kesenjangan digital (digital divide) pada SMA Negeri di Kota Bandarlampung, 2. Mengungkapkan perbedaan literasi internet (internet literacy) guru berdasarkan kesenjangan digital sekolah, aspek demografik dan bidang studi. Literasi

internet menggunakan teori Digital Divide dengan empat indikator yaitu: motivasi, akes fisik dan materi, keterampilan digital dan penggunaan. Hasil uji beda terhadap sampel di tiga SMA Negeri

yang senjang secara digital menunjukan adanya perbedaan literasi internet guru di SMA Negeri

yang senjang secara digital. Hasil uji beda tersebut menunjukan nilai T hitung > T tabel (66.946

> 1,97) maka Ho ditolak. Hasil uji independent sample t test menunjukan adanya perbedaan literasi internet antara guru laki-laki dan guru perempuan di SMA Negeri yang senjang secara

digital. Hasil uji independent sample t test tersebut menunjukan T hitung < T tabel (59.977< 1,65) maka Ho diterima.

(3)
(4)

PENGARUH KESENJANGAN DIGITAL (DIGITAL DIVIDE) TERHADAP INTERNET LITERACY GURU SMA NEGERI DI KOTA

BANDARLAMPUNG

(Skripsi)

Oleh

DENDI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

DAFTAR BAGAN

Bagan

Halaman

1. Hubungan antara Kemahiran ICTLiteracy ... 13 2. Model Kausal dari Sumber dan Kesesuaian Teori ... 24 3. Empat Jenis Kesuksesan dari Kesesuaian Akses Terhadap

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... ii

JUDUL DALAM ... iii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iv

LEMBAR PENGESAHAN ... v

D. Kegunaan Penelitian ... 4

C. Tinjauan Tentang Kesenjangan Digital (Digital Divide) ... 9

1. Pengertian Digital Divide ... 9

E. Tinjauan Tentang Guru ... 22

(7)

1. Motivasi ... 28

2. Akses Fisik dan Materi ... 31

3. Keterampilan Digital ... 33

4. Penggunaan ... 36

G. Kerangka Pikir ... 38

H. Hipotesis ... 40

III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ... 42

B. Metode Penelitian ... 42

C. Definisi Konsep ... 43

D. Definisi Operasional ... 43

E. Populasi dan Sampel ... 44

1. Populasi ... 44

2. Sampel ... 45

F. Teknik Pengumpulan Data ... 47

1. Survey ... 47

I. Teknik Pengujian Instrumen Penelitian ... 49

1. Uji Validitas ... 49

2. Uji Reliabilitas ... 50

J. Teknik Analisis Data ... 51

IV. GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum SMA Negeri di Bandar Lampung ... 53

B. Profil Sekolah Sampel ... 53

1. Profil SMA Negeri 1 Bandar Lampung ... 54

2. Visi dan Misi Sekolah ... 54

3. Daftar Guru SMA Negeri 1 Bandar Lampung ... 55

4. Profil SMA Negeri 13 Bandar Lampung ... 56

5. Visi dan Misi Sekolah ... 56

6. Daftar Guru SMA Negeri 13 Bandar Lampung ... 57

7. Profil SMA Negeri 8 Bandar Lampung ... 57

8. Visi dan Misi Sekolah ... 57

9. Daftar Guru SMA Negeri 8 Bandar Lampung ... 59

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Responden ... 60

(8)

C. Gambaran Karakteristik Responden ... 63

D. Pengujian Data ... 64

E. Uji Validitas ... 65

1. Uji Validitas Variabel Keterampilan TIK (ICT Literacy) dan sikap TIK ... 65

F. Uji Reliabilitas . ... 67

G. Analisis Jawaban Responden . ... 67

1. Keterampilan Guru Menggunakan Program Word ... 67

2. Guru Dapat Mengirim dan Membaca e-mail ... 69

3. Guru Mampu Mengirim dan Menerima Attachment/lampiran e-mail ... 70

4. Guru Mampu Melakukan Browsing………. ... 72

5. Guru Mampu Bernavigasi di Suatu Website Untuk Mendapatkan Informasi……….. ... 73

6. Guru Mampu Melakukan Bookmark Website yang Dianggap Bermanfaat……….. ... 74

7. Guru Familiar Dengan Milis dan Kelompok Diskusi Online…. ... 76

8. Guru Pernah Berpartisipasi dalam Online Chat……… ... 77

9. Guru Selalu Mempergunakan Program Excel untuk Mengolah Hasil Penilaian Terhadap Siswa ... 78

10.Guru Selalu Menggunakan Program Powerpoint untuk Menyampaikan Pembelajaran di Kelas………. ... 80

11.Guru Memperkaya Bahan Pembelajaran dngan Materi yang Relevan yang Dapat Diakses di Internet……… ... 81

12.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Ms Word dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran………. ... 83

13.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Excel dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran…… ... 84

14.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Powerpoint dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran… ... 86

15.Guru Memastikan Siswa Mencari Materi dengan Memanfaatkan Internet untuk Melakukan Tugas Mata Pelajaran… ... 87

16.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Peralatan Audio–Video untuk Melakukan Tugas Mata Pelajaran…. ... 89

17.Siswa Sudah Mampu Membuat Presentasi Tugas dalam Bentuk Multimedia……….. ... 90

H. Pengujian Hipotesis ... 92

1. Hasil Hipotesis ICT Literacy ... 92

2. Hasil Uji Beda Perbedaan ICT Literacy di Tiga SMA Negeri ... 94

3. Hasil Uji Beda ICT Literacy Guru Berdasarkan Jenis Kelamin ... 99

I. Pembahasan Hasil Penelitian….. ... 101

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan…………. ... 106

(9)
(10)

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Dimensi ICTLiteracy ...17

2. Aktifitas menggunakan internet ... 43

3. Ukuran kemantapan Alpha ... 51

4. Daftar Guru SMA Negeri 1 Bandarlampung ... 55

5. Daftar Guru SMA Negeri 13 Bandarlampung ... 57

6. Daftar Guru SMA Negeri 8 Bandarlampung ... 59

7. Jumlah Guru di Tiga SMA yang Diteliti ... 61

8. Responden Penelitian di 3 SMK Negeri di Bandarlampung Berdasarkan Jenis Kelamin ... 63

9. Jumlah Responden 3 SMA Negeri di Bandarlampung Berdasarkan Bidang Studi ... 64

10.Hasil Analisis Validitas Kuesioner untuk Variabel Keterampilan TIK (ICT Literacy) ... 65

11.Hasil Analisis Validitas Kuesioner Untuk Variabel SIkap TIK ... 66

12.Hasil Uji Reliabilitas Variabel Keterampilan TIK (ICT Literacy) ... 67

13.Keterampilan Guru Menggunakan Program Word (Untuk Menulis) ... 68

14.Guru Dapat Mengirim dan Membaca E-mail ... 69

15.Guru Mampu Mengirim dan Menerima Attachment/Lampiran E-mail ... 71

16.Guru Mampu Melakukan Browsing ... 72

17.Guru Mampu Bernavigasi Di Suatu Website Untuk Mendapatkan Informasi ... 73

18.Guru Mampu Melakukan BookmarkWebsite Yang Dianggap Bermanfaat ... 75

19.Guru Familiar Dengan Milis (MailingList) dan Kelompok Diskusi Online ... 76

20.Guru Pernah Berpartisipasi Dalam OnlineChat ... 77

21.Guru Selalu Mempergunakan Program Excel Untuk Mengolah Hasil Penilaian Terhadap Siswa ... 79

22.Guru Selalu Menggunakan Program PowerPoint Untuk Menyampaikan Pembelajaran di Kelas ... 80

23.Guru Memperkaya Bahan Pembelajaran Dengan Materi Yang Relevan Yang Dapat Diakses Di Internet ... 82

24.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan MSWord dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran ... 83

25.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Excel Dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran ... 85

26.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan PowerPoint dalam Melakukan Tugas Mata Pelajaran ... 86

(11)

28.Guru Memastikan Siswa Memanfaatkan Peralatan Audio – Video

untuk Melakukan Tugas Mata Pelajaran ... 89

29.Siswa Sudah Mampu Membuat Presentasi Tugas dalam Bentuk Multimedia ... 91

30.Hasil Uji Beda 3 SMAN Variabel Keterampilan (ICT) ... 92

31.Hasil Uji Beda 3 SMAN Variabel Sikap ... 93

32.Hasil Uji T-Test Variable Keterampilan (ICT) Di SMAN 1 ... 95

33.Hasil Uji Beda Sikap SMAN 1 ... 95

34.Uji T-Test Variable Keterampilan (ICT) Di SMAN 13 ... 96

35.Hasil Uji Beda Sikap di SMAN 13 ... 97

36.Uji T-Test Variable Keterampilan (ICT) di SMAN 8 ... 98

37.Hasil Uji Beda Sikap di SMAN 8 ... 99

38.Hasil Uji Beda ICT Literacy Berdasarkan Jenis Kelamin ... 100

39. ICTLiteracy 3 SMA Negeri di Kota Bandarlampung ... 102

(12)
(13)
(14)

MOTO

Harga kebaikan manusia adalah diukur menurut apa yang telah dilaksanakan diperbuatnya.

( Ali Bin Abi Thalib )

La Tahzan Innallaha Ma'ana "Jangan bersedih, Sesungguhnya ALLAH bersama kita"

Sesuatu yang baik pasti akan selalu dilancarkan dan dipermudah oleh-Nya.

(15)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kupanjatkan kehadirat Allah S.W.T, sholawat dan salam tercurahkan kehadirat Nabi besar Muhammad S.A.W atas segala cinta kasih, nikmat serta berkah-Nya kepadaku dan keluargaku yang hingga saat ini kami masih diberi kesehatan, serta kelancaran dalam menyelesaikan karya ini. Segala puji hanya untuk Allah S.W.T, kupersembahkan karya kecilku ini kepada orang-orang yang kukasihi serta mengasihiku :

 Bapak Wahyono, sosok bapak yang kuat, cerdas dan memiliki semangat hidup untuk memberikan perhatian terhadap anak-anak nya agar menjadi pribadi yang mandiri.

 Ibu Sukatma, ibu yang tidak pernah lelah memberikan semangat, dukungan, dan do’a di setiap sujudnya kepada Sang Maha Pencipta dengan harapan agar anak-anak nya menjadi pribadi yang baik.

 Kakakku tercinta, Yuliana yang selalu tidak ingin melihat adik tercintanya ini jatuh. Terima kasih atas perhatianmu selama ini pula.

 Adikku tersayang, Muhammad Amin yang selalu menjadi rekan tawa, suka duka dan berbagi cerita bersama, you’re the best partner bro.

 Teman-teman, yang menjadi pengisi cerita jalan hidup

selama menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi

Universitas Lampung

Dan

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, 26 Januari 1992 oleh

pasangan Wahyono dan Sukatma.

Penulis menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar

Negeri 3 Sawah Brebes, Kota Bandarlampung pada tahun

2003. Pendidikan menengah diselesaikan di Sekolah

Menengah Pertama Negeri 5 Bandar Lampung pada tahun

2006. Pendidikan menengah atas diselesaikan di Sekolah

Menengah Atas Negeri 12 Bandar lampung pada tahun 2009.

Penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi FISIP Universitas

Lampung pada tahun 2009. Penulis selain beraktivitas pada perkuliahan penulis

juga aktif di organisasi internal kampus pada Lembaga Kemahasiswaan Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebagai:

yaitu sebgai berikut :

1. Anggota Bidang Periklanan HMJ Ilmu Komunikasi Tahun.2010-2011.

2. Anggota Bidang Fotografi HMJ Ilmu Komunikasi Tahun.2011-2012.

Penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Desa Argomulyo,

(17)

SANWACANA

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahi robbil’alamin

Puji syukur penulis panjatkan atas berkah dan rahmat Allah SWT penulis dapat

menyelesaikan skripsi. Penyusunan dan penulisan skripsi ini melihatkan banyak

pihak yang telah membantu baik sumbangan pemikiran, tenaga dan meteriil

sehingga skripsi ini dapat diwujudkan. Pada kesempatan ini disampaikan ucapan

terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada :

1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Teguh Budi Raharjo, M.Si, selaku Ketua Jurusan Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan selaku Dosen

Pembahas atas kesediannya memberikan bimbingan, saran, kritik dan

waktunya yang telah diberikan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Ibu Dra. Ida Nurhaida, M.Si, selaku Ketua Penguji serta Pembimbing

Utama atas kesediannya memberikan bimbingan, saran, kritik dan

(18)

4. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitasl

Lampung tang telah tulus ikhlas memberikan ilmu dan pengetahuan

kepada penulis.

5. Bapak dan Ibu di Rumah yang do’a nya selalu dipanjatkan kepada Allah SWT tanpa henti hingga saat ini.

6. Kepala SMA Negeri 1 Bandar Lampung, Kepala SMA Negeri 13 Bandar

Lampung dan Kepala SMA Negeri 8 Bandar Lampung yang telah

memberikan kesempatan penulis untuk melakukan penelitian.

7. Rekan terbaik sepanjang masa, Andri, Bang Edo, Reni, Vhiontie, Isya,

Rahma (Dudu), Rofi, Ayu Lukita, Orintia, Mas Royyan, Ekotriani, Adit,

Sisca Lady.

8. Dua kakak tingkat yang paling saya sayangi, Nadya Amalia Nst, S.I,Kom,

M.Si dan teteh Anggun Tiata Savitri, S.I.Kom dua kakak yang selalu

memotivasi agar segera menyusul menjadi sarjana.

9. Keluarga Ilmu Komunikasi 2009 : Abang Rian Oktora Prihandoko, abang

Ferdian Satria, abang Reza Christian, abang Ikol gendut dan mas Fendi

Yulianto, emak Poppy, Veni Venong, Desisonia, Aya, Mia, Ainun, yuk

Nia, Puri ecek, Febria, ayuk Susan, mbak Mar, bang Radhit, Agus, Gilang

mangoh, Stella, Uti, cik Rica, ami Wulan, Agesh Nurdiyah Agung, Lola,

Mei, Cia, Ije, Tojo, abang Anju, Iqbal, Riyan, Verina, Marissa, Betty,

Oted, Yuris, Dwita, Uti, Cesa, Panji, Farah, Aan, Tanjul, Aristina,

Chyntia, Dias, Pakde Khairil Anwar, Nces Rani, Ricky, Dias, Fuad, Anda,

(19)

Anyadan teman – teman lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

10.Teman-teman Komunikasi 2010, Dewi, Rina, Eka, Deka, Jerry, Dwi,

Hesty Bang Sigit, Imam, Mas Dio, Sumi, Aji, Elmie Ata, Adi, Umar, Sri

(yie), Esy dan yang lainnya yang yang tidak dapat saya sebutkan satu

persatu.

11.Seluruh Teman-teman Komunikasi 2011, 2012, dan 2013 Sigit, Yoga,

Arta, Bayu, Hana, Hamham, Amoy, Amy, imel, Alip, Ciwing, Mas Arya,

Ayu, Ade, Hesti Husnul, Mifta, Prita, Yessi, Anisa, dek Eci, Emon, Emil,

Shyntia, Dendy, Riski, Aulia dan yang lainnya yang yang tidak dapat saya

sebutkan satu persatu.

12.Rekan – rekan KKN Tematik Unila periode Januari – Februari 2012 Desa Argomulyo, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan. Septi, Ratu, Mbak

Verina, Mbak Ayu, Ibe, Ihsan, Bang Edi, Mas Dwi dan Mas Mahasin .

13.Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan

bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandarlampung, 10 Oktober 2014

(20)
(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan Indeks Pembangunan Manusia 2013 yang dikeluarkan badan PBB

untuk program pembangunan, UNDP, baru-baru ini memperlihatkan bahwa

Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang kuat dalam setiap indikator

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam 40 tahun terakhir. Nilai IPM

Indonesia pada 2012 meningkat menjadi 0,629, menjadikannya naik tiga

posisi ke peringkat 121 dari peringkat 124 pada 2011 (0,624), dari 187 negara.

Menduduki peringkat yang sama dengan Indonesia adalah Afrika Selatan dan

Kiribati. (http://m.voaindonesia.com/a/1624179.html)

Peringkat Indonesia masih jauh di bawah beberapa negara anggota ASEAN,

termasuk Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand dan Filipina.

Singapura memiliki IPM tertinggi di antara negara-negara ASEAN dengan

0,895 dan peringkat 18 di seluruh dunia. Brunei memiliki IPM 0,855 dan

berada di peringkat 30, sementara Malaysia memiliki IPM 0,769 dengan

peringkat 64. Thailand dan Filipina masing-masing ada di peringkat 103 dan

114, dengan IPM 0,690 dan 0,654. Negara ASEAN lain seperti Vietnam, Laos

(22)

2

(http://news.detik.com/read/2013/03/19/140516/2197893/10/undp-indeks-pembangunan-manusia-ri-naik-ranking-sama-dengan-afsel)

Dalam rangka mengejar ketertinggalan tersebut dan meningkatkan daya saing,

Departemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Depdikbud) telah

memprogramkan implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

dalam sistem pendidikan karena TIK dinilai dapat berfungsi sebagai sumber,

sarana belajar, cara berkomunikasi yang efisien dan jika dikelola secara

bijaksana, TIK dapat dimanfaatkan untuk mengurangi disparitas pendidikan,

yang pada hakekatnya memang selalu ada seperti perbedaan letak geografis,

kekurangan guru baik dari segi jumlah maupun kualitasnya perbedaan tingkat

sosial, ekonomi dan sejumlah barrier lainnya (Nurhaida dkk, 2001).

Penemuan dunia internet menambah kekayaan media untuk mempercepat

ketersediaan dan pertukaran informasi di seluruh dunia. banyak manfaat yang

diperoleh dengan diterapkannya teknologi informasi, awa mula TI diprakarsai

dengan kehadiran komputer, hampir setiap instansi maupun orang saat ini

menggunakan komputer, Hal inilah yang menjadi sebab penggunaan dan

penerapan teknologi komputer di suatu instansi (Penerbit Kanisius, 2008:14).

Sekolah termasuk salah satu instansi di bidang pendidikan yang menerapkan

teknologi dalam kegiatannya.

Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap

muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru

(23)

3

Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas

dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan

menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah

berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya,

yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah

lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan

informasi khususnya internet (Muhammad, 2006).

Demikian juga di Kota Bandarlampung yang memiliki 17 SMA Negeri,

sejalan dengan kebijakan nasional telah menerapkan TIK dalam kurikulum

dan mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar, namun dalam

pelaksanaannya sangat beragam, ada sekolah telah memiliki laboratorium dan

terkoneksi ke internet dan mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar,

ada laboratorium tapi tidak terkoneksi bahkan tidak memiliki laboratorium.

Padahal agar terampil dalam literasi TIK, khususnya internet harus tersedia

sarana dan prasarananya, maka diduga terdapat beragam kesiapan guru dalam

mengimplementasikan TIK dalam pengajarannya, termasuk di dalamnya

adalah keragaman dalam literasi internet atau internet literacy. Namun sampai saat ini mengukur kesiapan guru mengimplementasikan TIK dengan

mengungkapkan literasi internetnya belum pernah dilakukan di Kota

(24)

4

B. Rumusan Masalah

Atas latar belakang yang diuraikan di atas, permasalahan yang akan

diungkapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah Kesenjangan Digital pada SMA Negeri di Kota

Bandarlampung?

2. Apakah ada perbedaan tingkat literasi internet Guru berdasarkan

kesenjangan digital sekolah, faktor demografik dan bidang studi?

C. Tujuan Penelitian

1. Menggambarkan kesenjangan digital (Digital Divide) pada SMA Negeri di Kota Bandarlampung.

3. Mengungkapkan perbedaan literasi internet (Internet Literacy) guru berdasarkan kesenjangan digital sekolah, aspek demografik dan bidang

studi.

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini yaitu :

1. Secara teoritis

Secara teoritis penemuan penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan

ilmu komunikasi di bidang Komunikasi Pembangunan, khususnya

(25)

5

2. Secara praktis

Secara praktis penemuan penelitian literasi internet Guru SMA Negeri ini

diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemegang kebijakan dalam

merancang trategi mentransformasi pendidikan modern melalui e-education yaitu bagi Kementrian Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Propinsi dan khususnya Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Internet

Internet merupakan singkatan dari Interconnection Networking. Internet ialah merupakan hubungan antara berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia

yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya dimana hubungan tersebut

memanfaatkan kemajuan komunikasi (telepon dan satelit) yang menggunakan

protokol standar dalam berkomunikasi yaitu protokol TCP/IP (Transmission Control/Internet Protocol) (Supriyanto: 2008).

Model koneksi internet itu sendiri dapat dilakukan pada komputer pribadi

maupun jaringan LAN/WAN. LAN (Local Area Network) merupakan suatu jaringan yang terbentuk dengan menghubungkan beberapa komputer yang

berdekatan yang berada pada suatu ruang atau gedung yang terkoneksi ke

internet gateway (Nugroho Adi: 2008).

B. Fasilitas Internet

Satu hal yang paling menarik ialah keanggotaan internet tidak mengenal batas

negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor-faktor lain yang biasanya

menghambat pertukaran pikiran. Internet adalah suatu komunitas dunia yang

(27)

7

anggotanya. Manfaat internet terutama diperoleh melalui kerjasama antar

pribadi ataupun kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu (Penerbit

Kanisius 2008:62). Berikut ini beberapa fasilitas terpenting yang disediakan di

Internet, antara lain :

1. Electronic Mail atau E-mail

E-mail adalah surat atau pesan elektronik yang dikirimkan dan diterima oleh dan antar individu atau komputer. E-mail bekerja seperti mesin penjawab telpon, walaupun kita tidak sedang online dengan internet kita masih bisa menerima e-mail dari seluruh penjuru dunia.

Saat ini, e-mail tidak hanya berisi teks saja tetapi sudah bisa dilampiri dengan grafik, gambar foto dan juga suara bahkan animasi. e-mail juga dapat digunakan untuk berkirim surat secara langsung kepada beberapa

orang sekaligus. Berkirim dan menerima e-mail, saat ini sudah menjadi hal yang umum dilakukan orang di internet. Kita bisa berkomunikasi dengan

siapa saja di seluruh dunia dengan fasilitas e-mail ini, asalkan sudah memiliki alamat e-mail tertentu.

contoh alamat E-mail : [email protected], [email protected]

2. Discussion Group

Biasanya kita gunakan e-mail untuk orang-orang yang sudah kita kenal dengan baik, akan tetapi kita juga dapat gunakan e-mail untuk saling bertukar informasi, berdiskusi dan berdialog dengan orang lain. Kita

dapat berpartisipasi dalam diskusi dan debat dengan topik yang beragam

mulai dari hobi sampai pada permasalahan komputer atau malah masalah

hiburan dan artis.

3. Maling List

Mailing List atau sering disebut milis di kalangan neter Indonesia, adalah

(28)

8

berkomunikasi dengan mengirimkan e-mail pada list address. Setiap e -mail yang masuk kemudian akan dikirim balik ke setiap member milis tersebut. Untuk menjadi member sebuah milis dimulai dengan mengirim e-mail ke subsription address. Setelah menjadi member kita bisa menerima

e-mail dari yang lain dan juga mengirimkan e-mail ke milis. Contoh

Newsgroups adalah juga salah satu discussion groups yang ada di internet. Tidak seperti milis, newsgroups menggunakan komputer jaringan khusus

yang disebut sebagai UseNet. Setiap komputer terdapat beberapa

newsgroup. Setiap newsgroups diatur berdasarkan satu topik general yang kemudian dibagi menjai beberapa subtopik dibawahnya. contoh

newsgroup : rec.arts.cinema rec adalah topik utama, arts adalah subtopik dan cinema sub-subtopik.

5. FTP

FTP atau File Transfer Protocol, adalah layanan internet untuk

melakukan transfer file antara komputer kita dengan server di internet.

Cukup banyak server di internet yang menyediakan layanan ini sehingga

kita bisa mengkopi file-file di server ke komputer kita, hal ini yang

disebut download. Selain itu kita juga bisa mengkopi file-file di komputer kita ke server di internet, hal ini disebut dengan upload.

6. Telnet

Beberapa server di internet memperbolehkan kita untuk mengaksesnya

dan menjalankan beberapa program yang diinstal pada komputer itu.

(29)

9

kalau kita melakukannya pada komputer di jaringan lokal.

Contohnya : spacelink.msfc.nasa.gov, adalah layanan telnet gratis dari NASA tentang sejarah dan seluk beluk NASA.

7. Gopher

Gopher adalah aplikasi perangkat lunak yang tesusun atas untaian

menu sistem pencarian dan penemuan kembali. Situs Gopher adalah

komputer yang menampilkan menu-menu yang mewakili data dan

informasi yang tersedia. Secara mendasar, menu-menu ini adalah daftar isi

untuk mengolah dan menunjuk ke sebuah informasi tertentu. Layanan ini

menggunakan FTP untuk pertukaran file dan Telnet untuk koneksi dengan

server tertentu.

8. World Wide Web

WWW adalah layanan internet yang paling banyak dikenal orang dan

paling cepat perkembangan teknologinya. Layanan ini menggunakan link hypertext yang disebut hyperlink untuk merujuk dan mengambil halaman-halaman web dari server. Halaman web dapat berisi suara, gambar, animasi, teks, dan program perangkat lunak yang menyusunnya menjadi

dokumen yang dinamis. Pengguna dapat melihat World Wide Web dari sebuah browser yaitu program yang dapat menampilkan HTML (skrip halaman web).

C. Tinjauan Kesenjangan Digital (Digital divide)

1. Pengertian Digital Divide

Salah satu bentuk ancaman bagi negara berkembang seperti Indonesia

untuk dapat bersaing di alam globalisasi adalah adanya fenomena

(30)

10

melalui infrastruktur teknologi informasi dengan mereka yang sama sekali

tidak terjangkau oleh teknologi tersebut (Hayslett-Keck: 2001).

Berdasarkan OECD tahun 2001, kesenjangan digital didefinisikan sebagai

berikut "....the gap between individuals, households, businesses and geographic areas at different socio-economic levels with regard both to their opportunities to access information and communication technologies (ITs) and to their use of the Internet for a wide variety of activities".

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu kesenjangan digital

terjadi antara tingkat individu, rumah tangga, bisnis, dan area geografi

yang tingkat sosial ekonominya berbeda, berdasarkan kesempatan mereka

untuk mengakses teknologi informasi dan komunikasi.

Kesenjangan digital membahas mengenai kesenjangan antara individu

yang memiliki akses dan yang mampu menggunakan teknologi

komunikasi dan komputer secara efektif dengan individu yang tidak

mampu serta tidak memiliki akses. Mengurangi kesenjangan digital berarti

membahas mengenai pengaksesan internet dan sumber dayanya,

penggunaan teknologi telekomunikasi dan komputer untuk bekerja,

berkomunikasi, mencari informasi, membuat dan membentuk pengetahuan

yang berfungsi efektif, dan pada akhirnya menciptakan sebuah komunitas

(31)

11

2. Aspek Digital Divide

Dalam kesenjangan digital, terdapat tiga aspek utama yang saling

berhubungan dan merupakan fokus yang perlu diperhatikan (Chamacho:

2005), yaitu:

A.Akses/ infrastruktur (access/ infrastructure) adalah perbedaan kemampuan antar individu dalam perolehan akses atau infrastruktur

TIK yang menyebabkan perbedaan distribusi informasi.

B.Kemampuan (skill & training) adalah perbedaan kemampuan antar individu dalam memanfaatkan atau menggunakan akses dan

infrastruktur yang telah diperoleh. Selanjutnya adalah perbedaan antar

individu dalam upaya pencapaian kemampuan TIK yang dibutuhkan

untuk dapat memanfaatkan akses dan infrastruktur TIK.

C.Isi informasi (content/ resource): Perbedaan antar individu dalam memanfaatkan informasi yang tersedia setelah seseorang dapat

mengakses dan menggunakan teknologi tersebut sesuai dengan

kebutuhannya.

D. Tinjauan ICT Literacy

1. Konsep ICT Literacy

ICT Literacy berawal dari abad ke-21 bentuk dari literasi, dimana penelitian dan komunikasi informasi melalui teknologi digital adalah

bagian penting pada abad-abad sebelumnya (Katz, 2008 : 50). Pada tahun

(32)

12

dunia pendidikan untuk semua orang di seluruh dunia). Mengadakan

sebuah forum internasional yang terdiri dari akademisi, spesialis

pengembangan dan ahli bidang komunikasi dan ahli bidang

telekomunikasi perwakilan pemerintah dan swasta mempelajarim

pentingnya ICT (Pernia, 2008 : 11).

Wijaya dan Sunrendo (2007:2) menjelaskan konsep ICT Literacy terdiri

dari konsep ’ICT’ dan ’Literacy’ lebih lanjut menjelaskan bahwa ICT Literacy merupakan jembatan antara literasi teknis dan melek informasi. Dalam melek teknis, satu pelajaran keterampilan dasar dalam database, mengolah kata dan presentasi data, sedangkan melek informasi adalah

akses, evaluasi dan penggunaan informasi dengan menggunakan teknologi.

Hal ini untuk mendukung pernyataan forum literasi internasional bahwa

konsep ICT Literacy melibatkan tiga kemahiran yang diuraikan dalam (ETS, 2002 : 14), antara lain :

a) kemampuan kognitif kehidupan sehari-hari di sekolah, di rumah dan

di tempat kerja. Literasi, berhitung, memecahan masalah dan melek

spasial/visual mendemonstrasikan kemahiran.

b) Kemampuan teknis, yang meliputi komponen dasar pengetahuan

dasar. Ini mencakup pengetahuan dasar perangkat keras, aplikasi

perangkat lunak, jaringan dan unsur-unsur teknologi digital.

(33)

13

kemampuan teknologi. Pada tingkat tertinggi, hasil kemahiran ICT

dalam inovasi, transformasi individual dan perubahan sosial.

Bagan 1 Hubungan antara Kemahiran ICT Literacy

Sumber: ETS (2002 : 16) Kemahiran Kognitif

 Diinginkan keterampilan dasar sehari-hari di sekolah, di rumah dan di tempat kerja.

 Memahami fitur ICT seperti SMS, Telepon, database, penyimpan informasi, web browsing, e-mail.

 Akrab dengan fitur ICT.

Teknis Kemahiran

 Menggunakan kata kunci di mesin pencari.

 Menggunakan situs untuk pembelajaran.

 Menulis, mengirim dan membalas e-mail.  Diskusi di mailing list.  Mengolah angka basis data

dan grafik.

Kemahiran ICT

 Integrasi dan penerapan keterampilan kognitif dan teknis.

 Dipandang sebagai enabler yang memungkinkan individu untuk memaksimalkan kemampuan teknologi. Pada tingkat tertinggi, kemahira ICT menghasilkan inovasi, transformasi individu dan perubahan social.

(34)

14

Sebagaimana ditunjukkan pada bagan di atas, ICT mencakup kemampuan kognitif dan kemahiran teknis. Kemahiran kognitif dan teknis merupakan

kedua komponen yang penting dari ICT Literacy, masing-masing mewakili domain independen dimana pengetahuan dan ketrampilan

berinteraksi terkait untuk memengaruhi ICT Literacy. Keterampilan ini meliputi keaksaraan umum kognitif, seperti membaca dan berhitung serta

pemikiran kritis dan pemecahan masalah. Tanpa keterampilan tersebut,

forum internasional percaya bahwa benar ICTLiteracy tidak dapat dicapai. Sementara ICT dengan kapasitas besar untuk hadir, akses dan mengelola informasi yang baik, harus ada keseimbangan antara kebutuhan untuk

keterampilan kognitif, literasi dan pengetahuan dan teknologi dapat

tercapai dengan sendirinya (ETS, 2002:5).

Menurut ETS (2002:5), forum literasi internasional melihat ICT Literacy

sebagai rangkaian kesatuan keterampilan dan penguasaan skill dan pengetahuan, ICT literacy didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan teknologi digital, alat komunikasi dan jaringan untuk

mengakses, mengelola, mengintegrasikan, mengevaluasi, dan menciptakan

informasi dalam rangka untuk kegunaan dalam suatu masyarakat

pengetahuan (ibid, 2002 :3-13). Definisi forum mencerminkan gagasan

ICT Literacy sebagai kesatuan yang memungkinkan oengukuran berbagai aspek melek huruf, dari kehidupan sehari-hari keterampilan untuk menfaat

(35)

15

dijadikan urutan yang menunjukkan peningkatan kompleksitas kognitif

sebagai ICT akses, manajemen, integrasi, evaluasi dan penciptaan. Pernia (2008:12) menegaskan bahwa kemahiran ICT didefinisikan oleh ETS gaung meningkatnya kompleksitas kemampuan termasuk :

a) Menetapkan : Menggunakan alat ICT untuk mengidentifikasikan dan merupakan kebutuhan informasi.

b) Akses : Mengetahui tentang dan bagaimana mengumpulkan dan / atau

mengambil informasi dalam lingkungan digital, juga kemampuan

untuk mengembangkan mesin pencari untuk menemukan informasi

dalam database.

c) Mengelola: Mengorganisir informasi ke dalam skema klasifikasi yang

ada.

d) Evaluasi: Mencerminkan untuk membuat penilaian tentang, relevansi,

kegunaan. efisiensi, bias otoritas dan waktu informasi.

e) Mengintegrasikan : Interpreting, meringkas, menarik kesimpulan, membandingkan kontras informasi dari berbagai sumber digital.

f) Membuat : Membangkitkan informasi baru dan pengetahuan dengn

mengadaptasi, menerapkan, merancang, menciptakan atau mewakili

informasi dalam lingkungan ICT.

g) Berkomunikasi : Penyampaian informasi dan pengetahuan kepada

berbagai individu dan kelompok.

(36)

16

ICT, tingkat pengetahuan ICT dan penerapan ICT dalam fungsi kepemimpinan sekolah.

Menurut Murray (2005:3), ICT Literacy akses, manajemen, integrasi, evaluasi, penciptaan dan komunikasi pengetahuan ICT untuk orang lain. Oleh karena itu istilah ICT berarti perangkat keras, aplikasi perangkat lunak dan teknologi jaringan. Amara (2006:4) laporan dari survey bahwa

ICT bukan kemampuan keterampilan mengajar ICT atau menggunakannya dalam mengajar subjek, tetapi tes keterampilan ICT memastkan bahwa salah satu jalan di komputer, desktop dan berbagai aplikasi ICT yang umum. Namun, saat ini belum ada definisi yang biasanya diangkat dari

ICT Literacy (Venhoof et al.(2005:5). Untuk tujuan studi ini, hanya beberapa hardware umum dan Software aplikasi karena mereka dianggap relevan sebagai prasyarat ICTLiteracy untuk sekolah administrasi tujuan.

2. Dimensi ICT Literacy

Ada beberapa dimensi ICT Literacy seperti gerakan satu dimensi ke berikutnya merupakan peningkatan atau perbaikan dalam ICT

menghubungkan kemahiran atau komptensi (Pernia, 2008:13), ini

(37)

17

Tabel 1. Dimensi ICT Literacy

Dimensi Konseptual label Deskripsi

Akses telepon, database, penyimpanan informasi, web

browsing dan e-mail. Akrab dengan fitur ICT

Menggunakan fitur aplikasi ICT :

Ponsel, kamera, video recorder dan

player, perekam suara, pemutar musik,

layanan multimedia, pengolah kata dan

angka.

Kemampuan mengakses dan mencari

sebuah website , misal log on, mesin pencari, kata kunci.

Mampu membuat account , menulis e-mail, pasang dan download file, diskusi di jejaring sosial.

Mampu membuat database, mengatur, menyimpan dan menyaring data yang

(38)

18

Lanjutan Tabel 1. Dimensi ICT Literacy

Kemampuan mengkonvensi data ke dalam

grafis atau format visual lainnya.

Mampu membuat akun pengguna,

penyimpanan file pribadi, forum, e-mail

dan diskusi.

Sikap Kritis Memahami

Keterampilan

Terjadi perubahan teknologi di sekolah

tersebut.

Frekuensi penggunaan ICT berdampak padaprestasi akademik siswa.

Alat untuk penelitian, mengatur,

mengevaluasi dan mengkomunikasikan

informasi.

Tingkat penggunaan ICT konsisten dengan tingkat perkembangan ekonomi.

Sumber : Pernia, 2008:13

Dalam lingkup penelitian ini , ICT Literacy membedakan antara tiga dimensi utama: satu berhubungan dengan akses ke fasilitas ICT dan pengetahuan teknologi, yang kedua untuk keterampilan yang relevan untuk

menggunakan teknologi, dan yang ketiga untuk sikap diperolehdari

(39)

19

3. Akses ICT

Pernia (2008:14) melaporkan bahwa dimensi akses dari ICT adalah karakteristik oleh kesadaran pengguna ICT dan ketersediaan relevansi ini

ICT dikeduanya kehidupan pribadi dan profesional. Akses ke konten digital termasuk akan pengguna, penyimpanan file pribadi dan alat

komunikasi seperti forum e-mail dan diskusi (ibid:9). Demikian pula penelitian ini mempertimbangkan perangkat keras (Hardware) seperti infrastruktur listrik, komputer, printer, scanner, internet/e-mail

infrastruktur, telepon sekolah, digital/kamera video, mesin fax, mesin

photo copy, kamera pengintai, proyektor dan perangkat lunak (Software) seperti pengolahan kata, pengolahan angka, database, powerpoint, internet/e-mail.

4. Pengetahuan ICT

Pengetahuan dalam ICT termasuk satu pelatihan menerima untuk menggunakan fasilitas yang tersedia ICT (Chemwa & Mburu, 2007:1).

ICT literacy memerlukan pelatihan formal atau informal dalam keterampilan dasar seperti penggunaan perangkat keras dan perangkat

lunak aplikasi (Ferrigan, 2007:20). Dia menguraikan kompetensi kunci ya

ng dapat diharapkan dari individu yang telah menyelesaikan kursus dasar

pada ICT sebagai berikut:

a) Keakraban dengan hardware seperti ponsel, komputer, internet dan

ICT lainnya.

(40)

20

c) Apresiasi fungsi aktual dan potensial dari teknologi dalam kehidupan

sehari-hari.

d) Memahami fitur dasar dan penggunaan ICT (misalnya panggilan suara dan SMS, komputer, pengolah kata, pengolah angka, database, penyimpanan informasi, internet, web browsing, e-mail).

Dalam penelitian dimensi pengetahuan dianggap menyelidiki kemampuan

guru untuk menggunakan fasilitas ICT dalam tugas-tugas kepemimpinan tertentu dan frekuensi penggunaan fasilitas ICT. Kemampuan untuk menggunakan fasilitas ICT melibatkan dimensi keterampilan guru dan sering hasil dari pengalaman dengan teknologi (Amara, 2006:4).

Kemampuan ”untuk mengambil, menilai, menyimpan, memproduksi,

hadir dan saling bertukar informasi dan untuk berkomunikasi dan

berpartisipasi dalam jaringan melalui internet” adalah keunggulan dari

seorang individu yang melek ICT (Pernia, 2008:14). Teknis pelatihan keterampilan memstikan bahwa seseorang individu adalah ahli dalam

berbagai aplikasi ICT, yang meliputi pencarian sebuah informasi, mengakses, mengumpulkan data, pengorganisasian, menginterpretasikan

informasi dari berbagai sumber, menilai validitas dan keandalan informasi

dan menghasilkan informasi baru (ibid : 15-16). Dia menambahkan bahwa

keterampilan teknis tersebut meliputi :

a) Kemampuan untuk menggunakan fitur dan aplikasi ponsel, kamera,

video recorder dan player, perekam suara, pemutar musik, layanan

(41)

21

inframerah, bluetooth dan konektivitas internet. Untuk komputer, pengolahan kata, spreadsheet, database, penyimpanan informasi untuk internet, web browsing, e-mail, dan pesan instan.

b) Kemampuan untuk mengakses dan mencari sebuah website misalnya,

log on ke internet, menggunakan mesin pencari dan memperbaiki

pencarian dengan menggunakan kata kunci.

c) Kemampuan untuk menggunakan layanan berbasis internet dengan

mampu membuat account, menulis e-mail, pasangan dan download file, berpartisipasi dalam diskusi untuk situs jaringan sosial dan membuat blog.

d) Kemampuan untuk mengumpulkan dan memproses data elektronik

untuk segera digunakan atau mampu membuat database, mengatur,

menyimpan dan menyaring data yang tidak relevan.

e) Kemampuan untuk mengkonversi data ke dalam presentasi grafis dan

format visual lainnya.

f) Menggunakan ICT untuk mendukung pemikiran kreatif, kritik dan inovasi untuk pendidikan, tujuan kerja dan rekreasi. Sebagian contoh,

mampu membuat sebagian besar informasi multi-media dan website.

g) Frekuensi pengguanaan perangkat keras dan perangkat lunak ICT. h) Pengalaman dengan fasilitas ICT.

5. Aplikasi ICT

(42)

22

mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi. Amara (2006:4), di sisi

lain, melihat penggunaan komputer sebagaimana guru menggunakan ICT

untuk mengajar dan itu termasuk penggunan proyektor untuk mengajar

dan penggunaan ponsel. Pernia (2008:4) mencatat bahwa tidak

mengherankan, tingkat penggunaan ICT umumnya konsisten dengan tingkat perkembangan ekonomi. Dia menambahkan bahwa integrasi ICT

juga melibatkan aplikasi yang sebenarnya dari ICTdalam pekerjaan administratif dan itu berarti komputer dan teknologi internet untuk

menigkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran. ICT dasar keterampilan untuuk administrator sekolah, guru dan siswa harus

mencakup manajemen file, pengolahan kata, lembar kera, e-mail dan keterampilan internet (Selwood et al, 2003:54). Aplikasi ICT terus meningkat dan memperdalam membaca kritis penggun informasi dan

pengetahuan yang diakses, dikelola, terpadu, menciptakan dan komunikasi

melalui ICT (Pernia, 2008:15).

E. Tinjauan Guru

Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:288). Sedangkan pamong mempunyai arti pendidik atas pengasuh (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1976:700). Dan guru dapat definisi adalah orang yang perkerjaan, mata pencaharian atau profesinya

mengajar. Guru merupakan sosok yang mengemban tugas mengajar, mendidik

dan membimbing. Jika ketiga sifat tersebut tidak melekat pada seorang guru,

(43)

23

Menurut Suparlan (2008: 12), guru dapat diartikan sebagai orang yang

tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua

aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek

lainnya. Namun, Suparlan (2008:13) juga menambahkan bahwa secara legal

formal, guru adalah seseorang yang memperoleh surat keputusan (SK), baik

dari pemerintah maupun pihak swasta untuk mengajar.

F. Landasan Teori

Di dalam bukunya The Deepening Divide .Van Dijk telah mengembangkan teori berdasarkan hal ini tampilan relasional ketidaksetaraan. Ia menyebutnya

sumber daya dan perampasan teori difusi, penerimaan dan adopsi teknologi

baru. Berikut empat adalah konsep inti dari teori ini:

1. Sejumlah ketidaksetaraan kategori pribadi dan posisi dalam masyarakat

2. distribusi sumber daya yang relevan dengan jenis ketidaksetaraan

3. Sejumlah jenis akses terhadap TIK

4. Sejumlah bidang partisipasi dalam masyarakat

1 dan 2 dianggap penyebab, dan 3 adalah fenomena yang akan dijelaskan,

bersama-sama dengan 4, konsekuensi potensial dari seluruh proses. Menjadi

bagian dari sebuah proses, kembali pada 1 dan 2, karena lebih atau kurang

partisipasi dalam beberapa bidang masyarakat akan berubah hubungan

ketidaksetaraan kategoris dan distribusi sumber daya dalam masyarakat.

Akhirnya, negara kelima urusan menentukan jenis ketidaksetaraan harus

(44)

24

informasi dan komunikasi teknologi. Dengan cara ini, model dinamis dapat

ditarik yang membentuk representasi teori ini. Lihat Bagan 2.

Bagan 2. Model Kausal dari Sumber dan Kesesuaian Teori

Argumen inti dapat diringkas dalam pernyataan berikut :

1. Ketidaksetaraan kategoris dalam masyarakat menghasilkan distribusi yang

tidak merata sumber daya.

2. Ketimpangan distribusi sumber daya menyebabkan akses terhadap digital

teknologi.

3. Akses yang tidak merata ke teknologi digital juga tergantung pada

karakteristik

teknologi ini.

4. Akses yang tidak merata ke teknologi digital membawa tentang partisipasi

tidak merata di masyarakat.

5. Partisipasi tidak merata dalam masyarakat memperkuat ketidaksetaraan

(45)

25

Berikut kesenjangan kategoris pribadi dapat sering ditemukan pada pembagian

penelitian digital :

 Usia (muda / tua)

 Jenis kelamin (pria / wanita)

 Ras / etnis (mayoritas / minoritas)

Intelligence (tinggi / rendah)

 Kepribadian (ekstrovert / pendiam, percaya diri / tidak percaya diri)

 Kesehatan (aktif / dinonaktifkan).

Hal yang sama berlaku untuk ketidaksetaraan kategori posisi berikut:

 Posisi Buruh (pengusaha / pekerja, manajemen / karyawan; dipekerjakan / pengangguran)

 Pendidikan (tinggi / rendah)

 Rumah Tangga (keluarga / pribadi)

 Bangsa (dikembangkan / berkembang)

Dalam pengamatan empiris yang paling pertama dari kategori-kategori

relasional memiliki akses lebih dari yang kedua. Sumber-sumber berikut

sering mencari dalam penelitian kesenjangan digital, kadang-kadang di bawah

label lain seperti modal ekonomi, sosial dan budaya:

 Temporal (memiliki waktu untuk menggunakan media digital)

 Material (kepemilikan dan pendapatan)

(46)

26

 Sosial (memiliki jaringan sosial untuk membantu dalam menggunakan media digital)

 Budaya (status dan menyukai berada di dunia media digital)

Bagian inti dari model ini adalah sejumlah jenis akses berturut-turut. Di sini

Konsep akses multi-tasking halus dan dipahami sebagai proses total perampasan teknologi baru. Hal ini ikut bertanggung jawab atas nama teori

tentang sumber daya dan teori apropriasi. Untuk yang sesuai teknologi baru

yang harus pertama termotivasi untuk menggunakannya. Ketika motivasi yang

cukup dikembangkan satu harus dapat memperoleh akses fisik ke komputer,

internet atau media digital lainnya. Selain itu, salah satu kebutuhan sumber

daya materi untuk tetap menggunakan teknologi yang terdiri peralatan

peripheral, perangkat lunak, tinta, kertas, langganan, dan sebagainya. memiliki fisik dan akses materi tidak secara otomatis menyebabkan

perampasan teknologi sebagai yang pertama harus mengembangkan beberapa

keterampilan untuk menggunakan media yang bersangkutan. Semakin ini

keterampilan mengembangkan penggunaan yang lebih tepat dapat dibuat dari

teknologi di beberapa aplikasi. Penggunaan antara masalah lain frekuensi

penggunaan dan jumlah dan keragaman aplikasi. Proses ini digambarkan pada

bagan ini adalah kerangka kerja untuk eksposisi panjang relatif dari bagian

(47)

27

Bagan 3. Empat Jenis Kesuksesan dari Kesesuaian Akses Terhadap

Teknologi Digital

Karakteristik ICT sebagai teknologi merupakan faktor ke samping pada bagan

2, Ketika teknologi berpengalaman menjadi kompleks, mahal, multimedia dan

sehingga menimbulkan masalah aksesibilitas dan kegunaan ini akan

meningkatkan masalah akses di umum. Perangkat komputer memang tidak

sama dengan, misalnya, televisi. dalam dekade pertama keberadaan ICT

karakteristik yang disebutkan tersebar luas di pasokan teknologi ini. Dalam

dekade terbaru kemajuan telah dibuat dalam membuat perangkat keras dan

perangkat lunak yang bersangkutan lebih mudah diakses dan dapat digunakan

untuk bagian yang lebih besar dari populasi. Penuh pengertian, ini telah

mengurangi kesenjangan digital dalam keterampilan dan penggunaan.

Faktor terakhir dalam bagan 2 adalah wilayah atau perhatian dari kesenjangan

digital. Konsekuensi akses yang tidak sama dari semua jenis lebih atau kurang

partisipasi di beberapa bidang masyarakat: ekonomi (seperti pekerjaan),

(misalnya kontak sosial) sosial, politik (voting dan jenis lain dari partisipasi

politik), budaya (berpartisipasi dalam Budaya cyber), spasial (mampu menjalani kehidupan mobile) dan kelembagaan (mewujudkan hak-hak kewarganegaraan). Bagian berikut menyajikan hasil utama sejauh penelitian

(48)

28

empiris Berikut empat jenis akses dibedakan. Sebagian hasil yang disajikan

berasal dari Belanda di mana penulis bab ini mampu menguji teorinya dalam

besar jumlah survei dan tes unjuk kebolehan.

1. Motivasi

Sebelum akses fisik datang keinginan untuk memiliki komputer dan

terhubung ke Internet. Banyak dari mereka yang tetap di sisi 'salah'

dari kesenjangan digital memiliki masalah motivasi. Tampaknya ada

tidak hanya 'si miskin', tetapi juga 'wantnots' mengingat teknologi

digital. Dengan munculnya teknologi baru penerimaan masalah dalam

hal motivasi selalu tertinggi. Pada 1980-an dan 1990-an banyak orang

memberikan jawaban dalam pertanyaan survei bahwa mereka tidak

membutuhkan komputer atau Internet koneksi. Ketika teknologi

sebagian besar menyebar di masyarakat motivasi untuk mendapatkan

komputer dan mencapai akses Internet meningkat cepat. Pada

pergantian abad Jerman dan Survei Amerika menunjukkan bahwa

alasan utama penolakan ini adalah:

 Tidak perlu atau peluang penggunaan yang signifikan

 Tidak ada waktu atau keinginan

 Penolakan dari media (internet dan komputer game sebagai 'berbahaya' Media)

 Kekurangan uang

(49)

29

Pengamatan ini membawa kita ke salah satu mitos yang paling

membingungkan yang dihasilkan oleh ide populer tentang kesenjangan

digital: bahwa orang-orang baik dalam atau keluar, termasuk atau

dikecualikan. Yang disebut survei terakhir menunjukkan bahwa

populasi Internet sebenarnya adalah pernah pergeseran. Pertama,

disebut ada pengguna intermiten: orang yang pergi offline untuk waktu yang lama untuk beberapa alasan. Kelompok sering tanpa disadari

kedua adalah putus sekolah yang kurang lebih permanen kehilangan

koneksi ke Internet. Jumlah mereka adalah 10 persen dari populasi

Amerika pada tahun 2002. Kelompok berikutnya adalah 'net-evaders' yang hanya menolak untuk menggunakan internet dan tidak peduli

apakah mereka memiliki sumber daya atau tidak (di antara mereka

yang lebih tua manajer pengisian sekretaris mereka untuk

menggunakan E-mail dan mencari di internet dan orang-orang yang bangga tidak menggunakan bahwa 'medium kotor' atau komputer

karena hal ini tidak beroperasi dianggap 'pekerjaan perempuan' oleh

beberapa laki-lakii pekerja). Namun, jumlah pengguna intermiten,

drop-out dan 'bersih-penghindar' adalah menurun ketika teknologi

menjadi alat yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.

Populasi Internet terus berubah memfokuskan perhatian kita pada

kedua, mungkin bahkan lebih penting mitos yang dihasilkan oleh

dikotomi menyesatkan kesenjangan digital. Ini adalah asumsi bahwa

(50)

benar-30

benar mereka gunakan. Banyak pengguna diasumsikan benar-benar

menggunakan komputer atau internet hanya sekali seminggu atau

beberapa kali sebulan; beberapa orang bahkan tidak pernah

menggunakannya. Mengukur komputer dan internet akses di

pertanyaan survei sering conflates kepemilikan atau sehubungan

dengan penggunaan atau waktu pemakaian. Waktu studi buku harian

dan sejenisnya menunjukkan jauh lebih besar perbedaan atau membagi

antara kategori orang seperti yang akan dikatakan dalam ayat tersebut

pada penggunaan di bawah ini. Faktor-faktor yang menjelaskan akses

motivasi keduanya dari sosial atau budaya dan sifat mental atau

psikologis. Penjelasan sosial primer yang hampir sepuluh tahun tua

menyatakan bahwa "Internet tidak memiliki daya tarik bagi masyarakat

yang berpenghasilan rendah dan rendah berpendidikan orang “. Untuk

menggali lebih dalam alasan kurangnya minat tampaknya tepat untuk

menyelesaikan survei berskala besar dengan studi kualitatif lokal

masyarakat dan kelompok budaya.

Namun, yang paling menonjol adalah penjelasan mental dan

psikologis. Di sini fenomena kecemasan komputer dan techno-phobia

datang ke depan. kecemasan komputer adalah perasaan tidak nyaman,

stres, atau rasa takut yang dialami ketika menghadapi komputer.

Technophobia adalah takut teknologi pada umumnya dan ketidakpercayaan dalam Surat efek menguntungkan. Menurut survei

(51)

31

baru Amerika melaporkan bahwa mereka sedang sangat technophobic

dan hal yang sama diterapkan pada 10 persen pengguna internet

berpengalaman. Kecemasan Komputer dan technophobia masih merupakan hambatan utama dari komputer dan akses internet di

banyak negara, terutama di kalangan manula, orang dengan rendah

latar belakang pendidikan dan bagian dari populasi wanita. Fenomena

ini menurun, tetapi tidak benar-benar hilang dengan difusi lebih lanjut

komputer dan Akses internet di masyarakat.

Kelanjutan kecemasan sebagian disebabkan oleh karakteristik

kepribadian. The Big Five dimensi kepribadian (Keramahan,

conscientiousness, neuroticism, extraversion, dan keterbukaan) yang diketahui terkait dengan penggunaan komputer, sikap dan stres.

Misalnya, neuroticism memperburuk masalah yang dialami dalam

mendekati dan menggunakan komputer dan extraversion meredakan

mereka. untuk kepribadian dimensi yang berkaitan dengan penggunaan

komputer.

2. Akses Fisik dan Materi

Mayoritas investigasi kesenjangan digital didedikasikan untuk

pengamatan membagi akses fisik ke komputer pribadi dan Internet

antara kategori demografis yang jelas dalam hal ini: pendapatan,

pendidikan, usia, jenis kelamin dan etnis. Survei pertama nasional di

(52)

32

menunjukkan kesenjangan yang tumbuh akses antara orang-orang

dengan penghasilan yang tinggi dan rendah atau pendidikan dan

mayoritas etnis dibandingkan dengan etnis minoritas. Namun, jenis

kelamin fisik akses membagi telah ditutup setelah mereka tahun.

Namun, penutupan hampir lengkap dari kesenjangan ini hanya terjadi

di Negara-negara Amerika bagian Utara dan Eropa Utara-Barat.

Mengingat usia hubungan tersebut melengkung: akses fisik memuncak

pada kelompok usia 25 sampai 40 menurun tajam setelah itu. Jelas,

generasi termuda dan perempuan mendapatkan manfaat dari rumah

tangga kepemilikan komputer, karena rumah tangga adalah unit

pengukuran survei yang paling akrab. Dari tahun 2000-2002 dan

seterusnya akses fisik membagi dalam negara-negara maju Eropa

Utara, Amerika dan Timur-Asia mulai menurun sebagai kategori

dengan berpenghasilan tinggi dan pendidikan mencapai kejenuhan

parsial dan orang-orang dengan pendapatan rendah dan pendidikan

mulai mengejar ketinggalan (Eurobarometer 56-63, 2001-2010).

Namun, di negara-negara berkembang kesenjangan akses fisik terus

melebar dan masih melebar (angka ITU tahunan saat PC global dan

Koneksi internet).

Sebelah akses fisik konsep yang lebih luas akses material dapat

dibedakan. Hal ini berlaku jika tidak hanya hardware inti dari komputer, smartphone atau koneksi internet tetapi juga peralatan

(53)

33

lupa berlangganan. Mereka terdiri dari tumbuh bagian dari total

pengeluaran untuk media digital. Sementara biaya hardware untuk perangkat cenderung menurun, jumlah perangkat yang dibeli hari ini

cenderung naik. Terbukti, pendapatan yang memadai tetap menjadi

syarat penting di sini. Jadi, ketika akses fisik gap menutup, ketidaksetaraan pendapatan tetap penting untuk akses materi pada

umumnya.

3. Keterampilan Digital

Setelah memperoleh motivasi untuk menggunakan komputer dan

beberapa jenis akses fisik kepada mereka, kita harus belajar untuk

mengelola perangkat keras dan perangkat lunak. Di sini masalah

kurangnya keterampilan mungkin muncul sesuai dengan model pada

Gambar 2 ini Masalah dibingkai dengan istilah-istilah seperti

'komputer, melek informasi atau multimedia' dan 'keterampilan

komputer' atau 'informasi kapita'. Steyaert dan van Dijk,

memperkenalkan konsep 'keterampilan digital' sebagai suksesi

beberapa jenis keterampilan. Yang paling mendasar adalah

'keterampilan instrumental' (Steyaert) atau 'keterampilan operasional'

(van Dijk), yang kapasitas untuk bekerja dengan hardware dan software. Keterampilan ini telah memperoleh banyak perhatian dalam

literatur dan dalam opini publik. Yang paling populer adalah

pandangan bahwa keterampilan masalah ini diselesaikan ketika

(54)

34

pengolahan informasi dalam masyarakat informasi telah meminta

perhatian semua jenis keterampilan terkait konten yang diperlukan

untuk berhasil menggunakan komputer dan internet. Steyaert

membedakan antara 'keterampilan struktural' dan 'keterampilan

strategis'. Van Dijk mengajukan perbedaan dibandingkan antara

'keterampilan informasi' dan 'keterampilan strategis'. Keterampilan

informasi adalah keterampilan untuk mencari, pilih, dan memproses

informasi dalam komputer dan sumber jaringan. Keterampilan strategis

dapat didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan komputer

dan sumber jaringan sebagai sarana untuk tujuan tertentu dan untuk

tujuan umum meningkatkan posisi seseorang dalam masyarakat.

Dalam empat tahun terakhir penulis bab ini dan rekannya Alexander

van Deursen telah jauh disempurnakan konsep keterampilan digital /

Internet ke enam jenis keterampilan digital / internet dan beberapa

jenis pengukuran mulai dari yang berskala survei untuk tes kinerja

tugas internet di laboratorium media. Keterampilan internet

menengah-terkait dan berhubungan konten berikut telah dibedakan menjadi

beberapa bagian.

Terkait menengah

(55)

35

 Keterampilan Formal: penanganan struktur formal menengah; di sini: browsing dan navigasi

Terkait konten

 Keterampilan Informasi: mencari, memilih dan mengevaluasi informasi dalam media digital, misalnya mesin pencari

 Keterampilan Komunikasi: mailing, menghubungi, menciptakan identitas online, menarik perhatian dan keterampilan memberikan pendapat

 Pembuatan konten: memberikan kontribusi pada Internet dengan rencana tertentu atau desain

 Keterampilan Strategis: menggunakan media digital sebagai sarana untuk mencapai tujuan profesional dan pribadi tertentu.

Penelitian ilmiah sangat sedikit yang telah dilakukan pada tingkat yang

sebenarnya keterampilan digital yang dimiliki oleh orang-orang.

Sayangnya hal ini sangat sulit untuk menentukan tingkat sebenarnya

karena keterampilan digital yang paling tidak hasil dari kursus

komputer, tetapi belajar melalui praktek dalam lingkungan pengguna

sosial tertentu. Sejauh ini, hanya ada beberapa perkiraan keterampilan.

Pengukuran kinerja nyata hanya terjadi di lingkungan pendidikan kecil

atau sebagai bagian dari kelas komputer. Masalah pengukuran ini

adalah bahwa mereka sepenuhnya normatif: apakah tujuan dari kursus

(56)

36

dan ujian tentu saja adalah bahwa mereka kebanyakan menggunakan

terbatas definisi keterampilan digital yang tidak melampaui

kemampuan operasional.

4. Penggunaan

Terbukti, tujuan dari proses total apropriasi adalah penggunaan.

Memiliki motivasi yang cukup, akses fisik dan keterampilan untuk

menerapkan media digital adalah kondisi yang diperlukan tetapi tidak

cukup dari penggunaan aktual. Penggunaan memiliki alasan sendiri

atau determinan. Sebagai faktor tergantung dapat diukur dalam

setidaknya empat cara: 1 Penggunaan waktu dan frekuensi; 2 Jumlah

dan keragaman aplikasi penggunaan; 3 Broadband atau narrowband

digunakan; 4. Lebih atau kurang aktif atau kreatif digunakan.

Pengamatan ini konfirmasi dari tesis penampilan yang disebut sebuah

gap penggunaan istilah dari komputer dan penggunaan Internet yang disarankan oleh Van Dijk, Bonfadelli, Taman, Cho et al., Zillien dan

Hargittai dan lain-lain. Pernyataan dasarnya adalah bahwa beberapa

bagian dari populasi akan lebih sering menggunakan aplikasi yang

serius dengan efek menguntungkan tertinggi pada modal dan sumber

daya (kerja, karir, studi, masyarakat partisipasi dll), sementara bagian

lain akan menggunakan aplikasi hiburan dengan tidak, atau sangat

sedikit, efek menguntungkan pada modal dan sumber daya. Oleh van

(57)

37

pada orang-orang dengan pendidikan rendah dan tinggi, dengan cara

ini membingkai kesenjangan penggunaan pendidikan. ini tesis jelas

berkaitan dengan tesis kesenjangan pengetahuan tahun 1970-an yang

menyatakan bahwa tinggi berpendidikan berasal pengetahuan dari

media massa seperti televisi dan koran daripada berpendidikan rendah.

Hanya, kesenjangan penggunaan jauh lebih luas dan berpotensi lebih

efektif dalam hal ketimpangan sosial dari kesenjangan pengetahuan

karena penggunaannya gap menyangkut penggunaan diferensial dan

kegiatan di semua bidang kehidupan sehari-hari, bukan hanya persepsi

dan kognisi dari media massa.

Di sini terlihat bahwa akses ke komputer dan internet benar-benar

penting. Bahwa mereka yang tidak memiliki akses yang jelas.

Kerugian dan bahwa mereka yang hanya memiliki akses ke saluran

tradisional informasi dan komunikasi tertinggal di belakang. Dengan

difusi pertumbuhan digital ini media dalam masyarakat mereka

mungkin akan ketinggalan semakin jauh di belakang untuk akhirnya

menjadi dikecualikan dari sebagian besar masyarakat. Inilah sebabnya

mengapa lebih atau partisipasi lebih atau kurang efek akhir yang sah

(58)

38

G. Kerangka Pikir

Menurut Muhamad (2009:75) Kerangka pikir adalah gambaran mengenai

hubungan antar variabel dalam suatu penelitian yang diuraikan oleh jalan

pikiran menurut kerangka logis. Menurut Ridwan (2004:25) Kerangka pikir

adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta-fkata,

observasi, dan telaah penelitian, kerangka pikir memuat teori, dalil atau

konsep-konsep yang akan dijadikan dasar dalam penelitian. Uraian dalam

kerangka pikir ini menjelaskan antar variabel. Selanjutnya menurut Sekaran

(1992:72) kerangka berpikir yang baik adalah memenuhi syarat sebagai

berikut :

1. Variabel pernah diidentifikasikan secara jelas dan diberi nama.

2. Uraiannya menyatakan bagaimana dua atau lebih variabel berhubungan

satu dengan lainnya.

3. Jika sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdasarkan penemuan dari

penelitian sebelumnya, hal ini seharusnya menjadi dasar dalam uraian

kerangka berfikir apakah hubungan itu positif atau negatif.

4. Dinyatakan secara jelas mengapa peneliti berharap bahwa hubungan antara

variabel itu ada.

5. Digambarkan dalam bentuk diagram skematis, sehingga pembaca dapat

jelas melihat hubungan antar variabel.

Pada analisis kuantitatif, kerangka pikir ini memuat latar belakang masalah,

kemudian masalah yang diteliti dan dilanjutkan dengan metode serta variabel

Gambar

table, gambar dan diagram.
Tabel 1. Dimensi ICT Literacy
Tabel 2.Aktifitas menggunakan internet
Tabel 3 Ukuran kemantapan Alpha
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa internet membawa pengaruh pada akhlak siswa-siswi di SMA Negeri 1 Jatisrono kelas XI, pengaruh yang dihasilkan dari internet

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa ada perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional antara siswa yang belajar di sekolah dengan kategori

“ Pengaruh Digital Divide Terhadap Literasi Internet Guru Madrasah Aliyah Swasta (Studi pada Madrasah Aliyah Swasta di Kota Bandar Lampung )”. Adapun maksud dari penulisan skripsi

Bila diperhatikan saat ini sudah banyak memang mereka yang menggunakan sarana TIK untuk melakukan berbagai hal, namun banyak pula diantaranya masih terlihat

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat pesat menyebabkan keunggulan komputer tidak hanya terbatas pada kemampuan mengolah data namun

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa ada perbedaan persepsi yang signifikan terhadap Ujian Nasional antara siswa yang belajar di sekolah dengan kategori

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa variabel harapan terhadap kinerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap niat menggunakan internet banking pada pengguna

Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai R Square sebesar 0,262 yang artinya hal ini menunjukkan bahwa perilaku transformational leadership yang ditampilkan oleh kepala sekolah