• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksplorasi dan Identifikasi Beberapa Aksesi Bawang Merah Lokal Samosir (Allium Ascalonicum L.) di Pulau Samosir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Eksplorasi dan Identifikasi Beberapa Aksesi Bawang Merah Lokal Samosir (Allium Ascalonicum L.) di Pulau Samosir"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

lampiran 1. Deskripsi Peubah Amatan

Bentuk umbi (Bulb shape)

Bentuk umbi diamati dan diberi skoring sebagai berikut : 1 Flat

2 Flat globe 3 Rhomboid 4 Broad oval 5 Globe 6 Broad elliptic

7 Ovate (elongated oval) 8 Spindle

9 High top 10 Lainnya

Gambar 1. Bentuk umbi bawang merah

Warna umbi (Bulb colour)

Warna umbi diamati dan diberi skoring sebagai berikut : 1 Putih

(2)

4 Ungu/putih 5 Lainnya

Warna kulit umbi (Clove colour)

Warna kulit umbi diamati dan diberi skoring sebagai berikut : 1 Putih

2 Kuning

3 Kuning kecokelatan 4 Cokelat terang 5 Cokelat 6 Cokelat gelap

7 Hijau (Hijau muda kekuningan) 8 Ungu terang

9 Ungu gelap 10 Lainnya

Warna daun (Folliage colour)

1 Hijau terang 2 Hijau kekuningan 3 Hijau

4 Hijau keabu-abuan 5 Hijau gelap

(3)

Lampiran 2. Deskripsi Bawang Merah Varietas Medan

Asal tanaman

: Kabupaten Samosir

Umur mulia berbunga

: 52 hari

Umur panen (60% batang melemas) : 70 hari

Tinggi tanaman

: 27 – 41 cm

Jumlah anakan

: 6 – 12 umbi

Jumlah daun per umbi

: 6 – 10 helai

Jumlah daun per sampel

: 22 – 43 helai

Bentuk daun

: silindris berlubang

Warna daun

: hijau kekuningan

Panjang daun

: 20 – 25 cm

Diameter daun

: 3 – 4 mm

Bentuk bunga

: seperti payung

Warna bunga

: putih

Bentuk biji

: bulat, gepeng, berkeriput

Warna biji

: hitam

Bentuk umbi

: bulat

Warna umbi

: merah muda kekuning-kuningan

Diameter umbi

: 12-25 mm

Berat susut umbi basah-kering

: 24,7 %

Potensi hasil

: 7,4 ton umbi kering per hektar

Keterangan

: cocok untuk dataran rendah dan tinggi

Pengusul/Peneliti

: Hendro Sunarjo, Prasojo, Darliah, dan

(4)

Lampiran 3. Jadwal Kegiatan Penelitian

No.

Jenis Kegiatan

Minggu Penelitian

1

2

3

4

5

1

Persiapan Alat dan Bahan

x

2

Penentuan Lokasi

x

3

Wawancara Langsung

x

4

Pengambilan Sampel

x

Pengamatan Parameter

5

Umur Mulai Berbunga

x

6

Umur Panen

x

7

Warna Bunga

x

8

Bentuk Bunga

x

9

Panjang Tanaman

x

10

Jumlah Anakan Per Rumpun

x

11

Jumlah Daun

x

12

Warna Daun

x

13

Bentuk Daun

x

14

Bentuk Umbi

x

15

Jumlah Umbi per Tanaman

x

16

Berat Basah Umbi

x

17

Berat Kering Umbi

x

18

Berat 100 umbi

x

19

Warna Umbi

x

(5)

Lampiran 4.

DAFTAR PERTANYAAN SURVEI

EKSPLORASIDAN IDENTIFIKASI BEBERAPA AKSESI BAWANG MERAH LOKAL

SAMOSIR (Allium ascalonicum L.) DI PULAU SAMOSIR

Lokasi

Kabupaten

:

Kecamatan

:

Desa

:

Dusun

:

Identitas responden

Nama dan Marga

:

Pendidikan Terakhir

:

Jumlah Anggota Keluarga

:

Jumlah Tanggungan

:

Kursus/Latihan yang pernah diikuti :

Kegiatan lain diluar usahatani :

Samosir, ...2015

(6)

I. DATA USAHATANI/PETANI RESPONDEN

1. Berapa luas tanaman bawang yang saudara usahakan sekarang?

a. Umur...Luas...ha

b. Umur...Luas...ha

c. Umur...Luas...ha

2. Sudah berapa lama Saudara/i menekuni usahatani Bawang Merah?... tahun

3. Berapa rata-rata pendapatan Saudara/i dai sahatani Bawang Merah?

Rp. ...,

II. ASAL USUL DAN JENIS/TIPE VARIETAS

1. Asal usul tanaman bawang merah di Kabpaten Samosir

a. Menurut Saudara/i sejak kapan tanaman bawang merah dibudidayakan di

daerah ini

b. Siapa yang memperkenalkan pertama kali ke desa ini

2. Jenis varietas yang Saudar/i tanam?...

3. Sudah berapa lama varietas tersebut saudar tanam?... tahun

4. Apakah menurut Saudara/i varietas yang saudara/i tanam adlah yang disebut

bawang lokal Samosir?...

5. Menurut Saudara/i ciri-ciri khas atau karakter apakah yang membedakan antara

jenis/tipe/varietas bawang merah?

No.

Jenis/Tipe/Varietas

Bawang Merah

Ciri-ciri Pembeda (Bentuk Daun, Bentuk

Umbi, Aroma, Warna kulit dll)

1.

2.

3.

(7)

6. Apakah keunggulan dan kelemahan masing-masing varietas/tipe/jenis bawang

merah tersebut:

Kelebihan:

1. ... 2. ... 3. ... 4. ... 5. ...

Kelemahan:

1. ... 2. ... 3. ... 4. ... 5. ...

III. TEKNOLOGI BUDIDAYA

1. Coba dijelaskan persiapan lahan yang Anda lakukan untuk pertanaman bawang

merah

...

...

2. Menurut pengalaman Anda kriteria bibit yang baik bagaimana?

...

...

...

...

...

3. Apakah ada perlakuan khusus pada bibit bawang merah sebelum ditanam?

...

(8)

...

...

5. Proses panen dan pasca panen yang dilakukan?

...

...

6. Pada umur berapa biasanya tanaman mulai berbunga?

...

...

...

7. Pada umur berapa tanaman dapat dipanen?

(9)

Lampiran 5. Hasil Identifikasi Karakter Bawang Merah Lokal tiap Aksesi

No.

Parameter

Ciri-ciri

1 Asal tanaman

: Hatoguan

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 34,91 cm

5 Jumlah anakan per rumpun

: 3-8 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 23-54 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau muda

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: globe

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 17.85 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 13,71 %

15 Potensi Hasil

: 7,47 ton umbi kering per

hektar

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Palipi

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 23,85 cm

5 Jumlah anakan

: 2-7 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 11-31 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau muda

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Ovate (elongated oval)

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 14,477 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 21,63 %

15 Potensi hasil

(10)

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Gopal

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 21,63 cm

5 Jumlah anakan

: 4-10 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 10-26 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau muda

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Ovate (elongated oval)

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 10,329 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 27,71 %

15 Potensi hasil

: 1,96 ton umbi kering per

hektar

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Pallombuan

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 32,15 cm

5 Jumlah anakan

: 3-13 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 18-49 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau tua kekuningan

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Ovate (elongated oval)

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 14,742 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 23,84 %

15 Potensi Hasil

(11)

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Urat

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 24,03 cm

5 Jumlah anakan

: 3-11 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 18-49 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau tua

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Ovate (elongated oval)

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 12,33 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 27,46 %

15 Potensi Hasil

: 3,06 ton umbi kering per

hektar

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Sitinjak

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 22,82 cm

5 Jumlah anakan

: 4-8 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 13-28 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau tua

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Broad elliptic

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 13,309 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 16,53 %

15 Potensi Hasil

(12)

No.

Parameter

Ciri

1 Asal tanaman

: Harian

2 Umur mulai berbunga

: 40 hari

3

Umur panen (60 % batang

melemas)

: 70-75 hari

4 Panjang tanaman

: 34,68 cm

5 Jumlah anakan

: 7-10 anakan

6 Jumlah daun per rumpun

: 22-38 helai

7 Bentuk daun

: silindris berlubang

8 Warna daun

: hijau muda kekuningan

9 Bentuk bunga

: seperti payung

10 Warna bunga

: putih

11 Bentuk umbi

: Broad elliptic

12 Warna umbi

: Ungu / putih

13 Diameter umbi

: 14,753 mm

14 Berat susut umbi basah-kering

: 18,32 %

15 Potensi Hasil

(13)

Lampiran 6. Tinggi Tanaman per Rumpun Tiap Aksesi

Sampel

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

36.6

27.8

19.1

31.5

20

22.3

32.9

2

37.8

25

26.2

29.3

21.2

20.4

31.2

3

29.6

26.4

24.5

44.4

25.7

28.8

35.5

4

40.1

19

18.6

34

24

24.1

33.8

5

29

24

22.1

23.5

22.2

24.1

37.6

6

36

24.3

22.5

27.5

24.1

25

37.4

7

32

17.7

19

37.5

26

17.7

36.6

8

38.6

21.5

19.4

34.5

20.6

19.2

31.2

9

31.2

28.3

23.9

31.1

24.6

24.9

34.1

10

38.2

24.5

21

28.2

31.9

21.7

36.5

11

37.8

22.4

22.1

34.2

26.8

23.4

33.6

12

32.02

25.2

22.8

30.1

21.26

22.2

35.7

Total

418.92

286.10

261.20

385.80

288.36

273.80

416.1

Rataan

34.91

23.84

21.77

32.15

24.03

22.82

34.68

Lampiran 7. Jumlah Daun per Rumpun tiap Aksesi

Rumpun

ke-

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

35

18

12

49

25

28

32

2

32

31

10

18

20

24

35

3

42

11

23

44

13

28

26

4

43

18

16

20

18

16

37

5

46

19

18

38

27

15

26

6

33

19

26

20

39

20

22

7

39

16

24

34

11

17

28

8

36

28

22

31

26

13

38

9

54

27

21

26

17

19

26

10

23

18

23

39

25

18

28

11

41

18

17

37

20

24

27

12

36

23

22

27

24

16

33

Total

460

246

234

383

265

238

358.00

(14)

Lampiran 8. Jumlah Umbi per Rumpun Tiap Aksesi

Rumpun

ke-

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

6

3

5

11

6

7

9

2

5

7

4

5

5

7

8

3

6

2

7

7

5

10

10

4

9

5

5

3

6

4

11

5

8

3

4

9

9

8

7

6

6

5

10

3

11

8

7

7

6

3

9

6

3

7

7

8

7

6

7

7

7

5

8

9

7

8

8

6

6

6

7

10

3

5

8

13

5

8

9

11

10

3

5

5

6

5

9

12

9

6

8

2

4

4

10

Total

82

56

80

77

73

79

102.00

Rataan

6.83

4.67

6.67

6.42

6.08

6.58

8.50

Lampiran 9. Jumlah Anakan per Rumpun tiap Aksesi

Sampel

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

5

3

5

10

6

7

8

2

5

6

4

4

5

7

8

3

6

2

7

3

4

8

10

4

7

5

5

7

6

4

9

5

8

3

4

4

9

7

7

6

4

5

10

3

11

5

7

7

6

3

9

6

3

6

7

8

6

6

7

7

8

5

8

9

7

7

9

5

6

6

7

10

3

5

8

13

5

7

8

11

7

3

5

8

7

7

7

12

5

6

8

4

6

5

9

Total

69.00

54.00

81.00

74.00

76.00

74.00

95.00

(15)

Lampiran 10. Berat Basah Umbi per Rumpun tiap Aksesi

Sampel

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

32.9

15.4

8.56

36.52

12.74

24.98

26.62

2

29.62

18.4

7.88

23.14

13.06

17.1

27.32

3

32.92

11.66

11.96

20.56

15

18.2

17.4

4

43.74

9.22

7.96

22.6

19.5

18.86

29.14

5

42.4

11.18

6.66

12.98

18.9

24.26

22.12

6

32.28

27.06

16.74

29.7

24.22

20.26

24.18

7

31.5

8.8

11.9

25.04

8.94

13.38

22.2

8

30.54

21.76

7.42

35.9

15.44

8.58

30.32

9

40.68

20.74

14.92

28.12

18.44

21.32

29.94

10

29.5

10.96

14.46

32.98

22.48

14.56

24.18

11

37.13

11.74

9.93

36.21

18.46

18.41

24.91

12

32.09

19.3

11.77

17.29

15.28

17.89

25.77

Total

415.30

186.22

130.16

321.04

202.46

217.80

304.1

Rataan

34.61

15.52

10.85

26.75

16.87

18.15

25.34

Lampiran 11. Berat Kering Umbi per Rumpun tiap Aksesi

Sampel

Desa

I

II

III

IV

V

VI

VII

1

27.8

12.94

5.92

25.64

8.56

20.48

22.24

2

26

14.08

5.66

18.36

9.56

13.85

22.54

3

27.92

9.12

8.84

13.3

11.24

14.4

12.76

4

37.94

6.7

5.82

18.34

14.58

16.5

23.3

5

37.06

8.6

4.04

10.56

13.02

20.16

17.58

6

27.98

21.98

12.3

23.62

17.36

16.78

20.76

7

27.2

6.62

8.92

20.8

6.82

11.36

18.42

8

26.34

17.26

4.9

29.4

9.44

7.02

23.88

9

34.08

16.22

11.92

19.9

14.36

18.54

25.3

10

26.3

8.08

10.08

23.83

17.44

12.4

20.2

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, S., Acep Akbar, Wawan Halwany, dan Fajar Lestari. 2010. Eksplorasi

Tumbuhan Hutan Berkhasiat Obat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan

Tengah. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Banjarbaru.

Antara Sumut. 2012. Persediaan Bawang Merah Mulai Sedikit.

http://www.antarasumut.com.

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. 2013. Produksi bawang merah Sumatera Utara. Biro Statistik Sumatera Utara, Medan.

Basuki, S. R., 2005. Daya Hasil dan Preferensi Petani terhadap Varietas Bawang Daerah Lokal dari Berbagai Daerah. Laporan Hasil Penenlitian APBN 2005-OPP DI. 8 Hlm.BPS Sumut

Brewster, J. L. 2008. Onions and Other Vegetable Alliums 2nd Edition. CABI. USA.

Deptan, 2003. Pengembangan Usaha Agribisnis Bawang Merah Terpadu. Direktorat Tanaman Sayuran, Hias, dan Aneka Tanaman. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. Departemen Pertanian, Jakarta.

Distantph (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura). 2014. Budidaya Bawang Merah. Distantph KalSel. Kalimantan Selatan.

Hardiyanto, N. F. Dedy dan A. Supriyanto. 2007. Eksplorasi, Karakterisasi, dan Evaluasi Beberapa Klon Bawang Putih Lokal. J. Hort (17(4):307-313,2007)\

Hervani, D., Lili, S., Etti, S., dan Erbasrida. 2008. Teknologi Budidaya Bawang Merah Pada Beberapa Media Dalam Pot di Kota Padang. Universitas Andalas. Padang.

Irawan, D. 2010. Bawang Merah dan Pestisida. Badan Ketahanan Pangan Sumatera

Utara. Medan. http://www.bahanpang.sumutprov.go.id [12 Januari 2014].

Kartikaningrum, S., Dyah Widiastoety, dan Kusumah Effendie. 2004. Panduan Karakterisasi Tanaman Hias. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Komisi Nasional Plasma Nutfah. Bogor.

Litbang, 2013. Budidaya Bawang Merah. Kementerian Indonesia. Jakarta.

(17)

Putri, R. Harwita. 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Merah (Allium ascalonicum) Terhadap Kadar Kolesterol HDL Serum Tikus Wistar Hiperlipidemia. Fakultas Kedokteran UNDIP. Semarang.

Radiya, Mezi. 2013. Karakterisasi Morfologi Tanaman Pisang (Musa paradisiacaL.) di Kabupaten Agam. Fakultas Pertanian Universitas Taman Siswa. Padang.

Rais, S. A. 2004. Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan di Kalimantan Barat. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor.

Rosmayati, A. Jamil, dan D. Parhusip. 2012. Karakterisasi Keragaman Aksesi Bawang Merah Lokal Samosir Sekitar Danau Toba Untuk Mendapatkan Populas Penghasil Bibit Unggul. USU. Medan.

Sabran, M., A. Krismawati, Y. R. Galingging, dan M. A. Firmansyah. 2003. Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Anggrek di Kalimantan Tengah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Kalimantan Selatan.

Siemonsma, J. S. and K. Pileuk, 1994. Plant Resources of South-East Asia. Porsea. Bogor.

Sinclair, P. 1988. The Botany of Onions. Australian Onion Grower. Vol 5:7-10.

Steenis, C. G. G. J., S. Bloembergen dan P. J. Eyma, 2005. Flora. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Sudirja, 2007. Bawang Merah. http//www.lablink.or.id/Agro/bawangmerah/ Alternaria partrait.html diakses tanggal 21 Maret 2015.

Sumarni, N dan A. Hidayat. 2005. Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang.

Suparman. 2010. Bercocok Tanam Bawang Merah. Azka Press. Jakarta.

Sutarya, R dan Grubben, H. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Swasti, E. 2007. Pengantar Pemuliaan Tanaman (Buku Ajar). Fakultas Pertanian Unversitas Andalas. Padang. Tjitrosoepomo, G. 2003

(18)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan cara eksplorasi di sentra-sentra penanaman

bawang merah lokal samosir di wilayah Pulau Samosir meliputi Kecamatan Palipi,

Simanindo, Onan Runggu, Pangururuan, Ronggur Ni Huta dan Nainggolan, namun hasil

survei yang dapat dijadikan sampel terletak hanya pada Kecamatan Palipi dan

Kecamatan Onan Runggu dilatarbelakangi oleh minimnya penanaman bawang varietas

lokal, lalu dilanjutkan dengan identifikasi serta karakterisasi beberapa aksesi bawang

merah lokal samosir di Medan pada Juni 2015 sampai dengan Juli 2015.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bawang merah lokal samosir

yang berasal dari .7 desa yaitu pada Desa Hatoguan, Palipi, Gopal, Pallombuan, Urat,

Sitinjak, dan Harian.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner untuk mendapatkan

informasi dari petani, jangka sorong digital untuk mengukur diameter umbi tanaman,

penggaris untuk mengukur tinggi tanaman, amplop sebagai tempat penyimpanan

sampel, kotak gabus sebagai tempat penyimpanan kumpulan sampel, buku data dan alat

tulis untuk mencatat data yang diperoleh, serta kamera untuk mendokumentasikan hasil

(19)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Survei yang dilakukan dengan beberapa

tahap yakni melakukan kegiatan eksplorasi, identifikasi serta karakterisasi morfologi

tanaman.

Tahap pertama ialah eksplorasi, kegiatan eksplorasi yang digunakan pada

penelitian ini mengacu pada metode jelajah secara acak terwakili di sentra-sentra

produksi bawang merah varietas lokal pada wilayah Pulau Samosir. Pada pelaksanaan

tahap ini, diberikan kuisioner pada para petani bawang merah lokal dan diambil sampel

tanaman bawang merah lokal dengan umur siap untuk dipanen juga memenuhi kriteria

dalam kuisioner yaitu telah ditanam dalam kurun waktu ≥10 tahun dengan

menggunakan purposive sampling.

Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan

tertentu dengan tujuan untuk memperoleh sampel yang memiliki karakteristik yang

dikehendaki. Data yang diperoleh terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer

diperoleh melalui wawancara kepada petani yang dijumpai di lokasi penelitian.

Pengambilan sampel diambil berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK)

non-faktorial menggunakan bambu yang dibentuk persegi dengan ukuran 1 m x 1 m lalu

ditempatkan dibedeng pertanaman bawang merah, lalu diambil sampel sebanyak 16%

dari seluruh rumpun yang ada dalam 1 petakan. Pengambilan sampel dilakukan

sebanyak 3 kali pada tiap pertanaman yang dijadikan sampel.

Tahap selanjutnya ialah identifikasi, tahapan ini dilakukan melalui desk study

dengan cara mencocokan sampel dengan description list dari IPGRI kemudian dicatat

(20)

Tahapan terakhir ialah karakterisasi. Analisis data fenotipe pada karakter

kuantitatif dilakukan untuk melihat keragaman yang ada pada populasi. Analisis

perbandingan keragaman juga dilakukan dengan melihat perbandingan keragaman

fenotipe dengan standar deviasi keragaman fenotipe.

Data kuantitatif yang telah terstandarisasi diolah menggunakan program SPSS

21 dengan analisis gerombol (cluster) untuk mengetahui tingkat kekerabatan antar

aksesi dari setiap sampel masing-masing aksesi. Analisis cluster digunakan untuk

memvisualisasikan data yang multivarians (dari parameter yang diukur) dari hasil survei.

Analisis cluster menghasilkan dendogram yang digunakan untuk menilai pola keragaman

(21)

PELAKSANAAN PENELITIAN

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah

eksplorasi, identifikasi, serta karakterisasi morfologi tanaman bawang merah varietas

lokal samosir.

Eksplorasi Bawang Merah Lokal Samosir

Penentuan lokasi dilakukan dengan mengeksplorasi tempat-tempat sentra

penanaman bawang merah pada wilayah Pulau Samosir yang meliputi Kecamatan Palipi,

Simanindo, Onan Runggu, Pangururuan, Ronggur Ni Huta dan Nainggolan. Eksplorasi

yang dilakukan beralaskan dengan pengambilan data dari hasil kuisioner.

Kuisioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara berurutan

yang digunakan untuk mendapatkan informasi secara langsung dari petani petani yang

telah menanam bawang merah ≥10 tahun untuk mengetahui sejarah bawang merah

lokal samosir itu sendiri dan yang tetap mempertahankan varietas tersebut hingga saat

ini di wilayah Pulau Samosir. Adapun kuisioner yang diberikan kepada para responden

terlampir.

Sampel yang diambil berupa tanaman bawang merah lokal samosir yang

disesuaikan dengan menggunakan kuisioner berdasarkan teknik purposive sampling

yang dilakukan dengan cara Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial. Sampel yang

diambil adalah tanaman dari setiap desa dengan umur siap untuk dipanen. Pengambilan

sampel digunakan bambu yang dibentuk persegi dengan ukuran 1 m x 1 m lalu

ditempatkan dibedeng pertanaman bawang merah, lalu diambil sampel sebanyak 16%

dari seluruh rumpun yang ada dalam 1 petakan. Pengambilan sampel dilakukan

(22)

Identifikasi

Tanaman bawang merah lokal samosir yang didapat kemudian di amati melalui

desk study dengan cara mencocokan sampel pengamatan dengan description list dari

IPGRI kemudian dicatat cirinya. Adapaun ciri yang diidentifikasi meliputi : Panjang

tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, jumlah umbi, berat basah umbi, berat kering

umbi, berat 100 umbi, bentuk umbi, warna kulit umbi, warna umbi, bentuk bunga,

warna bunga, bentuk daun, warna daun, umur berbunga, umur panen.

Karakterisasi

Karakterisasi dilakukan dengan menganalisis data fenotif hasil identifikasi pada

karakter kualitatif yang ditujukan untuk melihat keragaman yang ada pada populasi.

Data kuantitatif juga diolah dengan menggunakan program SPSS analisis gerombol

(Cluster) untuk mengetahui tingkat kekerabatan tiap aksesi melalui data dendogram dan

tabel standar deviasi.

Peubah Amatan

Umur Mulai Berbunga

Umur mulai berbunga didapatkan dari kuisioner pada setiap petani

masing-masing sampel.

Umur Panen

Umur panen didapatkan dari kuisioner pada setiap petani masing-masing

(23)

Panjang Tanaman

Panjang diukur dengan penggaris mulai dari pangkal daun sampai ke ujung daun

tertinggi.

Jumlah Anakan per rumpun

Jumlah anakan dihitung pada masing-masing sampel.

Jumlah Daun

Jumlah daun dihitung setiap helainya pada masing-masing sampel.

Warna Daun

Warna daun diamati dengan cara visual sesuai dengan karakteristik yang telah

ditemukan.

Bentuk Daun

Bentuk daun diamati dengan cara visual sesuai dengan karakteristik yang telah

ditemukan.

Warna Bunga

Warna bunga diamati dengan cara visual sesuai dengan karakteristik yang telah

ditemukan.

Bentuk Bunga

Bentuk bunga diamati dengan cara visual sesuai dengan karakteristik yang telah

(24)

Bentuk umbi

Bentuk umbi diamati dan diberi tanda penomoran dengan mencocokan dengan

pengelompokan berdasarkan IPGRI.

Warna umbi

Warna umbi diamati dan diberi penomoran dengan mencocokan dengan

pengelompokan berdasarkan IPGRI.

Warna kulit umbi

Warna kulit umbi diamati dan diberi penomoran dengan mencocokan dengan

pengelompokan berdasarkan IPGRI.

Jumlah umbi per tanaman (Bulbs per plant)

Jumlah umbi per tanaman dihitung dan didata hasilnya

Berat 100 umbi

Berat 100 umbi dihitung dengan timbangan digital.

Berat Basah Umbi

Berat basah umbi dihitung sesaat setelah sampel baru diambil dan dibersihkan

dari kotoran yang menempel dengan menggunakan timbangan digital.

Berat Kering Umbi

Berat kering umbi dihitung setelah sampel siap dikeringkan dengan

(25)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil Eksplorasi Bawang Merah Varietas Lokal

Eksplorasi bawang merah varietas lokal dimulai dengan mengeksplorasi

sentra-sentra penanaman bawang merah lokal di wilayah Pulau Samosir pada Kecamatan Palipi,

Simanindo, Onan Runggu, Pangururuan, Ronggur Ni Huta dan Nainggolan. Namun hasil

eksplorasi dari bawang merah lokal Samosir hanya terdapat pada 2 (dua) Kecamatan

yaitu pada kecamatan Palipi dan Kecamatan Onan Runggu.

Dari 2 (dua) Kecamatan tersebut, maka dicarilah para petani yang memang

bertanam bawang menggunakan varietas lokal. Hasil pencarian petani yang diperoleh

diberikan kuisioner. Para petani yang memenuhi ketentuan sebagai responden apabila

memenuhi syarat atau ketentuan yang ditetapkan dalam kuisioner, yaitu

membudidayakan sampel bawang merah lokal Samosir lebih dari 10 tahun dan ciri-ciri

bakal sampelnya sesuai dengan kriteria dari hasil kuisioner.

Dari keseluruh responden didapat 7 petani dari 7 aksesi yang berbeda yang

bawangnya dapat diambil dan diamati pertanaman bawangnya. Aksesi yang terdapat

pada Kecamatan Palipi terdapat pada desa Hatoguan (N2º31’54,71”,E98º47’22,01”),

Palipi (N2º29’22,308”,E98º48’4,255”), Gopal (N2º28’32,452”,E98º48’40,522”)

Pallombuan dan Urat (N2º24’26,928”,E98º51’51,683”) kemudian aksesi yang terdapat

pada Kecamatan Onan Runggu terdapat pada Desa Sitinjak

(N2º20’39,344”,E98º54’56,752”) dan Harian (N2º27’9,064”,E98º56’29,484”).

Dari hasil kuisioner didapat bahwa petani atau responden dari desa Hatoguan,

(26)

dilakukan oleh Bapak Malau dilaksanakan dengan melakukan kegiatan penyiraman

tanpa menggunakan pompa. Pada awal pembukaan lahan, lahan digaru menggunakan

traktor hingga halus. Asal bibit yang diusahan oleh responden ini berasal dari bibit

varietas lokal hasil panen penanaman sebelumnya yang telah diturunkan lebih dari 10

tahun. Penanaman yang dilakukan tidak serentak melainkan terdiri dari 2 umur

penanaman yang berbeda 4 minggu.

Dari hasil kuisioner didapat bahwa petani atau responden dari desa Pallombuan,

Bapak Sinaga, mengusahakan lahan untuk bertanam bawang ±3,5 rante. budidaya yang

dilakukan oleh Bapak Sinaga dilaksanakan dengan melakukan kegiatan penyiraman 1 kali

setap 3 hari tanpa menggunakan pompa, hal tersebut dapat dilaksanakan karena letak

lahan reponden ini bersebelahan dengan pesisir Danau Toba. Pada awal pembukaan

lahan, lahan ditraktor 3 kali dengan menggunakan Jetor dan pembuatan bedengan

dilakukan dengan menggunakan cangkul. Salah satu kegiatan budidaya yang dilakukan

responden ini ialah apabila terjadi hujan pada saat cuaca panas, dilakukan aplikasi

penyiraman ditambahkan bubuk deterjen, Hal ini diyakini dapat mengantisipasi dampak

kelayuan yang diakibatkan oleh cuaca Pancaroba. Penanaman yang dilakukan tidak

serentak melainkan terdiri dari 3 umur penanaman yang berbeda 4 mingggu.

Dari hasil kuisioner didapat bahwa petani atau responden dari desa Palipi, Bapak

Sihombing, mengusahakan lahan untuk bertanam bawang ±400m2. Budidaya yang

dilakukan oleh responden dilaksanakan dengan tanpa melakukan kegiatan penyiraman.

Pada awal pembukaan lahan, lahan diolah dan dibuat bedengan dengan menggunakan

cangkul. Penanaman yang dilakukan tidak serentak melainkan terdiri dari 2 umur

(27)

Dari hasil kuisioner diperoleh hasil bahwa dari desa Gopal, ibu Gultom yang

mengusahakan lahan bawang seluas 100 m2. Proses pengolahan lahan di desa ini masih

dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan cangkul. Penanaman bawang di

desa ini dilakukan budidaya tanam secara serempak, hal ini dikarenakan luas lahan di

desa Gopal yang tidak terlalu luas. Untuk pemeliharaan tanaman bawang didesa ini juga

tidak terlalu intensif, bahkan tidak dilakukan penyiraman sama sekali, hanya pemupukan

dengan pupuk kandang pada awal penanaman saja. Untuk asal bibit yang ditanam

didesa ini berasal dari bibit bawang varietas lokal hasil panen dari penanaman

sebelumnya

Berdasarkan hasil kuisioner dari kecamatan Onan Runggu tepatnya didesa Harian

oleh Ibu Simatupang yang mengusahakan lahan seluas ±1 rante, bahwa proses

penolahan lahan masih dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul, baik

untuk pembuatan bedengan dan juga pemeliharaannya. Proses penanaman bawang

didesa ini dilakukan dengan penambahan bahan organik diawal penanaman sedangkan

Untuk penyiraman didesa ini dilakukan dengan tidak menggunakan pompa, hal ini

dikarenakan letak desa yang yang bersebelahan dengan pesisir danau toba.

Dari hasil kuisioner oleh bapak Nainggolan dari desa Sitinjak yang mengusahakan

lahan seluas ½ rante, untuk proses pengolahan lahan dilakukan dengan membuat

bedengan secara manual dengan menggunakan cangkul, selain itu diawal penanaman

ditambahkan pupuk kandang. Untuk pemeliharaan tanaman bawang didesa ini tanpa

penyiraman dan penyemprotan. Varietas yang ditanam didesa ini masih menggunakan

varietas lokal dari hasil panen sebelumnya.

Berdasarkan hasil kuisioner yang diperoleh dari desa Urat oleh bapak Tambunan

(28)

dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul, dan pada proses penanaman

dilakukan penambahan pupuk kandang. Tidak dilakukan pemeliharaan secara intensif

bahkan tidak dilakukan penyiraman sama sekali. Varietas yang ditanaman didesa ini

sama dengan desa yang lainnya yaitu menggunakan varietas lokal turunan

Hasil Identifikasi Bawang Merah Varietas Lokal

Hasil identifikasi rataan karakter agronomi bawang merah lokal Samosir per tiap

aksesi dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini :

Tabel 1. Hasil Rataan Karakter Agronomi Bawang Merah Lokal Samosir tiap Aksesi

Parameter

Aksesi

Hatoguan Palipi Gopal Pallombuan Urat Sitinjak Harian

Panjang Tanaman 34.91a 23.85c 21.76c 32.15b 24.03c 22.61c 34.68a

Jumlah Anakan 5.75c 4.50c 6.75ab 6.16bc 6.33ab 6.16bc 7.83a

Jumlah Daun 38.33a 20.50c 19.50c 34.33b 31.91c 19.83c 29.83b

Jumlah Umbi 6.83b 4.66c 6.66b 6,42b 6.08bc 6.58b 8.50a

Berat Basah 34.60a 15.51d 10.84e 26.75b 16.87cd 18.15c 25.34b

Berat Kering 29.86a 12.16d 7.84e 20.37b 12.23d 15.14c 20.69b

(29)

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa pada parameter panjang tanaman

tertinggi adalah pada aksesi Hatoguan berbeda tidak nyata terhadap aksesi Harian, dan

berbeda nyata terhadap aksesi Palipi, Gopal, Pallombuan, Urat, dan Sitinjak.

Dari hasil analisis pada tabel 1 dikatahui bahwa pada parameter jumlah anakan

per rumpun terbanyak adalah pada aksesi berbeda nyata terhadap aksesi Hatoguan,

Palipi, Gopal, Pallombuan, Urat, dan Sitinjak.

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa pada parameter jumlah daun terbanyak

adalah pada aksesi Hatoguan dan berbeda nyata terhadap aksesi lainnya.

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa pada parameter jumlah umbi terbanyak

adalah pada aksesi Harian dan berbeda nyata terhadap aksesi terhadap aksesi lainnya.

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa pada parameter berat basah terbesar adalah

pada aksesi Hatoguan dan berbeda nyata terhadap aksesi lainnya.

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa pada parameter berat kering terbesar adalah

pada aksesi Hatoguan dan berbeda nyata terhadap aksesi lainnya.

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa karakter morfologi bawang merah lokal

Samosir menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara keenam aksesi yang

signifikan secara umum, seperti umur mulai berbunga sekitar 40 hari, umur panen (60%

batang melemas) yaitu 70-75 hari, bentuk daun silindris berlubang, bentuk bunga

(30)

Berikut adalah gambar histogram rataan tiap parameter seluruh aksesi :

[image:30.595.147.488.168.289.2]

Histogram panjang tanaman

Gambar 1. Histogram panjang tanaman tiap aksesi

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan panjang tanaman tiap

aksesi tertinggi adalah aksesi Hatoguan yaitu 34,91 cm dan terendah aksesi Gopal yaitu

21,76 cm.

Histogram jumlah anakan

Gambar 2. Histogram jumlah anakan

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan jumlah anakan tiap aksesi

tertinggi adalah aksesi Harian yaitu 7,83 dan terendah aksesi Palipi yaitu 4,5. 0 10 20 30 40 P a n ja n g T a n a m a n

Histogram Panjang Tanaman

0 5 10 Ju m la h A n a k a n P e r R m p u n

(31)
[image:31.595.135.496.130.251.2]

Histogram jumlah daun

Gambar 3. Histogram jumlah daun

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan jumlah daun tiap aksesi

tertinggi adalah aksesi Hatoguan yaitu 38,33 dan terendah aksesi Gopal yaitu 19,5.

Histogram jumlah umbi

Gambar 4. Histogram jumlah umbi

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan jumlah umbi tiap aksesi

tertinggi adalah aksesi Harian yaitu 8,5 dan terendah aksesi Palipi yaitu 4,66. 0 20 40 60 Ju m la h D a u n

Histogram Jumlah Daun Per Rumpun

0 200 400 600 Ju m la h U m b i p e r ru m p u n

[image:31.595.133.498.421.538.2]
(32)
[image:32.595.134.498.130.249.2]

Histogram berat basah umbi

Gambar 5. Histogram berat basah umbi

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan berat basah umbi tiap

aksesi tertinggi adalah aksesi Hatoguan yaitu 34,6 dan terendah aksesi Gopal yaitu

10,84.

Histogram berat kering umbi

Gambar 6. Histogram berat kering umbi

Berdasarkan hasil histogram diketahui bahwa rataan berat basah umbi tiap

aksesi tertinggi adalah aksesi Hatoguan yaitu 29,86 dan terendah aksesi Gopal yaitu

7,84.

Adapun gambar sampel vegetatif (dengan perbedaan umur) dari seluruh aksesi

bawang merah lokal samosir dapat dilihat dalam gambar berikut : 0 20 40 B e ra t B a sa h U m b i

Histogram Berat Basah Umbi

0 20 40 a t K e ri n g U m b i

[image:32.595.140.492.443.548.2]
(33)
[image:33.595.172.480.80.146.2]

Gambar 7. sampel vegetatif aksesi Gopal pada umur 7 minggu

[image:33.595.179.483.190.264.2]

Gambarr 8. sampel vegetatif aksesi Sitinjak pada umur 8 minggu

Gambar 9. sampel vegetatif aksesi Palipi, Pallombuan, Urat, Harian

pada umur 9 minggu.

[image:33.595.114.486.303.601.2] [image:33.595.133.500.661.731.2]
(34)

Adapun gambar sampel vegetatif dari seluruh aksesi bawang merah lokal

samosir dapat dilihat dalam gambar berikut :

[image:34.595.115.492.168.710.2]
(35)

Berikut adalah hasil analisis sampel tanah yang dilakukan di Laboratorium PT.

[image:35.595.111.559.205.422.2]

Socfin Indonesia (Socfindo) :

Tabel 3.Hasil analisis sampel tanah tiap aksesi

aksesi

Parameter Analisis

S-pH-H2O S-C-Org S-N-Kjehldahl P-Bray K-exch

PALLOMBUAN 6.6 1.050 0.15 519.23 4.76

GOPAL 7.4 0.690 0.09 762.56 2.59

SITINJAK 6.8 0.510 0.10 215.22 1.73

URAT 7.2 0.420 0.11 487.40 2.60

PALIPI 5.8 0.570 0.12 409.40 1.27

HATOGUAN 6.2 1.380 0.21 315.65 1.68

HARIAN 6.1 1.120 0.14 191.12 1.36

Pada saat pengamatan diketahui bahwa ada beberapa kendala yang membatasi

kegiatan bertanam bawang di tiap aksesi. Salah satu kendala yang memberikan dampak

signifikan ialah karena ada pengaruh iklim, dimana saat itu berada pada musim kemarau

panjang. Namun keadaan iklim tersebut tidak diimbangi oleh kegiatan penanggulangan

yang sesuai (seperti pengairan) untuk memenuhi kebutuhan tanaman dikarenakan

terbatasnya modal biaya. Umumnya tiap aksesi tidak melakukan kegiatan penyiraman,

namun untuk aksesi Hatoguan penyiraman dapat dilaksanakan karena letaknya yang

berada pada pinggir pesisir Danau Toba.

Pada pengamatan diketahui bahwa selain faktor iklim, kendala yang

mempengaruhi pada kegiatan bertanam bawang merah di Pulau Samosir ialah serangan

(36)

menyerang ialah penyakit mati pucuk atau pucuk daun. Selain penyakit, faktor serangan

hama juga memberikan kontribusi yang merugikan. Salah satu hama utama yang

terdapat di lokasi pengamatan ialah hama ulat. Salix exigua.

Hasil Karakterisasi Bawang Merah Varietas Lokal

Berikut adalah hasil grading secara visual untuk pembagian umbi besar, umbi

sedang, dan umbi yang kecil. Hasil grading disajikan dalam table berikut :

Grade

Desa Total Rataan

I II III IV V VI VII

Besar 29 13 20 5 16 20 103 17.17

Sedang 40 16 11 23 26 30 47 193 27.57

Kecil 13 27 69 34 42 33 35 254 36.29

Total 82 56 80 77 73 79 102 550

[image:36.595.76.563.317.500.2]

Rataan 27.33 18.66 40.00 25.67 24.33 26.33 34.00 197 26.35

Tabel 4. Jumlah Umbi hasil grading (umbi)

Tabel 5. Berat Umbi hasil grading (g)

Grade

Desa Total Rataan

I II III IV V VI VII

Besar 169.56 51.87 100.68 21.07 64.79 90.71 498.68 83.11

Sedang 167.07 51.08 18.92 74.64 62.59 67.51 102.91 544.72 77.82

Kecil 21.71 42.97 75.16 69.19 63.19 49.49 54.74 376.45 53.78

[image:36.595.51.578.581.771.2]
(37)
[image:37.595.71.552.122.296.2]

Tabel 6. Hasil grading berat umbi dengan jumlah umbi

Berikut adalah hasil olah data dengan menggunakan program SPSS

analisis gerombol (cluster) berdasarkan nilai keragaman berupa gambar

[image:37.595.117.527.459.690.2]

dendogram dan tabel descriptive statistics :

Gambar 12. dendogram

Grade

Desa Total Rataan

I II III IV V VI VII

Besar 4.24 3.99 5.03 4.21 4.05 4.54 26.06 4.34

Sedang 4.18 3.19 1.72 3.25 2.41 2.25 2.19 19.18 2.74

Kecil 1.67 1.53 1.09 2.04 1.50 1.50 1.56 10.90 1.56

Total 10.09 8.72 2.81 10.31 8.13 7.80 8.29 56.14

(38)
[image:38.595.94.551.151.417.2]

tabel 7. statistik deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

pan_tan 7 21.63 34.91 27.7243 5.90838

Jum_an 7 4.50 7.83 6.2286 1.03233

jum_da 7 19.50 38.33 27.3857 7.44814

ber_bas 7 10.84 34.60 21.1557 8.11575

ber_ker 7 7.84 29.86 16.9043 7.34667

jum_um 7 4.66 8.50 6.6143 1.08078

Valid N (listwise) 7

Pembahasan

Hanya Kecamatan Palipi dan Kecamatan Onan Runggu yang sesuai sebagai sampel

pengamatan dilatarbelakangi oleh beralihnya para petani bawang kepada pekerjaan dan

komoditi lain disebabkan keterbatasan biaya modal untuk menanggulangi keadaan

kemarau panjang. Tidak hanya hal tersebut yang membatasi penanaman bawang merah

varietas lokal, namun beralihnya petani kepada penanaman dengan varietas kiriman

seperti varietas Brebes atau Thailand yang memiliki bobot lebih tinggi dari bawang

merah varietas lokal Samosir.

Hasil survei dilakukan pada wilayah Pulau Samosir pada Kecamatan Palipi,

(39)

sampel pengamatan, yaitu pada Kecamatan Palipi dan Kecamatan Onan Runggu. Hasil

identifikasi didapat bahwa ada kesamaan dalam karakteristik tanaman bawang merah

lokal pada parameter bentuk daun, bentuk bunga dan warna bunga. Kesamaan

parameter tersebut juga sama dengan karakteristik yang dijabarkan dalam karakteristik

pada bawang merah varietas Medan yaitu bentuk daun bulat silindris, bentuk bunga

seperti payung dan warna bunga putih.

Terlepas kesamaan yang terlihat antara bawang merah varietas lokal Samosir

dengan deskriptif bawang medan, pada parameter warna umbi keseluruhan aksesi

varietas lokal memiliki karakter yang sama, yaitu bewarna putih keunguan. Namun

diluar dari kesamaan tersebut, terdapat perbedaan pada beberapa parameter seperti

hal-nya umur berbunga yang relatif lebih cepat yaitu pada kurun 40 hari dimana waktu

tersebut lebih cepat 1 minggu dari deskriptif varietas medan. Walaupun umur berbunga

bawang lokal di Pulau Samosir umumnya lebih cepat, namun untuk waktu panen

diperlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan deskriptif bawang medan.

Umumnya bawang lokal di Pulau Samosir dapat di Panen pada kisaran Umur 70-75 hari,

1 minggu lebih lama bila dibandingkan dengan deskriptif bawang medan. Bukan hanya

pada parameter umur berbunga dan umur panen saja yang berbeda dengan parameter

deskriptif, namun pada parameter lainnya seperti tinggi tanaman, jumlah daun per

rumpun, warna daun, diameter daun, bentuk umbi, warna umbi, diameter umbi, dan

berat susut umbi pun tidak semua sama (ada beberapa yang sesuai, namun banyak juga

yang tidak sesuai). Hal yang paling berbeda yaitu dalam parameter warna umbi karena

keseluruhan sampel mempunyai warna umbi putih keunguan.

Beberapa perbedaan dari hasil parameter yang sebagian tidak sesuai dapat

(40)

memenuhi kebutuhan syarat tumbuhnya dan mempengaruhi pertumbuhan bawang

tersebut. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distantph) (2014)

menyatakan bahwa tanaman bawang merah dapat tumbuh optimal dengan ketinggian

0-400 m dpl, tempat terbuka tanpa naungan dengan pencahayaan kurang lebih 70%.

Bawang merah memerlukan sinar matahari cukup panjang, tiupan angin sepor-sepoi

berpengaruh baik bagi tanaman terhadap laju fotosintesis dan pembentunkan umbi,

bawang merah tumbuh baik pada tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan

organik, jenis tanah lempung berpasir, pH 5,5-6,5, dengan drainasi dan serasi yang baik.

Hasil tertinggi untuk parameter kuantitatif di perhitungkan dari potensi hasil per

hektar, rataan hasil berat basah, dan rataan hasil berat kering di dapat pada aksesi

Hatoguan dengan potensi hasilnya 7,47 ton per ha, rata-rata berat basah 34,60 g, dan

rata-rata berat keringnya 29,86 g. Sedangkan Hasil terendah untuk parameter kuantitatif

di perhitungkan dari potensi hasil per hektar, rataan hasil berat basah, dan rataan hasil

berat kering di dapat pada aksesi Gopal dengan potensi hasilnya 1,96 ton per ha,

rata-rata berat basah 10,84 g, dan rata-rata-rata-rata berat keringnya 7,84 g.

Hasil tertinggi untuk parameter kuantitatif di perhitungkan dari tinggi tanaman

dan jumlah daun di dapat pada aksesi Hatoguan dengan hasil rataan tinggi tanaman

sebesar 34,91cm dan rataan jumlah daun sebanyak 38,33 helai. Sedangkan Hasil

terendah untuk parameter kuantitatif di perhitungkan dari tinggi tanaman dan jumlah

daun di dapat pada aksesi Gopal dengan hasil rataan tinggi tanaman sebesar 21,63cm

dan rataan jumlah daun sebanyak 19,50 helai.

Hasil tertinggi untuk parameter kuantitatif di perhitungkan dari jumlah anakan

(41)

pada aksesi Palipi dengan hasil rataan jumlah anakan sebesar 4,5. Hasil tertinggi untuk

parameter kuantitatif di perhitungkan dari jumlah umbi di dapat pada aksesi Harian

dengan hasil rataan jumlah umbi sebesar 8,5. Sedangkan Hasil terendah untuk

parameter kuantitatif di perhitungkan jumlah umbi di dapat pada aksesi Palipi dengan

hasil rataan jumlah umbi sebesar 4,66. Salah satu hal yang berpotensi mengakibatkan

hal tersebut ialah oleh keragaman deskriptif atau nilai kekerabatan yang berbeda.

Walaupun pada beberapa karakter dimiliki persamaan, namun tidak menutup

kemungkinan untuk mempunyai perbedaan karakter karena adanya jarak kekerabatan

antar aksesi.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan nilai diatas, salah satunya

dapat disebabkan oleh faktor lingkungan dan lokasi. Pada saat pengamatan diketahui

iklim sedang berada dalam masa kemarau panjang sehingga keadaan lahan rentan akan

kekeringan. Desa Hatoguan terletak di daerah pesisir Danau Toba sehingga tetap dapat

diadakan kegiatan penyiraman tanpa memerlukan ketersediaan pompa air untuk

memenuhi kebutuhan air yang dibutuhkan dalam pembentukan umbi. Hal ini sesuai

dengan literature Wibowo (1994) yang menyatakan Bawang merah merupakan tanaman

yang tidak tahan akan kekeringan, karena sistem perakaran yang pendek, sementara itu

kebutuhan air (bukan iar hujan atau air genangan) selama pertumbuhan dan

pembentukan umbi cukup banyak.

Hasil pada grading didapatkan bahwa nilai grade untuk umbi besar ialah 4,34 g,

sedangkan untuk umbi yang berukuran sedang didapat nilai grade sebesar 2,74 g, dan

untuk umbi yang berukuran kecil didapat nilai grade sebesar 1,56 g. pada grading juga

diketahui bentuk umbi yang paling dominan dari keseluruhan sampel ialah umbi yang

(42)

mendukung proses pertumbuhan umbi, sebagaimana diketahui pada survei bahwa salah

satu kendala bertanam bawang di Pulau Samosir saat itu ialah faktor iklim yang sedang

berada dalam masa kemarau panjang, ditambah lagi mayoritas petani bawang di Pulau

Samosir tidak melakukan kegiatan penyiraman dikarenakan keterbatasan biaya atau

modal untuk membeli pompa.

Banyak kendala yang dihadapi oleh para petani bawang merah lokal di Pulau

Samosir. Namun dimulai pada kisaran awal April dikemukakan bahwa hal yang paling

membatasi hasil dari bertanam bawang merah lokal ialah keadaan iklim yang berada

pada kemarau panjang dan keadaan para petani yang tidak mampu untuk melakukan

kegiatan penyiraman dikarenakan oleh faktor biaya (modal). Umunya petani yang dapat

melakukan kegiatan penyiraman hanyalah petani yg memiliki lahan di daerah pesisir

danau, selebihnya para petani lain tidak mengusahakan kegiatan apapun dalam hal

pengairan. Hal lainnya yang sangat nyata ialah kehadiran hama ulat Salix exigua dalam

jumlah yang relatif banyak. Hama ini dapat menyebabkan penuruan hasil yang nyata dari

bawang merah lokal. Dampak dari serangan hama ini ialah mengakibatkan daun menjadi

kuning dan layu, ditambah sifatnya yang polifag (pemakan segala). Gejala serangan yang

ditimbulkan oleh ulat bawang ini ialah adanya lubang-lubang pada daun mulai dari tepi

daun permukaan atas atau bawah. Umumnya imago betina menyebarkan telurnya

secara berkelompok pada ujung daun, pada tiap kelompok jumlah telur dapat mencapai

50-150 butir telur, dan seekor imago betina mampu menyebarkan telur hingga

mencapai rata-rata 1000 telur dalam kurun waktu untuk menetas hanya 3 hari. Hal

tersebut yang menyebabkan kehadiran hama ulat ini relatif banyak dan sulit untuk

(43)

Selain hama dan permasalahan iklim, serangan penyakit mati pucuk atau pucuk

daun juga memprihatinkan. Umumnya penyakit ini menyerang pertanaman yang relatif

berumur dewasa. Kerugian yang lebih besar disebabkan oleh penyakit ini ialah kerugian

secara materi untuk biaya input yang sudah terpakai juga waktu yang sia-sia. Menurut

Firmanto (2011) penyakit mati pucuk atau pucuk daun disebabkan oleh cendawan

Phytophthora porri Foister atau yang juga disebut Phytophthora allii Sawada. Penyakit

ini mula-mula menyerang ujung daun hingga warnanya menguning, kemudian sel-selnya

mati dan mongering. Selanjutnya gejala menjalar ke bawah sampai ± 15 cm. Pada musim

hujan atau daerah yang berkabut, tanaman akan mengalami serangan penyakit yang

berat

Dari hasil olah Data SPSS analisis gerombol didapat statistik deskriptif yang

menunjukan standar deviasi tertinggi ada pada parameter berat basah umbi yaitu

sebesar 8,11575. Keragaman ini membagi sampel dalam 2 (dua) kelompok besar.

Dimana kelompok I memiliki nilai rata-rata ≤18,15 dan kelompok II≥25.34 gram untuk

parameter berat basahnya. Setiap kelompok besar tidak memiliki range keragaman yang

(44)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Tidak terdapat perbedaan karakter yang signifikanpada pada ketujuh aksesi bawang

merah lokal Samosir.

2. Potensi hasil bawang merah aksesi Hatoguan paling tinggi diantara ketujuh aksesi

dengan 7,47 ton umbi kering per hektar.

3. Rataan grade umbi dari ketujuh aksesi untuk umbi besar adalah 4,34 g , untuk grade

sedang adalah 2,74 g, sedangkan grade kecil yaitu 1,56 g.

4. Karakter pembeda antar ketujuh aksesi bawang merah lokal Samosir adalah berat

basah umbi per rumpun.

5. Hama yang sering menyerang pertanaman bawang merah lokal Samosir dari ketujuh

aksesi adalah ulat S. exigua, sedangkan penyakit yang sering muncul adalah penyakit

mati pucuk atau pucuk daun.

Saran

Diperlukan penelitian eksplorasi pada wilayah Pulau Samosir yang masih belum

diteliti dan penelitian molekuler lebih lanjut untuk memastikan deskripsi genetik bawang

(45)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Tanaman bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut

divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae, ordo liliales,

famili liliaceae, genus Allium, dan spesies : Allium ascalonicum L. (Steenis, 2003).

Bawang merah merupakan terna rendah yang tumbuh tegak dan tinggi

hingga dapat mencapai 15 – 50 cm, membentuk rumpun dan termasuk tanaman

semusim. Perakarannya berupa akar serabut berbentuk silinder berongga yang

tidak panjang dan tidak terlalu dalam tertanam dalam tanah. Oleh karena

morfologi perakaranya, tanaman ini termasuk tanaman yang tidak tahan

kekeringan (Wibowo, 2007).

Daun bawang merah bertangkai relatif pendek, berbentuk bulat mirip pipa,

berlubang, memiliki panjang 15 - 40 cm, dan meruncing pada bagian ujung. Daun

berwarna hijau tua atau hijau muda. Setelah tua, daun menguning, tidak lagi setegak

daun yang masih muda dan akhirnya mengering dimulai dari bagian ujung tanaman

(Suparman, 2010).

Tanaman bawang merah memiliki batang sejati (discus), yang merupakan bagian

seperti kayu yang berada pada dasar umbi bawang merah, sebagai tempat melekatnya

perakaran dan mata tunas Pangkal daun akan bersatu dan membentuk batang semu.

Yang kelihatan seperti batang pada tanaman bawang merah sebenarnya merupakan

batang semu yang akan berubah bentuk dan fungsinya sebagai umbi lapis

(46)

Tangkai bunga keluar dari ujung tanaman (titik tumbuh) yang panjangnya antara

30-90 cm, dan di ujungnya terdapat 50-200 kuntum bunga yang tersusun melingkar

(bulat) seolah berbentuk payung. Tiap kuntum bunga terdiri atas 5-6 helai daun bunga

yang berwarna putih, 6 benang sari berwarna hijau atau kekuning-kuningan, 1 putik dan

bakal buah berbentuk hampir segitiga (Sudirja, 2007).

Pangkal umbi membentuk cakram yang merupakan batang pokok yang tidak

sempurna. Bagian bawah cakram menjadi tempat tumbuhnya akar-akar serabut pendek,

sedangkan bagian atas diantara lapisan kelopak daun yang membengkak, terdapat mata

tunas sebagai calon tanaman baru. Pada bagian tengah cakram terdapat mata tunas

utama yang memunculkan bunga. Tunas yang memunculkan bunga ini disebut tunas

apikal, sedangkan tunas lain yang berada diantara lapisan kelopak daun dan dapat

tumbuh menjadi tanaman baru disebut tunas lateral. Setiap umbi bawang dapat

dijumpai banyak tunas lateral, yaitu mencapai 3-20 tunas (Brewster, 2008).

Syarat Tumbuh

Iklim

Budidaya bawang merah pada daerah-daerah yang beriklim kering, dengan suhu

udara yang cukup tinggi dan penyinaran matahari yang penuh akan dapat menyebabkan

pertumbuhan tanaman yang optimal. Secara umum tanaman bawang merah lebih cocok

diusahakan secara agribisnis/komersial di daerah dataran rendah pada akhir musim

penghujan, atau pada saat musim kemarau, dengan penyediaan air irigasi yang cukup

untuk keperluan tanaman (Deptan, 2003).

Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal

(47)

Tanaman bawang merah masih dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya

rata – rata 220 C tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara lebih panas

(Sumarni dan Hidayat, 2005).

Maka dari itu, waktu tanam yang baik adalah musim kemarau dengan

ketersediaan air pengairan yang cukup, yaitu pada bulan April/Mei setelah panen padi

dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman di musim kemarau tersebut biasanya

dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di musim

hujan dilakukan pada lahan tegalan (Sutarya dan Grubben, 1995).

Tanaman bawang merah cocok tumbuh di dataran rendah sampai tinggi (0–

1000 m dpl), dengan ketinggian optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan

bawang merah adalah 0–450 m dpl. Tanaman ini peka terhadap curah hujan dan

intensitas hujan yang tinggi serta cuaca berkabut, juga memerlukan penyinaran cahaya

matahari maksimal (minimal 70 % penyinaran) dengan suhu udara 25-32 oC, dan

kelembaban nisbi 50-70 % (Litbang, 2013).

Tanah

Bawang merah dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah dengan pH lebih

dari 5,6 dan menyukai jenis tanah lempung berpasir. Bawang merah membutuhkan

banyak air tetapi kondisi yang basah menyebabkan penyakit busuk

(Siemonsma and Pileuk, 1994).

Jenis tanah yang cocok untuk tanaman bawang merah yaitu tanah aluvial atau

kombinasinya dengan tanah Glei-Humus atau Latosol. Ciri-ciri tanah yang baik antara

(48)

bahan organik yang cukup dan reaksi tanah tidak masam dengan pH 5,6 – 6,5

(Sutarya dan Grubben, 1995).

Bawang Merah Samosir

Bawang merah samosir mempuyai kualitas nomor satu terutama dari segi rasa

dan aroma sangat khas dan lebih menyengat. Memiliki rsa pedas dan aroma yang wangi,

warna lebih merah dan mengkilat, serta kandungan airnya lebih sedikit, meski ukuranya

lebih kecil dibandingkan bawang lain (Antara Sumut, 2012).

Varietas ini berasal dari lokal Samosir. Tanaman berbunga pada umur 52 hari.

Umur sampai panen adalah 70 hari. Tinggi tanaman berkisar antara 26,9-41,3 cm. Secara

alami tanaman mudah berbunga. Jumlah anakan berkisar antara 6-12 umbi. Bentuk

daun berbentuk silindris berlubang. Warna daun berwarna hijau dengan jumlah 22-43

helai. Bentuk bunga seperti payung berwarna putih. Banyaknya buah setiap tangkai

berkisar 60-80 (65), banyaknya bunga per tangkai 90-120 (107). Bentuk biji bulat, gepeng

dan berkeriput. Biji berwarna hitam. Umbi berbentuk bulat dengan ujung meruncing.

Warna umbi merah, produksi umbi kering 7,4 ton per hektar. Susut umbi (basah-kering)

24,7%. Cukup tahan terhadap penyakit busuk umbi (Botritis alli). Peka terhadap penyakit

busuk daun (Phytophthora porri). Varietas ini baik untuk dataran rendah dan dataran

tinggi (Putrasamedja dan Suwandi, 1996).

Eksplorasi Tanaman Bawang

Kegiatan utama dari pemuliaan tanaman meliputi tiga hal, yakni : 1. Eksplorasi

yang merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan dan mengoleksi

semua sumber keragaman genetik yang tersedia, sedangkan identifikasi yang

(49)

pada sumber keragaman genetik sebagai data base sebelum memulai rencana

pemuliaan tanaman. 2. Seleksi merupakan metode/prosedur pemuliaan yang paling tua

dan sebagai dasar untuk semua pengembangan tanaman, baik yang dikembangkan

secara konvensional maupun non konvensional. 3. Evaluasi merupakan suatu kegiatan

yang bertujuan menguji apakah program pemuliaan yang dikerjakan sesuai dengan

tujuan dan sasaran yang ingin dicapai (Swasti, 2007).

Eksplorasi merupakan kegiatan pelacakan atau penjelajahan guna mencari,

mengumpulkan, dan meneliti jenis plasma nutfah tertentu untuk mengamankan dari

kepunahan. Identifikasi dan karakterisasi perlu dilakukan terutama untuk keperluan data

base bawang merah dan untuk mendapatkan bawang merah yang mempunyai keunikan

khusus, baik dari aspek pertumbuhan, ketahanan terhadap hama dan penyakit,

produksi, maupun kandungan senyawa yang terdapat dalam bawang merah yang sangat

bermanfaat sebagai obat untuk kesehatan manusia ataupun digunakan sebagai bahan

bakterisida dan fungisida untuk mengendalikan penyakit tanaman

(Hardiyanto, et al, 2007).

Eksplorasi adalah pelacakan atau penjelajahan atau dalam plasma nutfah

tanaman dimaksudkan sebagai kegiatan mencari, mengumpulkan, dan meneliti jenis

plasma nutfah tertentu untuk mengamankan dari kepunahan. Plasma nutfah yang

ditemukan perlu diamati sifat dan asalnya. Kegiatan ini dilaksanakan di sentra anggrek

dan daerah terisolir. Eksplorasi dilengkapi dengan denah penjelajahan yang

menggambarkan tempat tujuan eksplorasi dan data paspor (Sabran, dkk., 2003).

Eksplorasi adalah kegiatan pelacakan atau penjelajahan guna mencari,

(50)

dan instansi terkait lainnya untuk memperoleh informasi tentang jenis dan habitat

tumbuhnya. Informasi ini kemudian dikembangkan pada saat eksplorasi ke lokasi

sasaran yang umumnya daerah asal dan penyebaran jenis tanaman

(Andriani, dkk., 2010).

Karakterisasi Tanaman Bawang

Karakterisasi merupakan kegiatan penting dalam pengelolaan plasma nutfah

yang digunakan untuk menyusun deskripsi varietas dalam rangka seleksi tetua pada

mengidentifikasi jenis atau varietas bawang, tetapi juga menentukan hubungan genetik

atau kekerabatan diantara aksesi bawang merah tersebut. Hubungan kekerabatan

genetik antar genotip dalam populasi dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah

karakter yang berbeda dari suatu individu, menggambarkan perbedaan susunan

genetiknya. Informasi tentang keragaman genetik berimplikasi dalam penentuan

program pengembangan/budidaya yang akan digunakan dan juga unutk menentukan

program pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul serta

konservasinya.(Rosmayati, dkk., 2012).

Dalam karakterisasi dan evaluasi suatu tanaman, diperlukan suatu daftar

deskriptor. Daftar deskriptor merupakan suatu identifikasi dan ukuran sifat atau

karaktersasi suatu aksesi tanaman seperti warna dan tinggi tanaman yang digunakan

untuk membuat klasifikasi, penyimpanan, pencarian, dan penggunaan yang lebih

seragam. Suatu daftar deskriptor merupakan satu pembanding dari semua deskriptor

individu yang digunakan untuk suatu tanaman tertentu. Panduan untuk karakterisasi

pertanian biasanya mengacu pada IPGRI (Kartikaningrum, dkk., 2004).

(51)

kuantitatif diberi skoring berdasarkan ukuran tertentu. Data karaktersiasi dianalisis

menggunakan PC program Numerical Taxanomy System dengan menggunakan

(52)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bawang merah adalah salah satu komoditi unggulan di beberapa daerah di

Indonesia yang bermanfaat bagi kesehatan, dan khasiatnya sebagai zat anti kanker dan

pengganti antibiotik, menurunkan tekanan darah, kolestrol serta penurunan kadar gula

darah (Irawan, 2010). Hal yang membuat bawang merah dapat bermanfaat pada

kesehatan ialah karena kandungan bawang merah yang mengandung zat-zat non gizi

(fitokimia). Senyawa fitokimia yang terdapat dalam bawang merah yaitu allisin, alliin,

allil propel disulfid, fitosterol, flavonol, flavonoid, kaempfenol, quersetin, quersetin

glikosida, pektin, dan saponin (Putri, 2010).

Berdasarkan data BPS tahun 2009 produksi bawang merah di Sumut mencapai

12.655 ton, namun pada tahun 2010 produksinya menurun hingga capaian 9.413 ton.

Pada tahun 2011 produksi bawang merah meningkat kembali hingga capaianya 12.449

ton, peningkatan tersebut tetap berlanjut di tahun 2012 dimana hasil produksi panen

bawang merah di Sumatera Utara mencapai14.156. Walaupun dalam 2 tahun terakhir

produksi panen mengalami peningkatan, hal tersebut belum memenuhi kebutuhan

konsumsi dimana pada tahun 2012 mencapai jumlah 41.863 ton, yang artinnya Sumut

defisit atau harus mengimpor 27.707 ton untuk menutupi kebutuhan konsumsinya.

Sejak tahun 1970an hingga awal tahun 2005 Kabupaten Samosir dan

daerah-daerah di sekitar Danau Toba telah dikenal sebagai daerah-daerah produsen utama bawang

merah di Sumatera Utara dimana varietas yang ditanaman adalah varietas lokal Samosir

(Antara Sumut, 2012). Namun kini bawang merah Samosir yang pernah menjadi

(53)

kualitas bawang Samosir. Bahkan menurut BPS pada tahun 2013 produksi bawang di

Sumut kembali mengalami penurunan yang signifikan hingga capaian produksinya hanya

8.305 ton, dimana Kabupaten Samosir hanya berkontribusi sebesar 1.114 ton.

Hanya sebagian kecil kontribusi yang dihasilkan dari verietas bawang merah

lokal Samosir pada produksi bawang merah di Kabupaten Samosir, karena mayoritas

petani telah beralih varietas dengan varietas Brebes atau Thailand yang ukurannya lebih

besar namun aromanya dan rasanya kurang tajam bila dibandingkan dengan bawang

merah varietas lokal (Basuki, 2005).

Dengan beralihnya asal bibit petani, keberadaan dan ketersediaan bawang lokal

dapat dipengaruhi, sehingga keberadaan bawang lokal semakin sedikit, begitu pula

dengan kualitas dari bawang lokal samosir tersebut, padahal keunggulan yang dimiliki

oleh bawang lokal samosir tidak sebanding dengan kualitas dari bibit bawang kiriman.

Oleh karena itu perlu dilakukannya upaya penyelamatan terhadap bawang lokal samosir

untuk mempertahankan sifat unggul yang dimilikinya.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian guna

mengetahui hasil eksplorasi dan identifikasi dari beberapa aksesi bawang merah lokal

samosir (Allium ascalonicum L.

Gambar

Gambar 1. Bentuk umbi bawang merah
Tabel 1. Hasil Rataan Karakter Agronomi Bawang Merah Lokal Samosir tiap Aksesi
Gambar 1. Histogram panjang tanaman tiap aksesi
Gambar 3. Histogram jumlah daun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan cara eksplorasi di sentra-sentra penanaman bawang merah lokal Samosir di wilayah Kecamatan Bakti Raja (Kabupaten.. Humbang Hasundutan),

East West Seed Indonesia (EWSI). Karakterisasi Keragaman Aksesi Bawang Merah Lokal Samosir Sekitar Danau Toba Untuk Mendapatkan Populasi Penghasil Bibit Unggul. Sayuran Dunia

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) lokal Samosir pada berbagai dosis belerang. Hasil penelitian

Judul Skripsi : Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar Gamma.. Nama :

SARWITA LESTARI PANJAITAN : Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah ( Allium ascalonicum L .) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar

ROSLINA HULU: Analisis Keragaman Genetik Bawang Merah (Allium ascalonicum L .) pada Beberapa Aksesi di Samosir Menggunakan Marka RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA),

Tanggap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Varietas Lokal Samosir Terhadap Varietas Lokal Samosir Terhadap Beberapa Dosis Iradiasi

Tanaman bawang merah memiliki batang sejati (discus), yang merupakan bagian seperti kayu yang berada pada dasar umbi bawang merah, sebagai tempat melekatnya perakaran dan mata tunas