DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU-BUKU
Alfitra, Modus Operandi pidana khusus diluar KUHP, Jakarta, Penebar SwadayaGrup, 2014.
Chazawi Adami,Pelajaran Hukum Pidana I (Stelsel Pidana, Tindak PidanaTeori-Teori pemidanaan, dan batas berlakunya hukum pidana), Rajawali Pers, Jakarta, 2013.
Djamil, M. Nasir. 2013. Anak Bukan Untuk Dihukum Catatan Sistem Peradilan Pidana Anak (UU-SPPA), Jakarta, Sinar Grafika.
Ekaputra, Muhammad, Dasar-dasar Hukum Pidana, Usu Press, Medan, edisi 2, 2013.
Farhana,Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2010.
Gultom, Maidin, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, PT. Refika Aditama,Bandung 2013.
Hamzah, Andi, 1999, Bunga Rampai Hukum Pidana dan AcaraPidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1999.
Joni, Muhamad dan Zulchaina Z. Tanamas, Aspek Hukum Perlindungan Anak (Dalam Perspektif Konvensi Hak Anak), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
Makarao, Muhammad Taufik, Weny Bukamo dan Syaiful Azri, Hukum Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Rineka Cipta, Jakarta, 2013.
Mansur, Dikdik M. Arief Mansur & Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan (Antara Norma dan Realita), PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2008.
Marlina, Hukum Penitensier, PT. Refika Aditama, Bandung, 2011
Mozasa, Chairul Bariah, Aturan-Aturan Hukum Trafficking (Perdagangan
Perempuan dan Anak), Medan, USU Press, 2005.
Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana bagi Anak Indonesia, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, cetakan ke-2, 2012.
Ridwan, H.M dan Ediwarman,Asas-asas Kriminologi (Medan, USU Press,
1994)
Soekanto Soerjono, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,
---Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press,Depok,1994.Sofian,
Ahmad, Perlindungan Anak di Indonesia Dilema dan Solusinya, PT.Sofmedia,
Jakarta,2012.
Susanto IS, Kriminologi ( Yogyakarta. Genta Publishing, 2011)Syamsuddin,
Azis Tindak Pidana Khusus, Jakarta, Sinar Grafika, 2011.
B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
Perda Nomor 6 tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan dan anak.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Bangsa-C. WEBSITE
BAB III
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ANAK DI
INDONESIA
Manusia sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya mempunyai suatu hubungan erat ataupun memiliki keterkaitan dalam kehidupannya. Kehidupan dalam bermasyarakat ada kalanya terjadi suatu benturan kepentingan satu dengan lainnya dan juga terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma hukum yang dikenal dengan sebutan kejahatan. Kejahatan merupakan masalah sosial yaitu masalah yang timbul ditengah-tengah masyarakat dimana pelaku dan korbannya adalah anggota masyarakat itu sendiri.
Kejahatan di seluruh dunia selalu mengalami perkembangan yang sangat cepat sejalan dengan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan teknologi. Perkembangan mengenai masalah-masalah kejahatan, baik dilihat secara kuantitatif maupun kualitatifnya tetap memerlukan suatu pembahasan dan pengamatan sesuai dengan aktivitas permasalahannya. Tanpa mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan sulit untuk dimengerti alasan kejahatan itu terjadi apalagi untuk menentukan tindakan yang tepat dalam menghadapi pelaku kejahatan.
dilakukan sukar sekali untuk menentukan faktor-faktor yang pasti penyebab seseorang melakukan kejahatan66
Faktor-faktor yang penting untuk diperhatikan adalah .
Aliran krimonologi klasik mencoba mencari jawaban tentang sebab musabab seperti faktor ekonomi, biologi dan sebagainya. Aliran kriminologi moodren mengambil sikap yang berlainan. Aliran ini melihat kejahatan dalam konteks mengkonstraksikan kejahatan sosial yang bertalian dengansi penjahat, bukan saja dalam hubungan dengan interaksi proses pembuatan Undang-Undang, bagaimana realitas pelaksanaan Undang-Undang, melainkan juga dengan hubungan dengan realitas pelanggaran terhadap Undang-Undang itu sendiri. Lembaga-lembaga hukum perlu dilihat pengaruhnya didalam realitas kehidupan sosial penjahat itu sendiri, serta juga pandangan masyarakat terhadap kejahatan itu sendiri. Kepustakaan kriminologi terhadap beberapa faktor yang amat sering dhubungkan dengan kejahatan faktor ini perlu kita periksa dengan hati-hati, karena faktor-faktor ini belum sepenuhnya terbukti mempunyai sebab-akibat dengan kejahatan dan lagi pula sebagaimana yang dikatakan ditaas yang diterima sebagai dalam atas kemungkinan untuk dicari kriminologi hannya faktor yang necessarybut not sufficient sebagai sebab kejahatan (faktor-faktor yang selau merupakan sebab dari suatu akibat/kejahatan dengan (faktor-faktor lain).
67
66Maidin Gultom, Perlindungan Hukum terhadap Anak dan Perempuan, PT Refika Aditama, Bandung, 2013, Halaman.40-41. (selanjutnya disebut Maidin Gultom II)
67
1. Teori ekologis (Shaw dan Mckey); kepadatan pendudukdan mobilitas sosial
(horizontal dan vertikal) kota dan pedesaan; urbanisasi dan urbanisme;
delinguency areas dan perumahan;distribusi menurut umur dan kelamin.
2. Teori konflik kebudayaan (Selli); masalah suku, agama, kelompok minoritas.
3. Teori ekonomi (Bonger); pengaruh kemiskinan dan kemakmuran.
4. Teori differential asscociation (Sutherland); pengaruh media massa.
5. Teori Anomie dan subculture; perbedaan nilai dan norma antara “middle class”
dan “lower class”, ketegangan yang timbul karena keterbatasan kesempatan untuk
mencapai tujuan.
Mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan, dikenal adanya beberapa teori yang dapat dipergunakan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kejahatan. Teori-teori tersebut digolongkan kedalam penggolongan teori-teori kriminologi yang positip dan penggolongan teori-teori yang berkiblat pada mazhab kritis. Penggolongan teori tersebut terdiri dari:
a. Mazhab Antropologi68
Usaha untuk mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri biologis dipelopori oleh ahli-ahli frenologi, seperti Gall (1758-1828) Spurzheim (1776-1832), yang mencoba mencari hubungan antara bentuk tengkorak kepala dengan tingkah laku.Mereka mendasarkan pada pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa otak merupakan organ dari akal.
Cesare Lombroso (1835-1909) seorang dokter ahli kedokteran kehakiman merupakan tokoh yang penting dalam mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri fisik (biologis) penjahat dalam bukunya L’uomo Delinquente (1876). Pokok-pokok ajaran Lombroso adalah:
1. Menurut Lombroso, penjahat adalah orang yang mempunyai bakat jahat
2. Bakat jahat tersebut diperoleh karena kelahiran, yaitu diwariskan dari nenek
moyang (borne criminal).
3. Bakat jahat tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri biologis tertentu, seperti muka
yang tidak simetris, bibir tebal, hidung pesek, dan lain-lain
4. Bakat jahat tersebut tidak diubah, artinya bakat jahat tersebut tidak dapat
dipengaruhi
Lamboroso juga menggolongkan para penjahat dalam beberapa golongan seperti :69
1. Antroplogi Penjahat : Penjahat umumnya dipandang dari segi antroplogi
merupakan suatu jenis manusia tersendiri (genus home delinguenes), seperti
halnya dengan negro. Mereka dilahiran demikian (ildelinguente nato) mereka
tidak mempunyai predis posisi untuk kejahatan, tetapi suatau prodistinasi, dan
tidak ada pengaruh lingkungan yang dapat merubahnya. Sifat batin sejak lahir
dapat dikenal dari adanya stigma-stigma lahir, suatu tipe penjahat yang dapat
dikenal.
2. Hypothese atavisme : Persoalannya ialah bagaimana caranya menerangkan
terjadinya mahkluk yang abnormal itu (penjahat sejak lahir). Lambroso dalam
memecahkan soal tersebut, memajukan hypothase yang sangat cerdik, diterima
bahwa orang masih sederhana peradapannya sifatnya adalah amoral, kemudian
dengan berjalannya waktu dapat memperoleh sifat asusila (moral), maka orang
penjahat merupakan suatu gejala atavistis, artinya ia dengan sekonyong-konyong
dapat kembali menerima sifat-sifat yang sudah tidak dimiliki nenek moyangnya
yang lebih jauh (yang dinamakan pewarisan sifat secara jauh kembali).
3. Hypothese Pathology : Berpendapat bahwa penjahat adalah seseorang penderita
epilepsi
4. Type penjahat : ciri-ciri yang dikemukakan oleh Lambroso terlihat pada penjaha,
sedemikian sifatnya, sehingga dapat dikatakan tipe penjahat. Para penjahat
dipandang dari segi antroplogi mempunyai tanda-tanda tertentu, umpamanya sis
tengkoraknya (pencuri) kurang lebih dibandingkan dengan orang lain, dan
terdapat kelainan-kelainan pada tengkoraknya. Dalam tengkoraknya terdapat
keganjilan yang seakan-akan mengingatkan kepada otak-otak hewan, biar pun
tidak dapat ditunjukkan adanya kelainan-kelainan penjahat khusus. Roman
mukanya juga laindari pada orang biasa, tulang rahang lebar, muka menceng,
b. Teori Psikologi
Teori ini berpendapat bahwa kejahatan melalui studi proses mental dalam hal ini
penyakit kejiwaaan, kehancuran dari pusat ketakutan/kegugupan neurasthenia
ketidakmampuan (inadequete) seluruh kemampuan mental. Hal-hal tersebutlah
menyebabkan seseorang menjadi penjahat, tokohhnya Sigmund freud, Carl Jung,
Alfred Adler, August Aichorn, dan Kurt R.Eissler.
c. Teori Sosiologi
Menurut teori ini bahwa penjahat adalah sebuah hasil dari masyarakat dengan
pusat perhatian adalah hubungan antara manusia dan kepada keyataan bahwa
penyimpangan secara terus menerus karena dikehendaki dan diterima sebagai
dorongan dan kebanyakan perilaku menyimpang adalah bagian dari kebudayaan.
Teori menolak bahwa gagasan timbulnya kejahatan dapat dipahami dan analisa
dimana penjahat sebagai individu. Kejahatan adalah perwujutan sebuah produk
dari belajar tentang prilaku tentang hubungannya dengan masyarakat.
d. Teori ekonomi
Menurut teori ini, sebab-sebab kejahatan didasarkan pada gagasan dari konsep
manusia berakal dan dari faktor lain yang berkaitan dengan gagasan dari pilihan
ekonomi. Menurut ahli ekonomi, karena individu mempunyai keperluan untuk
memuaskan usaha mereka dan ketika dihadapkan pada pilihan, individu
kebutuhan mereka, dalam hal ini merupakan kondisi sosial teapi mereka tidak
tertarik menerangkan apa sebab atau bentuk pilihan itu.
e. Teori multifaktor
Pendekatan multifaktor menerangkan perilaku penjahat adalah adalah sebuah
perpaduan dari kelompok biologis, psikologis dn sosiologis. Para penganut teori
ini berusaha mendamaikan (reconcile) perbedaan disiplin dengan tujuan
membangun teori integrasi memahami kejahatan. Perintis pendekatan ini adalah
Adolple Prins, Frans von Liszt, menurut mereka menggabungkan gagasan dari
pilihan dari sebab-sebab dan melakukan upaya merasionalisasikan ketitak
sesuaian diantara ketiga kelompok besar menjadi kelompok tunggal70
A. Faktor Internal
.
Faktor-faktor terjadinya Perdagangan Anak dapat dikategorikan kedalam dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor Individual
yang berbeda satu sama lainnya. Kepribadian seseorang ini dapat dilihat dari tingkah laku seseorang dalam pergaulannya ditengah masyarakat. Seseorang yang tingkah lakunya baik akan mengakibatkan orang tersebut mendapat penghargaan dari masyarakat. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang bertingkah laku tidak baik maka orang itu akan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat.
Perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, terjerumusnya anak-anak dalam pentas pelacuran bukan merupakan pilihan anak semata, oleh karena anak tidak dalam kapasitas yang kuat untuk memberikan persetujuan untuk menjadikannya sebagai pelacur. Perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran ini mengalami peningkatan, anak cenderung tidak menggunakan nalarnya dalam mengambil keputusan, mereka lebih menggunakan emosinya sehingga anak-anak ini terjebak dalam lingkaran prostitusi atau pelacuran.
yang merupakan salah satu pendorong perempuan dan anak dengan mudah menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran71
2. Faktor Ekonomi
.
Faktor ekonomi menjadi penyebab terjadinya perdagangan manusia yang dilatar belakangi kemiskinan dan lapangan pekerjaan yang tidak ada atau tidak memadai dengan besarnya jumlah penduduk. Kemiskinan dan lapangan pekerjaan inilah yang membuat seseorang untuk melakukan sesuatu, yaitu mencari pekerjaan meskipun harus keluar daerah asalnya dengan resiko yang tidak sedikit. Kemiskinan yang begitu berat dan langkanya kesempatan kerja mendorong jutaan penduduk Indonesia untuk melakukan migrasi didalam dan keluar negeri guna menemukan cara agar dapat menghidupui diri mereka sendiri dan keluarga mereka sendiri72
.
Kemiskinan bukan satu-satunya indikator kerentanan seseorang terhadap perdagangan orang. Penduduk Indonesia masih ada jutaan yang hidup dalam kemiskinan tidak menjadi korban perdagangan orang, akan tetapi ada penduduk yang relatif baik dan tidak hidup dalam kemiskinan malah menjadi korban perdagangan orang. Perdagangan orang ini disebabkan mereka bermigrasi untuk mencari pekerjaan bukan semata karena tidak mempunyai uang, tetapi mereka ingin memperbaiki ekonomi serta menambah kekayaan materil, kenyataan ini didukung oleh media yang menyajikan tontonan yang glamour dan komsumtif, sehingga membentuk gaya hidup yang materialisme dan konsumtif.
Materialis adalah stereotip yang selalu ditujukan kepada mereka yang memiliki sifat menjadikan materi sebagai orientasi atau tujuan hidup.Untuk mendapatkan materi sebagai orientasi atau tujuan hidup. Untuk mendapatkan materi sering menghalalkan segala cara, termasuk mendapatkannya melaluli cara pertukaran nilai jasa dan/atau dirinya. Kalangan orang tua yang tergolong materialistis, cara yang ditempuh adalah menukarkan jasa atau diri anaknya sendiri karena dianggap sebagai bentuk pengabdian dan balas jasa anak kepada orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan.
memungkinkan mereka mendapatkan angan-angan itu. Pelaku perdagangan orang, kondisi ini selalu akan menjadi peluang untuk menjaring korban untuk diperdagangkan73
3. Faktor keluarga
.
Keluarga mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan pola tingkah laku anak sekaligus bagi perkembangan anak, karena tidak seorang pun dilahirkan langsung mempunyai sifat yang jahat tetapi keluargalah yang mempunyai sumber pertama yang mempengaruhi perkembangan anak74
Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua membuat anak melarikan diri dari keluarga dan mencari pelampiasan kepada teman-temannya, merupakan faktor yang sangat penting bagi kejiwaan anak tersebut, apabila terjadi perubahan kondisi rumah tangga seperti perceraian, sehingga membuat anak mengalami “broken home”. Faktor lain didalam
. Pembinaan terhadap anak haruslah sebaik mungkin dilakukan dalam keluarga. Akibat kurangnya pemahaman keluarga terhadap anak sehingga anak tersebut mudah terpengaruh pada lingkungan disekelilingnya, tanpa menggunakan nalarnya secara baik akan tetapi emosi yang dimiliki anak itu sangat berpengaruh pada lingkungan disekelilingnya, tanpa menggunakan nalarnya secara baik akan tetapi emosi yang dimiliki anak itu sangat berpengaruh dan dengan mudahnya terikat pada tawaran pekerjaan dengandiimingi gaji yang besar. Ketidaktahuan orang tua dan keluarga tentang hak-hak yang harus dilindungi, sehingga dalam keluarga itu juga sering terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak itu sendiri tentang cara-cara mendidik anak yang baik.
keluarga yang dapat mendorong anak menjadi korban perdagangan untuk prostitusi atau pelacuran adalah penerapan disiplin didalam keluarga itu sendiri.
Kurangnya kedisiplinan dalam keluarga disebabkan oleh :
a. Perbedaan antara orang tua dan anak dalam hal kedisiplinan;
b. Kelemahan moral, fisik dan kecerdasan orang tua yang membuat lemahnya
disiplin ;
c. Kurang disiplin karena tidak adanya orang tua;
d. Perbedaan pendapat tentang pengawasan terhadap anak-anaknya;
e. Karena penerapan kedisiplinan yang kurang ketat;
f. Orang tua dalam membagi cinta dan kasih sayang terhadap anak kurang
merata atau pilih kasih dalam penerapan kedisiplinan didalam rumah tangga.
Kepatuhan pada orang tua juga merupakan hal yang sangat penting untuk
dicermati. Ketidakpatuhan terhadap orang tua membuat anak ini tidak lagi
memperhatikan nasihat ataupun bimbingan dari orangtuanya, sehingga anak ini
bertindak dan berperilaku hanya berdasarkan emosionalnya semata. Ketidak patuhan
ini yang membuat anak tersebut terjebak dalam lingkaran perdagangan ornag, dan hal
ini mungkin tidak pernah diinginkan oleh anak tersebut..
4. Faktor pendidikan
korban ataupun pelaku itu sendiri akan sangat berpengaruh menumbuhkan perilaku yang rasional dan menurunkan atau mengurangi bertindak secara irasional.
Seorang anak dalam keluarga belajar memegang peranan sebagai makluk sosial yang memiliki norma-norma dan kecapan tertentu didalam pengalamannya dengan masyarakat lingkungannya. Pengalaman-pengalaman yang didapatnya dalam keluarga turut pula menentukanr cara-cara bertingkahlaku anak tersebut. Hubungan anak dengan anak yang berlangsung secara tidak wajar atau kurang baik, maka kemungkinan pada umumnya hubungan anak dengan masyarakat disekitarnya akan berlangsung secara tidak wajar pula75
Laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari telah memperoh pembagian peran tugas nilai-nilai serta aturan-aturan yang berbeda. Perempuan karena fungsi reproduksi ditempatkan domestik (rumah tangga), sedangkan laki-laki ditempatkan pada ruang publik. Pembagian peran ternyata berdampak luas serta mempengaruhi pola pengasuhan dan kesempatan bagi anak-anak laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, terutama dipedesaan oarang tua lebih memberikan kesempatan kepada anak laki-laki, karena suatu hari anak laki-laki harus mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Anak perempuan dianggap tidak terlalu membutuhkan pendidikan karena kelak akan mengikuti suami. Perempuan dalam keluargan selalu diberika pendidikan rela berkorban untuk keluarga, sehingga banyak perempuan yang bekerja bukan untuk mengaktualisasikan
dirinya atau melaksanakan haknya, tetapi sekedar membantu keluarga atau menambah penghasilan keluarga76
Kurangnya pendidikan formal berupa pendidikan agama juga merupakan faktor penyebab meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, hal ini mungkin disebabkan keterbatasan pengetahuan tentang keagamaan ataupun kurangnya rasa iman pada diri anak tersebut dalam mengendalikan dirinya, dan lebih memudahkan trafficker untuk merekrut anak-anak itu untuk dijadikan pelacur
.
77
B. Faktor Eksternal
.
1. Faktor lingkungan
Suatuk kejahatan manusia didalam hidupnya akan selalu berdampingan dengaan masyarakat sekitar. Tidak ada manusia yang hidup tidak tergantung dengan atau membutuhkan orang lain. Semua orang untuk memenuhi segalakeperluannya harus selalu membutuhkan orang lain. Seseorang itu didalam masyarakat harus menaati segala peraturan yang hidup didalam masyarakat termasuk juga norma hukum yang berlaku.
Penyebab anak menjadi korban pergangan anak sangat berpengaruh pada keadaan anak itu berada. Anak sebagai korban perdagangan ini tidak hannya berasal dari lingkungan keluarga miskin tetapi juga berasal dari lingkungan keluarga kaya.
76Farhana, op.cit., Halaman. 69. 77
Anak menjadi korban perdagangan ini, karena terpengaruh oleh lingkungan yang bersifat materialisme maupun konsuntif. Anak untuk memenuhi kebutuhannya, maka anak tersebut akan menanggapi bahkan menerima suatu pekerjaan dengan gaji yang tinggi sehingga anak itu akan menerima tanpa memikirkan akibatnya. Anak-anak tersebut pada umumnya tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan cara dari trafficker untuk merekrut korbannya.
Faktor lingkungan atau pergaulan anak tersebut dengan masayarakat sekitarnya dpat menjadi salah satu penyebab terjadinya perdagangan yang korbanya anak-anak. Kejahatan perdagangan ini merupakan gejala sosial yang tidak berdiri sendiri melainkan adanya kondisi atau hubungan dengan berbagai perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, hukum maupun adanya teknologi serta perkembanganyang lain akiibat sampingan yang negatif dari setiap kemajuan dan oerubahan sosial masyarakat. Orang tua dalam hal ini harus pengalamannya dalam membina dan membentuk kepribadian anak, sehingga tidak terjerumus dalam lingkungan prostitusi atau pelacuran sebagaiman yang sering terjadi78
2. Faktor perkawinan usia muda
.
Perkawinan usia muda ini banyak mengundang masalah, karena perkawinan mengandung resiko tinggi, terutama ketika diikuti dengan kehamilan. Secara sosial anak perempuan yang menikah pada usia muda cenderung banyak mengalami kesulitan terutama bila diceraikan oleh suami. Ketika seseorang anak perempuan bercerai, ia kehilangan status haknya sebagai anak, hal ini menghalanginya untuk memasuki sistem pendidikan formal apabila ia menginginkanya. Anak perempuan sejak menikah dianggap sebagai orang dewasa yang mandiri dan tidak lagi menjadi tanggungan orangtuanya. Anak perempuan apabila sudah bercerai dengan suaminya, orang tuanya tidak lagi bertanggung jawab untuk memberinya nafkah atau menanggung hidupnya. Anak perempuan yang telah dikembalikan oleh suaminya cenderung memberanikan diri pergi kekota-kota besar untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik dan untuk bertahan hidup. Anak perempuan yang tidak mempunyai keterampilan atau ijazahyang memungkinkan mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga mereka masuk jaringan perdagangan orang79
3. Faktor ketidakadaan kesetaraan gender
.
Nilai sosial budaya patriarki yang masih kuat ini menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan dan peran yang berbeda dan tidak setara, hal ini ditandai dengan adanya pembekuan peran, yaitu sebagai istri, sebagai ibu, pengelolaan rumah tangga, dan pendidikan anak-anak di rumah, serta pencari nafkah tambahan dan jenis pekerjaannya serupa dengan tugas didalam rumah tangga, misalnya menjadi pembantu rumah tangga dan mengasuh anak. Perempuan selain memiliki peran tersebut, perempuan juga mempunyai beban ganda, subordinasi, marjinalisasi, dan kekerasan terhadap
79
perempuan, yang kesemuanya itu berawal dari diskriminasi terhadap perempuan yang menyebabkan mereka tidak atau kurang memiliki akses, kesempatan dan kontrol atas pembangunan, serta tidak atau kurang memperoleh manfaat pembangunan yang adil dan setara dengan laki-laki. Faktor sosial budaya disinyalir merupakan penyebab terjadinya kesenjangan gender, antara lain dalam hal berikut :
a. Lemahnya pemberdayaan ekonomi perempuan dibandingkan dengan laki-laki,
yang ditandai dengan masih rendahnya peluang perempuan untuk bekerja dan
berusaha, serta rendahnya akses sumber daya ekonomi seperti teknologi,
informasi, pasar, kredit, dan modal kerja;
b. Ketidaktahuan perempuan dan anak-anak tentang apa yang sebenarnya terjadi di
eraglobalisasi;
c. Kurangnya pengetahuan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki;
Perempuan kurang mempunyai hak untuk mengambil keputusan dalam keluarga atau masyarakat dibanding kan laki-laki.
4. Faktor penegakan hukum
Perangkat hukum di Indonesia masih terlalu lemah dalam memberikan perhatian terhadap masalah perempuan dan anak ini, karena pengaturan yang bersifat global dan tidak spesifik mengatur tentang perdagangan perempuan dan anak ini, sehingga tidak menyentuh segmen perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, dan membawa akibat banyak kasus tidak terselesaikan secara hukum dan adanya ketidak mampuan aparat hukum untuk membongkar dan memutuskan mata rantai perdagangan perempuan dan anak81
Inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindakan sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup
.
82
. Kaidah-kaidah tersebut menjadi pedoman bagi perilaku atau sikap tindak yang dianggap pantas atau yang seharusnya. Perilaku atau sikap tindak tersebut bertujuan untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian, dapat juga dikatakan bahwa penegakan hukum dalam masyarakat berarti membicarakan daya kerja hukum dalam mengatur dan memaksa masyarakat untuk taat kepada hukum.Penegakan hukum tidak terjadi dalam masyarakat karena ketidak serasian antara nilai, kaidah, dan pola perilaku. Permasalahan dalam penegakan hukum terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri83
81Maidin Gultom II, op.cit., Halaman. 46.
82Soerjono Soekanto, FaktorFaktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, Halaman. 5.
83
Farhana, op.cit., Halaman. 63.
Faktor-faktor yang mempengaruhi faktor penegakan Hukum adalah faktor hukumnya sendiri, faktor penegakan hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyrakat, dan faktor kebudayaan
a. Faktor hukumnya sendiri
Sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, tidak ada peraturan perundang-undangan yang dengan tegas mengatur perdagangan orang. Ketentuan hukum positif yang mengatur tentang larangan perdagangan orang tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan, seperti Pasal 297 KUHP. Pasal tersebut tidak menjelaskan dengan jelas defenisi perdagangan orang, sehingga tidak dapat dirumuskan dengan jelas unsur-unsur tindak pidana yang dapat digunakan penegak hukum untuk melakukan penuntutan dan pembuktian danya tindak pidana. Pasal ini dapat dikatakan mengandung diskriminasi terhadap jenis kelamin karena Pasal ini hanya menyebutkan hanya wanita dan anak laki-laki dibawah umur, artinya hanya perempuan dan anak laki-laki yang masih dibawah umur yang mendapat perlindungan hukum.
Asas hukum pidana menentukan bahwa hukum pidana menganut sistem interpretasi negatif yang berarti tidak ada interpretasi lain selain yang ada dalam KUHP itu sendiri. Pasal ini bersifat umum, sehingga tidak mampu mewadahi kasus yang sifatnya lebih spesifik, karena dalam lapangan banyak ditemukan bentu-bentuk kejahatan lebih spesifik tidak mampu dijerat oleh Pasal tersebut.
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga terkait dengan perdagangan manusia. Ketentuan hukum dalam Undang-Undang ini menunjukkan kemajuan ketentuan pidana dengan mengikuti perkembangan kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam masyarakat dan tidak ada diskriminasi perlindungan hukum dari tindak pidana terhadap jenis kelamn atau usia, karena perdagangan manusia mencakup semua orang termasuk laki-laki dan anak meliputi anak laki-laki dan anak perempuan. Ketentuan Undang-Undang ini juga memberikan ruang lingkup perlindungan yang lebih luas terhadap segala bentuk tindak pidana yang biasanya merupakan bagian ekploitasi dalam perdagangan orang seperti penyekapan.
tahun penjara dan denda antara Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta) rupiah sampai Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta) rupiah. Undang-Undang ini sering digunakan sebagai dasar untuk menangkap pelaku perdaganga orang84
b. Faktor penegak hukum
.
Penegakan hukum dalam masyarakat selain dipengaruhi peraturan atau Undang-Undang juga ditentukan oleh para penegak hukum. Peraturan sering tidak tidak terlaksana dengan baik karena ada penegak hukum yang tidak melaksanakan suatu peraturan dengan cara sebagaimana mestinya.
c. Faktor sarana dan fasilitas
Sarana dan fasilitas mempengaruhi penegakan hukum. Penegakan hukum tidak mungkin akan berlangsung dengan lancar tanpa adanya saran atau fasilitas. Sarana atau fasilitas antara lain mencakup sumberdaya manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup85
Lemahnya kordinasi antar penegak hukum, polisi tidak mengetahui hasil putusan hakim sehubungan dengan kasus-kasus yang diajukannya kepada kejaksaan dan pengadilan.
.
Perbedaan interpretasi terjadi pada penegak hukum tentang defenisi perdagangan orang sangat berpengaruh pada penuntutan, pembukrian dan penghukuman. Kasus kejahatan perdagangan manusia sering lepas dari penuntutan karena adanya perbedaan interpretasi.
Kejaksaan juga tidak mengetahui hasil putusan pengadilan. Keadaan ini sangat menghambat proses monitoring dan evaluasi penegak hukum.
Sistem pendataan dan dokumentasi kasus dan penanganan perdagangan manusia yang tidak memadai, sehingga data tidak terdokumentasi secara lengkap.Ini mengakibatkan adanya anggapan bahwa upaya penanganan kasus perdagangan orang tidak merupakan prioritas.
Ruang pelayanan khusus (RPK) dalam struktur organisasi Polri bagian terdepan Polri dalam menangani perempuan dan korban kekerasan dan eksploitasi. Peranan RPK belum digunakan secara maksimal oleh masyarakat. Masyarakat masih banyak yang belum terdorong mengadu ke RPK bila mengalami ekploitasi ekonomi atau seksual.
d. Faktor masyarakat
perdagangan manusia tidak melaporkan kepada kepolisian atau telah menjadi korban perdagangan orang86
e. Faktor kebudayaan .
Laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari telah memperoh pembagian peran tugas nilai-nilai serta aturan-aturan yang berbeda. Perempuan karena fungsi reproduksi ditempatkan domestik (rumah tangga), sedangkan laki-laki ditempatkan pada ruang publik.
Pembagian peran ternyata berdampak luas serta mempengaruhi pola pengasuhan dan kesempatan bagi anak-anak laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, terutama dipedesaan orang tua lebih memberikan kesempatan kepada anak laki-laki, karena suatu hari anak laki-laki harus mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Anak perempuan dianggap tidak terlalu membutuhkan pendidikan karena kelak akan mengikuti suami. Perempuan dalam keluargan selalu diberikan pendidikan rela berkorban untuk keluarga, sehingga banyak perempuan yang bekerja bukan untuk mengaktualisasikan dirinya atau melaksanakan haknya, tetapi sekedar membantu keluarga atau menambah penghasilan keluarga87.
BAB IV
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN
ORANG (STUDI PUTUSAN NOMOR 149/PID.SUS/2015/PN. TEMBILAHAN)
A. Posisi KASUS
Bermula pada hari pada hari Minggu tanggal 19 April 2015 sekira pukul 09.00 WIB Terdakwa minum kopi bersama dengan saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN diwarung milikSdr.PANE di Parit 13 Tembilahan. Pada saat itu Terdakwa berkata kepada saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN "ada nggak orang yang akan membeli anak bang " lalu dijawab oleh saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN "anak siapa" selanjutnya Terdakwa menjawab "Anak saya yang kecil" setelah itu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN menanyakan lagi " berapa " dan Terdakwa jawab "Rp 5.000.000,-(lima juta rupiah ), lalu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN menjawab " kalau segitu mana ada orang yang mau, kalau Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) ada yang mau " dan saat itu Terdakwa bilang " Nantilah dulu saya pikir- pikir dulu" selanjutnya Terdakwa langsung pulang ke rumah yang terletak di Jalan SKB RT. 008 RW.002 Kel, Sungai Beringin Kec. Tembilahan.
WIB saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN datang kerumah Terdakwa untuk menanyakan kepada Terdakwa " bagai mana WAN runding kita ", lalu dijawab oleh Terdakwa " iyalah bang jadi ", pada saat itu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN melihat seorang anak perempuan lalu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN bertanya kepada Terdakwa "yang ini ya anaknya " lalu dijawab oleh Terdakwa " Iya.
Kemudian pada hari Selasa tanggal 21 April 2015 sekira pukul 19.00 WIB Terdakwa pergi ke rumah saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN yang berada di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW. 009 Kelurahan Tembilahan Hilir untuk mengantar Kartu Keluarga (KK) sebagai bukti bahwa benar anak yang akan Terdakwa jual kepada saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN tersebut adalah anak kandung Terdakwa sendiri yang bernama AYU WULANDARI, setelah itu Terdakwa langsung pulang ke rumahnya.
jual beli anak tersebut, setelah Terdakwa menanda tangani surat perjanjian tersebut kemudian saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN memberikan uang kepada Terdakwa sebesar Rp 3.200.000,- ( tiga juta dua ratus ribu rupiah ) sambil berkata " Ini sisa uangnya sebesar Rp. 300.000,- ( tiga ratus ribu rupiah ) untuk ongkos membuat surat, setelah uang penjualan anak tersebut di terima oleh Terdakwa kemudian Terdakwa langsung pergi untuk mencari ojek, setelah ojek di dapat oleh Terdakwa kemudian Terdakwa pergi ke pasar untuk membeli duku (langsat ) dan baju untuk anaknya AYU WULANDARI, kemudian Terdakwa pulang kerumahnya sambil meletakkan duku (langsat) dan baju, pada saat itu Terdakwa memberikan uang hasil penjualan anaknya kepada saksi NURSIAH Binti SAPARIN (istri Terdakwa) sebesar Rp 1.000.000,- ( satu juta rupiah ), pada saat itu saksi NURSIAH Binti SAPARIN bertanya kepada Terdakwa dengan mengatakan " mana anak " saat itu Terdakwa tidak menjawab, selanjutnya Terdakwa langsung pergi ke pasar menuju ke Wisma 99 sesampai disana Terdakwa menginap selama 2 ( dua ) malam dengan sewa kamar sebesar Rp. 200.000,- ( dua ratus ribu rupiah) uang hasil penjualan anak Terdakwa juga di pergunakan untuk membayar utang kepada Mbak LO di Pekan Arba sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), membayar hutang kepada Mbah SUM di Parit 11 Tembilahan sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah ) dan uang sisa penjualan anaknya tersebut
sebesar Rp 1.045.000,-( satu juta empat puluh lima ribu rupiah ).
masyarakat untuk menanyakan masalah penjualan anak yang Terdakwa lakukan tersebut dan tidak lama kemudian Terdakwa ditangkap Polisi dan dibawa ke Polsek Tembilahan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagagai berikut:
a. Menyatakan Terdakwa MISWANTO AIs IWAN Bin TUKIRAN terbukti
bersalah melakukan Tindak Pidana menempatkan, membiarkan, melakukan,
menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan atau
perdagangan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 F UU RI Nomor 35 tahun
2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
b. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa MISWANTO Als IWAN Bin TUKIRAN
dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa, ditahan
dan menghukum Terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp.60.000.000,-
(enam puluh juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan kurungan dengan perintah
Terdakwa tetap berada dalam tahanan;
c. Menyatakan barang bukti berupa:
1. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)
3. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan
kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan
DEDIAFRIZAL;
d. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000,- (lima
ribu rupiah)
B. Fakta Hukum
Fakta-fakta yang terungkap di depan persidangan secara berturut-turut berupa keterangan saksi, surat, petunjuk, keterangan terdakwa dan adanya barang bukti adalah :
1. Keterangan Saksi
a. Saksi NURSIAH Binti SAPARIN, atas persetujuan Terdakwa, Saksi memberikan
keterangan dibawah sumpah sebagai berikut ;
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa karena saksi adalah istri Terdakwa;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar ;
3. Bahwa anak kandung saksi yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa kepada JAMRI Alias IJAM Bin
MISRAN;
4. Bahwa anak saksi AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2
5. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Terdakwa sendiri yang terletak di Jalan
SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir
Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;
6. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah saksi yang terletak di jalan SKB RT.01,
RW.06, Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan Kabupaten
Indragiri Hilir, terdakwa menyuruh saksi untuk memandikan anak saksi yang
bernama Ayu Wulandari Binti Miswanto untuk dibawanya ke Bank
dikarenakan akan menerima bantuan dana dari kantor Nasabah dan untuk itu
harus membawa anak sebagai saksi untuk mendapatkan bantuan dana dari
kantor Nasabah dan saksi pun menyetujuinya, kemudian sekira pukul 09.00
Wib Terdakwa pergi dari rumah bersama dengan Ayu Wulandari Binti
Miswanto dan setelah di tunggu-tunggu oleh saksi sore harinya ternyata
Terdakwa dan anak saksi juga tidak pulang dan sekitar pukul 13.30 Wib,
temannya Terdakwa yaitu sdr. AYI Bin BAKHTIAR datang kerumah saksi
dan mengatakan, “Nur, suami mu bilang si AYU hilang, Yok kita ke rumahku
suami mu ada disana“, kemudian saksi pergi ke rumah sdr. AYI Bin
BAKHTIAR, kemudian saksi bertanya kepada Terdakwa, “mana anak pak ?“,
hilang“, sambil mengangis, kemudian saksi tanya lagi, “dimana hilangnya ?“, dan Terdakwa jawab, “dipasar rakyat waktu mau beli baju lagi milih–milih anak itu tidak ada lagi” ;
7. Bahwa mendengar hal tersebut saksi kaget dan menangis dan setelah itu saksi
bersama dengan sdri. RUKIAH dan Terdakwa langsung mencari ke pasar
dengan ditemani oleh sdr. AYI Bin BAKHTIAR, Sesampainya di pasar, saksi
bersama dengan sdri. RUKIAH dan sdr. AYI Bin BAKHTIAR mencari ke
warung-warung yang ada di Pasar Rakyat sedang Terdakwa mencarinya
sendiri namun hingga sampai jam 16.00 Wib, anak saksi yang bernama Ayu
Wulandari Binti Miswanto tersebut tidak ditemukan juga dan Terdakwa juga
menghilang entah kemana, Tidak ada satu orangpun yang ada di pasar tersebut
yang melihat keberadaan Ayu Wulandari Binti Miswanto dan setelah semua di
telusuri dan Ayu Wulandari Binti Miswanto juga tidak ditemukan, kemudian
sdr. AYI Bin BAKHTIAR menyarankan kepada saksi untuk melaporkan
kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib dan kemudian saksi melaporkan
kejadian ini kepihak yang berwajib yaitu Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk
menanyakan apakah ada Terdakwa telah melapor kehiangan anak kami.
Polisi disana menjawab tidak ada laporan mengenai anak hilang dan kemudian
saksi serta sdr. AYI Bin BAKHTIAR pulang kerumah masing–masing dan
memberitahukan kepada Ketua RT. yaitu sdr. MUKHTAR EFENDI tentang kehilangan anaknya tersebut dan semua warga yang ada di lingkungan RT tersebut ikut juga mencari keberadaan Ayu Wulandari Binti Miswanto;
8. Bahwa kemudian Terdakwa kemudian pulang ke rumah sambil menangis dan
kemudian Terdakwa memberikan saksi uang sebesar Rp1.000.000,- ( satu juta
rupiah) sambil mengatakan “ ini uang untuk bayar kredit Honda Rp. 600.000 (
enam ratus ribu rupiah ) dan Rp. 400.000 (empat ratus ribu rupiah) untuk bayar
kredit speaker, selanjutnya Terdakwa langsung pergi lagi dengan mengatakan
kepada saksi ingin mencari anak itu lagi hingga akhirnya Terdakwa tidak
pulang ke rumah selama beberapa hari;
9. Bahwa saksi mengetahui bahwa Ayu Wulandari Binti Miswanto telah dijual
oleh Terdakwa yang merupakan suami saksi yaitu pada hari Jumat tanggal 24
April 2015, sekitar pukul 13.00 Wib, dimana saat itu adik kandung saksi yaitu
sdri. RUKIAH mengatakan kepada saksi bahwa Terdakwa mengirim SMS
yang mengatakan bahwa anak tersebut telah di adopsi, suratnya ada di bawah
tikar, uangnya sudah diterima. Kemudian sdri. Rukiah langsung pergi ke
rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran namun Ayu Wulandari Binti
Miswanto tersebut tidak berada disana, dan sekitar pukul 16.00 Wib, Terdakwa
menelpon dan mengatakan kepada saksi, “Dek, anak itu udah aku adopsi sama
keponakan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran disimpang Gaung, uangnya
10.Bahwa saksi kemudian menyuruh Terdakwa untuk cepat pulang dan kemudian
Terdakwa menyuruh saksi untuk menjemputnya di Parit 13, kemudian saksi
pergi menjemput Terdakwa bersama dengan sdr. AYI Bin BAKHTIAR di
Parit 13, dan kemudian Terdakwa bercerita bahwa anak tersebut sudah di
adopsi harga pertamanya Rp. 6.000.000 ( enam juta rupiah);
11.Bahwa sebelum kejadian Terdakwa tidak pernah membicarakan tentang akan
menyerahkan atau menjual Ayu Wulandari Binti Miswanto kepada orang lain
untuk diadopsi;
12.Bahwa pada hari Selasa tanggal 21 April 2015, sekitar pukul 16.00 Wib, saat
di rumah Terdakwa mengatakan bahwa ia dapat bantuan uang dari kantor
Nasabah, kemudian Terdakwa pergi keluar rumah dengan mengatakan kepada
saksi, “saya pergi dulu dengan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran mau ngurus
surat–surat uang bantuan itu “, dan sekitar 1 (satu) jam kemudian Terdakwa
pulang ke rumah dan mengatakan kepada saksi, “malam ini orang yang ngurus
bantuan itu mau datang ke rumah”, kemudian sekitar pukul 21.00 Wib,
datanglah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran ke rumah dan sambil
menghampiri saksi di kamar mengatakan kepada saksi, “anak ini anak siapa?“,
sambil menunjuk ke arah Ayu Wulandari Binti Miswanto yang sedang tidur
kemudian
kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran bertanya lagi kepada saksi, “kakak ni siapa ?“, kemudian Terdakwa langsung mejawab, “aku numpang disini, aku tak punya istri, aku duda“, kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran bertanya lagi sama kami berdua, “kalian keluarga ya ?“, dan saksi jawab, “tidak“, dan selanjutnya kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran pamit dengan mengatakan kepada saksi, “maaf mengganggu kak“, dan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran langsung pulang, selanjutnya saksi bertanya kepada Terdakwa, “ngapa orang itu pak ?”, dan Terdakwa menjawab, “Udah selesai surat – suratnya aku urus, besok pagi sekira pukul 09.00 Wib aku kesana“, dan kemudian esoknya Terdakwa bersama Ayu Wulandari Binti Miswanto pergi ;
13.Bahwa menurut pengakuan Terdakwa kepada saksi bahwa anak saksi bernama
Ayu Wulandari Binti Miswanto tersebut telah di adopsi dengan harga awalnya
Rp.6.000 000,00 (enam juta rupiah) namun Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran
hanya memberikan uang sebesar Rp. 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu
rupiah ), kemudian dipotong Rp. 300.000,00 ( tiga ratus ribu rupiah) untuk
Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran dikarenakan akan mengurus surat –
suratnya sehingga total harga adopsi anak tersebut yang diterima Terdakwa
sebesar Rp. 3.200.000 ( tiga juta dua ratus ribu rupiah ). Dan yang menerima
adopsi tersebut adalah keluarga Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran yang
berada di Simpang Gaung; Atas keterangan saksi terdakwa melalui kuasa
b. Saksi RUKIAH Alias KIAH Binti SAPARIN ;
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan Terdakwa adalah suami dari kakak
saksi;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar ;
3. Bahwa anak kandung sdri. Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO telah dijual oleh yaitu Terdakwa kepada Saksi Jamri Alias Ijam
Bin Misran;
4. Bahwa Terdakwa adalah suami dari Saksi Nursiah dan ayah kandung dari
AYU WULANDARI ;
5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)
tahun dan 6 (enam) bulan ;
6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Terdakwa sendiri yang terletak di Jalan
SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir
Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;
7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Rabu tanggal 22 April 2015
sekitar pukul 08.00 Wib., bertempat di rumah Saksi Nursiah yang terletak di
jalan SKB RT.01, RW.06, Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan
Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, Terdakwa menyuruh sdri. Nursiah
Miswanto untuk dibawanya ke Bank dikarenakan akan menerima bantuan
dana dari kantor Nasabah dan untuk itu harus membawa anak sebagai saksi
untuk mendapatkan bantuan dana dari kantor Nasabah dan Saksi Nursiahpun
menyetujuinya, kemudian sekira pukul 09.00 Wib, Terdakwa pergi dari rumah
bersama dengan Ayu Wulandari Binti Miswanto dan setelah di tunggu-tunggu
oleh Saksi Nursiah sore harinya ternyata Terdakwa dan anaknya juga tidak
pulang dan sekitar pukul 13.30 Wib, temannya Terdakwa yaitu sdr. AYI Bin
BAKHTIAR datang ke rumah Saksi Nursiah dan mengatakan kepada Saksi
Nursiah, “Nur, suami mu bilang si AYU hilang, Yok kita ke rumahku suami
mu ada disana“, kemudian Saksi Nursiah pergi kerumah sdr. AYI Bin
BAKHTIAR, kemudian Saksi Nursiah bertanya kepada Terdakwa, “mana
anak pak?“, dan Terdakwa menjawab, “anak hilang“, sambil mengangis,
kemudian Saksi Nursiah tanya lagi, “dimana hilangnya ?“, dan Terdakwa
jawab, “dipasar rakyat waktu mau beli baju lagi milih – milih anak tu tidak
ada lagi” ;
8. Bahwa Saksi dan Saksi Nursiah langsung kaget dan menangis, setelah itu
Saksi Nursiah bersama dengan saksi dan Terdakwa langsung mencari ke pasar
dengan ditemani oleh sdr. AYI Bin BAKHTIAR, Sesampainya di pasar, saksi
bersama dengan Saksi NURSIAH dan sdr. AYI Bin BAKHTIAR mencari ke
warungwarung yang ada di Pasar Rakyat sedang Terdakwa mencarinya
tersebut tidak ditemukan juga dan Terdakwa juga menghilang entah kemana,
kemudian sdr. AYI Bin BAKHTIAR menyarankan kepada sdri. NURSIAH
untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib dan
kemudian sdri. NURSIAH melaporkan kejadian ini kepihak yang berwajib
yaitu Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk menanyakan apakah ada Terdakwa
telah melapor kehilangan anak mereka dan Polisi disana menjawab tidak ada
laporan mengenai anak hilang dan kemudian kami pulang kerumah masing –
masing dan kami juga memberitahukan kepada Ketua RT. yaitu sdr.
MUKHTAR EFENDI tentang kehilangan anaknya tersebut dan semua warga
yang ada di lingkungan RT tersebut ikut juga mencarinya keberadaan Ayu
Wulandari Binti Miswanto;
9. Bahwa saksi mengetahui hari Jum’at tanggal 24 April 2015, sekitar pukul
14.00 Wib., sewaktu saksi sedang berada dirumah, ada masuk SMS dari
MISWANTO (terdakwa berkas terpisah) ke handphone saksi yang isinya
mengatakan, “bahwa AYU telah aku Adopsikan ke saudara IDAM yang
tinggal nya di belakang Surau, suratnya ada di bawah tikar“;
10.Bahwa setelah membaca SMS tersebut kemudian saksi mengecek di bawah
tikar dan menemukan surat perjanjian tentang adopsi anak kemudian saksi
langsung memberitahu kakaknya yaitu Saksi NURSIAH, selanjutnya saksi
Misran yang rumahnya ada di belakang surau tersebut kemudian saksi
langsung pergi mencari anak tersebut;
11.Bahwa setelah sampai di depan lorong rumah, saksi berjumpa dengan Ketua
RT., yaitu sdr. MUKHTAR dan mengatakan kepada saksi, “sudah jumpa ya
anak yang hilang tu“, lalu saksi jawab, “belum lagi pak, tapi barusanTerdakwa
ada SMS saya dan mengatakan anak itu telah di adopsi kepada JAMRI Alias
IDAM. lalu sdr. MUKHTAR mengatakan, “ada ya surat adopsinya“, saksi
jawab, “ada pak“, sambil memperlihatkan surat adopsi tersebut kepada sdr.
MUKHTAR, lalu sdr. MUKHTAR mengatakan, “fotocopy dulu surat ini“,
lalu saksi langsung fotocopy-kan surat tersebut, setelah saksi fotocopy lalu
saksi memberikannya kepada sdr. MUKHTAR, setelah itu saksi pergi ke
rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran;
12.Bahwa sesampainya di rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran namun
Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran sedang tidak ada dirumah, kemudian saksi
kembali lagi pulang kerumah dan sekitar pukul 17.00 wib., sewaktu saksi baru
pulang ke rumah, saksi melihat Terdakwa tersebut ada di rumah tidak lama
kemudian datang Ketua RT., yaitu sdr. MUKHTAR kerumah dan kemudian
membawa Terdakwa tersebut ke rumah Ketua RT;
13.Bahwa menurut keterangan sdri. NURSIAH, Ayu Wulandari Binti Miswanto
tersebut telah di jual dengan harga Rp. 3.200.000 ( tiga juta dua ratus ribu
dilakukan Terdakwa dengan DEDI AFRIJAL sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima
juta rupiah);
14.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan ;
c. Saksi AYI Alias AI Bin BAKHTIAR EFENDI
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa adalah kakak ipar saksi;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;
3. Bahwa anak kandung Saksi Nursiah yang bernama Ayu Wulandari Binti
Miswanto telah dijual oleh Terdakwa yang tidak lain adalah suami dari sdri.
Nursiah dan ayah kandung dari Ayu Wulandari kepada Saksi Jamri Alias Ijam
Bin Misran;
4. Bahwa Ayu Wulandari Binti Miswanto saat ini berumur 2 ( dua) tahun dan 6
(enam) bulan;
5. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran yang
terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT 2 RW 9 Kelurahan
Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi
6. Bahwa Terdakwa melakukan hal tersebut dengan cara membuat berita bohong
dengan mengatakan anak tersebut telah hilang padahal anak tersebut telah
dijual oleh Terdakwa kepada seseorang melalui Saksi Jamri Alias Ijam Bin
Misran;
7. Bahwa saksi menyuruh Saksi Nursiah untuk melaporkan kejadian tersebut ke
kantor polisi dan kami langsung pergi ke Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk
menanyakan apakah ada laporan orang kehilangan anak dan Polisi disana
menjawab tidak ada laporan mengenai hal tersebut, selanjutnya kami
diintrogasi Polisi, setelah itu saksi dan sdri. NURSIAH pulang kerumah
masing-masing;
8. Bahwa bahwa anak Terdakwa tersebut ternyata tidak hilang melainkan telah
dijual oleh Terdakwa pada hari Jumat, tanggal 24 April 2015 sekitar pukul
14.30 Wib. Saksi pergi ke rumah sdri. NURSIAH dan sesampainya disana,
saksi berjumpa dengan sdri. NURSIAH dan menanyakan kepadanya apakah
anaknya tersebut sudah ditemukan dan sdri. NURSIAH mengatakan bahwa
anak tersebut sedang dijemput di SKB ditempat rumah Saksi Jamri Alias
Ijam, dan saksi NURSIAH juga mengatakan kepada bahwa anak tersebut
sebenarnya bukan hilang tapi telah dijual oleh Terdakwa MISWANTO
kepada seseorang;
9. Bahwa Terdakwa meminta dijemput di Parit 13 kemudian saksi pergi
sesampainya di Parit 13, kami membawa Terdakwa untuk pulang ke
rumahnya dan tidak lama kemudian datang Ketua RT., bersama warga dan
selanjutnya saksi pulang kerumahnya;
10.Bahwa besoknya Saksi Ayi pergi kerumah Terdakwa lagi untuk menanyakan
masalah anak yang bernama AYU Terdakwa sudah ditangkap Polisi;
11.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirka
dipersidangan;
d. Saksi JURIATI Alias IJUR Binti RAHIMIN ;
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan tidak ada hubungan keluarga dengan
Terdakwa;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;
3. Bahwa anak kandung Saksi Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa yang tidak lain adalah ayah
kandungnya AYU WULANDARI;
4. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO dijual oleh terdakwa kepada
Saksi Jamri Alias Ijam;
5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)
tahun dan 6 (enam) bulan;
6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 22 April 2015 sekitar
SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir
Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;
7. Bahwa Terdakwa menjual anak kandungnya yang bernama AYU
WULANDARI tersebut kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) seharga
Rp 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah );
8. Bahwa saksi tidak mengetahui kesepakatan harga jual beli anak tersebut
antara Terdakwa dengan Saksi Jamri Alias Ijam;
9. Bakwa kesepakatan yang saksi ketahui dimana pada hari Selasa tanggal 21
April 2015, sekitar pukul 19.00, Terdakwa datang ke rumah saksi dan pada
saat itu Terdakwa menyatakan mau menyerahkan anaknya yang bernama
AYU WULANDARI kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) tetapi saat
itu Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) masih ragu anak tersebut anak
Terdakwa atau bukan;
10.Bahwa kemudian Terdakwa pulang dan sekitar pukul 20.00 Wib, dan datang
lagi ke rumah saksi dengan membawa Kartu keluarga dan Surat Nikah untuk
meyakinkan kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi);
11.bahwa anak yang bernama AYU WULANDARI yang akan diserahkan
kepada Saksi Jamri Alias Ijam tersebut adalah anak Terdakwa dan pada saat
itu Terdakwa mengatakan mau menyerahkan anak kandungnya kepada Saksi
12.Bahwa Terdakwa mengatakan bahwa istrinya pergi sudah 2 (dua) tahun tidak
ada kabarnya dan anaknya tidak ada yang mengurus;
13.Bahwa anak tersebut kemudian saksi serahkan kepada keponakan saksi yang
bernama DEDI APRIJAL (DPO) dan istrinya bernama ARE dan selanjutnya
anak tersebut dibawa oleh keponakan saksi dan istrinya kerumahnya di Parit
Usaha Anda Desa Teluk Kabung Kecamatan Gaung Kabupaten Indragiri Hilir
untuk dipelihara;
14.Bahwa Suami saksi (Saksi Jamri Alias Ijam) yang menyuruh saksi untuk
menyerahkan anak tersebut kepada Dedi Aprijal;
15.Bahwa sebelumnya keponakan saksi yang bernama DEDI APRIJAL (DPO)
dan istrinya bernama ARE, menyuruh Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi)
untuk mencarikan anak yang akan dipelihara, kemudian Saksi Jamri Alias
Ijam (suami saksi) mencari dan menurut Saksi Jamri Alias Ijam, Terdakwa
menawarkan anaknya dengan kesepakatan dimana Saksi Jamri Alias Ijam
harus membayar Rp3.500.000,00 ( tiga juta lima ratus ribu rupiah) dan setelah
itu terjadi kesepakatan antara Terdakwa dengan Saksi Jamri Alias Ijam dan
kemudian anak tersebut diserahkan oleh Terdakwa kepada Saksi Jamri Alias
Ijam (suami saksi) dan selanjutnya anak tersebut, saksi serahkan kepada
DEDI APRIJAL dan istrinya bernama ARE;
16.Bahwa seingat saksi sebulan sebelum kejadian ini, Dedi Aprijal menelepon
lama menikah tapi tidak mempunyai anak dan mengenai perjanjiannya saksi
kurang mengetahui tapi yang saksi ketahui bahwa Dedi Aprijal akan
membayar ongkos dalam rangka mencari anak yang akan dipeliharanya
tersebut;
17.Bahwa ada selembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang
ditandatangani oleh Terdakwa selaku pihak pertama yang menyerahkan anak
dan Dedi Aprijal selaku pihak kedua yang menerima anak;
18.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan;
e. Saksi MUKHTAR EFENDI Bin AHMAD ;
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan tidak memiliki hubungan
keluargadengan Terdakwa;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;
3. Bahwa anak kandung sdri. Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa kepada JAMRI ALIAS IJAM
ALIAS IDAM BIN MISRAN;
4. Bahwa Terdakwa adalah suami dari sdri. Nursiah dan ayah kandung dari
5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)
tahun dan 6 (enam) bulan;
6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM
BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002
RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten
Indragiri Hilir Propinsi Riau;
7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Kamis tanggal 23 April 2015,
sekitar pukul 14.00 Wib., saat itu saksi sedang berada diwarung AHMAD
SADRI (Wakil Ketua RT) dan disana saksi mendapat imformasi bahwa anak
kandung Terdakwa yang bernama AYU WULANDARI telah hilang pada saat
dibawa Terdakwa ke pasar Tembilahan, Mendengar hal tersebut saat itu saksi
selaku Ketua RT menyarankan agar melaporkan hal tersebut kepada pihak
Kepolisian, dan pada saat itu istri AHMAD SADRI yang bernama YANI
tersebut mengatakan bahwa istri Terdakwa yang bernama sdri. NURSIAH
telah melaporkan peristiwa hilangnya anak tersebut kepada pihak Kepolisian
dan pada saat itu tidak lama kemudian saksi melihat Bapaknya Terdakwa
yang bernama TUKIRAN lewat, kemudian TUKIRAN tersebut saksi panggil
dan saksi bertanya, “Apakah benar Bapak kehilangan cucu bapak ?“, dan pada
saat itu TUKIRAN menyatakan “benar”, kemudian saksi tanya lagi bagai
saya bahwa pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, sekitar pukul 09.00 Wib.,
Terdakwa pergi membawa anaknya tersebut yang katanya akan mendapat
bantuan, tetapi kemana tujuanya saat itu TUKIRAN menyatakan tidak
mengetahui dan sebelum berangkat;
8. Bahwa saksi berusaha untuk mencari tahu tentang hilangnya anak tersebut,
dan pada hari Jumat tanggal 24 April 2015 selepas Sholat Jumat, saksi pergi
ke warung AMAD dan saksi bertanya lagi dengan istri AMAD, “sudah
ketemu belum anak MISWANTO (terdakwa)“, dan pada saat itu istri AMAD
menyatakan bahwa anak Terdakwa belum ketemu, dan tidak lama kemudian
adik Terdakwa yang bernama YUDI serta adik iparnya yang bernama
RUKIYAH lewat dan pada saat itu YUDI menyatakan bahwa anak tersebut
sudah ketemu dan saat itu YUDI menyatakan bahwa anak Terdakwa
yang bernama AYU WULANDARI tersebut berada dirumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN yang terletak dijalan SKB Lorong Margo mulya Tembilahan yaitu dibelakang Lapangan Futsal;
9. bahwa anak tersebut telah diadopsi dan kemudian RUKIYAH
memperlihatkan kepada saksi selembar surat perjanjian masalah jual beli anak
Terdakwa yang bernama AYU WULANDARI, yang saksi lihat
ditandatangani oleh MISWANTO (terdakwa berkas terpisah) selaku pihak
pertama dan DEDI APRIJAL selaku pihak kedua dengan mahar sebesar Rp
RUKIYAH untuk mem-fotocopi surat tersebut untuk saksi pegang dan surat
aslinya tetap dipegang oleh RUKIYAH;
10.Bahwa saksi menyuruh YUDI dan RUKIYAH untuk menjeput anak tersebut
kerumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN, dan setelah
kembali dari rumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN saat
itu YUDI menyatakan bahwa anak tersebut tidak ada di rumah JAMRI
ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dan hanya istri JAMRI ALIAS
IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;
11.Bahwa saat diinterogasi Terdakwa menerangkan bahwa ianya tega menjual
anak kandungnya tersebut, karena desakan kebutuhan ekonomi karena
Terdakwa banyak hutang yang harus dibayar sehingga timbul niat Terdakwa
untuk menjual anak kandungnya tersebut;
12.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan;
f. Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;
1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa namun tidak ada memiliki
hubungankeluarga dengan Terdakwa;
2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan
3. Bahwa Terdakwa telah menjual anak kandungnya yang bernama AYU
WULANDARI Binti MISWANTO kepada Saksi seharga Rp. 3.5000.000,00
(tiga juta lima ratus ribu rupiah);
4. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)
tahun dan 6 (enam) bulan;
5. Bahwa peristiwan tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015
sekitar pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Saksi yang terletak di Jalan SKB
Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir
Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;
6. Bahwa Isteri saksi baru mengetahui hal tersebut pada hari Jumat tanggal 24
April 2015, setelah ianya membaca surat perjanjian mengenai jual beli anak
kami yang bernama AYU WULANDARI tersebut;
7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Minggu tanggal 19 April 2015,
sekitar pukul 09.00 wib, saksi sedang minum kopi bersama dengan Terdakwa
diwarung milik sdr. PANE yang terletak di Parit 13 Tembilahan dan pada saat
itu Terdakwa berkata kepada saksi, “ada nggak orang yang akan membeli
anak bang“, lalu dijawab oleh saksi, “anak siapa ?“, dan Terdakwa menjawab,
“anak saya yang kecil“, setelah itu Saksi menanyakan lagi, “berapa ?“, dan
Terdakwa jawab, “Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)”, lalu Saksi menjawab,
“kalau segitu mana ada orang yang mau, kalau Rp 3.500.000,00 ( tiga juta
“nantilah dulu saya pikir–pikir dulu”, selanjutnya saksi langsung pulang ke
rumahnya;
8. Bahwa pada hari Senin tanggal 20 April 2015 sekitar pukul 21.00 wib, Saksi
datang ke rumah Terdakwa dan menanyakan kepada Terdakwa, “bagai mana
WAN runding kita ?“, lalu Terdakwa jawab, “iyalah bang jadi“, dan pada saat
itu Saksi melihat seorang anak perempuan lalu saksi bertanya kepada
Terdakwa, “yang ini ya anaknya“, lalu Terdakwa jawab, “ Iya “ ;
9. Bahwa pada hari Selasa tanggal 21 April 2015, sekitar pukul 19.00 wib,
Terdakwa pergi ke rumah Saksi yang berada di Jalan SKB Lorong Margo
Mulyo RT.002 RW. 009, Kelurahan Tembilahan Hilir untuk mengantar Kartu
Keluarga (KK) sebagai bukti bahwa benar anak yang akan Terdakwa jual
kepada Saksi tersebut adalah anak kandung Terdakwa sendiri yang bernama
AYU WULANDARI, setelah itu Terdakwa langsung pulang;
10.Bahwa Pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, sekitar pukul 07.00 wib.
Terdakwa pergi membawa anak tersebut ke rumah Saksi dan Terdakwa
meninggalkan anak tersebut di rumah Saksi, dan kemudian Terdakwa pergi
bersama dengan Saksi untuk minum kopi di warung sdr. PANE di Parit 13
Tembilahan, setelah tiba diwarung sdr. PANE tersebut, kemudian Saksi pergi
bersama dengan sdr. IWAN Als GANDUT untuk membuat surat perjanjian
masalah jual beli anak, sedangkan Terdakwa menunggu di warung kopi
dan mengajak Terdakwa ke Jalan Swarna Bumi Tembilahan dan menuju
depan Kantor Bupati dan di tempat tersebut Terdakwa disuruh untuk
menandatangani surat perjanjian jual beli anak tersebut dan setelah Terdakwa
menandatangani surat perjanjian tersebut kemudian Saksi memberikan uang
kepada saksi sebesar Rp 3.200.000,00 (tiga juta dua ratus ribu rupiah) sambil
berkata, “ini sisa uangnya sebesar Rp. 300.000,00 ( tiga ratus ribu rupiah )
untuk ongkos membuat surat”, setelah uang penjualan anak tersebut di terima;
11.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan;
2. Keterangan Terdakwa
Terdakwa dipersidangan telah memberikan keterangan yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa terdakwa mengerti dengan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum ;
2. Bahwa terdakwa membenarkan dan mengenali barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan;
3. Bahwa Terdakwa ditangkap oleh pihak kepolisian karena diduga terlibat dalam
perdagangan seorang anak yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO;
4. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002/
RW.009, Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten
Indragiri Hilir Propinsi Riau;
5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua) tahun
dan 6 (enam) bulan ;
6. Bahwa Terdakwa melakukan hal tersebut dengan cara menjualnya kepada JAMRI
ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;
7. Bahwa Terdakwa menjual AYU WULANDARI Binti MISWANTO kepada
JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN tersebut dengan harga Rp.
3.200.000,- ( tiga juta dua ratus ribu rupiah)
8. Bahwa kejadian tersebut bermula pada hari itu sekitar bulan April 2015 sekira
pukul 10.00 wib., sewaktu Terdakwa sedang sarapan di sebuah warung yang
terletak di Jalan Pangeran Hidayat Parit 13 Tembilahan, dimana pada saat itu
JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN juga ada di warung tersebut
dan pada saat itu JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN
mengatakan kepada Terdakwa: “WAN, kalau ada orang yang tidak mampu lagi
mengurus anaknya, kasih tau saya ya WAN, karena ada keluarga saya yang mau
cari anak WAN, berapa nilai anak itu nanti bisa kita rundingkan“, lalu dijawab
oleh Terdakwa, “yalah bang, nanti saya carikan“, sekitar kurang lebih 1 (satu)
wib., Terdakwa mengirimkan sms yang berisikan, “bang IDAM, jadi ya mau
anak, kalau abang mau, ada ni anak saya sendiri“
9. Bahwa setelah itu saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN pun
langsung menelpon Terdakwa dan mengatakan, “WAN, kalau memang ada anak
mu, datanglah kerumah biar kita rundingkan“, dan Terdakwa jawab, “iyalah “,
kemudian sekira pukul 19.00 Wib;
10.Bahwa Terdakwa datang ke rumah Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM
BIN MISRAN dan Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN
mengatakan kepada Terdakwa, “anak siapa WAN“, dan Terdakwa jawab “anak
saya sendiri“, lalu Saksi Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN
MISRAN mengatakan, “istrimu tau nggak WAN ?“, Terdakwa ada menjawab
“saya sudah 2 tahun pisah dengan istri saya bang, sampai sekarang ini istri saya
tidak pernah lagi menghubungi saya bang,
11.Bahwa Terdakwa menyerahkan Anak Terdakwa kepada Saksi JAMRI ALIAS
IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dengan imbalan uang dan Terdakwa
mengatakan kepada Isteri Terdakwa bahwa anak terdakwa telah hilang saat
dipasar;
12.Bahwa Terdakwa melakukan hal ini dikarenakan Terdakwa bingung tidak
mempunyai uang untuk membayar hutang-hutangnya yaitu kredit sepeda motor,
13.Bahwa Terdakwa ada menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Saksi
JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN namun Terdakwa tidak
membacanya jadi Terdakwa tidak mengetahui isi dari surat perjanjian tersebut
dan setelah Terdakwa tandatangani surat tersebut Terdakwa simpan di saku
celana, sedangkan yang satu lembar lagi dipegang oleh Saksi JAMRI ALIAS
IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dan kemudian Saksi JAMRI ALIAS IJAM
ALIAS IDAM BIN MISRAN menyerahkan uang sebesar Rp.3.200.000,00 (tiga
juta dua ratus ribu rupiah) kepada saksi ;
14.Bahwa Terdakwa mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan
dipersidangan ;
15.Bahwa terdakwa mengakui perbuatannya;
3. Barang Bukti
a. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)
b. uang sebesar Rp. 1.045.000,- (satu juta empat puluh lima ribu rupiah).
c. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan
kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan
DEDIAFRIZAL.
1. Menyatakan Terdakwa MISWANTO AIs IWAN Bin TUKIRAN terbukti
bersalah melakukan Tindak Pidana menempatkan, membiarkan, melakukan,
menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan atau
perdagangan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 F UU RI Nomor 35 tahun
2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa MISWANTO Als IWAN Bin TUKIRAN
dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa, ditahan
dan menghukum Terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp.60.000.000,-
(enam puluh juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan kurungan dengan perintah
Terdakwa tetap berada dalam tahanan;
3. Menyatakan barang bukti berupa:
a. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)
b. uang sebesar Rp. 1.045.000,- (satu juta empat puluh lima ribu rupiah).
c. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan
kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan
DEDIAFRIZAL;
4. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000,- (lima
4. Fakta dipersidangan
1. Bahwa Terdakwa ditangkap oleh pihak kepolisian karena diduga terlibat dalam
perdagangan seorang anak yang bernama AYU WULANDARI Binti
MISWANTO;
2. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar
pukul 08.00 Wib., bertempat di rumah Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM
BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002/
RW.009, Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten
Indragiri Hilir Propinsi Riau;
3. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua) tahun
dan 6 (enam) bulan;
4. Bahwa Terdakwa Menjual AYU WULANDARI Binti MISWANTO kepada Saksi
JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dengan harga Rp.
3.200.000,- (tiga juta dua ratus ribu rupiah) dan kemudian menjualnya kepada sdr.
DEDI AFRIZAL dengan harga Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah);
5. Bahwa Terdakwa memperole