• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Studi Putusan Nomor 149/PID.SUS/2015/PN.Tembilahan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Yuridis Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Studi Putusan Nomor 149/PID.SUS/2015/PN.Tembilahan)"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

Alfitra, Modus Operandi pidana khusus diluar KUHP, Jakarta, Penebar SwadayaGrup, 2014.

Chazawi Adami,Pelajaran Hukum Pidana I (Stelsel Pidana, Tindak PidanaTeori-Teori pemidanaan, dan batas berlakunya hukum pidana), Rajawali Pers, Jakarta, 2013.

Djamil, M. Nasir. 2013. Anak Bukan Untuk Dihukum Catatan Sistem Peradilan Pidana Anak (UU-SPPA), Jakarta, Sinar Grafika.

Ekaputra, Muhammad, Dasar-dasar Hukum Pidana, Usu Press, Medan, edisi 2, 2013.

Farhana,Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2010.

Gultom, Maidin, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, PT. Refika Aditama,Bandung 2013.

(2)

Hamzah, Andi, 1999, Bunga Rampai Hukum Pidana dan AcaraPidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1999.

Joni, Muhamad dan Zulchaina Z. Tanamas, Aspek Hukum Perlindungan Anak (Dalam Perspektif Konvensi Hak Anak), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.

Makarao, Muhammad Taufik, Weny Bukamo dan Syaiful Azri, Hukum Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Rineka Cipta, Jakarta, 2013.

Mansur, Dikdik M. Arief Mansur & Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan (Antara Norma dan Realita), PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2008.

Marlina, Hukum Penitensier, PT. Refika Aditama, Bandung, 2011

Mozasa, Chairul Bariah, Aturan-Aturan Hukum Trafficking (Perdagangan

Perempuan dan Anak), Medan, USU Press, 2005.

Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana bagi Anak Indonesia, Raja Grafindo

Persada, Jakarta, cetakan ke-2, 2012.

Ridwan, H.M dan Ediwarman,Asas-asas Kriminologi (Medan, USU Press,

1994)

Soekanto Soerjono, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,

(3)

---Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press,Depok,1994.Sofian,

Ahmad, Perlindungan Anak di Indonesia Dilema dan Solusinya, PT.Sofmedia,

Jakarta,2012.

Susanto IS, Kriminologi ( Yogyakarta. Genta Publishing, 2011)Syamsuddin,

Azis Tindak Pidana Khusus, Jakarta, Sinar Grafika, 2011.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban

Perda Nomor 6 tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan dan anak.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

(4)

Bangsa-C. WEBSITE

(5)

BAB III

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ANAK DI

INDONESIA

Manusia sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya mempunyai suatu hubungan erat ataupun memiliki keterkaitan dalam kehidupannya. Kehidupan dalam bermasyarakat ada kalanya terjadi suatu benturan kepentingan satu dengan lainnya dan juga terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma hukum yang dikenal dengan sebutan kejahatan. Kejahatan merupakan masalah sosial yaitu masalah yang timbul ditengah-tengah masyarakat dimana pelaku dan korbannya adalah anggota masyarakat itu sendiri.

Kejahatan di seluruh dunia selalu mengalami perkembangan yang sangat cepat sejalan dengan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan teknologi. Perkembangan mengenai masalah-masalah kejahatan, baik dilihat secara kuantitatif maupun kualitatifnya tetap memerlukan suatu pembahasan dan pengamatan sesuai dengan aktivitas permasalahannya. Tanpa mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan sulit untuk dimengerti alasan kejahatan itu terjadi apalagi untuk menentukan tindakan yang tepat dalam menghadapi pelaku kejahatan.

(6)

dilakukan sukar sekali untuk menentukan faktor-faktor yang pasti penyebab seseorang melakukan kejahatan66

Faktor-faktor yang penting untuk diperhatikan adalah .

Aliran krimonologi klasik mencoba mencari jawaban tentang sebab musabab seperti faktor ekonomi, biologi dan sebagainya. Aliran kriminologi moodren mengambil sikap yang berlainan. Aliran ini melihat kejahatan dalam konteks mengkonstraksikan kejahatan sosial yang bertalian dengansi penjahat, bukan saja dalam hubungan dengan interaksi proses pembuatan Undang-Undang, bagaimana realitas pelaksanaan Undang-Undang, melainkan juga dengan hubungan dengan realitas pelanggaran terhadap Undang-Undang itu sendiri. Lembaga-lembaga hukum perlu dilihat pengaruhnya didalam realitas kehidupan sosial penjahat itu sendiri, serta juga pandangan masyarakat terhadap kejahatan itu sendiri. Kepustakaan kriminologi terhadap beberapa faktor yang amat sering dhubungkan dengan kejahatan faktor ini perlu kita periksa dengan hati-hati, karena faktor-faktor ini belum sepenuhnya terbukti mempunyai sebab-akibat dengan kejahatan dan lagi pula sebagaimana yang dikatakan ditaas yang diterima sebagai dalam atas kemungkinan untuk dicari kriminologi hannya faktor yang necessarybut not sufficient sebagai sebab kejahatan (faktor-faktor yang selau merupakan sebab dari suatu akibat/kejahatan dengan (faktor-faktor lain).

67

66Maidin Gultom, Perlindungan Hukum terhadap Anak dan Perempuan, PT Refika Aditama, Bandung, 2013, Halaman.40-41. (selanjutnya disebut Maidin Gultom II)

67

(7)

1. Teori ekologis (Shaw dan Mckey); kepadatan pendudukdan mobilitas sosial

(horizontal dan vertikal) kota dan pedesaan; urbanisasi dan urbanisme;

delinguency areas dan perumahan;distribusi menurut umur dan kelamin.

2. Teori konflik kebudayaan (Selli); masalah suku, agama, kelompok minoritas.

3. Teori ekonomi (Bonger); pengaruh kemiskinan dan kemakmuran.

4. Teori differential asscociation (Sutherland); pengaruh media massa.

5. Teori Anomie dan subculture; perbedaan nilai dan norma antara “middle class”

dan “lower class”, ketegangan yang timbul karena keterbatasan kesempatan untuk

mencapai tujuan.

Mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan, dikenal adanya beberapa teori yang dapat dipergunakan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kejahatan. Teori-teori tersebut digolongkan kedalam penggolongan teori-teori kriminologi yang positip dan penggolongan teori-teori yang berkiblat pada mazhab kritis. Penggolongan teori tersebut terdiri dari:

a. Mazhab Antropologi68

Usaha untuk mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri biologis dipelopori oleh ahli-ahli frenologi, seperti Gall (1758-1828) Spurzheim (1776-1832), yang mencoba mencari hubungan antara bentuk tengkorak kepala dengan tingkah laku.Mereka mendasarkan pada pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa otak merupakan organ dari akal.

(8)

Cesare Lombroso (1835-1909) seorang dokter ahli kedokteran kehakiman merupakan tokoh yang penting dalam mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri fisik (biologis) penjahat dalam bukunya L’uomo Delinquente (1876). Pokok-pokok ajaran Lombroso adalah:

1. Menurut Lombroso, penjahat adalah orang yang mempunyai bakat jahat

2. Bakat jahat tersebut diperoleh karena kelahiran, yaitu diwariskan dari nenek

moyang (borne criminal).

3. Bakat jahat tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri biologis tertentu, seperti muka

yang tidak simetris, bibir tebal, hidung pesek, dan lain-lain

4. Bakat jahat tersebut tidak diubah, artinya bakat jahat tersebut tidak dapat

dipengaruhi

Lamboroso juga menggolongkan para penjahat dalam beberapa golongan seperti :69

1. Antroplogi Penjahat : Penjahat umumnya dipandang dari segi antroplogi

merupakan suatu jenis manusia tersendiri (genus home delinguenes), seperti

halnya dengan negro. Mereka dilahiran demikian (ildelinguente nato) mereka

tidak mempunyai predis posisi untuk kejahatan, tetapi suatau prodistinasi, dan

tidak ada pengaruh lingkungan yang dapat merubahnya. Sifat batin sejak lahir

dapat dikenal dari adanya stigma-stigma lahir, suatu tipe penjahat yang dapat

dikenal.

(9)

2. Hypothese atavisme : Persoalannya ialah bagaimana caranya menerangkan

terjadinya mahkluk yang abnormal itu (penjahat sejak lahir). Lambroso dalam

memecahkan soal tersebut, memajukan hypothase yang sangat cerdik, diterima

bahwa orang masih sederhana peradapannya sifatnya adalah amoral, kemudian

dengan berjalannya waktu dapat memperoleh sifat asusila (moral), maka orang

penjahat merupakan suatu gejala atavistis, artinya ia dengan sekonyong-konyong

dapat kembali menerima sifat-sifat yang sudah tidak dimiliki nenek moyangnya

yang lebih jauh (yang dinamakan pewarisan sifat secara jauh kembali).

3. Hypothese Pathology : Berpendapat bahwa penjahat adalah seseorang penderita

epilepsi

4. Type penjahat : ciri-ciri yang dikemukakan oleh Lambroso terlihat pada penjaha,

sedemikian sifatnya, sehingga dapat dikatakan tipe penjahat. Para penjahat

dipandang dari segi antroplogi mempunyai tanda-tanda tertentu, umpamanya sis

tengkoraknya (pencuri) kurang lebih dibandingkan dengan orang lain, dan

terdapat kelainan-kelainan pada tengkoraknya. Dalam tengkoraknya terdapat

keganjilan yang seakan-akan mengingatkan kepada otak-otak hewan, biar pun

tidak dapat ditunjukkan adanya kelainan-kelainan penjahat khusus. Roman

mukanya juga laindari pada orang biasa, tulang rahang lebar, muka menceng,

(10)

b. Teori Psikologi

Teori ini berpendapat bahwa kejahatan melalui studi proses mental dalam hal ini

penyakit kejiwaaan, kehancuran dari pusat ketakutan/kegugupan neurasthenia

ketidakmampuan (inadequete) seluruh kemampuan mental. Hal-hal tersebutlah

menyebabkan seseorang menjadi penjahat, tokohhnya Sigmund freud, Carl Jung,

Alfred Adler, August Aichorn, dan Kurt R.Eissler.

c. Teori Sosiologi

Menurut teori ini bahwa penjahat adalah sebuah hasil dari masyarakat dengan

pusat perhatian adalah hubungan antara manusia dan kepada keyataan bahwa

penyimpangan secara terus menerus karena dikehendaki dan diterima sebagai

dorongan dan kebanyakan perilaku menyimpang adalah bagian dari kebudayaan.

Teori menolak bahwa gagasan timbulnya kejahatan dapat dipahami dan analisa

dimana penjahat sebagai individu. Kejahatan adalah perwujutan sebuah produk

dari belajar tentang prilaku tentang hubungannya dengan masyarakat.

d. Teori ekonomi

Menurut teori ini, sebab-sebab kejahatan didasarkan pada gagasan dari konsep

manusia berakal dan dari faktor lain yang berkaitan dengan gagasan dari pilihan

ekonomi. Menurut ahli ekonomi, karena individu mempunyai keperluan untuk

memuaskan usaha mereka dan ketika dihadapkan pada pilihan, individu

(11)

kebutuhan mereka, dalam hal ini merupakan kondisi sosial teapi mereka tidak

tertarik menerangkan apa sebab atau bentuk pilihan itu.

e. Teori multifaktor

Pendekatan multifaktor menerangkan perilaku penjahat adalah adalah sebuah

perpaduan dari kelompok biologis, psikologis dn sosiologis. Para penganut teori

ini berusaha mendamaikan (reconcile) perbedaan disiplin dengan tujuan

membangun teori integrasi memahami kejahatan. Perintis pendekatan ini adalah

Adolple Prins, Frans von Liszt, menurut mereka menggabungkan gagasan dari

pilihan dari sebab-sebab dan melakukan upaya merasionalisasikan ketitak

sesuaian diantara ketiga kelompok besar menjadi kelompok tunggal70

A. Faktor Internal

.

Faktor-faktor terjadinya Perdagangan Anak dapat dikategorikan kedalam dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

1. Faktor Individual

(12)

yang berbeda satu sama lainnya. Kepribadian seseorang ini dapat dilihat dari tingkah laku seseorang dalam pergaulannya ditengah masyarakat. Seseorang yang tingkah lakunya baik akan mengakibatkan orang tersebut mendapat penghargaan dari masyarakat. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang bertingkah laku tidak baik maka orang itu akan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat.

Perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, terjerumusnya anak-anak dalam pentas pelacuran bukan merupakan pilihan anak semata, oleh karena anak tidak dalam kapasitas yang kuat untuk memberikan persetujuan untuk menjadikannya sebagai pelacur. Perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran ini mengalami peningkatan, anak cenderung tidak menggunakan nalarnya dalam mengambil keputusan, mereka lebih menggunakan emosinya sehingga anak-anak ini terjebak dalam lingkaran prostitusi atau pelacuran.

(13)

yang merupakan salah satu pendorong perempuan dan anak dengan mudah menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran71

2. Faktor Ekonomi

.

Faktor ekonomi menjadi penyebab terjadinya perdagangan manusia yang dilatar belakangi kemiskinan dan lapangan pekerjaan yang tidak ada atau tidak memadai dengan besarnya jumlah penduduk. Kemiskinan dan lapangan pekerjaan inilah yang membuat seseorang untuk melakukan sesuatu, yaitu mencari pekerjaan meskipun harus keluar daerah asalnya dengan resiko yang tidak sedikit. Kemiskinan yang begitu berat dan langkanya kesempatan kerja mendorong jutaan penduduk Indonesia untuk melakukan migrasi didalam dan keluar negeri guna menemukan cara agar dapat menghidupui diri mereka sendiri dan keluarga mereka sendiri72

.

(14)

Kemiskinan bukan satu-satunya indikator kerentanan seseorang terhadap perdagangan orang. Penduduk Indonesia masih ada jutaan yang hidup dalam kemiskinan tidak menjadi korban perdagangan orang, akan tetapi ada penduduk yang relatif baik dan tidak hidup dalam kemiskinan malah menjadi korban perdagangan orang. Perdagangan orang ini disebabkan mereka bermigrasi untuk mencari pekerjaan bukan semata karena tidak mempunyai uang, tetapi mereka ingin memperbaiki ekonomi serta menambah kekayaan materil, kenyataan ini didukung oleh media yang menyajikan tontonan yang glamour dan komsumtif, sehingga membentuk gaya hidup yang materialisme dan konsumtif.

Materialis adalah stereotip yang selalu ditujukan kepada mereka yang memiliki sifat menjadikan materi sebagai orientasi atau tujuan hidup.Untuk mendapatkan materi sebagai orientasi atau tujuan hidup. Untuk mendapatkan materi sering menghalalkan segala cara, termasuk mendapatkannya melaluli cara pertukaran nilai jasa dan/atau dirinya. Kalangan orang tua yang tergolong materialistis, cara yang ditempuh adalah menukarkan jasa atau diri anaknya sendiri karena dianggap sebagai bentuk pengabdian dan balas jasa anak kepada orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan.

(15)

memungkinkan mereka mendapatkan angan-angan itu. Pelaku perdagangan orang, kondisi ini selalu akan menjadi peluang untuk menjaring korban untuk diperdagangkan73

3. Faktor keluarga

.

Keluarga mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan pola tingkah laku anak sekaligus bagi perkembangan anak, karena tidak seorang pun dilahirkan langsung mempunyai sifat yang jahat tetapi keluargalah yang mempunyai sumber pertama yang mempengaruhi perkembangan anak74

Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua membuat anak melarikan diri dari keluarga dan mencari pelampiasan kepada teman-temannya, merupakan faktor yang sangat penting bagi kejiwaan anak tersebut, apabila terjadi perubahan kondisi rumah tangga seperti perceraian, sehingga membuat anak mengalami “broken home”. Faktor lain didalam

. Pembinaan terhadap anak haruslah sebaik mungkin dilakukan dalam keluarga. Akibat kurangnya pemahaman keluarga terhadap anak sehingga anak tersebut mudah terpengaruh pada lingkungan disekelilingnya, tanpa menggunakan nalarnya secara baik akan tetapi emosi yang dimiliki anak itu sangat berpengaruh pada lingkungan disekelilingnya, tanpa menggunakan nalarnya secara baik akan tetapi emosi yang dimiliki anak itu sangat berpengaruh dan dengan mudahnya terikat pada tawaran pekerjaan dengandiimingi gaji yang besar. Ketidaktahuan orang tua dan keluarga tentang hak-hak yang harus dilindungi, sehingga dalam keluarga itu juga sering terjadi pelanggaran terhadap hak-hak anak itu sendiri tentang cara-cara mendidik anak yang baik.

(16)

keluarga yang dapat mendorong anak menjadi korban perdagangan untuk prostitusi atau pelacuran adalah penerapan disiplin didalam keluarga itu sendiri.

Kurangnya kedisiplinan dalam keluarga disebabkan oleh :

a. Perbedaan antara orang tua dan anak dalam hal kedisiplinan;

b. Kelemahan moral, fisik dan kecerdasan orang tua yang membuat lemahnya

disiplin ;

c. Kurang disiplin karena tidak adanya orang tua;

d. Perbedaan pendapat tentang pengawasan terhadap anak-anaknya;

e. Karena penerapan kedisiplinan yang kurang ketat;

f. Orang tua dalam membagi cinta dan kasih sayang terhadap anak kurang

merata atau pilih kasih dalam penerapan kedisiplinan didalam rumah tangga.

Kepatuhan pada orang tua juga merupakan hal yang sangat penting untuk

dicermati. Ketidakpatuhan terhadap orang tua membuat anak ini tidak lagi

memperhatikan nasihat ataupun bimbingan dari orangtuanya, sehingga anak ini

bertindak dan berperilaku hanya berdasarkan emosionalnya semata. Ketidak patuhan

ini yang membuat anak tersebut terjebak dalam lingkaran perdagangan ornag, dan hal

ini mungkin tidak pernah diinginkan oleh anak tersebut..

4. Faktor pendidikan

(17)

korban ataupun pelaku itu sendiri akan sangat berpengaruh menumbuhkan perilaku yang rasional dan menurunkan atau mengurangi bertindak secara irasional.

Seorang anak dalam keluarga belajar memegang peranan sebagai makluk sosial yang memiliki norma-norma dan kecapan tertentu didalam pengalamannya dengan masyarakat lingkungannya. Pengalaman-pengalaman yang didapatnya dalam keluarga turut pula menentukanr cara-cara bertingkahlaku anak tersebut. Hubungan anak dengan anak yang berlangsung secara tidak wajar atau kurang baik, maka kemungkinan pada umumnya hubungan anak dengan masyarakat disekitarnya akan berlangsung secara tidak wajar pula75

Laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari telah memperoh pembagian peran tugas nilai-nilai serta aturan-aturan yang berbeda. Perempuan karena fungsi reproduksi ditempatkan domestik (rumah tangga), sedangkan laki-laki ditempatkan pada ruang publik. Pembagian peran ternyata berdampak luas serta mempengaruhi pola pengasuhan dan kesempatan bagi anak-anak laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, terutama dipedesaan oarang tua lebih memberikan kesempatan kepada anak laki-laki, karena suatu hari anak laki-laki harus mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Anak perempuan dianggap tidak terlalu membutuhkan pendidikan karena kelak akan mengikuti suami. Perempuan dalam keluargan selalu diberika pendidikan rela berkorban untuk keluarga, sehingga banyak perempuan yang bekerja bukan untuk mengaktualisasikan

(18)

dirinya atau melaksanakan haknya, tetapi sekedar membantu keluarga atau menambah penghasilan keluarga76

Kurangnya pendidikan formal berupa pendidikan agama juga merupakan faktor penyebab meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, hal ini mungkin disebabkan keterbatasan pengetahuan tentang keagamaan ataupun kurangnya rasa iman pada diri anak tersebut dalam mengendalikan dirinya, dan lebih memudahkan trafficker untuk merekrut anak-anak itu untuk dijadikan pelacur

.

77

B. Faktor Eksternal

.

1. Faktor lingkungan

Suatuk kejahatan manusia didalam hidupnya akan selalu berdampingan dengaan masyarakat sekitar. Tidak ada manusia yang hidup tidak tergantung dengan atau membutuhkan orang lain. Semua orang untuk memenuhi segalakeperluannya harus selalu membutuhkan orang lain. Seseorang itu didalam masyarakat harus menaati segala peraturan yang hidup didalam masyarakat termasuk juga norma hukum yang berlaku.

Penyebab anak menjadi korban pergangan anak sangat berpengaruh pada keadaan anak itu berada. Anak sebagai korban perdagangan ini tidak hannya berasal dari lingkungan keluarga miskin tetapi juga berasal dari lingkungan keluarga kaya.

76Farhana, op.cit., Halaman. 69. 77

(19)

Anak menjadi korban perdagangan ini, karena terpengaruh oleh lingkungan yang bersifat materialisme maupun konsuntif. Anak untuk memenuhi kebutuhannya, maka anak tersebut akan menanggapi bahkan menerima suatu pekerjaan dengan gaji yang tinggi sehingga anak itu akan menerima tanpa memikirkan akibatnya. Anak-anak tersebut pada umumnya tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan cara dari trafficker untuk merekrut korbannya.

Faktor lingkungan atau pergaulan anak tersebut dengan masayarakat sekitarnya dpat menjadi salah satu penyebab terjadinya perdagangan yang korbanya anak-anak. Kejahatan perdagangan ini merupakan gejala sosial yang tidak berdiri sendiri melainkan adanya kondisi atau hubungan dengan berbagai perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, hukum maupun adanya teknologi serta perkembanganyang lain akiibat sampingan yang negatif dari setiap kemajuan dan oerubahan sosial masyarakat. Orang tua dalam hal ini harus pengalamannya dalam membina dan membentuk kepribadian anak, sehingga tidak terjerumus dalam lingkungan prostitusi atau pelacuran sebagaiman yang sering terjadi78

2. Faktor perkawinan usia muda

.

(20)

Perkawinan usia muda ini banyak mengundang masalah, karena perkawinan mengandung resiko tinggi, terutama ketika diikuti dengan kehamilan. Secara sosial anak perempuan yang menikah pada usia muda cenderung banyak mengalami kesulitan terutama bila diceraikan oleh suami. Ketika seseorang anak perempuan bercerai, ia kehilangan status haknya sebagai anak, hal ini menghalanginya untuk memasuki sistem pendidikan formal apabila ia menginginkanya. Anak perempuan sejak menikah dianggap sebagai orang dewasa yang mandiri dan tidak lagi menjadi tanggungan orangtuanya. Anak perempuan apabila sudah bercerai dengan suaminya, orang tuanya tidak lagi bertanggung jawab untuk memberinya nafkah atau menanggung hidupnya. Anak perempuan yang telah dikembalikan oleh suaminya cenderung memberanikan diri pergi kekota-kota besar untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik dan untuk bertahan hidup. Anak perempuan yang tidak mempunyai keterampilan atau ijazahyang memungkinkan mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga mereka masuk jaringan perdagangan orang79

3. Faktor ketidakadaan kesetaraan gender

.

Nilai sosial budaya patriarki yang masih kuat ini menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan dan peran yang berbeda dan tidak setara, hal ini ditandai dengan adanya pembekuan peran, yaitu sebagai istri, sebagai ibu, pengelolaan rumah tangga, dan pendidikan anak-anak di rumah, serta pencari nafkah tambahan dan jenis pekerjaannya serupa dengan tugas didalam rumah tangga, misalnya menjadi pembantu rumah tangga dan mengasuh anak. Perempuan selain memiliki peran tersebut, perempuan juga mempunyai beban ganda, subordinasi, marjinalisasi, dan kekerasan terhadap

79

(21)

perempuan, yang kesemuanya itu berawal dari diskriminasi terhadap perempuan yang menyebabkan mereka tidak atau kurang memiliki akses, kesempatan dan kontrol atas pembangunan, serta tidak atau kurang memperoleh manfaat pembangunan yang adil dan setara dengan laki-laki. Faktor sosial budaya disinyalir merupakan penyebab terjadinya kesenjangan gender, antara lain dalam hal berikut :

a. Lemahnya pemberdayaan ekonomi perempuan dibandingkan dengan laki-laki,

yang ditandai dengan masih rendahnya peluang perempuan untuk bekerja dan

berusaha, serta rendahnya akses sumber daya ekonomi seperti teknologi,

informasi, pasar, kredit, dan modal kerja;

b. Ketidaktahuan perempuan dan anak-anak tentang apa yang sebenarnya terjadi di

eraglobalisasi;

c. Kurangnya pengetahuan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki;

Perempuan kurang mempunyai hak untuk mengambil keputusan dalam keluarga atau masyarakat dibanding kan laki-laki.

(22)

4. Faktor penegakan hukum

Perangkat hukum di Indonesia masih terlalu lemah dalam memberikan perhatian terhadap masalah perempuan dan anak ini, karena pengaturan yang bersifat global dan tidak spesifik mengatur tentang perdagangan perempuan dan anak ini, sehingga tidak menyentuh segmen perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, dan membawa akibat banyak kasus tidak terselesaikan secara hukum dan adanya ketidak mampuan aparat hukum untuk membongkar dan memutuskan mata rantai perdagangan perempuan dan anak81

Inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindakan sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup

.

82

. Kaidah-kaidah tersebut menjadi pedoman bagi perilaku atau sikap tindak yang dianggap pantas atau yang seharusnya. Perilaku atau sikap tindak tersebut bertujuan untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian, dapat juga dikatakan bahwa penegakan hukum dalam masyarakat berarti membicarakan daya kerja hukum dalam mengatur dan memaksa masyarakat untuk taat kepada hukum.Penegakan hukum tidak terjadi dalam masyarakat karena ketidak serasian antara nilai, kaidah, dan pola perilaku. Permasalahan dalam penegakan hukum terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri83

81Maidin Gultom II, op.cit., Halaman. 46.

82Soerjono Soekanto, FaktorFaktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, Halaman. 5.

83

Farhana, op.cit., Halaman. 63.

(23)

Faktor-faktor yang mempengaruhi faktor penegakan Hukum adalah faktor hukumnya sendiri, faktor penegakan hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyrakat, dan faktor kebudayaan

a. Faktor hukumnya sendiri

Sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang, tidak ada peraturan perundang-undangan yang dengan tegas mengatur perdagangan orang. Ketentuan hukum positif yang mengatur tentang larangan perdagangan orang tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan, seperti Pasal 297 KUHP. Pasal tersebut tidak menjelaskan dengan jelas defenisi perdagangan orang, sehingga tidak dapat dirumuskan dengan jelas unsur-unsur tindak pidana yang dapat digunakan penegak hukum untuk melakukan penuntutan dan pembuktian danya tindak pidana. Pasal ini dapat dikatakan mengandung diskriminasi terhadap jenis kelamin karena Pasal ini hanya menyebutkan hanya wanita dan anak laki-laki dibawah umur, artinya hanya perempuan dan anak laki-laki yang masih dibawah umur yang mendapat perlindungan hukum.

(24)

Asas hukum pidana menentukan bahwa hukum pidana menganut sistem interpretasi negatif yang berarti tidak ada interpretasi lain selain yang ada dalam KUHP itu sendiri. Pasal ini bersifat umum, sehingga tidak mampu mewadahi kasus yang sifatnya lebih spesifik, karena dalam lapangan banyak ditemukan bentu-bentuk kejahatan lebih spesifik tidak mampu dijerat oleh Pasal tersebut.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga terkait dengan perdagangan manusia. Ketentuan hukum dalam Undang-Undang ini menunjukkan kemajuan ketentuan pidana dengan mengikuti perkembangan kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia dalam masyarakat dan tidak ada diskriminasi perlindungan hukum dari tindak pidana terhadap jenis kelamn atau usia, karena perdagangan manusia mencakup semua orang termasuk laki-laki dan anak meliputi anak laki-laki dan anak perempuan. Ketentuan Undang-Undang ini juga memberikan ruang lingkup perlindungan yang lebih luas terhadap segala bentuk tindak pidana yang biasanya merupakan bagian ekploitasi dalam perdagangan orang seperti penyekapan.

(25)

tahun penjara dan denda antara Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta) rupiah sampai Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta) rupiah. Undang-Undang ini sering digunakan sebagai dasar untuk menangkap pelaku perdaganga orang84

b. Faktor penegak hukum

.

Penegakan hukum dalam masyarakat selain dipengaruhi peraturan atau Undang-Undang juga ditentukan oleh para penegak hukum. Peraturan sering tidak tidak terlaksana dengan baik karena ada penegak hukum yang tidak melaksanakan suatu peraturan dengan cara sebagaimana mestinya.

c. Faktor sarana dan fasilitas

Sarana dan fasilitas mempengaruhi penegakan hukum. Penegakan hukum tidak mungkin akan berlangsung dengan lancar tanpa adanya saran atau fasilitas. Sarana atau fasilitas antara lain mencakup sumberdaya manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup85

Lemahnya kordinasi antar penegak hukum, polisi tidak mengetahui hasil putusan hakim sehubungan dengan kasus-kasus yang diajukannya kepada kejaksaan dan pengadilan.

.

Perbedaan interpretasi terjadi pada penegak hukum tentang defenisi perdagangan orang sangat berpengaruh pada penuntutan, pembukrian dan penghukuman. Kasus kejahatan perdagangan manusia sering lepas dari penuntutan karena adanya perbedaan interpretasi.

(26)

Kejaksaan juga tidak mengetahui hasil putusan pengadilan. Keadaan ini sangat menghambat proses monitoring dan evaluasi penegak hukum.

Sistem pendataan dan dokumentasi kasus dan penanganan perdagangan manusia yang tidak memadai, sehingga data tidak terdokumentasi secara lengkap.Ini mengakibatkan adanya anggapan bahwa upaya penanganan kasus perdagangan orang tidak merupakan prioritas.

Ruang pelayanan khusus (RPK) dalam struktur organisasi Polri bagian terdepan Polri dalam menangani perempuan dan korban kekerasan dan eksploitasi. Peranan RPK belum digunakan secara maksimal oleh masyarakat. Masyarakat masih banyak yang belum terdorong mengadu ke RPK bila mengalami ekploitasi ekonomi atau seksual.

d. Faktor masyarakat

(27)

perdagangan manusia tidak melaporkan kepada kepolisian atau telah menjadi korban perdagangan orang86

e. Faktor kebudayaan .

Laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari telah memperoh pembagian peran tugas nilai-nilai serta aturan-aturan yang berbeda. Perempuan karena fungsi reproduksi ditempatkan domestik (rumah tangga), sedangkan laki-laki ditempatkan pada ruang publik.

Pembagian peran ternyata berdampak luas serta mempengaruhi pola pengasuhan dan kesempatan bagi anak-anak laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, terutama dipedesaan orang tua lebih memberikan kesempatan kepada anak laki-laki, karena suatu hari anak laki-laki harus mencari nafkah bagi anak dan istrinya. Anak perempuan dianggap tidak terlalu membutuhkan pendidikan karena kelak akan mengikuti suami. Perempuan dalam keluargan selalu diberikan pendidikan rela berkorban untuk keluarga, sehingga banyak perempuan yang bekerja bukan untuk mengaktualisasikan dirinya atau melaksanakan haknya, tetapi sekedar membantu keluarga atau menambah penghasilan keluarga87.

(28)

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN

ORANG (STUDI PUTUSAN NOMOR 149/PID.SUS/2015/PN. TEMBILAHAN)

A. Posisi KASUS

Bermula pada hari pada hari Minggu tanggal 19 April 2015 sekira pukul 09.00 WIB Terdakwa minum kopi bersama dengan saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN diwarung milikSdr.PANE di Parit 13 Tembilahan. Pada saat itu Terdakwa berkata kepada saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN "ada nggak orang yang akan membeli anak bang " lalu dijawab oleh saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN "anak siapa" selanjutnya Terdakwa menjawab "Anak saya yang kecil" setelah itu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN menanyakan lagi " berapa " dan Terdakwa jawab "Rp 5.000.000,-(lima juta rupiah ), lalu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN menjawab " kalau segitu mana ada orang yang mau, kalau Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) ada yang mau " dan saat itu Terdakwa bilang " Nantilah dulu saya pikir- pikir dulu" selanjutnya Terdakwa langsung pulang ke rumah yang terletak di Jalan SKB RT. 008 RW.002 Kel, Sungai Beringin Kec. Tembilahan.

(29)

WIB saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN datang kerumah Terdakwa untuk menanyakan kepada Terdakwa " bagai mana WAN runding kita ", lalu dijawab oleh Terdakwa " iyalah bang jadi ", pada saat itu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN melihat seorang anak perempuan lalu saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN bertanya kepada Terdakwa "yang ini ya anaknya " lalu dijawab oleh Terdakwa " Iya.

Kemudian pada hari Selasa tanggal 21 April 2015 sekira pukul 19.00 WIB Terdakwa pergi ke rumah saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN yang berada di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW. 009 Kelurahan Tembilahan Hilir untuk mengantar Kartu Keluarga (KK) sebagai bukti bahwa benar anak yang akan Terdakwa jual kepada saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN tersebut adalah anak kandung Terdakwa sendiri yang bernama AYU WULANDARI, setelah itu Terdakwa langsung pulang ke rumahnya.

(30)

jual beli anak tersebut, setelah Terdakwa menanda tangani surat perjanjian tersebut kemudian saksi JAMRI Als IJAM Bin MISRAN memberikan uang kepada Terdakwa sebesar Rp 3.200.000,- ( tiga juta dua ratus ribu rupiah ) sambil berkata " Ini sisa uangnya sebesar Rp. 300.000,- ( tiga ratus ribu rupiah ) untuk ongkos membuat surat, setelah uang penjualan anak tersebut di terima oleh Terdakwa kemudian Terdakwa langsung pergi untuk mencari ojek, setelah ojek di dapat oleh Terdakwa kemudian Terdakwa pergi ke pasar untuk membeli duku (langsat ) dan baju untuk anaknya AYU WULANDARI, kemudian Terdakwa pulang kerumahnya sambil meletakkan duku (langsat) dan baju, pada saat itu Terdakwa memberikan uang hasil penjualan anaknya kepada saksi NURSIAH Binti SAPARIN (istri Terdakwa) sebesar Rp 1.000.000,- ( satu juta rupiah ), pada saat itu saksi NURSIAH Binti SAPARIN bertanya kepada Terdakwa dengan mengatakan " mana anak " saat itu Terdakwa tidak menjawab, selanjutnya Terdakwa langsung pergi ke pasar menuju ke Wisma 99 sesampai disana Terdakwa menginap selama 2 ( dua ) malam dengan sewa kamar sebesar Rp. 200.000,- ( dua ratus ribu rupiah) uang hasil penjualan anak Terdakwa juga di pergunakan untuk membayar utang kepada Mbak LO di Pekan Arba sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), membayar hutang kepada Mbah SUM di Parit 11 Tembilahan sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah ) dan uang sisa penjualan anaknya tersebut

sebesar Rp 1.045.000,-( satu juta empat puluh lima ribu rupiah ).

(31)

masyarakat untuk menanyakan masalah penjualan anak yang Terdakwa lakukan tersebut dan tidak lama kemudian Terdakwa ditangkap Polisi dan dibawa ke Polsek Tembilahan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagagai berikut:

a. Menyatakan Terdakwa MISWANTO AIs IWAN Bin TUKIRAN terbukti

bersalah melakukan Tindak Pidana menempatkan, membiarkan, melakukan,

menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan atau

perdagangan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 F UU RI Nomor 35 tahun

2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;

b. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa MISWANTO Als IWAN Bin TUKIRAN

dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa, ditahan

dan menghukum Terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp.60.000.000,-

(enam puluh juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan kurungan dengan perintah

Terdakwa tetap berada dalam tahanan;

c. Menyatakan barang bukti berupa:

1. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)

(32)

3. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan

kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan

DEDIAFRIZAL;

d. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000,- (lima

ribu rupiah)

B. Fakta Hukum

Fakta-fakta yang terungkap di depan persidangan secara berturut-turut berupa keterangan saksi, surat, petunjuk, keterangan terdakwa dan adanya barang bukti adalah :

1. Keterangan Saksi

a. Saksi NURSIAH Binti SAPARIN, atas persetujuan Terdakwa, Saksi memberikan

keterangan dibawah sumpah sebagai berikut ;

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa karena saksi adalah istri Terdakwa;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar ;

3. Bahwa anak kandung saksi yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa kepada JAMRI Alias IJAM Bin

MISRAN;

4. Bahwa anak saksi AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2

(33)

5. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Terdakwa sendiri yang terletak di Jalan

SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir

Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;

6. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah saksi yang terletak di jalan SKB RT.01,

RW.06, Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan Kabupaten

Indragiri Hilir, terdakwa menyuruh saksi untuk memandikan anak saksi yang

bernama Ayu Wulandari Binti Miswanto untuk dibawanya ke Bank

dikarenakan akan menerima bantuan dana dari kantor Nasabah dan untuk itu

harus membawa anak sebagai saksi untuk mendapatkan bantuan dana dari

kantor Nasabah dan saksi pun menyetujuinya, kemudian sekira pukul 09.00

Wib Terdakwa pergi dari rumah bersama dengan Ayu Wulandari Binti

Miswanto dan setelah di tunggu-tunggu oleh saksi sore harinya ternyata

Terdakwa dan anak saksi juga tidak pulang dan sekitar pukul 13.30 Wib,

temannya Terdakwa yaitu sdr. AYI Bin BAKHTIAR datang kerumah saksi

dan mengatakan, “Nur, suami mu bilang si AYU hilang, Yok kita ke rumahku

suami mu ada disana“, kemudian saksi pergi ke rumah sdr. AYI Bin

BAKHTIAR, kemudian saksi bertanya kepada Terdakwa, “mana anak pak ?“,

(34)

hilang“, sambil mengangis, kemudian saksi tanya lagi, “dimana hilangnya ?“, dan Terdakwa jawab, “dipasar rakyat waktu mau beli baju lagi milih–milih anak itu tidak ada lagi” ;

7. Bahwa mendengar hal tersebut saksi kaget dan menangis dan setelah itu saksi

bersama dengan sdri. RUKIAH dan Terdakwa langsung mencari ke pasar

dengan ditemani oleh sdr. AYI Bin BAKHTIAR, Sesampainya di pasar, saksi

bersama dengan sdri. RUKIAH dan sdr. AYI Bin BAKHTIAR mencari ke

warung-warung yang ada di Pasar Rakyat sedang Terdakwa mencarinya

sendiri namun hingga sampai jam 16.00 Wib, anak saksi yang bernama Ayu

Wulandari Binti Miswanto tersebut tidak ditemukan juga dan Terdakwa juga

menghilang entah kemana, Tidak ada satu orangpun yang ada di pasar tersebut

yang melihat keberadaan Ayu Wulandari Binti Miswanto dan setelah semua di

telusuri dan Ayu Wulandari Binti Miswanto juga tidak ditemukan, kemudian

sdr. AYI Bin BAKHTIAR menyarankan kepada saksi untuk melaporkan

kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib dan kemudian saksi melaporkan

kejadian ini kepihak yang berwajib yaitu Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk

menanyakan apakah ada Terdakwa telah melapor kehiangan anak kami.

Polisi disana menjawab tidak ada laporan mengenai anak hilang dan kemudian

saksi serta sdr. AYI Bin BAKHTIAR pulang kerumah masing–masing dan

(35)

memberitahukan kepada Ketua RT. yaitu sdr. MUKHTAR EFENDI tentang kehilangan anaknya tersebut dan semua warga yang ada di lingkungan RT tersebut ikut juga mencari keberadaan Ayu Wulandari Binti Miswanto;

8. Bahwa kemudian Terdakwa kemudian pulang ke rumah sambil menangis dan

kemudian Terdakwa memberikan saksi uang sebesar Rp1.000.000,- ( satu juta

rupiah) sambil mengatakan “ ini uang untuk bayar kredit Honda Rp. 600.000 (

enam ratus ribu rupiah ) dan Rp. 400.000 (empat ratus ribu rupiah) untuk bayar

kredit speaker, selanjutnya Terdakwa langsung pergi lagi dengan mengatakan

kepada saksi ingin mencari anak itu lagi hingga akhirnya Terdakwa tidak

pulang ke rumah selama beberapa hari;

9. Bahwa saksi mengetahui bahwa Ayu Wulandari Binti Miswanto telah dijual

oleh Terdakwa yang merupakan suami saksi yaitu pada hari Jumat tanggal 24

April 2015, sekitar pukul 13.00 Wib, dimana saat itu adik kandung saksi yaitu

sdri. RUKIAH mengatakan kepada saksi bahwa Terdakwa mengirim SMS

yang mengatakan bahwa anak tersebut telah di adopsi, suratnya ada di bawah

tikar, uangnya sudah diterima. Kemudian sdri. Rukiah langsung pergi ke

rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran namun Ayu Wulandari Binti

Miswanto tersebut tidak berada disana, dan sekitar pukul 16.00 Wib, Terdakwa

menelpon dan mengatakan kepada saksi, “Dek, anak itu udah aku adopsi sama

keponakan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran disimpang Gaung, uangnya

(36)

10.Bahwa saksi kemudian menyuruh Terdakwa untuk cepat pulang dan kemudian

Terdakwa menyuruh saksi untuk menjemputnya di Parit 13, kemudian saksi

pergi menjemput Terdakwa bersama dengan sdr. AYI Bin BAKHTIAR di

Parit 13, dan kemudian Terdakwa bercerita bahwa anak tersebut sudah di

adopsi harga pertamanya Rp. 6.000.000 ( enam juta rupiah);

11.Bahwa sebelum kejadian Terdakwa tidak pernah membicarakan tentang akan

menyerahkan atau menjual Ayu Wulandari Binti Miswanto kepada orang lain

untuk diadopsi;

12.Bahwa pada hari Selasa tanggal 21 April 2015, sekitar pukul 16.00 Wib, saat

di rumah Terdakwa mengatakan bahwa ia dapat bantuan uang dari kantor

Nasabah, kemudian Terdakwa pergi keluar rumah dengan mengatakan kepada

saksi, “saya pergi dulu dengan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran mau ngurus

surat–surat uang bantuan itu “, dan sekitar 1 (satu) jam kemudian Terdakwa

pulang ke rumah dan mengatakan kepada saksi, “malam ini orang yang ngurus

bantuan itu mau datang ke rumah”, kemudian sekitar pukul 21.00 Wib,

datanglah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran ke rumah dan sambil

menghampiri saksi di kamar mengatakan kepada saksi, “anak ini anak siapa?“,

sambil menunjuk ke arah Ayu Wulandari Binti Miswanto yang sedang tidur

kemudian

(37)

kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran bertanya lagi kepada saksi, “kakak ni siapa ?“, kemudian Terdakwa langsung mejawab, “aku numpang disini, aku tak punya istri, aku duda“, kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran bertanya lagi sama kami berdua, “kalian keluarga ya ?“, dan saksi jawab, “tidak“, dan selanjutnya kemudian Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran pamit dengan mengatakan kepada saksi, “maaf mengganggu kak“, dan Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran langsung pulang, selanjutnya saksi bertanya kepada Terdakwa, “ngapa orang itu pak ?”, dan Terdakwa menjawab, “Udah selesai surat – suratnya aku urus, besok pagi sekira pukul 09.00 Wib aku kesana“, dan kemudian esoknya Terdakwa bersama Ayu Wulandari Binti Miswanto pergi ;

13.Bahwa menurut pengakuan Terdakwa kepada saksi bahwa anak saksi bernama

Ayu Wulandari Binti Miswanto tersebut telah di adopsi dengan harga awalnya

Rp.6.000 000,00 (enam juta rupiah) namun Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran

hanya memberikan uang sebesar Rp. 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu

rupiah ), kemudian dipotong Rp. 300.000,00 ( tiga ratus ribu rupiah) untuk

Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran dikarenakan akan mengurus surat –

suratnya sehingga total harga adopsi anak tersebut yang diterima Terdakwa

sebesar Rp. 3.200.000 ( tiga juta dua ratus ribu rupiah ). Dan yang menerima

adopsi tersebut adalah keluarga Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran yang

berada di Simpang Gaung; Atas keterangan saksi terdakwa melalui kuasa

(38)

b. Saksi RUKIAH Alias KIAH Binti SAPARIN ;

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan Terdakwa adalah suami dari kakak

saksi;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar ;

3. Bahwa anak kandung sdri. Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO telah dijual oleh yaitu Terdakwa kepada Saksi Jamri Alias Ijam

Bin Misran;

4. Bahwa Terdakwa adalah suami dari Saksi Nursiah dan ayah kandung dari

AYU WULANDARI ;

5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)

tahun dan 6 (enam) bulan ;

6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Terdakwa sendiri yang terletak di Jalan

SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir

Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;

7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Rabu tanggal 22 April 2015

sekitar pukul 08.00 Wib., bertempat di rumah Saksi Nursiah yang terletak di

jalan SKB RT.01, RW.06, Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan

Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, Terdakwa menyuruh sdri. Nursiah

(39)

Miswanto untuk dibawanya ke Bank dikarenakan akan menerima bantuan

dana dari kantor Nasabah dan untuk itu harus membawa anak sebagai saksi

untuk mendapatkan bantuan dana dari kantor Nasabah dan Saksi Nursiahpun

menyetujuinya, kemudian sekira pukul 09.00 Wib, Terdakwa pergi dari rumah

bersama dengan Ayu Wulandari Binti Miswanto dan setelah di tunggu-tunggu

oleh Saksi Nursiah sore harinya ternyata Terdakwa dan anaknya juga tidak

pulang dan sekitar pukul 13.30 Wib, temannya Terdakwa yaitu sdr. AYI Bin

BAKHTIAR datang ke rumah Saksi Nursiah dan mengatakan kepada Saksi

Nursiah, “Nur, suami mu bilang si AYU hilang, Yok kita ke rumahku suami

mu ada disana“, kemudian Saksi Nursiah pergi kerumah sdr. AYI Bin

BAKHTIAR, kemudian Saksi Nursiah bertanya kepada Terdakwa, “mana

anak pak?“, dan Terdakwa menjawab, “anak hilang“, sambil mengangis,

kemudian Saksi Nursiah tanya lagi, “dimana hilangnya ?“, dan Terdakwa

jawab, “dipasar rakyat waktu mau beli baju lagi milih – milih anak tu tidak

ada lagi” ;

8. Bahwa Saksi dan Saksi Nursiah langsung kaget dan menangis, setelah itu

Saksi Nursiah bersama dengan saksi dan Terdakwa langsung mencari ke pasar

dengan ditemani oleh sdr. AYI Bin BAKHTIAR, Sesampainya di pasar, saksi

bersama dengan Saksi NURSIAH dan sdr. AYI Bin BAKHTIAR mencari ke

warungwarung yang ada di Pasar Rakyat sedang Terdakwa mencarinya

(40)

tersebut tidak ditemukan juga dan Terdakwa juga menghilang entah kemana,

kemudian sdr. AYI Bin BAKHTIAR menyarankan kepada sdri. NURSIAH

untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib dan

kemudian sdri. NURSIAH melaporkan kejadian ini kepihak yang berwajib

yaitu Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk menanyakan apakah ada Terdakwa

telah melapor kehilangan anak mereka dan Polisi disana menjawab tidak ada

laporan mengenai anak hilang dan kemudian kami pulang kerumah masing –

masing dan kami juga memberitahukan kepada Ketua RT. yaitu sdr.

MUKHTAR EFENDI tentang kehilangan anaknya tersebut dan semua warga

yang ada di lingkungan RT tersebut ikut juga mencarinya keberadaan Ayu

Wulandari Binti Miswanto;

9. Bahwa saksi mengetahui hari Jum’at tanggal 24 April 2015, sekitar pukul

14.00 Wib., sewaktu saksi sedang berada dirumah, ada masuk SMS dari

MISWANTO (terdakwa berkas terpisah) ke handphone saksi yang isinya

mengatakan, “bahwa AYU telah aku Adopsikan ke saudara IDAM yang

tinggal nya di belakang Surau, suratnya ada di bawah tikar“;

10.Bahwa setelah membaca SMS tersebut kemudian saksi mengecek di bawah

tikar dan menemukan surat perjanjian tentang adopsi anak kemudian saksi

langsung memberitahu kakaknya yaitu Saksi NURSIAH, selanjutnya saksi

(41)

Misran yang rumahnya ada di belakang surau tersebut kemudian saksi

langsung pergi mencari anak tersebut;

11.Bahwa setelah sampai di depan lorong rumah, saksi berjumpa dengan Ketua

RT., yaitu sdr. MUKHTAR dan mengatakan kepada saksi, “sudah jumpa ya

anak yang hilang tu“, lalu saksi jawab, “belum lagi pak, tapi barusanTerdakwa

ada SMS saya dan mengatakan anak itu telah di adopsi kepada JAMRI Alias

IDAM. lalu sdr. MUKHTAR mengatakan, “ada ya surat adopsinya“, saksi

jawab, “ada pak“, sambil memperlihatkan surat adopsi tersebut kepada sdr.

MUKHTAR, lalu sdr. MUKHTAR mengatakan, “fotocopy dulu surat ini“,

lalu saksi langsung fotocopy-kan surat tersebut, setelah saksi fotocopy lalu

saksi memberikannya kepada sdr. MUKHTAR, setelah itu saksi pergi ke

rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran;

12.Bahwa sesampainya di rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran namun

Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran sedang tidak ada dirumah, kemudian saksi

kembali lagi pulang kerumah dan sekitar pukul 17.00 wib., sewaktu saksi baru

pulang ke rumah, saksi melihat Terdakwa tersebut ada di rumah tidak lama

kemudian datang Ketua RT., yaitu sdr. MUKHTAR kerumah dan kemudian

membawa Terdakwa tersebut ke rumah Ketua RT;

13.Bahwa menurut keterangan sdri. NURSIAH, Ayu Wulandari Binti Miswanto

tersebut telah di jual dengan harga Rp. 3.200.000 ( tiga juta dua ratus ribu

(42)

dilakukan Terdakwa dengan DEDI AFRIJAL sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima

juta rupiah);

14.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan ;

c. Saksi AYI Alias AI Bin BAKHTIAR EFENDI

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa adalah kakak ipar saksi;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;

3. Bahwa anak kandung Saksi Nursiah yang bernama Ayu Wulandari Binti

Miswanto telah dijual oleh Terdakwa yang tidak lain adalah suami dari sdri.

Nursiah dan ayah kandung dari Ayu Wulandari kepada Saksi Jamri Alias Ijam

Bin Misran;

4. Bahwa Ayu Wulandari Binti Miswanto saat ini berumur 2 ( dua) tahun dan 6

(enam) bulan;

5. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Saksi Jamri Alias Ijam Bin Misran yang

terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT 2 RW 9 Kelurahan

Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi

(43)

6. Bahwa Terdakwa melakukan hal tersebut dengan cara membuat berita bohong

dengan mengatakan anak tersebut telah hilang padahal anak tersebut telah

dijual oleh Terdakwa kepada seseorang melalui Saksi Jamri Alias Ijam Bin

Misran;

7. Bahwa saksi menyuruh Saksi Nursiah untuk melaporkan kejadian tersebut ke

kantor polisi dan kami langsung pergi ke Polres Inhil dan Polsek KSKP untuk

menanyakan apakah ada laporan orang kehilangan anak dan Polisi disana

menjawab tidak ada laporan mengenai hal tersebut, selanjutnya kami

diintrogasi Polisi, setelah itu saksi dan sdri. NURSIAH pulang kerumah

masing-masing;

8. Bahwa bahwa anak Terdakwa tersebut ternyata tidak hilang melainkan telah

dijual oleh Terdakwa pada hari Jumat, tanggal 24 April 2015 sekitar pukul

14.30 Wib. Saksi pergi ke rumah sdri. NURSIAH dan sesampainya disana,

saksi berjumpa dengan sdri. NURSIAH dan menanyakan kepadanya apakah

anaknya tersebut sudah ditemukan dan sdri. NURSIAH mengatakan bahwa

anak tersebut sedang dijemput di SKB ditempat rumah Saksi Jamri Alias

Ijam, dan saksi NURSIAH juga mengatakan kepada bahwa anak tersebut

sebenarnya bukan hilang tapi telah dijual oleh Terdakwa MISWANTO

kepada seseorang;

9. Bahwa Terdakwa meminta dijemput di Parit 13 kemudian saksi pergi

(44)

sesampainya di Parit 13, kami membawa Terdakwa untuk pulang ke

rumahnya dan tidak lama kemudian datang Ketua RT., bersama warga dan

selanjutnya saksi pulang kerumahnya;

10.Bahwa besoknya Saksi Ayi pergi kerumah Terdakwa lagi untuk menanyakan

masalah anak yang bernama AYU Terdakwa sudah ditangkap Polisi;

11.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirka

dipersidangan;

d. Saksi JURIATI Alias IJUR Binti RAHIMIN ;

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan tidak ada hubungan keluarga dengan

Terdakwa;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;

3. Bahwa anak kandung Saksi Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa yang tidak lain adalah ayah

kandungnya AYU WULANDARI;

4. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO dijual oleh terdakwa kepada

Saksi Jamri Alias Ijam;

5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)

tahun dan 6 (enam) bulan;

6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 22 April 2015 sekitar

(45)

SKB Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir

Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;

7. Bahwa Terdakwa menjual anak kandungnya yang bernama AYU

WULANDARI tersebut kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) seharga

Rp 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah );

8. Bahwa saksi tidak mengetahui kesepakatan harga jual beli anak tersebut

antara Terdakwa dengan Saksi Jamri Alias Ijam;

9. Bakwa kesepakatan yang saksi ketahui dimana pada hari Selasa tanggal 21

April 2015, sekitar pukul 19.00, Terdakwa datang ke rumah saksi dan pada

saat itu Terdakwa menyatakan mau menyerahkan anaknya yang bernama

AYU WULANDARI kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) tetapi saat

itu Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi) masih ragu anak tersebut anak

Terdakwa atau bukan;

10.Bahwa kemudian Terdakwa pulang dan sekitar pukul 20.00 Wib, dan datang

lagi ke rumah saksi dengan membawa Kartu keluarga dan Surat Nikah untuk

meyakinkan kepada Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi);

11.bahwa anak yang bernama AYU WULANDARI yang akan diserahkan

kepada Saksi Jamri Alias Ijam tersebut adalah anak Terdakwa dan pada saat

itu Terdakwa mengatakan mau menyerahkan anak kandungnya kepada Saksi

(46)

12.Bahwa Terdakwa mengatakan bahwa istrinya pergi sudah 2 (dua) tahun tidak

ada kabarnya dan anaknya tidak ada yang mengurus;

13.Bahwa anak tersebut kemudian saksi serahkan kepada keponakan saksi yang

bernama DEDI APRIJAL (DPO) dan istrinya bernama ARE dan selanjutnya

anak tersebut dibawa oleh keponakan saksi dan istrinya kerumahnya di Parit

Usaha Anda Desa Teluk Kabung Kecamatan Gaung Kabupaten Indragiri Hilir

untuk dipelihara;

14.Bahwa Suami saksi (Saksi Jamri Alias Ijam) yang menyuruh saksi untuk

menyerahkan anak tersebut kepada Dedi Aprijal;

15.Bahwa sebelumnya keponakan saksi yang bernama DEDI APRIJAL (DPO)

dan istrinya bernama ARE, menyuruh Saksi Jamri Alias Ijam (suami saksi)

untuk mencarikan anak yang akan dipelihara, kemudian Saksi Jamri Alias

Ijam (suami saksi) mencari dan menurut Saksi Jamri Alias Ijam, Terdakwa

menawarkan anaknya dengan kesepakatan dimana Saksi Jamri Alias Ijam

harus membayar Rp3.500.000,00 ( tiga juta lima ratus ribu rupiah) dan setelah

itu terjadi kesepakatan antara Terdakwa dengan Saksi Jamri Alias Ijam dan

kemudian anak tersebut diserahkan oleh Terdakwa kepada Saksi Jamri Alias

Ijam (suami saksi) dan selanjutnya anak tersebut, saksi serahkan kepada

DEDI APRIJAL dan istrinya bernama ARE;

16.Bahwa seingat saksi sebulan sebelum kejadian ini, Dedi Aprijal menelepon

(47)

lama menikah tapi tidak mempunyai anak dan mengenai perjanjiannya saksi

kurang mengetahui tapi yang saksi ketahui bahwa Dedi Aprijal akan

membayar ongkos dalam rangka mencari anak yang akan dipeliharanya

tersebut;

17.Bahwa ada selembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang

ditandatangani oleh Terdakwa selaku pihak pertama yang menyerahkan anak

dan Dedi Aprijal selaku pihak kedua yang menerima anak;

18.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan;

e. Saksi MUKHTAR EFENDI Bin AHMAD ;

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan tidak memiliki hubungan

keluargadengan Terdakwa;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

terdakwa dan keterangan saksi di BAP adalah benar;

3. Bahwa anak kandung sdri. Nursiah yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO telah dijual oleh Terdakwa kepada JAMRI ALIAS IJAM

ALIAS IDAM BIN MISRAN;

4. Bahwa Terdakwa adalah suami dari sdri. Nursiah dan ayah kandung dari

(48)

5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)

tahun dan 6 (enam) bulan;

6. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM

BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002

RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten

Indragiri Hilir Propinsi Riau;

7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Kamis tanggal 23 April 2015,

sekitar pukul 14.00 Wib., saat itu saksi sedang berada diwarung AHMAD

SADRI (Wakil Ketua RT) dan disana saksi mendapat imformasi bahwa anak

kandung Terdakwa yang bernama AYU WULANDARI telah hilang pada saat

dibawa Terdakwa ke pasar Tembilahan, Mendengar hal tersebut saat itu saksi

selaku Ketua RT menyarankan agar melaporkan hal tersebut kepada pihak

Kepolisian, dan pada saat itu istri AHMAD SADRI yang bernama YANI

tersebut mengatakan bahwa istri Terdakwa yang bernama sdri. NURSIAH

telah melaporkan peristiwa hilangnya anak tersebut kepada pihak Kepolisian

dan pada saat itu tidak lama kemudian saksi melihat Bapaknya Terdakwa

yang bernama TUKIRAN lewat, kemudian TUKIRAN tersebut saksi panggil

dan saksi bertanya, “Apakah benar Bapak kehilangan cucu bapak ?“, dan pada

saat itu TUKIRAN menyatakan “benar”, kemudian saksi tanya lagi bagai

(49)

saya bahwa pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, sekitar pukul 09.00 Wib.,

Terdakwa pergi membawa anaknya tersebut yang katanya akan mendapat

bantuan, tetapi kemana tujuanya saat itu TUKIRAN menyatakan tidak

mengetahui dan sebelum berangkat;

8. Bahwa saksi berusaha untuk mencari tahu tentang hilangnya anak tersebut,

dan pada hari Jumat tanggal 24 April 2015 selepas Sholat Jumat, saksi pergi

ke warung AMAD dan saksi bertanya lagi dengan istri AMAD, “sudah

ketemu belum anak MISWANTO (terdakwa)“, dan pada saat itu istri AMAD

menyatakan bahwa anak Terdakwa belum ketemu, dan tidak lama kemudian

adik Terdakwa yang bernama YUDI serta adik iparnya yang bernama

RUKIYAH lewat dan pada saat itu YUDI menyatakan bahwa anak tersebut

sudah ketemu dan saat itu YUDI menyatakan bahwa anak Terdakwa

yang bernama AYU WULANDARI tersebut berada dirumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN yang terletak dijalan SKB Lorong Margo mulya Tembilahan yaitu dibelakang Lapangan Futsal;

9. bahwa anak tersebut telah diadopsi dan kemudian RUKIYAH

memperlihatkan kepada saksi selembar surat perjanjian masalah jual beli anak

Terdakwa yang bernama AYU WULANDARI, yang saksi lihat

ditandatangani oleh MISWANTO (terdakwa berkas terpisah) selaku pihak

pertama dan DEDI APRIJAL selaku pihak kedua dengan mahar sebesar Rp

(50)

RUKIYAH untuk mem-fotocopi surat tersebut untuk saksi pegang dan surat

aslinya tetap dipegang oleh RUKIYAH;

10.Bahwa saksi menyuruh YUDI dan RUKIYAH untuk menjeput anak tersebut

kerumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN, dan setelah

kembali dari rumah JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN saat

itu YUDI menyatakan bahwa anak tersebut tidak ada di rumah JAMRI

ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dan hanya istri JAMRI ALIAS

IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;

11.Bahwa saat diinterogasi Terdakwa menerangkan bahwa ianya tega menjual

anak kandungnya tersebut, karena desakan kebutuhan ekonomi karena

Terdakwa banyak hutang yang harus dibayar sehingga timbul niat Terdakwa

untuk menjual anak kandungnya tersebut;

12.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan;

f. Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;

1. Bahwa saksi kenal dengan terdakwa namun tidak ada memiliki

hubungankeluarga dengan Terdakwa;

2. Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik kepolisian menyangkut perbuatan

(51)

3. Bahwa Terdakwa telah menjual anak kandungnya yang bernama AYU

WULANDARI Binti MISWANTO kepada Saksi seharga Rp. 3.5000.000,00

(tiga juta lima ratus ribu rupiah);

4. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua)

tahun dan 6 (enam) bulan;

5. Bahwa peristiwan tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015

sekitar pukul 08.00 Wib, bertempat di rumah Saksi yang terletak di Jalan SKB

Lorong Margo Mulyo RT.002 RW.009 Kelurahan Tembilahan Hilir

Kecamatan Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau;

6. Bahwa Isteri saksi baru mengetahui hal tersebut pada hari Jumat tanggal 24

April 2015, setelah ianya membaca surat perjanjian mengenai jual beli anak

kami yang bernama AYU WULANDARI tersebut;

7. Bahwa kejadian tersebut berawal pada hari Minggu tanggal 19 April 2015,

sekitar pukul 09.00 wib, saksi sedang minum kopi bersama dengan Terdakwa

diwarung milik sdr. PANE yang terletak di Parit 13 Tembilahan dan pada saat

itu Terdakwa berkata kepada saksi, “ada nggak orang yang akan membeli

anak bang“, lalu dijawab oleh saksi, “anak siapa ?“, dan Terdakwa menjawab,

“anak saya yang kecil“, setelah itu Saksi menanyakan lagi, “berapa ?“, dan

Terdakwa jawab, “Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)”, lalu Saksi menjawab,

“kalau segitu mana ada orang yang mau, kalau Rp 3.500.000,00 ( tiga juta

(52)

“nantilah dulu saya pikir–pikir dulu”, selanjutnya saksi langsung pulang ke

rumahnya;

8. Bahwa pada hari Senin tanggal 20 April 2015 sekitar pukul 21.00 wib, Saksi

datang ke rumah Terdakwa dan menanyakan kepada Terdakwa, “bagai mana

WAN runding kita ?“, lalu Terdakwa jawab, “iyalah bang jadi“, dan pada saat

itu Saksi melihat seorang anak perempuan lalu saksi bertanya kepada

Terdakwa, “yang ini ya anaknya“, lalu Terdakwa jawab, “ Iya “ ;

9. Bahwa pada hari Selasa tanggal 21 April 2015, sekitar pukul 19.00 wib,

Terdakwa pergi ke rumah Saksi yang berada di Jalan SKB Lorong Margo

Mulyo RT.002 RW. 009, Kelurahan Tembilahan Hilir untuk mengantar Kartu

Keluarga (KK) sebagai bukti bahwa benar anak yang akan Terdakwa jual

kepada Saksi tersebut adalah anak kandung Terdakwa sendiri yang bernama

AYU WULANDARI, setelah itu Terdakwa langsung pulang;

10.Bahwa Pada hari Rabu tanggal 22 April 2015, sekitar pukul 07.00 wib.

Terdakwa pergi membawa anak tersebut ke rumah Saksi dan Terdakwa

meninggalkan anak tersebut di rumah Saksi, dan kemudian Terdakwa pergi

bersama dengan Saksi untuk minum kopi di warung sdr. PANE di Parit 13

Tembilahan, setelah tiba diwarung sdr. PANE tersebut, kemudian Saksi pergi

bersama dengan sdr. IWAN Als GANDUT untuk membuat surat perjanjian

masalah jual beli anak, sedangkan Terdakwa menunggu di warung kopi

(53)

dan mengajak Terdakwa ke Jalan Swarna Bumi Tembilahan dan menuju

depan Kantor Bupati dan di tempat tersebut Terdakwa disuruh untuk

menandatangani surat perjanjian jual beli anak tersebut dan setelah Terdakwa

menandatangani surat perjanjian tersebut kemudian Saksi memberikan uang

kepada saksi sebesar Rp 3.200.000,00 (tiga juta dua ratus ribu rupiah) sambil

berkata, “ini sisa uangnya sebesar Rp. 300.000,00 ( tiga ratus ribu rupiah )

untuk ongkos membuat surat”, setelah uang penjualan anak tersebut di terima;

11.Bahwa saksi mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan;

2. Keterangan Terdakwa

Terdakwa dipersidangan telah memberikan keterangan yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa terdakwa mengerti dengan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum ;

2. Bahwa terdakwa membenarkan dan mengenali barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan;

3. Bahwa Terdakwa ditangkap oleh pihak kepolisian karena diduga terlibat dalam

perdagangan seorang anak yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO;

4. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

(54)

BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002/

RW.009, Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten

Indragiri Hilir Propinsi Riau;

5. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua) tahun

dan 6 (enam) bulan ;

6. Bahwa Terdakwa melakukan hal tersebut dengan cara menjualnya kepada JAMRI

ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN;

7. Bahwa Terdakwa menjual AYU WULANDARI Binti MISWANTO kepada

JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN tersebut dengan harga Rp.

3.200.000,- ( tiga juta dua ratus ribu rupiah)

8. Bahwa kejadian tersebut bermula pada hari itu sekitar bulan April 2015 sekira

pukul 10.00 wib., sewaktu Terdakwa sedang sarapan di sebuah warung yang

terletak di Jalan Pangeran Hidayat Parit 13 Tembilahan, dimana pada saat itu

JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN juga ada di warung tersebut

dan pada saat itu JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN

mengatakan kepada Terdakwa: “WAN, kalau ada orang yang tidak mampu lagi

mengurus anaknya, kasih tau saya ya WAN, karena ada keluarga saya yang mau

cari anak WAN, berapa nilai anak itu nanti bisa kita rundingkan“, lalu dijawab

oleh Terdakwa, “yalah bang, nanti saya carikan“, sekitar kurang lebih 1 (satu)

(55)

wib., Terdakwa mengirimkan sms yang berisikan, “bang IDAM, jadi ya mau

anak, kalau abang mau, ada ni anak saya sendiri“

9. Bahwa setelah itu saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN pun

langsung menelpon Terdakwa dan mengatakan, “WAN, kalau memang ada anak

mu, datanglah kerumah biar kita rundingkan“, dan Terdakwa jawab, “iyalah “,

kemudian sekira pukul 19.00 Wib;

10.Bahwa Terdakwa datang ke rumah Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM

BIN MISRAN dan Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN

mengatakan kepada Terdakwa, “anak siapa WAN“, dan Terdakwa jawab “anak

saya sendiri“, lalu Saksi Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN

MISRAN mengatakan, “istrimu tau nggak WAN ?“, Terdakwa ada menjawab

“saya sudah 2 tahun pisah dengan istri saya bang, sampai sekarang ini istri saya

tidak pernah lagi menghubungi saya bang,

11.Bahwa Terdakwa menyerahkan Anak Terdakwa kepada Saksi JAMRI ALIAS

IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dengan imbalan uang dan Terdakwa

mengatakan kepada Isteri Terdakwa bahwa anak terdakwa telah hilang saat

dipasar;

12.Bahwa Terdakwa melakukan hal ini dikarenakan Terdakwa bingung tidak

mempunyai uang untuk membayar hutang-hutangnya yaitu kredit sepeda motor,

(56)

13.Bahwa Terdakwa ada menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Saksi

JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN namun Terdakwa tidak

membacanya jadi Terdakwa tidak mengetahui isi dari surat perjanjian tersebut

dan setelah Terdakwa tandatangani surat tersebut Terdakwa simpan di saku

celana, sedangkan yang satu lembar lagi dipegang oleh Saksi JAMRI ALIAS

IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dan kemudian Saksi JAMRI ALIAS IJAM

ALIAS IDAM BIN MISRAN menyerahkan uang sebesar Rp.3.200.000,00 (tiga

juta dua ratus ribu rupiah) kepada saksi ;

14.Bahwa Terdakwa mengenali dan membenarkan barang bukti yang dihadirkan

dipersidangan ;

15.Bahwa terdakwa mengakui perbuatannya;

3. Barang Bukti

a. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)

b. uang sebesar Rp. 1.045.000,- (satu juta empat puluh lima ribu rupiah).

c. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan

kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan

DEDIAFRIZAL.

(57)

1. Menyatakan Terdakwa MISWANTO AIs IWAN Bin TUKIRAN terbukti

bersalah melakukan Tindak Pidana menempatkan, membiarkan, melakukan,

menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, dan atau

perdagangan anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 F UU RI Nomor 35 tahun

2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa MISWANTO Als IWAN Bin TUKIRAN

dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun dikurangi selama Terdakwa, ditahan

dan menghukum Terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp.60.000.000,-

(enam puluh juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan kurungan dengan perintah

Terdakwa tetap berada dalam tahanan;

3. Menyatakan barang bukti berupa:

a. uang sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu rupiah)

b. uang sebesar Rp. 1.045.000,- (satu juta empat puluh lima ribu rupiah).

c. 1 (satu) lembar surat perjanjian tertanggal 22 April 2015 yang dibuat dengan

kertas bermatrai 6000,-yang ditanda tangani oleh MISWANTO dan

DEDIAFRIZAL;

4. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 5.000,- (lima

(58)

4. Fakta dipersidangan

1. Bahwa Terdakwa ditangkap oleh pihak kepolisian karena diduga terlibat dalam

perdagangan seorang anak yang bernama AYU WULANDARI Binti

MISWANTO;

2. Bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 22 April 2015 sekitar

pukul 08.00 Wib., bertempat di rumah Saksi JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM

BIN MISRAN yang terletak di Jalan SKB Lorong Margo Mulyo RT.002/

RW.009, Kelurahan Tembilahan Hilir Kecamatan Tembilahan Kabupaten

Indragiri Hilir Propinsi Riau;

3. Bahwa AYU WULANDARI Binti MISWANTO saat ini berumur 2 ( dua) tahun

dan 6 (enam) bulan;

4. Bahwa Terdakwa Menjual AYU WULANDARI Binti MISWANTO kepada Saksi

JAMRI ALIAS IJAM ALIAS IDAM BIN MISRAN dengan harga Rp.

3.200.000,- (tiga juta dua ratus ribu rupiah) dan kemudian menjualnya kepada sdr.

DEDI AFRIZAL dengan harga Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah);

5. Bahwa Terdakwa memperole

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perdagangan orang dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian hak restitusi yang harus diberikan oleh pelaku tindak pidana

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah dengan judul ANALISIS YURIDIS PUTUSAN KASASI DALAM TINDAK PIDANA PENCABULAN (Putusan MA No. 373 K/Pid/2008) adalah benar-benar

Perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perdagangan orang dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian hak restitusi yang harus diberikan oleh pelaku tindak pidana

Dogie Triyanto, 201110115011, Analisis Yuridis Tentang Hak Restitusi Bagi Anak Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang; (Studi Kasus Perkara Pidana Nomor:

Implementasi perlindungan hukum terhadap tenaga kerja Indonesia sebagai korban tindak pidana perdagangan orang di Kabupaten Grobogan yang dilakukan oleh Pemerintah

Perlindungan Hukum Bagi Korban Tindak Pidana Cyber Crime Phishing: • Perlindungan hukum bagi korban tindak pidana cyber crime phishing dapat diperoleh dari pasal 378 KUHP • Pasal 28

TINJAUAN YURIDIS PENERAPAN HAK RESTITUSI PADA KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 32/PID.SUS/2020/PN.RTG SKRIPSI Oleh Carlos Daniel 1940050007

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana