GAMBARAN PERILAKU TIDAK AMAN PADA PEKERJA DI UNIT WELDING PT. GAYA MOTOR, SUNTER II, JAKARTA UTARA
TAHUN 2012
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Disusun Oleh:
WIDAYU RAHMIDHA NOER NIM: 108101000022
PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
i
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Oktober 2012
ii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Skripsi, November 2012
Widayu Rahmidha Noer, NIM: 108101000022
Gambaran Perilaku Tidak Aman Pada Pekerja di Unit Welding PT. Gaya Motor, Sunter II, Jakarta Utara Tahun 2012
xvi + 162 halaman, 5 tabel, 13 gambar, 5 lampiran ABSTRAK
Perilaku tidak aman dianggap sebagai hasil dari kesalahan yang dilakukan baik oleh pekerja yang terlibat secara langsung maupun kesalahan yang dilakukan oleh organisasi yaitu pihak manajemen. Berdasarkan data kecelakaan kerja PT. Gaya Motor, pada tahun 2009, dari 14 kasus kecelakaan kerja (SR 1,24), 10 kasus disebabkan oleh perilaku tidak aman dan 4 kasus disebabkan oleh kondisi tidak aman. Tahun 2010, dari 11 kasus kecelakaan kerja (SR 3,10), 10 kasus disebabkan oleh perilaku tidak aman dan 1 kasus disebabkan oleh kondisi tidak aman, sedangkan pada tahun 2011, dari 14 kasus kecelakaan kerja (SR 1,83), seluruhnya disebabkan oleh perilaku tidak aman.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-September 2012 di unit welding PT. Gaya Motor, Sunter II, Jakarta Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tujuan menggambarkan perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor. Informan dalam penelitian ini adalah foreman, group leader, dan pekerja. Data dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara.
Hasil penelitian ini berupa bentuk perilaku tidak aman yaitu melakukan pekerjaan tanpa wewenang, gagal dalam mengamankan, menghilangkan alat pengaman, menggunakan peralatan yang rusak, tidak menggunakan APD dengan benar, pengisian/pembebanan yang tidak sesuai, cara mengangkat yang salah, posisi tubuh yang salah, memperbaiki peralatan yang sedang beroperasi, dan bersenda gurau pada saat bekerja. Saran untuk penelitian ini adalah meningkatkan pengawasan kepada pekerja dan menindak tegas pekerja yang melanggar peraturan, memberikan tanda peringatan pada alat pengelasan yang rusak, pelindung cakram pada gerinda jangan dilepas dan tetap dipasang, pekerja harus melapor kepada maintenance atau group leader jika alat kerja rusak, memberikan pelatihan kepada pekerja cara memelihara APD yang mereka gunakan, pekerja harus segera melapor kepada group leader jika APD yang mereka gunakan rusak, menggunakan kereta dorong saat membawa panel dalam jumlah yang banyak, memberikan pelatihan kepada pekerja teknik mengangkat panel yang baik dan benar, mendesain kembali meja panel dengan mempertimbangkan faktor ergonomi, tidak diizinkan pekerja memperbaiki sendiri alat las yang rusak.
iii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES STUDY PROGRAMME OF PUBLIC HEALTH
OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH Undergraduated Thesis, November 2012
Widayu Rahmidha Noer, NIM: 108101000022
Description of Unsafe Action at Workers in Welding Unit PT. Gaya Motor, Sunter II, North Jakarta in 2012.
xvi + 162 pages, 5 tables, 13 pictures, 5 attachments ABSTRACT
Unsafe action can be assumed as the result of mistake done by either the workers themselves or the one done by the organization in this case the management. Based on works accident data year 2009 by PT. Gaya Motor, out of 14 works accident cases (SR 1,24), 10 cases caused by unsafe action and 4 causes were caused by unsafe condition. In year 2010, out of 11 works accident cases (SR 3,10), 10 cases caused by unsafe action, the other one was caused by unsafe condition, as in year 2011, out of 14 work accident cases (SR 1,83), all of it were caused by unsafe action and 7 of those cases were happened in welding unit. All of the cases were caused by the workers unsafe action.
This Study was done between July to September year 2011 in welding unit of PT. Gaya Motor, Sunter II, North Jakarta. This research is a qualitative study with the aim of describing the behavior of workers in unsafe welding unit PT. Gaya Motor. Informants in this study is the foreman, group leader, and workers. Data collected by observation and interview.
The result of this study shows that the forms of workers unsafe action in welding unit of PT. Gaya Motor, consist of doing work without authorization, failure to secure, removing safety devices, using defective equipment, failing to use PPE properly, improper loading, improper lifting, improper position for task, servicing equipment in operation, and horseplay. Suggestions for this research is to improve the supervision of employees and take action against employees who violate the rules, providing warning signs of damaged welding equipment, protective discs to grinding should not be removed and remain installed, workers must report to maintenance or a group leader if the damaged work tools, providing training to workers how to maintain PPE they use, workers should immediately report to the group leader if they use damaged PPE, using a stroller while carrying the panels in large numbers, provide training to employees lifting technique is good and right panels , redesign the table panel with ergonomic factors into account, workers are not allowed to fix it yourself welding tools are broken.
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
Nama : Widayu Rahmidha Noer Jenis Kelamin : Perempuan
TTL : Jakarta, 5 September 1989 Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Jl. Sawo Ujung 1 No. 39 Rt. 008/010 Cijantung 3, Jakarta Timur
Fakultas/Jurusan : Kedokteran dan Ilmu Kesehatan/Kesehatan Masyarakat (K3)
Agama : Islam
E-mail : [email protected]
B. PENDIDIKAN FORMAL Tahun Nama Sekolah
1994 - 1995 TK ISLAM BUDI MULIA JAKARTA 1995 – 2001 MIN 3 CIJANTUNG JAKARTA
2001 – 2004 SMP ISLAM PB. SUDIRMAN JAKARTA 2004 – 2007 SMAN 98 JAKARTA
2008–Sekarang UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur yang teramat dalam saya panjatkan ke
hadirat Allah SWT karena atas kebesaran dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih ya Allah atas kemudahan-kemudahan, kesabaran, kekuatan, dan pertolongan yang telah Engkau berikan kepada saya, karena tanpa itu semua saya tidak dapat melangkah sampai sejauh ini. Saya ucapkan juga terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang saya yang tercinta, Bapak Wito Wiharjo dan Ibu Diah Sritani, atas do’a, semangat, dan dukungan yang tidak ada henti-hentinya yang diberikan
kepada saya selama proses pengerjaaan skripsi ini dari awal hingga akhir. Kalian adalah orang tua yang luar biasa bagi saya. Selanjutnya, kepada kakak dan adik saya, Wira Noer Riadho, S.EI dan Widiakso Noer Fajrin, yang telah memberikan dukungan dan do’a kepada saya.
Selama proses pengerjaan dan pembuatan skripsi ini, tidak dapat dipungkiri bahwa saya tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa mendapat bantuan, bimbingan, saran, kritik, dukungan, dan penghiburan dari berbagai pihak. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setulusnya kepada:
1. Ibu Ir. Febrianti, M.Si, selaku Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta dan selaku dosen pembimbing akademik, yang telah memberikan saran dan masukan selama saya menjalani proses perkuliahan.
3. Ibu Iting Shofwati, ST, M.KKK, selaku dosen pembimbing 2, yang telah memberikan ilmunya dan meluangkan waktunya untuk membimbing saya dengan sabar sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Raihana Nadra Alkaff, SKM, M.MA, Ibu Minsarnawati, SKM, M.Kes, dan Bapak Ir. Rulyenzi Rasyid, M.KKK, selaku tim penguji sidang ujian skripsi, yang telah menguji, memberikan kritik, dan saran untuk kemajuan skripsi ini.
5. Bapak E. Doni Prasetyo, AMD, selaku pemegang program Environmental, Health, and Safety PT. Gaya Motor sekaligus pembimbing lapangan saya, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, mengarahkan saya dengan sabar selama proses pengambilan data, serta kebaikannya untuk memberikan data-data dan informasi yang saya butuhkan untuk kepentingan pembuatan skripsi ini.
6. Bapak Purwanto, selaku staff departemen PGA, yang telah mengizinkan saya untuk melakukan pengambilan data di PT. Gaya Motor.
7. Seluruh karyawan unit welding PT. Gaya Motor, yang telah meluangkan waktunya untuk diwawancarai dan membantu saya dalam proses pengumpulan data.
8. Seluruh staff departemen teknik PT. Gaya Motor, yang telah memberikan bantuan kepada saya saat proses pengambilan data.
9. Bapak Sugeng Praptono, yang telah banyak membantu saya dari awal sampai akhir proses pengambilan data skripsi.
10. Hermansyah, SKM, yang telah memberikan dukungan, do’a, dan saran-sarannya. 11.Zumrotun, Nur Rinilda, Titah Wulandari, Ayu Dwi Lestari, Siti Farhatun, Sari
12.dan membantu saya pada saat penyelesaian skripsi ini. Mudah-mudahan kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT.
13.Teman-temanku satu angkatan yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Mudah-mudahan urusan kita semua diberi kelancaran dan keMudah-mudahan oleh Allah SWT. 14.Semua pihak yang mungkin belum saya sebutkan dan yang tidak dapat saya
sebutkan satu per satu.
Saya menyadari bahwa pembuatan skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna dengan segala kekurangannya sehingga tidak lupa saya utarakan bahwa dengan senang hati saya menanti saran dan kritik yang membangun dari Bapak, Ibu, rekan-rekan, maupun pembaca untuk melengkapi skripsi ini sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang menggunakannya.
Jakarta, Desember 2012 Hormat Saya,
x DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN……… i
ABSTRAK……… ii
LEMBAR PENGESAHAN……… iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP……… vi
KATA PENGANTAR………. vii
DAFTAR ISI.………... x
DAFTAR TABEL……… xiv
DAFTAR GAMBAR ……….. xv
DAFTAR LAMPIRAN……… xvi
BAB I. PENDAHULUAN……… 1
1.1 Latar Belakang……… 1
1.2 Rumusan Masalah………... 9
1.3 Pertanyaan Penelitian……….. 10
1.4 Tujuan Penelitian………... 10
1.4.1 Tujuan Umum……….. 10
1.4.2 Tujuan Khusus………. 10
1.5 Manfaat Penelitian………... 11
1.5.1 Bagi Perusahaan……….. 11
1.5.2 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta…... 12
1.5.3 Bagi Peneliti……… 12
1.6 Ruang Lingkup Penelitian………... 12
2.1 Kecelakaan Kerja………... 14
2.1.1 Pengertian Kecelakaan Kerja……… 14
2.1.2 Kerugian-Kerugian Kecelakaan Akibat Kerja………... 15
2.1.3 Konsep Kecelakaan……… 15
2.1.4 Pendekatan Pencegahan Kecelakaan………. 17
2.2 Perilaku……….. 20
2.2.1 Pengertian Perilaku……… 20
2.2.2 Bentuk-Bentuk Perubahan Perilaku………... 21
2.2.3 Determinan Perilaku……….. 22
2.3 Perilaku Tidak Aman………. 23
2.3.1 Pengertian……….. 23
2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Tidak Aman… 25 2.3.3 Bentuk-Bentuk Perilaku Tidak Aman……… 26
2.4 Pengelasan………..36
2.4.1 Pengertian Pengelasan………... 36
2.4.2 Jenis-Jenis Pengelasan………... 37
2.4.3 Bahaya Dalam Pengelasan………. 42
2.4.4 Perlengkapan Keselamatan Kerja Las………... 45
2.5 Kerangka Teori……….. 47
BAB III. KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH……… 49
3.1 Kerangka Berpikir……… 49
3.2 Definisi Istilah……….. 51
BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN………. 54
4.1 Jenis Penelitian………. 54
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian……….. 54
4.3 Informan………... 54
4.4 Instrumen Penelitian………... 57
4.6 Teknik Pengumpulan Data... 58
4.7 Pengolahan data……… 59
4.8 Analisis Data……… 59
4.9 Keabsahan Data……… 61
BAB V. HASIL PENELITIAN………... 64
5.1 Gambaran Umum Perusahaan………64
5.1.1 Riwayat Singkat Perusahaan……….. 64
5.1.2 Visi dan Misi……….. 65
5.1.3 Gambaran Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja………... 65
5.2 Gambaran Umum Unit Welding……… 70
5.2.1 Peralatan Pengelasan yang Digunakan di Unit Welding…… 70
5.2.2 Proses Pengelasan Unit Welding……….... 77
5.3 Bentuk-Bentuk Perilaku Tidak Aman……… 83
5.3.1 Gambaran Melakukan Pekerjaan Tanpa Wewenang………. 83
5.3.2 Gambaran Gagal dalam Memberi Peringatan……… 87
5.3.3 Gambaran Gagal dalam Mengamankan………. 89
5.3.4 Gambaran Bekerja dengan Kecepatan Berbahaya…………. 91
5.3.5 Gambaran Menghilangkan Alat Pengaman………... 93
5.3.6 Membuat Alat Pengaman Tidak Berfungsi………96
5.3.7 Gambaran Menggunakan Peralatan yang Tidak Sesuai…….97
5.3.8 Gambaran Menggunakan Peralatan yang Rusak…………... 99
5.3.9 Gambaran Tidak Menggunakan APD dengan Benar……… 103
5.3.10 Gambaran Pengisian/Pembebanan yang Tidak Sesuai…….. 108
5.3.11 Gambaran Cara Mengangkat yang Salah………... 111
5.3.12 Gambaran Posisi Tubuh yang Salah……….. 115
5.3.13 Gambaran Memperbaiki Peralatan yang Sedang Beroperasi. 117 5.3.14 Gambaran Berkelakar atau Bersenda Gurau……….. 123
BAB VI. PEMBAHASAN………... 127
6.1 Keterbatasan Penelitian……… 127
6.2 Pembahasan Penelitian………. 129
6.2.1 Gambaran Melakukan Pekerjaan Tanpa Wewenang……… 129
6.2.2 Gambaran Gagal dalam Mengamankan………... 132
6.2.3 Gambaran Menghilangkan Alat Pengaman……….. 134
6.2.4 Gambaran Menggunakan Peralatan yang Rusak………….. 136
6.2.5 Gambaran Tidak Menggunakan APD dengan Benar……... 137
6.2.6 Gambaran Pengisian/Pembebanan yang Tidak Sesuai……. 141
6.2.7 Gambaran Cara Mengangkat yang Salah………. 142
6.2.8 Gambaran Posisi Tubuh yang Salah………. 145
6.2.9 Gambaran Memperbaiki Peralatan yang Sedang Beroperasi………. 148
6.2.10 Gambaran Berkelakar atau Bersenda Gurau……… 150
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN……….. 151
7.1 Simpulan………... 151
7.2 Saran………. 155
7.2.1 Saran Berdasarkan Hasil Penelitian………. 155
7.2.2 Saran Untuk Penelitian Berikutnya……….. 157
xiv
DAFTAR TABEL
[image:15.612.116.553.40.473.2]Halaman
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Kerja PT. Gaya Motor Tahun 2011………... 6
Tabel 2.1 Teori Bentuk-Bentuk Perilaku Tidak Aman ………. 47
Tabel 3.1 Definisi Istilah………51
Tabel 4.1 Informan Penelitian………56
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 5.1 Spot Welding Gun……….. 71
Gambar 5.2 Mesin Las CO2………... 72
Gambar 5.3 Projection Welding……… 73
Gambar 5.4 Stud Welding……….. 74
Gambar 5.5 Gerinda Batu Kasar……… 75
Gambar 5.6 Gerinda Sand Disc………. 76
Gambar 5.7 Gerinda Velcro Disc………... 76
Gambar 5.8 Spot Gun Welding dan Projection Nut………... 94
Gambar 5.9 Gerinda yang Tidak Memiliki Pelindung Cakram………... 95
Gambar 5.10 Gerinda yang Memiliki Pelindung Cakram………. 95
Gambar 5.11 Pekerja yang Tidak Menggunakan Masker Pada Saat Mengelas…… 106
Gambar 5.12 Pekerja Dengan Posisi Membungkuk Pada Saat Mengangkat Panel... 114
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Balasan Permohonan Pengambilan Data Skripsi PT. Gaya Motor Lampiran 2 Pedoman Wawancara
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Menurut International Labour Office (1989), badan khusus PBB yang berhubungan dengan tenaga kerja dan masalah-masalah yang berkaitan dengan standar ketenagakerjaan internasional, kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terencana dan terkontrol, yang disebabkan oleh manusia, situasi/faktor lingkungan atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang mengganggu proses kerja dan dapat menimbulkan injury, kesakitan, kematian, kerusakan properti atau kejadian yang tidak diinginkan. Dalam konsep energi, kecelakaan terjadi akibat energi yang lepas dari penghalangnya mencapai penerima (recepient). Jika isolasi rusak atau terkelupas, energi listrik dapat mengenai tubuh manusia atau benda lain yang mengakibatkan cedera atau kebakaran. Mesin gerinda akan memancarkan berbagai jenis energi, seperti energi kinetik, mekanik, listrik, suara, dan getaran. Benda berat yang jatuh dari ketinggian akan menimbulkan energi kinetik sesuai dengan bobot dan ketinggiannya. Cedera atau kerusakan terjadi karena kontak dengan energi yang melampaui ketahanan atau ambang batas kemampuan penerima. Besarnya keparahan atau kerusakan tergantung besarnya energi yang diterima. Benda yang jatuh dari ketinggian dapat mengakibatkan kerusakan atau cedera berat bagi penerimanya (Ramli, 2009).
diakibatkan oleh kecelakaan kerja, antara lain kerusakan material, hilangnya hari kerja, dan timbulnya korban jiwa. Timbulnya korban jiwa adalah kerugian yang cukup besar karena jumlahnya yang tidak sedikit. Kerugian yang langsung nampak dari timbulnya kecelakaan kerja adalah biaya pengobatan dan kompensasi kecelakaan, sedangkan biaya tak langsung yang tidak nampak ialah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan yang lebih baik, penghentian alat-alat produksi, dan hilangnya waktu kerja (Ramli, 2009).
Menurut data kecelakaan kerja PT. Jamsostek (2012), di Indonesia tercatat
pada tahun 2007 terdapat 83.714 kasus kecelakaan kerja, tahun 2008 terdapat 94.736
kasus, dan tahun 2009 terdapat 96.314 kasus. Untuk tahun 2011 terdapat 99.491
kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari, meningkat jika
dibandingkan dengan pada tahun 2010 yang hanya 98.711 kasus.
Menurut Bird (1990), mengatakan bahwa unsafe action (perilaku tidak aman) adalah tindakan orang yang menyimpang dari prosedur atau cara yang wajar atau benar menurut persetujuan bersama sehingga tindakan tersebut mengandung bahaya, misalnya melakukan pekerjaan tanpa wewenang, gagal dalam memberi peringatan, gagal dalam mengamankan, bekerja dengan kecepatan berbahaya, menghilangkan alat pengaman, membuat alat pengaman tidak berfungsi, menggunakan peralatan yang rusak, menggunakan peralatan yang tidak sesuai, tidak menggunakan APD dengan benar, pengisian/pembebanan yang tidak sesuai cara mengangkat yang salah, memperbaiki peralatan yang sedang beroperasi, berkelakar atau bersenda gurau, dan bekerja di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan. Keadaan dan tindakan berbahaya kalau dibiarkan tanpa perbaikan akan menimbulkan kecelakaan.
Perilaku tidak aman adalah salah satu faktor penyumbang terbesar kecelakaan kerja yang merupakan cerminan dari perilaku pekerja terhadap keselamatan kerja. Perilaku tidak aman ini dapat dianggap sebagai hasil dari kesalahan yang dilakukan baik oleh pekerja yang terlibat secara langsung maupun kesalahan yang dilakukan oleh organisasi yaitu pihak manajemen. Suatu perilaku tidak aman yang merupakan pelanggaran dari peraturan atau standar yang dilakukan oleh pekerja bisa secara sadar maupun tidak sadar, memungkinkan sebagai penyebab terjadinya suatu kecelakaan. Dengan meningkatkan perilaku pekerja dan memfokuskan pada pengurangan perilaku tidak aman terhadap keselamatan kerja, dapat mencegah atau mengurangi timbulnya kecelakaan kerja (Prasetiyo, 2011).
dalam diri manusia), maupun eksternal (faktor lingkungan) sehingga determinan perilaku sulit untuk dibatasi. Faktor karakteristik manusia, meliputi tingkat kecerdasan, pengetahuan, persepsi, emosi, motivasi, jenis kelamin dan faktor genetik individu. Faktor eksternal atau lingkungan yang mencakup lingkungan fisik dan nonfisik, diantaranya adalah kebijakan atau peraturan, pengawasan, pelatihan, keteladanan, sosial budaya, kebudayaan, dan ekonomi (Notoatmodjo, 2003). Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Maanaiya (2005) pada pekerja di PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), menunjukkan bahwa faktor internal, yaitu pengalaman kerja, pelatihan, dan kelelahan serta faktor eksternal, yaitu sistem punishment, pre-job meeting berpengaruh terhadap perilaku tidak aman.
Berdasarkan dari proses produksinya, PT. Gaya Motor tidak terlepas dari risiko timbulnya kecelakaan kerja. Berdasarkan data kecelakaan kerja PT. Gaya Motor pada tahun 2009, dari 14 kasus kecelakaan kerja (SR 1,24), terdapat 10 kasus yang disebabkan oleh perilaku tidak aman dan 4 kasus disebabkan oleh kondisi tidak aman. Tahun 2010, dari 11 kasus kecelakaan kerja (SR 3,10), terdapat 10 kasus yang disebabkan oleh perilaku tidak aman dan 1 kasus disebabkan oleh kondisi tidak aman, sedangkan pada tahun 2011, dari 14 kasus kecelakaan kerja (SR 1,83), seluruhnya (14 kasus) disebabkan oleh perilaku tidak aman. Dari data kecelakaan kerja tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab utama dari kasus kecelakaan kerja di PT. Gaya Motor adalah karena perilaku tidak aman.
perlu penguasaan tertentu dan mengetahui tindakan-tindakan yang menyebabkan faktor-faktor tersebut (Anggoro dan Dewi, 1999).
[image:23.612.78.589.87.712.2]Welding adalah salah satu kegiatan produksi di PT. Gaya Motor selain painting dan assembling. Kegiatan welding PT. Gaya Motor meliputi pembuatan body kendaraan yang dimulai dengan pembentukan beberapa jenis sub assy panel sampai dengan panel utuh. Pembentukan body kendaraan dilakukan dengan menggunakan peralatan welding gun dengan metode las titik (spot welding), projection nut, stud welding, dan las CO2. Proses welding meliputi pengelasan panel dash, apron front fender, cowl top, cross member, suport radiator, dan member main floor. Kegiatan welding di PT. Gaya Motor memiliki potensi kecelakaan yang sama dengan kegiatan pengelasan pada umumnya. Hal ini telihat pada data kecelakaan kerja di bawah ini:
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Kerja PT. Gaya Motor Tahun 2011
NO BULAN JUMLAH
KASUS LOKASI KEJADIAN BENTUK KECELAKAAN JENIS LUKA KATEGORI KECELAKAAN 1. Januari 1 kasus Welding Tangan pekerja
terkena baling-baling kipas yang masih berputar.
Luka tersayat
Kecelakaan ringan
2. Februari 1 kasus Warehouse Kaki pekerja tersandung gerobak panel cover disc clutch. Kemudian, secara reflek tangan kiri memegang part cover disc clutch sehingga telapak kirinya terluka.
Luka tersayat
Kecelakaan ringan
NO BULAN JUMLAH KASUS LOKASI KEJADIAN BENTUK KECELAKAAN JENIS LUKA KATEGORI KECELAKAAN tersayat oleh panel
cowl top karena pada saat merapihkan rak cowl top, cowl top tersebut tiba-tiba merosot dan pekerja reflek menahannya tanpa menggunakan sarung tangan.
tersayat
4. April 2 kasus Welding Siku pekerja tersayat panel yang dilas karena pekerja tersebut kurang berhati-hati pada saat memutar spot gun welding.
Luka tersayat
Kecelakaan ringan
Assembling Paha pekerja tertimpa oleh engine yang jatuh pada saat akan diangkat ke frame.
Luka memar Kecelakaan ringan
5. Mei 1 kasus Anti Rust Mata kaki pekerja tersayat pecahan cutting wheel pada saat membersihkan panel CKD dengan menggunakan gerinda
Luka tersayat
Kecelakaan berat
6. Juni 2 kasus Assembling Telapak tangan kiri pekerja terjepit hydraulic gun rivet yang tiba-tiba maju karena pekerja tersebut mengganti snap rivet pada gun rivet pada saat
kondisi power supply gun rivet masih menyala.
Patah tulang Kecelakaan berat
Welding Dagu pekerja tersayat panel karena pada saat membawa panel, posisi kepala pekerja
Luka tersayat
NO BULAN JUMLAH KASUS LOKASI KEJADIAN BENTUK KECELAKAAN JENIS LUKA KATEGORI KECELAKAAN menunduk sehingga panel tersebut mengenai dagu pekerja.
7. Juli 1 kasus Welding Telapak tangan kiri pekerja tergencet tip gun pada saat pekerja tersebut ingin
memasang tip gun yang lepas pada spot gun yang mesinnya masih menyala.
Luka memar Kecelakaan ringan
8. Agustus 2 kasus Welding Jari tangan pekerja terjepit clam jig karena pada saat melakukan pekerjaan pada jig, operator mengantuk sehingga melakukan pekerjaan dalam kondisi kurang sadar.
Luka lecet Kecelakaan ringan
Welding Betis pekerja tersayat beberapa panel karena kerubuhan panel yang sedang disandarkan di pallet suplay. Hal ini terjadi karena pekerja tersebut tidak meletakkan panel-panel pada rak yang telah disediakan
Luka tersayat
Kecelakaan berat
9. Oktober 1 kasus Assembling Jari tangan kanan pekerja terluka terkena handle lock cabin karena pada saat pekerja tersebut sedang
memperhatikan pekerjaan orang lain, tanpa sadar pekerja tersebut memegang
Luka tersayat
NO BULAN JUMLAH KASUS LOKASI KEJADIAN BENTUK KECELAKAAN JENIS LUKA KATEGORI KECELAKAAN panel yang sedang
diproses. 10. Desember 1 kasus Warehouse Tangan pekerja
terkena baling-baling kipas yang masih berputar karena pekerja tersebut menggesernya, kipas tidak dimatikan terlebih dahulu Luka tersayat Kecelakaan ringan TOTAL
KASUS 14 kasus
SR 1,83
Sumber: Data Kecelakaan Kerja PT. Gaya Motor Tahun 2011
Berdasarkan tabel data kecelakaan kerja PT. Gaya Motor tahun 2011, terdapat 14 kasus kecelakaan kerja dan dari 14 kasus tersebut terdapat 7 kasus kecelakaan kerja yang terjadi unit welding yang disebabkan oleh perilaku tidak aman pekerja. Berdasarkan fakta-fakta dari data kecelakaan kerja tersebut, peneliti tertarik untuk menggambarkan perilaku tidak aman pada pekerja yang terdapat di unit welding PT. Gaya Motor sebagai langkah perbaikan masalah perilaku tidak aman serta sebagai upaya untuk pencegahan dan pengendalian kecelakaan kerja.
1.2Rumusan Masalah
dari percikan-percikan api dan kerak-kerak logam pada pemotongan berbagai logam. Kecelakaan-kecelakaan yang berhubungan dengan pengelasan pada umumnya disebabkan kurang kehati-hatian pada pengerjaan las, pemakaian alat pelindung yang kurang benar, pengaturan lingkungan yang tidak tepat (Anggoro dan Dewi, 1999). Untuk menghindari kecelakaan tersebut, perlu penguasaan tertentu dan mengetahui tindakan-tindakan yang menyebabkan faktor-faktor tersebut.
Berdasarkan data kecelakaan kerja PT. Gaya Motor tahun 2011, menunjukkan bahwa dari 14 kasus kecelakaan kerja terdapat 7 kasus kecelakaan kerja di unit welding yang disebabkan oleh perilaku tidak aman. Perilaku tidak aman pekerja merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja di unit welding PT. Gaya Motor. Untuk itu, peneliti bertujuan untuk menggambarkan perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor tahun 2012.
1.3Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor tahun 2012?
1.4Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya bentuk-bentuk perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor tahun 2012.
1.4.2 Tujuan Khusus
2. Mengetahui gambaran kegagalan dalam memberi peringatan 3. Mengetahui gambaran kegagalan dalam mengamankan
4. Mengetahui gambaran perilaku bekerja dengan kecepatan yang berbahaya 5. Mengetahui gambaran perilaku menghilangkan alat pengaman
6. Mengetahui gambaran perilaku membuat alat pengaman tidak berfungsi 7. Mengetahui gambaran perilaku menggunakan peralatan yang rusak 8. Mengetahui gambaran perilaku menggunakan peralatan yang tidak sesuai 9. Mengetahui gambaran perilaku tidak menggunakan APD dengan benar 10.Mengetahui gambaran perilaku pengisian/pembebanan yang tidak sesuai 11.Mengetahui gambaran perilaku cara mengangkat yang salah
12.Mengetahui gambaran posisi tubuh yang salah
13.Mengetahui gambaran perilaku memperbaiki peralatan yang sedang beroperasi
14.Mengetahui gambaran perilaku berkelakar atau bersenda gurau
15.Mengetahui gambaran perilaku bekerja di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan
1.5Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Perusahaan
[image:28.612.140.549.53.451.2]1.5.2 Manfaat bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan keilmuan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, terutama mengenai gambaran perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor.
1.5.3 Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta melatih kemampuan peneliti dalam memberikan gambaran perilaku tidak aman pada pekerja di unit welding PT. Gaya Motor.
1.6Ruang Lingkup Penelitian
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Kecelakaan Kerja
2.1.1 Pengertian
Menurut Suma’mur (1989), kecelakaan adalah kejadian yang tidak
terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga maksudnya di belakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih dalam bentuk perencanaan. Maka dari itu, peristiwa sabotase atau tindakan kriminal itu di luar ruang lingkup kecelakaan yang sebenarnya. Sedangkan tidak diharapkan maksudnya peristiwa kecelakaan itu disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. Menurut Bird (1990), kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan yang menyebabkan kerugian fisik pada manusia atau kerusakan material. Kecelakaan biasanya dihasilkan dari kontak dengan sumber energi (kinetik, listrik, kimia, suhu, dll).
kecelakaan juga dapat bersumber dari manusia yang melakukan kegiatan di tempat kerja dan menangani alat atau material.
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Maka dalam hal ini, terdapat dua permasalahan penting, yaitu: 1. Kecelakaan adalah akibat langsung dari pekerjaan.
2. Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.
Kadang-kadang kecelakaan akibat kerja diperluas ruang lingkupnya sehingga meliputi juga kecelakaan-kecelakaan tenaga kerja yang terjadi pada saat perjalanan atau transport ke dan dari tempat kerja.
2.1.2 Kerugian-Kerugian yang Disebabkan Kecelakaan Akibat Kerja
Menurut Suma’mur (1989), kecelakaan menyebabkan 5 jenis kerugian, yaitu:
1. Kerusakan
2. Kekacauan organisasi 3. Keluhan dan kesedihan 4. Kelainan dan cacat 5. Kematian
2.1.3 Konsep Kecelakaan
Menurut Frank Bird dalam Ramli (2009), kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energi, seperti mekanis, kimia, kinetis, fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia. Teori ini dikembangkan oleh Derek Viner yang disebut konsep energi.
Energi hadir di alam dalam berbagai bentuk, seperti energi kinetik, kimia, mekanik, radiasi, panas, dan lainnya. Dalam kondisi normal, energi ini biasanya terkandung atau terkungkung dalam wadahnya, misalnya energi kimia dalam bahan kimia dan energi listrik berada di dalam kabel. Kecelakaan terjadi akibat energi yang lepas dari penghalangnya mencapai penerima (recepient). Jika isolasi rusak atau terkelupas, energi listrik dapat mengenai tubuh manusia atau benda lain yang mengakibatkan cedera atau kebakaran. Mesin gerinda akan memancarkan berbagai jenis energi, seperti energi kinetik, mekanik, listrik, suara, dan getaran. Benda berat yang jatuh dari ketinggian akan menimbulkan energi kinetik sesuai dengan bobot dan ketinggiannya. Cedera atau kerusakan terjadi karena kontak dengan energi yang melampaui ketahanan atau ambang batas kemampuan penerima. Besarnya keparahan atau kerusakan tergantung besarnya energi yang diterima. Benda yang jatuh dari ketinggian dapat mengakibatkan kerusakan atau cedera berat bagi penerimanya.
pekerja tidak menggunakan sarung tangan atau karena bekerja dengan peralatan listrik yang masih berenergi.
2.1.4 Pendekatan Pencegahan Kecelakaan
Menurut Ramli (2009), prinsip mencegah kecelakaan sebenarnya sangat sederhana yaitu dengan menghilangkan faktor penyebab kecelakaan yang disebut tindakan tidak aman dan kondisi yang tidak aman. Namun, dalam praktiknya tidak semudah yang dibayangkan karena menyangkut berbagai unsur yang saling terkait mulai dari penyebab langsung, penyebab dasar, dan latar belakang. Oleh karena itu, berkembang berbagai pendekatan dalam pencegahan kecelakaan. Banyak teori dan konsep yang dikembangkan para ahli, beberapa diantaranya dibahas berikut ini:
1. Pendekatan Energi
Sesuai dengan konsep energi, kecelakaan bermula karena adanya sumber energi yang mengalir mencapai penerima (recipient). Karena itu, pendekatan energi mengendalikan kecelakaan melalui 3 titik, yaitu pada sumbernya, pada aliran energi (path way), dan pada penerima.
a. Pengendalian pada sumber bahaya
b. Pendekatan pada jalan energi
Pendekatan berikutnya dapat dilakukan dengan melakukan penetrasi pada jalan energi sehingga intensitas energi yang mengalir ke penerima dapat dikurangi. Sebagai contoh, kebisingan dapat dikurangi tingkat bahayanya dengan memasang dinding kedap suara, menjauhkan manusia dari sumber bising atau mengurangi waktu paparan.
c. Pengendalian pada penerima
Pengendalian berikutnya adalah melalui pengendalian terhadap penerima, baik manusia, benda atau material. Pendekatan ini dapat dilakukan jika pengendalian pada sumber atau jalannya energi tidak dapat dilakukan secara efektif. Oleh karena itu, perlindungan diberikan kepada penerima dengan meningkatkan ketahanannya menerima energi yang datang. Sebagai contoh, untuk mengatasi bahaya bising, manusia yang menerima energi suara tersebut dilindungi dengan alat pelindung telinga sehingga dampak bising yang timbul dapat dikurangi.
2. Pendekatan Manusia
Pendekatan secara manusia didasarkan hasil statistik yang menyatakan bahwa 85% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia dengan tindakan yang tidak aman. Karena itu, untuk mencegah kecelakaan, dilakukan berbagai upaya pembinaan unsur manusia untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga kesadaran K3 meningkat.
a. Pembinaan dan pelatihan b. Promosi K3 dan kampanye K3 c. Pembinaan perilaku aman d. Pengawasan dan inspeksi K3 e. Audit K3
f. Komunikasi K3
g. Pengembangan prosedur kerja aman (safe working practices) 3. Pendekatan Teknis
Pendekatan teknis menyangkut kondisi fisik, peralatan, material, proses maupun lingkungan kerja yang tidak aman. Untuk mencegah kecelakaan yang bersifat teknis, dilakukan upaya keselamatan, antara lain: a. Rancang bangun yang aman yang disesuaikan dengan persyaratan
teknis dan standar yang berlaku untuk menjamin kelayakan instalasi atau peralatan kerja.
b. Sistem pengaman pada peralatan atau instalasi untuk mencegah kecelakaan dalam pengoeprasian alat atau instalasi, misalnya tutup pengaman mesin, sistem inter lock, sistem alarm, sistem instrumentasi, dll.
4. Pendekatan Administratif
Pendekatan secara administratif dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
b. Penyediaan alat keselamatan kerja.
c. Mengembangkan dan menetapkan prosedur dan peraturan tentang K3. d. Mengatur pola kerja, sistem produksi, dan proses kerja.
5. Pendekatan Manajemen
Kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor manusia yang tidak kondusif sehingga mendorong terjadinya kecelakaan. Upaya pencegahan yang dilakukan, antara lain:
a. Menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
b. Mengembangkan organisasi K3 yang efektif.
c. Mengembangkan komitmen dan kepemimpinan K3, khususnya untuk manajemen tingkat atas.
2.2Perilaku
2.2.1 Pengertian
atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme dan kemudian organisme tersebut merespon, teori Skinner ini disebut dengan teori “S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons.
Menurut Notoadmodjo (2007), perilaku dapat diartikan sebagai suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek. Respon ini berbentuk dua macam, yaitu:
a. Bentuk pasif
Bentuk pasif yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan secara tidak langsung dapat dilihat, seperti berpikir, sikap batin, dan persepsi. Perilaku ini seperti ini biasa disebut terselubung (covert behaviour).
b. Bentuk aktif
Bentuk aktif yaitu apabila perilaku dapat diobservasi secara langsung, misalnya berjalan, menulis, dan belajar. Perilaku di sini sudah merupakan tindakan nyata yang nampak (overt behaviour).
2.2.2 Bentuk-Bentuk Perubahan Perilaku
Bentuk-bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi. Bentuk-bentuk perubahan perilaku menurut WHO dalam Notoadmodjo (2007), terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Perubahan alamiah (natural change)
sosial budaya dan ekonomi, anggota masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan.
b. Perubahan terencana (planned change)
Perubahan terencana terjadi karena perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek sehingga hanya subyek itu sendiri yang ingin dan dapat mengubahnya.
c. Kesediaan untuk berubah (readdiness to change)
Kelompok ketiga ini akan terjadi apabila terjadi suatu inovasi atau program pembangunan di dalam masyarakat maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut.
2.2.3 Determinan Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2007), faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan penggabungan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (lingkungan).
1. Faktor Internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya. Aliran ini disebut aliran negatisme yang ditokohi oleh Schopenhower (Jerman) yang mengatakan bahwa perilaku manusia itu sudah dibawa sejak lahir.
aliran positivisme yang dikemukakan oleh Jhon Locke yang mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan
Secara lebih rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, sikap, minat, motivasi, persepsi, dan sebagainya, tetapi pada realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan yang menentukan perilaku seseorang. Apabila ditelusuri lebih lanjut, gejala kejiwaan tersebut ditentukan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, diantaranya adalah faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik, sosio-budaya masyarakat, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).
2.3Perilaku Tidak Aman
2.3.1 Pengertian
Menurut Bird (1990), unsafe action atau perilaku tidak aman adalah tindakan orang yang menyimpang dari prosedur atau cara yang wajar atau benar menurut persetujuan bersama sehingga tindakan tersebut merupakan mengandung bahaya, misalnya berdiri di bawah barang yang diangkat crane, mengebut di jalan ramai, dan lain-lain. Keadaan dan tindakan berbahaya kalau dibiarkan tanpa perbaikan akan menimbulkan kecelakaan. Beberapa contoh perilaku tidak aman menurut Dessler (1986), yaitu:
1. Tidak mengamankan peralatan
4. Bekerja dengan kecepatan yang tidak aman 5. Menyebabkan tidak berfungsinya alat pengaman 6. Menggunakan peralatan yang tidak aman
7. Mengambil posisi yang tidak aman 8. Mengangkat barang dengan ceroboh
9. Mengganggu, menggoda, bertengkar, bermain, dan sebagainya. Menurut Santoso (2003), bentuk-bentuk perilaku tidak aman, antara lain: 1. Melakukan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan
2. Gagal menciptakan keadaan yang baik sehingga menjadi tidak aman 3. Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kecepatan geraknya 4. Memakai APD hanya berpura-pura
5. Menggunakan peralatan yang tidak sesuai
6. Pengrusakan alat pengaman peralatan yang digunakan untuk melindungi manusia
7. Bekerja berlebihan/melebihi jam kerja di tempat kerja 8. Mengangkat/mengangkut beban yang berlebihan 9. Menggunakan tenaga berlebihan
10.Peminum/pemabuk/mengkonsumsi narkoba
Bentuk perilaku tidak aman yang dikemukakan Bird (1990), yaitu: 1. Melakukan pekerjaan tanpa wewenang
2. Gagal dalam memberi peringatan 3. Gagal dalam mengamankan
5. Menghilangkan alat pengaman
6. Membuat alat pengaman tidak berfungsi 7. Menggunakan peralatan yang rusak 8. Menggunakan peralatan yang tidak sesuai 9. Tidak menggunakan APD dengan benar 10.Pengisian/pembebanan yang tidak sesuai 11.Cara mengangkat yang salah
12.Posisi atau sikap tubuh yang benar 13.Memperbaiki peralatan yang beroperasi 14.Berkelakar atau bersenda gurau
15.Bekerja di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan 2.3.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Tidak Aman
Perilaku manusia seperti yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, yang meliputi pengetahuan, keinginan, minat, sikap, persepsi, dan motivasi. Perilaku seseorang merupakan resultansi dari faktor internal maupun eksternal (lingkungan). Hal yang sama juga didukung beberapa ahli, seperti Gibson (1996) dan Geller (2001) dalam Pratiwi (2009), yang menyatakan bahwa perilaku tidak aman dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
faktor eksternal yang meliputi sumber daya manusia, kepemimpinan, imbalan dan sanksi serta struktur dan desain pekerjaan. Menurut Geller (2001) dalam Pratiwi (2009), faktor internal yang mempengaruhi perilaku tidak aman adalah persepsi, nilai, peralatan, sikap, keyakinan, perasaan, pemikiran dan kepribadian, sedangkan faktor eksternal mencakup pelatihan, pengakuan, pengawasan secara aktif dan kepatuhan terhadap peraturan.
2.3.3 Bentuk-Bentuk Perilaku Tidak Aman
1. Melakukan pekerjaan tanpa wewenang.
Pekerjaan pengelasan harus dilaksanakan oleh orang yang mempunyai sertifikat juru las sesuai dengan kelas untuk pekerjaan las yang sedang dilaksanakan. Juru las yang telah tersertifikasi adalah orang yang diberi wewenang untuk melakukan jenis pengelasan tertentu, dengan suatu syarat mempunyai kecakapan dan pengalaman teknis serta terampil dalam bidangnya (Suhulman, 2008).
2. Gagal dalam memberi peringatan.
3. Gagal dalam mengamankan
Setiap petugas yang mengetahui setiap terjadinya kerusakan mesin saat operasi harus segera mematikan tenaga penggerak. Mesin tersebut harus diberi alat pengaman atau tanda yang bersifat pengumuman yang mudah dibaca dengan ditempelkan pada mesin tersebut dan melarang penggunaanya sampai perbaikan yang diperlukan telah dilakukan dan mesin tersebut berada dalam keadaan baik (Suhulman, 2008).
4. Bekerja dengan kecepatan yang berbahaya.
Salah satu alasan paling lazim untuk mengambil risiko dalam bekerja adalah menghemat waktu agar bisa mendapatkan waktu santai atau waktu untuk menghasilkan uang lebih banyak atau sekedar menghemat waktu dengan mempercepat menyelesaikan pekerjaan. Oleh karena itu, tidak aneh apabila keinginan menghemat waktu ini menyebabkan perilaku tidak aman (International Labour Office, 1989).
5. Menghilangkan alat pengaman.
tempat-tempat tertentu dan berfungsi untuk memberi keamanan tambahan bagi para pekerja (O’Brien, 1974 dalam Helliyanti, 2009).
Menurut International Labour Office (ILO) (1989), tujuan alat pengaman pada mesin adalah mencegah sesuatu bagian tubuh atau pakaian pekerja agar jangan tersentuh bagian berbahaya mesin yang sedang bergerak. Sebuah mesin mungkin dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga semua daerah berbahaya yang ada tertutup atau terlindungi. Pengaman mesin dan alat pelindung lainnya dapat dipasang pada mesin. Metode manapun yang dipakai, sebuah pengaman yang berhasil adalah yang memungkinkan pekerja mengoprasikan mesin dengan mudah tanpa risiko atau takut terluka.
6. Membuat alat pengaman tidak berfungsi.
Pada beberapa kasus, alat pengaman yang dapat menghambat efisiensi produksi dan menyebabkan ketidaknyamanan dalam bekerja, dapat mendorong pekerja untuk menyingkirkan atau bisa dengan jalan merusak alat pengaman tersebut. Membuat alat pengaman menjadi tidak berfungsi sangat berbahaya karena kegunaannya sebagai pengaman pun akan hilang sehingga dapat menimbulkan risiko terjadinya kontak antara pekerja dengan alat yang berbahaya (International Labour Office, 1989). 7. Menggunakan peralatan yang rusak.
Peralatan kerja yang digunakan harus berfungsi dengan baik dan dalam kondisi layak pakai. Menggunakan peralatan kerja yang sudah tidak layak pakai dapat membahayakan keselamatan pekerja. Oleh karena itu, semua peralatan harus dirawat menurut kondisi bagian dari peralatan tersebut dan bukan menurut waktu pemakaian. Tanpa perawatan yang teratur, keadaan peralatan berubah menjadi salah satu faktor bahaya. Jadi, perawatan yang tidak teratur adalah perbuatan yang berbahaya karena dapat menimbulkan keadaan berbahaya (Silalahi, 1985).
8. Menggunakan peralatan yang tidak sesuai.
9. Tidak menggunakan APD dengan benar.
Pada waktu melaksanakan pekerjaan, badan kita harus benar-benar terlindung dari kemungkinan terjadinya kecelakaan. Untuk melindungi diri dari risiko yang ditimbulkan akibat kecelakaan maka badan kita perlu menggunakan ala-alat pelindung ketika melaksanakan suatu pekerjaan. Personal Protective Equipment atau Alat Pelindung Diri (APD) didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hazard) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik, dan lainnya (Rijanto, 2011).
Setiap pekerja harus memakai apron, sarung tangan, dan perlengkapan pelindung lain, pakailah sarung tangan yang kering untuk melindungi tangan dari kemungkinan terkena aliran listrik (electric shock), pakailah penutup mulut dan hidung sebagai filter agar asap dan gas yang timbul pada saat pengelasan sedang berlangsung tidak berbahaya bagi kesehatan (Suhulman, 2008).
10.Pengisian/pembebanan yang tidak sesuai.
bantu saat menemui barang-barang tersebut dalam bekerja (Hendarta, 2012).
11.Cara mengangkat yang salah.
Menurut Nurmianto (1996), pekerjaan mengangkat barang sering menyebabkan cedera pada punggung bawah. Pekerjaan mengangkut barang adalah satu pekerjaan yang berisiko terjadinya cedera kesakitan pada punggung. Pekerjaan ini membutuhkan aktivitas mengangkat beban yang cukup berat dan berulang-ulang sehingga membutuhkan peran yang sangat besar dari otot-otot punggung dan tulang belakang. Penggunaan otot-otot punggung dan tulang belakang yang berlebihan dan kesalahan dalam aktivitas mengangkat sangat memungkinkan pekerja pengangkut barang akan mengalami gangguan nyeri punggung bawah.
Menurut Silalahi (1985), sewaktu mengangkat dan membawa, bagian tubuh yang paling terpengaruh dan dapat cedera adalah tulang punggung. Ketegangan yang diderita tulang punggung semakin berat (diukur dalam kilogram gaya) jika beban semakin berat. Teknik mengangkat dan membawa yang tepat akan memungkinkan beban maksimum karena beban tersebut tidak lagi tergantung pada tulang punggung melainkan pada otot tubuh. Teknik ini hanya dapat diterapkan melalui latihan. Beberapa pokok penting yang harus diperhatikan adalah: a. Kapasitas fisik karyawan
b. Sifat beban
c. Keadaan lingkungan
d. Latihan mengangkat/membawa yang dijalani karyawan
Adapun cara mengangkat yang baik menurut Tarwaka (2004) adalah sebagai berikut:
1. Posisi tulang belakang dan punggung harus tetap lurus atau tidak membungkuk.
2. Kedua tungkai ditekuk ke arah posisi jongkok sehingga tenaga angkat yang digunakan untuk mengangkat beban tidak murni berasal dari kontraksi otot-otot punggung.
3. Pegangan atau handling terhadap barang yang akan diangkat harus kuat.
6. Posisi kaki merenggang untuk membagi momentum dalam posisi mengangkat.
7. Badan dimanfaatkan untuk menarik dan mendorong, gaya untuk gerakan dan perimbangan.
8. Beban diusahakan sedekat mungkin dengan garis vertical yang melalui pusat gravitasi tubuh.
9. Untuk beban yang akan diangkat, usahakan pada posisi yang tidak terlalu rendah
10.Usahakan jumlah beban yang akan diangkat tidak melebihi batas kemampuan individu yang akan mengangkat.
12.Posisi tubuh yang salah.
Sikap atau posisi tubuh dalam bekerja memiliki hubungan yang positif dengan timbulnya kelelahan kerja. Tidak peduli apakah pekerja harus berdiri, duduk, atau dalam sikap posisi kerja yang lain, dimana pertimbangan-pertimbangan ergonomik yang berkaitan dengan sikap/ posisi kerja akan sangat penting (Suma’mur, 1999).
tubuh. Postur yang baik merupakan bagian penting dalam pemeliharaan diri.
Membiasakan diri dengan kondisi postur yang baik akan membantu dalam mencegah berbagai gangguan fisik, seperti kelelahan, memperbaiki bentuk tubuh, memberi kesan penampilan diri lebih luwes dan tidak kaku. Disiplin diri merupakan unsur yang menentukan bagi suatu kepribadian yang tertib, tenang, menyenangkan serta menyehatkan. Berdiri dalam posisi yang benar akan menjaga otot-otot dan tubuh dalam kondisi yang baik. Postur yang baik sangat tergantung pada kebiasaan seseorang, untuk itu hindari sikap malas, posisi punggung yang membungkuk atau posisi tubuh yang membuat lekukan pada tulang punggung ketika sedang bekerja. Saat berjalan harus dibiasakan berdiri dengan benar, berat tubuh harus terbagi sama rata untuk mendapatkan keseimbangan tubuh. Selain dari sikap tubuh saat berdiri, sikap duduk yang baik pun penting diperhatikan untuk mencegah kelelahan pada umumnya dan ketegangan pada punggung. Sikap duduk yang baik yaitu punggung tegak dan posisi duduk menekan bagian belakang (Wignjosoebroto, 2003).
13.Memperbaiki peralatan yang sedang beroperasi.
mematikan terlebih dahulu aliran listriknya merupakan suatu tindakan yang sangat berbahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Sebagai contoh, ada seorang pekerja yang sedang memperbaiki suatu mesin/peralatan, tiba-tiba tanpa disengaja mesinnya menyala dan pada akhirnya membahayakan pekerja tersebut (Suhulman, 2008).
14.Berkelakar atau bersenda gurau.
Bersenda gurau pada saat bekerja merupakan suatu perilaku yang harus dihilangkan karena dapat mengakibatkan kejadian yang sangat fatal sehingga tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga dapat menyebabkan kerugian nonmaterial, contoh ketika para pekerja sedang melakukan tugasnya menuangkan semen kedalam mesin pencetak, tiba-tiba ada salah seorang pekerja lainnya mengejutkannya dari belakang sehingga secara tidak sengaja dia tersentak hebat dan tanpa dia sadari tangannya masuk ke dalam mesin pencetak. Mungkin bisa kita tebak apa yang terjadi selanjutnya. Benar, tangan para pekerja tersebut patah dan terputus sehingga akan dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi para pekerja itu sendiri, dimana kerugian yang diderita bukan merupakan kerugian material melainkan kerugian non material (Apri, 2012).
berpotensi untuk melakukan kesalahan dalam bekerja yang akibatnya dapat menyebabkan kecelakaan kerja.
15.Bekerja di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan.
Menurut Tanjung (2005), alkohol dan obat-obatan termasuk ke dalam NAPZA. NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu konsentrasi, penilaian, penglihatan, dan koordinasi pada orang yang mengonsumsinya.
Kombinasi alkohol dengan obat-obatan lain sangat berbahaya karena hal ini meningkatkan efek dan pengaruh negatif yang tidak dapat diperkirakan, termasuk kerusakan serius yang menetap. Karena efek negatif yang ditimbulkan dari alkohol dan obat-obatan tersebut, seorang pekerja tidak boleh berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan pada saat bekerja karena dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan kerja.
2.4Pengelasan
2.4.1 Pengertian
Perkembangan teknologi pengelasan logam memberikan kemudahan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya. Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan di bidang elektronik melalui penelitian yang melihat karakteristik atom, mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap penemuan material baru dan sekaligus bagaimanakah menyambungnya (Djamiko, 2008).
Jauh sebelumnya, penyambungan logam dilakukan dengan memanasi dua buah logam dan menyatukannya secara bersama. Pada zaman sekarang pemanasan logam yang akan disambung berasal dari pembakaran gas atau arus listrik. Beberapa gas dapat digunakan, tetapi yang sangat popular adalah gas acetylene yang lebih dikenal dengan gas karbit. Selama pengelasan, gas acetylene dicampur dengan gas oksigen murni. Kombinasi campuran gas tersebut memproduksi panas yang paling tinggi diantara campuran gas lain (Djamiko, 2008).
2.4.2 Jenis-Jenis Pengelasan
Menurut Djamiko (2008), mesin las adalah alat utama yang digunakan untuk menyambung logam dengan las. Mesin ini berfungsi sebagai penyambung bahan yang dilas, sedangkan alat bantu digunakan untuk pendukung proses pengelasan. Jenis-jenis mesin las, terdiri dari:
1. Las Proyeksi (Projection Welding)
pemanasan pada bagian yang dilas. Setelah itu, kedua benda kerja tersebut ditekan maka terbentuklah sambungan las.
2. Las MIG
Las MIG termasuk jenis las elektroda terumpan yang banyak digunakan di industri otomotif. Hal ini dikarenakan las MIG memiliki kelebihan yaitu dapat dengan mudah digunakan untuk mengelas logam yang tipis dan juga karena menggunakan elektroda gulungan maka las MIG dapat digunakan pengelasan otomatis dengan pemrograman komputer. Prinsip kerja las MIG adalah ketika saklar welding gun di on-kan, arus listrik mengalir pada elektroda dan elektroda berjalan sesuai dengan kecepatan yang diatur sebelumnya. Sesaat sebelum ujung elektroda menyentuh benda kerja, terjadilah loncatan listrik yang melelehkan benda kerja dan elektroda tersebut. Bersamaan dengan kejadian ini gas pelindung mengalir di atas permukaan deposit lasan dan melindungi deposit tersebut dari pengaruh udara luar.
3. Las Listrik (Shielded Metal Arc Welding/SMAW)
menyentuhkan elektroda pada benda kerja. Sesaat setelah elektroda bersentuhan dengan benda kerja, terjadilah loncatan listrik yang panasnya dapat mencairkan kedua bahan tersebut dan terbentuk sambungan las. 4. Las Busur Terpendam (Submerged Arc Welding/SAW)
Las busur terpendam banyak digunakan untuk penyambungan tabung-tabung gas, pipa besar, dan penyambungan benda-benda yang sama serta banyak. Pengelasan dilakukan secara otomatis dan fluksnya berupa butiran. Satu unit mesin las SAW terdiri dari sebuah travo, kontrol, elektroda gulungan, nosel, dan perlengkapan untuk menaburkan fluks. Pengelasan dimulai dengan mengalirkan arus listrik pada rangkaian listrik SAW. Elektroda berjalan dan menyentuh benda kerja. Loncatan busur listrik dari elektroda ke benda kerja mencairkan keduanya. Pada saat bersamaan butiran fluks ditaburkan agar deposit lasan yang terbentuk terlindung dari udara luar.
5. Las Tungsten Inert Gas (TIG)
pada benda kerja, akan terjadi loncatan arus listrik bersamaan dengan keluarnya gas pelindung yang panasnya dapat mencairkan bahan tambah (filler metal) dengan benda kerja dan terjadilah pengelasan.
6. Las Plasma
Penyambungan logam dengan las plasma, prosedurnya sama dengan las TIG. Penempatan elektroda di dalam nosel tersendiri dapat memisahkan busur api dengan gas pelindung. Elektroda las plasma terbuat dari tungsten dengan elemen tambahan thorium sebanyak 2% dan nosel dibuat dan bahan tembaga. Ada tiga model pengoperasian las plasma berkaitan dengan ukuran nosel dan laju gas plasma, yaitu: 1) Plasma mikro (Microplasma) dengan arus listrik antara 0,1 sampai 15 A; 2) Arus menengah (Medium current) yang arusnya antara 15 hingga 200 A; dan 3) Keyhole plasma digunakan untuk pengelasan di atas arus 200 A. Dalam kondisi normal, las plasma menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai karakter arus menurun (drop voltage). Penyalaan busur listrik pada saat awal pengelasan lebih sulit jika dibandingkan dengan las yang menggunakan karakter arus konstan (constan voltage).
7. Las Titik (Spot Welding)
panas las titik bekerja atas dasar hambatan listrik bahan yang dilas. Bahan harus memiliki tahanan listrik yang lebih besar dari bahan elektroda yang terbuat dari elemen dasar tembaga. Pengelasan dilakukan dengan mengaliri benda kerja dengan arus listrik melalui elektroda. Karena terjadi hambatan diantara kedua bahan yang disambung, timbul panas yang dapat melelehkan permukaan bahan dan dengan tekanan akan terjadi sambungan. 8. Las Kelim (Seam welding)
Ditinjau dari prinsip kerjanya, las rol sama dengan las titik, yang berbeda adalah bentuk elektrodanya. Elektroda las rol berbentuk silinder. Las jenis ini banyak digunakan untuk menyambung benda kerja yang membutuhkan kerapatan, seperti pembuatan tangki bahan bakar, pengalengan makanan, dan lain-lain.
9. Las Karbit (Oxy-Acetylene Welding/OAW)
Gas yang banyak digunakan untuk pengelasan logam adalah gas acetylene. Las yang menggunakan gas acetylene dinamakan las acetylene (karbit). Dalam penerapannya pada las, gas acetylene dicampur dengan gas oksigen kemudian di bakar. Panas yang ditimbulkan digunakan untuk pengelasan. Karena pencampurannya dengan oksigen inilah las karbit juga disebut las oxy-acetylene (oxy-acetylene welding).
10.Las Sinar Elektron
elektron yang dipancarkan oleh katoda ke anoda difokuskan oleh lensa elektrik ke sistem defleksi.
2.4.3 Bahaya Dalam Pengelasan
Pada pekerjaan pengelasan banyak risiko yang akan terjadi apabila tidak hati-hati terhadap penggunaan peralatan, mesin, dan posisi kerja yang salah. Menurut Wiryosumarto dan Okumura (2004) dalam Sirait (2011), beberapa risiko bahaya yang paling utama pada pengelasan antara lain:
1. Cahaya dan sinar yang berbahaya
Selama proses pengelasan akan timbul cahaya dan sinar yang dapat membahayakan juru las dan pekerja lain yang ada di sekitar pengelasan. Cahaya tersebut meliputi cahaya yang dapat dilihat atau cahaya tampak, sinar ultraviolet, dan sinar inframerah.
a. Sinar ultraviolet
Sinar ultraviolet sebenarnya adalah pancaran yang mudah diserap, tetapi sinar ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Bila sinar ultraviolet yang terserap oleh lensa dan kornea mata melebihi jumlah tertentu maka pada mata akan terasa seakan-akan ada benda asing di dalamnya. Dalam waktu antara 6 sampai 12 jam kemudian mata akan menjadi sakit selama 6 sampai 24 jam. Pada umunya rasa sakit ini akan hilang setelah 48 jam.
b. Cahaya tampak
segera menjadi lelah dan kalau terlalu lama mungkin akan menjadi sakit. Rasa lelah dan sakit ini sifatnya juga hanya sementara.
c. Sinar inframerah
Adanya sinar inframerah tidak segera terasa oleh mata. Karena itu, sinar ini lebih berbahaya sebab tidak diketahui, tidak terlihat, dan tidak terasa. Pengaruh sinar inframerah terhadap mata sama dengan pengaruh panas, yaitu menyebabkan pembengkakan pada kelopak mata, terjadinya penyakit kornea, presbiopia yang terlalu dini, dan terjadinya kerabunan.
2. Arus listrik yang berbahaya
Besarnya kejutan yang timbul karena listrik tergantung pada besarnya arus dan keadaan badan manusia. Tingkat dari kejutan dan hubungannya dengan besar arus adalah sebagai berikut:
a. Arus 1 mA hanya akan menimbulkan kejutan yang kecil saja dan tidak membahayakan.
b. Arus 5 mA akan memberikan stimulasi yang cukup tinggi pada otot dan menimbulkan rasa sakit.
c. Arus 10 mA akan menyebabkan rasa sakit yang hebat.
d. Arus 20 mA akan menyebabkan terjadi pengerutan pada otot sehingga orang yang terkena tidak dapat melepaskan dirinya tanpa bantuan orang lain.
f. Arus 100 mA dapat mengakibatkan kematian. 3. Debu dan gas dalam asap las
Debu dalam asap las besarnya berkisar antara 0,2 μm sampai dengan 3 μm. Komposisi kimia dari debu asap las tergantung dari jenis
pengelasan dan elektroda yang digunakan. Bila elektroda jenis hidrogen rendah, di dalam debu asap akan terdapat fluor (F) dan oksida kalium (K2O). Dalam pengelasan busur listrik tanpa gas, asapnya akan banyak mengandung oksida magnesium (MgO). Gas-gas yang terjadi pada waktu pengelasan adalah gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), ozon (CO3), dan gas nitrogen dioksida (NO2).
4. Bahaya kebakaran
Kebakaran terjadi karena adanya kontak langsung antara api pengelasan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti solar, bensin, gas, cat kertas, dan bahan lainnya yang mudah terbakar. Bahaya kebakaran juga dapat terjadi karena kabel yang menjadi panas yang disebabkan karena hubungan yang kurang baik, kabel yang tidak sesuai atau adanya kebocoran listrik karena isolasi yang rusak.
5. Bahaya Jatuh
2.4.4 Perlengkapan Keselamatan Kerja Las
Demi keamanan dan kesehatan tubuh, operator las harus memakai alat-alat yang mampu melindungi tubuh dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan akibat pengelasan. Perlengkapan tersebut antara lain (Bintoro, 1999):
1. Pelindung muka
Bentuk dan pelindung muka ada beberapa macam, tetapi secara prinsip pelindung muka mempunyai fungsi yang sama, yaitu melindungi mata dan muka dari pancaran sinar las dan percikan bunga api. Pelindung muka mempunyai kacamata yang terbuat dari bahan tembus pandang yang berwarna sangat gelap dan hanya mampu ditembus oleh sinar las. Kacamata ini berfungsi melihat benda kerja yang dilas dengan mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke mata.
2. Kacamata bening
Pada saat membersihkan torak atau proses finishing misalnya penggerindaan, mata perlu perlindungan, tetapi tidak dengan pelindung muka las. Mata tidak mampu melihat benda kerja karena kacamata yang berada pada pelindung muka sangat gelap. Oleh karena itu, diperlukan kacamata bening yang mampu digunakan untuk melihat benda kerja dan sangat ringan sehingga tidak mengganggu proses pekerjaan.
3. Masker wajah
proses pengelasan akan menghasilkan gas-gas yang membahayakan sistem pernapasan jika dihirup dalam jumlah besar. Jika gas hasil pengelasan tidak segera dialirkan ke luar ruangan maka akan dihirup oleh operator.
4. Pakaian las
Pakaian ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari percikan bunga api dan pancaran sinar las. Pakaian las terbuat dari bahan yang lemas sehingga tidak membatasi gerak si pemakai. Selain bahan pakaian yang digunakan lemas, juga harus ringan, tidak mudah terbakar, dan mampu menahan panas atau bersifat isolator. Model lengan dan celana dibuat panjang agar mampu melindungi seluruh tubuh dengan baik.
5. Pelindung badan (apron)
Bagian badan pekerja perlu dilindungi untuk melindungi kulit dan organ-organ tubuh pada bagian badan dari percikan bunga api dan pancaran sinar las yang mempunyai intensitas tinggi. Seperti halnya pada bagian muka karena baju las yang digunakan belum mampu sepenuhnya melindungi kulit dan organ tubuh pada bagian dada.
6. Sarung tangan
isolator panas dan listrik (mampu menahan panas dan tidak menghantarkan listrik).
7. Sepatu las
Sepatu las dapat melindungi telapak dan jari-jari kaki kemungkinan tergencet benda keras, benda panas atau sengatan listrik. Dengan memakai sepatu las berarti tidak ada aliran arus listrik dari mesin las ke ground (tanah) melewati tubuh kita karena bahan sepatu berfungsi sebagai isolator listrik.
2.5Kerangka Teori
[image:64.612.127.547.65.434.2]Teori bentuk-bentuk perilaku tidak aman yang telah dikemukakan sebelumnya pada tinjauan pustaka, meliputi teori bentuk-bentuk perilaku tidak aman Dessler (1986), Santoso (2003), dan Bird (1990). Penelitian ini mengacu pada teori Bird (1990) karena pada teori ini telah mencakup sebagian besar bentuk-bentuk perilaku tidak aman yang terdapat pada teori Dessler (1986) dan Santoso (2003) serta teori Bird (1990) ini sesuai dengan karakteristik pekerjaan di unit welding PT. Gaya Motor. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 2.1 Teori Bentuk-Bentuk Perilaku Tidak Aman
No Bentuk Perilaku Tidak Aman Dessler (1986) Santoso (2003) Bird (1990) 1. Melakukan pekerjaan tanpa
wewenang - √ √
2. Gagal dalam memberi
peringatan - - √
No Bentuk Perilaku Tidak Aman Dessler (1986) Santoso (2003) Bird (1990) 4. Bekerja dengan kecepatan
berbahaya √ √ √