• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Perilaku Pasien Bpjs Ketenagakerjaan Terhadap Pemanfaatan Layanan Kesehatantingkat Pertama di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (puskesbun) Ptpn iv Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Perilaku Pasien Bpjs Ketenagakerjaan Terhadap Pemanfaatan Layanan Kesehatantingkat Pertama di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (puskesbun) Ptpn iv Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Sumatera Utara

GAMBARAN PERILAKU PASIEN BPJS KETENAGAKERJAAN TERHADAP PEMANFAATAN LAYANAN KESEHATAN TINGKAT PERTAMA DI

PUSAT PELAYANAN KESEHATAN PERKEBUNAN (PUSKESBUN) PTPN IV ADOLINA KECAMATAN PERBAUNGAN

KABUPATEN SERDANG BEDAGAI TAHUN 2016

Oleh : M. Yusuf Siregar (NIM. 101000274)

Mahasiswa (S1-Reguler) Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Isilah pertanyaan dengan sebenar-benarnya dan pilih salah satu jawaban dengan

memberikan tanda centang (√ ) atau silang (X) pada kotak isian

A. KARAKTERISTIK RESPONDEN

1. Nomor kuisioner : Waktu Wawancara :

2. Nama : ... 3. Umur saat ini : ... Tahun

4. Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan

5. Pendidikan terakhir : Tidak Tamat SD SD/Sederajat SMP/Sederajat SMA/Sederajat Perguruan Tingg

(2)

Universitas Sumatera Utara 7. Pemanfaatan Layanan : Kurang dari 5 kali

Kesehatan di Faskes I 5-10 kali

Sebagai Peserta BPJS Lebih dari 10 kali

Jawablah pertanyaan-pertanyan berikut dengan memberikan silang (X ) pada pilihan jawaban yang tersedia dengan jawaban yang menurut anda paling tepat dan sesuai

B. PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG BPJS KETENGAKERJAAN

1. Menurut Bapak/Ibu kepanjangan dari BPJS adalah : a) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

b) Badan Pengelola Jaminan Sosial c) Badan Penjamin Jaminan Sosial

2. Menurut bapak/ ibu tujuan program dari BPJS adalah :

a) Untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kurang mampu

b) Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mempermudah akses layanan kesehatan

c) Untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat

3. Peserta BPJS yang berhak menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI), terdiri dari : a) Pekerja mandiri, bukan pekerja dan orang tak mampu

b) PNS, TNI/ Polri, Karyawan perusahaan swasta, dan wiraswasta c) Fakir miskin dan orang tak mampu

4. Peserta BPJS yang bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau mandiri terdiri dari a) Pekerja mandiri, bukan pekerja dan orang tak mampu

b) PNS, TNI/ Polri, Karyawan perusahaan swasta, dan wiraswasta c) Fakir miskin dan orang tak mampu

(3)

Universitas Sumatera Utara c) Fasilitas Kesehatan, Klinik Praktek Dokter/Bidan yang bekerja sama dengan BPJS

6. Pelayanan kesehatan tingkat dua/lanjutan menurut BPJS Ketenagakerjaan adalah…. a) Rumah Sakit

b) Dukun/Tabib

c) Fasilitas Kesehatan, Klinik Dokter/Bidan yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan

7. Menurut Bapak/Ibu layanan kesehatan yang bisa menggunakan kartu BPJS Ketenagakerjaan yaitu :

a) Periksa kehamilan, berobat jalan, dan kasus sakit gawat darurat b) Pengobatan untuk mengatasi kemandulan

c) Operasi plastik untuk kecantikan

8. Menurut Bapak/ Ibu pelayanan kesehatan yang dibatasi oleh BPJS adalah... a) Operasi caesar dan konsultasi kesehatan dengan dokter spesialis di rumah sakit

negeri

b) Layanan Fisioterapi

c) Pemberian alat bantu dengar danan alat bantu gerak di rumah sakit negeri

9. Menurut Bapak/Ibu pelayanan kesehatan yang tidak dijamin oleh BPJS adalah... a) Pemberian alat bantu dengar, kacamata dan alat bantu gerak di rumah sakit negeri b) Operasi cesar dan konsultasi kesehatan dengan dokter spesialis di rumah sakit

negeri

c) Tindakan untuk tujuan kecantikan, pelayanan kesehatan pada kegiatan bakti sosial.

10. Menurut Bapak/Ibu kapan peserta BPJS harus memanfaatkan layanan kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS ...

a) Ketika sudah tidak ada uang lagi

(4)

Universitas Sumatera Utara

C. SIKAP RESPONDEN SEBAGAI PESERTA BPJS KETENAGAKERJAAN TERHADAP PEMANFAATAN LAYANAN KESEHATAN DI PUSKESBUN PTPN IV ADOLINA

Pilihlah jawaban dengan cara menceklis/contreng (√) pada kolom yang telah disediakan Keterangan : SS = Sangat Setuju

S = Setuju

TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

NO Pernyataan Sikap Positif SS S TS STS

1 Setiap masyarakat yang bekerja di Indonesia seharusnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan

2 Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan harus menyimpan dan menjaga kartu BPJS Ketenagakerjaan

3

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan seharusnya menggunakan pelayanan kesehatan menggunakan fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Ketenagakerjaan 4 Peserta BPJS Ketenagakerjaan memiliki keuntungan

ketika menggunakan pelayanan kesehatan 5

Peserta BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan biaya yang lebih murah jika melakukan pengobatan alternatif/ tradisional

6

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan biaya yang jauh lebih murah jika menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan tidak menggunakan BPJS 7 Derajat kesehatan masyarakat pekerja dapat meningkat

dengan adanya BPJS Ketenagakerjaan

8 Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya segera pergi ke pelayanan kesehatan jika mengalami gejala sakit 9 Program BPJS telah berhasil meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat 10

(5)

Universitas Sumatera Utara 1

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berbeda dengan yang tidak menggunakan BPJS Ketenagakerjaan

2 Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan tidak akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal

3

Pengobatan tradisional (dukun, tabib) dinilai lebih baik dibandingkan dengan pengobatan medis dengan menggunakan BPJS

4

Program BPJS Ketenagakerjaan hanya akan membuat orang yang tidak mampu membayar pengobtan secara mandiri menjadi terpinggirkan

5 Pasien BPJS Ketenagakerjaan akan dikucilkan ketika berobat ke fasilitas kesehatan

6

Petugas kesehatan tidak melayani dengan optimal apabila pasien yang datang merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan

7 Sangat repot mengurusi persyaratan untuk memperoleh layanan kesehatan melalui BPJS Ketenagakerjaan

8

Tidak wajib menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila kita masih mampu menggunakan uang pribadi untuk berobat

9

Barulah mengurus atau menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila penyakit yang diderita sudah parah

10

(6)

Universitas Sumatera Utara

D. TINDAKAN RESPONDEN SEBAGAI PESERTA BPJS KETENAGAKERJAAN TERHADAP PEMANFAATAN LAYANAN KESEHATAN DI PUSKESBUN PTPN IV ADOLINA

No. Pertanyaan Jawaban

Ya Tidak

1

Apakah Bapak/Ibu akan langsung ke fasilitas kesehatantingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apabila merasakan gangguan kesehatan dengan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan?

2

Apakah Bapak/Ibu lebih memilih layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) dibandingkan dengan pengobatan alternatif (dukun, tabib)?

3

Apakah Bapak/Ibu memanfaatkan layanan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) menggunakan BPJS Ketengakerjaan secara rutin?

4

Apakah Bapak/Ibu memanfaatkan layanan kesehatan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk meminta rujukan medik di Fasilitas Kesehatan untuk pengobatan lanjut di rumah sakit?

5

Apakah Bapak/Ibu memanfaatkan layanan kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketengakaejaan apabila terjadi kasus kejadian sakit yang gawat darurat?

6

Apakah pekerja yang sakit akan langsung mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan?

7

Apakah kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja langsung ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan?

8

Apabila kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apakah langsung di rujuk ke Rumah Sakit yang bekerjasama dengan BPJS Ketengakerjaan?

9

Apakah Bapak/Ibu melakukan proses rawat jalan bagi pekerja yang sakit di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan?

10

(7)

Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 :

Hasil Pengolahan Statistik Data Peneliitian

1. Karakteristik Responden

Umur Responden saat ini

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

(8)

Universitas Sumatera Utara Pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesmas sebagai peserta BPJS

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

(9)

Universitas Sumatera Utara Peserta BPJS yang berhak menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Pekerja mandiri, bukan

pekerja dan orang tak

Fakir miskin dan orang tak

mampu

16 26.7 26.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Peserta BPJS yang bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau mandiri

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Pekerja mandiri, bukan

pekerja dan orang tak

Fakir miskin dan orang tak

mampu

14 23.3 23.3 100.0

(10)

Universitas Sumatera Utara Pasien peserta BPJS Ketenagakerjaan jika pertama kali ingin melakukan pengobatan

(pelayanan kesehatan tingkat pertama/dasar untuk kasus sakit yang bukan gawat darurat

seharusnya pergi ke

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Pelayanan kesehatan tingkat dua/lanjutan menurut BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Layanan kesehatan yang bisa menggunakan kartu BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Periksa kehamilan, berobat

jalan, dan kasus sakit gawat

(11)

Universitas Sumatera Utara Pelayanan kesehatan yang dibatasi oleh BPJS

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Operasi caesar dan

konsultasi kesehatan dengan

danan alat bantu gerak di

rumah sakit negeri

21 35.0 35.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin oleh BPJS

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Pemberian alat bantu

dengar, kacamata dan alat

bantu gerak di rumah sakit

(12)

Universitas Sumatera Utara Kapan peserta BPJS harus memanfaatkan layanan kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ketika sudah tidak ada uang

lagi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Setiap masyarakat yang bekerja di Indonesia seharusnya menjadi peserta BPJS

Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

(13)

Universitas Sumatera Utara Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan harus menyimpan dan menjaga kartu BPJS

Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan seharusnya menggunakan pelayanan kesehatan

menggunakan fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Peserta BPJS Ketenagakerjaan memiliki keuntungan ketika menggunakan pelayanan

kesehatan

Frequency Percent Valid Percent

(14)

Universitas Sumatera Utara Peserta BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan biaya yang lebih murah jika melakukan

pengobatan alternatif/ tradisional

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan biaya yang jauh lebih murah

jika menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan tidak menggunakan BPJS

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Derajat kesehatan masyarakat pekerja dapat meningkat dengan adanya BPJS

Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

(15)

Universitas Sumatera Utara Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya segera pergi ke pelayanan kesehatan

jika mengalami gejala sakit

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 36 60.0 60.0 60.0

Setuju 13 21.7 21.7 81.7

Tidak Setuju 9 15.0 15.0 96.7

Sangat Tidak Setuju 2 3.3 3.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

Program BPJS telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 24 40.0 40.0 40.0

Setuju 16 26.7 26.7 66.7

Tidak Setuju 17 28.3 28.3 95.0

Sangat Tidak Setuju 3 5.0 5.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Penyelenggara BPJS telah melakukan sosialisasi yang baik untuk menginformasikan

pemanfaatan BPJS untuk memperoleh layanan kesehatan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 33 55.0 55.0 55.0

Setuju 22 36.7 36.7 91.7

Tidak Setuju 1 1.7 1.7 93.3

Sangat Tidak Setuju 4 6.7 6.7 100.0

(16)

Universitas Sumatera Utara

2) Sikap Negatif

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang

berbeda dengan yang tidak menggunakan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan tidak akan mendapatkan pelayanan kesehatan

yang optimal

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Pengobatan tradisional (dukun, tabib) dinilai lebih baik dibandingkan dengan

pengobatan medis dengan menggunakan BPJS

Frequency Percent Valid Percent

(17)

Universitas Sumatera Utara Program BPJS Ketenagakerjaan hanya akan membuat orang yang tidak mampu

membayar pengobtan secara mandiri menjadi terpinggirkan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 7 11.7 11.7 11.7

Setuju 17 28.3 28.3 40.0

Tidak Setuju 12 20.0 20.0 60.0

Sangat Tidak Setuju 24 40.0 40.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Pasien BPJS Ketenagakerjaan akan dikucilkan ketika berobat ke fasilitas kesehatan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 3 5.0 5.0 5.0

Setuju 15 25.0 25.0 30.0

Tidak Setuju 17 28.3 28.3 58.3

Sangat Tidak Setuju 25 41.7 41.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Petugas kesehatan tidak melayani dengan optimal apabila pasien yang datang

merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 4 6.7 6.7 6.7

Setuju 17 28.3 28.3 35.0

Tidak Setuju 17 28.3 28.3 63.3

Sangat Tidak Setuju 22 36.7 36.7 100.0

(18)

Universitas Sumatera Utara Sangat repot mengurusi persyaratan untuk memperoleh layanan kesehatan melalui

BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Tidak wajib menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila kita masih mampu

menggunakan uang pribadi untuk berobat

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Barulah mengurus atau menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila penyakit yang

diderita sudah parah

Frequency Percent Valid Percent

(19)

Universitas Sumatera Utara Tetap saja memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk memperoleh layanan kesehatan,

meskipun sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Sangat Setuju 4 6.7 6.7 6.7

Setuju 11 18.3 18.3 25.0

Tidak Setuju 17 28.3 28.3 53.3

Sangat Tidak Setuju 28 46.7 46.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Skor Sikap Responden

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Baik 15 25.0 25.0 25.0

Cukup Bailk 19 31.7 31.7 56.7

Kurang Baik 26 43.3 43.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

4. Tindakan Penggunaan BPJS

Langsung ke fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan

Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apabila merasakan gangguan

kesehatan dengan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 40 66.7 66.7 66.7

Tidak 20 33.3 33.3 100.0

(20)

Universitas Sumatera Utara Lebih memilih layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama

pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) dibandingkan

dengan pengobatan alternatif (dukun, tabib)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 33 55.0 55.0 55.0

Tidak 27 45.0 45.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Memanfaatkan layanan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan

Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) menggunakan BPJS Ketengakerjaan

secara rutin

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 34 56.7 56.7 56.7

Tidak 26 43.3 43.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

Memanfaatkan layanan kesehatan kesehatan tingkat pertama pada Pusat

Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS

Ketenagakerjaan untuk meminta rujukan medik di Fasilitas Kesehatan

untuk pengobatan lanjut di rumah sakit

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 42 70.0 70.0 70.0

Tidak 18 30.0 30.0 100.0

(21)

Universitas Sumatera Utara Memanfaatkan layanan kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan

Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketengakaejaan apabila terjadi

kasus kejadian sakit yang gawat darurat

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 35 58.3 58.3 58.3

Tidak 25 41.7 41.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Pekerja yang sakit akan langsung mendapatkan layanan kesehatan di

fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan

Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 38 63.3 63.3 63.3

Tidak 22 36.7 36.7 100.0

Total 60 100.0 100.0

Kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja langsung ditangani di

fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan

Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 32 53.3 53.3 53.3

Tidak 28 46.7 46.7 100.0

(22)

Universitas Sumatera Utara Kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja tidak dapat ditangani di

fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan

Perkebunan (Puskesbun) apakah langsung di rujuk ke Rumah Sakit yang

bekerjasama dengan BPJS Ketengakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 37 61.7 61.7 61.7

Tidak 23 38.3 38.3 100.0

Total 60 100.0 100.0

Melakukan proses rawat jalan bagi pekerja yang sakit di fasilitas

kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan

(Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 42 70.0 70.0 70.0

Tidak 18 30.0 30.0 100.0

Total 60 100.0 100.0

Melakukan konsultasi kesehatan pada tenaga kesehatan yang ada di

fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan

Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Ya 34 56.7 56.7 56.7

Tidak 26 43.3 43.3 100.0

(23)

Universitas Sumatera Utara Skor Tindakan Responden

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Baik 15 25.0 25.0 25.0

Cukup Bailk 25 41.7 41.7 66.7

Kurang Baik 20 33.3 33.3 100.0

(24)

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Dedi. 2012. Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Nuka Media.

Andersen, E. James. 2007. Public Policy-Making, Third Edition. New York : Holt Rinchart and Winston.

Arif, Saiful. 2008. Reformasi Pelayanan Publik. Malang : Averroes Press. Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Cetakan ke-2. Jakarta : Rineke Cipta. Azwar, A. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta : Binarupa Aksara. Bobak. 2005. Komunikasi dan Interaksi Individu dalam Kelompok. Bandung :

ANDI Press.

Dewi, M. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan , Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika

Eka,Asih Putri. 2014. Paham JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Solo: CV Komunitas Pejaten Mediatama.

Girma, F. C Jira dan B Girma. 2011. Health Services Utilization and Associated Factors in Jimma Zone, South West Ethiopia. USA : Jurnal Health Services Utilizations and Associatedvol.

Hardiyansah. 2011. Kualitas Pelayanan Publik. Yogyakarta : Gava Media. Hidayat, A. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta. Ibrahim, Amin. 2008. Teori dan Konsep Pelayanan Publik Serta

Implementasinya. Jakarta : CV. Mandar Maju

Ircham. 2005. Ilmu Perilaku dan Aplikasinya dalam Masyarakat. Jakarta : Rhineka Cipta.

Ivancevich, J.Matteson dan Michael. T. 2006. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga.

Kaplan, H., dan Sadock JB. 2007. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis (Terjemahan). Jakarta : Universitas Trisakti.

(25)

Universitas Sumatera Utara ____________ 2010. Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Masyarakat dalam

Pembangunan Derajat Kesehatan. Diakses dari http://depkes.go.id/_asset/_download/Optimalisasi/Pelayanan%20Kesehat an%Masyaraka%204%202010.pdf pada 18 Maret 2016.

_____________. 2012. Investasi Kesehatan Untuk Pembangunan Ekonomi.

Jakarta : Kemenkes RI .

Koentjoro, Tjahjono. 2011. Regulasi Kesehatan di Indonesia. Cetakan Kedua. Yogyakarta: ANDI.

Levey, Samuel, N. Paul Loomba. 1973. Health Care Administration : “A

Managerial perspective”. Dalam: Azwar, Asrul. 1996. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat . Jakarta : FKUI.

Mandy, Zarfiel, John Louis. 2010. Perencanaan Pendidikan Kesehatan Sebuah Pendekatan Diagnostik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Muzaham, Fauzi. 2005. Sosiologi Kesehatan. Jakarta : Universitas Indonesia. Nasution M.Sc, A.P.U. 2005. Manajemen Mutu Terpadu. Bogor: Ghalia

Indonesia

Notoatmodjo, S 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rhineka Cipta.

Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Republik Indonesia.

Pakpahan, R.H., dan Eka. N.A.M. Sihombing. 2012. Tanggung Jawab Negara Dalam Pelaksanaan Jaminan Sosial. Jakarta : Jurnal Legislasi Indonesia.

Pohan, Imbalo S. 2003. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Penerapannya dalam Pelayanan Kesehatan. Bekasi : Kesaint Blanc.

Purwanto,H .2009. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Peningkatan Derajat Kesehatan. Jakarta : EGC.

(26)

Universitas Sumatera Utara Rahman, Dwi Astuti. 2015. Gambaran Mutu Pelayanan Kesehatan Peserta BPJS di Instalasi Rawat Jalan RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2015 (Skripsi). Makassar : FKM UNHAS.

Rumengan, D .S . S. 2015. Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Pada Peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Paniki Bawah Kecamatan Mapanget Kota Manado. JIKMU, Suplemen Vol, 5. No, 1 Januari 2015. Manado : E-Book Journal Simangunsong, Anne Winna Sari. 2015. Implementasi Program Bpjs Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan Di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Medan : FISIP USU.

Subarsono. 2009. Analisis Kebijakan Publik, Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif dan kualitatif). Bandung : Alfabeta.

Suprapto. 2001. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Rhineke Cipta.

Tarigan, Yerubel. 2010. Respon Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Oleh Puskesmas Batu VI Kecamatan Siantar (Skripsi). Medan : Universitas Sumatera Utara.

Tjiptono., Fandy., dan Anastasia. 2011. Total Quality Management. Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi Offse

Tim Visi Yustika. 2014. Memperoleh Jaminan Kesehatan dari BPJS. Jakarta : Visi Media.

Trihono. 2005. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. Jakarta: CV Sagung Seto

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Wijono, Djoko. 2009. Manajemen Mutu Pelayanan KesehatanVol 1. Surabaya : Airlangga University Press.

(27)

38

Universitas Sumatera Utara

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey bersifat deskriptif menggunakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk menggambarkan secara kuantitatif mengenai variabel-variabel yang diteliti untuk mengetahui gambaran perilaku pasien BPJS ketenagakerjaan terhadap pemanfaatan layanan kesehatan tingkat pertama di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2016 dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PTPN IV Adolina di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada rentang waktu Oktober 2016 – Januari 2017.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

(28)

39

Universitas Sumatera Utara

3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat yang menjadi pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan di PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai dengan kriteria bersedia diwawancarai langsung oleh penulis untuk mengisi kuisioner yang telah disusun oleh penulis dalam penelitian. Jumlah responden yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel dengan menggunakan rumus Slovin dalam Notoatmodjo (2010) sebagai berikut :

� = � + � �

Keterangan :

n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

d = Tingkat signifikan (10% = 0,1)

Perhitungan Besar Sampel :

� = + N dN 2

= + , 2

� = ,

n = ,

(29)

Universitas Sumatera Utara Jumlah besar sampel dalam penelitian ialah sebanyak 60 orang responden. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode

Simple Random Sampling, yaitu yaitu metode pengambilan sampel secara acak sederhana dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama besar untuk terpilih sebagai sampel. Langkah-langkah pengambilan sampel yaitu dengan membuat undian sejumlah pekerja yang menjadi pesert BPJS Ketenagakerjaan di Puskesbun PTPN IV Adolina yang berjumlah 435 orang. Dari jumlah tersebut ditulis nama dan nomor undiannya kemudian dikocok dan diambil sebanyak 60 kali. Dari undian yang sudah diambil dicatat nama sesuai dengan urutan undian yang terambil.

Kriteria responden dalam penelitian ini ialah responden merupakan peserta pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan di PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai serta responden bersedia untuk diwawancarai langsung oleh peneliti untuk mengisi kuisioner yang telah disusun sesuai dengan rumusan permasalahan yang diteliti.

3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

(30)

41

Universitas Sumatera Utara

3.4.2 Data Sekunder

Pengumpulan sumber data sekunder berasal dari PTPN IV Adolina serta studi kepustakaan dan studi literatur yang terkait dengan rumusan permasalahan yang sedang diteliti dalam penelitian yang sedang dilaksanakan.

3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional

1. Umur yaitu jumlah tahun yang dihitung mulai lahir sampai ulang tahun terakhir responden.

2. Jenis kelamin, yaitu karateistik seksual responden yang dibedakan dalam kategori-laki-laki dan perempuan.

3. Pendidikan, yaitu jenis pendidikan formal yang terakhir diselesaikan oleh responden.

4. Pendapatan, yaitu jumlah pendapatan yang dimiliki atau didapatkan responden dalam setiap bulan yang disesuikan dengan nilai UMP (Upah Minimum Provinsi) sebesar Rp 1.811.875/bulan.

5. Intensitas pemanfaatan layanan kesehatan sebagai peserta BPJS Ketengakerjaan, yaitu seberapa sering pasien menggunakan kartu BPJS Ketengakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang disedikan oleh BPJS.

(31)

Universitas Sumatera Utara 7. Sikap, yaitu pendapat atau pertanyaan responden mengenai manfaat BPJS Ketenagakerjaan untuk memperoleh layanan kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.

8. Tindakan, yaitu perbuatan nyata responden dalam memanfaatkan BPJS Ketenagakerjaan untuk memperoleh layanan kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.

3.6 Aspek Pengukuran

Aspek pengukuran dalam penelitian ini berdasarkan pada jawaban responden terhadap pertanyaan yang telah disediakan pada kuisioner yang disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti. Aspek pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Pengetahuan

Pengetahuan responden dinilai berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban kuisioner mengenai tingkat pengetahuan responden dengan jumlah 10 (sepuluh) pertanyaan pilihan berganda. Setiap jawaban responden yang benar akan memperoleh nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0, kemudian dijumlah untuk memperoleh nilai total setiap responden (Suprapto, 2001).

(32)

43

Universitas Sumatera Utara 1) Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75% atau 8-10. 2) Cukup Baik : Jika skor yang diperoleh responden antara 51%-74% atau

5-7.

3) Kurang Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≤ 50% atau 0-4.

2. Sikap

Sikap responden dinilai berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh dari jawaban kuisioner mengenai sikap responden dengan jumlah 20 (dua puluh) pertanyaan yang dibedakan dengan 10 (sepuluh) pertanyaan untuk sikap positif dan 10 (sepuluh) pertanyaan untuk sikap negatif. Untuk penilaian sikap positif responden didasarkan pada 4 (empat) pilihan jawaban dari skala Likert , yaitu :

 SS (Sangat Setuju) dengan bobot nilai 3;  S (Setuju) dengan bobot nilai 2;

 TS (Tidak Setuju) dengan bobot nilai 1; dan  STS (Sangat Tidak Setuju) dengan bobot nilai 0.

Untuk penilaian sikap negatif responden juga didasarkan pada 4 (empat) pilihan jawaban dari skala Likert , yaitu :

 SS (Sangat Setuju) dengan bobot nilai 0;  S (Setuju) dengan bobot nilai 1;

 TS (Tidak Setuju) dengan bobot nilai 2; dan  STS (Sangat Tidak Setuju) dengan bobot nilai 3.

(33)

Universitas Sumatera Utara Berdasarkan jawaban tersebut, sikap responden kemudian dikategorikan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu sebagai berikut (Arikunto, 2006) :

1) Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75% atau 45-60. 2) Cukup Baik : Jika skor yang diperoleh responden antara 51%-74% atau

31-44.

3) Kurang Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≤ 50% atau 0-30.

3. Tindakan

Tindakan responden dinilai berdasarkan hasil yang diperoleh dari jawaban kuisioner mengenai tindakan responden dengan jumlah 10 (sepuluh) pertanyaan dengan pilihan “YA” dengan bobot nilai 1 dan “TIDAK” dengan bobot nilai 0,

kemudian dijumlah untuk memperoleh nilai total setiap responden (Sugiyono, 2008). Nilai maksimal yang diperoleh responden dalam penilaian tindakan ialah 10. Berdasarkan jawaban tersebut, tindakan responden kemudian dikategorikan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu sebagai berikut (Arikunto, 2006) :

1) Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75% atau 8-10. 2) Cukup Baik : Jika skor yang diperoleh responden antara 51%-74% atau

5-7.

3) Kurang Baik : Jika skor yang diperoleh responden ≤ 50% atau 0-4.

3.7 Metode Pengolahan dan Analisa Data

3.7.1 Metode Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan tahapan sebagai berikut :

(34)

45

Universitas Sumatera Utara

Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Apabila terdapat jawaban yang belum lengkap atau terdapat keluhan maka data harus dilengkapi dengan cara wawancara atau menanyakan kembali jawaban pengisian kuisioner kepada responden.

2. Coding (Pemberian Kode)

Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual.

3. Entry (Memasukkan Data)

Data yang akan dimasukkan yakni jawaban-jawaban dari masing-masing

pertanyaan yang diajukan pada responden dalam bentuk “kode” (angka atau huruf)

yang dimasukkan dalam program atau software statistik komputer. Dalam penelitian ini program statisitik komputer yang dipakai ialah program SPSS (Statistical Product Service Solution.

4. Cleaning (Pembersihan Data)

Cleaning atau pembersihan data yang artinya semua data dari setiap sumber data atau respon yang telah selesai dimasukkan, perlu diperiksa kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi kembali.

5. Scoring (Pemberian Skors)

(35)

Universitas Sumatera Utara

3.7.2 Metode Analisa Data

(36)

47

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi PTPN IV Unit Usaha Adolina terletak di daerah Kelurahan Batang Terap Kecamatan Perbanungan Kabupaten Serdang Bedagai berjarak sekitar 38 km dari kota Medan. PTPN IV Unit Usaha Adolina merupakan sentral pengolahan kelapa sawit yang daerah kerjanya tersebat di 2 Kabupaten, 8 Kecamatan dan dikelilingi 27 desa. Sebagai bentuk perusahan yang bestatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTPN IV Adolina juga memberikan layanan kesehatan melalui pemanfataan BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerjanya yang pelayanananya dilakukan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina.

Adapun batas-batas PTPN IV Adolina adalah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Pantai Cermin Kecamatan Perbaungan

 Sebelah Selatan : Kecamatan Galang Kabupten Serdang Bedagai  Sebelah Timur : Kota Lubuk Pakam

 Sebelah Barat : Kota Tanjung Morawa

Adapun visi dari PTPN IV Adolina ialah : “Menjadi perusahaan yang unggul dalam

usaha agroindustri yang terintegrasi”. Untuk mewujudkan visi tersebut PTPN IV

Adolina memiliki misi sebagai berikut :

(37)

Universitas Sumatera Utara 2. Menyelenggarakan usaha agroindustri dengan manajemen yang handal

berbasis kelapa sawit dan teh.

3. Mengintegrasikan usaha agroindustri hulu, usaha agroindustri hilir dan produk baru, usaha pendukung agroindustri dan usaha pendayagunaan aset dengan preferensi pada teknologi terkini yang teruji (proven) dan berwawasan lingkungan.

4.2 Gambaran Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini ialah pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan di PTPN IV Adolina Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai yang memiliki karakteristik tertentu yang berupa umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, serta pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesbun sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang.

Tabel 4.1 Gambaran Umum Karakteristik Responden

Karakteristik

Responden Jumlah (n) Persentase (%)

(38)

49

Universitas Sumatera Utara

Tingkat Pendapatan

≥ Rp1.811.875.- 60 100,0

Total 60 100

Pemanfaatan Layanan Kesehatan di Puskesbun sebagai Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Kurang dari 5 kali 34 56,7

15 – 10 kali 22 36,7

Lebih dari 10 kali 4 6,6

Total 60 100

Berdasarkan tabel 4.1 diatas diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan umur sebagian besar responden berada pada rentang usia 26 - 30 tahun yakni sebanyak 25 orang (41,7%), responden yang berada pada rentang usia 31 – 35 tahun yakni sebanyak 13 orang (21,7%), responden yang berada pada rentang usia 21 – 25 tahun yakni sebanyak 12 orang (20%), kemudian responden yang berada pada rentang usia diatas 40 tahun yakni sebanyak 6 orang (10%), dan responden yang berada pada rentang usia 36 – 40 tahun yakni sebanyak 4 orang (6,7%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 42 orang (70%), dan responden yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 18 orang (30%).

(39)

Universitas Sumatera Utara Karakteristik responden berdasarkan intensitas pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesbun sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, sebagian besar responden telah memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesbun sebagai peserta BPJS Ketenegakerjaan kurang dari 5 kali ykni sebanyak 34 orang responden (56,7%), kemudian responden yang memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesbun sebagai peserta BPJS Ketenegakerjaan antara 5 – 10 kali yakni sebanyak 22 orang responden (36,7%), dan responden yang memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesbun sebagai peserta BPJS Ketenegakerjaan lebih dari 10 kali yakni hanya sebanyak 4 orang responden (6,7%).

4.3 Gambaran Pengetahuan Responden terhadap BPJS Ketenagakerjaan

Pengetahuan responden terhadap BPJS Ketengakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2 Gambaran Pengetahuan Responden terhadap BPJS Kesehatan

No. Pengetahuan Responden terhadap BPJS Ketenagakerjaan masyarakat dengan mempermudah akses layanan kesehatan

16 26,7 44 73,3 60 100

3

Peserta BPJS yang berhak menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah fakir miskin dan orang tak mampu

(40)

51

Pasien peserta BPJS Ketenagakerjaan jika pertama kali ingin melakukan pengobatan (pelayanan kesehatan tingkat pertama/dasar untuk kasus sakit yang bukan gawat darurat seharusnya pergi kePuskesmas, Klinik Praktek Dokter/Bidan yang bekerja sama dengan BPJS

10 16,7 50 83,3 60 100

6

Pelayanan kesehatan tingkat dua/lanjutan menurut BPJS Ketenagakerjaan adalah rumah sakit

36 60,0 24 40,0 60 100

7

Layanan kesehatan yang bisa menggunakan kartu BPJS Ketnagakerjaan ialah periksa kehamilan, berobat jalan, dan kasus sakit gawat darurat

39 65,0 21 35,0 60 100

8

Pelayanan kesehatan yang dibatasi oleh BPJS ialah pemberian alat bantu dengar danan alat bantu gerak di rumah sakit negeri

21 35,0 39 65,0 60 100

9

Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin oleh BPJS ialah tindakan untuk tujuan kecantikan dan pelayanan kesehatan pada kegiatan bakti sosial

18 30,0 42 70,0 60 100

10

Peserta BPJS bisa memanfaatkan layanan kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS kapan saja ketika merasakan sakit atau gangguan kesehatan

20 33,3 40 66,7 60 100

(41)

Universitas Sumatera Utara (65%) sudah mengetahui bahwa layanan kesehatan yang bisa menggunakan kartu BPJS Ketnagakerjaan ialah periksa kehamilan, berobat jalan, dan kasus sakit gawat, kemudian sebanyak darurat dan 36 orang responden (60%) sudah mengetahui bahwa pelayanan kesehatan tingkat dua/lanjutan menurut BPJS Ketenagakerjaan adalah rumah sakit, dan sebanyak 31 responden (51,7%) sudah mengetahui bahwa kepanjangan dari BPJS adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Sedangkan pengetahuan responden terhadap BPJS Ketegakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang masih dinilai kurang baik dan perlu ditingkatkan yaitu bahwa hanya 16 orang responden (26,7%) yang sudah mengetahui bahwa tujuan program dari BPJS adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mempermudah akses layanan kesehatan, serta peserta BPJS yang berhak menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah fakir miskin dan orang tak mampu, kemudian hanya ada sebanyak 15 orang responden (20%) yang sudah mengetahui bahwa peserta BPJS yang bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau mandiri adalah PNS, TNI/ Polri, Karyawan perusahaan swasta, dan wiraswasta, dan hanya ada sebanyak 10 orang responden (16,7%) yang sudah mengetahui bahwa pasien peserta BPJS Ketenagakerjaan jika pertama kali ingin melakukan pengobatan (pelayanan kesehatan tingkat pertama/dasar untuk kasus sakit yang bukan gawat darurat seharusnya pergi kePuskesmas, Klinik Praktek Dokter/Bidan yang bekerja sama dengan BPJS.

(42)

53

Universitas Sumatera Utara pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina, maka kategori pengetahuan responden dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Kategori Pengetahuan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Kategori Pengetahuan

Responden Jumlah (n) Persentase (%)

Baik 17 28,3

Cukup Baik 27 45,0

Kurang Baik 16 26,7

Total 60 100

Berdasarkan tabel 4.3 diatas diketahui bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 27 orang responden (45%) memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina dalam kategori yang cukup baik, kemudian 17 orang responden (28,3%) memiliki pengetahuan terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan dalam kategori yang baik, dan 16 orang responden (26,7%) memiliki pengetahuan terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan dalam kategori yang masih kurang baik.

4.4 Gambaran Sikap Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

4.4.1 Gambaran Sikap Positif Responden terhadap Pemanfaatan BPJS

Ketenagakerjaan

(43)

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.4 Gambaran Sikap Positif Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

No .

Sikap Positif Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Indonesia seharusnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan

20 33,3 25 41,7 8 13,3 7 11,7

2

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan harus menyimpan dan menjaga kartu BPJS Ketenagakerjaan

29 48,3 27 45,0 3 5,0 1 1,7

3

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan seharusnya menggunakan pelayanan kesehatan menggunakan fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Ketenagakerjaan

22 36,7 15 25,0 14 23,3 9 15,0

4

Peserta BPJS Ketenagakerjaan memiliki keuntungan ketika menggunakan pelayanan kesehatan

23 38,3 18 30,0 14 23,3 5 8,3

5

Peserta BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan biaya yang lebih murah jika melakukan pengobatan alternatif/ tradisional

21 35,0 19 31,7 16 26,7 4 6,7

6

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan biaya yang jauh lebih murah jika menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan tidak menggunakan BPJS

29 48,3 21 35,0 8 13,3 2 3,3

7

Derajat kesehatan masyarakat pekerja dapat meningkat dengan adanya BPJS Ketenagakerjaan

27 45,0 19 31,7 13 21,7 1 1,7

8

Setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya segera pergi ke pelayanan kesehatan jika mengalami gejala sakit

(44)

55

Universitas Sumatera Utara 9

Program BPJS telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

24 40,0 16 26,7 17 28,3 3 5,0

10

Penyelenggara BPJS telah melakukan sosialisasi yang baik untuk menginformasikan pemanfaatan BPJS untuk memperoleh layanan kesehatan

33 55,0 22 36,7 1 1,7 4 6,7

Berdasarkan tabel 4.4 diatas diketahui bahwa sikap postif responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang paling dominan ialah bahwa sebanyak 36 orang responden (60%) menyatakan sangat setuju pada pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya segera pergi ke pelayanan kesehatan jika mengalami gejala sakit, kemudian sebanyak 33 orang responden (55%) menyatakan sangat setuju dengan pernyataan penyelenggara BPJS telah melakukan sosialisasi yang baik untuk menginformasikan pemanfaatan BPJS untuk memperoleh layanan kesehatan, dan sebanyak 29 orang responden (48,3%) menyatakan sangat setuju pada pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan harus menyimpan dan menjaga kartu BPJS Ketenagakerjaan, serta setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan biaya yang jauh lebih murah jika menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan tidak menggunakan BPJS.

(45)

Universitas Sumatera Utara yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan seharusnya menggunakan pelayanan kesehatan menggunakan fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Ketenagakerjaan, kemudian hanya ada sebanyak 21 orang responden (35%) yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan peserta BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan biaya yang lebih murah jika melakukan pengobatan alternatif/ tradisional, dan hanya ada sebanyak 20 orang responden (33,3%) yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan setiap masyarakat yang bekerja di Indonesia seharusnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

4.4.2 Gambaran Sikap Negatif Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Gambaran sikap negatif responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut :

(46)

57

Universitas Sumatera Utara 2

Setiap peserta BPJS

Ketenagakerjaan tidak akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal

13 21,7 20 33,3 10 16,7 17 18,3

3

Pengobatan tradisional (dukun, tabib) dinilai lebih baik dibandingkan dengan pengobatan medis dengan menggunakan BPJS

6 10,0 17 28,3 18 30,0 19 31,7

4

Program BPJS Ketenagakerjaan hanya akan membuat orang yang tidak mampu membayar pengobatan secara mandiri menjadi terpinggirkan

7 11,7 17 28,3 12 20,0 24 40,0

5

Pasien BPJS Ketenagakerjaan akan dikucilkan ketika berobat ke fasilitas kesehatan

3 5,0 15 25,0 17 28,3 25 41,7

6

Petugas kesehatan tidak melayani dengan optimal apabila pasien yang datang merupakan peserta BPJS Ketenagakerjaan

4 6,7 17 28,3 17 28,3 22 36,7

7

Sangat repot mengurusi persyaratan untuk memperoleh layanan kesehatan melalui BPJS Ketenagakerjaan

8 13,3 18 30,0 13 21,6 21 35,0

8

Tidak wajib menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila kita masih mampu menggunakan uang pribadi untuk berobat

8 13,3 20 33,3 12 20,0 20 33,3

9

Barulah mengurus atau

menggunakan BPJS

Ketenagakerjaan apabila penyakit yang diderita sudah parah

2 3,3 11 18,3 15 25,0 32 53,3

10

Tetap saja memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk memperoleh layanan kesehatan, meskipun sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan

(47)

Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.5 diatas diketahui bahwa sikap negatif responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang paling dominan ialah sebanyak 20 orang responden (33,3%) menyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa tidak wajib menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila kita masih mampu menggunakan uang pribadi untuk berobat, kemudian sebanyak 19 orang responden (31,7%) menyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa pengobatan tradisional (dukun, tabib) dinilai lebih baik dibandingkan dengan pengobatan medis dengan menggunakan BPJS, dan sebanyak 17 orang responden (18,3%) yang menyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan tidak akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal.

(48)

59

Universitas Sumatera Utara tidak setuju pada pernyataan bahwa barulah mengurus atau menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila penyakit yang diderita sudah parah.

Berdasarkan hasil pengolahan data terhadap pengukuran sikap responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina, maka kategori sikap responden dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6 Kategori Sikap Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Kategori Sikap

Responden Jumlah (n) Persentase (%)

Baik 15 25,0

Cukup Baik 19 31,7

Kurang Baik 26 43,3

Total 60 100

(49)

Universitas Sumatera Utara

4.5 Gambaran Tindakan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS

Ketenagakerjaan

Gambaran tindakan responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :

Tabel 4.7 Gambaran Tindakan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

No.

Gambaran Tindakan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS

Langsung ke fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apabila merasakan gangguan kesehatan dengan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan

40 66,7 20 33,3 60 100

2

Lebih memilih layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) dibandingkan dengan pengobatan alternatif (dukun, tabib)

33 55,0 27 45,0 60 100

3

Memanfaatkan layanan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) menggunakan BPJS Ketengakerjaan secara rutin

34 56,7 26 43,3 60 100

4

Memanfaatkan layanan kesehatan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk meminta rujukan medik di Fasilitas Kesehatan untuk pengobatan lanjut di rumah sakit

(50)

61

Universitas Sumatera Utara 5

Memanfaatkan layanan kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketengakaejaan apabila terjadi kasus kejadian sakit yang gawat darurat

35 58,3 25 41,7 60 100

6

Pekerja yang sakit akan langsung mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

38 63,3 22 36,7 60 100

7

Kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja langsung ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

32 53,3 28 46,7 60 100

8

Kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apakah langsung di rujuk ke Rumah Sakit yang bekerjasama dengan BPJS Ketengakerjaan

37 61,7 23 38,3 60 100

9

Melakukan proses rawat jalan bagi pekerja yang sakit di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

42 70,0 18 30,0 60 100

10

Melakukan konsultasi kesehatan pada tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

(51)

Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.7 diatas diketahui bahwa tindakan responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang dinili sudah baik ialah sebagian besar responden yakni sebanyak 42 orang responden (70%) sudah memanfaatkan layanan kesehatan kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk meminta rujukan medik di Fasilitas Kesehatan untuk pengobatan lanjut di rumah sakit, serta melakukan proses rawat jalan bagi pekerja yang sakit di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan, kemudian sebanyak 40 orang responden (66,7%) menyatakan langsung ke fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) apabila merasakan gangguan kesehatan dengan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan, dan sebanyak 38 orang responden (63,3%) menyatakan pekerja yang sakit akan langsung mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan.

(52)

63

Universitas Sumatera Utara melakukan konsultasi kesehatan pada tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan, kemudian hanya ada sebanyak 33 orang responden (55%) yang menyatakan lebih memilih layanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) dibandingkan dengan pengobatan alternatif (dukun, tabib), dan hanya hanya ada sebanyak 32 orang responden (53,3%) yang menyatakan bahwa kejadian sakit atau kecelakaan kerja pada pekerja langsung ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama pada Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) melalui pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan.

Berdasarkan hasil pengolahan data terhadap pengukuran tindakan responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina, maka kategori tindakan responden dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :

Tabel 4.8 Kategori Tindakan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan

Kategori Tindakan

Responden Jumlah (n) Persentase (%)

Baik 15 25,0

Cukup Baik 25 66,7

Kurang Baik 20 33,3

Total 60 100

(53)
(54)

65

Universitas Sumatera Utara

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Pengetahuan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina

Pengetahuan itu adalah sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia. Keberadaannya diawali dari kecenderungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat manusia, yaitu dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan. Sedangkan kehendak adalah salah satu unsur kekuatan kejiwaan. Adapun unsur lainnya adalah akal pikiran (ratio) dan perasaan (emotion). Ketiganya berada dalam satu kesatuan, dan secara terbuka bekerja saling pengaruh mempengaruhi menurut situasi dan keadaan. Artinya, dalam keadaan tertentu yang berbeda-beda, pikiran atau perasaan atau keinginan biasa lebih dominan. Pengetahuan seseorang bisa menjadi faktor yang memengaruhi dalam menentukan perilaku individu termasuk perilaku dalam memanfaatkan layanan kesehatan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan bagi para pekerja di suatu perusahaan.

(55)

Universitas Sumatera Utara bahwa pelayanan kesehatan tingkat dua/lanjutan menurut BPJS Ketenagakerjaan adalah rumah sakit, dan sebanyak 31 responden (51,7%) sudah mengetahui bahwa kepanjangan dari BPJS adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Sedangkan pengetahuan responden terhadap BPJS Ketegakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang masih dinilai kurang baik dan perlu ditingkatkan yaitu bahwa hanya 16 orang responden (26,7%) yang sudah mengetahui bahwa tujuan program dari BPJS adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mempermudah akses layanan kesehatan, serta peserta BPJS yang berhak menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah fakir miskin dan orang tak mampu, kemudian hanya ada sebanyak 15 orang responden (20%) yang sudah mengetahui bahwa peserta BPJS yang bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau mandiri adalah PNS, TNI/ Polri, Karyawan perusahaan swasta, dan wiraswasta, dan hanya ada sebanyak 10 orang responden (16,7%) yang sudah mengetahui bahwa pasien peserta BPJS Ketenagakerjaan jika pertama kali ingin melakukan pengobatan (pelayanan kesehatan tingkat pertama/dasar untuk kasus sakit yang bukan gawat darurat seharusnya pergi keFasilitas penyedia layanan kesehatan, Klinik Praktek Dokter/Bidan yang bekerja sama dengan BPJS.

(56)

67

Universitas Sumatera Utara pengetahuan terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan dalam kategori yang baik, dan 16 orang responden (26,7%) memiliki pengetahuan terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan dalam kategori yang masih kurang baik.

(57)

Universitas Sumatera Utara terhadap kesehatan, semakin tinggi kesadaran orang tersebut dalam menjaga kesehatannya.

Tingkat pengetahuan peserta BPJS Ketenagakerjaan pada dimensi ini memang disebabkan karena kemampuan dan pengetahuan petugas kesehatan di failitas penyedia jasa layanan kesehatan untuk menjawab setiap pertanyaan peserta sehingga dapat memberikan pelayanan yang menimbulkan rasa aman dan percaya. Hal ini tentu sangat membantu peserta, mengingat masih banyaknya peserta yang tampak bingung atau tidak paham dengan prosedur pendaftaran dan pemanfaatan kartu BPJS Ketenagakerjaan maupun kebijakan mengenai kepesertaan. Bebrapa responden menyatakan bahwa informasi yang mereka terima dari petugas kadang tidak sama antara petugas yang satu dengan petugas lainnya. Hal yang juga menentukan dalam kualitas pelayanan kesehatan adalah service excellent, yaitu sikap atau cara petugas dalam melayani serta memuaskan pelanggan. Petugas harus memiliki kemampuan atau keterampilan tertentu, berpenampilan baik dan rapi, bersikap ramah dan sopan serta mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki kemampuan menangani keluhan pelanggan secara profesional.

(58)

69

Universitas Sumatera Utara Hal serupa juga disampaikan oleh hasil penelitian yang dilaksanakan oleh oleh Girma dkk (2014) mengenai pemanfaatan layanan BPJS di fasilitas penyedia layanan kesehatan Paniki Bawah Kecamatan Mapanget Kota Manado menunjukkan bahwa pada bahwa 52,8% responden yang menjadi subyek penelitian sebenarnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sehingga menjadi faktor yang menguntungkan untuk diberikan pengetahuan tentang manfaat dan layanan BPJS, namun ternyata masih terdapat 65% responden yang tidak memanfaatkan layanan kesehatan dengan BPJS di fasilitas kesehatan. Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan responden dengan tingkat pemanfaatan layanan kesehatan sebagai peserta BPJS, responden yang memiliki pengetahuan yang baik diketahui 3,4 kali lebih baik dalam memanfaatan status kepesrtaannya sebagai peserta BPJS untu mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas penyedia jasa layanan kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS. Pengetahuan atau informasi yang telah didapat diharapkan akan memberikan motivasi untuk dapat menentukan layanan kesehatan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia.

5.2 Gambaran Sikap Responden terhadap terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina

(59)

Universitas Sumatera Utara Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya. Sikap seseorang bisa menjadi faktor yang memengaruhi dalam menentukan perilaku individu termasuk perilaku dalam memanfaatkan layanan kesehatan menggunakan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan bagi para pekerja di suatu perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap postif responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang paling dominan ialah bahwa sebanyak 36 orang responden (60%) menyatakan sangat setuju pada pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan sebaiknya segera pergi ke pelayanan kesehatan jika mengalami gejala sakit, kemudian sebanyak 33 orang responden (55%) menyatakan sangat setuju dengan pernyataan penyelenggara BPJS telah melakukan sosialisasi yang baik untuk menginformasikan pemanfaatan BPJS untuk memperoleh layanan kesehatan, dan sebanyak 29 orang responden (48,3%) menyatakan sangat setuju pada pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan harus menyimpan dan menjaga kartu BPJS Ketenagakerjaan, serta setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan biaya yang jauh lebih murah jika menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan tidak menggunakan BPJS.

(60)

71

Universitas Sumatera Utara kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang dinilai masih kurang baik perlu ditingkatkan dan mengarah ke sikap negatif ialah bahwa hanya ada 22 orang responden (36,7%) yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan seharusnya menggunakan pelayanan kesehatan menggunakan fasilitas kesehatan yang bekerjasama BPJS Ketenagakerjaan, kemudian hanya ada sebanyak 21 orang responden (35%) yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan peserta BPJS Ketenagakerjaan membutuhkan biaya yang lebih murah jika melakukan pengobatan alternatif/ tradisional, dan hanya ada sebanyak 20 orang responden (33,3%) yang menyatakan sangat setuju dengan pernyataan setiap masyarakat yang bekerja di Indonesia seharusnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

(61)

Universitas Sumatera Utara Sedangkan sikap negatif responden terhadap pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan layanan kesehatan di pusat pelayanan kesehatan perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina yang dinilai sudah baik dan mengarah ke sikap positif ialah sebagian besar responden yakni sebanyak 27 orang responden (45%) meyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa setiap peserta BPJS Ketenagakerjaan akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berbeda dengan yang tidak menggunakan BPJS Ketenagakerjaan, kemudian sebanyak 28 orang responden (46,7%) menyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa tetap saja memerlukan biaya yang cukup tinggi untuk memperoleh layanan kesehatan, meskipun sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, dan sebanyak 32 orang responden (53,3%) menyatakan sangat tidak setuju pada pernyataan bahwa barulah mengurus atau menggunakan BPJS Ketenagakerjaan apabila penyakit yang diderita sudah parah.

(62)

73

Universitas Sumatera Utara Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Simangunsong (2015) yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas perilaku kesehatan adalah sikap individu. Jika individu setuju dengan bagian bagian isi stimulis yang diberikan, maka individu akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan individu berbeda dengan stimulus yang di respon oleh individu maka upaya untuj membentuk suatu tindakan yang diinginkan tidak akan bisa tercapai, Sikap penerimaan terlihat dari pendapat para informan mengenai program BPJS ini, hal ini merupakan salah satu hal positif dari suatu program yang harapannya dapat berjalan secara berkelanjutan.

Hal yang sama juga disampaikan dalam hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Rumengan (2015) yang menjelaskan bahwa berarti ada hubungan yang bermakna antarasikap responden tentang BPJS dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Fasilitas penyedia layanan kesehatan. Dilihat dari nilai Odds Ratio

(OR) menunjukkan bahwa responden dengan persepsi yang baik mempunyai kemungkinan 3,1 kali lebih besar untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas penyedia layanan kesehatan.

5.3 Gambaran Tindakan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan untuk Mendapatkan Layanan Kesehatan di Pusat Pelayanan Kesehatan Perkebunan (Puskesbun) PTPN IV Adolina.

Gambar

Tabel 4.1 Gambaran Umum Karakteristik Responden
Tabel 4.2 Gambaran Pengetahuan Responden terhadap BPJS Kesehatan
Tabel 4.3 Kategori Pengetahuan Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan
Tabel 4.4 Gambaran Sikap Positif Responden terhadap Pemanfaatan BPJS Ketenagakerjaan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Sebanyak 36,7% responden tidak mendapatkan dukungan dari keluarga dalam pemanfaatan layanan BPJS Kesehatan, dan 56,7% responden yang tidak memanfaatkan layanan BPJS

Sebanyak 55 orang responden (61,1%) memiliki kepuasan terhadap pemanfaatan BPJS kesehatan untuk mendapatkan layanan kesehatan di Puskesmas Singkil Utara dalam kategori yang