`
ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS SAPI POTONG
DI KABUPATEN GORONTALO
ARI ABDUL ROUF
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Daya Saing Komoditas Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, November 2014
Ari Abdul Rouf
RINGKASAN
ARI ABDUL ROUF. Analisis Daya Saing Komoditas Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo. Dibimbing oleh ARIEF DARYANTO dan ANNA FARIYANTI.
Daging sapi merupakan salah satu pangan utama masyarakat Indonesia. Kebutuhan daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dipenuhi dari produksi domestik dan impor, diantaranya dari Australia dan Selandia Baru. Sementara itu, Indonesia telah menyepakati perjanjian kawasan perdagangan bebas ASEAN-Australia-Selandia Baru. Kesepakatan tersebut diantaranya adalah dihapuskannya tarif impor daging sapi di tahun 2020. Selain itu, beberapa kebijakan komoditas sapi potong lain yang berlaku diantaranya tarif impor sapi bakalan, dedak padi, tepung jagung, bahan tepung tulang dan vitamin B6 sebesar 5% dan penerapan subsidi bensin.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing komoditas sapi potong di Kabupaten Gorontalo, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo dan menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo. Data primer diperoleh dari 60 responden yang dipilih menggunakan metode non-probability sampling. Metode analisis yang digunakan adalah Policy Analysis Matrix (PAM), analisis regresi berganda dan analisis sensitivitas.
Berdasarkan analisis keuntungan diketahui bahwa keuntungan usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo pada harga privat dan harga sosial bernilai positif yaitu masing-masing sebesar Rp83 022/ekor dan Rp267 809/ekor. Oleh karena itu, usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo memberikan keuntungan atau layak secara finansial maupun ekonomi. Analisis keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif berdasarkan nilai Private Cost Ratio (PCR) serta
Domestic Resources Cost Ratio (DRC) menunjukan bahwa usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo memiliki keunggulan kompetitif (PCR = 0.945) dan komparatif (DRC = 0.857). Namun demikian, daya saing yang dimiliki dapat dikategorikan lemah. Perbandingan antara keunggulan kompetitif dan komparatif menunjukan bahwa keunggulan kompetitif sapi potong di Kabupaten Gorontalo lebih rendah dibandingkan keunggulan komparatifnya (PCR > DRC). Hal ini bermakna, adanya kebijakan pemerintah seperti tarif impor daging dan sapi bakalan sebesar 5%, tarif input produksi usaha sapi potong sebesar 5% dan kuota daging dan sapi bakalan belum mampu meningkatkan daya saing usaha sapi potong.
Dampak kebijakan pemerintah terhadap output sapi potong di Kabupaten Gorontalo menunjukan transfer output bernilai positif, hal ini berarti pemerintah telah memberikan proteksi karena peternak memperoleh penerimaan diatas harga sosialnya sebesar Rp1 107 948/ekor. Sebaliknya, kebijakan input usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo telah menyebabkan peternak membeli input
tradable lebih mahal dibandingkan harga bayangannnya sebesar Rp1 462 396/ekor. Secara keseluruhan, dampak kebijakan input-output usaha sapi
yang belum melindungi peternak dapat pula ditunjukan oleh nilai koefisien proteksi efektif (EPC) sebesar 0.811, koefisien profitabilitas (PC) bernilai 0.310 dan nilai rasio subsidi produsen (SRP) sekitar 0.023.
Analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui perubahan faktor input-output terhadap daya saing sapi potong. Pengaruh perubahan input dan ouput produksi menunjukan bahwa: (1) kenaikan harga daging domestik dan dunia masing-masing sebesar 8.4% dan 10% akan meningkatkan daya saing; (2) peningkatan harga sapi bakalan sebesar 3.3%, biaya pakan hijauan sebesar 10% dan upah tenaga kerja sebesar 10% akan membuat usaha sapi potong tidak memiliki keunggulan kompetitif namun tetap memiliki keunggulan komparatif serta (3) Kenaikan produksi daging sebesar 12.7% akan meningkatkan daya saing sapi potong.
Faktor yang mempengaruhi daya saing usaha sapi potong berdasarkan fungsi dugaan model daya saing tersebut adalah tenaga kerja, hijauan, pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan harga jual sapi, sedangkan jumlah sapi dan lama penggemukan tidak berpengaruh nyata. Variabel tenaga kerja, hijauan dan lama penggemukan memiliki hubungan nyata positif terhadap indikator SCB atau berhubungan nyata negatif terhadap daya saing sedangkan PBBH dan harga jual berpengaruh sebaliknya.
SUMMARY
ARI ABDUL ROUF. Analysis of Competitiveness of Beef Cattle in Gorontalo District. Supervised by ARIEF DARYANTO and ANNA FARIYANTI.
Beef is one of the main foods of Indonesian society. Beef needs to fulfill the needs of Indonesian society fulfilled from domestic production and imports, including from Australia and New Zealand. Meanwhile, Indonesia has concluded free trade area agreement the ASEAN-Australia-New Zealand. The agreement will involve an elimination of import tariffs of beef in 2020. Additionally, some other beef cattle commodity policy including import tariffs of feeder cattle, rice bran, corn flour, bone meal ingredients and B6 vitamine by 5% and application of petrol subsidy.
This research aims to analyze the competitiveness of the commodity beef cattle in Gorontalo District, to analyze the factors affecting the competitiveness of beef cattle in the district of Gorontalo and to analyze the impact of government policies on the competitiveness of beef cattle in the district of Gorontalo. Primary data were obtained from 60 respondents were selected using non-probability sampling method. The analytical method used is the Policy Analysis Matrix (PAM), multiple regression analysis and sensitivity analysis.
Based on the benefit analysis, known that farming income of beef cattle in Gorontalo District in private and social rates are positive that each of Rp83 022/head and Rp 267 809/head. Therefore, the beef cattle farming in Gorontalo District is beneficial or financially and economically is feasible. Analysis of competitive advantage and comparative advantage based on the value of Private Cost Ratio (PCR) and Domestic Resource Cost Ratio (DRC) showed that the beef cattle business in Gorontalo District has a competitive advantage (PCR = 0.945) and comparative (DRC = 0.857). Nevertheless, competitiveness, can be categorized as weak. Comparison between competitive and comparative advantage shows that the competitive advantage of beef cattle in Gorontalo District lower than comparative advantage (PCR > DRC). This means, government policies such as import tariffs of beef cattle, meat and input production by 5% or quota of meat and feeder steers have not been able to improve the competitiveness of beef cattle business.
Sensitivity analysis is used to determine changes in the input-output factors on the competitiveness of beef cattle. The influence of changes in production inputs and outputs show that: (1) the increase in the price of domestic meat and the world, respectively by 8.4% and 10% going to increase competitiveness; (2) an increase in the price of feeder cattle at 3.3%, forage feed costs by 10% and wages employment by 10% will make the beef cattle farming do not have a competitive advantage but still have a comparative advantage and (3) The increase in meat production amounted to 12.7% will increase the competitiveness of beef cattle.
Factors that affect the competitiveness of the beef cattle are labor, forage, average daily gain (ADG) and selling price. The labor and forages have positive correlation to SCB or have negative causality to competitiveness, while ADG and sale price influential vice versa.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Agribisnis
ARI ABDUL ROUF
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2014
Judul Tesis : Analisis Daya Saing Komoditas Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo
Nama : Ari Abdul Rouf NIM : H451110281
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Arief Daryanto, MEc Ketua
Dr Ir Anna Fariyanti, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis
Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga karya tulis ilmiah ini berhasil diselesaikan. Adapun judul karya tulis ilmiah ini ialah Analisis Daya Saing Komoditas Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa dorongan, bantuan serta masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dalam kesempatan ini menyampaikan penghargaan yang tinggi dan terima kasih kepada Dr Ir Arief Daryanto, MEc dan Dr Ir Anna Fariyanti, MSi selaku komisi pembimbing serta Dr Ir Suharno, MAdev selaku evaluator kolokium sekaligus penguji luar komisi, Dr Ir Burhanuddin, MM selaku penguji wakil program studi dan Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS selaku Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis atas bimbingan, saran dan bantuannya yang telah diberikan. Kepada seluruh staf sekretariat MSA dalam memfasilitasi Penulis dari tahapan penelitian hingga ujian sidang, penulis ucapkan terima kasih. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan MSA 2 yang telah memberikan masukan dan bantuan sehingga memudahkan penyusunan karya tulis ini. Di samping itu, penghargaan dan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melanjutkan pendidikan sekaligus sebagai sponsor beasiswa. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo, Ir Muhammad Asaad, MSc beserta seluruh keluarga besar BPTP Gorontalo. Ucapan terima kasih pula Penulis sampaikan kepada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Gontalo, BPS Kabupaten Gorontalo serta Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Gorontalo yang telah memberikan informasi maupun data terkait penelitian ini. Kepada para enumerator Pak Darson Rifai, Ruslan Zees dan Ain Zees yang telah membantu Penulis dalam mewawancara responden. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua dan seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Rasa terima kasih sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada istri tercinta Soimah Munawaroh, SPt dan anak-anakku tersayang Ananda Faith Ardana Syafif dan Muhammad Regan Farras atas segala dukungan dan doa selama penulis menyelesaikan pendidikan di IPB.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, November 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 10
Manfaat Penelitian 10
Ruang Lingkup Penelitian dan Keterbatasan 10
TINJAUAN PUSTAKA 11
Faktor Penentu Daya Saing Peternakan Sapi Potong 12 Dinamika Tingkat Daya Saing Sektor Peternakan Sapi Indonesia dan
Negara Lainnya 18
KERANGKA PEMIKIRAN 24
Kerangka Teoritis 24
Kerangka Operasional 34
METODE PENELITIAN 36
Lokasi dan Waktu Penelitian 36
Jenis dan Sumber Data 36
Metode Penentuan Sampel 36
Analisis Daya Saing 37
Metode Alokasi Komponen Biaya Domestik dan Asing 40 Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing Sapi Potong di Kabupaten
Gorontalo 45
Konsep Pengukuran Variabel 50
Analisis Sensitivitas 50
GAMBARAN WILAYAH DAN KEBIJAKAN KOMODITAS SAPI POTONG
DI KABUPATEN GORONTALO 52
Gambaran Umum Kabupaten Gorontalo 52
Penerapan Kebijakan Output-Input Komoditas Sapi Potong 54
HASIL DAN PEMBAHASAN 60
SIMPULAN DAN SARAN 94
DAFTAR PUSTAKA 96
LAMPIRAN 105
RIWAYAT HIDUP 111
DAFTAR TABEL
1 Neraca komoditas daging nasional tahun 2009-2010 2 2 Dinamika kegiatan impor daging sapi selama 2010-2012 2
3 Proyeksi penyediaan daging sapi 2010-2014 3
4 Negara pengekspor daging ke Indonesia tahun 2011 3 5 Dampak kebijakan output-input terhadap usaha sapi potong di beberapa
daerah di Indonesia 17
6 Dinamika daya saing sapi potong di beberapa daerah di Indonesia 18 7 Bentuk dan perhitungan metode Policy Analysis Matrix 37 8 Harga privat dan sosial usaha penggemukan sapi potong 44 9 Alokasi biaya produksi berdasarkan komponen asing dan domestik 44
10 Aturan keputusan uji Durbin-Watson 49
11 Harga daging sapi dan tingkat upah harian selama tahun 2003-2012 51 12 Status usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo 60
13 Skala kepemilikan sapi di Kabupaten Gorontalo 61
14 Pola penguasaan usaha sapi potong dapat di Kabupaten Gorontalo 62 15 Lama pemeliharaan sapi di Kabupaten Gorontalo 63 16 Jumlah pemberian hijauan dan konsentrat di Kabupaten Gorontalo 64 17 Alokasi tenaga kerja usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo 65 18 Pertambahan bobot badan harian penggemukan sapi 66
19 Sebaran umur peternak di Kabupaten Gorontalo 69
20 Tingkat pendidikan peternak di Kabupaten Gorontalo 70 21 Pengalaman berusaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo 70 22 Jumlah anggota keluarga peternak di Kabupaten Gorontalo 71 23 Struktur penerimaan dan biaya usaha sapi potong di Kabupaten
Gorontalo (Rp/ekor/periode) 72
24 Keuntungan privat dan sosial peternak di Kabupaten Gorontalo 73 25 Dampak perubahan input dan output terhadap keuntungan privat dan
sosial usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo (Rp/ekor/periode) 83 26 Dampak perubahan input dan output terhadap daya saing usaha sapi
potong di Kabupaten Gorontalo 84
27 Analisis regresi linear fungsi dugaan daya saing usaha sapi potong 87
DAFTAR GAMBAR
1 Dinamika produksi daging sapi di Provinsi Gorontaloa 6 2 Dinamika pemasukan sapi di Provinsi Gorontalo pada kurun waktu
2006-2011 7
4 Perkembangan populasi sapi di Provinsi Gorontalo 2007-2011 8 5 Perbandingan antara harga daging sapi domestik dan sapi impor 9 6 Manfaat perdagangan dalam kerangka teori keunggulan komparatif 25
7 Bentuk alternatif penerapan kebijakan subsidi 29
8 Pengaruh penerapan subsidi positif terhadap produsen dan konsumen 30 9 Kebijakan hambatan perdagangan barang impor dan ekspor 31 10 Penerapan kebijakan pajak dan subsidi input tradable 32 11 Penerapan kebijakan pajak dan subsidi input nontradable 32 12 Kerangka operasional analisis daya saing komoditas sapi potong 35 13 Alternatif saluran pemasaran sapi potong di Kabupaten Gorontalo 67 14 Alur proses pengiriman sapi dari Provinsi Gorontalo ke luar daerah 68 15 Keunggulan komparatif dan kompetitif usaha sapi potong 75 16 Nilai transfer output, input, faktor domestik dan transfer bersih usaha
sapi potong di Kabupaten Gorontalo 77
17 Nilai koefisien proteksi input, ouput dan efektif usaha sapi potong di
Kabupaten Gorontalo 78
18 Dampak kebijakan input-output terhadap usaha sapi potong 81
DAFTAR LAMPIRAN
1 Perhitungan tingkat suku bunga sosial (%/th) 105
2 Perhitungan tingkat suku bunga privat (%/th) 106
3 Perhitungan nilai tukar bayangan 106
4 Perhitungan harga bayangan sapi bakalan (Rp/kg bobot hidup) 107 5 Perhitungan harga bayangan sapi potong (Rp/kg bobot hidup) 107 6 Biaya produksi usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo berdasarkan
harga domestik dan asing 108
7 Uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov test) model dugaan fungsi linear daya saing usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo 109 8 Uji heteroskedastisitas (Uji Glejser) model dugaan fungsi regresi linear
daya saing usaha sapi potong di Kabupaten Gorontalo 109 9 Hasil pendugaan model fungsi daya saing sapi potong di Kabupaten
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian dalam pembangunan Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Peran strategis sektor pertanian tercermin dari posisi sektor pertanian sebagai penyedia bahan pangan, bahan pakan, bahan baku industri, penyerap tenaga kerja, sumber devisa, sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui penerapan praktek usahatani yang ramah lingkungan (Kementan 2010a). Tahun 2012 sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 14.44% dengan menduduki peringkat kedua dibawah sektor industri pengolahan yang memberikan sumbangan sebesar 23.94%. Berkenaan dengan tenaga kerja, sekitar 38.8 juta orang atau 35.09% tenaga kerja bekerja di sektor pertanian pada tahun 2012 dan sisanya sebesar 64.91% tersebar di 9 sektor lainnya (BPS 2013). Dalam hal sumbangan devisa yang tercermin dari nilai neraca perdagangan diketahui bahwa neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia terus mengalami peningkatan surplus, pada tahun 2006 sebesar US$ 6.4 milyar (Kementan 2010a) kemudian meningkat di tahun 2012 menjadi US$ 23.1 milyar (Kementan 2013a).
Salah satu subsektor pertanian adalah sektor peternakan, subsektor ini diyakini memiliki potensi sebagai penggerak utama ekonomi nasional (Daryanto 2007). Hal tersebut didasari kepada fakta bahwa: (1) Kuantitas dan keragaman sumber daya peternakan yang besar; (2) Industri sektor peternakan memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri-industri lainnya baik keterkaitan ke belakang maupun kedepan; (3) Industri peternakan berbasis sumber daya lokal (resources based industries) dan (4) Memiliki keunggulan memiliki keunggulan komparatif dari segi sumber daya ternak (Daryanto 2007) dan memiliki keunggulan kompetitif dari segi komponen biaya tenaga kerja (Daryanto 2009). Fakta lain juga memperkuat pentingnya sektor peternakan adalah nilai koefisien pengganda output-dampak suatu sektor terhadap perekonomian secara keseluruhan-Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) yang tinggi dan terus meningkat, yaitu berdasarkan SNSE 1995 memiliki nilai sebesar 5.34 (Zaini 2003) meningkat menjadi 7.23 berdasarkan SNSE 1999 (Priyarsono et al. 2005) bahkan mencapai nilai 8.39 berdasarkan SNSE 2003 (Fauzi 2008).
Tabel 1 Neraca komoditas daging nasional tahun 2009-2010 Jenis
Daging
2009 (ribu ton) 2010 (ribu ton)
Produksi Konsumsi Selisih Produksi Konsumsi Selisih
Sapi 242.5 288.0 -45.6 261.6 352.1 -90.5
Tabel 1 memperlihatkan bahwa pemenuhan permintaan daging di Indonesia sebagian besar dipenuhi oleh daging ayam, sapi dan babi. Produksi daging ayam dan sapi di tahun 2010 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 97 ribu ton dan 19 ribu ton sedangkan produksi daging babi menurun sebesar 5 ribu ton. Sumber pemenuhan daging dapat berasal dari produksi dalam negeri maupun impor, namun demikian impor daging sapi relatif lebih tinggi dibandingkan impor daging jenis lainnya. Pada tahun 2010 terjadi kenaikan impor daging sapi dibandingkan 2009, dimana tahun 2009 impor daging sapi sebesar 45.6 ribu ton kemudian meningkat menjadi 90.5 ribu ton ditahun 2010. Gambaran dinamika kegiatan impor daging sapi selama 2010-2012 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Dinamika kegiatan impor daging sapi selama 2010-2012
Tabel 2 memperlihatkan bahwa impor daging sapi maupun sapi hidup selama kurun waktu 2010-2012 mengalami penurunan, volume impor daging mengalami penurunan rata-rata sebesar 48.5%/tahun sedangkan penurunan impor sapi hidup sebesar 48.4%/tahun. Jumlah impor daging sapi di tahun 2012 sebanyak 20 288 ton lebih rendah dibandingkan impor ditahun 2010 sebesar 90 505 ton, demikian pula impor sapi bakalan dan potong jauh menurun jika tahun 2010 mengimpor sapi setara 209 717 ton maka di tahun 2012 hanya sebesar 36 849 ton. Penurunan ini sejalan dengan arah kebijakan swasembada daging sapi 2014 bahwa impor daging sapi maksimal sebesar 10% dari kebutuhan konsumsi masyarakat.
Tabel 3 Proyeksi penyediaan daging sapi 2010-2014
Uraian Proyeksi tahun ke- (000 ton)
2010 2011 2012 2013 2014
Penyediaan
Produksi lokal 282.9 313.6 349.6 384.2 420.3
Impor 120.0 102.4 84.6 66.2 46.6
Pengeluaran
Konsumsi 402.9 416.0 434.2 450.4 466.9
Persentase impor
terhadap konsumsi (%) 29.8 24.6 19.5 14.7 10.0 Sumber: Kementan (2010b)
Tabel 3 menunjukan bahwa guna mencapai target swasembada daging sapi 2014 pemerintah merencanakan penurunan impor secara bertahap. Pada tahun 2010, pemerintah menargetkan impor daging sapi sebesar 29.8% atau setara 120 ribu ton yang diharapkan menurun menjadi 46.6 ribu ton di tahun 2014.
Pemenuhan pangan berasal dalam negeri disadari semakin penting sebab jika mengandalkan impor dapat menyebabkan ketahanan pangan khususnya daging mudah ringkih jika negara pengekspor tidak bersedia menjual produknya. Menurut Sunari et al. (2010) bahwa impor sapi dapat mengganggu agribisnis sapi potong lokal disebabkan: (1) Harga daging sapi impor relatif lebih murah dibandingkan harga daging sapi lokal dan (2) Terdapat pergeseran dari kegiatan impor sapi bakalan menjadi impor sapi siap potong atau daging. Gambaran negara pengekspor daging ke Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Negara pengekspor daging ke Indonesia tahun 2011
Negara Jumlah (ton) Persentase (%)
Australia 40 183 56.9
Selandia Baru 22 351 31.6
Amerika Serikat 7 741 10.9
Kanada 323 0.5
Singapura 56 0.1
Total 70 654 100.0
Tabel 4 memperlihatkan daging sapi impor yang beredar di Indonesia didominasi dari 3 negara asal yaitu Australia, Selandia baru dan Amerika Serikat dengan persentase sebesar 99.5%. Negara Australia merupakan negara yang paling banyak melakukan ekspor daging ke Indonesia yaitu 56.9% dari total daging impor Indonesia. Pakpahan (2012) menyimpulkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi impor sapi di Indonesia antara lain harga daging impor, harga daging domestik, nilai tukar rupiah dan pendapatan nasional.
Menurut Sunari et al. (2010) bahwa pasar sapi Indonesia rentan terhadap pengaruh pasar global, adapun faktor yang mempengaruhi pasar sapi domestik antara lain penawaran daging sapi, konsumsi dan harga daging sapi lokal, harga riil, jumlah induk dan pemotongan sapi lokal serta jumlah dan harga sapi dan daging sapi impor. Kondisi demikian memperkuat pandangan bahwa sektor peternakan khususnya daging haruslah mengedepankan kepada sumber daya lokal. Apalagi saat ini Indonesia telah menandatangani perjanjian wilayah perdagangan bebas bilateral dengan Australia maupun menandatangani kesepakatan Asean-Australian-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA), dengan menyetujui kesepakatan ini maka tarif impor daging sapi maupun sapi hidup akan dihilangkan atau dengan kata lain daging impor dapat semakin mudah masuk ke Indonesia.
Perdagangan bebas dapat mengancam sektor peternakan sapi potong lokal jika sapi lokal tidak dapat bersaing dengan sapi impor. Simatupang (2004) memandang dalam upaya memperoleh manfaat dari keterbukaan pasar diperlukan beberapa persyaratan, salah satunya perlu memenuhi syarat keharusan yaitu adanya keunggulan kompetitif dari produk yang dimiliki. Daya saing merupakan merupakan hal yang penting dalam hal perdagangan internasional sekaligus sebagai pembuka masuknya investasi ke dalam negeri (Chen et al. 2004) maupun membantu para investor dalam mengalokasikan sumber daya ke berbagai negara (Lall 2001). Dengan demikian pengukuran daya saing sapi potong di Provinsi Gorontalo penting dilakukan sebagai bahan informasi perihal tingkat daya saing yang dimiliki dalam menghadapi persaingan pasar bebas .
Pemerintah berupaya meningkatkan potensi peternakan dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor sapi bakalan dan daging sapi diantaranya melalui pelaksanaan Program Swasembada Daging Sapi (PSDS). Program Swasembada Daging Sapi 2014 merupakan program pemutakhiran dari program swasembada daging 2005 dan 2010 yang tidak berhasil, pemutakhiran yang dilakukan meliputi aspek program, organisasi pelaksana, dokumen pendukung dan pendanaan (Ashari et al. 2012). Pelaksanaan PSDS sendiri memiliki 5 sasaran. Sasaran tersebut antara lain: (1) Meningkatnya populasi sapi potong menjadi 14.2 juta ekor tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 12.5%; (2) Meningkatnya produksi daging dalam negeri sebesar 420.3 ribu ton pada tahun 2014 atau meningkat 10.4% setiap tahunnya; (3) Tercapaianya penurunan impor sapi dan daging sehingga hanya mencapai 10% dari kebutuhan konsumsi masyarakat; (4) Bertambahnya penyerapan tenaga kerja sebagai dampak dari pertambahan populasi dan produksi ternak sebesar 76 ribu orang/tahun serta (5) Meningkatnya pendapatan peternak sapi potong minimal setara dengan UMR masing-masing propinsi.
buatan dan kawin alam. Pemerintah daerah sendiri telah menetapkan sapi potong sebagai unggulan daerah. Keputusan tersebut merupakan hal tepat karena berdasarkan pertimbangan aspek teknis, pasar dan ekonomis maka peluang pengembangan komoditas sapi potong kedepan cukup menjanjikan.
Berdasarkan aspek teknis, Provinsi Gorontalo masih dapat meningkatkan jumlah populasi sapi potong sampai 707 956-795 258 ST berkaitan carrying capacity pakan hijauan yang masih sangat berlebih (Rouf dan Sariubang 2010; Sariubang et al. 2011), dilihat dari sumber daya ternak maka bangsa sapi yang diternak yaitu Sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO) sudah sesuai dengan kondisi di Gorontalo atau Indonesia (Ilham dan Rusastra 2009; Sariubang et al. 2011).
Berkenaan dengan aspek potensi pasar maka terdapat kecenderungan peningkatan permintaan daging sapi di Gorontalo atau Indonesia (Ilham 2007; Sariubang et al. 2011) dan salah satu pendorong lainnya adalah kenaikan pendapatan (Hutasuhut et al. 2001). Dilihat dari aspek ekonomi, usaha sapi potong di Provinsi Gorontalo layak diusahakan dengan pertimbangan jika dilakukan secara intensif maka akan memberikan keuntungan sebesar Rp 6.3 juta per 6 bulan (Zubair 2010). Adanya dukungan pemerintah melalui berbagai program seperti PUTKATI (Program Usaha Ternak Kawasan Timur), BPLM (Bantuan Penguatan Langsung Masyarakat), PUMK (Penguatan Usaha Modal Kelompok) serta Gerakan Sejuta Sapi (Anugrah dan Sejati 2010). Selain itu, subsektor peternakan di Provinsi Gorontalo memiliki keunggulan komparatif yaitu sebagai sektor basis tercermin dari nilai rata-rata Location Quotient (LQ) tahun 2001-2008 sebesar 2.3, hal ini memperlihatkan pentingnya subsektor peternakan bagi Provinsi Gorontalo. Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan nilai LQ ini antara lain kenaikan konsumsi dari daging ayam dan sapi serta semakin digalakkannya komoditas sapi potong dalam rangka memenuhi permintaan lokal (Muslianti 2009).
Salah satu metode analisis yang dapat digunakan dalam mengukur daya saing adalah Policy Analysis Matrix (PAM), dengan metode ini dapat diketahui keunggulan komparatif yang diukur dengan Domestic Resources Cost Ratio
(DRCR) maupun keunggulan kompetitif yang diukur dengan nilai Private Cost Ratio (PCR) (Monke dan Pearson 1989). Selain metode analisis PAM, terdapat banyak metode lain yang digunakan dalam mengukur daya saing namun demikian penelitian ini dipandang lebih sesuai menggunakan metode PAM karena dengan metode ini dapat menjawab pertanyaan perihal tingkat daya saing yang dimiliki sekaligus menjelaskan bagaimana pengaruh kebijakan maupun distorsi pasar yang terjadi berkenaan terhadap perubahan tingkat daya saing komoditas yang diteliti. Hal ini dapat dilakukan karena dalam metode ini daya saing akan dibedakan berdasarkan kemampuannya dibiayai oleh sumber daya domestik pada tingkat harga privat dan sosial.
Perumusan Masalah
mereka diantara produk daging sapi. Pemberlakuan tarif impor daging 0% dapat merugikan sektor peternakan sapi potong jika kondisi peternakan sapi potong lokal masih lemah. Adapun kebijakan pemerintah lainnya terhadap komoditas daging sapi diantaranya: (1) Tarif impor sapi bakalan, dedak padi, tepung jagung, bahan tepung tulang dan vitamin B6 sebesar 5% dan (2) Penerapan subsidi bensin. Berbagai penelitian mengemukakan bahwa sektor peternakan sapi potong di Indonesia masih menghadapi kendala seperti: (1) Usaha bakalan secara ekonomis kurang menguntungkan dan dibutuhkan waktu yang lama guna pemeliharaannya; (2) Keterbatasan pejantan unggul pada usaha pembibitan dan peternak; (3) Ketersediaan pakan tidak kontinu dan kualitasnya rendah terutama pada musim kemarau; (4) Pemanfaatan pakan asal limbah pertanian dan agro-industri pertanian belum optimal (Maryono et al. 2006 dalam Suryana 2009) dan (5) Diusahakan sebagai sambilan (Simatupang dan Maulana 2006).
Pembangunan sektor peternakan sapi potong dalam menyongsong perdagangan bebas merupakan suatu keharusan. Pemerintah telah menyadari hal tersebut sehingga menggagas PSDS. Dalam PSDS pemerintah membuat berbagai alternatif dalam upaya mencapai swasembada daging sapi. Perbaikan yang dilakukan antara lain penyediaan bakalan lokal, peningkatan produktivitas dan reproduksi ternak sapi lokal, pencegahan pemotongan betina produktif, penyediaan bibit sapi dan pengaturan stok daging.
Pemilihan Provinsi Gorontalo sebagai lokasi penelitian didasarkan pertimbangan karena merupakan salah satu daerah prioritas pelaksana PSDS serta relatif tingginya pengeluaran dan pemasukan ternak sapi dibandingkan Provinsi lain di wilayah Sulawesi. Pertimbangan lainnya adalah pemerintah daerah telah menetapkan sapi potong sebagai komoditas unggulan daerah. Kinerja sektor sapi potong yang dicerminkan oleh produksi daging sapi mengalami peningkatan. selama tahun 2007-2013, hal ini terlihat seperti pada Gambar 1.
Gambar 1 Dinamika produksi daging sapi di Provinsi Gorontalo Sumber: Kementan (2011) dan Kementan (2013b)
0
Gambar 2 Dinamika pemasukan sapi di Provinsi Gorontalo pada kurun waktu 2006-2012 berdasarkan tren ( ) dan nilai riil ( )
Sumber: Kementan (2012a)
Gambar 2 memperlihatkan dinamika pemasukan sapi ke Provinsi Gorontalo selama 2006-2011 disertai garis tren, jumlah sapi yang masuk cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya walaupun di tahun 2009 dan 2010 tidak terdapat pemasukan sapi. Tahun 2006 sapi yang masuk sebanyak 11 869 ekor dan meningkat menjadi 2 kali lipat di tahun 2012 sebesar 23 500 ekor atau mengalami pertumbuhan sebesar 98%. Selama 2006-2012 pemasukan sapi di Provinsi Gorontalo cenderung terus meningkat, hal ini dapat merugikan peternak apabila peternak tidak dapat meningkatkan daya saingnya.
Tingkat daya saing juga penting dalam upaya meningkatkan pangsa pasar di tingkat perdagangan pasar sapi nasional. Provinsi Gorontalo di wilayah Sulawesi merupakan pemasok sapi tertinggi dibandingkan provinsi lain di wilayah Sulawesi, hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 perihal pangsa pengeluran sapi wilayah Sulawesi.
Gambar 3 memperlihatkan bahwa lebih dari separuh (57%) sapi yang diekspor dari wilayah Sulawesi berasal dari Provinsi Gorontalo tertinggi dibandingkan Provinsi lainnya, disusul oleh Sulawesi Selatan sebesar 12% dan paling rendah berasal dari Sulawesi Utara. Hal ini sangat menarik mengingat Provinsi Gorontalo memiliki populasi sapi yang relatif sedikit jika dibandingkan Sulawesi Selatan.
Ketersediaan daging sapi lokal yang tercermin dari populasi sapi potong memperlihatkan kondisi sapi Provinsi Gorontalo semakin berkurang, hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Perkembangan populasi sapi di Provinsi Gorontalo 2007-2011 (ekor) berdasarkan tren ( ) dan nilai riil ( )
Sumber: Diolah dari Kementan (2011)
Perkembangan populasi sapi 5 tahun terakhir menunjukan tren yang menurun dimana di tahun 2007 terdapat 213 831 ekor, terjadi peningkatan tertinggi di tahun 2010 menjadi 253 411 ekor kemudian turun 183 868 ekor di tahun 2011. Namun demikian, secara rata-rata terdapat penurunan populasi sapi sebanyak 3 421 ekor/tahun.
0 Sumber: Kemendag ( 2012) dan BPS (2012)
Salah satu sentra sapi potong di Provinsi Gorontalo adalah Kabupaten Gorontalo dan Boalemo. Kondisi kedua kabupaten memperlihatkan umumnya peternak melakukan usaha secara berkelompok dengan kepemilikan ternak sebesar 2-3 ekor/rumah tangga, pola penggembalaan yang dilakukan umumnya masih digembalakan dengan pemberian pakan konsentrat hanya dedak sebanyak 60 kg per bulan, namun ada pula peternak yang mengusahakan ternak secara intensif. Berdasarkan analisis BEP diketahui bahwa untuk pola usaha intensif maka BEP selama 3.1 tahun sedangkan pola semi intensif BEP selama 8.4 tahun (Anugrah dan Sejati 2010). Zubair (2010) melakukan penelitian di Kabupaten Gorontalo dan Boalemo menyatakan bahwa ada perbedaan antara sapi yang memperoleh pakan penguat dan tanpa pakan penguat dimana pertambahan bobot badan (PBB) harian sapi rata-rata tanpa penguat sebesar 0.33 kg/hr sedangkan yang mendapat pakan penguat 0.87 kg/hr, berarti pemberian pakan penguat sangat berpengaruh pada pertumbuhan bobot badan sapi. Permasalahannya pola usahaternak sapi yang ada kebanyakan adalah digembalakan. Pemerintah telah melaksanakan telah menyadari berbagai kelemahan yang ada sehingga menyusun dan melaksanakan PSDS dalam upaya meningkatkan sektor peternakan sapi potong domestik sehingga peternak dapat lebih siap dan memiliki daya saing dalam menghadapi perdagangan bebas.
Berdasarkan berbagai permasalahan yang dimiliki serta adanya pertimbangan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang akan mengurangi impor sapi dengan mewujudkan swasemabada daging melalui pelaksanaan PSDS maka penelitian daya saing sapi potong di Provinsi Gorontalo perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat daya saing sekaligus pengaruh kebijakan yang ada terhadap tingkat daya saing yang dimiliki.
1. Apakah komoditas sapi potong di Kabupaten Gorontalo memiliki daya saing?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo?
3. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalah yang telah dikemukakan maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo.
2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo.
3. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing sapi potong di Kabupaten Gorontalo.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya:
1. Bagi peternak, kajian ini diharapkan dapat memberikan informasi perihal tingkat daya saing yang dimiliki oleh usahaternak yang digeluti sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi pengembangan usahaternak kedepan
2. Bagi peneliti, penelitian ini akan menambah wawasan dan kompetensi dalam menganalisis daya saing menggunakan metode PAM
3. Bagi pemangku kebijakan, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan pertanian khususnya sektor peternakan sapi potong di Kabupaten Gorontalo.
Ruang Lingkup Penelitian dan Keterbatasan
digunakan terbatas pada data kerat lintang karena data yang dikumpulkan adalah berasal dari satu kurun waktu saja dan 6) Daya saing dalam penelitian ini diukur berkenaan indikator kinerja ekonomi (biaya), pengukuran daya saing berdasarkan kinerja perdagangan ekspor tidak dianalisis dalam penelitian ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Pemaparan pada Bab ini akan dibahas perihal hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan judul penelitian penulis yaitu Analisis Daya Saing Komoditas Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo. Pembahasan pada tinjauan pustaka ini diharapkan mampu menggambarkan masalah maupun gagasan penelitian berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sehingga diperoleh pemahaman mengenai masalah penelitian dan pemecahannya. Adapun pemaparan pada subbab ini terbagi menjadi 2, yaitu: (1) Berkenaan dengan faktor penentu daya saing sapi potong dan (2) Dinamika tingkat daya saing berdasarkan faktor penentunya.
Banyak metoda yang digunakan untuk mengukur tingkat daya saing, adapun dalam kajian ini digunakan indikator Domestic Resource Cost (DRC) dan Private Cost Ratio (PRC) dalam kerangka Policy Analysis Matrix. Dua indikator tersebut mencerminkan tingkat keunggulan komparatif dan kompetitif. Nilai 0 < DRC < 1 berarti biaya sumber daya domestik pada harga sosial lebih kecil dibandingkan nilai tambah keluaran komoditas sehingga komoditas yang dianalisis memiliki keunggulan komparatif. Nilai DRC > 1 menunjukan biaya sumber daya domestik pada harga sosial lebih tinggi dibandingkan nilai tambah keluaran olehnya komoditas tidak memiliki keunggulan komparatif. Demikian pula jika nilai DRC < 0 berarti bahwa penerimaan yang diperoleh tidak dapat menutup biaya input
tradable atau singkatnya suatu komoditas tidak memiliki daya saing. Nilai PCR identik dengan nilai DCR namun jika nilai DCR dihitung berdasarkan harga sosial input maupun output maka PCR dihitung dengan harga aktual atau harga yang benar-benar diterima petani.
Setelah diketahui tingkat daya saing usaha sapi potong maka perlu dianalisis faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi daya saing. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya mengelola berbagai faktor tersebut sehingga usaha untuk meningkatkan daya saing dapat lebih terarah dan terukur. Pengukuran tingkat daya saing dalam tahap ini menggunakan metode Social Cost Benefit Ratio
Faktor Penentu Daya Saing Peternakan Sapi Potong
Daya saing merupakan salah satu hal yang dapat menentukan keberhasilan suatu negara dalam melakukan perdagangan internasional. Menurut Halwani (2002) bahwa perdagangan internasional terjadi karena suatu negara dengan negara lainnya memiliki beberapa perbedaan seperti sumber daya alam, iklim, penduduk, sumber daya manusia, spesifikasi tenaga kerja, geografis, teknologi, harga, struktur ekonomi dan sosial politik. Namun demikian terjadinya perdagangan internasional harus diikuti dengan keuntungan perdagangan yang diperoleh oleh kedua belah pihak serta memungkinkan setiap negara melakukan spesialisasi produksi terbatas pada barang-barang tertentu dengan mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi melalui skala produksi yang lebih besar.
Berbagai penelitian terdahulu telah dilakukan dalam upaya menelaah faktor penentu daya saing baik secara umum, pada sektor peternakan maupun khusus komoditas daging sapi. Malian et al. (2004) membedakan faktor yang mempengaruhi daya saing berdasarkan kemampuan faktor penentu tersebut dapat atau tidak dikendalikan, yaitu: (1) Faktor yang dapat dikendalikan oleh unit usaha, seperti strategi produk, teknologi, pelatihan, biaya riset dan pengembangan; (2) Faktor yang dapat dikendalikan oleh pemerintah, seperti lingkungan bisnis (pajak, suku bunga, nilai tukar uang), kebijakan perdagangan, kebijakan riset dan pengembangan serta pendidikan, pelatihan dan regulasi; (3) Faktor yang semi terkendali, seperti kebijakan harga input dan kuantitas permintaan domestik; serta (4) Faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti lingkungan alam. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya saing sapi potong dijelaskan berikut ini.
Sumber daya
Subsektor peternakan di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan karena memiliki keunggulan komparatif. Vercoe et al. (1997) melaporkan bahwa negara-negara di Asia diantaranya Indonesia melakukan impor sapi bakalan karena memiliki keunggulan komparatif dalam menghasilkan sapi potong, sebab tersedia pakan dari limbah agroindustri maupun relatif rendahnya upah tenaga kerja. Sementara laporan lain menyebutkan keunggulan komparatif subsektor peternakan diantaranya bersumber dari potensi sumber daya ternak dan kekayaan alam dalam menyediakan pakan (Deblitz et al. 2005; Daryanto 2009).
Artinya, berdasarkan asumsi tersebut, maka potensi pakan yang tersedia masih dapat mencukupi, bahkan melebihi kebutuhan. Menurut Abdullah (2006) bahwa kontribusi lahan pastura sebagai sumber pakan hijauan di Pulau Jawa adalah sebesar 26.7%, sedangkan lebih dari 70% berasal dari lahan nonpastura yang terdiri atas lahan basah, tegalan, lahan kering, perkebunan dan hutan. Hal ini berarti masih dimungkinkan untuk dilakukan peningkatan populasi sapi, mengingat cukup tersedianya pakan hijauan baik bersumber dari pastura atau nonpastura.
Peluang pengembangan usaha sapi potong yang ada bukanlah tanpa tantangan. Ketersediaan sumber pakan merupakan salah satu pembatas dalam mengembangkan usaha sapi potong. Sulitnya akses terhadap pastura, khususnya di Pulau Jawa, maka pengembangan sapi potong perlu mempertimbangkan: (1) Wilayah pengembangan memiliki areal pastura yang masih luas (carrying capacity lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah sapi existing); (2) Menggunakan konsep integrasi usaha peternakan dengan usaha pertanian tanaman pangan dan perkebunan, antara lain padi, jagung, tebu, karet, kakao atau kebun kelapa sawit; dan (3) Peningkatan produksi hijauan melalui perbaikan budidaya hijauan pakan ternak dan introduksi hijauan unggul.
Selain ketersediaan pakan limbah pertanian, sumber keunggulan lain dari usaha sapi potong yaitu: (1) Bangsa sapi bali mampu hidup dan berkembang biak pada kondisi iklim panas, tingkat karkas tinggi dan tingkat kematian anak rendah (Ilham dan Rusastra 2009; Purwantara et al. 2012); (2) Sapi persilangan lokal dengan impor mampu tumbuh dan berkembang baik di Indonesia; serta (3) Topografi berbentuk datar hingga tinggi yang sesuai untuk sapi dari daerah subtropis atau persilangannya (Ilham dan Rusastra 2009). Keunggulan dari bangsa sapi yang ada tidak akan berarti tanpa disertai tata laksana pemeliharaan yang baik. Pemeliharaan sapi yang tidak optimal tentu saja akan menghasilkan kinerja produksi yang tidak optimal. Menurut Kementan (2012b) menyatakan bahwa sebanyak 98% peternak kecil melakukan pola pemeliharaan ternak secara tradisional sehingga bobot potong sapi yang dihasilkan 50 kg lebih rendah dibandingkan dengan potensinya.
Pengaruh sumber daya terhadap daya saing dipaparkan Simatupang dan Hadi (2004) yang menyatakan bahwa berkaitan dengan sumber daya lahan atau alam, negara-negara Amerika Utara dan Uni Eropa memiliki keunggulan komparatif dalam menyediakan pakan berbahan baku biji-bijian (high quality grain blended feed), sedangkan Australia, Selandia Baru serta Amerika Latin unggul dalam ketersediaan pakan rumput-rumputan (grass feed). Kondisi di Amerika dan Eropa berbeda dengan di Indonesia yang lebih mengandalkan hijauan dari rumput-rumputan, perbedaan ini menyebabkan kualitas asupan pakan hijauan di Indonesia relatif lebih rendah, utamanya pada pola penggembalaan. Padahal sapi di daerah tropis membutuhan energi untuk hidup pokok lebih tinggi dibandingkan dengan ternak yang hidup di daerah subtropis (Haryanto 2012). Pada kondisi tersebut, maka penurunan efisiensi pakan dimungkinkan terjadi sehingga asupan pakan berkualitas perlu lebih diperhatikan.
Berkenaan dengan bangsa sapi yang digemukkan, salah satu perbedaan sapi lokal (turunan Bos sondaicus dan Bos indicus) dan impor (turunan Bos taurus) adalah kemampuan beradaptasi dengan iklim tropis. Kedua jenis bangsa tersebut memiliki keunggulan masing-masing, dimana sapi lokal khususnya sapi Bali diketahui memiliki tingkat reproduksi dan respon pertumbuhan yang cukup baik terhadap pakan kurang berkualitas. Sebaliknya, sapi subtropis memiliki rata-rata pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan bobot akhir yang lebih tinggi namun kurang dapat beradaptasi dengan iklim tropis (Siregar 2008).
Tenaga kerja
Negara dengan tenaga kerja terampil yang melimpah akan memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi suatu produk yang membutuhkan tenaga kerja terampil lebih intensif (Gupta 2009). Daryanto (2009) menyatakan Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dari segi komponen biaya tenaga kerja. Data National Wages and Productivity Commission (NWPC) menunjukan bahwa upah minimum pekerja per bulan Indonesia tahun 2013 sedikitnya sebesar US$ 75.58 yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Filipina (US$ 171.36), Malaysia (US$ 241.02), Thailand (US$ 206.67). Hal ini ternyata masih lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam (US$ 66.26) dan Kamboja (US$ 60.0) (NWPC 2013).
Teknologi
Teknologi, inovasi teknologi baru dan pengembangan teknologi tepat guna serta adaptasinya di tingkat petani/perusahaan merupakan faktor penentu daya saing (Simatupang dan Hadi 2004; Daryanto 2009). Penerapan teknologi dapat dilakukan pada berbagai kegiatan. Marques et al. (2011) menyimpulkan daya saing sapi potong yang rendah di Rio Grande Brasil disebabkan sulitnya akses terhadap teknologi inovatif, kurangnya investasi dalam penyediaan bibit unggul dan rendahnya manajemen kesehatan ternak. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan teknologi pada usaha sapi potong sangat ditentukan oleh manajemen usaha dan penyediaan bibit unggul. Matondang dan Rusdiana (2013) menyatakan bahwa produktivitas sapi lokal yang masih rendah disebabkan oleh manajemen pemeliharaan yang belum efisien. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi usaha sapi potong yang masih bersifat tradisional dan merupakan usaha sambilan. Kementan (2012b) menyatakan bahwa pemeliharaan sapi potong yang masih tradisional berdampak pada kondisi sapi potong yang dihasilkan berbadan kurus atau bobotnya lebih rendah 50 kg dari potensinya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa solusi yang perlu dilakukan adalah perbaikan kualitas pakan, lingkungan, kesehatan hewan dan manajemen pemeliharaan.
Berkenaan dengan bibit unggul, maka terdapat dua hal yang dapat dilakukan yaitu pemurnian sapi lokal dan persilangannya dengan sapi impor. Matondang dan Rusdiana (2013) menyatakan bahwa pengembangan usaha sapi potong dapat dilakukan melalui program persilangan sapi lokal dengan bangsa sapi impor seperti Limousin, Simental dan Brahman. Menurut Hadi dan Ilham (2002) bahwa minat peternak terhadap usaha sapi persilangan semakin besar karena pertambahan bobot badan harian yang tinggi, konversi pakan dan persentase karkas yang lebih baik dibandingkan dengan sapi lokal. Pemurnian sapi lokal merupakan alternatif lain yang patut dikembangkan. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa di beberapa daerah di Indonesia (Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan) terdapat penurunan kualitas sapi bali sehingga berukuran semakin kecil, dikarenakan telah terjadi inbreeding, seleksi negatif, kekurangan pakan serta akibat serangan penyakit (Diwyanto dan Priyanti 2008).
Permintaan pasar
Penelitian sebelumnya berkenaan dengan faktor penentu daya saing peternakan dilakukan dengan beberapa metode. Selli et al. (2010) menggunakan metode Berlian Porter menyatakan bahwa daya saing di sektor peternakan (sapi) dipengaruhi 5 faktor yaitu factor conditions (produktivitas atau bangsa ternak, harga pakan, luas tanam pakan hijauan), demand condtions (permintaan domestik, permintaan luar negeri, pasar Timur Tengah), related and supporting industries
(Perusahaan pertanian, Universitas, lembaga keuangan), firm strategy, structure and rivalry (modal perusahaan, skala perusahaan, produktivitas, berorientasi investasi, pertanian organik), government (ekonomi informal, pengalaman privatisasi, dukungan pemerintah, sinergi dengan DPR Uni Eropa). Metode berbeda digunakan oleh Nivievskyi dan von Cramon-Taubadel (2008) yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing sapi perah Ukraina. Penelitian ini menggunakan konsep DCR dan SCBR untuk megukur tingkat daya saing sapi perah dengan menggunakan data panel. Adapun untuk menganalisis faktor-faktor daya saing digunakan metode ekonometrika pendekatan fixed-effect. Ukuran yang digunakan dalam menilai daya saing adalah nilai SCBR dengan alasan nilai SCBR memiliki makna semakin tinggi nilainya maka semakin tidak kompetitif sedangkan bila menggunakan ukuran DRC tidak linear-nilai diantara nol dan satu bermakna memiliki daya saing dan nilai diatas 1 berarti tidak berdaya saing sedangkan nilai negatif berarti usaha tersebut merugi. Kesimpulan penelitian ini adalah produksi susu dan jumlah sapi berpengaruh positif terhadap peningkatan daya saing dan sebaliknya penambahan pekerja, lahan pakan serta subsidi akan menurunkan daya saing.
Kebijakan pemerintah
Daya saing selain ditentukan oleh produktivitas namun dapat pula dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah (Gupta 2009, WB 2009). Selain itu, WB (2009) menambahkan bahwa kerangka kebijakan inti terhadap daya saing (core policy framework for competitiveness) adalah: (1) Insentif ekonomi seperti tarif impor dan ekspor, sistem nilai tukar, pasar faktor produksi dan kebijakan pajak, (2) Jasa dan biaya seperti energi, telekomunikasi, layanan bea cukai, transportasi dan logistik, keterampilan khusus dan layanan usaha serta (3) Lembaga dan kebijakan yang pro aktif antara lain badan promosi investasi dan ekspor, lembaga standarisasi, lembaga yang mendorong inovasi serta penelitian dan pengembangan.
Tabel 5 Dampak kebijakan output-input terhadap usaha sapi potong di beberapa
Kabupaten Agam, Sumbar NPCO = 1.11
NPCI = 1.08 EPC = 1.13
Indrayani (2011)
Provinsi Jawa Barat NPCO = 1.20
NPCI = 1.21 EPC > 1
Yuzaria dan Suryadi (2011)
Kab Lampung Tengah, Lampung NPCO > 1 NPCI < 1 EPC > 1
Haitami (2012)
peternak lebih mahal dari yang seharusnya (NPCI>1) namun secara keseluruhan usaha sapi potong telah diproteksi oleh pemerintah (ECP>1 dan NPCO>1).
Dinamika Tingkat Daya Saing Sektor Peternakan Sapi Indonesia dan Negara Lainnya
Penelitian sebelumnya mengenai daya saing sapi potong menggunakan konsep DRC diantaranya dilakukan Perdana (2003), Adnyana et al. (1996), Muthalib et al. (2010), Yuzaria dan Suryadi (2011), Indrayani (2011) dan Haitami (2012). Dinamika daya saing usaha sapi potong di beberapa daerah di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Dinamika daya saing sapi potong di beberapa daerah di Indonesia
Daerah DRC Sumber
Tabel 6 memperlihatkan bahwa daya saing sapi potong bervariasi dari yang memiliki daya saing yang ditunjukan dengan nilai DRC kurang dari 1 (Adnyana et al. 1996; Perdana 2003; Amshal 2004; Widodo 2007; Muthalib et al. 2010; Indrayani 2011; Yuzaria dan Suryadi 2011) sampai tidak berdaya saing dengan nilai DRC lebih dari satu (Haitami 2012). Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar usaha sapi potong di beberapa daerah Indonesia memiliki daya saing sebab nilai DRC usaha sapi potong kurang dari satu. Perbedaan tingkat daya saing tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti harga faktor input dan ouput maupun koefisien input-ouput produksi sapi potong seperti seperti jumlah pemberian pakan, kebutuhan tenaga kerja maupun produktivitas sapi potong. Dinamika tingkat daya saing berdasarkan faktor penentunya diuraikan sebagai berikut.
Potensi sumber daya sapi potong
dalam ketersediaan pakan yang mudah. Hal tersebut tercermin dari nilai DRC usaha sapi potong sistem gembala yang kurang dari satu. Penelitian Kasryno et al.
(1989), Perdana (2003) dan Muthalib et al. (2010) menyebutkan bahwa usaha sapi potong sistem gembala di Indonesia memiliki nilai DRC antara 0.08 dan 0.54. Artinya untuk menghasilkan output produksi, biaya input tradable yang dibayar peternak lebih sedikit sebab memanfaatkan hijauan yang tersedia dialam.
Ketersediaan limbah pertanian sebagai asupan pakan juga merupakan sumber daya saing usaha sapi potong di Indonesia. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pemanfaatan limbah pertanian tanaman pangan seperti jagung dan padi dapat menjadikan usaha sapi potong berdaya saing. Kajian Widodo (2007) menyatakan bahwa nilai DRC pola sistem integrasi padi ternak (SIPT) di Kabupaten Bantul adalah sebesar 0.57, sehingga dengan sistem integrasi usaha sapi potong memiliki daya saing. Lebih lanjut dinyatakan bahwa keunggulan ini diperoleh karena dapat mengefisienkan pemanfaatkan jerami padi sebagai sumber pakan. Kesimpulan yang sama dinyatakan Marjaya et al. (2013) bahwa pola integrasi jagung sapi yang memanfaatkan jerami jagung sebagai sumber pakan di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur memiliki DRC kurang dari satu yaitu sebesar 0.33.
Berkenaan dengan bangsa sapi yang digemukkan, bangsa sapi lokal yang digemukan di Indonesia termasuk persilangannya memiliki daya saing. Hal tersebut tercermin dari nilai DRC kurang dari 1, baik pada komoditas sapi lokal sebesar 0.08-0.54 (Perdana 2003; Yuzaria dan Suryadi 2011) dan sapi persilangan lokal sebesar 0.81-0.94 (Indrayani 2011). Dengan demikian pemilihan bangsa sapi yang digemukkan telah sesuai dengan kondisi di Indonesia, sebab mampu menunjukan kinerja yang baik. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai DRC kurang dari satu.
Biaya input tenaga kerja yang bersaing
Konsep Domestic Resources Cost dalam aplikasinya membagi variabel biaya kedalam 2 kategori yaitu biaya input tradable dan faktor domestik seperti tenaga kerja, modal dan lahan. Upah tenaga kerja di Indonesia dapat bersaing dengan beberapa negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Thailand (NPWC 2013). Penelitian Indrayani (2011) di 2 kecamatan di Kabupaten Agam menunjukan perbedaan capaian nilai DRC yaitu, usaha sapi potong di Kecamatan Puar memiliki nilai DRC sebesar 0.94, sedangkan di Kecamatan Tilatang Kamang sebesar 0.81. Lebih lanjut dinyatakan bahwa perbedaan tersebut dipengaruhi secara simultan oleh beberapa faktor, diantaranya biaya tenaga kerja yang yaitu sebesar Rp397 775/ekor di Kecamatan Tilatang Kamang sedangkan di Kecamatan Puar dibutuhkan Rp1 300 042/ekor. Dengan demikian, upah tenaga kerja yang murah dapat medorong peningkatan daya saing.
Nilai DRC usaha sapi potong di beberapa daerah di Indonesia menunjukan angka kurang dari satu atau berdaya saing. Hal ini juga menunjukan bahwa untuk menghasilkan nilai tambah output sapi potong, maka dibutuhkan faktor domestik seperti tenaga kerja yang lebih sedikit dibandingkan nilai tambahnya. Upah tenaga kerja merupakan salah satu faktor biaya produksi usaha sapi potong. Oleh karena itu, kausalitas antara biaya tenaga kerja dengan daya saing dapat dianalogikan dengan efisiensi biaya input. Muthalib et al. (2010) berpendapat input tradable
maka daya saing semakin besar, peningkatan efisiensi sebesar satu satuan akan meningkatkan daya saing sebesar 0.63 satuan. Demikian halnya pada efisiensi upah tenaga kerja, semakin efisien tenaga kerja maka daya saing diharapkan akan semakin tinggi. Oleh karena itu usaha peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan kebijakan yang perlu terus dilakukan guna meningkatkan daya saing usaha sapi potong. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, penyuluhan maupun penyebaran informasi melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak. Kinerja hasil teknologi produksi sapi potong
Kinerja produksi sapi potong dapat tercermin dari pertambahan bobot badan harian sapi potong dan kinerja sapi persilangan. Pertambahan bobot badan harian merupakan dampak dari penerapan teknologi pada komoditas sapi potong di tingkat on farm. Oleh karena itu, maka daya saing dapat dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan harian sapi. Penelitian Indrayani (2011) menyebutkan dengan PBBH sebesar 0.56 kg/ekor/hari maka sapi potong di Kecamatan Sungai Puar memiliki nilai DRC sebesar 0.94 dan sebaliknya capaian daya saing sapi potong di Kecamatan Tilatang Kamang lebih tinggi dengan nilai DRC sebesar 0.812 sebab PBBH di Kecamatan tersebut mencapai 0.75 kg/ekor/hari.
Penyediaan bibit unggul merupakan faktor yang dapat meningkatkan daya saing (Marques et al. 2011). Data Kementan (2012b) menyebutkan bahwa bobot badan sapi bali siap potong di Indonesia sebesar 276 + 62 kg/ekor sedangkan bobot sapi persilangan siap potong mencapai 370 + 76 kg/ekor. Schutt et al.
(2009) melaporkan bahwa penggemukan sapi Brahman di Australia dapat mencapai bobot badan 394 + 94 kg/ekor, sementara Soeharsono et al. (2010) menyebutkan penggemukan sapi bakalan persilangan Brahman dengan menggunakan bahan pakan lokal dapat menghasilkan bobot akhir sapi sebesar 569 + 66 kg/ekor.
Bobot akhir sapi potong dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan harian (PBBH), berbagai penelitian yang ada menunjukan adanya keragaman capaian PBBH sapi bali yaitu dapat mencapai 0.34 kg/ekor/hari jika diberi pakan hijauan saja sedangkan dengan penambahan konsentrat dan probiotik dapat mencapai 0.53-0.57 kg/ekor/hari (Utomo et al. 2009; Suyasa dan Sugama 2012). Sementara PBBH sapi impor persilangan Brahman dapat mencapai 1.42 kg/ekor/hari (Soeharsono et al. 2010) sedangkan Schutt et al. (2009) menyebutkan sebesar 1.064 kg/ekor/hari. Nilai ini menunjukan efisiensi usaha sapi penggemukan sapi lokal masih rendah. Hal ini sesuai penelitian Indrayani (2011) yang menunjukan bahwa capaian nilai DRC sapi lokal mendekati nilai satu atau berdaya saing lemah. Oleh karena itu, upaya perbaikan usaha penggemukan sapi lokal meliputi peningkatan mutu pakan, manajemen budidaya serta penyediaan bibit sapi unggul perlu dilakukan sehingga usaha sapi potong dapat lebih bersaing.
efisiensi karena sistem pemeliharaan yang berbeda, antara lain: (1) lama penggemukan peternakan rakyat adalah 185 hari namun perusahaan 68-90 hari; (2) produktivitas pertambahan bobot sapi lokal sebanyak 0.53 kg/ekor/hari sedangkan bakalan impor antara 1.26-1.32 kg/ekor/hari dan 3) asupan pakan sapi lokal mengandalkan hijauan sementara bakalan impor dilengkapi konsentrat.
Penelitian Yuzaria dan Suryadi (2011) juga menyimpulkan hal yang sama bahwa peternakan rakyat kurang berdaya saing dibandingkan perusahaan penggemukan. Hal tersebut tercermin dari DRC peternakan rakyat sebesar 0.54 sedangkan perusahaan penggemukan sapi potong 0.18. Hal ini bermakna jika pemeliharaan semakin baik maka dapat meningkatkan daya saing yang dicapai. Potensi permintaan daging sapi domestik
Berkaitan dengan aspek pasar, maka kebutuhan permintaan daging sapi di Indonesia yang belum sepenuhnya dipasok dari domestik merupakan peluang untuk mengembangkan usaha sapi potong. Data Kementan (2012c) menunjukan produksi daging sapi domestik belum mampu memenuhi permintaan pasar daging sapi, sebagai contoh pada tahun 2010 dari permintaan daging sapi sebesar 417 ribu ton, maka baru terpenuhi oleh produksi domestik sebesar 195 ribu ton. Demikian halnya pada tahun 2012, dari permintaan daging sapi sebesar 509 ribu ton baru terpenuhi sebanyak 414 ribu ton. Di sisi lain, akan diberlakukannya pasar bebas dalam komoditas sapi potong dapat juga mempengaruhi industri sapi potong di Indonesia.
Semakin terbukanya pasar maka dapat meningkatkan skala ekonomi usaha dengan asumsi terdapat kemampuan dalam melakukan hal tersebut. Skala ekonomi salah satunya dicapai melalui peningkatan jumlah sapi yang digemukkan. Penelitian Muthalib et al. (2010) menyimpulkan jumlah sapi yang dipelihara memiliki kausalitas positif terhadap daya saing dengan koefisien sebesar 0.510. Sementara itu Perdana (2003) berpendapat peternakan rakyat dengan skala usaha 3 ekor sapi per peternak memiliki nilai DRC sebesar 0.08 lebih tinggi dibandingkan DRC perusahaan yang mencapai 0.01-0.02 dengan skala usaha antara 9-1 466 ekor.
Skala ekonomi dapat juga diperoleh melalui penurunan biaya produksi. Ilham (2009) berpendapat alasan mengapa harga daging sapi domestik lebih mahal dibandingkan daging impor yaitu berkenaan dengan biaya pemasaran yang tinggi seperti tingginya biaya transportasi, penyusutan bobot badan sapi selama transportasi, retribusi dan pungutan liar. Berkenaan dengan tingginya biaya transportasi maka berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) yaitu indeks persepsi logistik sebuah negara didasarkan kepada efisensi proses izin bea cukai, infrastruktur, biaya pengapalan, penelusuran pengiriman (track and trace) serta ketepatan waktu pengiriman sesuai jadwal diketahui bahwa nilai LPI Indonesia tahun 2014 sebesar 3.08 dimana nilai ini masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia (3.59), Thailand (3.43), Vietnam (3.15) dan Singapura (4.00) namun sedikit lebih baik dari Philipina (3.00) (Arvis et al.
2014).
murah dibandingkan biaya pengiriman ternak atau daging sapi dari Nusa Tenggara ke Jakarta yang mencapai Rp3000/kg. Lebih lanjut disebutkan bahwa selain masalah ongkos pengiriman, dukungan sarana dalam sistem logistik sapi potong juga masih kurang memadai seperti kurangnya alat pengangkutan baik laut atau darat, pengangkutan ternak sapi masih menggunakan kapal kayu atau kargo berkapasitas kecil (300-500 ekor), bongkar muat sapi yang kurang memperhatikan kenyamanan sapi serta belum tersedianya secara merata tempat pengumpulan sapi (holding ground) sebagai tempat penampungan sementara maupun karantina ketika sebelum naik atau turun kapal. Secara terperinci Harianto (2013b) mengusulkan bahwa solusi guna mengatasi permasalahan sistem logistik daging sapi meliputi: 1) penambahan jumlah dan jenis sarana angkutan, 2) penyediaan angkutan khusus sapi atau daging sapi, 3) melengkapi pelabuhan dengan box pendingin (cold storage), serta 4) integrasi kebijakan antar kementerian maupun pemerintah dan swasta. Olehkarena itu perbaikan dalam sistem logistik Indonesia harus terus dilakukan sehingga dapat meningkatkan daya saing sapi potong Indonesia.
Berdasarkan tinjauan beberapa penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa usaha sapi potong di Indonesia memiliki daya saing, hal ini ditunjukan dengan perolehan nilai DRC usaha sapi potong di beberapa daerah yang kurang dari satu, walaupun di beberapa daerah nilainya DRC-nya mendekati satu. Berdasarkan capaian nilai DRC tersebut maka sebenarnya Indonesia lebih menguntungkan untuk memproduksi daging sapi sendiri dibandingkan dengan mengimpor daging dari luar. Sebagai contoh, dengan nilai DRC sebesar 0.85 berarti untuk menghasilkan 100 satuan nilai tambah maka biaya domestik yang dibutuhkan hanya sebesar 85 satuan. Hal ini bermakna, jika impor daging sapi selama ini dapat diproduksi di dalam negeri maka sebenarnya Indonesia dapat menghemat devisa sebesar 15%. Data Kementan (2013b) menunjukan impor daging sapi di tahun 2012 sekitar 39 ribu ton atau setara dengan US$165 juta, apabila daging tersebut dapat diproduksi dalam negeri maka Indonesia sebenarnya Indonesia dapat menghemat sebesar US$24.75 juta atau setara dengan Rp247.5 milyar, terlebih lagi jika memperhitungkan sapi impor siap potong maupun sapi bakalan maka penghematan tersebut dapat lebih meningkat.
Berbeda dengan kondisi di Indonesia, daya saing produk daging sapi negara Eropa justru tidak berdaya saing karena memiliki nilai DCR lebih dari satu dengan kecenderungan nilainya terus meningkat-semakin tidak berdaya saing (Banse et al. 1999; Gorton et al. 2000; Bojnec 2003). Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa faktor yang menyebabkan lemahnya daya saing produk daging sapi adalah skala usaha yang masih kecil dan belum memiliki efisiensi teknis serta adanya kebijakan proteksi produsen oleh pemerintah sehingga harga aktual output lebih tinggi dibandingkan harga di pasar internasional.
sebesar 4.23), kondisi ini menggambarkan terdapat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar yang memperlemah daya saing komoditas daging sapi.
Kajian daya saing produk daging sapi Bulgaria dan Ceko telah dilakukan Gorton (2000) menggunakan metode RCA dan DCR untuk periode 1994-1996, kesimpulannya kedua negara tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif produk daging sapi yang disebabkan oleh skala usaha yang masih kecil dan belum mencapai efisiensi teknis.
Penelitian daya saing peternakan untuk negara Eropa Tengah dan Timur (Bulgaria, Ceko, Hongaria, Polandia, Rumania, Slowakia dan Slovenia) menggunakan metode Berlian Porter, PAM dan perdagangan internasional dilakukan Bojnec (2003). Berdasarkan analisis PAM, sektor komoditas sapi potong dan daging sapi ketujuh negara tersebut umumnya tidak unggul bahkan produk daging sapi negara Slowakia dan Rumania sangat tidak menguntungkan (nilai DCR negatif). Berkebalikan dengan negara lainnya, produk daging sapi Bulgaria pada periode 1996 memiliki keunggulan komparatif dengan nilai DCR 0.4. Adapun produk lain yang memiliki keunggulan komparatif adalah daging babi negara Bulgaria (1989-1997) dan Slowakia (1992-1993).
Metode lain yang digunakan dalam mengukur tingkat daya saing adalah
Social Cost-Benefit Ratio (Master dan Winter-Nelson 1995; Liefert 2002; Nivievskyi dan von Cramon-Taubadel 2008) metode ini menggunakan data yang sama untuk menghitung nilai DRC namun dengan persamaan yang berbeda. Nivievskyi dan von Cramon-Taubadel (2008) melakukan penelitian menggunakan data sebanyak 11 131 peternak sapi perah Ukraina selama tahun 2004-2005, hasil penelitiannya diketahui bahwa hanya terdapat 16% peternak sapi perah yang memiliki daya saing di tahun 2004 kemudian meningkat menjadi 20% di tahun 2005. Sementara Liefert (2002) menelaah keunggulan komparatif sektor pertanian Rusia periode 1996-1997, kesimpulannya produk daging sapi Rusia tidak memiliki keunggulan komparatif tercermin dari nilai SCB sebesar 6.61 namun demikian nilai ini masih lebih baik dibandingkan produk daging babi dan unggas sebesar 8.21 dan 13.45.
Penelitian Daryanto (2009) menunjukan hasil yang berbeda, bahwa berdasarkan pengukuran RCA ternak hidup maupun daging/olahannya, Indonesia tidak memilki keunggulan karena nilai RCA yang kurang dari 1 yaitu 0.4 dan 0.1. Kondisi daya saing sektor peternakan (sapi potong) yang lemah atau tidak berdaya saing juga disimpulkan Selli et al. (2010) yang melakukan studi daya saing internasional sektor peternakan Turki menggunakan metode Diamond Porter, bahwa sektor peternakan Turki memiliki daya saing yang lemah dan Turki bisa menjadi target pasar dari negara Uni Eropa atau negara pengekspor komoditas pertanian lainnya.