Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal

210  412 

Teks penuh

(1)

TESIS

TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK

ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG

OVERSTATED

DI PASAR MODAL

OLEH :

WINDY SRI WAHYUNI 117005003/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK

ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG

OVERSTATED

DI PASAR MODAL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum Dalam Program Magister Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara OLEH :

WINDY SRI WAHYUNI 117005003/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

JUDUL TESIS : TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG

OVERSTATED DI PASAR MODAL

NAMA : Windy Sri Wahyuni

NIM : 117005003

PROGRAM STUDI : Ilmu Hukum

Menyetujui, Komisi Pembimbing

( Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH K e t u a

)

( Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum ) ( Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH

A n g g o t a A n g g o t a

)

Ketua Program Studi Ilmu Hukum Dekan

( Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH ) ( Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum )

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 27 Agustus 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH Anggota : 1. Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum

2. Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH

(5)

ABSTRAK

Akuntan publik merupakan profesi penunjang Pasar Modal yang membantu perusahaan dalam menerapkan prinsip keterbukaan. Akuntan publik berwenang memeriksa laporan keuangan perusahaan secara independen untuk menghasilkan pendapat mengenai kewajaran atas laporan keuangan. Tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan hanya terhadap pendapat yang diberikannya. Rumusan masalah yang dibahas di dalam penulisan ini yaitu independensi akuntan publik di pasar modal, penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar modal, dan tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di pasar modal. Penulisan ini dianalisis dengan menggunakan teori profesional liability

dan prinsip keterbukaan di pasar modal.

Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah penulisan yuridis normatif dengan menggunakan bahan-bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Penulisan ini menggunakan teknik penulisan kepustakaan, yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Berdasarkan hasil penulisan ini, dapat diketahui bahwa independensi akuntan publik di pasar modal mencakup aspek independensi penampilan dan independensi pemikiran, penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar modal ditentukan jika laporan keuangan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material yang menghasilkan pendapat wajar tanpa pengecualian, tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di pasar modal yakni terhadap pendapat yang diberikannya termasuk kerugian yang timbul dan akuntan publik dapat dikenakan sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana.

Kata kunci: Tanggung Jawab Akuntan Publik, Laporan Keuangan yang

Overstated.

1. Ketua Komisi Pembimbing. 2. Dosen Pembimbing Kedua. 3. Dosen Pembimbing Ketiga.

(6)

ABSTRACT

Public Accountant is supporting of professional the capital market that help company in implementing the principle of transparency. Public accountant have authority to review the financial statements that independent to produce a fairness opinion regarding the financial statements. Liability of public accountant on the financial statements only to the opinion that it provides. The problems discussed in this study is the independence of public accountant in the capital market, public accountant opinion on the financial statements in the capital market, and liability of public accountant on the financial statements that overstated in the capital market. This study were analyzed by using the theory of professional liability and the principles of transparency in the capital market.

The method used in this thesis is a normative research using primary legal materials, secondary, and tertiary. This study uses library research techniques, which further analyzed qualitatively

Based on these results, the independence of public accounting in capital market include aspects of the appearance of independence and independence of thought, public accountant opinion on the financial statements in capital market determined if the financial statements present fairly in all material respects that produces unqualified opinion, the liability of public accountant on the financial statements that overstated in the capital markets of the opinion that it provides, including losses incurred and public accountant may be given administrative sanctions, civil penalties and criminal sanctions.

.

Keywords: Public Accountant Liability, Financial Statements overstated.

1. The Chief Of Guide Committee 2. The Second Guide Committee 3. The Third Guide Committee

(7)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji dan syukur Penulis ucapan kepada

Allah SWT atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya kepada Penulis sehingga Penulis

dapat menyelesaikan Penulisan Tesis ini tepat pada waktunya. Begitu pula shalawat

beriring salam Penulis ucapkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW

(Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad Wa Ala Alihi Sayyidina Muhammad).

Tesis ini disusun guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat

untuk memperoleh gelar Magister Hukum di Universitas Sumatera Utara dimana hal

tersebut merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan

perkuliahannya. Adapun judul Tesis yang Penulis kemukakan: “Tanggung Jawab

Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal”.

Dalam penulisan Tesis ini, Penulis telah mendapat banyak bantuan,

bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu Penulis mengucapkan terima

kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada “

“Kedua Orang Tua Penulis, yang selalu dengan tulus mencintai dan

menyayangi Penulis memberikan perhatian dan kasih sayang, Ayah ‘Amiruddin’

dan Ummi ‘Wagini’ karena semangat, pengorbanan, tetesan keringat, ketulusan,

kesabaran, keikhlasan serta cinta yang mengalir setiap detik kepada

anak-anaknya menjadi motivasi yang tak pernah putus dalam menjalani hidup. Tiada

kata seindah doa yang dapat Penulis ucapkan semoga ayah dan ummi diberikan

(8)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Prof. Dr. dr. Syahril

Pasaribu, DTM&H, M.Sc.(CTM), Sp.A(K).

2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Magister

Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai dosen pembimbing

ketiga yang telah banyak membantu penulis.

4. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, SH., M.H selaku Ketua Komisi Pembimbing

Penulis yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan.

5. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., selaku dosen pembimbing kedua

yang telah berkenan untuk mengarahkan penulis dan memberikan bimbingan

serta dukungan yang sangat bermanfaat dalam penyelesaian penulisan tesis ini.

6. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., C.N., M.Hum., selaku dosen penguji yang

telah banyak memberikan saran yang sangat membantu dalam penyempurnaan

tesis ini.

7. Ibu Dr. Utary Maharany Barus, S.H., M.Hum., selaku dosen penguji yang telah

banyak memberikan saran yang sangat membantu dalam penyempurnaan tesis

ini.

8. Seluruh Staf Pengajar Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan membimbing

(9)

9. Seluruh pegawai administrasi Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara : Kak Fitri, Kak Juli, Kak Fika, Kak Yani, Bu Ganti,

Bu Niar, Bang Hendra yang telah banyak memberikan bantuan kepada seluruh

mahasiswa/i, mulai dari kami masuk kuliah hingga menyelesaikan perkuliahan di

Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum tercinta.

10.Adikku tersayang Octarina Yuhani yang terus memberikan motivasi agar Penulis

menyelesaikan Tesis ini.

11.Sahabat-sahabat Penulis tersayang Beby Suryani Fithri dan Irma Lusiana

Khajjani Ritonga yang telah memberikan Penulis mengerti akan artinya

persahabatan dan persaudaraan yang dilandaskan cinta-Nya.

12.Saudara seiman, seaqidah, seperjuangan, sekaligus keluarga baru yang sangat

luar biasa: kak putri, kak cici, kak devi, kak sarah, kak arinil, kak elfi, kak fiqi,

kak eno, sasika, okky, kak farida, dan kak fitri yang selalu mengingatkan penulis

bahwa Allah selalu ada diantara kita dan semoga kelak kita akan bertemu di

syurga-Nya.

13.Sahabat dan adik kos 22 : Aya, Lidya, Mona, Ainun, Meli, Ama, Nurul, Mutia,

Uni, dan Kia yang selalu membuat Penulis merindukan mereka dan selalu

mendukung Penulis menyelesaikan tesis ini secepatnya.

14.Sahabat sekaligus saudara seperjuangan Penulis stambuk 2011, Miranda, Meisy,

Kak Yandi, Kak Elisabet, Kak Kasih, Kak Melda, Bang Poltak, bang Dimas,

(10)

namanya yang telah membantu penulis dan berdiskusi tentang apa saja yang

menambah pengetahuan.

15.Adik-adik tercinta di BTM ALADDINSYAH, SH: Fika Habbina, Ida, Wilda,

Arija, Elly, Ambar, Dwi, Dina, Tasya, Solatia, Ai, Rabithah, Hafni, Fika, Ainul

dan seluruh adik-adik yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena dukungan

dan cinta dari kalian maka penulis terus semangat dalam pengerjaan tesis ini,

semoga Allah mempertemukan kita di syurga-Nya dalam ikatan cinta

karena-Nya.

Penulis menyadari akan ketidaksempurnaan hasil Penulisan tesis ini karena

Kesempurnaan hanyalah Allah SWT yang punya, oleh sebab itu besar harapan

Penulis kepada semua pihak agar memberikan kritik dan saran yang konstruktif guna

menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik dan sempurna, baik dari segi

materi maupun cara penulisannya di masa mendatang.

Dengan bantuan dan dukungan yang telah Penelti dapatkan akhirnya dengan

menyerahkan diri dan senantiasa memohon petunjuk serta perlindungan dari Allah

SWT semoga amalan dan perbuatan baik tersebut mendapat imbalan dengan yang

lebih baik. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Medan, Agustus 2013

(11)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI

Nama : Windy Sri Wahyuni

Tempat / Tlg Lahir : Penggalangan/14 Oktober 1989

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Jl. Yos Sudarso Bukit Jamu No. 68 Tebing Tinggi

PENDIDIKAN FORMAL

1995-2001 : SD Negeri 104 304 Desa Pon

2001-2004 : SMP Negeri 2 Desa Pon

2004-2007 : SMA Negeri 1 Tebing Tinggi

2007-2010 : S1 Fakultas Hukum Departemen Hukum Ekonomi

Universitas Sumatera Utara

PENDIDIKAN NON FORMAL

2005 : Kursus Bahasa Inggris di Bina Karya, Tebing Tinggi

2005 : Kursus Komputer di Bina Karya, Tebing Tinggi

2006 : Kursus Bahasa Inggris di Bina Karya, Tebing Tinggi

2006 : Bimbingan Belajar di Medica, Tebing Tinggi

(12)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vii

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Keaslian Penelitian ... 10

F. Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual ... 12

1. Kerangka Teoritis ... 12

2. Kerangka Konseptual ... 27

G. Metode Penelitian ... 29

1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 29

2. Sumber Data ... 30

3. Teknik Pengumpulan Data ... 31

4. Analisis Data ... 32

(13)

A. Pasar Modal ... 34

1. Pengertian Pasar Modal ... 34

2. Peranan dan Manfaat Pasar Modal ... 37

3. Sejarah Pasar Modal Indonesia ... 40

4. Instrumen Pasar Modal ... 43

5. Pelaku Pasar Modal ... 46

B. Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal ... 66

1. Pengertian Prinsip Keterbukaan ... 66

2. Tujuan Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal ... 68

3. Pengaturan Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal ... 70

C. Akuntan Publik di Pasar Modal ... 73

1. Pengertian Akuntan Publik ... 73

2. Persyaratan Akuntan Publik di Pasar Modal ... 75

3. Tugas Akuntan Publik di Pasar Modal ... 77

4. Hubungan Akuntan Publik dengan Prinsip Keterbukaan ... 78

D. Independensi Akuntan Publik di Pasar Modal ... 83

1. Pengertian Independensi Akuntan Publik ... 83

2. Dasar Hukum dan Etika Profesi Akuntan Publik ... 86

3. Aspek-aspek Independensi Akuntan Publik di Pasar Modal ... 90

BAB III PENENTUAN PENDAPAT AKUNTAN PUBLIK ATAS LAPORAN KEUANGAN DI PASAR MODAL ... 98

(14)

1. Dasar Hukum Pembuatan Laporan Keuangan Perseroan

Terbatas ... 98

2. Isi Laporan Keuangan Perseroan Terbatas ... 99

3. Peran Organ Perseroan Terbatas dalam Pembukuan dan

Pengesahan Laporan Keuangan ... 106

B. Pemeriksaan Laporan Keuangan Akuntan Publik (Auditing) ... 110

1. Tujuan Pemeriksaan Laporan Keuangan Emiten dan

Perusahaan Publik ... 110

2. Pemeriksaan Laporan Keuangan sebagai Bagian Pelaksanaan

Prinsip Keterbukaan dan Perlindungan Investor Publik ... 115

3. Pemeriksaan Laporan Keuangan oleh Akuntan Publik di Pasar

Modal ... 117

C. Penentuan Pendapat Akuntan Publik atas Laporan Keuangan

di Pasar Modal ... 124

1. Jenis-jenis Pendapat Akuntan Publik ... 124

2. Manfaat Pendapat Akuntan Publik bagi Investor di Pasar

Modal ... 131

3. Hubungan Materialitas dengan Pendapat Akuntan Publik ... 133

BAB IV TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK ATAS LAPORAN KEUANGAN YANG OVERSTATED

DI PASAR MODAL ... 136

A. Tanggung Jawab Profesional Akuntan Publik ... 136

(15)

2. Tanggung Jawab Profesional Akuntan Publik ... 138

B. Laporan Keuangan yang Overstated ... 150

1. Pengertian Laporan Keuangan yang Overstated ... 150

2. Terjadinya Laporan Keuangan yang Overstated ... 151

3. Kasus Laporan Keuangan Emiten/Perusahaan Publik yang Overstated ... 157

4. Analisis Hukum atas Laporan Keuangan yang Overstated ... 158

C. Pemeriksaan Laporan Keuangan sebagai Bagian Pelaksanaan yang Overstated di Pasar Modal ... 161

1. Tanggung Jawab Profesional ... 161

2. Tanggung Jawab Hukum Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated ... 168

a. Tanggung Jawab Perdata ... 171

b. Tanggung Jawab Pidana ... 175

c. Tanggung Jawab Administrasi ... 178

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 182

A. Kesimpulan ... 182

B. Saran ... 185

(16)

ABSTRAK

Akuntan publik merupakan profesi penunjang Pasar Modal yang membantu perusahaan dalam menerapkan prinsip keterbukaan. Akuntan publik berwenang memeriksa laporan keuangan perusahaan secara independen untuk menghasilkan pendapat mengenai kewajaran atas laporan keuangan. Tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan hanya terhadap pendapat yang diberikannya. Rumusan masalah yang dibahas di dalam penulisan ini yaitu independensi akuntan publik di pasar modal, penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar modal, dan tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di pasar modal. Penulisan ini dianalisis dengan menggunakan teori profesional liability

dan prinsip keterbukaan di pasar modal.

Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah penulisan yuridis normatif dengan menggunakan bahan-bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Penulisan ini menggunakan teknik penulisan kepustakaan, yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Berdasarkan hasil penulisan ini, dapat diketahui bahwa independensi akuntan publik di pasar modal mencakup aspek independensi penampilan dan independensi pemikiran, penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar modal ditentukan jika laporan keuangan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material yang menghasilkan pendapat wajar tanpa pengecualian, tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di pasar modal yakni terhadap pendapat yang diberikannya termasuk kerugian yang timbul dan akuntan publik dapat dikenakan sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana.

Kata kunci: Tanggung Jawab Akuntan Publik, Laporan Keuangan yang

Overstated.

1. Ketua Komisi Pembimbing. 2. Dosen Pembimbing Kedua. 3. Dosen Pembimbing Ketiga.

(17)

ABSTRACT

Public Accountant is supporting of professional the capital market that help company in implementing the principle of transparency. Public accountant have authority to review the financial statements that independent to produce a fairness opinion regarding the financial statements. Liability of public accountant on the financial statements only to the opinion that it provides. The problems discussed in this study is the independence of public accountant in the capital market, public accountant opinion on the financial statements in the capital market, and liability of public accountant on the financial statements that overstated in the capital market. This study were analyzed by using the theory of professional liability and the principles of transparency in the capital market.

The method used in this thesis is a normative research using primary legal materials, secondary, and tertiary. This study uses library research techniques, which further analyzed qualitatively

Based on these results, the independence of public accounting in capital market include aspects of the appearance of independence and independence of thought, public accountant opinion on the financial statements in capital market determined if the financial statements present fairly in all material respects that produces unqualified opinion, the liability of public accountant on the financial statements that overstated in the capital markets of the opinion that it provides, including losses incurred and public accountant may be given administrative sanctions, civil penalties and criminal sanctions.

.

Keywords: Public Accountant Liability, Financial Statements overstated.

1. The Chief Of Guide Committee 2. The Second Guide Committee 3. The Third Guide Committee

(18)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal secara tegas

mewajibkan setiap perusahaan yang menawarkan efeknya melalui pasar modal atau

disebut emiten untuk mengungkapkan seluruh informasi mengenai keadaan usahanya,

termasuk keadaan keuangan, aspek hukum, manajemen, dan harta kekayaan

perusahaan (full disclosure) kepada masyarakat.1

Profesi penunjang pasar modal turut bertanggung jawab dalam

mengembangkan pasar modal. Pekerjaan utama dari profesi penunjang pasar modal

adalah membantu emiten dalam proses go public dan dalam memenuhi persyaratan

mengenai keterbukaan yang sifatnya terus menerus. Profesi penunjang pasar modal,

untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, perlu memiliki pengetahuan yang memadai

mengenai Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya serta ikut

bertanggung jawab terhadap kepatuhan atau ketaatan emiten yang menjadi pengguna

jasanya dalam rangka mematuhi ketentuan pasar modal yang berlaku, dan secara aktif

memberikan nasihat kepada nasabahnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku.

2

1

Adrian Sutedi, Segi-Segi Hukum Pasar Modal, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 4. Integritas, profesionalisme dan independensi profesi penunjang pasar modal sangatlah

penting. Salah satu tolak ukur yang dipakai untuk menilai profesionalisme yang

dimiliki oleh profesi penunjang pasar modal adalah kemampuan untuk memberikan

2

(19)

informasi kepada masyarakat investor mengenai nilai wajar harta kekayaan

perusahaan yang go public. 3

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 64 ayat (1)

menyatakan bahwa Profesi Penunjang Pasar Modal terdiri dari:4

a. Akuntan

b. Konsultan hukum c. Penilai

d. Notaris, dan

e. Profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

Profesi penunjang pasar modal yang sering menjadi sorotan pelaku bursa

adalah akuntan publik. Akuntan publik adalah pihak yang memiliki kewenangan

memeriksa laporan keuangan emiten, guna memberikan pendapat atas laporan

keuangan yang dipublikasikan oleh emiten. Akuntan publik juga selalu menjadi

narasumber atas kebenaran laporan keuangan emiten dalam periode akhir tahun

pembukuan. Meskipun profesi akuntan publik lebih banyak membantu emiten,

pemodal bisa memanfaatkan akuntan publik sebagai sumber informasi tentang

laporan keuangan emiten. Laporan keuangan merupakan informasi penting, karena

pengambilan keputusan investasi dimulai dari indikator keuangan ini. Sehingga

pemodal sangat berkepentingan dengan pendapat yang dibuat akuntan publik. 5

Menurut John A. Prasetio, setiap perusahaan yang go public secara periodik

harus melaporkan pertanggungjawaban atas pengelolaan berbagai sumber ekonomi

3

Ibid., hlm. 131.

4

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

5

(20)

yang dikuasai oleh perusahaan tersebut. Laporan pertanggungjawaban itu diperiksa

oleh pihak yang independen yaitu akuntan publik. Laporan tersebut disusun dengan

aturan yang berlaku yaitu standar akuntansi keuangan dan peraturan lainnya. Sebelum

go public, kebanyakan perusahaan adalah milik keluarga. Biasanya sistem

pertanggungjawaban keuangannya dibuat oleh internal auditor, masih sederhana, dan

tidak memakai standar akuntansi tertentu. Laporan keuangan yang disajikan secara

sederhana sering tidak akurat dan tidak konsisten. Sehingga, kata John, sebelum go

public perusahaan-perusahaan itu selalu melakukan restrukturisasi operasional,

modal, termasuk perombakan sistem akuntansi mereka. Akuntan membantu agar

mekanisme kerja manajemen dari segi pelaporan keuangannya menjadi lebih efisien

dan baik.

Laporan keuangan sebenarnya merupakan tanggung jawab manajemen

perusahaan, sedangkan tanggung jawab akuntan publik terletak pada pernyataan

pendapat atas laporan keuangan berdasarkan hasil audit. Pada umumnya akuntan

publik melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia (IAI). Standar tersebut mengharuskan akuntan publik

merencanakan dan melaksanakan audit agar akuntan publik memeroleh keyakinan

yang memadai bahwa laporan keuangan konsolidasi itu bebas dari salah saji secara

material.6

Akuntan publik adalah pihak yang memberikan pendapat atas kewajaran

dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, serta arus kas sesuai

6

(21)

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.7 Pemilihan akuntan publik didasarkan

pada beberapa faktor, yaitu pengalaman berhubungan dengan Badan Pengawas Pasar

Modal dan menguasai proses penawaran umum, serta mempunyai reputasi yang

baik.8 Akuntan yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal wajib terlebih dahulu

terdaftar di Bapepam untuk mendapatkan Surat Tanda Daftar Profesi Penunjang Pasar

Modal untuk akuntan publik. Akuntan publik berperan dalam mengungkapkan

informasi keuangan perusahaan dan memberikan pendapat mengenai kewajaran atas

data yang disajikan dalam laporan keuangan.9

Akuntan publik memberikan laporan atau penilaian kelayakan laporan

keuangan emiten. Laporan-laporan tersebut antara lain: neraca, laporan rugi laba,

laporan perubahan emiten. Akuntan publik yang melakukan tugas ini harus yang

dianggap kredibel. Hasil penelitian oleh akuntan publik kemudian diumumkan

kepada masyarakat dan akan dijadikan pedoman pihak-pihak pengambil keputusan di

pasar modal, terutama investor. 10

Akuntan publik melakukan pemeriksaan terhadap segala aspek keuangan dan

pembukuan perusahaan bukan hanya untuk tahun buku yang sedang berjalan, tapi

juga beberapa tahun sebelum penawaran umum tersebut dilaksanakan. Akuntan juga

melakukan penelitian segala aspek keuangan perusahaan, laporan keuangan beberapa

tahun sebelumnya dan estimasi-estimasi di bidang keuangan dan juga rencana

cash-7

Adrian Sutedi., Op. cit., hlm. 30.

8

Asril Sitompul, Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya), (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004), hlm. 52.

9

Adrian Sutedi., Loc. cit.

10

(22)

flow (aliran kas) perusahaan. Pada masa penawaran umum ini perusahaan penilai

(appraisal) akan menilai perusahaan (valuation) dan untuk itu, akuntan harus

memperhatikan dengan teliti jalannya penilaian ini untuk menghindarkan

kemungkinan terjadinya penipuan dalam penilaian tersebut, antara lain dengan

melakukan “mark up” yaitu menaikkan nilai perusahaan dari nilai yang sebenarnya

atau “overstated” yaitu penggelembungan laba perusahaan ataupun dengan “

window-dressing” atau perbaikan pembukuan perusahaan dengan mencantumkan angka-angka

yang tidak benar agar perusahaan tampak sehat.11 Akuntan publik, dengan

memperlihatkan keterbatasan yang ada di dalam proses pemeriksaan, harus

melaksanakan pemeriksaan sedemikian rupa, termasuk antisipasi kemungkinan

adanya kekeliruan atau penyelewengan. Pemeriksaan ini tidak saja dilakukan atas

catatan dan bukti yang diterima dari emiten, tetapi mencakup prosedur lain seperti

pengkajian analitis, inspeksi, pengamatan, tanya jawab, konfirmasi dan prosedur lain

yang perlu. Pemeriksaan ini tidak menjamin ditentukannya semua kekeliruan dan

penyelewengan. Apabila pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan norma

pemeriksaan akuntan maka tanggung jawab profesional Akuntan Publik telah

terpenuhi. Akuntan Publik akan dianggap lalai, bila gagal menemukan kecurangan

yang terjadi karena kelalaiannya untuk mematuhi norma pemeriksaan.12

Tanggung jawab Akuntan Publik atas laporan keuangan yang diperiksa berada

pada pernyataan pendapat yang diberikan. Tujuan pemeriksaan adalah untuk

11

Asril Sitompul (1), Due Diligence dan Tanggung Jawab Lembaga-Lembaga Penunjang

pada Proses Penawaran Umum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 38-39.

12

(23)

memberikan pendapat apakah laporan keuangan itu mencerminkan secara wajar

posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan perusahaan sesuai

dengan Prinsip Akuntansi Indonesia, yang diterapkan secara konsisten. Perlu disadari

bahwa emiten dapat memerintahkan karyawannya untuk mencatat atau

menyembunyikan transaksi dengan cara tertentu, sehingga menghasilkan laporan

keuangan yang menyesatkan atau, melakukan penyelewengan, apabila ia dengan

sengaja melanggar prosedur pengendalian intern yang ada. Di sini, kita dihadapkan

dengan integritas emiten. Pemeriksaan tidak akan berjalan baik apabila emiten telah

kehilangan integritasnya. 13

Beberapa contoh dimana Akuntan Publik harus bertanggung jawab atas

laporan keuangan yang overstated di pasar modal adalah pada skandal keuangan

besar-besaran yang menimpa perusahaan-perusahaan raksasa Amerika Serikat mulai

dari Enron, WorldCom, AOL, Walt Disney, Vivendi Universal, Merck, Global

Crossing, Xeroc, Tyco, yang melibatkan lembaga investment bank seperti CSFB, JP

Morgan, dan Merrill Lycnh, dan tentu saja tidak lepas dari peranan kantor akuntan

publik yang sebelumnya mengaudit perusahaan-perusahaan tersebut.14

Contoh di Indonesia yang juga melibatkan akuntan publik yang harus

bertanggung jawab atas laporan keuangan yang overstated di Pasar Modal adalah PT.

Kimia Farma. PT. Kimia Farma diindikasikan melakukan mark up (overstated)

13

Sawidji Widoatmodjo, Teknik Memetik Keuntungan di Pasar Bursa Efek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1996), hlm. 204-206.

(24)

jumlah keuntungan dalam laporan keuangannya pada tahun 2001 dimana perusahaan

melaporkan laba bersih Rp. 132,263 milyar padahal laba bersih sesungguhnya adalah

Rp. 99,594 milyar, sehingga ada kelebihan pencatatan laba bersih sebesar Rp. 32,66

milyar;15 selain itu, PT Kereta Api Indonesia, pada tahun 2005, mengumumkan

bahwa keuntungan sebesar Rp. 6,90 milyar telah diraihnya, padahal sebenarnya

menderita kerugian sebesar Rp. 63 milyar. 16 Contoh lain yakni PT Indofarma, kasus

ini bermula saat perusahaan yang memproduksi 80% (delapan puluh persen) obat

generik itu mengalami kerugian sebesar Rp. 20,097 milyar pada tahun 2002, padahal

hingga kuartal III tahun yang sama, laba bersih indofarma mencapai Rp. 88,57

milyar. 17

Latar belakang diatas menarik perhatian penulis untuk melakukan Penelitian

tentang “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated

di Pasar Modal”.

B. Permasalahan

Permasalahan yang akan diteliti dan dianalisis dalam penelitian ini

berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana independensi akuntan publik di pasar modal?

15

Hamud M. Balfas, Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Tatanusa, 2012), hlm. 256.

16

Contoh-contoh kasus pelanggaran etikasebagaimana dimuat dalam

diakses tanggal 17 juni 2013.

17

Rizka Ardhianty Armein, Analisis Kasus Laporan Keuangan PT. Indofarma, Tbk,

sebagaimana dimuat dalam

(25)

2. Bagaimana penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di pasar

modal?

3. Bagaimana tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated

di pasar modal?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian tesis ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui independensi akuntan publik di pasar modal.

2. Untuk mengetahui penentuan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan di

pasar modal

3. Untuk mengetahui pengaturan tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan

keuangan yang overstated di pasar modal.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis. Atas dasar tujuan tersebut

diatas, maka penelitian hukum positif yang berhubungan dengan “Tanggung Jawab

Akuntan Publik Atas Laporan Keuangan Yang Overstated Di Pasar Modal” akan

memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis akan memberikan sumbangan pemikiran pada ilmu hukum,

khususnya dalam hukum bisnis, lebih khusus lagi dalam hukum pasar modal

(26)

di Pasar Modal” dan memberikan tambahan wawasan kepada kalangan yang berminat

pada hukum bisnis, khususnya hukum pasar modal dan pihak-pihak serta

lembaga-lembaga yang terkait di pasar modal.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis, sebagai wadah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teori yang

telah dipelajari selama kuliah, serta semakin menambah wawasan dan pengetahuan

tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di

pasar modal.

b. Bagi Akuntan Publik, sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati dan secara teliti

dalam melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan yang akan terlibat

di pasar modal agar pendapat yang dihasilkan tidak menyesatkan para investor.

c. Bagi Emiten, sebagai bahan pertimbangan agar memberikan segala informasi yang

dibutuhkan akuntan publik dalam hal laporan keuangan perusahaan dan

mengungkapkan segala informasi tersebut secara menyeluruh agar memberikan

jaminan dan menarik para investor untuk berinvestasi di perusahaan.

d. Bagi investor, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang laporan

keuangan yang dikeluarkan oleh akuntan publik, dan harus lebih berhati-hati

dalam berinvestasi di pasar modal serta memberikan perlindungan bagi investor

karena adanya peraturan di bidang pasar modal.

e. Bagi Pembuat Kebijakan, sebagai bahan untuk dapat melengkapi peraturan yang

(27)

penegakan hukum demi terciptanya iklim usaha yang adil dan kondusif serta

menjamin kepastian hukum bagi para pelaku usaha.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada ide, gagasan serta pemikiran penulis secara

pribadi dengan melihat perkembangan hukum di bidang bisnis khususnya pada

permasalahan “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang

Overstated di Pasar Modal”. Berdasarkan pengamatan dan penelusuran kepustakaan

yang dilakukan di lingkungan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara terhadap

penelitian-penelitian yang ada, ternyata belum ada yang melakukan penelitian

mengenai “Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated

di Pasar Modal”. Berdasarkan hasil penelusuran yang telah dilakukan, ada beberapa

penelitian yang memiliki topik yang sama, namun dalam hal permasalahannya dan

pembahasannya berbeda dengan isi penelitian ini, yaitu:

1. Mukhti, 2008, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan

Pencatatan (Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia dengan

rumusan masalah sebagai berikut:18

a. Bagaimana aspek hukum dalam pelaksanaan penghapusan pencatatan

(delisting) pada kegiatan pasar modal indonesia?

18

Mukhti, 2008, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan Pencatatan

(Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia sebagaimana dimuat dalam

(28)

b. Bagaimana mekanisme perlindungan hukum yang dilakukan oleh Bapepam

bagi investor publik dalam proses penghapusan pencatatan (delisting) saham

bagi kegiatan pasar modal Indonesia?

c. Apakah ketentuan di bidang pasar modal yang ada telah memberikan

perlindungan hukum bagi investor publik manakala terjadi penghapusan

pencatatan (delisting) saham pada kegiatan pasar modal Indonesia?

2. Tandi Pada Palayukan, 2012, Analisis terhadap Larangan Praktik Insider Trading

di Pasar Modal dengan rumusan masalah sebagai berikut:19

a. Bagaimanakah karakteristik perdagangan orang dalam (insider trading) dalam

pasar modal?

b. Bagaimanakah ketentuan larangan praktik insider trading dalam pasar modal?

c. Bagaimanakah pengawasan terhadap praktik insider trading dalam

perkembangan pasar modal?

3. Mega Kartika, 2009, Peran dan Tanggung Jawab Underwriter dalam Perjanjian

Full Commitment di Pasar Perdana dengan rumusan masalah sebagai berikut:20

a. Bagaimana peran dan tanggung jawab underwriter dalam perjanjian full

commitment di pasar perdana?

b. Apa saja yang dikategorikan sebagai penyimpangan oleh underwriter pada

proses penawaran umum perdana dan bagaimana akibat hukumnya?

19

Tandi Pada Palayukan, Analisis terhadap Larangan Praktik Insider Trading di Pasar

Modal, (Medan: Pasca Sarjana Ilmu Hukum USU, 2012), hlm. 15.

20

Mega Kartika, Peran dan Tanggung Jawab Underwriter dalam Perjanjian Full

(29)

c. Bagaimana penyelesaian sengketa antara underwriter dan emiten?

Berdasarkan judul penelitian dan permasalahan diatas penelitian ini dapat

dikategorikan sebagai penelitian baru dan keasliannya dapat dipertanggungjawabkan

secara akademis berdasarkan nilai objektivitas dan kejujuran.

F. Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual 1. Kerangka Teoritis

Kerangka Teoritis dalam penelitian karya ilmiah hukum mempunyai 4

(empat) ciri,yaitu (a) teori-teori hukum, (b) asas-asas hukum, (c) doktrin hukum dan

(d) ulasan pakar hukum berdasarkan pembidangan kekhususannya. 21

Teori merupakan tujuan akhir dari ilmu pengetahuan. Hal tersebut dapat

dimaklumi, karena batasan dan sifat hakikat suatu teori adalah “…seperangkat

konstruk (konsep), batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan

sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel,

dengan tujuan menjalankan dan memprediksi gejala-gejala itu”.

Rumusan diatas, mengandung 3 hal, pertama, teori merupakan seperangkat

proposisi yang terdiri atas variabel-variabel yang terdefenisikan dan saling

berhubungan. Kedua, teori menyusun antar hubungan seperangkat variabel dan

dengan demikian merupakan suatu pandangan sistematis mengenai

fenomena-fenomena yang dideskripsikan oleh variabel-variabel itu. Akhirnya, suatu teori

21

(30)

menjelaskan fenomena. Penjelasan itu diajukan dengan cara menunjuk secara rinci

variabel-variabel tertentu yang berkaitan dengan variabel-variabel tertentu lainnya.22

Penelitian ini menggunakan teori Tanggung Jawab Profesional (Professional

Liability). Dalam Black Law Dictionary,

Profession is A vocation or occupation requiring special, usually advanced,

education, knowledge, and skill; e.g. law or medical profession.

Professional is One engaged in one of learned professions or in an occupation

requiring a high level of training and proficiency.23

Profesi adalah pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan, pengetahuan, dan

keterampilan khusus, biasanya pada tingkat lanjut, misalnya profesi hukum atau

kedokteran. Ciri utama dari seorang profesi adalah mempunyai pendidikan khusus,

keterampilan khusus, dan dalam tingkat lanjut, contohnya akuntan publik.

Sedangkan profesional adalah seseorang yang terlibat suatu pekerjaan yang

perlu belajar terlebih dahulu untuk dapat mengerjakannya, atau suatu pekerjaan ynag

mensyaratkan pelatihan dan keahlian pada tingkat yang tinggi. Dengan demikian

professional dalam professional liability berarti orang yang memberi jasa tertentu dan

tanggung jawab dari pemberi jasa/pengemban profesi atau jasa yang diberikannya.24

Secara teoritik, di dalam Undang-undang perlindungan konsumen diatur

beberapa macam tanggung jawab (liability), salah satunya Professional Liability.

22

Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 42-43.

23

Black Law Dictionary.

24

Hukum Pertanggungjawaban Profesi (Professional Liability), sebagaimana dimuat di

dalam

(31)

Professional Liability menyatakan bahwa dalam hal tidak terdapat hubungan

perjanjian antara pelaku usaha dengan konsumen, tetapi prestasi pemberi jasa tersebut

tidak terukur sehingga merupakan perjanjian ikhtiar (inspanningverbintenis), maka

tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada professional liability

(pertanggungjawaban profesional), yang menggunakan tanggung jawab perdata

secara langsung (strict liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami

konsumen akibat memanfaatkan jasa yang diberikannya. Sebaliknya, dalam hal

terdapat hubungan perjanjian antara pelaku usaha dengan konsumen, dan prestasi

pemberi jasa tersebut terukur sehingga merupakan perjanjian hasil (resultants

verbintennis), maka tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada professional

liability, yang menggunakan tanggung jawab perdata atas dasar perjanjian

(contractual liability) dari pelaku usaha atas kerugian yang dialami konsumen akibat

memanfaatkan jasa yang diberikannya.25

Menurut Komar Kantaatmaja sebagaimana dikutip oleh Shidarta menyatakan

tanggung jawab profesional adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam

hubungan dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien. Tanggung jawab

profesional ini timbul karena mereka (para penyedia jasa profesional) tidak

memenuhi perjanjian yang mereka sepakati dengan klien mereka atau akibat dari

25

Harjono, Perlindungan Hukum Konsumen yang Menderita Kerugian dalam Transaksi Properti Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen (Studi pada Pengembangan Perumahan

PT. Fajar Bangun Raharja Surakarta), Yustisia Edisi Nomor 68 Mei-Agustus 2006, hlm. 5,

sebagaimana dimuat dalam

(32)

kelalaian penyedia jasa tersebut mengakibatkan terjadinya perbuatan melawan

hukum. 26

Tanggung jawab profesional (Professional Liability) merupakan pekerjaan

yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan dan menuntut keahlian,

menggunakan tehnik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari

lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang

dapat dipertanggungjawabkan. Ciri-ciri dari profesi, yaitu:27

1. Standar untuk kerja

2. Lembaga pendidikan khusus untuk menghasilkan pelaku profesi tersebut dengan standar kualitas akademik yang bertanggung jawab.

3. Organisasi profesi

4. Etika dan kode etik profesi 5. Sistem imbalan

6. Pengakuan masyarakat

Berdasarkan pengertian diatas, Tanggung jawab professional (Professional

Liability) adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam hubungan dengan jasa

profesional yang diberikan kepada klien. Jenis jasa yang ditawarkan bisa pada 2 hal,

yaitu:28

26

Yoan Budiyanto, 2012, Jurnal Perlindungan Hukum bagi Perusahaan Lembaga

Pembiayaan Selaku Kreditor terhadap Musnah atau Dialihkannya Objek Jaminan Fidusia, (Malang:

Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya), hlm. 20, sebagaimana dimuat dalam http://hukum.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/yohanjadi.pdf, diakses tanggal 15 Agustus 2013.

27

Tanggung Jawab Profesional,

28

Hukum Perlindungan Konsumen, sebagaimana dimuat di dalam

(33)

1. Menjanjikan menghasilkan sesuatu (resultaat verbintenis), yaitu Jasa yang

menjanjikan untuk menghasilkan sesuatu, misalnya tanggung jawab dokter gigi

atas hasil pekerjaannya menambal gigi pasien.

2. Mengupayakan sesuatu (inspanningsverbintenis), yaitu Jasa yang memperjanjikan

untuk mengupayakan sesuatu, misalnya tanggung jawab profesional seorang

pengacara untuk mengupayakan agar kepentingan kliennya dapat dilindungi

seoptimal mungkin. 29

Tanggung jawab profesional (Professional Liability) terdiri dari 2 (dua)

macam, yaitu: 30

1. Tanggung jawab profesional (Professional Liability) berdasarkan kode etik

organisasi profesi yang bersangkutan (intern). Contohnya akuntan yang melanggar

kode etik akuntan publik akan dicabut dari organisasi profesi akuntan publik.

2. Tanggung jawab profesional (Professional Liability) berdasarkan hukum (ekstern)

merupakan tanggung jawab profesional berdasarkan hukum (legal liability),

diartikan sebagai tanggung jawab hukum pemberi jasa/pengemban profesi atas

jasa yang diberikannya kepada kliennya atau tanggung jawab hukum pengemban

profesi terhadap pihak ketiga.

Profesi akuntan publik diatur dalam sebuah aturan yang disebut sebagai kode

etik profesi akuntan publik. Dalam kode etik profesi akuntan publik ini diatur

29

Product Liability, Professional Liability, sebagaimana dimuat di dalam

tanggal 14 Mei 2013.

30

Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam

(34)

berbagai masalah, baik masalah prinsip yang harus melekat pada diri akuntan publik,

maupun standar teknis pemeriksaan yang juga diikuti oleh akuntan publik, juga

bagaimana ketiga pihak melakukan komunikasi atau interaksi.31 Adapun fungsi dari

kode etik profesi akuntan publik adalah:32

1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.

2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan 3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika

dalam keanggotaan profesi.

Dinyatakan dalam kode etik yang berkaitan dengan masalah prinsip bahwa

akuntan harus menjaga, menjunjung dan menjalankan nilai-nilai kebenaran dan

moralitas, seperti bertanggung jawab (responsibility), berintegritas (integrity),

bertindak secara objektif (objectivity) dan menjaga indenpendensinya terhadap

kepentingan berbagai pihak (independence), dan hati-hati dalam menjalankan profesi

(due care). Setiap akuntan publik harus mempertahankan integritas, objektivitas dan

independensi dalam menjalankan tugasnya. Seorang akuntan publik yang

mempertahankan integritas, akan bertindak jujur dan tegas dalam mempertimbangkan

fakta, terlepas dari kepentingan pribadi.

Etika akuntan yang dalam Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) tahun 2011

yang disusun oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) disebut sebagai norma

akuntan menjadi patokan resmi para akuntan publik Indonesia dalam berpraktek.

31

Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam

2013.

32

Kode Etik Profesi dan Kewajiban Hukum, sebagaimana dimuat di dalam

(35)

Norma-norma dalam SPAP tersebut yang menjadi acuan dalam penentuan tiga

standar utama dalam pekerjaan akuntan publik, antara lain:

1. Akuntan publik harus memiliki keahlian teknis, independen dalam sikap mental

serta kemahiran profesional dengan cermat dan seksama.

2. Akuntan publik wajib menemukan ketidakberesan, kecurangan, manipulasi dalam

pengauditan.

Hal yang paling ditekankan dalam SPAP adalah betapa esensialnya

kepentingan publik yang harus dilindungi serta sifat independensi dan kejujuran

seorang akuntan publik dalam berprofesi. Namun sulit untuk menentukan fungsi dan

etika pengauditan yang secara teknik dapat mendeteksi jika ada penyelewengan pada

sistem pemerintahan baik untuk penyusunan anggaran maupun aktivitas keuangan

lainnya. IAPI mempunyai tugas dan kewajiban terhadap anggotanya yang terlibat

dalam proses pemeriksaan akuntan (auditing) agar tetap menjunjung tinggi

profesionalisme mereka. Tuntutan profesionalisme bagi akuntan publik antara lain:

1. Mengembangkan ilmu dan seni akuntansi

2. Menjaga kepercayaan publik kepada profesi

3. Mengadakan dan menjalankan setiap program dan kegiatan profesi yang bertujuan

untuk meningkatkan kualitas jasa yang diberikan profesi

Sebagai organisasi profesional di samping harus mampu membina

anggotanya, IAPI harus mampu mengawasi dan menindak anggotanya yang

melanggar kode etik profesi akuntan publik. Kewajiban lain yang harus dipikul IAPI

(36)

yang mempromosikan good governance. Promosi ini dilakukan pada dasarnya untuk

“menyuarakan” adanya keterbukaan dan akuntabilitas dalam berbagai aktivitas

masyarakat. Peran lain yang dapat IAPI ambil untuk mendukung gerakan anti korupsi

yang merupakan salah satu elemen gerakan untuk menciptakan good governance

adalah dengan memberikan dukungan teknis kepada lembaga atau gerakan anti

korupsi.33

Adapun yang menjadi prinsip etika profesi akuntan publik Indonesia, adalah

sebagai berikut:34

1. Tanggung jawab profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

2. Kepentingan publik

Akuntan sebagai anggota IAPI berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepentingan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik.

3. Integritas

33

Kewajiban dan Tanggung Jawab Hukum, sebagaimana dimuat di dalam

2013.

34

Prinsip Etika Profesi Akuntan Publik Indonesia, sebagaimana dimuat dalam

(37)

Akuntan sebagai seorang profesional, dalam memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya tersebut dengan menjaga integritasnya setinggi mungkin. Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa.

4. Obyektifitas

Dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya, setiap akuntan sebagai anggota IAPI harus menjaga obyektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain. Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktek publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa

audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan, dan pemerintah. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa dan kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.

5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional

Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi, dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.

6. Kerahasiaan

(38)

profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir

7. Perilaku profesional

Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesinya. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

8. Standar teknis

Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektifitas. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.

Penelitian ini juga menggunakan prinsip keterbukaan (disclosure). Menurut

Bacelius Ruru keterbukaan (disclosure) adalah kewajiban perusahaan atau emiten

untuk menyampaikan laporan perusahaan, baik dalam bentuk laporan keuangan

berkala maupun laporan kejadian penting lainnya. Informasi tersebut harus akurat,

tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun demikian, untuk yang

namanya tindakan membeli efek, maka sektor hukum mensyaratkan untuk

keterbukaan (disclosure) lebih dari yang berlaku untuk membeli barang biasa. Cukup

banyak pemikiran telah tercurahkan dan cukup banyak aturan main yang telah

digulirkan hanya untuk menjamin agar unsur transparansi tersebut benar-benar

muncul ke permukaan. Pentingnya eksistensi dan kedudukan unsur keterbukaan

(disclosure) dalam pasar modal sehingga kalau belum bisa menjamin unsur

(39)

Keterbukaan (disclosure) informasi di pasar modal diperlukan karena informasi itu

harus dijamin kebenarannya sehingga masyarakat pemodal dapat memahami keadaan

perusahaan sebelum mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli efek. 35

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Pasal 1 angka 25:36

“Prinsip keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten, Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari Efek tersebut.”

Fungsi dari prinsip keterbukaan dalam pasar modal adalah sebagai berikut:37

a. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk memelihara kepercayaan publik terhadap

pasar.

Tidak adanya keterbukaan dalam pasar modal membuat investor tidak percaya

terhadap mekanisme pasar. Sebab prinsip keterbukaan mempunyai peranan penting

bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi karena

melalui keterbukaan bisa terbentuk suatu penilaian (judgement) terhadap investasi,

sehingga investor secara optimal dapat menentukan pilihan terhadap portofolio

mereka. Makin jelas informasi perusahaan, maka keinginan investor untuk

kekurangan serta ketertutupan informasi dapat menimbulkan ketidakpastian bagi

investor, dan konsekuensinya menimbulkan ketidakpercayaan investor dalam

melakukan investasi melalui pasar modal.

35

Adrian Sutedi,, Op. cit., hlm. 5.

36

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

37

(40)

b. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien.

Filosofi ini didasarkan pada konstruksi pemberian informasi secara penuh

sehingga menciptakan pasar modal yang efisien, yaitu harga saham sepenuhnya

merupakan refleksi dari seluruh informasi yang tersedia. Prinsip keterbukaan dapat

berperan dalam meningkatkan supply informasi yang benar, agar dapat ditetapkan

harga pasar yang akurat, hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan pasar modal

sebagai lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan informasi. Tanpa informasi

peserta pasar tidak dapat mengevaluasi produk-produk lembaga keuangan. Kalau

informasi mengenai saham sedikit, maka investor yang melakukan investasi relatif

kecil. Bisa juga terjadi bahwa suatu saham yang kualitasnya baik akan tetapi

mempunyai harga yang rendah dari semestinya, hal ini dapat terjadi apabila informasi

mengenai saham tersebut tidak tersedia secara luas dan akurat, dengan perkataan lain,

informasi saham yang mutunya rendah dapat mengakibatkan harga saham itu menjadi

lebih rendah dari semestinya. Manajemen perusahaan harus menjaga pasar untuk

menjual saham pada pasar primer dan pasar sekunder. Artinya semua informasi yang

relevan mengenai apa yang ada dan akan ada harus dikemukakan, jika tidak mereka

akan kehilangan kesempatan menjual sahamnya.

c. Prinsip keterbukaan penting untuk mencegah penipuan (fraud)38

Pencapaian tujuan prinsip keterbukaan untuk perlindungan investor ini dapat

terpenuhi, sepanjang informasi yang disampaikan kepada investor mengandung

38

(41)

kelengkapan data keuangan emiten dan informasi lainnya yang mengandung fakta

materiel. Penyampaian informasi yang demikian kepada investor berguna untuk

menghindarkan investor dari bentuk penipuan atau manipulasi.39

Max Weber pernah mengatakan bahwa konsistensi dalam penerapan hukum

mutlak bagi proses industrialisasi suatu bangsa. Hukum yang berkenaan dengan

industri pasar modal yang berlaku sekarang harus dikaji kembali, mengingat

konsistensi dan penerapan hukum pasar modal di Indonesia masih menghambat

penciptaan pasar modal yang efisien, sebab pasar modal telah lama dipandang

sebagai barometer dalam hakikat bisnis. Isu utama yang harus dicermati dalam pasar

modal adalah prinsip keterbukaan menjadi persoalan inti di pasar modal dan sekaligus

merupakan jiwa pasar modal itu sendiri, sebab keterbukaan tentang fakta material

sebagai jiwa pasar modal didasarkan pada keberadaan prinsip keterbukaan yang

memungkinkan tersedianya bahan pertimbangan bagi investor sehingga ia secara

rasional dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian atau penjualan

saham.40

Pentingnya prinsip keterbukaan dalam pasar modal didasarkan kepada

beberapa teori yang saling berkaitan, artinya teori yang belakangan merupakan reaksi

atau perbaikan dari teori sebelumnya.

39

Ibid., hlm. 61.

40

(42)

Teori pertama yang berkaitan dengan informasi yang mempengaruhi harga

saham adalah hipotesis pasar modal yang efisien (efficient capital market hypothesis).

Pada mulanya efficient capital market hypothesis (ECMH) muncul dalam literatur

ekonomi dan kemudian menjadi alat bagi ahli hukum serta menjadi bahan untuk

membuat pendapat hukum. Karena tidak adanya suatu penjelasan yang sama

mengenai pasar yang efisien, hal itu menjadi suatu persoalan serius bagi para hakim,

ahli hukum dan pembuat peraturan, yang akan memakai pendekatan ECMH sebagai

dasar kebijakan dalam pengaturan.

Pendekatan ECMH sama dengan teori pasar efisien, yaitu menentukan

securities prices reflect a significiant amount of information from many different

source in the securities market” atau “prices at any time ‘fully reflect’ all available

information”. “Informasi yang dapat dipercaya direfleksikan ke harga saham secara

cepat dan mempengaruhi suatu kesempatan yang tidak bisa dieksploitasi secara

sistematis.

Suatu harga saham harus didasarkan pada pernyataan yang akurat dari

manajemen perusahaan. Artinya informasi itu tidak merupakan pernyataan yang

menyesatkan. Penyampaian informasi yang tidak akurat dapat mengakibatkan pasar

modal tidak efisien. Maka dalam hal ini keterbukaan artinya, suatu informasi tidak

mengandung misrepresentation atau omission. 41

41

(43)

Melalui pendekatan ECMH melahirkan fraud on the market theory yang

berkenaan dengan tanggung jawab tergugat. Mahkamah Agung Amerika Serikat

dalam Basic Inc v. Levinsion, 485 U.S. 224 (1988) menetapkan:

The fraud on the market theory is based on the hypothesis that, in an open end developed securities market, the price of a company’s stock is determined by the available material information regarding the company and its business… Misleading statement will therefore defraud purchasers of stock even if the purchasers do not directly rely on the misstatement…

Inti suatu gugatan dalam penipuan pasar modal berdasarkan fraud on the

market theory adalah apabila terjadi misrepresentation dan informasi itu masuk ke

pasar yang secara cepat dapat merubah harga saham. Untuk merubah suatu harga

saham, informasi yang salah tersebut harus dapat mempengaruhi orang-orang yang

mempunyai kapasitas yang dapat mempengaruhi harga saham yang diperdagangkan.

Orang-orang yang mempunyai kapasitas seperti itu menjadi ukuran dalam penentuan

adanya penipuan. Sebab dalam pasar saham yang modern harga saham bukan

ditentukan oleh investor profesional. Dengan perkataan lain, suatu informasi yang

salah tidak dapat merubah harga saham, apabila informasi itu tidak dipercaya oleh

investor potensil yang profesional. Berdasarkan teori ini adalah melawan hukum bagi

setiap orang, baik langsung maupun tidak langsung, barang siapa yang membuat

pernyataan yang menyesatkan atau tidak menyatakan suatu fakta materiel.42

Oleh karena itu, penekanan prinsip keterbukaan dalam kaitannya dengan

efficient capital market hypothesis dan fraud on the market theory, perlu didekati

42

(44)

dengan teori mengenai standar penentuan fakta materiel (materialitas). Misalnya

dalam SEC v Texas Gulf Sulphur, 401 F. 2d, 833, (2d. Cir. 1968), mengenai apakah

suatu fakta bersifat material, yaitu apabila dengan fakta tersebut investor memutuskan

untuk membeli, menjual atau menahan saham yang ada dimilikinya. Tes lainnya,

apakah fakta tersebut menimbulkan akibat terhadap harga saham secara substansial. 43

2. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah penggambaran antara konsep-konsep khusus

yang merupakan kumpulan dalam arti yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti

dan/atau diuraikan dalam karya ilmiah.44

a. Tanggung Jawab adalah sebagai suatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan

peranan, baik peranan itu merupakan hak maupun kewajiban

Landasan konseptual ini dibuat untuk

menghindari pemahaman dan penafsiran yang keliru dan memberikan arahan dalam

penelitian, maka dengan ini dirasa perlu untuk memberikan beberapa konsep yang

berhubungan dengan judul dalam penelitian ini, yaitu:

45

b. Akuntan publik adalah Akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri dan

terdaftar di Bapepam.

dan kewajiban

memikul kerugian yang diderita oleh pihak lain bila dituntut, baik dalam hukum

maupun administrasi.

46

43

Ibid.

44

Zainuddin Ali., Op. cit., hlm. 79.

45

Pengertian Tanggung Jawab, sebagaimana dimuat di dalam http://www.sekedarkabar.

blogspot. com/2012/05/pengertian-tanggung-jawab.html, diakses tanggal 28 Maret 2013.

46

(45)

c. Tanggung jawab profesional adalah tanggung jawab hukum (legal liability) dalam

hubungan dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien (pengguna jasa

profesional).47

d. Tanggung jawab akuntan publik adalah tanggung jawab profesional (Professional

Liability) berdasarkan hukum (legal liability), diartikan sebagai tanggung jawab

hukum pemberi jasa/pengemban profesi atas jasa yang diberikannya kepada

kliennya atau tanggung jawab hukum pengemban profesi terhadap pihak ketiga. 48

e. Laporan keuangan adalah laporan tertulis yang memberikan informasi kuantitatif

tentang posisi keuangan dan perubahan-perubahannya, serta hasil yang dicapai

selama periode tertentu.49

f. Overstated adalah penggelembungan dana atau laba/keuntungan perusahaan.

g. Laporan keuangan yang overstated adalah penggelembungan laba/keuntungan

dalam laporan keuangan perusahaan.

h. Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan

perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang

diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.50

47

Hukum Perlindungan Konsumen, sebagaimana dimuat di dalam

2012.

48

Hukum Perlindungan Konsumen, sebagaimana dimuat di dalam

2012.

49

Lili M. Sadeli, Dasar-Dasar Akuntansi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 18.

50

(46)

G. Metode Penelitian 1. Sifat dan Jenis Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang

bersifat deskriptif analitis. Menurut Whitney, metode deskriptif adalah pencarian

fakta dengan interpretasi yang tepat.51 Tujuan penelitian deskriptif adalah

menggambarkan secara tepat, sifat individu, suatu gejala, keadaan atau kelompok

tertentu. Deskriptif analitis berarti bahwa penelitian ini menggambarkan suatu

peraturan hukum dalam konteks teori-teori hukum dan pelaksanaannya, serta

menganalisis fakta secara cermat tentang penggunaan peraturan perundang-undangan

tentang tanggung jawab akuntan publik atas laporan keuangan yang overstated di

pasar modal.52

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum

Normatif. Penelitian Hukum Normatif disebut juga Penelitian Hukum Doktrinal.

Penelitian Hukum Doktrinal Hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis di dalam

peraturan perundang-undangan (law in the books) atau hukum dikonsepkan sebagai

kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap

pantas. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif untuk meneliti

norma-51

Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Rieneka Citra, 1999), hlm. 21.

52

Mukhti, Perlindungan Hukum bagi Investor Publik dalam Penghapusan Pencatatan

(Delisting) Saham pada Kegiatan Pasar Modal Indonesia. (Medan: Pasca Sarjana Ilmu Hukum, 2008),

(47)

norma hukum yang berlaku terkait dengan tanggung jawab akuntan publik atas

laporan keuangan yang overstated di pasar modal.

2. Sumber Data

Penelitian hukum yang normatif menggunakan data sekunder, yang terdiri

atas (1) bahan hukum primer; (2) bahan hukum sekunder; (3) serta bahan hukum

tersier. 53

a. Bahan Hukum Primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya

mempunyai otoritas. 54

b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks

(textbooks) yang ditulis para ahli hukum yang berpengaruh (de herseende leer), Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan dan

peraturan yang berkaitan dengan akuntan publik, yaitu Undang-undang Nomor 8

Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Undang-undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang

Akuntan Publik, Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

17/PMK.01/2008 Tahun 2008 tentang Jasa Akuntan Publik, Peraturan Pemerintah

dan peraturan yang lainnya yang terkait dengan Akuntan Publik.

55

semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen

resmi,56 termasuk skripsi, tesis, dan disertasi hukum dan jurnal-jurnal hukum.57

53

Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang: UMM PRESS, 2009), hlm. 127.

54

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 141.

55

Johnny Ibrahim, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia Publishing, 2005), hlm. 241-242.

56

Peter Mahmud Marzuki., Loc. Cit.

57

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal Permasalahan Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Kerangka Teoritis dan Kerangka Konseptual 1. Kerangka Teoritis Kerangka Konseptual Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Pasar Modal 1. Pengertian Pasar Modal Peranan dan Manfaat Pasar Modal Sejarah Pasar Modal Indonesia Instrumen Pasar Modal Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal Pelaku Pasar Modal Tanggung Jawab Akuntan Publik atas Laporan Keuangan yang Overstated di Pasar Modal Tujuan Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal Pengaturan Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal Persyaratan Akuntan Publik di Pasar Modal Tugas Akuntan Publik di Pasar Modal Hubungan Akuntan Publik dengan Prinsip Keterbukaan di Pasar Modal Dasar Hukum dan Etika Profesi Akuntan Publik terkait Independensi Dasar Hukum Pembuatan Laporan Keuangan Perseroan Terbatas Isi Laporan Keuangan Perseroan Terbatas Peran Organ Perseroan Terbatas dalam Pembuatan dan Pengesahan Laporan Keuangan Tujuan Pemeriksaan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik Pemeriksaan Laporan Keuangan oleh Akuntan Publik di Pasar Modal Jenis-jenis Pendapat Akuntan Publik Manfaat Pendapat Akuntan Publik bagi Investor di Pasar Modal Pengertian Tanggung Jawab Profesional Tanggung Jawab Profesional Akuntan Publik Pengertian Laporan Keuangan yang Overstated Terjadinya Laporan Keuangan yang Overstated Kasus Laporan Keuangan EmitenPerusahaan Publik yang Overstated Analisis Hukum atas Laporan Keuangan yang Overstated Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN