• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN PERILAKU SEHAT & TEORI PERUBAHAN PERILAKU SEHAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERUBAHAN PERILAKU SEHAT & TEORI PERUBAHAN PERILAKU SEHAT"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERUBAHAN PERILAKU SEHAT & TEORI PERUBAHAN PERILAKU SEHAT

Ade Heryana

Dosen Prodi Kesmas FIKES Universitas Esa Unggul Jakarta Email: [email protected]

FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN PERILAKU SEHAT

Beberapa faktor turut menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku sehat pada seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. Pendidikan

Seseorang akan mengubah kebiasaan sehatnya jika mereka memiliki informasi yang baik tentang kebiasaan sehat tersebut. Untuk itu dibutuhkan penyampaian informasi yang bisa diterima oleh seseorang untuk mengubah perilakunya. Berikut adalah berbagai cara komunikasi agar informasi kesehatan dapat diterima dengan efektif (lihat tabel 1). 2. Faktor rasa takut

Bila seseorang takut kebiasaan tidak sehat akan mengganggu kesehatannya, maka orang tersebut akan mengubah perilakunya untuk mengurangi rasa takut. Namun demkian, pesan-pesan kesehatan yang mengandung banyak unsur menakutkan, cenderung akan mengurangi perubahan perilaku sehat seseorang. Dengan demikian rasa takut itu sendiri tidak cukup untuk mengubah perilaku sehat seseorang, karena umumnya tujuan utama orang mengubah perilaku sehat adalah mengurangi rasa takut bukan penyakitnya.

Tabel 1. Karakteristik Komunikasi Efektif untuk Mengubah Perilaku Sehat

(Sumber: Taylor, 2015:46)

 Komunikasi sebaiknya penuh warna dan hidup/animasi, jangan hanya berupa data statistik dan jargon-jargon. Bila memungkinkan ditambahkan kisah nyata;  Penyampai pesan sebaiknya seseorang yang

ahli di bidangnya, prestisius, dapat dipercaya, disukai, dan setara dengan audiens

 Argumen yang kuat (tentang perilaku sehat) sebaiknya disajikan di awal atau di akhir presentasi

 Pesan yang disampaikan sebaiknya singkat, jelas, dan langsung

 Pesan yang disampaikan sebaiknya terdapat konklusi/simpulan secara jelas

 Pesan yang ekstrim akan menimbulkan perubahan sikap yang sangat nyata, namun disampaikan secara ringkas saja. Hindari pesan yang sangat berlebihan. Misalnya: anjuran untuk berolahraga 30-60 menit sehari lebih efektif dibanding menganjurkan olahraga 3 jam per hari;

 Anjuran untuk mendeteksi penyakit (mis: HIV, Mamogram) dilakukan jika faktor perilaku tidak efektif mengatasi masalah kesehatan. Anjuran yang berifat promotif (mis: menggunakan krim matahari) sebaiknya ditekankan pada manfaat yang didapat;

 Jika audiens terlihat mau menerima perubahan perilaku sehat, maka komunikasi sebaiknya difokuskan pada hal-hal yang menyenangkan. Jika audiens terlihat menolak perubahan perilaku sehat, maka komunikasi ditekankan pada diskusi terhadap issue penolakan;

 Intervensi yang disarankan sebaiknya memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya: intervensi penggunaan kondom untuk mencegah HIV sebaiknya jangan disampaikan pada anak remaja.

(2)

2 JENIS PESAN KESAHATAN

Pesan yang disampaikan dalam upaya mengubah perilaku sehat terbagi menjadi dua, yaitu: pesan yang bersifat positif dan bersifat negatif. Pesan yang bersifat positif lebih mengutamakan keuntungan-keuntungan yang didapat jika menjalankan upaya kesehatan atau disebut juag pesan yang berorientasi promosi kesehatan. Sedangkan yang bersifat negatif lebih memunculkan rasa takut atau ancaman, atau disebut juga pesan yang berorientasi pencegahan.

Misalnya pada anjuran untuk melakukan vaksinasi flu. Pesan yang positif lebih menonjolkan keuntungan-keuntungan yang didapat jika melakukan vaksinasi. Sedangkan pesan yang bersifat negatif lebih menonjolkan pada ketidaknyamanan jika menderita influenza.

Pesan yang bersifat positif akan efektif digunakan pada :

- Perubahan perilaku dengan kepastian dampak yang dihasilkan tinggi misalnya pada upaya pencegahan kanker kulit, berhenti merokok, dan anjuran berolahraga.

- Orang-orang yang lebih berorientasi pada upaya promosi atau meningkatkan kesehatan. Contoh: pesan “Kalsium akan menjaga kesehatan tulang Anda”

- Orang-orang yang memulai perubahan perilaku

Sedangkan pesan yang bersifat negatif sebaiknya digunakan pada:

- Upaya mengubah perilaku sehat yang memiliki ketidakpastian hasil dan hanya membutuhkan sekali intervensi, misalnya pada vaksinasi;

- Orang-orang yang memiliki orientasi pencegahan penyaki. Contohnya dengan pesan: “Asupan kalsium yang rendah akan meningkatkan kekeroposan tulang”

- Orang-orang yang memelihara perubahan perilaku selamanya.

PENDEKATAN PERUBAHAN PERILAKU SEHAT Terdapat berbagai macam pendekatan yang dapat dilajkukan dalam rangka perubahan perilaku sehat pada seseorang. Pendekatan tersebut antara lain:

1. Pendekatan Sikap yaitu mengubah perilaku sehat dengan melakukan perubahan sikap pada seseorang. Pendekatan ini terdiri dari: Health Belief Model (HBM), Theory of Planned Behavior, dan Self-Determination Theory;

2. Pendekatan Kognitif, yaitu mengubah perilaku sehat dengan melakukan modifikasi pada cara berfikir seseorang. Salah satunya yang sering diterapkan adalah Cognitive-Behavior Therapy (CBT); 3. Pendekatan Transformatif, yaitu mengubah

perilaku sehat yang dilakukan melalui berbagai tahap transformatif. Pendejakan ini antara lain adalah Transtheoretical Model of Behavior Change; dan

(3)

3 4. Pendekatan rekayasa sosial, yaitu

mengubah perilaku sehat dengan memodifikasi lingkungan sosial seseorang. HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

Teori ini merupakan teori perubahan perilaku sehat yang mendasarkan pada pemodifikasian sikap seseorang, yang paling awal ditemukan yakni pada tahun 1958 oleh Hochbaum, dan dilanjutkan oleh Rosenstock tahun 1966.

Menurut teori ini, seseorang menjalankan perilaku sehat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: 1) Keyakinan terhadap gangguan kesehatan; dan 2) keyakinan terhadap efektifitas upaya kesehatan dalam mengurangi gangguan kesehatan (lihat gambar 1).

Persepsi terhadap gangguan kesehatan dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: a. Nilai-nilai kesehatan secara umum, seperti:

minat dan perhatian terhadap kesehatan; b. Keyakinan terhadap kerentanan seseorang

terhadap gangguan kesehatan; dan

c. Keyakinan terhadap konsekuensi yang timbul akibat gangguan kesehatan.

Misalnya: seseorang akan merubah perilaku diet dengan mengurangi asupan kolesterol bila mereka memiliki nilai-nilai kesehatan yang baik, yakin bahwa orang yang tidak diet kolesterol akan mengalami sakit jantung, dan yakin bahwa gangguan kesehatan akibat penyakit jantung bisa berbahaya.

Keyakinan terhadap efektifitas upaya kesehatan dalam mengurangi gangguan kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: a. Keyakinan bahwa upaya kesehatan akan

berjalan efektif; dan

b. Keyakinan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk upaya kesehatan akan memberikan keuntungan/benefit.

Misalnya: seseorang yang dianjurkan untuk mengubah pola makan untuk mencegah penyakit jantung, memiliki keyakinan bahwa mengubah pola makan bukan satu-satunya penyebab sakit jantung, dan mengubah pola makan akan banyak mengurangi kesenangan hidup. Sehingga meskipun persepsi terhadap kerentanan penyakit jantung sangat tinggi, bisa jadi ia tidak mau mengubah pola makan. THE THEORY OF PLANNED BEHAVIOR

Pendekatan lain dalam perubahan perilaku sehat melalui pendekatan modifikasi sikap adalah the theory of planned behavior, dimana hubungan antara perilaku sehat dengan keyakinan akan kesehatan lebih dekat dibandingkan dengan HBM.

Menurut teori ini, perilaku sehat merupakan hasil langsung dari tujuan perilaku seseorang. Tujuan perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor (lihat gambar 2), antara lain:

1. Sikap terhadap aktifitas tertentu;

2. Norma-norma yang berhubungan aktifitas tertentu; dan

(4)

4

Gambar 1. Health Belief Model yang Diaplikasikan pada Perilaku Berhenti Merokok

Gambar 2. The Theory of Planned Behavior yang Diaplikasikan pada Pola Makan Sehat Keyakinan terhadap gangguan kesehatan

- Nilai-nilai kesehatan secara umum (“saya sangat memperhatikan kesehatan”)

- Keyakinan terhadap kerentanan seseorang terhadap gangguan kesehatan (“sebagai perokok, saya bisa terkena kanker paru”)

- Keyakinan terhadap konsekuensi yang timbul akibat gangguan kesehatan (“saya akan mati, jika saya menderita kanker paru”)

Keyakinan terhadap efektifitas upaya kesehatan dalam mengurangi gangguan kesehatan

- Keyakinan bahwa upaya kesehatan akan berjalan efektif

(“jika saya berhenti merokok sekarang, saya tidak akan terserang kanker paru ”) - Keyakinan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk upaya kesehatan akan

memberikan keuntungan/benefit

(“meskipun untuk berhenti merokok sulit, namun untuk mencegah kanker paru lebih bermanfaat ”)

Perilaku Sehat

(“Saya akan berhenti merokok)

Sikap terhadap aktivitas tertentu

- Keyakinan terhadap hasil dari perubahan perilaku (“bila saya mengubah pola makan, maka berat badan saya akan turun, kesehatan akan meningkat, dan lebih menarik”)

- Evaluasi terhadap hasil dari perubahan perilaku (“Menjadi sehat dan terlihat menarik merupakan hal yang penting”)

Norma-norma yang berhubungan aktifitas tertentu

- Keyakinan normatif

(“keluarga dan teman menganjurkan saya untuk mengubah pola makan ”)

- Motivasi untuk mengikuti anjuran (“saya akan menjalankan apa yang mereka inginkan dari saya ”)

Persepsi terhadap pengontrol perilaku tertentu (“saya akan sanggup mengubah pola makan”)

Tujuan perilaku (“bermaksud mengubah pola makan”) Perubahan perilaku (”menjalankan pola makan sehat)

(5)

5 Sikap terhadap aktivitas tertentu menekankan pada: keyakinan dan evaluasi terhadap hasil dari perubahan perilaku. Norma-norma merupakan hal-hal yang diyakini oleh seseorang yang sebaiknya dilakukan (keyakinan normatif atau normative belief) dan motivasi yang dibutuhkan untuk mengikuti anjuran atau keyakinan normatif tersebut. Persepsi terhadap pengontrol perilaku merupakan persepsi bahwa seseorang dapat menjalankan aktifitas dan menghasilkan efek yang diinginkan. Faktor yang terakhir mirip dengan self-efficacy.

Misalnya: seorang perokok yang percaya bahwa perilaku merokok menyebabkan masalah kesehatan serius, yang percaya bahwa orang lain menganjurkan sebaiknya berhenti merokok, yang termotivasi untuk mengikuti norma-norma yang ada, yang percaya bahwa ia memiliki kemampuan berhenti merokok, yang menjalankan tujuan dari perilaku-perilaku di atas, memiliki kemungkinan untuk berhenti merokok dibandingkan seseorang yang tidak percaya akan hal-hal di atas.

Theory of planned bevahior secara empiris terbukti bisa memprediksi perilaku kesehatan seperti penggunaan kondom, konsumsi minuman ringan, dan penerapan food safety.

SELF-DETERMINATION THEORY (SDT)

Teori ini disusun berdasarkan pemikiran bahwa setiap orang termotivasi

untuk mengejar tujuan mereka. Target yang dituju dalam teori ini adalah dua komponen yaitu motivasi otonom dan persepsi terhadap kompetensi. Seseorang termotivasi secara otonom ketika mereka bebas menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Kompetensi berarti keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan perubahan perilaku.

Misalnya: ketika seorang wanita mengubah pola makannya karena anjuran dari dokter, dia tidak merasakan kebebasan otonom melainkan merasakan bahwa aktifitasnya ada dalam pengawasan orang. Hal ini dapat mengurangi komitmennya untuk mengubah perilaku. Namun demikian jika perubahan pola makan merupakan pilihan pribadinya, hal ini akan meningkatkan motivasinya. Teori SDT terbukti sukses dalam mengubah perilaku merokok, konsumsi alkohol.

COGNITIVE-BEHAVIORAL THERAPY

Mengubah perilaku dan kebiasaan sehat dengan pendekatan kognitif memfokuskan kepada tiga hal berikut: 1) perilaku target itu sendiri; 2) kondisi yang menimbulkan atau memelihara perilaku tersebut; dan 3) faktor-faktor yang memperkuat perilaku tersebut.

Metode Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan pendekatan perubahan perilaku sehat yang paling efektif dengan pendekatan kognitif.

(6)

6 Metode CBT yang disajikan pada paper ini terdiri dari berbagai teknik mengubah perilaku antara lain:

- Self-monitoring - Stimulus control

- The self-control behavior - Self-reinforcement - Behavioral assignments - Social skills training - Relaxational trainings - Motivational Interviewing - Relapse prevention Self Monitoring

Dengan prinsip self-monitoring, metode CBT berusaha menghilangkan kondisi-kondisi yang memungkinkan timbulnya perilaku sehat/tidak sehat. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap orang harus memahami dimensi-dimensi dari kebiasaan sehat sebelum memulai mengubah perilaku sehat.

Tahap-tahap dalam self-monitoring meliputi:

1. Memahami perilakunya sehingga bisa membedakan perilaku tersebut dengan orang lain. Pada beberapa perilaku, hal ini mudah dilakukan. Misalnya pada perilaku merokok, orang yang akan mengubah perilakunya harus memahami bahwa dia termasuk kelompok perokok atau bukan; 2. Memetakan perilaku. Misalnya seorang

perokok yang akan mengubah perilakunya bisa memetakan kebiasaannya dengan

mencatat hal-hal yang berhubungan dengan perilakunya tersebut, seperti mencatat kapan merokok dilakukan, berapa kali sehari, situasi-situasi yang mendorong perilaku merokok, dan bila ada dengan siapa merokok dilakukan.

Dengan langkah-langkah di atas, seseorang yang akan mengubah perilaku sehatnya dapat mengidentifikasi kondisi-kondisi yang memungkinkan perilaku tersebut muncul, atau disebut dengan discriminative stimulus atau rangsangan diskriminan. Misalnya kondisi melihat dan mencium aroma makanan merupakan discriminative stimulus dari perilaku makan. Melihat sebungkus rokok dan menicum aroma kopi bisa menjadi discriminative stimulus dari perilaku merokok. Stimulus Control

Ketika kondisi-kondisi yang mendukung perilaku seseorang telah dipahami, maka selanjutnya faktor-faktor di dalam lingkungan yang ikut memelihara perilaku tidak sehat dapat dimodifikasi, dengan intervensi stimulus control.

Prinsip stimulus-control mengurangi perilaku tidak sehat seseorang dengan dua cara:

1. Menghilangkan discriminative stimulus yang menimbulkan perilaku tidak sehat. Misalnya pada perilaku makan, diketahui bahwa discriminative stimulus-nya adalah adanya makanan yang disukai dan aktivitas lain seperti menonton televisi. Seseorang

(7)

7 yang akan menurangi berat badan dapat mengubah perilaku makan dengan mengurangi stimulus tersebut, misalnya dengan menghilangkan makanan yang menggemukkan, membatasi makan hanya di satu tempat dalam rumah, dan menghindari makan sambil melakukan aktifitas lain (misalnya menonton televisi). 2. Menciptakan discriminative stimulus yang

baru untuk mengurangi kebiasaan tidak sehat. Misalnya dengan menempelkan peringatan-peringatan untuk mengurangi discrimative stimulus di lokasi strategis di rumah, seperti tulisan “jangan makan sambil menonton TV” atau “kurangi belanja makanan yang bikin gemuk”.

The Self-Control of Behavior

Metode ini mendasarkan keyakinan bahwa setiap orang melakukan dialog dengan dirinya sendiri (monolog) dalam rangka mengubah perilaku mereka. Misalnya: pada perokok yang hampir menyerah dengan upayanya untuk berhenti merokok akan menyemangati dirinya dengan monolog “Saya tidak akan pernah menyerah untuk berhenti merokok”.

Pada metode ini teknik yang dipakai untuk mengubah perilaku tidak sehat adalah dengan menciptakan dan memodifikasi monolog-monolog yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku atau disebut dengan cognitive-restructuring.

Self-reinforcement

Metode ini merupakan teknik memberikan ganjaran (positif atau negatif) dalam rangka meningkatkan atau menurunkan faktor-faktor yang mengubah perilaku seseorang.

Ganjaran positif misalnya dengan memberikan sesuatu yang disukai apabila seseorang sukses memodifikasi perilaku tidak sehat. Misalnya: mengiming-imingi nonton film di bioskop jika berhasil menurunkan berat badan.

Sedangkan ganjaran negatif misalnya dengan menghilangkan hal-hal atau kondisi yang tidak disukai jika seseorang berhasil mengubah perilakunya. Misalnya: seorang anak boleh bermain games jika selama seminggu selalu menggosok gigi sebelum tidur. Behavioral Assignments

Metode ini merupakan teknik dengan pendekatan kognitif yang dilakukan dengan memberikan penugasan-penugasan di rumah pada seseorang yang ingin mengubah perilaku tidak sehat. Metode ini umumnya diberikan oleh ahli atau terapis kepada pasiennya setelah melakukan konsultasi.

Misalnya pada seseorang yang ingin mengubah perilaku diet, seorang terapis bisa memberikan penugasan seperti: 1. Saat makan, hitung jumlah kunyahan makanan menggunakan stopwatch; 2) catat jumlah kunyahan, waktunya, lokasinya, dan apa yang Anda makan; 3) Catat jenis makanan yang Anda makan selama seminggu; 4) buat

(8)

8 perjanjian konsultasi lagi; dan 5) bawa catatan Anda saat konsultasi berikutnya.

Teknik behavioral assignments memiliki keunggulan antara lain:

- Melibatkan pasien dalam proses penyembuhan (perubahan perilaku); - Pasien ikut melakukan analisa terhadap

perilakunya;

- Pasien menjadi lebih komitmen dalam proses pengobatan (perubahan perilaku); - Tanggung jawab untuk mengubah perilaku

secara bertahap menjadi meningkat; dan - Meningkatkan keinginan untuk mengontrol

diri pasien. Social skill trainings

Metode social skill trainings atau assertiveness trainings digunakan untuk mengubah perilaku yang tidak sehat yang diakibatkan oleh reaksi kecemasan terhadap masalah sosial (social anxiety). Misalnya pada beberapa orang dewasa kebiasaan merokok dilakukan untuk mengurangi kegugupan saat menghadapi situasi tertentu untuk

memudahkan komunikasi atau

membayangkan hal-hal menyenangkan. Minum alkohol dan makan berlebih bisa juga diakibatkan oleh kecemasan terhadap lingkungan sosial.

Pada metode ini, seseorang yang akan mengubah perilakunya diberi pelatihan bagaimana menghadapi situasi-situasi sosial yang tidak diinginkan dengan cara-cara yang lebih efektif dan tidak mengganggu kesehatan.

Pasien diajarkan berbagai cara untuk menurangi kecemasan akibat lingkungan. Misalnya: teknik menghadapi orang-orang yang memiliki dominasi tinggi dengan berani mengatakan “tidak”.

Relaxational Trainings

Teknik relaksasi juga diberikan untuk mengubah perilaku tidak sehat akibat tekanan sosial. Misalnya pada beberapa karyawan yang akan presentasi di hadapan klien, ada yang merokok hanya untuk menghilangkan stress, atau menggigit kuku, menggaruk kulit dan sebagainya.

Teknik ini dilakukan dengan menarik nafas lebih dalam dan merelaksasi otot. Saat menarik nafas lebih dalam, seseorang akan merasa tenang, pernafasan terkontrol, mengurangi detak jantung dan tekanan darah, serta meningkatkan kadar oksigen di dalam darah. Selesai menarik nafas dalam, proses dilanjutkan dengan melakukan peregangan agar otot tidak kaku.

Motivational Interviewing

Metode wawancara motivasional pada awalnya digunakan untuk mengurangi perilaku adiksi pada seseorang. Dalam perkembangan selanjutnya metode ini digunakan juga untuk mengurangi perilaku merokok, diet, membiasakan olahraga, skrining kanker, dan perilaku seks tidak wajar.

Metode ini dilakukan dengan menggunakan gaya konseling kepada pasien

(9)

9 yang mengalami kebingungan atau khawatir bagaimana mengubah perilakunya.

Prinsip-prinsip yang dijalankan dalam metode ini antara lain:

- Tidak menghakimi, tidak konfrontatif, mendorong ke arah yang baik, dan mendukung;

- Bertujuan menggali pemikiran pasien baik yang positif maupun yang negatif tentang perilakunya atau membuat pasien berkomunikasi sebanyak mungkin dengan konselor;

- Tidak berusaha membujuk pasien untuk mengubah perilakunya atau menganalisis kepercayaan yang irasional, melainkan berusaha agar pasien memikirkan dan menjelaskan alasan kenapa ia memiliki perilaku tidak sehat. Sehingga konselor harus banyak mendengar dan mendorong ke arah yang baik.

Relapse Prevention

Metode pencegahan kekambuhan atau relapse prevention merupakan teknik mengubah perilaku dengan pendekatan kognitif yang dilakukan untuk mencegah kembalinya seseorang memiliki perilaku yang tidak sehat, misalnya pada perilaku alkoholik, merokok, adiksi obat, dan makan berlebih.

Seseorang yang merokok sebatang sigaret pada saat berkumpul atau makan es krim saat akhir pekan, meskipun belum tentu menimbulkan ketagihan (atau kekambuhan), namun dapat menimbulkan satu keadaan yang

disebut abstinence violation effect. Keadaan ini adalah suatu rasa kehilangan kontrol diri akibat melanggar aturan yang dibuatnya sendiri, yang memicu ketagihan (atau kekambuhan) seseorang terutama saat dirinya sedang goyah. Saat awal mengubah perilaku, seseorang memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, lama-lama menghilang dan kemungkinan kambuh akan meningkat. Seseorang yang memiliki self-efficacy (kemampuan dan kesadaran menyembuhkan diri sendiri) tinggi akan terhidar dari kekambuhan. Misalnya: saat seorang yang sedang berhenti merokok akibat asma masuk ke dalam situasi yang memungkin ia harus merokok seperti pesta kecil. Seseorang yang memiiliki self-efficacy rendah berisiko untuk kambuh, misalnya ia merasa terpukul akibat sakit asmanya yang tidak sembuh-sembuh maka orang tersebut akan melampiaskan dengan merokok.

Faktor penyebab atau pemicu kekambuhan umumnya berasal dari hal-hal yang negatif seperti depresi, kecemasan, atau di bawah tekanan. Contohnya saat mengalami kondisi putus hubungan atau kesulitan menyelesaikan satu pekerjaan atau tugas.

Tahap-tahap dalam program mencegah kekambuhan (relapse prevention) antara lain:

1. Menyeleksi pasien (atau anggota) yang benar-benar serius akan mengubah perilakunya. Orang yang tidak memiliiki

(10)

10 keseriusan untuk mengubah kekambuhan sebaiknya dikeluarkan dari program, karena akan berpengaruh negatif kepada pasien lain dan kepada terapis/dokter, serta menghambat program;

2. Mengidentifikasi situasi-situasi yang memungkinkan timbulnya kekambuhan, misalnya menghadiri pesta, nongkrong dengan teman, makan bersama di luar rumah dan sebagainya;

3. Menyarankan untuk menghindari situasi-situasi yang memicu perilaku tidak sehat. Misalnya: mengurangi makan bersama di luar rumah dengan teman, yang menyebabkan keinginan merokok jadi timbul. Seseorang yang ingin terhindar dari kekambuhan minum alkohol, bisa mengurangi kebiasaan mengunjungi bar/pub.

4. Menyarankan pasien untuk melakukan penyeimbangan gaya hidup atau lifestyle rebalancing merupakan metode yang dilakukan untuk perawatan jangka panjang yang bertujuan seseorang memiliki kehidupan yang lebih sehat dan menghindari kekambuhan. Metode ini umumnya digunakan untuk meningkatkan kesehatan seseorang secara keseluruhan. Misalnya menganjurkan kebiasaan berolahraga dan menggunakan teknik mengelola stress.

Metode CBT memiliki kelebihan antara lain:

a. Beberapa teknik dalam CBT dapat mengatasi berbagai masalah;

b. Rencana terapi dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan; dan

c. Dapat mengatasi masalah perilaku secara bersama-sama, misalnya: perilaku diet dan olahraga dilakukan secara bersama-sama. PENDEKATAN TRANSFORMATIF

Perubahan perilaku sehat tidak terjadi secara tiba-tiba dalam satu waktu, melainkan melalui melalui berbagai tahapan.

Salah teori yang akan dikemukakan adalah the transtheoretical model of behavior change yang dikembangkan oleh Prochaska dan kawan-kawan tahun 1994. Model ini menganalisis tahap-tahap seseorang mengalami perubahan perilaku sehat dan mengusulkan intervensi serta tindakan yang sebaiknya dilakukan pada setiap tahapan.

Awalnya teori ini diterapkan pada perilaku akibat gangguan zat aditif seperti merokok, konsumsi obat terlarang, dan alkohol. Saat ini juga diterapkan pada perubahan perilaku seperti olahraga dan perilaku melindungi dari radiasi sinar matahari. Tahapan-tahap seseorang untuk mengubah perilaku tidak sehat antara lain: tahap Prekontemplasi (precontemplation), Kontemplasi (contemplation), Persiapan (preparation), Tindakan (action), dan Pemeliharaan (maintenance).

(11)

11 Tahap prekontemplasi adalah tahap yang terjadi saat seseorang tidak memiliki keinginan untuk mengubah perilakunya. Beberapa orang pada tahap ini tidak sadar bahwa dirinya mengalami masalah kesehatan, meskipun lingkungan sosial sekitarnya memiliki perilaku yang sehat. Misalnya pada perilaku minum alkohol yang sebagian besar menyebabkan masalah pada keluarganya. Peminum alkohol pada tahap ini umumnya mau mengubah perilaku bila keluarga mendorongnya atau menekannya untuk memperbaiki diri. Sebagian besar orang pada tahap ini kembali melakukan perilaku tidak sehat, yang menyebabkan sulitnya program intervensi atau upaya perubahan perilaku.

Tahap kontemplasi adalah tahap dimana seseorang sadar bahwa ia memiliki masalah kesehatan dan telah memikirkan masalahnya, namun belum memiliki komitmen untuk berubah. Rata-rata seseorang berada pada tahap ini selama beberapa tahun. Intervensi perubahan perilaku yang dilakukan bertujuan meningkatkan penerimaannya akan perubahan perilaku.

Tahap persiapan atau preparation adalah tahap dimana seseorang berniat untuk mengubah perilaku, namun tidak berhasil mengubahnya. Pada beberapa kasus, orang pada tahap ini mengubah perilaku seadanya saja dan belum ada komitmen untuk mengubah perilakunya, misalnya mengurangi jumlah rokok yang dihisap.

Tahap tindakan atau action adalah tahap yang terjadi saat seseorang memodifikasi perilaku mereka untuk mengatasi masalahnya. Pada tahap ini dibutuhkan komitmen dan energi yang tinggi untuk mengubah perilaku seseorang. Intervensi yang dilakukan adalah memberhentikan perilaku dan memodifikasi gaya hidup serta lingkungan sosial.

Tahap pemeliharaan atau maintenance adalah tahap untuk mencegah kekambuhan dan mengkonsolidasi upaya yang sudah dijalankan. Misalnya: bila seseorang telah mampu menghindari perilaku aditif selama 6 bulan maka ia dianggap berada pada tahap pemeliharaan.

PENDEKATAN REKAYASA SOSIAL

Pendekatan ini memodifikasi lingkungan yang mempengaruhi perubahan perilaku sehat seseorang. Contoh rekayasa sosial antara lain:

- Kewajiban vaksinasi sebelum masuk sekolah

- Membatasi peredaran obat-obat terlarang - Membatasi kecepatan kendaraan di jalan

tol

- Membatasi pembelian alkohol dan rokok pada usia tertentu

REFERENSI

Sarafino, Edward P. 1990. Health Psychlogy: Biopsychosocial Interactions, 4th edition. John-Willey and Sons.

(12)

12 Taylor, Shelley A. 2015. Health Psychology, 9th

edition. Los Angeles. Mc-Graw Hill Education.

LATIHAN SOAL

1. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku sehat pada seseorang adalah:

A. Pendidikan B. Rasa takut

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

2. Dari pernyataan berikut, manakah yang TIDAK TEPAT tentang teknik penyampaian informasi dan komonikasi yang efektif untuk mengubah perilaku sehat:

A. Komunikasi sebaiknya hanya berupa data statistik dan jargon-jargon B. Penyampai pesan sebaiknya

seseorang yang ahli di bidangnya, prestisius, dapat dipercaya, disukai, dan setara dengan audiens

C. Argumen yang kuat (tentang perilaku sehat) sebaiknya disajikan di awal atau akhir presentasi

D. Pesan yang disampaikan sebaiknya seingkat, jelas, dan langsung

3. Dalam menyampaikan pesan tentang kesehatan dan perubahan perilaku sehat, sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut agar efektif:

A. Pesan yang disampaikan sebaiknya terdapat konklusi/simpulan secara jelas

B. Pesan yang sifatnya ekstrim sebaiknya disampaikan secara ringkas

C. Hindari pesan yang berlebihan D. Jawaban A, B, C benar

4. Dalam menyampaikan informasi dan komunikasi tentang perubahan perilaku maka pemberian nasihat/anjuran sebaiknya:

A. Anjuran untuk mendeteksi penyakit (mis: HIV, Mamogram) dilakukan jika faktor perilaku tidak efektif mengatasi masalah kesehatan

B. Anjuran yang berifat promotif (mis: menggunakan krim matahari) sebaiknya ditekankan pada manfaat yang didapat

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

5. Komunikasi tentang perubahan perilaku sehat sebaiknya difokuskan pada hal-hal yang menyenangkan jika:

A. Audiens terlihat menolak perubahan perilaku

B. Audiens terlihat mau menerima perubahan perilaku

C. Audiens terlihat ragu-ragu menerima perubahan perilaku

D. Audiens terlihat tidak berminat untuk mengubah perilaku

6. Jika audiens terlihat menolak perubahan perilaku sehat, maka komunikasi ditekankan pada:

A. Diskusi terhadap issue penolakan B. Hal-hal yang menyenangkan

(13)

13 C. Hal-hal yang menakutkan

D. Pesan negatif

7. Manakah pernyataan yang TIDAK BENAR tentag faktor rasa takut yang menyebabkan seseorang mau mengubah perilaku sehat:

A. Bila seseorang takut kebiasaan tidak sehat akan mengganggu kesehatannya, maka orang tersebut akan mengubah perilakunya untuk mengurangi rasa takut.

B. Pesan-pesan kesehatan yang mengandung banyak unsur menakutkan, cenderung akan mengurangi perubahan perilaku sehat seseorang.

C. Rasa takut itu sendiri sangat cukup untuk mengubah perilaku sehat seseorang

D. Umumnya tujuan utama orang mengubah perilaku sehat adalah mengurangi rasa takut bukan penyakitnya.

8. Pesan yang disampaikan dalam upaya mengubah perilaku sehat antara lain berbentuk:

A. Pesan yang bersifat positif B. Pesan yang bersifat negatif C. Pesan yang bersifat netral D. Jawaban A dan B benar

9. Karakteristik pesan-pesan yang bersifat positif adalah lebih mengutamakan keuntungan-keuntungan yang didapat

jika menjalankan upaya kesehatan dan berorientasi pada:

A. Promosi kesehatan B. Pengobatan C. Pencegahan D. Pemeliharaan

10. Pesan kesehatan yang lebih memunculkan rasa takut atau ancaman dan berorientasi pencegahan, merupakan karakteristik:

A. Pesan kesehatan yang bersifat positif B. Pesan kesehatan yang bersifat netral C. Pesan kesehatan yang bersifat negatif D. Pesan kesehatan yang tidak jelas 11. Menonjolkan keuntungan-keuntungan

yang didapat jika melakukan vaksinasi, merupakan contoh pesan kesehatan yang:

A. Bersifat negatif B. Bersifat positif C. Bersifat netral

D. Bersifat positif dan negatif

12. Pesan yang lebih menonjolkan pada ketidaknyamanan jika menderita influenza bila tidak melakukan vaksinasi flu, adalah pesan yang:

A. Bersifat positif B. Bersifat negatif C. Bersifat netral

D. Bersifat positif dan negatif

13. Pesan yang bersifat positif akan efektif digunakan pada pada situasi berikut ini KECUALI:

(14)

14 A. Pada perubahan perilaku dengan

kepastian dampak yang dihasilkan tinggi

B. Ditujukan pada orang-orang yang lebih berorientasi pada upaya promosi atau meningkatkan kesehatan

C. Ditujukan pada orang-orang yang memulai perubahan perilaku

D. Ditujukan pada orang-orang yang memelihara perubahan perilaku selamanya

14. Pesan kesehatan yang bersifat negatif sebaiknya digunakan pada:

A. Upaya mengubah perilaku sehat yang memiliki ketidakpastian hasil dan hanya membutuhkan sekali intervensi, misalnya pada vaksinasi B. Ditujukan pada orang-orang yang

memiliki orientasi pencegahan penyakit

C. Ditujukan pada orang-orang yang memelihara perubahan perilaku selamanya

D. Jawaban A, B, C benar

15. Terdapat berbagai macam pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka perubahan perilaku sehat pada seseorang. Pendekatan tersebut antara lain:

1. Pendekatan ... 2. Pendekatan ... 3. Pendekatan ... 4. Pendekatan ...

16. Health Belief Model (HBM), Theory of Planned Behavior, dan Self-Determination Theory adalah metode perubahan perilaku yang dilakukan dengan pendekatan:

A. Sikap B. Kognitif C. Transformatif D. Rekayasa sosial

17. Pengertian pendekatan Kognitif dalam mengubah perilaku sehat seseorang adalah mengubah perilaku sehat dengan melakukan modifikasi pada:

A. Sikap

B. Lingkungan sosial

C. Perilaku pada setiap tahap perubahan D. Cara berfikir seseorang

18. Pendekatan Transformatif adalah metode mengubah perilaku sehat yang dilakukan melalui berbagai tahap transformatif. Contoh pendejakan ini adalah:

A. Health Belief Model

B. Transtheoretical Model of Behavior Change

C. Self-Determination Theory D. Cognitive-behavioral Theory

19. Metode mengubah perilaku sehat dengan memodifikasi lingkungan sosial seseorang, merupakan teori perubahan perilaku sehat dengan pendekatan: A. Sikap

B. Kognitif C. Transformatif D. Rekayasa sosial

(15)

15 20. Menurut teori Health Belief Model

seseorang menjalankan perilaku sehat dipengaruhi oleh faktor-faktor

A. Keyakinan terhadap gangguan kesehatan

B. Keyakinan terhadap efektifitas upaya kesehatan dalam mengurangi gangguan kesehatan

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

21. Pada teori HBM, persepsi seseorang terhadap gangguan kesehatan dipengaruhi oleh hal-hal berikut KECUALI: A. Nilai-nilai kesehatan secara umum, seperti: minat dan perhatian terhadap kesehatan

B. Keyakinan terhadap kerentanan seseorang terhadap gangguan kesehatan

C. Keyakinan terhadap konsekuensi yang timbul akibat gangguan kesehatan

D. Keyakinan terhadap pengetahuan secara umum

22. Menurut teori HBM, seseorang mau dan akan mengubah perilaku diet dengan mengurangi asupan kolesterol bila: A. Mereka memiliki nilai-nilai kesehatan

yang baik, yakin bahwa orang yang tidak diet kolesterol akan mengalami sakit jantung

B. Mereka yakin bahwa gangguan kesehatan akibat penyakit jantung bisa berbahaya

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

23. Pada teori HBM, keyakinan terhadap efektifitas upaya kesehatan dalam mengurangi gangguan kesehatan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: A. Keyakinan bahwa upaya kesehatan

akan berjalan efektif

B. Keyakinan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk upaya kesehatan akan memberikan keuntungan/ benefit

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

24. Pada teori HBM, seseorang yang dianjurkan untuk mengubah pola makan untuk mencegah penyakit jantung akan efektif jika:

A. Memiliki keyakinan bahwa mengubah pola makan bukan satu-satunya penyebab sakit jantung

B. Mengubah pola makan akan banyak mengurangi kesenangan hidup, namun memberi manfaat bagi kesehatan

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

25. Perbedaan utama antara teori Health Belief Model (HBM) dengan The Theory of Planned Behavior (TPB) adalah:

A. Hubungan antara perilaku sehat dengan keyakinan akan kesehatan pada TPB lebih dekat dibandingkan dengan HBM

(16)

16 B. TPB pendekatan sikap, HBM

pendekatan kognitif

C. Hubungan antara perilaku sehat dengan keyakinan akan kesehatan pada TPB lebih jauh dibandingkan dengan HBM

D. TPB pendekatan kognitif, HBM pendekatan TPB

26. Menurut teori TPB, perilaku sehat merupakan hasil langsung dari tujuan perilaku seseorang, yang ditentukan oleh faktor-faktor:

A. Sikap terhadap aktifitas tertentu; B. Norma-norma yang berhubungan

aktifitas tertentu

C. Persepsi terhadap pengontrol perilaku

D. Jawaban A, B, C benar semua

27. Pada teori TPB, seseorang akan lebih memiliki kemungkinan berhenti merokok jika:

A. Percaya bahwa perilaku merokok menyebabkan masalah kesehatan serius

B. Percaya bahwa orang lain menganjurkan sebaiknya berhenti merokok, dan termotivasi untuk mengikuti norma-norma yang ada C. Percaya bahwa ia memiliki

kemampuan berhenti merokok, dan menjalankan tujuan dari perilaku-perilaku di atas

D. Jawaban A, B, C benar

28. Teori perubahan perilaku yang disusun berdasarkan pemikiran bahwa setiap orang termotivasi untuk mengejar tujuan mereka melalui motivasi otonom dan persepsinya terhadap kemampuan melakukan perubahan perilaku, adalah teori:

A. Self-Determination Theory (SDT) B. Health Belief Model (HBM)

C. The Theory of Planned Behavior (TPB) D. Cognitive-Behavior Therapy (CBT) 29. Menurut pendekatan kognitif (mis: CBT),

mengubah perilaku dan kebiasaan sehat difokuskan kepada:

A. Perilaku target itu sendiri

B. Kondisi yang menimbulkan atau memelihara perilaku tersebut

C. Faktor-faktor yang memperkuat perilaku tersebut

D. Jawaban A, B, C benar

30. Isilah titik-titik pada pernyataan di bawah ini.

Metode perubahan perilaku sehat dengan teori CBT terdiri dari berbagai teknik antara lain: 1. Self-monitoring 2. ... control 3. The self-control .... 4. Self-reinforcement 5. Behavioral .... 6. ... skills training 7. ... trainings 8. ... Interviewing 9. ... prevention

(17)

17 31. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam

metode self-monitoring dari teori CBT adalah:

A. Berusaha menghilangkan kondisi-kondisi yang memungkinkan timbulnya perilaku sehat/tidak sehat B. Setiap orang harus memahami

dimensi-dimensi dari kebiasaan sehat sebelum memulai mengubah perilaku sehat

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

32. Tahap-tahap dalam teori CBT dengan metode self-monitoring meliputi:

A. Memahami perilakunya sehingga bisa membedakan perilaku tersebut dengan orang lain.

B. Memetakan perilaku

C. Mengidentifikasi discriminative stimulus

D. Jawaban A, B, C benar

33. Pada metode self-monitoring, seseorang akan mengubah perilaku sehatnya dapat mengidentifikasi kondisi-kondisi yang memungkinkan perilaku tersebut muncul yang disebut dengan:

A. Discriminative stimulus B. General stimulus C. Behavior stimulus D. Discriminative behavior

34. Pada intervensi perubahan perilaku CBT dengan stimulus control, dilakukan dengan cara-cara:

A. Menghilangkan discriminative stimulus yang menimbulkan perilaku tidak sehat

B. Menciptakan discriminative stimulus yang baru untuk mengurangi kebiasaan tidak sehat

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

35. Menempelkan peringatan-peringatan di lokasi strategis di rumah dalam rangka mengubah perilaku diet, seperti tulisan “jangan makan sambil menonton TV” atau “kurangi belanja makanan yang bikin gemuk” merupakan teknik CBT dengan metode stimulus control, berupa:

A. Menciptakan discriminative stimulus baru

B. Menghilangkan discriminative stimulus

C. Mempertahankan discriminative stimulus

D. Mengganti discriminative stimulus 36. Metode pada pendekatan CBT yang

mendasarkan keyakinan bahwa setiap orang melakukan dialog dengan dirinya sendiri (monolog) dalam rangka mengubah perilaku mereka, sehingga perlu diciptakan dan dimodifikasi monolog-monolog yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku (cognitive-restructuring) adalah metode:

A. Stimulus control B. Self-monitoring

(18)

18 D. Self-reinforcement

37. Self-reinforcement adalah metode dalam pendekatan CBT:

A. Yang memberikan ganjaran (positif atau negatif) dalam rangka meningkatkan atau menurunkan faktor-faktor yang mengubah perilaku seseorang

B. Yang menghilangkan discriminative stimulus dan menciptakan discriminative stimulus yang baru C. Menciptakan monolog-monolog

untuk mengubah perilaku

D. Memahami dan memetakan perilaku tidak sehat

38. Manakah yang BUKAN contoh metode self-reinforcement:

A. Mengiming-imingi nonton film di bioskop jika berhasil menurunkan berat badan

B. Seorang anak boleh bermain games jika selama seminggu selalu menggosok gigi sebelum tidur

C. Seorang anak remaja ditambah uang jajannya jika selalu tidur tepat waktu D. Membuat peringatan tertulis di

tempat-tempat strategis di rumah 39. Metode dalam CBT yang dilakukan

dengan memberikan penugasan-penugasan di rumah pada seseorang yang ingin mengubah perilaku tidak sehat oleh ahli atau terapis kepada pasiennya setelah melakukan konsultasi, adalah:

A. Self-monitoring

B. The self-control behavior C. Behavioral assignments D. Self-reinforcement

40. Isilah titik-titik pada pernyataan di bawah ini.

Teknik behavioral assignments memiliki keunggulan antara lain:

1. Melibatkan pasien dalam proses ... (perubahan perilaku)

2. Pasien ikut melakukan .... terhadap perilakunya

3. Pasien menjadi lebih ... dalam proses pengobatan (perubahan perilaku) 4. ... untuk mengubah perilaku secara

bertahap menjadi meningkat

5. Meningkatkan keinginan untuk ... pasien.

41. Metode pada pendekatan CBT yang digunakan untuk mengubah perilaku yang tidak sehat akibat reaksi kecemasan terhadap masalah sosial (social anxiety) dengan memberi pelatihan bagaimana menghadapi situasi-situasi sosial yang tidak diinginkan dengan cara-cara yang lebih efektif dan tidak mengganggu kesehatan adalah:

A. Self-reinforcement B. Social skill trainings C. Behavioral assignments D. Stimulus control

42. Teknik relaksasi atau relaxational training dalam metode CBT cocok diberikan untuk mengubah perilaku tidak sehat akibat: A. Tekanan sosial

(19)

19 B. Pengaruh internal

C. Kebiasaan pribadi D. Cara berfikir yang salah

43. Pada beberapa karyawan yang akan presentasi di hadapan klien, ada yang merokok hanya untuk menghilangkan stress, atau menggigit kuku, menggaruk kulit dan sebagainya, merupakan contoh perilaku yang disebabkan oleh tekanan sosial. Perilaku tidak sehat ini efektif dikurangi dengan metode:

A. Social skill training B. Assertive training C. Relaxational training D. Social engineering

44. Manakah pernyataan yang TIDAK BENAR tentang metode wawancara motivasional (motivational interview):

A. Pada awalnya digunakan untuk mengurangi perilaku adiksi pada seseorang

B. Dilakukan dengan menggunakan gaya konseling kepada pasien

C. Efektif untuk orang yang mengalami kebingungan atau khawatir bagaimana mengubah perilakunya D. Dilakukan dengan menggunakan gaya

mengajar/training satu arah

45. Prinsip-prinsip yang dijalankan dalam metode motivational interview adalah: A. Tidak menghakimi, tidak konfrontatif,

mendorong ke arah yang baik, dan mendukung

B. Bertujuan menggali pemikiran pasien baik yang positif maupun yang negatif tentang perilakunya atau membuat pasien berkomunikasi sebanyak mungkin dengan konselor

C. Tidak berusaha membujuk pasien untuk mengubah perilakunya atau menganalisis kepercayaan yang irasional, melainkan berusaha agar pasien memikirkan dan menjelaskan alasan kenapa ia memiliki perilaku tidak sehat

D. Jawaban A, B, C benar

46. Metode mengubah perilaku dengan pendekatan kognitif yang dilakukan untuk mencegah kembalinya seseorang memiliki perilaku yang tidak sehat atau kekambuhan disebut dengan:

A. Social skill training B. Relaxational training C. Relapse prevention D. Stimulus control

47. Pada metode relapse prevention terdapat satu kedaan dimana seseorang kehilangan kontrol diri akibat melanggar aturan yang dibuatnya sendiri, yang memicu ketagihan (atau kekambuhan) seseorang terutama saat dirinya sedang goyah. Keadaan ini disebut dengan

A. Abstinence violation effect B. Presence violation effect C. Abstinence reinforce effect D. Presence reinforce effect

(20)

20 48. Manakah pernyataan yang TIDAK BENAR

tentang relapse prevention:

A. Saat awal mengubah perilaku, seseorang memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, lama-lama menghilang dan kemungkinan kambuh akan meningkat

B. Seseorang yang memiliki self-efficacy (kemampuan dan kesadaran menyembuhkan diri sendiri) tinggi akan terhidar dari kekambuhan C. Seseorang yang memiiliki self-efficacy

rendah berisiko untuk kambuh D. Seseorang yang memiliki self-efficacy

tinggi berisiko untuk kambuh

49. Faktor penyebab atau pemicu kekambuhan umumnya berasal dari hal-hal yang negatif seperti:

A. Depresi B. Kecemasan C. Di bawah tekanan D. Jawaban A, B, C benar

50. Upaya-upaya yang dilakukan dalam program mencegah kekambuhan (relapse prevention) antara lain sebagai berikut: A. Mengidentifikasi situasi-situasi yang

memungkinkan timbulnya kekambuhan

B. Menyarankan untuk menghindari situasi-situasi yang memicu perilaku tidak sehat

C. Menyarankan pasien untuk melakukan penyeimbangan gaya hidup atau lifestyle rebalancing

D. Jawaban A, B, C benar semua

51. Manakah yang BUKAN merupakan kelebihan metode CBT:

A. Beberapa teknik dalam CBT dapat mengatasi berbagai masalah

B. Rencana terapi dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan

C. Dapat mengatasi masalah perilaku secara bersama-sama

D. Hanya mengatasi satu masalah perilaku tidak sehat

52. Teori perubahan perilaku yang meyakini bahwa perilaku sehat tidak terjadi secara tiba-tiba dalam satu waktu, melainkan melalui melalui berbagai tahapan, merupakan teori dengan pendekatan: A. Sikap

B. Kognitif C. Transformatif D. Rekayasa sosial

53. Salah satu teori dengan pendekatan transformatif yang dikembangkan oleh Prochaska dan kawan-kawan tahun 1994, dengan menganalisis tahap-tahap seseorang mengalami perubahan perilaku sehat dan mengusulkan intervensi serta tindakan yang sebaiknya dilakukan pada setiap tahapan, adalah:

A. The transtheoretical model of behavior change

B. The Theory of Planned Behavior C. Health Belief Model

(21)

21 54. Pada pendejatan transformatif,

tahapan-tahap seseorang untuk mengubah perilaku tidak sehat antara lain

1. Tahap ... 2. Tahap ... 3. Tahap ... 4. Tahap ... 5. Tahap ...

55. Tahap yang terjadi saat seseorang tidak memiliki keinginan untuk mengubah perilakunya dan beberapa orang pada tahap ini tidak sadar bahwa dirinya mengalami masalah kesehatan, meskipun lingkungan sosial sekitarnya memiliki perilaku yang sehat disebut dengan tahap: A. Tahap prekontemplasi

B. Tahap Kontemplas C. Tahap persiapan D. Tahap pemeliharaan

56. Kondisi dimana peminum alkohol mau mengubah perilaku bila keluarga mendorongnya atau menekannya untuk memperbaiki diri merupakan contoh perilaku pada tahap:

A. Kontemplasi B. Prekontemplasi C. Persiapan D. Pemeliharaan

57. Karakteristik tahap kontemplasi adalah: A. Seseorang sadar bahwa ia memiliki

masalah kesehatan

B. Seseorang telah memikirkan masalahnya

C. Seseorang belum memiliki komitmen untuk berubah

D. Jawaban A, B, C benar

58. Manakah yang BUKAN karakteristik perilaku sehat pada tahap persiapan atau preparation :

A. Seseorang sadar bahwa ia memiliki masalah kesehatan

B. Seseorang mulai berniat untuk mengubah perilaku

C. Seseorang masih tidak berhasil mengubah perilakunya

D. Pada beberapa kasus, orang pada tahap ini mengubah perilaku seadanya saja dan belum ada komitmen untuk mengubah perilakunya, misalnya mengurangi jumlah rokok yang dihisap

59. Tahap perubahan perilaku seseorang yang terjadi saat seseorang memodifikasi perilaku mereka untuk mengatasi masalahnya, dan membutuhkan komitmen dan energi yang tinggi untuk mengubah perilaku disebut dengan tahap:

A. Aksi B. Persiapan C. Pemeliharaan D. Kontemplasi

60. Tujuan tahap pemeliharaan atau maintenance dalam upaya mengubah perilaku sehat adalah:

(22)

22 B. Mengkonsolidasi upaya yang sudah

dijalankan

C. Jawaban A dan B benar D. Jawaban A dan B salah

61. Pendekatan perubahan perilaku yang dilakukan dengan memodifikasi lingkungan yang mempengaruhi perubahan perilaku sehat seseorang adalah:

A. Pendekatan sikap B. Pendekatan kognitif C. Pendejatan transformatif D. Pendekatan rekayasa sosial

62. Manakah yang TIDAK termasuk dalam contoh pendekatan rekayasa sosial: A. Mewajibkan vaksinasi sebelum masuk

sekolah

B. Membatasi peredaran obat-obat terlarang

C. Menganjurkan pengemudi untuk mengurangi kecepatan kendaraan di jalan tol

D. Membatasi pembelian alkohol dan rokok pada usia tertentu

Gambar

Gambar 1. Health Belief Model yang Diaplikasikan pada Perilaku Berhenti Merokok

Referensi

Dokumen terkait

Teori Motivasi Dua Faktor – Kelompok II 13 Berdasarkan yang dikemukakan oleh Herzberg, job satisfaction. disebabkan oleh hadirnya serangkaian faktor yang disebut

mengamanatkan agar seluruh komponen bangsa Indonesia bekerjasama yang sinergis untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan MDGs, dengan melakukan gerakan nyata dalam

Dari teori-teori yang telah diuraikan diatas dapat dikatakan bahwa, Sistem adalah sekumpulan elemen atau komponen yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu

Hal ini merupakam tujuan dari komunikasi perubahan perilaku antara lain meningkatkan pengetahuan tentang penyakit, Meningkatkan persepsi terhadap risiko,

Teori operant conditioning berfokus pada bagaimana organisasi menggunakan konsekuensi-konsekuensi tersebut untuk mencapai dua outcome, yaitu untuk

Melalui teori Lawrence Green (1980) dalam Notoatmojo (2005) tersebut peneliti hendak melihat apakah pengetahuan, keyakinan, nilai- nilai dan persepsi berhubungan

• Yang termasuk kedalam teori etika yaitu egoism dimana masing-masing individu memiliki tujuan hidup dan tindakan yang dilakukan setiap orang pada dasarnya adalah untuk mengejar

Prinsip dasar teori kognitif adalah bahwa proses kognitif individu seperti persepsi, interpretasi, dan penilaian suatu peristiwa memainkan peran yang menentukan dalam emanasi dan