i
EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE
CROSSWORD PUZZLE
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X
MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata I Ilmu Tarbiyah
Jurusan Tadris Kimia
Oleh:
Siti Muzdalifah NIM: 073711022
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertandatangan dibawah ini:
Nama : Siti Muzdalifah
NIM : 073711022
Program Studi : Tadris Kimia
Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian /
karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.
Semarang, Desember 2011
Saya yang menyatakan,
iv
NOTA PEMBIMBING Semarang, Desember 2011
Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
di Semarang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah
skripsi dengan:
Judul : EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD PUZZLE DALAM
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA.
Nama : Siti Muzdalifah
NIM : 073711022
Jurusan : Tadris
Program Studi : Kimia
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosyah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Pembimbing I,
v
NOTA PEMBIMBING Semarang, Desember 2011
Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo
di Semarang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah
skripsi dengan:
Judul : EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD PUZZLE
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X
MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA
Nama : Siti Muzdalifah
NIM : 073711022
Jurusan : Tadris
Program Studi : Kimia
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosyah.
vi
ABSTRAK
Judul : Efektivitas Penerapan Metode Crossword Puzzle Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pokok Sistem Periodik Unsur
Kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja
Penulis : Siti Muzdalifah
NIM : 073711022
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen berdesain “posttest-only control design”. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan metode Crossword Puzzle efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan metode
Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, bentuk penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu membandingkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling, sehingga terpilih kelas X1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol, Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi dan tes. Data yang terkumpul sebelumnya diuji normalitas dan uji homogenitas. Pada uji normalitas diperoleh kelompok eksperimen 2hitung= -86,526 dan kelompok kontrol 2 hitung= -103,675 dengan α=
5% dari distribusi chi-kuadrat didapat 2 tabel= 12,5916, sehingga 2 hitung < 2 tabel disimpulkan
data tersebut normal. Uji homogenitas antar kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji kesamaan 2 varian, diperoleh Fhitung= 1,013 dan Ftabel= 1,65 dengan taraf
nyata 0,05, data pembilang= 43 dan data penyebut= 44, maka Fhitung < Ftabel. Artinya kedua
kelompok homogen. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis uji t. Uji t dilakukan untuk membandingkan hasil antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa hasil rata-rata kelompok eksperimen adalah 62,22, sedang rata-rata kelompok kontrol adalah 49,09. Berdasarkan uji percobaan satu pihak, yaitu pihak kanan diperoleh thitung = 4,943 sedangkan t(0.95)(87 )= 1,665, karena thitung > t(0.95)(87 ) maka H0 ditolak.
Artinya rata-rata hasil belajar kimia yang diajar dengan penerapan metode Crossword Puzzle
lebih besar dari pada rata-rata hasil belajar kimia yang diajar dengan pembelajaran dengan metode ekspositori.
vii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Rabb al-Izzati,
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua hamba-Nya. Terlebih
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi akhir
zaman dan pembawa rahmat bagi makhluk seluruh alam.
Tidak ada kata yang pantas penulis ungkapkan kepada pihak-pihak yang membantu
proses pembuatan skripsi ini, kecuali terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, DR. Suja’i, M.Ag.
2. Dosen pembimbing Atik Rahmawati, M. Si dan Dr. Widodo Supriyono, M.A yang telah
memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan skripsi.
3. Kepala Sekolah MA NU 04 Al Ma’arif Boja, Drs. Shobirin, M. Si, yang berkenan memberikan izin pada penulis untuk melakukan penelitian di MA NU 04 Al Ma’arif Boja.
4. Guru pengampu bidang studi Kimia MA NU 04 Al Ma’arif Boja, Bu Lismawati, yang memberikan banyak arahan dan informasi selama proses penelitian.
5. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah yang telah membekali banyak pengetahuan kepada
penulis dalam menempuh studi di Fakultas Tarbiyah.
6. Segenap pegawai Fakultas Tarbiyah, pegawai perpustakaan IAIN dan pegawai
perpustakaan Fakultas Tarbiyah yang telah memberikan layanan yang baik bagi penulis.
7. Kedua orang tua dan keluarga besarku yang tidak henti-hentinya memberikan dorongan
baik moril maupun materiil dan tidak pernah bosan mendoakan penulis dalam menempuh
studi dan mewujudkan cita-cita,
8. Teman-teman penulis yang ikut memberikan motivasi selama menempuh studi,
khususnya dalam proses penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan
satu-persatu.
Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang
viii
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari
segi materi, metodologi dan analisisnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang tertulis dalam
skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya.
Amin.
Semarang, Desember 2011
Penulis
Siti Muzdalifah
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PENGESAHAN ... iii
NOTA PEMBIMBING ... iv
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II : LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Belajar dan Pembelajaran ... 6
2. Hasil Belajar ... 7
a. Ranah Kognitif ... 8
b. Ranah Psikomotorik ... 8
c. Ranah Afektif ... 8
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 9
a. Faktor Internal ... 9
b. Faktor Eksternal ... 9
4. Metode Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) ... 10
x
b. Golongan dan Periode Unsur-unsur Dalam Tabel Periodik
1). Penggolongan Unsur ... 14
2). Perioda ... 15
3). Hubungan Konfigurasi Elektron Dengan Sistem Perio dik ... 15
c. Logam dan Bukan Logam ... 16
1). Logam (Metal) ... 16
2). Non Logam (Nonmetal) ... 17
3). Semi Logam (Metaloid) ... 17
d. Sifat-sifat Periodik Unsur ... 18
1). Jari-jari Atom ... 18
2). Energi Ionisasi ... 19
3). Afinitas Elektron ... 19
4). Keelektronegatifan ... 20
B. Kerangka Berfikir ... 20
C. Kajian Penelitian yang Relevan ... 22
D. Rumusan Hipotesis ... 24
BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 25
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 26
C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 26
D. Variabel Penelitian dan Indikator Efektivitas ... 27
E. Teknik Pengumpulan Data ... 28
F. Teknik Analisis Data... 29
BAB IV : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian 1. Persiapan Pelaksanaan Penelitian ... 39
2. Pelaksanaan Pembelajaran ... 39
a. Pembelajaran dengan Metode Crossword Puzzle pada Kelas Eksperimen ... 40
xi
c. Tahap Evaluasi ... 42
B. Analisis Data 1. Analisis Data Awal (Data Pretest) ... 45
2. Analisis Data uji coba ... 48
3. Analisis Data akhir (Data Posttest) ... 55
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 60
D. Keterbatasan Penelitian ... 62
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 63
B. Saran-saran ... 63
C. Penutup ... 64
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya
proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan
kemampuan berpikirnya. Implikasinya pembelajaran kimia di sekolah masih
jauh dari harapan. Guru-guru masih menerapkan metode mengajar secara
tradisional, yang berorientasi pada pengukuran kognitif peserta didik saja.
Sedangkan dalam paradigma belajar konstruktivisme pembelajaran harus dapat
mengukur tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk mencapai
tiga pengukuran hasil belajar tersebut, kegiatan belajar di kelas tidak cukup
hanya menerapkan metode ceramah saja atau metode pembelajaran tutur dan
kapur (talk and chalk). Akibatnya akan menimbulkan kekurang tertarikan peserta didik terhadap mata pelajaran dan mengurangi semangat peserta didik
mengikuti kegiatan pembelajaran. Peserta didik yang sebelumnya tidak
menyukai mata pelajaran tertentu akan menjadi kurang termotivasi. Oleh karena
itu, guru harus kreatif membuat strategi mengajar yang dapat menciptakan
suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
Dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan
pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung dengan guru. Oleh karena itu
upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan
kemampuan guru. Satu diantara kemampuan yang harus dimiliki guru adalah
merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau
kompetensi yang akan dicapai, karena tidak semua tujuan dapat tercapai hanya
dengan satu strategi tertentu.1
Mata pelajaran Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang
dianggap sulit bagi sebagian peserta didik. Banyaknya konsep kimia yang
2 bersifat abstrak yang harus diserap peserta didik dalam waktu relatif terbatas
menjadikan ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran sulit bagi peserta
didik sehingga banyak peserta didik gagal dalam belajar kimia. Pada umumnya
peserta didik cenderung belajar dengan hafalan daripada secara aktif mencari
untuk membangun pemahaman mereka sendiri terhadap konsep kimia. Ada juga
sebagian peserta didik yang sangat paham pada konsep-konsep kimia, namun
tidak mampu mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.2 Kondisi seperti ini akan berdampak pada menurunnya minat belajar
peserta didik dan semakin tidak pahamnya peserta didik terhadap mata pelajaran
dan konsep-konsep di dalamnya. Secara kualitatif, berarti tujuan pendidikan
kimia sebagaimana dalam GBPP tidak tercapai. Secara kuantitatif nilai peserta
didik tidak mampu melampaui batas minimal tercapainya suatu ketuntasan
pembelajaran, yaitu nilai rata-rata masih dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65.
Kondisi yang demikian itulah yang melatarbelakangi peneliti untuk
melakukan penelitian tindakan di MA NU 04 Al Ma’arif Boja. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti menggambarkan kondisi di MA NU 04
Al Ma’arif Boja adalah sebagaimana kondisi yang telah diuraikan di atas, yaitu : secara kuantitatif nilai peserta didik rata-rata masih dibawah KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65, strategi
pengajaran kurang memadai, karena masih jarang guru yang menggunakan
metode yang aktif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran, khususnya
pada mata pelajaran kimia.
Telah dikembangkan dan diteliti berbagai metode pembelajaran yang
berbeda satu dengan yang lain. Salah satunya adalah metode pembelajaran
Crossword Puzzle (Teka-teki Silang). Metode pembelajaran ini dapat membantu peserta didik untuk mudah mengingat, dan metode Crossword Puzzle
ini digunakan untuk menyusun tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki
silang, metode ini dapat mengundang minat dan partisipasi peserta didik dalam
3 pembelajaran. Langkah pertama, peserta didik mendengarkan penjelasan tentang
beberapa istilah atau nama-nama penting yang terkait dengan materi Sistem
Periodik Unsur. Kemudian peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok
kecil yang terdiri dari dua sampai empat orang. Masing-masing kelompok dibagi
Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) yang terkait dengan materi Sistem Periodik Unsur untuk dikerjakan, dan waktu mengerjakan dibatasi kemudian hasilnya
dicocokkan bersama.3
Teka teki silang yang dimaksudkan bahwa selain ada unsur
permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan mengisi teka teki
silang tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga
diharapkan selain kesenangan juga didapatkan pengetahuan dan pemahaman
materi pelajaran, khususnya materi pelajaran sistem periodik unsur dan ilmu
kimia pada umumnya. Maka diharapkan dengan membuka, membaca, dan
mencari jawaban teka-teki silang tersebut, peserta didik akan selalu paham dan
mengerti dengan sendirinya materi pelajaran sistem periodik unsur yang
merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang membutuhkan daya
pemahaman yang cukup.
Teka-teki silang yang digunakan akan memberikan nilai yang positif
bagi peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan menjawab dan
mengerjakan bersama, peserta didik akan selalu berlomba untuk dapat
menemukan jawabannya dengan benar sehingga akan muncul persaingan sehat.
Rasa kebersamaan yang tinggi akan tumbuh, karena bagi peserta didik yang
menemukan jawaban akan dapat menjawab teka-teki silang tersebut dan peserta
didik lain dalam kelompoknya juga akan mengetahui jawaban yang benar.
Faktor ketelitian dan ketepatan yang tinggi juga menjadi sangat menentukan
dalam pengisian jawaban teka-teki silang, Karena huruf-huruf dalam jawaban
dapat mempengaruhi jawaban yang lain baik dalam baris atau kolom.4
3Silberman, Active Learnig 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Nusamedia, 2006), hlm 256.
4Sugiartini, “
4 Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti efektivitas
penerapan metode Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan metode
Crossword Puzzle efektif dalam meningkatkan hasil belajar kimia kelas X MA
NU 04 Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode
Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar kimia kelas X MA NU 04
Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat bagi Peserta Didik
a. Meningkatkan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Dengan diterapkannya metode Crossword Puzzle, memberikan alternatif kepada peserta didik untuk mempermudah mengingat materi pembelajaran
kimia pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.
c. Meningkatkan motivasi peserta didik dengan diterapkannaya metode
Crossword Puzzle.
d. Meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.
2. Manfaat bagi Guru
a. Meningkatkan kreatifitas guru dalam mengajar.
b. Memberikan wacana untuk menambah variasi mengajar.
c. Mampu menghidupkan suasana kelas dengan metode yang diterapkan.
5 3. Manfaat bagi Peneliti
a. Memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman mengajar.
b. Memberikan pengalaman cara mendesain materi pembelajaran yang tepat.
4. Manfaat bagi Sekolah
Memberi masukan bagi sekolah untuk melakukan perbaikan terhadap
proses pembelajaran kimia pada khususnya dan pelajaran lain pada
6
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teori
1. Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan upaya sadar atau upaya yang disengaja untuk
mendapat kepandaian. Banyak definisi belajar yang dikemukakan oleh para ahli,
diantaranya sebagai berikut:
a) Menurut Anita E. Woolfolk
“Learning is the process through which experiences causes permanent of change knowledge or behavior”.1 (Belajar adalah suatu proses di mana pengalaman-pengalaman menghasilkan suatu perubahan permanen
dalam pengetahuan atau tingkah laku).
b) Menurut Cronbach sebagaimana dikutip oleh Sardiman
“Learning is shown by a change in behaviour as a result of experience”.2 (Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman).
c) Menurut Slameto
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungan”.3 d) Menurut Trianto
“Belajar diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan
tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir.”4
1
Anita E. Woolfolk, Educational Psychology, (Bostan, Allyn and Bocon, 1996), p. 196.
2Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 20.
3Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya , (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm.2.
7 e) Menurut Syekh Abdul Aziz dan Abdul Majid dalam kitab At-Tarbiyatul wa
Thuruqut Tadris mendenifisikan belajar sebagai berikut:
ملعَّلا
وه
رْييْغت
يف
نْه
ملعّملا
أرْطي
ىلع
رْخ
قباس
ث ْحيف
اهْيف
اًرييْغت
اً ْي ج
(Belajar adalah perubahan di dalam diri (jiwa) peserta didik yang dihasilkan dari pengalaman terdahulu sehingga menimbulkan perubahan yang baru)
Dari pengertian belajar yang sudah dikemukakan, dapat dikatakan bahwa
belajar merupakan suatu proses yang dialami oleh individu dalam
pengalamannya yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Salah satu pertanda
bahwa seorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri
orang itu yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan,
keterampilan, atau sikapnya.
Sedangkan pembelajaran artinya proses, cara, perbuatan menjadikan
orang atau makhluk hidup belajar.6 Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, di mana antara keduanya terjadi komunikasi
(transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan
sebelumnya.7
Dari pengertian-pengertian tersebut, maka pembelajaran
merupakan suatu aktivitas yang dengan sengaja dilakukan dengan menciptakan
berbagai kondisi yang diarahkan untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan kurikulum.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah
peserta didik menerima pengalaman belajar.8 Menurut Bloom yang dikutip oleh
5
Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Majid, At-tarbiyah wa Thuruqut Tadris, Juz I, (Mesir: Darul Ma’arif, t.th), hlm. 169.
6Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 23.
7
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif., hlm. 17.
8 Sardiman, ranah belajar terdiri dari tiga yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan
afektif.
a) Ranah Kognitif (Cognitive Domain),
Hasil belajar ranah ini menekankan pada aspek intelektual.9 Ranah ini meliputi:
1) Knowledge (Pengetahuan dan ingatan);
2) Comprehension (Pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh); 3) Analysis (Menguraikan, menentukan hubungan);
4) Synthesis (Mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru);
5) Evaluation (Menilai); dan 6) Application (Menerapkan).
b) Ranah Psikomotorik (Psycomotor Domain),
Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak.10 Ranah ini meliputi :
1) Perception (Persepsi); 2) Set (Kesiapan);
3) Guided Respon (Gerakan Terbimbing); 4) Mechanism (Gerakan Terbiasa);
5) Complex Over Respon (Gerakan Kompleks); 6) Adaptation (Penyesuaian); dan
7) Originality (Kreativitas).
c) Ranah Afektif (Affective Domain),
Hasil belajar yang berkenaan dengan sikap.11 meliputi:
1) Receiving (Sikap menerima); 2) Responding (Memberikan respon); 3) Valuing (Menilai);
4) Organization (Organisasi); dan
9
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, hlm. 22.
9
5) Characterization (Karakterisasi).12
Dalam pembelajaran materi Sistem Periodik Unsur ini, hasil belajar yang
akan dicapai adalah hasil belajar ranah kognitif. Hasil belajar ranah ini dapat
dillihat dari hasil tes yang diberikan di akhir pembelajaran materi Sistem
Periodik Unsur. Dari hasil tes tersebut akan tampak sejauh mana peserta didik
mengingat materi yang sudah disampaikan dan sejauh mana pemahaman mereka
terhadap materi.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang diperoleh peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal meliputi:
1)Faktor jasmani, meliputi kesehatan dan cacat tubuh.
2)Faktor psikologis, meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan.
3)Faktor kelelahan.13 b. Faktor eksternal, meliputi:
1)Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,
dan latar belakang kebudayaan
2)Faktor sekolah, meliputi metode pengajaran, kurikulum, relasi guru dengan
peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar
pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
3)Faktor masyarakat, meliputi kegiatan peserta didik dalam masyarakat,
media masa, teman bergaul, serta bentuk kehidupan masyarakat. 14
Di antara faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor
sekolah, yang salah satunya berupa alat pelajaran. Alat pelajaran merupakan alat
yang dipakai oleh guru saat mengajar dan juga dipakai oleh peserta didik untuk
12
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, hlm. 23.
10 menerima materi yang diajarkan. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat dapat
memperlancar penerimaan materi pelajaran kepada peserta didik.
Mengusahakan alat pelajaran yang baik sangat diperlukan, agar guru
dapat mengajar dengan baik dan peserta didik dapat menerima pelajaran dengan
baik, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang maksimal. Alat pelajaran ini bisa
meliputi buku-buku cetak maupun laboratorium.
Crossword Puzzle yang berupa gambar dua dimensi, dapat juga dijadikan sebagai alat pelajaran. Dalam hal ini, materi Sistem periodik unsur dapat
disajikan dalam Crossword Puzzle. Crossword Puzzle ini akan mempermudah peserta didik mengingat materi-materi yang disampaikan. Dengan demikian
hasil belajar peserta didik dapat sesuai dengan yang diharapkan.
4. Metode Crossword Puzzle (Teka-teki Silang)
Metode Crossword Puzzle ini merupakan susunan tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang yang dapat mengundang minat dan
partisipasi peserta didik. Teka-teki silang ini bisa diisi secara perorangan atau
kelompok.15
Crossword puzzle (teka-teki silang) adalah salah satu metode pembelajaran aktif bagi peserta didik yang melibatkan semua peserta didik untuk
berfikir saat pembelajaran berlangsung dengan mengisi teka–teki silang (Crossword puzzle) sehingga peserta didik menjadi lebih antusias dalam mengikuti pelajaran.
Teka teki silang yang dimaksudkan bahwa selain ada unsur
permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan mengisi teka-teki
silang tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga
diharapkan selain kesenangan juga didapatkan pengetahuan dan pemahaman
materi pelajaran, khususnya materi pelajaran sistem periodik unsur dan ilmu
kimia pada umumnya. Maka diharapkan dengan membuka, membaca, dan
mencari jawaban teka-teki silang tersebut, peserta didik akan selalu paham dan
15
11 mengerti dengan sendirinya materi pelajaran sistem periodik unsur yang
merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang membutuhkan daya
pemahaman yang cukup.
Teka-teki silang yang digunakan akan memberikan nilai yang positif bagi
peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan menjawab dan mengerjakan
bersama, peserta didik akan selalu berlomba untuk dapat menemukan
jawabannya dengan benar sehingga akan muncul persaingan sehat. Rasa
kebersamaan yang tinggi akan tumbuh, karena bagi peserta didik yang
menemukan jawaban akan dapat menjawab teka-teki silang tersebut dan peserta
didik lain dalam kelompoknya juga akan mengetahui jawaban yang benar.
Faktor ketelitian dan ketepatan yang tinggi juga menjadi sangat menentukan
dalam pengisian jawaban teka-teki silang. Karena huruf-huruf dalam jawaban
dapat mempengaruhi jawaban yang lain baik dalam baris atau kolom.16
5. Materi Sistem Periodik Unsur
a. Sistem Periodik Modern
Pada tahun 1817, Johann D. Dobereiner mencari hubungan antara massa
atom relatif unsur dengan sifat-sifatnya. Ia menemukan beberapa kelompok tiga
unsur yang mempunyai sifat yang mirip, contohnya
Litium Kalsium Klor
Natrium Strontium Brom
Kalium Borium Iod
Kelompok tiga unsur ini disebut triad. Dobereiner menemukan suatu
hukum:
“Suatu triad adalah tiga unsur yang disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatif (Ar)-nya, sehingga massa atom relatif unsur kedua kira-kira sama dengan rata-rata Ar unsur pertama dan ketiga.”
16
12 Pada tahun 1865, John Newland mendapatkan hubungan antara sifat
unsur dengan massa atom relatifnya, yaitu sebagai berikut.
“Jika unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya, maka pada unsur yang kedelapan sifatnya mirip dengan unsur yang pertama, dan unsur kesembilan dengan unsur yang kedua, dan seterusnya”.
Hubungan ini oleh Newland disebut hukum oktaf, karena kemiripan sifat
unsur terjadi setelah hubungan kedelapan. Dilihat dari beberapa kasus
tampaknya hukum ini benar, tetapi untuk unsur yang lain tidak terbukti,
contohnya S dan Fe tidak mempunyai kemiripan sifat.
Dmitri Mendeleyev (bangsa Rusia) dan Lothar Meyer (bangsa Jerman)
secara terpisah membuat daftar unsur yang merupakan perbaikan hukum oktaf
Newland. Ia mempelajari sifat-sifat unsur dan mencari kaitannya dengan massa
atom relatif. Berikut merupakan uraian sifat beberapa unsur yang dipelajari
Dmitri Mendeleyev yang dikaitkan dengan massa atom relatifnya.
Tabel 2.1 Uraian sifat beberapa unsur
Urutan massa
atom
Massa
atom Nama Lambang Sifat
1 2 3 4 5
1 7 Litium Li Logam lunak, kerapatan
rendah, secara kimia sangat aktif, membentuk Li2O, LiCl.
2 9,4 Berilium Be Jauh lebih keras daripada Li,
kerapatan rendah, kurang
aktif dibandingkan Li,
membentuk BeO, BeCl2.
3 11 Boron B Sangat keras, bukan logam,
kurang reaktif, membentuk B2O3, BCl3.
4 12 Karbon C Rapuh, bukan logam, tak
reaktif pada suhu kamar, membentuk CO2, CCl4.
5 14 Nitrogen N Gas, kurang reaktif,
membentuk N2O5, NCl3.
6 16 Oksigen O Gas, cukup reaktif, bereaksi
13
1 2 3 4 5
7 19 Flour F Gas, sangat reaktif,
merangsang hidung,
membentuk NaF, BeF2.
8 23 Natrium Na Logam, lunak, kerapatan
rendah, sangat aktif,
membentuk Na2O, NaCl
(bandingkan dengan Li).
9 24 Magnesium Mg Jauh lebih keras daripada Na,
kerapatan rendah, kurang
aktif dibandingkan Na;
membentuk MgO, MgCl
(bandingkan dengan Be).
10 27,4 Aluminium Al Sekeras Mg, cukup reaktif,
membentuk Al2O3, AlCl3
(bandingkan dengan B).
11 28 Silikon Si Rapuh, bukan logam, tak
reaktif, membentuk SiO2,
SiCl4
12 31 Fosfor P (bandingkan dengan C).
13 32 Sulfur S Titik leleh rendah, padat,
reaktif; membentuk P2O5,
PCl3 (bandingkan dengan N).
14 2 Klor Cl Titik leleh rendah, padat,
agak reaktif; bereaksi dengan
kebanyakan unsur,
membentuk Na2S, BeS
(bandingkan dengan O).
15 35,5 Kalium K Gas, sangat reaktif,
merangsang hidung,
membentuk NaCl, BeCl2
(bandingkan dengan F).
16 39 Kalsium Ca Logam, lunak, kerapatan
rendah, sangat reaktif,
membentuk K2O, KCl
(bandingkan dengan Li dan Na).
Dari sifat fisika dan unsur-unsur kimia di atas, Dmitri Mendeleyev
menemukan hubungan antara sifat unsur dengan massa atom relatifnya.
Hubungan itu disebut hukum periodik yang berbunyi
14 Pada tahun 1869, Mendeleyev berhasil menyusun daftar unsur yang
disebut sistem periodik Mendeleyev. Ia menempatkan unsur dalam kotak
menurut kenaikan massa atom relatifnya. Ia membagi unsur atas 8 golongan dan
12 perioda sehingga unsur dalam satu golongan mempunyai sifat yang mirip.
Setelah Moseley (pada tahun 1915) berhasil menemukan nomor atom,
para ahli mencoba melihat hubungan sifat unsur dengan nomor atom tersebut.
Seperti telah dikemukakan bahwa nomor atom adalah jumlah proton yang
terdapat dalam inti, dan nomor massa (Ar) adalah jumlah proton dan neutron
dalam inti atom.
Penyelidikan akhirnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
nomor atom dengan volume, titik lebur, energi ionisasi, dan jari-jari atom.
Berdasarkan fakta di atas, hukum periodik Mendeleyev harus diperbaiki menjadi
hukum periodik versi modern.
“Sifat unsur merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya”
Kemudian disusun sistem periodik baru yang didasarkan pada kenaikan
nomor atom dan kemiripan sifat unsur. Sistem ini disebut sistem periodik
Mendeleyev versi modern. Dalam sistem ini, unsur dibagi atas 8 golongan dan 7
perioda. Perioda ada yang pendek (1, 2, 3) dan yang panjang (4, 5, 6, 7).
Disamping itu juga dikenal golongan lantanida dan aktinida.
Sistem periodik modern (disebut juga sistem periodik panjang) disusun
berdasarkan konfigurasi elektron unsur. Letak suatu unsur dalam sistem ini
ditentukan oleh orbital yang terisi paling akhir. Dalam sistem ini, unsur dibagi
atas blok s, p, d, dan f, serta terdiri atas golongan utama (blok s dan p) dan
golongan transisi (blok d dan f).
b. Golongan dan Periode Unsur-unsur dalam Tabel Periodik
1) Penggolongan unsur
Semua unsur blok s dan p disebut golongan utama (A), sedangkan blok
d dan f disebut golongan transisi. Golongan utama terdiri dari 8 kolom yang
15 Elektron valensi masing-masing golongan adalah:
s1 - IA s2p3 - VA
s2 - IIA s2p4 - VIA
s2p1 -IIIA s2p5 - VIIA
s2p2 -IVA s2p6 - VIIIA atau 0
Unsur golongan VIIIA disebut golongan gas mulia, Karena tidak
dapat bersenyawa dengan unsur lain, dan disebut juga golongan 0.
2) Perioda
Unsur yang terletak pada baris yang sama dan sistem periodik disebut
perioda. Perioda menunjukkan nomor bilangan kuantum utama (n) tertinggi
yang dimiliki unsur. Karena n melambangkan jumlah kulit elektron, maka
unsur seperioda yang berdekatan mempunyai sifat agak mirip. Bila letaknya
berjauhan sifatnya juga jauh berbeda.
Perioda unsur dapat ditentukan dari nilai bilangan kuantum (n) yang
terbesar atau n kulit terluarnya, contohnya unsur Y yang mempuyai nomor
atom 40.
40Y : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d2 perioda 517
c. Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik
Sistem periodik disusun berdasarkan pengamatan terhadap sifat-sifat
unsur, misalnya saja kemiripan sifat diantara unsur-unsur segolongan terjadi
karena unsur-unsur tersebut mempunyai elektron valensi yang sama. Unsur-unsur
segolongan IA mempunyai kemiripan konfigurasi elektronnya. Hal ini
menyebabkan unsur dalam satu golongan mempunyai sifat yang sama, jadi untuk
mengetahui ciri-ciri sifat unsur dapat ditunjukkan oleh elektron valensinya.
Tabel 2.2 Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik
Unsur Nomor Atom K L M N O P Q
1 2 3 4 5 6 7 8 9
H 1 1
17
16
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Li 3 2 1
Na 11 2 8 1
K 19 2 8 8 1
Rb 37 2 8 18 8 1
Cs 55 2 8 18 18 8 1
Fr 87 2 8 18 32 18 8 1
Hubungan antara letak unsur dalam Sistem Periodik Unsur dapat
ditentukan berdasarkan konfigurasi elektron. Golongan ditunjukkan dengan
jumlah elektron valensi, sedangkan periode ditunjukkan oleh jumlah kulit.18
d. Logam dan bukan logam
Unsur-unsur dialam dikelompokkan menjadi unsur logam, unsur non
logam, dan unsur semi logam.
1) Logam (Metal)
Setiap orang pernah melihat logam, misalnya paku, besi, aluminium
foil, kawat tembaga, atau bumper mobil yang dilapisi krom (chrom-plated). Cahaya dari logam sangat spesifik sehingga disebut cahaya metal (metallic luster).
Logam juga mempunyai sifat yang sama dalam kemampuannya
mengubah bentuk tanpa pecah jika ditempa dengan pemukul (hammer) atau ditarik untuk meluruskannya. Semua logam mempunyai kemampuan seperti
ini sampai derajat tertentu. Kemampuan mengubah bentuk jika dipukul
disebut maleabilitas (malleability). Sifat mudah ditempa (lentur) dari logam juga merupakan sifat yang dapat digunakan oleh pandai besi untuk membuat
sepatu kuda dan pandai perak untuk membuat kerajinan dari perak.
18
17 Kemampuan logam yang dapat lurus jika ditarik dari arah yang
berlawanan disebut dengan sifat lentur (ductility). Logam adalah penghantar arus listrik yang baik dan logam juga sebagai penghantar kalor yang baik.
Lebih dari 70% unsur-unsur adalah logam, meskipun ada kesamaan
sifat di antara logam-logam tersebut. Banyak logam yang umumnya dikenal
dan dapat dijumpai setiap hari dalam bentuk murni, tidak dikombinasi dengan
logam lain. Misalnya besi, aluminium, tembaga, dan krom. Beberapa logam
mempunyai sifat yang sangat reaktif, batas perbedaan reaktivitas kimia
logam-logam sangat besar. Natrium adalah salah satu contoh yang sangat
ekstrem reaktivitasnya dan emas adalah contoh ekstrem yang berlawanan
dengan natrium.
Selain reaktivitas kimia, logam juga mempunyai beberapa sifat fisik
yang berbeda, misalnya kekerasan dan titik leleh. Sebagian lagi bersifat
lunak. Krom dan besi adalah contoh logam yang keras, emas dan timah
adalah contoh logam yang lunak.
2) Non logam (Nonmetal)
Kebanyakan unsur non logam jarang dijumpai dalam bentuk unsurnya
yang murni: dalam kehidupan sehari-hari, yang sering dijumpai adalah
bentuk senyawa kimia. Salah satu benda nonlogam yang banyak diketahui
adalah karbon, yang terjadi di alam dalam dua bentuk yang berbeda. Bentuk
(varietas) lainnya yang juga cukup dikenal adalah grafit. Bentuk ini banyak
dijumpai, misalnya pada batu bara briket dan isi pensil. Bentuk karbon yang
kurang dikenal, tetapi sangat berharga adalah intan (diamond).
Nonlogam lainnya yang sangat banyak dijumpai adalah oksigen dan
nitrogen, yaitu komponen yang penting dari atmosfer. Sama seperti sifat-sifat
logam yang batasannya sangat luas, demikia juga sifat-sifat unsur nonlogam.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, beberapa unsur berbentuk gas
dan ada satu (brom) berbentuk cair. Ada juga yang berbentuk padat,
contohnya adalah karbon. Selain perbedaan dalam sifat-sifat fisik, unsur
nonlogam juga berbeda dalam sifat-sifat kimianya. Fluor, misalnya sangat
18 3) Semi logam (Metaloid)
Metaloid (juga disebut semimetal) adalah unsur yang mempunyai sifat
antara logam (metal) dan non logam (non metal). Contoh yang paling
terkenal adalah unsur silikon. Contoh lain misalnya arsen (As) dan antimon
(Sb). Jika dilihat dari bentuk luarnya, unsur ini agak berbentuk logam, tetapi
warna gelapnya agak berbeda jika dibandingkan dengan logam yang spesifik,
misalnya besi atau perak.
Metaloid adalah semikonduktor yang spesifik. Unsur ini dapat
menghantarkan arus listrik, tetapi tidak sebaik logam. Sifat semikonduktor ini
sangat berguna dalam industri elektronik karena unsur ini memungkinkan
alat-alat mikroelektronik diperoleh dalam ukuran kecil (dapat digenggam
dalam tangan) misalnya dijumpai dalam kalkulator dan mikrokomputer.
Selain karena sifat penghantar listriknya, metaloid lebih bersifat non logam
daripada logam.19
e. Sifat-sifat Periodik Unsur
Walaupun unsur yang berdekatan dalam satu golongan atau perioda
mempunyai kemiripan, tetapi diantara sesamanya terdapat perbedaan tertentu.
Perbedaan sifat itu berubah dengan kecenderungan tertentu, sesuai dengan
perubahan nomor atomnya. Kecenderungan itu berulang pada golongan atau
perioda berikutnya, maka disebut sifat periodik, yag meliputi jari-jari atom,
energi ionisasi, afinitas elektron dan keelektronegatifan.
1) Jari-jari atom
Jari-jari atom adalah setengah jarak inti dua atom yng sama dalam
ikatan tunggal. Unsur dalam satu perioda, mempunyai kulit yang sama, tetapi
nomor atom bertambah dari kiri ke kanan. Berarti jumlah protonnya juga
bertambah, sehingga daya tarik inti pada kulit terluar makin besar dari kiri ke
kanan.
19
19 Dalam satu golongan, unsur mempunyai elektron valensi sama, tetapi
jumlah kulitnya bertambah dari atas kebawah. Akibatnya, jari-jari atom
bertambah dari atas ke bawah. Dengan demikian dapat disimpulkan secara
umum bahwa:
a) Dalam satu perioda, jari-jari bertambah dari kanan ke kiri.
b) Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah dari atas ke bawah.
2) Energi ionisasi
Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terlemah suatu
atom disebut energi ionisasi.
a) Dalam satu perioda, energi ionisasi bertambah dari kiri ke kanan. b) Dalam satu golongan, energi ionisasi bertambah dari bawah ke atas.
Bila jarak makin kecil maka daya tarik makin besar, akibatnya energi
ionisasi makin besar. Sebaliknya, bila jarak makin besar maka daya tarik
makin kecil. Dari keperiodikan telah diketahui bahwa dalam satu perioda,
jari-jari berkurang dari kiri ke kanan. Sudah tentu energi ionisasi pertama
bertambah dari kiri ke kanan. Demikian pula dalam satu golongan, energi
ionisasi pertamanya akan bertambah dari bawah ke atas, karena jari-jari
atomnya makin kecil.
3) Afinitas elektron
Afinitas elektron adalah energi yang dilepaskan atau diperlukan bila
satu elektron masuk ke orbital terluar suatu atom. Elektron dapat masuk
karena ditarik oleh inti yang bermuatan positif. Disekitar inti terdapat elektron
yang menolak elektron lain yang akan masuk. Jika daya tarik inti lebih besar
daripada daya tolak elektron, maka dikeluarkan energi saat elektron masuk.
Sebaliknya, bila daya tarik inti lebih kecil, maka akan diperlukan energi untuk
memasukkan elektron. Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum
bahwa:
20 4) Keelektronegatifan
Keelektronegatifan adalah daya tarik atom terhadap pasangan elektron
yang dipakai bersama dalam ikatan kovalen. Keelektronegatifan unsur
ditentukan oleh muatan inti dan jari-jari kovalennya. Dengan demikian dapat
disimpulkan secara umum bahwa:
a) Dalam satu perioda, keelektronegatifan bertambah dari kiri ke kanan. b) Dalam satu golongan, keelektronegatifan bertambah dari bawah ke atas.
Unsur dalam satu perioda mempunyai jari-jari atom makin kecil dari
kiri ke kanan. Akibatnya, daya tarik inti terhadap elektron kulit terluar
(termasuk pasangan elektron yang dipakai besama) juga bertambah dari kiri
ke kanan. Keelektronegatifan unsur segolongan bertambah dari bawah ke atas
juga karena pertambahan jari-jari atomnya.20
B. Kerangka Berfikir
Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih tetap merupakan
suatu masalah yang amat menonjol dalam setiap pembaharuan sistem pendidikan
nasional. Sejalan dengan itu upaya pembaharuan pendidikan terus dilakukan
diantaranya adalah pembaharuan pada metode pembelajaran yang digunakan.
Sistem Periodik Unsur (SPU) merupakan salah satu materi ilmu kimia
yang banyak mengungkap teori-teori dan konsep-konsep ilmu kimia yang
mendasar. Misalnya pengelompokkan unsur-unsur, sifat-sifat periodik unsur
yang dalam pemahamannya banyak melibatkan daya imajinasi peserta didik.
Oleh karena itu, pemahaman tentang SPU sangat penting untuk mempelajari
ilmu kimia selanjutnya sehingga dalam mempelajarinya diperlukan
pengembangan kemampuan kognitif peserta didik. Ketidakmampuan peserta
didik dalam memahami konsep-konsep dari materi SPU akan mengakibatkan
menurunnya prestasi belajar peserta didik. Untuk mengatasi kesulitan pada
peserta didik diperlukan suatu metode yang mampu membantu meningkatkan
pemahaman terhadap konsep-konsep tersebut. Dalam penelitian ini metode
21 pembelajaran yang dipakai adalah metode Crossword Puzzle atau Teka-teki Silang.
Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) yang digunakan dimaksudkan selain ada unsur permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan
mengisi Crossword Puzzle tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga diharapkan selain mendapat kesenangan juga mendapatkan
pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran, khususnya materi pelajaran SPU
dan ilmu kimia pada umumnya. Pada metode pembelajaran Crossword Puzzle
ini peserta didik secara bersama-sama akan mencari jawaban pertanyaan yang
ada dalam Crossword Puzzle (Teka-teki Silang). Dalam mencari jawaban peserta didik terlebih dahulu harus paham maksud dari pertanyaan yang ada, sehingga
peserta didik juga harus paham dengan materi pelajaran yang terkait. Dengan
demikian, selain belajar secara bersama-sama peserta didik juga dapat saling
membantu bila ada seorang peserta didik yang belum paham mengenai materi
yang terkait. Crossword Puzzle merupakan metode yang bentuknya terdiri dari baris dan kolom dimana huruf-huruf dalam baris dan kolom saling berhubungan.
Melalui Crossword Puzzle inilah, akan terwujud pembelajaran kimia yang bermakna, artinya peserta didik benar-benar memahami apa yang
dipelajari, khususnya pada materi pokok Sistem Periodik Unsur. Peserta didik akan lebih memahami konsep-konsep dalam Sistem Periodik Unsur. Dengan
22 Gambar 2.1 Skema kerangka berfikir
C. Kajian Penelitian yang Relevan
Penulis dalam pembahasan ini akan mendeskripsikan hubungan antara
penelitian yang penulis teliti dengan penelitian yang relevan dari peneliti
terdahulu. Yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Skripsi yang disusun oleh Sugiartini (K3301054) pada tahun 2006, mahasiswi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
dengan judul ”Studi Komparasi Pengajaran Kimia Menggunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournaments) dengan
Metode TTS (Teka Teki Silang) dan Kartu Pada Materi Pokok Sistem Periodik
Unsur Kelas X Semester Ganjil SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran
2005/2006.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle (teka-teki silang) efektif terhadap peningkatan hasil belajar pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.
2. Skripsi yang disusun oleh Elsa Yuniar Pramita Dewi (A220070038) pada
tahun 2010, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tes
Tes
Sistem Periodik unsur
Proses pembelajaran
Pembelajaran dengan
menggunakan Crossword
Puzzle
Pembelajaran dengan metode konvensional
Hasil Belajar Hasil Belajar
23
Sebelas Maret Surakarta dengan judul ” Penerapan Strategi Pembelajaran
Crossword Puzzle Sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Makna Proklamasi
Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama Pada Siswa Kelas VII A SMP
Muhammadiyah 8 Surakarta Tahun 2010.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya peningkatan keaktifan peserta didik dengan diterapkannya
pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle (teka-teki silang). 3. Skripsi yang disusun oleh Rika Dwi Harimurti (A 420 070 079) Pada Tahun
2011, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul
“Perbedaan Penggunaan Metode Crossword Puzzle dan Card Sort Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas X.Ak.1 dan X.Ak.2 SMK Negeri I Banyudono
Tahun Ajaran 2010/2011”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle lebih efektif daripada metode Card Sort.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, perbedaan dari
penelitian sebelumnya terletak pada materi yang diambil pada penelitian ini.
Penelitian sebelumnya, materi yang diteliti diantaranya Sistem Periodik Unsur
pada materi kimia, Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama
pada materi Pendidikan Kewarganegaraan, dan pada materi Biologi. Letak
perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada sampel peserta didik pada
penelitian masing-masing, perbedaan sekolah yang dijadikan tempat penelitian.
Dari perbedan tersebut, maka penelitian ini mengambil judul ” Efektivitas Metode Crossword Puzzle Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik
Pada Materi Pokok Sistem Periodik Unsur Kelas X MA NU 04 Al Ma’arif
24 D. Rumusan Hipotesis
Hipotesis memang berasal dari 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”.21
Hipotesis sangat penting
adanya, sebab penelitian akan berjalan sesuai hipotesis yang dirumuskan
sehingga hipotesis tersebut dapat terjawab.
Sehubungan dengan pengertian hipotesis tersebut, maka hipotesis yang
peneliti ajukan adalah ada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas X MA
NU 04 Al Ma’arif Boja dalam materi pokok sistem periodik unsur dengan penerapan metode Crossword Puzzle sebagai metode pembelajaran.
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Menurut Sugiyono, metode penelitian pendidikan dapat di artikan sebagai
cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan,
dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga dapat
digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam
bidang pendidikan.1
Adapun metode yang digunakan peneliti adalah metode analisis
kuantitatif eksperimen, yaitu dengan sengaja mengusahakan timbulnya
variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol untuk melihat pengaruhnya terhadap hasil
belajar.
Metode penelitian kuantitatif yang dilakukan merupakan metode
eksperimen yang berdesain “posttest-only control design”,karena tujuan dalam penelitian ini untuk mencari pengaruh treatment. Adapun pola desain penelitian ini sebagai berikut.2
Gambar 3.1 Desain Penelitian Kuantitatif
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random (R). Kelompok pertama (kelompok eksperimen) diberi perlakuan X (pembelajaran dengan metode Crossword Puzzle) sedangkan kelompok yang lain (kelompok kontrol) diberi perlakuan dengan pembelajaran ekspositori (ceramah).
1
Sugiyono, Metode Penelitia n Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 6
2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendeklatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 76
R X O2
26 B. Tempat dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data tentang efektivitas penerapan metode Crossword Puzzle sebagai metode pembelajaran pada meteri pokok sistem periodik unsur, penelitian dilaksanakan:
Tempat penelitian : MA NU 04 Al Ma’arif Boja
Waktu penelitian : Tanggal 26 Agustus s/d 28 September 2011
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek
yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulannya.3 Populasi dalam penelitian
ini adalah semua peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau
keadaan tertentu yang akan diteliti.4 Dalam penelitian ini sampel akan diambil dengan teknik cluster random sampling yaitu dengan memilih secara acak satu kelas sebagai kelas eksperimen, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas
lagi sebagai kelas uji coba instrumen.
Pengambilan sampel dikondisikan dengan pertimbangan bahwa peserta
didik mendapatkan materi berdasarkan kurikulum yang sama, peserta didik yang
menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama, dan dalam pembagian
kelas tidak ada kelas unggulan. Pada penelitian ini akan digunakan kelas X1
sebagai kelas eksperimen, kelas X2 sebagai kelas kontrol, dan kelas XI IPA
sebagai kelas uji coba instrumen.
3
Sugiyono, Statistika untuk Penelitiann, ( Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 61.
27 D. Variabel Penelitian dan Indikator Efektivitas
1. Variabel Penelitian
Variabel yang terdapat dalam penelitian ini terdiri atas dua macam
variabel, yaitu variabel bebas (independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel).
a) Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.5 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah metode
Crossword Puzzle dan metode ekspositori. b) Variabel Terikat (Dependent Variabel)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas.6 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar kimia peserta didik pada
materi pokok sistem periodik unsur kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja. Hasil belajar yang akan dicapai adalah hasil belajar ranah kognitif. Hasil
belajar ranah ini dapat dillihat dari hasil tes yang diberikan di akhir
pembelajaran materi Sistem Periodik Unsur. Indikator hasil belajar
dalam penelitian ini adalah Posttest.
2. Indikator Efektivitas
Indikator adalah wakil kejadian atau tingkah laku yang dapat
diobservasi atau diteliti. Sedangkan “Efektif berarti ada efeknya (akibatnya,
pengaruhnya), dapat membawa hasil, berhasil guna.”7
Efektivitas berarti
dapat membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Indikator efektivitas
dalam penelitian ini adalah jumlah peserta didik yang lolos KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65.
5Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, hlm. 4. 6Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, hlm. 4. 7
28 Dalam hal ini peneliti menggunakan statistik deskriptif dengan
mencari nilai rata-rata dan prosentase hasil belajar peserta didik, sebagaimana
rumus:
Sedangkan nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan rumus
sebagaimana berikut:
Keterangan:
F= Jumlah peserta didik yang lolos KKM N= Jumlah peserta didik
P= Jumlah skor dalam persen = Rata-rata
Cara menafsirkan prosentase keefektifan adalah:8
Tabel 3.1 Kriteria Prosentase Keefektifan
No Prosentase Peserta didik yang Lolos KKM
Keterangan
1 0% - 20% Tidak efektif
2 21% - 40% Kurang efektif
3 41% - 60% Cukup efektif
4 61% - 80% Efektif
5 81% - 100% Sangat efektif
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dengan mencatat
bahan dokumentasi yang sudah ada dan mempunyai relevansi dengan tujuan
8
29 penelitian.9 Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data yang sudah ada. Metode dokumentasi dalam penelitian ini
digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama dan nilai awal peserta
didik kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana kelas X1 sebagai kelas
eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol. Data yang dijadikan sebagai data
awal adalah hasil belajar kimia semester gasal pada materi pokok sistem periodik
modern. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan normalitas,
homogenitas, dan kesamaan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol.
2. Metode Tes
Tes merupakan cara yang digunakan dalam rangka pengukuran dan
penilaian di bidang pendidikan.10 Tes yang diberikan pada peserta didik dalam penelitian ini berbentuk pilihan ganda, melalui tes ini akan tampak seberapa jauh
pemahaman peserta didik terhadap materi Sistem periodik unsur.
Hasil tes inilah yang kemudian akan digunakan sebagai acuan untuk
menarik kesimpulan pada akhir penelitian. Namun, sebelum soal tes tersebut
diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, tes tersebut diujicobakan
pada kelas uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran,
dan daya beda soal.
F. Teknik Analisis Data
1. Analisis Tahap Awal
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menentukan statistik yang akan
digunakan dalam mengolah data, yang paling penting adalah untuk
menentukan penggunaan statistik parametrik atau non parametrik. Untuk
menguji normalitas data sampel yang diperoleh yaitu nilai ulangan kimia dari
9Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 30.
30 materi sebelumnya dapat digunakan uji Chi-Kuadrat. Hipotesis yang digunakan untuk uji nomalitas:
0
H = data berdistribusi normal
1
H = data tidak berdistribusi normal
Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut.
1) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.
2) Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.
3) Menghitung rata-rata dan simpangan baku.
4) Membuat tabulasi data kedalam interval kelas.
5) Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus:
S Zi xix ,
di mana S adalah simpangan baku dan x adalah rata-rata sampel.
6) Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan
menggunakan tabel.
7) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva
K
Ei i
2 i i 2
E E O
Dengan:
2
= Chi–kuadrat
Oi = frekuensi pengamatan
Ei = frekuensi yang diharapkan
8) Membandingkan harga Chi–kuadrat dengan tabel Chi–kuadrat dengan taraf signifikan 5%.
9) Menarik kesimpulan, jika χ2hitung < χ2tabel, maka data berdistribusi
normal11 b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel
penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen, yang selanjutnya
31 untuk menentukan statistik t yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel
mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan dalam
uji homogenitas adalah sebagai berikut.
2 2 2 1
0:
H
2 2 2 1
1:
H
Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus sebagai berikut.
terkecil Varians
terbesar Varians
Fhitung
Untuk menguji kedua varians tersebut sama atau tidak maka Fhitung
dikonsultasikan dengan Ftabel dengan = 5 % dengan dk pembilang (v1) =
banyaknya data terbesar dikurangi satu dan dk penyebut (v2) = banyaknya
data yang terkecil dikurangi satu. Jika Fhitung Fta bel maka Ho diterima.12
Berarti kedua kelompok tersebut mempunyai varians yang sama atau
dikatakan homogen.
c. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
Uji kesamaan rata-rata pada tahap awal digunakan untuk menguji
apakah ada kesamaan rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Langkah-langkah uji kesamaan dua rata-rata adalah sebagai berikut:
1) Jika varians kedua kelas sama ( 22)
2
1
, rumus yang digunakan
adalah:
(a)Menentukan rumusan hipotesisnya yaitu:
2 1
0:
H (tidak ada perbedaan rata-rata awal kedua kelas sampel)
2 1
1:
H (ada perbedan rata-rata awal kedua kelas sampel)
(b)Menentukan statistik yang digunakan yaitu uji t dua pihak.
(c)Menentukan taraf signifikan yaitu α = 5%.
32
(d) Kriteria pengujiannya adalah terima H0 apabila
, di mana diperoleh dari daftar distribusi
Student dengan peluang dan dk = n1 n2 2.
(e)Menentukan statistik hitung menggunakan rumus:
2 1 2 1 1 1 n n s x x t
dengan
2 ) 1 ( ) 1 ( 2 1 2 2 2 2 1 1 2 n n s n s n s Keterangan: 1
x = rata-rata data kelas eksperimen
2
x = rata-rata data kelas kontrol
n1 = banyaknya data kelas eksperimen
n2 = banyaknya data kelas kontrol
s2 = simpangan baku gabungan
(f)Menarik kesimpulan yaitu jika ttabel thitung ttabel, maka kedua
kelas mempunyai rata-rata sama.13
2)Jika varians kedua kelas berbeda (12 22), rumus yang digunakan:
2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 ' n s n s x x t Keterangan: 1
x : skor rata-rata dari kelompok eksperimen
2
x : skor rata-rata dari kelompok kontrol.
1
n : banyaknya subyek kelompok eksperimen
2
n : banyaknya subyek kelompok kontrol
2 1
s : varians kelompok eksperimen
2 2
s : varians kelompok kontrol
33 Kriteria pengujian:
0
H diterima jika:
2 1 2 2 1 1 ' w w t w t w t
dan
0
H ditolak jika t’ ≥
2 1 2 2 1 1 w w t w t w . dengan 2 2 1 n s w i ,
2 2 2 2 n s
w , 1 (1 )( 1)
1 t n
t , dan 2 (1 )( 1)
2
t n
t 14
2. Analisis Instrumen Tes
Instrumen yang telah disusun diujicobakan untuk mengetahui validitas,
reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran soal. Uji coba dilakukan pada
peserta didik yang pernah mendapatkan materi tersebut (peserta didik yang masih
termasuk dalam populasi tapi bukan peserta didik yang menjadi sampel).
Tujuannya untuk mengetahui apakah item-item tersebut telah memenuhi syarat
tes yang baik atau tidak.
a. Validitas
Validitas atau kesahihan adalah ketepatan mengukur yang dimiliki
oleh sebutir item (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai
suatu totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item
tersebut.15 Jadi suatu instrumen (soal) dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur. Rumus yang digunakan
untuk menghitung validitas tes item adalah korelasi product moment.16
2 2 2 2
Y Y N X X N Y X XY N rxy xy
r = koefisien korelasi tiap item
N = banyaknya subyek uji coba
X= jumlah skor item
14
Sudjana, Metoda Statistika, hlm. 241.
34
Y= jumlah skor total
2X
= jumlah kuadrat skor item
2Y = jumlah kuadrat skor total
XY= jumlah perkalian skor item dan skor totalSetelah diperoleh nilai rxy selanjutnya dibandingkan dengan hasil r pada tabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Butir soal dikatakan valid jika
ta bel hitung r
r . 17
b. Reliabilitas
Reliabilitas digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu instrumen
cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena
instrumen tersebut sudah baik. Untuk perhitungan reliabilitas dalam
penelitian ini digunakan rumus sebagai berikut :
Rumus Varian sebagai berikut :
Keterangan :
r11 = reabilitas instrumen
p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1p)
∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q k = banyaknya butir soal
s = standar deviasi dari tes.
Standar deviasi (s) dapat didapat menggunakan rumus berikut :
35 Keterangan :
s = Standar Deviasi
X = Simpangan X dari ,yang dicari dari X -
N = Banyaknya subjek pengikut tes.18
Untuk menentukan reabilitas suatu soal maka, apabila r11> rtabel
dikatakan reabilitas atau soal tersebut dapat digunakan. Namun jika
sebaliknya, maka soal tersebut tidak dapat digunakan.
.
c. Tingkat Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau terlalu
sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang peserta didik untuk
mempertinggi usaha memecahkannya, sebaliknya soal yang terlalu sukar
akan menyebabkan peserta didik menjadi putus asa dan tidak mempunyai
semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya. Untuk
mengetahui tingkat kesukaran soal dapat digunakan rumus:
Keterangan:
P = indeks kesukaran
B = banyaknya peserta didik yang menjawab soal itu dengan benar
JS= jumlah seluruh peserta didik19
Cara menafsirkan angka tingkat kesukaran menurut Witherington
dalam bukunya yang berjudul Psychological Education yang dikutip oleh Anas Sudijono adalah sebagai berikut:20
18
Suharsimi Arikunto,Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 86 - 113
19
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 208.
20
Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hlm. 373. JS
B
36 Tabel 3.2 Kriteria tingkat kesukaran soal
No Besarnya Tigkat Kesukaran Interpretasi
1 Kurang dari 0,25 Terlalu sukar
2 0,25-0,75 Cukup (sedang)
3 Lebih dari 0,75 Terlalu mudah
d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan
antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang
berkemampuan rendah. Teknik yang digunakan untuk menghitung daya
pembeda untuk tes berbentuk pilihan ganda adalah dengan menghitung
perbedaan dua buah rata-rata (mean) yaitu antara mean kelompok atas dan
mean kelompok bawah untuk tiap-tiap item soal. Rumus yang digunakan
adalah sebagai berikut21.
a l Skor Ma ksim
ML MH
DB ( )
Keterangan:
DB : daya beda
MH : rata-rata dari kelompok atas
ML : rata-rata dari kelompok bawah
Cara menafsirkan daya beda adalah:22 Tabel 3.3 Klasifikasi daya pembeda
No Besarnya DB Klasifikasi
1 Kurang dari 200, Poor (Jelek)
2 0,210,40 Satisfactory (Cukup)
3 0,410.70 Good (Baik)
4 0,711,00 Excellent (Baik sekali)
5 Bertanda negatif Buti