• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD P"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

i

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE

CROSSWORD PUZZLE

DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X

MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata I Ilmu Tarbiyah

Jurusan Tadris Kimia

Oleh:

Siti Muzdalifah NIM: 073711022

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertandatangan dibawah ini:

Nama : Siti Muzdalifah

NIM : 073711022

Program Studi : Tadris Kimia

Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian /

karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, Desember 2011

Saya yang menyatakan,

(3)
(4)

iv

NOTA PEMBIMBING Semarang, Desember 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah

skripsi dengan:

Judul : EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD PUZZLE DALAM

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA.

Nama : Siti Muzdalifah

NIM : 073711022

Jurusan : Tadris

Program Studi : Kimia

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas

Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosyah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pembimbing I,

(5)

v

NOTA PEMBIMBING Semarang, Desember 2011

Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah

skripsi dengan:

Judul : EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE CROSSWORD PUZZLE

DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK

PADA MATERI POKOK SISTEM PERIODIK UNSUR KELAS X

MA NU 04 AL MA’ARIF BOJA

Nama : Siti Muzdalifah

NIM : 073711022

Jurusan : Tadris

Program Studi : Kimia

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas

Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosyah.

(6)

vi

ABSTRAK

Judul : Efektivitas Penerapan Metode Crossword Puzzle Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pokok Sistem Periodik Unsur

Kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja

Penulis : Siti Muzdalifah

NIM : 073711022

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen berdesain “posttest-only control design. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan metode Crossword Puzzle efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penerapan metode

Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, bentuk penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu membandingkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling, sehingga terpilih kelas X1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol, Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi dan tes. Data yang terkumpul sebelumnya diuji normalitas dan uji homogenitas. Pada uji normalitas diperoleh kelompok eksperimen 2hitung= -86,526 dan kelompok kontrol 2 hitung= -103,675 dengan α=

5% dari distribusi chi-kuadrat didapat 2 tabel= 12,5916, sehingga 2 hitung < 2 tabel disimpulkan

data tersebut normal. Uji homogenitas antar kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji kesamaan 2 varian, diperoleh Fhitung= 1,013 dan Ftabel= 1,65 dengan taraf

nyata 0,05, data pembilang= 43 dan data penyebut= 44, maka Fhitung < Ftabel. Artinya kedua

kelompok homogen. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis uji t. Uji t dilakukan untuk membandingkan hasil antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa hasil rata-rata kelompok eksperimen adalah 62,22, sedang rata-rata kelompok kontrol adalah 49,09. Berdasarkan uji percobaan satu pihak, yaitu pihak kanan diperoleh thitung = 4,943 sedangkan t(0.95)(87 )= 1,665, karena thitung > t(0.95)(87 ) maka H0 ditolak.

Artinya rata-rata hasil belajar kimia yang diajar dengan penerapan metode Crossword Puzzle

lebih besar dari pada rata-rata hasil belajar kimia yang diajar dengan pembelajaran dengan metode ekspositori.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Rabb al-Izzati,

Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua hamba-Nya. Terlebih

kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi akhir

zaman dan pembawa rahmat bagi makhluk seluruh alam.

Tidak ada kata yang pantas penulis ungkapkan kepada pihak-pihak yang membantu

proses pembuatan skripsi ini, kecuali terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, DR. Suja’i, M.Ag.

2. Dosen pembimbing Atik Rahmawati, M. Si dan Dr. Widodo Supriyono, M.A yang telah

memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan skripsi.

3. Kepala Sekolah MA NU 04 Al Ma’arif Boja, Drs. Shobirin, M. Si, yang berkenan memberikan izin pada penulis untuk melakukan penelitian di MA NU 04 Al Ma’arif Boja.

4. Guru pengampu bidang studi Kimia MA NU 04 Al Ma’arif Boja, Bu Lismawati, yang memberikan banyak arahan dan informasi selama proses penelitian.

5. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah yang telah membekali banyak pengetahuan kepada

penulis dalam menempuh studi di Fakultas Tarbiyah.

6. Segenap pegawai Fakultas Tarbiyah, pegawai perpustakaan IAIN dan pegawai

perpustakaan Fakultas Tarbiyah yang telah memberikan layanan yang baik bagi penulis.

7. Kedua orang tua dan keluarga besarku yang tidak henti-hentinya memberikan dorongan

baik moril maupun materiil dan tidak pernah bosan mendoakan penulis dalam menempuh

studi dan mewujudkan cita-cita,

8. Teman-teman penulis yang ikut memberikan motivasi selama menempuh studi,

khususnya dalam proses penyusunan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan

satu-persatu.

Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang

(8)

viii

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari

segi materi, metodologi dan analisisnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun

sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang tertulis dalam

skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya.

Amin.

Semarang, Desember 2011

Penulis

Siti Muzdalifah

(9)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

NOTA PEMBIMBING ... iv

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II : LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Belajar dan Pembelajaran ... 6

2. Hasil Belajar ... 7

a. Ranah Kognitif ... 8

b. Ranah Psikomotorik ... 8

c. Ranah Afektif ... 8

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 9

a. Faktor Internal ... 9

b. Faktor Eksternal ... 9

4. Metode Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) ... 10

(10)

x

b. Golongan dan Periode Unsur-unsur Dalam Tabel Periodik

1). Penggolongan Unsur ... 14

2). Perioda ... 15

3). Hubungan Konfigurasi Elektron Dengan Sistem Perio dik ... 15

c. Logam dan Bukan Logam ... 16

1). Logam (Metal) ... 16

2). Non Logam (Nonmetal) ... 17

3). Semi Logam (Metaloid) ... 17

d. Sifat-sifat Periodik Unsur ... 18

1). Jari-jari Atom ... 18

2). Energi Ionisasi ... 19

3). Afinitas Elektron ... 19

4). Keelektronegatifan ... 20

B. Kerangka Berfikir ... 20

C. Kajian Penelitian yang Relevan ... 22

D. Rumusan Hipotesis ... 24

BAB III : METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 25

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 26

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 26

D. Variabel Penelitian dan Indikator Efektivitas ... 27

E. Teknik Pengumpulan Data ... 28

F. Teknik Analisis Data... 29

BAB IV : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data Hasil Penelitian 1. Persiapan Pelaksanaan Penelitian ... 39

2. Pelaksanaan Pembelajaran ... 39

a. Pembelajaran dengan Metode Crossword Puzzle pada Kelas Eksperimen ... 40

(11)

xi

c. Tahap Evaluasi ... 42

B. Analisis Data 1. Analisis Data Awal (Data Pretest) ... 45

2. Analisis Data uji coba ... 48

3. Analisis Data akhir (Data Posttest) ... 55

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 60

D. Keterbatasan Penelitian ... 62

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 63

B. Saran-saran ... 63

C. Penutup ... 64

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya

proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan

kemampuan berpikirnya. Implikasinya pembelajaran kimia di sekolah masih

jauh dari harapan. Guru-guru masih menerapkan metode mengajar secara

tradisional, yang berorientasi pada pengukuran kognitif peserta didik saja.

Sedangkan dalam paradigma belajar konstruktivisme pembelajaran harus dapat

mengukur tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk mencapai

tiga pengukuran hasil belajar tersebut, kegiatan belajar di kelas tidak cukup

hanya menerapkan metode ceramah saja atau metode pembelajaran tutur dan

kapur (talk and chalk). Akibatnya akan menimbulkan kekurang tertarikan peserta didik terhadap mata pelajaran dan mengurangi semangat peserta didik

mengikuti kegiatan pembelajaran. Peserta didik yang sebelumnya tidak

menyukai mata pelajaran tertentu akan menjadi kurang termotivasi. Oleh karena

itu, guru harus kreatif membuat strategi mengajar yang dapat menciptakan

suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.

Dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),

guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan

pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung dengan guru. Oleh karena itu

upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan

kemampuan guru. Satu diantara kemampuan yang harus dimiliki guru adalah

merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau

kompetensi yang akan dicapai, karena tidak semua tujuan dapat tercapai hanya

dengan satu strategi tertentu.1

Mata pelajaran Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang

dianggap sulit bagi sebagian peserta didik. Banyaknya konsep kimia yang

(13)

2 bersifat abstrak yang harus diserap peserta didik dalam waktu relatif terbatas

menjadikan ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran sulit bagi peserta

didik sehingga banyak peserta didik gagal dalam belajar kimia. Pada umumnya

peserta didik cenderung belajar dengan hafalan daripada secara aktif mencari

untuk membangun pemahaman mereka sendiri terhadap konsep kimia. Ada juga

sebagian peserta didik yang sangat paham pada konsep-konsep kimia, namun

tidak mampu mengaplikasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.2 Kondisi seperti ini akan berdampak pada menurunnya minat belajar

peserta didik dan semakin tidak pahamnya peserta didik terhadap mata pelajaran

dan konsep-konsep di dalamnya. Secara kualitatif, berarti tujuan pendidikan

kimia sebagaimana dalam GBPP tidak tercapai. Secara kuantitatif nilai peserta

didik tidak mampu melampaui batas minimal tercapainya suatu ketuntasan

pembelajaran, yaitu nilai rata-rata masih dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan

Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65.

Kondisi yang demikian itulah yang melatarbelakangi peneliti untuk

melakukan penelitian tindakan di MA NU 04 Al Ma’arif Boja. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti menggambarkan kondisi di MA NU 04

Al Ma’arif Boja adalah sebagaimana kondisi yang telah diuraikan di atas, yaitu : secara kuantitatif nilai peserta didik rata-rata masih dibawah KKM (Kriteria

Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65, strategi

pengajaran kurang memadai, karena masih jarang guru yang menggunakan

metode yang aktif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran, khususnya

pada mata pelajaran kimia.

Telah dikembangkan dan diteliti berbagai metode pembelajaran yang

berbeda satu dengan yang lain. Salah satunya adalah metode pembelajaran

Crossword Puzzle (Teka-teki Silang). Metode pembelajaran ini dapat membantu peserta didik untuk mudah mengingat, dan metode Crossword Puzzle

ini digunakan untuk menyusun tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki

silang, metode ini dapat mengundang minat dan partisipasi peserta didik dalam

(14)

3 pembelajaran. Langkah pertama, peserta didik mendengarkan penjelasan tentang

beberapa istilah atau nama-nama penting yang terkait dengan materi Sistem

Periodik Unsur. Kemudian peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok

kecil yang terdiri dari dua sampai empat orang. Masing-masing kelompok dibagi

Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) yang terkait dengan materi Sistem Periodik Unsur untuk dikerjakan, dan waktu mengerjakan dibatasi kemudian hasilnya

dicocokkan bersama.3

Teka teki silang yang dimaksudkan bahwa selain ada unsur

permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan mengisi teka teki

silang tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga

diharapkan selain kesenangan juga didapatkan pengetahuan dan pemahaman

materi pelajaran, khususnya materi pelajaran sistem periodik unsur dan ilmu

kimia pada umumnya. Maka diharapkan dengan membuka, membaca, dan

mencari jawaban teka-teki silang tersebut, peserta didik akan selalu paham dan

mengerti dengan sendirinya materi pelajaran sistem periodik unsur yang

merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang membutuhkan daya

pemahaman yang cukup.

Teka-teki silang yang digunakan akan memberikan nilai yang positif

bagi peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan menjawab dan

mengerjakan bersama, peserta didik akan selalu berlomba untuk dapat

menemukan jawabannya dengan benar sehingga akan muncul persaingan sehat.

Rasa kebersamaan yang tinggi akan tumbuh, karena bagi peserta didik yang

menemukan jawaban akan dapat menjawab teka-teki silang tersebut dan peserta

didik lain dalam kelompoknya juga akan mengetahui jawaban yang benar.

Faktor ketelitian dan ketepatan yang tinggi juga menjadi sangat menentukan

dalam pengisian jawaban teka-teki silang, Karena huruf-huruf dalam jawaban

dapat mempengaruhi jawaban yang lain baik dalam baris atau kolom.4

3Silberman, Active Learnig 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Nusamedia, 2006), hlm 256.

4Sugiartini, “

(15)

4 Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti efektivitas

penerapan metode Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Sistem Periodik Unsur kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan metode

Crossword Puzzle efektif dalam meningkatkan hasil belajar kimia kelas X MA

NU 04 Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode

Crossword Puzzle dalam meningkatkan hasil belajar kimia kelas X MA NU 04

Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat bagi Peserta Didik

a. Meningkatkan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.

b. Dengan diterapkannya metode Crossword Puzzle, memberikan alternatif kepada peserta didik untuk mempermudah mengingat materi pembelajaran

kimia pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.

c. Meningkatkan motivasi peserta didik dengan diterapkannaya metode

Crossword Puzzle.

d. Meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’Arif Boja pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.

2. Manfaat bagi Guru

a. Meningkatkan kreatifitas guru dalam mengajar.

b. Memberikan wacana untuk menambah variasi mengajar.

c. Mampu menghidupkan suasana kelas dengan metode yang diterapkan.

(16)

5 3. Manfaat bagi Peneliti

a. Memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman mengajar.

b. Memberikan pengalaman cara mendesain materi pembelajaran yang tepat.

4. Manfaat bagi Sekolah

Memberi masukan bagi sekolah untuk melakukan perbaikan terhadap

proses pembelajaran kimia pada khususnya dan pelajaran lain pada

(17)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan upaya sadar atau upaya yang disengaja untuk

mendapat kepandaian. Banyak definisi belajar yang dikemukakan oleh para ahli,

diantaranya sebagai berikut:

a) Menurut Anita E. Woolfolk

“Learning is the process through which experiences causes permanent of change knowledge or behavior.1 (Belajar adalah suatu proses di mana pengalaman-pengalaman menghasilkan suatu perubahan permanen

dalam pengetahuan atau tingkah laku).

b) Menurut Cronbach sebagaimana dikutip oleh Sardiman

“Learning is shown by a change in behaviour as a result of experience”.2 (Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman).

c) Menurut Slameto

“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungan”.3 d) Menurut Trianto

“Belajar diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan

tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir.”4

1

Anita E. Woolfolk, Educational Psychology, (Bostan, Allyn and Bocon, 1996), p. 196.

2Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 20.

3Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya , (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm.2.

(18)

7 e) Menurut Syekh Abdul Aziz dan Abdul Majid dalam kitab At-Tarbiyatul wa

Thuruqut Tadris mendenifisikan belajar sebagai berikut:

ملعَّلا

وه

رْييْغت

يف

نْه

ملعّملا

أرْطي

ىلع

رْخ

قباس

ث ْحيف

اهْيف

اًرييْغت

اً ْي ج

(Belajar adalah perubahan di dalam diri (jiwa) peserta didik yang dihasilkan dari pengalaman terdahulu sehingga menimbulkan perubahan yang baru)

Dari pengertian belajar yang sudah dikemukakan, dapat dikatakan bahwa

belajar merupakan suatu proses yang dialami oleh individu dalam

pengalamannya yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Salah satu pertanda

bahwa seorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri

orang itu yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan,

keterampilan, atau sikapnya.

Sedangkan pembelajaran artinya proses, cara, perbuatan menjadikan

orang atau makhluk hidup belajar.6 Pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, di mana antara keduanya terjadi komunikasi

(transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan

sebelumnya.7

Dari pengertian-pengertian tersebut, maka pembelajaran

merupakan suatu aktivitas yang dengan sengaja dilakukan dengan menciptakan

berbagai kondisi yang diarahkan untuk mencapai tujuan, yaitu tujuan kurikulum.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah

peserta didik menerima pengalaman belajar.8 Menurut Bloom yang dikutip oleh

5

Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Majid, At-tarbiyah wa Thuruqut Tadris, Juz I, (Mesir: Darul Ma’arif, t.th), hlm. 169.

6Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 23.

7

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif., hlm. 17.

(19)

8 Sardiman, ranah belajar terdiri dari tiga yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan

afektif.

a) Ranah Kognitif (Cognitive Domain),

Hasil belajar ranah ini menekankan pada aspek intelektual.9 Ranah ini meliputi:

1) Knowledge (Pengetahuan dan ingatan);

2) Comprehension (Pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh); 3) Analysis (Menguraikan, menentukan hubungan);

4) Synthesis (Mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru);

5) Evaluation (Menilai); dan 6) Application (Menerapkan).

b) Ranah Psikomotorik (Psycomotor Domain),

Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan

kemampuan bertindak.10 Ranah ini meliputi :

1) Perception (Persepsi); 2) Set (Kesiapan);

3) Guided Respon (Gerakan Terbimbing); 4) Mechanism (Gerakan Terbiasa);

5) Complex Over Respon (Gerakan Kompleks); 6) Adaptation (Penyesuaian); dan

7) Originality (Kreativitas).

c) Ranah Afektif (Affective Domain),

Hasil belajar yang berkenaan dengan sikap.11 meliputi:

1) Receiving (Sikap menerima); 2) Responding (Memberikan respon); 3) Valuing (Menilai);

4) Organization (Organisasi); dan

9

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, hlm. 22.

(20)

9

5) Characterization (Karakterisasi).12

Dalam pembelajaran materi Sistem Periodik Unsur ini, hasil belajar yang

akan dicapai adalah hasil belajar ranah kognitif. Hasil belajar ranah ini dapat

dillihat dari hasil tes yang diberikan di akhir pembelajaran materi Sistem

Periodik Unsur. Dari hasil tes tersebut akan tampak sejauh mana peserta didik

mengingat materi yang sudah disampaikan dan sejauh mana pemahaman mereka

terhadap materi.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang diperoleh peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor,

yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor internal meliputi:

1)Faktor jasmani, meliputi kesehatan dan cacat tubuh.

2)Faktor psikologis, meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,

kematangan, dan kesiapan.

3)Faktor kelelahan.13 b. Faktor eksternal, meliputi:

1)Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota

keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,

dan latar belakang kebudayaan

2)Faktor sekolah, meliputi metode pengajaran, kurikulum, relasi guru dengan

peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar

pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.

3)Faktor masyarakat, meliputi kegiatan peserta didik dalam masyarakat,

media masa, teman bergaul, serta bentuk kehidupan masyarakat. 14

Di antara faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor

sekolah, yang salah satunya berupa alat pelajaran. Alat pelajaran merupakan alat

yang dipakai oleh guru saat mengajar dan juga dipakai oleh peserta didik untuk

12

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, hlm. 23.

(21)

10 menerima materi yang diajarkan. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat dapat

memperlancar penerimaan materi pelajaran kepada peserta didik.

Mengusahakan alat pelajaran yang baik sangat diperlukan, agar guru

dapat mengajar dengan baik dan peserta didik dapat menerima pelajaran dengan

baik, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang maksimal. Alat pelajaran ini bisa

meliputi buku-buku cetak maupun laboratorium.

Crossword Puzzle yang berupa gambar dua dimensi, dapat juga dijadikan sebagai alat pelajaran. Dalam hal ini, materi Sistem periodik unsur dapat

disajikan dalam Crossword Puzzle. Crossword Puzzle ini akan mempermudah peserta didik mengingat materi-materi yang disampaikan. Dengan demikian

hasil belajar peserta didik dapat sesuai dengan yang diharapkan.

4. Metode Crossword Puzzle (Teka-teki Silang)

Metode Crossword Puzzle ini merupakan susunan tes peninjauan kembali dalam bentuk teka-teki silang yang dapat mengundang minat dan

partisipasi peserta didik. Teka-teki silang ini bisa diisi secara perorangan atau

kelompok.15

Crossword puzzle (teka-teki silang) adalah salah satu metode pembelajaran aktif bagi peserta didik yang melibatkan semua peserta didik untuk

berfikir saat pembelajaran berlangsung dengan mengisi teka–teki silang (Crossword puzzle) sehingga peserta didik menjadi lebih antusias dalam mengikuti pelajaran.

Teka teki silang yang dimaksudkan bahwa selain ada unsur

permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan mengisi teka-teki

silang tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga

diharapkan selain kesenangan juga didapatkan pengetahuan dan pemahaman

materi pelajaran, khususnya materi pelajaran sistem periodik unsur dan ilmu

kimia pada umumnya. Maka diharapkan dengan membuka, membaca, dan

mencari jawaban teka-teki silang tersebut, peserta didik akan selalu paham dan

15

(22)

11 mengerti dengan sendirinya materi pelajaran sistem periodik unsur yang

merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang membutuhkan daya

pemahaman yang cukup.

Teka-teki silang yang digunakan akan memberikan nilai yang positif bagi

peserta didik. Hal ini disebabkan karena dengan menjawab dan mengerjakan

bersama, peserta didik akan selalu berlomba untuk dapat menemukan

jawabannya dengan benar sehingga akan muncul persaingan sehat. Rasa

kebersamaan yang tinggi akan tumbuh, karena bagi peserta didik yang

menemukan jawaban akan dapat menjawab teka-teki silang tersebut dan peserta

didik lain dalam kelompoknya juga akan mengetahui jawaban yang benar.

Faktor ketelitian dan ketepatan yang tinggi juga menjadi sangat menentukan

dalam pengisian jawaban teka-teki silang. Karena huruf-huruf dalam jawaban

dapat mempengaruhi jawaban yang lain baik dalam baris atau kolom.16

5. Materi Sistem Periodik Unsur

a. Sistem Periodik Modern

Pada tahun 1817, Johann D. Dobereiner mencari hubungan antara massa

atom relatif unsur dengan sifat-sifatnya. Ia menemukan beberapa kelompok tiga

unsur yang mempunyai sifat yang mirip, contohnya

Litium Kalsium Klor

Natrium Strontium Brom

Kalium Borium Iod

Kelompok tiga unsur ini disebut triad. Dobereiner menemukan suatu

hukum:

“Suatu triad adalah tiga unsur yang disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatif (Ar)-nya, sehingga massa atom relatif unsur kedua kira-kira sama dengan rata-rata Ar unsur pertama dan ketiga.”

16

(23)

12 Pada tahun 1865, John Newland mendapatkan hubungan antara sifat

unsur dengan massa atom relatifnya, yaitu sebagai berikut.

“Jika unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya, maka pada unsur yang kedelapan sifatnya mirip dengan unsur yang pertama, dan unsur kesembilan dengan unsur yang kedua, dan seterusnya”.

Hubungan ini oleh Newland disebut hukum oktaf, karena kemiripan sifat

unsur terjadi setelah hubungan kedelapan. Dilihat dari beberapa kasus

tampaknya hukum ini benar, tetapi untuk unsur yang lain tidak terbukti,

contohnya S dan Fe tidak mempunyai kemiripan sifat.

Dmitri Mendeleyev (bangsa Rusia) dan Lothar Meyer (bangsa Jerman)

secara terpisah membuat daftar unsur yang merupakan perbaikan hukum oktaf

Newland. Ia mempelajari sifat-sifat unsur dan mencari kaitannya dengan massa

atom relatif. Berikut merupakan uraian sifat beberapa unsur yang dipelajari

Dmitri Mendeleyev yang dikaitkan dengan massa atom relatifnya.

Tabel 2.1 Uraian sifat beberapa unsur

Urutan massa

atom

Massa

atom Nama Lambang Sifat

1 2 3 4 5

1 7 Litium Li Logam lunak, kerapatan

rendah, secara kimia sangat aktif, membentuk Li2O, LiCl.

2 9,4 Berilium Be Jauh lebih keras daripada Li,

kerapatan rendah, kurang

aktif dibandingkan Li,

membentuk BeO, BeCl2.

3 11 Boron B Sangat keras, bukan logam,

kurang reaktif, membentuk B2O3, BCl3.

4 12 Karbon C Rapuh, bukan logam, tak

reaktif pada suhu kamar, membentuk CO2, CCl4.

5 14 Nitrogen N Gas, kurang reaktif,

membentuk N2O5, NCl3.

6 16 Oksigen O Gas, cukup reaktif, bereaksi

(24)

13

1 2 3 4 5

7 19 Flour F Gas, sangat reaktif,

merangsang hidung,

membentuk NaF, BeF2.

8 23 Natrium Na Logam, lunak, kerapatan

rendah, sangat aktif,

membentuk Na2O, NaCl

(bandingkan dengan Li).

9 24 Magnesium Mg Jauh lebih keras daripada Na,

kerapatan rendah, kurang

aktif dibandingkan Na;

membentuk MgO, MgCl

(bandingkan dengan Be).

10 27,4 Aluminium Al Sekeras Mg, cukup reaktif,

membentuk Al2O3, AlCl3

(bandingkan dengan B).

11 28 Silikon Si Rapuh, bukan logam, tak

reaktif, membentuk SiO2,

SiCl4

12 31 Fosfor P (bandingkan dengan C).

13 32 Sulfur S Titik leleh rendah, padat,

reaktif; membentuk P2O5,

PCl3 (bandingkan dengan N).

14 2 Klor Cl Titik leleh rendah, padat,

agak reaktif; bereaksi dengan

kebanyakan unsur,

membentuk Na2S, BeS

(bandingkan dengan O).

15 35,5 Kalium K Gas, sangat reaktif,

merangsang hidung,

membentuk NaCl, BeCl2

(bandingkan dengan F).

16 39 Kalsium Ca Logam, lunak, kerapatan

rendah, sangat reaktif,

membentuk K2O, KCl

(bandingkan dengan Li dan Na).

Dari sifat fisika dan unsur-unsur kimia di atas, Dmitri Mendeleyev

menemukan hubungan antara sifat unsur dengan massa atom relatifnya.

Hubungan itu disebut hukum periodik yang berbunyi

(25)

14 Pada tahun 1869, Mendeleyev berhasil menyusun daftar unsur yang

disebut sistem periodik Mendeleyev. Ia menempatkan unsur dalam kotak

menurut kenaikan massa atom relatifnya. Ia membagi unsur atas 8 golongan dan

12 perioda sehingga unsur dalam satu golongan mempunyai sifat yang mirip.

Setelah Moseley (pada tahun 1915) berhasil menemukan nomor atom,

para ahli mencoba melihat hubungan sifat unsur dengan nomor atom tersebut.

Seperti telah dikemukakan bahwa nomor atom adalah jumlah proton yang

terdapat dalam inti, dan nomor massa (Ar) adalah jumlah proton dan neutron

dalam inti atom.

Penyelidikan akhirnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara

nomor atom dengan volume, titik lebur, energi ionisasi, dan jari-jari atom.

Berdasarkan fakta di atas, hukum periodik Mendeleyev harus diperbaiki menjadi

hukum periodik versi modern.

“Sifat unsur merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya”

Kemudian disusun sistem periodik baru yang didasarkan pada kenaikan

nomor atom dan kemiripan sifat unsur. Sistem ini disebut sistem periodik

Mendeleyev versi modern. Dalam sistem ini, unsur dibagi atas 8 golongan dan 7

perioda. Perioda ada yang pendek (1, 2, 3) dan yang panjang (4, 5, 6, 7).

Disamping itu juga dikenal golongan lantanida dan aktinida.

Sistem periodik modern (disebut juga sistem periodik panjang) disusun

berdasarkan konfigurasi elektron unsur. Letak suatu unsur dalam sistem ini

ditentukan oleh orbital yang terisi paling akhir. Dalam sistem ini, unsur dibagi

atas blok s, p, d, dan f, serta terdiri atas golongan utama (blok s dan p) dan

golongan transisi (blok d dan f).

b. Golongan dan Periode Unsur-unsur dalam Tabel Periodik

1) Penggolongan unsur

Semua unsur blok s dan p disebut golongan utama (A), sedangkan blok

d dan f disebut golongan transisi. Golongan utama terdiri dari 8 kolom yang

(26)

15 Elektron valensi masing-masing golongan adalah:

s1 - IA s2p3 - VA

s2 - IIA s2p4 - VIA

s2p1 -IIIA s2p5 - VIIA

s2p2 -IVA s2p6 - VIIIA atau 0

Unsur golongan VIIIA disebut golongan gas mulia, Karena tidak

dapat bersenyawa dengan unsur lain, dan disebut juga golongan 0.

2) Perioda

Unsur yang terletak pada baris yang sama dan sistem periodik disebut

perioda. Perioda menunjukkan nomor bilangan kuantum utama (n) tertinggi

yang dimiliki unsur. Karena n melambangkan jumlah kulit elektron, maka

unsur seperioda yang berdekatan mempunyai sifat agak mirip. Bila letaknya

berjauhan sifatnya juga jauh berbeda.

Perioda unsur dapat ditentukan dari nilai bilangan kuantum (n) yang

terbesar atau n kulit terluarnya, contohnya unsur Y yang mempuyai nomor

atom 40.

40Y : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d2 perioda 517

c. Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik

Sistem periodik disusun berdasarkan pengamatan terhadap sifat-sifat

unsur, misalnya saja kemiripan sifat diantara unsur-unsur segolongan terjadi

karena unsur-unsur tersebut mempunyai elektron valensi yang sama. Unsur-unsur

segolongan IA mempunyai kemiripan konfigurasi elektronnya. Hal ini

menyebabkan unsur dalam satu golongan mempunyai sifat yang sama, jadi untuk

mengetahui ciri-ciri sifat unsur dapat ditunjukkan oleh elektron valensinya.

Tabel 2.2 Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik

Unsur Nomor Atom K L M N O P Q

1 2 3 4 5 6 7 8 9

H 1 1

17

(27)

16

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Li 3 2 1

Na 11 2 8 1

K 19 2 8 8 1

Rb 37 2 8 18 8 1

Cs 55 2 8 18 18 8 1

Fr 87 2 8 18 32 18 8 1

Hubungan antara letak unsur dalam Sistem Periodik Unsur dapat

ditentukan berdasarkan konfigurasi elektron. Golongan ditunjukkan dengan

jumlah elektron valensi, sedangkan periode ditunjukkan oleh jumlah kulit.18

d. Logam dan bukan logam

Unsur-unsur dialam dikelompokkan menjadi unsur logam, unsur non

logam, dan unsur semi logam.

1) Logam (Metal)

Setiap orang pernah melihat logam, misalnya paku, besi, aluminium

foil, kawat tembaga, atau bumper mobil yang dilapisi krom (chrom-plated). Cahaya dari logam sangat spesifik sehingga disebut cahaya metal (metallic luster).

Logam juga mempunyai sifat yang sama dalam kemampuannya

mengubah bentuk tanpa pecah jika ditempa dengan pemukul (hammer) atau ditarik untuk meluruskannya. Semua logam mempunyai kemampuan seperti

ini sampai derajat tertentu. Kemampuan mengubah bentuk jika dipukul

disebut maleabilitas (malleability). Sifat mudah ditempa (lentur) dari logam juga merupakan sifat yang dapat digunakan oleh pandai besi untuk membuat

sepatu kuda dan pandai perak untuk membuat kerajinan dari perak.

18

(28)

17 Kemampuan logam yang dapat lurus jika ditarik dari arah yang

berlawanan disebut dengan sifat lentur (ductility). Logam adalah penghantar arus listrik yang baik dan logam juga sebagai penghantar kalor yang baik.

Lebih dari 70% unsur-unsur adalah logam, meskipun ada kesamaan

sifat di antara logam-logam tersebut. Banyak logam yang umumnya dikenal

dan dapat dijumpai setiap hari dalam bentuk murni, tidak dikombinasi dengan

logam lain. Misalnya besi, aluminium, tembaga, dan krom. Beberapa logam

mempunyai sifat yang sangat reaktif, batas perbedaan reaktivitas kimia

logam-logam sangat besar. Natrium adalah salah satu contoh yang sangat

ekstrem reaktivitasnya dan emas adalah contoh ekstrem yang berlawanan

dengan natrium.

Selain reaktivitas kimia, logam juga mempunyai beberapa sifat fisik

yang berbeda, misalnya kekerasan dan titik leleh. Sebagian lagi bersifat

lunak. Krom dan besi adalah contoh logam yang keras, emas dan timah

adalah contoh logam yang lunak.

2) Non logam (Nonmetal)

Kebanyakan unsur non logam jarang dijumpai dalam bentuk unsurnya

yang murni: dalam kehidupan sehari-hari, yang sering dijumpai adalah

bentuk senyawa kimia. Salah satu benda nonlogam yang banyak diketahui

adalah karbon, yang terjadi di alam dalam dua bentuk yang berbeda. Bentuk

(varietas) lainnya yang juga cukup dikenal adalah grafit. Bentuk ini banyak

dijumpai, misalnya pada batu bara briket dan isi pensil. Bentuk karbon yang

kurang dikenal, tetapi sangat berharga adalah intan (diamond).

Nonlogam lainnya yang sangat banyak dijumpai adalah oksigen dan

nitrogen, yaitu komponen yang penting dari atmosfer. Sama seperti sifat-sifat

logam yang batasannya sangat luas, demikia juga sifat-sifat unsur nonlogam.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, beberapa unsur berbentuk gas

dan ada satu (brom) berbentuk cair. Ada juga yang berbentuk padat,

contohnya adalah karbon. Selain perbedaan dalam sifat-sifat fisik, unsur

nonlogam juga berbeda dalam sifat-sifat kimianya. Fluor, misalnya sangat

(29)

18 3) Semi logam (Metaloid)

Metaloid (juga disebut semimetal) adalah unsur yang mempunyai sifat

antara logam (metal) dan non logam (non metal). Contoh yang paling

terkenal adalah unsur silikon. Contoh lain misalnya arsen (As) dan antimon

(Sb). Jika dilihat dari bentuk luarnya, unsur ini agak berbentuk logam, tetapi

warna gelapnya agak berbeda jika dibandingkan dengan logam yang spesifik,

misalnya besi atau perak.

Metaloid adalah semikonduktor yang spesifik. Unsur ini dapat

menghantarkan arus listrik, tetapi tidak sebaik logam. Sifat semikonduktor ini

sangat berguna dalam industri elektronik karena unsur ini memungkinkan

alat-alat mikroelektronik diperoleh dalam ukuran kecil (dapat digenggam

dalam tangan) misalnya dijumpai dalam kalkulator dan mikrokomputer.

Selain karena sifat penghantar listriknya, metaloid lebih bersifat non logam

daripada logam.19

e. Sifat-sifat Periodik Unsur

Walaupun unsur yang berdekatan dalam satu golongan atau perioda

mempunyai kemiripan, tetapi diantara sesamanya terdapat perbedaan tertentu.

Perbedaan sifat itu berubah dengan kecenderungan tertentu, sesuai dengan

perubahan nomor atomnya. Kecenderungan itu berulang pada golongan atau

perioda berikutnya, maka disebut sifat periodik, yag meliputi jari-jari atom,

energi ionisasi, afinitas elektron dan keelektronegatifan.

1) Jari-jari atom

Jari-jari atom adalah setengah jarak inti dua atom yng sama dalam

ikatan tunggal. Unsur dalam satu perioda, mempunyai kulit yang sama, tetapi

nomor atom bertambah dari kiri ke kanan. Berarti jumlah protonnya juga

bertambah, sehingga daya tarik inti pada kulit terluar makin besar dari kiri ke

kanan.

19

(30)

19 Dalam satu golongan, unsur mempunyai elektron valensi sama, tetapi

jumlah kulitnya bertambah dari atas kebawah. Akibatnya, jari-jari atom

bertambah dari atas ke bawah. Dengan demikian dapat disimpulkan secara

umum bahwa:

a) Dalam satu perioda, jari-jari bertambah dari kanan ke kiri.

b) Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah dari atas ke bawah.

2) Energi ionisasi

Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terlemah suatu

atom disebut energi ionisasi.

a) Dalam satu perioda, energi ionisasi bertambah dari kiri ke kanan. b) Dalam satu golongan, energi ionisasi bertambah dari bawah ke atas.

Bila jarak makin kecil maka daya tarik makin besar, akibatnya energi

ionisasi makin besar. Sebaliknya, bila jarak makin besar maka daya tarik

makin kecil. Dari keperiodikan telah diketahui bahwa dalam satu perioda,

jari-jari berkurang dari kiri ke kanan. Sudah tentu energi ionisasi pertama

bertambah dari kiri ke kanan. Demikian pula dalam satu golongan, energi

ionisasi pertamanya akan bertambah dari bawah ke atas, karena jari-jari

atomnya makin kecil.

3) Afinitas elektron

Afinitas elektron adalah energi yang dilepaskan atau diperlukan bila

satu elektron masuk ke orbital terluar suatu atom. Elektron dapat masuk

karena ditarik oleh inti yang bermuatan positif. Disekitar inti terdapat elektron

yang menolak elektron lain yang akan masuk. Jika daya tarik inti lebih besar

daripada daya tolak elektron, maka dikeluarkan energi saat elektron masuk.

Sebaliknya, bila daya tarik inti lebih kecil, maka akan diperlukan energi untuk

memasukkan elektron. Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum

bahwa:

(31)

20 4) Keelektronegatifan

Keelektronegatifan adalah daya tarik atom terhadap pasangan elektron

yang dipakai bersama dalam ikatan kovalen. Keelektronegatifan unsur

ditentukan oleh muatan inti dan jari-jari kovalennya. Dengan demikian dapat

disimpulkan secara umum bahwa:

a) Dalam satu perioda, keelektronegatifan bertambah dari kiri ke kanan. b) Dalam satu golongan, keelektronegatifan bertambah dari bawah ke atas.

Unsur dalam satu perioda mempunyai jari-jari atom makin kecil dari

kiri ke kanan. Akibatnya, daya tarik inti terhadap elektron kulit terluar

(termasuk pasangan elektron yang dipakai besama) juga bertambah dari kiri

ke kanan. Keelektronegatifan unsur segolongan bertambah dari bawah ke atas

juga karena pertambahan jari-jari atomnya.20

B. Kerangka Berfikir

Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih tetap merupakan

suatu masalah yang amat menonjol dalam setiap pembaharuan sistem pendidikan

nasional. Sejalan dengan itu upaya pembaharuan pendidikan terus dilakukan

diantaranya adalah pembaharuan pada metode pembelajaran yang digunakan.

Sistem Periodik Unsur (SPU) merupakan salah satu materi ilmu kimia

yang banyak mengungkap teori-teori dan konsep-konsep ilmu kimia yang

mendasar. Misalnya pengelompokkan unsur-unsur, sifat-sifat periodik unsur

yang dalam pemahamannya banyak melibatkan daya imajinasi peserta didik.

Oleh karena itu, pemahaman tentang SPU sangat penting untuk mempelajari

ilmu kimia selanjutnya sehingga dalam mempelajarinya diperlukan

pengembangan kemampuan kognitif peserta didik. Ketidakmampuan peserta

didik dalam memahami konsep-konsep dari materi SPU akan mengakibatkan

menurunnya prestasi belajar peserta didik. Untuk mengatasi kesulitan pada

peserta didik diperlukan suatu metode yang mampu membantu meningkatkan

pemahaman terhadap konsep-konsep tersebut. Dalam penelitian ini metode

(32)

21 pembelajaran yang dipakai adalah metode Crossword Puzzle atau Teka-teki Silang.

Crossword Puzzle (Teka-teki Silang) yang digunakan dimaksudkan selain ada unsur permainannya juga ada unsur pendidikannya, dimana dengan

mengisi Crossword Puzzle tersebut secara tidak sadar peserta didik belajar ilmu kimia sehingga diharapkan selain mendapat kesenangan juga mendapatkan

pengetahuan dan pemahaman materi pelajaran, khususnya materi pelajaran SPU

dan ilmu kimia pada umumnya. Pada metode pembelajaran Crossword Puzzle

ini peserta didik secara bersama-sama akan mencari jawaban pertanyaan yang

ada dalam Crossword Puzzle (Teka-teki Silang). Dalam mencari jawaban peserta didik terlebih dahulu harus paham maksud dari pertanyaan yang ada, sehingga

peserta didik juga harus paham dengan materi pelajaran yang terkait. Dengan

demikian, selain belajar secara bersama-sama peserta didik juga dapat saling

membantu bila ada seorang peserta didik yang belum paham mengenai materi

yang terkait. Crossword Puzzle merupakan metode yang bentuknya terdiri dari baris dan kolom dimana huruf-huruf dalam baris dan kolom saling berhubungan.

Melalui Crossword Puzzle inilah, akan terwujud pembelajaran kimia yang bermakna, artinya peserta didik benar-benar memahami apa yang

dipelajari, khususnya pada materi pokok Sistem Periodik Unsur. Peserta didik akan lebih memahami konsep-konsep dalam Sistem Periodik Unsur. Dengan

(33)

22 Gambar 2.1 Skema kerangka berfikir

C. Kajian Penelitian yang Relevan

Penulis dalam pembahasan ini akan mendeskripsikan hubungan antara

penelitian yang penulis teliti dengan penelitian yang relevan dari peneliti

terdahulu. Yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Skripsi yang disusun oleh Sugiartini (K3301054) pada tahun 2006, mahasiswi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

dengan judul ”Studi Komparasi Pengajaran Kimia Menggunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournaments) dengan

Metode TTS (Teka Teki Silang) dan Kartu Pada Materi Pokok Sistem Periodik

Unsur Kelas X Semester Ganjil SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran

2005/2006.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle (teka-teki silang) efektif terhadap peningkatan hasil belajar pada materi pokok Sistem Periodik Unsur.

2. Skripsi yang disusun oleh Elsa Yuniar Pramita Dewi (A220070038) pada

tahun 2010, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tes

Tes

Sistem Periodik unsur

Proses pembelajaran

Pembelajaran dengan

menggunakan Crossword

Puzzle

Pembelajaran dengan metode konvensional

Hasil Belajar Hasil Belajar

(34)

23

Sebelas Maret Surakarta dengan judul ” Penerapan Strategi Pembelajaran

Crossword Puzzle Sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Makna Proklamasi

Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama Pada Siswa Kelas VII A SMP

Muhammadiyah 8 Surakarta Tahun 2010.” Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya peningkatan keaktifan peserta didik dengan diterapkannya

pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle (teka-teki silang). 3. Skripsi yang disusun oleh Rika Dwi Harimurti (A 420 070 079) Pada Tahun

2011, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan

Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul

“Perbedaan Penggunaan Metode Crossword Puzzle dan Card Sort Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas X.Ak.1 dan X.Ak.2 SMK Negeri I Banyudono

Tahun Ajaran 2010/2011”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan metode Crossword Puzle lebih efektif daripada metode Card Sort.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, perbedaan dari

penelitian sebelumnya terletak pada materi yang diambil pada penelitian ini.

Penelitian sebelumnya, materi yang diteliti diantaranya Sistem Periodik Unsur

pada materi kimia, Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Pertama

pada materi Pendidikan Kewarganegaraan, dan pada materi Biologi. Letak

perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah pada sampel peserta didik pada

penelitian masing-masing, perbedaan sekolah yang dijadikan tempat penelitian.

Dari perbedan tersebut, maka penelitian ini mengambil judul ” Efektivitas Metode Crossword Puzzle Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik

Pada Materi Pokok Sistem Periodik Unsur Kelas X MA NU 04 Al Ma’arif

(35)

24 D. Rumusan Hipotesis

Hipotesis memang berasal dari 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran”.21

Hipotesis sangat penting

adanya, sebab penelitian akan berjalan sesuai hipotesis yang dirumuskan

sehingga hipotesis tersebut dapat terjawab.

Sehubungan dengan pengertian hipotesis tersebut, maka hipotesis yang

peneliti ajukan adalah ada peningkatan hasil belajar peserta didik kelas X MA

NU 04 Al Ma’arif Boja dalam materi pokok sistem periodik unsur dengan penerapan metode Crossword Puzzle sebagai metode pembelajaran.

(36)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono, metode penelitian pendidikan dapat di artikan sebagai

cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan,

dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga dapat

digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam

bidang pendidikan.1

Adapun metode yang digunakan peneliti adalah metode analisis

kuantitatif eksperimen, yaitu dengan sengaja mengusahakan timbulnya

variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol untuk melihat pengaruhnya terhadap hasil

belajar.

Metode penelitian kuantitatif yang dilakukan merupakan metode

eksperimen yang berdesain “posttest-only control design”,karena tujuan dalam penelitian ini untuk mencari pengaruh treatment. Adapun pola desain penelitian ini sebagai berikut.2

Gambar 3.1 Desain Penelitian Kuantitatif

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random (R). Kelompok pertama (kelompok eksperimen) diberi perlakuan X (pembelajaran dengan metode Crossword Puzzle) sedangkan kelompok yang lain (kelompok kontrol) diberi perlakuan dengan pembelajaran ekspositori (ceramah).

1

Sugiyono, Metode Penelitia n Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 6

2

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendeklatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 76

R X O2

(37)

26 B. Tempat dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh data tentang efektivitas penerapan metode Crossword Puzzle sebagai metode pembelajaran pada meteri pokok sistem periodik unsur, penelitian dilaksanakan:

Tempat penelitian : MA NU 04 Al Ma’arif Boja

Waktu penelitian : Tanggal 26 Agustus s/d 28 September 2011

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek

yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulannya.3 Populasi dalam penelitian

ini adalah semua peserta didik kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau

keadaan tertentu yang akan diteliti.4 Dalam penelitian ini sampel akan diambil dengan teknik cluster random sampling yaitu dengan memilih secara acak satu kelas sebagai kelas eksperimen, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas

lagi sebagai kelas uji coba instrumen.

Pengambilan sampel dikondisikan dengan pertimbangan bahwa peserta

didik mendapatkan materi berdasarkan kurikulum yang sama, peserta didik yang

menjadi objek penelitian duduk pada kelas yang sama, dan dalam pembagian

kelas tidak ada kelas unggulan. Pada penelitian ini akan digunakan kelas X1

sebagai kelas eksperimen, kelas X2 sebagai kelas kontrol, dan kelas XI IPA

sebagai kelas uji coba instrumen.

3

Sugiyono, Statistika untuk Penelitiann, ( Bandung: Alfabeta, 2006), hlm. 61.

(38)

27 D. Variabel Penelitian dan Indikator Efektivitas

1. Variabel Penelitian

Variabel yang terdapat dalam penelitian ini terdiri atas dua macam

variabel, yaitu variabel bebas (independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel).

a) Variabel Bebas (Independent Variabel)

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau

yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen.5 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah metode

Crossword Puzzle dan metode ekspositori. b) Variabel Terikat (Dependent Variabel)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karena adanya variabel bebas.6 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar kimia peserta didik pada

materi pokok sistem periodik unsur kelas X MA NU 04 Al Ma’arif Boja. Hasil belajar yang akan dicapai adalah hasil belajar ranah kognitif. Hasil

belajar ranah ini dapat dillihat dari hasil tes yang diberikan di akhir

pembelajaran materi Sistem Periodik Unsur. Indikator hasil belajar

dalam penelitian ini adalah Posttest.

2. Indikator Efektivitas

Indikator adalah wakil kejadian atau tingkah laku yang dapat

diobservasi atau diteliti. Sedangkan “Efektif berarti ada efeknya (akibatnya,

pengaruhnya), dapat membawa hasil, berhasil guna.”7

Efektivitas berarti

dapat membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Indikator efektivitas

dalam penelitian ini adalah jumlah peserta didik yang lolos KKM (Kriteria

Ketuntasan Minimal) yang sudah ditetapkan madrasah sebesar 65.

5Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, hlm. 4. 6Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, hlm. 4. 7

(39)

28 Dalam hal ini peneliti menggunakan statistik deskriptif dengan

mencari nilai rata-rata dan prosentase hasil belajar peserta didik, sebagaimana

rumus:

Sedangkan nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan rumus

sebagaimana berikut:

Keterangan:

F= Jumlah peserta didik yang lolos KKM N= Jumlah peserta didik

P= Jumlah skor dalam persen = Rata-rata

Cara menafsirkan prosentase keefektifan adalah:8

Tabel 3.1 Kriteria Prosentase Keefektifan

No Prosentase Peserta didik yang Lolos KKM

Keterangan

1 0% - 20% Tidak efektif

2 21% - 40% Kurang efektif

3 41% - 60% Cukup efektif

4 61% - 80% Efektif

5 81% - 100% Sangat efektif

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dengan mencatat

bahan dokumentasi yang sudah ada dan mempunyai relevansi dengan tujuan

8

(40)

29 penelitian.9 Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data yang sudah ada. Metode dokumentasi dalam penelitian ini

digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama dan nilai awal peserta

didik kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana kelas X1 sebagai kelas

eksperimen dan kelas X2 sebagai kelas kontrol. Data yang dijadikan sebagai data

awal adalah hasil belajar kimia semester gasal pada materi pokok sistem periodik

modern. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan normalitas,

homogenitas, dan kesamaan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol.

2. Metode Tes

Tes merupakan cara yang digunakan dalam rangka pengukuran dan

penilaian di bidang pendidikan.10 Tes yang diberikan pada peserta didik dalam penelitian ini berbentuk pilihan ganda, melalui tes ini akan tampak seberapa jauh

pemahaman peserta didik terhadap materi Sistem periodik unsur.

Hasil tes inilah yang kemudian akan digunakan sebagai acuan untuk

menarik kesimpulan pada akhir penelitian. Namun, sebelum soal tes tersebut

diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, tes tersebut diujicobakan

pada kelas uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran,

dan daya beda soal.

F. Teknik Analisis Data

1. Analisis Tahap Awal

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menentukan statistik yang akan

digunakan dalam mengolah data, yang paling penting adalah untuk

menentukan penggunaan statistik parametrik atau non parametrik. Untuk

menguji normalitas data sampel yang diperoleh yaitu nilai ulangan kimia dari

9Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 30.

(41)

30 materi sebelumnya dapat digunakan uji Chi-Kuadrat. Hipotesis yang digunakan untuk uji nomalitas:

0

H = data berdistribusi normal

1

H = data tidak berdistribusi normal

Langkah-langkah uji normalitas adalah sebagai berikut.

1) Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.

2) Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.

3) Menghitung rata-rata dan simpangan baku.

4) Membuat tabulasi data kedalam interval kelas.

5) Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus:

S Zi  xix ,

di mana S adalah simpangan baku dan x adalah rata-rata sampel.

6) Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan

menggunakan tabel.

7) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva

 K

Ei i

2 i i 2

E E O

Dengan:

2

 = Chi–kuadrat

Oi = frekuensi pengamatan

Ei = frekuensi yang diharapkan

8) Membandingkan harga Chi–kuadrat dengan tabel Chi–kuadrat dengan taraf signifikan 5%.

9) Menarik kesimpulan, jika χ2hitung < χ2tabel, maka data berdistribusi

normal11 b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel

penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen, yang selanjutnya

(42)

31 untuk menentukan statistik t yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel

mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis yang digunakan dalam

uji homogenitas adalah sebagai berikut.

2 2 2 1

0: 

H

2 2 2 1

1: 

H

Untuk menguji kesamaan dua varians digunakan rumus sebagai berikut.

terkecil Varians

terbesar Varians

Fhitung

Untuk menguji kedua varians tersebut sama atau tidak maka Fhitung

dikonsultasikan dengan Ftabel dengan = 5 % dengan dk pembilang (v1) =

banyaknya data terbesar dikurangi satu dan dk penyebut (v2) = banyaknya

data yang terkecil dikurangi satu. Jika Fhitung Fta bel maka Ho diterima.12

Berarti kedua kelompok tersebut mempunyai varians yang sama atau

dikatakan homogen.

c. Uji Kesamaan Dua Rata-rata

Uji kesamaan rata-rata pada tahap awal digunakan untuk menguji

apakah ada kesamaan rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Langkah-langkah uji kesamaan dua rata-rata adalah sebagai berikut:

1) Jika varians kedua kelas sama ( 22)

2

1 

  , rumus yang digunakan

adalah:

(a)Menentukan rumusan hipotesisnya yaitu:

2 1

0: 

H (tidak ada perbedaan rata-rata awal kedua kelas sampel)

2 1

1:  

H (ada perbedan rata-rata awal kedua kelas sampel)

(b)Menentukan statistik yang digunakan yaitu uji t dua pihak.

(c)Menentukan taraf signifikan yaitu α = 5%.

(43)

32

(d) Kriteria pengujiannya adalah terima H0 apabila

, di mana diperoleh dari daftar distribusi

Student dengan peluang dan dk = n1 n2 2.

(e)Menentukan statistik hitung menggunakan rumus:

2 1 2 1 1 1 n n s x x t  

 dengan

2 ) 1 ( ) 1 ( 2 1 2 2 2 2 1 1 2      n n s n s n s Keterangan: 1

x = rata-rata data kelas eksperimen

2

x = rata-rata data kelas kontrol

n1 = banyaknya data kelas eksperimen

n2 = banyaknya data kelas kontrol

s2 = simpangan baku gabungan

(f)Menarik kesimpulan yaitu jika ttabel thitung ttabel, maka kedua

kelas mempunyai rata-rata sama.13

2)Jika varians kedua kelas berbeda (12 22), rumus yang digunakan:

           2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 ' n s n s x x t Keterangan: 1

x : skor rata-rata dari kelompok eksperimen

2

x : skor rata-rata dari kelompok kontrol.

1

n : banyaknya subyek kelompok eksperimen

2

n : banyaknya subyek kelompok kontrol

2 1

s : varians kelompok eksperimen

2 2

s : varians kelompok kontrol

(44)

33 Kriteria pengujian:

0

H diterima jika:

2 1 2 2 1 1 ' w w t w t w t  

 dan

0

H ditolak jika t’ ≥

2 1 2 2 1 1 w w t w t w   . dengan 2 2 1 n s w  i ,

2 2 2 2 n s

w  , 1 (1 )( 1)

1  t n

t , dan 2 (1 )( 1)

2 

t n

t 14

2. Analisis Instrumen Tes

Instrumen yang telah disusun diujicobakan untuk mengetahui validitas,

reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran soal. Uji coba dilakukan pada

peserta didik yang pernah mendapatkan materi tersebut (peserta didik yang masih

termasuk dalam populasi tapi bukan peserta didik yang menjadi sampel).

Tujuannya untuk mengetahui apakah item-item tersebut telah memenuhi syarat

tes yang baik atau tidak.

a. Validitas

Validitas atau kesahihan adalah ketepatan mengukur yang dimiliki

oleh sebutir item (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai

suatu totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item

tersebut.15 Jadi suatu instrumen (soal) dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur. Rumus yang digunakan

untuk menghitung validitas tes item adalah korelasi product moment.16

  

 

2 2 2 2

Y Y N X X N Y X XY N rxy xy

r = koefisien korelasi tiap item

N = banyaknya subyek uji coba

X= jumlah skor item

14

Sudjana, Metoda Statistika, hlm. 241.

(45)

34

Y

= jumlah skor total

2

X

= jumlah kuadrat skor item

2

Y = jumlah kuadrat skor total

XY= jumlah perkalian skor item dan skor total

Setelah diperoleh nilai rxy selanjutnya dibandingkan dengan hasil r pada tabel product moment dengan taraf signifikan 5%. Butir soal dikatakan valid jika

ta bel hitung r

r  . 17

b. Reliabilitas

Reliabilitas digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu instrumen

cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena

instrumen tersebut sudah baik. Untuk perhitungan reliabilitas dalam

penelitian ini digunakan rumus sebagai berikut :

Rumus Varian sebagai berikut :

Keterangan :

r11 = reabilitas instrumen

p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar

q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1p)

∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q k = banyaknya butir soal

s = standar deviasi dari tes.

Standar deviasi (s) dapat didapat menggunakan rumus berikut :

(46)

35 Keterangan :

s = Standar Deviasi

X = Simpangan X dari ,yang dicari dari X -

N = Banyaknya subjek pengikut tes.18

Untuk menentukan reabilitas suatu soal maka, apabila r11> rtabel

dikatakan reabilitas atau soal tersebut dapat digunakan. Namun jika

sebaliknya, maka soal tersebut tidak dapat digunakan.

.

c. Tingkat Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau terlalu

sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang peserta didik untuk

mempertinggi usaha memecahkannya, sebaliknya soal yang terlalu sukar

akan menyebabkan peserta didik menjadi putus asa dan tidak mempunyai

semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya. Untuk

mengetahui tingkat kesukaran soal dapat digunakan rumus:

Keterangan:

P = indeks kesukaran

B = banyaknya peserta didik yang menjawab soal itu dengan benar

JS= jumlah seluruh peserta didik19

Cara menafsirkan angka tingkat kesukaran menurut Witherington

dalam bukunya yang berjudul Psychological Education yang dikutip oleh Anas Sudijono adalah sebagai berikut:20

18

Suharsimi Arikunto,Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 86 - 113

19

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 208.

20

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, hlm. 373. JS

B

(47)

36 Tabel 3.2 Kriteria tingkat kesukaran soal

No Besarnya Tigkat Kesukaran Interpretasi

1 Kurang dari 0,25 Terlalu sukar

2 0,25-0,75 Cukup (sedang)

3 Lebih dari 0,75 Terlalu mudah

d. Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan

antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang

berkemampuan rendah. Teknik yang digunakan untuk menghitung daya

pembeda untuk tes berbentuk pilihan ganda adalah dengan menghitung

perbedaan dua buah rata-rata (mean) yaitu antara mean kelompok atas dan

mean kelompok bawah untuk tiap-tiap item soal. Rumus yang digunakan

adalah sebagai berikut21.

a l Skor Ma ksim

ML MH

DB (  )

Keterangan:

DB : daya beda

MH : rata-rata dari kelompok atas

ML : rata-rata dari kelompok bawah

Cara menafsirkan daya beda adalah:22 Tabel 3.3 Klasifikasi daya pembeda

No Besarnya DB Klasifikasi

1 Kurang dari 200, Poor (Jelek)

2 0,210,40 Satisfactory (Cukup)

3 0,410.70 Good (Baik)

4 0,711,00 Excellent (Baik sekali)

5 Bertanda negatif Buti

Gambar

Tabel 2.2 Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik
Gambar 2.1 Skema kerangka berfikir
Gambar 3.1 Desain Penelitian Kuantitatif
Tabel 3.1 Kriteria Prosentase Keefektifan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa rata- rata hasil tes kelompok eksperimen lebih efektif daripada kelompok kontrol sehingga dapat

1) Perbedaan peningkatan pemahaman siswa terlihat dari hasil tes awal dan tes akhir pada kelas eksperimen dan kontrol. Dari hasil pretest diperoleh rata-rata nilai

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa rata- rata hasil tes kelas eksperimen meningkat dari nilai sebelum eksperimen, di mana nilai

Data hasil tes yang didapat dari rata- rata tiga kali pertemuan yang dilakukan setiap akhir pembelajaran baik dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Pada tes

Berdasarkan selisih hasil rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta hasil analisis denga teknik uji t-tes, maka dapat disimpulkan

Berdasarkan selisih hasil rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta hasil analisis denga teknik uji t-tes, maka dapat disimpulkan

Berdasarkan data yang diperoleh rata-rata nilai tes akhir kelas eksperimen = 68,21 dan kelompok kontrol =64,157, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

Kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran Project Based Learning memiliki nilai rata-rata tes kreativitas siswa lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol yang menerapkan