FILSAFAT ISLAM VIS A VIS FILSAFAT BARAT
Oleh: Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
1.Pendahuluan
Term “filsafat Islam” dan “filsafat Barat” merupakan diskursus kontroversial yang hingga kini masih bergulir. Adapun diskursus yang merajai percaturan filosofis adalah apakah ada filsafat Islam atau filsafat Barat? Bukankah filsafat itu berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa ada aksiden yang melekat pada dirinya? Pertanyaan tersebut di satu sisi mendapatkan dukungan, tapi di lain sisi mendapatkan serangan dari berbagai pihak.
Terlepas dari pro dan kontra dalam menanggapi hal tersebut, tapi kita harus menyadari adanya fenomena “filsafat Islam” dan “filsafat Barat” pada tataran realitas. Oleh karena itu, pembahasan yang paling tepat adalah di manakah letak perbedaan antara filsafat Islam dan Barat?
Sebelum mendedah karakteristik dari keduanya—tanpa menjelaskan makna etimologis yang kerap dikemukan dalam banyak kitab—Murtadha Muthahhari1 mengajak kita menilik filsafat dalam istilah Muslim yang mengambil kata ini dari Yunani, lalu diubah dan disesuaikan dengan bentuk kata bahasa Arab dan memiliki arti berbagai ilmu pengetahuan yang rasional (aqli)— yang mencakup antara lain ilmu bahasa, tafsir, hadis, fikih, usul—dan merupakan lawan dari pengetahuan yang diwahyukan (naqli). Meletakkan filsafat sebagai ilmu rasional sudah menunjukkan sifat dasar dari ilmu ini, yaitu penyandaran dirinya kepada otoritas akal dalam mengerti dan memahami realitas yang tidak dapat dibatasi oleh otoritas lain (agama atau pun dogma).2
1Muthahhari, Murtadha, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Jakarta : Pustaka Zahra, 2003, hal. 303.
1. Filsafat Islam
Tradisi filsafat Islam telah mengalami perkembangan signifikan pada zaman keemasan peradaban Islam. Di masa itu, sains-sains kealaman merupakan bagian dari filsafat, yang diajarkan bersama dengan matematika dan teologi yang kesemuanya berada dalam kerangka metafisika yang tunggal. Para ilmuwan Muslim percaya bahwa hirarki pengetahuan berawal dari pengetahuan empiris dan berakhir pada pengetahuan yang diwahyukan. Lebih jauh mereka percaya akan adanya saling keterkaitan antar berbagai disiplin ilmu.3
Filsafat Islam pada akhirnya bisa dilihat sebagai gabungan antara pemikiran liberal dan agama. Ia bisa disebut sebagai liberal dalam hal pengandalannya pada kebenaran-kebenaran primer dan metode demonstrasional untuk membangun argumentasi-argumentasinya. Pada saat yang sama, pengaruh keyakinan atau quasi religius amat dominan, baik dalam penerimaan kesepakatan mengenai apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran primer tersebut, maupun dalam pemilihan premis-premis lanjut dalam silogisme mereka. Dalam filsafat Islam sedikitnya ada lima aliran, yang pertautan antara satu dan lainnya secara garis besar terwakilkan menjadi tiga konsep yang dikenal dengan nalar bayani, burhani dan irfani. Pertama Konsep Bayani yang disebut juga Teologi Dialektik (‘Ilm al-Kalam), kedua
Paripatetisme (Masysyā’iyyah), bersama dengan yang ketiga yakni aliran Illuminisme (Isyrāqiyyah) mewakili konsep Burhani keempat Sufisme/Teosofi (Tashawwuf) atau konsep Irfani, khususnya yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi, dan kelima Filsafat Hikmah (al-Hikmah al-Muta’aliyyah) yang merupakan integrasi ketiganya.4
3 Golshani, Mehdi, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains: Tafsir Islami atas Sains, Bandung: Mizan,
Cet. I/Jul 04, hal. 42
1. Teologi Dialektik (‘Ilm al-Kalam)
Teologi Islam bersifat dialektik, yang dilandaskan pada kebenaran keagamaan. Metode epistemologi yang digunakan oleh Teologi Dialektik hampir sama dengan metode Peripatetisme Aristotelian yang bersifat deduktif silogistik. Yakni prosedur untuk memperoleh kesimpulan (silogisme) dari mempersandingkan dua premis (pernyataan yang sudah disepakati terlebih dulu nilai kebenarannya). Dalam logika Aristotelian, premis-premis tersebut adalah premis mayor (umum) dan premis minor (khusus), seperti contoh berikut:
- Premis mayor: semua manusia pasti mati
- Premis minor : Aristo adalah manusia
- Kesimpulan : Aristo pasti mati
Proses silogistik Peripatetisme, didasarkan atau dimulai dari premis-premis yang telah disepakati sebagai kebenaran yang tidak perlu dipermasalahkan lagi (primary truth). Dari sini kemudian diperoleh kebenaran-kebenaran, yang pada gilirannya, akan menjadi premis-premis baru bagi silogistik selanjutnya. Demikian seterusnya. Sementara itu, Teologi Dialektik berangkat dari pemahaman baik dan buruk, ini yang menyebabkan Teologi Islam disebut sebagai bersifat dialektik, yang dilandaskan pada kebenaran keagamaan. Misalnya, sudah menjadi keniscayaan bahwa Tuhan harus Mahakuasa. Dari sini dilakukanlah proses silogistik yang membawa kepada suatu kesimpulan mengenai kemestian keesaan Tuhan.
2. Peripatetisme (Masysyā’iyyah )
Istilah di atas muncul dari kata Yunani peripatos, yang artinya berjalan mondar mandir, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi
sekali belum dikenal dalam filsafat Yunani, peripatetisme Islam memang dibangun atas dasar Aristotelianisme, yang bersifat diskursus-demonstrasional, namun banyak dipengaruhi oleh Neo-Platonisme (yang dikembangkan oleh Plotinus, namun disalahpahami sebagai karya Aristoteles oleh para filsuf Muslim, kecuali Ibn Rusyd yang ingin membersihkan Aristotelian dari Neo-Platonisme yang iluministik).
Ciri lain dari Aristotelianisme adalah hylomorfisme (hyle = materi,
morph = forma/bentuk) menurut prinsip ini, segala sesuatu berbentuk sebagai komposit (gabungan) antara materi dan forma. Forma adalah aktualisasi (entelechia, enteleki) dari materi. Jadi, pada dasarnya hylomorfisme sepenuhnya bersifat material. Jelas ini berbeda dengan forma ideal Platonik, yang sepenuhnya immaterial (berada di alam non material). Justru karena kesalahpahaman di atas yang membawa pengaruh sehingga filsafat Islam bersifat iluministik (spiritual dan religious) karena Islam memang memiliki afinitas kepada pemikiran yang demikian.
Emanasi sebagai bagian dari aliran ini merupakan basis bagi kosmologi. Emanasi menjelaskan bahwa awalnya adalah Tuhan, yang tunggal tak ada selain-Nya. Lalu terjadi emanasi (al-fuadhi) Illahi, yang darinya bermulalah proses penciptaan alam semesta. Alam semesta yang tercipta ini tersusun dalam hierarki-hierarki. Mulai dari Allah—Yang Tertinggi bahkan melampau batas apa pun—melewati wujud-wujud immaterial murni di bawahnya (dari akal satu sampai akal sepuluh), hingga wujud paling rendah dari bagian material di alam semesta.
3. Illuminisme (Isyrāqiyyah )
Dalam Kristiani teori ini mencapai puncaknya dalam karya St. Augustinus. Melalui Thomas Aquinas, teori ini telah menjadi “mode” di sejumlah pemikir abad ketiga belas. Sedang di sejarah filsafat Islam perkembangan ini menemukan bentuk khasnya dalam Isyrāqiyyah Suhrawardi. Metode yang digunakan oleh Iluminisme dan Sufisme atau Teosofi (Irfan), adalah metode intuisi atau eksperiensial (bahasa Inggris experience = pengalaman). Menurut Henry Corbin—pengkaji Suhrawardi—iluminisme Suhrawardi telah membuka jalan bagi suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya modern untuk memberi tempat bagi pengalaman religius atau mistis dalam dunia ilmiah.
Suhrawardi termasuk salah seorang filosof yang mempercayai adanya
perennial wisdom. Dalam arti, bahwa sebetulnya hikmah (wisdom) itu bersifat perenial dan ber-sumber pada Tuhan yang sama yang diturunkan melalui para utusan. Suhrawardi me-ngatakan bahwa prinsip filsafat
Isyrāqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat peng-alaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis-rasional. Sama seperti filsafat emanasi dalam peripatetisme yang mendahuluinya, dalam
Isyrāqiyyah wujud mempunyai hierarki-hierarki, dari yang teratas sampai terbawah. Jika dalam filsafat emanasi setiap tingkat diidentikkan dengan intelek, maka dalam Filsafat Isyrāqiyyah tingkatan-tingkatan tersebut diidentikan dengan nūr (cahaya).
4. Sufisme/Teosofi (Tashawwuf atau Irfan )
Yang membedakan filsafat Islam dengan filsafat modern salah satunya adalah adanya tingkatan-tingkatan keberadaan segala sesuatu—biasa disebut
konsisten dengan kaum filosof. Tingkat ini terbagi atas tiga kelompok,
pertama, yang mutlak bersifat ruhani disebut sebagai ‘alam al-amr (alam yang berada di bawah perintah/hukum-hukum Allah) yang bersifat immaterial. “Katakanlah, ruh itu berada di bawah amar/pengarahan Tuhan (QS al-Isra’ [7]:85); kedua, yang material disebut sebagai ‘alam syahadah
(alam kasat indra), sedang yang ketiga yang berada di antara keduanya disebut ‘alam barzah (alam khayal atau imaginal world), memiliki sebagian sifat dari alam ruhani dan alam jasmani (fenomenal). Tepatnya alam ini pada dasarnya sudah tidak lagi kasat indra (eksternal, pancaindra), tetapi masih memiliki bentuk dan jumlah. Sebagai ilustrasi, objek-objek di alam ini adalah pantulan atau refleksi cermin—meskipun, tidak seperti objek ini, yang di alam khayal tidak kasat indra, ada dalam bentuk bayangan atau pantulan, imajinasi atau khayal. Pantulan cermin tidak lagi bersifat fisis, namun masih memiliki bentuk, warna dan jumlah. Dari sudut pandang ini, alam kubur dan alam mimpi berada pada tingkatan alam khayal ini. (Bahkan ada pendapat bahwa sesungguhnya kenikmatan atau siksaan yang diterima manusia di alam kubur adalah seperti mimpi-mimpi indah atau mimpi buruk).
Alam ruhani mutlak (hadirat ilahi atau ketuhanan) masih dibagi lagi atas beberapa tingkatan. Yaitu Ghayb al-Ghuyub (yang paling gaib dari yang gaib), ahadiyyah (ketakberbilangan, keesaan mutlak), dan wāhidiyyah
(kesatuan). Dalam bahasa Arab, arti kata ahad adalah esa mutlak (satu-satunya) sedang wahid, juga bermakna satu namun yang mengimplikasikan kemungkinan adanya bilangan berikutnya yaitu dua, tiga dan selanjutnya. Tingkatan Ghayb al-Ghuyub adalah tingkatan tertinggi hadirat Ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia, disebut juga Dzāt al-Wujud.
Pembagian lain dari alam ruhani—sebagai alam tertinggi—yakni alam
jabarut, lalu dibawahnya alam malakut (yang kurang lebih sama dengan alam khayal), baru setelah itu alam malak atau nāsūt (alam fenomenal). Ada lagi yang menamai tingkatan-tingkatan wujud ini dengan Hāhūt (Wujud Mutlak Allah), Lāhūt (Wujud Allah yang termanifestasi di tingkatan keberbilangan), dan nāsūt (alam “manusia”).
Alam malak atau nāsūt kemudian dibagi lagi menjadi merupakan materi yang telah memiliki bentuk (shūrah, form atau forma). Manusia sebagai makhluk berakal (homo sapiens atau al-hayawān al-nāthiq),
memiliki berbagai tingkatan akal. Sehubungan dengan tingkatan-tingkatan wujud di atas, manusia dilengkapi dengan beragam daya (fakultas) untuk mempersepsi alam-alam tersebut. Yang terendah yaitu indra untuk mempersepsi alam material (fisis), lalu jiwa (nāfs)—dalam hal ini masih belum mencapai tingkatan stabil—untuk mempersepsi alam khayal, dan
fu’ād (hati dalam tingkat yang telah stabil)—kadang diidentikan dengan ruh, atau ’aql atau intelek (bukan sekadar rasio yang berada di tingkatan lebih rendah). Fu’ād dapat juga diidentikkan dengan nāfs pada tingkatan tertinggi, yakni al-nāfs al-muthma’innah (jiwa yang stabil, tenang).
5. Filsafat Hikmah (al-Hikmah al-Muta’aliyyah )
hanya sebagai bukti masih hidup dan dinamisnya filsafat Islam pasca Ibn Rusyd, tetapi juga menunjukkan bahwa—lebih dari peripatetisme dan Isyāqiyyah—Filsafat Hikmah barangkali lebih layak disebut sebagai filsafat Islam yang sesungguhnya.
Setiap paparan tentang Filsafat Hikmah tentu diawali dari kata kuncinya: wujud. Sedemikian sentralnya gagasan tentang wujud dalam filsafat ini sehingga sebagian orang tak segan-segan menyebut Hikmah sebagai semacam eksistensialisme Islam. Berbeda dengan benda “mati” yang gerak substansialnya bersifat “deterministik”, manusia, sebagai wujud yang mempunyai kehendak bebas dan potensi nyaris tak terbatas, selalu bergerak menaiki tangga eksistensial ini berdasarkan tingkatan spiritualnya. Ia dapat menaiki anak-tangga eksistensial jika keadaan mental-spiritualnya makin baik—dengan kata lain, makin menangkap atau mendekati kebenaran yang pada puncaknya adalah Sang Wujud Sejati yang melambari semua wujud itu, atau Sang Kebenaran (Al-Haqq, yakni Allah)— atau terpuruk ke anak-tangga yang lebih rendah, bahkan paling rendah jika keadaan mental-spiritualnya makin buruk.
Filsafat Hikmah adalah kebijaksanaan yang diperoleh melalui pencerahan spiritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk yang rasional dengan menggunakan argumen rasional. Bagi Mulla Shadra, wujud adalah realitas tunggal yang muncul dalam gradasi (tahap) yang berbeda. Contohnya seperti buah apel berubah dari hijau, kemudian kuning, lalu merah. Ukuran, rasa, berat juga selalu mengalami perubahan. Demikian jugalah semua benda material berubah. Gerak substansial ini juga disebut “al-harakah al-jawhariyyah”.
2. Filsafat Barat
saat yang sama sains-sains kealaman justru merasa memiliki alasan untuk berpisah dengan filsafat dan memilih untuk menempuh perjalanannya sendiri. Abad 19, menandai lahirnya positivisme dan aliran-aliran empirisisme lainnya dan mendominasi dunia akademis bahkan hingga sekarang.
Dengan kata lain Barat dengan tegas mengabaikan bahkan menentang pertimbangan agamis dalam penelitian ilmiah mereka. Namun harus diakui bahwa dalam beberapa dekade terakhir geliat akan kecenderungan untuk ‘rujuk’ kembali sudah semakin menampakan hasil meskipun masih lemah. Penentuan kembali ke sumber asal tentunya merupakan hasil penjelajahan atas kenyataan bahwa selain terjerumus ke jurang ‘sekular’, sains juga kehilangan kesempatan untuk memetik manfaat dari kekayaan filsafat. Ironisnya, kehilangan itu justru bermuara pada kesadaran akan adanya ‘ruh’ dari filsafat yang tidak lain adalah transedentalis dan religiusitas. Masyarakat Modern mengalami kehampaan spiritual, krisis makna, dan legitimasi hidup, serta kehilangan visi dan mengalamai keterasingan (alienasi) terhadap dirinya sendiri5.
Sekilas dari beberapa aliran filsafat Barat antara lain:
Idealisme, mengedepankan moral yang tinggi, agama dan etika. Plato
(427-347 SM) mengatakan bahwa realitas yang sejati dan kekal dan bersifat immateri ada di alam ide (rasio) sedangkan realitas di alam konkrit (empiri) justru hanya bayangan saja dan tidak kekal dan bersifat materi, contoh ide kesetigaan di alam rasio dan segitiga di alam konkrit yg tidak kekal (bisa rusak dan sebagainya). sedang Hegel (1770-1831)—yang merupakan kepanjangan tangan Plato dan Aristoteles mengedepankan Idealisme Absolutnya (rasio, ide & ruh). Makna absolutnya adalah anti dualisme dan pluralisme. Hegel melihat bagian terkecil sekalipun adalah merupakan bagian dari satu kesatuan yang utuh. subjek dan objek meleburkan diri dari Fenomena ke Numena melalui kesadaran. Begitu juga dengan perpisahan subjek dan objek hilang di ‘monis’ sehingga tidak ada perbedaan subjek dan objek lagi.
Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya ruhani atau intelegensi.
Humanisme, Abad ke 5-14, tujuan pendidikan untuk mencapai kebahagiaan hidup abadi dan mengatasi kebutuhan duniawi. Abad 15, masa kebangkitan kembali atau renaissance timbul pandangan humanisme yang didukung berbagai penemuan misalnya mesin cetak. Humanisme memiliki dua arah, pertama humanisme individu yang mengutamakan kemerdekaan berpikir, berpendapat. Kemampuan ini disalurkan melalui kesenian, musik, teknologi, penguasaan tentang kealaman. Kedua humanisme sosial mengutamakan pendidikan bagi masyarakat dan kesejahteraan sosial serta perbaikan hubungan antar manusia.
Rasionalisme, lebih mengedepankan rasio atau akal. Satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal). Tokohnya salah satunya adalah René Descartes (1596-1650) perintis aliran rasionalisme, yang dalam upaya mencari sumber kebenaran untuk bangunan keyakinan atau kepastiannya, dan menolak indera ia menarik kesimpulan dari keduanya dengan menggunakan metode keragu-raguannya (cogito ergo sum), yang melahirkan res cogitans, dan res extansa. Selain itu pemikirannya dikenal dengan ide-ide bawaan (innate idea). Subtansi menurutnya adalah gabungan jiwa dan materi (selain Allah yang kekal adalah jiwa dan materi).
Empirisme memiliki motto bahwa kenyataan yang tidak dibuktikan
mempunyai potensi. Locke menolak semua yang absolut karena semua subjektif. Ia memperkenalkan simple idea dan complex idea. Ide menurutnya adalah segala sesuatu yang kita pikirkan. Kritik atas pemikirannya ini berarti ia mengeneralisasi dan tidak membedakan antara proses pemikiran dan hasil pemikiran—ini pula yang melahirkan kritik bahwa ia paling anti Kristen— yakni dianggap menafikan Tuhan.
Kritisisme dengan tokohnya Immanuel kant (1724-1804) membuahkan
trilogi yang monumental yaitu “Critique of Pure Reason”, “Critique of Practical Reason” dan “Critique of Judgement”. Ia banyak bicara tentang epistemologi sehingga membuka jalan ke pengetahuan-pengetahuan yang lain. Kritik yang ia lontarkan kepada rasionalisme dan empirisme yang dinilainya sebagai dogmatis juga pada skeptisme yang tidak memiliki “dunia luar”, atau yang dengan kata lain “yang karena tidak punya kepastian maka mengejar kepastian itu”. Dapat dikatakan Kant ingin mensintesa mereka sekaligus menolaknya dan menawarkan pemikiranya yang tertuang dalam triloginya di atas.
Post Modernisme (Posmo), lahir sebagai kritik atas patologi Modernisme. Modernitas bagi Lyotard6 merupakan proyek intelektual dalam
sejarah dan kebudayaan Barat, yang mencari kesatuan di bawah bimbingan satu ide pokok yang terarah kepada kemajuan yang disebut dengan masa pencerahan pada abad ke-18. Menurut Immanuel Kant, inti masa itu adalah era manusia berani berpikir sendiri dan mengungkapkan serta mempertahankan pendapatnya dan dengan demikian meloloskan diri dari keadaan tidak bebas. Hingga abad ke 19 dan ke-20 dilihat sebagai emansipasi: membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, perbudakan yang meliputi berbagai bidang seperti pengetahuan, kesenian, ekonomi politik. Kesemuanya itu diusung melalui kisah-kisah besar atau “meta narasi” yang berfungsi mengarahkan serta menjiwai masyarakat tak ubahnya seperti mitos-mitos bagi masyarakat primitif. Bedanya tidak mencari legitimasi ke belakang
6.Bertens,K, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, cet.
—seperti penciptaan oleh para dewa pada masyarakat primitif—tetapi ke depan di mana ide harus diwujudkan. Ide ini memberi legitimasi karena bersifat universal, berlaku di mana-mana. Kisah-kisah besar tadi melegitimasi institusi-institusi serta praktek-praktek sosial dan politik, sistem hukum dan moral dan seluruh cara berfikir. Salah satu contohnya dapat kita saksikan bagaimana kapitalisme, yang dalam level horizontal melahirkan individualisme dan konsumerisme sedang dalam level vertikal industrialisme dan hasil ikutannya yakni post-industry.
DAFTAR PUSTAKA
Bagir, Haidar, Buku Saku Filsafat Islam, Bandung : Arasy Mizan, Cet. I/Maret 2005.
Bertens, K, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, cet. 3/Agustus 2001.
Golshani, Mehdi, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains : Tafsir Islami atas Sains, Bandung : Mizan, Cet. I/Jul 2004.
Hannex, Milton D. Peta Filsafat : Pendekatan Kronologis dan Sistematis, Bandung : Teraju Mizan, Cet I/September 2004.
Murtadha, Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Jakarta : Pustaka Zahra, Cet.I/Agustus 2003
Materi kuliah Kapita Selekta Sem. 4/Feb-Mei’11/UIN Bandung, Dosen Radea Yuli A. Hambali., M.Ag
Materi kuliah Sejarah Filsafat Barat Modern Sem. 6/Feb-Apr’09/ICAS Jakarta, Dosen Edwin Arifin MA