• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani, Islam dan Barat

N/A
N/A
Zaedan Mutaqin

Academic year: 2024

Membagikan " Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani, Islam dan Barat"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FILSAFAT ILMU

SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT YUNANI, ISLAM DAN BARAT

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu : Dr. Drs. H. M. Hadi Masruri, Lc., M.A., M.Ag.

Oleh :

Said Al Zaim (23010422004) Zaedan Mutaqin (23004220014)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHAIM MALANG

2024

(2)

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji teriring syukur terlimpah curah ke hadirat Allah ﷻ karena atas limpahan nikmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani, Islam dan Barat”

dengan tepat waktu. Semoga Allah Yang Maha Kaya mengaruniakan kita kesungguhan untuk memberikan yang terbaik dalam setiap ibadah kita. Selawat beserta salam semoga selalu terlimpahkan kepada Uswah Hasanah suri teladan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai bentuk pemenuhan tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu yang diampu oleh Dr. Drs. H. M. Hadi Masruri, Lc., M.A., M.Ag. Harapan penulis selain sebagai pemenuhan tugas, makalah ini juga dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya dalam memahami materi sejarah perkembangan filsafat.

Namun demikian, penulis menyadari dalam penulisan dan penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan senang hati penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Malang, 06 Maret 2024

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

2.1. Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani ... 3

2.2. Sejarah Perkembangan Filsafat Islam ... 8

2.2.1. Tokoh-tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya ... 10

2.3. Sejarah Filsafat Modern di Barat dan Perkembangannya ... 15

BAB III PENUTUP ... 17

DAFTAR PUSTAKA... 18

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Istilah “Filsafat” tentunya bukan lagi menjadi suatu yang asing kedengarannya. Hal ini karena filsafat sering digunakan dalam berbagai konteks bidang keilmuan, seperti filsafat ilmu, filsafat agama, filsafat pendidikan, filsafat Islam, bahkan sampai pada program studi dan fakultas di perguruan tinggi. Namun demikian, makna filsafat tidak diartikan sama dan masing-masing mempunyai asosiasi dan pendefinisian yang bermacam-macam.

Sejarah munculnya filsafat tidak terlepas dari bangsa Yunani kuno yang mulai memikirkan dasar penciptaan alam semesta. Kelahirannya diawali pada abad ke-6 SM yang ditandai dengan runtuhnya mite-mite dan dongeng-dongeng yang akhirnya menjadi pembenaran setiap gejala di alam semesta. Sehingga pada zaman ini dikenal dengan periode filsafat alam.

Selanjutnya filsafat terus berkembang, hingga melahirkan gagasan dan pemikiran filsuf-filsuf Islam dan Barat. Perkembangan filsafat Islam tidak terlepas dari sumbangsih tradisi filsafat Yunani. Namun demikian, yang membedakan filsafat Islam telah melahirkan gagasan-gagasan yang berasal dari tradisi filsafat Yunani.

Demikian juga dengan sejarah perkembangan filsafat Barat yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Era filsafat modern disebut sebagai masa perubahan terwujud. Pada masa ini para pemikir barat menemukan kesadaran akan dua hal, yaitu: kesadaran akan dunia dan diri mereka sendiri. Di antara aliran filsafat yang muncul di Barat antara lain;

Renaissance, Empirisme, Rasionalisme, Positivisme dan Pragmatisme.

(5)

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah perkembangan filsafat Yunani?

2. Bagaimana sejarah perkembangan filsafat Islam?

3. Bagaimana sejarah perkembangan filsafat Barat?

1.3. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada pembaca mengenai sejarah perkembangan filsafat Yunani, Islam dan Barat, mengetahui tokoh perkembangannya, serta dampaknya terhadap perkembangan peradaban manusia dan ilmu pengetahuan.

Makalah ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan dan referensi kepada pembaca mengenai bidang keilmuan serupa yang harapannya dapat memperkaya wawasan dalam mengkaji sejarah perkembangan filsafat Yunani, Islam dan Barat.

(6)

3 BAB II

PEMBAHASAN

Bagian pada bab ini akan membahas mengenai sejarah perkembangan filsafat Yunani, Islam dan Barat, serta tokoh dan pengaruhnya pada peradaban manusia dan ilmu pengetahuan.

2.1. Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani

Ciri umum filsafat Yunani adalah Rasionalisme. Orang-orang Yunani berpegang pada prinsip bahwa akal adalah sumber utama ilmu pengetahuan yang benar. Prinsip tersebut yang kemudian menjadikan akal menempati posisi paling tinggi sekaligus unggul dan bebas atau terlepas dari pengamatan inderawi yang hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diterima oleh akal.

Filsafat Yunani muncul sekitar abad ke VI SM di mana banyak filsuf yang mempertanyakan dan mempersoalkan tentang dari mana terjadinya alam, dan apa dasar utama atau asas alam ini. Konon orang Yunani bernama Thales yang hidup sekitar tahun 624-546 SM inilah yang pertama kali menggunakan akal untuk serius mencari jawaban atas pertanyaan; Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini?. Pemikir-pemikir ini yang kemudian dikenal dengan filsuf alam.

Pemikiran mereka yang rasional tidak percaya begitu saja tentang legenda, cerita nenek moyang, mitos atau sejenisnya. Karena kekritisan dan pemikiran tersebut, maka sejarah mencatat bahwa para filsafat Yunani merupakan tonggak pangkal munculnya filsafat (Waris, 2014: 17-18).

Munculnya para filsuf Yunani yang mengakui adanya kekuatan di luar kekuatan yang dimiliki manusia, yang menggerakkan segala sesuatu yang bergerak, alam ini ada pembuatnya dan pembuatnya bersifat azali, wajib ada zatnya dan mengetahui segala keadaan. Pemikiran para filsuf tersebut kemudian semakin berkembang dan akhirnya membagi perkembangan filsafat Yunani menjadi dua masa; 1) Filsafat Pra Socrates, dan 2) Filsafat Klasik.

(7)

2.1.1 Filsafat Pra Socrates

Pemikir pada masa pra socrates dikenal sebagai filsuf alam. Dikatakan demikian karena para pemikir ini fokus utamanya adalah mencari jawaban atas kejadian di alam semesta, mereka juga merupakan tonggak munculnya filsafat yang melahirkan pemikiran-pemikiran filsafat selanjutnya. Adapun tokoh pada masa ini di antaranya adalah :

1. Thales (625-546 SM)

Thales dikenal sebagai pemikir sekaligus ilmuan yang masyhur pada masanya. Bahkan bagi orang Yunani, Thales termasuk salah satu dari The Seven Wise Men (tujuh orang bijak). Tentang filsafatnya, tidak banyak yang dapat diketahui karena ia tidak meninggalkan tulisan- tulisan. Namun, menurut Aristoteles salah satu pemikiran Thales adalah mengenai arche (asas, prinsip, dasar pertama) dari alam semesta adalah air. Air merupakan asal dan tujuan dari segala sesuatu, anggapan ini berdasarkan kenyataan bahwa air terdapat pada semua makhluk hidup.

Air juga mempunyai banyak bentuk, jika air itu kasar maka ia menjadi tanah, dan jika menipis maka ia menjadi asap atau api atau udara.

2. Anaximander (610-574 SM)

Filsuf ini juga dikenal dengan nama Anaximandros, merupakan seorang yang berjasa dalam bidang astronomi dan geografi, karena dialah orang pertama yang membuat peta bumi. Selain itu, Anaximandros diyakini sebagai orang pertama yang menghasilkan karya tulis “saintifik” di dalam bentuk prosa dalam kesusastraan Yunani (Jeniarto, 2014: 135-144). Berbeda dengan Thales, menurutnya segala hal berasal dari substansi azali, namun substansi itu bukan air melainkan sesuatu yang tidak terbatas, abadi, tidak mengenal usia, dan ada dengan sendirinya. Asas atau dasar tersebut dikenal dengan “a perion”, yang merupakan realitas abstrak yang sulit ditemukan dan dijelaskan oleh nalar manusia, tidak ada padanan dan persamaannya dengan satu barang yang ada di dunia ini. Apeiron adalah yang asal, yang tidak terhingga, dan tidak terbatas pada lawannya.

(8)

5

3. Anaximenes (585-494 SM)

Dia merupakan murid dari Anaximander, sehingga memiliki pandangan dan pemikiran yang hampir sama dengan gurunya. Sejalan dengan pemikiran Anaximander, bahwa segala sesuatu dimulai dari yang tidak terbatas, dan tak terhingga. Namun, ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang tidak terhingga dan tidak terbatas itu adalah udara.

Menurutnya, udara yang membalut dunia ini menjadi sebab segala yang hidup. Pemikiran itu terpengaruh oleh ajaran Anaximander, bahwa

“jiwa itu serupa dengan udara”. Udara yang menjadi dasar hidup yang ada dimana-mana, bergerak ke mana pun, dan tidak ada suatu pun yang hidup tanpa udara.

4. Herakletos (540-480 SM)

Salah satu pendapatnya yang terkenal adalah “You can’t step twice into the same river; for the fresh water are ever flowing upon you

(Engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir). Pernyataan tersebut, memberi kesimpulan bahwa tidak ada satu pun yang ada dalam keadaan tetap, semua berubah, semua mengalir tak ada yang tetap. Filsafat Herakletos disebut filsafat

“menjadi”. Sesuatu yang “ada” menurutnya bukan realitas karena ada hanya “menjadi”. Pengetahuan yang benar ialah pengetahuan yang berubah-ubah. Segala sesuatu tersusun dari pertentangan-pertentangan, ada hidup ada mati, ada tua ada muda. Pandangan ini merupakan warna dasar filsafat sofisme, bahwa kebenaran itu relatif adanya (Fahriansyah, 2014: 24-29). Herakletos merupakan filsuf terbesar sebelum Socrates, yang meletakkan dasar-dasar filsafat Yunani, ia menekankan pada perubahan dari segala sesuatu.

5. Permenides (540-475 SM)

Filsafat Permenides merupakan kebalikan dari filsafat Herakletos yang berpendapat bahwa realitas itu gerak dan perubahan. Bagi Permenides realitas itu tetap, tidak berubah dan merupakan keseluruhan yang bersatu. Menurutnya, pengetahuan ialah kebenaran yang berdasar

(9)

pada keyakinan bahwa yang ada itu ada. Tidak mungkin yang ada itu tidak ada dan yang tidak ada itu ada. Standar kebenaran dan ukuran realitas adalah logika, dan standar kebenaran ini menunjukkan bahwa akal manusia merupakan ukuran kebenaran. Manusialah penentu kebenaran. Pemikiran oleh Permenides dapat dikatakan yang kemudian yang melahirkan cabang ilmu filsafat tentang konsep ada yang disebut dengan metafisika.

6. Sofisme (375 SM)

Berasal dari kata sofis yang berarti pandai, cerdik. Selanjutnya, dalam perkembangannya diartikan sebagai bersilat lidah (Waris, 2014:

25-27). Mereka ingin dianggap populer dengan ide-idenya tanpa memperlihatkan sesuatu yang orisinil, orang-orang yang kurang terpelajar, orang yang menjual kebijakan untuk memperoleh materi.

Menurut pemikiran filsafatnya, manusia adalah ukuran segala sesuatu.

Jadi, kebenaran umum itu tidak ada, yang ada kebenaran relatif.

Kebenaran hanya berlaku sementara, sehingga ajaran sofisme tergolong ajaran relativisme. Adapun contoh tokoh pengikut sofisme adalah Hippias dan Gorgias.

7. Zeno (490-430 SM)

Aristoteles mengatakan bahwa Zeno yang menemukan dialektika, yaitu suatu argumentasi yang bertitik tolak dari suatu pengandaian atau hipotesa kemudian ditarik kesimpulan. Beberapa argumentasi Zeno lahir dari gurunya, Permenides. Salah satu di antaranya adalah bukti bahwa pluralitas itu tidak ada. Seandainya pluralitas itu ada, tentunya sepotong garis dapat dibagi yang masing-masing bagian mempunyai titik pangkal dan ujung. Kalau pembagian diteruskan terus-menerus tentu tidak mungkin.

2.1.2 Filsafat Klasik

Masa ini disebut filsafat klasik karena filsafat yang dibangunnya mampu menguasai sistem pengetahuan alam pikiran Barat sampai kira-kira dua ribu

(10)

7

tahun. Adapun filsuf yang dimaksud adalah masa Socrates seperti Plato dan Arisstoteles.

1. Socrates (469-399 SM)

Pemikiran yang menonjol dari filsafat yang dikemukakan Socrates terletak pada usahanya untuk memberikan pemikiran baru, yang mula- mula filsafat itu bersifat abstrak dan spekulatif menjadi kongkret dengan pemikiran tentang etika, ke pemikiran kehidupan manusia. Filsafatnya ditujukan untuk membentuk moral yang baik bagi setiap individu.

Mementingkan etika untuk mendapatkan kebajikan. Menurutnya, keutamaan adalah pengetahuan. Pemikirannya yang cukup terkenal adalah bahwa “Yang saya ketahui dengan pasti adalah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”. Corak filsafat Socrates bersifat antroposentris.

Pemikiran ini menekankan teori etika lingkungan hidup yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta (Yuono, 2019: 187-89).

2. Plato (427-347 SM)

Nama aslinya adalah Aristocles, pada masanya ia berusaha mengadakan penyelesaian antara filsafat Herakletos dan Permenides yaitu yang berubah dan yang tetap, yang bergerak. Menurutnya yang bergerak itu adalah dunia pengalaman, sedangkan yang tetap adalah dunia idea. Dunia yang realistis dan sebenarnya adalah dunia idea, sedangkan dunia yang tampak ini adalah bayangan. Ajarannya tersebut dikenal dengan dualistis, dengan prinsip membagi dunia menjadi dua yaitu dunia idea, tetap dan dunia ini, berubah, tidak sempurna dan dapat dilihat oleh indra. Sementara, tentang negara Plato membagi penduduknya menjadi tiga golongan; 1) golongan teratas, 2) golongan menengah, dan 3) golongan terbawah. Menurutnya, agar negara aman, tenteram dan makmur maka pembagian tugas dan wewenang harus sesuai dengan pembagian golongan masing-masing.

3. Aristoteles (384-322 SM)

(11)

Aristoteles pada mulanya mengikuti filsafat Plato, namun kemudian ia berbeda pada beberapa pandangan. Baginya, Tuhan adalah causa (sebab) dari gerak universum, gerak pertama, bukan pencipta universum. Aristoteles diakui sebagai pelopor logika. Tujuan hidup menurut Aristoteles adalah eudamonia (kebahagiaan), dan manusia menurut kodratnya adalah zoon-politikon (makhluk yang berpolitik).

Menurutnya ada empat sebab yang harus diselidiki oleh ilmu pengetahuan yaitu causa efisien, causa finalis (tujuan), causa materi (bahan), dan causa formal (bentuk). Aristoteles mengatakan bahwa gerak adalah peralihan dari potensi ke gerak. Sejalan dengan pemikiran tersebut, ia kemudian membedakan materi (hyle) dan bentuk (morphe).

Benda terdiri atas materi dan bentuk yang tak terpisahkan, teori ini dikenal dengan Hylemorphisme. Sebagai analogi, manusia memiliki materi berupa tulang, organ, dan jaringan penyusunnya, tetapi bentuk manusia adalah makhluk hidup yang utuh dan berfungsi.

2.2. Sejarah Perkembangan Filsafat Islam

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi dan mencintai ilmu pengetahuan. Sebagaimana di dalam Al-Quran disebutkan pada ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca. Hal ini menjadi semangat bagi para ilmuwan- ilmuwan muslim dalam mengembangkan pengetahuan dalam berbagai bidang keilmuan di antaranya adalah filsafat hingga mencapai puncaknya pada pemerintahan Islam di Baghdad yang disebut sebagai The Golden Ages of Islam (Sunoto, 2023).

Dalam Islam, Al-Quran menjadi patokan yang menghantarkan umat Islam dalam memahami dan mengembangkan keilmuan, dalam keilmuan filsafat sendiri Al-Quran telah dijadikan sebagai pedoman dalam mengkaji ilmu tersebut, menurut(Sunoto, 2023) umat muslim yang telah mengkaji kandungan Al-Quran telah memiliki dasar pemikiran dalam filsafat itu sendiri karena di dalam Al-Quran telah banyak ayat yang secara jelas

(12)

9

mengajak manusia untuk terus merenung, berpikir dan mencari tahu kebenaran lewat tanda-tanda yang diberikan oleh Allah SWT. terdapat beberapa ayat di dalam Al-Quran yang menjelaskan terkait aspek-aspek filosofis di antaranya surah An-Nazia’at ayat 27-33 kemudian surah Hud ayat 5 dan surah Al-Anbiya’ ayat 23-25. Ayat-ayat tersebut mengandung makna nilai-nilai filsafat makro dan mikrokosmos terkait penciptaan alam semesta, alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan dan merupakan karya Allah SWT yang satu dan tidak ada yang setara dengannya (Djuwairiyah &

Maimunah, 2021).

Filsafat dalam Islam telah mulai dipelajari sejak masa pemerintahan khalifah Abdul Malik dari dinasti Umayyah, pada saat itu khalifah telah menugaskan kepada para ilmuwan Islam untuk mulai menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani. Puncaknya adalah berdirinya Baitul Hikmah di Baghdad pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah. Khalifah Al Makmum telah menugaskan banyak sekali penerjemah dari seluruh dunia untuk mengembangkan hal baru dalam bidang keilmuan, akan tetapi pada waktu itu aliran filsafat Yunani yang diterjemahkan banyak didasarkan pada kepada tokoh-tokoh yang terkenal seperti Plato, Aristoteles, dan Neo (ASTUTI et al., 2022).

Tidak dipungkiri bahwa penerjemahan karya-karya filsafat Yunani kemudian memiliki pengaruh yang besar terhadap filsafat Islam, akan tetapi yang perlu digaris bawahi bahwa filsafat dalam Islam tidaklah berdasarkan filsafat Yunani seperti yang ditudingkan oleh beberapa kalangan.

Pernyataan dari Sholeh A. Khudori mengatakan bahwa setiap sesuatu yang dipelajari tidak serta merta dapat disamakan dan dikatakan mengikuti seutuhnya, oleh karena itu setiap gagasan yang tersampaikan dengan berbagai macam cara sesuai dengan fenomena yang terjadi.(Soleh, 2014) Setiap orang berhak mempelajari pandangan-pandangan dari orang-orang sebelumnya, akan tetapi hal tersebut tidak menjadi halangan yang menghambatnya menciptakan teori dan cara berpikirnya.

(13)

Masifnya proses penerjemahan karya-karya filsafat yang dilakukan bukan berarti tidak memiliki halangan pada prosesnya. Kalangan ilmuwan Islam terbagi menjadi dua, menolak dan mendukung. Kalangan yang menolak khususnya Ahlul Fiqhi berpandangan bahwa kehadiran filsafat dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya rasa hormat akan ajaran agama yang telah ditanamkan, kedua karena lahirnya filsafat Islam berawal dari penerjemahan filsafat Yunani maka kalangan yang menolak merasa bahwa hal ini adalah hal baru dalam disiplin keilmuan Islam dan penerjemahnya dikhawatirkan memiliki pemahaman yang tidak sesuai dengan ajaran keislaman. Sedangkan kalangan yang mendukung memiliki pandangan bahwa filsafat lahir sebagai alat bagi umat Islam untuk mempermudah dalam memahami Al-Quran (Soleh, 2014).

Pemikiran filsafat Islam diawali oleh Al-Kindi (801-865) kemudian dilanjutkan oleh Al-Razi (865-925), pada masa tersebut filsafat Islam berkembang dengan cepat berkat kedua tokoh filsafat Islam tersebut, selain itu dukungan dari khalifah dinasti Abbasiyah (ASTUTI et al., 2022).

Timbulnya kalangan yang menentang dan menolak filsafat Islam pada zaman selanjutnya menyebabkan kemunduran terhadap kajian filsafat Islam, sentimen negatif yang terus dilekatkan pada ilmu filsafat Islam terutama oleh kalangan salaf pada waktu itu. Kemunculan Al-Farabi sekan membawa angin segar terhadap perkembangan ilmu filsafat Islam dengan meletakkan fondasi bagi pemikiran-pemikiran selanjutnya hingga saat ini masih digunakan oleh kalangan filsuf barat dan Eropa.

2.2.1. Tokoh-tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya

Filsafat Islam melahirkan banyak tokoh-tokoh yang ahli dalam ilmu filsafat, para tokoh tersebut menjadi jembatan yang menjelaskan filsafat dan kaitannya dengan Islam. Tokoh-tokoh filsafat Islam tersebut di antaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali. Masing-masing tokoh filsafat tersebut memiliki kekhasan terkait pemikirannya dalam filsafat Islam. Berikut adalah ulasan dari pemikiran masing-masing tokoh:

(14)

11

1. Al-Kindi

Al-Kindi merupakan salah satu tokoh ilmu filsafat Islam pada masa awal lahirnya ilmu filsafat Islam, beliau lahir di saat kemajuan ilmu pengetahuan Islam sedang dalam masa-masa yang gemilang. Pada masa ini khalifah dinasti Abbasiyah sangat terkenal memperhatikan dan mendorong perkembangan ilmu bagi kaum muslim, hal itu ditegaskan dengan berdirinya semacam lembaga keilmuan besar dengan fasilitas seperti perpustakaan dan ruang-ruang belajar, tempat tersebut dinamakan Khizanah Al-Hikmah yang selanjutnya dimasa khalifah Al-Makmun dinamakan sebagai Bait Al-Hikmah (Waris, 2014).

Menurut Al-Kindi, filsafat adalah pengetahuan yang benar dan agama menerangkan tentang apa yang benar, keduanya bertujuan untuk saling menguatkan. Al-Kindi juga banyak memperbaiki kesalahan-kesalahan penerjemahan dari karya-karya filsafat Yunani sebelumnya dengan lebih sederhana.(Madani, 2015) Di antara yang menjadi pokok-pokok pemikiran Al-Kindi adalah:

a. Tentang filsafat. Tujuan filsafat menurut Al-Kindi adalah menerangkan apa yang benar dan baik (Waris, 2014). Dalam teori tujuan filsafat adalah mengetahui kebenaran, dan dalam praktiknya adalah mengamalkan kebenaran serta kebajikan (Madani, 2015). Filosof yang sempurna harus mengetahui filsafat yang paling pertama yaitu (Tuhan) yang merupakan sebab segala kebenaran dan realitas. Agama menerangkan wahyu dengan akal, dan filsafat menerangkan kebenaran dengan akal, sehingga wahyu tidak bertentangan dengan akal bahkan argumentasi wahyu lebih kuat dari filsafat (Umar & Santalia, 2022).

b. Tentang Metafisika. Al-Kindi menyatakan bahwa semua yang ada di alam diciptakan oleh Allah SWT, dan kehendak Allah berada di atas kehendak alam. Alam tidak bersifat kekal dan alam memiliki permulaan (Waris, 2014). Seluas apa pun alam semesta ukurannya tetap terbatas dan setiap yang memiliki keterbatasan juga memiliki awal dan akhir

(15)

sehingga sifat ini semakin jelas menggambarkan kebesaran Tuhan.

Pengetahuan ilahi yang diperoleh dari nabi-nabi didasarkan pada keyakinan sedangkan pengetahuan manusia dan falsafah didasarkan pada pemikiran rasional (Madani, 2015).

c. Tentang etika. Menurut Al-Kindi filsafat adalah upaya meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh usaha yang dapat dilakukan oleh manusia. Keutamaan manusia yang sangat luas tidak boleh terbatasi oleh hawa nafsu, kenikmatan lahiriyah yang terlalu diburu adalah keburukan dan justru dapat mematikan akal (Umar & Santalia, 2022).

d. Tentang jiwa. Menurut Al-Kindi, ruh adalah bagian dari Tuhan, Al- Kindi tidak menganggap bahwa badan dan jiwa merupakan kesatuan yang sama, sebab ketika jiwa telah berpisah dengan tubuh maka hakikatnya jiwa kembali kepada tempat asalnya. Jiwa tidak akan rusak dan hancur seperti rusak dan hancurnya badan, jiwa tidak terbatas pada kefanaan sebaliknya badan sangat terbatas (Madani, 2015).

2. Al-Farabi

Al-Farabi hidup pada tahun (870-950 M) nama aslinya adalah Abu Nasher Muhammad ibnu Muhammad ibn Anzalaq ibn Turchan Al-Farabi, sepertinya umumnya nama arab kata Al-Farabi dinisbahkan pada tempat kelahirannya. Al-Farabi adalah tokoh filsuf Islam yang meletakkan dasar- dasar filsafat Islam secara lebih tertata dan sistematis. Tokoh-tokoh filsuf setelahnya memberikan gelar Al-Muallim At-Tsani karena ia dianggap telah berjasa mengembangkan ilmu logika yang dasarnya telah digagas oleh Aristoteles (Wiyono, 2016).

Di antara yang menjadi ciri pemikiran Al-Farabi dalam filsafat adalah:

a. Tentang metafisika. Al-Farabi mengemukakan bahwa adanya keseluruhan alam semesta diawali dengan wujud tunggal yang harus ada yaitu Tuhan, Alfarabi menegaskan bahwa keteraturan yang dimulai dari hal terkecil hingga terbesar menandakan bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan melainkan terdapat campur tangan yang maha wujud

(16)

13

(Wiyono, 2016). Pembahasan tentang ketuhanan oleh Al-Farabi dibagi menjadi tiga (Waris, 2014) yaitu:

1) Pembahasan terkait wujud dan hal yang berkaitan dengan Tuhan sebagai wujud.

2) Pembahasan prinsip-prinsip ilmu teori yang berdiri sendiri, seperti logika dan matematika.

3) Membahas wujud yang tidak berupa benda atau berada dalam benda tersebut kemudian didalami dengan membuktikan dengan pengalaman bahwa wujud itu ada.

b. Tentang konsep negara

Dalam karya yang berjudul Ara’ al-Madinah al-fadhilah, Al-Farabi menuliskan banyak hal terkait pandangannya tentang sebuah negara yang ideal. Al-Farabi menuliskan bahwa kecenderungan manusia adalah hidup bersosial dengan tujuan mencapai kebahagiaan bersama yang selanjutnya dalam perkembangannya menjadi sebuah negara (Wiyono, 2016). Dalam pandangannya Al-farabi mengumpamakan sebuah negara sebagai sebuah tubuh yang sehat dan anggota tubuh yang sempurna, setiap anggota tubuh saling membantu dan bergerak bersama.

3. Ibnu Sina

Ibnu Sina (980 – 1037 M) merupakan salah satu tokoh ilmuwan muslim yang terkenal dengan keluasan disiplin ilmu yang dikuasainya. Ibnu Sina tidak hanya menjadi ahli dalam filsafat tapi juga ahli dalam matematika, psikolog, logika hingga yang termasyhur adalah ilmu kedokteran. Dalam filsafat Ibnu Sina menulis kitab yang dinamakan Asy-Syifa’ , di dalam karyanya itu terdapat pembahasan tentang logika, ilmu alam, ilmu pasti, dan ilmu ketuhanan (Waris, 2014).

Pandangan Ibnu Sina dalam filsafat dituangkan pula dalam pemikirannya yang disebut Al-Fayd, Al-Nafs Al-Nubuwwah, dan Al-Wujud (Ruslan et al., 2022). Al-Fayd merupakan teori penciptaan alam semesta oleh yang maha esa. Teori ini pertama kali digagas oleh Al-Farabi yang kemudian dikembangkan oleh Ibnu Sina. Ibnu Sina berusaha memadukan

(17)

wahyu dan filsafat terkait aspek makna dan fungsi. Menurutnya setiap kewajiban dalam agama seperti shalat, puasa dan zakat memiliki makna- makna tertentu yang membantu proses terhubungnya manusia dengan Tuhan dengan jalan kasih sayang. Artinya ketika setiap kewajiban dan larangan itu dipahami secara filosofis maka berarti tidak ada pertentangan dari keduanya (Soleh, 2014).

Ibnu Sina juga menjelaskan bahwa konsep kenabian adalah ketika seluruh potensi kemanusiaan dapat dimaksimalkan dalam diri seorang manusia. Ibnu Sina berpendapat bahwa syarat kenabian terletak pada 3 hal, yaitu: kecerdasan intelek, kesempurnaan imajinasi, dan kemampuan menundukkan hal-hal diluar diri (Soleh, 2014). Ibnu Sina menambahkan bahwa seluruh pengetahuan dasarnya adalah abstraksi untuk memahami bentuk yang ingin diketahui, pengetahuan yang benar didapatkan melalui akal sebagai sarana dalam mencapai kebenaran (Badruzaman, 2019).

4. Al-Ghazali

Al-Ghazali merupakan tokoh ilmuwan Islam yang namanya sangat terkenal hingga saat ini, beliau dilahirkan pada tahun (1058 - 1111 M).

Beliau memiliki banyak karya-karya berupa tulisan yang masih bisa kita dapatkan hingga saat ini. Al-Ghazali dianggap sebagai salah satu tokoh filsafat yang biasa mengkritik pemikiran tokoh filsafat lainnya terutama pemikiran filsafat Yunani dan Islam yang dirasa tidak sesuai dengan ajaran Islam, pandangan-pandangannya tersebut dituliskan dalam kitab yang berjudul Tahafut al-Falasifah dan Maqosidul Falasifa .(Waris, 2014).

Dalam kitab Maqosidul Falasifah, Al-Ghazali memperingati para pemikir muslim lainnya bahwa menolak sebuah pendapat sebelum memahami dan mengkajinya secara mendalam berarti menyebarkan kebodohan dan kesesatan (Jamhari, 2015).

Menurut Al-Ghazali, manusia memiliki tiga alat untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu: panca indera, akal, dan kalbu. Selanjutnya dijelaskan bahwa panca indera yang ada mendapatkan pengetahuan inderawi yang

(18)

15

menurutnya kurang meyakinkan, oleh karena itu akal berfungsi sebagai pengolah rangsangan inderawi, akan tetapi yang paling utama menurutnya adalah kalbu, kalbu menjadi alat untuk mendapatkan pengetahuan yang hakiki yang disebut sebagai ilmu laduni (Badruzaman, 2019).

2.3. Sejarah Filsafat Modern di Barat dan Perkembangannya

Filsafat pada zaman modern merupakan hal sangat ditunggu-tunggu oleh banyak pemikir yang mendalami filsafat, hal ini dikaitkan dengan kebebasan yang ada di zaman modern tidak dibatasi oleh apa pun, sehingga mereka mengharapkan lahirnya filsafat di zaman modern dapat lebih memudahkan para pemikir dalam menuangkan pikirannya (Waris, 2014).

Era filsafat modern disebut sebagai masa perubahan terwujud. Pada masa ini para pemikir barat menemukan kesadaran akan dua hal, yaitu: kesadaran akan dunia dan diri mereka sendiri (Humanisme, 2014).

Berikut ini akan dibahas beberapa aliran filsafat yang lahir dan berkembang di barat pada zaman modern:

1. Renaissance, istilah “Renaissance” diambil dari kata berbahasa Prancis yang artinya adalah kebangkitan kembali. Periode ini oleh sejarawan disebutkan sebagai periode kebangkitan intelektual khususnya di Eropa.

Periode Renaissance disebut juga sebagai masa pembaharuan, melemahnya kekuatan politik dan keagamaan melahirkan kebebasan baru dalam pengetahuan dan pemikiran. Selain itu semangat individualisme juga berkembang sehingga pada zaman ini orang-orang mulai menunjukkan kepercayaan dalam menguasai alam sekitarnya (Hamdi et al., 2021). Salah satu tokoh filsafat pada zaman ini adalah Rene Descartes (1596 – 1650 M) yang terkenal dengan pernyataannya “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir, maka aku ada) memberikan fondasi baru bagi filsafat modern sehingga dia disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern. Ciri-ciri filsafat dari aliran Rennaisance adalah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, dan humanisme yang lepas dari pengaruh agama.

(19)

2. Empirisme, adalah aliran filsafat yang menekankan bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman, sehingga pengalaman indera adalah pengenalan yang jelas dan sempurna. Salah satu tokoh empirisme, David Hume (1711 – 1776 M) berpendapat bahwa pengalaman sebagai sumber pengetahuan karena dapat bersifat eksternal berupa interaksi dengan dunia luar namun juga bersifat internal yaitu interaksi dari dalam diri manusia itu sendiri (Kartini et al., 2023).

3. Rasionalisme, adalah aliran filsafat yang berseberangan dengan aliran Empirisme. Aliran filsafat rasionalisme berpandangan bahwa akal adalah alat terpenting dalam mendapatkan pengetahuan dan mengujinya (Waris, 2014). Filsafat rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan berpikir untuk mendapatkan kaidah-kaidah logis sehingga akal mutlak menjadi penentu dari ide-ide yang dibangun.

4. Positivisme, pemahaman filsafat ini didasarkan pada fakta yang memperkuat dari pemahaman yang ada. August Comte (1798 – 1857 M) berpendapat bahwa indera memang penting dalam mengumpulkan pengetahuan, tetapi pengetahuan tersebut harus diperkuat dan diperjelas dengan alat bantu serta percobaan pembuktian lainnya. Sehingga diharapkan hasil percobaan tersebut akan memperkecil kekeliruan yang diperoleh dari hanya sekedar mengandalkan panca indera. Tapi dengan begitu aliran ini menolak metafisika karena tidak tampak dan terukur (Kartini et al., 2023).

5. Pragmatisme, secara umum pragmatisme berarti membatasi hanya pada ide- ide yang benar dan berguna saja yang dapat dipraktikkan. Sederhananya aliran pragmatisme beranggapan bahwa kriteria kebenaran suatu ide ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan pada kehidupan nyata sehingga tidak ada kebenaran yang mutlak tetapi relatif. Jika suatu ide tidak bermanfaat bagi suatu masyarakat akan tetapi bisa jadi bermanfaat bagi masyarakat yang lain maka konsep kebenaran pragmatisnya hanya berlaku pada masyarakat yang kedua (Hamdi et al., 2021).

(20)

17 BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Konon, sebelum masa Socrates, ada sekelompok orang Yunani kuno yang mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang berilmu (Shopia), namun keilmuan yang mereka miliki tak mereka manfaatkan di jalur yang benar. Mereka memanfaatkan ilmunya untuk mengelabui orang-orang sekitar atau lebih tepatnya untuk menyesatkan pikiran mereka saat berargumen, sehingga makna asli dari ilmu yang sesungguhnya kabur akibat ulahnya. Dalam ilmu filsafat atau logika, hal itu memiliki istilah ‘kesesatan dalam berpikir’ (fallacy).

Sejarah filsafat Yunani kemudian terbagi menjadi dua, yakni masa Pra- Socrates yang melahirkan tokoh filsuf seperti Thales (625-546 SM), Anaximander (610-574 SM), Anaximenes (585-494 SM), Herekletos (540-480 SM), Permenides (540-475 SM), Sofisme (375 SM), dan Zeno (490-430 SM). Selanjutnya lahir masa Filsafat Klasik yang mampu membangun dan menguasai sistem dan pengetahuan alam. Adapun filsuf yang dimaksud adalah masa Socrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM).

Sejalan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, filsafat kemudian berkembang di negara-negara dan pemerintahan Islam. Pemikiran filsafat Islam diawali oleh Al-Kindi (801-865) kemudian dilanjutkan oleh Al-Razi (865- 925), pada masa tersebut filsafat Islam berkembang dengan cepat berkat kedua tokoh filsafat Islam tersebut, selain itu dukungan dari khalifah dinasti Abbasiyah.

Sementara itu di Barat, era filsafat modern disebut sebagai masa perubahan terwujud. Pada masa ini para pemikir barat menemukan kesadaran akan dua hal, yaitu: kesadaran akan dunia dan diri mereka sendiri. Di antara aliran filsafat yang muncul di Barat antara lain; Renaissance, Empirisme, Rasionalisme, Positivisme dan Pragmatisme.

(21)

18

DAFTAR PUSTAKA

ASTUTI, A., GEMPITA, B. C., & ... (2022). Sejarah Perkembangan Filsafat Islam (Mulai Penerjemahan Filsafat Yunani Sampai Kemunduran). Raudhah Proud To Be …, x(Query date: 2023-03-17 10:35:12), 268–276.

Badruzaman, D. (2019). Perkembangan Paradigma Epistemologi dalam Filsafat

Islam. Idea : Jurnal Humaniora, 52–64.

https://doi.org/10.29313/idea.v0i0.4263

Djuwairiyah, D., & Maimunah, N. (2021). Peran Penting Pendidikan Dalam Transmisi Filsafat Yunani Ke Dunia Islam. Edupedia : Jurnal Studi Pendidikan Dan Pedagogi Islam, 6(1), 31–38.

https://doi.org/10.35316/edupedia.v6i1.1359

Fahriansyah. (2014). Antisofisme Socrates. Al ’Ulum, 61(3), 24–29.

Hamdi, S., Muslimah, M., Musthofa, K., & Sardimi, S. (2021). Mengelaborasi Sejarah Filsafat Barat dan Sumbangsih Pemikiran Para Tokohnya. Jurnal Pemikiran Islam, 2(1), 151. https://doi.org/10.22373/jpi.v2i1.11378

Humanisme, I. R. (2014). Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern. Jurnal Ushuluddin, 22, 133–144.

Jamhari. (2015). Al-Ghazali dan Oposisinya Terhadap FIlsafat. Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, Dan Fenomena Agama, 16(1), 108–

119.

Jeniarto, J. (2014). Gagasan Evolusi Makhluk Hidup: Sebuah Tinjauan Ringkas Dan Refleksi. Jurnal Universitas Gajah Mada, 2, 135–147.

https://1drv.ms/b/s!AlhUaMExFmUe31pvkFGDWPXbhdOy?e=m1WKhq Kartini, Zahra, S., Permana, R. S., Sajida, I., Al-Qadri, M. S., Arsyad, R. Q.,

Qhintara, A. F., Mardiah, A., Dalimunthe, N. I., & Apsyara, T. (2023). Filsafat Barat dan Timur, Sejarah Filsafat dan Retorika Serta Teori Kebenaran. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3), 30020–300026.

(22)

19

Madani, A. (2015). PEMIKIRAN FILSAFAT AL-KINDI Abubakar Madani 1.

Pemikiran Filsafat Al-Kindi, IXX(2), 106–117.

Ruslan, A., Bandarsyah, D., Sejarah, P., Muhammadiyah ProfDrHamka, U., &

Artikel, R. (2022). Pengembangan Pikiran Modern Islam Dalam Pemikiran Ibnu Sina. Historis : Jurnal Kajian, Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Sejarah, 7(2), 40–44.

Soleh, A. K. (2014). Mencermati Sejarah Perkembangan Filsafat Islam. Tsaqafah, 10(1), 63. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v10i1.64

Sunoto, M. (2023). Pemikiran Filsafat Islam. Sejarah Pemikiran Modern, 7, 58.

Umar, U., & Santalia, I. (2022). Pemikiran Al-Kindi: Dalam Sebuah Kajian Filsafat. Innovative: Journal Of Social Science Research, 2(1), 760–764.

https://doi.org/10.31004/innovative.v2i1.4881

Waris. (2014). Pengatar Filsafat. In A. C. Rofiq (Ed.), Stain Press Ponorogo (1st ed., Issue Yogyakarta). STAIN PRESS PONOROGO.

Wiyono, M. (2016). Pemikiran Filsafat Al-Farabi. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 18(1), 67–80.

Yuono, Y. R. (2019). Melawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui Interpretasi Teologi Penciptaan Sebagai Landasan Bagi Pengelolaan- Pelestarian Lingkungan. Jurnal Fidei, 2(1), 184–203.

https://doi.org/10.1017/S1740355316000279

Referensi

Dokumen terkait

Memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang Sejarah Perkembangan dan Pemikiran Filsafat, baik filsafat Yunani Kuno, Filsafat Islam dan Filsafat Barat;

Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600 SM – 400 SM), para pemikir pada masa itu sudah mulai mempermasalahkan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran filsafat dalam Islam telah terpengaruh oleh filsafat Yunani, para filosof Muslim mengambil sebagian besar pandangannya dari

adalah tentang sejarah perkembangan filsafat Islam di Andalusia pada abad ke-11.. hingga

perkembangan filsafat ilmu pengetahuan menjadi empat periode: pada zaman Yunani.. kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans dan modern, dan pada

Melalui Bait Al-Hikmah yang diselenggarakan khalifah Al-Makmun, maka banyak dari buku-buku filsafat Yunani yang diterjemahkan kedalam literasi Arab. Pelajar-pelajar Muslim mulai belajar dan mengkaji filsafat tersebut dengan mudah. Dalam perkembangannya, filsafat Yunani telah mempengaruhi filsafat Islam pada setiap sisi, termasuk faham tentang

Makalah ini membahas tentang filsafat pendidikan

Makalah ini membahas mengenai filsafat pendidikan Islam dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan