• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat dalam Islam dan Para Filosof Muslim

N/A
N/A
Akmal Anshori

Academic year: 2023

Membagikan "Filsafat dalam Islam dan Para Filosof Muslim"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT DALAM ISLAM DAN PARA FILOSOF MUSLIM

DisusununtukmemenuhitugasmatakuliahSeminarPeradaban

Dosen pengampu : Drs. H. M. Ridwan, M.Ag

Disusun oleh : Achmad Chaidar Ali Rasyid (03040220073) Zumrotun Nafisah

(03020220072)

PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UINVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2023

1

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami mampu menyelesaikan makalah yang berjudul

"Latar Belakang Munculnya Filsafat dalam Islam dan Para Filosof Muslim" dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Seminar Peradaban yang dibimbing oleh Bapak Drs. H. M. Ridwan, M.Ag.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi agung tauladan kita yaitu Nabi Muhammad SAW, karena beliau dan orang-orang yang membantu dakwahnya sehingga kita dapat merasakan nikmatnya iman dan islam.

Sebagai penyusun, tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu terutama kepada orang tua yang sudah memberikan do’a dan restunya

hingga terselesaikannya makalah ini. Kami sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun begitu kami harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan selanjutnya.

Akhir kata, kami berharap makalah ini mampu bermanfaat bagi penyusun khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Surabaya, 29 Mei 2023

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN 1

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I PENDAHULUAN 4

A. Latar Belakang 4

B. Rumusan Masalah 4

C. Tujuan Penulisan 4

BAB II PEMBAHASAN 5

A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Islam 5

B. Latar Belakang Munculnya Filsafat dalam Islam 7

C. Tokoh-Tokoh Filosof Muslim 10

BAB III PENUTUP 15

A. Kesimpulan 15

B.Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 16

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philo dan sophia. Philo berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan atau kebenaran. Sedang menurut istilah, filsafat diartikan sebagai upaya manusia untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik mengenai Tuhan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan tersebut.

Dalam Islam, filsafat menjadi salah satu bidang studi yang keberadaannya telah menimbulka pro dan kontra. Sebagian mereka yang berpikiran maju -yang ditandai dengan sifat terbuka, rasional, kritis obyektif, berorientasi ke depan, dinamis dan mau mengikuti zaman, tanpa meninggalkan prinsip atau ajaran dasar yang bersifat asasi- dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran Filsafat, utamanya filsafat Islam. Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni berpegang teguh kepada doktrin ajaran al-Qur'an dan al-Hadist secara tekstual, cenderung kurang mau menerima filsafat, bahkan menolaknya karena takut dapat melemahkan iman.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian filsafat dan filsafat Islam?

2. Bagaimana latar belakang munculnya filsafat dalam Islam?

3. Siapa saja tokoh-tokoh filosof Islam?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian filsafat dan filsafat Islam.

2. Untuk mengetahui latar belakang munculnya filsafat dalam Islam..

3. Untuk mengetahui tokoh-tokoh filosof Islam.

(5)

BAB II PEMBAHASA

N

A. Pengertian Filsafat dan Filsafat Islam

Kata filsafat berasal dari Bahasa Yunani yakni “philosophia”. Kata philosophiamerupakan gabungan dari dua kata, yakni “philo” yang berarti cinta dan “sophos” yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Sehinga philosophia diartikan mencintai kebijaksanaan atau kebenaran (loveofwisdom).1

Kata philosophia dari Yunani tersebut diserap ke dalam Bahasa Arab menjadi falsafah.Penyerapan kata tersebut terjadi dengan adanya penerjemahan karya-karya teks Yunani ke dalam Bahasa Arab yang dilakukan pada abad ke-2 hingga abad ke-3 Hijriah. Falsafah dimaknai sebagai pengetahuan tentang segala yang ada dan tentang ilahiah dan insaniah.2

Pondasi mengenai filsafat dibangun oleh Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM).3 Plato merupakan murid dari Socrates (470-399 SM), yang sebelumnya juga telah memberikan pengajaran mengenai filsafat khususnya filsafat moral. Namun Socrates tidak meninggalkan karya tulis apapun, jadi pemikirannya diambil dari muridnya. Plato kemudian menjadi guru Aristoteles.

Ketiga tokoh tersebut, Socrates, Plato, dan Aristoteles merupakan tokoh-tokoh kunci dalam filsafat.

Plato mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala hal yang ada. Sedangkan muridnya, Aristoteles mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika. Dilihat dari definisi yang diberikan, Aristoteles menjabarkan filsafat lebih luas beserta cabang-cabangnya.

Berbeda dengan filsafat yang lebih condong dikatakan sebagai filsafat barat,

1 Roy Jackson, WhatisIslamicPhilosophy?,New York: Routledge, 2014, h. 3.

2 Hossein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Terj. History ofIslamic Philosophy, Bandung: Mizan Press, 2003, h. 29-30.

3 Roy Jackson, h. 3.

(6)

Islam pun mengenal filsafat dengan pengertiannya sendiri. Filsafat Islam diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak islami. Islam di sini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat dikatakan islami bukan karena yang melakukan aktifitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam, atau orang yang berkebangsaan Arab, akan tetapi objeknya mengenai pokok-pokok keislaman.

Istilah filsafat Islam melahirkan dua kemungkinan pemaknaan. Pertama, filsafatIslam dalam artian filsafat tentang Islam (PhilosophyofIslam).

Dalam hal ini Islam menjadi bahan telaah atau objek material suatu studi dengan sudut pandang objek formalnya adalah filsafat. Kedua, filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy,yaitu filsafat yang islami.4

Hakikat dari filsafat Islam adalah akal dan wahyu. Akal merupakan hal yang memungkinkan aktifitas tersebut menjadi aktifitas kefilsafatan. Sedangkan wahyu merupakan cirri khas keislamannya. Filsafat Islam tidak bisa meninggalkan wahyu karena wahyu bersifat spiritual. Akal dan wahyu di sini memiliki hubungan yang bersifat dialektis. Akal dengan otonomi penuh bekerja dengan semangat wahyu. Akal sebagai subjek mempunyai komitmen moralitas yang bersumber pada wahyu.

Secara epistimologis, sumber ilmu pengetahuan filsafat Barat hanya dua, yakni akal dan indera. Kedua sumber ilmu pengetahuan ini dikenalkan oleh Plato dan Aristoteles. Plato berpendapat bahwa manusia sejak lahir telah membawa ide bawaan (innate ideas). Ide bawaan tersebut digunakan manusia unntuk dapat mengenal dan memahami segala sesuatu. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa ide-ide bawaan tersebut tidak ada. Menurut Aristoteles, hukum-hukum dan pemahaman yang bersifat universal dicapai lewat proses pengamatan empirik manusia. Aristoteles mengakui bahwa pengamatan inderawi itu tidak kekal, namun dengan pengamatan dan penyelidikan terus menerus terhadap hal- hal konkret, akal akan dapat mengabstraksikan ide-ide dan hukum-hukum yang bersifat universal. Muncullah dualisme epistimologi Barat antara Plato dengan rasionalisme dan Aristoteles dengan empiris.

Adapun dalam filsafat Islam, selain menggunakan rasio dan empirik sebagai sumber ilmu pengetahuan, wahyu juga dijadikan sumber ilmu pengetahuan.

(7)

4 Ahmad Thole Bainher, "Studi Filsafat Islam", Makalah, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2018, h. 4.

(8)

Meskipun wahyu menjadi sumber ilmu pengetahuan utama, namun para filsuf muslim tidak bisa terlepas dari pengaruh filsafat Barat.Para filosof muslim banyak mengkaji materi dari pemikiran-pemikiran filsafat Yunani. Bila materi pemikiran filsafat Yunani yang dikaji tersebut memiliki bentuk-bentuk atau rumusan-rumusan yang tidak bertentangan dengan ajaran wahyu dalam Islam, maka materi tersebut dapat langsung diambilsepenuhnya menjadi bagian dari filsafat Islam. Contohnya dalam filsafat Plutonius terdapat ajaran tentang Emanasi (pancaran) yang menggambarkan bahwa sumber dari segala yang ada ini adalah Yang Esa. Yang Esa itu memancarkannous(akal), dari nousmemancar soul(jiwa), dan dari soulmemancar materi. Subtansi filsafat emanasi plotonius dapat dipahami oleh kalangan filosof muslim tidak bertentangan dengan ajaran wahyu dalam Islam tentang penciptaan alam oleh Tuhan. Sehinggateori tersebut diambil dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga muncullah falsafat emanasi versi Al

-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan al-Safa', dan lain-lain.5

Berbeda jika bentuk-bentuk pemikiran filsafat tidak sejalan dengan ajaran wahyu dalam Islam, maka materi tersebut perlu diberi bentuk yang sesuai denganajaran wahyu dalam Islam. Contohnya falsafat Aristoteles “Tuhan sebagai

wujudyang maha sempurna hanya pantas mengetahui yang maha sempurna saja, yakni diri-Nya sendiri”. Ia tidak pantas memberikanperhatian pada apa saja yang

tidak mahasempurna dan oleh karen itu Ia tidak mengetahui selain diri-Nya.

Filsafat ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, diri-Nya, dan apa saja selain diri-Nya, baik di bumi maupun di langit. Oleh karena itu para filosof muslim tidak menerima begitu saja filsafat ini, namun dijadikan materi kajian tidak dibiarkan bentuknya, dikembangkan dan diberi bentuk yang sesuai dengan ajaran wahyu dalam Islam.6

B. Latar Belakang Munculnya Filsafat dalam Islam

Kontak pertama umat Islam dengan ilmu dan filsafat berlangsung lebih dulu

(9)

5 Abdul Aziz Dahlan, PemikiranFilsafatdalamIslam, Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2003, h. 1.

6 Ibid.

(10)

di dunia Islam belahan timur melalui dialog-dialog/ debat agama antara ulama Muslim dengan non-Muslim dan melalui penerjemahan besar-besaran buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam bahasa Arab oleh khalifah-khalifah Bani Abbas (II dan III H). Sedangkan kontak ilmu dan filsafat di dunia Islam bagian barat terjadi setelah buku-buku hasil pengembangan ilmu dan filsafat dari dunia Islam belahan timur dibawa ke wilayah Barat. Filsafat bukanlah hal yang dikenal sejak awal peradaban bangsa Arab maupun peradaban Islam. Namun, konsep mengenai hikmah dan hakim telah ada. Bahkan dalam Al-Qur'an berulang kali disebutkan kata hikmah yang merupakan pemberian dari Al-Hakim (Tuhan).

Konsep hikmah ini dimaknai sebagai petunjuk yang diberikan Tuhan kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk menjalani kehidupan. Adapun masuknya filsafat ke dalam kehidupan Bangsa Arab dan Islam disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

1. Penakhlukan Alexander Yang Agung ke Timur

Alexander Yang Agung dalam literature Barat dikenal dengan Alexander The Great. Sementara dalam literature Arab dikenal dengan Iskandar Zulkarnain. Alexander berhasil menakhlukkan Persia pada tahun 331 SM. Setelah penakhlukan tersebut, Alexander menyatukan budaya Yunani yang ia bawa dengan kebudayaan Parsi. Pertemuan antara kedua budaya ini membentuk suatu kebudayaan baru yang bernama Hellenisme.7

Penakhlukan Alexander atas Parsi merupakan awal masuknya kebudayaan Yunani, termasuk filsafat, ke dalam dunia Timur. Latar belakang Alexander sebagai murid dari Aristoteles pasti membawa pengaruh bagi daerah takhlukannya dalam menyebarkan ilmu yang ia dapatkan dari gurunya. Kebudayaan Hellenismi hasil ciptaan Alexander inilah yang menjadi cikal bakal filsafat di Timur (Arab).

2. Penyebaran Kebudayaan Yunani Melalui Kristen

Benih kebudayaan Hellenisme pada masa selanjutnya tumbuh di dalam agama Kristen. Sehingga ajaran-ajaran agama Kristen diwarnai dengan pemikiran filsafat. Filsafat digunakan oleh kalangan Gereja sebagai

7 Yunasril Ali, PerkembanganPemikiranFalsafahdalamIslam,Jakarta: Bumi Aksara, 1991, h. 4-5.

(11)

pemecahan masalah bila terjadi pertentangan di dalam Gereja.

Perkembangan filsafat di Gereja Kristen membawa dampak bagi Islam tatkala Islam telah menakhlukkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di Asia Barat. Beberapa pusat kebudayaan Yunani yang dikuasai Islam adalah Antiochia, Nisibis, Edessa, Harran, dan Jundishapur.8

3. Penerjemahan Buku

Penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam Bahasa Arab menjadi faktor paling dominan dalam mengenalkan filsafat kepada Bangsa Arab.

Semenjak itu pula kata filsafat atau falsafah semakin popular di kalangan kaum muslim, khususnya kaum intelektualnya. Setelah itu mulailah kegiatan penganalisaan filsafat di kalangan cendikiawan muslim. Sehingga muncullkah filosof-filosof besar dari kalangan muslim. Penerjemahan buku- buku Yunani berjalan dalam tiga periode:9

a) Periode pertama

Penerjemahan buku-buku Yunani pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Al-Mansur sampai penghujung masa Khalifah Harun al-Rasyid pada abad ke-8 M. Pada masa ini, Muktazilah mulai mengenal filsafat dan logika yang nantinya membawa pengaruh yang besar bagi peradaban Islam.

b) Periode kedua

Periode kedua dilakukan pada masa Khalifah Al-Makmun bin Harun al-Rasyid pada abad ke-9 M. Pada masa ini Al-Makmun mendirikan institusi untuk penerjemahan yang diberi nama Bait al- Hikmah(The House of Wisdom) di Baghdad. Bait al-Hikmah adalah suatu lembaga yang dilengkapi observatorium, perpustakaan besar, dan majlis terjemah. Naskah-naskah ilmu pengetahuan dan filsafat yang tersedia dalam bahasa Yunani, Persia, Siryani, Sangsekerta, dll banyak diterjemahkan dalam bahasa Arab. Para ahli dikirim ke Balkan untuk mencari dan membeli naskah, mereka digerakkan penguasa Bani Abbas untuk melakuan kerjasama membangun dunia ilmu dan filsafat yang jaya.

Mereka dibayar

(12)

8 Ibid., h. 5-7.

9 Ahmad Thole, h. 21-22.

(13)

tinggi bahkan dibayar dengan emas yang beratnya sama dengan berat lembaran kertas yang berisi hasil terjemahan ke dalam bahasa Arab.

c) Periode ketiga

Periode ketiga merupakan periode terakhir penerjemahan besar- besaran karya Yunani ke dalam Bahasa Arab. Periode ini terjadi pada abad ke-10 M. Buku yang diterjemahkan semakin banyak dan semakin beragam. Sehingga pada periode ini pemikiran kaum muslim semakin terbuka untuk berfilsafat dengan metode berfikir ala Aristoteles.

4. Renaissance Ilmu dan Kebudayaan

Setelah penerjemahan besar-besaran karya Yunani, bangsa Islam Arab menjadi lebih berkembang dalam pemikiran berbagai ilmu pengetahuan.

Sehingga tidak hanya menerjemahkan karya Yunani, namun kaum muslim bisa mengomentari bahkan menulis karya tulis baru yang orisinil. Dalam hal ini kaum muslimin memiliki dua peran; pertama sebagai penyelamat warisan pemikiran ilmu pengetahuan Yunani, dan kedua sebagai penemu atau pengembang suatu ilmu pengetahuan atau hikmah. Kecenderungan kaum muslimin untuk berfilsafat didahului oleh kecenderungan dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu praktis. Seperti ilmu kedokteran, ilmu falak (astronomi), ilmu kimia, matematika, dan lain lain. Namun dengan penguasaan ilmu-ilmu tersebut belum dapat memecahkan beberapa permasalahan sehingga filsafat dirasa harus dipelajari lebih lanjut untuk menjawab permasalahan yang belum terpecahkan. Dalam masa ini terbentuklah beberapa kota menjadi pusat perkembangan ilmu dan kebudayaan. Diantaranya adalah Baghdad, Cordova, Qairawan, Kairo, Damaskus, Basrah, dll.10

C. Tokoh-Tokoh Filosof Muslim 1. Al-Kindi

Al-Kindi memiliki nama lengkap Abu Yusuf Ya'qub ibnu Ishaq ibnu

10 Yunasril Ali, h. 10-11.

(14)

Sabbah ibnu Imron ibnu Ismail al-Ash'ats ibnu Qais al-Kindi. Nama al-Kindi dinisbatkan pada salah satu suku besar Arab pra-Islam, yakni Kindah.

Kakeknya, al-Ash'ats ibnu Qais adalah seorang muslim dan bahkan dianggap sebagai sahabat nabi. Sementara ayahnya, Ishaq as-Sabbah merupakan seorang Emir Kufah ketika Daulah Abbasiyah diperintah oleh al-Mahdi, al- Hadi, dan ar-Rasyid. Tidak ada informasi yang pasti mengenai kapan al- Kindi dilahirkan. Namun, para ahli memperkirakan bahwa ia lahir pada 185 H/801 M, sekitar satu dasawarsa sebelum khalifah Harun Rasyid meninggal.11 Pada masa itu, buku-buku ilmu pengetahuan sangat mudah didapat dan Bait al-Hikmah berperan sebagai pusat kegiatan penerjemahan. Antusiasme pemerintah terhadap kegiatan penerjamahan tercermin dari besarnya imbalan yang diberikan untuk sebuah karya terjemahan, yakni dengan emas seberat buku itu.

Al-Kindi dikenang sebagai filsuf Muslim Arab pertama yang merintis jalan bagi penetrasi filsafat ke dunia Islam. Ia merupakan salah seorang penerjemah karya-karya Filsafat Yunani. Selain itu, al-Kindi juga menyimpulkan karya-karya Filsafat Helenisme dan aktif menulis buku.

Diperkirakan karya buku yang telah ditulisnya mencapai 270 buah yang membahas berbagai bidang keilmuan, namun sayang sebagian dari karya tersebut dinyatakan hilang. Adapun salah satu kontribusinya yang sangat terkenal dalam bidang filsafat adalah menyelaraskan filsafat dan agama. Di antara karya al-Kindi yang paling penting, yaitu Kitab al-Kindi ila al- Mu'tashimbillahfiFalsafahal-Ula(tentang filsafat pertama).12

2. Al-Farabi

Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan Abu Nasr al-farabi, lahir di Wasij dekat Farab di kawasan mawara'aan-nahr (Transoxiana), pada tahun

258 H/870 M dan meninggal pada tahun 339 H/950 M. Dari data yang terhimpun menunjukkan bahwa al-Farabi berasal dari keluarga seorang jenderal keturunan Turki.13

Di bidang filsafat, al-Farabi banyak mengkaji mengenai falsafah dan

11 Adenan, BukuAjarFilsafatIslamJurusanPemikiranPolitikIslam(PPI),Medan: UIN Sumatera Utara, h. 17.

12 Juwaeni, Tokoh dan Pemikiran Autentik Filsafat Islam Klasik, Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2023, h. 18.

13 Amroeni Drajat, FilsafatIslam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006, h. 11.

(15)

teori Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Bahkan, beberapa literatur menyebutnya sebagai Aristoteles kedua. Dia juga merupakan seorang yang mengawali menulis mengenai ilmu logika Yunani secara teratur dalam bahasa Arab. Dalam membicarakan teori politiknya, beliau berpendapat bahwa akal dan wahyu adalah satu hakikat yang padu.Sebuah percobaan dan usaha untuk memisahkan kedua-dua elemen tersebut akan melahirkan sebuah negara yang pincang serta masyarakat yang kacau balau. Oleh karena itu, akal dan wahyu perlu dijadikan sebagai dasar pada pembinaan sebuah negara yang kuat, stabil serta makmur.14 Al-Farabi mengatakan bahwa bagian-bagian sesuatu negri sangat erat hubungannya satu sama lain laksana anggota badan apabila salah satu sakit maka yang lain pun ikut sakit, kesenangan pribadi harus dikenal dalam masyarakat. Menurut Al-Farabi komunitas manusia (warga negara) di sebuah negara adalah salah satu syarat terbentuknya sebuah negara. Oleh sebab itu seorang manusia tentunya senantiasa membutuhkan bantuan manusia lain untuk menjalani kehidupannya.

Diantara karya-karya al-Farabi yang terpenting antara lain adalah:15 Al -Jam’uBaynaRa’yayal-Hakimia:AflatonwaAristo,MaqalatfiMa’anyal-Aql,

Al-Siyasat al- Madaniyyat dan Ara’u ahl Madinah al-Fadhilah al-Masailal- FalsafiyyahwaaAjiwibah‘Anha.

3. Ibnu Sina

Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina atau yang secara umum dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna (bahasa latin yang terditorsi dari bahasa Hebrew AvenSina) adalah seorang ensklopedis, filsuf, fisiologis, dokter, ahli matematika, astronomer dan sastrawan. Ia adalah salah seorang ilmuan dan filsuf muslim yang sangat terkenal sepanjang sejarah. Di kalangan orang Arab ia ia dipanggil dengan sebutan asy-Syaikh ar-Rais.

Ibnu Sina lahir di Afshanah, desa kecil dekat bukhara, 370 H/980 M, dan wafat di hamdan, 428 H/1037 M. Ia adalah putra seorang pegawai tinggi pada Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

14 Ibid., h. 36.

(16)

15 Juwaeni, h. 11.

(17)

Adapun di antara pemikirannya yang terkenal di bidang filsafat yaitu mengenai teori kenabian dan kemukjizatan. Dalam teori ini, Ibnu sina membagi manusia kedalam empat kelompok. Mereka yang kecakapan teoritisnya telah mencapai tingkat penyempurnaan yang sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi membutuhkan guru sebangsa manusia, sedangkan kecakapan praktisnya telah mencapai suatu puncak yang sedemikian rupa sehingga berkat kecakapan imajinatif mereka yang tajam mereka mengambil bagian secara langsung pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa masa kini dan akan datang.16 Kemudian mereka memiliki kesempurnaan daya intuitif, tetapi tidak mempunyai daya imajinatif. Lalu orang yang daya teoritisnya sempurna tetapi tidak praktis. Terakhir adalah orang yang mengungguli sesamanya hanya dalam ketajaman daya praktis mereka.

Dalam pemikirannya mengenai tasawuf, menurut ibnu sina tidak dimulai dengan zuhud, beribadah dan meninggalkan keduniaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang sufi sebelumnya. Ia memulai tasawuf dengan akal yang dibantu oleh hati. Dengan kebersihan hati dan pancaran akal, lalu akal akan menerima ma'rifah dari al-Af'al. Dalam pemahaman bahwa jiwa-jiwa manusia tidak berbeda lapangan ma'rifahnya dan ukuran yang dicapai mengenai ma'rifah, tetapi perbedaanya terletak pada ukuran persiapannya untuk berhubungan dengan akal fa'al. Karya-Karya Ibnu Sina dalam bidang filsafat yang terkenal di antaranya ialah kitab an-Najatdanas-Shifa'.

4. Al Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali ath-Thusi asy- Syafi'i lahir di Thus pada tahun 450 H/1058 M dan wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 H/1111 M. Ia adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia barat abad pertengahan. Ia berkunyah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar dia al- Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan Persia (Iran).

16 Laili Sahlah, "Peran Ibnu Sina dalam Pengembangan Sains Islam di Persia", Skripsi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015, h. 38.

13

(18)

Al-Ghazali merupakan seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiya, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Karya-karyanya yaitu: Al-Munqidh min adh-Dhalal(penyelamat dari kesesatan), kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan, Maqasidal-Falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan pertama berisi masalah-masalah filsafat, dan Tahafut al-Falasifah (kesesatan para filsuf), kitab ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dalam buku Tahafut al- Tahafut(The IncoherenceoftheIncoherence).17

5. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd adalah filsuf Muslim yang terakhir muncul di dunia Islam belahan Barat. Nama lengkapnya adalah Abu al- Walid Muhammad Ibnu Rusyd yang lahir di Kordoba pada tahun 520 H/ 1126 M dari keluarga hakim, dan wafat di Marakesy (Maroko) pada tahun 595 H/1198 M. Setelah mengusai fikih, ilmu kalam, dan sastra Arab dengan baik, ia menekuni matematika, fisika, astronomi, kedokteran, logika, dan filsafat.18

Salah satu pemikirannya yang paling berkontribusi ialah mengenai agama dan filsafat. Ia menegaskan bahwa agama dan filsafat tidak berada dalam titik pertentangan. Filsafat pada hakikatnya berpikir tentang segala hal untuk diketahui. Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk berpikir tentang alam dalam rangka mengetahui Tuhan. Al-Qur'an sesungguhnya menyuruh umat manusia untuk berfilsafat, bahkan menurutnya, mempelajari filsafat wajib bagi kaum Muslim. Adapun di antara karya-karyanya dalam bidang filsafat, yaitu: trilogial-Ashghar(yang lebih kecil), al-Ausath(sedang), dan al- Akbar(lebih besar) yang berisi ulasan tentang karya tulis Aristoteles; Tahafutat- Tahafut tentang bantahan atas Tahafutal-Falasifah karya al-Ghazali; Fashl al-Magal fi ma Baina al-Hikmahwa Syari'ah min al-Ittishal (Kata Putus

17 Nisrokha, "Konsep Kurikulum Pendidikan Islam", Madaniyah, Vol. 1 Edisi. 9, 2017, h. 158 -159.

18 Amroeni Drajat, h. 73.

14

(19)

tentang hubungan antaras filsafat dan syariat) yang mengkaji relasi agama dan filsafat; al-Kasyfan Manahijal-'Adillahfial-'Aqa'idal-Millah (Menyingkap Metode-metode Pembuktian Akidah Agama), dan beberapa buku lainnya yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini.19

19 Amroeni Drajat, h. 74-75.

(20)

BAB III PENUTU

P A. Kesimpulan

Kata filsafat berasal dari Bahasa Yunani yakni “philosophia”. Kata philosophiamerupakan gabungan dari dua kata, yakni “philo” yang berarti cinta dan “sophos” yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Sehinga philosophia diartikan mencintai kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom). Adapun

filsafat Islam diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak islami yang hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari akal dan wahyu.

Kontak pertama umat Islam dengan ilmu dan filsafat berlangsung lebih dulu di dunia Islam belahan timur melalui dialog-dialog/ debat agama antara ulama Muslim dengan non-Muslim dan melalui penerjemahan besar-besaran buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat ke dalam bahasa Arab oleh khalifah- khalifah Bani Abbas (II dan III H). Sedangkan kontak ilmu dan filsafat di dunia Islam bagian barat terjadi setelah buku-buku hasil pengembangan ilmu dan filsafat dari dunia Islam belahan timur dibawa ke wilayah Barat.

Seiring berjalannya waktu, dunia Islam telah melahirkan tokoh-tokoh filosof terkenal. di antaranya yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd serta masih banyak lagi yang lainnya. Dengan pemikirannya, para tokoh tersebut banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam.

B. Saran

Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan masih memerlukan kritikan dan saran bagi pembahasan materi yang telah dipaparkan.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Adenan. BukuAjarFilsafatIslamJurusanPemikiranPolitikIslam(PPI).Medan:

UIN Sumatera Utara, 2020.

Ali, Yunasril. PerkembanganPemikiranFalsafahdalamIslam,Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Bainher, Ahmad Thole. "Studi Filsafat Islam". Makalah. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2018.

Dahlan, Abdul Aziz. PemikiranFilsafatdalamIslam, Jakarta:

Perpustakaan Nasional, 2003.

Drajat, Amroeni. FilsafatIslam. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006.

Jackson, Roy. WhatisIslamicPhilosophy?.New York: Routledge, 2014.

Juwaeni. Tokoh dan PemikiranAutentik Filsafat Islam Klasik.

Banda Aceh: Ar- Raniry Press, 2023.

Nasr, H o s s e i n . , Oliver Leaman. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam Terj.

HistoryofIslamicPhilosophy, Bandung: Mizan Press, 2003.

Nisrokha. "Konsep Kurikulum Pendidikan Islam". Madaniyah.Vol. 1 Edisi. 9, 2017.

Sahlah, Laili. "Peran Ibnu Sina dalam Pengembangan Sains Islam di Persia", Skripsi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Mata kuliah ini memuat materi ajar yang mencakup arti dan lingkup filsafat, sebab-sebab lahirnya filsafat, perkembangan pemikiran filsafat sejak zaman Yunani Kuno sampai zaman

Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan

Meski diakui bahwa filsafat Yunani memberikan pengaruh besar pada perkembangan filsafat Islam, tetapi filsafat Islam tidak didasarkan atas filsafat Yunani, sebab; (1) berguru

Filsafat Islam adalah hasil pemikiran filsuf tentang ajaran ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan

Sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa

Melalui Bait Al-Hikmah yang diselenggarakan khalifah Al-Makmun, maka banyak dari buku-buku filsafat Yunani yang diterjemahkan kedalam literasi Arab. Pelajar-pelajar Muslim mulai belajar dan mengkaji filsafat tersebut dengan mudah. Dalam perkembangannya, filsafat Yunani telah mempengaruhi filsafat Islam pada setiap sisi, termasuk faham tentang

Filsafat pendidikan Islam merupakan konsep berpikir tentang bagaimana pendidikan yang berlandaskan ajaran-ajaran agama

Makalah ini membahas sejarah perkembangan filsafat di Yunani, Islam, dan