• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNSUR UNSUR BUDAYA BATAK ANGKOLA DI DALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UNSUR UNSUR BUDAYA BATAK ANGKOLA DI DALA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

UNSUR-UNSUR BUDAYA BATAK ANGKOLA DI DALAM NOVEL “AZAB DAN SENGSARA” KARYA MERARI SIREGAR

Oleh : Hatijah (1451140003)

Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Bahasa dan Sastra

Universitas Negeri Makassar

2016

Abstrak

Tujuan Analisis unsur-unsur kebudayaan ini adalah untuk mengetahui beberapa unsur kebudayaan terutama kebudayaan Batak Angkola yang terdapat di dalam isi novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Penelitian ini berbentuk deskripsi analisis isi novel berdasarkan unsur budaya yang terdapat di dalam isi cerita. Objek penelitian ini adalah unsur budaya novel secara universal.

Sumber data diperoleh dari isi novel Azab dan Sengsara karya Merari Seregar. Diterbitkan oleh PT. Balai Pustaka (Persero), dengan tebal 186 halaman, terdiri 13 bagian. Teknik analisis menggunakan model analisis mengalir (1) redupsi data, penyajian data, dan simpulan.

Hasil analisis disimpulkan bahwa di dalam novel Azab dan Sengsara terdapat unsur-unsur kebudayaan dalam cerita seperti sistem organisasi sosial, sistem mata pencaharian hidup, sistem peralatan hidup dan teknologi, religi, sistem pengetahuan, dan bahasa.

(2)

1. Pendahuluan

Karya sastra mengalir dari kenyataan-kenyataan hidup yang terdapat di dalam masyarakat. Akan tetapi karya sastra bukan hanya mengungkapkan kenyataan-kenyataan objektif itu saja, melainkan juga mencuatkan pandangan, tafsiran, sikap, dan nilai-nilai kehidupan berdasarkan daya kreasi dan imajinasi pengarangnya, serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. (Sugianto Mas, 2012: 9)

Karya sastra Merari Siregar (1896-1940) Azab dan Sengsara ini merupakan roman pertama Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1920, yang berisi tentang adat dan kawin paksa. Plot yang disusun oleh pengarang melibatkan interaksi kehidupan anak laki-laki dan perempuan dari dua keluarga, yaitu Baginda Diatas dan Sutan Baringin, kedua-duanya bangsawan kaya, berlangsung di daerah Sipirok, padang dan Medan, sumatera Utara, dengan berbagai konflik dan komplikasi tak putus-putusnya.

Beda status social, dominasi peramal, tipu muslihat, kecemburuan, paksaan, siksa, penceraian dan diakhiri dengan ajal Mariamin, tokoh perempuan muda bernasib malang.

Maka dari itu, penulisan analisis ini dimaksudkan untuk menganalisis unsur-unsur kebudayaan yang ada pada novel agar sebuah novel tak hanya dibaca, namun dapat difahami isi dan nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya, supaya berguna bagi kehidupan, dan Novel yang menjadi bahan analisa saya adalah novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar.

2. Kerangka Teori

2.1 Nilai-nilai Sosial dan Kebudayaan

(3)

dikesampingkan. Secara individu atau keluarga seseorang bisa maju, namun keberadaan seorang individu atau keluarga tersebut pada akhirnya justru membahayakan keberadaan komunitas kecilnya atau bahkan bangsanya. Ini sebagai salah satu atau bagian dari penerapan nilai ”kebinatangan ekonomi” yang a-sosial (Tri, http://pse.litbang.pertanian.go.id).

Nilai-nilai sosial merupakan prinsip yang berlaku di suatu masyarakat tentang apa yang baik, benar dan berharga yang seharusnya dimiliki atau dicapai oleh masyarakat. Nilai-nilai itu berfungsi untuk membimbing seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan sehari-hari.

Geertz menganggap bahwa kebudayaan adalah jaringan-jaringan yang dibangun oleh manusia untuk mencari makna. Jaring-jaring tersebut ditentukan noleh manusia karena dalam hidupnya manusia penuh ekspresi dan isyarat-isyarat yang harus ditafsirkan maknanya (Nuraeni dan Alfan, hal: 16).

Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan wujudnya ada tiga. Pertama, sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, sebagai benda-benda hasil karya manusia (Juanda, hal: 10).

Jadi, berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai social di dalam masyarakat tidak dapat dilepaskan dari budaya-budaya yang ada. Karena dengan budaya manusia dapat menafsirkan akan makna kehidupan yang sesungguhnya.

2.2 Unsur-unsur Kebudayaan

(4)

3. Pembahasan

Dari hasil analisis novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar penulis dapat menguraikan unsur kebudayaan yang terdapat di dalam novel tersebut. Adapun hasil analisis ialah sebagai berikut :

3.1 Sistem organisasi sosial

Sistem kemasyarakatan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang hubungan sosial kemasyarakatan seperti perkawinan, strata social, dan kekeluargaan. Pada novel Azab dan Sengsara karya Marari Siregar dapat dijumpai sistem kekerabatan yang di anut adalah sistem kekerabatan patrilineal, ini yang menjadi tulang punggung masyarakat Batak, yang terdiri atas turunan-turunan, marga, dan kelompok-kelompok suku, semuanya saling dihubungkan menurut garis laki-laki. Laki-laki itulah yang membentuk kelompok kekerabatan, sedangkan perempuan menciptakan hubungan besan (affinal relationship), karena ia harus kawin dengan laki-laki dari kelompok patrilineal yang lain. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:

“sebagamana diceritakan di atas Sutan Baringin itu beripar dengan Ayah Aminu`din yang tinggalnya tiada berapa jauh dari Sipirok. Jalannya mereka itu bertali, yakni ibu Aminu`din adik kandung Sutan Baringin. Jadi Aminu`din memanggil Sutan Baringin tulang (artinya mamak) dan kepada ibu Mariamin nantulang (artinya ina tulang=istri mamak). Menurut adat orang dinegeri itu (batak) seharusnya bagi Aminu`din menyebut Mariamin adik (anggi bahasa Batak) dan perkawinan antara anak dayang serupa ini amat disukai orang tua kedua belah pihak. “Tali perkauman bertambah kuat,” kata orang di kampung-kampung. Barangkali perkawinan yang serupa itu, tiada biasa ditempat lain. “lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya,” kata pribahasa.”(Siregar: 27)

(5)

perempuan dari audara laki-laki pihak ibu). Sedangkan Mariamin memanggil Aminu`ddin Anak Namboru (anak laki-laki dari saudara perempuan ayah). Jika terjadi perkawinan antara anak laki-laki dan perempuan saudara laki-laki dan perempuan dimasyarakat Batak sangat disukai` oleh kedua belah pihak sebab dianggap bahwa dapat memperkuat tali kekeluargaan. Dalam masyarakat Batak Angkola yang menganut system, seorang Ayah memiliki otoritas yang besar dalam menentukan calon pendamping bagi anaknya.

“benar perbuatan kami ini tiada sebagai permintaan Ananda, tetapi janganlah anakku lupakan, kesenangan dan keselamatan anak itulah yang dipikirkan oleh kami orang tuamu. Oleh sebab itu haruslah anak itu menurut kehendak orangtuanya kalau ia hendak selamat di dunia. Itu pun harapan bapak dan ibumu serta sekaliann kaum-kaum kita anakku akan menurut permintaan kami, yakni ananda terimalah menantu Ayahanda yang kubawa ini!” (Siregar: 151-152)

Dalam adat masyarakat orang Batak juga bebaslah orang muda laki-laki datang martandang (mengungjungi) perempuan-perempuan muda untuk berkenalan. Adat ini memudahkan bagi laki-laki untuk mencari anak dari yang setujuinya untuk dijadikan sebagai istri. Ini dapat dilihat pada kutipan di dalam novel:

“…pada waktu mudaku, aku pernah menanggung rindu kepada orang yang acapkali datang bertandang ke rumahku.” (Siregar: 74).

(6)

“hanya margalah yang berlainan, sebenarnya mereka itu masih sedarah; akan tetapi sebab pengaruh adat itu, perkawianan yang kedua ini dilazimkan dan perkawinan yang pertama dilarang keras.”( Siregar:140).

Selanjutnya pada ikatan pernikahan masyarakat Batak sibisa mungkin menghindari adanya penceraian karena ini dianggap sebagai hal yang dapat merusak identitasnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan cerita:

“Dari pribahasa itu tahulah kita, bahwa perkawinan disana amat kukuhnya. Perkara talak satu, dua, tiga, amatlah jarang kejadian. Kehinaan besar dipandang orang kalau seorang laki-laki menceraikan binihnya. Perempuan yang meminta talak itupun tiada berharga di mata orang; kawin kedua kalinya amat susah bagi dia, karena orang berkata dalam hatinya:”perempuan itu tidak baik, ia tidak setia kepada suaminya. Sudah tentu orang tiada mau mengambil dia akan istri. Sepanjang adatpun amatlah berat hukuman orang yang menceraikan kawan hidupnya itu.”(Siregar:76).

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pada masa itu masyarakat Batak juga dikenal akan kuatnya tali pernikahan, sehingga sangat jarang orang yang ditemukan bercerai di dalam rumah tangganya. Selain menurut mereka merupakan hal yang tidak baik juga karena itu dapat menanggung rasa malu besar bagi pihak dan keluarga.

Kemudian pada gelar atau marga, Orang Batak masing-masing mempunyai suku (marga). Seorang anak yang baru lahir sudah memperoleh marga dari bapaknya.

“marganya Siregar, dan bapaknya kepala kampung. Kupikir baik akan jadi menantu kita. Baiklah aku pergi kesana. Sepanjang dugaanku anak itu mungkin kita peroleh; tentang boli kita takkan mundur, jawab suaminya.” ( Siregar:139).

(7)

“Tentu mahal harganya kain ini. Rupanya tiadalah si Tongam melupakan kita. Setiap tahun kita selalu menerima kirimannya…”(Siregar: 94)

Dari kutipan si Rongam merupakan nama kecil Baginda Mulia. Arti perkataan itu:mulia (Bahasa Batak). Biasanya nama pertama itu acap kali bersamaan artinya dengan gelar.

Sedangkan marga di dalam suku Batak ada bermacam-macam, misalnya di Luhak Sepirok, Siregar dan Harahaplah yang paling banyak. Akan tetapi ada pula beberapa di antaranya marga lain, seperti: pane, Pohan, Sibuan dan lain-lain. Namun yang melatar belakangi adanya marga tersebut belum diketahui pasti. Bisa jadi dahulunya marga Siregar, marga harahap, pohan dan lain-lain dulunya bersaudara. Tidak ada yang tahu kepastiannya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:

“Tentang emas kawin di tanah Batak adalah suatu adat yang memberatka. Emas kawin itu biasa disebut orang sere atau boli; adapun sere itu dibayar oleh laki-laki kepada orang tua anak gadi, banyaknya dari 200 sampai 400 rupiah. Ini diambil jumlah pertengahan, karena ada juga yang kurang, umpamanya 120 rupiah, ada pula yang lebih sampai 600 rupiah. Sere itu boleh dibayar semua dengan uang semata, atau separu dengan kerbau atau lembu.” (siregar, hal:141).

Selanjutnya mengenai hubungan social di dalam isi novel Azab dan Sengsara ini juga dijelaskan bahwa: menurut adat orang Batak , orang yang meminta ampun akan kesalahannya, harus membawa nasi ke rumah orang tempat ia meminta ampun, supaya langkahnya berat (mendapatkan maaf dan tetap dapat menjalin hubungan yang baik). Nasi itu biasa dibungkus dengan daun pisang, dan dinamanya nasi bungkus.

“yaitu setelah sampai di Sipirok, ia dan istrinya harus membawa nasi bungkus ke rumah ibu Mariamin meminta maaf, sebab Aminu`ddin telah berjanji dengan Mariamnin akan kawin. Akan penutup perbuatan yang salah itu, haruslah mereka memberikan seekor lembu dan kerbau kepada ibu Mariamin.” (Siregar:155)

(8)

memberikan nasi bungkus atau hal-hal yang menyenangkan kepada orang yang ditempati memohon maaf tersebut agar tetap terjalin hubungan yang harmonis.

3.2 Sistem Mata Pencaharian Hidup

Berdasarkan analisis novel “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar bahwa sistem pencaharian hidup atau beberapa profesi yang dilakukan oleh beberapa tokoh memiliki kekhasan tersendiri berdasarkan suku dan budayanya, seperti pada umumnya yang juga kadang dijumpai pada masyarakat lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa aspek di antaranya sebagai berikut:

a. Pertanian dan peternakan

Salah satu sistem mata pencaharian hidup masyarakat yang tinggal di perkampungan adalah bertani dan beternak. Sebagaimana yang yang dijelaskan di dalam novel ini yang merupakan orang-orang yang tinggal di daerah Sipirok yang dominan masyarakatnya bertani maupun beternak. Dapat dilihat pada kutipan:

“kiri-kanan jalan besar itu terbentang sawah yang luas, lebih baik dikatakan jalan itu terbentang di tengah-tengah sawah yang luas. Padi yang sedang hendak berbuah itu hijau daunnya sehingga lapangan yang luas itu seolah-olah ditutup dengan beledu hijau yang lebar…”(Siregar:18).

“Ayah Aminu`din bolehlah dikatakan seorang kepala kampung yang terkenal di Antero Luhak Sipirok. Harta bendanya amatlah banyaknya, dan kerbau lembunya pun cukup di Padang Lawas, apalagi sawahnya berlungguk-lungguk, sehingga harga padi yang dijualnya setiap tahun berates-ratus rupiah, mana lagi hasil kebun kopi belum terhitung….”(Siregar:18)

Dari kutipan di atas dapat kita cermati bahwa rata-rata penduduk di Batak itu berprofesi sebagai petani dan peternak. Sebagaimana yang dilakukan oleh keluarga tokoh utama, Aminu`ddin dan juga Mariamin.

Selanjutnya di dalam isi novel Azab dan Sengsara juga digambarkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah Sipirok. Selain bertani mereka juga beternak. Sebagaimana yang terdapat pada kutipan:

(9)

Berdasarkan kutipan di atas bahwa di dalam isi novel Azab dan Sengsara ini masyarakat yang tinggal di daerah Sipirok yang merupakan sistem mata pencaharian hidup masyarakata adalah bertani dan beternak.

b. Merantau ke Sumatra Barat (Medan) /Deli

Merantau adalah salah satu sistem pencaharian hidup yang dilakukan di negeri orang. Sebab kadang kala dianggap bahwa mencari pekerjaan di negeri orang lebih mudah dari negeri sendiri sebab mungkin disana lapangan pekerjaannya masih terbuka luas untuk profesi yang ditekuni. Sebagaimana yang digambarkan dalam kutipan:

“waktu bapak Baginda Mulia masih muda, ia pergi merantau ke Deli, karena pada zaman itu adalah kebilangan ke mana-mana, pekerjaan amat mudah di Sumatra Timur itu. Orang yang pandai menulis tiada susah beroleh gaji yang besar, dan pencarian pun amat mudah. Dengan jalan berdagang, berjualan dan lain-lain banyaklah orang menjadi kaya, karena pada waktu itu negeri Deli baru, kebun banyak dibuka dan pencarian amat banyak, sedang anak negeri asli belum banyak yang bersekolah. Berates orang muda dan tua yang merantau tiap-tiap tahun ke Sumatra Timur, bukan dari Tapanuli saja, dari Minangkabau pun banyak juga.” (Siregar: 91)

Dari kutipan di atas digambarkan bahwa pada masa itu orang-orang dari Sumatra utara (Sipirok) juga banyak yang pergi merantau ke Sumatra Timur untuk mencari pekerjaan. Karena mereka beranggapan bahwa di Sumatra Timur lapangan pekerjaan masih baru terbuka sehingga orang mudah mendapatkan pekerjaan.

3.3 Sistem Peralatan Hidup dan teknologi

(10)

“Kakanda tiada tahu maksud Adinda? Melihat-lihat sawah mereka itu, artinya menolong mereka itu mengerjakan sawah, karena kalau sawah mereka tiada di Cangkul dan ditanami, apalah yang akan dimakan mereka itu bertiga beranak? Sekarang orang sudah hamper menanam padi, akan tetapi sawah mereka belum habis dicangkul.” (Siregar:23-24).

Selanjutnya mengenai peralatan hidup ini juga di jelaskan pada kutipan:

“bulan di muka ia datang, tiada lama lagi tepat sesudah padi di sawah di sabit. Jadi pada waktu memangkur sawah ini, sudah tentu aku memintah sawah bagiaannya.” ((Siregar, hal:90)

Dari beberapa kutipan di atas sebagaimana yang tergambar di dalam masyarakat batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo), sabit dan lain-lain.

Di dalam isi novel azab dan Sengsara ini juga dijelaskan bahwa di Sipirok juga dikenal adanya Pasangrahan, yakni gudang besar, dulunya digunakan sebagai tempat tinggal orang Belanda, karena disana tidak ada hotel seperti pada kota besar. Dapat dilihat pada kutipan:

“Pada hari yang ditentukan dibukalah perkara Sutan Baringin dan Baginda Mulia itu. Amatlah banyaknya orang yang datang hendak menyaksikan, dan para pokrol bamboo pun datang dari segenap pihak. Adalah hal itu sebagai kebiasaan penduduk orang Sipirok. Mungkindi negeri-negeri lain juga begitu halnya. Bila tiada pekerjaan yang perlu, umpamanya habis menyabit padi, datanglah mereka itu berkumpul-kumpul sekeliling pesanggrahan Sipirok.” (Siregar, hal: 104).

Kutipan di atas menunjutkan bhawa pasangrahan ini merupakan perlengkapan yang di negeri Sipirok tersebut dipergunakan sebagai tempat pesidangan, karena pada masa itu kantor pengadilan belum ada.

3.4 Sistem kepercayaan

(11)

“suara orang adzan kedengaran pula dari menara mesjid besar, karena sudah waktunya akan sembahyang isya. Kedua orang itu terkejut dan barulah mereka ingat akan dirinya.” (Siregar: 6)

“Allah melindungi makhluknya,” suhut suara yang lain dalam hatinya.” (Siregar: 9)

Dari kutipan tersebut menandakan bahwa agama yang dianut adalah agama islam. Hal ini dikarenakan ada kata adzan, mesjid dan cara penyebutan Tuhan (Allah) yang menjadi identitas agama islam.

Selanjutnya pada adat, di dalam novel ini ini memiliki kepercecayaan yang tepegang oleh masyarakat. Terutama pada hal-hal yang tidak boleh dilanggar oleh adat mereka. Sebagaimana yang tergambar pada kutipan:

“akan meluaskan sedikit dan akan mengetahui sedikit adat lembaga di tanah Batak, baiklah diterangkan arti kalimat itu. Kalimat itu sebenarnya pribahasa orang Batak, dan adalah kira-kira begini salinannya dalam bahasa Indonesia. Dari pribahasa itu tahulah kita, bahwa perkawinan disana amat kukuhnya. Perkara talak satu, dua, tiga, amatlah jarang kejadian. Kehinaan besar dipandang orang kalau seorang laki-laki menceraikan binihnya. Perempuan yang meminta talak itupun tiada berharga di mata orang; kawin kedua kalinya amat susah bagi dia, karena orang berkata dalam hatinya:”perempuan itu tidak baik, ia tidak setia kepada suaminya. Sudah tentu orang tiada mau mengambil dia akan istri. Sepanjang adatpun amatlah berat hukuman orang yang menceraikan kawan hidupnya itu.”(Siregar: 76)

Pada kutipan dijelaskan bahwa disana mereka sebisa mungkin menghindari adanya penceraian di dalam rumah tangganya. Dikarenakan hal itu merupakan aib bagi mereka dan keluarganya. Mereka percaya bahwa orang yang bercerai itu tidaklah baik sifatnya sehingga untuk menikah kedua kalinya sangat sulit.

Sedangkan pada larangan pernikahan atau pernikahan yang tidak diperbolehkan dalam isi novel Azab dan Sengsara ini dijelaskan bahwa masyarakat Batak memiliki kepercayaan di dalam adatnya bahwa orang yang hendak menikah, tidak boleh mengambil orang yang semarga dengan dia. Karena dianggap aturan-aturan adat yang telah dilakukan dalam masyarakat itu. Dapat dilihat pada kutipan:

(12)

yang hidup berates tahun dahulu, yang bersaudara. Mereka itu tiada boleh ambil-mengambil dalam perkawinan, karena dilarang keras oleh adat.”(Siregar:139).

Selanjutnya kepercayaan terhadap dukun (Datu) dalam penentuan segala hal termasuk jodoh merupakan suatu jalan bagi masyarakat disana apabila telah mengalami suatu keragu-raguan dalam mengambil keputusan. Hal ini tergambar dalam kutipan:

“kalau engkau mengerasi juga, baiklah. Akan tetapi baiklah kita berhati-hati, karena mengambil jodoh anak itu tiada boleh dipermudah-mudahkan. Kamu mengatakan Mariamnin juga yang baikn menantu kita; kalau demikian kita pergi mendapatkan Datu Naserdung, akan bertanyakan untung dan rezeki Aminu`ddin, bila beristrikan Mariamin. Datu itulah yang masyhur sekarang fasal hal faal. Pekerjaan ini janganlah dilengahkan lagi. Kalu pertemuan mereka itu tiada baik menurut faal, baiklah kita carikan yang lain.”(Siregar:136)

Pada kutipan dijelaskan bahwa disana orang percaya akan masa (waktu). Kalau hendak menjemput anak dara (gadis), lebih dahulu diperiksa hari dan jamnya yang baik. Demikian juga kalau hendak membuat perjalanan, mendirikan rumah, dan lain-lain. Dalam hal ini datulah yang menentukan. Akan tetapi suaminya tiada bersetuju dengan maksud isrinya itu; untuk menolaknya ia tidak dapat, karena ibu dan anak bersama-sama melawan dia. Setelah seminggu lamanya, pada suatu malam ia berakata kepada istrinya.

3.5 Sistem pengetahuan

Di dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ada berapa sistem pengetahuan yang dijumpai, seperti menganyam tikar dan beberapa pribahasa. Hal ini dapat dilihat dari kutipan cerita:

(13)

Menganyam tikar merupakan suatu kerajinan yang biasanya dilakukan oleh para perempuan-perempuan. Tikar ini biasanya dibuat dari daun pandang. Tikar yang halus biasanya harganya jauh lebih mahal karena tikar ini sangat diperlukan oleh masyarakat kampung di Batak. Biasnya digunakan untuk jamu (tamu) sebagai tempat duduk.

Selanjutnya di dalam isi novel ini juga terdapat beberapa pribahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menarsirkan seuatu atau padanannya. Ada pun beberapa pribahasa yang dipakai, antara lain:

-“Lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya,” kata pribahasa. (Siregar: 27).

Pada kutipan pribahasa terbut dimaksudkan ke dalam hubungan kekeluargaan jika masih merupakan keluarga sangat dekat, tidak semua suku membolehkan adanya pernikahan tersebut. Karena dianggap masih sedarah.

-“hanya berkaum di mulut,”( Siregar: 30)

Dalam kutipan pribahasa tersebut dimaksudkan bahwa terkadang masyarakat yang hidup di pesisir atau negeri yang ramai tali persaudaraan sudah tidak diindahkan lagi. Hanya namanya saja berkeluarga tetapi kurang keakraban di antara mereka.

- “setinggi-tinggi batu melambung, surutnya ke tanah juga.” (Sirigar, hal :92)

Hal ini ibaratkan melempar batu. Setinggi apa pun kita melemparkan batu tersebut jatuhnya pasti di tanah juga. Dalam novel ini diceritakan bahwa bahwa Baginda Mulia yang pergi merantau karena ingin memperbaiki nasib hidupnya sebab ayahnya yang kurang beruntung kemudian ia kembali menapaki jejak ayahnya dan beruntung, meskipun demikian ia tetap ingin kembali ke negerinya.

(14)

Dalam novel ini dijelaskan bahwa di muka bumi ini sering kali terjadi. Bahwa terkadang hubungan keluarga dan saudara yang tinggal berjauhan itu lebih keras cinta dan kasih sayangnya, dibandingkan orang yang tinggal bersama-sama kerap kali menimbulkan perselisihan.

-“kalau payungku telah berkembang, tak pedulilah aku, bagaimana sekalipun lebatnya hujan itu.” (Siregar: 95)

Hal ini dimaksudkan bahwa seseorang siap menghadapi masalah apapun yang datang padanya. Seberat apapun itu masalah dia akan hadapi juga.

- “sarung yang bengkok dimakan pisau.” (Siregar: 104)

Pribahasa tersebut bahwa sekuat-kuat kita menyembunyikan kebusukan itu akan ketahuan juga. Siapa yang benar dan siapa yang salah akan terlihat.

- “yang menang menjadi bara, yang kala menjadi abu.”(Siregar: 105). Siapa pun yang mengambil jalan perkara dalam menyelesaikan sebuah pertikaian maka keduanya akan menanggung sebuah penyesalan. Sebab dalam perkara itu hanya akan menimbulkan perseteruan semakin dalam antara kedua bela pihak.

3.6 Sistem Bahasa

Berdasarkan hasil analisis novel Azab dan Sengsara, juga dengan membaca reverensi lain. Orang Batak menggunakan beberapa bahasa, yaitu Karo dipakai oleh orang Karo, Pakpak dipakai Pakpak, Simalungun dipakai Simalungun, Toba dipakai orang Toba, Angkola dan Mandailing. Hal ini dapat kita lihat pada kutipan:

(15)

Simagomago berdiri agak disebela selatan, yang menjadi watas dengan tanah Angkola. Simole.mole menceraikan dataran tinggi itu pada sebelah utara dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).” (Siregar: 3)

Pada kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Toba. Karena dalam cerita dikatakan bahwa suku Batak yang menjadi pokok dari isi cerita adalah Batak Angkola. Jadi sudah tentu bahasa yang digunakannya pun bahasa Toba seperti yang digunakan oleh orang Toba dan Mandailing.

KESIMPULAN

Ada beberapa unsur-unsur kebudayaan yang didapatkan pada novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar seperti Sistem organisasi social, sistem mata pencaharian, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem kepercayaan, system religi, dan bahasa. Namun tetapi di dalam isi cerita tidak dijumpai adanya system kesenian. Mungkin karena pengarang tidak menuliskan sebab di dalam isi novel lebih mengarah kepada komplik yang berkepanjangan, sehingga benar bahwa judul yang diambil adalah Azab dan Sengsara.

Adapun unsur-unsur kebudayaan dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar tersebut, antara lain: Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial ini terdapat pada hubungan dalam kekeluargaan, perkawinan, dan interaksi social. Pada mata pencaharian yang didapatkan di dalam isi novel adalah bertani, beternak, dan merantau. Pada system peralatan dan perlengkapan hidup dijumpai beberapa perlengkapan bertani dan alat-alat dalam rumah tangga, seperti, cangkul, sabit, kursi, tikar dan lain-lain. Sedangkan pada system pengetahuan, mereka mengenal cara membuat tikar dan beberapa pribahasa yang digunakannya. Pada system kepercayaan, yaitu mereka menganut agama islam, terdapat beberapa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh adat serta kepercayaan kepada dukun. Sedangkan pada system bahasa, yaitu Batak Angkola mengunakan bahasa Toba.

(16)

Juanda. 2015. Bahan Ajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Juanda. 2016. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Makassar: Fakultas Bahasa dan Sastra: UniversitasNegeri Makassar.

Nuraeni, Heny Gustini dan Alfan, Muhammad. 2012. Studi Budaya di Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia.

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero)

Sugianto Mas, Aan. 2012. Langkah Awal Menuju Apresiasi Sastra. Kuningan. Universitas Kuningan.

Pranadji, Tri. “Perspektif Pengembangan Nilai-nilai Sosial Budaya Bangsa”

.

http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/ART02-4a.pdf, diakses 23 Desember 2016 pukul 13:04 Wita.

LAMPIRAN

Judul : Azab dan Sengsara Karya : Merari Siregar

(17)

bagaimanapun Mariamin masih keponakannya, dan pernikahan itu dapat membantu kehidupan anak dari kakaknya tersebut.

Namun, Baginda Diatas, ayah Aminu’ddin memiliki pendapat berbeda dengan istrinya, Pernikahan Aminu’ddin dengan Mariamin akan merendahkan derajat serta martabat keluarganya, karena keluarga Mariamin hidup dalam kemelaratan. Menurutnya, putranya lebih pantas menikahi keluarga kaya dan terhormat. Namun ia tidak menyampaikan pendapatnya tersebut kepada istrinya. Agar tidak menykiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajak istrinya menemui seorang dukun untuk mengetahui nasib anaknya jika menikah dengan Mariamin. Pada masa itu, masyarakat masih menggantungkan nasibnya pada seorang dukun, segala sesuatu ditanyakan kepada dukun, dan mereka mempercayainya. Tradisi itulah yang dimanfaatkan Baginda Diatas untuk mengelabui istrinya.

Setelah kedatangan mereka ke dukun itu, Ibunda Aminu’ddin akhirnya mempercayai juga perkataan dukun itu, meskipun ia kesal karena maksudnya tidak sampai, karena ia sebenarnya menyetujui jika Aminu’ddin menikahi Mariamin, kemudia ia menyetujui rencana suaminya untuk menjodohkan Aminu’ddin dengan gadis lain yang sederajat dengan keluarganya. Bisa dikatakan, kepercayaan kepada dukun itu menjadi salah satu sebab penderitaan yang harus dialami Aminu’ddin, terutama Mariamin. Jika mengacu pada adat yang berlaku, ayah Aminu’ddin tidak boleh menggagalkan hubungan anaknya dengan Mariamin, bahkan harus menikahkan keduanya, agar tali persaudaraan mereka semakin kuat. Namun karena persoalan material, Baginda Diatas tidak menghiraukan adat tersebut, ia malah memilih menikahkan Aminu’ddin dengan gadis kaya bermarga Siregar.

(18)

dan terhormat. Masyarakat Sipirok sangat segan dan menghormatinya. Sementara Mariamin, hidup dalam kemelaratan bersama ibunya, karena ayahnya, Sutan Baringin telah meninggal dunia.

Dahulu, sesungguhnya keluarga Mariamin kaya. Namun, semasa hidupnya, Sutan Baringin terkenal boros dan serakah, ia suka berperkara dengan orang lain mengenai harta. Sikapnya yang demkian sebenarnya adalah akibat dari pola asuh di keluarganya. Saat kecil, orang tua Sutan Baringin begitu memanjakannya, semua yang diinginkannya selalu dipenuhi, akibat kesalahan pola asuh itulah, Sutan Baringin menjadi tidak baik budinya, ia keras kepala, tidak menghormati orang lain, selain pemarah, bengis dan angkuh, ia loba, tamak, dengki dan khianat, sikapnya itu sangat mendarah daging didirinya. Setelah Sutan Baringin meninggal, Mariamin beserta ibu dan adiknya harus menanggung azab dan sengsara akibat perbuatan Sutan Baringin.

Tanpa sepengetahuan Aminu’ddin, Baginda Diatas meminang seorang gadis yang berasal dari bangsawan kaya. Melalui surat, Aminu’ddin diberitahu bahwa calon istrinya akan segera dibaw ke Medan, tentu saja Aminu’ddin gembira mendengar berita tersebut, sudah lama ia membayangkan akan menikah dengan Mariamin. Namun ketika Aminu’ddin menjemput di stasiun, ternyata bukan Mariamin yang datang bersama ayahnya, tapi seorang gadis lain bermarga Siregar.

(19)

Tak lama setelah pernikahan Aminu’ddin, Mariamin menikah dengan Kasibuan, lelaki pilihan ibunya, karena ibu Mariamin tidak ingin anaknya itu terhanyut dalam cerita masa lalunya, lagipula tidak baik jika anak gadis yang sudah cukup berumur untuk menikah tidak lekas menikah, Mariamin tidak dapat menolak permintaan ibunya untuk menikah dengan lelaki yang bekerja sebagai Kerani di Medan itu meskipun ia merasa bahwa pernikahannya ini akan membawa petaka untuknya, dan memang benar tanpa Mariamin ketahui bahwa Kasibuan telah memiliki istri di Medan, dan ia menceraikan istrinya itu untuk menikahi Mariamin, perbuatan Kasibuan itu menjelaskan sifatnya yang tidak baik, sebenarnya ibu Mariamin dan Mariamin sendiri pun belum terlalu mengenal Kasibuan. Pernikahan paksa yang dialami Mariamin dengan Kasibuan pun bersumber pada persoalan materi, ibu Mariamin berharap bahwa pernikahan itu akan mengurangi penderitaan anaknya.

Setelah menikah, Kasibun membawa Mariamin ke Medan, ternyata pernikahan mereka tidak seperti yang diharapkan ibu Mariamin, Kasibuan menderita penyakit kelamin yang dapat menular. Oleh sebab itu, Mariamin selalu menolak ketika suaminya itu mengajaknya berhubungan suami istri. Mariamin sebenarnya tidak ingin membangkang pada suaminya itu, namun ia sebisa mungkin menjaga dirinya agar tidak tertular penyakit yang diderita suaminya itu, ia meminta Kasibuan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu, barulah ia bisa menurut permintaan suaminya itu.

(20)

pada Mariamin. Setiap terjadi pertengkaran anatra mereka, Kasibuan selalu menganiaya dan menyiksa Mariamin.

Karena tak kuat menerima siksaan suaminya, Mariamin berusaha keluar dari rumah saat Kasibuan tak ada dirumah, ia pergi melaporkan tindakan suaminya itu ke polisi. Perkara pun diperiksa, Kasibuan pun dipanggil ke kantor polisi untuk pemeriksaan perkara tersebut, selama perkara belum putus, Mariamin pun disuruh tinggal dirumah penghulu, karena tak ada satupun kenalannya di Medan, hubungannya dengan Aminu’ddi pun sudah tak dekat lagi, karena Aminu’ddin sudah menjadi suami orang.

Referensi

Dokumen terkait

P: Hilangnya sesuatu hal dalam proses pernikahan adat Batak Toba juga menghilangkan nilai budaya pernikahan adat Batak Toba itu sendiri, menurut anda apa yang dapat

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis makanan yang disajikan dalam setiap upacara adat Padang Bolak Batak Angkola,

Tujuan selanjutnya dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk melihat secara keseluruhan penggunaan Lage Hambian bagi masyarakat Batak- Angkola yang bertempat tinggal di

Objek penelitian adalah musik batak dalam Upacara Adat Perkawinan di Surabaya sebagai upaya pelestarian warisan budaya batak dengan mengkaji bentuk penyajian, fungsi, makna dan

Judul Tesis : PERGESERAN PEMBAGIAN WARIS ADAT DALAM SUKU BATAK ANGKOLA (STUDI DI KECAMATAN PADANGBOLAK KABUPATEN PADANGLAWAS UTARA).. Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya

“Mangain Marga (Pemberian marga kepada Orang Non Batak Perkawinan Adat Batak Toba di Kota Dumai)’’. Penelitian ini perlu dilakukan mengingat pada saat ini sudah

Namun, salah satu nilai budaya Batak Toba yang masih di jalankan di Kecamatan Tenayan raya Kelurahan Sail adalah nilai kekerabatan, dimana orang Batak yang berada

1. Hal yang melatarbelakangi orang Batak Karo dalam mendirikan Gereja Batak Karo Protestan di Denpasar dan cenderung tidak mau berbaur dengan sesama umat