• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANGAIN MARGA (Pemberian Marga kepada Orang Non Batak dalam Perkawinan Adat Batak Toba di Kota Dumai)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANGAIN MARGA (Pemberian Marga kepada Orang Non Batak dalam Perkawinan Adat Batak Toba di Kota Dumai)"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Ditya Windi
  • Pengajar:
    • Sabariah Bangun, M.Soc
  • Sekolah: Universitas Sumatera Utara
  • Mata Pelajaran: Antropologi Sosial
  • Topik: Mangain Marga (Pemberian Marga kepada Orang Non Batak dalam Perkawinan Adat Batak Toba di Kota Dumai)
  • Tipe: Skripsi
  • Tahun: 2021
  • Kota: Medan

I. Pendahuluan

Bab Pendahuluan ini menjabarkan latar belakang penelitian mengenai praktik 'Mangain Marga' (pemberian marga) kepada individu non-Batak dalam konteks perkawinan adat Batak Toba di Kota Dumai. Latar belakang ini menekankan pada meningkatnya perkawinan antar etnis di Indonesia, khususnya di Kota Dumai, didorong oleh budaya merantau masyarakat Batak Toba. Perkawinan beda etnis, yang dulunya dianggap tabu, kini mengalami perubahan akibat perkembangan adat dan pengetahuan. Bab ini juga merumuskan masalah penelitian, yang berfokus pada proses pemberian marga dan kehidupan rumah tangga beda etnis. Tujuan penelitian meliputi pemahaman proses 'Mangain Marga', konsekuensi hukumnya, dan gambaran kehidupan rumah tangga yang dihasilkan. Manfaat penelitian meliputi aspek akademis dan praktis, dengan potensi kontribusi bagi pemahaman adat perkawinan Batak Toba.

1.1 Latar Belakang

Bagian ini memberikan konteks sosial dan budaya yang mendasari penelitian. Ia membahas mobilitas masyarakat Batak Toba, perubahan dalam praktik adat, dan pentingnya 'Mangain Marga' dalam integrasi sosial. Penggunaan data statistik populasi Batak Toba dan konteks perkawinan antar etnis di Indonesia memperkuat argumen penelitian. Diskusi tentang adat istiadat Batak Toba dan konsep 'Dalihan Na Tolu' memberikan dasar pemahaman tentang struktur sosial masyarakat Batak Toba dan perannya dalam konteks perkawinan. Penjelasan tentang sistem kekerabatan Batak Toba (patrilineal) dan signifikansi marga menjadi landasan penting dalam memahami 'Mangain Marga'. Bagian ini berfungsi sebagai pengantar yang membangun pemahaman akan kompleksitas isu yang dikaji.

1.2 Rumusan Masalah

Bagian ini secara ringkas dan jelas mengemukakan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan dijawab. Fokusnya terarah pada proses 'Mangain Marga', konsekuensi hukumnya, serta aspek kehidupan rumah tangga beda etnis di Kota Dumai. Rumusan masalah ini berfungsi sebagai panduan penelitian, memastikan agar penelitian tetap terfokus pada tujuan utamanya. Kejelasan rumusan masalah ini penting untuk memastikan objektivitas dan kedalaman analisis dalam penelitian.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Bagian ini memaparkan tujuan utama penelitian, yang meliputi pemahaman menyeluruh terhadap proses 'Mangain Marga' dan konsekuensi hukumnya serta kehidupan rumah tangga beda etnis. Manfaat penelitian dijabarkan dalam dua perspektif: akademis dan praktis. Manfaat akademis menekankan pada kontribusi penelitian terhadap perkembangan ilmu antropologi sosial, khususnya dalam memahami dinamika adat dan perubahan sosial. Manfaat praktis menekankan pada aplikasinya dalam konteks masyarakat, memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai adat Batak Toba bagi masyarakat luas. Ini menunjukkan relevansi penelitian terhadap dunia akademis dan praktik sosial.

1.4 Tinjauan Pustaka

Tinjauan Pustaka ini merangkum teori dan konsep yang relevan, meliputi sistem kekerabatan, etnis Batak (termasuk sistem patrilineal dan pentingnya marga), adat istiadat Batak Toba, dan perkawinan (termasuk perkawinan antar etnis). Bagian ini menunjukkan bagaimana penelitian ini berakar pada teori-teori yang telah ada dan bagaimana ia akan berkontribusi pada perkembangan teori tersebut. Penggunaan karya-karya ilmiah dari para ahli antropologi dan hukum adat memperkuat kerangka teoritis penelitian. Bagian ini mendemonstrasikan pemahaman literatur yang mendalam dan relevansi terhadap penelitian.

1.5 Metode Penelitian

Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Dijelaskan pula teknik pengumpulan data, termasuk observasi (meskipun terbatas oleh kondisi pandemi), wawancara mendalam dengan berbagai informan (tokoh adat, keluarga beda etnis), dan penggunaan data sekunder. Pemilihan metode kualitatif dibenarkan dengan alasan untuk memahami konteks sosial dan budaya yang mendalam. Penggunaan berbagai teknik pengumpulan data memastikan bahwa data yang dikumpulkan komprehensif dan valid. Penjelasan yang detail mengenai metodologi penelitian memungkinkan pembaca untuk menilai validitas dan reliabilitas temuan.

II. Tinjauan Umum Kota Dumai

Bab ini memberikan gambaran umum mengenai Kota Dumai sebagai lokasi penelitian. Ia mencakup sejarah singkat Kota Dumai, letak geografis, keadaan penduduk, dan gambaran umum masyarakat Batak di Kota Dumai, termasuk organisasi-organisasi masyarakat Batak. Informasi demografis dan sosial budaya ini memberikan konteks penting dalam memahami praktik 'Mangain Marga' di lokasi tersebut. Pemahaman tentang konteks lokal ini penting untuk memberikan interpretasi yang tepat terhadap temuan penelitian.

2.1 Sejarah Singkat

Sub-bab ini akan memberikan ringkasan sejarah Kota Dumai, menjelaskan perkembangan kota dan dinamika penduduknya. Ini akan memberikan latar belakang penting untuk memahami konteks sosial-budaya di mana penelitian ini dilakukan. Sejarah singkat ini penting untuk menunjukkan konteks migrasi dan interaksi antar budaya yang mungkin mempengaruhi praktik 'Mangain Marga'.

2.2 Letak dan Keadaan Geografis

Deskripsi letak geografis Kota Dumai dan kondisi alamnya. Ini memberikan konteks lingkungan yang mempengaruhi kehidupan dan interaksi sosial masyarakat. Informasi ini penting dalam memahami faktor-faktor eksternal yang mungkin mempengaruhi praktik 'Mangain Marga'.

2.3 Keadaan Penduduk

Data demografis Kota Dumai, termasuk komposisi etnis dan agama, akan memberikan gambaran tentang keragaman penduduk. Ini penting dalam memahami proporsi penduduk Batak Toba dan tingkat interaksi antar etnis yang mungkin mempengaruhi praktik perkawinan beda etnis dan 'Mangain Marga'.

2.4 Gambaran Masyarakat Batak di Kota Dumai

Sub bab ini memberikan gambaran tentang komunitas Batak Toba di Kota Dumai, struktur sosial, dan organisasi-organisasi yang ada. Ini memberikan konteks penting tentang bagaimana adat istiadat Batak Toba dipertahankan dan dipraktikkan di luar daerah asal mereka. Informasi ini penting untuk memahami bagaimana komunitas Batak Toba beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat di Kota Dumai.

III. Marga dan Sistem Kekerabatan pada Masyarakat Batak Toba

Bab ini membahas secara detail tentang marga dan sistem kekerabatan dalam masyarakat Batak Toba, memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya marga dalam identitas dan struktur sosial masyarakat Batak Toba. Ia menjelaskan tata cara pemberian marga ('Mangain Marga') kepada wanita dan pria non-Batak, menguraikan langkah-langkah dan makna setiap tahap dalam proses tersebut. Analisis ini memberikan wawasan tentang bagaimana adat istiadat Batak Toba beradaptasi dengan perkawinan beda etnis. Bagian ini juga membahas implikasi hukum penerimaan marga.

3.1 Marga dalam Masyarakat Batak Toba

Sub-bab ini akan membahas secara mendalam tentang arti dan fungsi marga dalam masyarakat Batak Toba, menjelaskan sistem kekerabatan patrilineal dan perannya dalam identitas dan struktur sosial. Ini merupakan dasar pemahaman yang sangat penting untuk memahami proses 'Mangain Marga'. Penjelasan yang rinci tentang sistem marga akan memberikan landasan bagi analisis selanjutnya tentang proses pemberian marga.

3.2 Tata Cara Pemberian Marga Bagi Wanita Bukan Batak

Sub bab ini akan menjelaskan langkah-langkah dan makna dari proses pemberian marga kepada wanita non-Batak, menguraikan setiap tahapan upacara adat dan signifikansi budaya dari masing-masing langkah. Penjelasan ini akan memberikan pemahaman yang rinci tentang proses 'Mangain Marga' dalam konteks spesifik.

3.3 Tata Cara Pemberian Marga Bagi Pria Bukan Batak

Penjelasan yang serupa dengan sub-bab sebelumnya, tetapi spesifik untuk pria non-Batak. Ini akan menunjukan perbedaan dan persamaan dalam proses pemberian marga antara wanita dan pria. Perbandingan ini akan memperkaya pemahaman tentang praktik 'Mangain Marga'.

3.4 Proses Perkawinan dalam Adat Batak

Sub-bab ini memberikan konteks yang lebih luas mengenai proses perkawinan dalam adat Batak Toba, menjelaskan tahapan-tahapan upacara perkawinan dan perannya dalam integrasi sosial. Ini membantu memahami bagaimana 'Mangain Marga' terintegrasi dalam siklus hidup masyarakat Batak Toba.

3.5 Akibat Hukum atas Penerimaan Marga

Sub-bab ini membahas aspek legal dari penerimaan marga, menjelaskan status hukum dan hak-hak individu non-Batak setelah menerima marga. Bagian ini menghubungkan aspek adat dengan aspek hukum formal, memberikan pemahaman yang komprehensif.

IV. Kehidupan Rumah Tangga Beda Etnis

Bab ini membahas kehidupan rumah tangga pasangan beda etnis di Kota Dumai, yang dihasilkan dari perkawinan antara orang Batak Toba dan individu dari etnis lain. Ia menganalisis aspek-aspek komunikasi, pengurusan rumah tangga, pendidikan anak, pengambilan keputusan, dan peran domestik serta publik dalam konteks perbedaan budaya. Analisis ini akan memberikan gambaran tentang adaptasi dan tantangan yang dihadapi oleh keluarga beda etnis dalam mempertahankan identitas budaya dan membangun kehidupan keluarga yang harmonis.

4.1 Berkomunikasi

Bagian ini menjelaskan bagaimana komunikasi dijalin dalam keluarga beda etnis, mencakup pilihan bahasa, gaya komunikasi, dan potensi konflik yang muncul akibat perbedaan budaya. Analisis ini akan memberikan wawasan tentang bagaimana perbedaan budaya memengaruhi komunikasi antar anggota keluarga.

4.2 Mengurus Rumah Tangga

Bagian ini menganalisis bagaimana tugas-tugas rumah tangga dibagi dan dilakukan dalam keluarga beda etnis, memperhatikan perbedaan peran gender dan budaya dalam konteks ini. Ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana keluarga beradaptasi dengan perbedaan budaya dalam mengelola rumah tangga.

4.3 Mendidik Anak

Bagian ini membahas strategi pendidikan anak dalam keluarga beda etnis, mencakup bagaimana nilai-nilai budaya dari kedua etnis diintegrasikan dalam proses pengasuhan anak. Ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana keluarga beda etnis mensosialisasikan nilai-nilai budaya kepada anak-anak mereka.

4.4 Pengambilan Keputusan

Bagian ini menjelaskan proses pengambilan keputusan dalam keluarga beda etnis, memperhatikan perbedaan dalam budaya pengambilan keputusan. Ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana keluarga mengatasi perbedaan budaya dalam mengambil keputusan.

4.5 Peran Domestik dan Peran Publik

Bagian ini menganalisis pembagian peran domestik dan publik dalam keluarga beda etnis, memperhatikan bagaimana perbedaan budaya mempengaruhi peran gender dan pembagian tanggung jawab. Ini akan memberikan gambaran tentang bagaimana keluarga beda etnis mengelola pembagian peran dalam kehidupan sehari-hari.

V. Penutup

Bab Penutup ini merangkum temuan penelitian, menyajikan kesimpulan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan. Kesimpulan ini akan menjawab rumusan masalah yang diajukan di bab pendahuluan. Bab ini juga memberikan saran-saran untuk penelitian selanjutnya dan implikasi praktis dari temuan penelitian ini bagi masyarakat dan peneliti lain.

5.1 Kesimpulan

Bagian ini merangkum temuan utama penelitian, menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dirumuskan di bab pendahuluan. Kesimpulan ini harus didasarkan pada analisis data yang telah dilakukan dan disajikan secara ringkas dan jelas.

5.2 Saran

Bagian ini memberikan saran-saran untuk penelitian selanjutnya dan implikasi praktis dari temuan penelitian. Saran ini dapat berupa saran untuk penelitian lebih lanjut dengan metodologi yang berbeda atau dengan fokus yang lebih spesifik. Saran praktis dapat berupa rekomendasi kebijakan atau strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman dan toleransi antar etnis.

Gambar

Gambar 3.1 Silsilah Si Raja Batak  Sumber : Buku Pustaha Batak  hal.34
Gambar 3.2 Tudu Tudu Sipanganon  Sumber : Tabloid Horas Indonesia
Gambar 4.1  Foto Bersama Hermin Girrik Allo
Gambar 4.2 Foto Bersama keluarga Sujiyono Sitorus/Lingse br.Simanjuntak  Dokumentasi pribadi Ditya Windi, 2020
+5

Referensi

Dokumen terkait

Makna simbol pemberian ulos pada saat upacara adat perkawinan Batak Toba adalah sebagai “materai” agar permohonan yang disampaikan kepada Tuhan Yang Mahaesa menjadi

Namun tidak hanya perubahan pada tempat pelaksanaan adat yang berubah namun penggunaan wisma/gedung sebagai sarana ruang pelaksanaan ritual Adat Perkawinan Batak Toba juga

Permasalahan yang akan dijabarkan dalam penelitian ini yaitu penerapan prinsip Dalihan Natolu dalam hukum adat Batak Toba, karena dalam hukum adat Batak Toba sendiri

Debora (2014) dalam skripsinya yang berjudul Makna Simbolik Upacara Adat Mangulosi (Pemberian Ulos) pada Siklus Kehidupan Masyarakat Batak Toba di Kecamatan

Bahwa jika terjadi perkawinan satu marga si laki- laki dengan wanita, maka diberikan sanksi/huku- man adat, sangsi/hukuman adat tersebut berben- tuk: antara lain (a) Disirang

Dalam masyarakat Batak Toba unsur nasab yang dilarang dalam perkawinan aitu ”semarga”. masyarakat adat Batak Toba, perkawinan semarga dilarang, karena masyarakat adat Batak

marunjuk pada upacara adat perkawinan Batak Toba. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menerapkan kerangka pikir pragmatik. Lokasi penelitian ini adalah

Journal of Edcuation Technology and Civic Literacy, 3 1 2022: 9-12 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PEMBERIAN MARGA DALAM ADAT SUKU BATAK TOBA DI DESA LIANG JERING KECAMATAN TANAH PINEM