• Tidak ada hasil yang ditemukan

BuletinPlanologVol4No1 mar08 0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BuletinPlanologVol4No1 mar08 0"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

INTERNALISASI SEKTOR KEHUTANAN

DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN WILAYAH :

Membumikan Rencana Sektor Dalam Pembangunan Daerah

Oleh : Syaiful Ramadhan *

Latar Belakang

Mekanisme perencanaan pembangunan yang selama ini dianut dan dijalani bertumpu pada proses memadukan kepentingan berbagai pihak melalui pendekatan dua arah, yaitu : top down planning dan bottom up planning. Dalam prakteknya sampai dengan saat ini, khususnya untuk pembangunan sektor kehutanan, dokumen rencana pembangunan masih kental dengan muatan top down (sebagai ruang acuan kegiatan prioritas yang ditetapkan pemerintah cq sektor-sektor), hal tersebut yang tercermin dari minimnya aspirasi muatan bottom up (cerminan ruang usulan perencanaan partisipasi masyarakat/grass root) yang terakomodir dalam kegiatan pembangunan yang teranggarkan dalam dokumen perencanaan tersebut. Meskipun fenomena tersebut dirasakan “tidak wajar” dalam arti proses perencanaan tidak berjalan secara efektif, namun dalam implementasinya yang telah berjalan dari era sentralisasi sampai era desentralisasi selama ini belum dirasakan ada perubahan yang berarti atau malah cenderung “mapan”.

Salam Planolog,

Memasuki volume atau terbitan tahun ke empat, tiada yang layak dan lebih utama daripada memanjatkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa dan juga terima kasih pada semua pihak yang mendukung dan memungkinkan berlanjutnya buletin yang hakikinya milik seluruh Rimbawan.

Berangkat dari keprihatinan bencana lingkungan berupa perubahan iklim yang kian mengglobal, dan kenyataan adanya sumbangan yang nyata dari terdegradasinya sumberdaya hutan terhadap kondisi tersebut, maka “optimalisasi Penataan Ruang Kehutanan Dalam Rangka Mengurangi Dampak Bencana Alam “ terpilih menjadi tema volume empat nomor satu, selayaknya menjadi spirit pembangunan kehutanan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Berbagai bentuk pemikiran yang secara langsung maupun tidak langsung terkluster dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan dan dampak perubahan iklim, diharapkan mewarnai isi bulletin, baik yang terkait keruangan seperti Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) maupun upaya lainnya yang intinya menuju pemantapan pengelolaan hutan secara lestari, karena kita semua yakin hubungan kausalitas logis “hutan dan fungsi hutan lestari mengembalikan keseimbangan alam, kestabilan iklim terjaga, meningkatnya kesejahteraan hidup dan kehidupan”.

(2)

Situasi kemapanan yang tidak menguntungkan sebagaimana tersebut di atas apalagi dalam jangka panjang, karena sejujurnya apabila dibiarkan akan berakibat pada perlambatan akselerasi pembangunan sektor kehutanan, karena t i d a k m a k s i m a l n y a p e r e n c a n a a n p e m a n f a a t a n a l o k a s i b e r b a g a i sumberdaya yang tersedia dan fatalnya bila pembiaran keadaan ini berlanjut sudah barang tentu akan bermuara pada tidak optimalnya sumbangan sektor kehutanan pada pembangunan nasional secara vertikal dan dukungan pada sektor lain secara horisontal.

tingkat Kabupaten/Kota dan provinsi oleh DPRD ). Seiring jalan dengan pemberian ruang partisipasi masyarakat tersebut, dalam prakteknya baik dalam perumusan program, kegiatan dan anggaran maupun alokasinya lebih diwarnai oleh dominasi teknokrat berupa kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk upaya pencapaian visi, misi pembangunan yang ditetapkan masing-masing sektor yang maaf seringkali tidak mengakar/membumi juga tidak jarang menimbulkan trade off antar sektor.

Di pihak lain posisi tawar dan

peluang masyarakat yang seyogyanya Berangkat dari kaidah “tidak berubah menjadi representasi lokus pembangunan nasib/fenomena suatu komunitas/kaum (b o t t o m u p) m e n j a d i s e m a k i n (kondisi obyektif) apabila tidak ada upaya termarjinalisasi, kondisi ini berakibat (yang kuat dan konsisten) untuk merubah pada rencana yang disusun dalam bentuk sikap/persepsi/sistem (akumulasi kondisi penyempurnaan kerangka regulasi, subyektif pembentuk kondisi obyektif) yang kerangka pelayanan/inventasi dan ada/yang sudah mapan”, maka tulisan ini intervensi anggaran pemerintah yang diharapkan menjadi salah satu upaya s e c a r a h a k i k i b e r t u j u a n u n t u k untuk mengenali anatomi permasalahan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengidentifikasi alternatif upaya lebih mewakili proses top downdengan menuju sesuatu yang lebih baik. kata lain tidak menjawab atau tidak m e n j a d i s o l u s i p e r m a s a l a h a n

Kondisi dan Permasalahan mendasar/isu nyata dan atau kebutuhan

riel masyarakat (miss leading in problem Pelbagai peraturan per-UU-an terkait and its solution).

mekanisme perencanaan pembangunan

kehutanan yang diselenggarakan yang Upaya penguatan proses bottom up telah berjalan berpuluh tahun, sebenarnya planning sebenarnya telah dilakukan oleh telah menyediakan ruang kebijakan para Pemerintah melalui Surat Edaran teknokrat melalui birokrasi, ruang proses Bersama (SEB) Bappenas dan Mendagri

politik melalui jalur legislatif (DPR/D) dan tahun 2004 tentang Petunjuk Teknis

ruang partisipasi masyarakat melalui M u s y a w a r a h P e r e n c a n a a n

jalur penjaringan aspirasi masyarakat Pembangunan (Musrenbang) yang intinya pada forum penyaluran usulan-usulan menegaskan, bahwa forum tersebut kegiatan pembangunan dengan tahapan harus menjadi arena pembahasan yang mulai dari forum-forum musyawarah efektif bukan sekedar rutinitas dan pembangunan (Musbang-Rakorbang) formalitas belaka (business as usual) yang mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, diimplementasikan dengan dibentuknya Kabupaten/Kota sampai dengan provinsi Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan kerangka regulasi Permendagri (Forum SKPD) di tingkat Kabupaten/Kota

No.11 tahun 2006 sebagai ranah bottom dan provinsi yang bertugas memberikan up planning, khusus kehutanan ditambah jaminan usulan prioritas dari tingkat dengan tingkat regional bahkan terakhir pemerintahan terbawah (spasial) dapat

diverifikasi dan disahkan oleh Legislatif diakomodir dan disinkronkan dengan

selaku Wakil Rakyat (RAPBN oleh DPR perencanaan sektoral di tingkat SKPD

(3)

Diharapkan aspirasi yang tertuang sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam usulan secara berjenjang yang secara berkelanjutan, maka lingkup dikompilasi di tingkat Desa (bahan APB pembangunan kehutanan terdiri dari 2

Desa). (dua) bagian proses besar, yaitu ;

Mengacu pada kondisi potret 1. Proses Pertama adalah penetapan perencanaan pembangunan kehutanan di “ranah bekerja” yang sekaligus a t a s , r u n t u t p e r m a s a l a h a n d a p a t menjadi batasan fisik yang menjamin diidentifikasi dari berbagai antara lain : kepastian pengelolaan sumberdaya hutan diselenggarakan. Proses ini 1. Belum tersosialisikannya dengan disebut juga proses “Prakondisi

jelas dan benar konsep/ filosofi pengelolaan sumberdaya hutan” p e r e n c a n a a n p e m b a n g u n a n dengan kegiatan-kegiatan pokok ; kehutanan sebagai proses bottom up

dan top down planning. a. Inventarisasi Potensi Calon dan

atau Kawasan Hutan, 2. Ketidakjelasan tata hubungan kerja,

siapa berbuat apa dan bertanggung b. Pengukuhan [Penunjukan j a w a b a p a d a l a m p r o s e s Kawasan, Penatabatasan, perencanaan bottom up dan top down penatagunaan ke dalam fungsi

planning. l i n d u n g , p r o d u k s i d a n

konservasi dari kawasan hutan 3. Kondisi butir 1 dan 2 di atas dan penetapan pengesahan berdampak pada rencana yang hukum kawasan hutan hingga tersusun tidak sepenuhnya mewakili level unit-unit kelola / Kesatuan kebutuhan riel pembangunan sektor Pengelolaan Hutan (KPH) di dan lintas sektor (belum menyentuh tingkat tapak]

peningkatan kesejahteraan rakyat

dan pengelolaan hutan secara 2. P r o s e s K e d u a a d a l a h

optimal dan lestari). optimalisasi pengalokasian

manfaat sumberdaya hutan Analisis Permasalahan dan Alternatif b a g i s e b e s a r - s e b e s a r

Solusi kemakmuran rakyat baik

secara langsung maupun tidak K o n s e p ( S i s t e m ) P e r e n c a n a a n langsung. Proses ini disebut

Pembangunan Kehutanan juga sebagai “Pengelolaan

sumberdaya hutan sesuai Untuk permasalahan penyamaan fungsi manfaatnya” di dalam p e r s e p s i k o n s e p p e m b a n g u n a n wadah unit kelola KPH yang kehutanan, akibat kurangnya dan atau telah ditetapkan dalam proses belum tersosialisasikannya hal tersebut pertama.

maka analisis dan solusi alternative sudah

selayaknya sejalan dengan konsep Konsep dasar lingkup pembangunan pengurusan dan pengelolaan hutan di atas mempunyai konsekuensi logis (Penetapan kawasan hutan Negara, pada variasi road map pembangunan rehabilitasi, perlindungan hutan dan kehutanan, antara lain :

pemanfaatan hutan) yang dimandatkan pada Departemen Kehutanan sesuai ketentuan per-UU-an yang berlaku.

Berangkat dari mandat pengelolaan

(4)

Proses pembangunan kehutanan di Sedangkan proses bottom up-nya atas juga sekaligus sebagai lingkup basis dicerminkan dari usulan daerah/wilayah “penilaian kinerja di setiap level untuk rencana investasi dalam rangka pembangunan kehutanan” yang menjawab pemanfaatan hutan oleh swasta dan pertanyaan-pertanyaan strategis : b a d a n u s a h a p e m e r i n t a h

(nasional/daerah) serta usulan rencana “ S u d a h k a n k a w a s a n h u t a n wilayah/daerah untuk merehabilitasi, ditetapkan cukup dan tersebar secara merestrukturisasi dan merevitalisasi proporsional ? “ fungsi manfaat hutan melalui skema pendanaan pembangunan hingga siap “Sudahkan aneka fungsi manfaat dimanfaatkan melalui skema investasi. ekonomi, ekologi dan sosial budaya hutan

terepresentasikan secara optimal bagi Analisa di atas, menghasilkan solusi kesejahteraan (fisik dan non fisik/ jasa alternatif berupa harus adanya upaya lingkungan) masyarakat di suatu wilayah?” mensosialisasikan, hingga terpahaminya konsep perencanaan pembangunan D a l a m k o n t e k s k o n s e p kehutanan secara utuh pada para pihak pembangunan kehutanan ini, proses terkait yang menjadi prasyarat bagi perencanaan pembangunan kehutanan t e r p e n u h i n y a p e r s e p s i a w a l d a r i top down dicerminkan dari Arahan (Norma, sinkronisasi proses top down dan bottom Kriteria, Standar) kawasan hutan tetap up planning pada pembangunan dengan fungsinya di setiap wilayah, arahan k e h u t a n a n s e b a g a i m a n a y a n g teknis pengelolaan sesuai fungsinya dan d i m a k s u d k a n d a l a m k o n s e p arahan road map pembangunan sesuai pembangunan kehutanan yang utuh. kondisi awal (baseline) hutan di awal

(5)

Kejelasan 4 R (Rule, Role, Responsibility/ Pemerintah, provinsi dan Kabupaten

Risk and Revenue) Kota yang didasari prinsip :

Untuk permasalahan ketidak jelasan a. Efisiensi,

tata hubungan kerja, siapa berbuat apa b. Akuntabilitas dan dan bertanggung jawab apa dalam proses c. Ekternalitas perencanaan bottom up dan top down

planning, analisis dan solusi alternatifnya dalam pembangunan kehutanan d i k a j i d a r i s i s i p a n d a n g p e l a k u dengan tetap dalam kerangka pembangunan kehutanan yang sekaligus konkuensi/ kebersamaan.

menjadi para pihak (stakeholder)

pembangunan a.l. ; 3. UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan 1. Pemerintah Pusat, Nasional dan PP 20 tahun 2004

2. provinsi, tentang Rencana Kerja Pemerintah

3. Kabupaten Kota , dan Peraturan Mentari baik Dalam

4. Pengusaha dan Negeri maupun Kehutanan yang

5. Masyarakat, terkait, mendasari Rule, Role dan

Responsibility/ Risk dalam proses terepresentasikan dari ketidak kejelasan 4 p e r e n c a n a a n p e m b a n g u n a n (empat) R (Rule, Role, Responsibility/ Risk k e h u t a n a n m u l a i d a r i D e s a -dan Revenue) antar para pihak tersebut. Kecamatan-Kabupaten/Kota sampai Padahal 4 (empat) R tersebut menjadi level provinsi (bottom up) dan proses syarat pemungkin, sehingga wajib perencanaan pembangunan top dipenuhi, karena 4 (empat) R agar proses down mulai dari arahan sasaran : top down dan bottom up planning pada

pembangunan kehutanan dapat berjalan a. lima tahunan,

sebagaimana mestinya. b. tahunan dan

c. a r a h a n k e b i j a k a n t e k n i s Pada hakekatnya keberadaan program kegiatan prioritas dari peraturan per-UU-an yang ada sangat P e m e r i n t a h ( B a p p e n a s - relevan dengan 4 (empat) R terkait Menteri Keuangan dan Menteri

pembangunan kehutanan, yaitu : Kehutanan).

1. UU No. 41 tahun 1999 tentang 4. UU No. 17 tahun 2004 tentang Kehutanan dan PP No. 44 tahun 2004 Keuangan dan PP No. 7 tahun 2008, tentang Perencanaan Kehutanan dan serta ketentuan yang tentang bagi aturan-aturan turunan lainnya, hasil dan distribusinya, mendasari mendasari substansi serta road map R u l e d a n R e v e n u e d a l a m pembangunan kehutanan dan terkait pembangunan kehutanan

dengan aspek Rule, Role dan

R e s p o n s i b i l i t y / R i s k d a l a m Penggambaran hasil analisis pembangunan kehutanan, baik pada harmonisasi proses perencanaan proses prakondisi maupun di tingkat pembangunan kehutanan berdasarkan pengelolaan. k e t e n t u a n - k e t e n t u a n y a n g

merepresentasikan 4 (empat) R tersebut 2. UU No. 32 tahun 2006 tentang di atas adalah sebagai berikut:

Otonomi Daerah dan PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan dan Kewenangan Pusat Daerah Otonom, mendasari kesepakatan proporsi

(6)

Solusi alternatif ketidakjelasan 4 dan koordinasi perencanaan tingkat (empat) R yang terjadi selama ini yang baik Desa dan Kecamatan dalam disadari atau tidak telah menghambat Kabupaten/Kota, dengan dasar proses top down dan bottom up planning, lingkup urusan kehutanan yang a d a l a h m e l a l u i p e m b e n a h a n t a t a menurut PP 38 tahun 2007 menjadi hubungan kerja yang didasari pemahaman kewenangannya serta mengacu gambar 2 di atas berikut ini : pada pagu anggaran APBD, APBD provinsi yang didekonsentrasikan,

Ranah (Domein) Bottom up planning APBN Tugas Perbantuan dan

sumber-sumber dana sah lainnya 1. Kejelasan tanggung jawab para pihak y a n g a d a d i m a s i n g - m a s i n g

(7)

Hal ini sejalan dengan kaidah yang Ranah (Domein) Bersama / Momentum berwenang dan bertanggung jawab Sinkronisasi Top Down dan Bottom atas kinerja Kabupaten/Kota adalah Planning

Bupati/Walikota cq Instansi yang

menangani Kehutanan di bawahnya. Ranah pengawalan sinkronisasi dan O u t p u t / k e l u a r a n p r o s e s koordinasi perencanaan level ketiga perencanaan level ini adalah bagian merupakan tanggung jawab bersama Rencana Kerja Satuan Kerja provinsi cq Instansi yang menangani Perangkat Daerah (Renja-SKPD) Kehutanan di provinsi dengan Pusat Kabupaten/Kota yang dibiayai dari Pengendalian (Pusdal) di masing-masing APBD provinsi dan atau APBN Regional. Ranah ini menjadi momentum

Kehutanan. yang strategis bagi pembangunan

kehutanan, karena menjadi ajang 1. Kejelasan tanggung jawab para pihak sinkronisasi dan koordinasi perencanaan

masing-masing provinsi dalam top down yang merupakan arahan menangani proses perencanaan dan pembangunan prioritas Departemen outputnya di perencanaan level Kehutanan dengan perencanaan bottom kedua dalam Ranah (domein) up yang merupakan usulan pembangunan mekanisme bottom up planning , yaitu kehutanan Kabupaten/Kota dan provinsi pada forum proses sinkronisasi dan yang direncanakan dibiayai dari APBN k o o r d i n a s i p e r e n c a n a a n sektor kehutanan. Kejelasan tanggung Kabupaten/Kota dalam suatu provinsi jawab dan output sinkronisasi dan di forum perencanaan provinsi, koordinasi perencanaan top down dengan dengan dasar lingkup urusan perencanaan perencanaan bottom up kehutanan yang menurut PP 38 tahun adalah :

2007 menjadi kewenangannya serta

mengacu pada PP no. 8 tahun 2007 1. M a s i n g - m a s i n g P u s d a l d i terkait pagu anggaran APBD provinsi, regionalnya bertanggung jawab APBN yang didekonsentrasikan pada d a l a m m e n g k o m p i l a s i d a n provinsi dan sumber-sumber dana m e n s o s i a l i s a s i k a n k e b i j a k a n sah lainnya yang ada di masing- m a s i n g - m a s i n g E s e l o n I masing provinsi serta Renstra Departemen Kehutanan selaku Kehutanan masing-masing provinsi, Penanggung Jawab Program dan penapisan usulannya menjadi Fokus Kegiatan dalam bentuk tanggung jawab Instansi yang batasan-batasan kerangka regulasi, menangani urusan Kehutanan di kerangka pelayanan dan investasi, level provinsi. b a t a s a n k e g i a t a n y a n g

(8)

Output/keluaran proses perencanaan RPJM Nasional, Renstra KL Departemen level ini adalah penajaman bagian Kehutanan, serta RKP (Buku I dan II) dan Rencana Kerja Satuan Kerja acuan program dan kegiatan prioritas Perangkat Daerah (Renja-SKPD) kehutanan pada tahun perencanaan, yang dibiayai dari APBD provinsi dan serta Kebijakan Prioritas Departemen atau APBN Kehutanan di regional Kehutanan yang dikompilasi dan menjadi masing-masing Pusdal. tanggung jawab penyusunannya oleh Pusat Perencanaan Kehutanan dalam 2. M a s i n g - m a s i n g I n s t a n s i y a n g proses penyusunan Renja-KL Dephut dan b e r t a n g g u n g j a w a b u r u s a n dalam proses penyusunan Rencana Kehutanan di provinsi dengan Kegiatan dan AnggaranKL (RKA-KL mendasari pada pembagian urusan Dephut) oleh Biro Perencanaan dan Biro yang diatur dalam PP No. 38 tahun Keuangan Dephut serta Renstra Eselon I 2007, PP 8 tahun 2007 dan yang mencerminkan tugas pokok fungsi memperhatikan kegiatan yang m a s i n g - m a s i n g E s e l o n I s e l a k u didekonsentrasikan di provinsi dan Penanggung Jawab Program dan Fokus atau ditugasperbantuankan di Kegiatan Kehutanan.

Kabupaten/Kota, bertanggung jawab

d a l a m m e n a p i s u s u l a n d a n M a s i n g - m a s i n g E s e l o n I memastikan tidak terjadinya duplikasi bertanggung jawab merumuskan program usulan pembangunan kehutanan kegiatan prioritas tahun perencanaan yang akan dibiayai APBN dengan yang terbagi dalam rincian kegiatan yang usulan APBD provinsi dan usulan menjadi tanggung jawab Pusat menurut APBD Kabupaten Kota dalam PP 38 tahun 2007 yang dilaksanakan masing-masing provinsinya di level Departemen Kehutanan dan Unit sikronisasi perencanaan ketiga ini. Pelaksana Tugas (UPT) nya di Daerah d a n k e g i a t a n y a n g d i l i m p a h k a n Output/keluaran proses perencanaan (dekonsentrasi) ke provinsi serta tugas level ini adalah penajaman hasil yang diperbantukan (medebewijn) ke pencermatan bagian Rencana Kerja Kabupaten/Kota sesuai mekanisme dan Satuan Kerja Perangkat Daerah kriteria yang diatur dalam PP No.7 tahun (Renja-SKPD) yang dibiayai dari 2008.

APBD provinsi dan atau APBN

K e h u t a n a n d a l a m w i l a y a h Perumusan tersebut akan digunakan provinsinya masing-masing. sebagai bahan criteria penapisan usulan di proses perencanaan lingkup instansi Keluaran/output total pada level dalam Departemen Kehutanan dan perencanaan ketiga ini adalah Ikhtisar p e n a p i s a n p e n a j a m a n u s u l a n Usulan Kegiatan Anggaran Pembangunan pembangunan kehutanan dari Daerah Kehutanan di tingkat provinsi dan pada Forum Rakornis atau Rakontek Kabupaten yang bersumber APBN pada Eselon I.

setiap Eselon I Departemen Kehutanan

yang selanjutnya menjadi bagian APBN O u t p u t / k e l u a r a n p r o s e s Departemen Kehutanan dimasing-masing perencanaan level ini adalah kriteria Daerah. p r o g r a m d a n k e g i a t a n p r i o r i t a s

(9)

Argumen ranah proses top down dengan merencanakan kesalahan planning ini didasarkan pada kenyataan yang bermuara pada pemborosan tata nilai, bahwa kinerja Departemen sumberdaya yang ada dan pada Kehutanan dicerminkan dari seberapa jauh akhirnya tidak kurang mendukung optimalisasi kerangka regulasi, kerangka p e r c e p a t a n t e r w u j u d n y a pelayanan investasi dan intervensi alokasi pengelolaan sumberdaya hutan program kegiatan dan APBN Kehutanan Indonesia yang berkelanjutan yang mendukung dan menyentuh terwujudnya m e n d u k u n g s e b e s a r - b e s a r pengelolaan sumberdaya hutan Indonesia kemakmuran khususnya Rakyat di yang berkelanjutan yang mendukung dalam dan di sekitar hutan (di s e b e s a r - b e s a r k e m a k m u r a n provinsi dan Kabupaten/Kota dalam khususnyarakyat di dalam dan di sekitar N K R I ) d a n m e n d u k u n g hutan (di provinsi dan Kabupaten/Kota pembangunan lintas sektor terkait d a l a m N K R I ) d a n m e n d u k u n g pada umumnya.

pembangunan lintas sektor terkait pada

umumnya. Rekomendasi

Kesimpulan dan Rekomendasi 1. Penegasan kembali konsep ruang kerja dan road map pembangunan Mengacu pada hasil analisis 2 (dua) kehutanan yang sekaligus sebagai permasalahan yang selama ini ditengarai Sistem Pembangunan Kehutanan menjadi hambatan efektifitas proses yang utuh sebagai yang ditampilkan harmonisasi top down dan bottom up pada gambar 1 pada Bab Analisis. planning pembangunan kehutanan dapat

disimpulkan dan direkomendasikan hal-hal 2. Penegasan kembali tugas tanggung

sebagai berikut : jawab dan output pembangunan

kehutanan yang didasari oleh aspek Kesimpulan 4 ( e m p a t ) R (R u l e , R o l e ,

R e s p o n s i b i l i t y / R i s k d a n 1. Terbukti, bahwa apabila mekanisme Revenue/Benefit sharing) secara

p e r e n c a n a a n p e m b a n g u n a n proporsional sesuai ketentuan per kehutanan tetap berjalan mapan UU an yang berlaku sebagai seperti sampai dengan saat ini ditampilkan pada gambar 2 pada Bab (business as usual), maka dapat Analisis.

dipastikan forum sinkronisasi dan

koordinasi yang ada menjadi tidak 3. M u t l a k m e n j a d i k a n K o n s e p efektif (maaf ; upaya yang mubazir P e r e n c a n a a n P e m b a n g u n a n saja) dan akan menghasilkan Kehutanan sebagai Pengawal dokumen perencanaan yang tidak sekaligus Kriteria Penilaian Kinerja m e n c e r m i n k a n k e b u t u h a n d a n P e n e r a p a n I n s e n t i f d a n pembangunan kehutanan yang disInsentif pada Satker sesuai tugas sebenarnya (menjadi dokumen yang tanggung jawab dan output dalam tidak menjadi acuan) atau dengan masing-masing ranah perencanaan kata lain tetap didominasi oleh ruang baik top down maupun bottom up. k e b i j a k a n t e k n o k r a t s e m a t a ,

sedangkan ruang aspirasi tetap termarjinalisasi.

2. P e r e n c a n a a n p e m b a n g u n a n k e h u t a n a n y a n g t i d a k mempresentasikan harmonisasi top down dan bottom up planning sama

_________________

(10)

BERBAGAI DATA SEPUTAR PERUBAHAN IKLIM

Oleh : Iman Santosa Tj.

*

Konferensi para pihak (Conference of yang terkait dengan perubahan iklim. Parties/COP) ke-13 dalam rangka United Sehubungan dengan hal tersebut, berikut Nations Fremework Convention on Climate ini akan disajikan berbagai data dan Change (UNFCCC) yang berlangsung di informasi yang terkait dengan perubahan Bali tanggal 3-14 Desember 2007 telah iklim, beberapa diantaranya disertai lama usai. Konferensi sedunia yang konon dengan sumber data dan ulasan d i h a d i r i o l e h 1 0 . 0 0 0 o r a n g d a n ringkasnya.

menghabiskan biaya APBN sebesar Rp.

115 miliar telah menghasilkan apa yang Gas Rumah Kaca (GRK) disebut Bali Road Map (Peta Jalan Bali),

yaitu suatu rancangan kesepakatan yang Gas Rumah Kaca merupakan gas-akan menjadi jalan untuk mencapai gas di atmosfir yang memiliki kemampuan konsensus baru pada tahun 2009 sebagai menyerap radiasi gelombang panjang pengganti Protokol Kyoto yang akan sinar matahari yang dipantulkan bumi berakhir pada tahun 2012. sehingga menimbulkan pemanasan atau peningkatan suhu bumi. Menurut Beberapa hal yang telah disepakati UNFCCC yang tertuang dalam Pasal 3 dalam Peta Jalan Bali tersebut antara lain : Protokol Kyoto, saat ini disepakati ada 6 gas rumah kaca utama, yaitu : Karbon 1. Negara-negara maju mendukung doiksida (CO ), Metana (CH ), Dinitrogen

2 4

peningkatan kapasitas, menyediakan Oksida (N O), Hidrofluorokarbon (HFCs), 2

bantuan teknis, memfasilitasi alih Perfluorokarbon (PFCs) dan Sulphur teknologi untuk meningkatkan, hexafluorida (SFs). Berbagai sumber diantaranya, pengumpulan data, GRK dan kontribusinya terhadap emisi estimasi emisi, monitoring dan global dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah pelaporan, serta melaksanakan ini.

demonstration activity (pilot project), 2. D i a k o m o d i r n y a d e f o r e s t a s i ,

degradasi dan konservasi serta sustainable management of forest dan referensi, sertifikasinya (CER = Certified Emission Reductions)

Mengingat isu perubahan iklim masih akan terus menjadi isu yang sangat strategis di masa yang akan datang, maka semua pihak perlu lebih memahami hal-hal

Tabel 1. Sumber GRK dan kontribusinya terhadap emisi global

(11)

P e r u b a h a n P e n u t u p a n H u t a n / International - menunjukkan angka Deforestasi Dan Potesi Penyerapan yang lebih tinggi. Selain itu angka

Karbon maksimum penelitian Page 13 kali

lipat angka minimum sehingga rata-Deforestasi merupakan perubahan ratanya terlalu besar biasnya.

kondisi penutupan hutan menjadi bukan 3. E s t i m a s i W e t l a n d h a n y a hutan, yang dapat terjadi karena memasukkan faktor kebakaran perubahan untuk perkebunan, pertanian, hutan tanpa memperhitungkan daya pemukiman, pertambangan dan prasarana serap karbon oleh hutan saat tidak wilayah. Berdasarkan hasil perhitungan terjadi kebakaran. Asumsi yang dengan menggunakan Citra SPOT digunakan juga mengandaikan Vegetation yang mempunyai resolusi seluruh hasil pembakaran hanya 1.000 meter, laju deforestasi di tujuh pulau berupa CO 2

besar, yaitu Sumatera, Kalimantan, 4. Berdasarkan data yang diperoleh Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa serta Bali dari satelit Badan Antariksa Eropa dan Nusa Tenggara, pada periode 2000- (ESA/European Space Agency), 2005 rata-rata sebesar 1,09 juta hektar. k o n d i s i k e b a k a r a n t e r p a r a h Berdasarkan perhitungan, potensi Indonesia tahun 1997 dan 2006 penyerapan karbon oleh hutan alam ialah ternyata tidak lebih parah dari sebesar 200-300 ton/hektar, sedanglan kebakaran di Brasil dan beberapa huutan tanaman berpotensi menyerap negara Afrika.

karbon sebesar 100 - 150 ton/hektar. 5. B e r d a s a r k a n p e n g a m a t a n k o n s e n t r a s i C O d i s t a s i u n 2 Negara Pengemisi Karbon : meteorologi di Koto Tabang - Bukit

Indonesia No. 3 (?) Tinggi yang merupakan stasiun

standar resmi World Meteorology Data ini merupakan data yang paling O r g a n i z a t i o n ( W M O ) , kontroversial dan banyak dipertanyakan konsentrasinya lebih rendah dari oleh berbagai pihak di Indonesia. Menurut Mauna Loa Hawaii. Kondisi yang Wetland International (dan IPCC?), sama terjadi pada penelitian empat Indonesia menduduki peringkat ketiga tahun terakhir. Tahun 2006 terjadi setelah Amerika Serikat dan Cina dalam kebakaran hutan yang cukup hebat. mengemisi CO . Namun demikian menurut 2

Meneg LH, IPCC tidak bisa menunjukkan Berdasarkan berbagai faktor di atas, berapa besar emisi dari kebakaran hutan tampaknya pemeringkatan ini patut diberi dan lahan di Indonesia dan dimana saja. tanda tanya besar, sehingga tidak merupakan data yang sesat dan Beberapa pakar iklim di Indonesia menyesatkan.

mengatakan ada beberapa kelemahan

penilaian tersebut, antara lain : Emisi CO per Kapita 2

1. P e r h i t u n g a n t e r s e b u t h a n y a didasarkan pada kebakaran lahan gambut tahun 1997, sedangkan untuk tahun berikutnya belum ada perhitungan yang lengkap,

2. Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar iklim lain (Duncan, Levin, Heil, Aldrian dll) pada tahun 1997, angka hasil penelitian yang digunakan oleh Page - yang digunakan oleh Wetland

(12)

Dari Tabel 2 tersebut di bawah, terlihat bahwa kenaikan tertinggi baik secara absolut maupun relatif ialah AS, yaitu sebesar 11,3 ton per kapita. Besaran ini diikuti oleh Kanada dengan besaran 5, 0 ton per kapita. Beberapa negara yang turun emisi karbonnya per kapita adalah Federasi Rusia, Inggris dan Perancis,

sedangkan negara-negara yang relatif P e r i n g k a t K e r e n t a n a n N e g a r a tetap adalah Tanzania dan Ethiopia. Terhadap Perubahan Iklim

Kinerja Perubahan Iklim

Penilaian Indeks Kinerja Perubahan Iklim dilakukan setiap tahun oleh German Watch, suatu LSM independen yang bersifat nirlaba dan Climate Action Network (CAN), suatu jaringan internasional yang terdiri lebih dari 365 NGO di seluruh dunia yang bekerja untuk mempromosikan kegiatan, baik individu maupun pemerintah untuk membatasi perubahan iklim yang disebabkan manusia sampai kepada batas yang berkelanjutan secara ekologis.

Forestry Eleven (F-11)

cukup baik di bidang kebijakan dan tingkat emisi tetapi agak mengkhawatirkan dalam hal kecenderungan emisi.

P a d a t a h u n l a l u , I n d o n e s i a menduduki peringkat 43 dari 56 negara atau termasuk buruk.

Tabel 2. Daftar Negara Pengemisi Co 2 Dalam konteks kerentanan terhadap per Kapita Tahun 1990 dan resiko perubahan iklim, menurut LSM

2004 German Watch, Indonesia menduduki

peringkat ketiga di dunia. Penetapan peringkat dilakukan dengan ukuran peristiwa bencana alam terkait perubahan iklim yang terjadi sepanjang tahun 2006. Peringkat ini disusun dalam suatu indeks yang disebut Indeks Resiko Perubahan Iklim (CRI). Berdasarkan indeks tersebut, peringkat pertama diduduki oleh Filipina, disusul oleh Korea Selatan dan Indonesia. Peringkat Indonesia naik dari tahun 2005 yaitu di peringkat ke 39.

Ada empat indikator yang digunakan, yaitu total jumlah korban tewas, kematian per 100.000 penduduk, kehilangan absolut dalam kemampuan membeli dalam juta dolar AS dan kehilangan per persentase GDP.

Dalam pemetaan yang lebih luas, yaitu dengan berpatokan pada data sepanjang tahun 1997 sampai 2006, Indonesia tidak termasuk ke dalam daftar 10 besar negara paling beresiko terhadap perubahan iklim.

Indeks Kinerja Perubahan Iklim merupakan gabungan penilaian dari

Forestry Eleven merupakan forum kecenderungan emisi di suatu negara

dari 11 negara pemilik hutan tropis atau dengan orientasi utama pada sektor

negara-negara pemilik hutan yang terletak energi, transportasi, perumahan dan

0 0

diantara 10 Lintang Utara dan 10 industri (50 % dari penilaian), tingkat emisi

saat ini menurut IPCC (30 %) dan Lintang Selatan. Sebelumnya forum ini kebijakan-kebijakan di bidang iklim (20 %). hanya beranggotakan 8 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Kolombia. Papua Berdasarkan kriteria tersebut Nugini, Kamerun, Gabon, Kongo dan Indonesia tahun ini menduduki peringkat Kosta Rika. Pada bulan Spetember 2007, ke 15 dari 56 negara yang dinilai. Indonesia bergabung tiga negara lain, yaitu Peru, yang mendapat nilai 57,6 dan dianggap Republik Demokratik Kongo dan Brasil.

No Negara Emisi CO (ton per kapita)2

(13)

Salah satu tujuan pembentukan Tabel 4. Potensi penyerapan CO oleh 2 forum ini ialah untuk konsolidasi dalam laut.

rangka memperkuat peranan sumberdaya hutan sebagai salah satu alat untuk m e n g u r a n g i p e m a n a s a n g l o b a l . Pembentukan F-11 merupakan inisiatif Presiden SBY, yang dibentuk berdasarkan fakta bahwa 25% total Gas Rumah Kaca global berasal dari deforestasi dan degradasi. Dengan mencegah kerusakan

hutan di negara yang tergabung dalam F- Kebutuhan dan Bantuan Pendanaan

11 emisi GRK akan berkurang banyak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Berdasarkan data Global Forest p i d a t o n y a d i P e r t e m u a n K o m i t e Resources Assessment (FRA) yang P e n g e m b a n g a n B a n k D u n i a d i dikeluarkan FAO (2005) luas hutan tropis di Washington 18 Oktober 2007 menyatakan negara-negara yang tergabung dalam F-11 bahwa dalam 23 tahun ke depan biaya adalah sebagai tercantum dalam tabel 3 di yang disebabkan perubahan iklim global

bawah ini. mencapai 200 miliar USD atau sekitar Rp.

1.800 triliun per tahun dan separuhnya dibebankan kepada negara-negara Tabel 3. Luas hutan negara-negara yang berkembang termasuk Indonesia.

tergabung dalam F-11

Dalam kerangka COP 13, Amerika Serikat telah sepakat untuk melakukan pemotongan hutang luar negeri Indonesia ke AS sebesar 19,6 juta USD atau sekitar Rp. 18,6 milyar melalui mekanisme Debt for Nature Swap (DNS), yaitu pengalihan dana yang awalnya untuk membayar pinjaman ke biaya konservasi hutan. Namun demikian pemotongan utang itu baru berlaku jika pemerintah atau pihak ketiga, misalnya LSM menyediakan dana sebesar 20% dari hutang yang akan dipotong.

Potensi Laut Dalam Penyerapan Karbon Beberapa negara lain yang telah

Dioksida berkomitmen untuk membantu Indonesia

dalam menghadapi perubahan iklim P e m a n a s a n g l o b a l d a p a t antara lain Australia, Inggris dan Jerman. memusnahkan terumbu karang. Selain itu

dapat mengancam ketahan pangan dari Emisi Gas Rumah Kaca Dari Sektor

sumber perikanan laut. Pertanian

Beberapa aspek kelautan yang terdiri Menurut perhitungan Departemen dari terumbu karang, mangrove, padang Pertanian, besarnya emisi GRK dari sektor lamun dan sebaran klorofil ternyata pertanian pada tahun 2005 sebesar 96,42 memegang peranan yang penting dalam juta ton CO eq. Dari jumlah tersebut, 2 penyerapan CO . Potensi penyerapan 2 sebagian besar (62%) berasal dari CO dari berbagai aspek kelautan tersebut 2 k e g i a t a n b u d i d a y a p a d i s a w a h dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini. sebagaimana dapat dilihat pada tabel 5

(14)

Tabel 5. Emisi Gas Rumah Kaca dari budidaya kelapa sawit di Indonesia sektor pertanian menciptakan nilai sebesar 114 USD per hektar atau hanya sekitar 2 persen dari nilai karbon di dalamnya. Pohon yang tadinya tumbuh di suatu areal tetapi kemudian ditebang, dibakar dan dibiarkan membusuk mengeluarkan CO ke atmosfir 2 sebesar 500 ton per hektar. berbagai penyakit lainnya yang terkait banjir. Di sisi lain, musim kemarau Tabel 6. Potensi penyerapan CO oleh 2 panjang menyebabkan menipisnya tanaman kelapa sawit, karet dan persediaan air bersih dan memudahkan

tebu penularan penyakit diare, kolera dan

penyakit-penyakit saluran pencernaan lainnya. Penyebaran penyakit akibat perubahan iklim ini tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara-negara maju. Hanya ironisnya, negara-negara b e r k e m b a n g y a n g l e b i h s e d i k i t kontribusinya terhadap pemanasan global, justru merupakan pihak yang Direktorat Jenderal Perkebunan juga paling banyak dan sering menderita. menyebutkan bahwa potensi penyerapan

Gas Rumah Kaca oleh tanaman kelapa Jika suhu meningkat tiga derajat sawit ialah sebesar 66 ton CO eq. per 2 Celcius, diperkirakan kasus penularan hektar setiap tahunnya. Berdasarkan penyakit melalui nyamuk meningkat dua Human Development Report 2007 yang kali lipat. Selain itu, menurut seorang guru secara khusus menyoroti masalah besar dari Universitas Indonesia (UI), Prof. tanaman sawit, menyebutkan bahwa Umar Fahmi Achmadi, peningkatan suhu

Potensi Penyerapan CO Beberapa 2

Komoditas Perkebunan

Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian mengeluarkan data yang terkait dengan penyerapan CO oleh 2 berbagai komoditas perkebunan seperti tercantum dalam tabel 6 dan tabel 7 di bawah ini.

No Kegiatan Pertanian (juta ton CO eq.)Emisi GRK

2

5 Pembakaran sisa pertanian (jerami padi, jagung, tebu dll)

7,932

J u m l a h 96,420

Sumber : RAN dalam Menghadapi Perubahan Iklim (2007)

Jenis

2 Cokelat 1.167 1.778 93,36 142,24 12,60 19,20 80,76 123,04

Ket. : n.a = Data tak tersedia (not available) Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan

(15)

bumi dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mendinginkan tubuh dan meningkatkan kasus asma serta penyakit kulit.

Penutup

dan surut di beberapa Daerah Aliran Sungai.

Semakin tinggi naiknya permukaan air laut, akan semakin banyak daratan b. Keanekaragaman hayati yang akan tergenang bahkan tenggelam

dan semakin banyak pula populasi Bahkan ada yang memperkirakan manusia yang akan terkena dampaknya, dalam 100 tahun mendatang 80% species sebagaimana tergambar dalam tabel 8 di flora dan fauna di seluruh dunia akan bawah ini.

musnah.

Tabel 8. Perkiraan areal yang tergenang

c. Pertanian dan populasi manusia yang

terkena dampaknya akibat Laporan UNEP menyebutkan bahwa naiknya permukaan air laut. setiap kenaikan suhu sebesar 2 derajat

Celcius, antara lain akan menurunkan produksi pertanian sebesar 30% di Cina dan Bangladesh pada tahun 2050.

d. Naiknya permukaan air laut

Menurut data yang dikeluarkan oleh IPCC yang melibatkan 2.500 ahli dan 800 penulis ilmiah, telah terjadi pengurangan jumlah es dan salju di permukaan bumi. Pengurangan tersebut telah berkontribusi naiknya permukaan air laut yang mencapai 1,2 mm per tahun pada periode

1993-2003. Di wilayah arktik, tutupan es Untuk menghadapi perubahan iklim, berkurang sebesar 2,7 persen per dekade. pemerintah Indonesia telah menyusun Dampak pemanasan global di Indonesia R e n c a n a A k s i N a s i o n a l d a l a m akibat naiknya permukaan air laut antara Menghadapi Perubahan Iklim (RAN MAPI)

lain : yang dikoordinasikan oleh Kementerian

Lingkungan Hidup. Untuk kegiatan sektor a. Banyak pulau kecil akan hilang kehutanan dengan kerangka waktu 2007

Ratusan pulau kecil di Indoensia s/d 2050 rencana aksi yang telah disusun t e r a n c a m t e r e n d a m a k i b a t terdiri dari :

mencairnya gumpalan es di kutub

utara dan kutub selatan. Mencairnya a. Penurunan Emisi Dan Peningkatan gumpalan es tersebut diperkirakan Kapasitas Penyerapan Karbon akan terjadai pada abad ini jika tidak b. Penerapan mekanisme insentif ada upaya pencegahannya. c. Kebijakan pendukung

b. Garis pantai akan mundur lebih dari

60 cm ke arah darat, nelayan akan Untuk mengimplementasikan RAN terancam kehilangan tempat tinggal. MAPI tersebut, sedang disiapkan c. Intrusi/perembesan air laut akan pembentukan Komisi Nasional untuk semakin meluas. Menghadapi Perubahan Iklim, walaupun d. Sifat biofisik dan biokimia di zona beberapa pihak meragukan efektifitasnya.

pesisir akan berubah.

e. Ekosistem hutan bakau akan rusak. __________

* Penulis Staf Senior Kehutanan Pusat Wilayah f. Terjadi perbedaan tingkat air pasang

Pengelolaan Kawasan Hutan

Sumber : US Geological Survey, The World Bank

(16)

PENGUATAN KELEMBAGAAN

MASYARAKAT SEKITAR HUTAN

DAN PERAN PENYULUH KEHUTANAN

DALAM PENYIAPAN HUTAN TANAMAN RAKYAT

*

Oleh : Suwignya Utama

Pendahuluan hutan tanaman rakyat yang dibangun oleh

BUMN atau BUMS dan selanjutnya Untuk menunjang keberhasilan diserahkan oleh pemerintah kepada program Hutan Tanaman Rakyat (HTR) kepala keluarga pemohon ijin usaha dan pada tahun ini, Departemen Kehutanan b i a y a p e m b a n g u n a n n y a m e n j a d i mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,6 tanggung jawab pemegang ijin usaha dan triliun untuk pembangunan hutan tanaman dikembalikan secara mengangsur.

rakyat. Dana ini nantinya diberikan kepada

9 5 r i b u K K y a n g d i t u n j u k u n t u k Aktor utama atau subyek yang mengembangkan HTR itu. Setiap KK melakukan program HTR tersebut maksimal akan mengelola lahan seluas 15 sebenarnya adalah masyarakat setempat. ha. Pengembangan HTR tersebut pada Yaitu masyarakat yang tinggal di dalam tahun ini akan dilakukan di delapan dan atau di sekitar hutan, sebagai provinsi yaitu Sumatera Utara, Riau, kesatuan komunitas sosial, yang mata Sumatera Barat, Sumatera Selatan, pencaharian utamanya bergantung pada Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, sumberdaya hutan. Sesuai ketentuannya Kalimantan Timur, dan Kalimantan p e m o h o n i j i n u s a h a p e r o r a n g a n Selatan. Departemen Kehutanan tahun ini diutamakan untuk membentuk kelompok mencadangkan areal seluas 1,4 juta agar memudahkan pelayanan dalam hektar. Sampai tahun 2010, akan proses permohonan izin. Pembentukan dicadangkan total areal sekitar 5,4 juta kelompok ini diarahkan untuk difasilitasi hektar untuk 360 ribu KK. oleh penyuluh kehutanan.

Hutan tanaman rakyat dalam hal ini Agar masyarakat setempat bisa adalah hutan tanaman pada hutan menjadi pelaku utama dan pengelola produksi yang dibangun oleh perorangan hutan tanaman rakyat tersebut secara atau koperasi untuk meningkatkan potensi optimal, maka perlu didukung oleh suatu dan kualitas hutan produksi dengan kelembagaan masyarakat yang kuat. menerapkan silvikultur dalam rangka Kelembagaan masyarakat yang kuat tentu menjamin kelestarian sumber daya hutan. tidak bisa dengan sendirinya terwujud. HTR ini akan dibangun dengan tiga pola Diperlukan fasilitator sebagai suatu agen yaitu pola mandiri, pola kemitraan dan pola p e r u b a h a n u n t u k m e m p e r k u a t developer. HTR pola mandiri yaitu hutan kelembagaan petani tersebut. Dan sesuai tanaman rakyat yang dibangun oleh kepala dengan tugas dan fungsinya maka salah keluarga sebagai pemegang ijin usaha. satu agen perubahan yaitu penyuluh

HTR pola kemitraan yaitu hutan tanaman kehutanan harus mampu menampilkan rakyat yang dibangun oleh kepala keluarga perannya tersebut secara efektif.

pemegang ijin usaha bersama dengan

(17)

Sedangkan kelembagaan petani jiwa kelembagaan itu yaitu nilai, norma yang kuat tersebut sangat dipengaruhi oleh dan aturan. Sedangkan aspek struktural efektivitas peran penyuluh kehutanan berupa sesuatu yang lebih bisa dilihat dan dalam penguatan kelembagaan petani. statis misalnya struktur, penetapan peran, Dua proposisi inilah yang penulis ajukan tujuan dan keanggotaan.

sebagai pokok bahasan dalam tulisan ini.

Permasalahan selanjutnya strategi apa D a l a m k o n t e k s t u l i s a n i n i , saja harus diambil agar penyuluh kelembagaan petani yang bermukim di kehutanan mampu melakukan penguatan dalam dan di sekitar hutan bisa dimaknai kelembagaan petani secara tepat dalam dari dua aspek tersebut. Aspek pertama penyiapan HTR. yaitu nilai, norma dan aturan yang telah berkembang. Aspek berikutnya yaitu Oleh karenanya tulisan ini akan struktur organisasi kelompok, tujuan, m e n g u l a s p e n t i n g n y a p e n g u a t a n keanggotaan, pembagian tugas dan lain-kelembagaan tersebut sebagai persiapan lain.

pembangunan HTR, peran penyuluh

kehutanan dan strategi mengefektifkan Pembangunan HTR kalau dilihat dari peran penyuluh dalam memperkuat paradigma pembangunan kehutanan kelembagaan masyarakat setempat. yang berkembang selama ini, sebenarnya berakar dari landasan pemikiran

Penguatan Kelembagaan Masyarakat “pembangunan kehutanan konvensional”.

Setempat Paradigma konvensional yang biasa

dikenal dengan “state-based” atau Konsep kelembagaan biasanya “e c o n o m i c - b a s e d” , m e n e k a n k a n dipahami secara luas dan kadang kegiatan ekonomi berbasis kayu pada membingungkan. Istilah kelembagaan lahan milik negara. Sehingga pasokan sering dipertukarkan penggunaannya kayu pada industri perkayuan menjadi d e n g a n i s t i l a h o r g a n i s a s i . I s t i l a h t u j u a n u t a m a . N a m u n d e m i k i a n kelembagaan (sosial) berasal dari kata pembangunan HTR juga dimaksudkan “social institution” sedangkan istilah untuk memberikan akses bagi masyarakat o r g a n i s a s i b e r a s a l d a r i “s o c i a l lokal terhadap pemanfaatan lahan, organization”. Menurut Uphoff (1986) terhadap permodalan dan terhadap pasar kelembagaan merupakan jalinan norma- hasilnya. Program HTR juga menjadikan norma dan perilaku-perilaku yang masyarakat lokal sebagai aktor utama kompleks yang telah berlangsung secara pengelolaan hutan. Dengan demikian stabil dalam kurun waktu lama dalam maka paradigma kehutanan sosial masyarakat untuk berbagai tujuan kolektif. mestinya harus dipergunakan sebagai Syahyuti (2006) menekankan bahwa landasan berpikir dalam melahirkan kelembagaan merupakan pemantapan kebijakan tersebut. Yang menjadi soal perilaku yang hidup pada sekelompok adalah sejauh mana keefektifan landasan orang. Merupakan sesuatu yang stabil, pemikiran kehutanan sosial ini bisa mantap dan berpola dan berfungsi untuk diadopsi dalam pelaksanaan program tujuan tertentu dalam masyarakat. Orang- HTR ke depan. Diantaranya adalah orang yang terlibat di dalamnya memiliki sejauh mana bisa tercapai pemberdayaan pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan dan penguatan masyarakat lokal yang norma yang sudah disepakati yang sesungguhnya. Hal ini karena dalam sifatnya khas. konteks kehutanan sosial, masyarakat lokal menjadi pelaku utama dengan Secara umum terdapat dua aspek kelembagaan lokal yang mantap, dan dalam kelembagaan yaitu aspek kultural memiliki otonomi dalam mengelola dan aspek struktural. Aspek kultural sumberdaya.

(18)

K e m a n d i r i a n k e l e m b a g a a n akan bisa mencapai skala ekonomi yang masyarakat lokal dalam mengelola diharapkan. Sehingga memudahkan sumberdaya alam hutan sudah banyak dalam aspek perencanaan, penanaman, contoh-contohnya di Indonesia, misalnya pemeliharaan, maupun pemanenan dan pengelolaan repong damar di Krui, pemasarannya. Dari aspek ekonomi pengelolaan HKM di Sesaot dan lain- usaha, dengan luasan tertentu akan lainnya. Oleh karena itu dalam kerangka berdampak kepada pengelolaan dan p e m b a n g u n a n H T R , m e m b a n g u n p e m a s a r a n h a s i l n y a . D e n g a n kelembagaan lokal yang kuat dalam berkelompok juga petani akan saling bisa mengelola hutan tanaman semestinya belajar satu sama lain dalam berbagai memperoleh perhatian yang serius. aspek. Berbagai permasalahan akan bisa didiskusikan bersama untuk mencari Penguatan kelembagaan petani yang solusinya. Dengan berkelompok juga bisa notabene masyarakat yang tinggal di saling bekerjasama dan memperkuat dalam dan di sekitar hutan dalam kerangka posisi tawar mereka dengan pihak lain. pembangunan HTR menjadi sangat

penting. Hal ini karena bisa ditinjau dari Berdasarkan pengalaman empiris beberapa alasan baik secara normatif, pembangunan hutan tanaman yang secara pengalaman empiris maupun melibatkan masyarakat setempat, paradigmatis. ternyata kelembagaan berupa

kelompok-kelompok ini sudah berjalan dan memang Secara normatif berarti bahwa diperlukan.

memang aturan mengenai HTR tersebut

menghendaki adanya kelompok-kelompok Menurut catatan APHI (2007), hutan petani sebagai entitas yang akan tanaman pola kemitraan di PT Wira Karya memperoleh ijin usaha pemanfaatan. S a k t i d i p r o v i n s i J a m b i t e l a h Dengan demikian petani akan berperan dikembangkan sejak tahun 1997 dengan sebagai aktor utama yang mengelola melibatkan 78 kelompok (7.554 anggota) hutan tanaman tersebut. Walaupun dengan areal mencapai 12.065 ha. sebenarnya secara perorangan (kepala Demikian pula PT RAPP di provinsi Riau keluarga) bisa memperoleh ijin usaha yang mengembangakn hutan tanaman tersebut, namun untuk kemudahan dalam bersama masyarakat seluas 23.000 ha pelayanan diperlukan adanya kelompok. dan melibatkan sekitar 4.600 KK. Sehingga dari segi peraturan yang ada, Berdasarkan beberapa pengalaman masyarakat setempat didorong untuk t e r s e b u t m e n u n j u k k a n b a h w a m e m b e n t u k k e l o m p o k - k e l o m p o k . pengembangan kelompok masyarakat Pentingnya kelompok sebagai bentuk setempat dalam pengelolaan hutan kelembagaan petani paling tidak karena tanaman memang harus dilakukan.

kelompok memiliki potensi dari tiga hal

yaitu : Secara paradigmatis, penguatan

kelembagaan masyarakat setempat tidak 1. sebagai suatu unit produksi hutan lepas dari masyarakat sebagai subyek

tanaman sehingga mencapai skala yang akan mengelola hutan tanaman. ekonomi yang menguntungkan

(19)

D a r i b e b e r a p a p r i n s i p y a n g m a u p u n d a r i a s p e k s o s i a l n y a . melandasi paradigma kehutanan sosial ini, Pembangunan hutan tanaman rakyat maka aspek penguatan masyarakat lokal yang menjadikan masyarakat setempat kiranya menjadi suatu hal yang mesti sebagai aktor pengelola utama dalam dilaksanakan. Penguatan kelembagaan kegiatan tersebut, tentunya juga masyarakat setempat ini berarti juga memerlukan kelembagaan masyarakat p e n g a k u a n t e r h a d a p k e b e r a d a a n setempat yang kuat.

kelembagaan yang saat ini ada, dan

upaya-upaya penguatannya sesuai Kelembagaan masyarakat ini dengan tujuan pembangunan HTR ke digerakkan oleh unsur-unsurnya, para depan. Masyarakat setempat sebagai anggotanya dan para pemimpin lokalnya. aktor utama, berarti juga menempatkan Berarti kapasitas masyarakat lokal perlu masyarakat pengelola sumberdaya hutan ditingkatkan dengan berbagai upaya secara sejajar dengan institusi perusahaan d i a n t a r a n y a m e l a l u i p e n d e k a t a n swasta kehutanan yang menjadi mitranya. penyuluhan. Pendekatan penyuluhan sebagai suatu sistem pendidikan bagi Kelembagaan masyarakat lokal para petani dimaksudkan agar mereka dalam pengelolaan sumberdaya hutan menjadi lebih tahu, lebih mampu dan mau yang sustainable baik dari segi ekonomi, melaksanakan suatu inovasi dalam dari segi ekologi dan dari segi sosial r a n g k a m e m p e r b a i k i k u a l i t a s memiliki beberapa ciri. Pertama, mereka kehidupannya. Disinilah peran “agent of memiliki aturan-aturan yang disepakati change” yang harus mendampingi dan bersama dan dihormati di lingkungan memfasilitasi masyarakat setempat agar masyarakat setempat itu. Aturan-aturan mereka memiliki pengetahuan yang tersebut juga termasuk norma-norma yang memadai, memiliki sikap yang positif dan tidak tertulis tetapi hidup di kalangan memiliki kemampuan yang tinggi dalam mereka. Mereka juga memiliki wadah atau rangka melakukan pengelolaan hutan k e l o m p o k - k e l o m p o k d e n g a n tanaman. Dan agen perubahan tersebut kepemimpinan lokal yang dihormati oleh b i s a s a j a t e n a g a L S M s e b a g a i para anggotanya. Kelembagaan mereka pendamping, para pemimpin komunitas juga berangkat dari adanya kebutuhan lokal, atau tenaga penyuluh kehutanan yang mereka rumuskan bersama. Misalnya yang bekerja pada Dinas-dinas yang pengelolaan sumberdaya hutan itu mereka menangani kehutanan di Kabupaten. Oleh lakukan untuk memenuhi kebutuhan- karena itu perlu diulas kembali apa kebutuhan masyarakat lokal tersebut atau sebenarnya peran penyuluh kehutanan ke untuk menangkal ancaman kerusakan depan dikaitkan dengan program HTR ini. sumberdaya alam dari pihak luar. Dan yang

tidak kalah penting, mereka memiliki Peran Penyuluh Kehutanan

otonomi tertentu dalam melakukan

pengelolaan sumberdaya itu, termasuk D e n g a n s e m a k i n p e s a t n y a beberapa kearifan lokal yang hidup dan perkembangan pembangunan di dunia

membudaya. ketiga, dan semakin menguatnya desakan

(20)

Pergeseran paradigma penyuluhan sesuai dengan tantangan dan kondisi kehutanan memerlukan penyesuaian pembangunan ke depan. Oleh karena itu beberapa peran penyuluhan bisa kembali peran-peran penyuluh kehutanan

dirumuskan untuk membantu anggota saat ini. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari

komunitas pedesaan mengorganisir pandangan Black (2000) yang melihat

dirinya, dan difokuskan menjadi empat pendekatan penyuluhan kehutanan dalam

peran yaitu sebagai berikut : empat spektrum tergantung kepada

perkembangan ketrampilan dari sasaran

1. Peran pemberdayaan

dan perkembangan kompleksitas dari s i t u a s i / l i n g k u n g a n p e n y u l u h a n .

Peran pemberdayaan terhadap Pendekatan yang digunakan dari level

petani sasaran merupakan pendekatan yang lebih rendah yaitu :

baru dari penyuluhan. Penyuluh perlu mengembangkan landasan filosofis yang 1. ransfer teknologi (technology

baru dimana peran mereka adalah untuk transfer)

m e m b a n t u p e t a n i d a n p e n d u d u k 2. pemecahan masalah (problem

pedesaan mengorganisir dirinya dan solving)

mengambil tanggungjawab terhadap 3. pendidikan (education)

pertumbuhan dan pengembangannya. 4. p e n g e m b a n g a n s u m b e r d a y a

manusia (human development). Makna pemberdayaan berarti menjadikan mereka mampu agar mereka mempunyai J a d i d e n g a n s e m a k i n b e r - inisiatif. Bagi para penyuluh di pedesaan, kembangnya keterampilan petani dan m e m b e r d a y a k a n a d a l a h t i n d a k a n semakin kompleksnya permasalahan membantu komunitas untuk membentuk, petani maka pendekatan yang digunakan mengembangkan, dan meningkatkan dalam penyuluhan harus ke arah daya dan kemampuannya melalui pemberdayaan petani dan kelompok tani kerjasama, berbagi dan bekerja bersama. sehingga mereka bisa mencapai tujuan Kekuatan dari pemberdayaan datang dari yang diharapkan. lepasnya energi laten yang tersembunyi dalam diri anggota komunitas dan Menurut Chamala dan Singi (1997), m e m b a n g u n a k s i k o l e k t i f u n t u k penyuluhan pada masa lalu lebih kesejahteraan bersama. Pemberdayaan menekankan kepada transfer teknologi, bukan hanya sekedar mendistribusikan d i m a n a p e n y u l u h d i p e d e s a a n daya dan kekuatan dari pihak yang menyampaikan teknologi dari stasiun berpunya kepada pihak yang lemah. penelitian kepada para petani dengan

menggunakan pendekatan individu, 2. P e r a n p e n g o r g a n i s a s i a n

kelompok dan metode media massa. masyarakat lokal

Kemudian penyuluhan berkembang

menjadi peran sebagai pengembangan Tenaga penyuluh di pedesaan harus teknologi, dengan menjadi jembatan belajar prinsip-prinsip pengorganisasian penghubung antara riset/penelitian komunitas dan keterampilan manajemen dengan kebutuhan kelompok komunitas kelompok agar supaya bisa membantu sasaran dan membantu memfasilitasi komunitas terutama golongan miskin pengembangan teknologi yang sesuai. untuk mengorganisasikan dirinya dalam pembangunan. Pemahaman tentang Paradigma baru peran penyuluh struktur, norma-norma, aturan dan peran kehutanan dalam pemberdayaan petani dalam kelompok akan membantu tidak terlepas dari adanya kelompok p e m i m p i n k e l o m p o k u n t u k m e -petani. Namun demikian penyuluh di rencanakan, menerapkan dan memonitor lapangan kurang memiliki kapasitas dalam program-program.

(21)

3. Peran pengembangan sumber Memang diakui dalam kurun waktu

daya manusia sampai saat ini telah tercapai kesadaran

masyarakat dalam melakukan upaya-Pendekatan pengembangan sumber upaya konservasi tanah, dan upaya-daya manusia akan memberupaya-dayakan upaya penanaman pohon pada lahan-masyarakat sasaran dan memberikan lahan mereka. Namun di satu sisi, makna baru atas peran-peran yang lain. pendekatan demikian menimbulkan efek Pengembangan kapasitas teknis harus negatif berupa ketergantungan petani dikombinasikan dengan kapasitas terhadap penyuluh/petugas kehutanan. m a n a j e r i a l . F i l o s o f i d a s a r d a r i Persepsi negatif kadang masih muncul pengembangan kapasitas manusia adalah bahwa kedatangan petugas diharapkan untuk mendorong komunitas pedesaan membawa bantuan buat mereka. untuk memahami gaya individu dan gaya Ketergantungan inilah yang sebenarnya kelompoknya dalam mengorganisir dirinya kontaproduktif dengan tujuan penyuluhan untuk meningkatkan keterampilan dalam itu sendiri yang mestinya menciptakan perencanaan, penerapan dan monitoring. kemandirian dan keberdayaan petani. Dari persoalan ini muncul beberapa

4. Peran pemecahan masalah dan indikasi dimana kelompok-kelompok yang

pendidikan telah dibentuk pada akhirnya tidak menuju

kemandirian, tetapi tetap berada pada Pemecahan masalah adalah peran kondisi ketergantungan. Sebagai yang penting, namun peran ini sedang ilustrasi, dalam catatan Sudiana (2006), berubah dari menyediakan pemecahan dari 583 kelompok tani hutan rakyat di masalah teknis menjadi peran untuk Kabupaten Ciamis baru terdapat 6 memberdayakan organisasi petani dalam kelompok (1,03%) yang termasuk dalam memecahkan permasalahan mereka kategori “utama” atau bisa dikatakan sendiri. Hal ini bisa dicapai dengan memiliki kemandirian tinggi. Berdasarkan membantu mereka untuk mengenali penelusuran kelompok-kelompok tersebut permasalahan dan menemukan jawaban sebetulnya ada yang telah dibentuk pada yang tepat dengan melakukan kombinasi tahun 1980-an berdasarkan keperluan antara pengetahuan lokal dengan kegiatan proyek pada waktu itu. Dengan teknologi yang ada dengan memanfaatkan demikian kemandirian kelompok yang sumber daya mereka secara tepat. d i b e n t u k o l e h p e n y u l u h y a n g Disamping itu, terdapat pergeseran dalam menggunakan paradigma lama tersebut peran pendidikan dari pendekatan kuliah, cenderung kurang mendorong kepada seminar, dan pelatihan menjadi belajar kemandirian kelompok yang tinggi. sambil bekerja dan mendorong petani dan Kondisi demikian mengindikasikan bahwa organisasi petani untuk melakukan uji coba peran penyuluh kehutanan dalam dan melaksanakan proses belajar sambil pengorganisasian masyarakat petani

bekerja. belum menunjukkan hasil yang efektif

setelah lebih dari 25 tahun pelaksanaan penyuluhan kehutanan.

Pendekatan penyuluhan kehutanan

(22)

Peran baru ini membutuhkan Kehutanan di provinsi dan Departemen perubahan landasan berpikir yang cukup Kehutanan sendiri.

mendasar. Karena masyarakat setempat

y a n g m e n j a d i s u b y e k d i p e r l u k a n Kerangka pemikiran yang dibangun kesejajaran posisi dalam proses belajar berawal dari masyarakat lokal yang akan mereka bersama penyuluh. Perlu menjadi sasaran program hutan tanaman reorientasi pemikiran dari penyuluh rakyat tersebut. Masyarakat lokal di kehutanan yang mengajari petani menjadi dalam dan sekitar hutan tersebut penyuluh yang belajar bersama petani. d i a s u m s i k a n m a s i h m e m e r l u k a n D a r i p e n y u l u h k e h u t a n a n y a n g penguatan kelembagaan setempat dalam menyampaikan informasi inovasi kepada rangka melaksanakan program hutan petani, menjadi komunikasi yang dialogis tanaman rakyat. Masih diperlukan pihak d e n g a n p e t a n i u n t u k m e n c a p a i dari luar yang memfasilitasi untuk kesepahaman bersama. Dari penyuluh penyiapan aspek sosialnya. Diantaranya kehutanan yang membawa “inovasi” a d a l a h b a g a i m a n a m e n y a t u k a n teknologi dari luar, menjadi penyuluh k e b u t u h a n - k e b u t u h a n u n t u k kehutanan yang memadukan inovasi berkelompok, membangun kelompok, tersebut dengan pengetahuan kearifan membangun proses-proses dalam lokal untuk membangun hutan tanaman. menetapkan aturan-aturan bersama, Demikian seterusnya, maka diperlukan memperkuat kepemimpinan kelompok, strategi bagaimana meningkatkan dan membangun komunikasi bersama kemampuan penyuluh kehutanan yang para anggotanya.

berada di lapangan ini agar bisa

m e n j a l a n k a n p e r a n n y a d a l a m Penyuluh kehutanan sebagai agen mengorganisasikan masyarakat setempat. dari luar yang akan melakukan fungsi fasilitasi penguatan lembaga masyarakat

Strategi Yang Diperlukan setempat masih memiliki kemampuan

y a n g t e r b a t a s d a l a m h a l p e n g -Strategi apa yang diperlukan untuk organisasian petani. Diperlukan memperkuat kapasitas masyarakat perubahan cara berpikir dan sikap baru setempat dalam kerangka pembangunan yang menghargai petani dalam posisi hutan tanaman rakyat?. Strategi yang yang sejajar dalam proses belajar diajukan tidak terlepas dari kedua bersama. Diperlukan kemampuan baru proposisi yang kami ajukan di muka. bagi penyuluh untuk menjalankan peran K e d u a p r o p o s i s i t e r s e b u t y a i t u : ini. Oleh karena itu penulis mencoba “ k e l e m b a g a a n p e t a n i y a n g k u a t mengusulkan beberapa strategi yang m e r u p a k a n a s p e k y a n g s a n g a t diperlukan agar penguatan kelembagaan berpengaruh terhadap keberhasilan masyarakat setempat ini bisa dilakukan penyiapan program hutan tanaman rakyat secara optimal yaitu :

(HTR). Sedangkan kelembagaan petani

yang kuat tersebut sangat dipengaruhi 1. Pengembangan diri penyuluh oleh efektivitas peran penyuluh kehutanan kehutanan melalui pelatihan tentang dalam penguatan kelembagaan petani” p e n g o r g a n i s a s i a n d a n p e m

(23)

kelompok masyarakat lokal yang pemasaran hasil saja. Termasuk pula b e r h a s i l d a l a m p e n g e l o l a a n dalam pembangunan hutan tanaman sumberdaya alam hutan. Belajar dari rakyat, selain aspek teknis kehutanan pengalaman mereka-mereka yang tersebut, barangkali aspek sosial berupa sudah berhasil, akan meningkatkan kelembagaan masyarakat setempat inilah kemampuan tentang apa yang telah yang harus dipersiapkan dengan matang. dipelajari. Jangan sampai terjadi berbagai kebijakan 2. Mendorong kemandirian belajar yang telah dikeluarkan menjadi tidak penyuluh kehutanan. Mendorong efektif pelaksanaannya di lapangan kemandirian belajar penyuluh bisa karena kesalahan dalam membuat dilakukan dengan cara menyediakan asumsi. Kelembagaan masyarakat akses yang memadai terhadap dianggap sudah kuat dan sudah siap berbagai sumber informasi. Pihak melaksanakan berbagai prosedur yang Dinas perlu menyediakan berbagai harus ditempuh dalam perijinan, dalam informasi tentang kehutanan, baik membuat rencana pengelolaan dan dari hasil-hasil penelitian, hasil-hasil seterusnya dengan tanpa dilakukan e v a l u a s i p r o g r a m , h a s i l - h a s i l pendampingan secara memadai.

seminar/lokakarya dan informasi

l a i n n y a b a g i p a r a p e n y u l u h Daftar Bacaan k e h u t a n a n . K e m u d i a n b i s a

diciptakan wahana untuk saling APHI. 2007. Percepatan Pembangunan Hutan Tanaman : Peran hutan tanaman rakyat,

belajar antar sesama penyuluh

masalah dan rekomendasi. www.aphi-net.com

dengan fasilitasi Dinas kehutanan

Awang, San Afri. 2002. Social Forestry, belajar dari

setempat. Wahana belajar ini bisa lapangan. Warta FKKM Vol. 5 No. 9 b e r u p a p e r t e m u a n p e n y u l u h , September 2002.

Black, AW. 2000. Extension Theory and Practice :

k u n j u n g a n k e p a d a b e r b a g a i

a review. Australian Journal of Experimental

kelompok yang berhasil dan lain-lain.

Agriculture 40, 493-502.

3. Mendorong kedinamisan belajar Chamala, Shankariah, dan P.M. Shingi. 1997. masyarakat lokal. Selain mendorong Establishing and Strengthening Farmer kemandirian balajar penyuluh, Organization. Di dalam : Burton E. Swanson,

Robert P. Bentz, dan Andrew J. Sofranko

diperlukan pula dorongan agar

(Editor). Improving Agricultural Extension : A

m a s y a r a k a t l o k a l b i s a l e b i h

reference manual. Rome : FAO of the UN.

mengotimalkan cara belajar mereka

Dephut. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.

d a r i b e r b a g a i s u m b e r d a n 23/Menhut-II/2007 tentang Tata Cara Perizinan pengalaman masyarkat lainnya. IUPHHK-HTR.

Suhardjito, Didik., Aziz Khan, Wibowo A. Djatmiko,

Diperlukan fasilitasi dari pihak Dinas

Martua T. Sirait, Santi Evelyna. 2000.

atau pihak lainnya dalam hal ini.

Karakteristik Pengelolaan Hutan Berbasiskan

Belajar dari sesama petani akan Masyarakat. Yogyakarta : FKKM Ford keberhasilan yang telah diraih, Foundation.

merupakan fenomena yang bisa Syahyuti. 2006. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pertanian dan Pedesaan.

dikembangkan. Karena pada

Jakarta : Bina Rena Pariwara.

hakekatnya sebagai orang dewasa,

Sudiana, Eming. 2006. Identifikasi Kelompok Tani

belajar dari pengalaman dan belajar Dalam Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan melihat dan mengalami di Kabupaten Ciamis. . Di dalam : Prosiding secara langsung merupakan prinsip Dialog Stakeholder Project PD. 271/04 Rev.3(F) Rehabilitation of Degraded Forest

yang patut terus dipegang.

land Involving Local Communities In West Java Indonesia, Pangandaran 30-31 Mei 2006.

Strategi tersebut di atas tentu harus Ciamis : Dinas Kehutanan.

ditopang oleh komitmen dan dorongan dari Uphoff, Norman. 1986. Local Institutional Development : An analytical sourcebook with

pihak pemerintah untuk mengembangkan

cases. West Hardwood, Connecticut :

s i s i p e n y u l u h k e h u t a n a n d a n

Kumarian Press.

masyarakatnya. Keberhasilan suatu program pada hakekatnya tidak hanya tergantung dari aspek teknis kehutanan,

__________ perencanaan, pembibitan, penanaman,

* Karya siswa Program S3 Penyuluhan Pembangunan p e m e l i h a r a a n , p e m a n e n a n d a n

(24)

PENUNJUKAN VERSUS

PENETAPAN KAWASAN HUTAN

Bentuk Kebijakan Pemantapan Kawasan Hutan

Yang Tak Berujung

(tanggapan Tulisan Watty Karyati)

Oleh : Andi Pramaria *

Pendahuluan acuan awal dalam penentuan trayek batas

h u t a n u n t u k d i s e p a k a t i P T B d i Salah satu prasyarat utama dalam Kabupaten/Kota.

pengelolaan hutan lestari adalah adanya

kawasan hutan yang tetap dengan batas- Peta TGHK juga merupakan rencana batas permanen, yaitu lokasi, letak, luas tata ruang bidang kehutanan karena berisi dan batas-batas yang tetap dan pasti penentuan fungsi-fungsi kawasan hutan secara fisik di lapangan serta mempunyai seperti hutan lindung, hutan produksi, kepastian hukum. Untuk menuju kepastian taman nasional, taman buru, suaka k a w a s a n h u t a n m a k a d i l a k u k a n margasatwa, taman wisata alam, cagar pengukuhan kawasan hutan, melalui alam dan lain-lain.

proses yang panjang yaitu penunjukan

k a w a s a n h u t a n , p e n a t a a n b a t a s , Munculnya Undang-Undang Nomor pemetaan dan penetapan kawasan hutan. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dan Keppres Nomor 30 tahun 1990 merupakan kesatuan dalam kegiatan tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, pengukuhan kawasan hutan dengan mengamanatkan kepada setiap daerah tujuan utama memperoleh kepastian Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional hukum atas kawasan hutan meliputi status untuk menyusun Rencana Tata Ruang kawasan hutan secara yuridis dan fisik di Wilayah (RTRW). Hal ini menyebabkan

lapangan. perlunya pemaduserasian antara RTRW

dengan hasil-hasil tata batas/pengukuhan Oleh karena itu, hasil penataan batas hutan. Jika tata batas belum selesai perlu dipetakan dan dibuatkan Berita Acara dilaksanakan maka acuannya adalah Tata Batas (BATB) yang selanjutnya TGHK.

ditandatangani oleh Panitia Tata Batas

Hutan (PTB) sebagai bentuk legitimasi Pengawalan terhadap penyusunan atas kawasan hutan dan ditetapkan oleh RTRW agar sesuai dengan hasil tata Menteri Kehutanan untuk memperoleh batas/kemajuan pengukuhan hutan / status yuridis. Sedangkan di lapangan TGHK, sudah barang tentu berlangsung p e r l u d i l a k u k a n p e n g u k u r a n d a n alot karena memadukan ruang antar pemasangan pal batas serta papan-papan sektor pengguna lahan. Pengesahan peringatan sebagai bentuk batas kawasan RTRW sendiri dilakukan melalui Peraturan hutan secara fisik. Daerah sehingga mempunyai kekuatan hukum. Di sisi lain, tak dapat dipungkiri

Gambar

gambar 2 di atas berikut ini :
Tabel 1. Sumber GRK dan kontribusinya terhadap emisi global
Tabel 2. Daftar Negara Pengemisi Co  2
Tabel 4.  Potensi penyerapan CO  oleh 2
+5

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang

Pada interval waktu yang ditetapkan dari media diambil cuplikan pada daerah pertengahan antara permukaan media disolusi dan bagian atas dari keranjang berputar atau daun dari

Kontribusi yang diharapkan dari penelitian ini adalah (1) memberikan kontribusi pada pengembangan teori, terutama yang berkaitan dengan auditing dan akuntansi perilaku,

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan kegiatan akademik di lapangan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa S1 untuk mengembangkan kemampuan

Tujuan penilitian ini adalah: (1) untuk mengetahui tipe-tipe yang digunakan dalam tugas-tugas penilaian membaca di buku pegangan Interlanguage untuk murid kelas XI

Sebagai kelanjutan dari narosan atau ngelamar pihak orang tua calon pengantin pria mulai mempersiapkan kepada piahak calon mempelai wanita, dilakukan 3-7 hari

Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengetahui apakah tidak terdapat hal-hal yang mengakibatkan pekerjaan tidak direncanakan dengan sebaik-baiknya. 1) Evaluasi checklist KKP yang

Program pendidikan keaksaraan adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan, dimana karakteristik peserta didik dan ragam dimensi yang berkaitan dengan pendidikan keaksaraan,