KATA PENGANTAR
Kabupaten Aceh Besar Provinsi NAD merupakan salah satu daerah yang terkena bencana
tsunami dan gempa, bagian wilayah pesisir dan pantai merupakan bagian yang paling
banyak mengalami kerusakan. Namun demikian, secara umum akibat bencana tersebut
menimbulkan perubahan pada aspek tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar, sehingga
perlu dilakukan penyusunan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabuapten
Aceh Besar.
Perubahan fisik dan lingkungan akibat bencana tsunami di Kabupaten Aceh Besar
tersebut menyebabkan pula terjadinya perubahan terhadap faktor sosial dan
kemasyarakatan. Dengan demikian dalam penyusunan RTRW Kabupaten ini perlu
dilakukan pendekatan rencana tata ruang partisipatif.
Kegiatan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman Utama
ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan oleh
SKS-BRR Tata Ruang, Lingkungan, Pemantauan dan Evaluasi Manfaat bekerja sama dengan
Pemda Kabupaten Aceh Besar dan PT. Virama Karya. Garis besar materi pekerjaan adalah
finalisasi dari tujuan dan sasaran, rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang serta
usulan-usulan program partisipatif sampai akhir tahun rencana yang belum dicapai pada
tahap sebelumnya.
Laporan Akhir (Rencana) ini merupakan kegiatan tahap IV (terakhir) dari seluruh
rangkaian kegiatan dalam Penyusunan Penyelesaian RTRW Kabupaten Aceh Besar dan
Kawasan Permukiman utama. Laporan Akhir ini berisikan tentang rencana: kebijakan
internal dan eksternal/regional, ekonomi dan sektor unggulan, sumber daya alam, sumber
daya buatan, sumber daya manusia, sistem permukiman, penggunaan lahan, administrasi
mekanisme pembangunan dan kelembagaan. Dalam laporan ini dijelaskan tentang rencana
struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten Aceh Besar berikut dengan indikasi
program prioritas pembangunan.
Dengan selesainya Penyusunan Laporan Akhir ini, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang ikut membantu, sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya.
Banda Aceh, Desember 2006
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
... iDAFTAR ISI
... iiDAFTAR TABEL
... viiiDAFTAR GAMBAR
... xiBAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ... 1 – 1 1.2. Pengertian Rencana Tata Ruang Wilayah ... 1 – 3 1.3. Azas Rencana Tata Ruang Wilayah ... 1 – 4 1.4. Maksud Dan Tujuan Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar .... 1 – 5 1.4.1. Maksud ... 1 – 5 1.4.2. Tujuan ... 1 – 5 1.5. Sasaran Penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar ... 1 – 5 1.6. Fungsi RTRW Kabupaten Aceh Besar ... 1 – 6 1.7. Lingkup Kegiatan dan Lingkup Wilayah ... 1 – 6 1.7.1. Lingkup Kegiatan Pekerjaan ... 1 – 6 1.7.2. Lingkup Wilayah ... 1 – 7 1.8. Keluaran ... 1 – 7 1.9. Metodologi ... 1 – 9 1.9.1. Metode Pendekatan ... 1 – 9 1.9.2 Tahapan Pelaksanaan Penyusunan RTRW Kab. Aceh Besar ... 1 – 10 1.10.Sistematika Pembahasan ... 1 – 13
BAB II
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN PENATAAN RUANG
2.1 Kebijakan Pembangunan dan Penataan Ruang ... 2 – 1 2.1.1 Program Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar ... 2 – 1 2.1.2 Rencana Strategis Kabupaten Aceh Besar ... 2 – 2 2.2 Kebijakan Penataan Ruang ... 2 – 4
2.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) ... 2 – 4 2.2.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera ... 2 – 5 2.2.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NAD ... 2 – 8 2.2.4 Kebijakan Kapet Bandar Aceh Darussalam ... 2 – 11 2.2.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang ... 2 – 13 2.2.6 Rencana Pokok Rehabilitasi & Rekonstuksi Untuk
Kota Banda ...
2 -16
BAB III
POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN
KABUPATEN ACEH BESAR
3.1 Potensi Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar ... 3 – 1 3.1.1 Posisi Kabupaten Aceh Besar Dalam Konteksi Regional ... 3 – 1 3.1.2 Potensi Sumber Daya Alam ... 3 – 2 3.1.2.1Sumberdaya Mineral ... 3 – 2 3.1.2.2 Sumberdaya Lahan... 3 – 3 3.1.2.3 Sumberdaya Air... 3 – 6 3.1.2.4 Sumberdaya Hutan... 3 – 6 3.1.2.5 Pariwisata... 3 – 8 3.1.2.6 Potensi Kelautan dan Pulau Pulau Kecil... 3 – 9 3.1.3 Potensi Ekonomi Wilayah ... 3-12 3.1.4 Potensi Sumberdaya Manusia ... 3 – 14 3.1.5 Potensi Sumberdaya Buatan ... 3 – 15 3.1.6 Potensi Struktur Ruang Eksisting ... 3 – 16 3.2 Permasalahan Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar... 3 – 16
3.2.1 Permasalahan Pengembangan Kabupaten Aceh Besar
Dalam Lingkup Provinsi NAD ... 3 – 17 3.2.2 Permasalahan Pengembangan Kabupaten Aceh Besar
Dalam Lingkup Internal ... 3 – 18 3.2.2.1 Permasalahan Sumber Daya Alam ... 3 – 18 3.2.2.2 Permasalahan Ekonomi Wilayah ... 3 – 21 3.2.2.3 Permasalahan Sumberdaya Manusia ... 3 – 23 3.2.2.4 Permasalahan Sumberdaya Buatan ... 3 – 23 3.2.2.5 Permasalahan Struktur Ruang ... 3 – 24 3.3 Potensi Masalah Wilayah Kecamatan ... 3 – 24
BAB IV
PERUMUSAN TUJUAN, KONSEPSI, DAN STRATEGI
PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH
4.1 Tujuan Pemanfaatan Ruang Wilayah ... 4 – 1 4.2 Konsep Dasar Pengembangan ... 4 – 1
4.2.1 Konsep Dasar Pengembangan Fisik ... 4 – 1 4.2.2 Konsep Dasar Pengembangan Ekonomi ... 4 – 2 4.2.3 Konsep Dasar Pengembangan Tata Ruang Wilayah ... 4 – 3 4.3 Strategi Pengembangan Tata Ruang Wilayah ... 4 – 5 4.3.1 Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah ... 4 – 5 4.3.2 Strategi Pengembangan Sektor Unggulan dan
Sektor Strategis ... 4 – 6 4.3.3 Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah ... 4 – 8 4.3.4 Strategi Pemanfaatan Kawasan Lindung Dan Budidaya ... 4 – 9 4.3.5 Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah ... 4 – 10 4.3.6 Strategi Pengembangan Kawasan Prioritas ... 4 – 12 4.3.7 Strategi Mitigasi Bencana ... 4 – 13 4.3.8 Strategi Pengendalian ... 4 – 21
BAB V
RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN
5.1.1 Rencana Sistem Permukiman ... 5 – 2 5.1.2 Rencana Sistem Kota Dan Hierarki Pusat Pelayanan ... 5 – 2 5.1.3 Sistem Kota-kota Berdasarkan Jumlah Penduduk ... ... 5 – 6 5.2 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang ... 5 – 10
5.2.1 Rencana Penentuan Kawasan Lindung ... 5 – 12 5.2.1.1 Kawasan Yang Memberikan Perlindungan pada
Kawasan Bawahnya ... 5 – 12 5.2.1.2 Kawasan Yang Memberikan Perlindungan
Setempat Dan Kawasan Bencana ... 5 – 13 5.2.1.3 Kawasan Suaka Alam ... 5 – 15 5.2.1.4 Kawasan Penyangga ... 5 – 29 5.2.2Kawasan Budidaya ... 5 – 33 5.2.2.1 Kawasan Perdesaan ... 5 – 33 5.2.2.2 Kawasan Perkotaan ... 5 – 35
BAB VI
RENCANA PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN
PEMBANGUNAN WILAYAH
6.1 Pengelolaan Dan Pengendalian Kawasan Lindung Dan
Budidaya... ... 6 – 1 6.1.1 Kewenangan Pengelolaan ... 6 – 4 6.1.2 Program Pemanfaatan ... 6 – 8 6.1.3 Pengawasan ... 6 – 10 6.1.4 Penertiban ... 6 – 11 6.1.5 Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang ... 6 – 11 6.2 Pengelolaan Dan Pengendalian Kawasan Perkotaan Dan
Kawasan Perdesaan ………. 6 – 13 6.2.1 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan Dan
Perdesaan ... 6 – 13 6.2.2 Program Pemanfaatan ... 6 – 14 6.2.3 Pengawasan ... 6 – 15 6.2.4 Penertiban ... 6 – 15 6.3 Mekanisme Pengendalian Pemanfaatan Ruang ... 6 – 16
6.3.1 Pengawasan... 6 – 16 6.3.1.1 Pelaporan ... 6 – 16 6.3.1.2 Pemantauan ... 6 – 17 6.3.1.3 Evaluasi ... 6 – 21 6.3.2 Prosedur Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang ... 6 – 24 6.4 Ketentuan Pemanfaatan Ruang ... 6 – 28 6.4.1 Klasifikasi Penggunaan Lahan ... 6 – 28 6.4.2 Klasifikasi Pemanfaatan Ruang ... 6 – 28 6.4.3 Ketentuan Pemanfaatan Ruang Untuk Setiap Penggunaan
Lahan ... 6 – 30
BAB VII
RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH
7.1 Prasarana Trasportasi ... 7 – 1 7.1.1 Trasportasi Darat ... 7 – 1 7.1.2 Transportasi Laut, Sungai, Dan Udara ... 7 – 7 7.2 Pengembangan Prasarana Pengairan Irigasi ... 7 – 9
7.3 Pengembangan Fasilitas Sosial Dan Ekonomi ... 7 – 13 7.3.1 Pemerintahan ... 7 – 13 7.3.2 Kesehatan ... 7 – 15 7.3.3 Pendidikan ... 7 – 16 7.3.4 Peribadatan ... 7 – 20 7.3.5 Perdagangan ... 7 – 22 7.3.6 Komunikasi ... 7 – 22 7.3.7 Pengembangan Sistem Utilitas ... 7 – 23 7.3.7.1 Air Bersih ... 7 – 23 7.3.7.2 Listrik ... 7 – 29
7.3.7.3 Telepon ... 7 – 30 7.3.7.4 Limbah Dan Sampah ... 7 – 34 7.3.7.5 Drainase ... 7 – 38
8.1 Rencana Penatagunaan Tanah ... 8 – 1 8.1.1 Rencana Penatagunaan Tanah Di Kawasan Lindung ... 8 – 2 8.1.2 Rencana Penatagunaan Tanah Di Kawasan Budidaya ... 8 – 2 8.2 Rencana Penatagunaan Air ... 8 – 3 8.3 Rencana Penatagunaan Udara ... 8 – 3
8.4 Rencana Penatagunaan Hutan ... 8 – 4
BAB IX
RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN
9.1 Rencana Sistem Kegiatan Pembangunan ... 9 – 1 9.1.1 Indikasi Kawasan Prioritas Pembangunan ... 9 – 1 9.1.2 Indikasi Program Pembangunan ... 9 – 4
BAB X
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
10.1 Kesimpulan ... 10 – 1
10.2 Rekomendasi ... 10 – 3 10.2.1 Perbaikan Lahan Pertanian ... 10 – 3 10.2.2 Pemupukan N, P, K ... 10 – 4 10.2.3 Agroekosistem Kedelai Kipas Putih ... 10 – 5 10.2.4 Penanaman Pisang Cavendish ... 10 – 6 10.2.5 Penanaman Kelapa Sawit ... 10 – 6 10.2.6 Hasil Hutan Non Kayu ... 10 – 7
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Pengembangan Kawasan Andalan, Sektor Unggulan dan Pusat
Permukiman di Provinsi NAD ... 2 – 5 Tabel 2.2 Luas Kawasan Lindung & Kawasan Budidaya di Kab. Aceh Besar ... 2 – 10 Tabel 3.1 Kesesuaian Lahan Untuk 3 Tipe Penggunaan Lahan Pertanian ... 3 – 4 Tabel 3.2 Potensi Obyek Wisata Pantai, Wisata Alam, dan Wisata Sejarah
di Kabupaten Aceh Besar ... 3 – 8 Tabel 3.3 Potensi & Masalah Tiap2 Kecamatan di Kabupaten Aceh Besar ... 3 – 26 Tabel 5.1 Identifikasi Sistem Kota-kota Berdasarkan Kelengkapan
Fasilitas Kawasan Perkotaan ... 5 – 3 Tabel 5.2 Interaksi Sistem Kota Wilayah Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 7 Tabel 5.3 Klasifikasi Sistem Kota Berdasarkan Penduduk Pendukung
Tahun 2016... ... 5 – 8 Tabel 5.4 Klasifikasi Kelerengan ... 5 – 10 Tabel 5.5 Klasifikasi Jenis dan Kepekaan Tanah ... 5 – 11 Tabel 5.6 Intensitas Hujan Harian Rata-rata ... 5 – 11 Tabel 5.7 Cathment Area dan Debit Air Permukaan Kabupaten Aceh Besar .... 5 – 14 Tabel 5.8 Matriks Dan Jenis Kriteria Kawasan Lindung ... 5 – 17 Tabel 5.9 Rencana Penetapan Kawasan Lindung ... 5 – 26 Tabel 5.10 Matriks Jenis dan Kriteria Kawasan Budidaya ... 5 – 38 Tabel 5.11 Rencana Penetapan Kawasan Budidaya ... 5 – 39 Tabel 5.12 Rencana Pemanfaatan Lahan Kabupaten Aceh Besar Tahun 2016 .. 5 – 43 Tabel 6.1 Wewenang Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten
Aceh Besar….. ... 6 – 6 Tabel 6.2 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Budidaya di Kabupaten
Aceh Besar ... 6 – 9 Tabel 6.3 Kewenangan Pengelolaan Kawasan Perkotaan dan Perdesaan ... 6 – 14 Tabel 6.4 Kegiatan Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang ... 6 – 20
Tabel 6.5 Kegiatan Pemantauan Pelanggaran Pemanfaatan Ruang ... 6 – 23 Tabel 6.6 Kegiatan Evaluasi Pelanggaran Pemanfaatan Ruang ... 6 – 24 Tabel 6.7 Kegiatan Penertiban Pelanggaran Pemanfaatan Ruang (Sanksi
Administratif) ... 6 – 26 Tabel 6.8 Alternatif Bentuk Penertiban ... 6 – 27 Tabel 6.9 Klasifikasi Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar ... 6 – 28 Tabel 6.10 Pemanfaatan Ruang Kabupaten Aceh Besar ... 6 – 29 Tabel 6.11 Deskripsi Indikator Pemanfaatan Ruang ... 6 – 30 Tabel 6.12 Matriks Pemanfaatan Ruang Untuk Guna Lahan ... 6 – 32 Tabel 7.1 Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Tahun 2016 ... 7 – 5 Tabel 7.2 Arus Lalu-lintas Udara Bandara Sultan Iskandar Muda 2004 ... 7 – 8 Tabel 7.3 Kapasitas Dan Jumlah Penumpang Pesawat Bandara Sultan
Iskandar Muda Tahun 1997 - 2004 ... 7 – 9 Tabel 7.4 Kebutuhan Fasilitas Pemerintahan di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 17 Tabel 7.5 Kebutuhan Fasilitas Kesahatan di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 18 Tabel 7.6 Kebutuhan Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 19 Tabel 7.7 Kebutuhan Fasilitas Peribadatan di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 21 Tabel 7.8 Kebutuhan Fasilitas Perdagangan di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 24 Tabel 7.9 Kebutuhan Fasilitas Komunikasi di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011, Dan Tahun 2016 ... 7 – 25 Tabel 7.10 Kebutuhan Air Bersih di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011 Dan Tahun 2016 ... 7 – 28 Tabel 7.11 Kebutuhan Listrik di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2011 dan
Tahun 2016. ... 7 – 32 Tabel 7.12 Kebutuhan Telepon di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011 dan Tahun 2016 ... 7 – 33 Tabel 7.13 Rencana Timbulan Sampah di Kabupaten Aceh Besar
Tahun 2011 dan Tahun 2016 ... 7 – 37 Tabel 9.1 Indikasi Program Pembangunan Kabupaten Aceh Besar Dan
Pemukiman Utama Tahun 2007 – 2011 ... 9 – 5 Tabel 10.1 Tingkat Salinitas (ECa) Lahan Sawah Terkena Tsunami Pada
Beberapa Lokasi Di Kabupaten Aceh Besar ... 10 – 2 Tabel 10.2 Rekomendasi Pemupukan N, P, K Pada Padi Sawah Di
Kabupaten Aceh Besar... 10 – 5 Tabel 10.3 Kondisi Fisik Lahan Untuk Kelapa Sawit ... 10 – 7
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Proses Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan RTRW Kabupaten
Aceh Besar... ... 1 – 12 Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Nasional ... 2 – 6 Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Nasional ... 2 – 7 Gambar 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Pulau Sumatera ... 2 – 9 Gambar 2.4 Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang ... 2 – 15 Gambar 2.5 Peta Konsep Sistem Metropolitan Banda Aceh ... 2 – 19 Gambar 2.6 Peta Struktur & Pola Pemanfaatan Ruang Metropolitan Banda Aceh 2 – 20 Gambar 3.1 Peta Kesesuaian Lahan utk 3 Tipe Penggunaan Lahan Pertanian .... 3 – 5 Gambar 3.2 Peta Fungsi Hutan Kabupaten Aceh Besar ... 3 – 7 Gambar 3.3 Peta Perwilayahan Komoditi di Kabupaten Aceh Besar... 3 - 13 Gambar 4.1 Perbandingan Nilai PDRB Kota Sabang, Kota Banda Aceh,
Dan Kabupaten Aceh Besar ... 4 – 4 Gambar 4.2 Beberapa Contoh Antisipasi Bencana Tsunami ... 4 – 15 Gambar 4.3 Contoh Pengembangan Fisik Bangunan Kawasan Pesisir ... 4 – 16 Gambar 4.4 Contoh Escape Hill . ... 4 – 20 Gambar 4.5 Peta Mitigasi Bencana ... 4 – 22 Gambar 5.1 Peta Rencana Struktur Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 9 Gambar 5.2 Peta Kesesuaian Kawasan Lindung Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 27 Gambar 5.3 Peta Rencana Penetapan Kawasan Lindung Kabupaten Aceh Besar 5 – 28 Gambar 5.4 Peta Kesesuaian Kawasan Penyangga Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 31 Gambar 5.5 Peta Penetapan Kawasan Penyangga Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 32 Gambar 5.6 Peta Kawasan Budidaya Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 42 Gambar 5.7 Peta Kesesuaian Pengembangan Wilayah Kabupaten Aceh Besar .. 5 – 44 Gambar 5.8 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Lahan Kabupaten Aceh Besar ... 5 – 45 Gambar 6.1 Proses Pengawasan Pemanfaatan Ruang ... 6 – 18 Gambar 6.2 Proses Pelaporan Perubahan Pemanfaatan Ruang ... 6 – 19 Gambar 7.1 Peta Rencana Pengembangan Transportasi Darat Kabupaten
Aceh Besar ... 7 – 6 Gambar 7.2 Rencana Pengembangan Transportasi Laut Dan Udara
Kabupaten Aceh Besar ... 7 – 10 Gambar 7.3 Sistem Besawah Berdasarkan Adat Wilayah Aceh ... 7 – 12 Gambar 7.4 Peta Pengembangan Irigasi Kabupaten Aceh Besar ... 7 – 14 Gambar 7.5 Peta Pengembangan Prasarana Air Bersih Kabupaten Aceh Besar . 7 – 27 Gambar 7.6 Peta Rencana Pengembangan Jaringan Listrik ... 7 – 31 Gambar 7.7 Peta Rencana Pengembangan Persampahan Kabupaten
Bab
1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 di Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara dan gempa bumi lanjutan pada tanggal 28 Maret 2005 terutama di Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara telah mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Wilayah yang terkena dampak bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami, sangat mendesak untuk segera ditangani, guna mengembalikan kondisi psikologis penduduk, kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan melalui usaha-usaha rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dalam rangka percepatan proses penanganan bencana dan dampak luar biasa yang ditimbulkan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpu No. 2 Tahun 2005 untuk membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara, serta mengeluarkan Perpres No. 30 Tahun 2005 tentang Rencana induk rehabilitasi dan Rekonstruksi wilayah dan Kehidupan Masyarakat Propinsi NAD dan Kepulauan Nias Propinsi Sumatera Utara sebagai acuan bagi proses percepatan tersebut. Rencana induk ini merupakan dasar perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan.
Tujuan penataan ruang wilayah Aceh dan Nias pasca bencana tsunami dan gempa bumi adalah membangun kembali wilayah, kota, desa, kawasan, dan lingkungan permukiman yang rusak akibat bencana gempa dan tsunami sehingga masyarakat dapat segera melakukan aktivitasnya dalam kondisi yang lebih baik dan aman dari bencana.
Kebijakan dan strategi penataan ruang dan pertanahan, sebagaimana dijelaskan secara detail dalam Lampiran 2 dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi, memberikan gambaran konsep dan skenario penataan ruang, dan memberikan arahan pola serta struktur tata ruang wilayah Propinsi NAD dan Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi NAD dan di Kepulauan Nias. Arahan pola dan struktur tata ruang wilayah pada masing-masing wilayah Kabupaten dan kota yang telah disusun perlu ditindaklanjuti dengan penyiapan Rencana Umum Tata Ruang bagi kawasan permukiman utamanya.
Salah satu kabupaten di wilayah NAD yang mengalami kerusakan akibat tsunami adalah Kabupaten Aceh Besar. Rencana pola dan struktur tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Besar meliputi seluruh wilayah kabupaten termasuk kawasan permukiman utama. Oleh karena itu, secara fungsional diperlukan penjabaran dari skenario dan arahan penataan ruang dari Rencana Induk menjadi sebuah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) Aceh Besar.
Sebagaimana diamanatkan pada pasal 22 ayat 3 UU No. 24 Tahun 1992, RTRW Kabupaten/Kota menjadi pedoman untuk penyusunan rencana detail tata ruang di Kabupaten/Kota. Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota pada hakekatnya merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah, yang berisikan : (a) Penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya; (b) Pengelolaan kawasan Perkotaan, kawasan pedesaan, dan kawasan tertentu; (c) Sistem kegiatan pembangunan dan sistem perdesaan dan perkotaan; (d) Sistem prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan, dan prasarana pengelolaan lingkungan, dan (e) penatagunaan sumber daya alam lainnya, serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
RTRW Kabupaten/Kota menjadi pedoman untuk : (a) Perumusan kebijaksanaan pokok pemenfaatan ruang di wilayah kabupaten/kota; (b) Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten/kota serta keserasian antar sektor; (c) Pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan pemerintah atau masyarakat; (d) Penyusunan rencana rinci tata ruang di kabupaten/kota, dan (e) Pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan.
1.2 PENGERTIAN TATA RUANG WILAYAH
Pengertian-pengertian dasar yang digunakan dalam penataan ruang dan dijelaskan di bawah ini meliputi ruang, tata ruang, penataan ruang, rencana tata ruang, wilayah, kawasan llindung, kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu.
a. Ruang
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
b. Tata Ruang
Tata ruang adalah wujud dari struktur dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan.
c. Penataan Ruang
Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian ruang.
d. Rencana Tata Ruang
Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hirarkis dan saling berhubungan satu dengan lainnya, sedangkan yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya dalam wujud penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya.
e. Wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
f. Kawasan
Kawasan adalah satuan ruang wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu.
g. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
h. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
i. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian
termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
j. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
k. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai
strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan.
1.3 AZAS RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Azas penyusunan Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar berdasarkan azas : a. Keadilan
Penataan ruang wilayah harus dapat menjamin keadilan untuk semua kepentingan masyarakat dan dunia usaha secara adil dengan berbasis pada masyarakat
b. Terpadu
Penantaan ruang wilayah merupakan suatu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang yang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh serta mencakup antara lain pertimbangan waktu, modal, optimasi daya dukung lingkungan dan kondisi geo-politik
c. Berdayaguna dan Berhasil Guna
Penataan ruang wilayah harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi yang ada dan fungsi ruang.
d. Serasi, Selaras dan Seimbang
Penataan ruang wilayah dapat menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan kesimbangan sturktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah.
e. Berkelanjutan
Penataan ruang wilayah menjamin kelestarian kemampuan daya dukung
sumberdaya alam dengan memperhatikan kepentingan masa mendatang.
f.
Keterbukaan
Setiap orang/pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan
tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang.
1.4
MAKSUD & TUJUAN PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN ACEH BESAR
1.4.1 Maksud
Maksud pekerjaan penyusunan ini adalah membantu menyusun acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program-program pembangunan sebagai wujud operasional dari Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi, sekaligus juga dengan mempromosikan perencanaan yang berorientasi pada tradisi pembelajaran sosial dan alih tehnologi.
1.4.2 Tujuan
Tujuan dari pekerjaan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dan Kawasan Permukiman Utama adalah :
1. Mewujudkan optimasi dan sinergi pemanfaatan ruang wilayah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ketahanan nasional.
2. Menciptakan keserasian dan keseimbangan antar wilayah, antar kawasan dan antar sektor pembangunan.
3. Menciptakan keterpaduan program-program pembangunan wilayah
4. Mendorong minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah Kab. Aceh Besar.
1.5
SASARAN PENYUSUNAN RTRW KABUPATEN ACEH BESAR
Sasaran yang hendak dicapai dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
2. Terkendalinya pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Besar baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat;
3. Terciptanya keserasian antara kawasan lindung dan kawasan budidaya;
4. Tersusunnya rencana dan keterpaduan program-program pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Besar;
5. Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha di wilayah Kabupaten Aceh Besar;
6. Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor pembangunan.
1.6
FUNGSI RTRW KABUPATEN ACEH BESAR
Fungsi dari RTRW Kabupaten Aceh Besar adalah:
Sebagai matra keruangan dari pembangunan daerah;
Sebagai dasar kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Aceh Besar;
Sebagai alat untuk mewujudkan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten dan antar kawasan serta keserasian antar sektor;
Sebagai alat untuk mengalokasikan investasi yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta;
Sebagai pedoman untuk penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan; Sebagai dasar pengendalian pemanfaatan ruang;
Sebagai dasar pemberian izin lokasi pembangunan skala besar.
1.7
LINGKUP KEGIATAN DAN LINGKUP WILAYAH
1.7.1 Lingkup Kegiatan Pekerjaan
Lingkup Kegiatannya mencakup :
1. Melakukan survey dan kompilasi data pada Dinas, Badan dan Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Besar serta penjaringan aspirasi masyarakat. Pengumpulan data, dilakukan dengan survey primer (observasi lapangan, wawancara, penyebaran kuesioner) dan survey sekunder kepada seluruh instansi-instansi terkait.
2. Untuk peta-peta dengan ketelitian tinggi dilakukan survey lapangan (Ground survey dengan GPS) dan mengacu pada Peta Bakosurtanal yang dapat diperoleh pada Tim Geo-Spatial BRR.
3. Melakukan analisis terhadap berbagai data dan informasi yang sudah didapatkan. 4. Menyusun konsepsi dan strategi rencana dengan sudah memperhatikan arahan dalam
Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi. 5. Menyusun RTRW Kabupaten Aceh Besar
6. Menyusun Naskah Akademis dan Rancangan Qanun tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar.
7. Sosialisasi produk Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten pada tingkat Kabupaten dan Kecamatan.
1.7.2 Lingkup Wilayah
Lingkup wilayah penyusunan Rencana Tata Ruang ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Aceh Besar. RTRW Kabupaten Aceh Besar dengan kedalaman substansi yang sesuai dengan ketelitian atau skala petanya, yakni 1 : 100.000 berjangka waktu perencanaan 10 tahun. Unit analisis yang digunakan di dalam penyusunan RTRW Kabupaten ini adalah unit kecamatan sedangkan sistem jaringan prasarana digambarkan pada kedalaman sistem primer dan sekunder.
1.8
KELUARAN
Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini berpedoman kepada Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang. Keluaran dari pekerjaan ini adalah :
SATU SET BUKU LAPORAN RENCANA TATA RUANG DAN DRAFT QANUN yang berisi : A. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Besar yang berisi :
1. Tujuan pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan.
• Struktur pemanfaatan ruang meliputi hirarki pusat pelayanan wilayah seperti sistem pusat-pusat perkotaan dan perdesaan, pusat-pusat permukiman, hirarki sarana dan prasarana, sistem jaringan transportasi seperti sistem jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan kelas terminal.
• Pola pemanfaatan ruang memuat delineasi (batas-batas) kawasan kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan kawasan-kawasan lainnya di dalam kawasan budidaya dan delineasi kawasan lindung.
3. Rencana Pengelolaan Wilayah Kabupaten :
• Rencana pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
• Rencana pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan, dan kawasan tertentu. • Rencana sistem prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, pengairan,
dan prasarana pengelolaan lingkungan.
• Rencana Penatagunaan tanah, air, udara, hutan, dan SDA lainnya. • Rencana sistem kegiatan pembangunan
• Rencana pengembangan ekonomi/investasi wilayah kabupaten. B. Proceeding Penyelengaaraan Sosialisasi Penataan Ruang Kabupaten
C. Rekaman/dokumentasi proses konsultansi publik/stakeholders (bisa berupa Proceeding penyelenggaraan sosialisasi penataan ruang kabupaten , proses FGD, dll.)
D. Ringkasan/Executive Summary RTRW Kabupaten Aceh Besar
E. Naskah Akademis dan Rancangan Qanun tentang Tata Ruang wilayah Kabupaten .
Produk akhir dari penyusunan rencana tata ruang, terdiri dari : 1. Buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
2. Buku Fakta dan Analisa (Laporan Antara). 3. Album Peta
1.9
METODOLOGI
1.9.1 Metode Pendekatan
Kabupaten Aceh Besar mempunyai wilayah daratan, pegunungan, peraian laut dan pulau pulau kecil, dimana wilayah sekitar pantai telah terkena bencana tsunami dan gempa yang mengalami kerusakan yang berat. Untuk itu, metode pendekatan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar mencakup pendekatan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, berorientasi pada lingkungan, penataan ruang yang partisipatif dan pendekatan pertumbuhan ekonomi.
a. Berorientasi Pada Kesjahteraan Masyarakat
Pengembangan wilayah ditujukan untuk memberikan hasil yang sebesar besarnya dan bermanfaaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan dapat dikembangkan melalui :
• Pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota dilaksanakan secara berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran rakyat (UU Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, Pasal 143 Ayat 1)
• Pengaturan pemanfaatan ruang yang adil untuk masyarakat golongan atas, menengah dan kecil
• Adanya kemitraan kerja yang saling mendukung serta tetap memelihara kualitas ruang
b. Penataan Ruang Yang Partisipatif
Pelaksanaan penataan ruang yang partisipatif seperti yang diamanatkan dalam UU Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh adalah :
• Masyarakat berhak terlibat untuk memberikan masukan secara lisan maupun tertulis tentang penyusunan perencanaan pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota melalui penjaringan aspirasi dari bawah (Pasal 141 ayat 3).
• Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan maupun tertulis dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 142 ayat 5).
• Masyarakat berhak mendapatkan informasi tata ruang yang sudah ditetapkan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota (Pasal 143 ayat 4).
• Masyarakat berhak untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 148 ayat 2).
c. Berorientasi pada lingkungan
• Penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dan pemanfaatan ruang
• Pengeloaan ditekankan pada upaya untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian wilayah tersebut.
• Pemanfaatan ruang menghindari konflik pemanfaatan sumberdaya yang dapat merusak lingkungan
• Pengembangan antar wilayah dan antar kawasan lain perlu diselaraskan dengan memperhatikan daya dukung sumberdaya yang ada, sehingga dapat mewujudkan keselarasan perkembangan antar wilayah dan antar kawasan.
d. Pertumbuhan ekonomi
• Pemanfaatan ruang wilayah dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan ruang
• Kegiatan ekonomi pada kawasan yang akan dikembangkan bertujuan untuk memenuhi konsumsi masyarakat, tapi juga berorientasi pada pasar internasional • Pemanfaatan ruang yang dilakukan diarahkan juga untuk memberikan nilai
tambah terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.
1.9.2 Tahapan Pelaksanaan Penyusunan RTRW Kab. Aceh Besar
Pada garis besarnya tahapan pelaksanaan penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar dibagi dalam beberapa tahap kegiatan, yaitu : persiapan, pengumpulan data dan informasi, analisis, rumusan strategi serta rencana seperti terlihat pada Gambar 1.1 serta uraiannya sebagai berikut :
a. Persiapan
Kegiatan awal dalam pekerjaan ini adalah persiapan, dimana dalam persiapan ini dilakukan penyiapan isu awal permasalahan, penyusunan metodologi serta pembuatan rencana kerja. Penyiapan ini dituangkan dalam Laporan Pendahuluan dan didiskusikan terhadap pihak yang terkait.
b. Pengumpulan Data dan Informasi
Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan melakukan survei primer dan survei sekunder. Survei primer dilakukan dengan observasi fisik, diskusi instansi terkait dan wawancara masyarakat. Adapun survei sekunder dilakukan dengan pencarian data instansional seperti data: Kebijakan pembangunan, sosial ekonomi, sumber daya alam, sumber daya buatan, sumber daya manusia, penggunaan lahan, pembiayaan pembangunan, kelembagaan dan lain lain. Data data yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder selanjutnya dilakukan seleksi data dan kompilasi data.
c. Analisis
Berdasarkan hasil data yang diperoleh serta hasil dari pekerjaan review/evaluasi RTRW Kab. Aceh Besar sebelumnya, maka selanjutnya dilakukan analisis meliputi analisis : kebijakan internal dan eksternal/regional, ekonomi dan sektor unggulan, sumber daya alam, sumberdaya buatan, sumberdaya manusia, sistem permukiman, analisis penggunaan lahan, pembiayaan pembangunan, kelembagaan serta analisis mitigasi bencana.
d. Rumusan Strategi
Hasil dari analisis kemudian dilakukan identifikasi potensi dan masalah yang selanjutnya dibuat rumusan startegi tata ruang Kabupaten Aceh Besar, meliputi strategi : kawasan lindung dan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan prioritas, sistem permukiman perdesaan dan perkotaan, pengembangan sarana dan prasarana wilayah, pengembangan kawasan prioritas, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang serta strategi mitigasi bencana.
e. Rencana
Dari rumusan strategi yang dibuat, maka selanjutnya dibuat rencana meliputi rencana : zonasi dan mitigasi bencana, struktur dan pola pemanfaatan ruang, pengelolaan kawasan lindung dan budidaya, pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan kawasan prioritas, sistem prasarana wilayah, penatagunaan tanah, udara, hutan dan sumber alam lainnya serta rencana sistem kegiatan pembangunan.
1.10
SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan penyusunan buku Laporan Akhir penyusunan RTRW Kabupaten Aceh Besar ini terbagi dalam beberapa bab yang diuraikan sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang pekerjaan, maksud, tujuan dan sasaran, lingkup kegiatan dan wilayah, keluaran, metodologi dan sistematika pembahasan.
BAB 2 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN PENATAAN RUANG
Membahas tentang kebijakan-kebijakan pembangunan di Kabupaten Aceh Besar serta penataan ruang ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota antara lain: RTRW Nasional, RTRW Provinsi NAD, Kapet Bandar Aceh Darussalam serta Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Banda Aceh.
BAB 3 POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR
Menguraikan tentang potensi dan permasalahan pengembangan wilayah di Kabupaten Aceh Besar maupun ditiap-tiap kecamatan menyangkut perekonomian wilayah, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan (infrastruktur).
BAB 4 PERUMUSAN TUJUAN, KONSEPSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH
Menjelaskan tujuan pemanfaatan ruang wilayah, kebijakan dasar pengembangan, strategi pengembangan tata ruang wilayah yang menyangkut : Strategi pengembangan ekonomi wilayah, sektor unggulan dan sektor stategis, pemanfaatan kawasan lindung dan budidaya, struktur tata ruang dan sistem permukiman, pengembangan prasarana wilayah, pengembangan kawasan prioritas serta strategi mitigasi bencana.
BAB 5 RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN LAHAN
Membahas rencana struktur ruang yang menyangkut rencana sistem kota kota, rencana sistem pengembangan wilayah pelayanan. Selain itu membahas rencana pola pemanfaatan ruang yang menguraikan kawasan lindung dan kawasan budidaya.
BAB 6 RENCANA PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN WILAYAH
Menjelaskan pengelolaan dan pengendalian kawasan lindung dan budidaya, kawasan perdesaan dan perkotaan yang dijabarkan dalam pengembangan kelembagaan, program pemanfaatan, pengawasan dan penertiban.
BAB 7 RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH
Membahas prasarana transportasi, prasarana pengairan irigasi, prasarana sosial ekonomi, pengembangan sistem utilitas yang mencakup: air bersih, listrik dan energi, telepon dan telekomunikasi , drainase dan sistem limbah, persampahan.
BAB 8 RENCANA PENATAGUNAAN TANAH, AIR, UDARA, DAN HUTAN
Membahas tentang penguasaan dan pemanfaatan penatagunaan Tanah, Air, Udara, dan Hutan.
BAB 9 RENCANA SISTEM KEGIATAN PEMBANGUNAN
Membahas indikasi kawasan prioritas pembangunan serta indikasi program pembangunan di Kabupaten Aceh Besar.
BAB 10 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Menguraikan tentang kesimpulan dan rekomendasi terutama yang menyangkut
Bab
2
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN
PENATAAN RUANG
2.1
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
2.1.1 Program Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar
A. Visi dan Misi Pembangunan Daerah
Visi pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2001 – 2005 adalah “Terwujudnya masyarakat Kabupaten Aceh Besar yang aman, sejahtera, dan
sadar hukum melalui pemerintahan yang baik berlandaskan syariat islam, adat istiadat, yang berilmu pengetahuan dan teknologi”
Misi pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Besar diuraikan sebagai berikut :
1. Berupaya menjamin kondisi daerah yang aman, damai tertib dan diiringi kehidupan masyarakat yang tentram.
2. Mewujudkan kehidupan sosial budaya yang dinamis, kreatif dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi.
3. Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi daerah, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi, dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan berbasis pada sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
4. Mewujudkan kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kualitas kehidupan yang layak dan bermartabat untuk memenuhi kebutuhan dasar.
5. Mewujudkan sistem hukum yang menjamin tegaknya supermasi hukum dan penghargaan HAM berlandaskan keadilan dan kebenaran, dengan tetap menjunjung tinggi Pancasila sebagai azas negara
6. Perwujudan otonomi daerah dalam rangka pembangunan daerah dan pemerataan pertumbuhan
7. Menegakkan kedaulatan rakyat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
8. Menjunjung tinggi Pancasila sebagai azas negara
9. Mewujudkan aparatur daerah yang profesional dalam menjalankan fungsi pelayanan masyarakat serta berdaya guna, produktif dan bebas dari KKN
10.Mengamalkan Agama Islam secara utuh dalam kehidupan masyarakat sehari hari yang harmonis, toleran, rukun dan damai antar sesama dan antar umat beragama
11.Menghidupkan kembali adat istiadat dan nilai nilai luhur dalam masyarakat sebagai pedoman hidup sehari hari
12.Melestarikan budaya Aceh Besar sebagai bagian dari budaya NAD untuk menjadi budaya nasional
13.Menggali dan mengembangkan adat dan budaya Aceh Besar dalam rangka memperkaya khasanah budaya bangsa
14.Perwujudan sistem dan iklim pendidikan di daerah yang bermutu guna membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, inovatif, cerdas, sehat, berdisiplin, bertanggung jawab, terampil serta mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Agenda Pembangunan
Rumusan agenda pokok pembangunan sebagai berikut:
1. Membina sistem politik yang demokratis serta mewujudkan keamanan daerah 2. Menegakkan supermasi hukum dan mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih 3. Mengupayakan pemulihan ekonomi daerah
4. Mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membina ketahanan budaya 5. Meningkatkan kapasitas daerah dan masyarakat
2.1.2 Rencana Starategis Kabupaten Aceh Besar
Rencana Strategis Kabupaten Aceh Besar tahun 2001 – 2005 diwujukan dalam program dan kegiatan pada masing masing Badan/Dinas/Kantor dilingkungan instansi Pemerintah
Kabupaten Aceh Besar. Program – program yang berkaitan dengan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kabupaten Aceh Besar antara lain :
1. Program Penataan Ruang
• Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten • Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan
• Rencana Studi Kelayakan Keberadaan Kota Jantho 2. Program Pembangunan Ekonomi
• Program dan kegiatan pembangunan bidang industri dan perdagangan
• Program pembangunan pertanian rakyat terpadu (pertanian tanaman pangan dan holtikultura)
• Program pembangunan bidang perkebunan
• Program pembangunan bidang perikanan dan kelautan • Program pembangunan bidang peternakan
• Program pembangunan bidang kehutanan
• Program pembangunan bidang pertambangan dan energi 3. Program Pembangunan Prasarana dan Sarana
• Program pengembangan sumber daya air
• Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi • Program pembangunan jalan dan jembatan
• Program peningkatan/penggantian jalan dan jembatan
• Program penyehatan lingkungan dan permukiman 4. Program Pembangunan Perhubungan dan Pariwisata
• Program pembangunan bidang perhubungan
• Program pembangunan bidang kebudayaan dan pariwisata 5. Program Pembangunan Fasilitas
• Program pembangunan bidang kesehatan • Program pembangunan bidang pendidikan • Program pembangunan bidang peribadatan • Program pembangunan bidang perdagangan
2.2
KEBIJAKAN PENATAAN RUANG
2.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
Rencana Tata Ruang Nasional merupakan acuan bagi penataan ruang daerah tingkat bawahnya dan menjadi pedoman bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang.
Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional tahun 2006 telah ditetapkan beberapa pusat pertumbuhan wilayah Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terbagi dalam empat kawasan andalan dengan sektor unggulan sebagai sektor penggerak pertumbuhan ekonomi (lihat Tabel 2.1). Kawasan andalan ini didukung oleh sumber daya alam yang tersedia serta sistem transportasi, baik darat, laut dan udara pada masing-masing kawasan tersebut.
Guna mendukung program pengembangan kawasan andalan ini juga telah direncanakan jalur jalan nasional sepanjang Pulau Sumatera. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri adalah jalan pantai timur dimulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Lhokseumawe sampai ke Banda Aceh. Kemudian jalur jalan Pantai Barat mulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Tapaktuan - Meulaboh sampai ke Banda Aceh. Dan jalur jalan tengah provinsi mulai dari perbatasan Aceh - Sumatera Utara melalui Kutacane - Takengon sampai ke Banda Aceh (lihat Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Nasional). Dalam rencana pemanfaatan ruang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdapat kawasan hutan lindung, hutan konservasi (hutan suaka alam dan pelestarian alam) serta kawasan budidaya ( lihat Gambar 2.2).
Kabupaten Aceh Besar Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), merupakan hinterland (daerah belakang) dari kawasan andalan Banda Aceh dan sekitarnya dengan sektor unggulan : pertanian, pariwisata dan industri. Sementara Bandar Udara Iskandar Muda yang terletak di Kabupaten Aceh Besar termasuk kategori pusat penyebaran tersier.
TABEL 2.1
PENGEMBANGAN KAWASAN ANDALAN, SEKTOR UNGGULAN DAN PUSAT PERMUKIMAN
DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Kawasan Andalan Sektor Unggulan Pusat Permukiman Wilayah Sungai Nasional Pelabuhan Bandar Udara Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Kw. Banda Aceh dsk Pertanian Pariwisata Industri - Banda Aceh - Sabang - Meulaboh Pase – Peusangan Jambo Aye Tamiyang – Langsa Singkulat – Tripa Singkil Sabang dan Lhokseumawe (Pelabuhan Internasional) Meulaboh, Malahayati (Pelabuhan Nasional) Sultan Iskandar Muda (Bandara Internasional/Pu sat penyebaran primer) Kw. Lhokseumawe dsk Industri Pertanian Pertambangan Perikanan Perkebunan Lhokseumawe Kw. Pantai Barat Selatan Pertanian Perikanan Pertambangan Perkebunan Kw. Andalan Laut Lhokseumawe Perikanan Pertambangan
Sumber: - Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Tahun 2006 - Hasil Kesepakatan RTRWP NAD di Langsa, Tahun 2006.
2.2.2 Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera
Rencana Tata Ruang Pulau adalah hasil perencanaan tata ruang pada kawasan kawasan baik di ruang daratan, ruang lautan dan di ruang udara sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional di wilayah pulau. Tujuan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera ini adalah memberikan landasan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor guna mewujudkan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang optimal.
Struktur ruang wilayah sumatera sebagaimana dijelaskan dalam Rancangan Keputusan Presiden Republik Indonesia Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Gambar 2.1
Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Nasional
Sumatera pada dasarnya dibentuk oleh pengembangan jaringan jalan lintas timur, pengembangan jaringan jalan lintas tengah, pengembangan jaringan jalan lintas barat dan pengembangan jaringan jalan pengumpan lintas barat – timur. Disamping itu dibentuk oleh pusat pusat kegiatan seperti Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) serta terdapat pelabuhan internasional, pelabuhan nasional serta pelabuhan pengumpan regional (lihat Gambar 2.3)
Arahan pola pemanfaatan ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Sumatera mencakup arahan pola pengelolaan kawasan lindung dan arahan pola pengelolaan kawasan budidaya. Yang termasuk kawasan lindung yaitu kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya seperti hutan lindung, untuk wilayah Sumatera seluas 9.936.680 ha, sedangkan di wilayah Provinsi NAD seluas 1.741.000 ha, kawasan perlindungan setempat (kawasan pantai, sungai, danau, waduk), kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya. Adapun kawasan budidaya mencakup kawasan andalan dan kawasan andalan laut. Keterkaitan Kabupaten Aceh Besar dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Sumatera antara lain:
a. Kabupaten Aceh Besar dilalui oleh jaringan jalan lintas timur, pengembangan jaringan jalan lintas tengah serta pengembangan jaringan jalan lintas barat.
b. Pelabuhan Malahayati merupakan pelabuhan nasional dengan prioritas sedang
c. Bandara Iskandar Muda sebagai pelabuhan udara pusat penyebaran sekunder dengan prioritas sedang (Dalam RTRWN sebagai pusat penyebaran tersier).
2.2.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah disusun pada tahun 1995 dan dan telah dilakukan penyempurnaan oleh Bappeda NAD tahun 2000. Selanjutnya pada tahun 2004 dilakukan peninjauan kembali, namun baru tahap Laporan Kemajuan, karena telah terjadi tsunami. Uraian mengenai materi dari masing-masing produk tersebut terutama yang berkaitan dengan Kabupaten Aceh Besar berikut ini.
A. Rencana Sistem Kota Kota
Dalam rencana sistem kota kota di Provinsi NAD berdasarkan buku penyempurnaan RTRWP NAD Tahun 2000, Kabupaten Aceh Besar dengan Ibukotanya Jantho termasuk kota orde IV pada tahun 2000, diharapkan pada tahun 2015 naik menjadi kota orde II dengan fungsi kota adalah Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
Gambar 2.3
B. Rencana Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya
Alokasi luas kawasan lindung dan kawasan budidaya di Kabupaten Aceh Besar, berdasarkan RTRWP NAD tahun 1995 luas kawasan lindung 99.292 ha, kawasan budidaya 169.320 ha. Berdasarkan hasil penyempurnaan RTRWP NAD tahun 2000 luas kawasan lindung 97.023 ha dan kawasan budidaya 171.589 ha, lihat Tabel 2.2.
Tabel 2.2
Luas Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Di Kabupaten Aceh Besar
No. Kawasan RTRWP NAD 1995 Luas (Ha) Penyempurnaan RTRWP NAD 2000 Luas (Ha) Peninjauan Kembali RTRWP NAD 2004 (Buku Laporan Kemajuan) Luas (Ha) 1. Kawasan Lindung 99.292 97.023 - 2. Kawasan Budidaya 169.320 171.589 - 268.612 268.612 Sumber : - RTRWP NAD, 1995
- Buku Penyempuranaan RTRWP NAD, 2000, Bappeda NAD
- Peninjauan Kembali RTRWP NAD, 2004 (Buku Laporan Kemajuan)
Adapun pokok pokok yang terkandung dalam Buku Laporan Kemajuan dari Peninjauan Kembali RTRW NAD, Tahun 2004 terutama yang terkait dengan Kabupaten Aceh Besar, antara lain :
A. Potensi pengembangan di Kabupaten Aceh Besar adalah :
• Pertambangan dan penggalian
• Angkutan dan komunikasi
B. Sektor Unggulan di Kabupaten Aceh Besar adalah :
• Pertanian tanaman pangan (ubi kayu)
• Tanaman hortikultura (tomat, ketimun, kangkung)
• Buah-buahan (mangga, nangka/cempedak, durian, sirsak, sukon, pepaya, pisang) • Perkebunan (jambu mete, kemiri)
• Peternakan (ayam petelur) • Perikanan Laut
C. Hirarki Pusat dan Tingkat Pelayanan
Kabupaten Aceh Besar dengan Ibu Kotanya Jantho termasuk dalam hirarki IV
D. Prasarana Transportasi • Pelabuhan Malahayati di Kabuapaten Aceh Besar, termasuk pelabuhan utama
sekunder, yang mengubungkan pelabuhan sekunder dari dan ke pelabuhan luar negeri atau menghubungkan antar pelabuhan utama sekunder – tersier atau pelabuhan utama sekunder – sekunder.
• Bandara Udara Iskandar Muda yang berada di Kabupaten Aceh Besar merupakan Bandara Udara Sekunder
2.2.4 Kebijakan Kapet Bandar Aceh Darussalam
Persetujuan prinsip atas perubahan area dan nama KAPET Sabang menjadi KAPET Bandar Aceh Darussalam ditetapkan berdasarkan ketetapan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Nomor S-271/M.EKON/10/2002 Tanggal 21 Oktober 2002. Selanjutnya penetapan wilayah kerja KAPET Sabang ke daratan Aceh dan pergantian nama Badan Pengelola (BP) KAPET Sabang menjadi BP KAPET Bandar Aceh Darussalam berdasarkan pada Keputusan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 193/388/2002 Tanggal 25 Oktober 2002. Lingkup wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam adalah sebagai berikut:
1. Kota Banda Aceh, meliputi seluruh kecamatan dalam Kota Banda Aceh 2. Kabupaten Aceh Besar, meliputi:
- Kecamatan Lhoknga - Kecamatan Darussalam - Kecamatan Kuta Baro - Kecamatan Peukan Bada - Kecamatan Seulimeum - Kecamatan Mesjid Raya
3. Kabupaten Pidie, meliputi:
- Kecamatan Batee - Kecamatan Padang Tiji - Kecamatan Muara Tiga - Kecamatan Kota Sigli
Program perencanaan KAPET Bandar Aceh Darussalam yang terdapat pada wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah Pembangunan Kawasan Industri Terpadu Blang Ulam
dan Kawasan Peternakan Terpadu Kuta Baro.
A. Kawasan Industri Blang Ulam
Dukungan yang sangat strategis dari Kawasan Industri Blang Ulam adalah :
• Terletak di kawasan Indonesia Bagian Barat dengan Pasar Asia Selatan, Jazirah Arab, Semenanjung Afrika.
• Berhadapan langsung dengan Free Trade dan Freeport Sabang sebagai outlet pasar. • Didukung hinterland yang berpotensi SDA berpeluang pasar dunia.
Kawasan industri ini direncanakan akan dibangun di Kecamatan Mesjid Raya tepatnya di Blang Ulam dengan luas areal 200 ha.
Fasilitas penunjang Kawasan Industri Blang Ulam yaitu : 1. Jalur transportasi antar kota dan propinsi
2. Jauh dari permukiman penduduk 3. Pelabuhan Malahayati
4. Pelabuhan Sultan Iskandar Muda
Ciri khas dari kawasan industri yang akan dikembangkan di KAPET Bandar Aceh Darussalam antara lain :
• Industri yang berbasis pertanian dan berorientasi ekspor ;
• Dapat menyerap tenaga kerja dengan menggunakan teknologi tepat guna ;
• Dapat tercipnya keharmonisan antara kepentingan industri dengan situasi dan kondisi daerah sekitar ;
• Industri yang berkelanjutan (sustainable industries).
Saat ini BRR bekerjasama dengan mitra kerja tengah menyusun DED kawasan industri Blang Ulam.
B. Kawasan Peternakan Terbaru Kuta Baro
Kawasan Peternakan Terpadu berlokasi di Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar. Aspek ekonomi dan sosial dari pembangunan Kawasan Industri Peternakan di KAPET Bandar Aceh Darussalam diperkirakan akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan dan daerah hinterland secara keseluruhan, antara lain :
1. Terbukanya lapangan kerja bagi penduduk yang secara langsung ikut terlibat dalam kegiatan usaha ternak. Secara tidak langsung akan timbul pengaruh multiplier effect
dari usaha ternak, seperti kegiatan pemasaran yang dapat menambah lapangan kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan meminimalkan tingkat pengangguran.
2. Meningkatkan kontribusi bagi pendapatan daerah melalui pajak penjualan dan dapat menambah devisa negara untuk jangka panjang bila adanya permintaan import ternak dari luar negeri sebagai salah satu produk non migas Aceh.
3. Dengan adanya bisnis ternak diharapkan akan terjadi alih teknologi di sekitar kawasan peternakan terpadu.
2.2.5 Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kawasan Sabang disusun pada tahun 2003 yang membahas antara lain rencana struktur tata ruang, rencana pola pemanfaatan ruang maupun rencana transportasi.
1. Pembagian Klaster Pengembangan Kawasan
Dalam pembagian klaster kawasan, terdiri dari : A. Kota Sabang, terdiri dari klaster :
Kawasan perkotaan yang meliputi kawasan pusat Kota Sabang, kawasan pertahanan dan kawasan kota baru
Kawasan Industri yang meliputi kawasan pelabuhan Balohan, kawasan industri Jaboi dan kawasan refinery dan bunker .
Kawasan pariwisata yang meliputi kawasan wisata gapang, Lheu Angen, dan Land Mark Area untuk kawasan 0 km Indonesia
Disamping ketiga klaster tersebut juga dibentuk klaster lain yang fungsinya mendukung aktivitas pada sektoral unggulan yang akan dikembangkan. Klaster tersebut ditujukan sebagai :
- Kawasan pengembangan permukiman yang terletak di Kelurahan Paya
- Kawasan pertanian dan perkebunan yang meliputi sebagian kelurahan Bateshoek dan Keunekal.
B. Kecamatan Pulo Aceh (termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar), hanya terdiri dari satu klaster yang ditujukan sebagai kawasan pengembangan ecowisata, industri perikanan dan pengembangan industri kecil.
2. Tata Jenjang (hirarki) Pusat Pusat Kawasan
Tata jenjang (hirarki) pusat pusat kegiatan di kawasan Sabang adalah : Primer : Kawasan Perkotaan Sabang
Sekunder : Kawasan industri dengan pusatnya di Balohan (Saat ini BRR bekerjasama dengan mitra kerja PT. Bina Citra Kreasi Ganesha sedang melakukan studi pengembangan tata ruang Kota Balohan)
Tersier : Kawasan permukiman baru dengan pusatnya di Paya, Kawasan pengembangan pertanian dan perkebunan dengan pusatnya di Bateeshoek
3. Rencana Struktur Tata Ruang Wilayah
Kawasan Sabang terbagi dalam dua sub-kawasan utama yaitu Sub Kawasan Kota dan Sub Kawasan Pulo Aceh. Dalam konteks ini, Kota Sabang berperan sebagai “daerah depan” yang berfungsi sebagai motor penggerak utama pengembangan wilayah yang diharapkan mampu memberi efek “trickling down” bagi wilayah sekitarnya. Sementara Pulo Aceh memiliki peran sebagai “daerah belakang” yang berperan sebagai pendukung serta menjadi daerah pengaruh utama yang menerima “back wash” dari “daerah depan”(core/main). Secara umum struktur tata ruang wilayah Sabang dapat dilihat Gambar 2.4
4. Rencana Pemanfaatan Ruang Wilayah
Dalam rencana pemanfaatan ruang wilayah Kawasan Sabang, Pulo Aceh (termasuk wilayah Kabupaten Aceh Besar), kawasan lindungnya meliputi lebih dari separuh dari luasannya, perlu dilakukan pengembangan dengan tetap memperhatikan fungsi lindungnya. Konsep yang dapat diterapkan untuk kawasan ini adalah pengembangan ecowisata berupa Taman Hutan Raya atau Taman Wisata Alam.
Untuk kawasan budidaya Kecamatan Pulo Aceh dikembangkan untuk zona pertanian tanaman pangan, sayur sayuran dan buah buahan. Disamping itu, di kawasan Pulo Aceh dikembangkan dengan jenis kegiatan :
Pengembangan industri/ pengolahan perikanan Pengembangan tambak super intensif
Gambar 2.4
5. Rencana Transportasi Laut
Pengembangan sistem laut diarahkan pada penyediaan jasa pelabuhan yang handal sehingga mampu memberikan pelayan yang optimal baik untuk pelayaran penumpang maupun barang sehingga dapat mendukung fungsi Sabang sebagai pelabuhan bebas. Pengembangannya diarahkan pada pembangunan dermaga untuk dapat menampung aktivitas perkapalan dengan baik sehingga mampu menangkap arus lalu lintas kapal yang
berada pada jalur pelayaran internasional.
2.2.6 Rencana Pokok Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Untuk Kota Banda Aceh
Dalam Rencana Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Untuk Kota Banda Aceh (JICA), 2006 diuraikan tentang kota metropolitan Banda Aceh dan sekitarnya meliputi wilayah Kota Banda Aceh, Sabang dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Besar. Keterkaitan Wilayah Kabupaten Aceh Besar dalam metropolis Banda Aceh diuraikan sebagai berikut :
A. Konsep Sistem Kota Metropolitan
Konsep sistem Kota Metropolitan Banda Aceh diwujudkan dalam pusat pusat hirarki dengan fungsi tertentu. Pusat pusat hirarki tersebut adalah :
¾ Hirarki 1
Kota yang termasuk hirarki 1 adalah pusat kota Banda Aceh dengan fungsi :
- Pelayanan dan komersial skala kota dan regional - Kantor pemerintahan skala kota dan regional - Pusat bisnis skala kota dan regional
- Fasilitas sosial dan umum skala kota dan regional - Pendidikan skala kota dan regional
¾ Hirarki 2
Kota yang termasuk hirarki 2 adalah : • Kota satelit Sabang dengan fungsi :
- Zona perdagangan bebas
- Pengembangan pelabuhan Sabang - Pengembangan pariwisata
• Kota satelit Lambaro dengan fungsi :
- Pengembangan terminal terpadu - Agropolitan (pusat kota pertanian)
• Kota satelit Lhoknga dengan fungsi :
- Industri (skala besar) perusahaan semen - Pelabuhan (skala besar) perusahaan semen
• Kota satelit Krueng Raya dengan fungsi :
- Pengembangan agro industri - Area industri
- Pengembangan Pelabuhan Malahayati
¾ Hirarki 3
• Pusat pertumbuhan Peukan Bada dengan fungsi :
- Pariwisata alam
- Produksi laut dan produk perikanan tambak
• Pusat pertumbuhan Cot Iri dengan fungsi :
- Pengembangan area permukiman sekitar pinggiran Banda Aceh
• Pusat pertumbuhan Lambaro Angan dengan fungsi :
- Pengembangan area permukiman sekitar Banda Aceh - Area spesial pertahanan dan keamanan
- Area Pariwisata
• Pusat pertumbuhan Peukan Beliu dengan fungsi:
- Produk pertanian
• Pusat pertumbuhan Lambada Lhok dengan fungsi :
- Pengembangan pusat perikanan
• Pusat pertumbuhan Blang Bintang dengan fungsi :
- Kota baru kota bandara (mandiri)
• Pusat pertumbuhan Montasik dengan fungsi :
- Pusat pertanian
• Pusat pertumbuhan Peukan Ateuk dengan fungsi :
- Pengembangan area permukiman sekitar Banda Aceh
• Pusat pertumbuhan Sibreh dengan fungsi :
- Pusat pertanian.
B. Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang
Struktur Metropolitan Banda Aceh dibentuk oleh prasarana dan sarana transportasi seperti pelabuhan, badara udara, terminal multimedia serta pusat stasiun. Disamping itu dilengkapi dengan jaringan jalan beserta prioritasnya. Adapun pola pemanfaatan ruang metropolitan secara umum dibentuk oleh : area bangunan di pusat kota, area bangunan di kota satelit, hutan preservasi, hutan nasional, hutan eksplorasi, hutan konservasi dan area pengaruh kota satelit. Untuk lebih jelasnya struktur dan pola penggunaan lahan metropolitan Banda Aceh dapat dilihat Gambar 2.6
Gambar 2.5
Gambar 2.6
Bab
3
POTENSI DAN PERMASALAHAN WILAYAH
PENGEMBANGAN KABUPATEN ACEH BESAR
Wilayah Kabupaten Aceh Besar mempunyai wilayah yang beraneka ragam, mulai dari wilayah perairan laut, wilayah dataran, wilayah perbukitan sampai wilayah pegunungan. Disamping itu, wilayah Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sehingga perkembangan Kota Banda Aceh akan berdampak langsung pada Kabupaten Aceh Besar. Adanya wilayah yang beragam serta letak yang strategis ini tentunya mempunyai potensi dan masalah tersendiri, berikut ini akan diuraikan potensi dan masalah Kabupaten Aceh Besar yang menyangkut, perekonomian wilayah, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan (infrastruktur).
3.1 POTENSI PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN ACEH BESAR
3.1.1 Posisi Kabupaten Aceh Besar Dalam Konteks Regional
Kabupaten Aceh Besar terletak pada posisi geografis 05° 03' 7,2" - 05° 45' 16,2" Lintang Utara dan 95° 06' 10,8" - 95° 50' 25,1" Bujur Timur. Letak geografis ini menunjukkan Kabupaten Aceh Besar berada pada posisi paling ujung utara di Pulau Sumatera. Secara administratif Kabupaten Aceh Besar berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sehingga kabupaten kabupaten lain yang ingin berinterkasi dengan Kota Banda Aceh ini harus melewati lebih dahulu Kabupaten Aceh Besar sebagai pintu gerbang utama menuju Ibu Kota Provinsi ini.
Keberadaan Kabupaten Aceh Besar sebagai pintu gerbang utama ini telah ditunjang sarana transportasi yang cukup memadai seperti : Jalan Nasional Arteri Primer Banda Aceh –
Medan serta Jalan Kolektor Primer Banda Aceh – Meulaboh. Disamping itu, ditunjang pula prasarana transportasi Bandara Udara Iskandar Muda di Blang Bintang, Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya. Disisi lain sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh, menyebabkan Kabupaten Aceh Besar sebagai penyangga dari Kota Banda Aceh, yaitu penyangga dalam memenuhi kebutuhan perumahan, fasilitas kota, kegiatan perdagangan/jasa maupun kegiatan perindustrian. Dengan demikian dapat dikatakan perkembangan Kota Banda Aceh akan berimplikasi langsung terhadap perkembangan Kabupaten Aceh Besar secara menyeluruh.
Sejalan dengan potensi letak dan posisi Kabupaten Aceh Besar yang demikian strategis, menjadikan Kabupaten Aceh Besar berpeluang tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada sebelumnya seperti yang diharapkan bersama.
3.1.2 Potensi Sumber Daya Alam
3.1.2.1 Potensi Sumberdaya Mineral
Sumber daya mineral yang ada di Kabupaten Aceh Besar ada 22 jenis yang tersebar hampir di semua kecamatan. Hingga saat ini jumlah perusahaan tambang galian C sebanyak 19 perusahaan dengan luas penambangan 301 Ha, sementara untuk jenis perusahaan tambang galian B sebanyak 3 perusahaan dengan luas penambangan 100 ha. Jenis sumber daya mineral yang ada di Kabupaten Aceh Besar beserta perkiraan jumlah potensinya diuraikan sebagai berikut :
1. Batu gamping Kapur diperkirakan potensi kandungannya 33.818.695.925 ton 2. Marmer diperkirakan potensi kandungannya 1.903.720.000 ton
3. Lempung serpih/Kapur diperkirakan potensi kandungannya 1.258.685.000 ton 4. Belerang diperkirakan potensi kandungannya 5.740 ton
5. Tras diperkirakan potensi kandungannya 947.100.000 ton
6. Serpintinit Berurat Magnesit diperkirakan potensi kandungannya 12.440.691.148 ton 7. Diorit/Granodiorit diperkirakan potensi kandungannya 82.048 ton
8. Batu setengah mulia diperkirakan potensi kandungannya 5.175 ton 9. Diorit /Granodiorit diperkirakan potensi kandungannya 604.000.000 ton 10.Andesit/Basalt diperkirakan potensi kandungannya 3.739.887.500 ton 11.Sirtu (pasir dan batu) diperkiraan potensi kandungannya 30.693.550 ton
13.Kalsit diperkirakan potensi kandungannya 808.728,2 ton
14.Batu Gunung diperkirakan potensi kandungannya 29.184.511.750 ton 15.Tanah urug diperkirakan potensi kandungannya 12.508.848.545 ton 16.Diabas diperkirakan potensi kandungannya 174.200.000 ton
17.Emas 18.Tembaga 19.Timah Hitam
20.Besi diperkirakan potensi kandungannya 1.5500.000 m³ 21.Panas Bumi
22.Batubara diperkirakan potensi kandungannya 10.000.000 m³
3.1.2.2 Sumberdaya Lahan
Kabupaten Aceh Besar mempunyai sumberdaya lahan yang cukup potensi untuk pengembangan pertanian maupun perkebunan. Hal ini dapat ditujukkan dengan kesesuaian lahan yang ada terdapat kesesuaian untuk pengembangan padi sawah, tanaman pangan lahan kering (TPLK) dan tanaman tahunan. Namun ada juga lahan yang tidak sesuai untuk pengembangan pertanian maupun perkebunan dan direkomendasikan untuk konservasi. Selengkapnya kesesuaian lahan di Kabupaten Aceh Besar diuraikan sebagai berikut:
• Lahan yang sesuai untuk pengembangan padi sawah seluas 31.557,2 ha (10,80 %)
• Lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering (TPLK) seluas 13.470,3 ha (4,61 %)
• Lahan yang sesuai untuk pengembangan tanaman tahunan seluas 107,645,2 ha (36,84 %)
• Lahan yang sesuai untuk konservasi seluas 139.523,8 ha ( 47,75 %)
Potensi kesesuaian lahan untuk 3 tipe penggunaan lahan pertanian (Soil Taxonomy USDA 1976/PPT Bogor 1983, disajikan pada Tabel 3.1 dan Gambar 3.1.
Tabel 3.1
Gambar 3.1
3.1.2.3 Sumberdaya Air
a. Air Permukaan
Di Kabupaten Aceh Besar terdapat potensi sumber daya air permukaan (sungai) yang relatif cukup memadai. Sungai yang cukup besar potensi sumber airnya adalah Sungai Krueng Aceh dengan debit 30,86 m³/detik dengan luas DAS 179.900 ha yang didalamnya terdapat anak anak sungai seperti Krueng Jrue, Krueng Indrapuri, Krueng Pangoh dan Krueng Seulimeum. Sungai Krueng Aceh dan Krueng Jrue digunakan untuk irigasi pertanian. Disamping itu, terdapat sungai sungai lain seperti Krueng Angan, Krueng Baro, Krueng Batee, Krueng Biheue, Krueng Geupu, Krueng Lambeso, Krueng Leangah, Krueng Pudeng, Krueng Raya, Krueng Teunom dan Krueng Utile
b. Air Tanah
Air tanah dangkal (sumur) di Kabupaten Aceh Besar umumnya dipakai untuk kebutuhan air bersih dengan kedalaman air secara umum bervariasi antara 3 m – 25 m, tergantung lokasinya.
c. Mata Air
Di Kabupaten Aceh Besar terdapat 27 sumber mata air yang tersebar diberbagai wilayah, 4 diantaranya sumber air panas. Mata air tersebut umumnya mempunyai debit air antara 10 – 50 liter/detik dan sebagian telah dimanfaatkan untuk sumber air bersih seperti mata air di Jantho, Mata Ie, Saree, Lhoknga dan Krueng Raya.
3.1.2.4 Sumberdaya Hutan
Sumberdaya hutan di Kabupaten Aceh Besar meliputi kawasan budidaya kehutanan dan kawasan lindung. Kawasan bididaya kehutanan berupa hutan produksi seluas 102.300 ha atau 54,64 % dari luas kawasan hutan, sementara kawasan lindung seluas 84.914 ha (45,36 %) meliputi cagar alam seluas 16.640 ha (8,88 %), Taman Hutan Raya seluas 6.030 ha (3,22 %), hutan lindung seluas 60.944 ha (32,55 %) serta kebun plasma nutfah seluas 1.300 ha (0,69 %).